Industri Logam
Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani pada 10 Mei 2024
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) meningkatkan target produksi aluminium pada tahun 2024 ini mencapai sebesar 274.140 ton. Peningkatan target produksi ini seiring dengan adanya kerja sama dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA).
Direktur Utama Inalum, Danny Praditya mengatakan saat ini pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Arab yakni Emirates Global Alumina (EGA).
"Tahun 2024 ini kami menargetkan 274.140 ton dari beberapa produk mulai Ingot, Billet, dan Alloy. Itu semua aluminium dan kita prioritaskan untuk pasar domestik dan kalau ada kelebihan baru kita ekspor," bebernya kepada CNBC Indonesia saat ditemui di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, dikutip Senin (8/1/2024).
Adapun penambahan target produksi untuk tahun ini bisa dijalankan setelah pihaknya melakukan optimasi tungku atau pot peleburan pabrik aluminium. "Ada pot optimization namanya itu masih dilakukan dalam piloting terhadap 5 pot kita," tambahnya.
Selain itu, Danny juga mengatakan melakukan kerja sama dengan pihak China untuk mengembangkan teknologi pabrik aluminium. Dia mengatakan ada 170 pot yang dikembangkan pada tahun 2024 ini.
"Juga sebelumnya sudah dilakukan upgrading dengan teknologi SAMI dari China untuk 170 pot kita, di potline 2. Dan itu gampang insya Allah di tahun 2024 ini kita akan dapat tambahan sekitar itu tadi dari 250 ribu ton jadi 274 ribu ton," tandasnya.
Sebelumnya, Chief Executive Officer EGA Abdulnasser Bin Kalban menyebut bahwa EGA sebagai salah satu perusahaan peleburan aluminium terbesar di dunia menyebut bahwa keberhasilan lima tungku ini merupakan tonggak penting bersejarah dalam penerapan teknologi peleburan yang lebih modern di INALUM dan berharap bisa menjadi langkah awal dalam kolaborasi lanjutan dengan INALUM dan Indonesia pada khususnya.
"Keberhasilan penyelesaian permulaan pot percontohan ini merupakan tonggak penting baik dalam proyek kami untuk menyebarkan pengetahuan teknologi EGA di Indonesia, dan potensi kemitraan kami yang lebih luas. dengan INALUM. Tim teknologi EGA memiliki rekam jejak kesuksesan selama puluhan tahun, menciptakan nilai bagi EGA tidak hanya di UEA tetapi juga secara internasional," ujar Abdulnasser dalam keterangan resmi, Selasa (10/10/2023).
Inalum memilih berkolaborasi dengan EGA terkait teknologi DX+ Ultra karena EGA telah mengembangkan teknologi peleburan aluminiumnya sendiri selama lebih dari 30 tahun. Di mana teknologi tersebut telah dianggap sebagai teknologi yang paling efisien di industri aluminium global.
EGA sendiri merupakan perusahaan industri UEA pertama yang melisensikan teknologi proses intinya secara internasional, melalui kesepakatan dengan Aluminium Bahrain pada tahun 2016. Selain itu, kolaborasi ini juga dapat mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab dalam bidang teknologi dan investasi.
Sumber: www.cnbcindonesia.com
Industri Logam
Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani pada 10 Mei 2024
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) aluminium di kawasan Kalimantan. Bahkan, baru-baru ini proyek tersebut dikunjungi oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Fasilitas smelter aluminium terbesar di Indonesia dibangun oleh PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) anak usaha PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang merupakan salah satu perusahaan milik konglomerat Garibaldi Thohir.
Smelter aluminium dengan investasi sekitar US$ 2 miliar atau Rp30,55 triliun (kurs Rp15.278 per US$) ini merupakan bagian dari pengembangan Kawasan Industri Hijau Kalimantan Utara yang dibangun KIPI. Hal itu dalam rangka mendukung program hilirisasi industri sumber daya alam yang dicanangkan pemerintah untuk memberikan nilai tambah bagi bahan mentah serta pemanfaatan energi hijau.
Presiden Direktur PT Adaro Minerals Indonesia Tbk Christian Ariano Rachmat mengatakan, pembangunan smelter sejalan dengan visi dan misi pemerintah untuk melakukan hilirisasi mineral. Dengan begitu bisa memberikan nilai tambah dan berkontribusi bagi pendapatan dan devisa negara.
