Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok

Strategi Pengukuran Kinerja Rantai Pasok: Studi Kasus Shengda Market dan Lijin Agricultural Base

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025


Pendahuluan

Dalam industri rantai pasok agrikultur, efisiensi dan pengukuran kinerja menjadi faktor kunci dalam meningkatkan profitabilitas dan daya saing pasar. Shengda Market, salah satu rantai supermarket terbesar di Dongying, China, menerapkan strategi rantai pasok terintegrasi dengan Lijin Agricultural Base untuk meningkatkan kualitas produk dan menekan biaya operasional.

Penelitian yang dilakukan oleh Huanhuan Ouyang dalam tesisnya di HAMK Forssa tahun 2012 meneliti model pengukuran kinerja rantai pasok agrikultur di China, khususnya pada kemitraan Shengda Market dan Lijin Agricultural Base. Studi ini mengevaluasi efektivitas model integrasi “Intermediary organization + agricultural cooperative organizations” dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, termasuk wawancara langsung dan kuesioner. Sebanyak 46 kuesioner efektif dikumpulkan untuk mengukur kinerja rantai pasok Shengda Market. Selain itu, analisis dilakukan menggunakan fuzzy comprehensive evaluation untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sistem yang diterapkan.

Temuan Utama

1. Model Integrasi “Intermediary Organization + Agricultural Cooperative Organizations”

  • Shengda Market beralih dari model rantai pasok tradisional ke model kemitraan langsung dengan petani, mengurangi ketergantungan pada perantara.
  • Kemitraan ini memungkinkan supermarket mendapatkan produk lebih segar dengan harga lebih kompetitif, sementara petani memperoleh kepastian pasar.
  • Hasil studi menunjukkan bahwa model ini dapat mengurangi biaya distribusi hingga 20-30%.

2. Efisiensi Logistik dan Pengurangan Biaya

  • Sebelumnya, proses distribusi membutuhkan waktu 2+ hari, tetapi dengan model baru, waktu ini dipangkas secara signifikan.
  • Dengan memiliki pusat logistik berteknologi tinggi, Shengda Market mampu meningkatkan kapasitas pemrosesan hingga 30.000 ton produk segar per tahun.
  • Keandalan pesanan meningkat menjadi 90%, meningkatkan kepuasan pelanggan.

3. Pengaruh terhadap Produksi Pertanian Lokal

  • Produksi sayur dan buah meningkat hampir 30% dibandingkan tahun sebelumnya setelah sistem ini diterapkan.
  • Petani mendapatkan akses ke teknologi pertanian dan informasi pasar yang lebih baik, mengurangi limbah hasil panen hingga 25-30%.
  • Harga produk lebih stabil karena rantai distribusi yang lebih pendek dan biaya logistik yang lebih rendah.

Strategi Optimal untuk Meningkatkan Kinerja Rantai Pasok

1. Peningkatan Teknologi dalam Manajemen Rantai Pasok

  • Menggunakan AI dan IoT dalam manajemen stok dan distribusi untuk mengurangi pemborosan.
  • Mengintegrasikan sistem ERP untuk komunikasi yang lebih baik antara pemasok dan pengecer.

2. Optimalisasi Model Kemitraan

  • Memperkuat kontrak jangka panjang dengan pemasok untuk memastikan stabilitas pasokan.
  • Mengembangkan sistem insentif berbasis kualitas dan efisiensi kepada petani yang berpartisipasi.

3. Penerapan Sistem Pengukuran Kinerja Berbasis Data

  • Menggunakan Balanced Scorecard (BSC) dan Supply Chain Operations Reference (SCOR) untuk analisis performa rantai pasok.
  • Meningkatkan transparansi data untuk memastikan keputusan bisnis lebih akurat dan cepat.

Kesimpulan

Penelitian ini menegaskan bahwa pengukuran kinerja rantai pasok sangat penting dalam meningkatkan efisiensi dan daya saing pasar. Model integrasi “Intermediary Organization + Agricultural Cooperative Organizations” terbukti mampu mengurangi biaya distribusi, meningkatkan efisiensi logistik, dan memberikan manfaat bagi semua pihak dalam ekosistem rantai pasok.

