Keselamatan Kerja

Panduan Keselamatan dalam Ruang Terbatas oleh N.C. Department of Labor

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Ruang terbatas (confined spaces) merupakan area kerja yang memiliki risiko tinggi bagi pekerja, terutama karena keterbatasan ventilasi, akses yang sempit, dan potensi paparan gas beracun atau bahaya lainnya. Pentingnya pemahaman terhadap risiko di ruang terbatas serta penerapan prosedur keselamatan yang ketat guna mengurangi angka kecelakaan kerja. Dengan mengikuti pedoman yang disajikan dalam paper ini, perusahaan dapat mengembangkan sistem keselamatan yang lebih efektif dan melindungi pekerja dari potensi bahaya.

Data dari berbagai sumber, termasuk:

Menurut definisi dari NIOSH, ruang terbatas dikategorikan sebagai area kerja yang memiliki akses masuk dan keluar yang terbatas, tidak dirancang untuk hunian pekerja dalam jangka panjangdan berpotensi mengandung atmosfer berbahaya seperti gas beracun atau kadar oksigen yang tidak memadai.

Contoh ruang terbatas meliputi:

  • Tangki penyimpanan dan silo.
  • Saluran pembuangan dan terowongan bawah tanah.
  • Boiler dan ventilasi industri.
  • Ruang sempit di kapal dan pesawat.

Ruang terbatas dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi Permit-Required Confined Space (PRCS) jika memiliki bahaya tambahan seperti:

  • Atmosfer beracun atau mudah terbakar.
  • Potensi terjebak atau terperangkap.
  • Material yang dapat menyebabkan pekerja tenggelam atau tertimbun.

Berdasarkan data NIOSH, dalam rentang tahun 1983 hingga 1993 terdapat 480 kematian akibat kecelakaan di ruang terbatas dalam 423 insiden berbeda. Dari jumlah 109 pekerja tewas dalam 70 investigasi kecelakaan besar. Lebih dari 60% korban merupakan penyelamat yang mencoba membantu pekerja yang terjebak. OSHA memperkirakan bahwa di sektor industri umum, terdapat sekitar 239.000 tempat kerja dengan ruang terbatas, yang mempekerjakan 12 juta pekerja. Setiap tahun, sekitar 1,6 juta pekerja memasuki ruang terbatas, sehingga penting bagi perusahaan untuk memiliki sistem keselamatan yang kuat guna mengurangi potensi kecelakaan.

Berbagai bahaya utama yang terdapat di ruang terbatas, termasuk:

Atmosfer beracun dan kekurangan oksigen, Atmosfer dengan kadar oksigen di bawah 19,5% dapat menyebabkan sesak napas dan kehilangan kesadaran. Gas beracun seperti hidrogen sulfida (H₂S) dan karbon monoksida (CO) dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Risiko kebakaran dan ledakan, Beberapa ruang terbatas mengandung gas mudah terbakar, seperti metana dan uap bahan kimia, yang dapat menyebabkan ledakan. Bahaya fisik, Terjebak dalam ruang sempit atau tertimbun oleh material seperti pasir atau biji-bijian. Permukaan licin atau basah yang meningkatkan risiko tergelincir. Suhu ekstrem yang menyebabkan dehidrasi atau sengatan panas.

Beberapa contoh kecelakaan kerja yang terjadi akibat kurangnya kepatuhan terhadap prosedur keselamatan:

  1. Kecelakaan di tangki penyimpanan
  2. Terowongan bawah tanah

Beberapa rekomendasi utama:

  1. Menerapkan Prosedur Perizinan yang Ketat
  2. Meningkatkan Deteksi Atmosfer
  3. Pelatihan dan Simulasi Keselamatan
  4. Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang Memadai
  5. Penerapan Teknologi dalam Pengawasan

A Guide to Safety in Confined Spaces oleh N.C. Department of Labor memberikan panduan komprehensif mengenai prosedur keselamatan dalam ruang terbatas. Dengan memahami klasifikasi ruang terbatas, bahaya yang ada, serta metode mitigasi yang efektif, perusahaan dapat mengurangi angka kecelakaan kerja yang terkait dengan pekerjaan di ruang terbatas. Implementasi prosedur perizinan yang ketat, deteksi atmosfer yang lebih baik, serta pelatihan dan teknologi pengawasan yang lebih maju merupakan langkah kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman. Dengan menerapkan rekomendasi ini, diharapkan angka kecelakaan di ruang terbatas dapat dikurangi secara signifikan.

