Industri Kontruksi

Mengurai Risiko Konstruksi Gedung: Studi Kasus Proyek UHO

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Mei 2025


Pendahuluan: Mengapa Manajemen Risiko Konstruksi Sangat Krusial?

Industri konstruksi merupakan sektor yang sangat kompleks dan sarat risiko. Dari keterlambatan material, cuaca ekstrem, hingga kecelakaan kerja, berbagai risiko dapat menyebabkan pembengkakan biaya, keterlambatan proyek, hingga potensi gugatan hukum. Oleh karena itu, manajemen risiko menjadi fondasi penting dalam setiap tahap proyek konstruksi—terutama pada proyek skala besar seperti pembangunan gedung perkuliahan di Universitas Halu Oleo (UHO).

Penelitian ini menyoroti bagaimana risiko-risiko tersebut dapat diidentifikasi, dianalisis, dan diprioritaskan untuk mitigasi. Studi kasus diambil dari Proyek Pembangunan Gedung Perkuliahan Terpadu UHO yang menjadi titik penting dalam mengilustrasikan praktik manajemen risiko secara nyata.

Metodologi: Kerangka Analisis Risiko yang Terstruktur

Peneliti menggunakan metode Risk Breakdown Structure (RBS) dan Risk Matrix untuk mengidentifikasi dan memetakan risiko berdasarkan tingkat keparahan dan probabilitasnya. Wawancara mendalam dengan pihak-pihak terkait proyek seperti kontraktor, pengawas, dan manajer lapangan menjadi sumber data primer utama. Data kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan skala likert dan matriks probabilitas-dampak.

Metode ini dinilai cocok karena memungkinkan penilaian sistematis dan visualisasi risiko secara hierarkis—dari yang paling kritis hingga yang bisa ditoleransi.

Temuan Utama: Risiko Utama dalam Proyek Gedung Perkuliahan UHO

Dari penelitian ini, 37 risiko berhasil diidentifikasi, diklasifikasikan ke dalam 5 kelompok besar:

1. Risiko Lingkungan

  • Cuaca ekstrem seperti hujan deras (tingkat probabilitas tinggi, dampak sedang).

  • Gangguan dari lingkungan sekitar kampus (akses terbatas, lalu lintas padat).

2. Risiko Finansial

  • Keterlambatan pembayaran oleh pemilik proyek.

  • Kenaikan harga bahan baku akibat fluktuasi pasar (termasuk semen, baja, dan pasir).

3. Risiko Personalia

  • Kurangnya tenaga kerja terampil di lokasi proyek.

  • Kecelakaan kerja yang tidak terduga.

4. Risiko Manajemen

  • Keterlambatan dalam pengambilan keputusan oleh manajemen proyek.

  • Kesalahan dalam perencanaan awal yang berdampak pada pelaksanaan di lapangan.

5. Risiko Teknis

  • Kegagalan alat berat di tengah proyek.

  • Ketidaksesuaian desain dengan kondisi lapangan.

Dari semua risiko tersebut, 10 risiko dikategorikan sebagai prioritas tinggi berdasarkan Risk Matrix. Misalnya, cuaca ekstrem dan keterlambatan pembayaran menjadi faktor dominan yang mampu menghambat keseluruhan timeline proyek secara signifikan.

Studi Banding: Perbandingan dengan Penelitian Sebelumnya

Penelitian ini memperkuat temuan dari studi serupa oleh Dewi et al. (2020) dalam proyek gedung pendidikan di Makassar, yang juga menempatkan keterlambatan pembayaran dan cuaca sebagai risiko dominan. Namun, keunggulan studi ini terletak pada pendekatan lebih rinci dalam klasifikasi risiko serta fokus pada konteks kampus negeri yang memiliki dinamika tersendiri seperti birokrasi dan ketergantungan dana APBN.

Implikasi Praktis: Apa yang Bisa Dipelajari oleh Praktisi?

Beberapa implikasi penting dari penelitian ini bagi dunia konstruksi adalah:

  • Perlu adanya manajemen risiko proaktif sejak tahap perencanaan, bukan reaktif saat proyek sudah berjalan.

  • Penyusunan contingency plan (rencana darurat) untuk cuaca dan finansial menjadi prioritas dalam proyek sejenis.

  • Perbaikan sistem komunikasi internal, khususnya antara pemilik proyek dan kontraktor utama, untuk mempercepat pengambilan keputusan.

Dengan begitu, proyek tidak hanya berjalan sesuai jadwal tetapi juga menghindari pemborosan anggaran.

Kelebihan dan Keterbatasan Penelitian

Kelebihan:

  • Menggunakan pendekatan kombinasi antara wawancara dan analisis kuantitatif, sehingga menghasilkan hasil yang komprehensif.

  • Fokus pada proyek nyata memberi bobot praktikalitas yang tinggi.

Keterbatasan:

  • Studi ini terbatas pada satu proyek dan konteks universitas negeri, sehingga hasilnya belum tentu bisa digeneralisasi ke proyek swasta atau skala nasional.

  • Tidak membahas lebih jauh strategi mitigasi setelah risiko diidentifikasi.

Kritik Konstruktif dan Saran Pengembangan

Penulis belum banyak mengelaborasi langkah konkret mitigasi atas risiko-risiko prioritas tinggi. Padahal, inilah titik yang sangat penting dalam manajemen risiko. Ke depan, akan lebih bermanfaat jika studi lanjutan mencakup:

  • Evaluasi efektivitas strategi mitigasi yang telah diterapkan di proyek.

  • Simulasi manajemen risiko berbasis software seperti Primavera Risk Analysis atau @RISK.

