Agroteknologi & Teknologi Bioproduk
Dipublikasikan oleh Anisa pada 05 Maret 2025
Teknologi pertanian adalah aplikasi ilmu pengetahuan alam dan matematika untuk mendayagunakan secara ekonomis sumber daya pertanian dan alam untuk kesejahteraan manusia. Fasafah teknologi pertanian adalah praktik empirik pragmatik finalistik yang didasarkan pada paham mekanistik-vitalistik, dengan penekanan pada objek formal kerekayasaan dalam pembuatan dan penerapan sistem produksi, bangunan, peralatan, lingkungan, dan pengolahan dan pengamanan hasil produksi. Dalam ilmu pertanian budidaya reproduksi, budidaya, pemeliharaan, dan pemungutan hasil flora dan fauna, peningkatan kualitas hasil panen, penanganan, pengolahan, dan pengamanan dan pemasaran hasil adalah fokus utama. Oleh karena itu, teknologi pertanian secara luas mencakup berbagai aplikasi ilmu teknik pada domain formal, mulai dari budidaya hingga pemasaran.
Bidang teknologi pertanian adalah bidang keilmuan yang menggabungkan ilmu pertanian dan teknik.[memerlukan rujukan] Kebutuhan untuk menyelesaikan pembukaan dan pengerjaan lahan pertanian yang luas di Amerika Serikat dan Eropa pada pertengahan abad ke-18 memicu sejarah lahirnya ilmu-ilmu dalam lingkup teknologi pertanian. Pendidikan tinggi teknik dan pertanian di Indonesia mulai berkembang pada awal tahun 60-an, terlepas dari perkembangan pendidikan tinggi teknik dan pertanian sejak zaman pendudukan Belanda. Selama Perang Dunia I, Eropa mengalami kerusakan pada hubungan internasional, antara lain karena armada sulit untuk masuk ke Samudra Hindia, yang menghalangi tenaga ahli yang sebelumnya dibawa dari Eropa.[memerlukan rujukan] Pada waktu pendudukan di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membutuhkan tenaga ahli teknik di tingkat menengah dan tinggi untuk bidang pertanian dan teknik.[memerlukan rujukan] Pada awal abad ke-19, Pemerintah Hindia Belanda secara intensif melakukan program cultur stelseels di Jawa dan Sumatra untuk mencukupi kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan.[memerlukan rujukan] Untuk memenuhi kebutuhan ini, di Bogor (Buitenzorg) didirikan beberapa sekolah menengah untuk pertanian dan kedokteran hewan. Ini termasuk sekolah menengah pertanian, sekolah menengah perkebunan, dan sekolah Nederlandssch Indische Veerleeen.
Sejarah pendidikan
Bidang teknologi pertanian adalah bidang keilmuan yang menggabungkan ilmu pertanian dan teknik.[memerlukan rujukan] Kebutuhan untuk menyelesaikan pembukaan dan pengerjaan lahan pertanian yang luas di Amerika Serikat dan Eropa pada pertengahan abad ke-18 memicu sejarah lahirnya ilmu-ilmu dalam lingkup teknologi pertanian.[memerlukan rujukan] Pendidikan tinggi teknik dan pertanian di Indonesia mulai berkembang pada awal tahun 60-an, terlepas dari perkembangan pendidikan tinggi teknik dan pertanian sejak zaman pendudukan Belanda.[memerlukan rujukan] Selama Perang Dunia I, Eropa mengalami kerusakan pada hubungan internasional, antara lain karena armada sulit untuk masuk ke Samudra Hindia, yang menghalangi tenaga ahli yang sebelumnya dibawa dari Eropa.[memerlukan rujukan] Pada waktu pendudukan di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membutuhkan tenaga ahli teknik di tingkat menengah dan tinggi untuk bidang pertanian dan teknik.[memerlukan rujukan] Pada awal abad ke-19, Pemerintah Hindia Belanda secara intensif melakukan program cultur stelseels di Jawa dan Sumatra untuk mencukupi kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan.[memerlukan rujukan] Untuk memenuhi kebutuhan ini, di Bogor (Buitenzorg) didirikan beberapa sekolah menengah untuk pertanian dan kedokteran hewan. Ini termasuk sekolah menengah pertanian, sekolah menengah perkebunan, dan sekolah Nederlandssch Indische Veerleeen.
