Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Mengapa Kecelakaan Konstruksi Meningkat? Peran mengejutkan Pendanaan.

Dipublikasikan oleh Raihan pada 16 September 2025


Penelitian ini, berjudul "A roadmap to improve usage items to enhance the operational effectiveness of occupational safety and health management expense in Korean construction," menawarkan analisis yang mendalam dan berharga mengenai masalah kritis dalam industri konstruksi Korea Selatan: tingginya tingkat kecelakaan kerja meskipun ada regulasi biaya keselamatan dan kesehatan kerja (OSHE) yang ketat. Melalui metodologi yang cermat, para peneliti tidak hanya mengidentifikasi kelemahan dalam sistem saat ini, tetapi juga menyusun sebuah peta jalan praktis yang berpotensi merevolusi cara biaya OSHE dialokasikan dan dimanfaatkan.

Paper ini secara eksplisit berargumen bahwa meskipun Korea telah menetapkan OSHE sebagai biaya hukum independen yang diatur oleh Kementerian Ketenagakerjaan (MOEL), tingkat kecelakaan kerja dan fatalitas di sektor konstruksi tetap tinggi dan bahkan menunjukkan tren meningkat. Sebagai contoh, tingkat fatalitas per 10.000 orang meningkat dari 1,30 pada tahun 2015 menjadi 2,00 pada tahun 2020. Perbedaan yang signifikan ini (sekitar dua kali lipat dari rata-rata semua industri, yang pada tahun 2020 adalah 0,49 untuk tingkat kecelakaan kerja dan 0,50 untuk tingkat fatalitas) menunjukkan adanya disonansi antara regulasi dan efektivitas aktualnya.

Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini berfokus pada perbaikan item penggunaan OSHE, yang secara unik diatur dalam hukum Korea. Paper ini menyoroti bahwa studi-studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada perbaikan tarif akuntansi dan transparansi penggunaan, namun kurang memperhatikan item-item itu sendiri. Padahal, industri kini menuntut perbaikan regulasi untuk mencakup item-item yang "tidak dapat digunakan" tetapi sangat efektif dalam pencegahan kecelakaan, serta integrasi produk keselamatan cerdas yang memanfaatkan teknologi Revolusi Industri Keempat.

Metodologi penelitian ini sangat sistematis. Pertama, peneliti mengumpulkan 57 item potensial yang membutuhkan perbaikan melalui tinjauan buku kuesioner MOEL dan wawancara pemangku kepentingan, dengan 79% item terkait fasilitas keselamatan dan alat pelindung diri. Kemudian, melalui konsultasi dengan delapan pakar industri yang memiliki rata-rata pengalaman 14 tahun, daftar ini disaring menjadi 34 item final. Data dikumpulkan melalui survei dari 536 pemangku kepentingan (84,89% adalah manajer keselamatan dari perusahaan konstruksi) menggunakan skala Likert 4 poin untuk mengevaluasi tingkat kepentingan (urgensi pengakuan) dan kinerja (efektivitas pencegahan kecelakaan) dari setiap item.

Temuan utama didasarkan pada Analisis Kepentingan-Kinerja (IPA), sebuah metodologi yang memetakan item-item ke dalam empat kuadran berdasarkan skor rata-rata kepentingan dan kinerja. Rata-rata kepentingan untuk item konvensional adalah 3,15 dan kinerja 3,31, sementara untuk produk keselamatan cerdas, kepentingannya 2,97 dan kinerjanya 3,12. Item yang jatuh di kuadran pertama (penting dan efektif) menjadi fokus utama. Secara keseluruhan, 16 item (7 konvensional, 9 produk cerdas) diidentifikasi sebagai prioritas utama untuk segera diperkenalkan. Temuan ini secara kuat menunjukkan adanya konsensus di antara para pemangku kepentingan bahwa jenis investasi ini sangat dibutuhkan dan berpotensi besar dalam mencegah kecelakaan.

Kontribusi Utama terhadap Bidang

Penelitian ini memberikan beberapa kontribusi signifikan. Pertama, ini adalah salah satu studi pertama yang secara komprehensif berfokus pada peningkatan item penggunaan OSHE, bukan hanya pada tarif atau transparansi akuntansi, mengisi kekosongan yang diidentifikasi dari studi-studi sebelumnya. Kedua, dengan menggunakan metodologi IPA, penelitian ini memberikan kerangka kerja yang solid dan berbasis data untuk pengambilan keputusan kebijakan. Pendekatan ini memungkinkan pemangku kepentingan untuk secara visual mengidentifikasi prioritas investasi dalam sumber daya yang terbatas, membedakan antara item yang perlu segera diimplementasikan dengan item yang memerlukan tinjauan jangka panjang.

Ketiga, studi ini secara eksplisit mengintegrasikan perspektif teknologi Revolusi Industri Keempat ke dalam manajemen keselamatan kerja, sebuah tren yang semakin relevan di seluruh dunia. Dengan memasukkan produk keselamatan cerdas seperti sistem deteksi area berbahaya dan rompi keselamatan dengan kantung udara ke dalam analisis, penelitian ini memvalidasi permintaan industri untuk mengadopsi inovasi. Terakhir, dengan menyajikan sebuah peta jalan yang terstruktur (jangka pendek, menengah, dan panjang), penelitian ini tidak hanya menyajikan temuan akademis tetapi juga instrumen kebijakan yang siap digunakan oleh pembuat kebijakan di Korea dan negara-negara lain dengan sistem manajemen keselamatan serupa. Peta jalan ini berfungsi sebagai model yang dapat direplikasi untuk memastikan alokasi dana yang efektif dan efisien untuk keselamatan pekerja.

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meskipun kontribusinya berharga, penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan dan meninggalkan pertanyaan terbuka untuk penelitian lanjutan. Salah satu keterbatasan yang diakui oleh penulis adalah sifat subjektif dari data yang dikumpulkan melalui IPA. Meskipun upaya telah dilakukan untuk mengumpulkan data dari sampel besar dari berbagai pemangku kepentingan, persepsi terhadap "kepentingan" dan "kinerja" bisa bervariasi dan tidak selalu mencerminkan efektivitas nyata di lapangan.

Ini mengarah pada pertanyaan terbuka yang krusial bagaimana efektivitas item-item yang direkomendasikan ini dapat diverifikasi secara empiris di lingkungan nyata? Paper ini menyarankan perlunya pemantauan berkelanjutan setelah implementasi untuk memverifikasi tingkat kontribusi item-item tersebut dalam mencegah kecelakaan. Selain itu, pertanyaan mengenai dampak finansial masih menggantung. Penelitian ini mengakui bahwa memperluas item penggunaan tanpa meninjau ulang tarif akuntansi OSHE dapat menyebabkan kekurangan dana untuk fasilitas keselamatan esensial. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana model biaya yang diusulkan oleh studi ini dapat diterapkan dalam skala besar tanpa mengorbankan aspek keselamatan dasar.

