Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 07 Maret 2025
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi faktor kunci dalam menjaga kesejahteraan pekerja dan mengurangi kecelakaan di tempat kerja. Namun, banyak perusahaan masih menghadapi tantangan dalam menerapkan metode penilaian risiko yang efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan berbasis survei dengan melibatkan 500 usaha kecil dan mikro di sektor konstruksi, manufaktur, transportasi, serta pertanian dan perikanan. Beberapa metode utama yang digunakan dalam studi ini meliputi:
Salah satu hasil utama dari penelitian ini adalah pengembangan model KatAlSa, yang menggabungkan berbagai pendekatan dalam penilaian risiko K3. Model ini memiliki tiga fase utama:
Model KatAlSa diuji pada 7 posisi kerja di 7 pabrik berbeda, dengan hasil sebagai berikut:
Penelitian ini menemukan beberapa risiko utama yang sering muncul di tempat kerja, antara lain:
Beberapa tantangan yang diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi:
Implementasi KatAlSa di Perusahaan Pemanas Industri
Analisis Risiko di Pabrik Manufaktur
Keunggulan:
Kekurangan:
Meningkatkan Pelatihan K3 di UKM
Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan industri dalam penilaian risiko K3, seperti model KatAlSa, dapat membantu perusahaan dalam mengurangi kecelakaan kerja dan meningkatkan keselamatan pekerja. Meskipun masih ada tantangan dalam implementasi, terutama bagi UKM, pendekatan ini memberikan solusi praktis yang dapat diterapkan secara luas. Dengan penguatan regulasi, peningkatan pelatihan, dan adopsi teknologi, sistem penilaian risiko K3 dapat menjadi lebih efektif dan memberikan manfaat jangka panjang bagi perusahaan dan pekerja.
Sumber: Hollá, K., Kuricová, A., Kočkár, S., Prievozník, P., & Dostál, F. Risk Assessment Industry Driven Approach in Occupational Health and Safety. Frontiers in Public Health, Vol. 12, 2024, Hal. 1381879.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 07 Maret 2025
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan sekolah merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis dokumen dan wawancara semi-terstruktur. Sebanyak 21 kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan (TK, SD, SMP, SMA) di wilayah Bursa, Turki, menjadi responden dalam studi ini. Data dikumpulkan melalui:
Berdasarkan analisis dokumen dan wawancara, praktik K3 yang dilakukan di sekolah dikategorikan menjadi beberapa aspek:
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama dalam pelaksanaan K3 di sekolah:
Hasil wawancara menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki beberapa harapan utama:
Salah satu sekolah menengah di Bursa berhasil mengurangi angka kecelakaan kerja sebesar 40% dalam dua tahun terakhir dengan menerapkan sistem pengawasan keselamatan berbasis teknologi. Langkah-langkah yang diterapkan meliputi pemasangan CCTV untuk memantau area berisiko dan pemberian APD (Alat Pelindung Diri) kepada staf kebersihan dan teknisi sekolah.
Sebuah sekolah dasar yang rutin melakukan simulasi bencana melaporkan bahwa 80% siswa mampu mengikuti prosedur evakuasi dengan benar dalam simulasi kebakaran terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan keselamatan memiliki dampak positif dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Sebaliknya, sebuah sekolah teknik mengalami peningkatan insiden kecelakaan kerja sebesar 30% dalam lima tahun terakhir karena kurangnya pelatihan bagi siswa yang bekerja di laboratorium praktik. Insiden yang sering terjadi meliputi luka bakar akibat bahan kimia dan cedera akibat penggunaan alat berat tanpa pelindung.
Keunggulan:
Kelemahan:
Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan standar K3 di sekolah meliputi:
Peran kepala sekolah dalam implementasi K3 serta berbagai hambatan yang mereka hadapi. Dengan dukungan kebijakan yang lebih kuat, peningkatan anggaran, dan pelatihan yang lebih baik, sekolah dapat menjadi lingkungan yang lebih aman bagi semua pemangku kepentingan. Studi ini memberikan wawasan yang berharga bagi pembuat kebijakan dan praktisi pendidikan dalam meningkatkan standar keselamatan di lingkungan sekolah.
