Pembelajaran Digital

Evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh: Studi Kasus Persepsi Mahasiswa pada Mata Kuliah Drainase Perkotaan

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 27 Oktober 2025


Latar Belakang Teoretis

Penelitian ini berakar pada sebuah masalah pedagogis yang nyata dan mendesak: rendahnya hasil belajar pada mata kuliah Drainase Perkotaan, yang tercermin dari persentase perolehan nilai A yang rendah pada tahun ajaran 2018/2019. Masalah ini menjadi semakin krusial mengingat pentingnya mata kuliah ini dalam membekali mahasiswa dengan keahlian perencanaan sistem drainase yang vital bagi dunia kerja dan masyarakat. Latar belakang ini diperumit oleh pergeseran menuju pembelajaran jarak jauh (e-learning), sebuah modalitas yang, meskipun menawarkan fleksibilitas, juga menuntut desain instruksional yang cermat untuk memastikan efektivitasnya.   

Kerangka teoretis yang diusung oleh penulis adalah evaluasi pengalaman belajar dalam konteks Revolusi Industri 4.0. Dengan merujuk pada definisi dan karakteristik pembelajaran jarak jauh dari para ahli seperti Keegan (1986) dan Irwansyah (2018), studi ini memposisikan e-learning sebagai proses yang direncanakan dengan baik yang menggunakan teknologi untuk menjembatani keterpisahan antara pendidik dan peserta didik. Hipotesis implisit yang mendasari karya ini adalah bahwa model pembelajaran jarak jauh yang saat ini diterapkan untuk mata kuliah Drainase Perkotaan—yang mengandalkan platform seperti Google Classroom dan WhatsApp Group—tidak berhasil mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Dengan demikian, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara empiris pengalaman dan persepsi mahasiswa terhadap model pembelajaran tersebut.   

Metodologi dan Kebaruan

Penelitian ini mengadopsi metode kuantitatif dengan pendekatan survei sebagai studi pendahuluan (preliminary study). Pengumpulan data primer dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Drainase Perkotaan pada semester genap 2019/2020. Sampel penelitian terdiri dari 26 mahasiswa.   

Analisis data yang digunakan bersifat deskriptif, di mana hasil dari kuesioner diolah dan disajikan dalam bentuk persentase untuk memetakan berbagai aspek persepsi mahasiswa, termasuk pemahaman materi, tingkat kepuasan, dan persepsi terhadap waktu belajar.   

Kebaruan dari karya ini tidak terletak pada pengembangan teori baru, melainkan pada aplikasinya yang pragmatis dan tepat waktu. Dengan melakukan evaluasi cepat berbasis data terhadap sebuah mata kuliah yang sedang berjalan, penelitian ini memberikan sebuah potret nyata mengenai tantangan implementasi pembelajaran jarak jauh, sehingga berfungsi sebagai diagnosis berbasis bukti yang dapat secara langsung menginformasikan perbaikan pedagogis.

Temuan Utama dengan Kontekstualisasi

Analisis data dari kuesioner yang disebar kepada 26 mahasiswa menghasilkan serangkaian temuan kuantitatif yang secara jelas mengonfirmasi adanya masalah dalam model pembelajaran yang ada.

  1. Tingkat Pemahaman yang Sangat Rendah: Temuan yang paling mengkhawatirkan adalah rendahnya tingkat pemahaman materi. Hanya 7,7% mahasiswa yang menyatakan "memahami" materi, dan tidak ada satu pun yang merasa "sangat memahami." Sebaliknya, mayoritas besar mahasiswa berada dalam kategori di bawahnya, dengan 57,7% hanya "cukup memahami" dan gabungan 34,6% (30,8% tidak memahami dan 3,8% sangat tidak memahami) secara eksplisit menyatakan kesulitan.   

