Wirausaha

Kemenperin Tingkatkan Populasi IKM Inovatif dengan Cara Latih Ribuan Wirausaha Baru

Dipublikasikan oleh Siti Nur Rahmawati pada 22 Agustus 2022


Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) semakin meningkatkan kemampuan wirausaha baru (WUB) sektor industri kecil dan menengah (IKM) untuk semakin tumbuh serta berdaya saing dalam memproduksi barang dan jasa. Para IKM terus dilatih oleh Kemenperin dalam meningkatkan kreativitas dan inovasi, dan memperkuat keterampilan teknis, terutama dalam penggunaan teknologi informasi guna mengembangkan usahanya.

“Ditjen IKMA Kemenperin dengan rutin melakukan bimbingan teknis serta pendampingan kepada WUB IKM di berbagai daerah agar mereka dapat naik kelas menjadi pelaku IKM yang inovatif. Program ini tujuannya untuk meningkatkan perhatian WUB IKM terhadap legalitas usaha melalui perizinan berusaha yang saat ini bisa diakses dengan mudah melalui web Online Single Submission (OSS),” tutur Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita di Jakarta, Senin(18/7).

Ditjen IKMA Kemenperin mempunyai 2 program utama dalam rangka meningkatkan populasi IKM melalui kewirausahaan. Pertama, untuk calon wirausaha baru yang belum lama merintis usaha, Ditjen IKMA terus menggelar pelatihan WUB melalui program santripreneur, pelatihan WUB di daerah tertinggal, perbatasan, terluar, dan pascabencana. Kedua, pendampingan WUB yang bersinergi dengan kementerian dan lembaga lain mencakup dekonsentrasi.

“Sampai triwulan 2022, Ditjen IKMA sudah melatih 12.700 wirausaha baru serta memfasilitasi 3.648 wirausaha baru industri kecil dengan legalitas usaha. Selain itu, program penumbuhan WUB tahun 2021 berhasil melatih 6.258 WUB dan memberikan fasilitasi legalitas usaha kepada 3.048 WUB,” ujar Reni.

Sesudah melalui program dasar pelatihan WUB, Ditjen IKMA memfasilitasi pula pelaku IKM dalam program peningkatan daya saing melalui beragam pendampingan, perluasan akses pasar, pameran, serta awarding.

Menurut Reni, program ini penting guna mendongkrak kemampuan sektor IKM yang selama ini berkontribusi besar dalam perekonomian nasional. “Saat ini banyaknya unit usaha IKM mencapai 4,4 juta unit usaha atau 99,7 persen dari total unit usaha industri, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 10,36 juta orang atau 66,25 persen dari total tenaga kerja industri, IKM mampu berkontribusi sejumlah 21,47 persen dari total nilai output industri nasional,” ungkapnya.

Setelah 2 tahun dihadapkan oleh pandemi Covid-19, ekonomi Indonesia semakin pulih. Tingkat konsumsi masyarakat yang saat ini kembali meningkat ikut menggiatkan aktivitas IKM dalam memproduksi barang ataupun jasa.

“Dengan kreativitas, WUB IKM dapat mempergunakan serta mengolah sumber kekayaan alam menjadi produk berkualitas. Apalagi, akses teknologi informasi yang semakin berkembang memudahkan WUB IKM dalam proses produksi, sampai mengenalkan dan memasarkan produknya,” ujar Reni.

Selain itu, Direktur  IKM Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut Kemenperin, Dini Hanggandari mengungkapkan, Ditjen IKMA sudah menyelenggarakan pula Bimbingan Teknis WUB IKM di Provinsi Maluku guna meningkatkan wawasan dan keterampilan teknis serta menguatkan jejaring antar IKM. Bimbingan Teknis WUB IKM di Provinsi Maluku ini menyasar WUB IKM di bidang ikan asap cair, daur ulang limbah, kerajinan plastik, perbaikan elektronik, pengolahan daging ikan serta anyaman lidi.

