Pertanian

Hasil Pertanian Kopi

Dipublikasikan oleh Admin pada 11 April 2024


Kopi atau kahwa adalah minuman yang dibuat dari biji kopi yang disangrai dan dihaluskan. Tanaman kopi ini ditanam di lebih dari 50 negara, dengan dua spesies utama yaitu Kopi Robusta dan Kopi Arabika.

Proses pembuatan kopi dimulai dari pemanenan biji yang telah matang, baik secara manual maupun menggunakan mesin. Kemudian biji kopi diproses dan dikeringkan sebelum dijadikan kopi gelondong. Proses berikutnya adalah penyangraian, dengan tingkat derajat yang bervariasi. Setelah disangrai, biji kopi dihaluskan menjadi bubuk sebelum dapat diseduh dan diminum.

Kopi pertama kali ditemukan oleh bangsa Etiopia sekitar 3000 tahun yang lalu. Sejak saat itu, kopi menjadi minuman populer yang dikonsumsi di seluruh dunia. Indonesia sendiri merupakan produsen kopi terbesar dengan produksi lebih dari 400 ribu ton per tahunnya. Selain memiliki rasa dan aroma yang menarik, kopi juga memiliki manfaat kesehatan seperti menurunkan risiko penyakit kanker, diabetes, batu empedu, dan penyakit jantung.

Sejarah singkat

Penemuan biji kopi dimulai sekitar tahun 800 SM di Afrika, terutama di Etiopia, di mana biji tersebut dikonsumsi untuk kebutuhan protein dan energi. Bangsa Arab kemudian mengadopsi pengolahan biji kopi dengan metode lebih maju, yang kemudian menjadi populer di kalangan umat Islam pada abad ke-13.

Pada abad ke-17, biji kopi dibawa ke Eropa, di mana bangsa Belanda menjadi salah satu yang pertama dalam budidaya kopi. Pada tahun 1690, biji kopi diperkenalkan di Pulau Jawa yang saat itu merupakan koloni Belanda. Kemudian, Raja Prancis menerima pohon kopi sebagai hadiah, tetapi seorang angkatan laut, Gabriel Mathieu di Clieu, membawa sebagian dari pohon tersebut ke Martinik, yang menjadi titik awal budidaya kopi yang sukses di sana.

Pada tahun 1727, pemerintah Brasil mengirimkan Letnan Kolonel Palheta ke Prancis untuk membawa pulang bibit kopi, tetapi gagal. Namun, Palheta berhasil mendekati istri gubernur Prancis dan membawa pulang biji kopi yang memungkinkan Brasil untuk memulai budidaya kopi dalam skala besar.

Sejarah waktu:

  • Pada sekitar tahun 1000 SM, saudagar Arab membawa biji kopi ke Timur Tengah dan memulai budidaya kopi di sana.
  • Pada tahun 1453, Ottoman Turki memperkenalkan minuman kopi di Konstantinopel, di mana kedai kopi pertama, Kiva Han, dibuka pada tahun 1475.
  • Tahun 1511, Sultan Mekah menganggap kopi sebagai minuman suci setelah ada upaya untuk melarangnya.
  • Pada tahun 1600, Paus Clement VIII mengizinkan umat Kristiani untuk minum kopi, sementara minuman ini juga tiba di Italia.
  • Tahun 1607, Kapten John Smith memperkenalkan kopi di Amerika Utara saat mencari koloni Virginia di Jamestown.
  • Kedai kopi pertama di Italia dibuka pada tahun 1645, di Inggris pada tahun 1652, dan di Paris pada tahun 1672.
  • Pada tahun 1668, kopi menggantikan bir sebagai minuman favorit di New York.
  • Pada tahun 1675, Franz Georg Kolschitzky menemukan kopi dan membuka kedai kopi di Eropa Tengah.
  • Tahun 1690, Belanda mulai mendistribusikan dan membudidayakan kopi secara komersial di Ceylon dan Jawa.
  • Gabriel Mathieu do Clieu mencuri biji kopi dari Belanda untuk ditanam di Martinik pada tahun 1714.
  • Kedai kopi pertama di Berlin dibuka pada tahun 1721.
  • Pada tahun 1727, era industri kopi dimulai di Brasil oleh Letnan Kolonel Francisco de Melo Palheta.
  • Tahun 1775, Frederick dari Prusia memblok impor kopi hijau, yang kemudian dikritik oleh masyarakatnya.
  • Hill Bros. memulai komersialisasi kopi kalengan pada tahun 1900.
  • Pada tahun 1901, Satori Kato berhasil menciptakan minuman kopi cepat saji.
  • Ludwig Roselius memisahkan kafeina dari biji kopi dan menjualnya dengan nama Sanka di Amerika Serikat pada tahun 1903.
  • Penjualan kopi meningkat pesat di Amerika Serikat pada tahun 1920.
  • Pada tahun 1938, Nestle mengkomersialkan produk kopi bernama Nescafe di Swiss.
  • Achilles Gaggia membuat kopi mokacino untuk pertama kalinya pada tahun 1946.

