Ekonomi Hijau
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 31 Desember 2025
1. Pendahuluan
Pengelolaan sewage sludge rumah tangga telah menjadi isu strategis dalam diskursus keberlanjutan, terutama di kawasan urban negara berkembang yang menghadapi peningkatan volume limbah domestik seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Paper ini memposisikan pirolisis sebagai salah satu pendekatan teknologis yang mampu mengonversi sludge menjadi material bernilai tambah — khususnya biochar, gas pirolitik, dan fraksi minyak — sekaligus mengurangi tekanan lingkungan dari praktik pembuangan konvensional.
Berbeda dengan proses pembakaran langsung atau landfilling, pirolisis bekerja dalam kondisi tanpa oksigen, sehingga memungkinkan transformasi komponen organik menjadi produk karbon solid yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Dalam kerangka circular economy, pendekatan ini memberi dimensi baru pada sewage sludge: dari limbah berisiko lingkungan menjadi sumber material alternatif untuk aplikasi energi, pertanian, atau rekayasa lingkungan.
Namun, paper menegaskan bahwa pemanfaatan sludge melalui pirolisis tidak dapat dipahami sebatas konversi termokimia. Di balik peluang pemulihan nilai, terdapat tantangan serius terkait stabilitas logam berat, karakteristik biochar pada berbagai level suhu, serta implikasi lingkungan jangka panjang ketika produk pirolisis diaplikasikan ke tanah atau rantai material lain.
Dengan demikian, pembahasan sewage sludge melalui pirolisis memerlukan perspektif sistemik — mencakup dimensi teknis, ekotoksikologis, dan kebijakan pengelolaan limbah — agar circular economy tidak hanya menghasilkan material baru, tetapi juga memastikan keamanan lingkungan yang berkelanjutan.
2. Pirolisis Sewage Sludge dalam Kerangka Circular Economy: Fungsi, Risiko, dan Orientasi Nilai
Bagian ini membahas bagaimana pirolisis diposisikan dalam strategi pengelolaan sewage sludge menurut pendekatan yang ditawarkan paper: sebagai mekanisme pemulihan nilai, namun sekaligus ruang evaluasi kritis atas risiko kandungan logam berat dan karakter residu karbon.
a. Pirolisis sebagai mekanisme konversi limbah menjadi material bernilai tambah
Paper menunjukkan bahwa pirolisis memungkinkan sludge dikonversi menjadi beberapa produk: biochar sebagai fraksi padat, tar atau bio-oil sebagai fraksi cair, serta syngas sebagai fraksi gas. Di antara ketiganya, biochar menempati posisi penting karena potensinya sebagai soil amendment, adsorben polutan, atau material rekayasa lingkungan.
Dalam kerangka circular economy, biochar diposisikan sebagai bentuk resource recovery, di mana komponen karbon dalam limbah tidak hilang sebagai residu, melainkan disimpan dalam bentuk padatan yang berpotensi digunakan ulang dalam siklus material baru.
b. Ketegangan antara pemulihan nilai dan risiko logam berat
Sewage sludge mengandung berbagai logam berat — seperti Pb, Cd, Zn, Cu, dan Ni — yang terakumulasi dari air limbah domestik maupun aktivitas perkotaan. Paper menyoroti bahwa selama proses pirolisis, sebagian besar logam tidak menguap, tetapi terperangkap dalam struktur biochar.
Di satu sisi, fenomena ini dipandang sebagai keuntungan karena mencegah pelepasan logam ke udara. Namun di sisi lain, keberadaan logam berat dalam biochar menimbulkan pertanyaan penting: apakah biochar aman untuk aplikasi tanah, dan sejauh mana logam tersebut berpotensi mengalami pelepasan kembali ke lingkungan?
Dengan kata lain, circularity material belum tentu identik dengan circularity yang aman — keselamatan lingkungan tetap menjadi elemen penentu legitimasi pemanfaatan biochar sludge.
c. Pirolisis sebagai teknologi yang hasilnya ditentukan oleh suhu proses
Paper menekankan bahwa karakteristik biochar sangat dipengaruhi oleh suhu pirolisis. Perubahan suhu memengaruhi struktur pori, kandungan karbon aromatik, volatilitas material, hingga distribusi logam berat dalam matriks padatan.
Implikasinya bersifat mendasar: keberhasilan pemanfaatan biochar dari sewage sludge tidak dapat dilepaskan dari desain suhu proses. Dengan demikian, pirolisis bukan hanya proses transformasi termal, tetapi juga proses rekayasa sifat material yang menentukan apakah produk akhirnya layak digunakan dalam sistem circular economy.
3. Dinamika Suhu Pirolisis dan Perubahan Karakteristik Biochar: Dari Struktur Material ke Stabilitas Lingkungan
Paper menjelaskan bahwa suhu pirolisis merupakan variabel penentu dalam pembentukan sifat fisik–kimia biochar. Perubahan suhu tidak hanya memengaruhi rendemen produk, tetapi juga menentukan struktur karbon, porositas, kestabilan aromatik, serta distribusi logam berat di dalam matriks padat. Dengan kata lain, suhu bertindak sebagai pengendali arah transformasi material — apakah biochar menjadi lebih stabil dan fungsional, atau justru membawa risiko lingkungan.
a. Peningkatan suhu dan pembentukan struktur karbon yang lebih stabil
Paper menunjukkan bahwa pirolisis pada suhu lebih tinggi cenderung menghasilkan biochar dengan kandungan karbon aromatik lebih besar, volatil matter lebih rendah, serta stabilitas kimia yang lebih tinggi. Struktur karbon yang lebih terorganisasi ini meningkatkan daya tahan biochar terhadap degradasi biologis, sehingga berpotensi berfungsi sebagai media penyimpanan karbon jangka panjang.
Dari perspektif circular economy, kondisi ini memberikan dua implikasi strategis: biochar tidak hanya menjadi produk substitusi material, tetapi juga berperan dalam stabilisasi karbon — sekaligus membuka peluang dukungan terhadap agenda mitigasi iklim.
b. Perubahan sifat permukaan, porositas, dan kapasitas adsorpsi
Dengan meningkatnya suhu, biochar mengalami evolusi struktur pori yang mempengaruhi luas permukaan spesifik. Paper menekankan bahwa sifat ini penting karena menentukan kemampuan biochar menyerap polutan, menahan air, atau berfungsi sebagai adsorben dalam aplikasi lingkungan.
Namun, peningkatan suhu tidak selalu berarti peningkatan fungsi. Pada titik tertentu, degradasi struktur organik dapat mengurangi gugus fungsi aktif yang dibutuhkan dalam proses adsorpsi. Ini menunjukkan bahwa desain suhu harus mempertimbangkan keseimbangan antara stabilitas karbon dan fungsionalitas permukaan.
c. Distribusi ulang logam berat sebagai konsekuensi termokimia
Paper menggarisbawahi bahwa suhu pirolisis mempengaruhi mobilitas logam berat. Pada suhu rendah, sebagian logam masih berada dalam bentuk yang lebih mudah larut. Namun pada suhu lebih tinggi, logam cenderung mengalami imobilisasi melalui pembentukan fase mineral yang lebih stabil di dalam matriks biochar.
Meski demikian, stabilitas ini bersifat kontekstual — tergantung pH tanah, kondisi pelapukan, dan interaksi lingkungan. Artinya, keamanan logam berat tidak berhenti pada proses pirolisis, tetapi harus diuji dalam skenario aplikasi nyata.
4. Perilaku Logam Berat dalam Biochar Sludge: Antara Imobilisasi, Risiko Pelepasan, dan Implikasi Pemanfaatan
Bagian ini menyoroti dimensi yang menjadi fokus utama paper: bagaimana logam berat bereaksi terhadap proses pirolisis, serta apa implikasinya bagi penggunaan biochar dalam konteks circular economy.
a. Imobilisasi logam berat sebagai manfaat lingkungan, namun tidak absolut
Paper menunjukkan bahwa sebagian besar logam berat tetap terperangkap dalam biochar setelah pirolisis — terutama pada kondisi suhu tinggi. Dari sudut pandang pengendalian polusi, hal ini menguntungkan karena mencegah dispersi logam ke udara atau air limbah.
Namun, analisis paper juga menegaskan bahwa imobilisasi bersifat relatif. Perubahan kondisi kimia tanah, proses pelapukan, atau paparan jangka panjang dapat memicu kembali pelepasan logam. Dengan demikian, klaim “aman secara permanen” tidak dapat diterima tanpa evaluasi pasca-aplikasi.
b. Trade-off antara konsentrasi logam yang meningkat dan mobilitas yang menurun
Karena massa bahan organik berkurang selama pirolisis, konsentrasi logam berat dalam biochar sering kali meningkat secara proporsional. Ini menciptakan paradoks: secara massa lebih terkonsentrasi, tetapi mobilitasnya lebih rendah.
Paper menekankan bahwa kondisi ini menuntut pendekatan kehati-hatian: biochar mungkin aman secara toksikologis dalam kondisi terkontrol, tetapi berpotensi berbahaya jika diaplikasikan tanpa panduan teknis dan pemantauan.
c. Implikasi penggunaan biochar sludge untuk aplikasi tanah dan rekayasa lingkungan
Paper mengindikasikan bahwa biochar sludge berpotensi dimanfaatkan sebagai soil amendment, material adsorben, atau media remediasi. Namun, pemanfaatan tersebut harus mempertimbangkan:
batas toleransi logam berat,
stabilitas kimia jangka panjang,
konteks ekosistem penerima,
serta kerangka regulasi yang mengatur kualitas biochar.
Dengan kata lain, transformasi sludge menjadi biochar memang memenuhi logika circular economy, tetapi hanya sah secara ekologis apabila risiko logam berat dapat dikendalikan melalui standar mutu dan evaluasi aplikasi.
5. Potensi Pemanfaatan Biochar dari Sewage Sludge: Dari Aplikasi Lingkungan hingga Nilai Tambah Material
Potensi biochar sludge tidak hanya dinilai dari keberhasilannya menahan logam berat, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan nilai tambah baru dalam sistem circular economy. Paper menunjukkan bahwa biochar berpeluang digunakan pada berbagai bidang, meskipun tingkat kelayakan aplikasinya sangat dipengaruhi oleh sifat kimia dan risikonya terhadap lingkungan.
a. Biochar sebagai soil amendment dan pengelola kualitas tanah
Salah satu potensi utama biochar adalah penggunaannya sebagai pembenah tanah. Struktur pori dan kapasitas adsorpsinya dapat meningkatkan kemampuan tanah menahan air, menstabilkan nutrien, serta mempengaruhi sifat fisik–kimia lahan. Paper menekankan bahwa dalam konteks tanah terdegradasi, biochar sludge dapat berperan sebagai medium rekondisi lahan.
Namun, dimensi risiko tetap hadir. Kandungan logam berat dan senyawa organik persisten membuat aplikasi tanah harus disertai standar mutu yang jelas, uji toksisitas, dan pengawasan jangka panjang. Tanpa itu, manfaat agronomis dapat berubah menjadi ancaman ekotoksikologis.
b. Biochar sebagai material adsorben dalam rekayasa lingkungan
Paper menggarisbawahi bahwa biochar sludge memiliki potensi digunakan sebagai adsorben untuk pengolahan air limbah atau remedia polutan tertentu. Karakter pori dan gugus fungsi permukaannya memungkinkan interaksi dengan ion logam atau senyawa organik.
Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi proses pirolisis. Biochar dari suhu rendah mungkin memiliki gugus fungsi aktif tetapi kestabilan rendah, sementara biochar suhu tinggi lebih stabil namun kurang reaktif. Artinya, desain aplikasi harus selaras dengan desain suhu produksi.
c. Potensi pengembangan pasar material baru, namun masih terbatas oleh regulasi
Dari sudut pandang circular economy, biochar sludge berpotensi memasuki pasar material niche: adsorben industri, bahan campuran media rekayasa, atau bahkan bahan komposit tertentu. Meski demikian, paper menunjukkan bahwa keterbatasan regulasi kualitas, ketidakpastian risiko kesehatan, serta persepsi publik menjadi hambatan utama komersialisasi.
Dengan kata lain, biochar sludge memiliki nilai potensial — tetapi nilainya belum otomatis terkonversi menjadi manfaat ekonomi tanpa kerangka kebijakan dan standar keamanan yang kuat.
6. Posisi Pirolisis Sewage Sludge dalam Transisi Circular Economy: Peluang, Batasan, dan Orientasi Kebijakan
Bagian ini merangkum refleksi strategis mengenai posisi pirolisis sludge dalam kerangka circular economy. Paper menempatkan teknologi ini sebagai solusi yang menjanjikan, tetapi sekaligus menuntut pendekatan kehati-hatian berbasis bukti ilmiah.
a. Pirolisis sebagai teknologi pemulihan nilai, tetapi bukan jawaban tunggal
Pirolisis menawarkan jalur pemanfaatan residu yang sulit diolah dengan metode konvensional. Dalam hal ini, ia memperkuat ekosistem circular economy dengan mengubah limbah organik menjadi material yang masih memiliki fungsi.
Namun, paper menegaskan bahwa pirolisis bukan solusi universal. Ia harus berjalan berdampingan dengan strategi pengurangan limbah, optimasi instalasi pengolahan air limbah, dan kebijakan minimisasi polutan pada sumbernya.
b. Kebutuhan pendekatan berbasis risiko dan standar kualitas biochar
Analisis dalam paper menunjukkan bahwa keberlanjutan pemanfaatan biochar sludge sepenuhnya bergantung pada manajemen risiko logam berat. Karena itu, dibutuhkan:
standar mutu biochar berbasis kandungan logam dan stabilitas pelindian,
pedoman aplikasi spesifik sesuai konteks lingkungan,
serta mekanisme monitoring dampak jangka panjang.
