Teknik Lingkungan

Indonesia Mengambil Langkah Berani dan Transformatif untuk Membangun Sistem Kesehatan yang Berketahanan Iklim

Dipublikasikan oleh Syayyidatur Rosyida pada 22 Juni 2024


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), United Nations Development Programme in Indonesia (UNDP Indonesia) bekerja sama dengan World Health Organization (WHO) hari ini menandatangani komitmen bersama untuk mengimplementasikan proyek yang didanai oleh Green Climate Fund (GCF), sebuah inisiatif investasi iklim dan kesehatan yang ambisius.

Menyadari ancaman signifikan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap kesehatan manusia dan planet bumi, Kementerian Kesehatan, UNDP dan WHO telah bekerja sama dalam kolaborasi tripartit yang akan memanfaatkan modal publik dan swasta, serta berbagai sumber daya seperti keahlian, pengetahuan, teknologi, jaringan, dan upaya kolaboratif dari para mitra di berbagai sektor untuk mempromosikan sistem kesehatan yang tahan terhadap perubahan iklim, berkelanjutan, dan rendah karbon.

Sebagai bagian dari proyek GCF global, yang mencakup 17 negara, proyek di Indonesia akan dirancang untuk meningkatkan ketahanan iklim layanan kesehatan melalui solusi adaptasi dan mitigasi iklim. Komponen adaptasi melibatkan penguatan dan integrasi sistem peringatan dini untuk penyakit terkait iklim. Di bawah mitigasi, inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari fasilitas layanan kesehatan. Setiap negara akan mengimplementasikan proyek ini sesuai dengan kondisi uniknya, memastikan pendekatan yang disesuaikan dengan konteksnya.

Di Indonesia, proyek ini bertujuan untuk membangun sistem kesehatan nasional yang tangguh terhadap iklim dan berkelanjutan, mengurangi emisi gas rumah kaca dari sistem kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, serta meningkatkan pembiayaan untuk aksi transformatif dalam menghadapi risiko kesehatan terkait iklim. Inisiatif ini akan membantu sistem kesehatan Indonesia agar lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim, dan mempromosikan sistem kesehatan yang tahan terhadap perubahan iklim dan rendah karbon serta berkelanjutan.

Sujala Pant, Penanggung Jawab UNDP Indonesia mengatakan, "UNDP memiliki portofolio iklim terbesar dalam sistem PBB, mendukung aksi iklim di hampir 150 negara berkembang. Di Indonesia, 72% dari program kami juga difokuskan pada ketahanan terhadap perubahan iklim dan bencana. Kami percaya bahwa perubahan iklim merupakan isu lintas sektoral, sehingga kami juga telah membangun pendekatan yang melekat pada sebagian besar program kami untuk memahami dampak perubahan iklim pada setiap bidang pekerjaan, dan bagaimana mengembangkan dan menciptakan solusi yang dapat bertahan atau merespons dengan lebih baik terhadap dampak perubahan iklim di masa depan. Oleh karena itu, kolaborasi ini sangat penting bagi kami".

Perubahan iklim mempengaruhi penyakit dengan mengubah variabel iklim seperti curah hujan, suhu, dan kelembaban, yang berdampak pada dinamika penularan penyakit. Perubahan pola iklim regional juga mempengaruhi agroekosistem dan ketersediaan air, yang menyebabkan kekurangan air dan meningkatkan penyakit terkait air dan makanan seperti malnutrisi dan diare. Sebagai contoh, berkurangnya curah hujan dan suhu di Maluku meningkatkan kasus pneumonia sebesar 96% dan diare sebesar 19%. Sebaliknya, suhu dan curah hujan yang lebih tinggi meningkatkan kasus demam berdarah sebesar 227% di Bali-Nusa Tenggara, dan kasus malaria di Papua sebesar 66%.

Selain itu, Indonesia diperkirakan mengalami kerugian ekonomi sebesar 1,86% (sekitar 21,6 miliar) akibat dampak perubahan iklim terhadap sektor kesehatan. Di sisi lain, laporan Bank Dunia menyatakan bahwa dampak perubahan iklim pada sektor air dapat menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 7,3% pada tahun 2045. Jika dibiarkan, perubahan iklim juga akan mempengaruhi profil kesehatan generasi saat ini dan mendatang, menjadi beban bagi sistem kesehatan, serta menghambat upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan cakupan kesehatan universal.

"Perubahan iklim merupakan ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia, dan WHO berkomitmen untuk menanggapinya," ujar Dr N. Paranietharan, Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia. "Peluncuran inisiatif ini menandai langkah maju yang berani bagi Indonesia - yang sangat rentan terhadap dampak kesehatan dari perubahan iklim - dan akan mempercepat kemajuan di sini, serta di seluruh dunia, menuju masa depan yang lebih sehat, lebih hijau, lebih tangguh, dan berkelanjutan untuk semua."