Sumber Artikel

North Carolina Department of Labor. (2014). A Guide to Safety in Confined Spaces.

Selengkapnya
Panduan Keselamatan dalam Ruang Terbatas oleh N.C. Department of Labor

Industri Manufaktur

Peran Machine Guarding dalam Meningkatkan Budaya Keselamatan di Industri

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan kerja di industri manufaktur menjadi perhatian utama dalam mencegah kecelakaan akibat pengoperasian mesin.  Penelitian ini dilakukan melalui inspeksi menyeluruh terhadap mesin-mesin di area industri, dengan fokus pada tiga aspek utama:

Evaluasi mekanis: Menilai potensi bahaya dari bagian mesin yang bergerak, Evaluasi kelistrikan: Memastikan sistem interlock dan sakelar pengaman berfungsi dengan baik Dan Evaluasi lingkungan kerja: Mengidentifikasi faktor eksternal seperti tata letak mesin dan pencahayaan.

Hasil penelitian mengklasifikasikan faktor penyebab bypassing perlindungan mesin ke dalam lima kategori:

Ergonomi: Kesulitan dalam menggunakan pelindung mesin yang tidak dirancang dengan baik. Produktivitas: Tekanan untuk meningkatkan efisiensi sering kali membuat pekerja mengabaikan pengaman. Keandalan Perangkat Keselamatan: Sistem keamanan yang sering gagal atau menyebabkan keterlambatan produksi. Perilaku Pekerja: Kurangnya kesadaran dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Lingkungan Kerja: Budaya perusahaan yang tidak menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.

Dalam penelitian ini, berbagai jenis mesin industri diuji untuk menilai efektivitas sistem pengaman yang digunakan. Beberapa temuan utama meliputi:

70% kecelakaan kerja terjadi akibat bypassing perangkat keselamatan. 40% pekerja mengaku pernah melewati pengaman mesin untuk meningkatkan kecepatan kerja. 35% dari total insiden kecelakaan di industri terjadi di area dengan sistem keamanan yang tidak optimal. Studi kasus ini menunjukkan bahwa meskipun banyak perusahaan telah menerapkan sistem pengaman, masih terdapat tantangan dalam memastikan bahwa pekerja benar-benar menggunakannya.

Penelitian ini mengidentifikasi beberapa kategori bahaya utama yang harus diatasi melalui sistem perlindungan yang efektif:

Bahaya mekanis: Termasuk risiko tertarik, terjepit, atau terkena benda tajam. Bahaya kelistrikan: Seperti sengatan listrik akibat kabel terbuka atau sistem interlock yang tidak berfungsi. Bahaya lingkungan: Termasuk pencahayaan buruk dan tata letak yang tidak ergonomis.

Kelebihan 

Menyediakan klasifikasi penyebab bypassing sistem keamanan mesin yang jelas. Studi kasus konkret memberikan gambaran nyata tentang tantangan dalam implementasi sistem keselamatan. Fokus pada budaya keselamatan menunjukkan bahwa faktor manusia sama pentingnya dengan teknologi pengaman.

Kekurangan 

Tidak membahas strategi yang lebih mendalam dalam perubahan budaya keselamatan di perusahaan. Tidak ada perbandingan langsung dengan metode perlindungan mesin di industri lain atau di negara dengan regulasi keselamatan yang berbeda. Minimnya analisis biaya terhadap implementasi sistem keamanan yang lebih ketat.