Tanpa perangkat tata kelola tersebut, circular economy berpotensi berubah menjadi transfer risiko dari sektor limbah ke sektor lingkungan.
c. Pirolisis sludge sebagai bagian dari pembelajaran transisi sistem material
Paper menyimpulkan bahwa nilai paling penting dari pirolisis sludge bukan hanya pada produk biochar, tetapi pada pembelajaran sistemik yang dihasilkannya: peningkatan pemetaan kualitas sludge, penguatan instrumen analisis risiko, serta integrasi sains material dengan kebijakan lingkungan.
Dengan cara pandang ini, pirolisis tidak sekadar teknologi pengolah limbah — melainkan bagian dari proses rekayasa ulang hubungan antara limbah, material, dan nilai dalam kerangka circular economy.
7. Nilai Tambah Analitis: Membaca Pirolisis Sewage Sludge sebagai Rekayasa Nilai Material dalam Circular Economy
Pirolisis sewage sludge memperlihatkan bahwa circular economy tidak selalu bekerja melalui daur ulang material konvensional. Dalam kasus ini, nilai tidak dipulihkan melalui pemanfaatan ulang langsung, tetapi melalui transformasi termokimia yang menghasilkan material baru dengan fungsi berbeda. Analisis ini memungkinkan kita memahami circular economy sebagai proses rekayasa nilai — bukan sekadar perpanjangan siklus material secara linear.
a. Circular economy sebagai transformasi, bukan translasi, sifat material
Pirolisis menunjukkan bahwa nilai material tidak selalu dikembalikan dalam bentuk yang sama. Biochar bukanlah sludge yang “dipulihkan”, melainkan material baru yang lahir dari rekombinasi struktur karbon. Di sini, circular economy bergerak dari logika pengembalian (return) menuju logika transformasi (reconfiguration).
Perspektif ini memperluas pemahaman kita tentang circularity: keberlanjutan tidak hanya soal mengurangi limbah, tetapi juga tentang bagaimana ilmu material digunakan untuk mendesain bentuk nilai baru yang tetap bertanggung jawab secara ekologis.
b. Relasi antara inovasi teknologi dan etika lingkungan
Analisis juga menegaskan bahwa setiap inovasi circular economy membawa konsekuensi etis. Biochar sludge mungkin memiliki manfaat agronomis atau rekayasa, tetapi keberadaan logam berat mengharuskan keputusan berbasis prinsip kehati-hatian. Circular economy tidak bisa hanya dihitung dalam angka efisiensi; ia juga harus diuji dalam kerangka keadilan ekologis dan keamanan jangka panjang.
Dengan demikian, pirolisis sludge menjadi contoh konkret bagaimana inovasi circular harus dinegosiasikan dengan batas-batas ekologi.
c. Pirolisis sebagai arena interaksi antara sains material, kebijakan, dan praktik lingkungan
Nilai analitis lain yang ditekankan paper adalah bahwa keberhasilan pirolisis tidak hanya ditentukan di laboratorium, tetapi juga di ruang kebijakan dan praktik lapangan. Standar mutu, protokol aplikasi, serta penerimaan sosial menjadi bagian dari rantai nilai yang menentukan apakah biochar benar-benar dapat masuk ke dalam sistem circular economy.
Artinya, circular economy merupakan proyek lintas dimensi — menghubungkan pengetahuan ilmiah, regulasi, dan praktik penggunaan material secara nyata.
8. Kesimpulan
Pirolisis sewage sludge menawarkan pendekatan strategis dalam pengelolaan limbah domestik melalui konversi material menjadi biochar, gas, dan fraksi cair yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Dalam kerangka circular economy, teknologi ini membuka peluang pemulihan nilai dari residu yang sebelumnya dipandang sebagai beban lingkungan.
Namun, paper menegaskan bahwa peluang tersebut tidak terlepas dari risiko. Kandungan logam berat dalam biochar, sensitivitas proses terhadap suhu, serta ketidakpastian dampak jangka panjang menuntut pendekatan kehati-hatian yang kuat. Circular economy hanya dapat memperoleh legitimasi ketika pemanfaatan material tidak menciptakan beban lingkungan baru.
Dengan demikian, pirolisis sewage sludge sebaiknya dipahami sebagai teknologi rekayasa nilai yang memerlukan pengelolaan risiko sistemik. Masa depannya bergantung pada kemajuan riset material, standar mutu biochar, dan integrasi antara inovasi teknologi, kebijakan lingkungan, serta praktik penggunaan yang bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
Khan, A., & Ghosh, S. K. (2023). Pyrolysis of Domestic Sewage Sludge: Heavy Metals Behaviour and Biochar Potential in the Circular Economy Context. Dalam S. K. Ghosh (Ed.), Circular Economy Adoption. Springer Singapore.
Lehmann, J., & Joseph, S. (2015). Biochar for Environmental Management: Science, Technology and Implementation.
UNEP. (2021). Sewage Sludge Management: A Global Perspective.
European Biochar Foundation. (2019). Guidelines for a Sustainable Production of Biochar.
Ekonomi Hijau
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 31 Desember 2025
1. Pendahuluan
Diskusi mengenai waste-to-energy (WtE) dalam kerangka circular economy selalu berada pada ruang tarik-menarik antara kebutuhan pengelolaan sampah, tuntutan efisiensi energi, dan komitmen keberlanjutan lingkungan. Paper ini memposisikan teknologi WtE—khususnya berbasis proses termal—bukan semata sebagai solusi teknis, tetapi sebagai bagian dari arsitektur transisi sistem pengelolaan sumber daya di negara berkembang. Dengan kata lain, WtE dipahami sebagai simpul pertemuan antara kebijakan energi, pengelolaan sampah, dan rekayasa teknologi industri.
Berbeda dengan pendekatan circular economy yang menekankan reduksi, reuse, dan recycling pada hulu siklus material, WtE bekerja di wilayah hilir, pada fase di mana residu sudah tidak lagi memiliki nilai material signifikan. Paper menegaskan bahwa posisi WtE tidak bisa disederhanakan sebagai substitusi daur ulang. Sebaliknya, ia harus dibaca sebagai bagian dari strategi hierarki pengelolaan sampah, di mana energi dihasilkan dari fraksi residu yang tidak mungkin diolah ulang secara ekonomis.
Dalam konteks negara berkembang, WtE menghadapi kompleksitas yang lebih tinggi. Struktur sampah dengan kadar organik tinggi, infrastruktur pengumpulan yang tidak homogen, serta dinamika sosial dan kelembagaan mempengaruhi efektivitas teknologi. Oleh karena itu, pembahasan WtE tidak cukup berhenti pada desain reaktor atau efisiensi energi; ia harus diperluas ke dimensi tata kelola, kesiapan kelembagaan, dan kompatibilitas sosial.
2. Teknologi Waste-to-Energy dalam Kerangka Circular Economy: Peran, Batasan, dan Orientasi Sistem
Bagian ini menguraikan bagaimana WtE diposisikan dalam sistem circular economy menurut paper: sebagai teknologi yang berada di titik persimpangan antara pemulihan energi dan pengurangan beban TPA, sekaligus teknologi yang menghadapi pertanyaan kritis tentang dampaknya terhadap siklus material.
a. Waste-to-energy sebagai mekanisme pemulihan nilai dari residu pasca-daur ulang
Paper menekankan bahwa nilai utama WtE terletak pada kemampuannya mengubah residu non-recyclable menjadi energi panas dan listrik. Dalam kerangka circular economy, fungsi ini dianggap sebagai bentuk “recovery level terakhir” setelah opsi reuse dan recycling tidak lagi memungkinkan. Artinya, WtE bukan pengganti circularity di hulu, melainkan penopang sistem agar timbulan residu tidak berakhir pada landfill.
Dengan demikian, peran WtE bersifat komplementer: ia mengurangi tekanan TPA, menghasilkan energi, dan sekaligus menyediakan opsi pengelolaan bagi fraksi sampah yang sulit dipulihkan nilai materialnya.
b. Ketegangan antara pemulihan energi dan potensi lock-in terhadap model linear
Paper menggarisbawahi dilema penting: di satu sisi, WtE membantu mengurangi timbulan sampah; di sisi lain, jika tidak dirancang hati-hati, ia berpotensi menciptakan ketergantungan pada pasokan sampah sebagai bahan bakar. Hal ini dapat menimbulkan efek insentif terbalik terhadap upaya pengurangan dan daur ulang di hulu.
Di titik ini, WtE harus ditempatkan dalam desain sistem yang tegas: kapasitasnya tidak boleh mendorong akumulasi sampah baru, tetapi harus diselaraskan dengan target pengurangan timbulan dan peningkatan daur ulang.
c. Waste-to-energy sebagai teknologi yang menuntut keselarasan antara dimensi teknis dan kelembagaan
Paper menegaskan bahwa keberhasilan WtE tidak ditentukan oleh teknologi semata. Kualitas input sampah, sistem pemilahan, stabilitas suplai, kerangka tarif energi, serta penerimaan sosial memainkan peran yang sama pentingnya. Dalam konteks negara berkembang, variabel-variabel ini justru menjadi penentu apakah WtE akan bekerja efektif atau hanya bertahan sebagai proyek instalasi berbiaya tinggi.
Dengan demikian, WtE hanya dapat berfungsi sebagai bagian dari circular economy jika ditempatkan dalam sistem tata kelola yang matang — bukan sebagai solusi teknokratik yang berdiri sendiri.
3. Proses Termal dalam Waste-to-Energy: Dari Prinsip Rekayasa hingga Implikasi Operasional
Paper menjelaskan bahwa teknologi WtE berbasis proses termal merupakan tulang punggung sebagian besar fasilitas pembakaran sampah modern. Namun, pendekatan ini tidak bersifat monolitik. Setiap jenis proses memiliki karakter teknis, kebutuhan operasional, serta implikasi lingkungan yang berbeda — dan pilihan teknologi sangat dipengaruhi oleh karakteristik sampah, kapasitas institusi, dan konteks ekonomi setempat.
a. Insinerasi konvensional: stabilitas teknologi dan kebutuhan kontrol emisi
Insinerasi masih menjadi teknologi paling banyak digunakan dalam sistem WtE. Keunggulannya terletak pada kematangan teknologi, kemampuan menangani variasi komposisi sampah, serta stabilitas operasi dalam skala besar. Paper menekankan bahwa nilai kritis insinerasi bukan pada proses pembakaran itu sendiri, tetapi pada sistem kontrol emisi, pengelolaan abu dasar dan abu terbang, serta efisiensi pemulihan energi.
Dalam konteks negara berkembang, tantangan utama muncul pada aspek operasi jangka panjang: kebutuhan pemeliharaan tinggi, kualitas input yang tidak stabil, dan biaya teknologi pengendalian polutan yang sering kali melebihi kapasitas fiskal pemerintah daerah.
b. Gasifikasi dan pirolisis: potensi efisiensi tinggi, namun menuntut kualitas bahan bakar seragam
Paper menjelaskan bahwa gasifikasi dan pirolisis menawarkan pendekatan yang lebih maju dibanding insinerasi, karena mengonversi sampah menjadi syngas atau minyak pirolitik sebelum dimanfaatkan sebagai sumber energi. Teknologi ini berpotensi menghasilkan efisiensi energi lebih tinggi dan emisi lebih rendah.
Namun, keberhasilan proses ini sangat bergantung pada homogenitas input dan kadar air yang rendah — sesuatu yang jarang ditemukan pada komposisi sampah kota di negara berkembang yang masih didominasi fraksi organik basah. Akibatnya, banyak proyek gasifikasi berakhir sebagai pilot project yang tidak berkelanjutan secara operasional.
c. Co-processing dan integrasi proses termal dengan industri eksisting
Paper menyoroti alternatif lain yang semakin relevan: co-processing pada industri semen atau fasilitas termal industri. Pendekatan ini memanfaatkan panas tinggi proses industri untuk mengolah residu sampah, sehingga mengurangi kebutuhan pembangunan fasilitas WtE baru.
Strategi ini dinilai menarik karena memanfaatkan infrastruktur yang telah ada, tetapi tetap membutuhkan standar kontrol kualitas bahan bakar alternatif serta regulasi yang jelas mengenai batas emisi dan tanggung jawab pengelolaan residu.
4. Desain PLTSa dan Pembelajaran Implementasi: Antara Model Teknologi dan Realitas Sistem
Bagian ini mengulas pembelajaran penting dari perancangan dan implementasi fasilitas WtE (PLTSa) yang dibahas dalam paper. Fokusnya tidak hanya pada desain teknis, tetapi pada bagaimana fasilitas beroperasi sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih luas.
a. Desain PLTSa sebagai bagian dari sistem, bukan instalasi terpisah
Paper menegaskan bahwa PLTSa harus diposisikan sebagai komponen dalam sistem persampahan kota, bukan proyek teknologi yang berdiri sendiri. Artinya, desain fasilitas harus mempertimbangkan integrasi dengan pemilahan di hulu, logistik pengangkutan, kapasitas landfill eksisting, serta target pengurangan dan daur ulang.
Kegagalan banyak proyek WtE di negara berkembang sering kali bukan karena teknologinya, tetapi karena fasilitas ditempatkan di luar logika sistem, sehingga suplai bahan bakar sampah tidak stabil atau bertabrakan dengan program daur ulang.
b. Kesesuaian kapasitas fasilitas dengan dinamika timbulan sampah
Paper menunjukkan bahwa overdesign kapasitas PLTSa berpotensi menciptakan lock-in system: fasilitas membutuhkan pasokan sampah besar agar tetap ekonomis, sehingga mendorong kota mempertahankan timbulan sampah tinggi. Sebaliknya, kapasitas yang terlalu kecil menyebabkan rendahnya manfaat ekonomi dan energi.
