Agroteknologi & Teknologi Bioproduk

Sejarah Teknologi Pertanian

Dipublikasikan oleh Anisa pada 05 Maret 2025


Teknologi pertanian adalah aplikasi ilmu pengetahuan alam dan matematika untuk mendayagunakan secara ekonomis sumber daya pertanian dan alam untuk kesejahteraan manusia. Fasafah teknologi pertanian adalah praktik empirik pragmatik finalistik yang didasarkan pada paham mekanistik-vitalistik, dengan penekanan pada objek formal kerekayasaan dalam pembuatan dan penerapan sistem produksi, bangunan, peralatan, lingkungan, dan pengolahan dan pengamanan hasil produksi. Dalam ilmu pertanian budidaya reproduksi, budidaya, pemeliharaan, dan pemungutan hasil flora dan fauna, peningkatan kualitas hasil panen, penanganan, pengolahan, dan pengamanan dan pemasaran hasil adalah fokus utama. Oleh karena itu, teknologi pertanian secara luas mencakup berbagai aplikasi ilmu teknik pada domain formal, mulai dari budidaya hingga pemasaran.

Bidang teknologi pertanian adalah bidang keilmuan yang menggabungkan ilmu pertanian dan teknik.[memerlukan rujukan] Kebutuhan untuk menyelesaikan pembukaan dan pengerjaan lahan pertanian yang luas di Amerika Serikat dan Eropa pada pertengahan abad ke-18 memicu sejarah lahirnya ilmu-ilmu dalam lingkup teknologi pertanian. Pendidikan tinggi teknik dan pertanian di Indonesia mulai berkembang pada awal tahun 60-an, terlepas dari perkembangan pendidikan tinggi teknik dan pertanian sejak zaman pendudukan Belanda. Selama Perang Dunia I, Eropa mengalami kerusakan pada hubungan internasional, antara lain karena armada sulit untuk masuk ke Samudra Hindia, yang menghalangi tenaga ahli yang sebelumnya dibawa dari Eropa.[memerlukan rujukan] Pada waktu pendudukan di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membutuhkan tenaga ahli teknik di tingkat menengah dan tinggi untuk bidang pertanian dan teknik.[memerlukan rujukan] Pada awal abad ke-19, Pemerintah Hindia Belanda secara intensif melakukan program cultur stelseels di Jawa dan Sumatra untuk mencukupi kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan.[memerlukan rujukan] Untuk memenuhi kebutuhan ini, di Bogor (Buitenzorg) didirikan beberapa sekolah menengah untuk pertanian dan kedokteran hewan. Ini termasuk sekolah menengah pertanian, sekolah menengah perkebunan, dan sekolah Nederlandssch Indische Veerleeen.

Sejarah pendidikan

Bidang teknologi pertanian adalah bidang keilmuan yang menggabungkan ilmu pertanian dan teknik.[memerlukan rujukan] Kebutuhan untuk menyelesaikan pembukaan dan pengerjaan lahan pertanian yang luas di Amerika Serikat dan Eropa pada pertengahan abad ke-18 memicu sejarah lahirnya ilmu-ilmu dalam lingkup teknologi pertanian.[memerlukan rujukan] Pendidikan tinggi teknik dan pertanian di Indonesia mulai berkembang pada awal tahun 60-an, terlepas dari perkembangan pendidikan tinggi teknik dan pertanian sejak zaman pendudukan Belanda.[memerlukan rujukan] Selama Perang Dunia I, Eropa mengalami kerusakan pada hubungan internasional, antara lain karena armada sulit untuk masuk ke Samudra Hindia, yang menghalangi tenaga ahli yang sebelumnya dibawa dari Eropa.[memerlukan rujukan] Pada waktu pendudukan di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membutuhkan tenaga ahli teknik di tingkat menengah dan tinggi untuk bidang pertanian dan teknik.[memerlukan rujukan] Pada awal abad ke-19, Pemerintah Hindia Belanda secara intensif melakukan program cultur stelseels di Jawa dan Sumatra untuk mencukupi kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan.[memerlukan rujukan] Untuk memenuhi kebutuhan ini, di Bogor (Buitenzorg) didirikan beberapa sekolah menengah untuk pertanian dan kedokteran hewan. Ini termasuk sekolah menengah pertanian, sekolah menengah perkebunan, dan sekolah Nederlandssch Indische Veerleeen.

Lingkup Teknologi Pertanian

  • Teknik pertanian

Teknik pertanian adalah pendekatan teknik (engineering) secara luas dalam bidang pertanian yang sangat penting untuk mengubah sumber daya alam secara efektif dan efisien untuk pemanfaatan manusia.[memerlukan rujukan] Oleh karena itu, dalam sistem keilmuan, bidang teknik pertanian terus bergantung pada ilmu teknik untuk menyelesaikan berbagai masalah pertanian.[4] Pada paruh 1990-an, istilah "teknik pertanian" digunakan di Indonesia sebagai penggabungan dari "teknik pertanian". [butuh rujukan] Sebelum ini, istilah yang digunakan lebih luas, yaitu mekanisasi pertanian. Ini digunakan sejak awal 1990-an, bersama dengan pengenalan dan penggunaan traktor dalam program intensifikasi pertanian.

