Riset dan Inovasi

Teknologi Digital Berperan dalam Mengurangi Penebangan Hutan secara Ilegal

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 15 Maret 2024


Mulai dari 1 Desember 2021, Indonesia telah mengambil alih Presidensi G20, sebuah forum global yang terdiri dari negara-negara yang menyumbang 80 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Selama masa kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo bertekad untuk memimpin upaya kerja sama dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga lingkungan secara berkelanjutan melalui tindakan konkret.

Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat deforestasi ke level terendah dalam dua dekade terakhir, sambil mempromosikan rehabilitasi lahan kritis sebanyak 3 juta hektar antara tahun 2010 dan 2019. Upaya tersebut juga telah menghasilkan penurunan sebesar 81 persen dalam kasus kebakaran hutan, dari 1,6 juta hektar pada tahun 2019 menjadi 300 ribu hektar selama tahun 2020. Tentunya, pencapaian ini tidak terlepas dari peran aktif masyarakat dalam mendeteksi dini aktivitas yang berpotensi menyebabkan deforestasi, seperti illegal logging.

Partisipasi masyarakat melibatkan kegiatan patroli terpadu dan independen di hutan adat, hutan nagari, dan hutan kemasyarakatan, di mana mereka memiliki kewenangan hukum untuk mengelola lahan tersebut. Meskipun demikian, sedikit yang menyadari bahwa pengawasan ini didukung oleh sejumlah teknologi modern untuk meningkatkan efektivitas pengawasan. Berikut adalah beberapa teknologi yang telah digunakan dalam upaya pelestarian lingkungan.

Penggunaan Teknologi dalam Pelestarian Hutan Indonesia

Indonesia, sebagai Presiden G20 sejak 1 Desember 2021, telah menegaskan komitmennya untuk memimpin upaya global dalam mengatasi perubahan iklim dan menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Salah satu inisiatif penting yang ditekankan adalah penggunaan teknologi untuk memantau dan mencegah kerusakan hutan, seperti penebangan liar dan ekspansi perkebunan sawit.

Teknologi AI untuk Deteksi Dini Penebangan Liar

Teknologi kecerdasan buatan (AI) telah terbukti efektif dalam membantu mengidentifikasi aktivitas penebangan liar. Sebuah inisiatif yang dikenal sebagai 'Guardian', yang dikembangkan oleh Komunitas Konservasi Indonesia Warung Informasi Konservasi (KKI Warsi) bekerja sama dengan Rainforest Connection, menggunakan mikrofon yang dipasang di hutan untuk menangkap suara-suara terkait aktivitas ilegal. Aplikasi ini memilah dan menganalisis berbagai jenis suara, termasuk suara kendaraan, penebangan pohon, dan tembakan, untuk memberikan notifikasi kepada aparat keamanan. Dengan bantuan teknologi ini, deteksi dan respons terhadap aktivitas ilegal menjadi lebih efisien, memungkinkan patroli untuk ditujukan ke lokasi yang tepat dengan cepat.

Analisis Citra Satelit dan Drone untuk Pemantauan Tutupan Lahan

Selain AI, analisis citra satelit dan penggunaan drone juga menjadi alat yang sangat berguna dalam pemantauan hutan. Yayasan Auriga Nusantara telah berhasil menggunakan berbagai jenis citra satelit, seperti Landsat dan Sentinel, untuk mendeteksi dan memetakan tutupan lahan, termasuk area perkebunan sawit. Melalui kerja sama dengan lembaga lain, seperti LAPAN dan BIG, mereka telah menghasilkan data yang penting untuk menginformasikan kebijakan dan tindakan konservasi. Selain itu, penggunaan drone juga membantu dalam pemetaan yang lebih cepat dan detail di lapangan.

Dampak Positif dan Harapan ke Depan

Penggunaan teknologi dalam pelestarian hutan Indonesia telah membawa dampak positif yang signifikan. Misalnya, penggunaan Guardian telah membantu menurunkan aktivitas penebangan liar secara drastis di beberapa daerah. Sementara itu, analisis citra satelit dan drone telah memberikan informasi yang berharga untuk pengambilan keputusan yang lebih baik dalam manajemen lahan.

Ke depan, pengembangan dan penerapan teknologi ini diharapkan akan terus memperkuat upaya pelestarian hutan dan lingkungan secara luas. Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga non-profit, dan sektor swasta, Indonesia dapat melangkah maju dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mengatasi tantangan perubahan iklim.