Meskipun demikian, penelitian ini tetap menjadi referensi yang berharga bagi perusahaan yang ingin meningkatkan keselamatan kerja dengan pendekatan holistik.

Untuk meningkatkan efektivitas sistem keselamatan mesin, beberapa langkah dapat diambil:

  1. Desain Pengaman yang Lebih Ergonomis, Mengembangkan sistem pengaman yang lebih mudah digunakan tanpa mengurangi efisiensi kerja. Menggunakan material transparan atau sistem pencahayaan tambahan untuk meningkatkan visibilitas.
  2. Peningkatan Kepatuhan Pekerja melalui Pelatihan Keselamatan, Mengadakan sesi pelatihan rutin untuk meningkatkan kesadaran pekerja tentang pentingnya sistem pengaman. Melibatkan pekerja dalam proses desain ulang sistem keselamatan agar sesuai dengan kebutuhan operasional.
  3. Penggunaan Teknologi untuk Meningkatkan Keamanan, Mengadopsi sistem sensor pintar yang dapat mendeteksi bypassing secara otomatis. Memanfaatkan AI dan IoT untuk memonitor penggunaan sistem pengaman secara real-time.
  4. Evaluasi dan Audit Keselamatan Berkala, Melakukan inspeksi rutin untuk memastikan bahwa semua sistem keamanan berfungsi dengan baik. Menganalisis data kecelakaan dan near-miss untuk mengidentifikasi pola risiko yang perlu ditangani segera.

Dengan menerapkan strategi ini, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan mengurangi risiko kecelakaan akibat pengoperasian mesin yang tidak aman.

Pentingnya sistem perlindungan mesin dalam meningkatkan keselamatan kerja dan mengurangi bypassing perangkat keamanan. Dengan memahami faktor penyebab bypassing dan menerapkan strategi mitigasi yang tepat, perusahaan dapat secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan di tempat kerja.

Meskipun masih ada tantangan dalam implementasi yang efektif, kombinasi antara desain pengaman yang ergonomis, pelatihan pekerja, serta pemanfaatan teknologi modern dapat membantu menciptakan budaya keselamatan yang lebih baik di industri manufaktur.

Sumber Artikel

Panneerselvam, N., & Vignesh, P. (2024). Machine Guarding – To Improve Safety Culture Driving Machine Safety. Journal of Xi’an Shiyou University, Natural Science Edition, 17(3), 58-68.

Selengkapnya
Peran Machine Guarding dalam Meningkatkan Budaya Keselamatan di Industri

Industri Manufaktur

Meningkatkan Keselamatan di Industri Manufaktur Melalui Kesadaran dan Pelatihan

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan kerja merupakan aspek yang sangat penting dalam lingkungan manufaktur. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan sampel sebanyak 180 pekerja lantai produksi di beberapa industri manufaktur. Data dikumpulkan melalui:

Kuesioner yang mencakup aspek kesadaran keselamatan, kepatuhan terhadap prosedur, dan persepsi pekerja mengenai kebijakan keselamatan. Observasi langsung terhadap perilaku pekerja dan penerapan langkah-langkah keselamatan. Analisis data sekunder dari laporan kecelakaan dan kebijakan keselamatan perusahaan.

Teknik Analisis Data

Persentase dan analisis deskriptif digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran pekerja terhadap keselamatan. Analisis regresi dilakukan untuk menilai hubungan antara pelatihan keselamatan dan tingkat kecelakaan di tempat kerja. Perbandingan antar industri untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan keselamatan yang diterapkan.

Survei menunjukkan bahwa:

71% pekerja menganggap keselamatan sebagai prioritas utama di tempat kerja. 61% telah menerima pelatihan keselamatan untuk menangani situasi darurat. 52% merasa puas dengan peralatan pelindung diri (PPE) yang disediakan perusahaan. 68% memahami kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang diterapkan di tempat kerja. 75% mengetahui lokasi alat pemadam kebakaran, namun hanya 64% yang benar-benar memahami cara menggunakannya.