Bidang cakupan teknik pertanian meliputi hal-hal seperti berikut: [butuh rujukan] mesin dan alat budidaya pertanian; pengetahuan tentang penggunaan, pemeliharaan, dan pengembangan mesin dan alat budidaya pertanian. Teknik tanah dan air menyelidiki masalah irigasi, konservasi, dan pelestarian sumber daya tanah dan air. Energi dan Elektrifikasi Pertanian mencakup dasar teknologi energi dan daya serta bagaimana mereka dapat diterapkan dalam kegiatan pertanian. Lingkugan dan bangunan pertanian mencakup masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan bangunan khusus untuk keperluan pertanian, seperti pusat pengolahan, sistem pengendalian iklim, dan unit penyimpanan tanaman dan peralatan, serta sesuai keadaan lingkungan. Teknik pengolahan hasil pertanian dan makanan, penggunaan mesin untuk menyiapkan hasil pertanian, baik untuk disimpan atau digunakan sebagai bahan makanan atau tujuan lain.

Bidang teknik pertanian dipengaruhi oleh kemajuan ilmu sistem pada tahun 1980-an, yang menghasilkan bidang sistem dan manajemen mekanisasi pertanian, yang mencakup penerapan manajemen sistem dan analisis sistem untuk menerapkan mekanisasi pertanian.[memerlukan rujukan] Perkembangan berikutnya pada abad ke-20 dan ke-21 termasuk ilmu komputasi, teknologi pembantu otak dan otot melalui sistem kontrol, sistem pakar, dan kecerdasan buatan, yang membawa robot ke dalam sistem pertanian. Ini membuat teknik pertanian menjadi sistem teknik pertanian.[memerlukan rujukan] Dalam pendekatan ini, objek formal untuk kegiatan reproduksi flora dan fauna serta biota akuatik dilihat lebih luas lagi sebagai sistem hayati atau biologis, dengan fokus pada pemecahan masalah pertanian secara keseluruhan. Dalam pendekatan ini, sumber daya hayati seperti mikrob dan mikroorganisme juga dianggap sebagai objek formal untuk produksi dan peningkatan biomassa.[memerlukan rujukan] Di beberapa perguruan tinggi di Amerika dan Jepang, program studi atau departemen yang sebelumnya bernama Teknik Pertanian sekarang disebut Teknik Sistem Biologis.

  • Teknologi hasil pertanian

Bahan pangan sebagai salah satu kebutuhan primer manusia, sangat intensif dijadikan kajian sebagai objek ilmu formal terapan dan ditopang dengan kebutuhan industri, terutama di negara maju. Kondisi ini melahirkan cabang bidang ilmu teknologi pangan yang merupakan penerapan ilmu-ilmu dasar (kimia, fisika dan mikrobiologi) serta prinsip-prinsip teknik (engineering), ekonomi dan manajemen pada seluruh mata rantai penggarapan bahan pangan dari sejak pemanenan sampai menjadi hidangan. Teknologi pangan merupakan penerapan ilmu dan teknik pada penelitian, produksi, pengolahan, distribusi, dan penyimpanan pangan berikut pemanfaatannya. Ilmu terapan yang menjadi landasan pengembangan teknologi pangan meliputi ilmu pangan, kimia pangan, mikrobiologi pangan, fisika pangan, dan teknik proses.[butuh referensi] Ilmu pangan merupakan dasar-dasar biologi, kimia, fisika, dan teknik dalam mempelajari sifat-sifat bahan pangan, penyebab kerusakan pangan dan prinsip-prinsip yang mendasari pegolahan pangan.

  • Teknologi industri pertanian

Teknik industri pertanian adalah bidang ilmu terapan yang berfokus pada perencanaan, perancangan, pengembangan, dan evaluasi sistem terpadu (meliputi manusia, bahan, informasi, peralatan, dan energi) untuk kegiatan agroindustri dengan tujuan mencapai kinerja (efisiensi dan efektivitas) yang optimal. Untuk menganalisis dan merancang sistem agroindustri terpadu, siswa belajar matematika, fisika, kimia/biokimia, ilmu sosial ekonomi, prinsip-prinsip, dan metodologi. Sebagai kombinasi dari dua bidang, teknik proses dan teknik industri, tujuan resminya adalah pendayagunaan hasil pertanian.

Disadur dari:

https://id.wikipedia.org

Selengkapnya
Sejarah Teknologi Pertanian

Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok

Strategi Monitoring Risiko Rantai Pasok dengan GERT dan Change-Point Control Chart: Studi Kasus Industri Otomotif

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025


Pendahuluan

Dalam era globalisasi, rantai pasok menghadapi berbagai risiko yang dapat menyebar secara cepat dan berdampak besar pada operasional bisnis. Penundaan pengiriman, bencana alam, serangan siber, hingga ketidakpastian kualitas adalah beberapa risiko utama dalam rantai pasok modern.

Studi ini, yang dilakukan oleh Jianlan Zhong dan Fu Jia, berfokus pada pemantauan risiko dalam rantai pasok menggunakan Graphic Evaluation and Review Technique (GERT) dan change-point control chart. Penelitian ini diterapkan pada industri otomotif DongNan, di mana lead-time delay menjadi risiko utama yang dapat menghambat produksi.

Metodologi Penelitian

Studi ini menggunakan pendekatan kombinasi dengan dua metode utama:

  1. Graphic Evaluation and Review Technique (GERT) untuk memodelkan jaringan penyebaran risiko dalam rantai pasok.
  2. Change-Point Control Chart untuk memantau keterlambatan pengiriman secara real-time dan mendeteksi titik perubahan dalam distribusi risiko.

