Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 16 Maret 2025
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek krusial dalam industri baja yang memiliki risiko tinggi terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Studi yang dilakukan oleh Umugwaneza et al. (2019) meneliti dampak praktik K3 terhadap komitmen dan kinerja karyawan di dua perusahaan baja di Rwanda, yaitu SteelRwa Industries Ltd dan IMANA Steel Rwanda Ltd. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan 533 responden, mencakup manajer, supervisor, dan pekerja. Dari sampel yang ditentukan, 229 karyawan berpartisipasi dalam penelitian ini.
Studi Kasus dan Temuan Utama
1. Tingkat Kesadaran Karyawan terhadap K3
2. Statistik Kecelakaan Kerja di Industri Baja Rwanda
3. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Hubungan antara K3 dan Kinerja Karyawan
1. Dampak K3 terhadap Produktivitas
2. Efek Keselamatan terhadap Ketidakhadiran dan Kompensasi
Rekomendasi untuk Meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja memiliki dampak signifikan terhadap komitmen dan kinerja karyawan di industri baja Rwanda. Dengan meningkatkan pelatihan, pengawasan, dan sistem kompensasi, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan meningkatkan produktivitas pekerja.
Sumber: Umugwaneza, C., Nkechi, I. E., & Mugabe, J. B. (2019). ‘Effect of Workplace Safety and Health Practices on Employee Commitment and Performance in Steel Manufacturing Companies in Rwanda’. European Journal of Business and Management Research, 4(5), 1-10.
Kebakaran Limbah
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 16 Maret 2025
Kebakaran limbah merupakan masalah yang semakin meningkat dalam industri daur ulang, dengan dampak luas terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keselamatan kerja. Penelitian ini menggunakan data dari NASA’s VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) serta laporan kebakaran dari Swedish Civil Contingencies Agency (MSB) selama periode 2012–2018 untuk memahami pola kejadian kebakaran limbah di Swedia dan merancang strategi pencegahan yang lebih efektif.
Metode Penelitian
Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan ArcGIS untuk mengidentifikasi pola spasial dan karakteristik kebakaran, serta korelasi antara insiden kebakaran dengan faktor-faktor sosial dan ekonomi.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah insiden kebakaran limbah di Swedia mengalami peningkatan antara tahun 2014 dan 2018. Rata-rata kejadian kebakaran limbah per juta penduduk per tahun (AFIPMC) berkisar antara 2,4 hingga 4,7. Analisis data menunjukkan adanya korelasi positif antara jumlah kejadian kebakaran dan pertumbuhan populasi urban di beberapa wilayah.
Faktor utama penyebab kebakaran limbah meliputi:
Dampak Kebakaran Limbah
Kebakaran limbah tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi tetapi juga berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Beberapa konsekuensi utama dari kebakaran limbah meliputi:
Kasus Kebakaran Limbah di Swedia
Salah satu studi kasus yang dianalisis dalam paper ini adalah insiden kebakaran di CemMiljø A/S, yang mengakibatkan kerugian sebesar 1,76 juta Euro. Insiden ini disebabkan oleh pengelolaan limbah yang buruk, termasuk penyimpanan berlebihan dan kurangnya sistem deteksi kebakaran yang efektif. Selain itu, laporan dari MSB menunjukkan bahwa antara 2012 dan 2018, terdapat 163 kebakaran limbah yang tercatat di database nasional, tetapi hanya 11 insiden (7%) yang terdeteksi oleh VIIRS dan dilaporkan ke MSB, menunjukkan kurangnya sistem pelaporan kebakaran yang komprehensif.