Biji Kopi

Terdapat dua jenis spesies utama biji kopi yang dominan di pasaran, yaitu Kopi Arabika dan Robusta. Arabika memiliki cita rasa terbaik dan tumbuh di ketinggian 600–2000 m di negara-negara beriklim tropis. Sementara Robusta, ditemukan di Kongo pada tahun 1898, memiliki rasa lebih pahit, sedikit asam, dan biasanya ditumbuhkan di daerah dengan ketinggian 800 m di atas permukaan laut. Selain itu, terdapat jenis kopi lainnya, seperti kopi luwak, yang merupakan turunan dari Arabika. Kopi luwak memiliki harga jual tertinggi karena proses unik pembentukannya melalui fermentasi di dalam perut hewan luwak, memberikan cita rasa yang unik pula.

Klasifikasi biji kopi dan grade kopi

Penanganan kopi melibatkan penentuan grade dan klasifikasi green beans agar kualitasnya dapat diidentifikasi dengan jelas. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan standar kualitas kopi yang komprehensif dan memastikan penetapan harga yang adil. Namun, sistem penilaian dan klasifikasi green beans berbeda di setiap negara karena dipengaruhi oleh faktor budaya dan kultural yang berbeda. Setiap negara produsen kopi memiliki metode dan standar sendiri dalam menentukan grade dan klasifikasi green beans, yang seringkali juga digunakan sebagai standar minimum ekspor.

Klasifikasi green beans bergantung pada beberapa faktor seperti ketinggian tempat tumbuhnya tanaman kopi, varietas kopi, pengolahan biji kopi, ukuran dan bentuk biji, serta kualitas cupping. Hal ini memungkinkan untuk membedakan antara kopi yang berkualitas tinggi dan rendah. Misalnya, kopi yang ditanam di ketinggian optimal cenderung memiliki biji yang lebih besar dan padat, menghasilkan profil rasa yang terbaik.

Prosedur klasifikasi green beans juga memperhitungkan jumlah dan jenis cacat biji kopi, serta densitas biji. Metode klasifikasi ini dapat bervariasi antar negara tergantung pada kebutuhan dan persyaratan pembeli green beans. Contohnya, Indonesia menggunakan sistem penilaian dengan grade yang berbeda berdasarkan total cacat biji kopi.

Setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda dalam menentukan grade dan klasifikasi green beans sesuai dengan kebutuhan lokal dan internasional, dan tidak selalu dapat disamakan atau dipaksakan standarisasinya ke negara lain.

Pembuatan minuman kopi

Biji kopi yang telah dipanen kemudian dipisahkan dari cangkangnya melalui metode pengeringan di bawah sinar matahari atau penggilingan menggunakan mesin. Setelah itu, biji kopi mengalami proses pemanggangan untuk meningkatkan cita rasa dan warnanya. Selanjutnya, biji kopi digiling untuk memperbesar luas permukaannya agar ekstraksi menjadi lebih efisien. Penggilingan dilakukan dengan cermat untuk menghasilkan rasa, aroma, dan penampilan yang baik. Setelah digiling, biji kopi siap untuk direbus dengan baik dan sempurna. Proses perebusan memerlukan perhatian terhadap berbagai variabel seperti komposisi biji kopi dan air, suhu air, dan waktu perebusan agar menghasilkan minuman kopi yang berkualitas. Proses dekafeinasi juga dapat dilakukan untuk mengurangi kadar kafeina dalam kopi.

