Infrastruktur dan Lingkungan
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Pembangunan Berkelanjutan dan Tantangan Lingkungan Global
Pembangunan berkelanjutan menjadi salah satu isu paling krusial dalam pembangunan modern. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Prinsip ini telah ditegaskan secara global melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015 untuk dicapai pada tahun 2030.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Ir. Indah Rahmatiah Siti Salami, M.Si., PhD, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, menyoroti bahwa pembangunan yang berorientasi pada peningkatan ekonomi dan teknologi sering kali membawa konsekuensi serius terhadap kualitas lingkungan. Dampak tersebut pada akhirnya berbalik mengancam kesehatan manusia, sehingga menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah pembangunan yang dilakukan benar-benar meningkatkan kesejahteraan?
Krisis Planet Global dan Dampak Aktivitas Manusia
Dunia saat ini menghadapi apa yang dikenal sebagai triple planetary crisis, yaitu krisis pencemaran lingkungan, kehilangan keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim. Ketiga krisis ini berakar pada aktivitas manusia yang memanfaatkan sumber daya alam secara masif untuk memenuhi kebutuhan produksi barang dan jasa.
Berbagai fenomena seperti pencemaran udara dan air, penumpukan sampah di laut, serta kerusakan ekosistem menjadi indikator bahwa lingkungan berada dalam kondisi tertekan. Dampak perubahan iklim yang semakin nyata, seperti banjir dan longsor di berbagai wilayah Indonesia, menunjukkan bahwa degradasi lingkungan memiliki konsekuensi langsung maupun tidak langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan manusia.
Keterkaitan Lingkungan dan Kesehatan Manusia
Prof. Indah menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memiliki implikasi serius terhadap kesehatan manusia. Hubungan ini telah dibuktikan melalui berbagai kasus nyata yang terdokumentasi, termasuk yang diangkat dalam film-film berbasis fakta seperti A Civil Action, Erin Brockovich, dan Dark Waters.
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bagaimana pencemaran bahan kimia industri dapat menyebabkan klaster penyakit serius seperti leukemia dan kanker akibat paparan jangka panjang. Fakta ini memperkuat bukti bahwa kualitas lingkungan merupakan determinan penting kesehatan masyarakat.
Pembangunan Berkelanjutan dan Tujuan Kesehatan Global
Dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan, tujuan ketiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera bagi semua usia menjadi fondasi utama. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 24% kematian global berkaitan dengan faktor lingkungan.
Temuan ini menegaskan bahwa upaya menjaga lingkungan bukan semata-mata isu ekologis, melainkan juga investasi langsung dalam perlindungan kesehatan manusia. Lingkungan yang tercemar akan meningkatkan beban penyakit dan menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Konsep Penyakit dan Interaksi Agen–Inang–Lingkungan
Dalam menjelaskan bagaimana penyakit dapat muncul akibat faktor lingkungan, Prof. Indah menguraikan konsep interaksi tiga komponen utama, yaitu agen penyebab penyakit, inang (manusia), dan lingkungan. Agen dapat berupa mikroorganisme, bahan kimia, atau faktor fisik seperti radiasi, sedangkan inang memiliki kerentanan berbeda akibat faktor genetik, perilaku, dan gaya hidup.
Lingkungan menjadi medium yang mempertemukan agen dan inang, termasuk kualitas air, udara, tanah, serta kondisi sanitasi dan sosial ekonomi. Penyakit muncul sebagai hasil interaksi kompleks ketiga komponen tersebut, yang dikenal sebagai web of causation.
Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan sebagai Alat Ilmiah
Untuk memahami dan memprediksi dampak pencemaran terhadap kesehatan, digunakan metode Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan (PRKL). Metode ini merupakan pendekatan sistematis yang mencakup identifikasi bahaya, analisis pajanan, evaluasi dosis-respons, dan karakterisasi risiko.
Dalam PRKL, risiko dibedakan menjadi risiko karsinogenik dan non-karsinogenik. Hasil penilaian risiko menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu risiko dapat diterima atau memerlukan tindakan pengelolaan melalui manajemen risiko.
Aplikasi Penilaian Risiko pada Kasus Nyata di Indonesia
Prof. Indah memaparkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Berbagai jenis pencemar ditemukan, mulai dari pestisida pertanian, limbah industri, hingga logam berat seperti arsenik.
