Keselamatan Kebakaran

Kesadaran dan Praktik Keselamatan Kebakaran di Kalangan Siswa STEM di Sekolah Menengah Publik di Filipina

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan kebakaran merupakan bagian penting dalam mitigasi bencana, namun sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam sistem pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, komparatif, dan korelasional untuk menilai kesadaran dan praktik keselamatan kebakaran di kalangan siswa kelas 12 STEM. Sampel penelitian terdiri dari 94 siswa yang dipilih secara acak dari sekolah menengah di Filipina bagian tengah. Metode pengumpulan data meliputi kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, serta analisis statistik menggunakan Mann-Whitney U test dan Spearman Rank correlation.

Variabel yang Dikaji

  • Kesadaran sebelum, selama, dan setelah kebakaran
  • Praktik keselamatan kebakaran di sekolah
  • Perbandingan berdasarkan jenis kelamin dan pendapatan keluarga
  • Hubungan antara kesadaran dan praktik keselamatan kebakaran

Tingkat Kesadaran Keselamatan Kebakaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan kebakaran dengan nilai rata-rata kesadaran sebesar 4,46 (SD=0,52) dari skala 5. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kesadaran keselamatan kebakaran berdasarkan jenis kelamin dan pendapatan keluarga, yang menunjukkan bahwa faktor demografis tidak berpengaruh besar terhadap pemahaman siswa mengenai keselamatan kebakaran.

Meskipun kesadaran siswa cukup tinggi, praktik keselamatan kebakaran yang mereka lakukan masih perlu ditingkatkan. Nilai rata-rata praktik keselamatan kebakaran adalah 4,14 (SD=0,57). Beberapa temuan utama:

  • Siswa memahami pentingnya pemadaman listrik sebelum meninggalkan kelas.
  • Namun, dalam simulasi kebakaran, banyak siswa tidak mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.
  • Fire drill kurang efektif karena tidak melibatkan penggunaan alat pemadam kebakaran.

Hubungan antara Kesadaran dan Praktik Keselamatan Kebakaran

Terdapat korelasi signifikan antara kesadaran dan praktik keselamatan kebakaran dengan nilai korelasi rs = 0,625 (p=0,000). Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kesadaran lebih tinggi tentang keselamatan kebakaran cenderung lebih patuh dalam menerapkan prosedur keselamatan yang benar.

Data menunjukkan bahwa selama tahun ajaran 2009-2018, terdapat 15.662 insiden kebakaran di sekolah-sekolah Filipina, dengan mayoritas terjadi di wilayah Visayas. Salah satu penyebab utama kebakaran adalah kelalaian dalam penggunaan peralatan listrik dan kurangnya pemeliharaan terhadap bahan mudah terbakar. Insiden ini menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran dan praktik keselamatan kebakaran di lingkungan sekolah.

Kesimpulan

  1. Kesadaran keselamatan kebakaran di kalangan siswa STEM sangat tinggi, tetapi masih ada kesenjangan dalam praktik yang mereka terapkan.
  2. Tidak ada perbedaan signifikan dalam kesadaran dan praktik keselamatan kebakaran berdasarkan jenis kelamin atau pendapatan keluarga.
  3. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kesadaran dan praktik keselamatan kebakaran, yang menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran dapat mendorong praktik yang lebih baik.

Saran

  1. Peningkatan efektivitas fire drill, dengan menambahkan latihan penggunaan alat pemadam kebakaran.
  2. Meningkatkan sosialisasi tentang pentingnya mengikuti jalur evakuasi yang benar.
  3. Penggunaan teknologi seperti aplikasi edukasi kebakaran berbasis IoT untuk memperkuat kesadaran siswa.
  4. Kerja sama dengan otoritas pemadam kebakaran setempat untuk memberikan pelatihan langsung kepada siswa.

Sumber Artikel

Michelle Delaliarte, Joji Davila Linaugo, & Dennis Villasor Madrigal. Fire Safety Awareness and Practices of Science, Technology, Engineering, and Mathematics Students in a Philippine Public Secondary School. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, March 2024, 14(1), 175-188.

