Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025
Keselamatan dan kesehatan kerja (Occupational Safety and Health/OS&H) di proyek konstruksi bawah tanah telah lama menjadi tantangan besar karena kondisi ekstrem dan lingkungan kerja yang kompleks. Artikel ilmiah oleh Sorlini et al. (2023) menyajikan hasil telaah dan implementasi berbagai teknologi mutakhir untuk meningkatkan OS&H di proyek besar seperti Tunnel Euralpin Lyon Turin (TELT).
Artikel ini merangkum tren utama serta penerapan nyata teknologi berbasis Industry 4.0, dari sistem desain digital hingga perangkat wearable cerdas, guna menciptakan lingkungan kerja bawah tanah yang lebih aman dan efisien.
Mengapa Keselamatan di Bawah Tanah Sulit Dicapai?
Konstruksi bawah tanah, seperti terowongan, berhadapan dengan risiko tinggi karena:
Situasi ini membuat manajemen risiko harus presisi dan adaptif, menuntut teknologi yang bisa memperkirakan, memantau, dan merespons ancaman secara real-time.
Empat Pilar Teknologi OS&H di Konstruksi Bawah Tanah
1. Desain Digital dan Simulasi Cerdas
a. CCCP (Computer Aided Cause Consequence for Prevention)
Model ini menggabungkan teknik FTA dan ETA untuk menganalisis akar penyebab kecelakaan dan menentukan tindakan pencegahan. Misalnya, untuk kasus tabrakan antara pekerja dan kendaraan, model ini membantu merancang sistem anti-tabrakan berbasis RFID dan analisis ruang fungsional.
b. BIM dan 3D CAD
Building Information Modeling (BIM) digunakan untuk:
2. Teknologi Industry 4.0 untuk Lokasi Ekstrem
a. Geolokasi dan Sistem Komunikasi
3. Manajemen Otomatis dan Robotik
a. Rover AXEL
Digunakan untuk menjelajahi dan memantau area sepanjang 3 km di terowongan Maddalena yang sebelumnya tidak dapat diakses sejak 2017 karena suhu >45°C. Rover ini membawa kamera, sensor gas, dan alat ukur.
b. Rangka Baja Otomatis (Automatic Ribs)
Diterapkan di proyek Bologna–Florence dan TELT, sistem ini:
c. Sensor Anti-tabrakan
4. Perangkat Pribadi Pintar dan Pelatihan Imersif
a. Smart PPE (Personal Protective Equipment)
Pakaian dan helm dilengkapi sensor yang bisa:
b. Exoskeletons
Meskipun masih terbatas, eksoskeleton pasif dan aktif sedang dikembangkan untuk:
c. VR/AR untuk Pelatihan dan Simulasi
Studi Kasus Nyata: Proyek TELT Lyon–Turin
Proyek kereta cepat sepanjang 270 km ini (57,5 km terowongan bawah tanah) menjadi laboratorium inovasi OS&H. Teknologi yang diuji mencakup:
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Walaupun berbagai teknologi telah diterapkan, integrasi penuh dalam sistem prediktif masih menjadi tantangan besar, khususnya:
Namun, adopsi teknologi seperti sistem RFID dan pelatihan berbasis VR menunjukkan dampak langsung terhadap penurunan kecelakaan.
Kesimpulan: Masa Depan OS&H Dimulai dari Sekarang
Transformasi digital dalam konstruksi bawah tanah bukan lagi wacana masa depan, melainkan kebutuhan mendesak hari ini. Studi ini menegaskan bahwa:
Dunia konstruksi bawah tanah sedang bergerak menuju masa depan di mana keselamatan tidak hanya diupayakan, tetapi dirancang sejak awal dengan cerdas.
Sumber: Sorlini, A.; Maxia, L.; Patrucco, M.; Pira, E. Occupational Safety and Health Improvements through Innovative Technologies in Underground Construction Sites: Main Trends and Some Case Histories. Infrastructures 2023, 8, 104.
Sertifikasi Profesi dan Tenaga Kerja
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Mei 2025
Pendahuluan: Mengapa Produktivitas Tenaga Kerja Jadi Isu Sentral?