Ia berharap upaya perusahaan memberikan dampak positif bagi Indonesia dalam mengurangi impor aluminium, memberikan proses dan nilai tambah terhadap alumina, dan meningkatkan penerimaan pajak negara. Selain itu, mampu menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja lokal pada fase konstruksi dan sekitar 1.500 tenaga kerja lokal pada fase operasi.
"Selanjutnya kami terus bekerja keras untuk mencapai target Commercial Operation Date (COD) yang direncanakan pada semester pertama tahun 2025," ujar Christian. PT Kalimantan Aluminium Industry yang merupakan anak perusahaan grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk.
PT Kalimantan Aluminium Industry membangun smelter aluminium di lahan seluas 600 Ha dengan kapasitas produksi aluminium pada fase pertama sebanyak 500.000 tpa aluminium.
Tahapan prakonstruksi smelter aluminium juga telah berjalan. Antara lain pemesanan dan pelunasan beberapa long lead items serta pembangunan jetty untuk kebutuhan konstruksi. Alat-alat berat dan material juga telah masuk ke lokasi untuk pelaksanaan konstruksi.
Selain itu, main equipment pembangkit listrik untuk mendukung operasi aluminium di tahap pertama dalam proses fabrikasi. Upaya KAI dalam meningkatkan ketersediaan aluminium demi peningkatan daya saing produk sumber daya alam di Indonesia ini diharapkan turut membantu pemerintah dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. Selain itu, turut berperan dalam mencapai target Net Zero Emission Indonesia.
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meninjau fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) aluminium terbesar di Indonesia milik PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) di Tanah Kuning, Kalimantan Utara, Selasa (28/3/2023).
Sumber: www.cnbcindonesia.com
Industri Logam
Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani pada 10 Mei 2024
Darwin, (ANTARA/Medianet – AsiaNet)- Unsur tanah jarang akan menjadi fokus utama bagi Unit Mineral Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO) dengan menyambut alokasi dana sebesar $13,9 juta di bawah Australian Critical Minerals Research and Development Hub.
Dalam pengumuman yang dibagikan awal pekan ini oleh Menteri Sumber Daya dan Menteri Australia Utara, Hon. Madeleine King MP, dana ANSTO akan digunakan untuk proyek penelitian guna mempercepat penemuan, ekstraksi, dan pengolahan unsur tanah jarang dari endapan tanah liat dan endapan ionic adsorption rare earth.
Dana ini merupakan bagian dari paket senilai $22 juta untuk mendukung tiga proyek penelitian kunci di bawah R&D Hub untuk lembaga ilmu pemerintah Australia yang berpartisipasi; ANSTO, CSIRO, dan Geoscience Australia.
CEO ANSTO, Shaun Jenkinson, mengatakan bahwa pengalaman luas ANSTO Minerals dalam bekerja dengan unsur tanah jarang akan membantu membuka potensi dari deposit Australia yang berkadar rendah.
"Australia sudah memiliki pasokan yang kaya dari deposit unsur tanah jarang berkadar tinggi dan keahlian yang kuat dalam teknik pengolahan untuk mengekstrak sebanyak mungkin dari sumber daya kita, yang menempatkan kita dalam posisi yang kuat secara global," ujar Mr. Jenkinson.
"Dana ini akan memungkinkan kami untuk mendapatkan pemahaman yang lebih besar tentang mineralogi dan rute pengolahan yang diperlukan untuk mengakses deposit tanah liat dan ionic adsorption, yang memiliki rasio tinggi dari logam magnet yang dicari."
Bersama dengan Geoscience Australia dan CSIRO, proyek dua tahun ini akan memungkinkan ANSTO untuk:
ANSTO juga akan memberikan masukan untuk setiap proyek yang didanai secara terpisah yang dipimpin oleh CSIRO dan Geoscience Australia seperti yang diumumkan oleh Menteri. ANSTO akan berkontribusi pada:
Mr. Jenkinson mengatakan bahwa mineral kritis dan unsur tanah jarang membentuk komponen penting dari teknologi kunci seperti perangkat elektronik pribadi, transportasi, dan telekomunikasi.
"Mineral kritis menyentuh hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari kita, mulai dari smartphone, komputer, dan baterai, hingga kabel serat optik yang kita gunakan di rumah dan tempat kerja. Tetapi yang tidak kalah penting, mereka juga sangat penting untuk memproduksi teknologi hijau seperti mobil listrik, turbin angin, dan panel surya," ujar Mr. Jenkinson.