Selengkapnya
Kesadaran dan Praktik Keselamatan Kebakaran di Kalangan Siswa STEM di Sekolah Menengah Publik di Filipina

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Analisis Emergency Response Procedure dan Sistem Proteksi Kebakaran di Gedung Upper 2 Perusahaan Manufaktur Produksi Footwear

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan industri manufaktur merupakan aspek penting yang harus diperhatikan untuk mencegah kecelakaan kerja, termasuk kebakaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dengan petugas EHS Officer, serta analisis dokumen perusahaan. Standar yang digunakan meliputi NFPA 10 (2018), NFPA 72 (1995), NFPA 101 (1995), dan SNI 03-1735-2000. Evaluasi dilakukan terhadap organisasi tanggap darurat, prosedur ERP, latihan evakuasi (evacuation drill), serta sistem proteksi kebakaran seperti APAR dan hidran.

Gedung Upper 2 memiliki luas 6.136 m² dan terdiri dari dua area, yaitu produksi dan kantor. Area produksi memiliki risiko kebakaran sedang karena adanya bahan mudah terbakar seperti kulit, lem, dan cairan primer. Area kantor memiliki risiko kebakaran ringan. Menurut Kepmenaker No. 186 Tahun 1999, bangunan ini diklasifikasikan sebagai bahaya kebakaran Sedang II, yang berarti memerlukan sistem proteksi kebakaran yang memadai.

Perusahaan telah membentuk tim tanggap darurat dengan struktur organisasi yang terdiri dari Commander Emergency Preparedness & Response Plan sebagai pemimpin, Coordinator Fire Fighter & Combat Disaster untuk tim pemadam kebakaran, dan Coordinator Evacuation & Rescue untuk evakuasi serta pertolongan pertama. Tim ini sudah memiliki pelatihan khusus dan sertifikasi fire brigade, sesuai dengan regulasi K3 di Indonesia.

Prosedur ERP telah disusun dengan mengacu pada berbagai regulasi seperti UU No. 1/1970, Kepmenaker No. 186/1999, dan Permen PU No. 6/2008. Beberapa elemen penting dalam ERP meliputi sistem komunikasi darurat, identifikasi bahaya, struktur organisasi tanggap darurat, jalur evakuasi dan titik kumpul, pelatihan dan simulasi, serta pelaporan dan investigasi pasca kejadian. Namun, paper ini menemukan bahwa prosedur teknis pemadaman kebakaran belum disusun secara mendetail, sehingga perlu perbaikan.

Latihan evakuasi dilakukan rutin setiap 6 bulan sekali. Dari hasil simulasi pada tahun 2023, sebanyak 1.498 pekerja berhasil dievakuasi dalam 2 menit 49 detik, lebih cepat dari target 3 menit. Tidak ada kecelakaan atau korban luka selama simulasi. Namun, ditemukan satu alarm manual tidak berfungsi, sehingga perlu diperbaiki. Sistem proteksi kebakaran meliputi detektor asap, panas, dan beam detector yang sesuai dengan NFPA 72 (1995). Alarm terintegrasi dengan detektor dan diuji setiap 6 bulan. Namun, ditemukan alarm manual yang tidak berfungsi saat simulasi, yang perlu segera diperbaiki.

Gedung 2 memiliki 26 APAR jenis Dry Chemical Powder, yang sesuai untuk kebakaran kelas A (bahan padat) dan kelas C (listrik). Berdasarkan standar NFPA 10 (2018), jumlah dan distribusi APAR di gedung ini sudah memenuhi syarat. Gedung ini memiliki 4 hidran indoor dan 7 hidran outdoor, yang sesuai dengan standar NFPA 14 (1995) dan sudah ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau tanpa terhalang. Jalan keluar dari bangunan tersedia di tiga lokasi berbeda. Koridor evakuasi tidak terhalang oleh benda lain. Rute evakuasi dibuat menggunakan stiker fluoresen agar tetap terlihat dalam kondisi gelap. Titik kumpul telah disediakan di dua lokasi yang aman dari reruntuhan. Emergency lamp tersedia di tangga dan exit.

Kesimpulan

  1. Prosedur tanggap darurat sudah baik, namun perlu penambahan instruksi teknis pemadaman kebakaran.
  2. Sistem proteksi kebakaran cukup memadai, tetapi satu alarm manual perlu diperbaiki.
  3. Sarana penyelamatan jiwa sudah sesuai standar, sehingga mendukung evakuasi aman dan cepat.