Dalam sambutannya, Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Indonesia, menunjukkan komitmennya, "Menteri Kesehatan akan berkomitmen untuk mendukung energi dan sumber daya yang diperlukan untuk memimpin proyek ini. Untuk mencapai hasil yang diharapkan bersama, kolaborasi yang luas dari berbagai kementerian akan diperlukan."

Melalui komitmen bersama dalam proyek GCF ini, Kementerian Kesehatan, UNDP, bersama dengan WHO akan berkolaborasi untuk mencapai serangkaian tujuan, terutama dalam mengurangi kerentanan Indonesia terhadap penyakit terkait iklim dan gangguan pada layanan kesehatan esensial, termasuk meningkatkan hasil kesehatan bagi masyarakat yang rentan dan kurang beruntung, yang secara tidak proporsional terkena dampak dari risiko iklim-kesehatan.

Proyek ini akan melibatkan kolaborasi yang luas dengan para pemangku kepentingan utama, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mulai dari pemilihan lokasi hingga sinkronisasi tujuan proyek dengan strategi pembangunan nasional yang menyeluruh di Indonesia. Selain itu, proyek ini juga akan melibatkan Kementerian Keuangan, yang bertindak sebagai otoritas yang ditunjuk secara nasional untuk Dana Iklim Hijau. Mereka akan mengesahkan Surat Pernyataan Tidak Keberatan (NOL) untuk proposal khusus proyek GCF dari Indonesia.

Disadur dari: www.undp.org

Selengkapnya
Indonesia Mengambil Langkah Berani dan Transformatif untuk Membangun Sistem Kesehatan yang Berketahanan Iklim

Teknik Lingkungan

Polusi Laut adalah Mimpi Buruk bagi Laut Indonesia

Dipublikasikan oleh Syayyidatur Rosyida pada 22 Juni 2024


  • Pentingnya laut bagi kehidupan.
  • Indonesia sebagai negara maritim.
  • Kondisi tentang laut Indonesia.
  • Sampah yang mencemari laut Indonesia.
  • Bagaimana cara mengurangi pencemaran lingkungan laut?

Pentingnya kehidupan laut

Laut memiliki peran penting dalam segala aspek kehidupan bagi semua makhluk hidup. Laut menjadi rumah dan habitat bagi berbagai tanaman laut, dan berbagai spesies hewan laut dari seluruh dunia. Organisme mikroskopis, dan terumbu karang yang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan ekosistem di lingkungan laut. Laut juga membantu oksigen yang dihasilkan oleh fitoplankton, organisme kecil yang menyerupai tanaman kecil yang hidup di laut. Hal ini menyumbang sekitar 50% oksigen di Bumi.

Laut memberikan banyak manfaat bagi berbagai aspek kehidupan, seperti mengatur iklim di Bumi. Ekosistem laut juga sangat penting karena angin dan arus laut merupakan penentu utama bagi kelangsungan hidup biota laut dan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, laut sangat penting sebagai sumber makanan dan mata pencaharian. Selain itu, keindahannya juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata. Di dalam laut sendiri terdapat berbagai biota laut, termasuk spesies tumbuhan laut, terumbu karang, dan ekosistemnya. Manusia juga dapat memanfaatkannya untuk penelitian ilmiah dan tujuan konservasi.

Indonesia sebagai negara maritim

Laut Indonesia telah mengalami pencemaran dan kerusakan yang signifikan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Sebagai contoh, eksploitasi sumber daya yang meluas telah menyebabkan terganggunya ekosistem laut. Hal ini sering kita lihat di berita atau bahkan kita saksikan sendiri. Misalnya pembuangan limbah industri ke sungai dan akhirnya ke laut yang dapat merusak ekosistem laut secara keseluruhan. Hal ini mungkin terjadi karena limbah pabrik seringkali mengandung zat-zat beracun seperti logam, merkuri, dan bahan kimia lainnya.

Masalahnya tidak berhenti sampai di situ, beberapa nelayan Indonesia masih menggunakan bom ikan. Kompas.id melaporkan bahwa sebelas nelayan ditangkap karena menggunakan bom untuk menangkap ikan di Teluk Rano, Kecamatan Lambu, Bima, Nusa Tenggara Barat. Para pelaku terancam hukuman hingga enam tahun penjara. Namun, praktik ini terus terjadi dan mengindikasikan kurangnya tindakan tegas dari pemerintah daerah dan penegak hukum. Serta kurangnya edukasi mengenai pentingnya konservasi laut.

Selain itu, pencemaran laut juga menjadi faktor utama yang menyebabkan tercemarnya laut Indonesia. Menurut indonesiabaik.id, World Population Review mencatat bahwa sampah plastik di laut Indonesia mencapai 56 ribu ton pada tahun 2021. Data ini menunjukkan betapa parahnya kondisi lingkungan laut kita yang penuh dengan polusi atau sampah plastik akibat ulah manusia.