Karena itu, perencanaan kapasitas harus diselaraskan dengan proyeksi jangka panjang kebijakan pengurangan sampah dan pertumbuhan kota, bukan hanya pada kebutuhan energi sesaat.
c. Dimensi sosial, transparansi risiko, dan penerimaan publik
Paper menekankan bahwa keberhasilan PLTSa juga bergantung pada aspek sosial. Persepsi risiko emisi, kekhawatiran kesehatan, dan isu keadilan lingkungan sering memicu resistensi masyarakat. Ketika proses perencanaan tidak transparan atau partisipatif, teknologi mudah dipersepsikan sebagai ancaman.
Pembelajaran penting di sini adalah bahwa desain WtE tidak hanya membutuhkan justifikasi teknis dan ekonomi, tetapi juga legitimasi sosial melalui komunikasi risiko yang terbuka, pelibatan komunitas, dan mekanisme akuntabilitas yang jelas.
5. Tantangan Penerapan Waste-to-Energy di Negara Berkembang: Antara Realitas Teknis, Ekonomi, dan Tata Kelola
Implementasi WtE di negara berkembang tidak bisa dipahami sebagai proses transfer teknologi yang sederhana. Paper menunjukkan bahwa sebagian besar hambatan justru muncul di luar ruang teknis — berada pada wilayah kelembagaan, ekonomi politik, dan konfigurasi sosial yang membentuk ekosistem pengelolaan sampah.
a. Ketidakselarasan antara desain teknologi dan karakteristik sampah lokal
Komposisi sampah di negara berkembang umumnya didominasi fraksi organik basah, kadar air tinggi, dan keberagaman kandungan material yang sulit diprediksi. Paper menjelaskan bahwa kondisi ini sering kali tidak kompatibel dengan spesifikasi teknologi termal yang dirancang berdasarkan asumsi sampah kota di negara maju.
Ketika desain fasilitas tidak disesuaikan dengan profil sampah lokal, WtE berisiko mengalami penurunan kinerja, peningkatan biaya operasi, atau bahkan gagal beroperasi secara berkelanjutan. Ini menggarisbawahi pentingnya adaptasi teknologi, bukan sekadar adopsi.
b. Ketergantungan pada skema pembiayaan besar dan risiko ekonomi jangka panjang
Paper menyoroti bahwa proyek WtE biasanya membutuhkan investasi modal tinggi, periode pengembalian panjang, serta kontrak pasokan sampah dan pembelian listrik jangka menengah-panjang. Dalam konteks fiskal yang terbatas, model pembiayaan seperti ini sering kali menimbulkan risiko finansial bagi pemerintah daerah.
Selain itu, ketidakpastian tarif energi, fluktuasi biaya operasi, serta risiko perubahan kebijakan daur ulang dapat mempengaruhi kelayakan ekonomi proyek. Dengan kata lain, WtE bukan hanya proyek teknologi — ia adalah komitmen ekonomi jangka panjang.
c. Ketegangan antara WtE dan ekosistem daur ulang informal
Di banyak kota negara berkembang, sistem pengumpulan dan pemulihan material bergantung pada jaringan pekerja daur ulang informal. Paper menunjukkan bahwa ketika WtE menyerap fraksi yang sebelumnya menjadi sumber pendapatan pemulung, muncul potensi konflik sosial dan kehilangan mata pencaharian.
Ini menciptakan dilema: WtE dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan residu, tetapi tanpa integrasi sosial, ia berisiko merusak ekosistem ekonomi daur ulang yang telah lama bekerja secara organik.
6. Implikasi WtE terhadap Circular Economy: Antara Pelengkap Sistem dan Potensi Distorsi Transisi
Bagian ini mengembangkan bacaan kritis atas posisi WtE dalam kerangka circular economy. Paper menegaskan bahwa WtE dapat menjadi elemen penting dalam sistem sirkular — namun hanya jika ditempatkan pada posisi yang tepat dalam hierarki pengelolaan material.
a. WtE efektif sebagai instrumen pengelolaan residu, bukan pengganti daur ulang
WtE memiliki fungsi strategis dalam mengelola fraksi residu yang tidak lagi bernilai material. Dalam konteks ini, ia membantu menutup loop akhir siklus material dan mengurangi ketergantungan pada landfill. Namun, paper menekankan bahwa WtE tidak boleh didorong sebagai strategi utama pengurangan sampah.
Ketika WtE diposisikan di atas prioritas recycling dan reuse, circular economy mengalami distorsi: sistem menjadi kembali linear dengan jalur baru bernama “energi dari sampah”.
b. Potensi lock-in struktural terhadap pasokan sampah
Paper mengingatkan bahwa kapasitas WtE yang terlalu besar dapat menciptakan kebutuhan pasokan sampah tetap sebagai bahan bakar, sehingga pemerintah terdorong mempertahankan volume sampah tinggi demi keberlanjutan ekonomi proyek. Ini bertentangan dengan semangat circular economy yang mendorong pengurangan timbulan di hulu.
Karena itu, desain kapasitas harus memperhitungkan target jangka panjang reduksi sampah — bukan sekadar proyeksi timbulan saat ini.
c. WtE sebagai bagian dari strategi transisi hibrid
Paper menyimpulkan bahwa WtE paling relevan ketika dipahami sebagai bagian dari strategi transisi hibrid: ia berperan pada fase di mana sistem pengelolaan sampah masih berkembang menuju tingkat circularity yang lebih matang. Dalam fase ini, WtE membantu mengurangi beban landfill sambil memberi ruang waktu bagi perbaikan pemilahan, pengurangan, dan daur ulang.
Dengan pondasi tata kelola yang tepat, WtE dapat menjadi jembatan — bukan penghalang — menuju sistem circular economy yang lebih kuat.
7. Nilai Tambah Analitis: Membaca Waste-to-Energy sebagai Teknologi Transisi, Bukan Solusi Akhir
Analisis atas posisi WtE dalam circular economy menunjukkan bahwa teknologi ini sebaiknya dipahami sebagai instrumen transisi — sebuah jembatan antara sistem pengelolaan sampah yang masih linear menuju sistem sirkular yang lebih matang. Paper menyediakan dasar teknis dan empiris, sementara pembacaan analitis membantu menempatkan WtE dalam kerangka evolusi sistem, bukan sebagai tujuan akhir kebijakan.
a. WtE sebagai mekanisme stabilisasi sistem pengelolaan sampah
Dalam konteks negara berkembang, WtE berfungsi sebagai penstabil sistem ketika kapasitas pemilahan dan daur ulang belum memadai. Dengan mengalihkan residu yang tidak tertangani ke konversi energi, tekanan terhadap landfill dapat dikurangi, sementara kapasitas tata kelola persampahan diperkuat secara bertahap.
Dengan cara pandang ini, WtE bukan pesaing kebijakan pengurangan dan daur ulang, melainkan penyangga sementara agar sistem tidak runtuh oleh akumulasi residu.
b. WtE sebagai cermin ketegangan antara rasionalitas teknokratis dan realitas sosial
Analisis memperlihatkan bahwa WtE sering berkembang dalam logika teknokratis — efisiensi energi, stabilitas operasi, dan rasionalitas biaya. Namun, realitas sosial di lapangan menghadirkan variabel lain: keberadaan pekerja daur ulang informal, ketimpangan distribusi manfaat ekonomi, serta persepsi risiko lingkungan.
Karena itu, WtE harus dibaca sebagai teknologi yang bekerja di ruang sosial–politik, bukan di ruang teknis yang netral. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan memediasi ketegangan tersebut.
c. WtE sebagai bagian dari rekayasa ulang tata kelola material jangka panjang
Nilai strategis WtE terletak pada kemampuannya mendorong pembelajaran kelembagaan: standarisasi komposisi sampah, peningkatan pemilahan, penguatan sistem data, serta integrasi kebijakan energi dan persampahan. Dengan kata lain, WtE dapat memicu pembangunan fondasi tata kelola material yang kelak menjadi prasyarat circular economy yang lebih kuat.
Di sini, WtE dipahami bukan sebagai titik akhir, tetapi sebagai fase rekonfigurasi sistem.
8. Kesimpulan
Waste-to-energy dalam kerangka circular economy menempati posisi yang ambivalen sekaligus strategis. Di satu sisi, teknologi ini memberikan solusi penting bagi pengelolaan residu yang tidak dapat didaur ulang, mengurangi tekanan landfill, dan menyediakan manfaat energi. Di sisi lain, WtE menyimpan risiko struktural: potensi lock-in terhadap pasokan sampah, ketegangan dengan ekosistem daur ulang, serta ketergantungan pada skema pembiayaan jangka panjang.
Paper menunjukkan bahwa efektivitas WtE sangat ditentukan oleh keselarasan antara desain teknologi, karakteristik sampah lokal, kapasitas kelembagaan, dan penerimaan sosial. Dalam konteks negara berkembang, variabel-variabel non-teknis ini sering menjadi faktor pembeda antara proyek yang berfungsi sebagai instrumen transisi dan proyek yang berhenti sebagai instalasi mahal tanpa keberlanjutan operasional.
Dengan demikian, WtE sebaiknya diposisikan sebagai teknologi transisi dalam perjalanan menuju circular economy, bukan sebagai substitusi bagi pengurangan dan daur ulang di hulu. Masa depan WtE akan bergantung pada kemampuan sistem kebijakan untuk menyeimbangkan fungsi pemulihan energi dengan komitmen jangka panjang terhadap pengurangan timbulan sampah, peningkatan daur ulang, dan keadilan sosial dalam pengelolaan sumber daya.
Daftar Pustaka
Rahman, M., & Ghosh, S. K. (2023). Waste-to-Energy Technologies and Thermal Processes in the Circular Economy Framework. Dalam S. K. Ghosh (Ed.), Circular Economy Adoption. Springer Singapore.
Ellen MacArthur Foundation. (2019). Completing the Picture: How the Circular Economy Tackles Climate Change.
IEA. (2022). Waste-to-Energy: Policies, Technologies and Outlook.
UNEP. (2018). Waste-to-Energy: Considerations for Informed Decision-Making.
Ekonomi Hijau
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 30 Desember 2025
1. Pendahuluan
Transisi menuju circular economy di Inggris tidak hanya berkaitan dengan isu pengelolaan sumber daya, tetapi juga dengan agenda dekarbonisasi industri dan reposisi struktur ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan iklim global. Paper ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur memainkan peran sentral dalam proses tersebut: ia menjadi sumber emisi sekaligus ruang potensial bagi inovasi material, efisiensi energi, dan rekayasa ulang proses produksi.
Inggris berada pada persimpangan strategis. Di satu sisi, negara ini memikul komitmen ambisius terhadap target net-zero dan pengurangan emisi industri. Di sisi lain, struktur ekonominya masih bergantung pada rantai produksi yang intensif energi dan material di sektor seperti baja, kimia, konstruksi, serta komponen manufaktur berat. Circular economy kemudian hadir bukan sebagai konsep tambahan, tetapi sebagai pendekatan rekonstruktif terhadap cara industri dikelola — mulai dari desain produk hingga siklus pasca-konsumsi.
Paper menegaskan bahwa hubungan antara circular economy dan dekarbonisasi tidak bersifat otomatis. Circularity dapat berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi dampaknya sangat bergantung pada desain kebijakan, kesiapan industri, serta integrasi antara strategi material efficiency, inovasi proses, dan transformasi rantai pasok. Dengan kata lain, circular economy di Inggris bekerja sebagai arena kebijakan–industri, bukan sebagai skema teknis yang berdiri sendiri.
2. Circular Economy, Emisi Industri, dan Kerangka Transformasi Manufaktur di Inggris
Bagian ini membahas bagaimana circular economy diposisikan dalam strategi nasional pengurangan emisi sektor manufaktur. Paper menggambarkan hubungan yang kompleks antara efisiensi material, rekayasa proses produksi, dan kebijakan iklim — menunjukkan bahwa circular economy menjadi salah satu pilar, namun bukan satu-satunya instrumen transisi.
a. Circular economy sebagai pendekatan pengurangan emisi berbasis material efficiency
Paper menekankan bahwa sebagian besar emisi industri terkait erat dengan ekstraksi bahan baku, produksi material primer, dan proses energi-intensif di hulu rantai produksi. Circular economy kemudian diposisikan sebagai mekanisme pengurangan emisi melalui pengurangan konsumsi material baru, peningkatan daur ulang, perpanjangan umur produk, serta substitusi proses produksi.
Namun, kontribusi circular economy tidak bersifat linier. Efek pengurangan emisi bergantung pada skala implementasi, kualitas material sekunder, dan kemampuan industri mengintegrasikan perubahan desain serta proses produksi ke dalam operasi yang telah mapan.
b. Pergeseran fokus dari manajemen limbah ke rekayasa sistem produksi
Paper menunjukkan bahwa circular economy di Inggris semakin bergerak dari pendekatan berbasis limbah menuju rekayasa ulang struktur produksi. Alih-alih hanya memproses residu di hilir, circularity mulai masuk ke tahap desain produk, modularitas komponen, logistik reverse supply chain, serta integrasi remanufaktur.
Pendekatan ini menggeser posisi circular economy dari sektor pengelolaan limbah menuju strategi industrial. Nilai sirkular tidak lagi tercipta di akhir siklus, tetapi di seluruh rantai produksi.
c. Ketegangan antara ambisi kebijakan dan realitas implementasi industri
Salah satu dimensi analitis penting dalam paper adalah kesenjangan antara target kebijakan dekarbonisasi dan kapasitas nyata industri untuk beradaptasi. Transformasi circular manufacturing membutuhkan investasi tinggi, stabilitas pasar material sekunder, serta kepastian regulasi jangka panjang — hal-hal yang belum sepenuhnya terjamin.