Dengan menerapkan strategi rantai pasok berbasis data dan teknologi, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat distribusi, serta mengurangi biaya dan risiko operasional. Model ini menjadi contoh sukses bagaimana integrasi pemasok dan pengecer dapat menciptakan rantai pasok yang lebih berkelanjutan.

Sumber Asli:
Huanhuan Ouyang (2012). Supply Chain Performance Measurement: The Integrated Project of Shengda Market Chain and Lijin Agricultural Base. HAMK Forssa.

 

Selengkapnya
Strategi Pengukuran Kinerja Rantai Pasok: Studi Kasus Shengda Market dan Lijin Agricultural Base

Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok

Integrasi Supplier Relationship Management (SRM): Tantangan dan Strategi Optimal dalam Rantai Pasokan

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025


Pendahuluan

Dalam persaingan bisnis global, manajemen hubungan pemasok atau Supplier Relationship Management (SRM) menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efisiensi operasional dan keunggulan kompetitif. SRM memungkinkan perusahaan untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan pemasok, mengoptimalkan biaya, serta meningkatkan transparansi dalam rantai pasokan.

Penelitian ini, yang dilakukan oleh Oghazi et al. (2016), mengeksplorasi bagaimana integrasi SRM antara produsen dan pemasok tingkat pertama dapat meningkatkan performa bisnis. Studi ini juga membahas hambatan utama dalam proses integrasi SRM serta strategi untuk mengatasinya.

Metodologi Penelitian

Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan meninjau berbagai penelitian terdahulu serta wawancara mendalam dengan 5 perusahaan industri alat berat di Swedia. Fokus penelitian adalah bagaimana integrasi SRM diterapkan dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan.

Temuan Utama

1. Integrasi SRM dan Dampaknya pada Kinerja Bisnis

  • Integrasi SRM memungkinkan perusahaan menekan biaya hingga 20% dengan meningkatkan koordinasi dalam pengadaan dan logistik.
  • Hubungan jangka panjang dengan pemasok berkontribusi pada peningkatan keandalan pasokan hingga 30%, mengurangi risiko keterlambatan produksi.
  • Penerapan SRM yang baik meningkatkan fleksibilitas operasional, memungkinkan perusahaan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar.

2. Hambatan dalam Implementasi SRM

Meskipun integrasi SRM memberikan banyak manfaat, studi ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama:

  • Kurangnya transparansi dan berbagi informasi antara produsen dan pemasok.
  • Perbedaan sistem teknologi menyebabkan kesulitan dalam integrasi data dan komunikasi antar perusahaan.
  • Kurangnya komitmen pemasok dalam mengikuti standar kualitas dan proses yang ditetapkan.
  • Tingginya biaya implementasi SRM, terutama bagi perusahaan kecil dan menengah.

3. Strategi Optimal untuk Meningkatkan Integrasi SRM

Penelitian ini mengusulkan beberapa strategi untuk mengatasi hambatan dalam integrasi SRM:

  • Menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan transparansi
    • Implementasi Supplier Portals dan ERP untuk mempercepat proses komunikasi dan evaluasi pemasok.
  • Mengembangkan mekanisme insentif bagi pemasok
    • Memberikan bonus atau kontrak eksklusif bagi pemasok yang berkinerja baik.
  • Meningkatkan kolaborasi dengan pemasok melalui pelatihan dan pengembangan
    • Program sertifikasi dan pelatihan bersama untuk meningkatkan pemahaman terhadap standar operasional perusahaan.
  • Menerapkan kontrak jangka panjang yang lebih fleksibel
    • Menyusun kesepakatan berbasis kinerja untuk memastikan komitmen pemasok terhadap standar kualitas dan efisiensi operasional.