Dalam industri konstruksi, tenaga kerja merupakan elemen vital yang memengaruhi langsung durasi, kualitas, dan biaya proyek. Namun, masalah klasik seperti keterlambatan proyek dan pembengkakan anggaran seringkali berakar pada rendahnya produktivitas tenaga kerja. Artikel karya Mustaqim T. dan Arif S. Pane ini mengangkat tema tersebut dengan fokus pada proyek pembangunan gedung, memberikan gambaran mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pekerja dan bagaimana upaya peningkatan dapat diterapkan secara nyata.
Tujuan Penelitian dan Konteks Proyek
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur produktivitas tenaga kerja secara kuantitatif dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab rendahnya kinerja. Studi dilakukan di proyek pembangunan gedung Universitas Negeri Medan dengan metode kuantitatif deskriptif. Fokus utama adalah pada pekerjaan bekisting, pembesian, dan pengecoran kolom yang secara umum membutuhkan keterampilan dan koordinasi tinggi di lapangan.
Metodologi: Mengupas Produktivitas dengan Data Lapangan
Pengumpulan data dilakukan melalui:
Observasi langsung terhadap 30 pekerja di 10 hari kerja
Penggunaan metode kuantifikasi produktivitas satuan output/jam kerja
Wawancara dengan mandor dan pengawas lapangan
Metodologi ini relevan dan aplikatif untuk diterapkan dalam proyek serupa karena menyajikan hasil konkret berdasarkan aktivitas kerja harian.
Dari hasil wawancara dan observasi, penyebab rendahnya produktivitas antara lain:
Minimnya pelatihan kerja
Kurangnya pengawasan langsung
Peralatan kerja tidak optimal
Kedisiplinan dan kehadiran pekerja yang fluktuatif
Koordinasi antartim yang belum optimal
Kondisi ini menggambarkan bahwa produktivitas bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi juga manajerial dan motivasional.
Perbandingan dengan Studi Lain
Studi ini sejalan dengan temuan Fiqra Afrian dkk. (2022) mengenai rendahnya produktivitas pekerja pada pekerjaan dinding bata ringan akibat kurangnya perencanaan tenaga kerja dan monitoring yang lemah. Demikian pula, penelitian Adebowale & Agumba (2021) menyebutkan bahwa faktor manajemen proyek, termasuk komunikasi dan logistik, merupakan variabel signifikan dalam mendorong produktivitas kerja.
Relevansi Industri: Tantangan dan Solusi Praktis
Tantangan Umum di Proyek Konstruksi:
Tenaga kerja tidak terampil banyak digunakan demi menekan biaya.
Ketidaksesuaian antara perencanaan waktu dan realisasi di lapangan.
Absennya sistem evaluasi kinerja individual secara berkala.
Solusi yang Disarankan Berdasarkan Temuan Penelitian:
Peningkatan Pelatihan: Pelatihan singkat pra-proyek untuk menstandarkan teknik kerja dasar.
Reward System: Sistem insentif berbasis produktivitas nyata (misalnya: bonus harian berdasarkan target capaian).
Perbaikan Koordinasi: Penambahan pengawas lapangan dan perbaikan komunikasi vertikal/horizontal dalam proyek.
Pemanfaatan Teknologi: Penggunaan aplikasi monitoring kerja harian (contoh: penggunaan time tracker sederhana).
Kritik dan Catatan untuk Penelitian
Meskipun penelitian ini menyajikan data konkret dan metode observasional yang baik, terdapat beberapa hal yang bisa ditingkatkan:
Keterbatasan Sampel: Hanya dilakukan pada satu proyek dan dalam waktu pengamatan relatif singkat (10 hari).
Aspek Kualitatif Minim: Penilaian terhadap motivasi, kepuasan kerja, atau faktor psikososial belum dieksplorasi.
Tidak Ada Simulasi Produktivitas Alternatif: Misalnya, simulasi dampak jika satu faktor (misal pelatihan) ditingkatkan 50%.
Namun demikian, artikel ini memberikan fondasi kuat bagi pengembangan studi lebih lanjut, terutama yang mengintegrasikan pendekatan multidisiplin (manajemen proyek + psikologi kerja).
Studi Kasus Industri: Pembelajaran dari Proyek MRT Jakarta
Sebagai perbandingan, proyek MRT Jakarta dikenal sebagai salah satu proyek dengan kontrol produktivitas tenaga kerja yang ketat. Di proyek tersebut, dilakukan:
Briefing pagi setiap hari selama 15 menit
Penilaian mingguan terhadap setiap kelompok kerja
Insentif kolektif berbasis kinerja mingguan
Dengan sistem ini, waktu penyelesaian pekerjaan struktur bisa ditekan 20% lebih cepat dibandingkan proyek sejenis.