Di titik ini, circular economy beroperasi dalam ruang negosiasi antara kepentingan ekonomi, risiko kompetitif industri, dan tuntutan keberlanjutan. Transisi terjadi secara bertahap, bukan dalam lompatan kebijakan yang instan.
3. Sektor Manufaktur Strategis: Di Mana Circular Economy Paling Relevan terhadap Pengurangan Emisi?
Circular economy tidak berdampak sama pada semua sektor. Paper menunjukkan bahwa kontribusi terbesar terhadap dekarbonisasi justru berada pada sektor-sektor material intensif dan berenergi tinggi, di mana perubahan desain dan manajemen siklus material dapat menghasilkan pengurangan emisi yang signifikan.
a. Sektor baja, logam, dan material berat: circularity sebagai strategi energi tidak langsung
Produksi baja dan logam merupakan salah satu sumber emisi terbesar karena ketergantungan pada energi tinggi dan bahan baku primer. Circular economy berperan melalui peningkatan penggunaan scrap metal, remanufaktur komponen, serta penguatan rantai pasok material sekunder.
Paper menekankan bahwa pengurangan emisi di sektor ini sering kali berasal dari penghematan energi tidak langsung: semakin sedikit material primer yang diproduksi, semakin besar potensi pengurangan emisi hulu.
b. Industri konstruksi: pergeseran dari demolish–replace ke reuse–retrofit
Sektor konstruksi memiliki jejak material yang besar melalui produksi semen, beton, dan baja struktural. Circular economy menawarkan alternatif melalui reuse material bangunan, desain modular, serta praktik retrofit alih-alih pembongkaran total.
Namun, paper menyoroti bahwa penerapan strategi ini masih menghadapi hambatan regulasi teknis, standar keselamatan struktural, serta resistensi pasar terhadap material bekas. Dengan demikian, circular economy di sektor konstruksi memerlukan rekayasa kelembagaan selain inovasi teknis.
c. Industri kimia dan manufaktur berbasis energi tinggi: substitusi proses dan integrasi circularity
Di sektor kimia, circular economy berkaitan dengan substitusi bahan baku fosil dengan feedstock sekunder, peningkatan closed-loop material, serta integrasi efisiensi proses. Paper menunjukkan bahwa potensi pengurangan emisi cukup besar, tetapi memerlukan perubahan struktural pada desain reaktor, rantai pasok bahan baku, dan model produksi.
Circular economy pada sektor ini tidak dapat dipisahkan dari agenda inovasi teknologi dekarbonisasi, sehingga keduanya perlu diposisikan sebagai strategi yang saling melengkapi.
4. Peluang dan Batasan Circular Economy dalam Kontribusinya terhadap Dekarbonisasi Industri
Bagian ini menggali pembacaan kritis: sejauh mana circular economy benar-benar berkontribusi pada pengurangan emisi, dan di mana batas-batas strukturalnya berada.
a. Circular economy efektif ketika terintegrasi dengan transformasi energi
Paper menegaskan bahwa circular economy paling efektif ketika bersinergi dengan transisi energi bersih. Efisiensi material memang mengurangi kebutuhan produksi primer, tetapi dampak emisinya akan lebih signifikan jika sumber energi sistem produksi juga mengalami dekarbonisasi.
Dengan kata lain, circular economy bukan pengganti kebijakan energi rendah karbon — keduanya berjalan dalam satu kerangka transisi sistem produksi.
b. Risiko rebound effect dan ilusi efisiensi
Paper mengingatkan bahwa peningkatan efisiensi material dapat menghasilkan rebound effect: penghematan biaya mendorong peningkatan produksi atau konsumsi baru, sehingga manfaat pengurangan emisi menjadi berkurang. Circular economy berpotensi kehilangan dampak iklim apabila tidak diiringi perubahan struktur permintaan dan pola konsumsi.
Hal ini memperlihatkan bahwa circular economy tidak berdiri dalam ruang netral pasar; ia berinteraksi dengan dinamika ekonomi makro yang dapat memperkuat atau melemahkan dampaknya.
c. Pentingnya kerangka evaluasi berbasis emisi, bukan sekadar volume daur ulang
Paper menyoroti bahwa keberhasilan circular economy sering diukur melalui indikator teknis seperti peningkatan daur ulang atau penurunan timbulan limbah. Namun, kontribusi terhadap pengurangan emisi belum selalu menjadi pusat evaluasi.
Analisis ini menegaskan perlunya pergeseran indikator: circular economy harus dinilai berdasarkan dampak iklim yang nyata, bukan hanya keluaran material.
5. Tantangan Implementasi: Antara Rasionalitas Industri, Investasi Transisi, dan Kepastian Kebijakan
Circular economy di sektor manufaktur Inggris tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai proses ekonomi–institusional yang memerlukan kepastian investasi, stabilitas pasar, dan keselarasan kebijakan. Paper menunjukkan bahwa hambatan utama transisi sering muncul bukan pada teknologi, tetapi pada koordinasi kebijakan dan kalkulasi risiko industri.
a. Struktur biaya transisi dan ketidakpastian investasi jangka panjang
Transformasi menuju circular manufacturing membutuhkan investasi pada redesign proses, teknologi pemrosesan ulang, serta pembentukan rantai pasok material sekunder. Namun, paper menyoroti bahwa banyak perusahaan masih berhitung hati-hati terhadap return on investment, terutama di sektor dengan margin tipis dan volatilitas permintaan.
Tanpa sinyal kebijakan yang konsisten dan jaminan pasar material sekunder, circular economy berisiko berhenti pada proyek pilot, bukan berubah menjadi strategi produksi arus utama.
b. Fragmentasi kebijakan dan kesenjangan koordinasi lintas sektor
Paper menunjukkan bahwa kebijakan circular economy, kebijakan dekarbonisasi, dan kebijakan industri sering bergerak dalam jalur yang belum sepenuhnya terintegrasi. Hal ini membuat perusahaan menghadapi tumpang tindih regulasi, perbedaan indikator keberhasilan, dan ketidakjelasan prioritas implementasi.
Transisi circular economy di sektor manufaktur pada akhirnya memerlukan kerangka koordinasi lintas sektor — energi, industri, konstruksi, dan bahan baku — agar arah transformasi berjalan konsisten.
c. Keterbatasan adopsi di kalangan UKM manufaktur
Sebagaimana konteks negara lain, paper menyoroti bahwa UKM manufaktur di Inggris menghadapi hambatan terbesar dalam mengadopsi circular economy: keterbatasan modal, akses teknologi, dan kapasitas manajerial. Padahal, UKM merupakan bagian besar dari struktur ekonomi manufaktur nasional.
Ini menegaskan bahwa circular economy tidak hanya membutuhkan inovasi industri, tetapi juga desain dukungan kelembagaan yang memastikan transisi tidak terpusat pada perusahaan besar saja.
6. Refleksi Strategis: Posisi Circular Economy dalam Peta Dekarbonisasi Industri Inggris
Bagian ini mengembangkan refleksi strategis yang menjadi inti pembacaan analitis paper: circular economy bukan solusi tunggal, tetapi salah satu pilar penting dalam transformasi industri menuju sistem rendah karbon.
a. Circular economy sebagai pelengkap, bukan substitusi, teknologi dekarbonisasi
Paper menegaskan bahwa circular economy dan inovasi teknologi energi rendah karbon harus diposisikan sebagai strategi yang saling melengkapi. Circularity mengurangi kebutuhan produksi material primer, sementara dekarbonisasi energi menurunkan emisi dari proses yang masih harus dijalankan.
Dengan sinergi tersebut, kontribusi circular economy terhadap target iklim menjadi lebih kuat dan terukur.
b. Peran desain produk dan rekayasa sistem sebagai titik pengungkit utama
Analisis menunjukkan bahwa dampak circular economy paling besar muncul di tahap desain: modularitas, kemudahan perbaikan, remanufaktur, serta perencanaan siklus hidup. Circular economy menjadi efektif ketika perubahan tidak hanya terjadi di hilir, tetapi tertanam sejak produk dirancang.
Dengan demikian, transformasi manufaktur masa depan bergeser dari sekadar efisiensi operasi menuju rekayasa ulang sistem produksi secara menyeluruh.
c. Circular economy sebagai agenda industrial policy berbasis transisi sistemik
Kesimpulan reflektif dari paper adalah bahwa circular economy perlu dipahami sebagai bagian dari strategi industrial policy — bukan proyek lingkungan yang terpisah. Ia bekerja pada tingkat struktur ekonomi: bagaimana material diproduksi, bagaimana nilai diciptakan, dan bagaimana emisi dikurangi melalui reorganisasi proses industri.
Dengan kerangka ini, circular economy berpotensi berkontribusi tidak hanya pada pengurangan emisi, tetapi juga pada pembaruan daya saing industri Inggris di era transisi global menuju ekonomi rendah karbon.
7. Nilai Tambah Analitis: Membaca Circular Economy sebagai Strategi Rekonstruksi Industri, Bukan Sekadar Efisiensi Material
Circular economy dalam konteks industri Inggris memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang pengurangan limbah atau peningkatan daur ulang, tetapi tentang rekonstruksi ulang cara nilai ekonomi diproduksi di sektor manufaktur. Paper memberi dasar empiris, sementara analisis membantu menempatkan circular economy sebagai proses transformasi struktural.
a. Circular economy sebagai reposisi relasi antara material, energi, dan nilai ekonomi
Circular economy memaksa industri untuk meninjau ulang hubungan klasik antara volume produksi, konsumsi energi, dan penciptaan nilai. Nilai tidak lagi hanya berasal dari produksi material baru, tetapi dari kemampuan memperpanjang siklus hidup produk, memanfaatkan kembali komponen, dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku primer.
Ini menciptakan logika industri yang berbeda: keberlanjutan tidak lagi dipahami sebagai biaya moral, tetapi sebagai strategi produktivitas jangka panjang.
b. Circular economy sebagai ruang negosiasi antara inovasi dan risiko industri
Analisis memperlihatkan bahwa circular economy berjalan melalui serangkaian kompromi: perusahaan harus menyeimbangkan inovasi desain produk dengan risiko pasar, kebutuhan investasi dengan tekanan harga, serta tuntutan keberlanjutan dengan realitas rantai pasok global.
Dengan demikian, circular economy tidak berkembang dalam ruang ideal normatif, melainkan dalam ruang negosiasi praktis yang membentuk arah transformasi secara bertahap.
c. Circular economy sebagai bagian dari pembentukan paradigma industri baru
Circular economy di sektor manufaktur Inggris memberi sinyal bahwa industri sedang bergerak menuju paradigma baru yang menggabungkan efisiensi material, dekarbonisasi energi, dan rekayasa sistem produksi. Pergeseran ini tidak terjadi sekaligus, tetapi melalui akumulasi praktik, kebijakan, dan inovasi yang perlahan membentuk struktur produksi yang lebih adaptif dan sirkular.
8. Kesimpulan
Circular economy di sektor manufaktur Inggris, sebagaimana tergambarkan dalam paper, memainkan peran penting dalam transisi menuju sistem industri rendah karbon. Circularity berkontribusi melalui pengurangan kebutuhan material primer, optimalisasi siklus produk, serta rekayasa ulang proses produksi di sektor-sektor intensif emisi seperti baja, konstruksi, dan kimia.
Namun, kontribusi tersebut tidak terjadi secara otomatis. Implementasi circular economy dipengaruhi oleh struktur biaya transisi, ketidakpastian investasi, kesenjangan kesiapan industri, serta keterbatasan integrasi kebijakan lintas sektor. Circular economy menjadi efektif ketika diposisikan sebagai bagian dari strategi transformasi industri yang lebih luas — terhubung dengan dekarbonisasi energi, desain produk, dan inovasi rantai pasok.
Dengan demikian, circular economy di Inggris sebaiknya dipahami sebagai strategi rekonstruksi sistem produksi, bukan sekadar pendekatan teknis pengelolaan material. Masa depannya akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan industri menyelaraskan kepentingan iklim, daya saing ekonomi, dan inovasi industri dalam satu kerangka transisi yang konsisten, bertahap, dan berorientasi jangka panjang.
Daftar Pustaka:
Taylor, M., & Ghosh, S. K. (2023). Circular Economy and Industrial Decarbonisation in the United Kingdom: Manufacturing, Emissions, and Policy Challenges. Dalam S. K. Ghosh (Ed.), Circular Economy Adoption. Springer Singapore.
UK Government. (2021). Industrial Decarbonisation Strategy.
OECD. (2023). Circular Economy and the Low-Carbon Transition: Policy Perspectives for Industry.
Ellen MacArthur Foundation. (2021). Completing the Picture: How the Circular Economy Tackles Climate Change.
Ekonomi Hijau
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 30 Desember 2025
1. Pendahuluan
Pembahasan circular manufacturing di Asia tidak hanya berkaitan dengan inovasi teknologi produksi, tetapi juga dengan transformasi cara industri memaknai hubungan antara material, proses produksi, dan nilai ekonomi. Paper ini menunjukkan bahwa pergeseran menuju circular manufacturing lahir dari tekanan yang bersifat multidimensi: keterbatasan sumber daya, tuntutan keberlanjutan global, perubahan struktur pasar, serta kebutuhan menjaga daya saing industri di tengah perubahan lanskap ekonomi internasional.