"Mineral kritis dan strategis seperti unsur tanah jarang, uranium, dan lithium sudah menjadi bagian besar dari bisnis Mineral ANSTO. Pergeseran fokus baru-baru ini menuju diversifikasi dan pengamanan rantai pasokan mereka adalah arah yang menarik untuk membuka sumber daya mineral kritis Australia dan mendukung komitmen kita terhadap netralitas karbon.
"ANSTO berharap dapat melanjutkan pekerjaan berharga ini dengan mitra R&D Hub kami - Geoscience Australia, dan CSIRO - serta Critical Minerals Office di Departemen Industri, Sains, dan Sumber Daya."
Didirikan pada bulan Oktober 2022, R&D Hub menggabungkan keahlian lembaga ilmu terkemuka Australia untuk bekerja dengan industri, universitas, dan komunitas penelitian untuk mengatasi tantangan teknis. Hub ini juga mendorong penelitian kolaboratif di seluruh rantai nilai mineral kritis, yang diperlukan untuk mendukung energi bersih dan agenda kebijakan nol emisi bersih Australia sesuai dengan Strategi Mineral Kritis Australia 2023-2030.
R&D Hub saat ini memfasilitasi tujuh proyek penelitian yang didanai, dengan ANSTO juga memimpin proyek Kuarsa Murni Tinggi (HPQ) mengembangkan kemampuan pemrosesan mandiri untuk produksi HPQ bagi produsen Australia. Untuk informasi lebih lanjut tentang R&D Hub dan proyek-proyeknya, kunjungi situs web R&D Hub.
Tentang kami:
Tentang Unit Mineral ANSTO
Sebagai pusat keunggulan nuklir Australia selama lebih dari 70 tahun, ANSTO adalah rumah bagi beberapa landmark dan infrastruktur nasional yang paling signifikan untuk sains dan penelitian. Setiap tahun, ribuan ilmuwan, pengguna industri, dan orang di dunia akademis mendapatkan manfaat dari akses ke instrumen terkini dan keahlian ilmuwan, peneliti, dan insinyur kami di ANSTO.
Selama lebih dari 40 tahun, Unit Mineral ANSTO di Lucas Heights, Sydney, telah bekerja langsung dengan industri pertambangan Australia, menyediakan solusi pengolahan yang inovatif dan praktis bagi industri.
Unit Mineral ANSTO memiliki keahlian terkemuka dunia dalam pengolahan logam kritis dan strategis, seperti unsur tanah jarang scandium, lithium, zirkonium, niobium, dan hafnium.
Sumber: www.antaranews.com
Industri Logam
Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani pada 10 Mei 2024
Di beberapa negara - misalnya di Jerman - penurunan permintaan sangat buruk sehingga beberapa pejabat telah membandingkannya dengan kemerosotan pandemi yang disebabkan oleh krisis Covid-19 yang parah. Salah satunya adalah Norsk Hydro di Norwegia, produsen aluminium terbesar di Eropa non-Rusia.
Pal Kildemo, kepala keuangan perusahaan, menyatakan bahwa kemerosotan permintaan ini, yang didasarkan pada biaya pembangunan yang meningkat dengan cepat serta perkembangan suku bunga, jelas merusak potensi pendapatan grup Hydro. Kildemo cukup jujur tentang apa yang dialami perusahaan: Permintaan aluminium untuk keperluan konstruksi dan juga bangunan turun sekitar 50% - dihitung dari tahun ke tahun.
Alasan lain juga bekerja ke arah yang sama. Sekitar seperempat dari seluruh aluminium untuk industri konstruksi digunakan untuk rangka gedung pencakar langit dan juga fasad bangunan.
Namun, kebakaran hebat seperti kasus Grenfell di pusat kota London beberapa tahun yang lalu dan kebakaran besar di Valencia, Spanyol, membuat para arsitek dan juga perusahaan asuransi enggan menggunakan aluminium untuk fasad bangunan.
Permintaan aluminium Eropa 'anemia'
Secara keseluruhan, Kildemo saat ini mengesampingkan pemulihan permintaan aluminium setidaknya untuk enam bulan pertama di tahun ini. Pada saat yang sama, ia secara umum memperkirakan pasar aluminium yang cukup fluktuatif dan tidak stabil. Produsen aluminium besar lainnya di dunia juga memiliki pendapat yang sama dengan manajemen puncak Hydro.
