Physics of Failure Modeling
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 11 April 2025
Pendahuluan
Dalam era teknologi yang berkembang cepat, pendekatan tradisional dalam mengevaluasi keandalan komponen elektronik semakin usang. Artikel ini membedah pendekatan Physics-of-Failure (PoF), yang secara fundamental berbeda dengan metode statistik klasik dalam menganalisis keandalan sistem elektronik. Melalui pendekatan ilmiah yang berbasis model degradasi material dan pemahaman mekanisme kegagalan fisik, PoF membuka jalan menuju sistem elektronik yang lebih tahan lama, efisien, dan terpercaya.
Dari Statistik Menuju Sains: Mengapa PoF Penting?
Metode tradisional seperti MIL-HDBK-217, Telcordia, atau FIDES, masih digunakan secara luas, meskipun terbukti memiliki banyak keterbatasan. Data yang digunakan seringkali bersifat rata-rata, tidak kontekstual, dan tidak memperhitungkan faktor lingkungan serta kondisi penggunaan spesifik.
Sebaliknya, PoF memodelkan kegagalan dari akar penyebabnya, bukan dari gejala luarnya. Dengan meneliti bagaimana panas, kelembaban, tegangan, atau getaran merusak material dari waktu ke waktu, PoF mampu memprediksi waktu kegagalan (Time-to-Failure/Tf) secara lebih presisi.
Tahapan Kunci dalam Pendekatan Physics-of-Failure
1. Inputs dan Pengumpulan Data Produk
PoF dimulai dengan mengumpulkan data spesifik desain (material, dimensi), kondisi operasi (tegangan, arus, beban mekanik), dan lingkungan (kelembaban, suhu). Data ini menjadi dasar analisis berikutnya.
2. Analisis FMMEA (Failure Modes, Mechanisms, and Effects Analysis)
Metode ini mengurai sistem menjadi elemen fungsional, mengidentifikasi potensi mode kegagalan (seperti retak, penurunan tegangan), kondisi siklus hidup (produksi, penggunaan, transportasi), penyebab kegagalan, serta mekanisme kegagalan secara mikro.
Contoh nyata: retak pada solder BGA akibat siklus suhu tinggi, yang bisa dianalisis melalui mekanisme kelelahan material (fatigue).
Studi Kasus: Solder Fatigue pada BGA (Ball Grid Array)
Fatigue solder menjadi salah satu penyebab utama kegagalan elektronik. Untuk ini, digunakan model seperti Coffin-Manson yang memprediksi siklus hingga kegagalan berdasarkan strain range dan faktor-faktor lain.
Model (disederhanakan):
Nf=(Δε2εf)1/cN_f = \left( \frac{\Delta \varepsilon}{2\varepsilon_f} \right)^{1/c}
Contoh data dari artikel:
Ini memberikan prognostic distance (PD5050) sebesar 900 siklus (indikator waktu peringatan dini sebelum kegagalan fungsi).
Model Kegagalan dalam PoF
Dalam pendekatan Physics-of-Failure (PoF), terdapat beberapa model umum yang digunakan untuk menganalisis mekanisme kegagalan pada komponen elektronik. Salah satunya adalah model elektromigrasi yang dijelaskan oleh Black’s Equation, di mana parameter kunci yang diperhatikan meliputi densitas arus dan suhu. Selanjutnya, untuk fenomena Time-Dependent Dielectric Breakdown, model yang digunakan adalah Fowler–Nordheim Exponential, yang mempertimbangkan tegangan, suhu, dan ketebalan oksida sebagai faktor penting. Selain itu, Hot-Carrier Injection dianalisis menggunakan Power Law, dengan arus puncak dan suhu sebagai parameter utama. Terakhir, untuk kegagalan pada solder, model Modified Coffin–Manson digunakan, yang berfokus pada rentang regangan, jumlah siklus, dan temperatur. Model-model ini memberikan kerangka kerja yang penting dalam memahami dan memprediksi kegagalan komponen elektronik, sehingga dapat meningkatkan keandalan dan umur pakai produk.