Analisis dan Implikasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi SRM memiliki dampak signifikan terhadap efisiensi rantai pasokan. Perusahaan yang menerapkan SRM dengan baik mampu:

  • Mengurangi biaya pengadaan, meningkatkan profitabilitas dan daya saing.
  • Meningkatkan kualitas dan ketepatan waktu pengiriman, mengurangi risiko gangguan operasional.
  • Membangun hubungan bisnis jangka panjang, yang menghasilkan stabilitas pasokan dan kolaborasi lebih baik.

Namun, agar integrasi SRM berhasil, perusahaan harus berinvestasi dalam teknologi digital, memperkuat komunikasi dengan pemasok, serta mengadopsi pendekatan berbasis data untuk evaluasi pemasok.

Kesimpulan

Integrasi Supplier Relationship Management (SRM) adalah langkah strategis yang dapat meningkatkan efisiensi rantai pasokan, mengoptimalkan biaya, dan memperkuat daya saing bisnis. Studi ini menegaskan bahwa penggunaan teknologi, transparansi data, serta pengelolaan hubungan jangka panjang dengan pemasok merupakan faktor kunci dalam keberhasilan SRM.

Dengan menerapkan strategi yang tepat, perusahaan dapat mengatasi tantangan dalam integrasi SRM dan menciptakan rantai pasokan yang lebih tangguh dan efisien.

Sumber Asli:
Oghazi, P., Fakhrei Rad, F., Zaefarian, G., Mortazavi, S., & Lindh, C. (2016). Unity is Strength: A Study of Supplier Relationship Management Integration. Journal of Business Research, 69(11), 4804-4810.

 

Selengkapnya
Integrasi Supplier Relationship Management (SRM): Tantangan dan Strategi Optimal dalam Rantai Pasokan

Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok

Strategi Pembelian untuk Optimalisasi Pengadaan Tidak Langsung: Studi Kasus Perusahaan di Italia

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025


Pendahuluan

Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, efisiensi dalam proses pembelian menjadi faktor penting dalam menekan biaya operasional dan meningkatkan profitabilitas. Pembelian tidak langsung (indirect purchasing)—yang mencakup pengadaan barang dan jasa yang tidak langsung terkait dengan produksi—sering kali diabaikan, padahal dapat menyumbang hingga 60% dari total pengeluaran perusahaan.

Studi ini, yang dilakukan oleh Donald Ulrich Guimfack (2019) di Università Politecnica delle Marche, Italia, menganalisis bagaimana strategi pembelian dapat mengoptimalkan pembelian tidak langsung melalui pengurangan basis pemasok, pengelolaan hubungan pemasok, dan komunikasi organisasi.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berbasis survei terhadap 30 profesional dari 40 perusahaan manufaktur di wilayah Marche, Italia. Analisis dilakukan dengan regresi berganda untuk mengevaluasi dampak strategi pembelian terhadap peningkatan efisiensi pembelian tidak langsung.

Temuan Utama

1. Pengurangan Basis Pemasok Meningkatkan Efisiensi Pengadaan

  • Pengurangan jumlah pemasok meningkatkan efisiensi operasional dengan koefisien jalur sebesar 0,46, menunjukkan dampak positif terhadap pembelian tidak langsung.
  • Perusahaan yang mengurangi jumlah pemasok mengalami pengurangan biaya logistik dan peningkatan keandalan pasokan.
  • 40% responden setuju bahwa pengurangan basis pemasok membantu meningkatkan efisiensi operasional mereka.

2. Pengelolaan Hubungan Pemasok Meningkatkan Keandalan Pasokan

  • Hubungan yang kuat dengan pemasok meningkatkan stabilitas pasokan, dengan koefisien jalur sebesar 0,50.
  • 44% responden menyatakan bahwa mereka menggunakan strategi hubungan pemasok untuk meningkatkan efisiensi pengadaan.
  • Strategi ini mencakup penilaian kinerja pemasok secara berkala dan kerja sama dalam inovasi produk.

3. Komunikasi Organisasi sebagai Faktor Kunci dalam Efisiensi Pembelian

  • Komunikasi yang baik dalam perusahaan berdampak positif terhadap pembelian tidak langsung, dengan koefisien jalur tertinggi sebesar 0,51.
  • 48% responden mengakui bahwa komunikasi yang efektif meningkatkan koordinasi antara tim pembelian dan pemasok.
  • Digitalisasi komunikasi melalui platform ERP dan sistem manajemen pemasok meningkatkan kecepatan dan akurasi dalam proses pembelian.