Jika pendekatan serupa diterapkan pada proyek seperti yang diteliti dalam paper ini, potensi peningkatan efisiensi dapat ditingkatkan secara signifikan.
Kesimpulan: Pentingnya Intervensi Manajerial untuk Produktivitas Optimal
Produktivitas tenaga kerja adalah tolok ukur utama dalam keberhasilan proyek konstruksi. Penelitian oleh Mustaqim T. dan Arif S. Pane mengungkap bahwa pencapaian tenaga kerja masih berada di bawah standar nasional, terutama karena faktor manajemen, motivasi, dan kurangnya dukungan teknis. Untuk mencapai target efisiensi dan kualitas, intervensi berbasis pelatihan, motivasi, dan manajemen proyek perlu segera diterapkan. Industri konstruksi Indonesia dapat mengambil pelajaran berharga dari temuan ini untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks dan kompetitif.
Sumber
Mustaqim T., Arif S. Pane. Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja pada Proyek Pembangunan Gedung. Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Arsitektur. Tersedia di: https://ejurnal.untag-smd.ac.id/index.php/TEK/article/view/4631
Kontruksi Hijau
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Mei 2025
Pendahuluan: Keselamatan Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam proyek konstruksi bukan sekadar formalitas regulasi, tetapi kebutuhan fundamental untuk menjamin keberlangsungan proyek, keselamatan tenaga kerja, dan citra perusahaan. Artikel karya Muhammad Iqbal, Rosdiana Rahim, dan Abdul Rahman mencoba mengangkat urgensi ini melalui studi mendalam terhadap implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dalam sebuah proyek pembangunan gedung.
Tujuan dan Relevansi Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sejauh mana penerapan SMK3 mampu meningkatkan kinerja K3 pada proyek konstruksi, dengan mengambil studi kasus pada proyek pembangunan gedung milik instansi pemerintah di Kota Kendari. Dalam konteks meningkatnya angka kecelakaan kerja sektor konstruksi di Indonesia, topik ini menjadi sangat relevan.
Menurut data BPJS Ketenagakerjaan, industri konstruksi menyumbang sekitar 30% dari total kecelakaan kerja nasional. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji efektivitas sistem yang dirancang untuk mengurangi risiko tersebut, yaitu SMK3.
Metodologi Penelitian: Kombinasi Data Lapangan dan Regulasi
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara dengan pihak terkait, dan penyebaran kuesioner kepada para pekerja dan pengelola proyek.
Instrumen evaluasi SMK3 didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012, yang menjadi acuan nasional dalam pelaksanaan SMK3. Aspek-aspek utama yang dianalisis meliputi:
Kebijakan dan komitmen manajemen
Perencanaan K3
Pelaksanaan program K3
Evaluasi dan tindakan korektif
Dokumentasi dan pengendalian dokumen
Temuan Utama: Implementasi SMK3 dalam Realita Proyek
1. Komitmen Manajemen: Masih Sebatas Administrasi
Salah satu temuan penting adalah bahwa meskipun terdapat dokumen formal mengenai kebijakan K3, implementasinya masih lemah di lapangan. Banyak pekerja tidak memahami isi kebijakan tersebut karena minimnya sosialisasi dan pelatihan berkelanjutan.
2. Program K3 Berjalan, Namun Belum Optimal
Program seperti safety induction dan penggunaan alat pelindung diri (APD) memang dijalankan. Namun berdasarkan observasi, tingkat kedisiplinan dalam pemakaian APD masih fluktuatif. Sebagian pekerja bahkan menganggap penggunaan APD menghambat pekerjaan.
3. Evaluasi dan Tindak Lanjut: Belum Terstruktur
Evaluasi berkala terhadap penerapan K3 masih kurang sistematis. Tidak ditemukan dokumentasi lengkap mengenai pelaporan near-miss atau insiden kecil, yang justru bisa menjadi indikator awal potensi kecelakaan besar.
Analisis Tambahan: Kesenjangan antara Regulasi dan Praktik
Meskipun regulasi SMK3 sudah cukup komprehensif, implementasi di lapangan seringkali menemui kendala:
Kurangnya SDM Ahli K3: Banyak proyek masih belum memiliki personel bersertifikat K3.
