Analisis Definisi dan Pengembangan Model Last-Mile Delivery untuk Efisiensi Logistik

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati

27 Februari 2025, 09.28

pixabay.com

Pendahuluan

Perkembangan e-commerce dan urbanisasi pesat meningkatkan permintaan akan sistem pengiriman yang lebih cepat dan efisien. Last-mile delivery menjadi tahap paling kritis dalam rantai pasok, dengan tantangan utama seperti biaya tinggi, ketidakefisienan operasional, serta dampak lingkungan yang signifikan.

Namun, definisi last-mile delivery masih beragam di berbagai studi akademik. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan tinjauan literatur sistematis terhadap berbagai definisi last-mile delivery, menganalisis penggunaannya dalam konteks logistik, dan mengusulkan 40 model distribusi untuk meningkatkan efisiensi sistem pengiriman barang.

Tantangan dalam Last-Mile Delivery

1. Biaya Tinggi dan Ketidakefisienan

  • Last-mile delivery menyumbang 50% dari total biaya logistik e-commerce, terutama karena banyak kendaraan yang beroperasi dengan kapasitas tidak penuh.
  • Kegagalan pengiriman pertama menyebabkan 10% dari total paket dikembalikan atau dikirim ulang, meningkatkan biaya operasional.

2. Dampak Lingkungan

  • 25% dari total emisi COâ‚‚ transportasi di kota berasal dari kendaraan pengiriman barang.
  • Peningkatan lalu lintas kendaraan logistik memperburuk kemacetan di pusat kota.

3. Variasi Definisi dan Model Distribusi

  • Berbagai istilah seperti last-mile logistics, last-mile supply chain, dan last-kilometer freight digunakan dalam studi yang berbeda, menciptakan ambiguitas dalam perencanaan logistik.
  • Belum ada konsensus mengenai model distribusi terbaik untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan pengiriman barang di kota.

Metode Penelitian dan Analisis Definisi Last-Mile Delivery

1. Tinjauan Literatur Sistematis

Penelitian ini menganalisis 248 artikel akademik yang membahas last-mile delivery dan menemukan bahwa:

  • 44 artikel menggunakan istilah "last-mile delivery" sebagai frasa utama.
  • 20 artikel menggunakan "last-mile logistics", sementara istilah lain seperti last-mile problem dan last-mile distribution muncul dalam lebih sedikit studi.

2. Analisis Definisi dan Penggunaan Istilah

Setelah menganalisis 21 definisi utama, penelitian ini menyimpulkan bahwa last-mile delivery merujuk pada tahap terakhir transportasi dalam rantai pasok, dimulai dari titik distribusi terakhir hingga barang diterima oleh pelanggan.

Studi ini juga memperkenalkan definisi baru yang lebih luas, mencakup transaksi B2B (business-to-business), B2C (business-to-consumer), dan C2C (consumer-to-consumer) untuk memastikan pemahaman yang lebih komprehensif.

Pengembangan Model Distribusi Last-Mile Delivery

1. Struktur Distribusi dalam Last-Mile Delivery

Berdasarkan analisis, ada tiga titik utama yang menentukan efisiensi pengiriman:

  • Titik Persiapan Pesanan (Order Preparation Point) – Tempat barang disiapkan sebelum dikirim, seperti pabrik atau gudang.
  • Titik Pengiriman Akhir (Last Dispatch Point) – Lokasi terakhir sebelum barang dikirim ke pelanggan, bisa berupa pusat distribusi atau toko ritel.
  • Titik Penerimaan Barang (Delivery Point) – Lokasi di mana pelanggan menerima barang, baik melalui pengiriman langsung atau pengambilan di lokasi tertentu.

2. Pengembangan 40 Model Distribusi

Studi ini mengembangkan 40 model distribusi unik berdasarkan kombinasi titik-titik pengiriman tersebut. Beberapa model utama meliputi:

  • Model 14: Pabrik → Pusat Distribusi → Toko → Konsumen
  • Model 32: Pabrik → Gudang → Toko → Konsumen (Click and Collect)
  • Model 38: Toko → Pusat Distribusi → Gudang → Konsumen

Click-and-collect, di mana pelanggan mengambil barang di toko setelah memesan online, menjadi model yang semakin populer untuk mengurangi beban last-mile delivery.

Studi Kasus: Implementasi Model Last-Mile Delivery

1. Walmart: Optimalisasi Click-and-Collect

  • Walmart menerapkan Model 32, memungkinkan pelanggan mengambil pesanan online di toko fisik.
  • Model ini mengurangi biaya pengiriman hingga 30% dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.

2. Amazon: Penggunaan Gudang Mikro untuk Efisiensi Pengiriman

  • Amazon mengadopsi Model 38, di mana pesanan dikirim ke gudang mikro sebelum didistribusikan ke pelanggan.
  • Pendekatan ini memungkinkan pengiriman dalam waktu 2 jam untuk pelanggan Amazon Prime.

3. DHL: Implementasi Micro-Hubs untuk Pengurangan Emisi

  • DHL menggunakan sepeda kargo listrik dan micro-hubs untuk mengurangi 60% emisi karbon dibandingkan dengan pengiriman van diesel.

Tantangan dan Rekomendasi dalam Implementasi Model Last-Mile Delivery

1. Biaya Operasional yang Tinggi

Solusi:

  • Mengoptimalkan rute pengiriman dengan AI dan big data untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan waktu tempuh.
  • Menggunakan insentif bagi pelanggan yang memilih opsi pickup points atau parcel lockers untuk mengurangi jumlah pengiriman gagal.

2. Dampak Lingkungan

Solusi:

  • Menggunakan kendaraan listrik dan sepeda kargo untuk mengurangi jejak karbon.
  • Menerapkan pusat distribusi mikro untuk mengurangi perjalanan kendaraan besar ke pusat kota.

3. Ketidakefisienan dalam Model Distribusi

Solusi:

  • Mengadopsi model click-and-collect untuk mengurangi beban pengiriman langsung ke rumah.
  • Menerapkan sistem crowdsourcing logistics seperti Amazon Flex untuk memanfaatkan kapasitas pengiriman yang lebih fleksibel.

Kesimpulan

Studi ini menyoroti pentingnya standarisasi definisi last-mile delivery dan menawarkan 40 model distribusi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan logistik.

✅ Tinjauan terhadap 248 artikel mengonfirmasi bahwa "last-mile delivery" adalah istilah yang paling banyak digunakan dalam literatur akademik.
✅ Model distribusi yang mengoptimalkan titik persiapan pesanan, pengiriman akhir, dan penerimaan barang dapat mengurangi biaya hingga 30%.
✅ Penerapan solusi ramah lingkungan seperti kendaraan listrik dan micro-hubs dapat menekan emisi karbon hingga 60%.

Dengan strategi ini, industri logistik dapat mengurangi biaya operasional, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan mengurangi dampak lingkungan dalam jangka panjang.

Sumber Artikel:

Motavallian, J., Rahman, S., & Chan, C. (2024). Last Mile Delivery: A Systematic Literature Review of Definitions and Development of Distribution Network Models. RMIT University, Melbourne.