Analisis dan Implikasi

Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelian yang terencana dapat meningkatkan efisiensi pembelian tidak langsung dan mengurangi biaya operasional.

Beberapa strategi yang dapat diterapkan perusahaan untuk mengoptimalkan pembelian tidak langsung:

  1. Mengurangi Jumlah Pemasok yang Tidak Efisien
    • Fokus pada pemasok berkinerja tinggi untuk meningkatkan keandalan dan fleksibilitas rantai pasokan.
  2. Membangun Hubungan Jangka Panjang dengan Pemasok Strategis
    • Menjalin kontrak jangka panjang berbasis kinerja untuk memastikan stabilitas harga dan pasokan.
  3. Menggunakan Teknologi Digital dalam Proses Pengadaan
    • Implementasi ERP dan sistem manajemen pemasok untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi.
  4. Meningkatkan Komunikasi Internal dan Eksternal
    • Menerapkan forum diskusi dan pertemuan berkala dengan pemasok untuk membangun hubungan yang lebih baik.

Kesimpulan

Strategi pembelian yang efektif memainkan peran kunci dalam optimalisasi pengadaan tidak langsung. Pengurangan basis pemasok, pengelolaan hubungan pemasok, dan komunikasi organisasi yang baik dapat meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas perusahaan.

Dengan mengadopsi strategi yang tepat, perusahaan dapat mengurangi biaya pengadaan, meningkatkan stabilitas pasokan, dan membangun hubungan bisnis jangka panjang yang lebih produktif.

Sumber Asli:
Donald Ulrich Guimfack (2019). The Impact of Strategic Purchasing on Indirect Purchasing Improvement. Università Politecnica delle Marche.

 

Selengkapnya
Strategi Pembelian untuk Optimalisasi Pengadaan Tidak Langsung: Studi Kasus Perusahaan di Italia

Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok

Meningkatkan Efisiensi Rantai Pasok Internal: Studi Pengukuran Kinerja di Perusahaan Manufaktur Finlandia

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025


Pendahuluan

Dalam dunia bisnis modern, pengelolaan rantai pasok internal memainkan peran penting dalam memastikan kelancaran operasional dan kepuasan pelanggan. Namun, banyak perusahaan menghadapi tantangan dalam mengukur kinerja rantai pasok mereka secara efektif, yang sering kali mengarah pada ketidakseimbangan stok, keterlambatan pengiriman, dan efisiensi yang rendah.

Studi ini, yang dilakukan oleh Saija-Riitta Pasanen di Helsinki Metropolia University of Applied Sciences, menyoroti pengembangan proses dan pengukuran kinerja rantai pasok internal dalam sebuah perusahaan manufaktur Finlandia. Fokus utama penelitian adalah bagaimana mengoptimalkan proses manufaktur dan distribusi untuk meningkatkan efisiensi serta kepuasan pelanggan.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam bentuk proyek pengembangan di sebuah perusahaan keluarga Finlandia yang memiliki lebih dari 600 produk dan 20 merek dalam produksi. Metode penelitian melibatkan analisis data dari sistem kualitas perusahaan, laporan SAP, serta wawancara dengan berbagai departemen.

Lima indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) yang dipilih untuk mengukur efisiensi rantai pasok adalah:

  1. Akurasi peramalan permintaan
  2. Ketepatan pengiriman internal
  3. Pemantauan jangkauan stok
  4. Pemantauan nilai stok
  5. Ketepatan pengiriman ke pelanggan

Temuan Utama

1. Akurasi Peramalan Permintaan sebagai Faktor Kunci

  • Akurasi peramalan permintaan menjadi tantangan utama dalam rantai pasok internal, terutama dalam menghindari stok berlebih atau kekurangan stok.
  • Perusahaan mengalami peningkatan efisiensi 15% setelah mengimplementasikan sistem peramalan otomatis yang terintegrasi dengan SAP.
  • Perbaikan dalam metode peramalan dapat mengurangi biaya penyimpanan sebesar 10-12%.