Saran

  1. Perusahaan harus menyusun instruksi teknis lebih mendetail tentang pemadaman api.
  2. Perbaikan alarm manual yang tidak berfungsi saat latihan evakuasi.
  3. Peningkatan frekuensi inspeksi dan pemeliharaan sistem proteksi kebakaran.

Sumber Artikel

Moch. Luqman Ashari, Aulia Yasfa Azzahra, Utsman Hanif Ramadhani, dan Moch Nehru Andhy Qirana. Analisis Emergency Response Procedure dan Sistem Proteksi Kebakaran di Gedung Upper 2 Perusahaan Manufaktur Produksi Footwear. IJESPG Journal, Vol. 1, No. 3 (2023).

Selengkapnya
Analisis Emergency Response Procedure dan Sistem Proteksi Kebakaran di Gedung Upper 2 Perusahaan Manufaktur Produksi Footwear

Limbah Berbahaya dan Beracun

Analisis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Laboratorium Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Dalam lingkungan akademik, laboratorium memiliki peran penting dalam penelitian dan pembelajaran. Namun, aktivitas laboratorium sering kali menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian ini mengidentifikasi berbagai jenis limbah B3 yang dihasilkan oleh laboratorium Fakultas MIPA UNS, termasuk:

  • Limbah Korosif: H2SO4, H3PO4, HCl, HNO3, dan NaOH.
  • Limbah Toksik: AgNO3, CuSO4, BaCl2, dan CaCl2.
  • Limbah Mudah Terbakar: Alkohol dan tembaga.
  • Limbah Mudah Teroksidasi: H2O2 dan H2SO4.

Limbah-limbah ini memiliki potensi bahaya yang tinggi, seperti menyebabkan iritasi, kerusakan organ, hingga reaksi eksplosif jika tidak ditangani dengan baik.

Laboratorium telah menerapkan strategi pengurangan limbah dengan membatasi penggunaan bahan kimia serta meminimalkan konsentrasi dan volume zat yang digunakan. Namun, efektivitas strategi ini masih perlu dievaluasi lebih lanjut. Limbah B3 disimpan dalam wadah khusus yang telah diberi label sesuai karakteristik bahannya. Beberapa permasalahan yang diidentifikasi adalah:

  • Label pada wadah penyimpanan mulai pudar, menyulitkan identifikasi limbah.
  • Penyimpanan masih dilakukan dalam satu ruangan dengan laboratorium, meningkatkan risiko kontaminasi.

Limbah yang telah dikumpulkan diserahkan kepada pihak ketiga, yaitu PT. Arah Environmental Indonesia, untuk dikelola lebih lanjut. Namun, dalam proses ini ditemukan bahwa:

  • Petugas yang menangani limbah tidak selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.
  • Ruang penyimpanan limbah masih terbuka dan tidak memiliki perlindungan yang memadai.

Tantangan dalam Pengelolaan Limbah B3

  1. Kurangnya Infrastruktur Penyimpanan
    • Belum ada ruang khusus untuk menyimpan limbah B3 yang terpisah dari area laboratorium.
  2. Minimnya Kesadaran dan Pelatihan
    • Staf laboratorium dan mahasiswa masih kurang mendapatkan edukasi tentang manajemen limbah B3.
  3. Ketergantungan pada Pihak Ketiga
    • Fakultas belum memiliki fasilitas pengolahan limbah sendiri sehingga sepenuhnya bergantung pada jasa eksternal.

Rekomendasi untuk Perbaikan

  1. Pembangunan Ruang Penyimpanan Limbah Terpisah
    • Laboratorium sebaiknya memiliki fasilitas penyimpanan limbah yang memenuhi standar keamanan.
  2. Peningkatan Sistem Labeling dan Inventarisasi
    • Setiap wadah limbah harus diberi label yang tahan lama dan dilakukan pencatatan secara berkala.
  3. Pelatihan dan Edukasi Rutin
    • Program pelatihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi staf dan mahasiswa harus diperkuat.
  4. Pengurangan Ketergantungan pada Pihak Ketiga
    • UNS perlu mempertimbangkan pembangunan fasilitas pengolahan limbah sendiri untuk meningkatkan efisiensi dan kontrol.