Sebuah pabrik manufaktur otomotif yang menerapkan kebijakan keselamatan berbasis pelatihan intensif mengalami:

Penurunan insiden kecelakaan sebesar 35% dalam satu tahun. Peningkatan laporan nyaris celaka hingga 830 kasus, yang menunjukkan peningkatan kesadaran pekerja terhadap potensi bahaya. 104.167 tindakan tidak aman berhasil diidentifikasi dan diperbaiki, berkat pelatihan yang lebih baik.

Namun, meskipun terdapat peningkatan signifikan dalam kesadaran keselamatan, 33% pekerja masih merasa tidak sepenuhnya aman saat bekerja, yang menunjukkan adanya celah dalam implementasi kebijakan keselamatan.

Faktor-Faktor Penyebab Kecelakaan

Menurut penelitian ini, penyebab utama kecelakaan kerja di industri manufaktur meliputi:

Perilaku tidak aman pekerja (88% dari total kecelakaan, berdasarkan teori Heinrich). Kondisi kerja yang tidak aman seperti tata letak yang buruk dan pencahayaan yang kurang memadai. Kurangnya kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, terutama dalam penggunaan PPE dan alat pemadam kebakaran. Kurangnya pengawasan dari manajemen, yang menyebabkan rendahnya disiplin pekerja dalam menerapkan prosedur keselamatan.

Kelebihan 

Memberikan wawasan tentang pentingnya kesadaran keselamatan di industri manufaktur. Menggunakan data empiris yang kuat dari survei dan observasi. Studi kasus memberikan bukti nyata bahwa pelatihan keselamatan dapat mengurangi kecelakaan kerja.

Kekurangan 

Tidak membahas dampak ekonomi dari kecelakaan kerja bagi perusahaan. Tidak membandingkan efektivitas kebijakan keselamatan di berbagai sektor industri. Tidak menyoroti peran teknologi seperti AI dan IoT dalam meningkatkan keselamatan kerja.

Rekomendasi untuk Implementasi Lebih Lanjut

  1. Peningkatan Frekuensi Pelatihan Keselamatan
    • Meningkatkan sesi pelatihan interaktif dengan simulasi kondisi darurat.
    • Melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas pelatihan yang diberikan.
  2. Penggunaan Teknologi untuk Pemantauan Keselamatan
    • Menggunakan sensor IoT untuk mendeteksi lingkungan kerja yang berbahaya.
    • Memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis pola kecelakaan dan memberikan peringatan dini.
  3. Peningkatan Keterlibatan Manajemen dalam Keselamatan
    • Mewajibkan manajemen puncak untuk terlibat langsung dalam inspeksi keselamatan.
    • Memberikan insentif kepada pekerja yang menunjukkan kepatuhan tinggi terhadap prosedur keselamatan.
  4. Audit Keselamatan yang Lebih Ketat
    • Melakukan audit internal setiap bulan untuk mengevaluasi kepatuhan terhadap kebijakan K3.
    • Menyediakan jalur pelaporan anonim bagi pekerja untuk melaporkan potensi bahaya tanpa takut adanya konsekuensi negatif.

Pemahaman yang kuat tentang pentingnya kesadaran keselamatan dalam industri manufaktur. Meskipun banyak pekerja sudah memahami pentingnya K3, masih ada tantangan dalam memastikan penerapan kebijakan keselamatan yang konsisten.

Peningkatan pelatihan, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan manajemen dapat menjadi solusi untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif. Dengan pendekatan yang lebih komprehensif, industri manufaktur dapat mencapai tingkat keselamatan yang lebih tinggi dan mengurangi risiko kecelakaan secara signifikan.

Sumber Artikel

Rajuskar, C. S., & Warule, S. (2020). Safety Environment in Manufacturing Industry. International Journal of Engineering Research & Technology (IJERT), 9(3), 523-526.