Disadur dari: www.viva.co.id

Selengkapnya
Teknologi Digital Berperan dalam Mengurangi Penebangan Hutan secara Ilegal

Riset dan Inovasi

Pengembangan Inovatif Produksi Garam dengan Teknologi Membran pada Mini Pabrik Garam dari Rejected Brine

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 15 Maret 2024


Pengembangan garam industri terpadu merupakan salah satu proyek penting tingkat nasional sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2020. Proyek ini mencakup tiga komponen utama: Pabrik Pengolahan Garam Rakyat, Produksi Pahit Terpadu, dan Pabrik Garam PLTU. Ketiga bagian ini memiliki peranan strategis dalam menangani masalah tingginya impor garam serta produksi garam dalam negeri yang masih belum memadai, dengan kualitas yang masih di bawah standar industri.

Bapak Wahyu Utomo, Deputi Direktur Jenderal Koordinasi Pembangunan Daerah dan Tata Ruang, menghadiri peresmian mini proyek ini sebagai ketua tim pelaksana Komite Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas, mewakili Deputi Direktur Jenderal Bencana Pencegahan dan Pemanfaatan Teknologi Mukshin. Pada Rabu (15/12/2021), pabrik brine salt PLTU Suralaya di Provinsi Cilegon-Banten menghadapi penolakan. Mini plant ini merupakan hasil riset dan inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Nasional (BRIN) yang menggunakan limbah brine PLTU yang berasal dari pengolahan air laut pada boiler pembangkit listrik.

Teknologi membran digunakan untuk memproses air garam yang ditolak, melalui serangkaian tahap termasuk ultrafiltrasi, nanofiltrasi, reverse osmosis, dan konsentrasi air garam. Air tawar yang dihasilkan dapat digunakan sebagai air baku untuk kebutuhan konsumsi. Kapasitas produksi proyek mini plant ini mencapai 750 ton garam per tahun. Kolaborasi antara BRIN dan PT Indonesia Power dilakukan untuk pembuatan mini pabrik garam industri.

"Jika potensi reject brine dari PLTU Jawa dimanfaatkan secara maksimal, maka akan dihasilkan sekitar 1,8 juta ton garam yang memenuhi syarat mutu Proses Klor-Alkali (CAP)," kata BRIN Chemical, Direktur Teknologi Sumber Daya Energi Industri Pusat (PTSEIK) Ayam Saputra. Jumlah ini hampir mencukupi kebutuhan garam CAP sebesar 2,4 juta ton. PLTU Suralaya sendiri memiliki potensi produksi garam tahunan sebesar 368.730 ton. Perluasan pabrik garam PLTU mini ini merupakan langkah pertama dalam mengubah limbah brine menjadi garam. Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai investasi, baik untuk tahap air garam pekat maupun tahap kristalisasi.

Kementerian Koordinator Perekonomian bersama Kementerian Koordinator Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, dan BRIN akan terus berupaya mengembangkan industri garam di Indonesia. Garam diharapkan dapat menjadi salah satu bahan ekspor yang penting di masa depan. Deputi Muksin berharap BRIN dapat terus mengembangkan teknologi pengolahan garam ini untuk diaplikasikan di berbagai sentra produksi garam di Indonesia.


Disdur dari: www.ekon.go.id

Selengkapnya
Pengembangan Inovatif Produksi Garam dengan Teknologi Membran pada Mini Pabrik Garam dari Rejected Brine

Riset dan Inovasi

Teknologi Inovatif Mendorong Percepatan Digitalisasi

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 15 Maret 2024


Perguruan tinggi merupakan landasan utama bagi pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memimpin akselerasi transformasi digital. Kampus-kampus dengan fokus pada teknologi informasi dan komputer menjadi pendorong utama dalam proses transformasi ini.

Universitas Nusa Mandiri (UNM), yang dikenal sebagai institusi pendidikan yang mengutamakan inovasi teknologi informasi, memiliki kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Sebagai tuan rumah Rakornas Aptikom 2021, UNM berupaya untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi lainnya di Indonesia guna mendukung percepatan transformasi digital. Dr. Dwiza Riana, selaku rektor UNM, menjelaskan bahwa Aptikom adalah platform bagi perguruan tinggi yang bergerak di bidang teknologi informasi dan komputer. Melalui kerjasama ini, mereka berusaha untuk memajukan otomatisasi dan digitalisasi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

UNM bertekad untuk memainkan peran penting dalam mempersiapkan SDM yang unggul di bidang teknologi informasi. Mereka telah melakukan berbagai upaya, termasuk kolaborasi dengan industri untuk menyediakan lulusan yang berkualitas, program pertukaran pelajar dengan perguruan tinggi luar negeri, dan pembinaan internal untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Melalui kegiatan seperti Nusamandiri Entrepreneur Center (NEC), Nusamandiri Career Center (NCC), Nusamandiri Inovation Center (NIC), dan Nusamandiri Startup Center (NSC), UNM berusaha mendorong semangat inovasi dan kreativitas mahasiswa. Partisipasi UNM dalam Rakornas Aptikom 2021 memperkuat komitmen mereka untuk menciptakan lulusan yang unggul di bidang teknologi digital. Dengan sinergi antara tujuan Aptikom dan visi misi UNM, institusi ini telah merancang kurikulum yang mendukung percepatan transformasi digital.


