Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025
Pendahuluan
Dalam industri rantai pasok agrikultur, efisiensi dan pengukuran kinerja menjadi faktor kunci dalam meningkatkan profitabilitas dan daya saing pasar. Shengda Market, salah satu rantai supermarket terbesar di Dongying, China, menerapkan strategi rantai pasok terintegrasi dengan Lijin Agricultural Base untuk meningkatkan kualitas produk dan menekan biaya operasional.
Penelitian yang dilakukan oleh Huanhuan Ouyang dalam tesisnya di HAMK Forssa tahun 2012 meneliti model pengukuran kinerja rantai pasok agrikultur di China, khususnya pada kemitraan Shengda Market dan Lijin Agricultural Base. Studi ini mengevaluasi efektivitas model integrasi “Intermediary organization + agricultural cooperative organizations” dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, termasuk wawancara langsung dan kuesioner. Sebanyak 46 kuesioner efektif dikumpulkan untuk mengukur kinerja rantai pasok Shengda Market. Selain itu, analisis dilakukan menggunakan fuzzy comprehensive evaluation untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sistem yang diterapkan.
Temuan Utama
1. Model Integrasi “Intermediary Organization + Agricultural Cooperative Organizations”
2. Efisiensi Logistik dan Pengurangan Biaya
3. Pengaruh terhadap Produksi Pertanian Lokal
Strategi Optimal untuk Meningkatkan Kinerja Rantai Pasok
1. Peningkatan Teknologi dalam Manajemen Rantai Pasok
2. Optimalisasi Model Kemitraan
3. Penerapan Sistem Pengukuran Kinerja Berbasis Data
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa pengukuran kinerja rantai pasok sangat penting dalam meningkatkan efisiensi dan daya saing pasar. Model integrasi “Intermediary Organization + Agricultural Cooperative Organizations” terbukti mampu mengurangi biaya distribusi, meningkatkan efisiensi logistik, dan memberikan manfaat bagi semua pihak dalam ekosistem rantai pasok.
Dengan menerapkan strategi rantai pasok berbasis data dan teknologi, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat distribusi, serta mengurangi biaya dan risiko operasional. Model ini menjadi contoh sukses bagaimana integrasi pemasok dan pengecer dapat menciptakan rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
Sumber Asli:
Huanhuan Ouyang (2012). Supply Chain Performance Measurement: The Integrated Project of Shengda Market Chain and Lijin Agricultural Base. HAMK Forssa.
Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025
Pendahuluan
Dalam persaingan bisnis global, manajemen hubungan pemasok atau Supplier Relationship Management (SRM) menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efisiensi operasional dan keunggulan kompetitif. SRM memungkinkan perusahaan untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan pemasok, mengoptimalkan biaya, serta meningkatkan transparansi dalam rantai pasokan.
Penelitian ini, yang dilakukan oleh Oghazi et al. (2016), mengeksplorasi bagaimana integrasi SRM antara produsen dan pemasok tingkat pertama dapat meningkatkan performa bisnis. Studi ini juga membahas hambatan utama dalam proses integrasi SRM serta strategi untuk mengatasinya.
Metodologi Penelitian
Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan meninjau berbagai penelitian terdahulu serta wawancara mendalam dengan 5 perusahaan industri alat berat di Swedia. Fokus penelitian adalah bagaimana integrasi SRM diterapkan dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan.
Temuan Utama
1. Integrasi SRM dan Dampaknya pada Kinerja Bisnis
2. Hambatan dalam Implementasi SRM
Meskipun integrasi SRM memberikan banyak manfaat, studi ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama:
3. Strategi Optimal untuk Meningkatkan Integrasi SRM
Penelitian ini mengusulkan beberapa strategi untuk mengatasi hambatan dalam integrasi SRM:
Analisis dan Implikasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi SRM memiliki dampak signifikan terhadap efisiensi rantai pasokan. Perusahaan yang menerapkan SRM dengan baik mampu:
Namun, agar integrasi SRM berhasil, perusahaan harus berinvestasi dalam teknologi digital, memperkuat komunikasi dengan pemasok, serta mengadopsi pendekatan berbasis data untuk evaluasi pemasok.
Kesimpulan
Integrasi Supplier Relationship Management (SRM) adalah langkah strategis yang dapat meningkatkan efisiensi rantai pasokan, mengoptimalkan biaya, dan memperkuat daya saing bisnis. Studi ini menegaskan bahwa penggunaan teknologi, transparansi data, serta pengelolaan hubungan jangka panjang dengan pemasok merupakan faktor kunci dalam keberhasilan SRM.
