Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tinjauan Kritis dan Arah Riset Masa Depan: Membedah Manajemen Keselamatan di Sektor Konstruksi

Dipublikasikan oleh Raihan pada 29 September 2025


Tinjauan Kritis dan Arah Riset Masa Depan: Membedah Manajemen Keselamatan di Sektor Konstruksi

Penelitian oleh Tan Chin Keng dan Nadeera Abdul Razak yang berjudul "Case Studies on the Safety Management at Construction Site" berfungsi sebagai sebuah kontribusi penting bagi diskursus akademik mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di industri konstruksi.1 Melalui analisis mendalam terhadap dua proyek gedung tinggi di Malaysia, penelitian ini melampaui sekadar dokumentasi protokol keselamatan dan masuk ke dalam ranah yang lebih kompleks: kegagalan implementasi. Paper ini secara efektif menggunakan kedua lokasi proyek sebagai mikrokosmos untuk mengeksplorasi masalah universal yang sering dihadapi industri, yaitu kesenjangan yang signifikan antara kebijakan keselamatan yang terdefinisi dengan baik di atas kertas dan praktik yang tidak konsisten di lapangan.1

Alur logis temuan dalam penelitian ini mengikuti narasi yang kuat, dimulai dari penetapan kondisi ideal hingga identifikasi konflik di dunia nyata. Awalnya, penelitian ini mengonfirmasi bahwa kedua lokasi studi kasus telah memiliki praktik keselamatan yang "baik dan terstruktur".1 Praktik-praktik ini mencakup elemen-elemen fundamental seperti kebijakan keselamatan formal, program pendidikan dan pelatihan reguler, inspeksi keselamatan lokasi, audit berkala, dan penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai.1 Temuan awal ini sangat krusial karena secara langsung menyingkirkan asumsi sederhana bahwa masalah keselamatan bersumber dari ketiadaan sistem. Namun, narasi kemudian berbelok tajam ke konflik utama, di mana penelitian ini mengidentifikasi empat masalah mendasar yang secara persisten merusak sistem yang tampaknya sudah kokoh tersebut. Keempat masalah ini adalah: (1) pengabaian prosedur kerja oleh pekerja, (2) kurangnya alokasi anggaran untuk manajemen keselamatan, (3) rendahnya kesadaran keselamatan di kalangan pekerja, dan (4) hambatan bahasa antara supervisor dan pekerja, yang sebagian besar merupakan tenaga kerja asing.1 Sebagai respons logis terhadap tantangan-tantangan ini, penelitian ini mengusulkan serangkaian strategi yang ditargetkan, seperti penyediaan pelatihan yang lebih efektif, komitmen penuh dari manajemen puncak, alokasi anggaran yang memadai, dan pengembangan materi keselamatan dalam berbagai bahasa.1

Kontribusi Utama terhadap Bidang

Kontribusi paling signifikan dari penelitian ini bukanlah pada identifikasi masalah-masalah tersebut—yang mungkin sudah dikenal secara anekdotal—tetapi pada validasi empirisnya bahwa faktor-faktor sosio-organisasional merupakan hambatan utama dalam implementasi keselamatan konstruksi modern. Penelitian ini secara implisit menggeser fokus dari pencarian solusi teknis ke pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor manusia dan sistemik.

Analisis menunjukkan bahwa meskipun kerangka kerja teknis dan prosedural yang diperlukan untuk keselamatan—"apa yang harus dilakukan"—sudah ada dan dipahami dengan baik di tingkat manajerial, titik-titik kegagalan kritis justru tidak bersifat teknis.1 Masalah-masalah yang diidentifikasi, seperti alokasi anggaran (sebuah keputusan eksekutif), tingkat kesadaran (kondisi kognitif dan budaya), dan komunikasi lintas bahasa (media interaksi sosial), semuanya merupakan "faktor lunak" yang berakar pada perilaku organisasi, ekonomi, dan komunikasi.4 Dengan demikian, paper ini menyediakan bukti kontekstual yang kuat dari sektor konstruksi gedung tinggi di Malaysia bahwa peralatan keselamatan paling canggih dan kebijakan yang paling komprehensif sekalipun akan gagal jika tidak didukung oleh investasi yang sepadan dalam faktor manusia dan komitmen organisasi yang nyata. Hal ini secara fundamental mengubah imperatif riset: dari merancang sabuk pengaman yang lebih baik menjadi merancang model justifikasi anggaran yang lebih persuasif, protokol komunikasi lintas budaya yang lebih efektif, dan metodologi pelatihan yang lebih berdampak. Penelitian ini, pada intinya, memberikan diagnosis kualitatif yang mengarahkan penelitian kuantitatif dan intervensi di masa depan ke target-target sosio-organisasional ini.

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meskipun memberikan wawasan yang berharga, metodologi penelitian ini memiliki batasan yang, jika dianalisis secara kritis, justru membuka jalan bagi arah penelitian baru yang lebih mendalam. Penelitian ini mengandalkan dua studi kasus dan mengumpulkan data secara eksklusif melalui wawancara semi-terstruktur dengan petugas keselamatan (safety officer) di masing-masing proyek.1 Ketergantungan pada perspektif pemangku kepentingan tunggal ini menciptakan potensi "kesenjangan persepsi" yang signifikan.

Dari sudut pandang seorang petugas keselamatan, yang perannya adalah menegakkan kepatuhan, kegagalan dalam mematuhi aturan secara logis akan dibingkai sebagai kesalahan pada pekerja, seperti "pengabaian," "kecuaian," atau "sikap yang buruk".1 Namun, perspektif pekerja—terutama pekerja asing yang menghadapi hambatan bahasa—bisa jadi sangat berbeda. Apa yang dilihat sebagai "pengabaian" oleh manajemen mungkin berakar dari pelatihan yang tidak efektif dan disampaikan dalam satu bahasa. Apa yang dianggap "kecuaian" bisa jadi merupakan respons rasional terhadap tekanan produksi yang ekstrem, di mana metode kerja yang aman secara signifikan lebih lambat dan dapat berdampak negatif pada pendapatan atau status pekerjaan mereka. Metodologi yang digunakan dalam studi ini, berdasarkan desainnya, tidak dapat menangkap perspektif alternatif ini. Ini bukanlah sebuah kelemahan fatal, melainkan sebuah batasan yang menggarisbawahi perlunya penelitian lebih lanjut.

Keterbatasan ini secara alami memunculkan serangkaian pertanyaan terbuka yang krusial untuk dijawab oleh komunitas riset:

  • Prevalensi: Seberapa luas keempat masalah yang diidentifikasi ini tersebar di seluruh industri konstruksi Malaysia? Apakah masalah-masalah ini merupakan prediktor yang signifikan secara statistik terhadap tingkat kecelakaan?
  • Persepsi vs. Realitas: Apakah pekerja, supervisor lapangan, dan manajer proyek memandang hambatan keselamatan ini dengan cara yang sama seperti petugas keselamatan? Apa akar penyebab dari "pengabaian pekerja" dari sudut pandang pekerja itu sendiri?
  • Kuantifikasi: Berapa dampak kuantitatif dari "kurangnya alokasi anggaran" terhadap hasil keselamatan? Dapatkah kita mengkorelasikan persentase anggaran yang didedikasikan untuk K3 dengan penurunan Total Recordable Incident Rates (TRIR)?
  • Kausalitas: Apakah "hambatan bahasa" merupakan penyebab langsung kecelakaan, atau apakah itu variabel mediasi yang memperburuk masalah lain seperti pelatihan yang buruk dan pengawasan yang lemah?

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan (dengan Justifikasi Ilmiah)

Berangkat dari temuan, kontribusi, dan keterbatasan penelitian Tan dan Razak, berikut adalah lima arah riset prioritas yang dirancang untuk membangun fondasi yang telah diletakkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan terbuka yang muncul.

1. Studi Validasi Kuantitatif Skala Besar mengenai Anteseden Kecelakaan Kerja

Justifikasi Ilmiah: Temuan kualitatif dari dua studi kasus bersifat eksploratif dan memberikan hipotesis awal.1 Untuk menguji generalisasi temuan ini dan menetapkan validitas statistik, diperlukan sebuah studi kuantitatif berskala besar. Penelitian ini secara langsung akan mengatasi keterbatasan ukuran sampel dari studi awal.

Metode yang Diusulkan: Melakukan survei cross-sectional yang didistribusikan kepada sampel representatif (misalnya, 200–300) yang terdiri dari manajer proyek, manajer keselamatan, dan supervisor di seluruh Malaysia. Survei ini akan menggunakan skala Likert untuk mengukur variabel independen yang diidentifikasi dalam paper (misalnya, persepsi terhadap komitmen manajemen, kecukupan alokasi anggaran K3, efektivitas komunikasi antar-bahasa) dan mengorelasikannya dengan variabel dependen berupa metrik keselamatan yang dilaporkan (misalnya, TRIR, Lost Time Injury Frequency Rate). Analisis regresi dapat digunakan untuk mengidentifikasi prediktor paling signifikan dari hasil keselamatan.

2. Analisis Kualitatif Multi-Pemangku Kepentingan tentang "Kesenjangan Persepsi" Keselamatan

Justifikasi Ilmiah: Paper ini secara eksklusif menyajikan perspektif petugas keselamatan.1 Terdapat kebutuhan mendesak untuk memahami bagaimana konsep "pengabaian" dan "kurangnya kesadaran" dikonstruksi dan dialami oleh para pekerja itu sendiri, terutama tenaga kerja asing yang menghadapi hambatan bahasa dan budaya.

Metode yang Diusulkan: Melakukan studi etnografi atau studi kasus komparatif mendalam di beberapa lokasi proyek. Metode pengumpulan data akan mencakup wawancara semi-terstruktur dan kelompok diskusi terfokus (focus groups) dengan tiga kelompok pemangku kepentingan yang berbeda: (1) pekerja asing (dengan bantuan penerjemah), (2) pekerja lokal, dan (3) supervisor lini pertama. Tujuannya adalah untuk memetakan perbedaan persepsi mengenai risiko, efektivitas pelatihan, dan hambatan praktis untuk bekerja secara aman, sehingga dapat mengungkap akar penyebab masalah yang lebih dalam.

3. Pemodelan Ekonomi dan Analisis Return on Investment (ROI) untuk Intervensi Keselamatan

Justifikasi Ilmiah: Temuan mengenai "kurangnya alokasi finansial" menunjukkan bahwa manajemen puncak kemungkinan besar masih memandang keselamatan sebagai pusat biaya (cost center), bukan sebagai investasi strategis.1 Untuk mengubah perilaku organisasi pada level ini, diperlukan argumen bisnis yang kuat dan berbasis data.

Metode yang Diusulkan: Mengembangkan model ekonometrik yang mengkuantifikasi ROI dari investasi keselamatan proaktif. Penelitian ini akan mengumpulkan data biaya dari berbagai proyek konstruksi, yang mencakup: (1) biaya langsung dan tidak langsung dari kecelakaan (misalnya, biaya medis, waktu henti proyek, denda, kerusakan reputasi), dan (2) biaya investasi keselamatan (misalnya, pelatihan, personel K3, APD berkualitas tinggi). Tujuannya adalah untuk menunjukkan secara kuantitatif bahwa setiap unit mata uang yang diinvestasikan dalam K3 menghasilkan penghematan yang lebih besar dalam biaya terkait kecelakaan, sehingga membingkai ulang keselamatan dalam bahasa profitabilitas dan efisiensi finansial.