Lingkup Teknologi Pertanian
Teknik pertanian adalah pendekatan teknik (engineering) secara luas dalam bidang pertanian yang sangat penting untuk mengubah sumber daya alam secara efektif dan efisien untuk pemanfaatan manusia.[memerlukan rujukan] Oleh karena itu, dalam sistem keilmuan, bidang teknik pertanian terus bergantung pada ilmu teknik untuk menyelesaikan berbagai masalah pertanian.[4] Pada paruh 1990-an, istilah "teknik pertanian" digunakan di Indonesia sebagai penggabungan dari "teknik pertanian". [butuh rujukan] Sebelum ini, istilah yang digunakan lebih luas, yaitu mekanisasi pertanian. Ini digunakan sejak awal 1990-an, bersama dengan pengenalan dan penggunaan traktor dalam program intensifikasi pertanian.
Bidang cakupan teknik pertanian meliputi hal-hal seperti berikut: [butuh rujukan] mesin dan alat budidaya pertanian; pengetahuan tentang penggunaan, pemeliharaan, dan pengembangan mesin dan alat budidaya pertanian. Teknik tanah dan air menyelidiki masalah irigasi, konservasi, dan pelestarian sumber daya tanah dan air. Energi dan Elektrifikasi Pertanian mencakup dasar teknologi energi dan daya serta bagaimana mereka dapat diterapkan dalam kegiatan pertanian. Lingkugan dan bangunan pertanian mencakup masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan bangunan khusus untuk keperluan pertanian, seperti pusat pengolahan, sistem pengendalian iklim, dan unit penyimpanan tanaman dan peralatan, serta sesuai keadaan lingkungan. Teknik pengolahan hasil pertanian dan makanan, penggunaan mesin untuk menyiapkan hasil pertanian, baik untuk disimpan atau digunakan sebagai bahan makanan atau tujuan lain.
Bidang teknik pertanian dipengaruhi oleh kemajuan ilmu sistem pada tahun 1980-an, yang menghasilkan bidang sistem dan manajemen mekanisasi pertanian, yang mencakup penerapan manajemen sistem dan analisis sistem untuk menerapkan mekanisasi pertanian.[memerlukan rujukan] Perkembangan berikutnya pada abad ke-20 dan ke-21 termasuk ilmu komputasi, teknologi pembantu otak dan otot melalui sistem kontrol, sistem pakar, dan kecerdasan buatan, yang membawa robot ke dalam sistem pertanian. Ini membuat teknik pertanian menjadi sistem teknik pertanian.[memerlukan rujukan] Dalam pendekatan ini, objek formal untuk kegiatan reproduksi flora dan fauna serta biota akuatik dilihat lebih luas lagi sebagai sistem hayati atau biologis, dengan fokus pada pemecahan masalah pertanian secara keseluruhan. Dalam pendekatan ini, sumber daya hayati seperti mikrob dan mikroorganisme juga dianggap sebagai objek formal untuk produksi dan peningkatan biomassa.[memerlukan rujukan] Di beberapa perguruan tinggi di Amerika dan Jepang, program studi atau departemen yang sebelumnya bernama Teknik Pertanian sekarang disebut Teknik Sistem Biologis.
Bahan pangan sebagai salah satu kebutuhan primer manusia, sangat intensif dijadikan kajian sebagai objek ilmu formal terapan dan ditopang dengan kebutuhan industri, terutama di negara maju. Kondisi ini melahirkan cabang bidang ilmu teknologi pangan yang merupakan penerapan ilmu-ilmu dasar (kimia, fisika dan mikrobiologi) serta prinsip-prinsip teknik (engineering), ekonomi dan manajemen pada seluruh mata rantai penggarapan bahan pangan dari sejak pemanenan sampai menjadi hidangan. Teknologi pangan merupakan penerapan ilmu dan teknik pada penelitian, produksi, pengolahan, distribusi, dan penyimpanan pangan berikut pemanfaatannya. Ilmu terapan yang menjadi landasan pengembangan teknologi pangan meliputi ilmu pangan, kimia pangan, mikrobiologi pangan, fisika pangan, dan teknik proses.[butuh referensi] Ilmu pangan merupakan dasar-dasar biologi, kimia, fisika, dan teknik dalam mempelajari sifat-sifat bahan pangan, penyebab kerusakan pangan dan prinsip-prinsip yang mendasari pegolahan pangan.
