Logistik Cerdas dan Pengiriman Last Mile
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 27 Februari 2025
Pendahuluan
Di Nigeria, keterbatasan akses terhadap obat-obatan dan layanan kesehatan menjadi salah satu faktor utama tingginya angka kematian. Last-mile delivery (LMD), atau tahap akhir distribusi, memainkan peran krusial dalam memastikan pasokan medis sampai ke pasien tepat waktu dan dalam kondisi baik. Namun, tantangan logistik yang kompleks sering kali menghambat efisiensi sistem ini.
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor utama yang memengaruhi efisiensi last-mile delivery dalam sektor kesehatan, khususnya di Kaduna State Health Supplies Management Agency (KADSHMA) dan fasilitas kesehatan terkait. Lima variabel utama yang diuji dalam studi ini adalah:
Dengan menggunakan metode Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM), penelitian ini mengevaluasi hubungan antara faktor-faktor tersebut terhadap efisiensi pengiriman di fasilitas kesehatan.
Tantangan dalam Last-Mile Delivery di Sektor Kesehatan
1. Biaya Pengiriman yang Tinggi
2. Keterlambatan dalam Distribusi
3. Kompleksitas dalam Produk Medis
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan data dari KADSHMA dan staf fasilitas kesehatan, dengan total 261 observasi. Metode PLS-SEM digunakan untuk menganalisis hubungan antara faktor-faktor penentu efisiensi LMD.
Temuan Utama: Faktor yang Memengaruhi Efisiensi Last-Mile Delivery
1. Biaya Pengiriman (DC) Positif dan Signifikan
2. Waktu Pengiriman (DT) Berpengaruh Signifikan
3. Mode Pengiriman (MD) Mempengaruhi Efisiensi LMD
4. Teknologi Fasilitas (FT) Meningkatkan Efisiensi
5. Kompleksitas Produk (PM) Berdampak Negatif
Studi Kasus Implementasi Efisiensi LMD di Kaduna
1. Optimalisasi Manajemen Persediaan dan Pengiriman
2. Peningkatan Efisiensi Gudang
Rekomendasi untuk Meningkatkan Efisiensi Last-Mile Delivery
1. Penggunaan Teknologi Digital
✅ Sistem pelacakan berbasis AI dapat meningkatkan efisiensi logistik hingga 30%.
✅ Integrasi data antara fasilitas kesehatan dan pusat distribusi dapat mengurangi kekurangan stok.
2. Pemilihan Mode Transportasi yang Tepat
✅ Motor dan kendaraan kecil lebih efisien untuk daerah perkotaan.
✅ Truk besar lebih sesuai untuk pengiriman dalam jumlah besar ke daerah terpencil.
3. Penyederhanaan Produk dalam Setiap Pengiriman
✅ Mengurangi variasi produk dalam satu pengiriman dapat mengurangi waktu pemrosesan hingga 20%.
Kesimpulan
Penelitian ini mengonfirmasi bahwa efisiensi last-mile delivery sangat dipengaruhi oleh biaya, waktu, mode transportasi, teknologi, dan kompleksitas produk.
✅ Reduksi waktu pengiriman dari 14 hari menjadi 4 hari meningkatkan akses kesehatan di Kaduna.
✅ Akurasi manajemen stok meningkat hingga 98%, menurunkan risiko kedaluwarsa obat dari 5% menjadi 2%.
✅ Penggunaan teknologi pelacakan meningkatkan ketepatan pengiriman hingga 95%.
Peningkatan efisiensi distribusi kesehatan akan menyelamatkan lebih banyak nyawa, terutama di daerah terpencil yang sebelumnya sulit dijangkau.
Sumber Artikel:
Nuraddeen Usman Miko & Usman Abbas (2024). Determinants of efficient last-mile delivery: Evidence from health facilities and Kaduna Health Supplies Management Agency. Journal of Humanitarian Logistics and Supply Chain Management, 14(1), 4-16.
Logistik Cerdas dan Pengiriman Last Mile
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 27 Februari 2025
Pendahuluan
Pesatnya pertumbuhan e-commerce dan urbanisasi meningkatkan urgensi optimasi last-mile delivery (LMD). LMD menyumbang hingga 41% dari total biaya rantai pasok dan menjadi penyebab utama polusi udara akibat tingginya emisi karbon transportasi logistik.
Studi ini membahas strategi optimasi LMD dengan fokus pada keseimbangan efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan. Data dikumpulkan melalui survei pada 20 manajer rantai pasok, 10 pemilik bisnis e-commerce, 30 pelanggan, serta pakar logistik dan keberlanjutan. Studi kasus di Lagos, Nigeria digunakan untuk menganalisis dampak teknologi dan inovasi operasional dalam LMD.