Pengelolaan limbah B3 di Fakultas MIPA UNS telah memiliki sistem yang cukup baik, tetapi masih ada beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki, terutama dalam aspek penyimpanan, edukasi, dan infrastruktur. Dengan perbaikan yang tepat, UNS dapat menjadi model dalam pengelolaan limbah laboratorium yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sumber Artikel:

Wirodimurti, I., Yulia, I.T., Astikasari, L., Aprianto, M.K., Afifah, R. N., & Hermawan, W.G. "An Analysis of Hazardous and Toxic Waste Management (Case Study: Faculty of Mathematics and Natural Sciences Laboratory, Sebelas Maret University)." Journal of Global Environmental Dynamics, 3(1), 2022, 26-33.

Selengkapnya
Analisis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Laboratorium Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret

Industri Teknik

Pentingnya Penanganan Aman Bahan Kimia Berbahaya di Industri Teknik

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Industri teknik menggunakan berbagai bahan kimia berbahaya untuk produksi, analisis, dan penelitian. Risiko kecelakaan akibat kesalahan dalam penanganan bahan kimia dapat menyebabkan kerugian besar, baik dari segi keselamatan pekerja maupun dampak lingkungan. Faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan serta metode mitigasi yang dapat diterapkan.

Menurut penelitian ini, terdapat tiga penyebab utama kecelakaan kimia, yaitu:

  1. Kelalaian manusia – 54%
  2. Bahan yang sensitif terhadap gesekan – 31%
  3. Faktor lainnya – 15%

Jenis bahan kimia yang paling sering menyebabkan kecelakaan:

  • Bahan kimia padat – 83%
  • Gas berbahaya – 16%
  • Minyak dan bahan cair lainnya – 1%

Dari data ini, jelas bahwa sebagian besar kecelakaan terjadi akibat kesalahan manusia dan bahan kimia padat yang berbahaya.

Jenis Bahan Kimia Berbahaya dan Cara Penanganannya

1. Bahan Mudah Terbakar dan Meledak

Bahan kimia seperti hidrogen, asetilena, dan metana mudah terbakar dan berisiko meledak. Studi ini menyarankan beberapa langkah mitigasi, seperti:

  • Menghindari sumber api di area penyimpanan.
  • Menggunakan alat listrik tahan ledakan.
  • Menerapkan sistem perizinan kerja panas sebelum melakukan pekerjaan yang melibatkan api.
  • Menggunakan alat deteksi kebocoran gas untuk mencegah ledakan.

2. Bahan Kimia Korosif

Zat seperti asam sulfat dan fosfat dapat merusak logam dan menyebabkan kebocoran yang tidak terdeteksi. Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan:

  • Menggunakan pipa besi untuk menangani asam sulfat pekat.
  • Memastikan pemeriksaan berkala terhadap jalur pipa untuk mendeteksi kebocoran.
  • Menggunakan peralatan pelindung diri (APD) seperti sarung tangan dan pelindung mata.
  • Menerapkan prosedur netralisasi tumpahan dengan kapur sebelum dibersihkan dengan air.

3. Bahan Beracun

Bahan seperti sianida dan arsenik dapat masuk ke tubuh melalui udara, makanan, atau kontak langsung dengan kulit. Pencegahannya meliputi:

  • Labelisasi bahan kimia dalam bahasa lokal agar pekerja memahami bahaya.
  • Menggunakan pakaian pelindung khusus.
  • Menyediakan fasilitas pencucian darurat di tempat kerja.

Kecelakaan di India yang melibatkan bahan kimia berbahaya. Salah satu kecelakaan besar yang dicatat adalah ledakan akibat bahan peledak di industri petasan. Di India, industri petasan masih banyak yang mengandalkan tenaga manual, sehingga risiko ledakan akibat kesalahan manusia sangat tinggi. Beberapa upaya mitigasi yang disarankan:

  • Otomatisasi proses produksi untuk mengurangi kontak langsung dengan bahan peledak.
  • Pelatihan keselamatan yang ketat bagi pekerja.
  • Sistem inspeksi dan audit yang lebih ketat dari pemerintah.