Sampah yang mencemari laut indonesia

Masalah sampah tidak hanya terjadi di pemukiman dan perkotaan di daratan saja, namun juga di lautan, di mana sampah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pencemaran laut. Jenis sampah yang ada di lautan beragam, mulai dari kayu, logam, busa plastik, kertas, hingga kardus. Yang paling umum adalah sampah plastik, seperti kantong plastik, botol, dan sebagainya. Menurut survei Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2020, menyatakan bahwa sampah plastik merupakan jenis pencemaran laut yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Di bawah ini adalah data yang menunjukkan jumlah sampah yang mencemari lautan di Indonesia.

Penyumbang pencemaran laut terbesar: plastik

Sampah plastik memang telah menjadi masalah yang sudah lama terjadi di Indonesia, tidak hanya di daratan tapi juga di lautan. Banyak sekali sampah plastik yang mencemari perairan dan mengganggu ekosistem laut. Jika masyarakat tidak peduli dengan isu ini, maka dapat mengancam keanekaragaman hayati biota laut Indonesia, merusak terumbu karang, dan berdampak buruk pada mata pencaharian nelayan karena hasil tangkapan yang semakin menurun.

Akan sangat disayangkan jika hal ini tidak ditanggapi dengan serius. Mengingat Indonesia terkenal memiliki wilayah terumbu karang terluas di dunia, yaitu sekitar 284.300 km2, atau sekitar 18% dari total terumbu karang dunia. Selain itu, Indonesia juga merupakan penghasil produk laut terbesar kedua setelah Cina dengan total tangkapan sekitar 6,43 juta ton menurut Organisasi Pangan dan Pertanian.

Ini adalah sebuah warisan. Kita harus menjaga kelestarian laut karena ini adalah warisan kita, sehingga kekayaan alam negara ini dapat terus berkembang. Jika lingkungan kita sehat dan terjaga dengan baik, maka akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi negara kita di kancah dunia. Indonesia dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan indah. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu menjaga dan melestarikannya.

  • Benarkah Botol PET Berbahaya Bagi Lingkungan?
  • Peran Blue Carbon dalam Pelestarian Lingkungan
  • Lalu, Bagaimana Cara Kita Mengurangi Pencemaran Lingkungan Laut?

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah, seperti selalu membawa botol minum yang dapat digunakan kembali, membawa peralatan makan sendiri saat makan di luar, menggunakan tas belanja yang dapat digunakan kembali. Kita juga bisa bergabung atau memulai kelompok komunitas yang berdedikasi untuk membersihkan pantai. Yang paling penting, membina kerja sama dan keterlibatan antara masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengatasi polusi laut untuk memastikan upaya pembersihan yang cepat. Selain itu, menyebarkan kesadaran dan pendidikan tentang pentingnya melindungi lingkungan laut kita dari sampah dan mengadvokasi pengurangan penggunaan plastik juga sangat penting.

Untuk melindungi laut kita dari polusi, ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan oleh individu dan pemerintah. Pemerintah dapat berkolaborasi dengan penegak hukum setempat untuk memantau dan menindak kegiatan ilegal seperti pengeboman ikan, penggunaan racun untuk menangkap ikan, dan eksploitasi lingkungan dalam skala besar. Pendekatan lainnya adalah pelestarian terumbu karang melalui upaya perlindungan dan restorasi. Terakhir, membangun dan mengelola kawasan konservasi laut untuk melindungi ekosistem laut yang rentan sangat penting.

Disadur dari: zonaebt.com

Selengkapnya
Polusi Laut adalah Mimpi Buruk bagi Laut Indonesia

Teknik Lingkungan

Keanggotaan OECD Indonesia Tidak Terpengaruh Oleh Isu-Isu Lingkungan: Pemerintah

Dipublikasikan oleh Syayyidatur Rosyida pada 22 Juni 2024


Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, tiba di Istana Kepresidenan di Jakarta pada 16 Mei 2024. (ANTARA/Andi Firdaus/rst)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, menyatakan bahwa persiapan Indonesia untuk menjadi anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) tidak terhambat oleh isu lingkungan hidup dan kehutanan.

"Kami selalu berusaha mengikuti standar internasional. Kami juga mengacu pada negara-negara maju. Memang akan ada penyesuaian dan standar-standar, tapi saya yakin tidak ada masalah," ujar Menkeu di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.

Hari Kamis ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil para menteri dan wakil menteri terkait ke Istana Kepresidenan untuk membahas peta jalan Indonesia untuk bergabung dengan OECD.

Bakar mengatakan bahwa keanggotaan OECD menerapkan standar yang cukup ketat, namun Indonesia telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang signifikan dari sisi lingkungan hidup dan kehutanan.

"Misalnya, deforestasi, moratorium, kebakaran hutan dan gambut, penegakan hukum, atau FOLU Net Sink. Saya telah bekerja sama dengan OECD sejak tahun 2017, dan kami telah melakukan Kajian Kebijakan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia pada tahun 2019," tambahnya.

