Pendidikan

Daya Tampung Program Pendidikan Sarjana dan Vokasi Bertambah pada Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru 2024

Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 10 Februari 2025


Universitas Indonesia (UI) melaksanakan sosialisasi jalur penerimaan mahasiswa baru bagi lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat tahun 2024 di Balai Purnomo Prawiro, Kampus UI Depok. Sosialisasi tersebut dihadiri sekitar 500 perwakilan pimpinan sekolah, Kepala Sekolah, dan Guru Bimbingan Konseling (BK). Tidak hanya berasal dari Jakarta dan sekitarnya, perwakilan pimpinan sekolah dari Semarang, Jawa Tengah juga turut hadir dalam sosialisasi ini.

Sekretaris Universitas UI, dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D. mengatakan, “Tujuan utama kami adalah mengkomunikasikan jalur masuk dan seleksi mahasiswa baru ke UI kepada masyarakat yang sangat berkepentingan, yang terdiri atas sekolah, pimpinan sekolah, para guru, dan tentunya anak-anak calon mahasiswa beserta orangtua dan keluarga. Saya berpesan kepada seluruh calon mahasiswa supaya tidak ragu memilih UI karena UI terus berkomitmen memberikan akses yang ‘adil’ kepada calon mahasiswa dari seluruh wilayah di Indonesia dan dari seluruh tingkatan sosial ekonomi.”

Hadir sebagai narasumber, yaitu Sekretaris Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Bekti Cahyo Hidayanto, S.Si., M.Kom., dan Kepala Kantor Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UI, Dr. Gunawan, ST., MT. Jalannya sosialisasi dipimpin oleh Kepala Biro Humas dan Keterbukaan Informasi Publik (KIP) UI, Dra. Amelita Lusia, M.Si.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No. 62 Tahun 2023, jalur masuk penerimaan mahasiswa baru program diploma dan program sarjana pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN), termasuk UI, terbagi menjadi dua skema, yaitu jalur nasional dan jalur mandiri.

Untuk jalur nasional, UI menyediakan 50 persen dari total daya tampung, dengan rincian 20 persen melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan 30 persen melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Sementara itu, 50 persen dari total daya tampung UI akan diperebutkan melalui jalur mandiri.

Jalur mandiri UI terbagi ke dalam dua jalur, yaitu jalur ujian dan jalur tanpa ujian. Jalur ujian UI yang terdiri atas Sarjana dan Vokasi,  Sarjana Kelas Internasional, dan Sarjana dan Vokasi dengan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sementara itu, jalur tanpa ujian UI yang dapat ditempuh adalah jalur Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB) untuk Sarjana dan Vokasi, jalur Talent Scouting (TS) untuk Sarjana Kelas Internasional, dan Seleksi Jalur Prestasi (SJP) untuk Sarjana.

Pada tahun 2024, UI menambahkan daya tampungnya untuk mengakomodasi lebih banyak calon mahasiswa baru. Kepala PMB UI, Gunawan, mengatakan, “Pada 2024, kami menerima 10.473 calon mahasiswa dari Sarjana dan Vokasi, naik dibandingkan tahun 2023 yang saat itu daya tampungnya 10.159.”

Ia menambahkan, dari daya tampung total Sarjana Vokasi tersebut, terdiri atas Sarjana 8.823 dan Vokasi 1.650. Sementara itu, daya tampung total SNBP sebanyak 2.105 dengan rincian Sarjana 1.775 dan Vokasi 330.

Lalu, pada jalur SNBT akan menerima sebanyak 3.164 mahasiswa yang terdiri dari 2.666 Sarjana dan 498 Vokasi. Tahun ini, UI mengikutisertakan 64 program studi Sarjana dan 15 program studi Vokasi (9 Diploma III dan 6 Diploma IV).

Saat ini, masa Pengisian Pangkalan Data Sekolah Dan Siswa (PDSS) untuk Seleksi SNBP 2024 bagi sekolah tengah berlangsung dan akan berakhir pada 9 Februari 2024. Selanjutnya, akan disusul oleh Pendaftaran SNBP oleh siswa mulai 14 Februari hingga 28 Februari 2024. UI juga akan segera membuka jalur Talent Scouting pada 28 Februari hingga 22 Maret 2024 untuk Sarjana Kelas Internasional.