Penjualan dan distribusi

Penjualan dan distribusi kopi merupakan bagian integral dari ekonomi kopi global. Brasil tetap menjadi pemimpin dalam ekspor kopi, namun Vietnam juga meningkatkan ekspornya secara signifikan, khususnya biji robusta. Sementara itu, Indonesia menjadi produsen terbesar kopi arabika yang telah dicuci, sementara Honduras berkembang pesat dalam produksi kopi organik. Harga kopi global mengalami penurunan signifikan pada tahun 2013, menciptakan tantangan bagi industri kopi. Di Thailand, biji kopi gading hitam dimakan oleh gajah untuk mengurangi rasa pahit, menjadikannya kopi termahal di dunia.

Di Indonesia, konsumsi kopi meningkat secara signifikan, didorong oleh pertumbuhan kedai kopi specialty dan kafe waralaba. Pasar kopi juga diperdagangkan sebagai komoditas di pasar komoditas global, dengan kontrak berjangka untuk arabika dan robusta diperdagangkan di bursa berbeda di seluruh dunia. Kopi tetap menjadi salah satu komoditas ekspor penting bagi negara-negara berkembang. Hari Kopi Internasional, yang dimulai di Jepang pada tahun 1983, dirayakan di berbagai negara pada tanggal 29 September setiap tahunnya.

Jenis-jenis minuman kopi:

  1. Kopi Hitam: Kopi hitam adalah kopi murni yang dibuat dengan merebus biji kopi tanpa tambahan perisa lain.

  2. Espresso: Espresso adalah jenis kopi yang dibuat dengan mengekstraksi biji kopi menggunakan uap panas pada tekanan tinggi.

  3. Latte (Coffee Latte): Latte adalah kopi espresso yang dicampur dengan susu dalam rasio 3:1.

  4. Café au Lait: Café au Lait mirip dengan latte, tetapi menggunakan campuran kopi hitam dan susu.

  5. Caffè Macchiato: Caffè Macchiato adalah espresso yang diberi sedikit susu dalam rasio 4:1.

  6. Cappuccino: Cappuccino adalah kopi dengan tambahan susu, krim, dan serpihan cokelat.

  7. Dry Cappuccino: Dry cappuccino adalah varian cappuccino dengan sedikit krim dan tanpa susu.

  8. Frappé: Frappé adalah espresso yang disajikan dingin.

  9. Kopi Instan: Kopi instan berasal dari biji kopi yang dikeringkan dan dijadikan granul.

  10. Irish Coffee: Irish coffee adalah kopi yang dicampur dengan whiskey.

  11. Kopi Tubruk: Kopi tubruk adalah kopi asli Indonesia yang dimasak bersama gula.

  12. Melya: Melya adalah kopi dengan tambahan bubuk cokelat dan madu.

  13. Kopi Mocha: Kopi Mocha mirip dengan cappuccino dan latte, tetapi dengan tambahan sirup cokelat.

  14. Oleng: Oleng adalah jenis kopi khas Thailand yang dimasak dengan jagung, kacang kedelai, dan wijen.


Disadur dari: id.wikipedia.org

 

Selengkapnya
Hasil Pertanian Kopi

Pertanian

Pohon Budi Daya Kakao

Dipublikasikan oleh Admin pada 11 April 2024


Dalam artikel ini kita akan membahas jenis pohon yang menghasilkan makanan/minuman yang sangat popuuer di dunia yaitu coklat. Coklat dihasilkan dari pohon kakao yang memiliki nama ilmiah Theobroma cacao L. Kakao adalah tanaman budidaya yang berasal dari Amerika Selatan. Saat ini, tanaman ini ditanam di berbagai wilayah tropis di seluruh dunia. Biji kakao yang diproduksi oleh tanaman ini diolah menjadi berbagai produk yang dikenal masyarakat sebagai cokelat.