2. Optimalisasi Pengiriman Internal untuk Efisiensi Operasional

  • Ketepatan pengiriman internal meningkat sebesar 20% setelah proses pengiriman ditingkatkan dengan sistem otomatisasi pesanan.
  • Implementasi sistem baru memungkinkan koordinasi yang lebih baik antar departemen, mengurangi waktu tunggu dan mempercepat distribusi produk ke pasar.
  • Pengurangan 30% dalam keterlambatan pengiriman membantu meningkatkan kepuasan pelanggan.

3. Manajemen Stok yang Lebih Efektif

  • Pemantauan jangkauan stok dilakukan secara real-time, memungkinkan identifikasi lebih cepat terhadap stok yang hampir habis.
  • Perusahaan berhasil menurunkan nilai stok sebesar 8% tanpa mengorbankan ketersediaan produk melalui optimalisasi inventaris.
  • Reduksi 5% dalam biaya gudang dengan menerapkan strategi stok minimum yang lebih efektif.

4. Ketepatan Pengiriman ke Pelanggan Meningkatkan Kepuasan Konsumen

  • Ketepatan waktu pengiriman ke pelanggan meningkat 18% setelah sistem pemantauan otomatis diterapkan.
  • Penurunan komplain pelanggan sebesar 25% akibat peningkatan keandalan rantai pasok.
  • Implementasi teknologi berbasis data membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.

Implikasi dan Strategi Optimal

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok internal meliputi:

1. Integrasi Sistem Digital dalam Pengelolaan Rantai Pasok

  • Menghubungkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dengan sistem peramalan dan manajemen inventaris untuk meningkatkan akurasi data.
  • Menerapkan dashboard analitik untuk pemantauan real-time kinerja rantai pasok.

2. Peningkatan Kolaborasi Antar Departemen

  • Meningkatkan komunikasi antara divisi produksi, penjualan, dan logistik untuk menghindari miskomunikasi dalam perencanaan permintaan.
  • Mengadakan pertemuan bulanan lintas-departemen untuk mengevaluasi kinerja dan mengidentifikasi area perbaikan.

3. Optimalisasi Manajemen Stok dan Gudang

  • Menerapkan strategi stok berbasis permintaan (Just-in-Time) untuk mengurangi biaya penyimpanan.
  • Menggunakan teknologi RFID untuk pemantauan stok secara otomatis guna mengurangi risiko kesalahan manusia.

4. Peningkatan Keandalan Pengiriman dengan Pengelolaan Transportasi yang Lebih Baik

  • Menggunakan sistem manajemen transportasi (TMS) untuk meningkatkan efisiensi distribusi.
  • Bermitra dengan penyedia logistik pihak ketiga untuk meningkatkan fleksibilitas dalam pengiriman produk.

Kesimpulan

Studi ini menunjukkan bahwa efisiensi rantai pasok internal dapat ditingkatkan secara signifikan melalui strategi berbasis data, integrasi digital, dan manajemen stok yang lebih baik. Lima KPI utama—akurasi peramalan, ketepatan pengiriman internal, pemantauan stok, nilai stok, dan ketepatan pengiriman pelanggan—berperan besar dalam meningkatkan performa rantai pasok perusahaan.

Perusahaan manufaktur yang ingin meningkatkan daya saing mereka harus mengadopsi pendekatan strategis dalam pengelolaan rantai pasok, termasuk pemanfaatan teknologi digital, peningkatan komunikasi internal, serta optimalisasi proses distribusi dan pergudangan.

Sumber : Saija-Riitta Pasanen (2015). Internal Supply Chain: Process and Performance Measurement Development. Helsinki Metropolia University of Applied Sciences.