Teknik industri pertanian adalah bidang ilmu terapan yang berfokus pada perencanaan, perancangan, pengembangan, dan evaluasi sistem terpadu (meliputi manusia, bahan, informasi, peralatan, dan energi) untuk kegiatan agroindustri dengan tujuan mencapai kinerja (efisiensi dan efektivitas) yang optimal. Untuk menganalisis dan merancang sistem agroindustri terpadu, siswa belajar matematika, fisika, kimia/biokimia, ilmu sosial ekonomi, prinsip-prinsip, dan metodologi. Sebagai kombinasi dari dua bidang, teknik proses dan teknik industri, tujuan resminya adalah pendayagunaan hasil pertanian.
Disadur dari:
Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025
Pendahuluan
Dalam era globalisasi, rantai pasok menghadapi berbagai risiko yang dapat menyebar secara cepat dan berdampak besar pada operasional bisnis. Penundaan pengiriman, bencana alam, serangan siber, hingga ketidakpastian kualitas adalah beberapa risiko utama dalam rantai pasok modern.
Studi ini, yang dilakukan oleh Jianlan Zhong dan Fu Jia, berfokus pada pemantauan risiko dalam rantai pasok menggunakan Graphic Evaluation and Review Technique (GERT) dan change-point control chart. Penelitian ini diterapkan pada industri otomotif DongNan, di mana lead-time delay menjadi risiko utama yang dapat menghambat produksi.
Metodologi Penelitian
Studi ini menggunakan pendekatan kombinasi dengan dua metode utama:
Kasus yang dianalisis adalah rantai pasok otomotif DongNan, yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena keterlibatan banyak pemasok dan proses produksi.
Temuan Utama
1. Penyebaran Risiko dalam Rantai Pasok
2. Penerapan GERT untuk Memetakan Risiko
3. Monitoring Risiko dengan Change-Point Control Chart
4. Studi Kasus: Implementasi pada Industri Otomotif DongNan
Penelitian ini menerapkan model GERT dan change-point control chart pada DongNan Automotive, salah satu produsen otomotif terbesar di Tiongkok. Beberapa temuan utama:
Keunggulan dan Tantangan
Keunggulan
✔ Akurasi tinggi dalam pemantauan risiko dengan metode berbasis data.
✔ Visualisasi jalur penyebaran risiko dengan GERT membantu pengambilan keputusan yang lebih cepat.
✔ Integrasi dengan sistem digital memungkinkan deteksi real-time dan mitigasi lebih efektif.
Tantangan
⚠ Implementasi memerlukan infrastruktur teknologi yang kuat seperti IoT dan AI.
⚠ Kompleksitas pemodelan GERT dapat menjadi kendala dalam rantai pasok multi-tier.
⚠ Perlu pelatihan bagi tim supply chain agar dapat menginterpretasikan hasil pemantauan dengan baik.
Strategi Optimal untuk Meningkatkan Monitoring Risiko Rantai Pasok
Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan monitoring risiko dalam rantai pasok:
1. Menggunakan Teknologi Digital untuk Monitoring Real-Time
2. Mengimplementasikan Sistem Kontrol Berbasis Statistik
3. Meningkatkan Kolaborasi dan Transparansi Supply Chain
4. Menyiapkan Protokol Respons Risiko yang Cepat
Kesimpulan
Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi GERT dan change-point control chart dapat meningkatkan efektivitas pemantauan risiko dalam rantai pasok. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat:
Dalam era supply chain yang semakin kompleks dan rentan terhadap gangguan, penerapan sistem monitoring berbasis data seperti ini menjadi sangat penting bagi perusahaan untuk tetap kompetitif dan responsif terhadap dinamika pasar.