Sekretaris SNPMB Bekti menegaskan, “Siswa yang dinyatakan lulus seleksi SNBP 2024 tidak dapat mendaftar seleksi jalur mandiri di PTN manapun. Peserta yang dinyatakan lulus melalui jalur SNBT 2024 dan telah mendaftar ulang atau registrasi di PTN yang dituju juga tidak dapat diterima pada seleksi Jalur Mandiri 2024.” Bekti mengimbau calon mahasiswa baru untuk menunggu pengumuman hasil SNBT terlebih dahulu sebelum mendaftar jalur mandiri pada PTN tujuan.

Disadur dari: ui.ac.id

 

Selengkapnya
Daya Tampung Program Pendidikan Sarjana dan Vokasi Bertambah pada Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru 2024

Pendidikan

"PTN, UTBK, dan Dilema Pendidikan Tinggi"

Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 10 Februari 2025


Lagu-lagu Paramitha Rusady dan Obbie Messakh tentang nostalgia lagu masa SMA agaknya harus direfleksikan kembali dengan kenyataan saat ini. Dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah lapangan kerja, mencari kerja menjadi makin sulit. Oleh sebab itu, kualifikasi sumber daya manusia menjadi hal yang amat krusial.

Lulusan perguruan tinggi negeri cenderung digadang-gadang sehingga masa persiapan SNPMB (Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru) menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan siswa pada masa akhir SMA-nya. Dibandingkan dengan akhir 1980-an, ketika lagu-lagu tentang indahnya masa SMA berjaya, masa-masa SMA kini dikenang sebagai sesuatu yang sarat akan tekanan dan ketidakpastian.
Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidojo pernah mengungkapkan bahwa kebanyakan siswa Kelas XII menghadapi stres saat memasuki musim SNPMB. Angka yang tinggi ini mendorong banyak orang untuk menjadikan siswa "kambing hitam". Biasanya, siswalah yang dituduh tidak bisa mengelola stres. Nasihat agar siswa mampu mengkondusifkan lingkungan belajar dan mengatur waktu agar tidak mengalami stres kerap dilontarkan.

Padahal, sebenarnya, tekanan psikologis yang dialami siswa Kelas XII bersumber dari dua faktor sosial utama. Pertama, adanya stereotip toksik bahwa melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) merupakan satu-satunya penjamin kesuksesan. Kedua, salah kaprah bahwa Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) adalah tolok ukur akurat terhadap kecerdasan siswa.

PTN di atas segalanya

Benarkah bahwa PTN adalah penjamin kesuksesan yang absolut? Ide ini sebenarnya wajar saja. Lulusan perguruan tinggi negeri biasanya memiliki jaringan koneksi yang luas yang mempermudah mereka mencari pekerjaan. Apalagi, PTN dianggap kompeten dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas karena sudah berpengalaman sejak lama. Sebut saja Universitas Indonesia (UI) yang diprakarsai pada 1849, atau Institut Teknologi Bandung (ITB) yang cikal bakalnya muncul pada 1920.

Siswa SMA yang tidak melanjutkan pendidikan ke PTN sering dianggap bodoh dan memiliki masa depan yang tidak terjamin. Masih banyak mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) yang mengalami kesulitan saat mencari kerja, atau mendapat komentar negatif dari keluarga karena melanjutkan pendidikan ke PTS.

Sebagaimana dicetuskan oleh sosiolog Max Weber, PTN ditafsirkan sebagai simbol yang melambangkan prestise. Melalui PTN, seseorang dapat menaikkan strata sosial dan citranya di mata orang-orang sekitar. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak orang rela mati-matian mengikuti jadwal belajar yang ketat demi lulus UTBK, yaitu tes seleksi masuk PTN.

Pola pikir "PTN di atas segalanya" ini dapat digambarkan melalui sebuah anekdot (yang konon, terinspirasi dari fenomena nyata): di suatu perusahaan, seorang atasan akan menyuruh HRD memilah berkas para pelamar kerja dengan cara memisahkan berkas pelamar lulusan PTN dan PTS.

Berkas pelamar lulusan PTS akan ditaruh di bawah tumpukan berkas-berkas lainnya sehingga tidak dilirik. Padahal, bukan berarti lulusan PTS tidak kredibel. Dewasa ini, makin banyak PTS yang menerapkan ujian masuk bagi calon mahasiswanya. Bahkan, banyak lulusan PTS turut memberdayakan masyarakat lokal atau menjadi diaspora dengan kontribusi positif.