Kondisi cuaca dapat memperburuk risiko bahan kimia berbahaya. Beberapa contoh:

  1. Kelembaban tinggi – Bahan seperti amonium nitrat sangat sensitif terhadap kelembaban, yang dapat meningkatkan risiko ledakan.
  2. Panas ekstrem – Banyak bahan kimia, seperti hidrogen sianida, mengalami dekomposisi beracun pada suhu tinggi.
  3. Banjir – Dapat menyebabkan kontaminasi air tanah oleh bahan kimia beracun.

Langkah-langkah mitigasi yang direkomendasikan dalam studi ini meliputi:

  • Penyimpanan bahan kimia di lingkungan yang stabil dengan kontrol suhu dan kelembaban.
  • Penggunaan wadah tahan air untuk mencegah tumpahan selama badai atau banjir.
  • Pengawasan berkala terhadap fasilitas penyimpanan untuk memastikan keamanannya.

Beberapa rekomendasi utama dari paper ini untuk mencegah kecelakaan bahan kimia di industri meliputi:

  1. Pelatihan Keselamatan Berkala – Memastikan pekerja memahami prosedur penanganan bahan kimia.
  2. Penerapan Teknologi Deteksi – Menggunakan alat deteksi kebocoran dan sensor gas berbahaya.
  3. Sistem Manajemen Keselamatan – Menetapkan kebijakan ketat untuk penyimpanan dan transportasi bahan kimia.
  4. Inspeksi dan Audit Berkala – Mendeteksi potensi bahaya sebelum kecelakaan terjadi.

Kecelakaan kimia di industri teknik dapat dikurangi dengan penerapan protokol keselamatan yang lebih ketat. Kesalahan manusia tetap menjadi faktor utama dalam sebagian besar insiden, sehingga pelatihan dan pengawasan sangat diperlukan. Paper ini juga menyoroti pentingnya penggunaan teknologi deteksi modern untuk meminimalkan risiko kecelakaan.

Sumber 

Sivaprakash, P., Karthikeyan, L. M., & Joseph, S. (2014). A Study on Handling of Hazardous Chemicals in Engineering Industries. APCBEE Procedia, 9, 187-191.

Selengkapnya
Pentingnya Penanganan Aman Bahan Kimia Berbahaya di Industri Teknik

Limbah Berbahaya dan Beracun

Hazardous and Toxic Waste Management Analysis at UNS Hospital Indonesia

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Pengelolaan limbah berbahaya dan beracun (B3) di fasilitas kesehatan menjadi isu penting dalam keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Data yang dikumpulkan meliputi proses pengurangan dan pemilahan limbah, penyimpanan, transportasi, serta pengolahan limbah. Hasilnya kemudian dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan regulasi yang ada, seperti Permenkes No. 7 Tahun 2019 dan PP No. 22 Tahun 2021 tentang pengelolaan lingkungan.

Rumah Sakit UNS menghasilkan dua jenis limbah utama:

  1. Limbah medis, yang mencakup limbah infeksius, patologis, benda tajam, farmasi, sitotoksik, bahan kimia, radioaktif, serta wadah bertekanan.
  2. Limbah non-medis, termasuk limbah dari aktivitas rumah tangga, dapur, laundry, dan farmasi yang tidak berbahaya.

Karena pandemi COVID-19, rumah sakit juga mengkategorikan limbah menjadi limbah COVID-19 dan non-COVID-19, menyesuaikan dengan standar keamanan yang lebih ketat.

Pengelolaan limbah di Rumah Sakit UNS terdiri dari enam tahap utama:

1. Pemilahan

Limbah dipilah sesuai jenisnya di setiap ruangan perawatan. Sistem pemilahan menggunakan kode warna:

  • Kuning: Limbah infeksius
  • Hitam: Limbah non-infeksius
  • Ungu: Limbah sitotoksik
  • Merah: Limbah radioaktif

2. Pengemasan

  • Wadah khusus seperti safety box digunakan untuk benda tajam.
  • Limbah infeksius dikumpulkan dalam kantong plastik berwarna kuning.
  • Limbah dikemas dengan penandaan yang jelas untuk memudahkan pengolahan lebih lanjut.