Keterbatasan lainnya adalah fokus pada konteks Korea Selatan yang unik, di mana OSHE merupakan biaya hukum independen. Meskipun metodologi IPA dapat direplikasi, item-item spesifik dan regulasi yang melingkupinya mungkin tidak secara langsung berlaku di negara lain. Pertanyaannya adalah, bagaimana model ini dapat diadaptasi untuk pasar atau negara dengan sistem manajemen keselamatan yang berbeda, seperti yang mengintegrasikan OSHE ke dalam biaya proyek secara umum (seperti di AS atau Jepang)?

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan

Berdasarkan temuan dan keterbatasan yang teridentifikasi, berikut adalah lima rekomendasi riset berkelanjutan yang dapat memajukan bidang ini:

  1. Studi Empiris Longitudinal tentang Efektivitas Item OSHE yang Baru Diadopsi.
    • Justifikasi Ilmiah: Penelitian ini secara eksplisit mengusulkan pemantauan berkelanjutan. Meskipun analisis IPA memberikan estimasi kinerja, efektivitas nyata dalam pencegahan kecelakaan harus diverifikasi melalui data empiris jangka panjang setelah item-item dari kuadran pertama diimplementasikan.
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Penelitian lanjutan harus dirancang sebagai studi kasus komparatif di berbagai lokasi proyek konstruksi. Variabel independennya adalah keberadaan atau tingkat penggunaan item OSHE yang direkomendasikan (misalnya, sistem deteksi area berbahaya), sementara variabel dependennya adalah tingkat kecelakaan kerja, jumlah hari kerja yang hilang akibat cedera, atau fatalitas di lokasi tersebut. Konteksnya harus bervariasi, mencakup proyek skala kecil dan besar, untuk menguji skalabilitas dan efektivitas implementasi.
  2. Model Biaya-Manfaat untuk Peningkatan Tarif Akuntansi OSHE.
    • Justifikasi Ilmiah: Penelitian ini menekankan bahwa perluasan item penggunaan tanpa peningkatan tarif akuntansi dapat menyebabkan kekurangan dana. Oleh karena itu, diperlukan model ekonomi yang mengukur manfaat finansial (misalnya, pengurangan biaya kompensasi kecelakaan, denda, dan penundaan proyek) versus biaya peningkatan tarif OSHE.
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Studi ini dapat menggunakan analisis regresi untuk memodelkan hubungan antara tarif akuntansi OSHE dan output keselamatan, serta analisis biaya-manfaat untuk memproyeksikan penghematan. Variabelnya harus mencakup total biaya proyek, tarif OSHE yang bervariasi, jumlah kecelakaan yang dihindari, dan biaya terkait kecelakaan. Analisis ini harus dilakukan di berbagai jenis proyek (misalnya, konstruksi umum vs. konstruksi berat) untuk menghasilkan model yang dapat disesuaikan.
  3. Analisis Perbandingan Sistem OSHE Global.
    • Justifikasi Ilmiah: Paper ini secara singkat membandingkan sistem OSHE Korea dengan sistem di AS, Jepang, dan beberapa negara Uni Eropa. Namun, perbandingan yang lebih mendalam diperlukan untuk memahami bagaimana model alokasi dana yang berbeda (misalnya, melalui asuransi kecelakaan seperti di Jerman) memengaruhi tingkat kecelakaan dan inovasi keselamatan.
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Penelitian komparatif harus mengumpulkan data dari beberapa negara dengan sistem OSHE yang berbeda. Variabel yang akan dianalisis meliputi struktur pendanaan keselamatan, item yang diizinkan, tingkat kecelakaan kerja, dan tingkat adopsi teknologi keselamatan canggih. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi praktik terbaik dan mengisolasi faktor-faktor yang memungkinkan adopsi teknologi yang efektif, yang dapat diadaptasi oleh negara lain.
  4. Desain Sistem Sertifikasi Teknologi Keselamatan Cerdas.
    • Justifikasi Ilmiah: Paper ini mengusulkan agar pemerintah Korea dapat membuat sistem sertifikasi untuk produk keselamatan cerdas guna memastikan transparansi penggunaan dan efektivitas. Namun, detail dari sistem semacam itu belum dieksplorasi.
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Penelitian lanjutan harus berfokus pada perancangan sistem sertifikasi ini. Metodenya dapat melibatkan kelompok fokus dengan pakar industri, teknolog, dan regulator untuk menentukan kriteria sertifikasi (misalnya, tingkat akurasi sensor, interoperabilitas, daya tahan), proses evaluasi, dan kerangka hukum yang diperlukan. Studi ini juga harus mempertimbangkan insentif bagi perusahaan untuk mengadopsi produk yang disertifikasi, seperti insentif pajak atau bonus OSHE.
  5. Peran Faktor Manusia dan Perilaku dalam Adopsi Item OSHE yang Baru.
    • Justifikasi Ilmiah: Sementara penelitian ini berfokus pada item-item fisik (fasilitas dan peralatan), keberhasilan mereka sangat bergantung pada kesadaran dan perilaku pekerja. Masalah "kurangnya biaya untuk instalasi fasilitas esensial" yang diungkapkan oleh responden negatif menunjukkan resistensi terhadap item baru yang dianggap kurang esensial.
    • Metode, Variabel, dan Konteks Baru: Riset kualitatif (wawancara mendalam, observasi) dan kuantitatif (survei persepsi) dapat digunakan untuk memahami hambatan perilaku terhadap adopsi item baru. Variabelnya meliputi persepsi pekerja terhadap item baru (kenyamanan, kemudahan penggunaan, efektivitas), sikap manajer terhadap investasi, dan budaya keselamatan perusahaan. Studi ini harus berfokus pada bagaimana program pelatihan dan komunikasi dapat meningkatkan adopsi, menghubungkan kembali investasi OSHE dengan perilaku keselamatan sehari-hari di lapangan.

Secara keseluruhan, penelitian ini tidak hanya berfungsi sebagai analisis kritis terhadap sistem manajemen keselamatan di industri konstruksi Korea, tetapi juga sebagai peta jalan yang berani dan visioner untuk masa depan. Dengan mengidentifikasi item-item penggunaan OSHE yang perlu segera ditingkatkan dan mengintegrasikan teknologi modern ke dalam kerangka regulasi, paper ini telah meletakkan fondasi yang kuat untuk kebijakan yang lebih efektif.