UTBK sebagai tolok ukur kecerdasan

Dihapuskannya Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang meliputi mata pelajaran yang diajarkan di sekolah seperti Biologi, Kimia, Sejarah, dan Geografi dalam UTBK 2023 merupakan inovasi yang problematik. Kebijakan ini, konon, diterapkan supaya kecerdasan siswa dapat dinilai secara lebih objektif sesuai jurusannya di SMA.

Namun, soal-soal matematika dan literasi dalam tes terstandardisasi (standardized test) seperti UTBK tetap saja tidak mampu menggambarkan kemampuan siswa secara akurat ataupun holistik.

Howard Garner (1983) berpendapat bahwa manusia memiliki delapan jenis kecerdasan. Melalui UTBK, definisi kecerdasan dikerucutkan menjadi satu jenis saja: bisa menjawab soal dengan model yang sudah ditentukan secara cepat dan tepat.

Klaim Mendikbud Nadiem Makarim bahwa dengan diterapkannya sistem baru UTBK yang hanya mengujikan kemampuan skolastik, siswa tidak perlu lagi mengikuti bimbingan belajar di luar jam sekolah juga terbukti salah. Buktinya, bimbingan-bimbingan belajar masih terus dicari. Bimbingan belajar justru berinovasi untuk mengakomodasi perubahan-perubahan dalam sistem pelaksanaan UTBK.

Dalih orangtua yang rela menguras dompet demi mendaftarkan anaknya di bimbingan belajar selalu sama: sekolah saja tidak cukup. Tidak seperti sistem UTBK pada tahun-tahun sebelumnya yang masih mengujikan mata pelajaran TKA yang dipelajari selama tiga tahun duduk di bangku SMA, kini materi UTBK benar-benar asing.

Materi tes potensi skolastik (TPS) yang meliputi penalaran umum, kemampuan matematika, dan kemampuan berbahasa digadang-gadang sebagai kemampuan-kemampuan yang penting karena sering dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, justru hal-hal itu tidak diajarkan di sekolah. Kalaupun diajarkan, pentingnya kemampuan skolastik tidak terlalu dititik beratkan.

Matematika, misalnya, diajarkan sebagai rangkaian rumus dan angka yang perlu dihafalkan tanpa benar-benar diresapi hakikat dan contoh penerapannya. Sistem pembelajaran di sekolah yang, ibaratnya, tidak menghubungkan titik-titik menjadi satu garis bermakna, tetapi sekadar menekan siswa agar sekadar menghapal letak titik-titik tersebut telah "mencemarkan" hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Diterapkannya sistem penilaian item response theory (IRT) juga berpotensi menjadi kelemahan lain dalam pelaksanaan UTBK. Ringkasnya, komputer akan memberi bobot penilaian yang berbeda untuk setiap soal, tergantung tingkat kesulitannya. Soal yang sulit akan mendapat skor yang lebih besar daripada soal yang mudah. Jika banyak peserta berhasil menjawab suatu soal dengan benar, hal itu berarti bahwa soal tersebut termasuk dalam kategori mudah, dan begitu pula sebaliknya.

Sistem penilaian ini berbeda dengan sistem penilaian ujian lain pada umumnya yang bersifat absolut (misalnya, jawaban benar mendapat skor 4, jawaban salah mendapat skor -1, dan jawaban kosong mendapat nilai 0). Alhasil, tidak ada soal yang mendapat nilai 0 pada UTBK. Aturan ini kerap "dimanipulasi" oleh siswa untuk mendapat skor setinggi-tingginya.

Beredarnya video-video di media sosial yang membagikan cara-cara "menembak" jawaban dengan akurat serta berita siswa yang mendapat skor tinggi dari hasil "menembak" jawaban mengundang polemik: apakah "kecanggihan" sistem pelaksanaan UTBK benar-benar efektif atau di atas kertas saja?

Jika sistem pelaksanaan UTBK benar-benar sudah efektif, seharusnya kecurangan peserta UTBK dapat diantisipasi. Nyatanya, banyak siswa yang bukannya menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri, melainkan untuk menyiapkan alat berteknologi tinggi untuk mencontek. Dari tahun ke tahun, kecurangan siswa saat UTBK menjadi pokok bahasan klasik.

