Pendidikan
Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 18 Februari 2025
Pendidikan merupakan landasan pembangunan dan kesejahteraan suatu bangsa. Di Indonesia, negara dengan warisan budaya yang kaya dan populasi yang beragam, sistem pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan warga negaranya dan masyarakat luas. Namun, meskipun terdapat kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sistem pendidikan Indonesia menghadapi banyak tantangan yang menghambat kemajuannya.
Indonesia, dengan negara kepulauan yang luas dan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, sedang bergulat dengan berbagai kompleksitas dalam sistem pendidikannya. Ketika negara ini berupaya mencapai tujuan sosio-ekonominya, kualitas dan aksesibilitas pendidikan menjadi faktor penting.
10 tantangan besar pendidikan di Indonesia
1. Terbatasnya akses terhadap pendidikan
Salah satu tantangan paling signifikan adalah memastikan akses yang adil terhadap pendidikan, terutama di daerah terpencil dan pedesaan. Kesenjangan dalam infrastruktur, pendanaan, dan guru yang berkualitas seringkali menyebabkan banyak anak tidak memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas, sehingga melanggengkan siklus kemiskinan dan menghambat kemajuan nasional.
2. Mutu pendidikan
Meskipun terdapat upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, Indonesia masih menghadapi permasalahan berupa kurikulum yang ketinggalan jaman, pelatihan guru yang tidak memadai, dan sumber daya pembelajaran yang terbatas. Kurangnya penekanan pada pemikiran kritis dan keterampilan praktis menghambat kemampuan siswa untuk bersaing secara global dan berkontribusi secara efektif terhadap pertumbuhan bangsa.
3. Kekurangan dan kualitas guru
Kurangnya guru yang berkualitas dan termotivasi masih menjadi masalah yang terus-menerus terjadi di Indonesia. Selain itu, rendahnya gaji dan terbatasnya kesempatan pengembangan profesional menyebabkan demotivasi di kalangan pendidik, sehingga berdampak pada kualitas pengajaran secara keseluruhan.
4. Rendahnya alokasi anggaran pendidikan
Alokasi dana yang tidak mencukupi pada sektor pendidikan masih menjadi kendala utama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Indonesia perlu memprioritaskan pendidikan dalam anggarannya untuk meningkatkan infrastruktur, membayar guru dengan lebih baik, dan mengembangkan materi pembelajaran yang lebih maju.
5. Infrastruktur yang tidak memadai
Banyak sekolah di Indonesia yang kekurangan infrastruktur, seperti ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium. Kurangnya fasilitas dasar menghambat pengalaman belajar dan mempengaruhi kinerja akademik siswa.
6. Integrasi teknologi
Meskipun teknologi mempunyai potensi untuk merevolusi pendidikan, integrasinya di sekolah-sekolah di Indonesia masih belum merata. Kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta antar kelas sosial ekonomi, membatasi akses siswa terhadap peluang pembelajaran berbasis teknologi.
7. Keanekaragaman budaya dan linguistik
Keberagaman budaya dan bahasa yang luas di Indonesia menghadirkan tantangan unik dalam pengembangan kurikulum dan praktik pengajaran. Kurangnya konten lokal dan pilihan pendidikan bilingual dapat menghambat pemahaman dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
8. Disparitas gender
Meskipun ada upaya untuk mendorong kesetaraan gender dalam pendidikan, kesenjangan gender masih terjadi, terutama di wilayah yang lebih konservatif. Norma sosial dan keyakinan budaya seringkali membatasi akses anak perempuan terhadap pendidikan dan kesempatan untuk melanjutkan studi.
9. Angka putus sekolah dan pernikahan dini
Tingginya angka putus sekolah, khususnya di kalangan anak perempuan, terus menjadi kekhawatiran di Indonesia. Faktor-faktor seperti kemiskinan, pernikahan dini, dan kurangnya sistem pendukung sering kali memaksa anak-anak untuk meninggalkan sekolah sebelum waktunya, sehingga membahayakan prospek masa depan mereka.
10. Pendidikan kejuruan dan teknik
Fokus pada pendidikan akademis seringkali membayangi pelatihan kejuruan dan teknis, sehingga menyebabkan kurangnya pekerja terampil di berbagai sektor. Menekankan pendidikan kejuruan dapat mengatasi masalah pengangguran dan memperkuat angkatan kerja di Indonesia.
Kesimpulan
Tantangan yang dihadapi sistem pendidikan Indonesia sangatlah kompleks dan memiliki banyak aspek, namun tantangan tersebut harus diatasi dengan urgensi dan komitmen. Dengan memastikan akses yang adil, meningkatkan kualitas pendidikan, dan berinvestasi pada guru dan infrastruktur, Indonesia dapat mengambil langkah signifikan menuju sistem pendidikan yang lebih inklusif dan kuat. Mengatasi hambatan-hambatan ini akan memberdayakan generasi muda untuk memimpin Indonesia menuju masa depan yang sejahtera dan berkelanjutan, serta memperkuat posisinya di kancah global.