Selengkapnya
Meningkatkan Keselamatan di Industri Manufaktur Melalui Kesadaran dan Pelatihan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sinergi Manajemen dan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) di Era Digital

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek penting dalam dunia industri yang terus berkembang. Dengan kemajuan teknologi dan semakin kompleksnya lingkungan kerja, perusahaan perlu mengadopsi strategi K3 yang terintegrasi dengan manajemen bisnis untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, produktif, dan berkelanjutan. Paper berjudul “New Safety Paradigm: Management and Occupational Health and Safety (OHS) Synergy in the Digital Era” oleh Andika Prasetya Nugraha, Ice Irawati, Mulyadi, Septa Diana Nabella, dan Nurmayunita menyoroti bagaimana integrasi K3 dengan strategi manajemen dapat meningkatkan efisiensi operasional dan keberlanjutan bisnis.

Perusahaan dapat menyinergikan K3 dengan strategi manajemen menggunakan pendekatan berbasis teknologi dan budaya keselamatan kerja. Beberapa aspek utama yang dikaji meliputi:

  • Tantangan dalam implementasi K3 di era digital.
  • Integrasi K3 dengan strategi manajemen perusahaan.
  • Pemanfaatan teknologi digital dalam meningkatkan keselamatan kerja.
  • Studi kasus perusahaan yang berhasil mengadopsi pendekatan ini.

Penelitian ini menyoroti bahwa meskipun banyak perusahaan telah menerapkan program K3, namun sering kali masih dianggap sebagai fungsi yang terpisah, sehingga tingkat kecelakaan dan penyakit akibat kerja tetap tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi sinergi K3 dan manajemen secara efektif mengalami peningkatan produktivitas dan pengurangan insiden kecelakaan kerja. Beberapa temuan penting dalam penelitian ini meliputi:

  • Perusahaan yang mengadopsi sistem K3 berbasis digital mengalami penurunan kecelakaan kerja hingga 40% dalam lima tahun terakhir.
  • Pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam pemantauan keselamatan kerja meningkatkan deteksi dini risiko kecelakaan hingga 60%.
  • Pelatihan berbasis realitas virtual (VR) untuk keselamatan kerja meningkatkan tingkat retensi pengetahuan pekerja sebesar 35% dibandingkan metode pelatihan konvensional.
  • Perusahaan yang memiliki budaya keselamatan yang kuat menunjukkan peningkatan produktivitas sebesar 20% dibandingkan perusahaan dengan pendekatan K3 yang konvensional.

Penelitian ini memberikan wawasan mendalam mengenai bagaimana strategi K3 dapat diintegrasikan dengan manajemen bisnis untuk mencapai efisiensi operasional dan keberlanjutan. Beberapa implikasi utama dari penelitian ini adalah:

  1. Pentingnya Integrasi K3 dengan Manajemen Bisnis
    • Perusahaan harus menganggap K3 sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan hanya sebagai kepatuhan terhadap regulasi.
    • Investasi dalam keselamatan kerja dapat mengurangi biaya kompensasi kecelakaan dan meningkatkan profitabilitas.
  2. Pemanfaatan Teknologi untuk Keselamatan Kerja
    • Penggunaan sensor IoT dan analitik data dapat membantu dalam mendeteksi potensi bahaya sebelum insiden terjadi.
    • Sistem manajemen K3 berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat memberikan peringatan dini untuk mengurangi risiko kecelakaan.
  3. Penguatan Budaya Keselamatan
    • Kepemimpinan yang kuat dalam menerapkan budaya keselamatan dapat meningkatkan kepatuhan pekerja terhadap prosedur keselamatan.
    • Program pelatihan berbasis teknologi seperti VR dan simulasi dapat meningkatkan efektivitas dalam membangun kesadaran keselamatan kerja.
  4. Dampak terhadap Produktivitas dan Keberlanjutan Bisnis
    • Perusahaan yang mengutamakan keselamatan kerja cenderung memiliki tingkat absensi yang lebih rendah dan tingkat keterlibatan pekerja yang lebih tinggi.
    • Integrasi K3 dalam strategi keberlanjutan dapat meningkatkan citra perusahaan dan menarik lebih banyak investor.