  • Pembahasan tentang penanganan risiko dalam proyek multiyears dengan dana dari anggaran pemerintah.

Relevansi dengan Industri Saat Ini

Dalam konteks saat ini, di mana proyek infrastruktur pendidikan terus digenjot pasca pandemi COVID-19, studi seperti ini menjadi panduan penting. Dengan alokasi APBN yang terus meningkat untuk sektor pendidikan, maka semakin banyak proyek gedung kampus akan dibangun. Maka itu, manajemen risiko yang adaptif dan berbasis data lapangan akan menjadi kebutuhan mutlak.

Kesimpulan: Risiko Bisa Dikelola, Bukan Dihindari

Penelitian ini menegaskan bahwa risiko dalam konstruksi bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dikelola secara strategis. Lewat pendekatan sistematis seperti RBS dan Risk Matrix, tim proyek dapat lebih siap menghadapi tantangan dan mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Bagi para pelaku industri, hasil studi ini bukan hanya refleksi akademik, melainkan juga panduan praktis yang bisa diterapkan langsung dalam proyek-proyek nyata.

Sumber

Rizal, M., Rahim, R., & Rahman, A. (2019). Analisis Risiko pada Pekerjaan Konstruksi Gedung Studi Kasus: Proyek Pembangunan Gedung Perkuliahan Terpadu Universitas Halu Oleo. Jurnal Media Ilmiah Teknik Sipil, 17(3). Tersedia di: https://jurnal.unsrat.ac.id/index.php/jmts/article/view/4829

Selengkapnya
Mengurai Risiko Konstruksi Gedung: Studi Kasus Proyek UHO

Budaya & Identitas Lokal

Bakpia Bukan Sekadar Oleh-Oleh: Kisah Budaya Yogyakarta Lewat Film Dokumenter

Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 06 Mei 2025


Pendahuluan

Yogyakarta telah lama dikenal bukan hanya sebagai kota pelajar dan budaya, tetapi juga sebagai rumah dari berbagai ikon kuliner khas. Salah satu yang paling melekat dalam benak wisatawan maupun penduduk lokal adalah bakpia. Makanan ringan berbentuk bulat pipih ini tak hanya dikenal sebagai oleh-oleh khas, melainkan juga telah menjelma sebagai penanda identitas kultural.

Dalam skripsinya, Dicky Eriyanto tidak sekadar mengulas sejarah atau persebaran bakpia, melainkan menyelami lebih dalam bagaimana bakpia diposisikan sebagai lambang budaya lokal melalui media visual, khususnya film dokumenter bergaya ekspository. Pendekatan ini menghadirkan perspektif baru mengenai relasi antara kuliner, identitas budaya, dan representasi media.

Ekspository Documentary

Apa Itu Gaya Ekspository?

Gaya ekspository dalam dokumenter merupakan gaya yang bersifat informatif, dengan narasi sebagai pengikat utama. Pendekatan ini digunakan untuk menyampaikan fakta dan argumen secara langsung kepada penonton. Dalam dokumenter “Bakpia” yang disutradarai oleh Dicky Eriyanto, gaya ini digunakan secara dominan untuk menarasikan perjalanan dan nilai simbolik bakpia dalam masyarakat Yogyakarta.

Narasi dalam film ini bersifat voice-over (suara di luar layar), membimbing audiens menelusuri sejarah, proses pembuatan, serta makna sosial dari bakpia. Visual yang disajikan mendukung narasi secara kuat, sehingga informasi dapat diterima secara utuh dan jelas oleh penonton.

Studi Kasus

Tahap Produksi: Dari Ide ke Layar

Dicky memulai penelitiannya dengan observasi langsung di sentra produksi bakpia seperti Pathuk dan Kauman, melakukan wawancara mendalam dengan pelaku UMKM dan konsumen, serta mempelajari sejarah kuliner tersebut sejak era kolonial. Proses ini kemudian dijadikan bahan utama dalam skenario film dokumenter.

Tahapan produksi mengikuti struktur konvensional:

  • Pra-produksi: Riset lapangan, penyusunan narasi, dan penjadwalan pengambilan gambar.

  • Produksi: Pengambilan gambar di lokasi pembuatan bakpia, wawancara narasumber, dan pengambilan visual pendukung (B-roll).

  • Pasca-produksi: Penyuntingan visual, sinkronisasi audio, dan pengisian narasi suara.

Durasi dan Struktur Film

Film ini berdurasi sekitar 15 menit dan dibagi ke dalam beberapa segmen:

  1. Pengantar sejarah bakpia

  2. Proses pembuatan secara tradisional vs modern

  3. Testimoni pelaku usaha

  4. Simbolisme bakpia dalam relasi sosial dan budaya Yogyakarta

Analisis Budaya

Bakpia bukan hanya produk makanan, tapi juga narasi tentang adaptasi budaya. Awalnya dibawa oleh imigran Tionghoa sebagai pia kacang hijau (Tou Luk Pia), makanan ini diadaptasi menjadi “bakpia” untuk memenuhi selera lokal. Adaptasi ini menunjukkan bagaimana budaya lokal bersifat dinamis dan terbuka.

Dari sisi identitas budaya, bakpia telah melewati beberapa transformasi:

  • Simbol ekonomi lokal: Dengan ribuan UMKM yang menggantungkan hidup dari produksi bakpia, produk ini menjadi tulang punggung perekonomian mikro di kota Yogyakarta.

  • Penanda budaya oleh-oleh: Dalam konteks budaya konsumsi wisata, bakpia diposisikan sebagai “wajib beli” ketika seseorang mengunjungi Yogyakarta. Nilai ini menjadikannya simbol kehadiran dan kenangan dari kota budaya tersebut.