Budaya Kerja yang Abai terhadap Keselamatan: Tekanan waktu dan biaya sering membuat pengawas lebih fokus pada progres fisik ketimbang keselamatan kerja.
Kepatuhan Formalitas: Banyak perusahaan menjalankan program K3 hanya untuk memenuhi syarat tender, bukan karena kesadaran risiko.
Studi ini mencerminkan realitas tersebut, dan menjadi cerminan banyak proyek lainnya di Indonesia
Studi Perbandingan: Bagaimana Negara Lain Menangani K3?
Sebagai perbandingan, Australia memiliki sistem bernama “Safe Work Method Statement (SWMS)” yang mewajibkan dokumentasi metode kerja aman untuk setiap aktivitas konstruksi berisiko tinggi. Pelanggaran terhadap SWMS dapat dikenai denda besar, mendorong pelaksanaan K3 yang lebih disiplin.
Ini menunjukkan bahwa komitmen terhadap keselamatan harus dibangun tidak hanya dari kebijakan, tetapi juga dari sistem reward-punishment yang tegas dan budaya kerja kolektif.
Studi Kasus: Proyek Gedung Pemerintah di Kendari
Pada proyek yang dijadikan studi kasus, tercatat:
Sebanyak 78% pekerja telah mendapatkan pelatihan K3 dasar, namun hanya 55% yang mengaku rutin menggunakan APD.
Mayoritas pekerja (65%) menyatakan tidak mengetahui SOP tanggap darurat, padahal ini adalah aspek vital dalam SMK3.
Sarana keselamatan seperti jalur evakuasi dan pemadam api portabel tersedia, namun tidak semua pekerja tahu cara menggunakannya.
Temuan ini menyoroti pentingnya edukasi berkelanjutan dan simulasi situasi darurat secara berkala.
Implikasi Praktis dan Rekomendasi
Penelitian ini memberikan beberapa rekomendasi penting:
Penguatan Pelatihan dan Edukasi K3
Pelatihan tidak boleh berhenti di awal proyek. Harus ada refresh training berkala dan inspeksi mendadak (spot check).
Penunjukan Petugas K3 Bersertifikat di Setiap Proyek
Bukan sekadar formalitas, tetapi dengan peran aktif dalam pengawasan dan pelaporan risiko.
Penerapan Sistem Reward dan Sanksi
Misalnya, pemberian bonus bagi tim dengan nol kecelakaan kerja selama periode tertentu.
Audit SMK3 Berkala oleh Pihak Independen
Audit dari pihak luar akan memberikan evaluasi yang lebih objektif dan menghindari bias internal.
Kritik dan Evaluasi Penelitian
Secara umum, paper ini menyajikan kerangka yang baik dan data yang memadai. Namun, ada beberapa catatan kritis:
Kurangnya visualisasi data: Grafik atau tabel akan membantu memperjelas temuan lapangan.
Tidak membahas anggaran K3: Padahal, alokasi biaya sering menjadi faktor kunci dalam keberhasilan implementasi SMK3.
Tidak menjelaskan ukuran keberhasilan secara kuantitatif: Seperti target zero accident atau penurunan angka insiden.
Namun, kontribusi penelitian ini tetap penting sebagai gambaran realistis pelaksanaan SMK3 di proyek gedung berskala menengah.
Kesimpulan: Menuju Konstruksi yang Aman dan Berkelanjutan
Implementasi SMK3 adalah kunci dalam mewujudkan proyek konstruksi yang tidak hanya sukses dari sisi fisik, tetapi juga aman dan berkelanjutan dari sisi manusia. Paper ini menunjukkan bahwa meskipun kebijakan sudah ada, implementasi masih menghadapi tantangan besar.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, kontraktor, dan pekerja sangat diperlukan untuk membangun budaya K3 yang kuat dan efektif. Dengan demikian, sektor konstruksi Indonesia tidak hanya maju dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam perlindungan tenaga kerja.
Sumber Artikel
Muhammad Iqbal, Rosdiana Rahim, dan Abdul Rahman. Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dalam Peningkatan Kinerja K3 pada Proyek Pembangunan Gedung. Jurnal Ilmiah Teknik Sipil CENDEKIA, Volume 19, No. 1, 2023.
Link ke jurnal (jika tersedia):
Keselamatan Industri
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Mei 2025
Mengapa Keselamatan Kerja Konstruksi Tak Bisa Diabaikan?