Berbeda dengan narasi circular economy di Eropa yang umumnya digerakkan oleh kerangka kebijakan yang kuat, circular manufacturing di Asia sering berkembang melalui kombinasi antara tekanan pasar, inisiatif perusahaan, dan kebutuhan efisiensi operasional. Banyak perusahaan mengadopsi praktik sirkular bukan sebagai proyek ideologis, melainkan sebagai strategi manajemen risiko, penghematan biaya material, serta upaya menjaga posisi dalam rantai pasok global yang semakin menuntut transparansi keberlanjutan.
Namun, transisi ini tidak seragam. Paper menekankan bahwa Asia bukan entitas tunggal: setiap negara memiliki konfigurasi industri, kapasitas teknologi, dan struktur kebijakan yang berbeda. Karena itu, circular manufacturing di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai spektrum praktik — mulai dari pendekatan berbasis efisiensi produksi hingga integrasi penuh prinsip circularity dalam desain produk dan model bisnis.
2. Circular Manufacturing sebagai Kerangka Transformasi Industri: Pilar Pengalaman dan Orientasi Perubahan
Bagian ini membahas bagaimana circular manufacturing diposisikan sebagai kerangka transformasi industri melalui sejumlah pilar pengalaman (experience pillars) yang dirumuskan dalam paper. Pilar-pilar tersebut menggambarkan bukan hanya dimensi teknis, tetapi juga dimensi organisasi, strategi, dan budaya perusahaan dalam menghadapi transisi menuju sistem produksi berbasis sirkular.
a. Circular manufacturing sebagai strategi efisiensi sumber daya dan daya saing industri
Paper menekankan bahwa bagi banyak perusahaan di Asia, circular manufacturing pertama-tama dipahami sebagai strategi efisiensi. Pengurangan limbah produksi, pemanfaatan kembali material, dan desain ulang proses tidak hanya menurunkan dampak lingkungan, tetapi juga mengurangi biaya operasional dan ketergantungan pada bahan baku primer.
Dalam konteks ini, circular manufacturing bergerak selaras dengan logika bisnis: keberlanjutan tidak diperlakukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai mekanisme peningkatan produktivitas dan stabilitas rantai pasok.
b. Transformasi organisasi dan pembelajaran lintas proses produksi
Circular manufacturing tidak hanya terjadi di lini teknis pabrik, tetapi juga pada tingkat organisasi. Paper menggambarkan bahwa perusahaan perlu membangun budaya operasi yang berorientasi siklus: pengambilan keputusan berbasis data material flow, integrasi antara departemen desain, produksi, logistik, dan pasca konsumsi, serta pembelajaran organisasi yang berkelanjutan.
Dengan kata lain, circular manufacturing menuntut perubahan cara perusahaan “berpikir” tentang produk — bukan hanya bagaimana produk dibuat, tetapi bagaimana ia digunakan kembali, diproses ulang, dan dikembalikan ke sistem produksi.
c. Circular manufacturing sebagai proses bertahap, bukan lompatan radikal
Paper menegaskan bahwa transisi circular manufacturing di Asia berlangsung secara bertahap. Banyak perusahaan memulai dari perbaikan efisiensi internal sebelum bergerak ke redesign produk atau model bisnis berbasis layanan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa circular manufacturing lebih realistis ketika dipahami sebagai perjalanan transformasi, bukan perubahan instan.
Di sinilah letak nilai analitis penting: circular manufacturing bukan proyek teknologi semata, tetapi proses evolusi industri yang menggabungkan tekanan pasar, kapasitas organisasi, dan pembelajaran jangka panjang dalam rantai produksi.
3. Praktik Circular Manufacturing di Sektor Manufaktur Asia: Spektrum Implementasi dan Dinamika Industri
Circular manufacturing di Asia tidak berjalan secara homogen; ia bergerak melalui sektor-sektor industri tertentu yang memiliki tekanan material, intensitas energi, dan potensi rekonstruksi proses produksi yang paling besar. Paper menampilkan bahwa implementasi circularity paling nyata terjadi pada sektor seperti elektronik, otomotif, tekstil, kemasan, serta komponen industri berbasis logam.
a. Circularity di sektor elektronik dan otomotif: dari recovery komponen ke remanufaktur
Di sektor elektronik dan otomotif, circular manufacturing berkembang melalui praktik pengambilan kembali komponen bernilai tinggi, perpanjangan siklus pakai produk, serta remanufaktur unit yang masih memiliki nilai teknis. Paper menunjukkan bahwa perusahaan mulai melihat produk bukan hanya sebagai barang hasil akhir, tetapi sebagai kumpulan material dan modul yang dapat diproses ulang.
Pendekatan ini menggeser orientasi produksi dari logika throughput ke logika siklus — di mana nilai ekonomi tidak hanya dihasilkan pada saat penjualan pertama, tetapi juga pada tahap penggunaan ulang dan pemrosesan kembali.
b. Industri tekstil dan kemasan: ketegangan antara inovasi material dan struktur pasar
Sektor tekstil dan kemasan menghadirkan dinamika yang berbeda. Circular manufacturing di sektor ini banyak bertumpu pada inovasi material, pengurangan limbah produksi, serta peningkatan penggunaan bahan daur ulang. Namun, paper menekankan bahwa proses ini berjalan di tengah tekanan pasar terhadap biaya rendah dan volume produksi tinggi.
Akibatnya, circular manufacturing di sektor ini tidak hanya menjadi persoalan teknologi, tetapi juga persoalan model bisnis dan struktur konsumsi yang masih sangat linear. Di sinilah terlihat ketegangan antara ambisi circularity dan kenyataan logika pasar mass production.
c. Peran rantai pasok regional dan kolaborasi lintas aktor
Paper menyoroti bahwa circular manufacturing di Asia tidak bisa dilepaskan dari struktur rantai pasok regional. Banyak perusahaan beroperasi dalam jaringan produksi lintas negara, sehingga circularity tidak hanya bergantung pada satu pabrik, tetapi pada koordinasi antar pemasok, kontraktor, dan mitra logistik.
Dengan demikian, circular manufacturing menjadi proyek kolaboratif: keberhasilannya ditentukan oleh sejauh mana aktor-aktor dalam rantai pasok mampu berbagi data, menyelaraskan standar material, dan berinvestasi dalam mekanisme pengembalian komponen secara kolektif.
4. Peluang dan Hambatan Percepatan Circular Manufacturing: Antara Teknologi, Kebijakan, dan Logika Pasar
Bagian ini membahas dimensi strategis percepatan circular manufacturing di Asia — bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi kelembagaan, ekonomi, dan model bisnis.
a. Teknologi sebagai enabler, tetapi bukan penentu tunggal
Paper menegaskan bahwa teknologi pengolahan ulang material, sistem pelacakan digital, dan otomasi produksi memang menjadi fondasi circular manufacturing. Namun, teknologi saja tidak cukup. Tanpa model bisnis yang kompatibel dan insentif ekonomi yang jelas, investasi circularity akan sulit berkelanjutan.
Hal ini menunjukkan bahwa circular manufacturing memerlukan kombinasi antara inovasi teknis dan rekayasa nilai ekonomi dalam rantai pasok.
b. Peran kebijakan sebagai katalis, bukan pengganti mekanisme pasar
Kebijakan publik dapat mendorong percepatan circular manufacturing melalui standar produk, insentif material sekunder, serta regulasi tanggung jawab produsen. Namun, paper mengingatkan bahwa kebijakan tidak bisa menggantikan logika pasar. Circular manufacturing akan bertahan ketika ia selaras dengan rasionalitas biaya dan manfaat bagi perusahaan.
Dalam konteks ini, kebijakan berfungsi sebagai katalis — menciptakan ruang perubahan — bukan sebagai pendorong tunggal yang bekerja secara top–down.
c. Tantangan biaya transisi dan ketimpangan kesiapan industri
Paper juga menyoroti kesenjangan kesiapan antara perusahaan besar dan UMKM. Circular manufacturing memerlukan investasi ulang pada proses, peralatan, dan kompetensi teknis — sesuatu yang tidak selalu mudah diakses oleh perusahaan berskala kecil.
Tantangan ini memperlihatkan bahwa percepatan circular manufacturing membutuhkan pendekatan kebijakan yang diferensiatif, sehingga transisi tidak hanya dinikmati oleh industri berkapasitas besar.
5. Membaca Pilar Pengalaman Circular Manufacturing: Dari Praktik Operasional ke Transformasi Strategis
Pilar pengalaman (experience pillars) yang dipaparkan dalam paper membantu memahami circular manufacturing bukan hanya sebagai seperangkat teknik produksi, tetapi sebagai cara baru industri membangun orientasi nilai. Pilar-pilar ini merepresentasikan perjalanan pembelajaran organisasi dalam bertransisi dari sistem linear menuju logika sirkular.
a. Dari pengelolaan limbah menjadi manajemen siklus material
Pada tahap awal, banyak perusahaan memulai circular manufacturing melalui optimalisasi pengelolaan limbah produksi. Namun, paper menunjukkan bahwa pilar pengalaman berikutnya mendorong pergeseran perspektif: limbah tidak lagi dipandang sebagai residu, melainkan sebagai aliran material yang dapat dikembalikan ke sistem produksi.
Perubahan cara pandang ini bersifat mendasar. Circularity tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi bertransformasi menjadi manajemen siklus material yang terintegrasi dengan desain produk, perencanaan proses, dan strategi pasca konsumsi.
b. Dari efisiensi internal menuju kolaborasi lintas ekosistem industri
Pilar berikutnya menunjukkan bahwa circular manufacturing hanya dapat mencapai dampak penuh ketika perusahaan bergerak melampaui batas internal organisasi. Kolaborasi dengan pemasok, distributor, pelanggan, hingga pelaku logistik menjadi kunci terbentuknya siklus material yang berkelanjutan.
Paper menekankan bahwa circular manufacturing pada akhirnya adalah proyek ekosistem. Nilai sirkular tercipta bukan di satu titik proses, tetapi melalui koordinasi lintas aktor yang saling berbagi informasi, standar kualitas, dan komitmen keberlanjutan.
c. Dari perubahan teknis menuju pembentukan identitas industri baru
Pilar pengalaman terakhir menggarisbawahi dimensi yang lebih strategis: circular manufacturing secara perlahan membentuk identitas baru bagi perusahaan dan sektor industri. Circularity tidak lagi sekadar program operasional, tetapi menjadi bagian dari cara perusahaan mendefinisikan keunggulan kompetitif, reputasi, dan orientasi jangka panjang.
Dengan demikian, circular manufacturing dapat dipahami sebagai proses transformasi bertingkat — dimulai dari perbaikan teknis, berkembang menjadi rekayasa sistem material, dan pada akhirnya membentuk paradigma produksi baru.
6. Refleksi Strategis: Masa Depan Circular Manufacturing di Asia
Bagian ini mengembangkan pembacaan ke depan atas posisi circular manufacturing dalam lanskap industri Asia. Paper memberi fondasi empiris, sementara analisis memperluasnya ke dalam refleksi strategis mengenai arah transformasi industri regional.
a. Circular manufacturing sebagai strategi ketahanan industri
Circular manufacturing berpotensi memperkuat ketahanan industri Asia terhadap guncangan pasokan material dan volatilitas harga global. Dengan membangun siklus material internal, perusahaan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan baku primer, tetapi juga meningkatkan fleksibilitas produksi.
Ini menunjukkan bahwa circularity bukan sekadar agenda keberlanjutan lingkungan, melainkan strategi ekonomi untuk memperkuat posisi industri di rantai pasok global.
b. Kebutuhan integrasi antara inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan
Paper mengindikasikan bahwa keberhasilan circular manufacturing ke depan bergantung pada dua bentuk inovasi yang berjalan bersamaan: inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan. Tanpa dukungan regulasi adaptif, standar material sekunder, dan skema insentif yang tepat, inovasi teknis akan sulit berkembang ke skala industri.
Dengan kata lain, masa depan circular manufacturing akan ditentukan oleh kemampuan menyelaraskan teknologi, kebijakan, dan model bisnis.
c. Circular manufacturing sebagai proses evolusi industri jangka panjang
Analisis akhirnya menegaskan bahwa circular manufacturing di Asia merupakan proses evolusi, bukan lompatan revolusioner. Transformasi bergerak melalui akumulasi pembelajaran, adaptasi bertahap, dan perubahan struktur organisasi serta rantai pasok dari waktu ke waktu.
Membaca circular manufacturing sebagai proses jangka panjang membantu kita memahami bahwa keberlanjutan industri tidak dibangun melalui program sesaat, tetapi melalui rekonstruksi bertahap atas cara produksi dirancang, dijalankan, dan dihubungkan dengan siklus materialnya.
7. Nilai Tambah Analitis: Circular Manufacturing sebagai Ruang Rekonstruksi Nilai Industri
Circular manufacturing di Asia memperlihatkan bahwa transformasi keberlanjutan bukan sekadar perubahan teknis, tetapi juga rekonstruksi cara industri memaknai nilai, efisiensi, dan hubungan antara produksi serta sumber daya. Paper menyediakan gambaran empiris, sementara analisis membantu membaca dimensi strategis yang tersembunyi di balik praktik operasional.
a. Circular manufacturing sebagai pergeseran logika nilai dari volume ke siklus
Di dalam model linear, nilai identik dengan volume produksi. Circular manufacturing memperkenalkan logika baru: nilai juga dihasilkan melalui perpanjangan siklus material, pengembalian komponen, dan produktivitas jangka panjang sumber daya. Pergeseran ini secara perlahan membentuk cara baru perusahaan mendefinisikan efisiensi — bukan hanya output cepat, tetapi keberlanjutan siklus material.