3. Pengumpulan

  • Limbah dikumpulkan secara berkala oleh petugas kebersihan menggunakan troli khusus.
  • Limbah medis disimpan di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) B3 sebelum diangkut oleh pihak ketiga.

4. Penyimpanan

  • Limbah medis disimpan selama 1–2 hari untuk menghindari kontaminasi.
  • Limbah non-medis dapat disimpan hingga 1 tahun.

5. Transportasi

  • Limbah diangkut oleh pihak ketiga yang memiliki izin resmi.
  • Frekuensi pengangkutan:
    • Limbah medis: 4 kali seminggu
    • Limbah non-medis: Sekali setahun

6. Pengolahan

  • Rumah Sakit UNS memiliki incinerator, tetapi belum dapat digunakan karena keterbatasan perizinan.
  • Limbah sementara ini diproses oleh pihak ketiga yang telah memiliki sertifikasi pengelolaan limbah B3.

Analisis dan Temuan Penelitian

  1. Efektivitas Sistem Pemilahan: Rumah sakit telah menerapkan sistem pemilahan yang baik dengan kode warna sesuai standar WHO dan regulasi nasional.
  2. Ketergantungan pada Pihak Ketiga: Karena belum memiliki izin operasional untuk mengelola limbah secara mandiri, transportasi dan pemrosesan limbah masih bergantung pada pihak luar.
  3. Peningkatan Limbah COVID-19: Pandemi menyebabkan peningkatan signifikan dalam jumlah limbah infeksius, sehingga pengelolaan yang lebih ketat diperlukan.
  4. Regulasi dan Kepatuhan: Rumah sakit telah menerapkan regulasi nasional dalam sistem pengelolaannya, tetapi masih memerlukan peningkatan dalam aspek pengolahan mandiri.

Untuk meningkatkan pengelolaan limbah B3 di Rumah Sakit UNS, beberapa langkah dapat diambil:

  • Mempercepat izin operasional incinerator agar rumah sakit bisa lebih mandiri dalam menangani limbah medis.
  • Meningkatkan kapasitas penyimpanan sementara untuk mengakomodasi lonjakan volume limbah, terutama dalam situasi darurat seperti pandemi.
  • Meningkatkan sistem pemantauan dan pelaporan untuk memastikan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi.
  • Mengedukasi tenaga medis dan non-medis tentang pemilahan limbah yang lebih efektif untuk mengurangi kontaminasi silang.

Pengelolaan limbah B3 di Rumah Sakit UNS telah berjalan sesuai regulasi, meskipun masih memiliki keterbatasan dalam aspek pengolahan mandiri. Dengan perbaikan dalam infrastruktur, regulasi, dan edukasi, sistem ini dapat lebih optimal dalam mengurangi dampak lingkungan serta meningkatkan keselamatan pekerja dan pasien.

Sumber Artikel: Hashfi Hawali Abdul Matin et al., "Hazardous and Toxic Waste Management Analysis at UNS Hospital Indonesia", Waste Technology, Vol. 9(2), 2021, pp. 29-36.

Selengkapnya
Hazardous and Toxic Waste Management Analysis at UNS Hospital Indonesia

Keselamatan Kerja

Keselamatan di Ruang Terbatas dalam Lingkungan Kerja

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan kerja di ruang terbatas merupakan salah satu aspek paling kritis dalam manajemen keselamatan di industri. Berdasarkan dokumen "Safety in Confined Spaces" yang diterbitkan oleh Occupational Safety and Health Service, Departemen Tenaga Kerja Selandia Baru, bekerja di ruang terbatas 150 kali lebih berbahaya dibandingkan pekerjaan serupa di lingkungan terbuka. Oleh karena itu, standar keselamatan seperti AS 2865:1995 dirancang untuk memitigasi risiko ini dengan menetapkan prosedur dan tanggung jawab yang jelas bagi pekerja dan pemberi kerja.