Penelitian lebih lanjut harus melibatkan kolaborasi erat antara institusi penelitian, kementerian pemerintah (seperti MOEL), perusahaan konstruksi, dan asosiasi industri. Kerja sama ini akan memastikan bahwa rekomendasi yang ada tidak hanya valid secara akademis, tetapi juga praktis dan berkelanjutan di lapangan.  Keterhubungan antara temuan saat ini dan potensi jangka panjang tidak bisa dilebih-lebihkan; setiap langkah kecil dalam meningkatkan item OSHE dapat berkontribusi besar pada penurunan tingkat kecelakaan dan menyelamatkan nyawa pekerja.

Baca paper aslinya di sini https://doi.org/10.2486/indhealth.2022-0008

Selengkapnya
Mengapa Kecelakaan Konstruksi Meningkat? Peran mengejutkan Pendanaan.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Mengukur Mutu Pendidikan Keselamatan: Dari Evaluasi Internal Menuju Dampak di Lapangan

Dipublikasikan oleh Raihan pada 16 September 2025


Artikel ini mengulas penelitian tentang penilaian kualitas program pendidikan keselamatan pascasarjana di Eropa. Penelitian tersebut menggambarkan perjalanan historis pendidikan keselamatan sejak Heinrich (1950-an) hingga perkembangan terbaru, serta menyajikan contoh sepuluh program (post)graduate safety di berbagai institusi Eropa. Temuan utama dari makalah ini meliputi cara penilaian kualitas yang saat ini diterapkan (sebagian besar menggunakan evaluasi internal seperti umpan balik mahasiswa dan ujian), serta urgensi mengukur transfer pengetahuan keselamatan ke dunia industri yang nyata. Penelitian ini menjadi inisiasi penting dalam mengisi kekosongan literatur akademik terkait kualitas pendidikan keselamatan, dengan menggabungkan model penilaian Kirkpatrick dan Donabedian untuk memetakan aspek internal (program, mahasiswa) dan eksternal (perusahaan) dalam penilaian mutu.

Kontribusi Utama terhadap Bidang

Makalah ini memberikan kontribusi substansial dengan merangkum perkembangan pendidikan keselamatan dan praktik penilaian kualitas program secara komprehensif. Secara historis, artikel menyoroti bahwa sejak Robens (1972) hingga konferensi internasional tahun 1994, kesadaran tentang kebutuhan kurikulum keselamatan terus meningkat. Penerapan kurikulum (post)graduate safety yang menitikberatkan “learning by doing” dan studi kasus nyata juga ditekankan sebagai praktik efektif dalam pembelajaran keselamatan. Studi lapangan melengkapi kontribusi teoritik, yaitu survei terhadap sepuluh program pascasarjana keselamatan di beberapa universitas Eropa. Misalnya, penelitian ini mencatat bahwa sebagian besar program membatasi jumlah mahasiswa antara 20–24 orang untuk memastikan diskusi yang intensif. Hal ini menunjukkan perhatian serius terhadap lingkungan belajar kolaboratif yang mendukung pemahaman mendalam.

Kontribusi lainnya adalah pengungkapan bahwa evaluasi kualitas program saat ini didominasi oleh alat internal. Data survei terhadap 90 program keselamatan Eropa menunjukkan 66% program mengadopsi evaluasi internal (evaluasi trainee dan audit internal) dan hanya 13% menggunakan audit eksternal sebagai indikator mutu. Capaian ini memberi gambaran kuantitatif bahwa kebanyakan penyelenggara program masih bergantung pada penilaian internal. Selain itu, keterlibatan praktisi industri dalam pengajaran juga disoroti: sebagian program melibatkan aktif para spesialis keselamatan industri dalam 50% dari total kuliah. Temuan ini menggarisbawahi jalinan erat antara akademisi dan dunia kerja dalam penyelenggaraan program, yang potensial meningkatkan relevansi materi bagi industri.

Makalah ini juga memperkenalkan kerangka konseptual baru dengan menggabungkan model Kirkpatrick (empat tingkat: reaksi, pembelajaran, perilaku, hasil) dan model Donabedian (input, proses, output) untuk mengevaluasi pendidikan keselamatan. Penggabungan model tersebut menekankan pentingnya aspek eksternal (output/hasil) – yaitu pengaruh lulusan terhadap peningkatan keselamatan di perusahaan – sebagai indikator kualitas utama. Sebagai rekomendasi awal, penulis menyarankan penilaian mutu yang tidak hanya mengukur kepuasan dan pembelajaran (level 1-2), tetapi juga transfer ke pekerjaan (level 3) dan dampak keselamatan organisasi (level 4). Misalnya, mereka mengusulkan penggunaan tinjauan skenario kecelakaan (minor dan mayor) di perusahaan peserta program sebagai metrik alternatif untuk mengevaluasi efektivitas lulusan dalam mencegah insiden. Rekomendasi ini menunjukkan pendekatan inovatif yang berpotensi menghubungkan hasil pendidikan dengan hasil nyata di lapangan.

Secara keseluruhan, kontribusi utama riset ini adalah (1) mengidentifikasi bahwa fokus penilaian mutu saat ini masih terbatas pada indikator internal tradisional, (2) menegaskan pentingnya mengembangkan indikator eksternal, dan (3) menyusun gagasan kerangka penilaian terpadu yang menghubungkan proses pendidikan dengan dampak industri. Kejelasan kerangka yang diusulkan dan data kuantitatif yang disajikan (misalnya, statistik adopsi sistem mutu) memperkuat argumen bahwa temuan ini membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut dalam pengembangan metode penilaian mutu pendidikan keselamatan yang lebih komprehensif.

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meskipun menyajikan wawasan berharga, riset ini memiliki batasan yang perlu diperhatikan. Pertama, pendekatan metode yang digunakan bersifat convenience sampling dan hanya melibatkan koordinator dari sepuluh program Eropa terpilih[14]. Hal ini membatasi representativitas hasil dan menimbulkan pertanyaan apakah temuan serupa berlaku untuk program lain di luar lingkup survei. Kedua, penekanan utama makalah ini adalah pada konsep dan ide awal; uji empiris terhadap efektivitas kerangka yang diusulkan belum dilakukan. Misalnya, pendekatan penilaian berbasis skenario kecelakaan masih berupa usulan konseptual tanpa bukti praktis mengenai penerapannya dalam konteks nyata.

Selain itu, terdapat ambiguitas dalam konteks metodologis. Banyak data yang bersifat deskriptif atau anekdotal, dan belum ada standar operasional untuk beberapa indikator yang diusulkan, seperti metode spesifik pengumpulan data untuk level 3-4 Kirkpatrick. Ini memunculkan pertanyaan terbuka tentang metodologi yang tepat untuk mengukur transfer pengetahuan dan dampak di organisasi. Sebagai contoh, makalah menyebutkan bahwa evaluasi tingkat perilaku (level 3) dapat dilakukan melalui survei atau penilaian kinerja khusus setelah enam bulan, namun implementasi praktisnya belum teruji. Demikian pula, indikator keamanan tradisional seperti frekuensi kecelakaan dianggap "tidak dapat diandalkan" dan perlu dikembangkan lebih lanjut, namun alternatif konkrit dan valid masih harus ditemukan.