Kasus yang dianalisis adalah rantai pasok otomotif DongNan, yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena keterlibatan banyak pemasok dan proses produksi.

Temuan Utama

1. Penyebaran Risiko dalam Rantai Pasok

  • Efek Ripple dalam Supply Chain: Risiko dalam satu bagian rantai pasok dapat menyebar ke seluruh sistem, menyebabkan gangguan besar.
  • Lead-Time Delay sebagai Faktor Kritis: Keterlambatan dalam satu tahap produksi dapat memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan biaya produksi.

2. Penerapan GERT untuk Memetakan Risiko

  • GERT membantu dalam memvisualisasikan jalur risiko dan memahami bagaimana keterlambatan menyebar dalam jaringan rantai pasok.
  • Teknik ini memungkinkan perusahaan mengidentifikasi titik rawan yang memerlukan tindakan mitigasi segera.

3. Monitoring Risiko dengan Change-Point Control Chart

  • Deteksi titik perubahan dalam keterlambatan pengiriman memungkinkan perusahaan mengambil tindakan sebelum dampaknya semakin luas.
  • Change-point control chart terbukti akurasi tinggi dalam memprediksi keterlambatan, dengan akurasi deteksi hingga 94% dalam simulasi.
  • Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa metode ini tetap stabil, meskipun terdapat kesalahan dalam estimasi parameter risiko.

4. Studi Kasus: Implementasi pada Industri Otomotif DongNan

Penelitian ini menerapkan model GERT dan change-point control chart pada DongNan Automotive, salah satu produsen otomotif terbesar di Tiongkok. Beberapa temuan utama:

  • Lead-time delay mencapai 21 hari dalam skenario simulasi, menyebabkan gangguan produksi pada tahap berikutnya.
  • Dengan change-point control chart, keterlambatan pengiriman dapat dideteksi lebih awal, sehingga langkah korektif dapat diterapkan lebih cepat.
  • Pemantauan berbasis statistik meningkatkan deteksi risiko hingga 30% dibandingkan metode tradisional.

Keunggulan dan Tantangan

Keunggulan

Akurasi tinggi dalam pemantauan risiko dengan metode berbasis data.
Visualisasi jalur penyebaran risiko dengan GERT membantu pengambilan keputusan yang lebih cepat.
Integrasi dengan sistem digital memungkinkan deteksi real-time dan mitigasi lebih efektif.

Tantangan

Implementasi memerlukan infrastruktur teknologi yang kuat seperti IoT dan AI.
Kompleksitas pemodelan GERT dapat menjadi kendala dalam rantai pasok multi-tier.
Perlu pelatihan bagi tim supply chain agar dapat menginterpretasikan hasil pemantauan dengan baik.

Strategi Optimal untuk Meningkatkan Monitoring Risiko Rantai Pasok

Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan monitoring risiko dalam rantai pasok:

1. Menggunakan Teknologi Digital untuk Monitoring Real-Time

  • Integrasi IoT dan AI untuk mendeteksi risiko sejak dini.
  • Penerapan Blockchain untuk meningkatkan transparansi dalam supply chain.

2. Mengimplementasikan Sistem Kontrol Berbasis Statistik

  • Menggunakan change-point control chart untuk mendeteksi anomali dalam lead-time delay.
  • Mengembangkan model prediksi keterlambatan berdasarkan pola historis data rantai pasok.

3. Meningkatkan Kolaborasi dan Transparansi Supply Chain

  • Berbagi data dengan pemasok dan mitra bisnis untuk meningkatkan respons terhadap risiko.
  • Menggunakan platform berbasis cloud agar semua pihak dapat mengakses informasi secara real-time.

4. Menyiapkan Protokol Respons Risiko yang Cepat

  • Menentukan prosedur eskalasi risiko yang jelas dalam rantai pasok.
  • Menyusun strategi mitigasi yang berbasis skenario, misalnya dengan diversifikasi pemasok atau peningkatan buffer stok.

Kesimpulan

Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi GERT dan change-point control chart dapat meningkatkan efektivitas pemantauan risiko dalam rantai pasok. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat:

  • Mendeteksi keterlambatan lebih awal, mengurangi dampak pada operasional.
  • Meningkatkan efisiensi rantai pasok, mengurangi biaya akibat gangguan.
  • Mengembangkan sistem yang lebih tangguh, dengan respons cepat terhadap risiko.

Dalam era supply chain yang semakin kompleks dan rentan terhadap gangguan, penerapan sistem monitoring berbasis data seperti ini menjadi sangat penting bagi perusahaan untuk tetap kompetitif dan responsif terhadap dinamika pasar.

Sumber : Jianlan Zhong, Fu Jia (2025). Supply Chain Risk Transmission Monitoring Based on Graphic Evaluation and Review Technique. Heliyon 11 (2025) e41462.

 

Selengkapnya
Strategi Monitoring Risiko Rantai Pasok dengan GERT dan Change-Point Control Chart: Studi Kasus Industri Otomotif

Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok

Supply Chain 4.0: Strategi Pengukuran Kinerja dan Implementasi Teknologi Industry 4.0

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025


Pendahuluan

Revolusi Industri 4.0 (I4.0) telah membawa perubahan signifikan dalam Supply Chain Management (SCM) dengan digitalisasi yang masif. Artikel ini mengulas kajian sistematis mengenai Supply Chain 4.0, mengidentifikasi bagaimana teknologi I4.0 berkontribusi dalam pengukuran kinerja rantai pasok. Studi ini menawarkan framework inovatif yang telah divalidasi melalui berbagai studi kasus di dunia nyata.