Industri konstruksi dikenal sebagai salah satu sektor paling berisiko tinggi terhadap kecelakaan kerja. Laporan dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa sektor ini menyumbang lebih dari 20% dari seluruh kecelakaan kerja fatal secara global. Di Indonesia, data dari BPJS Ketenagakerjaan menyebutkan lebih dari 130.000 kasus kecelakaan kerja terjadi sepanjang 2022, dengan banyak di antaranya berasal dari proyek konstruksi.
Artikel karya Muhammad Rizal dan kolega mengambil sorotan tajam terhadap pentingnya Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam proyek pembangunan gedung. Penelitian ini tidak hanya mengamati implementasi K3 secara teoritis, tetapi juga menelaah penerapan nyata di lapangan pada salah satu proyek di Kota Kendari.
Tujuan & Latar Belakang Penelitian
Tujuan utama studi ini adalah mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip manajemen K3 telah diterapkan di proyek pembangunan gedung, serta menilai efektivitas pengendalian risiko kerja yang dilakukan oleh manajemen proyek.
Latar belakang penelitian ini berpijak pada kenyataan pahit bahwa banyak proyek konstruksi di Indonesia masih mengabaikan aspek keselamatan. Minimnya pemahaman, rendahnya kepatuhan terhadap regulasi, dan lemahnya pengawasan menjadi kombinasi mematikan yang sering berujung pada kecelakaan fatal.
Metodologi: Studi Lapangan Berbasis Observasi & Wawancara
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang didukung dengan observasi langsung di lapangan dan wawancara mendalam terhadap personel proyek, mulai dari manajer proyek hingga pekerja lapangan. Data dianalisis berdasarkan indikator manajemen K3 yang mencakup:
Komitmen manajemen terhadap K3
Sistem dan prosedur K3
Alat pelindung diri (APD)
Pelatihan dan sosialisasi
Pengawasan dan evaluasi
Hasil Utama: Penerapan K3 Masih Belum Maksimal
1. Komitmen Manajemen: Ada, Tapi Lemah
Penelitian menemukan bahwa komitmen manajemen proyek terhadap K3 masih tergolong kurang optimal. Meski ada pembentukan tim K3, keberadaannya lebih bersifat administratif daripada operasional. Kurangnya pengawasan ketat dan tidak adanya evaluasi berkala membuat penerapan standar K3 hanya menjadi formalitas.
2. APD: Tersedia, Tapi Tidak Digunakan Konsisten
Meskipun perusahaan menyediakan APD seperti helm, rompi keselamatan, sepatu boot, dan sarung tangan, penggunaannya masih tidak disiplin. Banyak pekerja yang mengabaikan APD karena merasa tidak nyaman, tidak diawasi secara langsung, atau karena kurangnya sanksi.
Contoh nyata di lapangan adalah pekerja di area pengecoran yang tidak menggunakan helm karena merasa area tersebut aman, padahal risiko kejatuhan material tetap tinggi.
3. Pelatihan dan Sosialisasi Masih Minim
Penelitian menunjukkan bahwa pelatihan K3 hanya dilakukan sekali saat awal proyek. Tidak ada sesi pelatihan berkala atau refreshment training untuk pekerja baru. Ini memperlihatkan lemahnya komitmen edukatif dari pihak manajemen proyek terhadap pekerjanya.
4. Sistem Dokumentasi dan Evaluasi Tidak Terstruktur
Dokumentasi risiko, seperti HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control), tidak dilakukan secara rutin. Evaluasi terhadap penerapan K3 juga hanya terjadi jika ada kejadian atau inspeksi dari pihak luar, bukan sebagai bagian dari siklus manajemen rutin.
Analisis Tambahan & Studi Kasus Pendukung
Untuk memberi konteks yang lebih luas, mari kita bandingkan dengan proyek pembangunan MRT Jakarta yang dikenal sebagai proyek dengan tingkat penerapan K3 yang sangat baik. Di proyek MRT:
Semua pekerja wajib mengikuti pelatihan K3 setiap bulan.
Inspeksi APD dilakukan setiap pagi sebelum pekerja memasuki area kerja.
Terdapat sistem insentif bagi pekerja yang disiplin terhadap K3.
Bandingkan dengan proyek di Kendari ini, yang hanya melakukan pelatihan sekali di awal dan tidak memiliki mekanisme penghargaan maupun hukuman yang jelas. Perbedaan inilah yang menunjukkan bahwa penerapan K3 yang efektif bukan hanya soal alat, tapi soal budaya kerja.