Sebuah contoh yang baik adalah produsen aluminium Australia, South32 di Perth. Kepala eksekutifnya, Graham Kerr, baru-baru ini mengkarakterisasi permintaan aluminium Eropa sebagai 'anemia' secara keseluruhan. Volatilitas pasar aluminium Eropa yang diperkirakan akan terjadi juga memengaruhi pasar untuk beberapa logam lain yang digunakan dalam konstruksi dan bangunan. Hal ini terutama terjadi pada baja, tetapi juga beberapa logam industri, seperti tembaga.
Semuanya menderita akibat kemerosotan konstruksi - namun dengan tingkat yang berbeda. Prospek Global Standard & Poors serta prospek Bank Komersial Hamburg menekankan fakta bahwa indeks manajer pembelian untuk bulan Desember tahun lalu menunjukkan kontraksi yang dalam pada akhir 2023 yang menghasilkan prospek yang sangat suram untuk semua tahun berjalan.
Namun, kembali lagi ke situasi aluminium yang sangat buruk. Salah satu alasan penting untuk situasi sulit pasar aluminium saat ini adalah masalah besar LME dengan aluminium, terutama dengan logam Rusia dari produsen aluminium Rusal. Hal ini dikarenakan gudang-gudang di London Metal Exchange, bursa logam terbesar di dunia, saat ini dibanjiri oleh aluminium Rusia yang telah mencapai lebih dari 90% dari keseluruhan kapasitasnya.
Kildemo dari Norsk Hydro memperkirakan bahwa hal ini akan menjadi “risiko besar terhadap volatilitas yang lebih tinggi pada harga LME (aluminium) ketika pasar kembali mengalami shortage dan orang-orang harus menarik logam tersebut dari LME.”
Banyak pedagang di LME melihat masalah aluminium saat ini sebagai sesuatu yang terutama berasal dari perkembangan di Jerman. Ekonomi Jerman yang berorientasi ekspor telah terpukul oleh hilangnya gas Rusia yang murah. Selain itu, perlambatan ekonomi Tiongkok juga menimbulkan kekhawatiran yang lebih luas tentang kecenderungan umum untuk melakukan deindustrialisasi di Jerman.
Ketika perusahaan-perusahaan industri Jerman masih memutuskan untuk berinvestasi, investasi ini semakin sering dilakukan di Amerika Serikat. Hal ini semakin memperparah kemerosotan dalam industri konstruksi dan bangunan Jerman - yang sejauh ini merupakan yang terbesar di Eropa.
Pasar logam tertekan oleh rendahnya harga nikel
Namun, aluminium dan kemerosotan konstruksi dan bangunan bukanlah satu-satunya faktor yang saat ini menekan pasar logam. Masalah besar lainnya adalah situasi industri nikel, yang baru-baru ini memaksa pemerintah Australia untuk mendukung perusahaan-perusahaan pertambangan nikel di negara tersebut. Khususnya di Australia, industri nikel sedang menghadapi krisis dengan sejumlah perusahaan yang menghentikan operasinya karena jatuhnya harga nikel yang disebabkan oleh melimpahnya suplai dari Indonesia. Pemerintah Australia mengkhawatirkan potensi hilangnya ribuan pekerjaan di industri pertambangan.
Pemerintah telah menawarkan kredit pajak produksi, keringanan royalti dan pinjaman serta hibah untuk mendukung industri nikel di negara ini. Namun, kepala eksekutif grup raksasa BHP menyatakan: “Hal itu mungkin tidak cukup, mengingat tantangan-tantangan di pasar nikel saat ini, untuk mengubah arah.”
Dari Perancis, kata-kata serupa juga muncul. “Pemasok nikel berbiaya rendah di Indonesia akan menyingkirkan para pesaing dalam beberapa tahun ke depan, mengukuhkan Indonesia sebagai produsen dominan di dunia,” kata Christel Bories, kepala eksekutif penambang nikel Prancis Eramet.
Menurutnya, negara di Asia Tenggara ini dapat dengan mudah menguasai lebih dari tiga perempat produksi nikel murni kelas tertinggi di dunia dalam waktu sekitar lima tahun dari sekarang. Hal ini benar-benar membuat sebagian besar industri nikel tradisional menjadi tidak kompetitif di masa depan. Menurut Bories: “Bagian dari industri ini akan hilang atau disubsidi oleh pemerintah.”