Dengan menerapkan strategi yang tepat, perusahaan dapat mengatasi tantangan dalam integrasi SRM dan menciptakan rantai pasokan yang lebih tangguh dan efisien.
Sumber Asli:
Oghazi, P., Fakhrei Rad, F., Zaefarian, G., Mortazavi, S., & Lindh, C. (2016). Unity is Strength: A Study of Supplier Relationship Management Integration. Journal of Business Research, 69(11), 4804-4810.
Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025
Pendahuluan
Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, efisiensi dalam proses pembelian menjadi faktor penting dalam menekan biaya operasional dan meningkatkan profitabilitas. Pembelian tidak langsung (indirect purchasing)—yang mencakup pengadaan barang dan jasa yang tidak langsung terkait dengan produksi—sering kali diabaikan, padahal dapat menyumbang hingga 60% dari total pengeluaran perusahaan.
Studi ini, yang dilakukan oleh Donald Ulrich Guimfack (2019) di Università Politecnica delle Marche, Italia, menganalisis bagaimana strategi pembelian dapat mengoptimalkan pembelian tidak langsung melalui pengurangan basis pemasok, pengelolaan hubungan pemasok, dan komunikasi organisasi.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berbasis survei terhadap 30 profesional dari 40 perusahaan manufaktur di wilayah Marche, Italia. Analisis dilakukan dengan regresi berganda untuk mengevaluasi dampak strategi pembelian terhadap peningkatan efisiensi pembelian tidak langsung.
Temuan Utama
1. Pengurangan Basis Pemasok Meningkatkan Efisiensi Pengadaan
2. Pengelolaan Hubungan Pemasok Meningkatkan Keandalan Pasokan
3. Komunikasi Organisasi sebagai Faktor Kunci dalam Efisiensi Pembelian
Analisis dan Implikasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelian yang terencana dapat meningkatkan efisiensi pembelian tidak langsung dan mengurangi biaya operasional.
Beberapa strategi yang dapat diterapkan perusahaan untuk mengoptimalkan pembelian tidak langsung:
Kesimpulan
Strategi pembelian yang efektif memainkan peran kunci dalam optimalisasi pengadaan tidak langsung. Pengurangan basis pemasok, pengelolaan hubungan pemasok, dan komunikasi organisasi yang baik dapat meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas perusahaan.
Dengan mengadopsi strategi yang tepat, perusahaan dapat mengurangi biaya pengadaan, meningkatkan stabilitas pasokan, dan membangun hubungan bisnis jangka panjang yang lebih produktif.
Sumber Asli:
Donald Ulrich Guimfack (2019). The Impact of Strategic Purchasing on Indirect Purchasing Improvement. Università Politecnica delle Marche.
Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025
Pendahuluan
Dalam dunia bisnis modern, pengelolaan rantai pasok internal memainkan peran penting dalam memastikan kelancaran operasional dan kepuasan pelanggan. Namun, banyak perusahaan menghadapi tantangan dalam mengukur kinerja rantai pasok mereka secara efektif, yang sering kali mengarah pada ketidakseimbangan stok, keterlambatan pengiriman, dan efisiensi yang rendah.
Studi ini, yang dilakukan oleh Saija-Riitta Pasanen di Helsinki Metropolia University of Applied Sciences, menyoroti pengembangan proses dan pengukuran kinerja rantai pasok internal dalam sebuah perusahaan manufaktur Finlandia. Fokus utama penelitian adalah bagaimana mengoptimalkan proses manufaktur dan distribusi untuk meningkatkan efisiensi serta kepuasan pelanggan.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam bentuk proyek pengembangan di sebuah perusahaan keluarga Finlandia yang memiliki lebih dari 600 produk dan 20 merek dalam produksi. Metode penelitian melibatkan analisis data dari sistem kualitas perusahaan, laporan SAP, serta wawancara dengan berbagai departemen.