Selanjutnya, makalah ini terfokus pada jalur akademik pascasarjana, sementara jalur lain (seperti pendidikan profesional dan pelatihan inspektorat) disebutkan namun belum dianalisis secara mendalam. Apakah konsep penilaian yang sama dapat diterapkan pada jalur tersebut masih menjadi pertanyaan. Hal ini menunjukkan perlunya kajian lintas-konteks untuk menentukan keberlakuan universal dari temuan.

Terakhir, makalah ini secara eksplisit menyatakan bahwa topik kualitas pendidikan keselamatan masih “diekspresikan secara minimal” dalam literatur (lanj. Safety Science, 1995). Artinya, masih banyak pertanyaan dasar yang belum terjawab, seperti definisi objektif dari “mutu” dalam konteks ini dan cara mengukur pencapaiannya. Pemilihan responden (pembuat program) juga dapat menimbulkan bias, karena mereka mungkin tidak cukup kritis terhadap kelemahan program sendiri. Keseluruhan, keterbatasan ini memperlihatkan bahwa, meskipun riset ini membuka diskusi penting, banyak aspek substantif dan metodologis yang masih memerlukan penelitian lebih jauh.

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan

  1. Kembangkan Metode Pengukuran Transfer Pendidikan (Kirkpatrick Level 3-4): Temuan dalam makalah ini menegaskan bahwa evaluasi saat ini terhenti pada tingkat reaksi dan pembelajaran. Penelitian lanjutan harus merancang dan menguji instrumen yang dapat mengukur sejauh mana lulusan menerapkan ilmu keselamatan di lapangan. Misalnya, melakukan studi longitudinal dengan survei atau wawancara mendalam kepada alumni dan atasan mereka setelah program selesai, untuk mengumpulkan data perilaku (variabel: penerapan teknik, frekuensi adopsi prosedur baru) serta hasil organisasi (variabel: penurunan insiden, peningkatan kepatuhan). Analisis kuantitatif (misalnya koefisien korelasi antara partisipasi program dan indikator keselamatan perusahaan) akan menunjukkan dampak nyata pendidikan ini. Rekomendasi ini didukung oleh pernyataan bahwa hanya ** tingkat 3 dan 4 Kirkpatrick** yang mampu menunjukkan pengaruh nyata program, dan makalah menyarankan fokus riset pada level tersebut.
  2. Mengimplementasikan Penilaian Berbasis Skenario Kecelakaan di Lapangan: Makalah mengusulkan “skenario kecelakaan” sebagai indikator kualitas yang lebih baik daripada insiden riil. Riset selanjutnya bisa mengoperasionalisasikan gagasan ini, misalnya dengan berkolaborasi bersama perusahaan mitra untuk mengidentifikasi skenario kecelakaan minor dan mayor yang mungkin terjadi di industri tertentu. Peneliti dapat mengembangkan kerangka evaluasi di mana partisipan magang atau alumni ditempatkan dalam simulasi atau studi kasus skenario tersebut, lalu mengukur efektivitas intervensi mereka (variabel: jumlah rekomendasi pencegahan diusulkan, respons risiko, atau skenario diselesaikan dengan selamat). Dengan metode eksperimen quasi (sebelum-sesudah) atau studi kasus multiple embedded, penelitian ini akan menguji apakah program keselamatan benar-benar memperkuat kemampuan preventif lulusan. Langkah ini sejalan dengan penekanan makalah pada perlunya metrik inovatif dan konkret untuk transfer ilmu keselamatan (bukan hanya angka kecelakaan).
  3. Kajian Perbandingan Kurikulum Internasional dan Program Master Bersama: Menghadapi peningkatan jumlah program keselamatan pascasarjana (misalnya 29 di Portugal saja), penulis menganjurkan kerja sama internasional serta kemungkinan menyusun program master Eropa gabungan. Riset ke depan perlu mengeksplorasi konsep ini dengan studi kolaboratif antara universitas. Metode studi dapat berupa analisis komparatif kurikulum: membandingkan silabus, tujuan pembelajaran, dan kriteria evaluasi antar lembaga. Selanjutnya, implementasi program percontohan (misalnya program master bersama lintas negara) dapat dievaluasi efektivitasnya melalui pencapaian kompetensi lulusan dan kepuasan stakeholder. Variabelnya meliputi keselarasan materi, mobilitas mahasiswa, dan pengakuan sertifikasi antarnegara. Kegiatan penelitian ini akan menghasilkan wawasan tentang harmonisasi standar pendidikan keselamatan dan potensi efisiensi sumber daya, mendukung rekomendasi publikasi bahwa “kooperasi program internasional” serta master terintegrasi dapat memperkuat kualitas dan kesinambungan bidang ini.
  4. Analisis Dampak Kolaborasi Industri-Akademisi dalam Pengajaran: Data dalam makalah menunjukkan dukungan industri yang kuat, dengan praktisi memberikan hingga 50% kuliah. Riset lanjutan dapat mengkaji variabel “tingkat keterlibatan praktisi” (misalnya persentase jam mengajar oleh profesional) dan korelasinya dengan hasil program. Metode survei cross-sectional atau regresi multipel dapat dilakukan antar program yang berbeda tingkat kolaborasinya. Selain itu, studi kualitatif melalui focus group atau wawancara dengan mahasiswa dan perusahaan dapat menguji persepsi relevansi materi. Dengan meneliti konteks baru (misalnya perbandingan program yang dipimpin akademisi murni versus yang kuat pengaruh industri), peneliti dapat menentukan seberapa besar dampak kerjasama dengan industri terhadap kompetensi lulusan. Rekomendasi ini didukung oleh pentingnya masukan industri di dalam komite pengarah dan materi kuliah, serta catatan bahwa hubungan erat dengan industri dapat meningkatkan performa keselamatan jangka panjang.
  5. Studi Lanjutan tentang Karir Alumni dan Dampaknya pada Organisasi: Makalah menyarankan pentingnya follow-up karir alumni sebagai indikator mutu (mis. survei alumni disebutkan dalam evaluasi kualitas). Riset berkelanjutan dapat mengembangkan instrumen untuk menilai jalur karir lulusan program keselamatan: misalnya melakukan survei longitudinal tentang posisi kerja, peran keselamatan yang diemban, dan kontribusi terhadap proyek keselamatan perusahaan. Data empiris (jumlah lulusan yang menjadi kepala keselamatan, rata-rata lama kenaikan jabatan) dapat dianalisis bersama indikator performa keselamatan korporat (penurunan frekuensi kecelakaan, audit keselamatan) untuk menguji hipotesis bahwa pendidikan spesialis keselamatan berkontribusi pada peningkatan mutu organisasi. Metode kombinasi kuantitatif (statistik karir, data K3) dan kualitatif (studi kasus perusahaan) akan memberikan gambaran komprehensif. Langkah ini memperhatikan saran makalah untuk mengeksplorasi level hasil/multi-stakeholder serta penggunaan data alumni demi evaluasi mutu yang lebih holistik.