Dampak Praktis: Mengurangi Risiko, Meningkatkan Produktivitas
Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan manajemen K3 yang buruk bukan hanya berdampak pada keselamatan, tapi juga produktivitas proyek secara keseluruhan. Kecelakaan kerja akan menyebabkan keterlambatan, biaya tambahan, bahkan potensi gugatan hukum.
Sebaliknya, proyek dengan budaya K3 yang kuat akan lebih efisien, memiliki reputasi baik, dan mampu menarik lebih banyak mitra kerja.
Kritik & Saran terhadap Penelitian
Kelebihan:
Penelitian ini cukup rinci dalam menggambarkan kondisi lapangan secara faktual.
Menggunakan pendekatan observasi dan wawancara yang memperkaya data kualitatif.
Kelemahan:
Tidak ada pembandingan dengan proyek lain yang sudah menerapkan K3 dengan baik.
Tidak mencantumkan data statistik kecelakaan yang aktual di proyek yang diteliti.
Saran:
Penelitian lanjutan dapat menambahkan pendekatan kuantitatif untuk mengukur hubungan antara penerapan K3 dengan produktivitas proyek.
Perlu kajian longitudinal untuk melihat perkembangan budaya K3 dalam jangka panjang.
Kesimpulan: K3 Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan
Penelitian ini memperkuat fakta bahwa penerapan manajemen K3 yang baik bukan hanya formalitas, tetapi kunci keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan proyek. Masih banyak proyek konstruksi di Indonesia yang menganggap K3 sebagai beban tambahan, bukan sebagai bagian integral dari manajemen proyek.
Penerapan K3 harus berubah dari sekadar simbol ke arah budaya kerja yang melekat di setiap aktivitas. Perubahan ini membutuhkan komitmen, edukasi terus-menerus, dan sistem evaluasi yang ketat.
Implikasi untuk Dunia Industri
Tren global menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan standar keselamatan tinggi lebih kompetitif dan menarik bagi investor. Dengan banyaknya regulasi internasional seperti ISO 45001, proyek-proyek konstruksi di Indonesia perlu mulai mengejar standar global agar bisa bersaing di pasar regional dan internasional.
Sumber:
Rizal, M., Rahim, R., & Rahman, A. (2023). Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pekerjaan Konstruksi Proyek Pembangunan Gedung. Jurnal Media Teknik Sipil, 23(1). Diakses dari https://ojs.uho.ac.id/index.php/MTS/article/view/7133
Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025
Ruang bawah tanah perkotaan (urban underground space/UUS) kini menjadi sorotan utama dalam upaya mengatasi berbagai tantangan urbanisasi, khususnya dalam kaitannya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kajian komprehensif dari Peng et al. (2021) menyoroti bahwa setidaknya 11 dari 17 SDGs memiliki hubungan erat dengan pengembangan UUS. Dalam artikel ini, kita akan membedah dimensi kritis dari pendekatan kolaboratif, menyajikan studi kasus nyata, dan meninjau tantangan maupun peluang yang ditawarkan oleh pemanfaatan ruang bawah tanah secara berkelanjutan.
Mengapa Ruang Bawah Tanah Menjadi Penting?
Dengan meningkatnya urbanisasi, kota-kota menghadapi tekanan besar terhadap ketersediaan lahan. UUS menawarkan solusi alternatif dengan memindahkan berbagai fungsi kota ke bawah tanah, mulai dari transportasi, energi, hingga ruang publik. Misalnya:
Kaitan Langsung UUS dengan 11 SDGs
Berikut ini beberapa SDGs yang paling relevan dengan penggunaan ruang bawah tanah:
1. SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan
2. SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi
3. SDG 7: Energi Bersih
4. SDG 8 & 9: Pertumbuhan Ekonomi dan Inovasi
5. SDG 11: Kota Berkelanjutan
Risiko dan Kerugian Potensial
Namun, tidak semua dampak UUS bersifat positif. Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi:
Solusi: Pendekatan Kolaboratif Multidisipliner
Untuk menghindari dampak negatif sekaligus memaksimalkan potensi UUS terhadap SDGs, artikel ini mengusulkan empat dimensi kolaboratif:
1. Administrasi Lahan Modern
2. Perencanaan Terintegrasi
3. Desain Arsitektur
4. Teknologi Konstruksi
Studi Kasus: Dunia Nyata dalam Angka
Kesimpulan: Potensi UUS untuk Masa Depan Berkelanjutan
Dengan pengelolaan dan kolaborasi yang tepat, ruang bawah tanah bisa menjadi kunci dalam:
Namun, semua itu hanya bisa dicapai jika pendekatan perencanaan, hukum, desain, dan teknologi dikembangkan secara menyatu, terukur, dan inklusif. Maka dari itu, transformasi sistemik dan kesadaran lintas sektor menjadi prasyarat utama menuju kota masa depan yang berkelanjutan.