4. Studi Intervensi Eksperimental tentang Efektivitas Pelatihan Multi-Bahasa dan Berbasis Visual

Justifikasi Ilmiah: Paper ini merekomendasikan "buku saku keselamatan dalam berbagai bahasa" sebagai salah satu strategi.1 Namun, efektivitas strategi ini belum teruji secara empiris. Sebuah studi intervensi diperlukan untuk beralih dari deskripsi masalah ke validasi solusi yang konkret.

Metode yang Diusulkan: Menerapkan desain penelitian kuasi-eksperimental di beberapa lokasi konstruksi. Kelompok perlakuan (experimental group) akan menerima intervensi baru: sesi toolbox talk harian dan materi keselamatan yang menggunakan piktogram universal, animasi pendek, dan instruksi audio dalam berbagai bahasa yang relevan (misalnya, Bahasa Melayu, Bengali, Nepal). Kelompok kontrol akan terus menerima pelatihan standar. Indikator kepatuhan keselamatan (misalnya, penggunaan APD yang benar, kepatuhan terhadap prosedur kerja aman) akan diamati dan diukur secara sistematis pada kedua kelompok sebelum dan sesudah intervensi untuk mengevaluasi dampak intervensi.

5. Studi Komparatif tentang Pengaruh Keberagaman Tenaga Kerja terhadap Dinamika Komunikasi Keselamatan

Justifikasi Ilmiah: "Hambatan bahasa" adalah masalah yang kompleks dan multifaset.1 Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dampak keberagaman linguistik dari faktor-faktor perancu lainnya (seperti budaya kerja dan tingkat pelatihan) untuk memahami mekanismenya secara lebih mendalam.

Metode yang Diusulkan: Melakukan studi kasus komparatif yang membandingkan dua jenis proyek: (1) proyek dengan tenaga kerja yang relatif homogen secara linguistik (misalnya, mayoritas pekerja lokal) dan (2) proyek dengan tenaga kerja yang sangat heterogen dan multinasional. Dengan mengontrol variabel seperti ukuran proyek, kompleksitas, dan kebijakan K3 perusahaan, penelitian ini akan menggunakan Analisis Jaringan Sosial (Social Network Analysis) dan observasi sistematis untuk memetakan alur komunikasi keselamatan, mengidentifikasi titik-titik kegagalan komunikasi, dan mengukur dampaknya terhadap perilaku keselamatan di lapangan.

Kesimpulan dan Ajakan Kolaborasi

Penelitian oleh Tan dan Razak berfungsi sebagai fondasi diagnostik yang krusial, dengan berhasil mengidentifikasi gejala-gejala utama dari kegagalan implementasi keselamatan di industri konstruksi. Agenda riset yang diusulkan dalam tinjauan ini dirancang untuk bergerak melampaui diagnosis menuju pengembangan dan pengujian solusi berbasis bukti yang menargetkan akar penyebab masalah yang bersifat sosio-organisasional, komunikatif, dan ekonomis.

Untuk memastikan keberlanjutan, validitas, dan dampak praktis dari hasil penelitian ini, penelitian lebih lanjut harus melibatkan kolaborasi erat antara institusi akademik seperti fakultas teknik sipil dan manajemen konstruksi di universitas riset, badan pemerintah yang relevan seperti Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (DOSH) Malaysia, dan asosiasi industri kunci seperti Construction Industry Development Board (CIDB) Malaysia. Sinergi ini akan memastikan bahwa temuan penelitian tidak hanya valid secara akademis tetapi juga relevan secara kebijakan dan dapat diimplementasikan secara efektif di lapangan.

Taken from: Journal of Sustainability Science and Management Volume 9 Number 2, December 2014: 90-108

Selengkapnya
Tinjauan Kritis dan Arah Riset Masa Depan: Membedah Manajemen Keselamatan di Sektor Konstruksi

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Membangun Budaya Aman di Laboratorium: Urgensi Job Safety Analysis (JSA)

Dipublikasikan oleh Raihan pada 29 September 2025


Kontribusi Utama terhadap Bidang

Penelitian ini menyoroti risiko keselamatan di laboratorium mekanika tanah, salah satu fasilitas penting dalam pendidikan teknik sipil. Survei melibatkan 72 mahasiswa yang menggunakan laboratorium ini secara rutin. Hasilnya, 27,8% responden pernah mengalami kecelakaan kerja, dengan total 21 kasus dalam tiga tahun terakhir. Jenis kecelakaan bervariasi, mulai dari luka ringan akibat alat, terpapar material, hingga hampir terjadi kecelakaan yang berpotensi serius. Temuan ini menunjukkan bahwa laboratorium pendidikan memiliki risiko nyata yang tidak boleh diabaikan. Selain itu, survei juga menunjukkan bahwa 95,8% responden menyatakan setuju jika Job Safety Analysis (JSA) diterapkan untuk menurunkan angka kecelakaan. Angka ini memperlihatkan dukungan kuat dari stakeholder langsung, yakni mahasiswa sebagai pengguna utama laboratorium. Dengan demikian, penelitian ini berhasil mengidentifikasi adanya kesenjangan antara tingkat kesadaran akan pentingnya keselamatan dan implementasi praktik K3 di lapangan.

Kontribusi utama penelitian ini adalah mempertegas bahwa risiko keselamatan bukan hanya isu industri, tetapi juga isu akademik. Laboratorium pendidikan, sebagai tempat mahasiswa berlatih, seharusnya menjadi ruang aman sekaligus instrumen pembelajaran budaya keselamatan. Dengan adanya data kuantitatif mengenai kecelakaan dan dukungan terhadap JSA, studi ini memberi arah baru bahwa JSA dapat menjadi standar keselamatan di lingkungan akademik teknik sipil.

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meski memberikan data penting, penelitian ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, data kecelakaan hanya berdasarkan laporan mandiri mahasiswa (self-report), sehingga rawan bias ingatan atau persepsi. Tidak semua kecelakaan tercatat secara administratif, sehingga akurasi angka bisa berbeda dengan kenyataan. Kedua, penelitian ini hanya mencakup satu laboratorium di satu universitas. Hasilnya belum tentu berlaku di laboratorium teknik sipil lain, apalagi laboratorium lintas bidang seperti teknik kimia atau elektro. Ketiga, penelitian ini masih berupa analisis kebutuhan, sehingga belum ada uji coba nyata implementasi JSA. Belum diketahui secara empiris apakah JSA benar-benar menurunkan angka kecelakaan dalam konteks pendidikan. Keempat, faktor-faktor pendukung seperti pelatihan K3, ketersediaan APD, dan budaya keselamatan belum dibahas secara mendalam. Pertanyaan terbuka yang muncul antara lain: bagaimana mekanisme terbaik untuk mengintegrasikan JSA dalam kurikulum laboratorium? Faktor apa yang paling signifikan dalam mengurangi risiko: pelatihan, pengawasan, atau desain ruang laboratorium? Dan sejauh mana hasil penelitian ini dapat dihubungkan dengan regulasi nasional tentang K3 di lingkungan pendidikan?

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan

1. Implementasi JSA Nyata di Laboratorium.

Langkah logis berikutnya adalah menyusun dokumen JSA spesifik untuk laboratorium mekanika tanah. Peneliti perlu mengidentifikasi setiap aktivitas berisiko, misalnya penggunaan alat uji geser langsung atau penanganan sampel tanah basah. Dokumen JSA tersebut kemudian diujicobakan kepada mahasiswa dan teknisi. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan data kecelakaan sebelum dan sesudah penerapan. Jika terjadi penurunan signifikan, misalnya tingkat kecelakaan turun 40%, maka bukti empiris efektivitas JSA semakin kuat.

2. Eksperimen Lapangan dengan Metode Before-After.

Selain implementasi terbatas, penelitian dapat menggunakan desain eksperimen kuasi. Kelompok mahasiswa yang menggunakan JSA dibandingkan dengan kelompok yang tidak. Variabel yang diukur tidak hanya jumlah kecelakaan, tetapi juga tingkat kepatuhan terhadap prosedur dan pemahaman konsep K3. Data ini akan memberi gambaran lebih menyeluruh mengenai dampak JSA terhadap perilaku dan budaya keselamatan.

3. Studi Multi-Laboratorium dan Multi-Institusi.

Untuk memperluas cakupan, penelitian harus melibatkan laboratorium lain, baik di dalam maupun luar bidang teknik sipil. Studi lintas universitas akan memperlihatkan apakah pola kecelakaan dan persepsi mahasiswa serupa. Selain itu, perbandingan antar-laboratorium dapat mengungkap faktor kontekstual, misalnya laboratorium dengan APD lengkap cenderung memiliki tingkat kecelakaan lebih rendah.

4. Analisis Faktor Kontekstual yang Mempengaruhi Keselamatan.

Riset lanjutan sebaiknya mengidentifikasi variabel lain yang berkontribusi, seperti frekuensi pelatihan, jumlah pengawas, dan desain tata ruang laboratorium. Metode analisis multivariat dapat digunakan untuk melihat faktor mana yang paling signifikan. Misalnya, apakah kepatuhan terhadap penggunaan helm dan sarung tangan memiliki korelasi lebih tinggi dengan penurunan kecelakaan dibandingkan dengan faktor lain.

5. Integrasi JSA dengan Sistem Manajemen K3 Nasional.

Penelitian ini membuka peluang untuk menghubungkan praktik JSA di laboratorium dengan kebijakan K3 skala nasional. Hasil riset bisa digunakan sebagai rekomendasi kepada Kementerian Ketenagakerjaan atau Kementerian Pendidikan untuk menetapkan JSA sebagai standar wajib di laboratorium pendidikan. Dengan demikian, mahasiswa terbiasa dengan budaya K3 sejak masa studi, yang pada akhirnya akan terbawa ke dunia kerja.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan dasar kuat untuk mengembangkan laboratorium sebagai ruang belajar yang aman sekaligus efektif. Hasilnya menegaskan bahwa meskipun laboratorium bersifat pendidikan, risiko nyata tetap ada, dan strategi seperti JSA dapat menjadi solusi strategis. Penelitian lebih lanjut harus melibatkan Kementerian Ketenagakerjaan, universitas teknik sipil, serta asosiasi profesi K3 agar hasilnya valid, aplikatif, dan berkelanjutan.
 

Baca Selengkapnya di: Pelita Sukma, T. C. (2020). BUKU PROSIDING SEMINAR PENELITIAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2020 "Inovasi Pembangunan dalam Teknologi dan Pendidikan". Buku Prosiding SPKTS 2020 Jilid 1.