Rekomendasi untuk Pencegahan dan Mitigasi Kebakaran Limbah
1. Peningkatan Sistem Deteksi Kebakaran
Untuk meningkatkan efektivitas deteksi kebakaran limbah, peneliti merekomendasikan:
2. Optimalisasi Tata Letak Penyimpanan Limbah
Paper ini menekankan pentingnya desain yang aman dalam penyimpanan limbah:
3. Peningkatan Kesadaran dan Pelatihan
Sebagian besar kebakaran limbah disebabkan oleh faktor manusia, sehingga edukasi menjadi kunci dalam mitigasi risiko:
4. Integrasi Data untuk Perencanaan yang Lebih Baik
Peneliti menyarankan integrasi data antara laporan MSB dan citra satelit untuk membangun sistem pemantauan kebakaran yang lebih akurat dan komprehensif. Dengan cara ini, otoritas dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran limbah.
Kesimpulan
Sumber Artikel
Muhammad Asim Ibrahim, Anders Lönnermark, William Hogland. Safety at Waste and Recycling Industry: Detection and Mitigation of Waste Fire Accidents. Waste Management, Vol. 141, 2022, 271-281.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 16 Maret 2025
Industri konstruksi menghadapi tantangan besar dalam menjaga keselamatan kerja, terutama selama pandemi Covid-19. Penelitian yang dilakukan oleh Lendra et al. (2023) bertujuan untuk mengidentifikasi risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam proyek konstruksi selama pandemi serta memberikan solusi pengendalian risiko. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Relative Importance Index (RII) untuk menentukan peringkat risiko dan standar AS/NZS 4360:2004 dalam mengkategorikan risiko berdasarkan tingkat keparahan dan kemungkinan terjadi.
Proyek Konstruksi di Palangka Raya
Penelitian ini dilakukan pada 30 perusahaan konstruksi di Palangka Raya dengan data yang dikumpulkan melalui kuesioner kepada direktur, manajer proyek, dan manajer K3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko terbesar yang dihadapi dalam proyek konstruksi selama pandemi adalah:
Dua risiko tertinggi (penyebaran Covid-19 dan jatuh dari ketinggian) dikategorikan sebagai risiko tinggi, sedangkan tiga lainnya masuk dalam kategori risiko sedang berdasarkan AS/NZS 4360:2004.
Dampak Pandemi terhadap Keselamatan Proyek
Pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan besar dalam penerapan K3 di proyek konstruksi, termasuk:
Strategi Pengendalian Risiko
Untuk mengurangi risiko dalam proyek konstruksi selama pandemi, penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah mitigasi:
1. Penerapan Protokol Kesehatan
2. Peningkatan Keselamatan Kerja
3. Pelatihan dan Edukasi Keselamatan
4. Peningkatan Sistem Pelaporan Insiden
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 telah menambah tantangan dalam penerapan K3 di proyek konstruksi. Risiko terbesar yang dihadapi adalah penyebaran Covid-19 dan jatuh dari ketinggian, yang memerlukan tindakan mitigasi segera. Dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, meningkatkan keselamatan kerja, serta memberikan pelatihan dan edukasi, risiko kecelakaan kerja dapat dikurangi secara signifikan.
Sumber: Lendra, L., Gawei, A. B. P., Sintani, L., Afanda, D. M., & Tjakra, J. (2023). ‘The Assessment of Occupational Safety and Health Risk Management on Construction Projects During the Covid-19 Pandemic’. International Journal of Disaster Management, 6(1), 1-18.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 16 Maret 2025
Dalam dunia penerbangan, keselamatan menjadi aspek utama yang tidak dapat diabaikan. Safety Management System (SMS) adalah pendekatan sistematis dalam mengelola keselamatan, termasuk struktur organisasi, akuntabilitas, kebijakan, dan prosedur. Meski implementasi SMS di program penerbangan perguruan tinggi masih bersifat sukarela, banyak institusi yang telah menerapkannya sebagai bagian dari upaya peningkatan keselamatan.
Penelitian oleh Foster dan Adjekum (2022) menyoroti hubungan antara implementasi SMS dan persepsi budaya keselamatan dalam berbagai program penerbangan di perguruan tinggi di Amerika Serikat. Studi ini menemukan adanya kesenjangan pemahaman mengenai SMS di kalangan mahasiswa, instruktur penerbangan bersertifikat (Certified Flight Instructors/CFI), dan pemimpin keselamatan.