Studi terhadap air tanah di Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa arsenik merupakan kontaminan dominan yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan tinggi, baik non-karsinogenik maupun karsinogenik. Analisis spasial menunjukkan bahwa risiko kesehatan bervariasi antarwilayah dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat.
Paparan Melalui Air, Udara, dan Rantai Makanan
Selain air minum, manusia juga terpapar pencemar melalui udara dan makanan. Penelitian menunjukkan bahwa daerah industri memiliki risiko kesehatan lebih tinggi akibat pencemaran udara, namun daerah permukiman juga dapat mengalami risiko signifikan akibat akumulasi logam berat dalam debu dan rantai makanan.
Bioakumulasi zat pencemar dalam ikan dan bahan pangan memperlihatkan bahwa risiko kesehatan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, penilaian risiko harus mempertimbangkan karakteristik lokal dan perilaku penduduk.
Penilaian Risiko untuk Penentuan Prioritas Kebijakan
Salah satu kekuatan utama penilaian risiko kesehatan lingkungan adalah kemampuannya dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Dengan memetakan risiko secara spasial dan kuantitatif, pemerintah dapat menentukan wilayah prioritas yang memerlukan intervensi dan alokasi sumber daya.
Sejak tahun 2024, metode ini juga telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari Kajian Dampak Kesehatan dalam proses AMDAL, menandai pengakuan formal atas pentingnya pendekatan ini dalam perencanaan pembangunan.
Tantangan dan Kebutuhan Pendekatan Multidisiplin
Meskipun memiliki manfaat besar, penilaian risiko kesehatan lingkungan masih menghadapi tantangan, terutama terkait keberagaman pencemar baru (emerging pollutants), paparan dosis rendah jangka panjang, serta keterbatasan data kesehatan dan lingkungan.
Untuk mengatasi ketidakpastian tersebut, diperlukan kerja sama multidisiplin yang melibatkan bidang teknik, kesehatan, statistik, instrumentasi, dan ilmu sosial. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci dalam meningkatkan akurasi penilaian dan efektivitas kebijakan.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Indah Rahmatiah Siti Salami menegaskan bahwa perlindungan kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kualitas lingkungan. Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan hadir sebagai alat ilmiah yang mampu menjembatani data pencemaran dengan dampak kesehatan secara kuantitatif dan sistematis.
Melalui pendekatan ini, pembangunan berkelanjutan tidak hanya menjadi slogan, tetapi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berbasis bukti, berkeadilan, dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang. Di tengah kompleksitas tantangan lingkungan global, penilaian risiko menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa pembangunan benar-benar membawa manfaat bagi manusia dan generasi mendatang.
Sumber
Salami, I. R. S.
Peran Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Ramah Lingkungan
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Tantangan Mutu Lingkungan, Produk, dan Kesehatan
Kualitas lingkungan, keamanan produk, dan kesehatan masyarakat merupakan isu yang semakin kompleks seiring meningkatnya aktivitas industri dan konsumsi manusia. Pencemaran logam berat, senyawa toksik, serta penggunaan bahan kimia yang melebihi ambang batas pada produk pangan dan kosmetik berpotensi menurunkan kualitas hidup dan merusak lingkungan. Di sisi lain, pemantauan biomarker kesehatan seperti glukosa, kolesterol, dan asam urat menuntut metode analisis yang cepat, akurat, dan mudah diakses.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan di Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Henri Setianto, S.Si., M.T. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam memaparkan riset yang dikembangkan di Laboratorium Kimia Analitik, khususnya bidang elektroanalitik, dengan judul sensor elektrokimia berbasis karbon dan nanokomposit dengan pendekatan multidisipliner berbasis material. Orasi ini menegaskan peran sensor elektrokimia sebagai solusi strategis untuk menjawab kebutuhan pemantauan kualitas secara real time.
Sensor Elektrokimia sebagai Solusi Analitik Modern
Sensor elektrokimia dikembangkan berbasis teknik elektrometri, yang mencakup berbagai metode seperti voltametri, konduktometri, potensiometri, amperometri, serta spektroskopi impedansi. Teknik-teknik ini berfokus pada pengukuran arus, potensial, konduktansi, dan impedansi listrik yang berkaitan langsung dengan reaksi kimia suatu analit.