Lima indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) yang dipilih untuk mengukur efisiensi rantai pasok adalah:
Temuan Utama
1. Akurasi Peramalan Permintaan sebagai Faktor Kunci
2. Optimalisasi Pengiriman Internal untuk Efisiensi Operasional
3. Manajemen Stok yang Lebih Efektif
4. Ketepatan Pengiriman ke Pelanggan Meningkatkan Kepuasan Konsumen
Implikasi dan Strategi Optimal
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok internal meliputi:
1. Integrasi Sistem Digital dalam Pengelolaan Rantai Pasok
2. Peningkatan Kolaborasi Antar Departemen
3. Optimalisasi Manajemen Stok dan Gudang
4. Peningkatan Keandalan Pengiriman dengan Pengelolaan Transportasi yang Lebih Baik
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa efisiensi rantai pasok internal dapat ditingkatkan secara signifikan melalui strategi berbasis data, integrasi digital, dan manajemen stok yang lebih baik. Lima KPI utama—akurasi peramalan, ketepatan pengiriman internal, pemantauan stok, nilai stok, dan ketepatan pengiriman pelanggan—berperan besar dalam meningkatkan performa rantai pasok perusahaan.
Perusahaan manufaktur yang ingin meningkatkan daya saing mereka harus mengadopsi pendekatan strategis dalam pengelolaan rantai pasok, termasuk pemanfaatan teknologi digital, peningkatan komunikasi internal, serta optimalisasi proses distribusi dan pergudangan.
Sumber : Saija-Riitta Pasanen (2015). Internal Supply Chain: Process and Performance Measurement Development. Helsinki Metropolia University of Applied Sciences.
Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025
Pendahuluan
Dalam industri elektronik yang kompetitif, kualitas, kinerja pengiriman, dan responsivitas pemasok menjadi faktor krusial bagi keberhasilan bisnis. Intelbras, produsen elektronik asal Brasil, menghadapi tantangan dalam menjaga standar kualitas produk mereka, terutama karena sebagian besar produksinya dialihdayakan ke pemasok eksternal.
Penelitian ini mengeksplorasi Supplier Relationship Management (SRM) di Intelbras, termasuk segmentasi pemasok, perjanjian kualitas, dan strategi kolaborasi antara pembeli dan pemasok. Fokus utama adalah bagaimana Intelbras meningkatkan kontrol kualitas dan menurunkan total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO) melalui strategi SRM.
Metodologi Penelitian
Studi ini dilakukan melalui pendekatan empiris di Intelbras, São José, Brasil, dengan data yang dikumpulkan dari berbagai departemen pengadaan dan kualitas pemasok. Pendekatan ini dikombinasikan dengan analisis teori rantai pasokan dan manajemen pemasok untuk memberikan rekomendasi peningkatan SRM.
Temuan Utama
1. Segmentasi Pemasok: Strategi Intelbras dalam SRM
Intelbras mengadopsi dua segmentasi utama pemasok:
Intelbras sebelumnya menerapkan strategi pemilihan pemasok berbasis harga, tetapi belakangan mengadopsi pendekatan berbasis Total Cost of Ownership (TCO), yang mempertimbangkan biaya tersembunyi seperti pengelolaan kualitas, pengiriman, dan stabilitas rantai pasokan.
2. Implementasi Perjanjian Kualitas (Quality Agreement)
3. Evaluasi dan Pengembangan Pemasok
4. Dampak SRM terhadap Efisiensi Operasional
Implementasi SRM di Intelbras telah menghasilkan peningkatan signifikan dalam berbagai aspek operasional, antara lain:
Tantangan dalam Implementasi SRM
Meskipun SRM memberikan banyak manfaat, Intelbras menghadapi beberapa tantangan utama:
Rekomendasi untuk Optimalisasi SRM
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa rekomendasi dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas SRM di Intelbras:
Kesimpulan
Supplier Relationship Management (SRM) di Intelbras telah terbukti meningkatkan kualitas produk, mengurangi biaya produksi, dan meningkatkan efisiensi rantai pasokan. Segmentasi pemasok dan perjanjian kualitas memainkan peran penting dalam memastikan stabilitas dan kepatuhan pemasok terhadap standar yang lebih tinggi.
Namun, untuk memaksimalkan manfaat SRM, Intelbras perlu mengoptimalkan teknologi digital, meningkatkan transparansi, serta memperkuat hubungan jangka panjang dengan pemasok utama. Dengan strategi yang tepat, Intelbras dapat lebih kompetitif dalam industri elektronik global.
Sumber Asli:
Fredrik Stålbrand (2013). Supplier Relationship Management in Intelbras: Improving Quality through Buyer-Supplier Cooperation. University of Borås, School of Engineering.