Perubahan logika nilai ini merupakan inti transformasi circular manufacturing: industri belajar melihat produk sebagai sistem material yang hidup, bukan hanya solusi pasar jangka pendek.
b. Transisi circular manufacturing sebagai proses pembelajaran kolektif industri
Circular manufacturing membangun mekanisme pembelajaran lintas aktor — perusahaan, pemasok, mitra logistik, hingga pelanggan. Paper menunjukkan bahwa proses transisi sering berjalan melalui trial-and-error, inkubasi praktik, dan adaptasi bertahap.
Dengan demikian, circular manufacturing tidak hanya menghasilkan inovasi teknis, tetapi juga membentuk kapasitas belajar kolektif dalam ekosistem industri. Inilah modal penting untuk menggerakkan transformasi jangka panjang.
c. Circular manufacturing sebagai jembatan antara keberlanjutan dan daya saing
Analisis memperlihatkan bahwa circular manufacturing mampu mempertemukan dua tujuan yang kerap dianggap berlawanan: keberlanjutan lingkungan dan daya saing ekonomi. Dalam konteks Asia, di mana industri sangat sensitif terhadap biaya, circular manufacturing menemukan legitimasi ketika ia terbukti relevan secara komersial sekaligus strategis.
Artinya, circular manufacturing bukan hanya respons terhadap tekanan regulasi global, tetapi juga alat reposisi industri di lanskap ekonomi internasional.
8. Kesimpulan
Circular manufacturing di Asia, sebagaimana tergambarkan dalam paper, menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi sirkular di sektor industri merupakan proses bertahap yang menggabungkan inovasi teknis, pembelajaran organisasi, dan rekonstruksi nilai produksi. Transformasi ini bergerak melalui berbagai sektor — dari elektronik dan otomotif hingga tekstil dan kemasan — dengan dinamika implementasi yang berbeda-beda.
Di satu sisi, circular manufacturing membuka peluang peningkatan efisiensi material, penguatan ketahanan rantai pasok, dan pembentukan identitas industri baru yang lebih berorientasi siklus. Di sisi lain, tantangan tetap ada: ketimpangan kesiapan antar perusahaan, struktur biaya transisi, serta kebutuhan sinkronisasi antara teknologi, kebijakan, dan model bisnis.
Dengan demikian, circular manufacturing di Asia lebih tepat dipahami sebagai proses evolusi industri jangka panjang, bukan proyek perubahan instan. Masa depannya akan ditentukan oleh kemampuan ekosistem industri untuk menjadikan circularity bukan sekadar inisiatif operasional, tetapi sebagai kerangka strategis yang membentuk cara produksi dirancang, dijalankan, dan terhubung dengan siklus material secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Tan, W., & Ghosh, S. K. (2023). Circular Manufacturing Experiences and Industrial Perspectives in Asia. Dalam S. K. Ghosh (Ed.), Circular Economy Adoption. Springer Singapore.
OECD. (2021). Global Material Resources Outlook to 2060: Economic Drivers and Environmental Consequences.
Ellen MacArthur Foundation. (2019). Circular Economy in Manufacturing: Rethinking Production Systems.
UNIDO. (2020). Industrial Transitions and Resource Efficiency in Asian Manufacturing.
Ekonomi Hijau
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 30 Desember 2025
1. Pendahuluan
Pembahasan circular economy di Meksiko tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial, ekonomi, dan ketimpangan struktural yang membentuk lanskap industrinya. Berbeda dengan narasi circular economy di Eropa yang cenderung berakar pada inovasi teknologi dan regulasi terintegrasi, transisi di Meksiko berkembang dalam ruang ekonomi dualistik: di satu sisi terdapat sektor industri korporasi besar yang terhubung ke rantai pasok global, sementara di sisi lain terdapat ekonomi informal yang memainkan peran penting dalam pengumpulan dan pemulihan material.
Paper ini melihat circular economy bukan semata sebagai strategi efisiensi sumber daya, tetapi sebagai proses yang menyentuh relasi antara pasar, negara, dan masyarakat. Dengan kata lain, circular economy di Meksiko bergerak di persimpangan antara kepentingan korporasi, kebutuhan pembangunan nasional, dan realitas sosial kelompok pekerja yang selama ini menopang rantai nilai daur ulang secara informal.
Konteks tersebut menjadikan Meksiko sebagai kasus yang relevan untuk dianalisis: circular economy di sini tidak tumbuh dari sistem kelembagaan yang homogen, melainkan melalui mosaik praktik — mulai dari inovasi perusahaan multinasional hingga aktivitas pemulung, koperasi, dan jaringan daur ulang berbasis komunitas. Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah circular economy berjalan, tetapi siapa yang memperoleh manfaat dari transisi tersebut dan siapa yang menanggung bebannya.
2. Circular Economy dalam Konteks Pembangunan Meksiko: Antara Agenda Industri dan Realitas Sosial
Bagian ini membahas bagaimana circular economy diposisikan dalam kerangka pembangunan nasional Meksiko. Paper menunjukkan bahwa adopsi circular economy sering kali dipresentasikan sebagai strategi modernisasi industri dan penguatan daya saing ekonomi, namun implementasinya tetap terikat pada struktur sosial dan politik yang kompleks.
a. Circular economy sebagai strategi industrial dan branding keberlanjutan
Di tingkat kebijakan dan korporasi, circular economy dipromosikan sebagai pendekatan yang mampu menghasilkan efisiensi energi, optimalisasi material, dan inovasi produk. Perusahaan besar — terutama yang terhubung ke pasar global — mengintegrasikan circular economy dalam kerangka ESG, tata kelola rantai pasok, dan strategi reputasi. Circularity dalam konteks ini sering diposisikan sebagai bukti modernitas ekonomi.
Namun, paper menegaskan bahwa pendekatan tersebut cenderung berpusat pada kepentingan industri formal. Circular economy dipahami sebagai rekayasa proses produksi, bukan sebagai transformasi sosial-ekonomi yang mencakup pelaku informal yang selama ini berperan krusial dalam pemulihan material.
b. Peran ekonomi informal dalam praktik circular economy sehari-hari
Di balik narasi korporasi, circular economy di Meksiko sesungguhnya telah lama dipraktikkan melalui jaringan pemulung, pengepul kecil, dan koperasi daur ulang. Mereka bekerja di ruang yang sering kali tidak diakui secara kelembagaan, namun justru menjadi tulang punggung aliran material sekunder.
Paper menunjukkan bahwa di banyak wilayah, rantai pengumpulan plastik, kertas, dan logam sepenuhnya bergantung pada kerja informal. Ini menciptakan paradoks: circular economy berjalan, tetapi pelaku utamanya tidak selalu diakui dalam kerangka kebijakan formal. Di sinilah muncul pertanyaan etis dan politis mengenai keadilan distribusi manfaat transisi circular economy.
c. Ketegangan antara efisiensi korporasi dan keadilan sosial
Circular economy di Meksiko bergerak dalam ketegangan antara logika efisiensi industri dan tuntutan keadilan sosial. Korporasi mendorong circular economy sebagai mekanisme peningkatan produktivitas dan nilai tambah material, sementara kelompok pekerja informal mencari pengakuan, perlindungan kerja, dan akses ekonomi yang lebih adil.
Paper menggarisbawahi bahwa masa depan circular economy di Meksiko akan ditentukan oleh kemampuan menjembatani dua kepentingan tersebut. Tanpa integrasi sosial, circular economy berisiko menjadi proyek eksklusif yang memperkuat struktur ekonomi yang timpang, alih-alih menghasilkan transformasi yang inklusif.
3. Peran Korporasi dalam Ekosistem Circular Economy: Antara Inovasi, Kepentingan Pasar, dan Narasi Keberlanjutan
Circular economy di Meksiko banyak diproyeksikan melalui inisiatif korporasi besar, terutama perusahaan multinasional yang beroperasi di sektor makanan dan minuman, kemasan plastik, serta logistik. Paper menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan ini memainkan peran penting dalam membentuk wacana circular economy — baik melalui investasi teknologi, program pengumpulan kemasan, maupun komitmen pengurangan limbah.
Namun, di balik komitmen tersebut, circular economy juga berfungsi sebagai strategi positioning korporasi di pasar global yang semakin berorientasi ESG dan keberlanjutan. Artinya, circular economy tidak hanya bekerja pada level teknis, tetapi juga sebagai instrumen reputasi dan legitimasi bisnis.
a. Circular economy sebagai strategi manajemen risiko dan citra korporasi
Bagi banyak perusahaan, circular economy hadir sebagai respons terhadap tekanan regulasi internasional, tuntutan konsumen, dan risiko pasar terhadap produk berbasis plastik dan kemasan sekali pakai. Paper menyoroti bahwa program daur ulang, penggunaan material hasil reprocessing, serta skema tanggung jawab produsen kerap dikemas sebagai bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan.
Namun, implementasi tersebut tidak selalu menciptakan perubahan struktural dalam rantai nilai. Circular economy dalam konteks korporasi sering berhenti pada proyek terbatas, sementara model produksi massal berbiaya rendah tetap dipertahankan. Di titik ini, circular economy bekerja sebagai bentuk kompromi antara inovasi dan kepentingan bisnis.
b. Ketidakseimbangan relasi antara sektor formal dan informal dalam rantai circularity
Paper menegaskan bahwa keberhasilan program circular economy korporasi sering kali bergantung pada kerja pengumpulan material yang dilakukan oleh sektor informal. Dengan kata lain, perusahaan memperoleh manfaat material sekunder, sementara kelompok pekerja informal tetap berada pada posisi rentan secara sosial dan ekonomi.
Di sini terlihat pola relasi yang asimetris: circular economy di tingkat korporasi dapat berkembang tanpa selalu memberikan redistribusi nilai kepada aktor yang menopang rantai pengumpulan material. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang sesungguhnya diuntungkan dari sistem circular economy yang mapan secara komersial.
c. Potensi kolaborasi, tetapi masih terbatas sebagai inisiatif parsial
Paper juga mencatat bahwa terdapat peluang kolaborasi antara perusahaan dan komunitas daur ulang — misalnya melalui kemitraan bank sampah, skema pembelian langsung material, atau program edukasi konsumsi. Namun, sebagian besar inisiatif tersebut masih bersifat temporer dan belum membentuk sistem kelembagaan jangka panjang.
Artinya, circular economy di Meksiko berada di persimpangan: ia bisa berkembang menjadi ekosistem inklusif jika korporasi mau mengintegrasikan pelaku informal sebagai bagian dari rantai nilai formal. Namun, tanpa reformasi kelembagaan, circular economy berisiko tetap terkunci dalam logika pasar yang elitis.
4. Interaksi Sektor Formal dan Informal: Circular Economy sebagai Ruang Negosiasi Sosial-Ekonomi
Bagian ini menyoroti dimensi yang menjadi inti analisis paper: circular economy di Meksiko bukan hanya proses teknis material recovery, melainkan arena interaksi antara dua dunia ekonomi yang berbeda — formal dan informal. Kedua sektor tersebut saling bergantung, namun tidak berada pada posisi yang setara.
a. Ekonomi informal sebagai mesin tak terlihat dari circular economy
Paper menunjukkan bahwa rantai pengumpulan dan pemilahan material sekunder sebagian besar dijalankan oleh pemulung, pekerja lapangan, serta jaringan pengepul kecil. Mereka beroperasi tanpa perlindungan sosial, tanpa kepastian harga, dan sering kali di luar kerangka hukum. Namun secara faktual, justru merekalah yang memungkinkan circular economy berjalan di tingkat operasional.
Ini mengungkap paradoks penting: circular economy tampil modern di permukaan, tetapi bertumpu pada kerja ekonomi yang masih tradisional, rentan, dan sering kali termarjinalkan.
b. Kesenjangan pengakuan dan absennya integrasi kelembagaan
Paper menegaskan bahwa pemerintah dan sektor industri belum sepenuhnya mengintegrasikan pelaku informal ke dalam kerangka kebijakan circular economy. Program pengelolaan sampah formal sering berjalan paralel dengan aktivitas informal, bukan dalam hubungan kolaboratif yang setara.
Akibatnya, circular economy kehilangan dimensi keadilan sosial — ia berfungsi secara material, tetapi tidak selalu memberikan distribusi manfaat yang inklusif.
c. Circular economy sebagai peluang rekonstruksi hubungan sosial produksi
Namun, paper juga melihat ruang potensi: circular economy dapat menjadi pintu masuk untuk membangun model tata kelola baru yang menghubungkan perusahaan, pemerintah, dan komunitas pekerja informal dalam kemitraan yang lebih adil. Integrasi koperasi daur ulang, skema harga yang transparan, serta perlindungan kerja dapat mengubah circular economy dari sekadar strategi industri menjadi instrumen transformasi sosial.
Dengan demikian, circular economy di Meksiko sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai proyek efisiensi sumber daya, melainkan sebagai proses politis yang menentukan bagaimana nilai, risiko, dan manfaat transisi ekonomi didistribusikan di antara berbagai kelompok sosial.