Sinergi antara K3 dan strategi manajemen bisnis sangat penting dalam menghadapi tantangan keselamatan kerja di era digital. Dengan menerapkan teknologi modern dan membangun budaya keselamatan yang kuat, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.

Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengeksplorasi lebih dalam bagaimana kecerdasan buatan dan analitik data dapat dioptimalkan dalam strategi K3 untuk meningkatkan deteksi dini risiko keselamatan.

Sumber Artikel:
Nugraha, A. P., Irawati, I., Mulyadi, M., Nabella, S. D., & Nurmayunita, N. (2024). New Safety Paradigm: Management and Occupational Health and Safety (OHS) Synergy in the Digital Era. Postgraduate Management Journal, 4(1).

 

Selengkapnya
Sinergi Manajemen dan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) di Era Digital

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Occupational Safety and Health (OSH) di Norstat Finland Oy

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan dan kesehatan kerja (OSH) merupakan faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan aman.

Kondisi OSH di Norstat Finland Oy

  • Norstat telah menerapkan kebijakan keselamatan kerja yang sesuai dengan regulasi Finlandia.
  • Beberapa aspek OSH masih memerlukan perbaikan, terutama terkait ergonomi, tingkat kebisingan, dan kesehatan mental karyawan.
  • Pelatihan OSH dilakukan secara berkala, namun masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman karyawan mengenai pentingnya keselamatan kerja.

Isu Ergonomi dan Kesehatan Fisik

  • Kursi kerja tidak ergonomis, menyebabkan gangguan pada punggung dan postur tubuh karyawan.
  • Penggunaan headphone dalam jangka panjang dapat menyebabkan ketidaknyamanan.
  • Kurangnya pencahayaan alami di area kerja juga berdampak pada kesehatan mata karyawan.

Dampak Kebisingan di Lingkungan Kerja

  • Norstat memiliki lingkungan kantor terbuka (open office), yang meningkatkan tingkat kebisingan.
  • Pasar yang berada di dekat kantor sering menyebabkan gangguan kebisingan eksternal.
  • Solusi yang diterapkan: penggunaan kipas angin dan pemanas portable untuk kenyamanan suhu di ruangan kerja.

Manajemen Stres dan Kesehatan Mental

  • Karyawan sering mengalami stres akibat tekanan pekerjaan, terutama bagi pewawancara telepon.
  • Komentar negatif dari responden survei dapat berdampak pada kesehatan mental karyawan.
  • Perusahaan telah menyediakan layanan kesehatan kerja, tetapi belum ada kebijakan khusus mengenai dukungan psikologis bagi karyawan.

mplementasi Kebijakan OSH di Norstat

Salah satu rekomendasi utama dalam paper ini adalah pembuatan ruang tenang (quiet room) untuk karyawan yang membutuhkan istirahat dari lingkungan kerja yang bising. Beberapa perusahaan di sektor yang sama telah mengadopsi kebijakan ini dan mengalami peningkatan produktivitas hingga 15% setelah penerapan ruang tenang.

Dampak Ergonomi Terhadap Produktivitas

Dalam sebuah penelitian terkait, pergantian kursi dengan model ergonomis di sebuah perusahaan teknologi menyebabkan penurunan keluhan nyeri punggung sebesar 30% dalam enam bulan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa investasi dalam peralatan kerja yang lebih baik dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Meningkatkan Ergonomi di Tempat Kerja

  • Mengganti kursi kerja dengan model ergonomis yang lebih mendukung postur tubuh.
  • Menyediakan instruksi penggunaan workstation untuk mengurangi risiko cedera akibat postur kerja yang salah.