Selengkapnya
Membangun Budaya Aman di Laboratorium: Urgensi Job Safety Analysis (JSA)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Lebih dari Sekadar Helm: Mengapa Praktik Keselamatan di Konstruksi Malaysia Gagal dan Apa yang Bisa Kita Lakukan

Dipublikasikan oleh Raihan pada 24 September 2025


Analisis Kritis dan Jalur Riset Berkelanjutan untuk Manajemen Keselamatan Konstruksi

Pendahuluan: Konteks Ilmiah dan Signifikansi Riset

Di seluruh dunia, industri konstruksi secara konsisten menempati peringkat sebagai salah satu sektor paling berisiko tinggi. Di Malaysia, situasi ini sangat mengkhawatirkan. Menurut laporan yang disajikan dalam makalah ini, data dari Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (DOSH) menunjukkan bahwa dari tahun 2011 hingga 2013, total 187 pekerja konstruksi meninggal akibat kecelakaan di lokasi kerja.1 Angka yang mengejutkan ini menggarisbawahi urgensi untuk melakukan perombakan menyeluruh terhadap praktik keselamatan yang ada. Laporan Dayang dan Gloria (2011) yang dikutip dalam makalah juga mencatat adanya kecelakaan besar yang terjadi setiap tahun antara 2005 hingga 2008, termasuk insiden tragis di mana kabel lift pekerja putus yang mengakibatkan kematian dua pekerja dan melukai sepuluh lainnya.1 Fakta-fakta ini secara kolektif menempatkan industri konstruksi sebagai sektor kritis yang memerlukan intervensi riset dan praktik yang berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, makalah yang diulas ini memiliki relevansi yang substansial. Tujuan utamanya adalah untuk mengkaji praktik keselamatan yang berlaku di lokasi konstruksi Malaysia, mengidentifikasi masalah-masalah terkait, dan merumuskan strategi untuk mengatasinya.1 Untuk mencapai tujuan ini, penelitian ini menggunakan metodologi studi kasus kualitatif, yang melibatkan wawancara semi-terstruktur dengan petugas keselamatan di dua proyek pembangunan bertingkat tinggi di Kuala Lumpur.1 Pemilihan proyek-proyek ini dianggap tepat karena risiko keselamatan yang secara inheren tinggi pada bangunan bertingkat, yang juga menuntut implementasi praktik keselamatan yang ketat untuk melindungi pekerja dan publik di sekitarnya.

Alur Temuan Riset: Analisis Praktik, Masalah, dan Strategi

Praktik Keselamatan yang Diterapkan: Standar vs. Realita di Lapangan

Makalah ini mengawali alur logisnya dengan meninjau praktik-praktik keselamatan yang diakui secara luas dalam literatur ilmiah. Tinjauan ini mencakup praktik-praktik fundamental seperti adanya kebijakan keselamatan, program pendidikan dan pelatihan, inspeksi dan audit rutin, pertemuan keselamatan, dan penggunaan alat pelindung diri (APD).1 Secara teoritis, sistem ini merupakan kerangka kerja yang komprehensif untuk memastikan lingkungan kerja yang aman.

Melalui studi kasus kualitatif, makalah ini menemukan bahwa kedua kontraktor proyek yang diteliti telah menerapkan sebagian besar praktik ini dengan baik dan terstruktur.1 Mereka memiliki kebijakan keselamatan yang jelas, menyelenggarakan berbagai jenis pelatihan seperti pelatihan induksi harian dan pelatihan khusus pekerjaan, serta secara teratur melakukan inspeksi dan audit keselamatan. Pelaksanaan praktik ini terperinci; misalnya, audit dilakukan dua kali setahun oleh perwakilan DOSH dan komite keselamatan, dan pelatihan induksi untuk pekerja baru mencakup orientasi penggunaan APD dan prosedur darurat.1 Namun, terlepas dari keberadaan sistem formal yang tampaknya kokoh ini, makalah ini mengidentifikasi adanya paradoks utama: masalah-masalah substansial masih saja terjadi di lapangan. Keberadaan kebijakan dan jadwal pelatihan tidak secara otomatis menghasilkan budaya keselamatan yang kuat atau kepatuhan yang konsisten di kalangan pekerja. Hal ini menunjukkan kesenjangan kritis antara apa yang ada di atas kertas dan bagaimana hal itu benar-benar diimplementasikan.

Masalah Kunci dan Akar Permasalahannya

Makalah ini berhasil mengidentifikasi sejumlah masalah utama yang menghambat efektivitas praktik keselamatan, yang sebagian besar berpusat pada faktor-faktor non-prosedural. Masalah-masalah yang disorot adalah: ketidakpedulian pekerja terhadap prosedur kerja, kurangnya alokasi dana, kurangnya kesadaran di kalangan pekerja, dan hambatan bahasa antara supervisor dan pekerja.1

Analisis yang lebih mendalam menunjukkan bahwa masalah-masalah ini bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan saling terkait. Contohnya, "ketidakpedulian" dan "kurangnya kesadaran" di kalangan pekerja bukanlah sifat bawaan, melainkan hasil dari faktor-faktor kausal yang lebih dalam.1 Wawancara dengan petugas keselamatan mengungkapkan bahwa banyak pekerja yang berfokus untuk "menyelesaikan pekerjaan lebih cepat untuk mendapatkan upah".1 Ini menyoroti adanya konflik insentif: insentif finansial untuk kecepatan sering kali berbenturan dengan insentif keselamatan untuk kepatuhan. Hambatan bahasa juga bukan sekadar masalah komunikasi verbal, tetapi merupakan masalah fundamental dalam akses informasi dan efektivitas pelatihan. Ketika pekerja tidak memahami instruksi atau materi pelatihan, mereka tidak dapat mempraktikkan prosedur keselamatan yang benar, terlepas dari niat baik yang ada.1 Masalah lain yang ditekankan adalah kurangnya alokasi anggaran yang memadai untuk manajemen keselamatan, yang menjadi akar masalah yang mendalam.1 Banyak kontraktor yang menganggap uang lebih baik dialokasikan untuk "kebutuhan" daripada untuk pelatihan keselamatan. Meskipun praktik keselamatan seperti pengadaan APD atau papan buletin memerlukan investasi, makalah ini menemukan bahwa banyak pelaku industri hanya memberikan alokasi yang minim, atau bahkan tidak sama sekali, untuk implementasi keselamatan di lapangan.1

Strategi yang Direkomendasikan: Solusi untuk Kesenjangan Implementasi

Sebagai respons terhadap masalah yang diidentifikasi, makalah ini mengusulkan serangkaian strategi yang logis. Strategi-strategi ini mencakup penyediaan pelatihan yang lebih efektif (misalnya, menggunakan video dan animasi), alokasi anggaran yang memadai, komitmen penuh dari manajemen puncak, dan penyediaan materi keselamatan multibahasa seperti buku saku.1 Makalah ini mengklaim bahwa buku saku multibahasa di salah satu studi kasus "terbukti efektif".1

Meskipun usulan ini relevan, makalah ini tidak menyajikan data kuantitatif yang membuktikan efektivitasnya secara empiris. Klaim mengenai "keefektifan" materi multibahasa, misalnya, didasarkan pada laporan kualitatif dari narasumber, bukan pada metrik terukur seperti penurunan insiden atau peningkatan skor pemahaman. Ketergantungan pada data kualitatif tanpa validasi kuantitatif membuka jalan untuk penelitian lanjutan yang lebih ketat, yang akan menjadi fondasi untuk rekomendasi yang lebih kuat dan berbasis bukti.

Kontribusi Utama terhadap Bidang

Makalah ini memberikan beberapa kontribusi yang signifikan bagi bidang manajemen keselamatan konstruksi. Pertama, ia memberikan validasi empiris di lingkungan Malaysia untuk praktik-praktik keselamatan yang telah lama dikenal di literatur.1 Ini adalah langkah maju yang penting dari sekadar tinjauan teoretis, menyediakan kasus nyata tentang bagaimana kebijakan dan prosedur diterjemahkan (atau tidak diterjemahkan) di lapangan.

Kontribusi terpentingnya adalah identifikasi kesenjangan kritis antara keberadaan kebijakan keselamatan formal dan efektivitas implementasi praktisnya.1 Alih-alih hanya berfokus pada "apa yang harus dilakukan," makalah ini menyoroti "mengapa yang sudah ada tidak berjalan," yang menggeser fokus riset dari masalah kepatuhan prosedural menjadi masalah budaya dan perilaku. Temuan ini mengarahkan peneliti untuk mempertimbangkan bahwa keselamatan bukanlah semata-mata masalah teknis, melainkan masalah interaksi kompleks antara kebijakan, komitmen manajemen, dan insentif perilaku pekerja. Makalah ini secara implisit menunjukkan adanya hubungan antara faktor-faktor non-teknis ini dengan hasil keselamatan, menggarisbawahi potensi besar untuk objek penelitian baru yang dapat menjembatani kesenjangan tersebut.

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meskipun kontribusinya berharga, penelitian ini memiliki keterbatasan metodologis yang harus diakui.

Pertama, cakupannya sangat sempit, didasarkan pada hanya dua studi kasus di Kuala Lumpur.1 Temuan ini, oleh karena itu, tidak dapat digeneralisasi ke seluruh industri konstruksi Malaysia, yang memiliki keragaman yang jauh lebih besar dalam skala dan jenis proyek.

Kedua, penelitian ini memiliki bias subyektif yang signifikan, karena data dikumpulkan secara eksklusif dari perspektif petugas keselamatan. Sudut pandang pekerja, manajemen senior, atau pihak berwenang seperti DOSH tidak dipertimbangkan. Ini menciptakan pandangan yang kemungkinan besar mencerminkan kebijakan resmi perusahaan dan bukan pengalaman atau persepsi nyata dari semua pemangku kepentingan di lokasi kerja.

Ketiga, sifat kualitatifnya, meskipun ideal untuk eksplorasi dan pembentukan hipotesis, tidak memungkinkan untuk membuktikan hubungan kausal atau korelasi statistik. Klaim seperti "buku saku multibahasa efektif" tetap bersifat anekdotal dan tidak didukung oleh data numerik yang dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.

Keterbatasan ini meninggalkan banyak pertanyaan riset yang belum terjawab, yang menjadi lahan subur untuk investigasi di masa depan. Sebagai contoh, apakah ada hubungan kuantitatif yang dapat diukur antara alokasi anggaran keselamatan dan tingkat kecelakaan, produktivitas, dan profitabilitas proyek? Bagaimana budaya organisasi memengaruhi perilaku keselamatan di luar kebijakan formal yang ada? Seberapa besar dampak dari sistem penalti dan penghargaan terhadap kepatuhan jangka panjang, dan apakah ada perbedaan dampak pada pekerja lokal dibandingkan dengan pekerja migran?

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan

Berdasarkan temuan dan keterbatasan yang teridentifikasi dalam makalah ini, lima jalur riset berkelanjutan berikut ini diusulkan untuk komunitas akademik, peneliti, dan penerima hibah riset.