Transformasi Supply Chain Menuju Industry 4.0

Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan di Jerman pada Hannover Messe 2011, menandai era produksi otomatis dan cerdas yang mampu berkomunikasi secara mandiri berbasis data real-time. Teknologi seperti IoT, AI, Big Data, dan Digital Twin telah merevolusi cara perusahaan mengelola rantai pasok, meningkatkan efisiensi, dan mengoptimalkan keputusan strategis.

Framework Supply Chain 4.0

Framework yang dikembangkan dalam studi ini mencakup empat dimensi utama:

  1. Procurement 4.0 – Integrasi teknologi dalam pemilihan pemasok dan pengelolaan persediaan.
  2. Manufacturing 4.0 – Automasi dan digitalisasi proses produksi.
  3. Logistics 4.0 – Pemanfaatan data real-time dalam perencanaan dan distribusi barang.
  4. Warehousing 4.0 – Optimalisasi gudang dengan sistem pintar berbasis IoT dan AI.

Studi Kasus: Implementasi Supply Chain 4.0

Studi ini memvalidasi framework melalui 10 perusahaan yang menerapkan teknologi I4.0 pada rantai pasoknya. Beberapa temuan penting:

  • Logistics 4.0 meningkatkan efisiensi transportasi dan pengiriman barang hingga 30%.
  • Procurement 4.0 menurunkan biaya persediaan hingga 20% dengan penerapan Artificial Intelligence (AI) dalam pemilihan pemasok.
  • Warehousing 4.0 dengan sistem berbasis IoT dan robotik mempercepat proses pengelolaan gudang hingga 35%.

Keunggulan dan Tantangan

Keunggulan Supply Chain 4.0:
Efisiensi operasional lebih tinggi melalui otomatisasi.
Keputusan berbasis data meningkatkan akurasi prediksi permintaan.
Kolaborasi lebih erat antara pemasok dan distributor melalui platform berbasis cloud.

Tantangan dalam Implementasi:
Investasi awal yang tinggi dalam infrastruktur digital.
Keamanan data dan risiko siber yang perlu dikelola dengan baik.
Kurangnya tenaga kerja terampil dalam mengelola sistem berbasis I4.0.

Kesimpulan

Penerapan Supply Chain 4.0 menjadi strategi esensial bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di era digital. Dengan pemanfaatan teknologi AI, IoT, Big Data, serta strategi kolaborasi rantai pasok berbasis cloud, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan mempercepat proses bisnis.

Sumber Artikel: Kannan Govindan, Devika Kannan, Thomas Ballegård Jørgensen, Tim Straarup Nielsen (2022). Supply Chain 4.0 performance measurement: A systematic literature review, framework development, and empirical evidence. Transportation Research Part E 164 (2022) 102725.

 

Selengkapnya
Supply Chain 4.0: Strategi Pengukuran Kinerja dan Implementasi Teknologi Industry 4.0

Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok

Faktor yang Mempengaruhi Supply Chain Information Sharing dalam Multi-Tier Supply Chain: Implikasi Industry 4.0

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025


Pendahuluan

Dalam era globalisasi dan digitalisasi, Supply Chain Information Sharing (SCIS) menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi dan ketahanan rantai pasok. Penelitian ini dilakukan oleh Mathijs Rutten sebagai bagian dari tesis Magister Administrasi Bisnis di University of Twente. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang membatasi dan mendukung berbagi informasi dalam multi-tier supply chain serta bagaimana Industry 4.0 berperan dalam mengatasi hambatan tersebut.

SCIS memiliki dampak positif terhadap kinerja rantai pasok dengan meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan, efisiensi operasional, dan fleksibilitas supply chain. Namun, ada banyak kendala yang membuat implementasi SCIS menjadi tidak optimal. Penelitian ini mengkaji faktor penghambat dan pendorong SCIS, serta bagaimana peran Industry 4.0 dalam memfasilitasi pertukaran informasi yang lebih baik.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan analisis mendalam terhadap rantai pasok perusahaan manufaktur farmasi hewan di Belanda. Teknik utama yang digunakan adalah:

  • Literature review untuk membangun kerangka teori SCIS.
  • Studi kasus empiris melalui wawancara semi-terstruktur dengan berbagai tingkat dalam rantai pasok, termasuk supplier, manufaktur, distributor, dan retailer.
  • Analisis faktor SCIS menggunakan model teoritis yang membedakan faktor strategis dan operasional.