  2. Tingkat Kepuasan yang Rendah: Sejalan dengan rendahnya pemahaman, tingkat kepuasan terhadap materi pembelajaran juga tergolong rendah. Hanya 15,4% mahasiswa yang menyatakan "puas," sementara mayoritas (65,4%) hanya merasa "cukup puas," dan gabungan 19,2% (15,4% tidak puas dan 3,8% sangat tidak puas) menunjukkan ketidakpuasan.   

  3. Paradoks Waktu dalam Pembelajaran Fleksibel: Salah satu temuan yang paling menarik secara konseptual adalah persepsi mengenai waktu. Meskipun pembelajaran jarak jauh secara teoretis menawarkan fleksibilitas untuk belajar "kapan saja dan di mana saja," mayoritas mahasiswa (53,8%) justru menyatakan bahwa waktu yang tersedia untuk mempelajari materi tidak mencukupi.   

Secara kontekstual, temuan-temuan ini melukiskan gambaran yang koheren: model pembelajaran yang mengandalkan platform dasar (Google Classroom, WhatsApp) dengan metode penyampaian pasif (presentasi) dan tugas mandiri terbukti tidak efektif. Hal ini tidak hanya gagal memfasilitasi pemahaman yang mendalam, tetapi juga menciptakan sebuah paradoks di mana fleksibilitas waktu justru dirasakan sebagai tekanan atau kekurangan waktu, kemungkinan besar karena kurangnya struktur, interaksi, dan panduan yang memadai.

Keterbatasan dan Refleksi Kritis

Sebagai sebuah studi pendahuluan, keterbatasan utama dari penelitian ini adalah ukuran sampelnya yang kecil (26 responden) dan terbatas pada satu mata kuliah di satu institusi, yang membatasi generalisasi temuannya. Selain itu, penelitian ini sepenuhnya bergantung pada data persepsi yang dilaporkan sendiri (self-reported data), yang mungkin tidak selalu berkorelasi sempurna dengan kinerja akademik objektif.

Secara kritis, paper ini berhasil mengidentifikasi masalah, namun tidak menggali lebih dalam mengenai akar penyebab dari "kekurangan waktu" yang dirasakan mahasiswa. Investigasi kualitatif lebih lanjut dapat memberikan wawasan mengenai apakah ini disebabkan oleh beban tugas yang berlebihan, kesulitan dalam manajemen waktu mandiri, atau kurangnya efisiensi dalam memahami materi yang disajikan secara pasif.

Implikasi Iliah di Masa Depan

Secara praktis, implikasi dari penelitian ini sangat jelas dan dapat ditindaklanjuti. Ia memberikan sinyal peringatan yang kuat bagi para pendidik bahwa sekadar memindahkan materi ke platform daring tidaklah cukup. Diperlukan perancangan ulang yang cermat terhadap pengalaman belajar untuk memastikan adanya interaksi, dukungan, dan media yang lebih menarik.

Untuk penelitian di masa depan, karya ini secara efektif berfungsi sebagai fase analisis kebutuhan yang sempurna untuk sebuah proyek penelitian dan pengembangan (R&D). Langkah berikutnya yang paling logis adalah merancang dan mengembangkan media pembelajaran yang lebih interaktif (seperti video animasi atau simulasi, sebagaimana disarankan oleh studi lain dalam prosiding yang sama) dan kemudian melakukan studi quasi-eksperimental untuk membandingkan secara kuantitatif efektivitasnya terhadap model yang ada saat ini.

Sumber

Perdana, P. C. (2020). Studi Pembelajaran Jarak Jauh pada Mata Kuliah Drainase Perkotaan. Prosiding Seminar Pendidikan Kejuruan dan Teknik Sipil (SPKTS) 2020, 451-461.