 

Selengkapnya
Meningkatkan Efisiensi Rantai Pasok Internal: Studi Pengukuran Kinerja di Perusahaan Manufaktur Finlandia

Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok

Meningkatkan Kualitas dengan Supplier Relationship Management (SRM): Studi Kasus Intelbras

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025


Pendahuluan

Dalam industri elektronik yang kompetitif, kualitas, kinerja pengiriman, dan responsivitas pemasok menjadi faktor krusial bagi keberhasilan bisnis. Intelbras, produsen elektronik asal Brasil, menghadapi tantangan dalam menjaga standar kualitas produk mereka, terutama karena sebagian besar produksinya dialihdayakan ke pemasok eksternal.

Penelitian ini mengeksplorasi Supplier Relationship Management (SRM) di Intelbras, termasuk segmentasi pemasok, perjanjian kualitas, dan strategi kolaborasi antara pembeli dan pemasok. Fokus utama adalah bagaimana Intelbras meningkatkan kontrol kualitas dan menurunkan total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO) melalui strategi SRM.

Metodologi Penelitian

Studi ini dilakukan melalui pendekatan empiris di Intelbras, São José, Brasil, dengan data yang dikumpulkan dari berbagai departemen pengadaan dan kualitas pemasok. Pendekatan ini dikombinasikan dengan analisis teori rantai pasokan dan manajemen pemasok untuk memberikan rekomendasi peningkatan SRM.

Temuan Utama

1. Segmentasi Pemasok: Strategi Intelbras dalam SRM

Intelbras mengadopsi dua segmentasi utama pemasok:

  • Pemasok komoditas: Pemasok produk standar yang tidak memiliki dampak signifikan pada kualitas akhir.
  • Pemasok barang kritis: Pemasok produk yang memiliki dampak langsung pada kualitas dan membutuhkan kontrol lebih ketat.

Intelbras sebelumnya menerapkan strategi pemilihan pemasok berbasis harga, tetapi belakangan mengadopsi pendekatan berbasis Total Cost of Ownership (TCO), yang mempertimbangkan biaya tersembunyi seperti pengelolaan kualitas, pengiriman, dan stabilitas rantai pasokan.

2. Implementasi Perjanjian Kualitas (Quality Agreement)

  • 100 dari 3000 item produk diidentifikasi sebagai barang kritis, yang membutuhkan perjanjian kualitas dengan pemasok.
  • 35 pemasok utama masuk dalam program ini, dengan persyaratan seperti pengujian kualitas yang lebih ketat, pembagian data kinerja pemasok, dan prosedur inspeksi yang diperkuat.
  • Pengurangan tingkat kecacatan produk hingga 25% dengan penerapan perjanjian ini.

3. Evaluasi dan Pengembangan Pemasok

  • Intelbras menerapkan evaluasi pemasok dua kali setahun berdasarkan kualitas, ketepatan waktu, dan kepatuhan standar ISO 9001.
  • Audit pemasok dilakukan secara berkala untuk meningkatkan kepatuhan terhadap standar produksi dan pengiriman.
  • Pemanfaatan diagram Ishikawa dan metode 8D Problem Solving dalam menangani masalah kualitas pemasok.

4. Dampak SRM terhadap Efisiensi Operasional

Implementasi SRM di Intelbras telah menghasilkan peningkatan signifikan dalam berbagai aspek operasional, antara lain:

  • Peningkatan akurasi pengiriman pemasok hingga 30%, mengurangi risiko keterlambatan produksi.
  • Penurunan biaya produksi sebesar 20% melalui pengurangan cacat produk dan optimasi proses inspeksi.
  • Peningkatan daya saing produk dengan memastikan kualitas yang lebih baik dan stabilitas pasokan yang lebih tinggi.

Tantangan dalam Implementasi SRM

Meskipun SRM memberikan banyak manfaat, Intelbras menghadapi beberapa tantangan utama:

  • Kesulitan dalam mengubah budaya pemasok untuk beradaptasi dengan standar kualitas yang lebih ketat.
  • Kurangnya transparansi dalam berbagi informasi, terutama dalam sistem pemasok yang kurang terdigitalisasi.
  • Fluktuasi harga bahan baku yang memengaruhi stabilitas kontrak jangka panjang dengan pemasok.