Keunggulan utama sensor elektrokimia terletak pada kemampuannya menggantikan metode analisis konvensional yang bergantung pada instrumen besar dan mahal seperti kromatografi atau ICP-MS. Metode konvensional membutuhkan preparasi sampel yang rumit, waktu analisis yang panjang, serta operator dengan keahlian khusus. Sebaliknya, sensor elektrokimia menawarkan portabilitas tinggi, biaya relatif rendah, preparasi minimal, kecepatan analisis, selektivitas, presisi, dan sensitivitas yang sangat tinggi.
Tantangan Pengembangan Sensor Elektrokimia
Meskipun memiliki banyak keunggulan, pengembangan sensor elektrokimia menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kebutuhan analisis multianalit, yaitu kemampuan mendeteksi beberapa senyawa sekaligus dalam satu sensor. Selain itu, sensor diharapkan mampu melakukan pemantauan langsung di lapangan dengan hasil yang akurat dan presisi.
Tantangan lain meliputi peningkatan sensitivitas dan selektivitas, kemampuan mendeteksi analit dalam berbagai fase (padat, cair, dan gas), serta penyederhanaan proses preparasi sampel. Tantangan-tantangan inilah yang mendorong pengembangan rekayasa elektroda dan modifikasi material berbasis komposit dan nanomaterial.
Peran Material Nanokomposit dalam Rekayasa Elektroda
Dalam orasi ini, Prof. Henri menyoroti penggunaan berbagai material nanokomposit sebagai strategi utama peningkatan kinerja sensor. Nanopartikel memiliki luas permukaan yang sangat besar, sifat katalitik yang baik, serta kemampuan mempercepat reaksi oksidasi dan reduksi melalui transfer elektron yang efisien.
Grafena, sebagai salah satu bentuk karbon, dikenal sebagai konduktor listrik yang sangat baik dengan kapasitas adsorpsi tinggi. Sifat ini memungkinkan grafena berperan dalam proses prakonsentrasi analit, terutama pada konsentrasi yang sangat rendah sehingga sulit terdeteksi secara langsung. Selain itu, polimer bercetakan molekul atau ion memberikan selektivitas tinggi melalui mekanisme pengenalan bentuk dan berat molekul target.
Pendekatan material hijau juga menjadi perhatian penting, dengan memanfaatkan bahan alam dan prinsip kimia hijau yang aman, minim limbah, dan berkelanjutan.
Elektroda Karbon dan Strategi Modifikasinya
Elektroda berbasis karbon memiliki variasi yang sangat luas, mulai dari elektroda pasta karbon, karbon kaca, serat karbon, elektroda karbon cetak, hingga elektroda karbon berbasis nanomaterial. Dalam riset yang dipaparkan, elektroda karbon cetak menjadi salah satu platform utama yang dimodifikasi dengan berbagai material nanokomposit.
Modifikasi elektroda bertujuan meningkatkan respons arus, memperbaiki sensitivitas, serta menghasilkan efek katalitik yang sinergis antara material-modifikator. Pendekatan ini memungkinkan sensor digunakan secara efektif, bahkan dalam kondisi analit dengan konsentrasi sangat rendah.
Aplikasi Riset: Deteksi Senyawa Kimia dan Biomarker
Riset pertama yang dipaparkan memanfaatkan kombinasi nanopartikel perak dan grafena pada elektroda karbon cetak. Kombinasi ini menghasilkan efek sinergis yang meningkatkan aktivitas elektrokatalitik dan respons arus secara signifikan. Sensor yang dihasilkan mampu mendeteksi analit pada batas deteksi yang sangat rendah dengan rentang linear yang luas.
Penelitian kedua berfokus pada deteksi sodium dodesil sulfat, senyawa yang umum digunakan dalam produk kosmetik seperti sampo dan sabun. Modifikasi elektroda dilakukan menggunakan nanopartikel zinc oxide dan polimer bercetakan molekul. Kombinasi ini menghasilkan peningkatan sensitivitas hingga beberapa kali lipat dibandingkan elektroda tanpa modifikasi, sekaligus memberikan selektivitas tinggi terhadap senyawa target.
Penelitian ketiga mengembangkan elektroda karbon aktif untuk deteksi asam urat dengan memanfaatkan hidroksiapatit dari limbah cangkang telur yang dikombinasikan dengan nanopartikel zinc oxide. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kinerja sensor, tetapi juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan kimia hijau melalui pemanfaatan limbah.