Disadur dari: www.mizanurrmizan.info
Pendidikan
Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 18 Februari 2025
Indonesia, yang memiliki jumlah murid dan guru terbesar di Asia Tenggara dan sistem pendidikan terbesar keempat di dunia, telah menyoroti pentingnya transformasi digital dalam sistem pendidikan, terutama setelah pandemi COVID-19.
Mereka menjadi tuan rumah Pertemuan Regional Kedua ASEAN tentang Peta Jalan Deklarasi Transformasi Digital Sistem Pendidikan pada 8 Agustus di Surabaya, Jawa Timur.
Sebanyak tiga agenda utama dibahas dalam pertemuan tersebut: Post Transforming Education Summit 2022: Bagaimana dunia menegaskan kembali pembelajaran dan transformasi digital; presentasi dari negara-negara anggota ASEAN (AMS) mengenai strategi penerapan transformasi digital dalam sistem pendidikan; dan tinjauan AMS mengenai Peta Jalan Deklarasi Transformasi Digital Sistem Pendidikan di ASEAN.
Menjelang pertemuan tersebut, Anang Ristanto, Pj Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian, menekankan perlunya meningkatkan akses terhadap peluang pembelajaran digital yang aman, meningkatkan literasi digital, dan mengembangkan keterampilan digital, khususnya di kawasan ASEAN.
Dalam rangka kepemimpinan Indonesia di ASEAN tahun 2023, lanjutnya, Kementerian Pendidikan menginisiasi upaya koordinasi penyusunan peta jalan.
"Pengembangan peta jalan ini merupakan upaya bersama di antara negara-negara anggota ASEAN, dengan dukungan dari Sekretariat ASEAN," kata Anang.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Suharti mengatakan bahwa manfaat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan telah banyak dibahas dalam satu dekade terakhir.
"Namun, pandemi COVID-19 menandai momen penting di mana sistem pendidikan menemukan potensi sebenarnya dari TIK dalam mentransformasi proses pembelajaran agar lebih relevan dengan tantangan abad ke-21," ujarnya dalam pertemuan tersebut.
Selama pandemi, teknologi digital pada awalnya digunakan untuk memastikan bahwa proses belajar mengajar dapat terus berlangsung selama penutupan sebagian atau seluruh sekolah. Seiring perkembangannya, para pemangku kepentingan pendidikan semakin menyadari potensi teknologi digital dalam mempercepat pemulihan sektor pendidikan dan melanjutkan upaya mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
"Pandemi ini semakin menegaskan perlunya memperkuat kolaborasi dan memperbarui komitmen serta upaya kita untuk menata ulang dan membangun kembali sistem pendidikan," kata Suharti.
"Indonesia secara konsisten memperjuangkan transformasi di semua tingkat pendidikan. Selama masa kepresidenan G20 tahun lalu, Indonesia mengedepankan pentingnya penggunaan TIK dalam pendidikan untuk mendukung pemulihan pembelajaran dan menciptakan pendidikan yang lebih inklusif dan relevan," ujarnya.
Mendigitalisasi pendidikan Indonesia
Suharti juga menyoroti upaya Indonesia untuk mentransformasi sistem pendidikannya melalui gerakan Merdeka Belajar (Pembelajaran Emansipasi) yang mengoptimalkan penggunaan TIK dalam pendidikan, dengan fokus utama pada mengatasi krisis pembelajaran.
“Terhitung pada tahun 2019, Indonesia telah memasuki paradigma baru dimana teknologi berperan sebagai motor penggerak transformasi sistem pendidikan,” ujarnya.
Suharti menambahkan, Merdeka Belajar bertujuan untuk mewujudkan suatu sistem yang mampu menciptakan pembelajar yang kompeten sepanjang hayat dan mewujudkan karakter “siswa Pancasila”.
Gerakan ini juga menawarkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan memberdayakan siswa untuk mengeksplorasi mata pelajaran mereka, sementara guru dilatih untuk lebih efisien dalam bekerja sama dengan kepala sekolah untuk merancang kurikulum terbaik yang sesuai dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan siswa.
Menurut Suharti, Merdeka Belajar mengedepankan kebijakan transformasional yang mendukung empat aspek prioritas: komitmen terhadap pembelajaran dasar; dukungan untuk keterampilan mengajar; dedikasi kepada kelompok sasaran; dan meningkatkan serta mempercepat kemajuan dengan memanfaatkan teknologi.
“Di antara keempat aspek tersebut, kami memulai dengan menetapkan Asesmen Nasional sebagai sarana pelaksanaan prioritas pertama. Dengan asesmen yang dirancang secara komprehensif dan tes berbasis komputer, Asesmen Nasional dirancang untuk lebih memahami kemampuan siswa,” tuturnya.