Botani pohon kakao

Kakao merupakan tanaman tahunan yang berbentuk pohon dan bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian 10 meter di alam. Namun, dalam budi daya, tinggi pohon biasanya dibatasi menjadi tidak lebih dari 5 meter saja. Hal ini dilakukan supaya cabangnya dapat berkembang dengan baik. Bunga kakao tumbuh langsung dari batang tanaman dan biasanya diserbuki oleh serangga seperti lalat kecil, semut bersayap, afid, dan beberapa jenis lebah.

Buah kakao berkembang dari bunga yang telah diserbuki dan memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada bunganya. Buah ini biasanya berbentuk bulat hingga memanjang dan berubah warna dari hijau atau ungu. Dan kemudian berubah menjadi kuning kalau sudah matang. Di dalam buah terdapat biji yang dikelilingi oleh pulp berwarna putih. Pulp inilah yang akan difermentasi selama tiga hari setelah panen, kemudian biji dikeringkan di bawah sinar matahari.

Syarat pertumbuhan dan penyebaran

Kakao secara alami tumbuh di hutan yang memiliki iklim tropis. Tanaman kakao termasuk dalam kategori tanaman yang menyukai naungan, dengan kemungkinan hasil yang bervariasi antara 50 hingga 120 buah per pohon setiap tahunnya. Pada umumnya, kakao tumbuh dalam kelompok di sepanjang tepi sungai. Akarnya pohonnya kemungkinan akan terendam air dalam waktu yang cukup lama selama setahun. Tanaman ini biasanya ditemukan pada ketinggian rendah, di bawah 300 meter di atas permukaan laut, dan tumbuh subur di daerah dengan curah hujan antara 1.000 hingga 3.000 mm per tahun.

Asal-usul kakao berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan bagian utara Amerika Selatan (termasuk Kolombia, Ekuador, Venezuela, Brasil, Guyana, Suriname, dan Guyana Prancis). Selain itu, kakao juga telah diperkenalkan sebagai tanaman komersial ke banyak negara tropis di Afrika dan Asia.

Varietas, kecepatan pertumbuhan dan produksi

Terdapat beberapa varietas kakao, termasuk Criolo, Forastero, dan Trinitario. Criolo dikenal sebagai kakao mulia, sementara Forastero adalah varietas terbesar yang diolah dan ditanam. Trinitario merupakan hasil persilangan antara Forastero dan Criolo. Kakao mulia diproduksi dari varietas Criolo, sementara kakao curah berasal dari jenis Forastero.

Proses produksi biji kakao dimulai dari penanaman bibit, dan buahnya dapat dipanen setelah sekitar lima bulan. Proses ini meliputi pemeraman buah untuk memudahkan pengeluaran biji, pemecahan buah, fermentasi biji selama enam hari, perendaman dan pencucian untuk menghentikan fermentasi dan membersihkan biji, pengeringan untuk menurunkan kadar air dalam biji, penyortiran biji berdasarkan mutunya, dan penyimpanan dalam karung goni.

Produk Olahan Kakao

Produk olahan primer:

  • Produk utama dari biji kakao adalah cokelat.
  • Bubuk kakao dan cocoa butter dihasilkan dari biji kakao yang telah difermentasi dan dipanggang.
  • Cokelat memiliki rasa khas yang berkembang selama proses fermentasi dan mengandung banyak polifenol, terutama flavonoid seperti flavan-3-ols.
  • Sejarah mencatat tiga kelompok kultivar utama biji kakao: Criollo, Forastero, dan Trinitario, dengan Criollo dianggap yang paling berharga dan langka.
  • Bubuk kakao digunakan dalam berbagai produk seperti kue, es krim, dan susu.

Produk olahan sekunder:

  • Bubuk kakao digunakan dalam pembuatan berbagai makanan dan minuman, serta dijuluki sebagai coklat dalam bahasa sehari-hari.
  • Rasa gurih dan aroma khas coklat membuatnya disukai oleh banyak orang, terutama anak-anak dan remaja.

Standardisasi produk olahan kakao:

  • Badan Standardisasi Nasional menerbitkan aturan standar untuk produk cokelat dan turunannya.
  • Standarisasi produk olahan kakao, seperti yang diatur oleh SNI 7934:2014, penting untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk.