Sumber : Jianlan Zhong, Fu Jia (2025). Supply Chain Risk Transmission Monitoring Based on Graphic Evaluation and Review Technique. Heliyon 11 (2025) e41462.
Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025
Pendahuluan
Revolusi Industri 4.0 (I4.0) telah membawa perubahan signifikan dalam Supply Chain Management (SCM) dengan digitalisasi yang masif. Artikel ini mengulas kajian sistematis mengenai Supply Chain 4.0, mengidentifikasi bagaimana teknologi I4.0 berkontribusi dalam pengukuran kinerja rantai pasok. Studi ini menawarkan framework inovatif yang telah divalidasi melalui berbagai studi kasus di dunia nyata.
Transformasi Supply Chain Menuju Industry 4.0
Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan di Jerman pada Hannover Messe 2011, menandai era produksi otomatis dan cerdas yang mampu berkomunikasi secara mandiri berbasis data real-time. Teknologi seperti IoT, AI, Big Data, dan Digital Twin telah merevolusi cara perusahaan mengelola rantai pasok, meningkatkan efisiensi, dan mengoptimalkan keputusan strategis.
Framework Supply Chain 4.0
Framework yang dikembangkan dalam studi ini mencakup empat dimensi utama:
Studi Kasus: Implementasi Supply Chain 4.0
Studi ini memvalidasi framework melalui 10 perusahaan yang menerapkan teknologi I4.0 pada rantai pasoknya. Beberapa temuan penting:
Keunggulan dan Tantangan
Keunggulan Supply Chain 4.0:
✔ Efisiensi operasional lebih tinggi melalui otomatisasi.
✔ Keputusan berbasis data meningkatkan akurasi prediksi permintaan.
✔ Kolaborasi lebih erat antara pemasok dan distributor melalui platform berbasis cloud.
Tantangan dalam Implementasi:
⚠ Investasi awal yang tinggi dalam infrastruktur digital.
⚠ Keamanan data dan risiko siber yang perlu dikelola dengan baik.
⚠ Kurangnya tenaga kerja terampil dalam mengelola sistem berbasis I4.0.
Kesimpulan
Penerapan Supply Chain 4.0 menjadi strategi esensial bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di era digital. Dengan pemanfaatan teknologi AI, IoT, Big Data, serta strategi kolaborasi rantai pasok berbasis cloud, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan mempercepat proses bisnis.
Sumber Artikel: Kannan Govindan, Devika Kannan, Thomas Ballegård Jørgensen, Tim Straarup Nielsen (2022). Supply Chain 4.0 performance measurement: A systematic literature review, framework development, and empirical evidence. Transportation Research Part E 164 (2022) 102725.
Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025
Pendahuluan
Dalam era globalisasi dan digitalisasi, Supply Chain Information Sharing (SCIS) menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi dan ketahanan rantai pasok. Penelitian ini dilakukan oleh Mathijs Rutten sebagai bagian dari tesis Magister Administrasi Bisnis di University of Twente. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang membatasi dan mendukung berbagi informasi dalam multi-tier supply chain serta bagaimana Industry 4.0 berperan dalam mengatasi hambatan tersebut.