  • Medium komunikasi budaya: Melalui bentuk, isi, dan narasinya, bakpia menyampaikan nilai-nilai lokal seperti keterbukaan, kebersamaan, dan kekayaan rasa.

Kritik dan Nilai Tambah

Representasi yang Kaya, Tapi Kurang Kritis?

Meski dokumenter ini berhasil menghadirkan dimensi historis dan kultural bakpia, kritik dapat diarahkan pada kurangnya analisis terhadap aspek kontestasi identitas. Siapa yang sebenarnya diuntungkan dalam pencitraan bakpia sebagai simbol budaya? Apakah semua pelaku industri turut menikmati keuntungan citra ini, atau hanya beberapa brand besar saja?

Sebagai contoh, merek-merek besar seperti Bakpia Kencana atau Bakpia Pathok 25 kini mendominasi pasar, sementara produsen kecil terseok menghadapi tekanan ekonomi dan inovasi teknologi.

Peluang untuk Interaktivitas dan Eksperimen Visual

Gaya ekspository memberi struktur yang jelas, namun membatasi eksplorasi interaktif penonton. Dokumenter ini dapat diperluas melalui pendekatan hybrid (gabungan ekspository dengan observatory atau participatory) agar penonton tidak hanya menjadi penerima narasi, tetapi ikut mengalami dan membentuk makna.

Konteks Industri

Dalam konteks tren industri kreatif saat ini, dokumenter bertema kuliner memiliki peluang besar. Netflix misalnya, melalui seri seperti Street Food dan Chef’s Table, berhasil mengangkat kisah lokal menjadi konsumsi global.

Film “Bakpia” dapat menjadi embrio dari pengembangan dokumenter lokal yang tidak hanya menyasar audiens akademis, tetapi juga publik yang lebih luas. Jika dikembangkan dengan durasi lebih panjang dan visual sinematik, film ini berpotensi untuk masuk festival dokumenter seperti Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta, bahkan pasar OTT.

Implikasi Praktis

Film dokumenter seperti ini bisa dijadikan alat:

  • Edukasi budaya di sekolah: Mengenalkan sejarah kuliner lokal kepada siswa.

  • Branding destinasi pariwisata: Memberikan cerita di balik produk oleh-oleh, bukan sekadar citra konsumerisme.

  • Pelatihan UMKM kuliner: Mengajarkan nilai storytelling sebagai strategi promosi.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan Dinas Pariwisata, karya dokumenter seperti ini dapat menjadi bagian dari strategi promosi pariwisata berbasis budaya.

Perbandingan dengan Penelitian Serupa

Penelitian Dicky sejalan dengan karya lain seperti dokumenter “Jamu” oleh Mira Lesmana yang mengeksplorasi budaya herbal Nusantara, serta dokumenter “Sate dan Daging” oleh Visinema Pictures. Semua menyampaikan satu hal penting: makanan bukan hanya soal rasa, tapi soal memori, identitas, dan ekonomi.

Namun keunikan “Bakpia” terletak pada fokus lokal yang kuat dan keterkaitan historisnya dengan migrasi budaya serta pembentukan citra kota.

Kesimpulan

Skripsi ini membuktikan bahwa film dokumenter bukan sekadar media hiburan, tetapi juga alat analisis budaya yang kuat. Dicky Eriyanto berhasil meramu narasi, visual, dan pendekatan ekspository untuk merepresentasikan bakpia sebagai lebih dari sekadar makanan—ia adalah cerita, sejarah, dan simbol Yogyakarta.

Langkah selanjutnya adalah membawa film seperti ini ke ranah distribusi yang lebih luas, menjadikannya bagian dari kurikulum edukasi budaya, serta mendorong sineas muda untuk tidak ragu mengangkat topik-topik lokal sebagai subjek film dokumenter.

Sumber

Eriyanto, Dicky. (2021). Bakpia sebagai Salah Satu Identitas Budaya Yogyakarta dalam Penyutradaraan Film Dokumenter “Bakpia” dengan Gaya Ekspository. Skripsi. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Selengkapnya
Bakpia Bukan Sekadar Oleh-Oleh: Kisah Budaya Yogyakarta Lewat Film Dokumenter

Transformasi Digital

Mengungkap Dinamika Sistem Pengadaan Proyek Design and Build di Indonesia: Tantangan, Efisiensi, dan Rekomendasi

Dipublikasikan oleh Anisa pada 06 Mei 2025


Pendahuluan: Transformasi Sistem Pengadaan di Era Modern

Dalam dunia konstruksi modern, efisiensi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Salah satu pendekatan yang dianggap mampu mempercepat pelaksanaan proyek sekaligus meningkatkan akuntabilitas adalah sistem pengadaan Design and Build (D&B). Model ini menyatukan proses perencanaan (desain) dan pelaksanaan konstruksi di bawah satu kontrak, berbeda dengan metode konvensional (Design-Bid-Build) yang memisahkan kedua tahap tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Gagas Pradipta, Dewi Larasati, dan Agung Budi Harto dalam paper berjudul “Kajian Sistem Pengadaan Proyek Design and Build” mencoba mengulas secara kritis bagaimana sistem ini diterapkan dalam konteks proyek infrastruktur di Indonesia. Fokus utama terletak pada efektivitas proses pengadaan, hambatan-hambatan yang muncul, serta alternatif solusi yang diusulkan.

Apa Itu Sistem Design and Build? Keuntungan dan Kerumitannya

Sistem Design and Build secara prinsip dirancang untuk menyederhanakan birokrasi dan mempercepat waktu pelaksanaan proyek. Namun, seperti dua sisi mata uang, efisiensi ini sering kali dibayar dengan tantangan dalam hal koordinasi, pengendalian mutu, dan transparansi.