Melalui Asesmen Nasional, Kementerian Pendidikan mendorong pembelajaran yang berfokus pada penguasaan pengetahuan, bukan kinerja ujian. Instrumen penilaiannya meliputi kemampuan kognitif, masukan dan proses pembelajaran, seperti kualitas pembelajaran, kepemimpinan kepala sekolah dan persepsi guru, serta risiko kekerasan, perundungan dan intoleransi.
“Seiring dengan reformasi penilaian, kami juga mengubah kurikulum sehingga lebih fokus pada kedalaman, bukan keluasan pengetahuan. Dengan begitu, topik yang dibahas lebih sedikit, namun keterlibatan yang lebih bermakna di kelas,” jelas Suharti.
Prioritas kedua adalah mendukung keterampilan mengajar dengan mengubah orientasi pendidikan calon guru dari teori ke praktik. Selain itu, guru menerima pelatihan praktis dan mendapatkan pengalaman mengajar yang nyata, serta didorong untuk membentuk komunitas belajar yang mendukung bersama rekan-rekannya untuk menghasilkan ide-ide pembelajaran yang kreatif.
Prioritas ketiga adalah serangkaian intervensi untuk mendukung kebutuhan sekolah, guru, dan siswa, serta mencakup pemberian bimbingan tambahan bagi siswa yang berminat mengajar melalui kebijakan Merdeka Belajar, Kampus Merdeka.
“Kebijakan ini memberikan win-win solution bagi siswa dan sekolah yang membutuhkan tenaga pendidik, namun di sisi lain siswa mendapat kredit akademik penuh atas partisipasinya,” kata Suharti.
Dalam hal hibah sekolah, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengalokasikan lebih banyak dana untuk sekolah-sekolah di daerah terpencil sehingga mereka dapat lebih memenuhi kebutuhan logistik dan pengadaan alat pembelajaran.
Prioritas Merdeka Belajar yang keempat adalah pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan dan mempercepat proses pembelajaran. Langkah pertama untuk memastikan transformasi digital yang berguna dan berkelanjutan di sektor pendidikan adalah dengan mengumpulkan, mengintegrasikan, dan memanfaatkan data. Pemangku kepentingan daerah, seperti sekolah dan unit pelaksana teknis (UPT), kemudian memvalidasi dan mengatur data untuk digunakan lebih lanjut dalam pembuatan dan pengembangan platform digital.
Kementerian telah meluncurkan beberapa platform, antara lain Merdeka Mengajar, Rapor Pendidikan, Belajar.id, dan Kampus Merdeka, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pihaknya juga telah meluncurkan tiga perangkat digital terkait pengelolaan sumber daya sekolah: Aplikasi Perencanaan Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS), Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah) dan TanyaBOS.
“Transformasi digital melalui gerakan Merdeka Belajar dapat memperkuat ekosistem pendidikan Indonesia dan menginspirasi negara-negara anggota ASEAN,” tegas Suharti.
Transformasi pendidikan ASEAN secara digital
Selama kepemimpinan Indonesia di ASEAN, berupaya untuk menumbuhkan komitmen yang lebih kuat di antara negara-negara AMS untuk menggunakan ICT sebagai pendorong transformasi sistem pendidikan di kawasan.
“Kami menginisiasi penyusunan peta jalan untuk mewujudkan komitmen yang dituangkan dalam Deklarasi Transformasi Digital Sistem Pendidikan di ASEAN. Peta jalan ini juga berfungsi sebagai alat bagi negara-negara ASEAN untuk mencapai tujuan transformasi digital di sektor pendidikan melalui kesepakatan yang telah disepakati. bidang-bidang utama, pencapaian bersama, kerangka waktu indikatif, dan calon mitra,” kata Suharti.
Rodora T. Babaran, direktur pembangunan manusia di Departemen Komunitas Sosial Budaya ASEAN (SOCA) di Sekretariat ASEAN, mengatakan visi blok tersebut pada tahun 2025 menggarisbawahi pentingnya keterampilan dan pengetahuan di era digital, dengan pendidikan sebagai landasan dari visi tersebut. ASEAN yang inklusif.
“Visi Komunitas ASEAN 2025 mengedepankan upaya peningkatan integrasi dan konektivitas regional melalui teknologi digital, serta mendorong ekosistem pendidikan kolaboratif untuk mendukung pertukaran pengetahuan antar institusi, pendidik, dan siswa di seluruh ASEAN,” ujarnya.
Deklarasi ASEAN tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Dunia Kerja yang Berubah mengakui sifat dinamis dari angkatan kerja modern dan pentingnya peningkatan keterampilan dan pelatihan secara berkelanjutan, mengingat transformasi digital berperan dalam membentuk kembali industri dan pasar kerja.
“Pendidikan harus memainkan peran penting dalam mempersiapkan individu menghadapi dunia kerja yang terus berkembang. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan upaya yang berkelanjutan dan strategis,” kata Babaran.