SCIS memiliki dampak positif terhadap kinerja rantai pasok dengan meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan, efisiensi operasional, dan fleksibilitas supply chain. Namun, ada banyak kendala yang membuat implementasi SCIS menjadi tidak optimal. Penelitian ini mengkaji faktor penghambat dan pendorong SCIS, serta bagaimana peran Industry 4.0 dalam memfasilitasi pertukaran informasi yang lebih baik.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan analisis mendalam terhadap rantai pasok perusahaan manufaktur farmasi hewan di Belanda. Teknik utama yang digunakan adalah:
Temuan Utama
1. Dampak Positif SCIS pada Kinerja Rantai Pasok
2. Faktor yang Mempengaruhi SCIS
Penelitian ini menemukan bahwa faktor penghambat dan pendorong SCIS dapat dikategorikan dalam empat dimensi utama:
a) Konektivitas Supply Chain
b) Kemauan Individu untuk Berbagi Informasi
c) Karakteristik Rantai Pasok
d) Fasilitasi Organisasi
3. Studi Kasus: Implementasi SCIS dalam Perusahaan Manufaktur Farmasi Hewan di Belanda
Sebagai bagian dari studi ini, sebuah perusahaan manufaktur farmasi hewan di Belanda menjadi objek penelitian. Temuan utama dari studi kasus ini meliputi:
Hasil studi menunjukkan bahwa dengan adopsi teknologi Industry 4.0, perusahaan dapat mengurangi hambatan berbagi informasi hingga 40%, meningkatkan transparansi data antar mitra supply chain, serta mempercepat waktu respons terhadap permintaan pasar.
4. Peran Industry 4.0 dalam Meningkatkan SCIS
Penelitian ini juga mengkaji bagaimana Industry 4.0 memengaruhi SCIS dalam supply chain modern. Beberapa peran utama Industry 4.0 dalam meningkatkan SCIS meliputi:
a) Peningkatan Ketersediaan Teknologi Informasi
b) Reduksi Hambatan Keamanan Data
c) Meningkatkan Kepercayaan dan Kolaborasi
Strategi Optimal untuk Meningkatkan SCIS
Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan SCIS dalam multi-tier supply chain:
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa SCIS memiliki peran krusial dalam meningkatkan efisiensi dan daya saing rantai pasok. Namun, masih banyak tantangan yang harus diatasi, terutama dalam hal kepercayaan, teknologi, dan perbedaan kepentingan antar mitra bisnis.
Industry 4.0 berpotensi menjadi solusi utama dalam mengatasi hambatan SCIS dengan menyediakan teknologi yang lebih canggih dan aman. Perusahaan yang berhasil mengadopsi SCIS berbasis Industry 4.0 akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan di pasar global.
Sumber : Mathijs Rutten (2022). Factors Influencing Multi-Tier Supply Chain Information Sharing: A Multi-Tier Supply Chain Case Study. University of Twente.
Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025
Pendahuluan
Supply Chain Management (SCM) memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama dalam mendukung perdagangan domestik dan internasional. Namun, penerapan SCM di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk biaya logistik yang tinggi, infrastruktur yang kurang memadai, dan keterbatasan penelitian dalam bidang ini.
Penelitian ini, yang dilakukan oleh Gamze Ogcu Kaya, Sri Susilawati Islam, dan Ammar Mohamed Aamer, bertujuan untuk menganalisis kondisi SCM di Indonesia berdasarkan studi literatur. Dengan menggunakan metode analisis konten terstruktur, penelitian ini mengevaluasi tren, tantangan, dan peluang SCM di Indonesia serta memberikan rekomendasi untuk penelitian di masa depan.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan literature review dengan mengumpulkan 97 jurnal akademik yang relevan dengan topik SCM di Indonesia. Setelah melalui proses penyaringan dan validasi, hanya 38 jurnal yang dianggap sesuai untuk dianalisis lebih lanjut.
Analisis dilakukan dengan mengategorikan penelitian SCM berdasarkan tema utama, termasuk:
Metode ini membantu mengidentifikasi kesenjangan penelitian serta memberikan wawasan mengenai implementasi SCM di Indonesia.