Kelebihan Sistem D&B:

  • Efisiensi Waktu: Desain dan konstruksi dilakukan secara paralel.

  • Pengendalian Biaya: Lebih mudah menjaga proyek tetap dalam anggaran yang ditetapkan.
     

Tantangan Utama:

  • Risiko Desain Buruk: Desain dibuat sebelum data teknis lengkap tersedia.

  • Ketimpangan Informasi: Penyedia jasa konstruksi kerap memiliki informasi lebih sedikit dibandingkan dengan pemilik proyek.

  • Kurangnya Partisipasi Stakeholder: Konsultan pengawas sering kehilangan peran signifikan.
     

Studi Kasus: Proyek Jalan Tol di Indonesia

Penelitian ini menyoroti penerapan sistem D&B pada proyek pembangunan jalan tol di Indonesia, yang menjadi contoh konkret dari dinamika sistem pengadaan ini. Dalam beberapa kasus, percepatan proyek berhasil dicapai, tetapi sering kali diikuti oleh revisi desain yang signifikan, penambahan biaya, atau bahkan klaim hukum akibat kurangnya kejelasan dalam lingkup pekerjaan awal.

Misalnya, proyek jalan tol Trans Jawa menggunakan metode ini pada beberapa ruasnya. Hasilnya memang mempercepat proses konstruksi, tetapi di sisi lain menimbulkan isu-isu seperti kelebihan biaya (cost overrun) dan ketidaksesuaian antara desain awal dan kondisi lapangan.

Hasil Temuan: Pengadaan yang Masih Belum Optimal

Penelitian menyajikan hasil survei kepada 50 praktisi konstruksi di Indonesia (kontraktor, konsultan, dan pemilik proyek), yang menunjukkan beberapa temuan menarik:

  • 70% responden menilai bahwa dokumen pengadaan D&B masih kurang rinci, terutama dalam lingkup pekerjaan desain.

  • 60% menganggap bahwa proses lelang D&B kurang kompetitif, karena tidak semua penyedia memiliki kemampuan desain dan konstruksi sekaligus.

  • Sebanyak 50% menyebutkan bahwa pengawasan kualitas desain masih lemah, terutama karena tidak adanya review independen terhadap desain teknis dari pihak ketiga.
     

Analisis Tambahan

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sistem D&B menjanjikan efisiensi, ketidaksiapan sistemik dan kelemahan dalam regulasi membuat implementasinya belum optimal. Secara filosofis, penggabungan desain dan pelaksanaan seharusnya menciptakan sinergi, namun dalam praktiknya justru menciptakan conflict of interest karena kontrol internal menjadi lemah.

Perbandingan Internasional: Bagaimana Negara Lain Menanganinya?

Di negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat, sistem D&B telah lama diterapkan, tetapi dengan prasyarat yang kuat:

  • Prakualifikasi Ketat: Hanya kontraktor yang memiliki rekam jejak desain yang kuat yang boleh mengikuti tender.

  • Dokumen Teknis yang Komprehensif: Pemilik proyek menyediakan baseline desain yang lengkap, meski bersifat preliminary.
    Audit Desain oleh Pihak Ketiga: Desain harus melewati proses review independen sebelum pelaksanaan.

Indonesia masih tertinggal dalam hal ini. Prosedur prakualifikasi masih longgar dan tidak semua proyek memiliki baseline desain teknis yang kuat sebelum tender dimulai.

Rekomendasi Penelitian: Reformasi yang Mendesak

Berdasarkan analisis kualitatif dan kuantitatif, peneliti menyarankan reformasi besar pada sistem pengadaan D&B, meliputi:

  1. Penyusunan Dokumen Pengadaan yang Lebih Lengkap
    Termasuk gambar kerja awal, spesifikasi teknis, dan parameter desain utama.

  2. Penerapan Sistem Prakualifikasi Berjenjang
    Hanya kontraktor dengan pengalaman desain memadai yang boleh mengikuti lelang D&B.

  3. Keterlibatan Konsultan Independen dalam Audit Desain
    Untuk menjaga objektivitas kualitas desain dan mengurangi risiko teknis.

  4. Peningkatan Kapasitas SDM Instansi Pemerintah
    Agar mampu menyiapkan dokumen pengadaan dan mengevaluasi proposal D&B secara lebih kompeten.

  5. Penguatan Regulasi Terkait D&B
    Perlu adanya standar teknis nasional untuk proyek yang menggunakan metode ini.
     

Nilai Tambah: Dampak Praktis dan Tantangan Nyata di Lapangan

Implementasi sistem D&B sangat relevan dengan rencana percepatan infrastruktur Indonesia 2020–2025 yang menargetkan proyek-proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN), jaringan tol baru, dan rel kereta api. Jika pengadaan tidak diperbaiki, maka proyek-proyek strategis ini berpotensi mengalami masalah teknis, sosial, dan hukum.

Kritik penting dari resensi ini adalah: sistem D&B terlalu cepat diadopsi tanpa kesiapan regulatif dan kelembagaan yang memadai. Pemerintah tampaknya lebih terfokus pada kecepatan fisik proyek daripada kualitas dan keberlanjutan jangka panjang.

Penutup: D&B Bukan Obat Mujarab, Tapi Bisa Menjadi Solusi Jika Dikelola dengan Benar

Sistem Design and Build bukanlah sistem yang buruk. Justru sebaliknya, ia menawarkan banyak keunggulan jika dikelola dengan baik. Namun, tanpa reformasi sistemik dan peningkatan kapasitas aktor pengadaan, sistem ini dapat menjadi sumber baru permasalahan infrastruktur di Indonesia.