“Peta jalan Deklarasi Transformasi Digital Sistem Pendidikan di ASEAN memegang kunci untuk mewujudkan transformasi tersebut. Peta jalan ini bukanlah dokumen statis, melainkan dokumen hidup yang akan terus beradaptasi dan berkembang seiring dengan perubahan kebutuhan teknologi dan pendidikan.”
Peta jalan kepemimpinan Indonesia bertujuan untuk mengoperasionalkan komitmen dan tindakan Deklarasi Transformasi Digital Sistem Pendidikan di ASEAN; menegaskan kembali visi untuk membangun komunitas ASEAN yang berketahanan; memajukan proses pemulihan dari kerugian pembelajaran; dan memanfaatkan potensi teknologi digital dalam meningkatkan akses dan partisipasi dalam pendidikan, meningkatkan praktik belajar mengajar, dan meningkatkan pengelolaan informasi pendidikan.
Dokumen ini juga dimaksudkan sebagai alat bagi negara-negara anggota ASEAN untuk mengoordinasikan upaya mereka untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, dan dengan demikian akan menguraikan bidang-bidang utama, pencapaian, kerangka waktu indikatif, dan calon mitra.
Roadmap Transformasi Digital Sistem Pendidikan di ASEAN akan disampaikan pada Pertemuan 35th Senior Officials Committee for the ASEAN Socio-Cultural Community (SOCA) dan 30th ASEAN Socio-Cultural Community Council (ASCC) Meeting. Pertemuan akan dilaksanakan pada akhir Agustus 2023. Peta jalan tersebut juga akan diserahkan kepada para pemimpin ASEAN pada KTT ASEAN ke-43 pada September 2023 untuk disetujui.
Disadur dari: www.thejakartapost.com
Pendidikan
Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 18 Februari 2025
Pengertian blended learning
Blended learning adalah kombinasi antara pembelajaran daring (online) dan pembelajaran tatap muka (offline) sehingga konsep ini dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pendidikan yang menggabungkan bahan-bahan pembelajaran pendidikan online dan kesempatan untuk interaksi dalam kelas. Blended Learning juga sering disebut sebagai teknologi-mediated instruction, web-enhanced instruction, atau mixed-mode instruction.
Pembelajaran daring dapat memberikan fleksibilitas dan aksesibilitas yang lebih besar, sementara pembelajaran tatap muka memberikan interaksi sosial dan dukungan langsung dari guru.
Dalam konsep blended learning, mahasiswa dapat belajar secara mandiri melalui materi pembelajaran online yang telah disediakan oleh guru. Setelah itu, mahasiswa dapat bertemu dengan guru dan teman sekelas untuk diskusi dan kegiatan tatap muka, seperti diskusi kelompok atau praktikum.
Blended learning memungkinkan mahasiswa untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri dan mengembangkan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi untuk belajar secara efektif. Dengan demikian, konsep ini dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar mahasiswa.
Manfaat blended learning untuk pembelajaran
Blended learning menjadi semakin terkenal sejak penyebaran Covid-19 yang meningkat, terutama karena wabah tersebut membuat banyak negara, termasuk Indonesia, menghentikan pembelajaran tatap muka di sekolah. Dampaknya pada dunia pendidikan sangat terasa, dengan peserta didik yang tidak dapat menghadiri sekolah.
Hal ini mengakibatkan pembelajaran terhenti karena sulit bagi guru untuk memberikan penjelasan secara efektif seperti yang dapat dilakukan dalam kelas. Blended learning menjadi solusi yang tepat untuk menerapkan pembelajaran daring atau PJJ, memungkinkan guru untuk memberikan pembelajaran secara online dan offline secara efektif. Blended learning memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
Fleksibilitas
Mahasiswa dapat belajar secara mandiri dengan jadwal yang fleksibel melalui konten pembelajaran daring, dan juga dapat bertemu dengan guru dan teman sekelas di lingkungan tatap muka dengan jadwal yang telah ditentukan.
Aksesibilitas
Blended learning memungkinkan mahasiswa dari daerah terpencil atau dengan keterbatasan akses transportasi untuk mengakses pembelajaran dengan mudah melalui internet.
Interaksi sosial
Pembelajaran tatap muka memungkinkan mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan guru dan teman sekelas, yang dapat meningkatkan kemampuan sosial dan kemampuan berbicara di depan umum.
Dukungan individual
Mahasiswa dapat menerima dukungan individual dari guru melalui pembelajaran daring, sementara tatap muka memungkinkan guru untuk memberikan dukungan yang lebih personal.
Efektivitas pembelajaran
Dengan kombinasi antara pembelajaran daring dan tatap muka, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan untuk belajar secara mandiri dan memanfaatkan teknologi untuk belajar secara efektif, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mereka.
Dalam keseluruhan, blended learning memungkinkan mahasiswa untuk memperoleh manfaat dari kedua metode pembelajaran online dan offline, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar mereka secara keseluruhan.