Disadur dari: www.republika.co.id

Selengkapnya
Teknologi Inovatif Mendorong Percepatan Digitalisasi

Riset dan Inovasi

Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN) Merancang Rencana Strategis Untuk Pengembangan Antariksa Hingga Tahun 2045

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 14 Maret 2024


Direktur Jenderal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Toli Handko, menekankan pentingnya pembuatan peta jalan untuk pengembangan antariksa Indonesia hingga tahun 2045. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan yang memandatkan hal tersebut. Menurut Handko, BRIN memiliki tanggung jawab utama dalam melaksanakan berbagai kewajiban yang tercantum dalam undang-undang tersebut, sehingga diperlukan percepatan dalam pengembangan kebijakan antariksa menuju tahun 2045.

Dalam acara konferensi pembuatan peta jalan luar angkasa di Indonesia yang diselenggarakan di Kantor Kawasan Sains BRIN Sarwono Prawirohardjo, Jakarta pada Kamis, 7 Maret, Handko juga menyampaikan bahwa kegiatan keantariksaan mendukung berbagai sektor di Indonesia seperti pertanian, kelautan, perikanan, pengawasan darat, dan kebencanaan. Namun, arah kebijakan saat ini masih melihat ruang angkasa hanya sebagai sistem pendukung dan bukan sebagai bidang tersendiri, sehingga diperlukan upaya untuk memfasilitasi pembuatan peta jalan antariksa yang relevan.

Deputi Pembangunan BRIN, Mego Pinandito, menambahkan bahwa dalam konferensi tersebut dibahas beberapa topik seperti program penginderaan jauh, satelit, penerbangan, komersialisasi ruang angkasa, roket dan peluncuran, ilmu antariksa, dan isu-isu strategis lainnya. Melalui acara ini, diharapkan dapat terhimpun pandangan dan kebutuhan dari berbagai sektor untuk merancang peta jalan antariksa hingga tahun 2045 yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Erna Sri Adinsi, Direktur Utama INASA, juga menyampaikan beberapa poin penting terkait pemetaan kebutuhan program antariksa, penanggulangan lingkungan ruang strategis, dan rekomendasi lainnya. Salah satu tindak lanjut yang direkomendasikan adalah perlunya mempercepat pembuatan peta jalan antariksa, pencapaian tujuan penginderaan jauh dalam lima tahun, akses terhadap ruang angkasa sebagai tujuan jangka panjang, serta partisipasi swasta/industri dalam kegiatan keantariksaan.

Diharapkan bahwa dengan adanya acara ini, dapat terus terjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun Roadmap Antariksa 2045 yang memenuhi kebutuhan dan mendukung perkembangan antariksa Indonesia ke depannya.


Disadur dari: brin.go.id

Selengkapnya
Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN) Merancang Rencana Strategis Untuk Pengembangan Antariksa Hingga Tahun 2045

Riset dan Inovasi

Menteri Riset dan Teknologi: Dorong Penggunaan Teknologi yang Sesuai untuk Mengikuti Perkembangan Revolusi Industri 4.0

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 14 Maret 2024


Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brojonegoro mengharapkan bahwa pembuatan atau pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan domestik akan mengikuti kemajuan dalam era Revolusi Industri 4.0. Dalam pengumuman dana riset kepada PTNBH, Menristek Bambang menyatakan bahwa tantangan bagi perusahaan dan perguruan tinggi negeri adalah bagaimana memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan arus Revolusi Industri 4.0. Acara ini diselenggarakan secara virtual di Jakarta pada hari Selasa.

Bambang menggarisbawahi bahwa banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di pedesaan dan bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber utama penghidupan. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian, diperlukan teknologi yang tepat guna. Namun, pengadopsian teknologi ini dalam era Revolusi Industri 4.0 tidaklah mudah. Oleh karena itu, penggunaan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi di sektor pertanian.

Contohnya, para peneliti tidak hanya mengubah traktor menjadi traktor digital, tetapi juga mengembangkan teknologi untuk mendeteksi kematangan buah mangga menggunakan kecerdasan buatan atau sensor. Tujuan utamanya adalah menciptakan daya saing dan efisiensi dalam kegiatan perekonomian sehari-hari yang berbasis pertanian.