Sumber: Fang-Le Peng, Yong-Kang Qiao, Soheil Sabri, Behnam Atazadeh, Abbas Rajabifard. A collaborative approach for urban underground space development toward sustainable development goals: Critical dimensions and future directions. Frontiers of Structural and Civil Engineering, Vol. 15, No. 1, 2021, pp. 20–45. DOI: 10.1007/s11709-021-0716-x
Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025
Mengapa Terowongan di Tanah Loess Butuh Evaluasi Risiko Khusus?
Tanah loess yang tersebar luas di Tiongkok bagian tengah dan barat menutupi sekitar 631.000 km² atau 6,6% dari total daratan. Struktur tanah ini sangat rapuh, mudah melembek jika terkena air, dan memiliki sambungan vertikal yang berkembang, sehingga terowongan yang dibangun di bawahnya sangat rentan terhadap longsor, runtuh, dan deformasi besar.
Penelitian oleh Han dkk. (2023) menyajikan model evaluasi risiko komprehensif berdasarkan teori permainan dan model cloud, yang secara khusus dirancang untuk mengatasi kompleksitas dan ketidakpastian dalam pembangunan terowongan di tanah loess.
Studi Kasus: Terowongan Luochuan di Jalur Kereta Cepat Xi’an–Yan’an
Terowongan Luochuan sepanjang 4.140 meter dibangun dengan kedalaman maksimal 64 meter, melintasi tanah loess yang rapuh dan struktur bawah tanah lainnya seperti rumah warga, pabrik, dan jalan. 70% dari panjang terowongan merupakan bagian dangkal—yang sangat berisiko. Di sinilah sering terjadi:
Semua kejadian ini mencerminkan bahwa risiko pada pembangunan terowongan loess sangat kompleks dan dinamis, sehingga butuh pendekatan evaluasi risiko yang fleksibel dan akurat.
Solusi: Kombinasi Teori Permainan dan Model Cloud
Peneliti mengembangkan pendekatan baru berbasis dua pilar:
Struktur Evaluasi: 15 Indikator Risiko
Evaluasi dilakukan dengan 15 indikator utama yang terbagi dalam empat kategori:
Setiap indikator diukur, diklasifikasikan ke dalam 5 level risiko (dari tidak ada risiko hingga risiko sangat tinggi), lalu dihitung nilainya melalui forward cloud generator.
Studi Evaluasi: 10 Titik Pengamatan di Lapangan
10 lokasi sepanjang terowongan Luochuan dinilai menggunakan model ini. Hasil penilaian mencerminkan fakta lapangan:
Semua prediksi konsisten dengan data deformasi dan kejadian aktual selama konstruksi, membuktikan bahwa model ini sangat akurat dan aplikatif.
Manfaat Nyata dari Model Kombinasi Ini
Model ini berhasil menjawab masalah evaluasi risiko terowongan di lingkungan kompleks, terutama di lokasi dengan:
Dengan menggunakan kombinasi AHP + Entropi + Game Theory + Cloud Model, peneliti:
Rekomendasi dari Penelitian Ini
Kesimpulan
Penilaian risiko pada pembangunan terowongan loess tidak bisa menggunakan pendekatan statis dan linear. Model gabungan berbasis teori permainan dan model cloud yang ditawarkan dalam studi ini:
Ini bukan hanya langkah akademis, tetapi rekomendasi teknis langsung bagi praktisi teknik sipil, manajer proyek, dan pembuat kebijakan dalam pembangunan infrastruktur bawah tanah.
Sumber : Han, B., Jia, W., Feng, W., Liu, L., Zhang, Z., Guo, Y., & Niu, M. (2023). Safety risk assessment of loess tunnel construction under complex environment based on game theory-cloud model. Scientific Reports, 13, 12249.