Di sektor lingkungan hidup dan kehutanan, menteri menekankan bahwa Indonesia telah menyesuaikan diri dengan standar yang ada, meskipun beberapa penyesuaian akan dilakukan nantinya. Dalam hal emisi, misalnya, Indonesia telah mencatatkan pencapaian rata-rata dalam mengurangi emisi.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa 38 negara anggota OECD telah menyetujui Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut.

Airlangga menegaskan bahwa pihaknya telah menerima peta jalan (roadmap) keikutsertaan Indonesia sebagai anggota OECD dalam pertemuan dengan anggota OECD di Paris beberapa waktu lalu.

Presiden Jokowi juga menyambut baik keputusan 38 negara yang mendukung keanggotaan Indonesia di OECD.

Menurut Kepala Negara, keanggotaan OECD yang beranggotakan banyak negara maju ini penting untuk membuka akses investasi ke lembaga-lembaga internasional yang bermanfaat bagi Indonesia.

Disadur dari: antaranews.com

Selengkapnya
Keanggotaan OECD Indonesia Tidak Terpengaruh Oleh Isu-Isu Lingkungan: Pemerintah

Teknik Lingkungan

Seni Aktivisme Lingkungan di Indonesia: Pergeseran Cakrawala

Dipublikasikan oleh Syayyidatur Rosyida pada 22 Juni 2024


Buku Seni Aktivisme Lingkungan di Indonesia karya Edwin Jurriens mengisi kekosongan dalam literatur seni dan aktivisme. Buku ini mengupas tuntas interaksi antara seni kontemporer dan aktivisme lingkungan di Indonesia sejak akhir 1960-an hingga awal 2020-an. Bagian-bagian dalam buku ini dikategorikan berdasarkan konsep utama yang disorot dalam subjudul buku ini: pergeseran cakrawala. Buku ini melintasi periode-periode penting dalam sejarah, menyoroti peran seni dalam mendorong kesadaran ekologis dan mempengaruhi respons masyarakat terhadap krisis lingkungan.

Konsep 'artivisme' menjadi pusat perhatian, dengan menekankan peran penting seni dalam aktivisme. Buku ini menilai potensi dan keterbatasan artivisme lingkungan di Indonesia, dengan menggunakan latar belakang dinamika seni rupa dan transformasi sosial di Indonesia. Dengan memberikan gambaran menyeluruh mengenai seni kontemporer di Indonesia, buku ini menganalisis para seniman yang menangani isu-isu lingkungan yang mendesak. 

Bab-bab awal buku ini merefleksikan hubungan Indonesia yang kompleks dengan lingkungan alam dan budayanya. Pameran tunggal seniman Setu Legi mengeksplorasi "Tanah Air," yang merujuk pada tanah dan air. Jurriens membahas aspek gender dan agama dalam keterlibatan lingkungan di Indonesia, dengan menampilkan karya seniman Arahmaiani. Buku ini menekankan keterkaitan antara fenomena alam dan budaya Indonesia yang beragam dan bagaimana seni berkontribusi pada kesadaran ekologis.

Dengan latar belakang pembangunan bangsa pasca-kemerdekaan, narasi buku ini menyoroti bagaimana faktor politik, terutama selama rezim Orde Baru, berdampak pada lingkungan dan membatasi kebebasan berpendapat. Pembangunan ekonomi, di bawah "Bapak Pembangunan" Suharto, memprioritaskan daerah-daerah di pusat, yang menyebabkan kesenjangan ekonomi dan eksploitasi lingkungan.

Seniman modern dan kontemporer dari berbagai daerah di Indonesia merespons dampak lingkungan, mempolitisasi dan menyejarah isu-isu ekologi. Teks ini memperkenalkan konsep "artivisme," yang menekankan peran seni dalam menghubungkan masyarakat dengan kepedulian terhadap lingkungan dan menginspirasi hubungan yang berkelanjutan antara manusia dan alam.

Para seniman menggunakan beragam strategi, termasuk lukisan realistis, karya kolaboratif, dan proyek-proyek lainnya, yang membahas isu-isu seperti polusi air, reklamasi, filosofi spiritual, dan jaringan perkotaan-pedesaan. Buku ini menekankan potensi 'karya seni pascabencana alam' untuk meningkatkan kesadaran akan kesetaraan sosial-budaya, politik, dan ekonomi yang berkaitan dengan bencana alam.

Buku ini memberikan eksplorasi komprehensif mengenai seni kontemporer Indonesia, yang berpusat pada tema besar "pergeseran cakrawala". Cakrawala ini melambangkan perspektif yang berkembang dan representasi artistik yang beragam dari lingkungan alam, yang beresonansi dengan seruan para seniman akan pendekatan sosial-politik alternatif untuk mengatasi tantangan lingkungan kontemporer.