  1. Studi Kuantitatif: Analisis Regresi tentang Anggaran dan Hasil Keselamatan.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini menunjukkan "kurangnya alokasi dana" sebagai masalah utama. Mengalokasikan anggaran keselamatan secara terpisah dapat meningkatkan praktik, tetapi hubungan kausalnya masih spekulatif dan tidak didukung oleh data kuantitatif.1
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Mengumpulkan data kuantitatif dari sampel yang lebih besar, misalnya lebih dari 50 proyek yang berbeda, yang mencakup metrik alokasi anggaran keselamatan (seperti persentase dari total biaya proyek) dan metrik hasil keselamatan (seperti tingkat insiden dan jumlah hari kerja yang hilang). Analisis regresi dapat digunakan untuk mengukur hubungan ini.
    • Kebutuhan Penelitian Lanjutan: Penelitian ini akan menghasilkan koefisien korelasi yang dapat diinterpretasikan secara jelas, misalnya: temuan hipotetis ini menunjukkan hubungan kuat antara alokasi anggaran dan pengurangan insiden dengan koefisien -0.78 — menunjukkan potensi kuat untuk objek penelitian baru. Hasilnya dapat digunakan untuk meyakinkan manajemen puncak dan pemberi hibah bahwa investasi finansial dalam keselamatan memiliki imbalan yang terukur dan signifikan.
  2. Riset Tindakan (Action Research): Implementasi dan Evaluasi Program Pelatihan Multibahasa.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini menunjukkan "hambatan bahasa" sebagai masalah kunci dan mengusulkan "buku saku multibahasa" sebagai solusi yang diklaim efektif.1 Namun, keefektifan ini belum divalidasi secara kuantitatif.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Merancang studi kuasi-eksperimental di beberapa lokasi proyek. Kelompok perlakuan akan menerima pelatihan dan materi keselamatan dalam bahasa asli mereka (misalnya, Myanmar atau Bangladesh), sementara kelompok kontrol menerima pelatihan standar. Variabel yang akan diukur secara longitudinal selama 6-12 bulan adalah tingkat pemahaman prosedur keselamatan (melalui kuis) dan tingkat kepatuhan terhadap prosedur, serta tingkat insiden minor.
    • Kebutuhan Penelitian Lanjutan: Penelitian ini akan memberikan bukti empiris yang kuat tentang dampak langsung dari komunikasi yang efektif. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk mengembangkan model pelatihan yang optimal yang dapat diimplementasikan di seluruh industri konstruksi Malaysia dan negara-negara lain dengan populasi pekerja migran yang besar.
  3. Analisis Kualitatif Mendalam: Peran Budaya Organisasi dan Komitmen Manajemen Puncak.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini secara berulang menyebut "kurangnya kesadaran" dan "komitmen manajemen" sebagai masalah, menunjukkan bahwa keselamatan adalah masalah budaya, bukan hanya masalah prosedur.1
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Melakukan serangkaian wawancara mendalam dan observasi lapangan yang terperinci dengan responden dari berbagai tingkat hierarki (pekerja, supervisor, manajer proyek, manajemen puncak). Metodologi etnografi dapat digunakan untuk memahami norma-norma tidak tertulis dan perilaku harian yang memengaruhi keputusan terkait keselamatan.
    • Kebutuhan Penelitian Lanjutan: Hasilnya akan menjelaskan mengapa praktik keselamatan yang ada gagal dan akan membantu merancang intervensi yang menargetkan akar masalah budaya, bukan hanya gejala. Riset ini akan menjembatani kesenjangan antara ilmu manajemen dan rekayasa keselamatan.
  4. Riset Terapan: Pengembangan dan Uji Coba Sistem Insentif/Disinsentif.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini menyebutkan adanya sistem penghargaan (pemberian sertifikat apresiasi) dan sistem penalti (pemotongan upah atau denda) di kedua studi kasus, yang menunjukkan adanya potensi untuk menggunakan insentif perilaku.1
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Mengembangkan dan mengimplementasikan program percontohan yang secara eksplisit menghubungkan kepatuhan keselamatan (misalnya, kepatuhan penggunaan APD, partisipasi pelatihan) dengan sistem penghargaan (misalnya, bonus bulanan kecil atau pengakuan) dan disinsentif (misalnya, denda kecil, catatan pada kartu hijau). Menggunakan metode pengujian kelompok perlakuan dan kontrol untuk mengukur dampak program ini pada metrik kepatuhan.
    • Kebutuhan Penelitian Lanjutan: Penelitian ini akan menghasilkan model praktis untuk mengelola perilaku pekerja di lokasi konstruksi, yang dapat diadaptasi oleh kontraktor manapun. Ini akan mengubah pendekatan dari sekadar kepatuhan pasif menjadi keterlibatan aktif, yang berpotensi menghasilkan manfaat signifikan dalam tingkat insiden dan produktivitas.
  5. Studi Komparatif: Penyelidikan Peran Otoritas Penegakan (DOSH).
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini mengutip Shim (2006) yang mengklaim bahwa meskipun Malaysia memiliki "hukum yang sangat baik tentang kebijakan keselamatan," ada "kurangnya penegakan dari pihak berwenang".1
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Melakukan studi komparatif antara proyek-proyek yang memiliki tingkat audit dan inspeksi DOSH yang tinggi versus yang rendah. Mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif tentang frekuensi audit, jenis pelanggaran yang ditemukan, dan tindakan yang diambil, serta membandingkannya dengan tingkat insiden proyek.
    • Kebutuhan Penelitian Lanjutan: Penelitian ini akan memberikan pemahaman yang bernuansa tentang peran dan dampak penegakan peraturan eksternal terhadap perilaku keselamatan di lokasi proyek. Hasilnya dapat memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah untuk meningkatkan efektivitas regulasi tanpa secara tidak proporsional membebani industri.

 

Kesimpulan: Sintesis dan Ajakan Kolaboratif

Secara keseluruhan, makalah ini berhasil memberikan pemahaman empiris yang berharga tentang status praktik keselamatan di lokasi konstruksi Malaysia. Kontribusi utamanya adalah mengidentifikasi secara jelas kesenjangan yang ada antara kerangka kerja keselamatan yang ideal dan tantangan implementasi praktisnya, yang sebagian besar disebabkan oleh masalah perilaku, budaya, dan alokasi sumber daya. Dengan mengakui keterbatasan metodologisnya, seperti ruang lingkup yang sempit dan bias subyektif, makalah ini membuka jalan untuk investigasi ilmiah yang lebih ketat dan dapat digeneralisasi.

Kelima rekomendasi riset yang diusulkan—mulai dari studi kuantitatif hingga riset tindakan—menghadirkan jalur yang terperinci untuk mengatasi pertanyaan-pertanyaan terbuka yang belum terjawab. Eksplorasi jalur ini sangat penting untuk memajukan pemahaman kita dari deskriptif menjadi prediktif dan dari preskriptif menjadi transformatif. Pada akhirnya, tujuannya adalah untuk beralih dari sekadar mendokumentasikan masalah menjadi merancang solusi yang dapat diterapkan secara efektif.

Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi riset terkemuka, departemen pemerintah seperti DOSH, dan asosiasi industri seperti Master Builders Association Malaysia (MBAM) untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil. Hanya melalui kolaborasi multi-pihak, kita dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, dan pada akhirnya, menciptakan lokasi kerja yang benar-benar aman bagi semua pekerja.

Sumber dari Paper: Chin Keng, Tan & Abdul Razak, Nadeera. (2014). Case Studies on the Safety Management at Construction Site. Journal of Sustainability Science and Management. 9. 90-108.

Selengkapnya
Lebih dari Sekadar Helm: Mengapa Praktik Keselamatan di Konstruksi Malaysia Gagal dan Apa yang Bisa Kita Lakukan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Mengurai Ancaman, Merumuskan Masa Depan: Resensi Kritis Bahaya Keselamatan Konstruksi untuk Komunitas Akademik.

Dipublikasikan oleh Raihan pada 24 September 2025


Pendahuluan: Konteks dan Relevansi Kritis

Meskipun laju kemajuan teknologi dan metode konstruksi terus meningkat, industri ini secara historis tetap menjadi salah satu yang paling berbahaya di seluruh dunia. Paparan terhadap lingkungan kerja yang dinamis dan selalu berubah, yang melibatkan pergerakan konstan kru, material, dan peralatan, secara signifikan meningkatkan kerentanan pekerja terhadap cedera yang dapat dicegah.1 Data kuantitatif menegaskan realitas yang suram ini: pekerja konstruksi di Amerika Serikat, yang hanya merupakan persentase kecil dari angkatan kerja, menjadi korban 9% dari semua cedera fatal dan 20% dari semua cedera non-fatal di tempat kerja.1 Secara global, lebih dari 60.000 fatalitas terkait konstruksi dilaporkan setiap tahun.1

Dalam menghadapi tantangan yang terus-menerus ini, makalah tinjauan ini bertujuan untuk mengatasi celah riset yang signifikan. Penelitian sebelumnya tentang keselamatan konstruksi seringkali terfragmentasi, membatasi fokusnya pada satu atau beberapa bahaya saja.1 Dengan demikian, pemahaman yang komprehensif tentang seluruh spektrum bahaya yang ada di lokasi kerja menjadi sulit bagi para pemangku kepentingan.1 Makalah ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menyajikan sintesis yang terorganisir dan menyeluruh dari literatur yang ada. Tinjauan ini mengidentifikasi 18 bahaya keselamatan utama, mengklasifikasikannya berdasarkan dampak fisiologis dan sektor konstruksi, serta merumuskan strategi mitigasi terkait.1

Laporan ini, yang ditujukan untuk komunitas akademik, peneliti, dan penerima hibah riset, berfungsi sebagai analisis kritis terhadap makalah tinjauan tersebut. Tujuannya adalah untuk menggali kontribusi substantif dari penelitian yang ada, mengidentifikasi keterbatasan dan pertanyaan terbuka yang tersirat di dalamnya, serta secara eksplisit menyusun arah riset yang eksplisit dan berbasis bukti untuk inisiatif penelitian di masa depan. Analisis ini melampaui ringkasan belaka untuk menyediakan peta jalan bagi pengembangan pengetahuan lebih lanjut di bidang K3 konstruksi.

 

Jalur Logis Temuan: Sintesis Sistematis dari Literatur

Makalah ini didasarkan pada metodologi tinjauan literatur sistematis yang ketat, yang memberikan fondasi ilmiah yang kuat untuk temuannya. Para peneliti mengumpulkan database ekstensif yang terdiri dari jurnal, tesis, laporan teknis, dan makalah konferensi.1 Proses penyaringan yang cermat, yang mencakup peninjauan 463 artikel awal, menghasilkan total 236 publikasi yang relevan untuk analisis mendalam.1 Analisis ini difokuskan pada literatur yang diterbitkan antara tahun 2002 dan Maret 2023, memastikan bahwa hasil yang disajikan mencerminkan minat dan wacana riset terkini.1

 

Identifikasi dan Klasifikasi Bahaya

Melalui tinjauan komprehensif ini, penelitian berhasil mengidentifikasi 18 bahaya keselamatan yang lazim di lokasi konstruksi.1 Bahaya-bahaya ini kemudian dikelompokkan ke dalam empat kategori utama berdasarkan dampak fisiologisnya: Bahaya Primer, Bahaya Fisik, Bahaya Kimia, dan Bahaya Ergonomi/Lainnya.1 Kerangka klasifikasi ini adalah alat yang berguna untuk secara sistematis mengidentifikasi bahaya, yang mengurangi kemungkinan mengabaikan risiko potensial di lokasi kerja.

 

Analisis Kuantitatif Frekuensi Bahaya dan Implikasinya

Salah satu aspek terpenting dari makalah ini adalah analisis peringkat bahaya berdasarkan frekuensi sitasi mereka dalam literatur yang ditinjau. Temuan ini secara efektif memetakan area perhatian utama komunitas riset. Bahaya yang paling sering disitasi adalah jatuh dari ketinggian, penanganan material dan peralatan, serta mesin berat.1 Frekuensi sitasi yang tinggi untuk bahaya-bahaya ini mengindikasikan bahwa para peneliti secara konsisten berfokus pada risiko-risiko ini, yang mungkin disebabkan oleh hubungannya yang kuat dengan cedera dan fatalitas.