Temuan Utama

1. Dampak Positif SCIS pada Kinerja Rantai Pasok

  • SCIS meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas rantai pasok dengan memastikan aliran informasi yang lebih transparan.
  • Berbagi informasi strategis dan operasional membantu mengurangi ketidakpastian permintaan dan meningkatkan respons pasar.
  • Integrasi teknologi digital meningkatkan aksesibilitas dan akurasi data, mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

2. Faktor yang Mempengaruhi SCIS

Penelitian ini menemukan bahwa faktor penghambat dan pendorong SCIS dapat dikategorikan dalam empat dimensi utama:

a) Konektivitas Supply Chain

  • Teknologi informasi dan standarisasi data sangat penting dalam memfasilitasi berbagi informasi.
  • Kurangnya infrastruktur teknologi menjadi hambatan utama bagi beberapa perusahaan dalam rantai pasok.

b) Kemauan Individu untuk Berbagi Informasi

  • Kepercayaan antar mitra supply chain menjadi faktor kunci dalam keberhasilan SCIS.
  • Ketakutan akan kehilangan keunggulan kompetitif membuat beberapa perusahaan enggan berbagi data sensitif.

c) Karakteristik Rantai Pasok

  • Kompleksitas struktur supply chain dapat mempengaruhi efektivitas berbagi informasi.
  • Ketergantungan antar perusahaan memerlukan koordinasi yang lebih baik untuk menghindari distorsi informasi.

d) Fasilitasi Organisasi

  • Dukungan dari manajemen puncak sangat diperlukan untuk mengadopsi SCIS secara efektif.
  • Perbedaan tujuan bisnis dan kepentingan antar perusahaan sering kali menjadi hambatan utama dalam implementasi SCIS.

3. Studi Kasus: Implementasi SCIS dalam Perusahaan Manufaktur Farmasi Hewan di Belanda

Sebagai bagian dari studi ini, sebuah perusahaan manufaktur farmasi hewan di Belanda menjadi objek penelitian. Temuan utama dari studi kasus ini meliputi:

  • Kurangnya sistem informasi yang terintegrasi menyebabkan ketidakefisienan dalam berbagi data antar tingkatan rantai pasok.
  • Manajemen risiko yang buruk membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam berbagi informasi, terutama terkait data strategis.
  • Penggunaan teknologi Industry 4.0 seperti Internet of Things (IoT) dan sistem ERP berbasis cloud mampu meningkatkan kecepatan dan transparansi dalam berbagi informasi.

Hasil studi menunjukkan bahwa dengan adopsi teknologi Industry 4.0, perusahaan dapat mengurangi hambatan berbagi informasi hingga 40%, meningkatkan transparansi data antar mitra supply chain, serta mempercepat waktu respons terhadap permintaan pasar.

4. Peran Industry 4.0 dalam Meningkatkan SCIS

Penelitian ini juga mengkaji bagaimana Industry 4.0 memengaruhi SCIS dalam supply chain modern. Beberapa peran utama Industry 4.0 dalam meningkatkan SCIS meliputi:

a) Peningkatan Ketersediaan Teknologi Informasi

  • Sistem ERP berbasis cloud memungkinkan perusahaan untuk berbagi data secara real-time dengan seluruh mitra supply chain.
  • Machine-to-Machine Communication (M2M) membantu mengurangi keterlibatan manusia dalam berbagi informasi, mengatasi hambatan terkait keamanan data.

b) Reduksi Hambatan Keamanan Data

  • Teknologi Blockchain memberikan sistem keamanan berbasis desentralisasi, memastikan keandalan dan integritas data.
  • Cyber-Physical Systems (CPS) memungkinkan otomatisasi berbagi informasi yang lebih aman dan efisien.

c) Meningkatkan Kepercayaan dan Kolaborasi

  • Big Data Analytics dapat membantu mengidentifikasi pola dalam berbagi informasi, meningkatkan koordinasi antar mitra supply chain.
  • Artificial Intelligence (AI) digunakan untuk memprediksi permintaan dan mengoptimalkan pertukaran informasi secara otomatis.

Strategi Optimal untuk Meningkatkan SCIS

Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan SCIS dalam multi-tier supply chain:

  1. Meningkatkan Konektivitas Supply Chain
    • Menggunakan platform berbasis cloud untuk integrasi data supply chain.
    • Menerapkan standarisasi data untuk menghindari ketidaksesuaian informasi antar mitra bisnis.
  2. Membangun Budaya Berbagi Informasi yang Sehat
    • Menanamkan kepercayaan dan transparansi dalam hubungan bisnis antar mitra supply chain.
    • Mengembangkan kontrak yang jelas untuk melindungi data sensitif tanpa menghambat kolaborasi.
  3. Memanfaatkan Teknologi Industry 4.0
    • Mengimplementasikan IoT dan AI untuk mempercepat pertukaran informasi dalam rantai pasok.
    • Menggunakan Blockchain untuk meningkatkan keamanan dan akurasi data yang dibagikan.
  4. Meningkatkan Dukungan Manajemen
    • Memastikan komitmen manajemen puncak dalam mendorong adopsi SCIS.
    • Mengalokasikan sumber daya keuangan dan teknologi untuk mendukung transformasi digital supply chain.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa SCIS memiliki peran krusial dalam meningkatkan efisiensi dan daya saing rantai pasok. Namun, masih banyak tantangan yang harus diatasi, terutama dalam hal kepercayaan, teknologi, dan perbedaan kepentingan antar mitra bisnis.

Industry 4.0 berpotensi menjadi solusi utama dalam mengatasi hambatan SCIS dengan menyediakan teknologi yang lebih canggih dan aman. Perusahaan yang berhasil mengadopsi SCIS berbasis Industry 4.0 akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan di pasar global.

Sumber : Mathijs Rutten (2022). Factors Influencing Multi-Tier Supply Chain Information Sharing: A Multi-Tier Supply Chain Case Study. University of Twente.