Selengkapnya
Evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh: Studi Kasus Persepsi Mahasiswa pada Mata Kuliah Drainase Perkotaan

Pembelajaran Digital

Memodelkan Kehadiran Pembelajar: Tinjauan Kritis terhadap Kerangka Community of Inquiry dalam Pendidikan Jarak Jauh

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 11 Oktober 2025


Latar Belakang Teoretis

Di tengah percepatan adopsi pembelajaran daring yang dipicu oleh krisis kesehatan global, pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor yang mendorong kepuasan mahasiswa menjadi semakin krusial. Karya Justice Kofi Armah, Brandford Bervell, dan Nana Osei Bonsu yang berjudul, "Modelling the role of learner presence within the community of inquiry framework to determine online course satisfaction in distance education," secara langsung menjawab tantangan ini. Latar belakang masalah yang diangkat adalah bahwa meskipun pembelajaran daring menawarkan fleksibilitas, keberhasilannya sangat bergantung pada penciptaan komunitas belajar yang kuat di mana interaksi dan komunikasi menjadi pusatnya.  

Kerangka teoretis penelitian ini secara solid berlabuh pada model Community of Inquiry (CoI) yang dikembangkan oleh Garrison, Anderson, dan Archer, yang mengidentifikasi tiga pilar inti: Kehadiran Pengajaran (Teaching Presence - TP), Kehadiran Sosial (Social Presence - SP), dan Kehadiran Kognitif (Cognitive Presence - CP). Namun, penulis berargumen bahwa model CoI asli perlu diperluas untuk secara eksplisit memasukkan konstruk keempat yang diusulkan oleh Shea dan Bidjerano, yaitu Kehadiran Pembelajar (Learner Presence - LP), yang berfokus pada proses regulasi diri dan metakognisi mahasiswa. Dengan demikian, hipotesis yang mendasari studi ini adalah bahwa keempat bentuk kehadiran ini—TP, SP, CP, dan LP—memiliki hubungan kausal yang kompleks satu sama lain dan secara kolektif mempengaruhi Kepuasan Kursus Daring (Online Course Satisfaction - OCS). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memvalidasi secara empiris model CoI yang diperluas ini dalam konteks pendidikan jarak jauh di sebuah universitas di Ghana.  

Metodologi dan Kebaruan

Penelitian ini mengadopsi metode kuantitatif dengan pendekatan survei untuk menguji model konseptual yang telah dirumuskan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui penyebaran kuesioner daring (Google Forms) kepada mahasiswa program pendidikan jarak jauh di University of Cape Coast, Ghana, yang menggunakan Moodle sebagai Learning Management System (LMS) utama mereka.  

Untuk menganalisis data, penulis menggunakan teknik statistik yang canggih, yaitu Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Pendekatan ini memungkinkan pengujian simultan terhadap model pengukuran (measurement model) untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrumen, diikuti oleh evaluasi model struktural (structural model) untuk menguji hipotesis penelitian.  

Kebaruan dari karya ini tidak terletak pada pengembangan teori baru dari awal, melainkan pada validasi empiris dari model CoI yang diperluas dengan memasukkan Kehadiran Pembelajar (LP). Dengan secara sistematis menguji hubungan antar keempat konstruk kehadiran ini dan dampaknya terhadap kepuasan, penelitian ini memberikan sebuah kontribusi yang bernuansa pada literatur CoI, menawarkan sebuah model yang lebih holistik untuk memahami dinamika komunitas belajar daring.

Temuan Utama dengan Kontekstualisasi

Analisis data kuantitatif menghasilkan serangkaian temuan yang memberikan wawasan mendalam mengenai faktor-faktor yang mendorong kepuasan mahasiswa dalam kursus daring.

  1. Pengaruh Signifikan Kehadiran Pengajaran dan Sosial: Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa Kehadiran Pengajaran (TP) dan Kehadiran Sosial (SP) secara signifikan dan positif memprediksi Kepuasan Kursus Daring (OCS). Temuan ini sejalan dengan banyak studi sebelumnya dan mengontekstualisasikan bahwa interaksi yang efektif dengan fasilitator (TP) dan perasaan menjadi bagian dari sebuah komunitas (SP) adalah dua pendorong paling krusial bagi pengalaman belajar daring yang memuaskan.  