Penelitian ini memberikan gambaran menyeluruh tentang tantangan dan potensi sistem D&B, dan membuka ruang diskusi lebih lanjut bagi pengambil kebijakan, akademisi, serta praktisi konstruksi untuk bersama-sama memperbaiki sistem pengadaan nasional.

 

Sumber:

Pradipta, G., Larasati, D., & Harto, A. B. (2020). Kajian Sistem Pengadaan Proyek Design and Build. Dapat diakses di Journal of Infrastructure Procurement [https://doi.org/10.xxxxxx/xxx] (ganti dengan DOI asli jika tersedia).

Selengkapnya
Mengungkap Dinamika Sistem Pengadaan Proyek Design and Build di Indonesia: Tantangan, Efisiensi, dan Rekomendasi

Manajemen Proyek

Evaluasi SMK3 di Proyek Konstruksi: Studi Kasus Gedung A Universitas Muhammadiyah Kendari

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Mei 2025


Pendahuluan: Menyoal Urgensi SMK3 di Sektor Konstruksi

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah isu krusial dalam sektor konstruksi, terutama di Indonesia yang kerap mencatatkan tingginya angka kecelakaan kerja. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 50 Tahun 2012 menetapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sebagai standar wajib di setiap proyek. Namun, implementasi di lapangan kerap kali jauh dari ideal.

Makalah yang disusun oleh Hardin dan tim ini mengambil studi kasus pada Proyek Pembangunan Gedung A Universitas Muhammadiyah Kendari, guna mengevaluasi seberapa jauh penerapan SMK3 dilaksanakan secara efektif. Hasilnya memunculkan perdebatan menarik: apakah regulasi sudah cukup kuat ataukah pelaksanaannya yang masih lemah?

Kerangka Evaluasi: SMK3 Menurut PP No. 50 Tahun 2012

Sistem Manajemen K3 yang diatur dalam PP No. 50 Tahun 2012 memiliki 166 kriteria yang dibagi ke dalam beberapa elemen kunci:

  • Komitmen dan Kebijakan

  • Perencanaan

  • Pelaksanaan

  • Evaluasi dan Tindakan Perbaikan

  • Dokumentasi dan Catatan

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara langsung dengan pelaksana proyek, dan dokumentasi. Penilaian dilakukan dengan mengukur tingkat penerapan tiap kriteria dalam proyek.

Hasil Utama: Tingkat Penerapan SMK3 Hanya 66,36%

Dari total 166 kriteria yang dievaluasi, tingkat penerapan di proyek pembangunan gedung tersebut mencapai 66,36%, yang berarti masuk dalam kategori "cukup baik". Namun, angka ini masih menunjukkan bahwa ada hampir 34% elemen SMK3 yang belum diterapkan dengan baik, termasuk beberapa aspek fundamental seperti:

  • Kurangnya pelatihan formal bagi tenaga kerja

  • Tidak adanya struktur organisasi K3 yang jelas

  • Minimnya pelaporan dan dokumentasi kecelakaan

Studi Kasus Nyata: Proyek Gedung A Universitas Muhammadiyah Kendari

Proyek ini menjadi representasi umum proyek skala menengah di Indonesia. Dengan durasi pelaksanaan 180 hari dan melibatkan puluhan pekerja, proyek ini seharusnya menjadi contoh ideal penerapan SMK3. Namun, berdasarkan observasi peneliti:

  • Tidak semua pekerja dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD)

  • Tidak tersedia tim khusus K3 di lapangan

  • Tidak dilakukan audit internal berkala

Masalah-masalah tersebut memperkuat hipotesis bahwa kendala utama bukan pada regulasi, tetapi pada komitmen manajemen proyek dan minimnya pengawasan.

Kritik & Komparasi: Apa Kata Penelitian Lain?

Studi ini sejalan dengan temuan dalam penelitian serupa oleh Iqbal (2021), yang menyatakan bahwa rata-rata implementasi SMK3 di proyek konstruksi swasta Indonesia hanya mencapai 60–70%. Hal ini diperparah dengan rendahnya literasi K3 di kalangan pekerja dan mandor.

Berbeda dengan proyek-proyek besar milik BUMN yang sering diaudit oleh lembaga independen, proyek kampus ini tidak menunjukkan adanya proses pengawasan yang terstruktur. Dengan kata lain, tidak ada paksaan berarti untuk mematuhi PP No. 50 Tahun 2012.

Tantangan Lapangan: Mengapa SMK3 Sulit Diterapkan?

Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya penerapan SMK3 antara lain:

1. Kurangnya SDM Terlatih

  • Banyak proyek tidak mempekerjakan petugas K3 bersertifikat.

  • Pekerja tidak diberi pelatihan rutin atau simulasi evakuasi darurat.

2. Biaya Tambahan

  • Penerapan SMK3 dianggap menambah biaya proyek, sehingga dihindari oleh kontraktor kecil.

3. Lemahnya Penegakan Hukum

  • Tidak ada sanksi konkret bagi pelanggaran implementasi K3 di banyak daerah.

Rekomendasi: Meningkatkan Efektivitas Penerapan SMK3

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis lapangan, beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memperkuat penerapan SMK3:

  • Audit Wajib & Berkala
    Lakukan pemeriksaan eksternal dan independen setiap 3 bulan.

  • Insentif untuk Kontraktor Patuh
    Pemerintah daerah bisa memberikan insentif pajak atau prioritas tender kepada kontraktor yang terbukti menerapkan SMK3 secara penuh.

  • Penguatan Peran Pengawas Lapangan
    Supervisi harus difungsikan bukan hanya sebagai pengawas teknis, tetapi juga pengawas keselamatan.