Kecurangan pada UTBK menunjukkan celah pada sistem pendidikan SMA di Indonesia. Banyaknya siswa yang kehilangan motivasi belajar pada tahun terakhir SMA menjadi bukti bahwa pendidikan Indonesia masih digerogoti pola pikir "sekolah adalah formalitas" yang sudah jelas keliru. Siswa jadi enggan belajar bukan karena malas, tetapi karena sadar bahwa PTN adalah target yang harus diutamakan sehingga pembelajaran di sekolah ibarat halal hukumnya untuk disisihkan sementara.

Sumber: news.detik.com

Selengkapnya
"PTN, UTBK, dan Dilema Pendidikan Tinggi"

Pendidikan

USAID dan Kementerian Ketenagakerjaan Meluncurkan “PADU” untuk Memperkuat Pelatihan Vokasi

Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 10 Februari 2025


Amerika Serikat, melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), dan Kementerian Tenaga Kerja mengumumkan peluncuran program baru untuk meningkatkan investasi swasta dalam program pelatihan kejuruan pemerintah.

Kemitraan USAID untuk Produktivitas (USAID PADU) merupakan kegiatan lima tahun senilai $6,9 juta (tergantung pada ketersediaan dana) untuk meningkatkan kolaborasi antara sektor swasta dan balai latihan kerja yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah.

“Pengembangan sumber daya manusia merupakan pilar utama untuk mencapai visi Pemerintah Indonesia yaitu Indonesia Emas 2045,” ujar Direktur USAID Indonesia Jeff Cohen. “Amerika Serikat, melalui USAID, mendukung Indonesia dalam upayanya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan teknis dan kejuruan.”

Bagian penting dari USAID PADU adalah AWS re/Start, sebuah program pengembangan keterampilan selama 12 minggu yang disponsori oleh Amazon Web Services (AWS) yang akan mempersiapkan para peserta untuk peran tingkat pemula di berbagai bidang seperti operasi TI, keandalan situs, dan dukungan infrastruktur. Program ini juga akan menghubungkan para peserta dengan calon pemberi kerja dan menawarkan dukungan untuk penulisan resume dan pelatihan untuk wawancara kerja.

“AWS re/Start menghadirkan talenta ‘baru’ ke dalam dunia kerja, membantu individu untuk memulai karier yang sukses di bidang komputasi awan, organisasi untuk meningkatkan daya saing mereka dengan talenta yang sesuai dengan kebutuhan, serta komunitas untuk berkembang dan bertumbuh.

Kami bangga dapat berkolaborasi dengan proyek USAID PADU bersama Kementerian Ketenagakerjaan dan Banyan Global untuk membangun tenaga kerja awan masa depan yang beragam dan tangguh, yang memungkinkan organisasi mempercepat inovasi mereka dengan komputasi awan,” ujar Anthony Amni, Country Manager, AWS, Indonesia.

Acara minggu ini mencakup penandatanganan perjanjian antara USAID, AWS, Orbit Future Academy, dan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Kerja dan Produktivitas. Kerja sama ini menandakan komitmen bersama untuk membangun kapasitas lembaga pelatihan vokasi melalui penambahan kurikulum komputasi awan yang baru.

“Kementerian Ketenagakerjaan berkomitmen untuk membina komunikasi yang efektif dan kemitraan strategis di antara para pemangku kepentingan, dengan fokus pada peningkatan BPVP dan BBPVP. Tujuannya adalah untuk mendorong pemahaman yang lebih mendalam di antara para pembuat kebijakan untuk membangun orkestrasi yang harmonis guna mencapai revitalisasi pelatihan vokasi dan produktivitas,” kata Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah.

Para peserta program pelatihan vokasi akan mempelajari bahasa pemrograman (Linux dan Python), jaringan, keamanan, dan keterampilan basis data relasional melalui latihan berbasis skenario, tugas-tugas praktik, dan tugas-tugas kursus. Program ini terbuka bagi para pengangguran dan setengah pengangguran, termasuk mereka yang tidak memiliki pengalaman di bidang teknologi.