Rekomendasi untuk Optimalisasi SRM

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa rekomendasi dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas SRM di Intelbras:

  1. Menggunakan Teknologi Digital untuk Manajemen Pemasok
    • Implementasi Supplier Portals untuk berbagi informasi dan evaluasi kinerja pemasok secara real-time.
  2. Meningkatkan Program Pengembangan Pemasok
    • Menyediakan pelatihan rutin dan dukungan teknis bagi pemasok untuk memastikan kepatuhan terhadap standar kualitas.
  3. Menerapkan Model Insentif bagi Pemasok Berkinerja Tinggi
    • Memberikan bonus atau kontrak eksklusif bagi pemasok yang memenuhi standar kualitas dan pengiriman.
  4. Meningkatkan Transparansi dan Kolaborasi dengan Pemasok
    • Mengembangkan strategi komunikasi yang lebih terbuka untuk meningkatkan kepercayaan dan koordinasi rantai pasokan.

Kesimpulan

Supplier Relationship Management (SRM) di Intelbras telah terbukti meningkatkan kualitas produk, mengurangi biaya produksi, dan meningkatkan efisiensi rantai pasokan. Segmentasi pemasok dan perjanjian kualitas memainkan peran penting dalam memastikan stabilitas dan kepatuhan pemasok terhadap standar yang lebih tinggi.

Namun, untuk memaksimalkan manfaat SRM, Intelbras perlu mengoptimalkan teknologi digital, meningkatkan transparansi, serta memperkuat hubungan jangka panjang dengan pemasok utama. Dengan strategi yang tepat, Intelbras dapat lebih kompetitif dalam industri elektronik global.

Sumber Asli:
Fredrik Stålbrand (2013). Supplier Relationship Management in Intelbras: Improving Quality through Buyer-Supplier Cooperation. University of Borås, School of Engineering.

 

Selengkapnya
Meningkatkan Kualitas dengan Supplier Relationship Management (SRM): Studi Kasus Intelbras

Pengadaan dan Manajemen Hubungan dengan Pemasok

Strategi Optimal dalam Supplier Relationship Management (SRM) di Industri Minyak dan Gas UAE: Studi Kasus ADNOC

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 26 Februari 2025


Pendahuluan

Industri minyak dan gas di Uni Emirat Arab (UAE) memiliki rantai pasokan kompleks yang membutuhkan manajemen pemasok yang efektif. Procurement bukan hanya proses pembelian tetapi juga strategi bisnis yang berdampak pada efisiensi operasional dan keberlanjutan rantai pasokan.

Penelitian ini mengeksplorasi strategi untuk meningkatkan hubungan pemasok dalam sektor minyak dan gas UAE, dengan fokus pada Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC). Studi ini mengevaluasi praktik SRM, faktor yang mempengaruhi hubungan pemasok, serta model strategi terbaik yang dapat diterapkan.

Metodologi Penelitian

Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan metode literature review, survei online, dan analisis data menggunakan SPSS. Sebanyak 312 responden dari berbagai unit ADNOC berpartisipasi dalam survei untuk mengevaluasi strategi procurement dan hubungan pemasok yang diterapkan.

Temuan Utama

1. Dominasi Pemasok dalam Hubungan Bisnis ADNOC

  • ADNOC mengadopsi dua jenis hubungan pemasok utama:
    • Supplier Dominance untuk barang konsumsi dan peralatan minor.
    • Buyer Dominance untuk peralatan utama dengan spesifikasi tinggi.
  • Tidak ada strategi pemasok yang sepenuhnya efektif untuk pengadaan peralatan utama, menunjukkan perlunya model SRM yang lebih strategis.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Pemasok di ADNOC

  • Pengalaman karyawan berpengaruh signifikan terhadap klasifikasi pembelian dan strategi SRM.
  • Faktor eksternal seperti volatilitas harga minyak dan regulasi pemerintah berdampak langsung pada hubungan pemasok.
  • Kurangnya digitalisasi dalam manajemen pemasok, menyebabkan proses evaluasi yang panjang dan birokratis.