Menurut Direktur BRIN, Indonesia perlu memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan penelitian secara maksimal untuk meningkatkan nilai tambah produk. Kegiatan penelitian dan inovasi di Indonesia bertujuan untuk menghasilkan teknologi tepat guna, menggantikan impor, meningkatkan produk lokal, komersialisasi, peningkatan nilai, dan pengembangan teknologi terkini.


Disadur dari: www.antaranews.com

Selengkapnya
Menteri Riset dan Teknologi: Dorong Penggunaan Teknologi yang Sesuai untuk Mengikuti Perkembangan Revolusi Industri 4.0

Riset dan Inovasi

Program Studi Teknik Biosistem Menyelenggarakan Studium Generale tentang Penerapan Teknologi Pertanian 4.0

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana pada 14 Maret 2024


Studi Generale Program Studi Teknik Biosistem di Institut Teknologi Sumatera (ITERA) mengadakan acara yang membahas Penerapan Teknologi untuk Pertanian Presisi secara daring pada Rabu (9/9/2020). Pertanian 4.0 atau pertanian presisi merupakan sistem pertanian yang menggunakan teknologi dan teknik yang tepat untuk menghindari pemborosan sumber daya. Bidang ini menjadi salah satu fokus utama dalam Program Studi Teknik Biosistem di ITERA.

Dalam acara tersebut, dua topik utama dibahas, yaitu Praktik Pertanian Presisi dengan Rasa Lingkungan yang dipelajari melalui studi kasus di Brasil, dan Teknologi Telemonitoring berbasis IoT untuk alat dan mesin pertanian.

Acara Studium Generale dihadiri oleh lebih dari 350 peserta, termasuk dosen, praktisi, akademisi dari berbagai universitas di Indonesia, serta mahasiswa ITERA. Acara ini disiarkan secara daring melalui Zoom dan YouTube. Narasumber yang hadir berasal dari latar belakang yang berbeda, yaitu Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agustami Sitorus, S.TP, M.Si, dan akademisi dari Fakultas Teknologi IPB University Dr. Ir. Mohamad Solahudin, M.Si. Acara tersebut dimoderatori oleh Dosen Teknik Biosistem ITERA, Budi Priyonggo, S.T., M.Si.

Dr. Ir. Mohamad Solahudin, M.Si, memberikan solusi terkait penerapan pertanian presisi di Indonesia berdasarkan pengalaman sistem pertanian presisi di Brasil. Salah satunya adalah mengusulkan penyatuan luas lahan melalui organisasi kelompok tani atau gabungan kelompok tani sebagai alternatif atas lahan individual yang terbatas.

Tidak hanya itu, pemilihan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan lahan juga perlu disesuaikan dengan skala luas lahan dan ketersediaan sumber daya, serta penerapan metode budidaya yang lebih efisien.

Dr. Mohamad Solahudin menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi monitoring dan control berbasis IoT harus melibatkan tenaga mekanis secara selektif. Oleh karena itu, pelatihan penggunaan alat dan mesin yang menggunakan teknologi Pertanian Presisi dan penyuluhan mengenai manfaatnya dalam meningkatkan hasil produksi, mengurangi penggunaan input, dan menjaga keberlanjutan lingkungan sangat diperlukan.

Dukungan dari kebijakan pemerintah setempat terkait dengan penyediaan infrastruktur pertanian, termasuk kebijakan finansial terkait dengan paket kredit untuk memiliki peralatan, baik secara individu maupun dalam kelompok, juga memengaruhi kesuksesan pertanian presisi.

"Penerapan praktik pertanian dengan alat yang efisien dan ekonomis, didukung oleh teknologi informasi dan metode konservasi tanah dan air yang baik, akan meningkatkan produksi dan kualitas berbagai hasil pertanian, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing di pasar global," kata Dr. Solahudin.

Teknologi Telemonitoring

Sementara itu, Agustami Sitorus, S.TP, M.Si dari LIPI, membahas tentang pemanfaatan teknologi telemonitoring berbasis IoT untuk alat dan mesin pertanian, yang menekankan perbedaan antara telemonitoring dan telekontroling. Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa dalam telemonitoring, outputnya berupa informasi data yang terus-menerus, sementara dalam telekontroling, selain informasi data, juga dapat menghasilkan informasi tertentu dan melakukan tindakan tertentu.

Menurut Agustomi M.Si., dengan memanfaatkan IoT, dapat diketahui bagaimana cara mengolah data sesuai dengan kebutuhan agar menjadi informasi yang lebih cepat dan akurat untuk melakukan pemantauan di berbagai lingkungan, baik itu rumah tanaman maupun lahan pertanian terbuka.


Disadur dari: www.itera.ac.id

Selengkapnya