Disadur dari: id.usembassy.gov

Selengkapnya
USAID dan Kementerian Ketenagakerjaan Meluncurkan “PADU” untuk Memperkuat Pelatihan Vokasi

Pendidikan

Inovasi Kolaborasi UT dengan Praktisi di KRIVET (Korea Research Institute for Vocational Education & Training)

Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 10 Februari 2025


Sebagai universitas dengan sistem pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh (PTTJJ), Universitas Terbuka (UT) terus berinovasi meningkatkan kapasitas dan kualitas layanannya melalui beragam kerja sama dan resource sharing. Kerja sama lingkup internasional pun dilakukan UT guna mengokohkan dirinya sebagai penyelenggara PTTJJ berkelas dunia apalagi UT sudah naik kelas menjadi PTNBH.

Ragam layanan dan peningkatan proses bisnis UT menjadi isu di saat UT sudah memiliki kemandirian dalam pengelolaan sumber dayanya baik dalam bidang akademik dan non-akademik. Dalam upaya mengembangkan bentuk kerja sama internasional ini, UT pun telah menjangkau kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintahan di negara Korea Selatan (Korsel), salah satunya dengan Korea Research Institute for Vocational Education & Training atau disebut dengan KRIVET.

UT hadir di Korsel menindaklanjuti pondasi kerja sama yang telah dirintis sebelumnya khususnya terkait pengembangan Program Studi Kewirausahaan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UT. Kunjungan di KRIVET ini pun pada dasarnya merupakan bagian dari rangkaian langkah kerja sama yang telah dirintis UT dengan Chungbuk National University (CBNU).

Sumber: www.ut.ac.id

Pada 29 April 2024 Rektor Universitas Terbuka Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. dan delegasi dari FEB UT diterima dengan baik oleh Dr. Hye Won Ko selaku President KRIVET dan Dr. Sangdon Lee selaku Vice President KRIVET. Selain Prof. Ojat Darojat, delegasi UT yang berkunjung memenuhi undangan KRIVET tersebut antara lain Dr. Meirani Harsasi, M.Si.

Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Olivia Idrus, SE., M.Sc selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Layanan Pembelajaran dan Kerja Sama pada FEB, Dr. Maya Maria, S.E., M.M. selaku dosen FEB dan Kepala Subdirektorat Humas dan Pemasaran UT, dan Halim Dedy Perdana, S.E., M.SM., M.Rech, Ak. selaku dosen FEB UT yang menjadi koordinator kegiatan kerja sama UT-Kora Selatan. Selain itu turut hadir, Prof. Dr. Nafsiah Mohamed dari UiTM Malaysia.

Prof. Ojat pun mengucapkan terima kasihnya telah diterima dengan baik. KRIVET merupakan lembaga internasional Korea yang telah established dalam jejaring kolaborasi internasional antara lain dengan ADB, ILO, lembaga pemerintahan dan institusi lainnya.

Selama ini KRIVET telah bertanggungjawab dalam memperkuat sekolah tinggi vokasi di kawasan Asia Tenggara, selain berkiprah dalam memberikan bantuan kepada para pekerja, pelatihan bagi para siswa yang bekerja sambil sekolah, peningkatan kompetensi digital bagi instansi pemerintahan.

Oleh sebab itu UT tertarik untuk pengembangan kolaborasi dalam beberapa bidang dengan KRIVET. Bentuk kerja sama yang akan dituju oleh UT antara lain program magang mahasiswa, pengembangan riset bersama, penngembangan pendidikan vokasi, training terkait kebijakan dan sistem pendidikan vokasi untuk masyarakat Indonesia. KRIVET pun menawarkan master plan kerja sama termasuk dalam pendampingan sistem sertifikasi dan lainnya.

Prof. Ojat menyambut baik ajakan kerja sama skema internasional tersebut khususnya dalam hal ICT. Prof. Ojat pun menyampaikan langkah UT ke depan akan lebih intensif mengembangkan prospek bisnis di Indonesia misalnya dengan penawaran program mikrokredensial, metaverse, artificial intelligence, augmented reality di berbagai bidang.

Melalui bentuk kerja sama, UT pun memerlukan masukan penting terkait micro learning berbasis micro credentials. Beragam pengembangan kurikulum berbasis ICT terkini pun sudah mulai dikerjakan UT sehingga dengan benchmarking ini diharapkan UT dapat berfokus pada pengembangan pendidikan tinggi masa depan yang berbasis teknologi komunikasi di era digital.