Virtual Qualification dan Pengujian
Dengan model kegagalan, produsen dapat melakukan virtual qualification—sebuah simulasi digital untuk memperkirakan apakah desain akan bertahan pada kondisi lapangan tanpa harus membuat prototipe fisik terlebih dahulu.
Contohnya adalah perangkat lunak SARA dari CALCE (University of Maryland), yang memodelkan papan sirkuit dan mengevaluasi umur komponen berdasarkan data desain dan beban lingkungan.
Canary dan Life Consumption Monitoring
Dalam konteks pemeliharaan prediktif, PoF digunakan dalam dua pendekatan:
1. Life Consumption Monitoring
Dengan menggunakan model kegagalan, sensor menilai akumulasi beban terhadap ambang batas kegagalan (damage index). Contoh:
Damage Total=∑(tappliedtavailable)\text{Damage Total} = \sum \left( \frac{t_{applied}}{t_{available}} \right)
2. Canary Prognostics
Komponen yang secara sengaja dirancang untuk gagal lebih dulu. Misalnya, 12 sudut solder pada BGA tidak digunakan secara fungsional tapi hanya untuk mendeteksi retak dini sebelum seluruh sistem rusak.
Uji Akselerasi dan Validasi Model
Accelerated testing membantu mempercepat proses pengujian dengan menaikkan frekuensi atau beban. Di sini, Acceleration Factor (AF) dihitung berdasarkan model kegagalan:
AF=tfieldttest=F(Lfield)F(Ltest)AF = \frac{t_{field}}{t_{test}} = \frac{F(L_{field})}{F(L_{test})}
Pentingnya pemahaman terhadap mekanisme kegagalan juga muncul dalam desain test: misalnya, jika gagal karena frekuensi tinggi, pengujian harus memperhitungkan siklus on/off, bukan hanya durasinya.
Aplikasi PoF di Industri Elektronik Modern
Dengan semakin kompleksnya sistem seperti SoC (System on Chip) dan SiP (System in Package), integrasi PoF menjadi semakin penting. Industri seperti aerospace, militer, hingga otomotif telah mengadopsi pendekatan ini untuk menghindari kegagalan mahal di lapangan.
Lebih jauh lagi, standar seperti JEDEC JEP122H memberikan panduan lengkap untuk parameter akselerasi dan mekanisme kegagalan umum di dunia semikonduktor.
Kritik dan Nilai Tambah
Kelebihan PoF:
Kritik:
Kesimpulan
Physics-of-Failure bukan sekadar metode teknis, tetapi filosofi dalam merancang sistem elektronik yang tahan banting. Di tengah tekanan time-to-market dan kompleksitas desain, PoF memungkinkan produsen bergerak dari pendekatan reaktif menjadi proaktif, dari eksperimen fisik menuju simulasi prediktif. Integrasi PoF bukan hanya tentang menghindari kegagalan, tetapi tentang menciptakan keunggulan kompetitif melalui keandalan.
Sumber Asli : P. V. Varde and M. G. Pecht, Risk-Based Engineering, Springer Series in Reliability Engineering, 2018, Chapter 12: Physics-of-Failure Approach for Electronics.
Physics of Failure Modeling
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 11 April 2025
Pengantar: Maintenance Prediktif Tak Cukup Hanya Data Historis
Predictive maintenance (perawatan prediktif) menjadi ujung tombak transformasi digital industri. Dengan mengandalkan estimasi Remaining Useful Life (RUL) komponen, sistem dapat melakukan perawatan sebelum terjadi kerusakan. Tapi masalahnya, tidak semua sistem punya data historis kerusakan.
Itulah mengapa pendekatan Physics-of-Failure (PoF) jadi solusi revolusioner—menggunakan model fisik dari kerusakan material untuk memprediksi umur komponen. Sayangnya, implementasinya tidak mudah. Banyak model kerusakan yang rumit, tidak ada panduan pemilihan model yang tepat, dan minim bantuan praktis.
Studi dari Karthikeyan Karuppusamy di University of Twente menjawab tantangan ini dengan menciptakan sebuah tool modular yang mampu menghubungkan model-model kerusakan fisik dengan implementasi maintenance prediktif nyata.