Penutup Kolaboratif

Semua rekomendasi di atas menekankan kesinambungan riset dalam pendidikan keselamatan pascasarjana. Keberhasilan implementasi ide-ide tersebut akan lebih terjamin jika melibatkan kolaborasi lintas lembaga. Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi seperti Delft University of Technology, Universitat Politècnica de Catalunya, dan Tampere University (Centre for Safety Management and Engineering) untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil penelitian.


Baca Selengkapnya disini: https://doi.org/10.1016/j.ssci.2021.105338

Selengkapnya
Mengukur Mutu Pendidikan Keselamatan: Dari Evaluasi Internal Menuju Dampak di Lapangan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Faktor Risiko Psikososial dalam Pekerjaan di Ruang Terbatas

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025


Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam ruang terbatas (confined space) telah lama menjadi perhatian utama dalam berbagai industri, seperti manufaktur, minyak dan gas, serta konstruksi. Selain risiko fisik seperti kekurangan oksigen dan paparan gas beracun, pekerja di ruang terbatas juga menghadapi tantangan psikososial yang dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan produktivitas mereka. Bertujuan untuk mendeskripsikan faktor risiko psikososial yang dirasakan oleh pekerja dalam ruang terbatas serta implikasinya terhadap penilaian dan manajemen psikososial. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis wawancara terhadap 50 pekerja, penelitian ini mengidentifikasi lima dimensi utama risiko psikososial yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut dalam kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja.

Metode wawancara terhadap 50 pekerja yang bekerja di ruang terbatas dalam sebuah perusahaan di Brasil. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan perangkat lunak IRAMUTEQ (Interface de R pour les Analyses Multidimensionnelles de Textes et de Questionnaires) dengan metode klasifikasi hierarkis menurun (descending hierarchical classification – DHC).

Hasil analisis data mengelompokkan faktor risiko psikososial ke dalam lima dimensi utama:

  1. Hubungan interpersonal di tempat kerja (29,58%)
  2. Perencanaan tugas (23,50%)
  3. Peran dalam organisasi (17,83%)
  4. Hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (15,10%)
  5. Beban dan ritme kerja (13,97%)

Hubungan interpersonal menjadi faktor utama dalam kesehatan mental pekerja di ruang terbatas. Konflik dengan rekan kerja dan atasan, kurangnya komunikasi, serta minimnya dukungan sosial dapat meningkatkan stres dan memperburuk keselamatan kerja. Dalam studi ini, 29,58% dari total risiko psikososial terkait dengan hubungan interpersonal, yang mencakup:

  • Kesulitan berkomunikasi dalam situasi darurat.
  • Minimnya dukungan dari supervisor dalam situasi sulit.
  • Persaingan tidak sehat yang menyebabkan tekanan psikologis.

Sebanyak 23,50% dari faktor risiko psikososial berkaitan dengan perencanaan tugas. Pekerjaan dalam ruang terbatas sering kali memerlukan perencanaan yang ketat, dan kurangnya perencanaan yang baik dapat menyebabkan stres berlebih, antara lain:

  • Ketidakjelasan mengenai tugas yang harus dilakukan.
  • Keterbatasan waktu yang menyebabkan tekanan kerja tinggi.
  • Kurangnya persiapan dalam menangani kondisi darurat.

Sebanyak 17,83% dari risiko psikososial terkait dengan peran pekerja dalam organisasi. Faktor ini meliputi ketidakjelasan peran, kurangnya otonomi dalam pengambilan keputusan, serta ekspektasi yang tidak realistis dari manajemen. Selain itu, 13,97% risiko lainnya terkait dengan beban dan ritme kerja, di mana tekanan untuk bekerja lebih cepat dalam kondisi berbahaya meningkatkan kemungkinan kecelakaan kerja. Sebanyak 15,10% dari risiko psikososial berasal dari kesulitan menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Pekerjaan di ruang terbatas sering kali mengharuskan pekerja berada dalam kondisi fisik dan mental yang prima, tetapi tekanan dari masalah pribadi, seperti keuangan dan hubungan keluarga, dapat memengaruhi kinerja mereka di tempat kerja.

Dampak Faktor Psikososial terhadap Keselamatan Kerja

Beberapa kasus kecelakaan kerja dianalisis untuk memahami bagaimana faktor psikososial berkontribusi terhadap insiden di ruang terbatas. Salah satu contoh mencakup seorang pekerja yang mengalami serangan panik saat bekerja dalam tangki tertutup, yang disebabkan oleh kombinasi kecemasan pribadi dan tekanan kerja yang tinggi. Insiden lain melibatkan seorang pekerja yang melakukan kesalahan operasional akibat kurangnya komunikasi dengan timnya, menunjukkan bahwa faktor psikososial seperti hubungan kerja yang buruk dapat berdampak langsung pada keselamatan kerja.

Kelebihan

Menggunakan metode kualitatif berbasis wawancara yang memberikan wawasan mendalam tentang pengalaman pekerja. Menggunakan perangkat lunak analisis teks yang memastikan keakuratan klasifikasi data. Menyediakan rekomendasi konkret untuk perbaikan kebijakan keselamatan kerja terkait faktor psikososial.

Kekurangan 

Tidak membandingkan dengan industri lain yang memiliki kondisi ruang terbatas serupa. Tidak ada data kuantitatif terkait tingkat kecelakaan akibat faktor psikososial. Kurangnya pembahasan tentang bagaimana teknologi dapat membantu mitigasi risiko psikososial.