Ke depannya, UT terus memantapkan langkah untuk bertransformasi dalam menyiapkan proses bisnis sebagai UT PTNBH sehingga dapat memberikan layanan pembelajaran terbaik guna memenuhi kebutuhan pasar dunia kerja. Lagi-lagi UT dituntut untuk melakukan ragam terobosan yang mendukung kesiapan perangkat pendukung teknologi pembelajaran. 

Sumber: www.ut.ac.id

Selengkapnya
Inovasi Kolaborasi UT dengan Praktisi di KRIVET (Korea Research Institute for Vocational Education & Training)

Pendidikan

Generasi muda sekarang dapat belajar dan bekerja di Hong Kong melalui Skema Penerimaan Profesional Kejuruan

Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 10 Februari 2025


Pelamar yang berhasil akan memiliki beragam program Diploma Tinggi (HD) 2 tahun yang dapat dipilih. Diselenggarakan dalam bahasa Inggris, program-program ini ditawarkan oleh VTC, penyedia pendidikan dan pelatihan kejuruan dan profesional terbesar di Hong Kong, yang mencakup lima sektor penting.

Program-program tersebut meliputi penerbangan, transportasi dan logistik, maritim, inovasi dan teknologi, layanan listrik dan mekanik, serta bangunan, teknik sipil, dan lingkungan binaan. Dipilih dengan cermat karena relevansinya dengan sektor-sektor pekerjaan yang penting bagi pembangunan berkelanjutan kota, program-program ini mengatasi kekurangan tenaga kerja yang saat ini dihadapi oleh industri-industri tersebut.

Jalur menuju karir dan tempat tinggal permanen bagi lulusan VPAS

Lulusan program Diploma Tinggi (HD) yang ditunjuk, apa pun kewarganegaraannya, dapat mengajukan permohonan VPAS. Pelamar yang berhasil memenuhi syarat untuk mendapatkan visa VPAS, yang memungkinkan mereka untuk tinggal di Hong Kong selama 12 bulan untuk secara aktif mengejar peluang kerja. Dalam kerangka kerja VPAS, peserta dapat mengajukan perpanjangan masa tinggal setelah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan spesialisasi akademis mereka.

Selama empat tahun pertama bekerja, peserta VPAS diwajibkan untuk bekerja dalam peran yang sesuai dengan bidang studi mereka. Setelah menyelesaikan tujuh tahun berturut-turut tinggal di Hong Kong, yang mencakup studi akademik, pencarian kerja, dan minimal empat tahun bekerja penuh waktu, peserta VPAS memenuhi syarat untuk mengajukan permohonan izin tinggal permanen di kota Hong Kong.

Pelamar VPAS diharuskan memiliki kualifikasi sekolah menengah atas atau yang setara dari negara asal mereka. Selain itu, mereka harus mendapatkan hasil ujian yang memenuhi persyaratan masuk untuk program HD VTC. Pelamar VPAS harus memiliki kualifikasi sekolah menengah atas, seperti SMA atau yang setara, dari negara asal mereka. Mereka juga harus mencapai hasil yang diperlukan dalam ujian yang memenuhi persyaratan masuk untuk program HD VTC.

Disadur dari: www.thejakartapost.com

Selengkapnya
Generasi muda sekarang dapat belajar dan bekerja di Hong Kong melalui Skema Penerimaan Profesional Kejuruan

Pendidikan

Unika Atma Jaya Kolaborasi dengan Swiss Dorong Inovasi dan Keberlanjutan Pendidikan Vokasi dan Pelatihan (VET)

Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 10 Februari 2025


Semakin baik Pendidikan Vokasi dan Pelatihan (Vocational Education and Training/Vet) di suatu negara, maka akan semakin baik pula tingkat perekonomian masyarakatnya karena edukasi VET selaras dengan kebutuhan para pemberi kerja dalam hal pengembangan keterampilan generasi muda.

Sayangnya, masih banyak isu yang muncul mengenai pendidikan vokasi maupun vokasi di Tanah Air yang mengesampingkan pendidikan tersebut menjadi sebuah pilihan bagi lulusan SMP dan SMA, jika dibandingkan dengan pendidikan akademik di universitas.