5. Tantangan Struktural: Mengapa Circular Economy di Meksiko Tidak Otomatis Menjadi Transformasi yang Inklusif
Circular economy sering dipromosikan sebagai solusi ekonomi–lingkungan yang win–win, namun paper menunjukkan bahwa dalam konteks Meksiko, transisi ini berlangsung di dalam struktur sosial yang tidak sepenuhnya setara. Karena itu, circular economy berpotensi mereproduksi ketimpangan alih-alih memperbaikinya — terutama jika logika pasar dibiarkan bekerja tanpa kerangka keadilan sosial.
a. Ketimpangan posisi tawar antara aktor formal dan informal
Circular economy bertumpu pada kerja pengumpulan material yang dilakukan oleh aktor informal, tetapi nilai ekonomi terbesar justru dinikmati oleh perusahaan pengolah dan produsen besar. Paper menunjukkan adanya rantai nilai asimetris: pekerja informal menanggung risiko kesehatan, biaya sosial, dan ketidakpastian pendapatan, sementara sektor formal memperoleh bahan baku sekunder dengan biaya rendah.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa circular economy dapat berjalan secara material, tetapi tidak otomatis menciptakan redistribusi nilai yang adil.
b. Fragmentasi kelembagaan dan absennya desain kebijakan berbasis inklusi sosial
Paper menyoroti bahwa kebijakan circular economy di Meksiko masih banyak bertumpu pada kerangka industri dan keberlanjutan korporasi. Sementara itu, mekanisme integrasi pekerja informal — seperti legalisasi koperasi, perlindungan kerja, atau skema kemitraan formal — belum menjadi prioritas kebijakan.
Akibatnya, circular economy berada dalam situasi “dua dunia kebijakan”: sektor formal diatur dan diakui, sementara sektor informal dibiarkan bekerja di wilayah abu-abu tanpa jaminan kelembagaan.
c. Risiko komodifikasi keberlanjutan tanpa transformasi struktural
Paper mengingatkan bahwa circular economy berpotensi direduksi menjadi komoditas reputasi — alat branding ESG — ketika narasi keberlanjutan tidak diikuti reformasi relasi produksi. Circular economy dalam bentuk ini mungkin efektif secara teknis, tetapi tidak menjawab persoalan struktural mengenai ketimpangan kerja dan distribusi manfaat ekonomi.
Di titik ini, circular economy membutuhkan dimensi etis: bukan hanya bagaimana material dipulihkan, tetapi bagaimana nilai dari proses pemulihan tersebut dibagi.
6. Arah Masa Depan Circular Economy di Meksiko: Menuju Transisi yang Berbasis Keadilan Sosial
Bagian ini mengembangkan pembacaan ke depan: circular economy di Meksiko memiliki peluang untuk berkembang menjadi model transisi ekonomi yang inklusif — tetapi hanya jika dimaknai sebagai proyek sosial-ekonomi, bukan sekadar agenda industri.
a. Circular economy sebagai kesempatan membangun tata kelola kolaboratif
Paper memberi isyarat bahwa masa depan circular economy terletak pada pembentukan kemitraan antara perusahaan, pemerintah, dan koperasi daur ulang komunitas. Integrasi kelembagaan tidak hanya meningkatkan efisiensi material, tetapi juga menciptakan legitimasi sosial bagi sistem circularity.
Dengan kerangka ini, pekerja informal tidak lagi diposisikan sebagai aktor pinggiran, melainkan sebagai bagian dari rantai nilai yang memiliki hak, perlindungan, dan akses ekonomi.
b. Transformasi circular economy dari efisiensi ekonomi ke keadilan distribusi
Circular economy yang berorientasi keadilan sosial menuntut pergeseran cara pandang: bukan hanya mengukur berapa banyak material yang dikembalikan ke siklus produksi, tetapi siapa yang mendapatkan manfaat dari proses tersebut. Paper menekankan bahwa integrasi kesejahteraan pekerja lapangan, transparansi harga material, dan perlindungan kerja menjadi elemen kunci agar circular economy benar-benar transformatif.
Dengan demikian, circular economy dapat berfungsi sebagai instrumen redistribusi nilai — bukan sekadar strategi penghematan biaya industri.
c. Circular economy sebagai proyek politik–ekonomi jangka panjang
Kesimpulan analitis sementara yang dapat ditarik adalah bahwa circular economy di Meksiko merupakan proses negosiasi jangka panjang antara negara, pasar, dan masyarakat. Pergeseran menuju sistem circular tidak hanya ditentukan oleh teknologi daur ulang atau inovasi industri, tetapi oleh keberanian membangun kerangka transisi yang memperhitungkan keadilan sosial sebagai fondasi, bukan tambahan.
Dengan cara pandang ini, circular economy tidak lagi dilihat sebagai tren kebijakan, melainkan sebagai arena rekonstruksi hubungan kerja, nilai material, dan model ekonomi nasional di masa depan.
7. Nilai Tambah Analitis: Membaca Circular Economy sebagai Ruang Keadilan Sosial dan Politik Material
Circular economy di Meksiko memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak pernah netral secara sosial. Di balik narasi efisiensi material, terdapat pertarungan makna mengenai siapa yang dianggap sebagai bagian dari masa depan ekonomi sirkular dan siapa yang tetap berada di pinggiran struktur produksi.
a. Circular economy sebagai praktik ekonomi yang dibangun dari bawah
Jika dilihat dari praktik lapangan, circular economy sesungguhnya telah lama hidup melalui kerja komunitas daur ulang dan jaringan informal. Artinya, transisi circular economy bukanlah proyek baru yang sepenuhnya dibawa oleh korporasi dan kebijakan negara; justru negara dan korporasi baru mulai masuk ke ruang yang sudah lebih dulu dikerjakan oleh masyarakat.
Ini memberi kita sudut pandang penting: circular economy bukan inovasi yang datang dari atas, melainkan proses sosial yang telah berakar — hanya belum diakui secara formal.
b. Keadilan sosial sebagai prasyarat, bukan pelengkap, circular economy
Paper menegaskan bahwa circular economy akan kehilangan legitimasi jika hanya berfungsi sebagai strategi efisiensi korporasi. Keadilan sosial perlu ditempatkan sebagai unsur inti, bukan tambahan. Itu berarti pengakuan terhadap pekerja informal, perlindungan kerja, dan pembagian nilai yang lebih setara harus menjadi bagian dari desain transisi — bukan sesuatu yang dicarikan solusi setelah sistem berjalan.
Dengan kerangka ini, circular economy berubah dari sekadar solusi teknis menjadi proyek etis dan politis.
c. Circular economy sebagai refleksi ketegangan antara kapital, tenaga kerja, dan lingkungan
Analisis ini memperlihatkan bahwa circular economy bukan hanya cara baru mengelola material, tetapi juga cara baru membaca relasi antara kapital, tenaga kerja, dan lingkungan. Proses transisi selalu melibatkan kompromi, persaingan kepentingan, dan negosiasi posisi sosial.
Karena itu, circular economy di Meksiko sebaiknya dipahami sebagai medan yang terus berubah — tempat di mana makna keberlanjutan dibentuk melalui interaksi antara aktor formal dan informal, antara pasar dan komunitas, antara profit dan keberlanjutan sosial.
8. Kesimpulan
Circular economy di Meksiko, sebagaimana tergambarkan dalam paper, menunjukkan bahwa transisi keberlanjutan tidak pernah berjalan dalam ruang yang steril dari realitas sosial. Di satu sisi, korporasi dan kebijakan industri mendorong circular economy sebagai strategi efisiensi dan modernisasi ekonomi. Di sisi lain, praktik circularity telah lama dijalankan oleh jaringan pekerja informal yang menopang rantai pengumpulan dan pemulihan material.
Transformasi circular economy di Meksiko bergerak di antara dua kutub tersebut: antara logika pasar dan tuntutan keadilan sosial. Tantangan utamanya bukan hanya teknis, tetapi struktural — ketimpangan posisi tawar, fragmentasi kelembagaan, serta absennya integrasi pekerja informal dalam kerangka kebijakan formal.
Namun, ruang peluang tetap terbuka. Circular economy dapat berkembang menjadi proyek transisi ekonomi yang inklusif jika didesain sebagai platform kolaboratif antara pemerintah, korporasi, dan komunitas daur ulang. Dengan menggeser orientasi dari sekadar efisiensi material menuju keadilan distribusi, circular economy tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka jalan bagi rekonstruksi hubungan sosial ekonomi yang lebih setara.
Dengan demikian, circular economy di Meksiko lebih tepat dipahami sebagai proses politik–ekonomi jangka panjang — bukan sebagai model siap pakai. Masa depannya akan ditentukan oleh bagaimana masyarakat Meksiko menegosiasikan kembali hubungan antara keberlanjutan, tenaga kerja, dan nilai material dalam kerangka ekonomi nasional yang terus berkembang.
Daftar Pustaka
García, R., & Ghosh, S. K. (2023). Circular Economy, Corporate Practices, and Informal Labor in Mexico. Dalam S. K. Ghosh (Ed.), Circular Economy Adoption. Springer Singapore.
CE-Adoption_SKG-SKG_book-Spring…
Ellen MacArthur Foundation. (2021). Universal circular economy policy goals: Enabling the transition.
OECD. (2020). Business Models for the Circular Economy: Opportunities and Challenges for Policy.
UN-Habitat. (2019). Waste Wise Cities: Supporting the circular economy in urban waste management.
Ekonomi Hijau
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 30 Desember 2025
1. Pendahuluan
Transisi menuju circular economy di Eropa — dan secara khusus di Italia — tidak lahir dari dorongan lingkungan semata, tetapi dari kesadaran bahwa model ekonomi linear sudah mencapai batasnya. Kenaikan konsumsi material, tekanan energi, serta ketergantungan pada impor sumber daya menempatkan efisiensi material sebagai agenda strategis, bukan sekadar isu keberlanjutan. Paper ini memperlihatkan bahwa circular economy berfungsi sebagai jembatan antara kepentingan industri, kebijakan iklim, dan daya saing ekonomi, sehingga implementasinya berjalan melalui kombinasi regulasi, rekayasa pasar, dan inovasi model bisnis.
Italia muncul sebagai kasus yang menarik karena posisinya sebagai negara industri manufaktur dengan basis produksi kuat pada sektor tekstil, plastik, kemasan, logam, dan desain produk. Di sisi lain, struktur ekonominya juga dipengaruhi oleh jaringan usaha kecil-menengah (SME) yang padat dan tersebar. Kondisi ini menciptakan dinamika unik: circular economy tidak hanya berarti investasi teknologi skala besar, tetapi juga adaptasi bertahap pada rantai nilai tradisional yang telah lama bertumpu pada praktik material intensive.
Pendekatan circular economy di Italia berkembang dalam konteks kebijakan Uni Eropa — terutama melalui Circular Economy Action Plan — tetapi penerjemahan di tingkat nasional tidak selalu bersifat linier. Paper menyoroti ketidaksinkronan antara ambisi kebijakan, kesiapan industri, dan kapasitas implementasi. Dari sinilah analisis menjadi relevan: circular economy bukan sekadar kerangka teknis, melainkan arena negosiasi antara kepentingan ekonomi, inovasi, dan transformasi struktural sektor produksi.
2. Circular Economy di Uni Eropa dan Italia: Kerangka Kebijakan dan Arah Transformasi
Bagian ini membahas bagaimana circular economy diposisikan dalam kebijakan Eropa, sekaligus bagaimana Italia meresponsnya melalui adaptasi regulasi, program sektoral, dan strategi industrial. Alih-alih memandang circular economy sebagai agenda lingkungan, paper menempatkannya sebagai instrumen rekonstruksi ulang cara industri memproduksi nilai.
a. Circular Economy sebagai agenda industri, bukan hanya isu lingkungan
Kebijakan circular economy di Uni Eropa mendorong industri untuk memutus ketergantungan pada bahan baku primer melalui desain ulang produk, substitusi material, dan integrasi kembali limbah ke dalam rantai produksi. Paper menekankan bahwa logika nilai berubah: bukan hanya mengurangi limbah, tetapi menciptakan efisiensi ekonomi melalui rekayasa siklus material.
Dalam konteks Italia, pendekatan ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, terdapat peluang peningkatan daya saing melalui efisiensi energi, inovasi material sekunder, dan penguatan rantai pasok lokal. Di sisi lain, transformasi ini menuntut perubahan struktur produksi yang selama ini bertumpu pada proses intensif material dan energi.
b. Prioritas sektor dan diferensiasi implementasi
Circular economy tidak diterapkan secara homogen. Paper menunjukkan bahwa sektor seperti plastik, tekstil, kemasan makanan, elektronik, dan konstruksi memiliki posisi strategis karena volume materialnya besar serta keterkaitannya dengan rantai industri.
Di Italia, sektor-sektor tersebut bukan hanya kontributor ekonomi, tetapi juga sumber tekanan lingkungan dan konsumsi energi. Implementasi circular economy pada akhirnya menjadi proses selektif: sektor yang paling siap secara teknologi dan regulasi bergerak lebih cepat, sedangkan sektor lain masih berada pada tahap transisi bertahap.
c. Ketegangan antara regulasi, pasar, dan realitas industri
Salah satu poin analitis penting dalam paper adalah ketegangan antara kerangka kebijakan Eropa yang ambisius dan kemampuan adaptasi industri nasional. Circular economy membutuhkan investasi, data material flow yang solid, serta integrasi pasar bahan daur ulang. Namun pada praktiknya, pelaku industri masih berhadapan dengan ketidakpastian biaya, fragmentasi regulasi, dan pasar material sekunder yang belum stabil.
Situasi ini membuat circular economy berjalan sebagai proses negosiasi: antara kepatuhan regulasi, rasionalitas bisnis, dan tuntutan keberlanjutan. Transformasi tidak terjadi melalui lompatan radikal, melainkan melalui akumulasi perubahan kecil yang bertahap di tingkat proses produksi, desain produk, dan strategi rantai pasok.