Produksi Indonesia

Sejak tahun 1930, kakao (Theobroma cacao L.) telah menjadi salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran penting dalam ekonomi Indonesia. Pada tahun 2010, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai pengekspor biji kakao terbesar di dunia, setelah Negara Pantai Gading dan Ghana, dengan produksi biji kering.

Daerah-daerah penghasil kakao di Indonesia meliputi Sulawesi Selatan (28,26%), Sulawesi Tengah (21,04%), Sulawesi Tenggara (17,05%), Sumatera Utara (7,85%), Kalimantan Timur (3,84%), Lampung (3,23%), dan daerah lainnya (18,74%). Budidaya kakao di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat, masih belum berkembang secara signifikan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016, daerah di Jawa Barat yang memiliki produksi kakao terbesar adalah Cianjur, Bandung Barat, dan Sukabumi.


Disadur dari: id.wikipedia.org

 

Selengkapnya
Pohon Budi Daya Kakao

Pertanian

Jika Mau Kurangi Gandum dan Menggantinya dengan Singkong, Indonesia Bisa Hemat Hingga Rp. 36 Triliun

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 06 Maret 2024


Menurut Dwidjono Hadi Darwanto, Kepala Laboratorium Kebijakan Pertanian dan Lingkungan di Universitas Gadjah Mada, Indonesia memiliki ketergantungan yang meningkat terhadap impor gandum, menyebabkan beban finansial yang besar bagi negara. Pada tahun 2021, impor gandum mencapai 11,17 juta ton dengan nilai sekitar 3,55 miliar USD. Situasi ini mengancam krisis pangan karena banyaknya produk makanan yang bergantung pada tepung gandum.

Untuk mengatasi hal ini, Darwanto menyarankan Indonesia harus beralih ke diversifikasi tepung menggunakan bahan lokal, seperti tepung singkong atau mocaf. Tepung mocaf dapat menggantikan tepung gandum hingga 60-70% tanpa mengubah rasa makanan. Hal ini dapat menghemat hingga 32-36 triliun rupiah per tahun.

Selain itu, ada juga bahan lain yang dapat digunakan sebagai substitusi tepung gandum, seperti talas, sorgum, ubi jalar, dan porang. Namun, untuk melaksanakan diversifikasi ini, tidak hanya petani yang perlu didorong, tetapi juga pasar dan industri makanan.

Achmad Yakub dari Institut Agroekologi Indonesia mengatakan bahwa kesuksesan dalam melaksanakan diversifikasi tepung gandum akan memberikan banyak manfaat, termasuk meningkatkan ekonomi nasional dan mengurangi konversi lahan pertanian. Program ini layak didukung, dengan catatan tidak hanya menjadi proyek elit atau sekadar lip service untuk pemerintah.

 

Disadur dari: https://kumparan.com/pandangan-jogja/indonesia-bisa-hemat-rp-36-triliun-jika-mau-kurangi-gandum-dan-diganti-singkong-1yShD0FmFZ6

Selengkapnya
Jika Mau Kurangi Gandum dan Menggantinya dengan Singkong, Indonesia Bisa Hemat Hingga Rp. 36 Triliun

Pertanian

Pengertian Dari Agronomi

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 01 Maret 2024


Pertanian mencakup proses ilmiah dan teknologi yang terlibat dalam membudidayakan dan memanfaatkan tanaman untuk berbagai tujuan seperti makanan, bahan bakar, serat, bahan kimia, rekreasi, dan pelestarian lahan. Pertanian modern juga mencakup bidang penelitian seperti genetika tanaman, fisiologi tanaman, meteorologi, dan ilmu tanah. Ini melibatkan aplikasi interdisipliner bidang-bidang seperti biologi, kimia, ekonomi, ekologi, ilmu bumi, dan genetika. Para profesional yang berspesialisasi dalam bidang pertanian disebut sebagai ahli agronomi.