3. Strategi SRM yang Efektif dalam Industri Minyak dan Gas

Penelitian ini mengidentifikasi beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan SRM di ADNOC:

  • Penerapan Kraljic Portfolio Model (KPM) untuk mengklasifikasikan pemasok berdasarkan dampaknya pada operasi perusahaan.
  • Peningkatan transparansi dalam kontrak pemasok guna menghindari ketergantungan berlebihan pada pemasok tertentu.
  • Digitalisasi sistem procurement untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi birokrasi dalam manajemen pemasok.
  • Pelatihan dan pengembangan pemasok, memastikan kepatuhan terhadap standar kualitas ADNOC.

4. Dampak Implementasi SRM terhadap Efisiensi ADNOC

  • Penerapan SRM yang lebih strategis memungkinkan efisiensi biaya hingga 20%.
  • Pengurangan waktu pemrosesan procurement hingga 30% dengan digitalisasi dan integrasi sistem pemasok.
  • Hubungan jangka panjang dengan pemasok strategis meningkatkan keandalan pasokan dan kualitas barang.

Analisis dan Implikasi

Studi ini menegaskan bahwa manajemen hubungan pemasok yang efektif bukan hanya berdampak pada efisiensi procurement, tetapi juga meningkatkan daya saing perusahaan. Perusahaan minyak dan gas di UAE harus beradaptasi dengan model SRM yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi untuk menghadapi tantangan rantai pasokan global.

Beberapa implikasi utama dari penelitian ini meliputi:

  • Perusahaan yang mengadopsi strategi SRM berbasis data lebih mampu mengelola risiko pemasok dan fluktuasi pasar.
  • Digitalisasi dalam procurement dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi birokrasi dalam hubungan pemasok.
  • Model Supplier Dominance dan Buyer Dominance perlu diadaptasi sesuai dengan jenis barang dan tingkat risiko pengadaan.

Rekomendasi untuk Optimalisasi SRM di ADNOC

  1. Mengembangkan Model Evaluasi Pemasok yang Lebih Fleksibel
    • Menggunakan metode Key Performance Indicators (KPIs) untuk menilai pemasok berdasarkan kualitas, ketepatan waktu, dan kepatuhan terhadap standar ADNOC.
  2. Meningkatkan Digitalisasi dalam Manajemen Pemasok
    • Mengimplementasikan Supplier Portals dan integrasi dengan ERP untuk meningkatkan transparansi dan akurasi data pemasok.
  3. Memperkuat Hubungan Jangka Panjang dengan Pemasok Strategis
    • Menggunakan kontrak jangka panjang dengan insentif bagi pemasok yang menunjukkan kinerja tinggi dan inovasi dalam produksi.
  4. Menerapkan Strategi Diversifikasi Pemasok
    • Mengurangi ketergantungan pada satu pemasok utama untuk barang-barang kritis guna menghindari gangguan pasokan.
  5. Meningkatkan Kolaborasi antara ADNOC dan Pemasok
    • Melibatkan pemasok sejak tahap perencanaan untuk memastikan kesesuaian produk dengan kebutuhan ADNOC.

Kesimpulan

Supplier Relationship Management (SRM) memainkan peran krusial dalam efisiensi rantai pasokan di sektor minyak dan gas UAE. Studi ini membuktikan bahwa implementasi SRM yang lebih strategis dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya procurement, dan memperkuat daya saing perusahaan.

Dengan menerapkan strategi SRM berbasis teknologi dan data, ADNOC dapat mengoptimalkan hubungan pemasok, meningkatkan efisiensi pengadaan, serta meminimalkan risiko dalam rantai pasokan.

Sumber Asli:
Ali Hassan Alhammadi (2019). Strategies for Enhancing Supplier Relationships in UAE Oil and Gas Sector. PhD Thesis.

 

Selengkapnya
Strategi Optimal dalam Supplier Relationship Management (SRM) di Industri Minyak dan Gas UAE: Studi Kasus ADNOC
« First Previous page 5 of 6 Next Last »