Temuan Utama
1. Status Supply Chain Management di Indonesia
2. Tantangan dalam Implementasi SCM
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa kendala utama dalam penerapan SCM di Indonesia, di antaranya:
3. Kategori Penelitian SCM di Indonesia
Berdasarkan analisis literatur, SCM di Indonesia terbagi dalam beberapa tema utama:
a) Supply Chain Berkelanjutan (31,58%)
b) Dampak SCM terhadap Kinerja Bisnis (13,16%)
c) Pengukuran Kinerja SCM (13,16%)
d) Tantangan dan Risiko dalam SCM (10,53%)
e) Teknologi dan Inovasi dalam SCM (5,26%)
4. Studi Kasus: Penerapan SCM dalam Berbagai Industri
Penelitian ini juga mengulas beberapa studi kasus yang menggambarkan implementasi SCM di berbagai sektor:
a) Industri Minyak Kelapa Sawit
b) Industri Batu Bara
c) Industri Pertanian
Strategi Optimal untuk Meningkatkan SCM di Indonesia
Berdasarkan temuan penelitian ini, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan SCM di Indonesia:
1. Meningkatkan Infrastruktur Logistik
2. Mendorong Adopsi Teknologi SCM
3. Mengembangkan Kebijakan Pemerintah yang Mendukung SCM
4. Meningkatkan Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan
Kesimpulan
Penelitian ini menyoroti bahwa SCM di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, tetapi juga memiliki peluang besar untuk berkembang. Investasi dalam infrastruktur, digitalisasi, dan kebijakan yang mendukung keberlanjutan akan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok Indonesia.
Dengan strategi yang tepat, perusahaan di Indonesia dapat:
Penting bagi pelaku bisnis, akademisi, dan pemerintah untuk terus mengembangkan penelitian dan implementasi SCM agar dapat mencapai supply chain yang lebih berkelanjutan dan kompetitif.
Sumber : Gamze Ogcu Kaya, Sri Susilawati Islam, Ammar Mohamed Aamer (2022). Supply Chain Management in Indonesia: A Literature Review. International Journal of Project Management and Productivity Assessment.
Teknik Fisika
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 05 Maret 2025
Salah satu yang menjadi polemik ketika calon mahsiswa baru menentukan jurusan yangakan diambil adalah minimnya pengetahuan tentang jrusan yang beragam. Ditambah lagi ketika juruan tersebut memilki kesamaan nama. Seperti contoh Teknik fisika dan Fisika Murni. Kedua jurusan tersebut seringkali disalahpahami oleh calon mahasiswa baru. Nah untuk membantu kamu para calon mahasiswa, artikel ini membahas perbedan kedua jurusan tersebut agar kamu bisa lebih yakin dalam memiilih.
Perbedaan Jujrusan secara umum
Fisika Murni
Fisika Murni kerap disingkat dengan jurusan fisika. Jurusan ini biasanya berada di bawah naungan MIPA. Oleh karenanya pada perguruan tinggi tertentu sering juga disebut sebagai Fisika MIPA. Di jurusan ini mahasiswa akan diarahkan menjadi ilmuwan fisika. Dengan mempelajari dasar teori fisika yang kuat, lulusannya diharapkan dapat mengembangkan keilmuan fisika.
Teknik Fisika
Di jurusan ini, garis besar mata kuliah yang akan dipelajari adalah ilmu fisika dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kamu akan belajar mengenai teori-teori fisika dan melakukan analisis untuk menyelesaikan beragam masalah yang terkait dengan fisika di lapangan.
Perbedaan mata kuliah
Fisika Murni
Materi pembelajaran yang sangat sulit? Semua materi pembelajaran mempunyai tingkat kesulitannya masing-masing. Tidak sedikit dari orang yang menekuni fisika berpendapat bahwa yang tersulit adalah fisika quantum. Namun karena “sulit” itu relatif, berikut ini akan saya tulis beberapa mata kuliah yang ditawarkan prodi fisika murni.
Teknik Fisika
Jika kamu mengambil jurusan Teknik Fisika dengan peminatan Manajemen Energi, nantinya kamu bisa belajar mengenai cara membangun gedung yang hemat energi dan ramah lingkungan dengan menggunakan prinsip-prinsip Fisika. Seru ‘kan?
Nah di jurusan ini, kamu akan belajar banyak mengenai beberapa hal berikut:
Perbedaan Gelar Lulusan
Kamu yang berkuliah di jurusan Fisika akan lulus dengan gelas Sarjana Science atau S.Si. Sedangkan kamu yang akan mengambil jurusan teknik fisika akan lulus dengan gelar Sarjana Teknik atau S. T.