Apa saja tahapan blended learning?
Dalam implementasinya terdapat Tahapan Blended learning yang menggabungkan pembelajaran tatap muka (PTM) dan pembelajaran daring (online). Berikut adalah tahapan-tahapan dalam blended learning:
Tahapan blended learning yang pertama yaitu Perencanaan atau planning dalam tahapan ini umumnya aktivitas yang umum dilakukan antara lain menentukan tujuan pembelajaran, selanjutnya memilih model blended learning yang digunakan contohnya seperti model rotasi, model stasiun, model lab, dan model flipped classroom.
Lalu di lanjutkan dengan menentukan konten pembelajarun misalnya berupa materi pembelajaran online atau pertemuan tatap muka. Memilih Platform pembelajaran seperti Google Classroom, Moodle, Open Course Ware guna mendukung blended learning. Dan yang terakhir yaitu menentukan tools untuk melakukan penilaian tugas atau tes secara online
Tahapan blended learning yang kedua yaitu Implementasi (Implementation). Tahapan ini merupakan inti dari kegiatan pembelajaran blended learning yaitu berupa aktivitas dimana blended learning itu dijalankan misal nya melalui pembelajaran tatap muka, pembelajaran daring (Open Course Ware & E-Learning), serta aktivitas yang mampu mendukung siswa atau murid untuk beradaptasi dengan seluruh implementasi blended learning pemberian tutorial, sesi tanya jawab, dan umpan balik.
Tahapan blended learning yang kedua yaitu Evaluasi (Evaluation). Tahapan ini bertujuan untuk melakukan evaluasi pembelajaran yang sedang berjalan, dimana Guru dapat mengevaluasi efektivitas pembelajaran dengan menganalisis hasil belajar siswa, umpan balik dari siswa, dan observasi terhadap proses pembelajaran. Hasil dari evaluasi ini nantinya akan membantu dalam melakukan perbaikan sistem pembelajaran kedepan dalam implementasi blended learning.
Sumber: it.telkomuniversity.ac.id
Pendidikan
Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 18 Februari 2025
Globalisasi telah mengubah dunia sedemikian rupa. Globalisasi mendorong terjadinya pertukaran gagasan dan gagasan sehingga teknologi informasi berkembang ke tahap yang jarang dibayangkan orang sebelumnya. Perkembangan teknologi ini kemudian melahirkan sistem industri yang dijiwai semangat kapitalisme.
Sampai saat ini dunia industri sendiri telah mengalami empat kali revolusi, perubahan besar terjadi pada industri itu sendiri. Revolusi industri pertama (1760-1840) ditandai dengan peralihan cara produksi dari kerajinan tangan ke penggunaan mesin seperti mesin uap. Revolusi industri kedua (1870-1914) lebih banyak mengenai perubahan sistemik dalam industri, seperti pemanfaatan penemuan energi baru yaitu batu bara dan minyak bumi.
Pada masa ini mobilitas manusia juga mengalami transformasi, seperti berkembangnya komunikasi melalui telegraf hingga moda transportasi jaringan kereta api. Sistem elektrifikasi awal juga muncul di era ini. Era revolusi industri kedua mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dalam waktu singkat.
Standar hidup meningkat seiring dengan turunnya harga barang. Namun era ini juga ditandai dengan tingginya angka pengangguran akibat masifnya standarisasi penggunaan tenaga mesin di pabrik sehingga menggeser peran tenaga kerja manusia.
Kemudian revolusi industri ketiga (1947-2000) merupakan revolusi industri yang terjadi setelah menurunnya penemuan teknologi akibat perang dunia pertama dan kedua. Revolusi industri ketiga mentransformasikan penggunaan teknologi sebelumnya yang terfokus pada teknologi mekanik, teknologi alat berat, dan teknologi analog menjadi digital.
Era ini disebut juga sebagai revolusi digital yang menandai dimulainya era baru yaitu Era Informasi. Pada revolusi digital, perkembangan teknologi yang terjadi adalah perkembangan komputer atau komputasi. Revolusi digital membawa konektivitas yang lebih kuat antar komunitas internasional, komunikasi yang lebih mudah, dan keterbukaan terhadap informasi (The Economist, 2012).
Berbagai peristiwa penting di dunia seperti Arab Spring pada tahun 2011 sebagai bentuk pergerakan besar masyarakat di kawasan Arab yang menuntut demokratisasi mungkin tidak akan tercapai jika tidak ada telepon seluler sebagai alat komunikasi yang sering digunakan masyarakat.
Revolusi digital juga berdampak besar terhadap perekonomian. Revolusi digital telah mengubah cara individu dan perusahaan atau organisasi berinteraksi. UMKM di daerah, misalnya, bisa mendapatkan akses pasar yang jauh lebih besar di perkotaan berkat pemanfaatan teknologi internet. Konsep seperti layanan perangkat lunak dan manufaktur berdasarkan permintaan memungkinkan inovasi di semua aspek industri dan kehidupan sehari-hari.