 

Selengkapnya
Faktor yang Mempengaruhi Supply Chain Information Sharing dalam Multi-Tier Supply Chain: Implikasi Industry 4.0

Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok

Analisis Supply Chain Management di Indonesia: Tantangan, Tren, dan Solusi Keberlanjutan

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025


Pendahuluan

Supply Chain Management (SCM) memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama dalam mendukung perdagangan domestik dan internasional. Namun, penerapan SCM di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk biaya logistik yang tinggi, infrastruktur yang kurang memadai, dan keterbatasan penelitian dalam bidang ini.

Penelitian ini, yang dilakukan oleh Gamze Ogcu Kaya, Sri Susilawati Islam, dan Ammar Mohamed Aamer, bertujuan untuk menganalisis kondisi SCM di Indonesia berdasarkan studi literatur. Dengan menggunakan metode analisis konten terstruktur, penelitian ini mengevaluasi tren, tantangan, dan peluang SCM di Indonesia serta memberikan rekomendasi untuk penelitian di masa depan.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan literature review dengan mengumpulkan 97 jurnal akademik yang relevan dengan topik SCM di Indonesia. Setelah melalui proses penyaringan dan validasi, hanya 38 jurnal yang dianggap sesuai untuk dianalisis lebih lanjut.

Analisis dilakukan dengan mengategorikan penelitian SCM berdasarkan tema utama, termasuk:

  • Supply Chain Berkelanjutan
  • Dampak SCM pada Kinerja Bisnis
  • Pengukuran Kinerja SCM
  • Tantangan dan Risiko SCM
  • Strategi dan Teknologi dalam SCM

Metode ini membantu mengidentifikasi kesenjangan penelitian serta memberikan wawasan mengenai implementasi SCM di Indonesia.

Temuan Utama

1. Status Supply Chain Management di Indonesia

  • SCM di Indonesia masih dalam tahap berkembang, dengan jumlah penelitian yang terbatas dibandingkan negara-negara Asia lainnya seperti Malaysia dan Singapura.
  • Peringkat Logistics Performance Index (LPI) Indonesia pada tahun 2018 adalah 46, naik dari 63 pada tahun 2016, menunjukkan adanya perbaikan tetapi masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga.
  • Biaya logistik Indonesia masih tinggi, mencapai 23,5% dari PDB, lebih besar dibandingkan Malaysia (13%) dan Thailand (15%).

2. Tantangan dalam Implementasi SCM

Penelitian ini mengidentifikasi beberapa kendala utama dalam penerapan SCM di Indonesia, di antaranya:

  • Kurangnya pemahaman konsep SCM di kalangan bisnis dan akademisi.
  • Infrastruktur logistik yang tidak memadai, termasuk keterbatasan sistem transportasi dan pergudangan.
  • Ketidakpastian pasokan, terutama dalam sektor industri yang bergantung pada impor bahan baku.
  • Kurangnya adopsi teknologi dalam SCM, menyebabkan ketidakefisienan dalam manajemen rantai pasok.

3. Kategori Penelitian SCM di Indonesia

Berdasarkan analisis literatur, SCM di Indonesia terbagi dalam beberapa tema utama:

a) Supply Chain Berkelanjutan (31,58%)

  • Studi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan menjadi fokus utama dalam penelitian SCM di Indonesia.
  • Contoh: Widodo et al. (2010) menganalisis rantai pasok minyak kelapa sawit, menemukan bahwa keberlanjutan masih menjadi tantangan utama bagi ekspor Indonesia.
  • Wu et al. (2017) meneliti rantai pasok industri batu bara dan menemukan bahwa kebijakan lingkungan sangat memengaruhi efisiensi SCM.

b) Dampak SCM terhadap Kinerja Bisnis (13,16%)

  • Beberapa penelitian membuktikan bahwa SCM yang efektif meningkatkan daya saing perusahaan.
  • Anatan (2010) menemukan bahwa praktik SCM yang baik dapat meningkatkan keunggulan kompetitif bisnis.
  • Handoko et al. (2015) meneliti hubungan antara Enterprise Resource Planning (ERP) dan SCM, yang terbukti meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

c) Pengukuran Kinerja SCM (13,16%)

  • Banyak perusahaan Indonesia belum memiliki metode standar untuk mengukur kinerja SCM.
  • Guritno et al. (2015) mengevaluasi SCM di sektor pertanian, menemukan bahwa inefisiensi dalam distribusi produk pertanian dapat menyebabkan kenaikan harga.

d) Tantangan dan Risiko dalam SCM (10,53%)

  • Fizzanty (2012) meneliti tantangan logistik di Indonesia, terutama dalam rantai pasok produk pertanian.
  • Ibrahim dan Zailani (2010) menunjukkan bahwa hambatan utama bagi SCM Indonesia adalah kurangnya dukungan pemerintah dan biaya transportasi yang tinggi.

e) Teknologi dan Inovasi dalam SCM (5,26%)

  • Vanany et al. (2015) mengembangkan sistem traceability berbasis RFID untuk industri darah, yang meningkatkan efisiensi distribusi di rumah sakit Indonesia.
  • Vanany et al. (2016) juga meneliti digitalisasi SCM dalam industri pertanian, menunjukkan bahwa penerapan teknologi masih sangat terbatas.