Studi ini melibatkan tiga program penerbangan perguruan tinggi dengan tingkat implementasi SMS yang berbeda:
Melalui wawancara semi-terstruktur, ditemukan bahwa mayoritas mahasiswa dan CFI tidak memahami secara mendalam tentang SMS dan implementasinya. Mereka cenderung mengasosiasikan SMS hanya dengan sistem pelaporan keselamatan, padahal SMS mencakup aspek yang lebih luas seperti manajemen risiko dan pengawasan keselamatan.
Peran CFI dalam Budaya Keselamatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa CFI memiliki peran krusial dalam membentuk persepsi mahasiswa terhadap budaya keselamatan. Beberapa temuan utama:
Implikasi Implementasi SMS
1. Kurangnya Pemahaman SMS
Salah satu temuan penting adalah kurangnya pemahaman mahasiswa dan CFI terhadap SMS. Bahkan ketika diberikan pertanyaan spesifik mengenai jenis SMS yang digunakan di institusi mereka, banyak yang tidak dapat memberikan jawaban yang tepat. Hal ini menunjukkan perlunya pendidikan lebih lanjut mengenai SMS di lingkungan akademik.
2. Peran Pelatihan Keselamatan
Mahasiswa dan CFI lebih banyak belajar tentang keselamatan melalui interaksi sehari-hari daripada melalui pelatihan formal. Oleh karena itu, penting untuk memasukkan SMS dalam kurikulum penerbangan dan memastikan CFI memahami perannya dalam membentuk budaya keselamatan.
3. Kebutuhan Umpan Balik dalam Pelaporan Keselamatan
Mahasiswa dan CFI cenderung enggan melaporkan insiden keselamatan jika mereka tidak mendapatkan umpan balik yang jelas. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemberian umpan balik terhadap laporan keselamatan dapat meningkatkan partisipasi dalam sistem pelaporan dan memperkuat budaya keselamatan.
Rekomendasi
Berdasarkan temuan penelitian, beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan di program penerbangan perguruan tinggi adalah:
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa SMS memiliki potensi besar dalam meningkatkan budaya keselamatan di program penerbangan perguruan tinggi. Namun, keberhasilan implementasi SMS sangat bergantung pada pemahaman dan partisipasi aktif mahasiswa dan CFI. Dengan meningkatkan edukasi SMS, memperkuat peran CFI, dan memastikan sistem pelaporan yang efektif, institusi dapat membangun budaya keselamatan yang lebih baik.
Sumber: Foster, R. A. & Adjekum, D. K. (2022). ‘A Qualitative Review of the Relationship between Safety Management Systems (SMS) and Safety Culture in Multiple-Collegiate Aviation Programs’. Collegiate Aviation Review International, 40(1), 63-94.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 16 Maret 2025
Keselamatan dalam dunia penerbangan adalah aspek utama yang tidak dapat diabaikan, terutama dalam program penerbangan perguruan tinggi yang melatih calon pilot dan tenaga profesional industri penerbangan. Penelitian yang dilakukan oleh Foster dan Adjekum (2022) menyoroti hubungan antara implementasi Safety Management System (SMS) dengan persepsi budaya keselamatan di berbagai program penerbangan perguruan tinggi di Amerika Serikat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara semi-terstruktur untuk memahami bagaimana mahasiswa, instruktur penerbangan bersertifikat (CFI), dan pemimpin keselamatan memandang SMS dan budaya keselamatan di institusi mereka.
Studi Kasus dan Temuan Utama
1. Variasi Implementasi SMS di Perguruan Tinggi
Studi ini melibatkan tiga institusi penerbangan dengan tingkat implementasi SMS yang berbeda:
Hasil wawancara menunjukkan bahwa banyak mahasiswa dan CFI tidak memahami SMS secara mendalam. Mayoritas mengasosiasikan SMS hanya dengan sistem pelaporan keselamatan, tanpa memahami aspek yang lebih luas seperti manajemen risiko dan evaluasi keselamatan.