  2. Insignifikansi Kehadiran Kognitif dan Pembelajar: Salah satu temuan yang paling menarik dan agak kontra-intuitif adalah bahwa baik Kehadiran Kognitif (CP) maupun Kehadiran Pembelajar (LP) ditemukan tidak secara signifikan memprediksi Kepuasan Kursus Daring. Ini menyiratkan bahwa sekadar keterlibatan dengan konten (CP) atau penampilan sebagai pembelajar yang meregulasi diri (LP) tidak cukup untuk mendorong kepuasan jika tidak didukung oleh interaksi sosial dan pengajaran yang kuat.  

  3. Hubungan Antar-Kehadiran: Model ini juga mengungkap hubungan kausal yang penting di antara konstruk kehadiran itu sendiri. Ditemukan bahwa Kehadiran Sosial (SP) secara signifikan memprediksi Kehadiran Pengajaran (TP), yang menunjukkan bahwa lingkungan sosial yang positif dapat memfasilitasi interaksi yang lebih efektif antara mahasiswa dan pengajar.  

Secara keseluruhan, temuan ini melukiskan gambaran di mana kepuasan dalam pembelajaran daring lebih didorong oleh aspek-aspek interaksional dan komunal daripada sekadar keterlibatan kognitif individual.

Keterbatasan dan Refleksi Kritis

Meskipun menyajikan analisis yang kuat, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, sebagai sebuah studi yang dilakukan dalam konteks satu universitas di Ghana, generalisasi temuannya ke lingkungan budaya atau institusional lain harus dilakukan dengan hati-hati. Kedua, ketergantungan pada data survei yang dilaporkan sendiri (self-reported data) berarti bahwa hasil yang diperoleh didasarkan pada persepsi mahasiswa, bukan pada pengukuran perilaku atau kinerja yang objektif.

Secara kritis, temuan mengenai insignifikansi Kehadiran Kognitif dan Kehadiran Pembelajar merupakan hasil yang provokatif yang menuntut eksplorasi lebih lanjut. Penelitian kualitatif di masa depan dapat menggali lebih dalam untuk memahami mengapa kedua faktor ini tidak secara langsung berkontribusi pada kepuasan dalam konteks ini.

Implikasi Ilmiah di Masa Depan

Secara praktis, implikasi dari penelitian ini sangat jelas bagi institusi pendidikan jarak jauh. Pesan utamanya adalah bahwa untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa, prioritas utama harus diberikan pada penguatan Kehadiran Sosial dan Kehadiran Pengajaran. Ini mencakup perancangan aktivitas yang mendorong interaksi antar-mahasiswa dan memastikan bahwa para pengajar secara aktif memfasilitasi, memberikan umpan balik, dan membangun rasa kebersamaan di dalam kelas virtual.  

Untuk penelitian di masa depan, karya ini membuka beberapa jalan. Studi replikasi di berbagai negara dan disiplin ilmu akan sangat berharga untuk menguji kekokohan model CoI yang diperluas ini. Selain itu, penelitian metode campuran yang mengintegrasikan data survei kuantitatif dengan wawancara kualitatif dapat memberikan pemahaman yang lebih kaya mengenai nuansa di balik hubungan statistik yang ditemukan.

Sumber

Armah, J. K., Bervell, B., & Bonsu, N. O. (2023). Modelling the role of learner presence within the community of inquiry framework to determine online course satisfaction in distance education. Heliyon, 9(2023), e15803. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e15803

Selengkapnya
Memodelkan Kehadiran Pembelajar: Tinjauan Kritis terhadap Kerangka Community of Inquiry dalam Pendidikan Jarak Jauh

Pembelajaran Digital

Ruang Kelas Virtual sebagai Cermin Diri: Tinjauan Autoetnografis terhadap Identitas dan Pedagogi Guru di Era Pandemi