Pengelolaan Kebisingan

  • Menerapkan kebijakan penggunaan headphone peredam bising.
  • Membuat partisi akustik untuk mengurangi kebisingan dalam ruang kerja terbuka.
  • Menjadwalkan waktu kerja fleksibel agar karyawan dapat memilih jam kerja yang lebih tenang.

Meningkatkan Kesehatan Mental Karyawan

  • Menyediakan sesi konseling rutin bagi karyawan yang mengalami stres kerja.
  • Menerapkan pelatihan manajemen stres sebagai bagian dari pelatihan OSH reguler.
  • Memungkinkan jam kerja yang lebih fleksibel untuk mengurangi tekanan kerja yang berlebihan.

Pentingnya penerapan OSH yang lebih baik di lingkungan kerja modern. Norstat Finland Oy telah menerapkan kebijakan keselamatan kerja yang sesuai dengan standar Finlandia, tetapi masih terdapat ruang untuk perbaikan, terutama dalam aspek ergonomi, pengelolaan kebisingan, dan kesehatan mental. Dengan mengadopsi rekomendasi yang diusulkan, perusahaan dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan serta produktivitas secara keseluruhan.

Sumber: Kilpinen, Salla-Riina. (2019). Occupational Safety and Health: Case Study of Norstat Finland Oy. Lahti University of Applied Sciences.

Selengkapnya
Occupational Safety and Health (OSH) di Norstat Finland Oy

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Occupational Health and Safety in the Workplace: A Case of the Central Administration of the University for Development Studies, Tamale, Ghana

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di tempat kerja telah menjadi perhatian global karena dampaknya yang signifikan terhadap produktivitas, kesejahteraan karyawan, dan ekonomi nasional.

Menurut WHO (1999), kesehatan adalah "keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap, bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan." Sementara itu, International Labour Organization (ILO) mendefinisikan K3 sebagai disiplin dengan ruang lingkup luas yang mencakup promosi, pencegahan, perlindungan, dan adaptasi lingkungan kerja terhadap kebutuhan fisik dan mental pekerja.

Beberapa tantangan dalam penerapan K3 di negara-negara berkembang, termasuk Ghana, antara lain:

  • Kurangnya kebijakan K3 yang komprehensif
  • Infrastruktur dan pendanaan yang minim
  • Kurangnya tenaga ahli K3
  • Kesadaran yang rendah di kalangan pekerja dan manajemen

Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang aman dan sehat berdampak positif pada produktivitas, mengurangi biaya kecelakaan kerja, dan meningkatkan kepuasan serta loyalitas pekerja.

Penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara terhadap 120 pegawai administrasi di UDS Tamale. Wawancara ini bertujuan untuk mengeksplorasi:

  • Pemahaman karyawan tentang K3
  • Dampak kondisi kerja terhadap produktivitas
  • Pendapat manajemen tentang kesehatan dan keselamatan kerja

Pemahaman Karyawan tentang K3
Mayoritas responden (95,8%) memahami bahwa lingkungan kerja yang sehat dan aman berkontribusi pada kesejahteraan mereka. Namun, beberapa responden mengeluhkan kurangnya kebijakan formal K3 di UDS. Salah satu temuan menarik adalah bahwa pekerja hanya mengasosiasikan K3 dengan layanan medis, seperti fasilitas pengobatan yang disediakan universitas, tanpa mempertimbangkan aspek preventif lainnya.

Dampak Lingkungan Kerja terhadap Produktivitas
Semua responden (100%) sepakat bahwa kondisi kerja yang buruk berdampak negatif pada produktivitas. Beberapa contoh kasus yang diangkat dalam penelitian ini meliputi:

  • Kecelakaan kerja: Beberapa pegawai mengalami cedera akibat tergelincir atau jatuh di tempat kerja, yang menyebabkan ketidakhadiran kerja dalam jangka waktu lama.
  • Ergonomi yang buruk: Duduk dalam waktu lama tanpa peregangan menyebabkan nyeri punggung dan menurunkan produktivitas.
  • Kualitas udara dan lingkungan: Bau tak sedap dari selokan serta ventilasi yang buruk berkontribusi pada ketidaknyamanan pekerja.
  • Masalah listrik: Beberapa kantor mengalami gangguan listrik yang menghambat pekerjaan administratif.