Hal inilah yang mendorong Dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Dr. phil. Juliana Murniati, M.Si., bersama dengan ketiga rekan almamaternya pada saat mengambil doktoral di luar negeri, untuk menyelenggarakan workshop dan konferensi internasional dengan judul Fostering Innovation and Sustainability in Vocational Education and Training (VET) Swiss Indonesian Perspectives.

Kegiatan workshop dilaksanakan pada hari Selasa dan dilanjutkan dengan kegiatan konferensi dua hari setelahnya, yakni pada Kamis, kedua kegiatan dihadiri oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai institusi di Indonesia, seperti para pemilik usaha/industri, perwakilan dari pendidikan vokasi, serta education expert untuk pendidikan vokasi.

Turut hadir Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), serta Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Olivier Zehnder, kedua orang penting tersebut menyatakan dukungan dan selamat atas terselenggaranya acara yang menjadi kolaborasi internasional antara dua negara, yakni Indonesia dan Swiss.

“Diselenggarakannya kegiatan ini menandai adanya perluasan kolaborasi lain dalam hubungan kemitraan antara Swiss dan Indonesia, hal ini juga untuk menyatukan visi dalam memperkuat sistem VET di Indonesia,” ujar Prof. Dr. Dr. Yuda Turana, selaku Rektor Unika Atma Jaya.

Prof. Yuda juga menyampaikan harapannya agar melalui kolaborasi internasional ini dapat menjadi komitmen bagi kedua negara, khususnya Indonesia, untuk meningkatkan kesetaraan, kualitas, dan relevansi pendidikan vokasi dalam skala global, dan menjadikan pendidikan vokasi semakin dipandang sebagai komponen penting dalam sistem pendidikan yang memainkan peran penting dalam meningkatkan keterampilan negara untuk meningkatkan kemampuan kerja.

Selain itu menurut Olivier Zehnder, Duta Besar Swiss untuk Indonesia juga mengatakan bahwa, pihak-pihak seperti sekolah, sektor swasta, serta adanya dukungan dari pemerintah sangat diperlukan agar dapat bekerja sama dalam upaya meningkatkan sistem VET tersebut.

“Kerja sama itu memungkinkan VET di Swiss dalam memenuhi kebutuhan dunia profesional dan mempersiapkan orang-orang untuk mendapatkan pekerjaan. Sekarang, dengan senang hati akan kami bagikan hal ini juga ke Indonesia. Apa yang kami terapkan di sini bukan sekedar berbagi apa yang kami ketahui, tetapi juga turut mengajak untuk menggabungkan kekuatan demi mengembangkan sistem VET yang lebih efektif dan bermanfaat bagi segala pihak“, ujarnya.

Sumber: www.atmajaya.ac.id

Workshop dan konferensi tersebut merupakan kerja sama antara Unika Atma Jaya, Insight Web Academy (IWDemy) selaku pelaku industri, serta Eastern Switzerland University of Applied Sciences (OST) dan seluruh kegiatannya didanai oleh pemerintah  Swiss tersebut.

Kolaborasi antara Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya dengan OST melalui Prof. Dr. Stefan Kammhuber telah berlangsung selama 25 tahun dan telah beberapa kali menjalankan kegiatan ilmiah bersama, yang pada kegiatan kali ini turut menggandeng Ben Hueter dari IDM, Vocational Education Center, Thun, and member of the Swiss Conference of VET Directors.

Berangkat dari stereotip terhadap siswa pendidikan vokasi dengan label “kurang briliant, keluarga tidak mampu, tidak termotivasi sekolah’, Dr. phil. Juliana Murniati, M.Si. hendak mengajak masyarakat mengubah penilaiannya. Ini penting mengingat kebutuhan yang tinggi dari masyarakat Indonesia akan tenaga terampil dan siap kerja. Lebih dari itu, “untuk bisa mengadopsi keberhasilan pendidikan vokasi Swiss ke Indonesia, perlu adaptasi budaya, dalam artian sistem pendidikan dan pola pikir masyarakatnya  ke dalam konteks Indonesia”, ujar Murni.

Sumber: www.atmajaya.ac.id

 

Selengkapnya
Unika Atma Jaya Kolaborasi dengan Swiss Dorong Inovasi dan Keberlanjutan Pendidikan Vokasi dan Pelatihan (VET)
« First Previous page 40 of 46 Next Last »