Narasi ini dimulai dengan menelaah perubahan dan variasi representasi artistik lingkungan alam. Diskusi ini meluas ke seruan para seniman akan sikap sosial-politik dan budaya alternatif untuk mengatasi tantangan lingkungan yang kompleks, terutama dalam menanggapi representasi visual yang disahkan secara resmi selama masa penjajahan Belanda dan Orde Baru.

Analisis ini kemudian beralih ke peran seni kontemporer dalam mengatasi kompleksitas 'Kapitalosen', mengeksplorasi dampak kapitalisme terhadap lanskap sosial-budaya dan alam Indonesia. Bab "Citra Kapitalosen" mengkaji tanggapan seniman Indonesia terhadap tantangan lingkungan di era Antroposen, dengan menekankan peran seni dalam melawan desensitisasi. Buku ini mengadvokasi untuk mempromosikan nilai-nilai non-kapitalis dan eksperimen inovatif, menekankan peran ekologi media dalam mengatasi kerusakan lingkungan. Buku ini menggarisbawahi relevansi Kapitalisme dalam seni lingkungan di Indonesia, mengeksplorasi respons Grup Bakrie terhadap bencana lumpur Sidoarjo dan menekankan potensi kreativitas yang luar biasa untuk melawan kekuatan-kekuatan dominan. 

"Seni Aktivisme" mengeksplorasi peran seni kontemporer dalam menjawab tantangan di masa Kapur, menavigasi berbagai 'arus kontemporer' dan memperkenalkan 'aktivisme'. Buku ini menekankan saling ketergantungan antara seni dan aktivisme, mengeksplorasi kontribusi seniman Indonesia dalam menghadapi tantangan sosial-politik. Bab tentang artivisme lingkungan awal berfokus pada Moelyono, menyoroti 'seni penyadaran' sang perintis dan kontribusinya dalam menyatukan para seniman-aktivis. Ide-ide kreatif dan praktik-praktik kreatif seniman perintis Indonesia, Moelyono, ditelaah secara mendetail.

Fokusnya kemudian bergeser ke budaya visual kolonialisme Belanda dan Orde Baru, membedah penggambaran romantisme lanskap pedesaan. Seniman kontemporer Maryanto dan Setu Legi muncul sebagai suara yang mengkritik budaya visual yang eksploitatif, mempersonalisasi dan mempolitisasi ancaman lingkungan, terutama yang berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit. Kesenian Maranta dan Setu Legi, mengkritik pemetaan spasial historis, dan menyikapi kontrol politik dan dampak sponsor korporasi terhadap kesenian.

Konsep 'ruang pengecualian' dalam karya seni Maryanto mengkritik eksploitasi lingkungan pasca-Orde Baru. Setu Legi, yang berakar kuat pada politik dan ekologi, membuat karya eko-estetika yang beraneka ragam, menawarkan pemahaman yang bernuansa persinggungan sosial-politik dan ekologi. Pameran 'Tanah Air' melambangkan signifikansi budaya Indonesia dan mengkritik kepentingan komersial. Dengan mengeksplorasi navigasi Legi terhadap agama, politik, dan lingkungan, menantang asumsi dan mempromosikan "multinaturalisme" untuk multikulturalisme. Secara keseluruhan, buku ini memberikan eksplorasi yang komprehensif tentang lanskap lingkungan dan budaya Indonesia, menghubungkan konteks historis dengan tantangan kontemporer.

Kemudian, narasi ini meluas ke modernisasi Jakarta dari tahun 1960-an hingga 1980-an, menganalisis tanggapan para seniman terhadap urbanisasi. Lukisan-lukisan Sudjojono yang menggambarkan transisi dari Sukarno ke Soeharto dan Gerakan Seni Rupa Baru yang menentang rezim Soeharto dieksplorasi.

Generasi seniman yang lebih muda, yang diidentifikasi sebagai penduduk asli perkotaan, menjadi sorotan, mengkritik Generasi '66 dan merefleksikan gaya hidup konsumerisme penduduk asli perkotaan. Kemudian eksplorasi lebih lanjut meluas ke ekofeminisme dan aktivisme lingkungan berbasis gender, dengan fokus pada kontribusi Arahmaiani dan aktivismenya dengan komunitas agama di Yogyakarta dan Tibet.

Bali menjadi panggung bagi kampanye sukses para seniman dalam menentang reklamasi lahan, dengan aktivisme Made Muliana Bayak yang menyatu dengan seni visual untuk mengatasi polusi plastik dan menantang tradisi budaya. Laporan ini mengeksplorasi geografi baru dalam artivisme Indonesia, meneliti kampanye melawan pembukaan hutan dan proyek-proyek kolaboratif yang menghubungkan daerah perkotaan dan pedesaan.