Sebuah analisis yang lebih mendalam terhadap data kuantitatif makalah ini mengungkapkan dinamika yang menarik. Makalah ini menunjukkan bahwa distribusi artikel berdasarkan kategori bahaya menunjukkan bahwa bahaya kimia menjadi fokus terbesar, dengan 24% dari total publikasi yang ditinjau, sedangkan bahaya primer mencakup 22%.1 Namun, ketika beralih ke bahaya individu, bahaya primer jatuh dari ketinggian memiliki frekuensi sitasi tertinggi secara signifikan, yaitu 107 sitasi, jauh lebih tinggi dari bahaya lainnya.1 Hal ini menunjukkan bahwa, sementara ada beragam isu yang dieksplorasi dalam kategori bahaya kimia, perhatian riset dalam kategori bahaya primer sangat terkonsentrasi pada bahaya fatalitas tunggal yang paling signifikan—jatuh dari ketinggian. Korelasi yang jelas antara bahaya yang paling sering disitasi dan tingkat fatalitas yang dilaporkan mengindikasikan bahwa para peneliti memberikan perhatian yang tepat pada bahaya yang paling mematikan.

 

Strategi Mitigasi: Paradigma Baru dari Tradisional ke Digital

Makalah ini mengidentifikasi bahwa sebagian besar bahaya dapat dimitigasi melalui penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat, pelatihan yang efektif, dan pengawasan yang memadai.1 Namun, makalah ini juga melampaui pendekatan tradisional dan secara eksplisit menyoroti peran teknologi mutakhir sebagai strategi mitigasi modern. Misalnya, makalah ini menyinggung bagaimana teknologi seperti Building Information Modeling (BIM), Virtual Reality (VR), dan sensor yang dapat dipakai (wearable sensors) dapat digunakan untuk mengurangi risiko.1 Makalah ini menguraikan bagaimana simulasi BIM dapat digunakan untuk mendeteksi bahaya jatuh atau bagaimana pemodelan dapat mengoptimalkan tata letak lokasi untuk memitigasi polusi debu.1

 

Pengidentifikasian strategi mitigasi berbasis teknologi menunjukkan bahwa makalah ini mengakui bahwa industri konstruksi berada pada titik infleksi yang penting. Fakta bahwa fatalitas terus terjadi pada tingkat tinggi—lebih dari 60.000 per tahun secara global—mencerminkan keterbatasan metode tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa metode-metode tersebut, meskipun penting, tidak sepenuhnya efektif dalam mengatasi sifat kompleks dan terus berubah dari lingkungan konstruksi. Pengenalan dan advokasi teknologi ini menyiratkan perlunya pergeseran paradigma dari intervensi reaktif (menanggapi insiden yang terjadi) ke pendekatan proaktif dan prediktif yang didukung oleh data real-time dan simulasi. Ini adalah pengakuan bahwa solusi masa depan terletak pada penggunaan data untuk mencegah bahaya, bukan hanya mengelolanya setelah teridentifikasi.

 

Faktor Manusia sebagai Variabel Laten

Sepanjang makalah, analisis terhadap bahaya dan strategi mitigasi secara konsisten mengaitkan insiden dengan faktor perilaku manusia. Makalah ini berulang kali menyebut "kecenderungan mengambil risiko individu," "kurangnya pengalaman," dan "kurangnya kesadaran akan bahaya" sebagai faktor utama yang memperburuk semua jenis bahaya, dari jatuh hingga tertabrak.1 Misalnya, makalah ini mencatat bahwa lebih dari 80% pekerja yang terluka akibat jatuh dari perancah melaporkan tidak adanya atau penggunaan APD yang salah.1 Demikian pula, kecelakaan struck-by dikaitkan dengan kurangnya pelatihan keselamatan, pengawasan yang tidak memadai, dan kurangnya kesadaran situasional.1 Hal ini mengungkapkan bahwa di bawah lapisan bahaya fisik, kimia, dan ergonomis, terdapat variabel yang lebih dalam yang memengaruhi bagaimana bahaya tersebut bermanifestasi. Variabel laten ini adalah psikologi dan perilaku pekerja, yang dapat menyebabkan mereka mengabaikan protokol keamanan yang sudah ada. Hal ini menunjukkan bahwa riset masa depan tidak boleh hanya berfokus pada identifikasi bahaya atau penerapan teknologi, tetapi juga pada pemahaman dan modifikasi perilaku manusia, yang seringkali menjadi akar dari banyak insiden.

 

Kontribusi Utama terhadap Bidang

Makalah ini memberikan kontribusi signifikan terhadap bidang keselamatan konstruksi dalam beberapa cara:

  • Sintesis Komprehensif: Dengan mensintesis temuan dari 236 publikasi yang relevan, makalah ini menawarkan pandangan holistik dan terorganisir tentang bahaya keselamatan konstruksi. Ini mengatasi masalah fragmentasi yang lazim dalam literatur dan menyediakan fondasi yang kokoh untuk pemahaman dan riset di masa depan.1
  • Kerangka Klasifikasi yang Inovatif: Makalah ini menyajikan dua kerangka klasifikasi yang sangat berguna bagi praktisi dan peneliti: pengelompokan bahaya ke dalam empat kategori fisiologis dan, yang lebih penting, klasifikasi bahaya berdasarkan sektor konstruksi (komersial, berat, industri, dan residensial).1 Kerangka ini menyediakan alat praktis untuk identifikasi bahaya yang spesifik untuk proyek di tingkat makro dan mikro, yang merupakan peningkatan dari tinjauan sebelumnya.
  • Pemetaan Minat Riset: Dengan meranking bahaya berdasarkan frekuensi sitasi dalam literatur, makalah ini secara efektif memetakan tren dan perhatian komunitas riset dalam dua dekade terakhir. Korelasi yang kuat antara sitasi tinggi dan fatalitas (misalnya, jatuh dari ketinggian) menunjukkan bahwa komunitas riset memiliki fokus yang tepat pada bahaya yang paling mematikan.

 

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meskipun makalah ini merupakan tinjauan yang komprehensif, ada beberapa keterbatasan yang perlu diakui, yang juga membuka jalan untuk penelitian di masa depan:

  • Batasan Cakupan: Makalah ini mengakui batasan dari periode tinjauan (2002-2023).1 Meskipun ini memastikan relevansi, hal ini mungkin mengecualikan riset dasar yang relevan dari periode sebelumnya yang bisa memberikan konteks historis yang lebih kaya.
  • Kurangnya Data Kuantitatif Efektivitas: Berdasarkan materi yang tersedia, makalah ini mengidentifikasi berbagai strategi mitigasi, dari penggunaan APD hingga teknologi canggih.1 Namun, makalah ini tidak menyajikan data kuantitatif yang mengukur seberapa efektif intervensi tersebut dalam mengurangi insiden.1 Makalah ini mengidentifikasi "apa" yang harus dilakukan, tetapi tidak memberikan "seberapa baik" cara itu dilakukan. Ini adalah celah riset yang signifikan.
  • Pertanyaan Terbuka yang Belum Terjawab:
    • Efektivitas Terukur Teknologi: Seberapa efektifkah integrasi BIM, VR, atau sensor wearable dalam mengurangi insiden K3 di lapangan secara terukur? Makalah ini mengusulkan penggunaannya, tetapi tidak dapat memberikan bukti empiris mengenai dampaknya terhadap tingkat insiden.
    • Motivasi Perilaku: Mengapa pekerja konstruksi, meskipun memiliki pengetahuan tentang bahaya, tetap memiliki "kecenderungan mengambil risiko individu" dan mengabaikan protokol keamanan? Makalah ini mengidentifikasi masalah, tetapi tidak mendalami penyebab psikologis atau sosiologisnya.

 

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan

Berdasarkan temuan dan keterbatasan yang teridentifikasi, berikut adalah lima rekomendasi riset yang dapat menyusun arah penelitian di masa depan, yang semuanya didukung oleh justifikasi ilmiah.

  1. Studi Eksperimental tentang Efektivitas Intervensi Berbasis Teknologi.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini menunjukkan bahwa teknologi seperti BIM, VR, dan sensor wearable adalah alat mitigasi yang menjanjikan, tetapi tidak memberikan data tentang efektivitasnya secara kuantitatif.1 Studi lanjutan sangat dibutuhkan untuk mengukur dampak nyata dari teknologi ini terhadap tingkat insiden.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Penelitian harus dirancang sebagai studi quasi-eksperimental atau studi kasus longitudinal di lokasi konstruksi nyata. Variabel independennya adalah penerapan teknologi spesifik (misalnya, program pelatihan VR atau sistem monitoring BIM), sedangkan variabel dependennya adalah tingkat insiden, tingkat kepatuhan APD, atau data near-miss yang dicatat. Penelitian harus dilakukan di proyek-proyek dari berbagai sektor untuk mengukur efektivitasnya secara in-situ.
  2. Analisis Psikologis dan Sosiologis Perilaku Pengabaian Risiko.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini berulang kali mengaitkan kecelakaan dengan "kecenderungan mengambil risiko" dan "kurangnya kesadaran" pada pekerja.1 Untuk mengatasi akar masalah ini, dibutuhkan pendekatan yang melampaui teknik sipil dan manajemen.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Penelitian harus menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dari ilmu perilaku, seperti wawancara mendalam, focus group discussion, dan survei psikometri. Variabel yang akan dieksplorasi termasuk persepsi risiko, locus of control, norma sosial di tempat kerja, dan dampak stres. Studi ini harus melibatkan pekerja dari berbagai tingkat pengalaman dan peran (pekerja, mandor, manajer).
  3. Pemodelan Prediktif Dinamis untuk Identifikasi Bahaya Real-Time.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini menggarisbawahi sifat dinamis dan terus berubah dari lokasi konstruksi.1 Identifikasi bahaya statis tidaklah cukup. Ada kebutuhan untuk model yang dapat memprediksi insiden sebelum terjadi.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Riset harus mengembangkan model machine learning yang mengintegrasikan data real-time dari sensor IoT, data lokasi (misalnya, dari UAV), dan data historis (laporan insiden). Variabel masukan dapat mencakup posisi peralatan berat, lokasi pekerja, kondisi cuaca, dan tingkat kebisingan. Model ini akan menghasilkan "peta panas risiko" yang dinamis untuk area-area yang rentan terhadap insiden struck-by atau caught-in-between.
  4. Eksplorasi Dampak Jangka Panjang dari Bahaya Non-Fatal.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini berfokus pada bahaya yang menyebabkan fatalitas atau cedera akut. Namun, makalah juga menyebutkan bahaya jangka panjang seperti paparan debu, kebisingan, dan getaran.1 Dampak kesehatan non-fatal, seperti penyakit pernapasan, gangguan pendengaran, dan gangguan muskuloskeletal, seringkali terabaikan namun memiliki implikasi sosio-ekonomi yang besar bagi pekerja dan sistem kesehatan.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Diperlukan studi longitudinal skala besar yang melacak kesehatan kohort pekerja konstruksi selama bertahun-tahun. Variabel yang akan dianalisis termasuk durasi paparan, jenis bahaya non-fatal, dan korelasi dengan biaya perawatan kesehatan serta hilangnya produktivitas.
  5. Pengembangan Kerangka Kerja Kolaboratif Global untuk Manajemen Data Keselamatan.
    • Justifikasi Ilmiah: Makalah ini menyoroti bahwa masalah keselamatan konstruksi adalah isu global (lebih dari 60.000 fatalitas per tahun) dan bahwa beberapa negara (AS, Tiongkok, Korea) memiliki tingkat cedera tertinggi.1 Namun, pengumpulan data dan protokol keselamatan seringkali tidak terstandarisasi.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Perlu ada inisiatif riset untuk mengembangkan kerangka kerja berbasis blockchain atau cloud yang aman untuk berbagi data insiden keselamatan secara anonim dan terstandarisasi antar negara dan institusi. Ini akan memungkinkan analisis Big Data yang lebih luas untuk mengidentifikasi tren global, membandingkan efektivitas kebijakan di berbagai yurisdiksi, dan mengukur dampak faktor budaya pada praktik keselamatan.