Sejarah Agronomi:

Pemuliaan Tanaman

Bidang agronomi ini mencakup pemuliaan selektif tanaman untuk menghasilkan tanaman terbaik untuk berbagai kondisi. Pemuliaan tanaman telah meningkatkan hasil panen dan meningkatkan nilai gizi berbagai tanaman, termasuk jagung, kedelai, dan gandum. Ini juga menghasilkan pengembangan jenis tanaman baru. Sebagai contoh, gandum hibrida yang dinamakan tritikale diproduksi dengan persilangan antara gandum dan gandum. Tritikale mengandung protein yang lebih mudah dicerna daripada baik gandum maupun gandum. Agronomi juga telah menjadi instrumen penting untuk penelitian produksi buah dan sayuran. Selain itu, penerapan pemuliaan tanaman untuk pengembangan rumput-rumputan telah menghasilkan pengurangan dalam permintaan pupuk dan input air, serta jenis rumput dengan resistensi penyakit yang lebih tinggi.

Bioteknologi

Agronom menggunakan bioteknologi untuk memperpanjang dan mempercepat pengembangan karakteristik yang diinginkan. Bioteknologi seringkali merupakan kegiatan laboratorium yang membutuhkan pengujian lapangan terhadap varietas tanaman baru yang dikembangkan. Selain meningkatkan hasil panen, bioteknologi agronomi semakin banyak digunakan untuk penggunaan baru selain pangan. Sebagai contoh, biji-bijian saat ini digunakan terutama untuk margarin dan minyak makan lainnya, tetapi dapat dimodifikasi untuk menghasilkan asam lemak untuk deterjen, bahan bakar pengganti, dan petrokimia.

Ilmu Tanah

Agronom mempelajari cara berkelanjutan untuk membuat tanah lebih produktif dan menguntungkan. Mereka mengklasifikasikan tanah dan menganalisisnya untuk menentukan apakah mengandung nutrisi penting untuk pertumbuhan tanaman. Makronutrien umum yang dianalisis meliputi senyawa nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan belerang. Tanah juga dinilai untuk beberapa mikronutrien, seperti seng dan boron. Persentase bahan organik, pH tanah, dan kapasitas penahanan nutrisi juga diuji di laboratorium regional. Agronom akan menginterpretasikan laporan laboratorium ini dan memberikan rekomendasi untuk memodifikasi nutrisi tanah guna pertumbuhan tanaman optimal.

Konservasi Tanah

Selain itu, agronom mengembangkan metode untuk menjaga tanah dan mengurangi efek erosi oleh angin dan air. Sebagai contoh, teknik yang dikenal sebagai tanam kontur dapat digunakan untuk mencegah erosi tanah dan mengonservasi curah hujan. Peneliti agronomi juga mencari cara untuk menggunakan tanah lebih efektif dalam menyelesaikan masalah lain. Masalah-masalah tersebut termasuk pembuangan kotoran manusia dan hewan, polusi air, dan akumulasi pestisida di tanah, serta menjaga tanah untuk generasi mendatang seperti pembakaran padang setelah produksi tanaman. Teknik manajemen padang rumput meliputi pertanian tanpa pembajakan, penanaman rumput pengikat tanah di sepanjang kontur pada lereng curam, dan menggunakan saluran kontur dengan kedalaman hingga 1 meter.

Agroekologi

Agroekologi adalah pengelolaan sistem pertanian dengan penekanan pada aplikasi ekologi dan lingkungan. Topik ini erat terkait dengan pekerjaan untuk pertanian berkelanjutan, pertanian organik, dan sistem pangan alternatif serta pengembangan sistem penanaman alternatif.

Model Teoritis

Ekologi produksi teoritis adalah studi kuantitatif tentang pertumbuhan tanaman. Tanaman diperlakukan sebagai jenis pabrik biologis, yang mengolah cahaya, karbon dioksida, air, dan nutrisi menjadi produk yang dapat dipanen. Parameter utama yang dipertimbangkan adalah suhu, sinar matahari, biomassa tanaman yang berdiri, distribusi produksi tanaman, serta pasokan nutrisi dan air.


Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Agronomi

 

Selengkapnya
Pengertian Dari Agronomi

Pertanian

Penjelasan Untuk Pertanian Berkelanjutan

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 01 Maret 2024


Pertanian berkelanjutan adalah gerakan pertanian yang menerapkan prinsip-prinsip ekologi, yang mempelajari hubungan antara organisme hidup dan lingkungannya. Pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai sistem terpadu praktik produksi tumbuhan dan hewan dalam satu lokasi, yang memiliki fungsi jangka panjang berikut:

  1. Memenuhi kebutuhan pangan manusia dan serat.
  2. Peningkatan kualitas lingkungan dan sumber daya alam yang berbasis pertanian.
  3. Penggunaan yang sangat efisien dari sumber daya alam tak terbarukan.
  4. Pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lahan pertanian secara terpadu, dengan penggunaan pengendalian dan siklus biologis untuk meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat secara keseluruhan.

Meskipun demikian, pertanian berkelanjutan sering kali dianggap sebagai langkah menuju tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Pertanian yang benar-benar berkelanjutan bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi, meminimalkan dampak terhadap lingkungan, mengurangi penggunaan barang-barang kemasan, mendorong pembelian lokal melalui rantai pasokan pangan yang pendek, mengurangi konsumsi bahan makanan olahan, dan meningkatkan kegiatan berkebun di masyarakat dan di rumah. Meskipun beberapa pihak berpendapat bahwa pertanian berkelanjutan mungkin menghadapi tantangan secara ekonomi.

Sumber Daya Pertanian Berlanjutan

Sumber daya alam merupakan komponen vital dalam pertanian berkelanjutan, yang menggabungkan prinsip-prinsip ekologi dalam praktik produksi tanaman dan hewan. Faktor seperti cahaya matahari, udara, tanah, dan air memegang peranan penting dalam pemanfaatan sumber daya alam di lahan pertanian. Pengelolaan yang baik terhadap faktor ini sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan pertanian. Pentingnya nutrisi tanah menjadi perhatian dalam pertanian berkelanjutan, di mana pengembalian nutrisi ke tanah menjadi kunci dalam meminimalkan penggunaan sumber daya alam non-terbarukan seperti gas alam dan mineral. Cara pengembalian nutrisi dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti daur ulang sampah organik, tanaman legum, produksi nitrogen industri, serta teknologi rekayasa genetika.

Pengelolaan air juga merupakan aspek penting dalam pertanian berkelanjutan, di mana irigasi yang tepat dan manajemen drainase sangat diperlukan untuk mencegah salinisasi tanah dan menjaga keberlanjutan sumber daya air. Erosi tanah juga menjadi perhatian utama, di mana metode pertanian tanpa pembajakan dan desain jalur kunci menjadi solusi untuk mengurangi erosi tanah. Selain itu, ketersediaan lahan pertanian juga menjadi isu penting, terutama dengan meningkatnya permintaan akan bahan pangan dan tekanan untuk memperluas lahan pertanian. Namun, perlu diingat bahwa perluasan lahan pertanian juga berkontribusi pada deforestasi dan kehilangan biodiversitas, sehingga pengelolaan lahan yang bijaksana sangat diperlukan.

Di sisi energi, pertanian berkelanjutan juga berupaya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dengan mengembangkan teknologi energi terbarukan dalam rantai produksi pangan. Hal ini menjadi penting mengingat keterbatasan dan kenaikan harga bahan bakar fosil yang dapat mempengaruhi ketahanan pangan global. Dengan demikian, upaya untuk memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan dalam pertanian adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan memastikan ketahanan pangan jangka panjang.


Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian_berkelanjutan

Selengkapnya
Penjelasan Untuk Pertanian Berkelanjutan

Pertanian

Dukungan Pemerintah Terhadap Subsidi Pertanian

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 01 Maret 2024


Subsidi pertanian adalah dukungan keuangan yang diberikan oleh pemerintah kepada petani dan pelaku bisnis pertanian untuk membantu mendukung pendapatan mereka, mengatur pasokan komoditas pertanian, dan memengaruhi permintaan serta penawaran komoditas tertentu. Subsidi ini dapat diberikan untuk berbagai jenis komoditas, baik hasil pertanian maupun hasil peternakan, dan bisa bersifat umum atau ditujukan untuk tujuan penggunaan khusus, seperti dalam program pemberian makanan di sekolah. Meskipun demikian, subsidi pertanian sering kali menjadi topik kontroversial karena keterlibatan besar perusahaan agribisnis yang memiliki kepentingan politik dan ekonomi dalam hal tersebut.