Studi ini juga membahas tantangan dan peluang kolaborasi internasional, serta potensi transformasi dari niat artistik yang orisinil. Peretasan kreatif disoroti sebagai strategi yang digunakan oleh komunitas seni media baru untuk mengatasi masalah aksesibilitas dan memberikan informasi kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan tentang isu-isu lingkungan.

"Shifting Horizons: Seni Aktivisme Lingkungan di Indonesia" mengeksplorasi hubungan dinamis antara seni dan aktivisme lingkungan, dengan fokus pada potensi ekspresi artistik untuk mendorong perubahan. Buku ini menarik kesejajaran dengan Venice Biennale 2019, yang mengakui kontradiksi dampak ekologis seni sambil menyoroti kapasitasnya untuk meningkatkan kesadaran, terutama di kalangan generasi muda.

Bab penutup menekankan kekuatan transformatif seni lintas genre, media, dan teknologi, yang dirangkum dalam metafora 'pergeseran cakrawala'. Empat sub-bab - keterlibatan sosial-politik, keintiman, partisipasi sosial dan jaringan, dan perubahan sosial-politik - menggambarkan berbagai cara seni dan aktivisme bersinggungan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Para seniman menantang representasi tradisional, memanfaatkan media baru untuk menangani isu-isu lingkungan tertentu. Keterlibatan sosial-politik mereka berfokus pada faktor-faktor yang bernuansa, menghindari asumsi tanggung jawab yang umum. Buku ini menyoroti peran seniman dalam melakukan perubahan nyata melalui artivisme, menggunakan tubuh mereka di ruang publik dan membangun jaringan untuk mendapatkan dampak yang berkelanjutan.

Singkatnya, buku ini menjunjung tinggi pendekatan holistik, menggabungkan imajinasi kreatif, berbagi pengetahuan, dan keterlibatan sosial-politik untuk mengatasi krisis lingkungan. Seniman Indonesia muncul sebagai juara lokal yang melawan arus global, mempromosikan nilai-nilai keakraban, kebersamaan, dan koeksistensi, mengkatalisasi perubahan positif di tengah tantangan lingkungan.

Kata penutup merangkum eksplorasi buku ini, menekankan interaksi dinamis antara seni, visibilitas, dan krisis lingkungan. Metafora 'pergeseran cakrawala' merangkum tema-tema inti, menggambarkan kekuatan transformatif seni, kemampuannya untuk memprovokasi keterlibatan, dan perannya dalam menata ulang struktur sosial-politik melalui visi alternatif dan penyebaran pengetahuan.

Dengan pendekatan yang komprehensif dan praktis, buku ini membahas celah yang signifikan dalam literatur seni dan aktivisme di Asia Tenggara. Dirancang untuk pembaca yang beragam, termasuk akademisi, mahasiswa, seniman, kurator, pembuat kebijakan, aktivis, dan pembaca umum yang tertarik dengan lingkungan dan budaya Indonesia, buku ini menawarkan sumber daya yang berharga. Buku ini memberikan kontribusi pada pemahaman yang bernuansa tentang kekuatan transformatif seni dalam mendorong perubahan sosial dan politik dalam konteks aktivisme lingkungan.

Disadur dari: www.iias.asia

Selengkapnya
Seni Aktivisme Lingkungan di Indonesia: Pergeseran Cakrawala

Teknik Lingkungan

Industri Kertas di Indonesia: Menyeimbangkan Kemajuan dan Deforestasi

Dipublikasikan oleh Syayyidatur Rosyida pada 22 Juni 2024


Indonesia, negara kepulauan yang luas dengan ekosistem yang beragam, merupakan rumah bagi salah satu industri kertas yang paling signifikan di dunia. Namun, pertumbuhan industri ini telah menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap deforestasi, keanekaragaman hayati, dan kesehatan lingkungan secara keseluruhan. 

Dalam artikel ini, kami menyelidiki dinamika industri kertas di Indonesia, mengeksplorasi tantangan yang dihadapi industri ini dalam mencapai keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Pertumbuhan industri kertas di indonesia

Ketika kita berpikir tentang deforestasi di Indonesia, kita sering berpikir tentang tanggung jawab industri kelapa sawit. Untuk alasan yang baik. Namun, selama beberapa dekade terakhir, Indonesia juga telah menyaksikan pertumbuhan yang substansial dalam industri kertas, menjadi pemain utama di pasar global. Industri ini telah menjadi kontributor utama bagi perekonomian negara, menyediakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan pendapatan. Namun, seperti yang baru-baru ini disoroti oleh Mongabay, pertumbuhan ini telah menimbulkan dampak yang cukup besar bagi lingkungan.

Deforestasi: sisi gelap dari kemajuan

Salah satu masalah lingkungan yang signifikan yang terkait dengan industri kertas di Indonesia adalah deforestasi. Hutan hujan tropis yang luas, yang kaya akan keanekaragaman hayati dan sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekologi, telah ditebangi untuk membuka lahan bagi perkebunan kayu pulp. Deforestasi ini tidak hanya menyebabkan hilangnya flora dan fauna yang berharga, tetapi juga memperparah perubahan iklim dengan melepaskan karbon yang tersimpan ke atmosfer.