Rekomendasi untuk Implementasi 

  1. Peningkatan Dukungan Psikososial bagi Pekerja, Menerapkan program konseling dan dukungan psikologis bagi pekerja yang mengalami tekanan kerja tinggi. Meningkatkan pelatihan komunikasi dan kepemimpinan untuk mengurangi konflik interpersonal.
  2. Optimasi Perencanaan Tugas dan Manajemen Beban Kerja, Menggunakan teknologi penjadwalan berbasis AI untuk mengatur beban kerja lebih adil. Mengadakan evaluasi rutin mengenai efisiensi perencanaan tugas.
  3. Pemanfaatan Teknologi untuk Mengurangi Tekanan Psikososial, Menggunakan sensor biometrik untuk mendeteksi stres pekerja secara real-time. Implementasi virtual reality (VR) training untuk simulasi kondisi kerja sebelum pekerja memasuki ruang terbatas.
  4. Kebijakan Fleksibilitas Kerja, Menyediakan opsi jam kerja fleksibel bagi pekerja dengan tekanan psikososial tinggi. Menawarkan cuti kesehatan mental bagi pekerja yang mengalami stres berlebih.

Faktor risiko psikososial memengaruhi keselamatan kerja dalam ruang terbatas. Dengan memahami lima dimensi utama risiko psikososial—hubungan interpersonal, perencanaan tugas, peran dalam organisasi, keseimbangan pekerjaan-kehidupan, serta beban dan ritme kerja—perusahaan dapat mengembangkan kebijakan yang lebih baik untuk mendukung kesejahteraan mental pekerja dan meningkatkan keselamatan kerja. Implementasi rekomendasi yang telah disarankan dapat membantu mengurangi angka kecelakaan kerja akibat stres dan faktor psikososial lainnya, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.

Sumber Artikel

Mombelli, M. A., Reis, R. A., Zilly, A., Marziale, M. H. P., Braga, W. O. A., & Santos, C. B. (2022). Risk Factors for Working in Confined Spaces: Contributions for Psychosocial Assessment. Paidéia, 32, e3212.

Selengkapnya
Faktor Risiko Psikososial dalam Pekerjaan di Ruang Terbatas

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Upaya Pengendalian Potensi Bahaya Bekerja pada Ketinggian di Perusahaan Pupuk Gresik, Indonesia

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam pekerjaan pada ketinggian merupakan aspek krusial dalam industri manufaktur, terutama dalam sektor pupuk yang memiliki struktur fasilitas tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitis dengan desain cross-sectional, yang bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan program keselamatan dalam menekan angka kecelakaan kerja akibat jatuh dari ketinggian. Paper ini menyoroti bahwa perusahaan telah memiliki program K3 yang cukup baik dengan tingkat keberhasilan mencapai 90% untuk metode pengendalian bahaya dan 85% dalam penerapan pedoman bekerja pada ketinggian.

Penelitian ini menggunakan data sekunder dari dokumen perusahaan serta metode analisis kualitatif. Beberapa aspek utama yang dievaluasi meliputi:

Program pengendalian bahaya bekerja pada ketinggian, Prosedur pengendalian risiko, Implementasi metode pengendalian keselamatan dan Efektivitas pedoman keselamatan kerja di Perusahaan Pupuk Gresik. Potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja akibat jatuh dari ketinggian diidentifikasi dari beberapa aktivitas seperti:

Pemasangan dan pembongkaran scaffolding, Pekerjaan pemasangan dan pelepasan bracing, Erection dan welding pada konstruksi baja dan Pembersihan dan perawatan struktur tinggi

Evaluasi Program K3 dalam Pekerjaan Ketinggian

  • Safety Talk (90%)
    • Dilakukan sebelum pekerjaan dimulai untuk meningkatkan kesadaran pekerja terhadap risiko kerja di ketinggian.
    • Efektif dalam menurunkan angka pelanggaran penggunaan alat pelindung diri (APD).
  • Safety Induction (85%)
    • Program induksi keselamatan bagi pekerja baru dan kontraktor eksternal sebelum memasuki area kerja.
    • Mengurangi insiden akibat kurangnya pemahaman terhadap standar keselamatan kerja.
  • Safety Patrol (87%)
    • Inspeksi rutin dilakukan oleh tim K3 untuk mengidentifikasi tindakan tidak aman di area kerja.
    • Temuan utama: masih ada pekerja yang tidak menggunakan full body harness dengan benar.
  • Drill Training (80%)
    • Simulasi keadaan darurat seperti kebakaran dan penyelamatan pekerja dari ketinggian.
    • Masih perlu penyempurnaan dalam aspek respon cepat terhadap insiden kerja.
  • Penerapan Safety Sign (85%)
    • Pemasangan rambu keselamatan di lokasi kerja untuk meningkatkan kesadaran pekerja.
    • Penggunaan tanda berbasis standar ANSI Z535 untuk meningkatkan efektivitas komunikasi risiko.

Kasus yang dianalisis dalam paper ini melibatkan seorang teknisi yang mengalami kecelakaan akibat jatuh dari struktur baja setinggi 15 meter. Investigasi menunjukkan bahwa penyebab utama kecelakaan meliputi: Penggunaan APD yang tidak sesuai standar, Kurangnya pemeriksaan peralatan keselamatan sebelum bekerja dan Minimnya pengawasan dari supervisor saat pekerjaan berlangsung

Kelebihan

Menggunakan data empiris dari pengamatan langsung di lapangan. Studi kasus memberikan gambaran nyata tentang tantangan keselamatan kerja di industri pupuk. Mengacu pada standar nasional dan internasional seperti OHSAS 18001 dan ISO 45001 dalam implementasi K3.

Kekurangan 

Tidak membahas perbandingan efektivitas metode keselamatan antara industri pupuk dan sektor lain seperti konstruksi. Minimnya pembahasan mengenai penggunaan teknologi dalam pengawasan pekerja di ketinggian. Tidak ada evaluasi terkait beban ekonomi akibat kecelakaan kerja dalam jangka panjang.

Rekomendasi untuk Implementasi 

  1. Meningkatkan Standar Keselamatan dalam Penggunaan APD, Mewajibkan penggunaan full body harness dengan double lanyard system. Melakukan inspeksi peralatan keselamatan setiap sebelum digunakan.
  2. Optimalisasi Pemantauan dan Supervisi, Menggunakan CCTV dan sensor wearable untuk memantau pekerja di area tinggi. Menugaskan safety observer yang bertanggung jawab penuh dalam mengawasi pekerjaan di ketinggian.
  3. Meningkatkan Frekuensi Simulasi Keselamatan, Melakukan drill training setiap tiga bulan untuk meningkatkan kesiapsiagaan darurat. Mengadakan pelatihan penyelamatan vertikal bagi pekerja.
  4. Digitalisasi Sistem Perizinan dan Pengawasan, Menggunakan e-Permit to Work System untuk memastikan pekerja telah memenuhi semua persyaratan keselamatan sebelum bekerja. Implementasi aplikasi berbasis IoT untuk mendeteksi kondisi atmosfer di area kerja tinggi.