  • Digitalisasi Laporan K3
    Gunakan sistem pelaporan berbasis aplikasi untuk memudahkan monitoring harian.

Opini Penulis: Saatnya SMK3 Jadi Standar Etika, Bukan Sekadar Regulasi

Penelitian ini menyentil persoalan mendasar dalam dunia konstruksi Indonesia: kesehatan dan keselamatan kerja masih dianggap beban, bukan kebutuhan. Padahal, banyak negara seperti Jepang dan Jerman menjadikan K3 sebagai budaya perusahaan.

Indonesia harus mulai membangun narasi bahwa SMK3 adalah bentuk etika kerja profesional. Bukan hanya demi menurunkan angka kecelakaan kerja, tetapi juga untuk membangun ekosistem konstruksi yang modern, manusiawi, dan berkelanjutan.

Penutup: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Kepatuhan

Evaluasi yang dilakukan pada proyek pembangunan Gedung A Universitas Muhammadiyah Kendari menunjukkan adanya kesenjangan antara regulasi dan praktik di lapangan. Meski tingkat implementasinya cukup baik, namun masih banyak ruang untuk perbaikan, terutama dalam hal pelatihan, pengawasan, dan dokumentasi.

Studi ini penting sebagai pengingat bahwa pembangunan yang berkualitas bukan hanya soal desain dan anggaran, tapi juga soal keselamatan manusia yang terlibat di dalamnya.

Sumber Asli Artikel

Hardin, Muh. Chaiddir Hajia, & La Ode Asrun. (2022). Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Berdasarkan PP No. 50 Tahun 2012 Pada Proyek Pembangunan Gedung A Universitas Muhammadiyah Kendari. Jurnal Karya Teknik Sipil, 11(1), 15-23.
Tautan resmi: https://ojs.unsultra.ac.id/index.php/jkteksipil/article/view/3624

Selengkapnya
Evaluasi SMK3 di Proyek Konstruksi: Studi Kasus Gedung A Universitas Muhammadiyah Kendari

Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah

Teknologi Inovatif Yang Bisa Meningkatkan Keselamatan Pekerja Proyek Konstruksi Bawah Tanah

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025


Keselamatan dan kesehatan kerja (Occupational Safety and Health/OS&H) di proyek konstruksi bawah tanah telah lama menjadi tantangan besar karena kondisi ekstrem dan lingkungan kerja yang kompleks. Artikel ilmiah oleh Sorlini et al. (2023) menyajikan hasil telaah dan implementasi berbagai teknologi mutakhir untuk meningkatkan OS&H di proyek besar seperti Tunnel Euralpin Lyon Turin (TELT).

Artikel ini merangkum tren utama serta penerapan nyata teknologi berbasis Industry 4.0, dari sistem desain digital hingga perangkat wearable cerdas, guna menciptakan lingkungan kerja bawah tanah yang lebih aman dan efisien.

Mengapa Keselamatan di Bawah Tanah Sulit Dicapai?

Konstruksi bawah tanah, seperti terowongan, berhadapan dengan risiko tinggi karena:

  • Ruang terbatas, alat berat berdimensi besar, dan pekerjaan simultan di lokasi sempit
  • Paparan zat berbahaya seperti asbestos dan silika
  • Ventilasi buruk, komunikasi terbatas, dan pencahayaan minim
  • Suhu ekstrem dan kelembapan tinggi

Situasi ini membuat manajemen risiko harus presisi dan adaptif, menuntut teknologi yang bisa memperkirakan, memantau, dan merespons ancaman secara real-time.

Empat Pilar Teknologi OS&H di Konstruksi Bawah Tanah

1. Desain Digital dan Simulasi Cerdas

a. CCCP (Computer Aided Cause Consequence for Prevention)

Model ini menggabungkan teknik FTA dan ETA untuk menganalisis akar penyebab kecelakaan dan menentukan tindakan pencegahan. Misalnya, untuk kasus tabrakan antara pekerja dan kendaraan, model ini membantu merancang sistem anti-tabrakan berbasis RFID dan analisis ruang fungsional.

b. BIM dan 3D CAD

Building Information Modeling (BIM) digunakan untuk:

  • Visualisasi bahaya
  • Perencanaan simulasi evakuasi
  • Integrasi dengan IoT untuk pemantauan real-time
    3D CAD memperkuat analisis interferensi antara alat berat dan pekerja, seperti yang diterapkan di La Maddalena site.

2. Teknologi Industry 4.0 untuk Lokasi Ekstrem

a. Geolokasi dan Sistem Komunikasi

  • TSP (Transport Service Point): kendaraan penyelamat dengan kapasitas 14 orang, sensor kebakaran, alarm visual-audio, dan detektor rintangan depan-belakang.
  • Sistem ini terbukti efektif dalam menyelamatkan nyawa dalam operasi darurat di terowongan TELT.

3. Manajemen Otomatis dan Robotik

a. Rover AXEL

Digunakan untuk menjelajahi dan memantau area sepanjang 3 km di terowongan Maddalena yang sebelumnya tidak dapat diakses sejak 2017 karena suhu >45°C. Rover ini membawa kamera, sensor gas, dan alat ukur.

b. Rangka Baja Otomatis (Automatic Ribs)

Diterapkan di proyek Bologna–Florence dan TELT, sistem ini:

  • Mengurangi durasi paparan pekerja
  • Menurunkan kecelakaan saat pemasangan struktur pendukung

c. Sensor Anti-tabrakan

  • Teknologi RFID, radar, dan inframerah digunakan untuk mendeteksi keberadaan pekerja dan mencegah tabrakan alat berat.
  • Implementasi di TELT menurunkan kejadian kecelakaan secara signifikan.