Disadur dari: www.aluminium-journal.com
Industri Logam
Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani pada 08 Mei 2024
Mesin lembaran logam dapat digunakan untuk membuat berbagai macam produk yang berguna untuk berbagai macam aplikasi. Jadi, kami pikir kami akan mengambil kesempatan ini untuk benar-benar merinci beberapa industri yang mengandalkan produk lembaran logam fabrikasi dan untuk apa mereka menggunakannya. Kami akan mulai dengan yang paling jelas - konstruksi.
1. Konstruksi
Industri konstruksi sangat luas dan mencakup banyak jenis bangunan. Sementara salah satu penggunaan yang jelas dari lembaran logam fabrikasi adalah sebagai bahan eksternal bangunan - juga dapat digunakan untuk keperluan internal. Bangunan rangka baja, misalnya, akan menggunakan balok dan kolom baja sebagai penopangnya. Jenis struktur ini sering kali disukai untuk bangunan bertingkat tinggi seperti apartemen, kompleks perkantoran, atau bahkan gedung pencakar langit karena rasio kekuatan terhadap berat yang fantastis dan daya tahan yang tinggi.
Namun, yang bisa dibilang lebih penting adalah mur, baut, sekrup, dan paku yang digunakan dalam setiap aspek industri konstruksi. Semuanya dibuat dari lembaran logam dan, tanpa mereka, konstruksi tidak akan dapat diselesaikan.
2. Otomotif
Mobil dan kendaraan otomotif lainnya terbuat dari cukup banyak logam. Baja, baja tahan karat, aluminium, dan tembaga adalah beberapa jenis logam yang sering digunakan untuk membuat rangka, pintu, mesin, komponen internal dan eksternal, dan bahkan elektronik. Kelenturan dan sifat pembentukan yang dimiliki oleh banyak lembaran logam membuatnya ideal untuk industri otomotif karena lembaran dapat dibentuk dengan cara apa pun yang diperlukan dengan menggunakan cetakan yang berbeda sambil tetap mempertahankan karakteristik dan integritasnya.
3. Transportasi
Sektor transportasi umum dan komersial telah lama mengandalkan lembaran logam fabrikasi - lihat saja bus, trem, atau kereta api mana pun dan Anda akan langsung melihat logam. Entah itu tiang vertikal yang ditujukan untuk membantu mereka yang kesulitan berjalan atau perangkat keras di sekitar tempat duduk di trem - ada logam di mana-mana. Kereta api saat ini banyak dibuat dari aluminium karena sifatnya yang ringan sehingga memungkinkannya melaju dengan kecepatan tinggi.
4. Dirgantara
Ada berbagai komponen berbeda yang dibuat dari lembaran logam yang digunakan dalam pesawat terbang termasuk baja, aluminium dan bahkan titanium. Sayap dan badan pesawat dibuat dari paduan aluminium khusus yang menggabungkan ringannya aluminium dengan kekuatan baja untuk memastikan pesawat itu sendiri tetap menyatu saat terbang tetapi tidak terlalu berat untuk jatuh dari langit.
Dalam aplikasi militer dan pesawat penumpang besar, titanium digunakan sebagai tambahan dari komposit karbon-epoksi - yang digunakan untuk membuat badan pesawat. Komposit serat karbon ini memiliki karakteristik yang mirip dengan paduan aluminium khusus - memiliki kekuatan yang unggul dengan bobot yang rendah.
Sekali lagi, paduan aluminium dan komposit bersinar terang ketika kita melihat pesawat ulang-alik dan menyadari bahwa lambung luarnya harus tahan terhadap kecepatan tinggi dan panas yang dihasilkan saat keluar dari atmosfer Bumi. Semakin berat sebuah kapal, semakin sulit baginya untuk melepaskan diri dari tarikan gravitasi Bumi dan dengan demikian paduan aluminium dan komposit menjadi sempurna. Paduan keramik dan titanium juga digunakan untuk memperkuat lambung kapal.