Analisis komprehensif tentang implementasi pengendalian bahaya dalam pekerjaan di ketinggian di Perusahaan Pupuk Gresik. Meskipun beberapa program keselamatan telah menunjukkan efektivitas yang tinggi, masih terdapat ruang untuk perbaikan dalam aspek pengawasan, inspeksi peralatan, serta penerapan teknologi dalam pemantauan pekerja. Dengan menerapkan rekomendasi yang telah disebutkan, perusahaan dapat mengurangi angka kecelakaan kerja di ketinggian dan meningkatkan kepatuhan terhadap standar keselamatan nasional maupun internasional.

Sumber Artikel

Aprilia, D., & Ramadhan, A. (2021). Efforts to Control Potential Hazards of Working at Height at a Gresik Fertilizer Company, Indonesia. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 10(3), 331-342.

 

Selengkapnya
Upaya Pengendalian Potensi Bahaya Bekerja pada Ketinggian di Perusahaan Pupuk Gresik, Indonesia

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Area Confined Space pada Industri Kelapa Sawit

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di ruang terbatas (confined space) merupakan aspek krusial dalam industri dengan risiko tinggi, seperti pengolahan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kepatuhan perusahaan terhadap standar keselamatan kerja, mengidentifikasi potensi bahaya, serta mengevaluasi efektivitas penerapan sistem manajemen risiko di ruang terbatas. Dengan pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian ini menyoroti bahwa implementasi manajemen risiko di perusahaan ini belum sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku dan masih mengacu pada kriteria Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) tanpa penerapan menyeluruh dari regulasi lain seperti OHSAS 18001:2007 atau SNI ISO 31000.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data meliputi:

Observasi lapangan terhadap kondisi ruang terbatas dan aktivitas kerja. Wawancara dengan pekerja dan petugas K3 untuk memahami pengalaman serta prosedur keselamatan yang diterapkan. Analisis dokumen terkait izin kerja, standar operasional prosedur (SOP), serta kebijakan manajemen risiko perusahaan.

Evaluasi penerapan manajemen risiko K3 dilakukan berdasarkan 40 indikator yang merujuk pada regulasi terkait, seperti:

  1. Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
  2. Identifikasi potensi bahaya dan risiko dalam ruang terbatas
  3. Penggunaan izin masuk ruang terbatas (Confined Space Entry Permit)
  4. Penyediaan alat pelindung diri (APD)
  5. Pemeriksaan atmosfer sebelum masuk ke ruang terbatas
  6. Pelatihan dan sertifikasi bagi pekerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 40 indikator, sebanyak 37,5% indikator telah dilaksanakan sesuai standar, 20% indikator belum sesuai standar, dan 42,5% indikator tidak terlaksana sama sekali.

Bahaya utama yang ditemukan di ruang terbatas PT. Kalimantan Sawit Kusuma:

Paparan gas beracun seperti H₂S dan CO, yang dapat menyebabkan sesak napas dan kehilangan kesadaran. Kurangnya oksigen, dengan kadar oksigen yang ditemukan sering kali di bawah 19,5%, yang tidak memenuhi standar aman bagi pekerja. Bahaya kebakaran dan ledakan, terutama di area boiler dan tangki penyimpanan minyak sawit. Suhu ekstrem, yang menyebabkan risiko dehidrasi dan kelelahan bagi pekerja.

Perusahaan memiliki 4 tangki penyimpanan minyak sawit yang dikategorikan sebagai confined space. Studi kasus menemukan bahwa:

Tidak semua pekerja yang masuk ke ruang terbatas memiliki izin kerja khusus. Dokumentasi sistem manajemen risiko belum memenuhi standar internasional seperti OHSAS 18001. Tidak ada sistem pemantauan atmosfer berkelanjutan di dalam ruang terbatas, yang berisiko meningkatkan potensi kecelakaan akibat akumulasi gas beracun. Pekerja sering kali hanya mengandalkan pengalaman pribadi untuk menilai risiko, bukan berdasarkan prosedur standar.

Menurut data BPJS Ketenagakerjaan, kasus kecelakaan kerja di Kalimantan Tengah meningkat dari 1.159 kasus pada 2017 menjadi 2.705 kasus pada 2018, menunjukkan tren peningkatan risiko kerja. Kecelakaan di ruang terbatas juga terjadi di beberapa perusahaan kelapa sawit lain, mengindikasikan kurangnya kepatuhan terhadap standar keselamatan.

Kelebihan 

Memberikan wawasan empiris terkait implementasi K3 dalam ruang terbatas industri kelapa sawit. Menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengevaluasi efektivitas sistem manajemen risiko. Menyajikan studi kasus nyata dari industri perkebunan sawit di Indonesia.

Kekurangan 

Tidak membandingkan sistem manajemen risiko ini dengan industri lain yang memiliki ruang terbatas, seperti pertambangan atau manufaktur. Belum mengeksplorasi peran teknologi dalam meningkatkan keselamatan kerja di ruang terbatas. Kurangnya pembahasan terkait beban ekonomi akibat kecelakaan kerja di ruang terbatas.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa langkah perbaikan yang direkomendasikan adalah:

  1. Peningkatan Kepemilikan Sertifikasi K3 bagi Pekerja, Mewajibkan semua pekerja di ruang terbatas memiliki sertifikasi Confined Space Entry Permit. Mengadakan pelatihan berkala untuk meningkatkan kesadaran pekerja terhadap prosedur keselamatan.
  2. Optimalisasi Pemantauan Atmosfer di Ruang Terbatas, Menggunakan sensor gas real-time untuk mendeteksi kadar oksigen dan gas beracun. Melakukan pengujian atmosfer secara berkala, bukan hanya sebelum pekerjaan dimulai.
  3. Perbaikan Dokumentasi dan SOP K3, Menyusun dokumen izin kerja dan izin masuk ruang terbatas yang sesuai dengan standar internasional. Mengembangkan prosedur tanggap darurat yang lebih jelas dan terdokumentasi.
  4. Implementasi Teknologi Keselamatan, Menggunakan robot atau drone inspeksi untuk mengurangi kebutuhan pekerja memasuki ruang terbatas. Memanfaatkan aplikasi digital untuk monitoring risiko dan pelaporan kecelakaan.

Analisis mendalam mengenai penerapan manajemen risiko di ruang terbatas pada industri kelapa sawit, khususnya di PT. Kalimantan Sawit Kusuma. Studi ini menyoroti bahwa meskipun ada beberapa prosedur yang telah diterapkan, masih terdapat banyak celah dalam kepatuhan terhadap regulasi keselamatan kerja. Dengan menerapkan rekomendasi yang disarankan, perusahaan dapat meningkatkan kepatuhan terhadap standar keselamatan nasional dan internasional, serta mengurangi risiko kecelakaan di ruang terbatas secara signifikan.