Perspektif Manajemen tentang K3
Sebagian besar manajemen mengakui bahwa UDS belum memiliki kebijakan K3 yang komprehensif. Saat terjadi kecelakaan, biasanya dibentuk tim ad hoc untuk menyelidiki insiden tersebut, namun tidak ada upaya preventif yang sistematis. Beberapa rekomendasi dari manajemen termasuk penyediaan fasilitas kesehatan di dalam kampus dan peningkatan kesadaran tentang pentingnya keselamatan kerja.

Kurangnya Implementasi Kebijakan K3 yang Sistematis
Walaupun studi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pegawai memahami pentingnya K3, tidak adanya kebijakan yang sistematis menjadi tantangan utama. Dalam konteks global, banyak institusi pendidikan tinggi telah menerapkan kebijakan K3 yang mencakup pelatihan keselamatan, audit lingkungan kerja, serta program kesehatan dan kesejahteraan bagi staf.

Dampak Ekonomi dari Kecelakaan Kerja
WHO (2004) memperkirakan bahwa kurangnya perhatian terhadap K3 dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga 20% dari PDB nasional. Di UDS, pengeluaran untuk biaya pengobatan pegawai yang mengalami kecelakaan kerja cukup tinggi, yang seharusnya bisa diminimalisir dengan langkah-langkah preventif.

Dibutuhkan Pendekatan Holistik
Keselamatan kerja bukan hanya tanggung jawab manajemen, tetapi juga karyawan. Oleh karena itu, perlu ada sinergi antara pihak universitas dan pegawai dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman. Pelatihan rutin, inspeksi keselamatan, serta pemberian insentif bagi pegawai yang menerapkan protokol keselamatan dengan baik dapat menjadi solusi.

Rekomendasi yang dapat diimplementasikan oleh UDS untuk meningkatkan K3 meliputi:

  1. Penyusunan Kebijakan K3 yang Komprehensif

    • Membentuk komite khusus K3 untuk merancang dan mengawasi implementasi kebijakan keselamatan.
    • Menyediakan panduan keselamatan bagi pegawai dan mahasiswa.
  2. Peningkatan Infrastruktur dan Fasilitas Pendukung

    • Membangun klinik atau infirmary di kampus untuk memberikan layanan medis darurat.
    • Memastikan fasilitas kerja seperti AC, pencahayaan, dan sistem listrik dalam kondisi baik.
  3. Pelatihan dan Kesadaran K3

    • Mengadakan pelatihan keselamatan kerja secara berkala.
    • Memasukkan aspek K3 dalam orientasi pegawai baru.
  4. Evaluasi dan Pengawasan Rutin

    • Melakukan audit K3 secara berkala.
    • Mengembangkan sistem pelaporan kecelakaan kerja yang transparan dan responsif.

Pentingnya penerapan K3 di lingkungan akademik seperti UDS Tamale. Meski pegawai memiliki pemahaman yang cukup baik tentang pentingnya K3, universitas masih menghadapi tantangan besar dalam implementasi kebijakan yang sistematis dan efektif. Investasi dalam kebijakan K3 tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan pekerja tetapi juga berdampak positif terhadap produktivitas dan efisiensi institusi secara keseluruhan.

Sumber Artikel

Kuranchie-Mensah, E. B., & Mahama, V. A. (2021). Occupational Health and Safety in the Workplace: A Case of the Central Administration of the University for Development Studies, Tamale, Ghana. The International Journal of Business & Management, 9(7).

Selengkapnya
Occupational Health and Safety in the Workplace: A Case of the Central Administration of the University for Development Studies, Tamale, Ghana
« First Previous page 94 of 865 Next Last »