Tujuan & Masalah yang Dipecahkan
Penelitian ini fokus menjawab pertanyaan:
"Bagaimana cara mengidentifikasi model kerusakan fisik yang feasible untuk PoF prognostics berdasarkan siklus hidup komponen dan kondisi operasionalnya?"
Karena jumlah model kerusakan sangat besar, penulis memfokuskan kajian pada komponen shaft (poros) sebagai studi kasus, karena poros adalah bagian vital dalam mesin rotasi industri.
Komponen Tool & Cara Kerjanya
Tool ini terdiri dari tiga bagian utama:
Studi Kasus Shaft: Aplikasi Nyata Tool
Komponen shaft (poros) dipilih karena:
Jenis Beban dan Model yang Relevan dengan Sensor & Variabel yang Dimonitor
Dalam analisis beban pada shaft, berbagai jenis beban seperti bending, torsion, dan kombinasi keduanya memerlukan model yang sesuai untuk aplikasi tertentu. Misalnya, untuk non-driven axles yang mengalami bending uniaxial, model yang cocok adalah CL1–CL9 dan CB1–CB11. Sementara itu, shaft industri yang mengalami torsi shear dapat menggunakan model CL1–CL6. Untuk driven bogies yang mengalami kombinasi bending dan torsion, model yang relevan adalah CL11–CL23 dan CB12–CB13.
Untuk mendukung pemilihan model yang tepat, sensor-sensor seperti strain gauge rosette, torque cell, dan accelerometer digunakan untuk memantau variabel penting. Strain gauge rosette mengukur tegangan dan regangan, torque cell mengukur torsi dan gaya radial, sedangkan accelerometer memantau getaran yang berkaitan dengan bending stress. Kombinasi data dari sensor-sensor ini memungkinkan pembentukan tensor tegangan lengkap pada shaft, yang mencakup komponen-komponen seperti σ_x, σ_y, dan τ_xy, yang sangat penting untuk analisis kelelahan multiaxial.
Model Feasible & Cara Kerjanya
Dua Pendekatan Prediksi Umur:
Contoh Model Fatigue Crack Growth (CB1):
dadN=C⋅(ΔK)m\frac{da}{dN} = C \cdot (\Delta K)^m
Dengan:
Studi Kasus Aplikasi Nyata
1. Spinner Separator Shaft
2. Shaft Komposit pada Proyek SLOWIND
Keunggulan Tool Ini Dibandingkan Praktik Sebelumnya
Tool ini menawarkan sejumlah keunggulan signifikan dibandingkan praktik sebelumnya dalam analisis beban pada shaft. Sebelumnya, pemilihan model sering kali bersifat subjektif dan spekulatif, namun dengan adanya tool ini, proses pemilihan menjadi lebih terstruktur dan berbasis data sensor yang akurat. Dalam hal komponen baru versus lama, pendekatan sebelumnya cenderung menggunakan satu metode yang sama, sementara tool ini dapat disesuaikan dengan siklus hidup komponen, memberikan fleksibilitas yang lebih besar.
Aksesibilitas model juga meningkat, karena sebelumnya literatur terkait tersebar di berbagai sumber, sedangkan tool ini mengumpulkan semua model dalam satu database yang mudah diakses. Selain itu, feasibility check yang dilakukan sebelumnya tidak sistematis, kini memiliki langkah-langkah yang jelas dan modular, memudahkan pengguna dalam mengevaluasi kelayakan model. Terakhir, integrasi sensor yang umumnya terabaikan dalam praktik lama kini diintegrasikan secara penuh dalam tool ini, memungkinkan pemantauan yang lebih efektif dan akurat terhadap variabel yang relevan.