 

Kesimpulan

Makalah tinjauan ini tidak hanya berfungsi sebagai ringkasan literatur yang komprehensif, tetapi juga sebagai peta jalan yang sangat berharga untuk riset masa depan. Dengan mengidentifikasi 18 bahaya, mengklasifikasikannya, dan merankingnya berdasarkan sitasi, makalah ini telah menyediakan fondasi yang kokoh bagi pemahaman di bidang K3 konstruksi. Namun, seperti yang terungkap dalam analisis ini, makalah tersebut juga secara implisit menyoroti celah yang signifikan—kurangnya data kuantitatif tentang efektivitas mitigasi, kebutuhan untuk memahami faktor manusia, dan potensi yang belum dimanfaatkan dari teknologi baru. Laporan ini mendorong komunitas riset untuk tidak hanya membangun di atas temuan makalah ini, tetapi juga secara kritis menantang paradigma yang ada dan berinvestasi dalam penelitian yang berfokus pada prediksi, intervensi berbasis data, dan akar perilaku dari bahaya keselamatan.

Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi dari berbagai disiplin ilmu, seperti teknik sipil, ilmu data, dan psikologi industri untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil, serta menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

Baca Selengkapnya disini: https://doi.org/10.3390/buildings14020526

Selengkapnya
Mengurai Ancaman, Merumuskan Masa Depan: Resensi Kritis Bahaya Keselamatan Konstruksi untuk Komunitas Akademik.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Mengapa Implementasi P3K di Industri Kapal Indonesia Jauh dari Ideal?

Dipublikasikan oleh Raihan pada 22 September 2025


Pendahuluan dan Konteks Penelitian

Tingkat keparahan kecelakaan kerja merupakan salah satu indikator utama dari efektivitas manajemen keselamatan di sebuah perusahaan. Upaya untuk meminimalisir dampak dari insiden ini secara fundamental bergantung pada implementasi Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang cepat dan tepat.1 Perawatan yang diberikan segera setelah cedera dapat menjadi penentu kritis antara pemulihan yang cepat atau konsekuensi yang lebih serius, bahkan antara hidup dan mati.1 Oleh karena itu, analisis mendalam terhadap penerapan P3K di lingkungan kerja berisiko tinggi adalah sebuah keharusan.

Secara global, data dari International Labour Organization (ILO) tahun 2018 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: lebih dari 2,78 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat kecelakaan atau penyakit terkait pekerjaan, dengan tambahan 374 juta cedera non-fatal.1 Kawasan Asia dan Pasifik menyumbang dua pertiga dari total kematian ini. Konteks nasional di Indonesia juga tidak kalah genting. Data BPJS Ketenagakerjaan dari tahun 2014 hingga 2018 menunjukkan fluktuasi angka kecelakaan yang tinggi, mencapai 123.000 kasus pada tahun 2017.1 Data regional bahkan menyoroti situasi yang lebih parah, dengan Dinas Tenaga Kerja Sulawesi Selatan mencatat lonjakan dramatis hingga 24.910 kasus pada tahun 2014, menjadikannya provinsi dengan angka kecelakaan tertinggi pada tahun tersebut.1

Mengingat urgensi tersebut, penelitian ini memfokuskan analisis pada sebuah perusahaan konstruksi kapal di Makassar, PT. Industri Kapal Indonesia. Latar belakang penelitian ini diperkuat oleh data internal perusahaan yang menunjukkan tren peningkatan kasus kecelakaan kerja dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dari 2 kasus pada tahun 2012 menjadi 7 kasus pada tahun 2015.1 Peningkatan signifikan ini secara empiris menjustifikasi kebutuhan untuk mengkaji secara spesifik bagaimana sistem P3K di perusahaan tersebut diimplementasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan P3K di industri yang memiliki kompleksitas dan risiko bahaya kerja yang tinggi, serta mengidentifikasi kesenjangan antara regulasi yang ada dengan praktik di lapangan.

 

Kontribusi Utama terhadap Bidang

Penelitian kualitatif-deskriptif ini memberikan kontribusi yang substansial dengan secara rinci memetakan ketidaksesuaian yang signifikan antara kepatuhan terhadap peraturan formal dan implementasi praktis di lapangan dalam industri konstruksi kapal di Makassar.1 Analisis ini melampaui sekadar mengonfirmasi adanya masalah, tetapi juga mengidentifikasi akar permasalahan yang bersifat manajerial, prosedural, dan kultural yang menciptakan jurang antara kebijakan dan praktik.

Temuan kunci pertama berpusat pada peran petugas P3K. Meskipun jumlah petugas P3K di perusahaan, yaitu 5 orang untuk 177 pekerja, telah memenuhi persyaratan kuantitatif yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, efektivitas operasional mereka terhambat oleh kegagalan sistemik.1 Penelitian ini secara kontradiktif menemukan adanya kurangnya pemantauan yang memadai dari penanggung jawab, tidak adanya tanda pengenal khusus bagi petugas di lapangan, dan ketiadaan buku laporan kegiatan P3K yang seharusnya menjadi alat dokumentasi esensial.1 Situasi ini mengindikasikan adanya "kesenjangan kepatuhan-implementasi" yang krusial. Perusahaan memenuhi persyaratan statis dengan merekrut jumlah petugas yang memadai, namun gagal dalam aspek kualitatif yang dinamis, seperti pengawasan, identifikasi, dan dokumentasi yang terus-menerus. Hal ini menunjukkan bahwa audit kepatuhan yang hanya berbasis daftar periksa (checklist) tidak cukup untuk memastikan keselamatan kerja yang berkelanjutan; diperlukan evaluasi yang lebih mendalam terhadap proses dan perilaku.

Aspek kedua yang menjadi sorotan adalah pelatihan dan sertifikasi petugas P3K. Penelitian ini mengungkapkan bahwa sebagian besar petugas (3 dari 5 orang) belum pernah mengikuti pelatihan khusus P3K, dan tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki lisensi atau sertifikat resmi.1 Temuan ini tidak hanya merupakan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku, tetapi juga menciptakan risiko langsung terhadap respons kecelakaan. Penanganan yang tidak didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan yang terstandardisasi berpotensi memperparah cedera, bukan menyembuhkannya.1 Penegasan akan urgensi pelatihan ini didukung oleh temuan dari penelitian lain yang dikutip dalam paper, di mana pelatihan P3K terbukti meningkatkan pengetahuan peserta secara signifikan, dari rata-rata 65,75% sebelum pelatihan menjadi 89,75% sesudahnya, dengan nilai p-value 0.000, yang menunjukkan perbedaan rerata yang sangat signifikan.1 Data kuantitatif dari studi eksternal ini secara kuat mendukung justifikasi ilmiah akan perlunya pendidikan dan sertifikasi P3K yang wajib dan berkelanjutan.

Selanjutnya, penelitian ini secara rinci menguraikan kekurangan pada sarana dan prasarana P3K yang disediakan perusahaan.1

  • Ruang P3K: Tidak ada ruang khusus P3K yang tersedia di lokasi produksi. Meskipun perusahaan memiliki poliklinik, jaraknya dari area produksi cukup jauh.1 Hal ini menciptakan dikotomi antara ketersediaan dan aksesibilitas. Keberadaan poliklinik menjadi tidak efektif untuk penanganan darurat yang membutuhkan respons segera di lokasi kejadian.
  • Kotak P3K: Berdasarkan observasi, kotak P3K yang ada terbuat dari bahan plastik, tidak portabel, dan isinya tidak sesuai dengan standar yang berlaku.1 Ditemukan adanya bungkus makanan di dalamnya, isi yang tidak merata di setiap bagian produksi, dan ketiadaan buku panduan atau buku catatan kegiatan.1 Kurangnya perawatan dan isi yang tidak standar ini bukan hanya masalah ketidakpatuhan, tetapi juga mencerminkan budaya organisasi yang tidak memprioritaskan pemeliharaan alat-alat keselamatan. Kehadiran "pembungkus makanan" di dalam kotak P3K secara metaforis menunjukkan minimnya pengawasan dan penghormatan terhadap perlengkapan keselamatan yang vital.
  • Alat Evakuasi dan Transportasi: Ketiadaan tandu sebagai alat evakuasi dan tidak adanya mobil ambulans untuk merujuk korban.1 Penelitian menemukan bahwa mobil transportasi yang disediakan sejak tahun 2015 kini tidak dapat beroperasi karena kurangnya perawatan.1 Kondisi ini menggarisbawahi kegagalan dalam siklus manajemen aset K3. Investasi awal dalam fasilitas tidak diikuti dengan perawatan berkelanjutan, yang menunjukkan bahwa komitmen terhadap keselamatan bersifat reaksioner dan tidak terintegrasi dalam operasional sehari-hari.

Secara keseluruhan, temuan ini secara jelas menunjukkan bahwa pemenuhan standar P3K tidak hanya sebatas menyediakan kuantitas personel yang sesuai, melainkan juga menuntut sistem manajemen yang terstruktur dan budaya organisasi yang mendukung keselamatan kerja secara holistik.

 

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meskipun penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang kondisi P3K di satu perusahaan, terdapat beberapa keterbatasan metodologis yang perlu diakui.1 Pertama, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, yang memungkinkan pemetaan rinci kondisi lapangan tetapi tidak dapat membangun hubungan kausalitas yang kuat. Artinya, kita tidak dapat secara definitif mengklaim bahwa kekurangan dalam P3K

menyebabkan peningkatan kecelakaan kerja, meskipun korelasi logisnya sangat kuat.

Kedua, lingkup penelitian yang terbatas pada satu perusahaan di Makassar membatasi generalisasi temuan. Meskipun kondisi yang ditemukan mungkin serupa dengan perusahaan lain di industri yang sama, validitasnya tidak dapat digeneralisasi tanpa penelitian dengan sampel yang lebih besar dan beragam.1 Selain itu, paper ini juga menyebutkan keterbatasan akses akibat pandemi COVID-19 yang membatasi kedalaman observasi lapangan, terutama pada bagian kotak P3K dan area kerja lainnya.1

Berdasarkan keterbatasan dan temuan yang ada, muncul beberapa pertanyaan terbuka yang krusial untuk riset di masa mendatang:

  1. Apa faktor-faktor manajerial dan budaya organisasi yang menyebabkan kurangnya pengawasan, meskipun jumlah petugas sudah memadai? Apakah ini terkait dengan beban kerja, struktur hierarki, atau kurangnya akuntabilitas?
  2. Apakah terdapat korelasi kuantitatif yang signifikan antara tingkat kepatuhan P3K (misalnya, frekuensi pengawasan, kepemilikan sertifikat, kelengkapan fasilitas) dengan penurunan tingkat keparahan kecelakaan dan waktu respons?
  3. Bagaimana persepsi dan pengetahuan pekerja tentang P3K memengaruhi perilaku mereka dalam mematuhi protokol keselamatan dan penggunaan alat pelindung diri (APD)?