5. Infrastruktur
Sementara rel trem dan kereta api dulunya terbuat dari kayu - sekarang terbuat dari baja tahan karat. Hal-hal yang mungkin tidak terlalu Anda perhatikan karena merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari seperti rambu-rambu jalan dan lampu lalu lintas adalah infrastruktur yang menggunakan logam. Kabel listrik dibuat dari untaian paduan aluminium karena kuat, ringan, dan konduktor listrik yang baik. Bahkan jembatan besar pun menggunakan baja untuk penguat. Anda akan terkejut betapa banyak lembaran logam fabrikasi yang akan Anda temui di kota setempat setiap hari.
Disadur dari: www.acra.com.au
Industri Logam
Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani pada 08 Mei 2024
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan pengelolaan dan pemurnian mineral kritis harus dilakukan di dalam negeri untuk pengembangan hilirisasi di masa mendatang.
Menurutnya, peran komoditas mineral kritis sangat strategis dan vital dalam mendukung transisi energi, antara lain sebagai bahan baku pembuatan panel surya, turbin angin dan industri baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik dan storage pembangkit Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
Mineral kritis juga memiliki harga yang tinggi karena termasuk dalam kategori sulit ditemukan, sulit diekstraksi dalam jumlah yang ekonomis dan sulit disubstitusi dengan logam atau bahan lain, dan mineral tersebut juga merupakan mineral ikutan dari pertambangan timah, bauksit, nikel dan pasir besi.
“Wajib hukumnya untuk meningkatkan nilai tambah mineral-mineral tersebut melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Industri hilirisasi diharapkan dapat terus dibangun dan dikembangkan untuk mengoptimalkan manfaat pengusahaan mineral,” kata Arifin dalam keterangannya kepada media, Kamis, 18 Agustus.
Dalam rangka mendukung hilirisasi mineral di dalam negeri, lanjut Arifin, penguasaan teknologi mineral di dalam negeri harus terus diupayakan untuk mendukung pengembangan industri hilir di masa mendatang. Kerja sama dan kolaborasi dengan industri atau institusi mineral luar negeri yang telah memiliki teknologi maju terus dilakukan sebagai bagian dari upaya penguasaan teknologi.
Seperti diketahui, sumber daya mineral merupakan salah satu komoditas paling strategis di Indonesia.
Potensinya yang sangat besar membuat sumber daya mineral memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Industri pertambangan mineral yang sebagian besar berada di daerah terpencil juga telah mendorong pertumbuhan beberapa daerah sehingga dapat berkembang pesat menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru.
Pemerintah juga terus mendorong eksplorasi yang lebih masif untuk mendapatkan sumber bahan baku yang lebih baik.
“Tantangannya adalah bagaimana kita bisa mengeksplorasi sumber-sumber mineral, terutama mineral-mineral kritis, dengan konfigurasi geologi yang ada di Indonesia,” tambah Arifin.
Untuk itu, ketersediaan bahan baku mineral khususnya mineral kritis secara berkelanjutan perlu didukung dengan berbagai upaya lain, seperti meningkatkan kegiatan eksplorasi dan menerapkan tenaga yang kompeten dalam mengestimasi sumber daya dan cadangan, melakukan inventarisasi mineral yang mengandung logam tanah jarang dan melakukan pengawasan terhadap pengelolaan mineral.
Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral, Batubara dan Panas Bumi serta Peta Potensi Mineral, Batubara dan Panas Bumi terbaru yang dikeluarkan oleh Badan Geologi dapat menjadi acuan bagi semua pihak.
“Data-data tersebut harus ditindaklanjuti dengan melakukan kajian khusus untuk mengungkap lebih detail potensi mineral kritis di beberapa lokasi di Indonesia,” ujar Arifin.
Senada dengan Menteri Arifin, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono, mengatakan bahwa mineral kritis memiliki peran penting dalam transisi energi Indonesia dari energi fosil ke energi terbarukan.
“Mineral mempengaruhi suksesi dan transisi energi di Indonesia. Mineral sangat berpengaruh terhadap suksesi hilir dan transisi energi di Indonesia. Mineral-mineral kritis memiliki peran penting dalam rencana transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan,” ujar Eko.
Logam tanah jarang dan logam kritis lainnya, lanjut Eko, merupakan bahan baku utama dalam pembuatan baterai listrik, komponen sel surya, dan teknologi tenaga angin, di mana kedua teknologi terbarukan tersebut merupakan yang paling banyak diadopsi.
Disadur dari: voi.id