Sumber: Yilmaz, S. How to Enhance Occupational Health and Safety Practices in Schools: An Analysis Through the Eyes of School Principals. International Journal of Psychology and Educational Studies, Vol. 9 (Special Issue), 2022, Hal. 922-933.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 07 Maret 2025
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) memainkan peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan kinerja karyawan di berbagai sektor industri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik incidental sampling terhadap 72 responden dari total populasi 250 karyawan di PT. XYZ. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan metode regresi linear sederhana melalui SPSS versi 2.3.
Variabel dalam penelitian:
Temuan Utama
1. Hubungan antara K3 dan Kinerja Karyawan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi K3 memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap kinerja karyawan.
2. Dampak K3 terhadap Performa Perusahaan
3. Tantangan dalam Implementasi K3
Meskipun penerapan K3 memberikan manfaat yang signifikan, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala utama:
Studi Kasus
1. Implementasi K3 di PT. XYZ
PT. XYZ, sebagai perusahaan jasa bongkar muat, menghadapi berbagai tantangan keselamatan kerja, terutama dalam penggunaan alat berat. Melalui program K3, perusahaan berhasil:
2. Perbandingan dengan Industri Sejenis
Penelitian ini membandingkan implementasi K3 di PT. XYZ dengan perusahaan lain dalam industri yang sama:
Keunggulan:
Kekurangan:
Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas K3:
Penerapan K3 yang efektif memiliki dampak signifikan terhadap kinerja karyawan dan keseluruhan kinerja perusahaan. Dengan meningkatkan kesadaran, fasilitas, dan pengawasan terhadap K3, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif. Oleh karena itu, K3 bukan hanya sebagai kewajiban hukum, tetapi juga sebagai strategi bisnis yang dapat meningkatkan daya saing perusahaan.
Sumber: Priyanto, H., & Syah, T. Y. R. Effect of Occupational Safety & Health on Employee Performance and Its Relationship with Occupational Health & Safety Performance. International Journal of Business and Social Science, Vol. x, No. x, 2023, Hal. 1-15.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 07 Maret 2025
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif. Meskipun banyak negara telah mengambil langkah maju dalam menerapkan kebijakan K3, banyak negara berkembang, termasuk Ghana, masih menghadapi berbagai tantangan dalam penerapan praktik keselamatan kerja. Studi ini mengklasifikasikan masalah K3 menjadi beberapa kategori utama, termasuk regulasi, infrastruktur, serta kepedulian manajemen dan pekerja terhadap keselamatan kerja.
K3 sering kali tidak menjadi prioritas utama dalam agenda nasional maupun di tingkat perusahaan. Beberapa indikator utama meliputi:
Data menunjukkan bahwa Ghana mengalami tingkat kecelakaan kerja yang signifikan, terutama di sektor konstruksi, manufaktur, dan pertambangan:
Studi ini mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menghambat penerapan K3 di Ghana:
Pada tahun 2009, kebakaran di Kumasi Central Market menghancurkan lebih dari 400 kios, mengakibatkan kerugian finansial yang besar. Studi ini mengaitkan kejadian ini dengan kurangnya sistem pencegahan kebakaran dan minimnya pelatihan darurat bagi pedagang. Pekerja tambang di Ghana menghadapi berbagai risiko kesehatan akibat paparan merkuri dan debu silika. Studi ini menemukan bahwa banyak tambang tidak memiliki ventilasi yang memadai, yang menyebabkan tingginya angka kasus penyakit paru-paru kronis. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% pekerja konstruksi di Ghana mengalami cedera akibat jatuh dari ketinggian, karena kurangnya perlengkapan keselamatan seperti helm dan harness.