Tantangan dalam Last-Mile Delivery
1. Biaya Operasional yang Tinggi
2. Dampak Lingkungan
3. Ketidakpastian Penerimaan Konsumen
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data kuantitatif dari survei pada pemangku kepentingan logistik di Lagos, Nigeria.
Temuan Utama: Faktor yang Memengaruhi Efisiensi Last-Mile Delivery
1. Efisiensi Biaya dalam LMD
2. Teknologi dan Otomatisasi dalam LMD
3. Preferensi Konsumen dan Perubahan Perilaku
Studi Kasus: Implementasi LMD di Lagos, Nigeria
1. Optimalisasi Manajemen Persediaan
2. Efisiensi Gudang dan Pusat Distribusi
3. Pengurangan Emisi Karbon melalui Teknologi Hijau
Strategi Optimasi Last-Mile Delivery
1. Penerapan Teknologi Digital untuk Rute Efisien
✅ AI dan Big Data membantu memprediksi permintaan dan mengoptimalkan rute pengiriman.
✅ Dynamic routing berbasis IoT mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 30%.
2. Penggunaan Transportasi Berkelanjutan
✅ Motor listrik dan sepeda kargo lebih efisien untuk pengiriman di pusat kota.
✅ Truk listrik lebih cocok untuk pengiriman dalam jumlah besar ke daerah pinggiran.
3. Pengembangan Infrastruktur Pengiriman Alternatif
✅ Parcel lockers dan pick-up points meningkatkan efisiensi pengiriman dan mengurangi kegagalan pengiriman pertama.
✅ Micro-hubs di pusat kota memungkinkan konsolidasi pengiriman untuk menekan biaya dan emisi.
4. Insentif untuk Pengiriman Berkelanjutan
✅ Diskon atau cashback bagi pelanggan yang memilih opsi ramah lingkungan.
✅ Kolaborasi dengan pemerintah untuk insentif pajak bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi hijau.
Kesimpulan
Studi ini mengungkap bahwa optimasi last-mile delivery membutuhkan keseimbangan antara efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan.
✅ Parcel lockers dan pickup points meningkatkan tingkat keberhasilan pengiriman hingga 98%.
✅ Sepeda kargo dan kendaraan listrik menurunkan emisi CO₂ hingga 75%.
✅ Micro-hubs di pusat kota dapat mengurangi lalu lintas logistik hingga 30%.
Dengan strategi yang tepat, bisnis e-commerce dan logistik dapat mengurangi biaya operasional, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan menekan dampak lingkungan.
Sumber Artikel:
Segbenu Zosu et al. (2024). Last-Mile Delivery Optimization: Balancing Cost Efficiency and Environmental Sustainability. International Journal of Emerging Trends in Engineering Research, 12(11), 133-166.
Logistik Cerdas dan Pengiriman Last Mile
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 27 Februari 2025
Pendahuluan
Perkembangan e-commerce dan urbanisasi pesat meningkatkan permintaan akan sistem pengiriman yang lebih cepat dan efisien. Last-mile delivery menjadi tahap paling kritis dalam rantai pasok, dengan tantangan utama seperti biaya tinggi, ketidakefisienan operasional, serta dampak lingkungan yang signifikan.
Namun, definisi last-mile delivery masih beragam di berbagai studi akademik. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan tinjauan literatur sistematis terhadap berbagai definisi last-mile delivery, menganalisis penggunaannya dalam konteks logistik, dan mengusulkan 40 model distribusi untuk meningkatkan efisiensi sistem pengiriman barang.
Tantangan dalam Last-Mile Delivery
1. Biaya Tinggi dan Ketidakefisienan
2. Dampak Lingkungan
3. Variasi Definisi dan Model Distribusi
Metode Penelitian dan Analisis Definisi Last-Mile Delivery
1. Tinjauan Literatur Sistematis
Penelitian ini menganalisis 248 artikel akademik yang membahas last-mile delivery dan menemukan bahwa:
2. Analisis Definisi dan Penggunaan Istilah
Setelah menganalisis 21 definisi utama, penelitian ini menyimpulkan bahwa last-mile delivery merujuk pada tahap terakhir transportasi dalam rantai pasok, dimulai dari titik distribusi terakhir hingga barang diterima oleh pelanggan.