Perbedaan pilihan karir
Fisika Murni
Bidang Perminyakan dan Pertambangan
Dengan keahlian yang dimiliki, lulusan Fisika dapat memulai bekerja sebagai seorang field engineer pada perusahaan-perusahaan top seperti Pertamina, Total Indonesia, Caltex, Schlumberger, PT Aneka Tambang, Freeport, hingga PT Timah.
Industri Manufaktur dan Industri Telekomunikasi
Lulusan Fisika dapat bekerja di bagian Research and Development dan juga dapat bekerja sebagai seorang QA/QC (Quality Assurance / Quality Control) di perusahaan seperti PT LEN, PT INTI, Samsung, ASTRA Int. , PT Telkom, Siemens, hingga Satelindo.
Industri Keuangan dan Perbankan
Tak hanya lulusan akuntansi, lulusan fisika juga dapat bekerja di lembaga keuangan baik itu bidang asuransi, perbankan, maupun lembaga keuangan lainnya baik sebagai tenaga pemasar, audit internal, atau credit analyst officer.
Industri Teknologi Informasi
Bagi lulusan fisika yang menyukai bidang teknologi bisa bekerja di bidang IT seperti menjadi seorang software developer di berbagai perusahaan.
Institusi Riset dan Pengembangan
Sama seperti jurusan sains pada umumnya, jurusan ini juga bisa menjadi seorang peneliti di lembaga-lembaga penelitian baik milik pemerintah maupun swasta merupakan pilihan yang bisa dipertimbangkan. Mulai dari LIPI, BATAN, hingga BPPT.
Teknik Fisika
Industri Pembangkit Listrik
Lulusan dari jurusan Teknik Fisika memiliki peluang kerja yang bergerak di bidang industri pembangkit listrik. Hampir sama seperti lulusan teknik elektronika, Kamu akan punya jenjang karier yang menjanjikan di bidang industri ini. Ilmu yang Kamu dapat saat berkuliah juga sangat berhubungan dengan bidang yang satu ini.
Industri Alat Instrumen Dan Integrasi Sistem
Peluang kerja berikutnya yang dapat dipilih oleh lulusan jurusan Teknik Fisika adalah bekerja di industri alat instrumen dan integrasi sistem. Di bidang ini, Kamu bisa mengoptimalkan semua ilmu yang Kamu miliki untuk diaplikasikan. Untuk gajinya sendiri tentunya cukup lumayan berkisar di angka Rp10.000.000,00 bahkan bisa lebih.
Industri Rekayasa Dan Konstruksi
Peluang atau prospek kerja Teknik Fisika berikutnya adalah bekerja di industri rekayasa dan konstruksi. Jelas sekali kalau bidang industri ini sangat membutuhkan Kamu sebagai lulusan dari Teknik Fisika. Di bidang ini Kamu bisa bekerja membuat rancangan bangunan pabrik dan lain-lain.
Soal gaji, bekerja di industri rekayasa dan konstruksi bisa memberikan Kamu masa depan yang cerah. Kamu bisa mendapatkan penghasilan di kisaran Rp15.000.000,00. Kamu juga bisa berkontribusi besar pada dunia konstruksi di Indonesia.
Bekerja Di BUMN
BUMN menjadi salah satu tujuan bagi para mahasiswa yang sudah lulus kuliah. Bagi Kamu yang lulus sarjana jurusan Teknik Fisika juga punya peluang besar untuk bekerja di BUMN. Adapun BUMN yang cocok untuk lulusan Teknik Fisika contohnya adalah PLM, TELKOM, dan lain sebagainya.
Demikianlah Perbedaan Teknik Fisika dan Fisika Murni. Sesungguhnya kamu memiliki kebebasan untuk memilih jurusan sesuai dengan passion dan dengan keinginanmu. Artikel ini memberikan gambaran general yang bisa membantu kamu memilih antara Teknik Fisika dan Fisika Murni.
Kamu bisa mempelajari lebih lanjut tentang informasi menarik lainnya melalui official website UMN. Di website tersebut kamu juga bisa memilih prosedur pendaftaran online sesuai dengan pilihanmu. Yuk, daftar sekarang dan mulai karir kamu bersama UMN!
Sumber: https://www.umn.ac.id/