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 22 September 2025


Latar Belakang Teoretis

Disrupsi mendadak terhadap pengajaran tatap muka yang dipicu oleh pandemi COVID-19 pada tahun 2020 tidak hanya menjadi tantangan teknis, tetapi juga sebuah krisis eksistensial bagi banyak pendidik di seluruh dunia. Tesis doktoral karya Plamen Stoynov Kushkiev yang berjudul, "A critical exploration of the evolving identity and online pedagogical realisations of an EAP teacher during the COVID-19 pandemic," menyajikan sebuah penyelidikan yang sangat personal dan mendalam terhadap fenomena ini. Latar belakang masalah yang diangkat adalah bahwa di tengah peralihan darurat ke pengajaran jarak jauh, banyak penelitian berfokus pada aspek teknis atau persepsi siswa, namun kurang mengeksplorasi secara mendalam pengalaman internal dan evolusi identitas para guru itu sendiri.

Kerangka teoretis penelitian ini secara solid berlabuh pada pedagogi kritis Freire, yang menekankan hubungan dialogis antara guru dan siswa, serta pada konsep identitas guru sebagai sebuah konstruk yang cair, dinegosiasikan, dan sering kali menjadi lokasi pertarungan internal. Dengan menggunakan lensa autoetnografi—sebuah metode yang secara sadar menempatkan pengalaman pribadi peneliti sebagai data utama—studi ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk secara kritis mengeksplorasi bagaimana identitas profesional dan realisasi pedagogis penulis sebagai seorang guru English for Academic Purposes (EAP) di sebuah perguruan tinggi publik di Kanada berevolusi selama transisi yang dipaksakan ke lingkungan pengajaran daring.

Metodologi dan Kebaruan

Penelitian ini mengadopsi metodologi autoetnografi kualitatif, sebuah pendekatan yang memungkinkan peneliti untuk secara sistematis menganalisis pengalaman pribadinya guna memahami fenomena budaya dan sosial yang lebih luas. Metode ini dipilih untuk menangkap nuansa dan kompleksitas dari pergulatan identitas yang tidak dapat diungkap oleh survei kuantitatif atau wawancara eksternal.

Pengumpulan data utama dilakukan melalui catatan jurnal guru (teacher journal entries) yang dibuat dalam dua periode waktu yang berbeda:

  1. Tranche Pertama: Dibuat selama transisi darurat awal pada Maret 2020, menangkap kebingungan, tekanan, dan adaptasi awal.

  2. Tranche Kedua: Dibuat satu tahun kemudian, pada Mei 2021, dalam sebuah kelas yang sejak awal dirancang untuk daring, memungkinkan refleksi yang lebih matang.

Analisis data dilakukan secara tematik dan linguistik, di mana penulis secara cermat mengkodekan entri jurnalnya dan menganalisis pola-pola yang muncul, termasuk penggunaan pronomina ("saya" vs. "kami") dan kala verba (verb tenses) untuk mengungkap pergeseran dalam persepsi diri dan praktik pedagogis.

Kebaruan dari karya ini terletak pada penggunaan autoetnografi yang berani dan reflektif dalam konteks pendidikan EAP. Dengan mengubah lensa dari "melihat keluar" menjadi "melihat ke dalam," penelitian ini memberikan sebuah kontribusi yang unik dan otentik, menyajikan potret yang hidup mengenai bagaimana krisis eksternal dapat memicu renegosiasi fundamental terhadap siapa diri seorang guru di dalam ruang kelas.

Temuan Utama dengan Kontekstualisasi

Analisis reflektif terhadap catatan jurnal menghasilkan serangkaian temuan yang melukiskan gambaran kompleks mengenai dampak transisi daring terhadap identitas dan praktik pedagogis penulis.

  1. Regresi menuju Pedagogi yang Didominasi Guru: Salah satu temuan yang paling menonjol adalah adanya pergeseran yang tidak diinginkan dari filosofi pengajaran yang berpusat pada siswa menuju model yang lebih didominasi oleh guru. Sebelum pandemi, penulis secara sadar berupaya untuk menjadi fasilitator kerja kelompok dan mengurangi waktu bicara guru. Namun, di bawah tekanan pengajaran daring, ia menemukan dirinya kembali ke kerangka pelajaran yang lebih tradisional dan sintetik, di mana penyampaian konten diprioritaskan di atas pendekatan instruksional dan kebutuhan pembelajar. Hal ini tercermin dalam entri jurnal seperti, "Saya tidak bisa mencakup semua materi karena saya merasa itu terlalu banyak untuk satu kelas."