Studi ini juga memperkenalkan definisi baru yang lebih luas, mencakup transaksi B2B (business-to-business), B2C (business-to-consumer), dan C2C (consumer-to-consumer) untuk memastikan pemahaman yang lebih komprehensif.
Pengembangan Model Distribusi Last-Mile Delivery
1. Struktur Distribusi dalam Last-Mile Delivery
Berdasarkan analisis, ada tiga titik utama yang menentukan efisiensi pengiriman:
2. Pengembangan 40 Model Distribusi
Studi ini mengembangkan 40 model distribusi unik berdasarkan kombinasi titik-titik pengiriman tersebut. Beberapa model utama meliputi:
Click-and-collect, di mana pelanggan mengambil barang di toko setelah memesan online, menjadi model yang semakin populer untuk mengurangi beban last-mile delivery.
Studi Kasus: Implementasi Model Last-Mile Delivery
1. Walmart: Optimalisasi Click-and-Collect
2. Amazon: Penggunaan Gudang Mikro untuk Efisiensi Pengiriman
3. DHL: Implementasi Micro-Hubs untuk Pengurangan Emisi
Tantangan dan Rekomendasi dalam Implementasi Model Last-Mile Delivery
1. Biaya Operasional yang Tinggi
Solusi:
2. Dampak Lingkungan
Solusi:
3. Ketidakefisienan dalam Model Distribusi
Solusi:
Kesimpulan
Studi ini menyoroti pentingnya standarisasi definisi last-mile delivery dan menawarkan 40 model distribusi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan logistik.
✅ Tinjauan terhadap 248 artikel mengonfirmasi bahwa "last-mile delivery" adalah istilah yang paling banyak digunakan dalam literatur akademik.
✅ Model distribusi yang mengoptimalkan titik persiapan pesanan, pengiriman akhir, dan penerimaan barang dapat mengurangi biaya hingga 30%.
✅ Penerapan solusi ramah lingkungan seperti kendaraan listrik dan micro-hubs dapat menekan emisi karbon hingga 60%.
Dengan strategi ini, industri logistik dapat mengurangi biaya operasional, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan mengurangi dampak lingkungan dalam jangka panjang.
Sumber Artikel:
Motavallian, J., Rahman, S., & Chan, C. (2024). Last Mile Delivery: A Systematic Literature Review of Definitions and Development of Distribution Network Models. RMIT University, Melbourne.
Logistik Cerdas dan Pengiriman Last Mile
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 27 Februari 2025
Pendahuluan
Dalam industri logistik, tantangan terbesar terletak pada "last-mile delivery" (LMD)—tahap akhir dalam rantai pasok yang menentukan pengalaman pelanggan. LMD menyumbang hingga 41% dari total biaya logistik dan sering kali menjadi faktor utama dalam kepuasan pelanggan.
Penelitian ini membahas strategi pengembangan konsep layanan LMD yang lebih efisien dan berorientasi pada kebutuhan konsumen. Menggunakan studi kasus DHL Express Finland, penelitian ini mengungkap bagaimana perusahaan meningkatkan kualitas layanan, efisiensi operasional, dan kepuasan pelanggan e-commerce.
Tantangan dalam Last-Mile Delivery
1. Ketidakefisienan dalam Proses Pengiriman
2. Perbedaan Persepsi antara Pelanggan dan Perusahaan
3. Tantangan Infrastruktur dan Teknologi
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan service design process dengan metode berikut:
✅ Survei pada 40 pelanggan DHL Express, dengan 23 responden yang memberikan umpan balik mengenai kepuasan layanan.
✅ Wawancara dengan manajer DHL Express Finland mengenai strategi LMD.
✅ Analisis SWOT dan storyboard untuk mengevaluasi kelemahan serta peluang perbaikan.
Hasil Penelitian: Strategi Optimalisasi LMD oleh DHL Express
1. Sistem Notifikasi Real-Time dan Fleksibilitas Waktu Pengiriman
✅ DHL Express menerapkan sistem pemberitahuan otomatis agar pelanggan dapat menjadwalkan ulang pengiriman sesuai waktu yang diinginkan.
✅ Hasilnya, tingkat keberhasilan pengiriman pertama meningkat dari 70% menjadi 82%.
2. Pengembangan Service Points dan Parcel Lockers
✅ DHL meningkatkan jumlah service points sebanyak 15% untuk mempercepat proses pengambilan paket.
✅ Penggunaan parcel lockers memungkinkan pelanggan mengambil paket kapan saja tanpa harus menunggu kurir.