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan

Kelima rekomendasi berikut disusun untuk menanggapi temuan dan keterbatasan yang teridentifikasi dalam penelitian ini, bertujuan untuk memajukan pemahaman dan praktik K3 di industri konstruksi kapal dan sektor lainnya.

  1. Studi Korelasional Kuantitatif tentang Keterkaitan P3K dan Indikator Kinerja K3
    • Justifikasi Ilmiah: Paper ini menyajikan tren peningkatan kecelakaan di PT. Industri Kapal Indonesia sebagai konteks, tetapi tidak menguji hubungan sebab-akibat. Penelitian kuantitatif diperlukan untuk mengukur secara statistik hubungan antara variabel implementasi P3K (misalnya, frekuensi pengawasan, kepemilikan sertifikat, kelengkapan fasilitas) dengan variabel hasil (misalnya, tingkat keparahan kecelakaan, jumlah hari kerja yang hilang).
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Menggunakan desain penelitian korelasional atau kuasi-eksperimental dengan sampel yang lebih besar, mencakup beberapa perusahaan konstruksi kapal di Indonesia. Variabel independen akan mencakup kualitas implementasi P3K, sementara variabel dependennya adalah metrik K3 yang terukur.
    • Tautan ke Penelitian Saat Ini: Penelitian ini akan mengambil temuan kualitatif paper yang ada (kekurangan dalam pengawasan, pelatihan, fasilitas) dan mengkuantifikasikannya untuk membuktikan dampak nyata dan meyakinkan pemangku kepentingan industri.
  2. Analisis Kualitatif Mendalam tentang Hambatan Perilaku dan Budaya dalam Penerapan P3K
    • Justifikasi Ilmiah: Paper ini menyentuh aspek kurangnya kesadaran dan kedisiplinan, namun tidak menggali lebih dalam.1 Diperlukan pemahaman yang lebih kaya mengenai alasan di balik perilaku ini. Hambatan nyata seringkali bukan hanya kurangnya sumber daya, tetapi juga norma sosial, persepsi risiko yang menyimpang, dan beban kerja yang tinggi yang mengesampingkan prioritas keselamatan.
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Menggunakan pendekatan etnografi atau fenomenologi untuk melakukan observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan pekerja, petugas K3, dan manajemen. Fokusnya adalah pada variabel-variabel budaya dan perilaku, seperti motivasi, persepsi risiko, kepercayaan terhadap sistem P3K, dan interaksi sosial di tempat kerja.
    • Tautan ke Penelitian Saat Ini: Rekomendasi ini akan melengkapi temuan paper ini mengenai "kesenjangan kepatuhan-implementasi" dengan menjelaskan mengapa kesenjangan itu terjadi dari sudut pandang manusia dan budaya.
  3. Pengembangan dan Uji Coba Model Intervensi Pelatihan P3K Berbasis Digital
    • Justifikasi Ilmiah: Temuan paper menunjukkan bahwa kurangnya sertifikasi dan waktu yang terbatas untuk pelatihan adalah hambatan utama bagi petugas P3K.1 Mengingat hasil uji test dari penelitian Nilamsari (2018) yang dikutip dalam paper ini, di mana pengetahuan P3K meningkat dari 65,75% menjadi 89,75% (p = 0.000) setelah pelatihan, validasi model pelatihan yang lebih efisien dan dapat diakses (misalnya, modul daring) sangat diperlukan.1
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Desain riset intervensi kuasi-eksperimental dengan pre-test dan post-test untuk membandingkan efektivitas modul pelatihan P3K konvensional vs. modul berbasis digital (misalnya, simulasi interaktif atau video). Variabel utama adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diukur melalui tes dan penilaian praktis.
    • Tautan ke Penelitian Saat Ini: Rekomendasi ini secara langsung menawarkan solusi praktis untuk masalah yang diidentifikasi dalam paper, yaitu ketiadaan waktu dan akses terhadap pelatihan P3K bersertifikasi.
  4. Studi Komparatif untuk Mengidentifikasi Praktik Terbaik P3K di Sektor Maritim Global
    • Justifikasi Ilmiah: Karena penelitian ini berfokus pada satu perusahaan di Makassar, generalisasi dan identifikasi "praktik terbaik" yang dapat diadaptasi menjadi terbatas. Dengan melakukan studi komparatif dengan perusahaan di negara lain yang memiliki standar K3 yang lebih maju, kita dapat mengidentifikasi model, kebijakan, dan inovasi yang berhasil diterapkan.
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Analisis komparatif kasus (case study) dengan menggunakan kerangka regulasi dan data implementasi dari beberapa negara atau perusahaan terkemuka di sektor konstruksi kapal. Variabel pembanding akan mencakup struktur organisasi K3, sistem pelatihan, teknologi yang digunakan, dan metrik kinerja keselamatan.
    • Tautan ke Penelitian Saat Ini: Penelitian ini akan memperluas wawasan yang diperoleh dari paper ini dengan menyajikan "cetak biru" yang teruji secara global, menjembatani celah antara apa yang ada di Indonesia dan apa yang mungkin terjadi.
  5. Analisis Dampak Ekonomi dari Penerapan P3K yang Komprehensif
    • Justifikasi Ilmiah: Paper ini berfokus pada kepatuhan dan fasilitas, namun implikasi finansialnya belum dieksplorasi.1 Justifikasi ilmiah dan praktis untuk peningkatan P3K akan jauh lebih kuat jika didukung oleh data
      Return on Investment (ROI) dari investasi K3. Investasi awal dalam fasilitas dan pelatihan P3K seringkali dianggap sebagai biaya, bukan investasi.
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Riset kuantitatif dengan pendekatan analisis biaya-manfaat. Metrik biaya akan mencakup biaya investasi P3K (pelatihan, peralatan, personel), sedangkan metrik manfaat akan mencakup penghematan yang diperoleh dari penurunan angka kecelakaan kerja (misalnya, klaim asuransi yang lebih rendah, biaya pengobatan yang berkurang, hilangnya waktu produksi yang minimal).
    • Tautan ke Penelitian Saat Ini: Rekomendasi ini akan memberikan argumen yang kuat dan berbasis data bagi manajemen perusahaan dan badan pemberi hibah untuk menginvestasikan lebih banyak pada sistem K3, dengan menunjukkan bahwa keselamatan yang lebih baik juga merupakan keputusan bisnis yang cerdas.

 

Kesimpulan dan Ajakan Kolaboratif

Penelitian ini memberikan gambaran yang jelas mengenai tantangan dalam penerapan P3K di industri konstruksi kapal Makassar. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kepatuhan formal ada dalam beberapa aspek, implementasi praktisnya masih jauh dari standar yang ditetapkan, terutama dalam hal pengawasan, pelatihan petugas, dan ketersediaan serta kualitas fasilitas P3K. Kesenjangan antara kebijakan dan praktik ini berpotensi meningkatkan risiko dan tingkat keparahan kecelakaan di lingkungan kerja.

Berdasarkan temuan ini, penelitian lebih lanjut sangat krusial untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih terbuka dan untuk mengembangkan intervensi yang efektif. Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi Universitas Muslim Indonesia (sebagai asal penelitian ini) untuk melanjutkan inisiatif akademik ini, Kementerian Ketenagakerjaan untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan implementasi di lapangan, dan PT. Industri Kapal Indonesia serta asosiasi industri terkait untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil, serta memfasilitasi adopsi temuan riset menjadi praktik industri yang lebih baik.

Baca Selengkapnya disini: https://pasca-umi.ac.id/index.php/jmch/article/view/247/259

Selengkapnya
Mengapa Implementasi P3K di Industri Kapal Indonesia Jauh dari Ideal?

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Mengapa UU Keselamatan Kerja 1970 Tak Lagi Relevan? Analisis Kritis dan Jalan ke Depan untuk Regulasi K3 di Era Industri 4.0

Dipublikasikan oleh Raihan pada 19 September 2025


Ringkasan Analitis: Narasi Logis Perjalanan Temuan

Riset ini memulai perjalanan evaluasinya dengan menempatkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 (UU No. 1/1970) sebagai landasan hukum utama bagi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia. Meskipun undang-undang ini telah berfungsi sebagai fondasi selama lebih dari lima dekade, penelitian ini berargumen bahwa kerangka hukum yang dirancang untuk konteks industri tahun 1960-an dan 1970-an kini dianggap tidak memadai untuk mengatasi risiko yang muncul di era modern, terutama dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan otomatisasi dan tren kerja virtual. Permasalahan ini diperkuat oleh laporan BPJS Ketenagakerjaan tahun 2020 yang mencatat lebih dari 200.000 kecelakaan kerja di seluruh Indonesia, khususnya di sektor konstruksi dan manufaktur, yang secara deskriptif menunjukkan adanya kegagalan sistematis dalam implementasi undang-undang yang ada.

Untuk mendiagnosis kesenjangan antara ketentuan hukum dan realitas di lapangan, penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dan analisis kebijakan. Melalui studi dokumen, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus (FGDs) dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pengusaha, pekerja, dan inspektur K3, para peneliti berhasil mengidentifikasi alur logis dari permasalahan utama.

Pertama, analisis normatif terhadap substansi hukum menunjukkan adanya celah regulasi yang signifikan. UU No. 1/1970 tidak memiliki ketentuan spesifik untuk melindungi pekerja jarak jauh atau pekerja di lingkungan virtual, yang kian lazim di era digital.1 Lebih lanjut, riset ini menyoroti tumpang tindih regulasi yang membingungkan antara Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5/2018 dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 48/2016. Ketidakselarasan ini menciptakan kebingungan di lapangan, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kerap kekurangan kapasitas untuk menavigasi kerangka hukum yang rumit.

Kedua, temuan empiris menegaskan bahwa implementasi undang-undang ini jauh dari optimal. Sistem pengawasan di lapangan terbukti sangat lemah karena keterbatasan jumlah dan kualitas inspektur K3. Isu ini diperparah oleh desentralisasi inspeksi ke tingkat provinsi yang seringkali kekurangan sumber daya manusia, anggaran, dan fasilitas yang memadai. Akibatnya, banyak perusahaan—terutama di sektor berisiko tinggi seperti pertambangan dan konstruksi—beroperasi dengan pengawasan yang minimal.

Ketiga, penelitian ini secara eksplisit mengidentifikasi ketidakmampuan sanksi untuk memberikan efek jera. Data kuantitatif menyoroti bahwa denda maksimum yang tercantum dalam Pasal 15 UU No. 1/1970 hanya sebesar IDR 100.000, sebuah angka yang dianggap tidak relevan dan ketinggalan zaman di tengah konteks ekonomi saat ini.1 Dengan denda yang begitu sepele, perusahaan tidak memiliki disinsentif yang kuat untuk mematuhi standar keselamatan, dan banyak di antaranya memilih untuk menyelesaikan kecelakaan kerja secara internal tanpa pelaporan resmi. Kondisi ini mencerminkan sebuah rantai kausal: substansi hukum yang usang menjadi tidak efektif di lapangan karena dua "mata rantai lemah" utama, yaitu sanksi yang tidak kredibel dan sistem pengawasan yang gagal untuk menegakkan ketentuan hukum secara konsisten.