Sementara itu, reparasi mesin kapal angkutan, servis ponsel, pangan berbasis hasil laut, anyaman daun lontar, dan perbaikan mesin motor tempel. Bimtek itu digelar di 4 kabupaten dan kota di Provinsi Maluku dengan tema sesuai potensi komoditas di masing-masing daerah.


Disadur dari sumber kemenperin.go.id

Selengkapnya
Kemenperin Tingkatkan Populasi IKM Inovatif dengan Cara Latih Ribuan Wirausaha Baru

Wirausaha

Fenomena Mengejutkan! Usaha Sepatu Cibaduyut Berguguran, Gulung Tikar, Kenapa?

Dipublikasikan oleh Siti Nur Rahmawati pada 22 Agustus 2022


Jakarta, CNBC Indonesia - Kejayaan Cibaduyut, Bandung sebagai sentra industri sepatu perlahan semakin memudar. Kini, banyak pedagang yang terpaksa gulung tikar sebab menurunnya penjualan. Pantauan CNBC Indonesia di lokasi pada akhir pekan kemarin, banyak toko sepatu yang saat ini sudah tutup.

Salah satu pedagang Sri Nilawati mengaku banyak rekannya yang sekarang tutup sebab penjualan telah jauh menurun, terutama bila membandingkannya dengan beberapa tahun lalu sebelum pandemi. Kondisi ini sangat terlihat jelas dari deretan toko di Cibaduyut banyak yang tertutup rapat.

"Tutup semua, sudah gulung tikar. Ada mungkin setengahnya telah berkurang," ujar Sri kepada CNBC Indonesia, akhir pekan lalu.

Keputusan para pedagang untuk menutup tokonya disebabkan penjualan yang tak sebanding dengan modal. Untuk menyewa lapak di salah satu sudut Cibaduyut membutuhkan uang yang tak sedikit. Semisal saja untuk ukuran sekitar 4m2, pedagang harus merogoh kocek belasan sampai puluhan juta per tahunnya.

"Jauh bedanya, kalau dulu lumayan, minggu hari gini bisa mendapatkan Rp. 3 juta - Rp. 5 juta, saat ini boro-boro dapat Rp. 100 ribu saja sudah untung, menurunnya jauh. Terakhir ramai 2019 sebelum covid. Sekarang sehari kadang ya penglaris kadang hanya mendapatkan Rp. 20 ribu sebab orang luar kota tidak boleh masuk," kata Sri.

Dengan pendapatan sebesar itu, banyak yang akhirnya tak kuat lagi menahan beban. Apalagi, pedagang juga harus menyiapkan biaya lain seperti listrik sampai biaya operasional. Meskipun pandemi, sebagian pedagang tak memperoleh keringanan biaya.

"Saya mengontrak Rp. 15 juta setahun. Dulu dan sekarang sama saja biayanya. Oleh karena itu banyak yang jualan online. Tetapi saya tidak karena belum bisa," kata Sri yang telah berjualan sepatu di Cibaduyut semenjak 2004.


Disadur dari sumber cnbcindonesia.com

Selengkapnya
Fenomena Mengejutkan! Usaha Sepatu Cibaduyut Berguguran, Gulung Tikar, Kenapa?

Wirausaha

Ayo Telusuri Sejarah Kultur Sepatu Cibaduyut di BSS 3.0

Dipublikasikan oleh Siti Nur Rahmawati pada 22 Agustus 2022


KOMPAS.com - Kota Bandung mempunyai sejarah cukup panjang terkait sepatu. Salah satunya ditandai dengan sentra industri sepatu Cibaduyut. Sejarah sepatu di Cibaduyut dimulai pada zaman Belanda tepatnya tahun 1920 ketika beberapa warga di sana bekerja di sebuah pabrik di Kota Bandung.

Setelah mempunyai keterampilan membuat sepatu, satu per satu mereka keluar dan membangun sendiri bisnis mereka di rumahnya. Lama-kelamaan, angka perajin bertambah banyak. Cibaduyut akhirnya dikenal orang sebagai tempat orang mencari sepatu murah. Bahkan, Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) pernah menganugerahkan Cibaduyut sebagai kawasan terpanjang khusus sentra industri sepatu.