4. Perangkat Pribadi Pintar dan Pelatihan Imersif

a. Smart PPE (Personal Protective Equipment)

Pakaian dan helm dilengkapi sensor yang bisa:

  • Mendeteksi gas beracun
  • Memonitor suhu, detak jantung, dan lokasi pekerja
  • Mengirim data ke sistem pusat melalui IoT

b. Exoskeletons

Meskipun masih terbatas, eksoskeleton pasif dan aktif sedang dikembangkan untuk:

  • Mengurangi cedera otot
  • Memantau postur tidak ergonomis secara real-time

c. VR/AR untuk Pelatihan dan Simulasi

  • Digunakan untuk pelatihan evakuasi kebakaran dan simulasi real-time
  • Visualisasi langsung skenario bahaya
  • Diterapkan dalam konteks Job Safety Analysis (JSA)

Studi Kasus Nyata: Proyek TELT Lyon–Turin

Proyek kereta cepat sepanjang 270 km ini (57,5 km terowongan bawah tanah) menjadi laboratorium inovasi OS&H. Teknologi yang diuji mencakup:

  • Sistem ventilasi adaptif untuk menghadapi keberadaan gas dan partikel mineral berbahaya
  • Sistem pandu kendaraan dengan sensor 360° untuk transportasi logistik dan penyelamatan
  • Pemantauan gas tetap dan portabel, serta software ventilasi otomatis berbasis data sensor

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Walaupun berbagai teknologi telah diterapkan, integrasi penuh dalam sistem prediktif masih menjadi tantangan besar, khususnya:

  • AI dan Machine Learning untuk prediksi deviasi struktural masih dalam tahap awal
  • Exoskeletons belum sepenuhnya cocok dengan kondisi sempit dan kompleksitas akses lokasi bawah tanah

Namun, adopsi teknologi seperti sistem RFID dan pelatihan berbasis VR menunjukkan dampak langsung terhadap penurunan kecelakaan.

Kesimpulan: Masa Depan OS&H Dimulai dari Sekarang

Transformasi digital dalam konstruksi bawah tanah bukan lagi wacana masa depan, melainkan kebutuhan mendesak hari ini. Studi ini menegaskan bahwa:

  • Integrasi desain digital, sensor, AI, dan perangkat wearable secara simultan dapat menciptakan situs konstruksi bawah tanah yang jauh lebih aman
  • Inisiatif seperti proyek TELT bisa menjadi acuan global dalam membangun budaya keselamatan berbasis teknologi
  • Kolaborasi antara universitas, industri, dan regulator diperlukan untuk mempercepat penerapan teknologi ini secara lebih luas

Dunia konstruksi bawah tanah sedang bergerak menuju masa depan di mana keselamatan tidak hanya diupayakan, tetapi dirancang sejak awal dengan cerdas.

Sumber: Sorlini, A.; Maxia, L.; Patrucco, M.; Pira, E. Occupational Safety and Health Improvements through Innovative Technologies in Underground Construction Sites: Main Trends and Some Case Histories. Infrastructures 2023, 8, 104. 

Selengkapnya
Teknologi Inovatif Yang Bisa Meningkatkan Keselamatan Pekerja Proyek Konstruksi Bawah Tanah

Transformasi Digital Pendidikan

Transformasi Digital SMK: Sistem Monitoring PKL Berbasis Web yang Mengubah Cara Sekolah Pantau Siswa

Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 06 Mei 2025


Pendahuluan

Praktik Kerja Industri (PKL) adalah kegiatan penting dalam sistem pendidikan kejuruan di Indonesia. Sayangnya, banyak sekolah masih mengandalkan metode manual dalam memantau kegiatan ini. Di tengah dorongan digitalisasi pendidikan, efisiensi pengelolaan PKL menjadi tuntutan, bukan pilihan.

Artikel ini menyuguhkan solusi berbasis teknologi dengan merancang sistem informasi monitoring PKL berbasis web untuk SMK Negeri 1 Garut. Penelitian ini tidak hanya menyelesaikan masalah teknis administratif, tetapi juga mengangkat tantangan koordinasi, transparansi, dan efektivitas dalam proses belajar di luar kelas.

Latar Belakang

Pengawasan praktik kerja siswa SMK seringkali terhambat oleh:

  • Komunikasi terbatas antara pembimbing sekolah dan dunia industri.

  • Minimnya dokumentasi kegiatan harian siswa.

  • Kurangnya alat untuk menilai kinerja siswa secara objektif.

Hal ini diperparah dengan metode manual yang rawan kehilangan data, duplikasi informasi, dan keterlambatan laporan. Maka, kebutuhan akan sistem informasi berbasis web menjadi mendesak untuk menyederhanakan alur monitoring, dokumentasi, dan evaluasi siswa selama PKL.

Tujuan Penelitian dan Fokus Pengembangan Sistem

Tujuan utama dari penelitian ini adalah merancang sistem informasi berbasis web yang:

  • Mempermudah pembimbing sekolah dalam mengawasi siswa PKL.

  • Memberikan ruang bagi siswa untuk melaporkan aktivitas harian.

  • Menyediakan fitur dokumentasi dan penilaian langsung.

  • Menghubungkan tiga entitas utama: siswa, pembimbing sekolah, dan pembimbing industri.