Hal ini memunculkan sebuah paradoks kepatuhan. Penelitian menemukan bahwa perusahaan besar yang terikat oleh standar internasional, seperti ISO 45001, cenderung memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi. Kepatuhan ini tidak didorong oleh ketentuan UU No. 1/1970 semata, melainkan oleh ancaman sanksi administratif yang lebih berat terkait dengan sertifikasi global, seperti risiko kehilangan reputasi atau penarikan sertifikasi. Hal ini menyiratkan bahwa masalah utama bukanlah desain regulasi itu sendiri, melainkan kegagalan sistem penegakannya untuk menciptakan insentif yang cukup kuat untuk mendorong kepatuhan sukarela dari sektor swasta.

Kontribusi Utama terhadap Bidang

Riset ini memberikan beberapa kontribusi penting yang melampaui evaluasi kebijakan konvensional dan menjadi landasan kokoh bagi studi K3 di masa depan.

Pertama, penelitian ini secara eksplisit mengkaji dan memetakan tantangan K3 yang muncul dari era digital dan Industri 4.0, termasuk kerja virtual dan otomatisasi, yang sering terabaikan dalam literatur hukum ketenagakerjaan tradisional di Indonesia. Dengan mengidentifikasi celah regulasi yang tidak mencakup risiko-risiko baru ini, riset ini mengisi kekosongan penting dan menunjukkan bahwa kerangka hukum harus diperbarui untuk mengakomodasi dinamika ketenagakerjaan yang terus berubah.

Kedua, paper ini menawarkan analisis holistik tentang kegagalan sistemik dalam ekosistem penegakan hukum K3 di Indonesia. Alih-alih hanya mengkritik substansi undang-undang, penelitian ini memberikan diagnosis komprehensif yang menghubungkan berbagai aspek yang saling tumpang tindih: mulai dari regulasi yang tidak selaras antara Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Kesehatan, kelemahan sistem inspeksi yang terdesentralisasi, hingga sanksi yang tidak proporsional. Pendekatan ini menunjukkan bahwa reformasi kebijakan harus bersifat menyeluruh, tidak hanya terfokus pada revisi teks undang-undang.

Ketiga, temuan-temuan penelitian ini, didukung oleh perbandingan dengan praktik internasional (misalnya di Jerman dan Jepang), berfungsi sebagai cetak biru yang solid untuk reformasi kebijakan. Laporan ini tidak hanya mendeskripsikan masalah, tetapi juga menyediakan peta jalan yang jelas untuk perbaikan di masa depan, yang menjadikannya referensi yang berharga bagi pembuat kebijakan dan komunitas akademis yang berupaya merancang intervensi yang lebih efektif.

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meskipun riset ini menawarkan wawasan yang komprehensif, terdapat beberapa keterbatasan yang membuka jalan bagi penelitian lanjutan yang lebih mendalam.

Pertama, penelitian ini didominasi oleh pendekatan kualitatif dan analisis normatif. Meskipun berhasil mengidentifikasi kesenjangan dan tantangan secara deskriptif, paper ini tidak mengukur dampak ekonomi riil dari kecelakaan kerja yang tidak dilaporkan atau memodelkan hubungan kuantitatif antara tingkat sanksi dan tingkat kepatuhan. Hal ini menyisakan pertanyaan terbuka mengenai skala dan biaya ekonomi yang sesungguhnya dari kecelakaan kerja yang tidak tercatat, baik bagi perusahaan maupun perekonomian secara keseluruhan.

Kedua, meskipun data BPJS Ketenagakerjaan yang menunjukkan "lebih dari 200.000 kecelakaan" di tahun 2020 disorot , paper ini tidak menyediakan analisis statistik yang lebih dalam mengenai pola-pola kecelakaan tersebut. Tidak ada rincian mengenai faktor kausal, distribusi sektoral yang lebih spesifik, atau demografi pekerja yang paling rentan. Keterbatasan ini menghambat pemahaman yang lebih nuansial tentang siapa yang paling terdampak dan mengapa.

Terakhir, penelitian ini mengidentifikasi UMKM sebagai kelompok dengan tingkat kepatuhan terendah akibat "kendala biaya" dan "kurangnya kesadaran". Namun, penjelasan ini cenderung umum dan tidak menganalisis secara mendalam hambatan-hambatan non-finansial. Hal ini menyisakan pertanyaan tentang apakah ada faktor lain yang lebih dalam, seperti budaya kerja yang mengabaikan risiko, rendahnya literasi pendidikan, atau hambatan birokrasi yang dihadapi UMKM dalam mengimplementasikan K3. Pertanyaan ini krusial untuk merancang intervensi kebijakan yang lebih terfokus di masa depan.

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan (dengan Justifikasi Ilmiah)

Berdasarkan temuan paper dan analisis keterbatasan yang ada, berikut adalah lima rekomendasi penelitian lanjutan yang dapat menjadi fokus bagi komunitas akademis, peneliti, dan penerima hibah riset.

  1. Analisis Model Ekonomi untuk Mengukur Dampak Sanksi K3 yang Proporsional.
    • Justifikasi Ilmiah: Paper ini secara deskriptif menyoroti inefektivitas denda maksimal IDR 100.000 yang tidak relevan. Perbandingan dengan perusahaan yang terikat standar ISO 45001 menunjukkan bahwa ancaman sanksi administratif yang lebih berat—seperti denda yang proporsional dengan pendapatan perusahaan—secara kuat memotivasi kepatuhan.1 Oleh karena itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk merancang sistem sanksi yang memiliki efek jera yang nyata.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Penelitian lanjutan harus menggunakan metode analisis regresi atau pemodelan ekonomi untuk memprediksi hubungan antara tingkat sanksi finansial (variabel independen) dan tingkat kepatuhan perusahaan (variabel dependen). Studi kasus komparatif dapat dilakukan antara perusahaan yang terikat ISO 45001 dan yang tidak, untuk memvalidasi model yang diusulkan dan mengidentifikasi ambang batas sanksi yang paling efektif dalam konteks Indonesia.
  2. Riset Aksi tentang Efektivitas Implementasi Teknologi Pengawasan K3 Berbasis Sensor.
    • Justifikasi Ilmiah: Paper ini merekomendasikan adopsi teknologi sensor untuk pengawasan waktu nyata, mengutip keberhasilan Jepang. Namun, belum ada studi empiris di Indonesia yang secara spesifik menguji efektivitas dan kelayakan implementasi teknologi ini. Pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara efektif dan efisien dalam konteks industri padat karya di Indonesia, di mana biaya dan literasi teknis bisa menjadi hambatan utama.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Penelitian ini harus berupa riset aksi (action research) di mana sistem pengawasan berbasis sensor diimplementasikan di lokasi kerja berisiko tinggi. Variabel yang akan diukur mencakup frekuensi insiden K3 (variabel dependen) sebelum dan sesudah implementasi, serta variabel independen seperti biaya implementasi, tingkat pelatihan pekerja, dan resistensi organisasi.
  3. Evaluasi Komparatif Dampak Desentralisasi terhadap Kapasitas Pengawasan Ketenagakerjaan.
    • Justifikasi Ilmiah: Temuan paper ini menunjukkan bahwa desentralisasi inspeksi ke tingkat provinsi telah melemahkan sistem pengawasan akibat keterbatasan sumber daya manusia dan logistik. Namun, paper ini tidak memberikan perbandingan rinci antar-provinsi. Diperlukan pemahaman yang lebih dalam tentang variasi dalam implementasi kebijakan di tingkat daerah.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Diperlukan studi kasus komparatif antar-provinsi yang berbeda, misalnya membandingkan provinsi dengan sumber daya yang kuat (seperti DKI Jakarta) dengan provinsi yang terbatas (seperti di Indonesia Timur). Variabel yang akan dieksplorasi mencakup rasio inspektur per perusahaan, anggaran K3 provinsi, dan korelasi dengan tren angka kecelakaan yang dilaporkan.
  4. Integrasi Data dan Analisis Prediktif Kecelakaan Kerja Berdasarkan Data BPJS Ketenagakerjaan.
    • Justifikasi Ilmiah: Penelitian ini menyarankan integrasi data BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi K3.1 Paper ini juga menyoroti fakta bahwa banyak kecelakaan tidak dilaporkan secara resmi. Data klaim kecelakaan BPJS dapat menjadi sumber data yang lebih akurat dan objektif daripada laporan perusahaan.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Penelitian lanjutan harus berfokus pada pemodelan data dan analisis prediktif. Dengan mengintegrasikan data klaim kecelakaan BPJS dengan data demografi perusahaan dan data inspeksi (jika tersedia), dapat dibuat model algoritma untuk mengidentifikasi perusahaan atau sektor yang memiliki probabilitas tinggi untuk mengalami kecelakaan. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk beralih dari pengawasan reaktif menjadi pengawasan proaktif dan berbasis risiko.
  5. Kajian Kualitatif Mendalam tentang Hambatan Kultural dan Perilaku di Kalangan UMKM.
    • Justifikasi Ilmiah: Paper ini mengidentifikasi "kendala biaya" dan "kurangnya kesadaran" sebagai hambatan utama kepatuhan K3 di UMKM.1 Namun, penjelasan ini cenderung umum. Terdapat asumsi bahwa masalahnya hanya finansial, padahal mungkin ada faktor lain yang lebih dalam, seperti budaya kerja yang mengabaikan risiko, literasi pendidikan yang rendah, atau persepsi bahwa K3 adalah beban birokrasi semata.
    • Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Penelitian ini harus menggunakan metodologi kualitatif murni (wawancara mendalam dan etnografi) untuk benar-benar memahami perspektif pekerja dan pemilik UMKM. Variabel yang akan dieksplorasi adalah faktor non-finansial seperti motivasi internal, persepsi risiko, peran pemimpin dalam budaya K3, dan efektivitas komunikasi program pemerintah.

Kesimpulan dan Ajakan Kolaboratif

Secara keseluruhan, penelitian ini telah berhasil mendiagnosis kesenjangan sistemik dalam implementasi Undang-Undang No. 1 Tahun 1970. Temuannya menunjukkan bahwa masalah bukan hanya pada regulasi yang usang, tetapi juga pada ekosistem penegakan hukum yang gagal memberikan efek jera, didukung oleh pengawasan yang lemah dan sanksi yang tidak efektif. Untuk mengatasi tantangan ini secara komprehensif, diperlukan penelitian lanjutan yang holistik, multidisiplin, dan kolaboratif.

Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi utama yang berperan dalam ekosistem K3 Indonesia, termasuk Center for Policy Development, Ministry of Manpower sebagai perumus kebijakan; Sarbumusi Confederation sebagai perwakilan pekerja; dan lembaga pendidikan seperti University of Brawijaya dan universitas-universitas lain yang disebutkan dalam referensi sebagai mitra akademis. Kolaborasi ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil, serta untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

Baca Selengkapnya disini https://doi.org/10.47198/jnaker.v19i3.417

Selengkapnya
Mengapa UU Keselamatan Kerja 1970 Tak Lagi Relevan? Analisis Kritis dan Jalan ke Depan untuk Regulasi K3 di Era Industri 4.0
« First Previous page 2 of 8 Next Last »