Sebab, di jalan sepanjang 2 km ini, toko maupun kios industri sepatu berjejer dengan rapi. Berjalannya waktu, nama Cibaduyut kian tenggelam. Banyaknya produk sepatu impor dengan harga yang sangat murah, membuat bisnis sepatu Cibaduyut "ngos-ngosan".

Apalagi, patung sepatu sebagai ciri khasnya sudah hilang terkena proyek pembangunan fly over. Kabarnya, patung tersebut saat ini disimpan menanti proyek fly over rampung. Cerita soal Cibaduyut ini diangkat Bandung Sneaker Season (BSS) 3.0. BSS mengupas sejarah kultur sepatu Bandung di Cibaduyut, melalui kolaborasi berbentuk video. "Dikenal sebagai sentra bengkel pembuatan sepatu, nama Cibaduyut justru tenggelam, dipandang sebelah mata." Demikian kata blogger sneaker, Isser James yang turut terlibat sebagai director video teaser.

Dalam video ini, Isser memvisualisasikan Cibaduyut sebagai industri kreatif lokal. Bagaimana kehidupan para perajin di sana. "Ketika datang ke Cibaduyut, saya melihat mereka bukan hanya jualan produk, namun mereka bengkel untuk brand lain," ungkap Isser di sela-sela BSS 3.0 di Bandung, belum lama ini. Isser mengungkapkan, kolaborasi ini sebagai bentuk marketing dan belajar bersama tentang perkembangan sejarah sepatu. Sebab dalam obrolannya di lapangan, produsen Cibaduyut mempunyai kekurangan tak mengetahui caranya menjual produk.

Teaser video yang ditayangkan di acara BSS ini mengundang minat para pecinta sneaker yang hadir. Terlebih lagi, terdapat sebagian dari mereka yang tak mengetahui hal tersebut. "Baru tahu tentang cerita Cibaduyut ini," ujar salah satu pengunjung, Jeremi. Event BSS digelar selama 3 hari (22-24 April 2022).

Diramaikan 70 UMKM sneaker dan apparel dan berbagai komunitas. Ada Scooter, Custom Motorbike, Motor Classic, Skate, BMX, Quad, Inline, Hip Hop, Mural, Tamiya, dan Sneakers, membuat acara ini meriah. Pengunjung selalu terlihat asik memilih sepatu dan apparel yang diinginkan. Sesudah selesai berbelanja mereka melihat aksi para komunitas. Sejumlah jenis sepatu yang kerap jadi incaran pun diperlihatkan di ajang tersebut.

Sebut saja Vans Authentic 44 DX, Air Jordan 1 Low Bred Toe, Converse Chuck Taylor All Star Crater Knit High, Air Jordan 1 Mid SE Diamond, Nike Woman Air Jordan 1 Mid To My First Coach, dan juga Adidas Ultraboost 22 Running Shoes. Perwakilan penyelenggara BSS dari Maks Promotor, Aga Wirasembada mengungkapkan, BSS 3.0 kali ini hanya menargetkan 15.000 pengunjung dalam 3 hari. Lebih rendah dibanding sebelum pandemi.

"Di tahun pertama pengunjung BSS mencapai 21.000, tahun selanjutnya 25.000, tahun ketiga vakum karena pandemi, dan pada 2021 hanya 7.000," ucap dia. Sementara itu, Brand Promotion Koordinator LAzone, Bonny Sari Tresno mengungkapkan, UMKM, budaya, dan style anak zaman sekarang di BSS merepresentasikan kebutuhan masyarakat. Bonny mengatakan, setiap tahun terdapat karakter yang berbeda sehingga selalu ada perubahan yang dimunculkan dalam event BSS.


Disadur dari sumber lifestyle.kompas.com

 

Selengkapnya
Ayo Telusuri Sejarah Kultur Sepatu Cibaduyut di BSS 3.0
page 1 of 1