Dampak Subsidi Pertanian

Subsidi pertanian berfungsi sebagai aliran uang dari pembayar pajak ke pemilik lahan usaha tani, namun dampaknya kompleks dan sering kontroversial.

1. Perdagangan Internasional dan Harga Pangan Global

Subsidi komoditas pertanian yang diekspor dapat menurunkan harga global, menguntungkan konsumen di negara berkembang. Namun, hal ini merugikan petani non-subsidi dan meningkatkan kemiskinan dengan mengurangi harga pangan. Perdebatan seputar subsidi pertanian sering menghambat pembicaraan perdagangan internasional.

2. Kemiskinan di Negara Berkembang

Subsidi pertanian di negara maju menurunkan harga pangan global, sehingga petani di negara berkembang sulit bersaing. Dampaknya termasuk peningkatan kemiskinan di kalangan petani non-subsidi. Contohnya, Haiti mengalami penurunan produksi beras lokal karena tidak bisa bersaing dengan impor beras yang disubsidi.

3. Dampak pada Asupan Nutrisi

Subsidi pangan berkalori tinggi dapat menyebabkan obesitas karena harga yang murah. Misalnya, jagung digunakan sebagai pakan ternak, meningkatkan kandungan lemak dalam daging sapi. Namun, penelitian mengenai kaitan kebijakan pertanian dengan obesitas masih kontroversial.

4. Dampak Lingkungan

Subsidi pada pertanian skala besar mendorong pertanian monokultur yang merusak lingkungan dan mengancam keberlangsungan lebah sebagai penyerbuk alami. Subsidi pada industri daging juga menyebabkan masalah lingkungan seperti emisi gas rumah kaca dan konsumsi air yang besar.

Intervensi pemerintah melalui subsidi pertanian dapat mengganggu mekanisme pasar, memengaruhi produksi dan harga komoditas, serta menyebabkan ketidakadilan ekonomi.

Subsidi Pertanian di Berbagai Wilayah

  1. Uni Eropa

    • Pada tahun 2010, Uni Eropa mengalokasikan 47 Miliar Euro untuk pertanian, dengan sebagian besar subsidi didasarkan pada luas lahan yang dikelola. Sektor pertanian dan perikanan menerima 40% dari dana tersebut.
  2. Afrika

    • Peningkatan harga pangan dan pupuk telah meningkatkan kerawanan pangan di wilayah perkotaan dan pedesaan di beberapa negara miskin di Afrika. Kebijakan baru berfokus pada peningkatan produktivitas tanaman pangan pokok.
  3. Selandia Baru

    • Selandia Baru memiliki sistem pertanian dengan pasar yang sangat terbuka setelah reformasi pada tahun 1984 yang menghentikan semua jenis subsidi. Subsidi pertanian di negara lain dianggap sebagai hambatan bagi Selandia Baru dalam bersaing sebagai negara pengekspor bahan pertanian.
  4. Amerika Serikat

    • Amerika Serikat memberikan subsidi sekitar US$ 20 miliar per tahun kepada petani melalui U.S. farm bill. Program ini telah mengalami perubahan signifikan dari tahun 1930an hingga saat ini, dengan sebagian besar subsidi diberikan kepada produsen jagung karena kebijakan energi yang mengarah pada produksi etanol dari jagung.
  5. Asia

    • Subsidi pertanian tetap menjadi topik utama dalam perdagangan global. Jepang dan Korea Selatan termasuk di antara negara-negara di Asia yang memberikan subsidi besar kepada petani mereka, meskipun ada upaya untuk mengubah sektor pertanian di Korea Selatan yang dihadapi dengan resistensi dari berbagai pihak.

 
Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Subsidi_pertanian

Selengkapnya
Dukungan Pemerintah Terhadap Subsidi Pertanian
page 1 of 8 Next Last »