Ruang terbatas adalah area yang tidak dirancang untuk okupansi manusia secara terus-menerus dan memiliki risiko atmosfer berbahaya. Beberapa contoh ruang terbatas termasuk tangki, silo, sumur, terowongan, dan ruang bawah tanah dengan ventilasi terbatas. Potensi bahaya utama dalam ruang terbatas mencakup:

  • Kekurangan oksigen, yang dapat menyebabkan asfiksia.
  • Gas beracun, seperti hidrogen sulfida atau karbon monoksida.
  • Bahan mudah terbakar, yang meningkatkan risiko ledakan dan kebakaran.
  • Risiko tertimpa atau terjebak, terutama dalam silo atau ruang dengan dinding konvergen.

Terdapat beberapa studi kasus kecelakaan fatal akibat kelalaian dalam mengikuti prosedur keselamatan.

Pekerja Pabrik Cat Terpapar Uap Pelarut Seorang pekerja masuk ke dalam wadah pencampur cat untuk mengambil pulpen yang jatuh tanpa menggunakan alat pelindung diri. Ia kehilangan kesadaran akibat paparan uap pelarut yang tinggi, dan meskipun berhasil diselamatkan, ia mengalami kerusakan otak permanen.

Kematian di Lubang Offal akibat Kekurangan Oksigen Seorang petani meninggal setelah turun ke dalam lubang offal untuk mengambil alat pertanian yang jatuh. Investigasi OSH menunjukkan bahwa kadar oksigen dalam lubang hanya 3%, jauh di bawah ambang batas aman 21%.

Ledakan di Kapal Akibat Uap Cat Dua pekerja sedang melakukan pengecatan di dalam kapal tanpa ventilasi yang memadai. Uap cat yang terkumpul akhirnya terbakar akibat percikan listrik dari lampu portabel, menyebabkan satu pekerja tewas dan yang lain mengalami luka bakar serius.

Sebelum memasuki ruang terbatas, perlu dilakukan evaluasi risiko oleh tenaga ahli yang kompeten. Evaluasi ini mencakup identifikasi jenis pekerjaan yang akan dilakukan, metode kerja yang paling aman, potensi bahaya, serta prosedur darurat jika terjadi kecelakaan. Atmosfer dalam ruang terbatas harus diuji sebelum dan selama pekerjaan berlangsung. Jika ditemukan kadar oksigen rendah atau gas beracun, langkah-langkah seperti ventilasi paksa atau pemurnian atmosfer harus diterapkan sebelum pekerja diizinkan masuk. APD seperti respirator, pakaian pelindung, dan alat bantu pernapasan harus disediakan sesuai dengan risiko yang diidentifikasi. Misalnya:

  • Masker udara bertekanan untuk lingkungan dengan kadar oksigen rendah.
  • Detektor gas portabel untuk memantau tingkat gas beracun.
  • Tali pengaman dan sistem penarikan otomatis untuk penyelamatan darurat.

Sebelum masuk ke ruang terbatas, pekerja harus mendapatkan izin kerja yang dikeluarkan oleh petugas keselamatan. Sistem ini memastikan bahwa semua langkah keselamatan telah dipenuhi, termasuk adanya tenaga pengawas di luar ruang terbatas untuk memantau kondisi pekerja di dalamnya. Pelatihan keselamatan bagi pekerja, pengawas, dan tim penyelamat sangat penting untuk memitigasi risiko kecelakaan. Simulasi keadaan darurat secara berkala dapat meningkatkan kesiapan tim dalam menangani insiden secara cepat dan efektif.

Dokumen "Safety in Confined Spaces" menegaskan bahwa keselamatan dalam ruang terbatas memerlukan kombinasi kebijakan yang ketat, prosedur yang jelas, serta pelatihan berkelanjutan. Penerapan standar AS 2865:1995 menjadi krusial dalam mencegah kecelakaan kerja yang sering kali berujung pada korban jiwa. Dengan pendekatan yang terstruktur, termasuk evaluasi risiko, penggunaan APD, izin kerja, dan pelatihan rutin, angka kecelakaan dapat ditekan secara signifikan.

Sumber

Safety in Confined Spaces, Occupational Safety and Health Service, Department of Labour, Wellington, New Zealand.

Selengkapnya
Keselamatan di Ruang Terbatas dalam Lingkungan Kerja
« First Previous page 93 of 865 Next Last »