Keunggulan:
Kekurangan:
Rekomendasi untuk Meningkatkan K3 di Ghana
Ghana masih menghadapi berbagai tantangan dalam penerapan K3, termasuk kurangnya regulasi, rendahnya kesadaran pekerja, serta minimnya investasi dalam infrastruktur keselamatan. Untuk meningkatkan kondisi K3, diperlukan kebijakan yang lebih ketat, peningkatan pelatihan, serta investasi dalam teknologi keselamatan. Dengan langkah-langkah ini, Ghana dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif bagi seluruh tenaga kerja.
Sumber: Puplampu, B. B., & Quartey, S. H. Key Issues on Occupational Health and Safety Practices in Ghana: A Review. International Journal of Business and Social Science, Vol. 3 No. 19, 2012, Hal. 151-156.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 07 Maret 2025
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi elemen krusial dalam industri manufaktur untuk melindungi pekerja dari risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini terdiri dari empat sub-studi yang mencakup:
Data dikumpulkan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif, termasuk analisis statistik regresi binomial negatif dan wawancara semi-terstruktur.
Penelitian ini menemukan bahwa meskipun perusahaan yang telah tersertifikasi OHSAS 18001 memiliki dokumentasi yang lebih baik, implementasi standar ini tidak selalu berkorelasi langsung dengan penurunan kecelakaan kerja.
Perbedaan Iklim Keselamatan antara Perusahaan Bersertifikasi dan Non-Bersertifikasi
Melalui wawancara dengan 16 manajer perusahaan, ditemukan beberapa hambatan utama dalam penerapan sistem K3:
Studi ini mengungkapkan bahwa sertifikasi OHSAS 18001 bukanlah jaminan langsung untuk peningkatan keselamatan kerja. Beberapa poin penting yang dapat diperhatikan:
Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan sistem manajemen K3 tidak hanya bergantung pada sertifikasi formal, tetapi juga pada implementasi yang efektif, komitmen manajemen, serta keterlibatan pekerja. Untuk meningkatkan efektivitas OHSAS 18001, perusahaan perlu memperkuat pelatihan, meningkatkan partisipasi pekerja, dan mengintegrasikan sistem K3 dengan strategi bisnis mereka.
Sumber: Ghahramani, A. Assessment of Occupational Health and Safety Management Systems Status and Effectiveness in Manufacturing Industry. University of Helsinki, 2017.
kesehatan
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 07 Maret 2025
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam industri makanan, terutama di lingkungan sekolah, menjadi faktor penting dalam memastikan kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 20 staf dapur dari enam SMA yang dipilih secara purposif. Selain itu, observasi langsung dilakukan untuk mengevaluasi kondisi dapur dan sistem keselamatan yang diterapkan.
Aspek yang dianalisis dalam penelitian ini mencakup:
Penelitian ini mengidentifikasi lima kategori bahaya utama yang dihadapi staf dapur:
Data penelitian menunjukkan bahwa 85% staf dapur adalah perempuan, dengan mayoritas berusia antara 40-49 tahun (30%). Sebanyak 90% telah bekerja lebih dari 4 tahun, menunjukkan pengalaman panjang namun tetap menghadapi tantangan keselamatan kerja.
Penelitian ini menemukan bahwa minimnya penerapan K3 berdampak langsung pada kualitas makanan yang disajikan kepada siswa:
Hambatan utama dalam penerapan K3 meliputi:
Paper ini memberikan wawasan yang kuat tentang tantangan K3 di dapur sekolah, tetapi ada beberapa aspek yang dapat diperbaiki:
Studi ini menegaskan bahwa kurangnya penerapan K3 di dapur sekolah memiliki dampak besar terhadap keselamatan staf dan kualitas makanan yang dikonsumsi siswa. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan peningkatan pelatihan K3, perbaikan fasilitas dapur, dan komitmen manajemen dalam menerapkan standar keselamatan.
Sumber: Adzinyo, O. A., Frempong, F., Appaw, E. T. A., Antwi, A. B., & Nkrow, J. E. Assessing Occupational Health and Safety Practices Among Kitchen Staff of Selected Senior High Schools in the Ho Municipality, Ghana. Cogent Food & Agriculture, Vol. 10 No. 1, 2024, Hal. 2392404.