4. Studi Kasus: Penerapan SCM dalam Berbagai Industri

Penelitian ini juga mengulas beberapa studi kasus yang menggambarkan implementasi SCM di berbagai sektor:

a) Industri Minyak Kelapa Sawit

  • Indonesia adalah eksportir kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi rantai pasoknya menghadapi tantangan keberlanjutan.
  • Widodo et al. (2010) menemukan bahwa kurangnya regulasi lingkungan menyebabkan rendahnya daya saing di pasar global.

b) Industri Batu Bara

  • Wu et al. (2017) menemukan bahwa industri batu bara Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mencapai rantai pasok yang berkelanjutan, karena tingginya dampak lingkungan.

c) Industri Pertanian

  • Guritno et al. (2015) meneliti rantai pasok sayuran di Yogyakarta dan menemukan bahwa ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan menyebabkan pemborosan besar.

Strategi Optimal untuk Meningkatkan SCM di Indonesia

Berdasarkan temuan penelitian ini, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan SCM di Indonesia:

1. Meningkatkan Infrastruktur Logistik

  • Investasi dalam transportasi dan pergudangan sangat penting untuk mengurangi biaya logistik.
  • Digitalisasi rantai pasok, seperti penggunaan Internet of Things (IoT) dan Blockchain, dapat meningkatkan transparansi dan efisiensi.

2. Mendorong Adopsi Teknologi SCM

  • Sistem ERP berbasis cloud memungkinkan integrasi data supply chain secara real-time.
  • Artificial Intelligence (AI) dapat digunakan untuk prediksi permintaan dan optimasi logistik.

3. Mengembangkan Kebijakan Pemerintah yang Mendukung SCM

  • Subsidi untuk transportasi dan infrastruktur logistik dapat mengurangi biaya SCM bagi pelaku usaha.
  • Standarisasi regulasi lingkungan akan membantu perusahaan Indonesia dalam meningkatkan daya saing di pasar global.

4. Meningkatkan Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan

  • Peningkatan transparansi data antar pemasok, produsen, dan distributor akan membantu mengurangi risiko pasokan.
  • Kemitraan strategis antara pemerintah, universitas, dan industri dapat membantu mendorong riset dan inovasi dalam SCM.

Kesimpulan

Penelitian ini menyoroti bahwa SCM di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, tetapi juga memiliki peluang besar untuk berkembang. Investasi dalam infrastruktur, digitalisasi, dan kebijakan yang mendukung keberlanjutan akan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok Indonesia.

Dengan strategi yang tepat, perusahaan di Indonesia dapat:

  • Mengurangi biaya logistik
  • Meningkatkan efisiensi operasional
  • Meningkatkan daya saing di pasar global

Penting bagi pelaku bisnis, akademisi, dan pemerintah untuk terus mengembangkan penelitian dan implementasi SCM agar dapat mencapai supply chain yang lebih berkelanjutan dan kompetitif.

Sumber : Gamze Ogcu Kaya, Sri Susilawati Islam, Ammar Mohamed Aamer (2022). Supply Chain Management in Indonesia: A Literature Review. International Journal of Project Management and Productivity Assessment.

 

Selengkapnya
Analisis Supply Chain Management di Indonesia: Tantangan, Tren, dan Solusi Keberlanjutan

Teknik Fisika

Beda Teknik Fisika dan Fisika: Serupa Tapi Tak Sama

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025


Salah satu yang menjadi polemik ketika calon mahsiswa baru menentukan jurusan yangakan diambil adalah minimnya pengetahuan tentang jrusan yang beragam. Ditambah lagi ketika juruan tersebut memilki kesamaan nama. Seperti contoh Teknik fisika dan Fisika Murni. Kedua jurusan tersebut seringkali disalahpahami oleh calon mahasiswa baru. Nah untuk membantu kamu para calon mahasiswa, artikel ini membahas perbedan kedua jurusan tersebut agar kamu bisa lebih yakin dalam memiilih.

Perbedaan Jujrusan secara umum

Fisika Murni

Fisika Murni kerap disingkat dengan jurusan fisika. Jurusan ini biasanya berada di bawah naungan MIPA. Oleh karenanya pada perguruan tinggi tertentu sering juga disebut sebagai Fisika MIPA. Di jurusan ini mahasiswa akan diarahkan menjadi ilmuwan fisika. Dengan mempelajari dasar teori fisika yang kuat, lulusannya diharapkan dapat mengembangkan keilmuan fisika.

Teknik Fisika

Di jurusan ini, garis besar mata kuliah yang akan dipelajari adalah ilmu fisika dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kamu akan belajar mengenai teori-teori fisika dan melakukan analisis untuk menyelesaikan beragam masalah yang terkait dengan fisika di lapangan.

Perbedaan mata kuliah

Fisika Murni

Materi pembelajaran yang sangat sulit? Semua materi pembelajaran mempunyai tingkat kesulitannya masing-masing. Tidak sedikit dari orang yang menekuni fisika berpendapat bahwa yang tersulit adalah fisika quantum. Namun karena “sulit” itu relatif, berikut ini akan saya tulis beberapa mata kuliah yang ditawarkan prodi fisika murni.

  • Fisika Dasar
  • Analisis rangkaian listrik
  • Termodinamika
  • Mekanika kuantum
  • Getaran dan gelombang
  • Elektronika analog
  • Sistem digital
  • Matematika untuk fisika. Mata kuliah ini cukul menjadi momok bagi mereka yang kurang menyenangi matematika.
  • Analisis numerik
  • Optika geometri dan fisis
  • Sensor dan instrumentasi
  • Teori relativitas khusus
  • Fisika inti
  • Mekanika fluida

Teknik Fisika

Jika kamu mengambil jurusan Teknik Fisika dengan peminatan Manajemen Energi, nantinya kamu bisa belajar mengenai cara membangun gedung yang hemat energi dan ramah lingkungan dengan menggunakan prinsip-prinsip Fisika. Seru ‘kan?