Sumber Artikel

Mardlotillah, N. I. (2020). Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja Area Confined Space. HIGEIA Journal of Public Health Research and Development, 4(Special 1), 315-327.

Selengkapnya
Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Area Confined Space pada Industri Kelapa Sawit

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Analisis Prosedur dan Implementasi K3 dalam Ruang Terbatas di Area Boiler PLTU X Jawa Timur

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam ruang terbatas (confined space) menjadi perhatian utama di berbagai industri berisiko tinggi, termasuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Paper ini bertujuan untuk menilai kepatuhan prosedur K3 dalam pekerjaan di ruang terbatas dengan mengacu pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 11 Tahun 2023. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengevaluasi klasifikasi ruang terbatas, izin masuk, prosedur kerja aman, perlengkapan keselamatan, serta peran personel K3 dalam memastikan lingkungan kerja yang aman dan sesuai regulasi.

Evaluasi dilakukan berdasarkan enam parameter standar K3 di ruang terbatas sesuai Permenaker No. 11 Tahun 2023:

  1. Penetapan klasifikasi ruang terbatas
  2. Pembatasan akses masuk ruang terbatas
  3. Izin masuk ruang terbatas
  4. Prosedur kerja aman
  5. Peralatan dan perlengkapan keselamatan
  6. Personel K3 yang bertugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prosedur K3 dalam ruang terbatas boiler PLTU X telah dilakukan dengan optimal, meskipun terdapat beberapa ketidaksesuaian pada aspek tertentu. Berikut hasil evaluasinya:

  • Penetapan klasifikasi ruang terbatas – 100% (Sangat Baik)
    • Perusahaan telah mengklasifikasikan ruang terbatas dengan baik melalui analisis potensi bahaya dan penerapan prosedur keselamatan.
  • Pembatasan akses masuk – 100% (Sangat Baik)
    • Akses masuk dikontrol dengan tanda larangan dan pengamanan pasif.
  • Izin masuk ruang terbatas – 89.7% (Baik)
    • Sebagian besar prosedur izin telah diterapkan, namun beberapa aspek seperti pemeriksaan tegangan listrik dan pemantauan durasi kerja belum sepenuhnya terdokumentasi.
  • Prosedur kerja aman – 96.7% (Sangat Baik)
    • Pengujian gas, isolasi energi, ventilasi, dan rencana tanggap darurat telah diterapkan, tetapi masih perlu penyempurnaan pada pemantauan atmosfer selama pekerjaan berlangsung.
  • Peralatan dan perlengkapan – 96.3% (Sangat Baik)
    • Semua peralatan utama tersedia, tetapi prosedur terkait APD belum terdokumentasi dengan jelas.
  • Personel K3 – 87.4% (Baik)
    • Masih terdapat pekerja yang belum memiliki lisensi K3 untuk pekerjaan ruang terbatas.

Prosedur K3 telah diterapkan dengan baik, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi:

  • Tidak semua pekerja memiliki lisensi K3 ruang terbatas, dengan hanya 59% pekerja yang telah tersertifikasi.
  • Pemantauan atmosfer belum dilakukan secara berkelanjutan, sehingga ada risiko akumulasi gas beracun selama pekerjaan berlangsung.
  • Pencatatan dan dokumentasi prosedur keselamatan masih perlu diperbaiki, terutama dalam aspek permit to work dan daftar petugas K3 penyelamat.

Namun, beberapa keberhasilan juga dicatat:

  • Selama periode penelitian, tidak ada kecelakaan kerja yang terjadi di area boiler PLTU X.
  • Identifikasi bahaya telah dilakukan sebelum pekerjaan dimulai, memastikan kesiapan alat dan kondisi lingkungan kerja.
  • Penggunaan APD telah diterapkan dengan baik di lapangan, meskipun belum sepenuhnya terdokumentasi dalam SOP perusahaan.

Kelebihan 

Menggunakan pendekatan berbasis data dengan evaluasi langsung di lapangan. Studi kasus konkret memberikan gambaran nyata implementasi K3 dalam industri pembangkit listrik. Mengacu pada regulasi terbaru (Permenaker No. 11 Tahun 2023), memastikan hasil penelitian relevan dengan standar keselamatan nasional.

Kekurangan

Belum mengeksplorasi faktor perilaku pekerja dalam kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Tidak ada perbandingan dengan implementasi K3 di perusahaan lain untuk menilai efektivitas relatif. Kurangnya analisis ekonomi terkait dampak implementasi prosedur keselamatan terhadap efisiensi kerja dan biaya operasional.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa langkah perbaikan yang direkomendasikan adalah:

  1. Meningkatkan Kepemilikan Sertifikasi K3 bagi Pekerja
    • Memastikan 100% pekerja di ruang terbatas memiliki sertifikasi sesuai regulasi.
    • Mengadakan pelatihan berkala untuk memperbarui pemahaman pekerja mengenai prosedur keselamatan.
  2. Optimalisasi Pemantauan Atmosfer Ruang Terbatas
    • Menggunakan sensor gas real-time untuk mendeteksi perubahan atmosfer.
    • Melakukan pengukuran atmosfer berkala, bukan hanya sebelum pekerjaan dimulai.
  3. Perbaikan Dokumentasi dan SOP K3
    • Menyempurnakan formulir izin kerja (Permit to Work) sesuai dengan regulasi terbaru.
    • Menambahkan daftar lengkap petugas K3 penyelamat dalam dokumen prosedural.
  4. Peningkatan Kesadaran Keselamatan melalui Simulasi dan Pelatihan
    • Mengadakan simulasi keadaan darurat untuk meningkatkan kesiapsiagaan pekerja.
    • Menyediakan media edukasi seperti video instruksional dan modul pelatihan interaktif.

Komprehensif tentang implementasi prosedur K3 dalam ruang terbatas di area boiler PLTU X. Secara keseluruhan, prosedur K3 telah diterapkan dengan baik, namun masih ada ruang untuk perbaikan dalam aspek sertifikasi pekerja, pemantauan atmosfer, dan dokumentasi keselamatan.

Dengan menerapkan rekomendasi yang disarankan, PLTU X dapat meningkatkan kepatuhan terhadap standar keselamatan nasional dan mengurangi risiko kecelakaan kerja di ruang terbatas.

Sumber Artikel

Ainudin, J. A., Arini, S. Y., Ernawati, M., & Imaduddin, A. (2024). Analisis Prosedur dan Pelaksanaan K3 Ruang Terbatas di Area Boiler PLTU X Jawa Timur. Jurnal Promotif Preventif, 7(2), 310-319.

Selengkapnya
Analisis Prosedur dan Implementasi K3 dalam Ruang Terbatas di Area Boiler PLTU X Jawa Timur
« First Previous page 3 of 8 Next Last »