Peran hutan tanaman industri (HTI)

Hutan tanaman industri merupakan landasan bagi industri kertas, yang menyediakan bahan baku yang diperlukan untuk produksi kertas. Pohon akasia dan eukaliptus, spesies yang tumbuh cepat yang sering digunakan di perkebunan ini, dipilih karena kandungan seratnya yang tinggi. Namun, pembangunan hutan tanaman monokultur ini memiliki tantangan lingkungan tersendiri.

Perkebunan monokultur dan hilangnya keanekaragaman hayati

Konversi hutan alam menjadi perkebunan monokultur mengakibatkan penyederhanaan ekosistem yang berujung pada hilangnya keanekaragaman hayati. Spesies tanaman dan hewan asli yang dulunya tumbuh subur di lingkungan yang beragam, kesulitan untuk beradaptasi dengan lanskap yang homogen. Hal ini, pada gilirannya, memengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan dan mengganggu proses ekologi.

sumber: www.kaltimber.com

Inisiatif pemerintah dan tanggapan industri

Menyadari masalah lingkungan yang terkait dengan industri kertas, pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai inisiatif untuk mengatasi deforestasi dan mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan. Sistem sertifikasi seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bertujuan untuk memastikan bahwa produksi kertas mematuhi standar lingkungan dan sosial yang ketat.

Beberapa perusahaan dalam industri kertas juga telah mengambil langkah menuju keberlanjutan. Menerapkan praktik-praktik pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab, berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan untuk alternatif-alternatif yang berkelanjutan, dan mendukung upaya-upaya konservasi merupakan beberapa langkah yang diambil oleh para pemain terkemuka untuk mengurangi dampak lingkungan.

sumber: www.kaltimber.com

Jalan menuju produksi kertas berkelanjutan

Mencapai keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan merupakan tugas yang kompleks, namun sangat penting bagi kesehatan jangka panjang ekosistem Indonesia. Praktik kehutanan yang berkelanjutan, upaya konservasi, dan promosi prinsip-prinsip ekonomi sirkular dapat berkontribusi pada industri kertas yang lebih ramah lingkungan.

sumber: www.kaltimber.com

Keseimbangan adalah kuncinya!

Industri kertas di Indonesia berada di titik kritis, di mana keputusan yang diambil hari ini akan berdampak luas bagi lingkungan dan generasi mendatang. Meskipun industri ini telah memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi negara, mengatasi tantangan lingkungan yang ditimbulkannya sangatlah penting. Melalui upaya bersama dari pemerintah, pemangku kepentingan industri, dan konsumen, Indonesia dapat membuka jalan bagi industri kertas yang berkelanjutan dan bertanggung jawab yang menghormati keseimbangan antara kemajuan dan lingkungan.

Disadur dari: www.kaltimber.com

Selengkapnya
Industri Kertas di Indonesia: Menyeimbangkan Kemajuan dan Deforestasi

Teknik Lingkungan

Menjelajahi Minyak Kelapa Sawit: Masalah Ekonomi dan Lingkungan di Indonesia

Dipublikasikan oleh Syayyidatur Rosyida pada 22 Juni 2024


Industri kelapa sawit memiliki posisi strategis di Indonesia karena merupakan penyumbang devisa terbesar bagi perekonomian nasional, yaitu rata-rata USD 20 miliar per tahun. Perkebunan kelapa sawit merupakan industri pendorong yang berdampak besar bagi perekonomian Indonesia. Di beberapa kota di Indonesia, 45% merupakan perkebunan kelapa sawit rakyat yang merupakan sektor ekonomi penting bagi pembangunan ekonomi pedesaan, meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi kemiskinan.

Pentingnya ekonomi kelapa sawit di Indonesia

Kelapa sawit telah menjadi komponen penting dalam perekonomian Indonesia selama beberapa dekade, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap berbagai aspek lanskap ekonomi negara.

Pendapatan ekspor: Industri kelapa sawit Indonesia merupakan sumber pendapatan ekspor yang sangat penting, yang memperkuat neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Permintaan minyak kelapa sawit di pasar internasional telah mendorong Indonesia menjadi pengekspor terbesar di dunia untuk komoditas ini.

Kesempatan kerja: Sektor kelapa sawit menyediakan lapangan pekerjaan bagi jutaan orang Indonesia, mulai dari petani kecil dan pekerja perkebunan hingga mereka yang bekerja di fasilitas pengolahan dan transportasi. Industri ini memainkan peran penting dalam mengentaskan kemiskinan dan mempertahankan mata pencaharian di daerah pedesaan.