3. Implementasi Kendaraan Listrik untuk Pengiriman Ramah Lingkungan
✅ DHL mengadopsi sepeda kargo dan kendaraan listrik, mengurangi emisi karbon hingga 30% di area perkotaan.
✅ Kombinasi teknologi AI untuk optimasi rute menekan biaya bahan bakar sebesar 20%.
Studi Kasus: Implementasi LMD oleh DHL Express Finland
1. Perubahan dalam Manajemen Operasional
2. Respons Konsumen terhadap Inovasi LMD
Tantangan dan Rekomendasi bagi DHL Express Finland
1. Meningkatkan Efisiensi Waktu Pengiriman
✅ Rekomendasi: Mengembangkan strategi crowdsourced delivery untuk menjangkau pelanggan lebih cepat.
2. Menekan Biaya Operasional Tanpa Mengurangi Kualitas Layanan
✅ Rekomendasi: Mengoptimalkan penggunaan kendaraan listrik untuk area yang lebih luas.
3. Memperluas Infrastruktur LMD
✅ Rekomendasi: Investasi dalam pengembangan micro-hubs di kota-kota besar untuk mempercepat distribusi.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi optimasi LMD yang diterapkan DHL Express Finland mampu meningkatkan kepuasan pelanggan serta menekan biaya operasional.
✅ Keberhasilan pengiriman pertama meningkat dari 70% menjadi 82% berkat sistem notifikasi otomatis.
✅ Penggunaan parcel lockers dan service points mengurangi kegagalan pengiriman hingga 25%.
✅ Implementasi kendaraan listrik mengurangi emisi karbon sebesar 30%.
Melalui inovasi ini, DHL Express Finland berhasil menciptakan sistem LMD yang lebih efisien, fleksibel, dan ramah lingkungan, sekaligus memenuhi ekspektasi pelanggan e-commerce modern.
Sumber Artikel:
Aranko, Jenni. (2013). Developing the Last Mile of a Parcel Delivery Service Concept for Consumers. Laurea University of Applied Sciences, Finland.
Logistik Cerdas dan Pengiriman Last Mile
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 27 Februari 2025
Resensi Paper: Cognitive Smart City Logistics – Solusi Cerdas untuk Last-Mile yang Berkelanjutan
Pendahuluan
Dalam era digitalisasi, logistik kota (city logistics) menghadapi tantangan besar, terutama dalam pengiriman last-mile yang berkontribusi lebih dari 20% total biaya rantai pasok. Selain itu, masalah seperti kemacetan, polusi udara, dan regulasi transportasi semakin menekan efisiensi logistik perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan Cognitive Smart City Logistics (CSCL) sebagai solusi berbasis AI, Digital Twins (DT), dan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi, keberlanjutan, dan ketahanan sistem logistik perkotaan.
Konsep Cognitive Smart City Logistics (CSCL)
CSCL adalah pendekatan inovatif yang menggabungkan Digital Twins (DT), kecerdasan buatan (AI), dan IoT untuk menciptakan ekosistem logistik kota yang lebih efisien. Konsep utama dalam CSCL meliputi:
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus berbasis Digital Twin dan simulasi berbasis AI. Data dikumpulkan dari berbagai sumber untuk menguji efektivitas model CSCL dalam pengelolaan parkir kargo dan optimasi rute distribusi.
Studi Kasus & Hasil Empiris
1. Pengelolaan Parkir Kargo di Paris
2. Optimasi Pengiriman Last-Mile dengan Digital Twin
Tantangan & Solusi Implementasi CSCL
1. Integrasi Sistem Digital
2. Biaya Implementasi yang Tinggi
3. Regulasi dan Kebijakan Kota
Kesimpulan & Rekomendasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa Cognitive Smart City Logistics (CSCL) dapat meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan logistik perkotaan. Untuk adopsi yang lebih luas, perusahaan dan pemerintah perlu:
✅ Mengoptimalkan penggunaan Digital Twin dan AI dalam perencanaan logistik.
✅ Meningkatkan integrasi data real-time untuk visibilitas rantai pasok yang lebih baik.
✅ Mendukung kebijakan smart city yang inklusif dan berbasis data.
Sumber Artikel:
Liu, Yu (2022). Cognitive Smart City Logistics: a new approach for sustainable last mile in the era of digitization. Université Paris Sciences et Lettres.
Logistik Cerdas dan Pengiriman Last Mile
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 27 Februari 2025
Pendahuluan
Persaingan dalam industri logistik semakin ketat, terutama di segmen last-mile delivery yang berperan penting dalam kepuasan pelanggan. Kualitas layanan dan ketepatan waktu menjadi faktor utama yang memengaruhi pengalaman pengguna layanan pengiriman.