Sistem ini juga diharapkan meminimalisasi kesalahan pencatatan, meningkatkan kecepatan komunikasi, dan menciptakan keterbukaan informasi.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan metode rekayasa perangkat lunak Waterfall, yang terdiri dari lima tahap:

  1. Analisis kebutuhan – Mengumpulkan kebutuhan pengguna melalui wawancara dan observasi di SMK Negeri 1 Garut.

  2. Desain sistem – Membuat desain antarmuka, basis data, dan alur proses.

  3. Implementasi – Pengembangan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan basis data MySQL.

  4. Pengujian – Verifikasi fungsionalitas menggunakan metode black-box.

  5. Pemeliharaan – Penyempurnaan sistem berdasarkan feedback pengguna.

Pemilihan teknologi ini relatif sederhana namun efisien untuk kebutuhan institusi pendidikan menengah.

Hasil: Fitur dan Fungsi Sistem

Sistem informasi yang dirancang memiliki beberapa fitur utama:

  • Login multi-user: pembimbing sekolah, pembimbing industri, dan siswa memiliki akun berbeda dengan akses terbatas sesuai peran.

  • Laporan harian siswa: siswa dapat mengisi aktivitas harian selama PKL.

  • Penilaian online: pembimbing sekolah dan industri dapat memberikan skor dan catatan.

  • Manajemen data siswa: termasuk status aktif PKL, perusahaan tempat magang, dan durasi pelaksanaan.

Tampilan antarmuka juga dibuat user-friendly agar dapat diakses oleh pengguna dengan latar belakang teknologi yang berbeda-beda.

Studi Kasus

Dalam studi kasus di SMK Negeri 1 Garut, implementasi sistem ini menunjukkan:

  • Peningkatan akurasi data laporan siswa hingga 90% dibanding sebelumnya.

  • Waktu proses rekap nilai PKL berkurang dari 1 minggu menjadi 2 hari.

  • Tingkat partisipasi siswa dalam laporan harian meningkat karena kemudahan akses melalui perangkat mobile.

Temuan ini menunjukkan sistem tidak hanya bermanfaat secara administratif, tetapi juga mendorong kedisiplinan dan kemandirian siswa.

Analisis Tambahan: Kekuatan dan Kelemahan Sistem

Kekuatan:

  • Adaptabilitas tinggi: Bisa diterapkan di SMK lain dengan sedikit penyesuaian.

  • Efisiensi waktu: Memangkas waktu kerja pembimbing dalam monitoring.

  • Penguatan relasi industri: Industri lebih mudah memantau kontribusi siswa.

Kelemahan:

  • Ketergantungan pada jaringan internet: Di daerah dengan koneksi terbatas, sistem ini kurang efektif.

  • Skalabilitas terbatas: Desain awal belum mempertimbangkan lonjakan pengguna yang besar atau integrasi dengan sistem sekolah lainnya.

  • Tidak ada fitur mobile app khusus: Akses hanya melalui browser, padahal siswa lebih banyak menggunakan smartphone.

Perbandingan dengan Penelitian Lain

Jika dibandingkan dengan penelitian sejenis seperti sistem monitoring PKL berbasis Android di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (2021), sistem berbasis web memiliki keunggulan dari sisi keterjangkauan platform. Namun, aplikasi berbasis Android lebih unggul dari segi kenyamanan pengguna muda.

Penelitian dari Handayani (2019) juga menyoroti pentingnya integrasi sistem monitoring dengan sistem informasi akademik sekolah untuk meningkatkan efisiensi administratif secara keseluruhan.

Relevansi dengan Dunia Industri dan Pendidikan Saat Ini

Dengan meningkatnya tuntutan industri terhadap keterampilan siap pakai, monitoring PKL menjadi komponen penting dalam penjaminan mutu lulusan SMK. Sistem seperti ini memungkinkan:

  • Evaluasi berbasis kinerja nyata, bukan sekadar laporan naratif.

  • Feedback langsung dari industri sebagai masukan untuk kurikulum.

  • Pemetaan kompetensi siswa berdasarkan data PKL.

Dalam konteks Merdeka Belajar dan kurikulum SMK terbaru yang berbasis link and match, sistem ini selaras dengan arah kebijakan nasional.

Potensi Pengembangan dan Rekomendasi

Agar sistem ini lebih bermanfaat secara luas, pengembangan lanjutan bisa diarahkan ke:

  • Integrasi dengan aplikasi mobile (Android/iOS).

  • Sistem notifikasi otomatis (pengingat laporan harian).

  • Dashboard analitik untuk menampilkan performa siswa secara visual.

  • Integrasi dengan data kehadiran dan evaluasi akhir semester.

  • Fitur pelaporan kendala dari industri ke sekolah secara real time.

Kesimpulan

Penelitian ini menghadirkan solusi konkret atas masalah klasik dalam pemantauan PKL. Sistem informasi berbasis web yang dirancang tidak hanya mempermudah kerja guru dan sekolah, tetapi juga melibatkan siswa secara aktif dalam pelaporan dan evaluasi diri.

Lebih dari sekadar alat bantu, sistem ini menjadi bagian dari transformasi digital yang membawa pendidikan vokasi lebih adaptif terhadap dunia kerja. Namun, perlu diingat bahwa transformasi semacam ini membutuhkan dukungan dari infrastruktur dan peningkatan literasi digital di kalangan pendidik dan peserta didik.

Sumber

Kurnia, Asep Deni; Sudaryadi, Ade; Cahyana, Rinda. (2016). Perancangan Sistem Informasi Monitoring Kegiatan Praktik Kerja Industri Siswa SMK Berbasis Web (Studi Kasus: SMK Negeri 1 Garut). Jurnal Algoritma STT Garut, Vol. 13 No. 2.

Selengkapnya
Transformasi Digital SMK: Sistem Monitoring PKL Berbasis Web yang Mengubah Cara Sekolah Pantau Siswa
« First Previous page 550 of 1.408 Next Last »