3. Dinamika Sektor Prioritas: Di Mana Circular Economy Benar-Benar Dipraktikkan?
Circular economy sering dibayangkan sebagai konsep menyeluruh, tetapi pada praktiknya ia bergerak melalui sektor-sektor tertentu yang memiliki tekanan material paling besar sekaligus ruang transformasi paling nyata. Dalam konteks Italia, paper menunjukkan bahwa perubahan paling terasa justru muncul di sektor yang dekat dengan rantai produksi harian: plastik, tekstil, kemasan, dan elektronik. Di sektor-sektor inilah ketegangan antara inovasi, biaya, dan regulasi menjadi nyata.
a. Sektor plastik dan kemasan: antara tekanan regulasi dan logika biaya
Circular economy di sektor plastik bergerak karena dua faktor: tekanan kebijakan Uni Eropa terhadap pengurangan plastik sekali pakai, dan meningkatnya biaya lingkungan dari model konsumsi linear. Namun transformasi tidak berjalan mulus. Produsen dihadapkan pada dilema antara redesign kemasan, penggunaan material daur ulang, dan kestabilan kualitas produk.
Paper menyoroti bahwa ekonomi sirkular di sektor plastik tidak sekadar soal meningkatkan daur ulang, tetapi bagaimana menciptakan pasar material sekunder yang dapat dipercaya. Tanpa kepastian kualitas dan pasokan, circular economy berhenti di tingkat slogan kebijakan. Di titik ini, problem yang lebih dalam muncul: pasar belum sepenuhnya siap menanggung “harga transisi”.
b. Tekstil dan fesyen: circularity bertemu kultur desain
Italia memiliki tradisi industri tekstil dan fesyen yang kuat. Circular economy dalam sektor ini tidak berjalan melalui teknologi semata, tetapi melalui perubahan desain dan model bisnis — mulai dari perpanjangan umur pakaian, penggunaan kembali material, hingga logika repair dan remanufacture.
Paper menunjukkan bahwa circular economy di tekstil bersifat paradoksal: sektor ini sangat potensial untuk circularity, tetapi juga sangat terikat pada siklus tren dan konsumsi cepat. Di sinilah circular economy diuji secara kultural — bukan hanya secara teknis. Transformasi tidak cukup dilakukan di pabrik; ia harus merambah ke pola konsumsi, desain estetik, hingga identitas produk.
c. Elektronik dan ekonomi material bernilai tinggi
Di sektor elektronik, circular economy dipicu oleh nilai ekonomi logam dan komponen. Limbah elektronik tidak lagi dipandang sebagai residu, melainkan sebagai cadangan material yang dapat dikembalikan ke rantai produksi. Namun, paper menekankan bahwa proses ini membutuhkan ekosistem: sistem pengumpulan, teknologi pemisahan, serta regulasi logistik material lintas wilayah.
Circular economy di sektor ini bergerak bukan karena tekanan moral lingkungan, tetapi karena logika ekonomi material. Inilah ciri penting circular economy versi industri: keberlanjutan berjalan ketika ia selaras dengan rasionalitas nilai dan biaya.
4. Praktik Lapangan: Circular Economy sebagai Proses Negosiasi Industri
Bagian ini mengurai dimensi yang jarang dibicarakan dalam narasi kebijakan: circular economy bukan hanya kerangka normatif, melainkan arena negosiasi antara pelaku industri, negara, dan pasar. Paper menampilkan gagasan bahwa transformasi tidak selalu lahir dari proyek besar, tetapi dari adaptasi bertahap di tingkat operasional — pada level pabrik, jaringan pemasok, dan desain produk.
a. Circular economy sebagai strategi efisiensi, bukan retorika keberlanjutan
Di sejumlah kasus, perusahaan mengadopsi circular economy bukan karena dorongan ideologis lingkungan, tetapi karena alasan pragmatis: penghematan biaya material, efisiensi energi, dan diversifikasi sumber bahan baku. Circularity menjadi strategi operasional, bukan kampanye reputasi. Ketika circular economy selaras dengan kepentingan bisnis, ia menjadi lebih stabil dan berkelanjutan.
Namun, paper juga menunjukkan sisi lain: bagi sebagian pelaku, circular economy masih dipahami sebagai kewajiban regulasi. Dalam konteks ini, implementasi sering bersifat defensif, bukan transformatif.
b. Fragmentasi praktik dan ketimpangan kesiapan industri
Circular economy tidak bergerak secara merata. Industri besar dengan kapasitas investasi dan akses teknologi cenderung lebih cepat beradaptasi, sementara UMKM menghadapi keterbatasan modal, informasi, dan dukungan pasar. Hal ini menciptakan “kesenjangan transisi”: circular economy dapat maju, tetapi tidak selalu inklusif.
Kondisi ini mengingatkan bahwa circular economy bukan hanya persoalan teknis; ia juga persoalan struktur ekonomi politik — siapa yang mampu beradaptasi, siapa yang tertinggal.
c. Ketergantungan pada kebijakan sebagai katalis, bukan pengganti pasar
Paper menegaskan bahwa kebijakan publik memiliki fungsi penting sebagai pemicu perubahan, tetapi tidak dapat menggantikan logika pasar. Circular economy berhasil ketika kebijakan menciptakan ekosistem insentif, bukan ketika ia hanya menambah lapisan regulasi. Dengan kata lain, kebijakan harus membuka ruang inovasi, bukan sekadar mengatur.
Ini membawa kita pada kesimpulan analitis sementara: circular economy berkembang sebagai proses hibrid — sebagian terdorong oleh regulasi, sebagian oleh inovasi, dan sebagian lagi oleh kalkulasi ekonomi yang terus dinegosiasikan di tingkat industri.
5. Tantangan Struktural: Mengapa Circular Economy Tidak Selalu Bergerak Secepat Narasi Kebijakan?
Circular economy sering dipresentasikan sebagai solusi masa depan, tetapi paper menunjukkan bahwa di tingkat implementasi, prosesnya jauh lebih kompleks. Hambatan muncul bukan hanya pada aspek teknis, melainkan pada struktur ekonomi, kelembagaan, dan dinamika pasar yang membentuk cara industri bekerja sehari-hari.
a. Keterbatasan data material flow dan transparansi rantai nilai
Circular economy membutuhkan informasi yang presisi mengenai aliran material: berapa yang diproduksi, digunakan, dibuang, dan dikembalikan ke rantai nilai. Namun, paper menyoroti adanya keterbatasan data, fragmentasi sistem pelaporan, serta ketidakselarasan indikator antara kebijakan Eropa dan praktik industri.
Tanpa basis data yang solid, circular economy berjalan dalam ruang ketidakpastian. Industri kesulitan memproyeksikan manfaat ekonomi dari penggunaan material sekunder, sementara pemerintah kesulitan mengukur dampak kebijakan secara konsisten.
b. Ketegangan antara inovasi material sekunder dan standar kualitas industri
Material daur ulang harus bersaing dengan material primer yang stabil dari sisi kualitas, pasokan, dan harga. Paper menunjukkan bahwa banyak perusahaan ragu untuk mengadopsi material sekunder dalam skala besar karena risiko performa produk, persepsi konsumen, serta tuntutan standar industri.
Di sini circular economy diuji secara komersial. Keberlanjutan tidak cukup dibangun di atas nilai normatif; ia harus kompatibel dengan standar performa yang menjadi basis kepercayaan pasar.
c. Struktur biaya transisi dan distribusi beban industri
Perubahan menuju circular economy memerlukan investasi peralatan, redesign proses, dan pengembangan rantai pasok baru. Namun beban biaya tidak selalu terdistribusi secara adil. UMKM sering kali menanggung risiko lebih besar dibanding perusahaan besar yang memiliki akses pendanaan dan teknologi.
Paper menunjukkan bahwa tanpa desain kebijakan yang sensitif terhadap struktur industri, circular economy berpotensi memperlebar jurang kesiapan — alih-alih menciptakan transformasi yang inklusif.
6. Arah Masa Depan Circular Economy: Dari Transformasi Teknis ke Rekonstruksi Sistemik
Bagian ini mengembangkan pembacaan ke depan: circular economy di Italia — dan secara lebih luas di Eropa — sedang bergerak dari tahap eksperimen sektoral menuju fase konsolidasi sistemik. Namun proses ini tidak otomatis; ia membutuhkan penyelarasan antara kebijakan, pasar, dan dinamika produksi.
a. Circular economy sebagai proses rekayasa ulang model industri
Paper memberi isyarat bahwa masa depan circular economy bukan hanya pada peningkatan tingkat daur ulang, tetapi pada rekayasa ulang relasi antara desain produk, siklus hidup, dan strategi bisnis. Circularity menjadi bagian dari struktur nilai produk, bukan sekadar program tambahan.
Ini berarti circular economy akan semakin masuk ke inti strategi industri — memengaruhi cara perusahaan mendefinisikan kualitas, efisiensi, dan keunggulan kompetitif.
b. Integrasi teknologi digital dan logika ekonominya
Transformasi circular economy ke depan akan semakin bergantung pada digitalisasi — pelacakan material, data rantai pasok, hingga platform pertukaran bahan sekunder. Namun, paper mengingatkan bahwa teknologi hanya menjadi katalis jika selaras dengan logika ekonomi. Tanpa model bisnis yang tepat, digitalisasi hanya menjadi lapisan administratif baru tanpa dampak substantif.
c. Circular economy sebagai arena politik ekonomi
Kesimpulan analitis penting adalah bahwa circular economy bukan ruang teknokratis yang netral. Ia merupakan arena politik ekonomi, tempat pasar, negara, dan industri bernegosiasi mengenai siapa yang memikul beban transisi dan siapa yang memperoleh manfaatnya.
Dalam konteks Italia, masa depan circular economy akan ditentukan oleh kemampuan mengelola ketegangan tersebut — bukan menghilangkannya, tetapi menyalurkannya ke dalam mekanisme kebijakan dan inovasi yang lebih adaptif.
7. Nilai Tambah Analitis: Membaca Circular Economy sebagai Proses Sosial-Ekonomi, Bukan Sekadar Teknologi
Pada titik ini, circular economy di Italia dapat dipahami bukan sebagai destinasi kebijakan yang sudah final, tetapi sebagai proses sosial-ekonomi yang terus bernegosiasi dengan realitas produksi dan konsumsi. Paper memberikan dasar empiris, sementara analisis memungkinkan kita melihat dimensi yang lebih dalam: circular economy bekerja di wilayah antara ideal normatif dan kompromi praktis.
a. Circular economy sebagai pembentuk kultur industri baru
Transformasi menuju circularity secara perlahan mengubah cara pelaku industri memaknai nilai. Efisiensi tidak lagi dipahami semata sebagai pengurangan biaya, tetapi sebagai kemampuan menjaga siklus material agar tetap produktif. Di sinilah muncul pergeseran budaya produksi — dari orientasi throughput menjadi orientasi sirkulasi.
Perubahan ini mungkin bergerak lambat, tetapi ia bersifat struktural karena menyentuh cara organisasi memandang hubungan antara bahan, produk, dan waktu pakai.
b. Peran kebijakan sebagai mediator, bukan pengendali tunggal
Alih-alih bertindak sebagai kekuatan deterministik, kebijakan circular economy lebih tepat dipahami sebagai mediator yang menata ulang insentif, aturan main, dan sinyal pasar. Paper menunjukkan bahwa ketika kebijakan berfungsi sebagai fasilitator ekosistem — bukan hanya regulator — ruang inovasi industri menjadi lebih terbuka.
Ini memperlihatkan bahwa keberhasilan circular economy tergantung pada kemampuan kebijakan untuk berdialog dengan dinamika industri, bukan memaksakan perubahan secara top-down.
c. Pentingnya membaca ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses transisi
Circular economy di Italia masih penuh ketidaksempurnaan: data yang terbatas, ketimpangan kesiapan sektor, hingga pasar material sekunder yang belum stabil. Namun, alih-alih dipahami sebagai kegagalan, kondisi ini justru menunjukkan bahwa circular economy adalah proses transisi jangka panjang — lebih mirip rekonfigurasi bertahap dibandingkan revolusi instan.
Membaca circular economy sebagai proses evolutif membantu menghindari dua ekstrem: optimisme berlebihan dan pesimisme struktural. Ia mengajarkan sikap realistis terhadap perubahan.
8. Kesimpulan
Circular economy di Italia — sebagaimana tergambar dalam paper — bukan hanya proyek lingkungan, melainkan upaya rekonstruksi ulang hubungan antara industri, material, dan kebijakan ekonomi. Transformasinya bergerak melalui sektor-sektor strategis seperti plastik, tekstil, kemasan, dan elektronik, dengan dinamika implementasi yang tidak selalu seragam.
Di balik narasi kebijakan yang ambisius, circular economy dijalankan melalui negosiasi antara logika pasar, tuntutan regulasi, dan kapasitas teknologi. Tantangan masih besar: keterbatasan data, ketidakpastian kualitas material sekunder, serta distribusi beban biaya transisi. Namun di saat yang sama, muncul peluang pembentukan kultur industri baru yang lebih efisien, adaptif, dan berorientasi siklus material.
Dengan demikian, circular economy di Italia sebaiknya dipahami sebagai proses transisi yang terus bergerak, bukan kondisi akhir yang telah tercapai. Masa depannya akan ditentukan oleh kemampuan menyelaraskan kebijakan, inovasi, dan realitas industri — serta menjadikan circular economy bukan slogan normatif, tetapi praktik ekonomi yang benar-benar tertanam dalam cara produksi dan konsumsi dijalankan.
Daftar Pustaka
Bianchi, M., & Ghosh, S. K. (2023). Circular Economy in Italy and the European Context: Policies, Industrial Dynamics, and Sectoral Perspectives. Dalam S. K. Ghosh (Ed.), Circular Economy Adoption. Springer Singapore
European Commission. (2020). Circular Economy Action Plan: For a Cleaner and More Competitive Europe.
OECD. (2022). The Circular Economy in Cities and Regions: Synthesis Report.
Ellen MacArthur Foundation. (2019). Completing the Picture: How the Circular Economy Tackles Climate Change.