Kontribusi terhadap Prinsip Kimia Hijau dan Keberlanjutan
Ketiga penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknik elektrometri dengan elektroda karbon termodifikasi nanokomposit mampu menghasilkan metode analitik yang efisien, akurat, dan ramah lingkungan. Penggunaan material hijau, minim preparasi, serta potensi pemantauan langsung di lapangan menjadikan sensor elektrokimia sebagai teknologi yang relevan untuk pembangunan berkelanjutan.
Pengembangan sensor ini membuka peluang luas dalam pengawasan kualitas pangan, pemantauan lingkungan, serta deteksi dini kondisi kesehatan masyarakat dengan biaya yang lebih terjangkau dan aksesibilitas yang lebih tinggi.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Henri Setianto menegaskan bahwa sensor elektrokimia berbasis karbon dan nanokomposit merupakan solusi analitik yang strategis dalam menjawab tantangan mutu lingkungan, keamanan produk, dan kesehatan. Melalui rekayasa elektroda dan pemanfaatan material nanokomposit serta material hijau, sensor elektrokimia mampu memberikan pemantauan yang cepat, sensitif, selektif, dan berkelanjutan.
Pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan kimia analitik, ilmu material, dan prinsip keberlanjutan ini menunjukkan arah masa depan teknologi sensor yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga relevan secara sosial dan lingkungan bagi Indonesia.
Sumber
Setianto, Henri.
Sensor Elektrokimia Berbasis Karbon dan Nanokomposit dengan Pendekatan Multidisipliner Berbasis Material.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.
Teknologi Material
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Material Ringan sebagai Jawaban Tantangan Global
Isu pemanasan global dan kebutuhan akan pembangunan berkelanjutan menjadi tantangan besar abad ini. Salah satu kontributor utama emisi karbon adalah sektor transportasi, di mana bobot struktur sangat berpengaruh terhadap konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca. Dalam konteks ini, pengembangan material ringan namun tetap kuat menjadi kunci penting dalam upaya menekan emisi dan meningkatkan efisiensi energi.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada Sidang Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Ir. Hermawan Yudawisastra, M.M. dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara mengangkat tema rekayasa material komposit polimer dari riset fundamental menuju solusi industri yang berkelanjutan. Orasi ini mengajak hadirin menelusuri perjalanan panjang riset material komposit, dari laboratorium hingga implementasi nyata di dunia industri.
Material Komposit sebagai Solusi Struktur Ringan dan Kuat
Prof. Hermawan menekankan bahwa fase penggunaan suatu produk merupakan tahap yang paling banyak mengonsumsi energi dalam siklus hidupnya. Semakin berat suatu kendaraan atau struktur, semakin besar energi yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya. Oleh karena itu, material dengan rasio kekuatan terhadap berat yang tinggi menjadi sangat strategis.
Material komposit menempati posisi unggul dibandingkan material konvensional karena memiliki sifat mekanik spesifik yang sangat tinggi. Kombinasi kekuatan, kekakuan, dan bobot ringan menjadikan komposit ideal untuk berbagai aplikasi struktural, mulai dari transportasi, bangunan, hingga infrastruktur modern.
Komposit Polimer Berpenguat Serat
Salah satu jenis komposit yang paling luas penggunaannya adalah komposit polimer berpenguat serat atau fiber reinforced polymer (FRP). Material ini terbentuk dari kombinasi serat yang kuat dan ringan dengan matriks polimer yang relatif mudah diproses, bahkan pada temperatur kamar.
Komposit polimer tidak hanya menawarkan kekuatan dan kekakuan tinggi yang dapat melampaui baja, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap korosi, suatu keunggulan penting dibandingkan logam. Sifat inilah yang mendorong pemanfaatan komposit polimer secara luas pada industri otomotif, kedirgantaraan, infrastruktur, dan konstruksi.
Struktur Berlapis dan Sandwich pada Komposit
Pengembangan lanjutan dari komposit polimer melahirkan komposit berlapis dan komposit sandwich. Komposit berlapis terdiri dari beberapa lapisan serat dengan orientasi berbeda yang disusun secara terencana untuk menghasilkan sifat mekanik optimal dalam berbagai arah pembebanan.
Sifat komposit berlapis ditentukan oleh interaksi pada berbagai skala, mulai dari skala makro, meso, mikro, hingga nano. Pada skala nano, kualitas ikatan antarmuka antara serat dan matriks, termasuk lapisan tipis atau sizing pada permukaan serat, sangat menentukan keandalan material secara keseluruhan.