Baru-baru ini, revolusi industri keempat (2016-Sekarang), juga dikenal sebagai industri 4.0, diperkenalkan oleh Klaus Martin Schwab, pendiri Forum Ekonomi Dunia, yang berpendapat bahwa di era digital, telah terjadi perubahan signifikan dalam industri kapitalis sistem.
Pergeseran mendasar yang terjadi adalah cara jaringan produksi dan pasokan global beroperasi melalui otomatisasi berkelanjutan menggunakan metode cerdas (yang dapat beroperasi sendiri tanpa campur tangan manusia tambahan) seperti Internet of Things (IoT) dan komunikasi mesin-ke-mesin (M2M). Integrasi ini menghasilkan peningkatan otomatisasi, peningkatan komunikasi dan pemantauan mandiri, serta penggunaan mesin pintar yang dapat menganalisis dan mendiagnosis masalah tanpa memerlukan campur tangan manusia.
Seiring dengan revolusi industri 4.0, konsep society 5.0 atau masyarakat super pintar hadir untuk mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi. Society 5.0, sebuah konsep yang muncul dari Jepang, merepresentasikan evolusi masyarakat yang didorong oleh integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) di hampir seluruh aspek kehidupan.
Konsep ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, berkelanjutan, dan fokus pada kesejahteraan manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi dan globalisasi, konsep Society 5.0 menjadi semakin relevan dalam konteks pendidikan (Santoso, 2022). Society 5.0 merupakan visi masyarakat yang berfokus pada pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan konektivitas untuk menciptakan lingkungan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
Revolusi industri yang terjadi membawa dampak pada dunia pendidikan. Hadirnya revolusi industri melahirkan sebuah konsep penting dalam pendidikan yaitu standardisasi. Standardisasi dipandang sebagai cara yang tepat untuk memajukan pendidikan, dan hal ini dicapai melalui standarisasi ruang kelas, kurikulum dan metode pengajaran. Hal ini juga berlaku pada standarisasi baru mengenai bagaimana pemeringkatan pendidikan tinggi dilakukan.
Melihat dunia akademis saat ini yang telah mengalami globalisasi kapitalisme sedemikian rupa, maka revolusi industri turut berperan dalam mempengaruhi dinamika dunia pendidikan tinggi sehingga persaingan antar perguruan tinggi menjadi sebuah keniscayaan. Dengan berkembangnya relasi dan persaingan antar perguruan tinggi, maka setiap perguruan tinggi selalu ingin dipandang sebagai yang terbaik dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya.
Hal ini terjadi dimana-mana, baik dalam kompetisi internasional maupun kompetisi nasional antar perguruan tinggi dalam negeri. Ketegangan persaingan ini semakin terlihat dengan pemanfaatan teknologi yang menunjukkan pemeringkatan universitas. Pemeringkatan universitas sendiri telah menjadi topik yang semakin penting dan kontroversial dalam dunia pendidikan tinggi. Universitas-universitas di seluruh dunia bersaing untuk meraih peringkat tertinggi di berbagai daftar peringkat internasional, yang seringkali mempengaruhi reputasi dan daya tarik mahasiswanya.
Sayangnya, penulis melihat pemeringkatan perguruan tinggi yang ada saat ini, baik yang dilakukan oleh lembaga internasional seperti QS World University Ranking (QS WUR), Webometrics, 4ICU, THE, maupun lembaga pemeringkatan nasional PDDIKTI oleh Kementerian Pendidikan RI sebagai lembaga yang melakukan hal tersebut.
Pemeringkatan tidak melihat aspek kesejahteraan siswa. dan hanya berfokus pada kinerja output universitas. Oleh karena itu, penulis berpendapat untuk menekankan pentingnya aspek kesejahteraan siswa untuk dijadikan indikator dalam proses pemeringkatan.
Disadur dari: moderndeplomacy.eu
Pendidikan
Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 18 Februari 2025
Universitas Indonesia (UI) mengadakan kuliah umum bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Robbert Dijkgraaf. Kuliah bertajuk “Making Lives Better: Giving Opportunities to Knowledge” ini diselenggarakan di Universitas Indonesia Convention Center dan disiarkan langsung melalui akun Youtube resmi UI. Kuliah ini mengulas strategi pengembangan diri untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan dalam mengatasi permasalahan global yang ada di masyarakat.
Hadir dalam acara tersebut Rektor Universitas Indonesia, Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, Ph.D.; Sekretaris Universitas UI, dr. Agustin Kusumayati, M.Sc.Ph.D, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Republik Indonesia, Lambert Grijns.
Rektor International Institute of Social Studies, Den Haag, Erasmus University Rotterdam, Prof. (Inge) Saya Hutter, delegasi dari Belanda yang terdiri dari pimpinan universitas dan lembaga, para dekan dan direktur di lingkungan Universitas Indonesia, dan puluhan mahasiswa Universitas Indonesia.
Dalam sambutannya, Prof Ari menyampaikan bahwa keterlibatan Indonesia dalam pelaksanaan Presidensi G20 memunculkan potensi kolaborasi global secara maksimal dan membawa Indonesia pada kenyataan terkait permasalahan global yang dihadapi umat manusia. Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Indonesia meyakini kolaborasi di bidang ilmu pengetahuan, penelitian, ilmu pengetahuan, dan budaya dengan mitra dari seluruh dunia dapat menjadi media dalam mengatasi tantangan tersebut.
Kerjasama antara Universitas Indonesia dan Belanda merupakan salah satu bentuk kerjasama tersebut. Universitas Indonesia telah bekerja sama dengan 26 institusi Belanda yang mencakup banyak skema, termasuk program gelar ganda, pertukaran mahasiswa dan staf, untuk melakukan penelitian bersama.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat saling pengertian dan membuka peluang baru. Mahasiswa dan peneliti yang terlibat juga diharapkan mampu memahami permasalahan di sekitarnya dari sudut pandang yang berbeda. Penting untuk memberikan penelitian yang berdampak pada masyarakat. Oleh karena itu, membangun koneksi menjadi kunci untuk memperkuat jaringan dalam berkolaborasi,” kata Prof Ari.
Sumber: www.ui.ac.id
Robbert Dijkgraaf dalam kesempatan itu menekankan pentingnya memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ada empat kunci utama yang disebutkan Dijkgraaf untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu hubungan kuat antara sains dan masyarakat, kolaborasi penelitian dasar dan penelitian fundamental, pemanfaatan dan penerapan ilmu pengetahuan, serta kerja sama internasional.
Menurut Dijkgraaf, untuk menciptakan hubungan yang kuat antara ilmu pengetahuan dan masyarakat, penelitian ilmiah harus dapat diterapkan di masyarakat. Peneliti harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat ketika menentukan topik penelitian. Hal ini dimaksudkan agar penelitian yang dilakukan bermanfaat dan tepat sasaran sehingga jarak antara masyarakat dan peneliti dapat dihilangkan. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga swadaya masyarakat juga diperlukan untuk mengembangkan hasil penelitian agar manfaatnya dapat tersebar luas.
Suatu penelitian hendaknya juga mempertimbangkan penelitian-penelitian terkait yang telah dilakukan sebelumnya. Elaborasi antar-penelitian ini memungkinkan terjadinya transformasi besar-besaran terhadap suatu temuan. Peneliti dapat memilah mana hasil penelitian yang bermanfaat dan mana yang tidak, sehingga penelitian selanjutnya harus didasarkan pada temuan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Peneliti tidak hanya fokus pada penelitian akademis saja, namun juga penelitian yang berguna untuk menjawab berbagai permasalahan global.
Poin terakhir yang disoroti Dijkgraaf adalah perlunya kerja sama internasional. Permasalahan global menuntut para peneliti untuk menciptakan solusi yang dapat diterapkan secara universal. Hal ini dapat dicapai melalui kolaborasi antar peneliti di seluruh dunia. Pertukaran pelajar dan kolaborasi penelitian memungkinkan adanya pengalaman global yang diperoleh para akademisi sehingga mereka dapat bertukar pengalaman berdasarkan latar belakang nasional yang berbeda.
“Ada dua hal yang dimiliki seseorang yang menjadikannya manusia yang kuat, yaitu imajinasi dan rasa ingin tahu. Dengan imajinasi, seseorang dapat membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan melalui pengalaman yang terjadi di masa lalu. Sedangkan dengan rasa ingin tahu, seseorang akan tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang digelutinya hingga seseorang menjadi ahli di bidangnya,” kata Dijkgraaf.
Sumber: www.ui.ac.id
Disadur dari: www.ui.ac.id
Pendidikan
Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 18 Februari 2025
Pendidikan di Indonesia telah mengalami transformasi signifikan berkat kemajuan teknologi. Salah satu inovasi yang mendominasi adalah perkembangan Edutech yang merupakan singkatan dari Education Technology (teknologi pendidikan).Perkembangan ini ditandai oleh semakin banyaknya startup teknologi pendidikan yang bermunculan dengan berbagai jenis bidang dan fokusnya masing-masing. Sebagai referensi, berikut ini ulasan lengkap terkait apa itu Edutech hingga contoh jenisnya.
Apa itu edutech?
Sederhananya, Edutech atau Education Technology merujuk pada penggunaan hardware dan software yang dirancang untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran di ruang kelas dan hasil pendidikan secara keseluruhan. Sejak era pandemi COVID-19, Edutech telah memainkan peran krusial. Pasalnya, inovasi ini telah berhasil mengubah cara belajar mengajar menjadi bersifat daring (online) melalui teknologi komunikasi jarak jauh.