Nah di jurusan ini, kamu akan belajar banyak mengenai beberapa hal berikut:

  • Fisika Dasar
  • Fisika Modern
  • Fisika Material
  • Analisis Termal
  • Mekanika Fluida
  • Termodinamika
  • Pemodelan Probabilitas dan Statistik
  • Otomasi Industri
  • Elektronika Analog dan Digital
  • Medan Elektromagnetik
  • Konversi Energi
  • Teknik Akustik

Perbedaan Gelar Lulusan

Kamu yang berkuliah di jurusan Fisika akan lulus dengan gelas Sarjana Science atau S.Si. Sedangkan kamu yang akan mengambil jurusan teknik fisika akan lulus dengan gelar Sarjana Teknik atau S. T.

Perbedaan pilihan karir

Fisika Murni

  1. Bidang Perminyakan dan Pertambangan

Dengan keahlian yang dimiliki, lulusan Fisika dapat memulai bekerja sebagai seorang field engineer pada perusahaan-perusahaan top seperti Pertamina, Total Indonesia, Caltex, Schlumberger, PT Aneka Tambang, Freeport, hingga PT Timah.

  1. Industri Manufaktur dan Industri Telekomunikasi

Lulusan Fisika dapat bekerja di bagian Research and Development dan juga dapat bekerja sebagai seorang QA/QC (Quality Assurance / Quality Control) di perusahaan seperti PT LEN, PT INTI, Samsung, ASTRA Int. , PT Telkom, Siemens, hingga Satelindo.

  1. Industri Keuangan dan Perbankan

Tak hanya lulusan akuntansi, lulusan fisika juga dapat bekerja di lembaga keuangan baik itu bidang asuransi, perbankan, maupun lembaga keuangan lainnya baik sebagai tenaga pemasar, audit internal, atau credit analyst officer.

  1. Industri Teknologi Informasi

Bagi lulusan fisika yang menyukai bidang teknologi bisa bekerja di bidang IT seperti menjadi seorang software developer di berbagai perusahaan.

  1. Institusi Riset dan Pengembangan

Sama seperti jurusan sains pada umumnya, jurusan ini juga bisa menjadi seorang peneliti di lembaga-lembaga penelitian baik milik pemerintah maupun swasta merupakan pilihan yang bisa dipertimbangkan. Mulai dari LIPI, BATAN, hingga BPPT.

Teknik Fisika

  1. Industri Pembangkit Listrik

Lulusan dari jurusan Teknik Fisika memiliki peluang kerja yang bergerak di bidang industri pembangkit listrik. Hampir sama seperti lulusan teknik elektronika, Kamu akan punya jenjang karier yang menjanjikan di bidang industri ini. Ilmu yang Kamu dapat saat berkuliah juga sangat berhubungan dengan bidang yang satu ini.

  1. Industri Alat Instrumen Dan Integrasi Sistem

Peluang kerja berikutnya yang dapat dipilih oleh lulusan jurusan Teknik Fisika adalah bekerja di industri alat instrumen dan integrasi sistem. Di bidang ini, Kamu bisa mengoptimalkan semua ilmu yang Kamu miliki untuk diaplikasikan. Untuk gajinya sendiri tentunya cukup lumayan berkisar di angka Rp10.000.000,00 bahkan bisa lebih.

  1. Industri Rekayasa Dan Konstruksi

Peluang atau prospek kerja Teknik Fisika berikutnya adalah bekerja di industri rekayasa dan konstruksi. Jelas sekali kalau bidang industri ini sangat membutuhkan Kamu sebagai lulusan dari Teknik Fisika. Di bidang ini Kamu bisa bekerja membuat rancangan bangunan pabrik dan lain-lain.

Soal gaji, bekerja di industri rekayasa dan konstruksi bisa memberikan Kamu masa depan yang cerah. Kamu bisa mendapatkan penghasilan di kisaran Rp15.000.000,00. Kamu juga bisa berkontribusi besar pada dunia konstruksi di Indonesia.

  1. Bekerja Di BUMN

BUMN menjadi salah satu tujuan bagi para mahasiswa yang sudah lulus kuliah. Bagi Kamu yang lulus sarjana jurusan Teknik Fisika juga punya peluang besar untuk bekerja di BUMN. Adapun BUMN yang cocok untuk lulusan Teknik Fisika contohnya adalah PLM, TELKOM, dan lain sebagainya.

Demikianlah Perbedaan Teknik Fisika dan Fisika Murni. Sesungguhnya kamu memiliki kebebasan untuk memilih jurusan sesuai dengan passion dan dengan keinginanmu. Artikel ini memberikan gambaran general yang bisa membantu kamu memilih antara Teknik Fisika dan Fisika Murni.

Kamu bisa mempelajari lebih lanjut tentang informasi menarik lainnya melalui official website UMN. Di website tersebut kamu juga bisa memilih prosedur pendaftaran online sesuai dengan pilihanmu. Yuk, daftar sekarang dan mulai karir kamu bersama UMN!

Sumber: https://www.umn.ac.id/

Selengkapnya
Beda Teknik Fisika dan Fisika: Serupa Tapi Tak Sama
« First Previous page 139 of 865 Next Last »