Pembangunan pedesaan: Budidaya kelapa sawit telah memfasilitasi pembangunan pedesaan dengan mendorong pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan sekolah, di daerah-daerah terpencil di mana perkebunan didirikan. Kehadiran industri ini telah membantu meningkatkan akses ke layanan penting dan berkontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan.

Masalah lingkungan yang terkait dengan produksi minyak kelapa sawit

Terlepas dari nilai ekonominya yang penting, produksi minyak kelapa sawit di Indonesia telah menimbulkan masalah lingkungan yang serius, yang menarik perhatian berbagai pemangku kepentingan dan mendorong seruan untuk melakukan praktik-praktik berkelanjutan.

Deforestasi: Salah satu masalah yang paling mendesak terkait dengan budidaya kelapa sawit adalah deforestasi, terutama di daerah yang memiliki keanekaragaman hayati seperti Sumatera dan Kalimantan. Pembukaan hutan dalam skala besar untuk perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan hilangnya habitat bagi spesies yang terancam punah seperti orangutan, harimau, dan gajah, sehingga mengancam kelangsungan hidup mereka.

Hilangnya keanekaragaman hayati: Konversi ekosistem alami menjadi perkebunan monokultur telah mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati, mengganggu keseimbangan ekologi yang rapuh, dan membahayakan berbagai spesies tanaman dan hewan endemik hutan hujan Indonesia. Hilangnya keanekaragaman hayati ini memiliki konsekuensi yang luas bagi ketahanan dan stabilitas ekosistem.

Emisi gas rumah kaca: Konversi hutan dan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, yang memperparah perubahan iklim. Metode pembukaan lahan, termasuk teknik tebang dan bakar, melepaskan sejumlah besar karbon dioksida dan polutan lainnya ke atmosfer, yang semakin memperparah pemanasan global.

Upaya menuju produksi minyak sawit berkelanjutan

Menyadari tantangan lingkungan yang terkait dengan produksi minyak kelapa sawit, berbagai pemangku kepentingan telah memulai upaya untuk mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan dan mengurangi dampak yang merugikan.

Program Sertifikasi: Organisasi seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) telah mengembangkan standar sertifikasi yang bertujuan untuk mempromosikan produksi minyak kelapa sawit yang bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. Produsen bersertifikat mematuhi kriteria yang berkaitan dengan deforestasi, konservasi keanekaragaman hayati, dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat lokal.

Peraturan Pemerintah: Pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan dan peraturan yang bertujuan untuk membatasi deforestasi dan mempromosikan praktik penggunaan lahan yang berkelanjutan di sektor kelapa sawit. Langkah-langkah yang diambil termasuk moratorium izin perkebunan kelapa sawit baru di hutan primer dan lahan gambut serta penegakan hukum lingkungan yang lebih ketat.

Komitmen Perusahaan: Perusahaan-perusahaan minyak kelapa sawit terkemuka dan produsen barang-barang konsumen telah membuat komitmen untuk mendapatkan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan melalui rantai pasokan mereka. Komitmen-komitmen ini termasuk janji nol-deforestasi, inisiatif penelusuran, dan dukungan bagi inklusi petani kecil dalam produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan.

Kesimpulan: dinamika kompleks yang membentuk industri ini

Telaah atas peran ganda kelapa sawit dalam perekonomian dan lingkungan hidup di Indonesia menunjukkan sebuah lanskap yang penuh dengan tantangan dan peluang. Meskipun kelapa sawit telah menjadi landasan ekonomi Indonesia, mendorong pendapatan ekspor, lapangan kerja, dan pembangunan pedesaan, produksinya juga menimbulkan tantangan lingkungan yang besar. Deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan emisi gas rumah kaca membayangi keberlanjutan industri ini, sehingga diperlukan upaya bersama untuk melakukan mitigasi dan adaptasi.

Di sisi lain, upaya mewujudkan kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia membutuhkan pendekatan holistik yang menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi dan integritas ekologi. Dengan mengintegrasikan praktik-praktik terbaik, merangkul inovasi teknologi, dan memprioritaskan upaya konservasi, Indonesia dapat memetakan arah menuju sektor kelapa sawit yang lebih adil dan tangguh. Melalui tindakan kolektif dan tanggung jawab bersama, para pemangku kepentingan dapat membangun masa depan di mana produksi kelapa sawit tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan dan sosial.

Dengan menapaki jalan ini dengan pandangan jauh ke depan, tekad yang kuat, dan komitmen terhadap kemakmuran bersama, Indonesia dapat membuka potensi penuh industri kelapa sawitnya sekaligus melestarikan warisan alam yang menopangnya. Hanya melalui pendekatan holistik seperti itu, Indonesia dapat membuka jalan menuju masa depan di mana kelapa sawit dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi sekaligus pelestari lingkungan.

Disadur dari: www.palmoilanalytics.com

Selengkapnya
Menjelajahi Minyak Kelapa Sawit: Masalah Ekonomi dan Lingkungan di Indonesia
page 1 of 9 Next Last »