Potensi Implementasi di Industri
Untuk Industri:
Untuk Edukasi & Pelatihan Teknik:
Catatan Kritik & Pengembangan Lanjutan
Kelemahan Saat Ini:
Potensi Ke Depan:
Kesimpulan: Tool Prognostik PoF Ini adalah Lompatan Strategis
Inovasi dari penelitian ini bukan hanya menyusun ulang teori yang sudah ada, tapi membangun jembatan antara literatur teknis dan penerapan nyata. Dengan alur kerja yang jelas, kategorisasi model yang rapi, dan pemetaan sensor yang presisi, tool ini menjadikan pendekatan PoF lebih aplikatif, akurat, dan fleksibel.
Bagi dunia industri maupun edukasi teknik, tool ini adalah langkah nyata menuju perawatan prediktif cerdas berbasis ilmu fisika.
Referensi : Karuppusamy, Karthikeyan. Development of Physics-of-Failure Based Prognostics Feasibility Tool for Predictive Maintenance. Master’s Thesis, University of Twente, 2019.
Physics of Failure Modeling
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 11 April 2025
Latar Belakang: Kenapa Prediksi Keandalan Gagal di Lapangan?
Reliabilitas komponen elektronik dalam sistem industri kritikal seperti nuklir, pertahanan, dan otomotif bukan hanya soal "panjang umur", tapi menyangkut keselamatan, biaya, dan efisiensi operasional. Namun, pendekatan tradisional seperti MIL-HDBK-217F, Telcordia, dan CNET kerap kali tidak sesuai dengan kondisi lapangan, karena:
Untuk menjawab tantangan ini, Adithya Thaduri mengembangkan pendekatan Physics-of-Failure (PoF) modifikasi, yang menggabungkan data eksperimen aktual, model degradasi berbasis fisika, dan pendekatan statistik canggih.
Komponen yang Diteliti & Konteks Industri
Penelitian ini fokus pada 6 jenis komponen elektronik kritis yang sering digunakan dalam sistem keselamatan industri:
Komponen ini diuji dalam konteks pengendali sinyal digital untuk sistem proteksi, seperti pada reaktor nuklir dan sistem kendali militer.
Metodologi: Modifikasi Physics-of-Failure + Model Statistik
Tahapan Utama:
Studi Kasus: Hasil Nyata dan Model Perhitungan
Dalam studi kasus ini, kita menganalisis berbagai komponen elektronik dan bagaimana mereka terpengaruh oleh stres lingkungan seperti suhu, arus, dan radiasi. Setiap komponen memiliki nilai waktu hingga kegagalan (TTF) yang berbeda, yang menunjukkan seberapa lama mereka dapat beroperasi sebelum mengalami kerusakan. Misalnya, optocoupler 4N36 dapat bertahan antara 24.750 hingga 27.864 jam pada suhu 90°C dan arus 90mA, tetapi untuk meningkatkan keandalannya, disarankan untuk menurunkan suhu dan arus.
Komponen lain, seperti LM311 comparator, terpapar radiasi 10KGy dan suhu 90°C, dengan TTF yang sangat tinggi mencapai 58,54 juta jam. Solusi untuk komponen ini adalah menggunakan teknik radiasi-harden untuk meningkatkan ketahanannya.
Model degradasi untuk komponen CMOS dan BJT/JFET dijelaskan dengan persamaan matematis yang mempertimbangkan berbagai faktor seperti resistansi, suhu, dan waktu. Dengan memahami faktor-faktor ini, kita dapat merancang solusi perbaikan yang lebih efektif, seperti optimasi fabrikasi atau penggunaan pendinginan untuk komponen yang lebih sensitif terhadap radiasi dan suhu tinggi.
Keunggulan Utama Pendekatan Ini
🔍 Lebih Akurat
🔧 Fleksibel & Aplikatif
💡 Berbasis Ilmu & Data
Kritik & Potensi Perkembangan
Tantangan:
Potensi Lanjutan:
Relevansi Industri & Edukasi
Industri Nuklir, Dirgantara, Medis, Otomotif dapat mengaplikasikan model ini untuk:
Platform edukasi teknik dapat menjadikan ini:
Kesimpulan: Model PoF Modifikasi, Masa Depan Prediksi Keandalan?
Pendekatan yang dibangun Adithya Thaduri dalam disertasinya memberikan paradigma baru:
Jika keandalan produk adalah kunci masa depan industri elektronik, maka metode ini adalah pintunya.