2. Peran CFI dalam Membentuk Budaya Keselamatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa CFI memiliki peran krusial dalam membentuk persepsi budaya keselamatan mahasiswa. Beberapa poin penting terkait peran CFI:
3. Kurangnya Pemahaman tentang SMS
Salah satu temuan utama penelitian ini adalah bahwa sebagian besar mahasiswa dan CFI tidak memahami secara spesifik jenis SMS yang diterapkan di institusi mereka. Bahkan ketika diberikan pertanyaan spesifik mengenai fase implementasi SMS, mereka tidak dapat memberikan jawaban yang tepat.
Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada edukasi lebih lanjut mengenai SMS dalam kurikulum penerbangan serta integrasi konsep keselamatan dalam pelatihan sehari-hari.
4. Kebutuhan Umpan Balik dalam Pelaporan Keselamatan
Mahasiswa dan CFI enggan melaporkan insiden keselamatan jika mereka tidak mendapatkan umpan balik yang jelas dari laporan mereka. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pemberian umpan balik terhadap laporan keselamatan dapat meningkatkan partisipasi dalam sistem pelaporan dan memperkuat budaya keselamatan.
Rekomendasi
Berdasarkan temuan penelitian, beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan di program penerbangan perguruan tinggi adalah:
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa SMS memiliki potensi besar dalam meningkatkan budaya keselamatan di program penerbangan perguruan tinggi. Namun, keberhasilan implementasi SMS sangat bergantung pada pemahaman dan partisipasi aktif mahasiswa serta CFI. Dengan meningkatkan edukasi SMS, memperkuat peran CFI, dan memastikan sistem pelaporan yang efektif, institusi dapat membangun budaya keselamatan yang lebih baik.
Sumber: Foster, A. R. & Adjekum, D. K. (2022). ‘A Qualitative Review of the Relationship between Safety Management Systems (SMS) and Safety Culture in Multiple-Collegiate Aviation Programs’. Collegiate Aviation Review International, 40(1), 63-94.
Safety
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 16 Maret 2025
Industri penerbangan Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dengan peningkatan jumlah penumpang dan armada pesawat secara signifikan. Namun, pertumbuhan ini juga diiringi dengan meningkatnya risiko kecelakaan dan insiden serius. Berdasarkan data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), 67,12% dari 82 kecelakaan penerbangan dan 130 insiden serius antara 2010-2016 disebabkan oleh kesalahan manusia. Untuk mengurangi risiko ini, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menetapkan Safety Management System (SMS) sebagai standar wajib bagi industri penerbangan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi SMS di Bandara Adisumarmo, dengan menggunakan metode analisis kesenjangan (gap analysis), fault tree analysis (FTA), dan barrier analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa kesenjangan dalam implementasi standar SMS di bandara tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional dengan metode:
Empat komponen utama SMS yang dianalisis adalah:
Hasil analisis kesenjangan menunjukkan bahwa dari 71 pertanyaan dalam checklist SMS, 92,68% standar telah dipenuhi. Namun, beberapa elemen masih memiliki kekurangan, yaitu:
FTA digunakan untuk memahami bagaimana kegagalan dalam implementasi SMS dapat terjadi. Beberapa penyebab utama yang diidentifikasi antara lain:
Untuk mengatasi kesenjangan ini, dilakukan barrier analysis guna mengidentifikasi solusi yang dapat diterapkan. Beberapa rekomendasi perbaikan adalah:
Meskipun implementasi SMS di Bandara Adisumarmo telah memenuhi sebagian besar standar ICAO, masih terdapat beberapa kesenjangan yang perlu diperbaiki. Dengan menerapkan rekomendasi yang diberikan, diharapkan keselamatan penerbangan dapat lebih terjamin dan risiko kecelakaan dapat diminimalkan.
Sumber: Pramono, S. N. W., Ulkhaq, M. M., Ardi, F., & Raharjo, R. (2018). ‘A Gap Analysis on Implementation of Safety Management System in Airport: A Case Study’. 4th International Conference on Science and Technology (ICST), Yogyakarta, Indonesia.