Adapun dari segi teoritis, Edutech didasarkan pada pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu seperti komunikasi, pendidikan, sosiologi, psikologi, kecerdasan buatan atau AI, ilmu komputer, dan lain sebagainya. Edutech juga dapat mencakup beberapa domain, termasuk teori pembelajaran, sistem pelatihan berbasis komputer, hingga pembelajaran online.
Sumber: www.detik.com
Seperti apa perkembangan edutech Indonesia?
Perkembangan Edutech global maupun di Indonesia sangat pesat, terutama sejak munculnya pandemi. Menurut World Bank, jumlah pengguna aktif pada aplikasi Edutech meningkat hingga 200% pada saat pandemi, tepatnya Maret 2020.
Bahkan menurut riset pemerintah pada tahun 2021, jumlah startup Edutech di Indonesia telah mencapai sekitar 210. Diprediksi, jumlah Edutech di Indonesia akan terus meningkat hingga 10 tahun ke depan.
Hal tersebut mencerminkan antusiasme masyarakat terhadap inovasi pendidikan ini. Berbagai platform dan startup Edutech yang ada umumnya menyajikan materi pembelajaran, sistem akademik kampus, dan berbagai kebutuhan pendidikan lainnya.
Contoh jenis-jenis edutech di Indonesia
Seiring perkembangan Edutech Indonesia, kini telah muncul berbagai jenis platform Edutech. Masing-masing memiliki peruntukan dan mekanismenya sendiri-sendiri. Adapun beberapa contoh jenisnya, yaitu sebagai berikut:
● Learning Management System (LMS)
Learning Management System (LMS) merupakan sistem yang tidak hanya menyediakan pembelajaran online, tetapi juga membantu dalam perencanaan studi. Umumnya digunakan oleh institusi pendidikan dan individu untuk mengatur kegiatan belajar.
● Software as a Services (SaaS)
Software as a Services (Saas) adalah jenis Edutech yang menawarkan layanan perangkat lunak untuk pembelajaran online di bidang komputer dan perangkat lunak. Seringkali bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang ingin beralih ke ranah digital.
● Massive Open Online Course (MOOC)
Massive Open Online Course (MOOC) adalah metode pembelajaran jarak jauh berskala besar yang memungkinkan pengguna mengakses materi secara gratis dari universitas terkemuka. Ini memberikan akses yang fleksibel kapan saja dan di mana saja
● E-Learning
E-Learning merupakan salah satu jenis pembelajaran daring yang fokus pada penyajian materi secara online. Kontennya dikemas secara interaktif dan dapat mencakup live tutoring, video on demand (VOD), dan lain sebagainya.
● Edutech marketplace
Edutech Marketplace merupakan platform online yang menghubungkan pihak-pihak yang membutuhkan edukasi/training dengan pihak-pihak yang menyediakan jasa edukasi/training. Marketplace ini menawarkan berbagai jasa edukasi/pelatihan baik secara online, offline atau hybrid, di mana jenis pelatihan, syllabus/snapshot dari pelatihan, fasilitator serta informasi lainnya disajikan di platform tersebut oleh pihak pemberi jasa atau pengelola platform untuk menjadi informasi bagi konsumen korporasi atau individu dalam memilih edukasi/training yang mereka butuhkan.
Salah satu contoh platform yang lahir dari inovasi perkembangan Edutech Indonesiadan berhasil bertahan hingga kini adalah PasarTrainer. Di tengah gempuran tech winter yang melanda beberapa startup seperti Zenius (EduTech), JD.ID (e-commerce), TaniHub (e-Grocery), dan beberapa perusahaan lainnya, PasarTrainer masih tetap bertahan.
PasarTrainer merupakan Edutech berupa marketplace live training yang menghadirkan pengalaman pembelajaran langsung secara online maupun offline. Sebagai penyedia pelatihan dengan sistem live training, PasarTrainer memberikan akses kepada para peserta untuk berinteraksi secara langsung dengan para trainer ahli di bidangnya masing-masing secara on-site, termasuk di perusahaan yang butuh program pelatihan.
Sumber: www.detik.com
Lalu, bagaimana PasarTrainer bekerja? Platform ini menghubungkan penyedia program pelatihan (training provider dan trainer individu) dengan klien mereka, baik dari kalangan perusahaan (B2B) maupun individu yang butuh pelatihan (B2C).
PasarTrainer menjadi jembatan yang memudahkan akses dan penyelenggaraan pelatihan sesuai kebutuhan. Selain itu, setiap pelatihan didesain dengan modul yang terkini dan relevan untuk memastikan para peserta mendapatkan pembelajaran yang maksimal.
Jadi, bagi individu yang ingin mengasah keterampilan atau pihak perusahaan yang butuh program pelatihan khusus untuk karyawan, PasarTrainer adalah pilihan yang tepat.
Disadur dari: www.detik.com