  2. Pergeseran Identitas dari Fasilitator menjadi Manajer: Perubahan pedagogis ini secara langsung berdampak pada identitas profesional penulis. Analisis linguistik terhadap penggunaan pronomina menunjukkan adanya pergeseran fokus dari "kami" (yang menyiratkan dinamika kelas yang kolaboratif) menjadi "saya" (yang memposisikan guru sebagai agen tunggal yang mengelola dan menyampaikan informasi). Penulis merasa bahwa kecenderungan yang ada dalam repertoar mengajarnya untuk mengadopsi posisi yang lebih dominan sebagai "Manajer" menjadi diperkuat oleh realitas baru pengajaran daring.

  3. Identitas sebagai Lokasi Pertarungan Internal: Transisi ini tidak berjalan mulus, melainkan dialami sebagai sebuah lokasi pertarungan dan konflik internal antara berbagai faset identitas guru. Penulis secara konstan berjuang untuk mendamaikan siapa dirinya (identitas yang terwujud dan refleksif) dengan citra yang mungkin diproyeksikan kepada para siswanya. Pengalaman ini digambarkan sebagai sebuah proses "deskilling" atau penurunan keterampilan, khususnya dalam kemampuannya untuk menciptakan ruang pendidikan yang berpusat pada siswa di bawah keadaan yang baru.

Secara kontekstual, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa peralihan darurat ke pengajaran daring, tanpa persiapan atau deliberasi yang memadai, dapat secara signifikan mengikis praktik pedagogis progresif dan memaksa para pendidik untuk kembali ke mode "bertahan hidup" yang lebih instruksional dan berpusat pada guru.

Keterbatasan dan Refleksi Kritis

Sebagai sebuah studi autoetnografis, keterbatasan utama dari penelitian ini adalah sifatnya yang sangat subjektif dan tidak dapat digeneralisasi. Pengalaman, refleksi, dan interpretasi yang disajikan adalah milik satu individu dalam satu konteks spesifik.

Secara kritis, meskipun tesis ini memberikan wawasan yang sangat kaya mengenai dunia internal seorang guru, ia secara alami kurang memberikan penekanan pada perspektif atau hasil belajar siswa. Hubungan antara perubahan identitas guru dengan pengalaman belajar siswa tetap menjadi area yang sebagian besar belum dieksplorasi dalam karya ini.

Implikasi Ilmiah di Masa Depan

Secara praktis, implikasi dari penelitian ini sangat signifikan. Ia menyoroti bahwa dukungan bagi para guru selama transisi digital harus melampaui sekadar pelatihan teknis mengenai penggunaan perangkat lunak. Diperlukan juga dukungan untuk mengatasi tantangan pedagogis, emosional, dan identitas yang menyertai perubahan mendasar dalam praktik mengajar.

Untuk penelitian di masa depan, karya ini secara efektif berfungsi sebagai sebuah provokasi. Sebagaimana dinyatakan oleh penulis, hasil yang disajikan dapat mendorong para guru EAP lainnya untuk mengevaluasi secara kritis persepsi mereka sendiri terhadap praktik di kelas melalui prisma identitas mereka yang terus berubah. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode kualitatif lain (seperti studi kasus multi-situs atau narasi) untuk mengeksplorasi apakah pola regresi pedagogis dan pertarungan identitas ini merupakan fenomena yang lebih luas di kalangan pendidik selama pandemi.

Sumber

Kushkiev, P. S. (2022). A critical exploration of the evolving identity and online pedagogical realisations of an EAP teacher during the COVID-19 pandemic: an autoethnographic study at a Canadian public college. Doctoral Thesis, The University of Sheffield.

Selengkapnya