Penelitian ini meneliti pengaruh kualitas layanan dan biaya pengiriman terhadap kepuasan pelanggan Lion Parcel Halim Perdana Kusuma Jakarta, dengan menambahkan variabel ketepatan waktu sebagai mediator. Data dikumpulkan dari 139 pelanggan dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Square (PLS).
Tantangan dalam Layanan Pengiriman Lion Parcel
1. Ketidaksesuaian Waktu Pengiriman dengan Bukti Pengiriman
2. Transparansi Informasi dan Pelacakan Paket
3. Pengaruh Biaya Pengiriman terhadap Kepuasan Pelanggan
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode SEM-PLS.
Hasil Penelitian: Faktor yang Memengaruhi Kepuasan Pelanggan
1. Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Ketepatan Waktu (H1 - Signifikan)
✅ Tingkat kualitas layanan yang lebih tinggi meningkatkan ketepatan waktu pengiriman.
✅ Statistik T = 3.842; P-value = 0.000, menunjukkan hubungan yang kuat antara kualitas layanan dan ketepatan waktu.
2. Pengaruh Biaya Pengiriman terhadap Ketepatan Waktu (H2 - Signifikan)
✅ Biaya pengiriman yang lebih tinggi sering kali dikaitkan dengan layanan yang lebih cepat dan tepat waktu.
✅ Tingkat signifikansi: T = 5.600; P-value = 0.000.
3. Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan (H3 - Tidak Signifikan)
⛔ Pelanggan menilai kualitas layanan Lion Parcel masih kurang optimal, sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan.
⛔ Statistik T = 1.443; P-value = 0.149.
4. Pengaruh Biaya Pengiriman terhadap Kepuasan Pelanggan (H4 - Signifikan)
✅ Tingkat biaya pengiriman yang wajar meningkatkan kepuasan pelanggan.
✅ Hasil: T = 2.832; P-value = 0.005.
5. Pengaruh Ketepatan Waktu terhadap Kepuasan Pelanggan (H5 - Signifikan)
✅ Semakin tepat waktu pengiriman, semakin tinggi kepuasan pelanggan.
✅ T = 4.348; P-value = 0.000.
Studi Kasus: Implementasi Strategi Layanan Lion Parcel
1. Upaya Meningkatkan Ketepatan Waktu
2. Inovasi dalam Transparansi dan Biaya Pengiriman
3. Dampak terhadap Kepuasan Pelanggan
Rekomendasi untuk Meningkatkan Kualitas Layanan
1. Optimalisasi Sistem Pengiriman
✅ Menggunakan dynamic routing berbasis AI untuk menghindari keterlambatan.
✅ Menambah jumlah kurir di jam-jam sibuk untuk mempercepat distribusi paket.
2. Meningkatkan Transparansi dan Keandalan Layanan
✅ Menyediakan informasi yang lebih akurat terkait estimasi waktu pengiriman.
✅ Meningkatkan fitur pelacakan paket agar lebih responsif terhadap pertanyaan pelanggan.
3. Menyesuaikan Biaya dengan Standar Layanan
✅ Memberikan opsi pengiriman lebih fleksibel dengan harga variatif sesuai kecepatan layanan.
✅ Meningkatkan layanan ekspres dengan jaminan waktu yang lebih ketat.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketepatan waktu menjadi faktor utama yang memengaruhi kepuasan pelanggan Lion Parcel.
✅ Ketepatan waktu pengiriman memiliki dampak signifikan terhadap kepuasan pelanggan (P-value = 0.000).
✅ Kualitas layanan berpengaruh terhadap ketepatan waktu tetapi tidak langsung terhadap kepuasan pelanggan.
✅ Biaya pengiriman yang kompetitif meningkatkan kepuasan pelanggan secara signifikan.
Dengan memperbaiki ketepatan waktu dan transparansi layanan, Lion Parcel dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan daya saingnya dalam industri logistik.
Sumber Artikel:
Ricardianto, Prasadja, Indra Adhitya Kurniawan, Ikawati Ikawati, Tri Gutomo, Eduard Alfian Syamsa Sijabat, Anisa Mahadita, I Gusti Ngurah Agung Eka Teja Kusuma, Tateki Yoga Tursilarini, Sri Yuni Murtiwidayanti, Endri Endri. (2023). Service quality and timeliness: Empirical evidence on the parcel delivery service in Indonesia. Uncertain Supply Chain Management, 11(2023), 1645–1656.