Referensi : Thaduri, Adithya. Physics-of-Failure Based Performance Modeling of Critical Electronic Components. Doctoral Thesis, Luleå University of Technology, 2013.
Physics of Failure Modeling
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 11 April 2025
Latar Belakang: Mengapa ALT Itu Penting?
Dalam dunia elektronika industri, kipas pendingin memegang peran vital menjaga suhu perangkat tetap stabil. Jika komponen ini gagal, maka sistem elektronik berisiko overheating, bahkan dapat menyebabkan kerusakan total pada perangkat. Oleh karena itu, uji keandalan kipas — khususnya menggunakan metode Accelerated Lifetime Testing (ALT) — menjadi bagian krusial dalam proses validasi desain dan kualitas produksi.
Penelitian oleh Anton Yatskiv dari Tallinn University of Technology menyajikan proyek nyata yang fokus pada peningkatan prosedur dan pengaturan ALT untuk kipas pendingin yang digunakan di produk electrical drive. Studi ini menjadi contoh aplikatif bagaimana perusahaan dapat mengintegrasikan standar industri dan praktik terbaik untuk meningkatkan akurasi pengujian dan kualitas produk akhir.
Tujuan dan Konteks Proyek
Studi ini dilakukan di Estonia, bekerja sama dengan tim Reliability Engineering dari sebuah perusahaan elektronik internasional. Fokus utama adalah:
Komponen Kritis dalam Sistem Elektrikal: Posisi Kipas
Dalam sistem electrical drive, kipas bukan sekadar aksesoris tambahan. Ia bertugas mendinginkan berbagai blok kritis: dari power supply, konverter daya, hingga unit kontrol mikro. Jika pendinginan tidak optimal, komponen internal seperti motor, sensor, dan PCB bisa cepat aus atau rusak.
Standar IPC-9591 dan Tolok Ukur ALT
Penelitian ini menjadikan IPC-9591 sebagai acuan utama karena standar ini secara eksplisit mengatur metode pengujian dan parameter evaluasi untuk kipas yang digunakan dalam peralatan elektronik konsumen dan industri.
Parameter yang Diuji Berdasarkan IPC-9591:
Studi Kasus: Sebelum dan Sesudah Perbaikan Prosedur Pengujian
Sebelum Perbaikan:
Setelah Perbaikan:
Estimasi Umur: Menerapkan Konsep L10 & Faktor Percepatan
Faktor Percepatan Suhu:
Simulasi Umur:
Misalnya:
Analisis Kegagalan: FMEA Kipas Pendingin
Berdasarkan analisis dari 40+ unit pengujian, ditemukan kegagalan berikut:
Komponen Mekanis:
Komponen Elektrikal:
FMEA yang digunakan menggabungkan literatur, hasil pengujian nyata, dan standar MIL-HDBK-217 untuk evaluasi MTTF.
Perbandingan dengan Vendor Lain
Beberapa vendor kipas sudah melakukan pengujian berbasis IPC-9591, tetapi:
Dengan penguatan prosedur internal, Electronics Company dapat memverifikasi data vendor dan meningkatkan akurasi prediksi keandalan produk final.
Potensi Perbaikan Jangka Panjang
Dampak Bisnis & Industri
Peningkatan sistem ALT seperti dalam studi ini memungkinkan:
Studi ini juga bisa menjadi referensi utama dalam pengembangan modul pembelajaran teknik keandalan, konten bootcamp QC, dan materi pelatihan industri 4.0.
Kesimpulan: ALT yang Cerdas, Produk yang Tahan Lama
Melalui pendekatan berbasis standar, data, dan logika rekayasa, proyek ALT kipas pendingin ini berhasil menunjukkan:
Studi ini menjadi template konkret bagaimana perusahaan bisa mengubah pengujian dari sekadar formalitas menjadi alat strategis untuk peningkatan kualitas.
Referensi : Yatskiv, Anton. Improvement of electronics cooling fans’ ALT testing project. Master's Thesis, Tallinn University of Technology, School of Information Technologies, 2022.