Komposit sandwich, di sisi lain, mengombinasikan lapisan luar yang tipis, kaku, dan kuat dengan inti yang tebal namun sangat ringan. Struktur ini ideal untuk panel dan komponen yang menerima beban lentur, seperti bodi kendaraan dan konstruksi ringan.
Riset Laboratorium dan Arah Inovasi Komposit
Riset yang dikembangkan mencakup berbagai jenis komposit, mulai dari komposit berlapis, komposit sandwich, biokomposit, hingga kajian degradasi dan kegagalan komposit. Seluruh riset berangkat dari pertanyaan mendasar tentang bagaimana merancang material yang lebih kuat, lebih ringan, dan lebih ramah lingkungan.
Contoh penerapan riset ini antara lain pengembangan bilah turbin angin berbasis komposit berlapis, serta functional integrated structural battery, yaitu struktur komposit yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen struktural, tetapi juga mampu menyimpan energi sebagai baterai. Pendekatan ini membuka peluang efisiensi bobot dan peningkatan kinerja sistem transportasi masa depan.
Biokomposit dan Tantangan Keandalannya
Biokomposit dipandang sebagai solusi material ramah lingkungan karena memanfaatkan serat hayati dan matriks polimer berbasis sumber terbarukan. Riset dilakukan menggunakan berbagai serat alami seperti kayu, bambu, serat nanas, dan serat tanaman lainnya, dikombinasikan dengan matriks polimer berbasis pati.
Meskipun menawarkan keunggulan keberlanjutan, biokomposit menghadapi tantangan berupa variasi sifat mekanik, sensitivitas terhadap kelembaban, serta degradasi ikatan antarmuka serat dan matriks. Oleh karena itu, riset difokuskan pada modifikasi antarmuka dan optimasi proses untuk meningkatkan keandalan biokomposit agar layak diaplikasikan secara luas di industri.
Mekanisme Kerusakan dan Metode Evaluasi Non-Destruktif
Berbeda dengan logam, kegagalan komposit sering kali terjadi pada skala mikro tanpa perubahan visual yang nyata. Kerusakan dapat berupa retak matriks, tercabutnya serat, hingga delaminasi antar lapisan yang menyebabkan penurunan sifat mekanik secara signifikan.
Untuk menjawab tantangan ini, dikembangkan metode pengujian tak merusak berbasis gelombang ultrasonik yang mampu mendeteksi degradasi sifat elastis komposit. Metode ini memungkinkan pemantauan kondisi material dan prediksi umur pakai tanpa merusak komponen.
Dari Riset Dasar Menuju Solusi Industri
Pemahaman fundamental mengenai struktur, sifat, proses, dan performa komposit menjadi dasar penerapan di industri. Implementasi riset dilakukan melalui rekayasa balik produk komposit, analisis kegagalan, evaluasi kelayakan operasi, serta penilaian umur sisa komponen.
Pendekatan remaining life assessment memungkinkan penentuan sisa umur pakai peralatan komposit secara sistematis, sehingga keputusan perbaikan atau penggantian dapat dilakukan secara tepat waktu. Selain itu, hasil riset juga diwujudkan dalam penyusunan pedoman teknis penggunaan, perbaikan, dan inspeksi berbasis risiko untuk komponen komposit di industri.
Sinergi Menuju Masa Depan Material Berkelanjutan
Prof. Hermawan menegaskan bahwa masa depan teknologi komposit tidak dapat dibangun secara terpisah. Diperlukan sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem riset, inovasi, dan produksi yang mandiri serta berdaya saing global.
Riset material komposit polimer yang terintegrasi antara pemahaman fundamental dan kebutuhan industri menjadi fondasi penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pengurangan dampak lingkungan.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Hermawan Yudawisastra menunjukkan bahwa rekayasa material komposit polimer merupakan perjalanan panjang dari riset dasar menuju solusi industri yang nyata. Melalui pemahaman mendalam tentang struktur, sifat, proses, dan mekanisme kerusakan, komposit dapat dirancang menjadi material yang ringan, kuat, multifungsi, dan berkelanjutan.
Pendekatan ini menegaskan peran strategis riset material dalam menjawab tantangan global, sekaligus memperkuat kontribusi ilmu teknik material terhadap pembangunan industri nasional yang ramah lingkungan dan berdaya saing.
Sumber
Yudawisastra, Hermawan.
Rekayasa Material Komposit Polimer dari Riset Fundamental Menuju Solusi Industri yang Berkelanjutan.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung.