Teknik Lingkungan
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Pencemaran air
Pencemaran air, yang terjadi ketika badan air seperti danau, sungai, atau laut terkontaminasi oleh bahan-bahan yang merugikan, seringkali disebabkan oleh aktivitas manusia. Pencemaran ini biasanya disebabkan oleh pembuangan limbah, kegiatan industri, pertanian, dan air hujan yang merembes ke dalam sistem perairan. Dampaknya bisa sangat merugikan, termasuk kerusakan ekosistem perairan dan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air yang tercemar. Selain itu, polusi air juga mengurangi kemampuan ekosistem dalam menyediakan layanan vital seperti air minum.
Ada dua jenis sumber pencemaran air: sumber titik dan sumber non-titik. Sumber titik, seperti saluran pembuangan limbah atau tumpahan minyak, memiliki satu sumber yang jelas. Sementara itu, sumber non-titik, seperti limpasan pertanian, lebih tersebar. Polusi air dapat berasal dari berbagai zat beracun seperti logam, plastik, pestisida, atau limbah industri, serta kondisi stres seperti perubahan pH, hipoksia, atau masuknya organisme patogen.
Untuk mengendalikan pencemaran air, diperlukan infrastruktur yang memadai, rencana pengelolaan yang efektif, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Solusi teknologi seperti peningkatan sanitasi, pengolahan limbah, pengolahan air limbah industri, atau pengendalian limpasan perkotaan dapat membantu mengurangi dampak pencemaran air dan menjaga kualitas air yang lebih baik.
Definisi
Pencemaran air secara praktis dapat dijelaskan sebagai penambahan zat atau bentuk energi ke dalam badan air yang mengubah sifatnya sehingga tidak dapat lagi digunakan dengan tepat. Hal ini sering disebabkan oleh kontaminan yang berasal dari aktivitas manusia, membuat air tidak layak untuk keperluan seperti konsumsi atau dukungan bagi kehidupan biotik, seperti ikan. Dengan kata lain, air dianggap tercemar ketika terdapat zat-zat yang merugikan bagi kualitasnya, mengurangi kemampuan air tersebut untuk mendukung kehidupan atau digunakan oleh manusia untuk keperluan tertentu.
Kontaminan
Kontaminan yang berasal dari limbah
Beberapa senyawa dapat masuk ke dalam tubuh air melalui limbah yang belum diolah atau yang sudah diolah sebelumnya. Ini mencakup senyawa kimia yang dapat ditemukan dalam produk kebersihan pribadi dan kosmetik. Selain itu, produk sampingan dari proses disinfeksi kimia pada air minum juga dapat berperan, meskipun bahan kimia tersebut cenderung menguap dan jarang ditemukan di lingkungan air. Hormon dari peternakan dan sisa-sisa dari metode kontrasepsi hormonal manusia, bersama dengan bahan sintetis seperti ftalat yang meniru cara kerja hormon, juga dapat mencemari air. Ancaman potensialnya tidak hanya bagi makhluk hidup di alam, tetapi juga bagi manusia jika air tersebut digunakan untuk kebutuhan seperti air minum. Insektisida dan herbisida, yang sering kali berasal dari aliran air yang berasal dari pertanian, juga merupakan pencemar yang umum di badan air. Jika pencemaran air berasal dari limbah kota, unsur utamanya meliputi padatan yang terlarut, bahan organik yang dapat terurai, unsur hara, dan organisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit.
Patogen
Kelompok utama organisme patogen yang ditemukan dalam air meliputi bakteri, virus, protozoa, dan cacing. Dalam praktiknya, karena deteksi langsung organisme patogen dalam sampel air sulit dan mahal, digunakanlah organisme indikator untuk menyelidiki kemungkinan pencemaran patogen. Organisme indikator ini, yang umumnya berasal dari feses, mencakup total coliform (TC), fecal coliform (FC), atau coliform termotoleran, serta bakteri E. coli.
Organisme patogen dapat menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air, baik pada manusia maupun hewan. Beberapa mikroorganisme yang sering ditemukan dalam perairan yang terkontaminasi dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan manusia antara lain Burkholderia pseudomallei, Cryptosporidium parvum, Giardia lamblia, Salmonella, norovirus, dan jenis virus lainnya, serta cacing parasit seperti Schistosoma.
Sumber tinggi patogen dalam badan air bisa berasal dari berbagai faktor, termasuk kotoran manusia akibat praktek buang air besar sembarangan, limbah domestik, blackwater, atau kotoran ternak yang mencemari sumber air. Penyebab lainnya bisa terkait dengan kekurangan sanitasi, kurangnya fungsi sistem sanitasi seperti tangki septik atau jamban, pengolahan limbah yang tidak memadai, limpahan saluran pembuangan sanitasi, serta luapan saluran pembuangan gabungan (CSO) saat hujan deras, dan praktek pertanian intensif yang tidak terkelola dengan baik.
Senyawa organik
Zat organik yang memasuki badan air sering kali berbahaya. Ini termasuk hidrokarbon dari minyak bumi seperti bensin, solar, dan pelumas mesin, serta sisa-sisa pembakaran bahan bakar yang bisa berasal dari tumpahan minyak atau air hujan. Senyawa organik yang mudah menguap, seperti pelarut industri yang tidak disimpan dengan benar, juga menjadi masalah. Contohnya adalah organoklorida seperti PCB dan trikloretilen, yang merupakan pelarut yang umum digunakan. Ada juga zat per- dan polifluoroalkil (PFAS) yang merupakan polutan organik yang persisten dan dapat memberikan dampak yang berkelanjutan pada lingkungan air.
Kontaminan anorganik
Pencemar air anorganik termasuk berbagai zat, seperti amonia dari limbah pengolahan makanan dan logam berat yang berasal dari kendaraan bermotor, yang bisa masuk ke dalam air melalui limpasan air hujan perkotaan atau melalui drainase asam tambang. Selain itu, terdapat juga pencemar seperti nitrat dan fosfat yang berasal dari limbah industri dan pertanian, yang dapat menyebabkan polusi nutrisi di air. Lumpur atau sedimen yang terbawa dalam aliran air dari lokasi konstruksi, pembuangan limbah, penebangan, atau praktik tebang dan bakar juga bisa menjadi pencemar. Garam juga merupakan salah satu pencemar, dengan proses salinisasi air tawar yang dapat mencemari ekosistem air tawar. Salinisasi ini sering disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti penggunaan garam jalan untuk menghilangkan es di jalan, yang dikenal sebagai salinisasi sekunder.
Polutan farmasi
Dampak lingkungan dari obat-obatan dan produk perawatan pribadi (PPCP) telah menjadi fokus penelitian sejak tahun 1990-an. PPCP mencakup beragam zat yang digunakan oleh individu untuk kesehatan pribadi, kecantikan, serta oleh industri agrobisnis untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan ternak. Setiap tahun, lebih dari dua puluh juta ton PPCP diproduksi secara global. Uni Eropa bahkan telah mengklasifikasikan residu farmasi sebagai "zat prioritas" yang berpotensi mencemari air dan tanah.
PPCP telah terdeteksi di perairan di seluruh dunia, menimbulkan kekhawatiran akan risiko toksisitas, persistensi, dan bioakumulasi. Meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut, data saat ini menunjukkan bahwa produk perawatan pribadi berdampak negatif pada lingkungan dan berbagai spesies, termasuk terumbu karang dan ikan. PPCP juga mencakup polutan farmasi persisten lingkungan (EPPP) dan merupakan salah satu jenis polutan organik persisten. Mereka tidak terurai oleh instalasi pengolahan limbah konvensional dan memerlukan proses pengolahan yang lebih lanjut.
Studi terbaru pada tahun 2022 mengenai pencemaran farmasi di sungai-sungai di seluruh dunia menemukan bahwa ini merupakan ancaman serius bagi kesehatan lingkungan dan manusia di lebih dari seperempat lokasi yang diteliti. Penelitian ini melibatkan 1.052 lokasi sampel di 258 sungai di 104 negara, yang mencakup populasi sekitar 470 juta orang. Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah dengan infrastruktur air limbah dan pengelolaan limbah yang buruk, terutama di negara-negara berpendapatan rendah hingga menengah, cenderung menjadi yang paling terkontaminasi. Polutan farmasi yang paling sering terdeteksi dan terkonsentrasi meliputi berbagai obat farmasi dan metabolitnya, seperti antidepresan, antibiotik, dan pil kontrasepsi, serta metabolisme obat-obatan terlarang seperti metamfetamin dan ekstasi.
Limbah padat dan plastik
Limbah padat bisa mencemari badan air melalui berbagai jalur, termasuk limbah yang tidak diolah, luapan saluran selokan, air hujan yang mengalir dari permukaan perkotaan, pembuangan sampah sembarangan oleh manusia, serta angin yang membawa limbah padat dari tempat pembuangan sampah. Akibatnya, selain polusi makroskopis yang terlihat jelas, juga terjadi pencemaran mikroplastik yang seringkali tidak terlihat secara langsung. Istilah seperti sampah laut dan polusi plastik laut sering digunakan untuk merujuk pada kondisi pencemaran lautan.
Mikroplastik memiliki ketahanan yang tinggi dalam lingkungan, terutama di ekosistem perairan dan laut, sehingga menyebabkan pencemaran air. Sekitar 35% dari seluruh mikroplastik di laut berasal dari tekstil atau pakaian, terutama karena erosi yang terjadi pada pakaian berbahan poliester, akrilik, atau nilon, terutama selama proses pencucian.
Air hujan, limbah yang tidak diolah, dan angin merupakan jalur utama di mana mikroplastik berpindah dari darat ke laut. Bahan seperti kain sintetis, ban bekas, dan debu kota merupakan sumber utama mikroplastik. Ketiga sumber ini, secara kolektif, berkontribusi lebih dari 80% terhadap kontaminasi mikroplastik.
Jenis pencemaran air permukaan
Pencemaran air permukaan merujuk pada pencemaran sungai, danau, dan laut, yang sering kali dipengaruhi oleh limbah manusia dari berbagai sumber, termasuk limbah industri, pertanian, dan pemukiman, serta partikel dan organisme invasif. Salah satu aspek dari pencemaran air permukaan adalah pencemaran laut, yang berdampak pada ekosistem laut. Polusi nutrisi adalah jenis pencemaran yang diakibatkan oleh masukan nutrisi yang berlebihan ke dalam badan air, seperti nitrogen dan fosfor, yang sering kali mengakibatkan eutrofikasi air permukaan. Kurangnya sanitasi yang dikelola dengan baik merupakan salah satu penyebab utama pencemaran air, yang terjadi misalnya melalui praktik buang air besar sembarangan saat banjir atau hujan, yang mengakibatkan kotoran manusia mencemari air permukaan.
Pencemaran laut terjadi ketika bahan-bahan kimia atau limbah manusia, seperti limbah industri, pertanian, dan pemukiman, masuk ke laut dan menyebabkan dampak negatif pada lingkungan dan organisme hidup di sana. Mayoritas limbah ini berasal dari aktivitas di daratan, seperti pembuangan limbah dan sungai, tetapi transportasi laut juga berkontribusi signifikan. Pencemaran ini bisa berupa berbagai zat kimia dan sampah yang berasal dari daratan dan dibawa oleh air atau angin ke laut. Polusi ini merusak lingkungan, kesehatan organisme hidup, dan ekonomi global. Sumber-sumber polusi non-titik, seperti limpasan pertanian dan debu yang tertiup angin, juga berperan dalam memperburuk kondisi laut.
Polusi nutrisi adalah bentuk pencemaran air yang disebabkan oleh masukan unsur hara yang berlebihan, seperti nitrogen dan fosfor, yang sering kali menyebabkan eutrofikasi air permukaan, pertumbuhan alga berlebihan, dan gangguan lingkungan lainnya. Polusi termal, yang disebabkan oleh peningkatan suhu air akibat pengaruh manusia, juga dapat berdampak negatif pada ekosistem air. Ini dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen di air, perubahan dalam komposisi rantai makanan, serta masuknya spesies ikan baru yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Organisme invasif perairan juga dapat menjadi penyebab pencemaran biologis yang merugikan bagi lingkungan air.
Pencemaran air tanah
Pencemaran air tanah, yang juga dikenal sebagai kontaminasi air tanah, terjadi ketika zat pencemar masuk ke dalam tanah dan akhirnya mencemari air tanah. Pencemaran semacam ini dapat disebabkan oleh tindakan manusia, seperti pembuangan limbah, lindi TPA, dan limbah dari instalasi pengolahan air limbah, serta bocornya saluran pembuangan atau stasiun pengisian bahan bakar. Selain itu, penggunaan pupuk yang berlebihan di bidang pertanian juga dapat menyebabkan pencemaran air tanah. Kontaminasi air tanah juga bisa terjadi secara alami karena adanya kontaminan alami seperti arsenik atau fluorida. Penggunaan air tanah yang tercemar membawa risiko kesehatan masyarakat karena bisa menyebabkan keracunan atau penyebaran penyakit.
Pencemaran air tanah merupakan ancaman serius bagi kesejahteraan manusia dan ekosistem di banyak wilayah di dunia. Sebagian besar populasi dunia bergantung pada air tanah sebagai sumber air minum, namun, pengisian ulang yang tidak terkendali dapat membawa kontaminan ke dalam akuifer karbonat dan mengancam kemurnian air. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan air tanah sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Dampak
Pencemaran air merupakan masalah global yang serius karena dapat menyebabkan kerusakan pada seluruh ekosistem perairan, baik itu perairan tawar, pesisir, maupun laut. Kontaminan yang menjadi penyebab pencemaran air meliputi berbagai jenis bahan kimia, patogen, dan perubahan fisik seperti peningkatan suhu. Meskipun beberapa bahan kimia mungkin terbentuk secara alami, seperti kalsium, natrium, dan besi, konsentrasi yang tinggi dari zat-zat tersebut dapat berdampak negatif pada flora dan fauna perairan. Beberapa zat bahkan dapat mengurangi kadar oksigen di dalam air, baik berasal dari bahan alami seperti tumbuhan maupun bahan kimia buatan manusia. Selain itu, keberadaan kontaminan alami dan antropogenik juga dapat menyebabkan kekeruhan air, yang dapat menghalangi cahaya dan mengganggu pertumbuhan tanaman air serta mengganggu pernafasan bagi beberapa spesies ikan.
Pencemaran air juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, dengan penyebaran penyakit pencernaan dan infeksi parasit yang sering kali terjadi akibat air yang terkontaminasi. Paparan terus-menerus terhadap polutan melalui air juga meningkatkan risiko terkena kanker dan berbagai penyakit lainnya.
Selain itu, pencemaran nitrogen dapat menyebabkan eutrofikasi, terutama di danau, yang merupakan peningkatan konsentrasi nutrisi dalam ekosistem perairan. Hal ini dapat mengakibatkan pertumbuhan mikroorganisme yang berlebihan, seperti alga dan bakteri, yang pada akhirnya menghabiskan oksigen dalam air dan menyebabkan berkurangnya kualitas air serta bahaya bagi populasi ikan dan hewan lainnya. Eutrofikasi yang disebabkan oleh polusi manusia merupakan proses yang cepat dan dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang parah.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Lingkungan
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Pemurnian air
Pemurnian air adalah proses penting untuk menghilangkan bahan kimia yang tidak diinginkan, kontaminan biologis, padatan tersuspensi, dan gas dari air. Tujuannya adalah agar air menjadi layak untuk digunakan dalam berbagai keperluan, terutama sebagai air minum untuk manusia. Namun, pemurnian air juga diperlukan untuk aplikasi medis, farmakologi, kimia, dan industri. Proses pemurnian air telah berkembang seiring waktu, melibatkan metode fisik seperti filtrasi, sedimentasi, dan distilasi, serta metode biologis seperti filter pasir lambat atau karbon aktif biologis. Proses kimia seperti flokulasi dan klorinasi juga digunakan, begitu pula dengan penggunaan radiasi elektromagnetik seperti sinar ultraviolet.
Pemurnian air bertujuan untuk mengurangi konsentrasi materi partikulat dan kontaminan lainnya seperti parasit, bakteri, alga, virus, dan jamur, serta mengurangi konsentrasi materi terlarut dan partikulat lainnya. Standar kualitas air minum biasanya ditetapkan oleh pemerintah atau standar internasional, yang mencakup konsentrasi kontaminan minimum dan maksimum sesuai dengan penggunaan air tersebut.
Namun, hanya dengan inspeksi visual saja tidak cukup untuk menentukan kualitas air. Proses sederhana seperti merebus atau menggunakan filter karbon aktif di rumah tangga mungkin tidak cukup untuk menghilangkan semua kontaminan yang mungkin ada dalam air dari sumber yang tidak diketahui. Oleh karena itu, analisis kimia dan mikrobiologi, meskipun mahal, adalah satu-satunya cara untuk memastikan kualitas air dan memutuskan metode pemurnian yang tepat.
Sumber Air
Dalam proses pemurnian air, ada berbagai sumber air yang perlu dipertimbangkan, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda. Pertama, air tanah yang berasal dari dalam bumi seringkali memiliki kualitas bakteriologis yang tinggi, namun dapat kaya akan padatan terlarut seperti karbonat dan sulfat kalsium dan magnesium. Meskipun sering tidak memerlukan banyak pengolahan, penyesuaian tertentu mungkin diperlukan tergantung pada kandungan mineral yang spesifik. Sumber air lainnya adalah danau dan waduk di dataran tinggi, yang biasanya memiliki tingkat bakteri dan patogen yang rendah, meskipun beberapa bakteri, protozoa, atau alga mungkin hadir.
Penyesuaian pH kadang-kadang diperlukan terutama di daerah dengan vegetasi tertentu. Di sisi lain, air permukaan di daerah dataran rendah seperti sungai, kanal, dan waduk cenderung lebih terkontaminasi dengan bakteri, alga, padatan tersuspensi, dan unsur terlarut lainnya. Ada juga teknologi pembangkitan air atmosferik yang mengekstraksi air dari udara, memberikan sumber air minum berkualitas tinggi dengan mendinginkan udara dan mengembunkan uap air. Metode lain seperti pemanenan air hujan atau pengumpulan kabut cocok untuk daerah-daerah dengan musim kemarau panjang atau daerah yang sering dilanda kabut meskipun curah hujannya rendah. Terakhir, proses desalinasi air laut menggunakan distilasi atau reverse osmosis untuk mengubah air laut menjadi air tawar yang layak konsumsi. Penting untuk memilih sumber air yang tepat dan proses pemurnian yang sesuai untuk memastikan kualitas air yang aman dan sehat untuk digunakan dalam berbagai aplikasi.
Perlakuan
Sasaran
Tujuan dari proses pengolahan air adalah untuk menghilangkan berbagai unsur yang tidak diinginkan dalam air, sehingga menjadikannya aman untuk diminum atau digunakan dalam berbagai aplikasi industri atau medis. Ada berbagai teknik yang tersedia untuk menghilangkan kontaminan seperti padatan halus, mikroorganisme, bahan anorganik dan organik terlarut, serta polutan farmasi yang mungkin persisten di lingkungan sekitar. Pemilihan metode pengolahan air bergantung pada kualitas air mentah yang akan diolah, biaya proses pengolahan, dan standar kualitas yang diharapkan dari air hasil olahan.
Proses-proses umum yang sering digunakan dalam pabrik pemurnian air mencakup penyaringan, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Penyaringan digunakan untuk menghilangkan partikel-partikel kasar dari air, sedangkan koagulasi dan flokulasi membantu menggumpalkan partikel-partikel halus agar lebih mudah diendapkan. Setelah itu, air diamkan dalam tangki sedimentasi di mana partikel-partikel yang telah mengendap akan dipisahkan dari air. Langkah terakhir adalah filtrasi, di mana air melewati lapisan filter tambahan untuk menghilangkan partikel-partikel kecil yang tersisa. Meskipun beberapa proses mungkin tidak selalu diterapkan tergantung pada skala pabrik dan kualitas air mentah yang digunakan, langkah-langkah tersebut secara umum membentuk inti dari proses pemurnian air yang efektif.
Perawatan awal
Perawatan awal air sebelum proses pemurnian meliputi beberapa langkah penting:
Pemompaan dan Penahanan: Air biasanya dipompa dari sumbernya atau dialirkan ke pipa atau tangki penampung. Infrastruktur fisik harus dirancang dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi yang tidak disengaja.
Penyaringan: Langkah pertama dalam pemurnian air permukaan adalah menghilangkan kotoran besar seperti batang, daun, sampah, dan partikel besar lainnya yang dapat mengganggu proses pemurnian berikutnya. Meskipun sebagian besar air tanah dalam tidak memerlukan penyaringan tambahan.
Penyimpanan: Air dari sungai dapat disimpan di waduk tepi sungai untuk jangka waktu tertentu agar pemurnian biologis alami dapat terjadi. Waduk penyimpanan juga berfungsi sebagai penyangga terhadap kekeringan jangka pendek atau pencemaran sementara di sungai sumber.
Pra-klorinasi: Beberapa pabrik menggunakan pra-klorinasi, yaitu pemberian klorin pada air masuk untuk mengurangi pertumbuhan organisme pengotor di pipa dan tangki. Namun, penggunaan klorin dapat memiliki dampak negatif terhadap kualitas air dan praktik ini telah dikurangi seiring berjalannya waktu.
Penyesuaian pH
Air murni memiliki pH mendekati 7, menunjukkan sifat netralnya, sedangkan air laut cenderung memiliki pH yang sedikit basa, berkisar antara 7,5 hingga 8,4. pH air tawar bervariasi tergantung pada karakteristik geologi cekungan drainase atau akuifer, serta pengaruh kontaminan seperti hujan asam. Untuk mengatasi air yang bersifat asam (pH di bawah 7), berbagai bahan seperti kapur, soda abu, atau natrium hidroksida dapat ditambahkan selama proses pemurnian untuk menaikkan pH. Penambahan kapur meningkatkan kesadahan air dengan meningkatkan konsentrasi ion kalsium. Pada air sangat asam, penggunaan degasifier dengan aliran paksa dapat efektif untuk meningkatkan pH dengan menghilangkan karbon dioksida terlarut dari air.
Menjadikan air bersifat basa membantu dalam proses koagulasi dan flokulasi, serta membantu mengurangi risiko larutnya timbal dari pipa timbal atau solder timbal pada pipa. Keberadaan alkalinitas yang cukup juga dapat mengurangi sifat korosif air terhadap pipa besi. Di sisi lain, dalam beberapa situasi, seperti untuk menurunkan pH, asam seperti asam karbonat, asam klorida, atau asam sulfat dapat ditambahkan ke dalam air yang bersifat basa. Namun, air yang bersifat alkali (pH di atas 7,0) tidak menjamin bahwa logam seperti timbal atau tembaga tidak akan larut ke dalam air. Kemampuan air untuk mengendapkan kalsium karbonat, yang melindungi permukaan logam dan mengurangi kemungkinan terlarutnya logam beracun, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pH, mineral, suhu, alkalinitas, dan konsentrasi kalsium.
Koagulasi dan Flokulasi
Salah satu langkah awal dalam proses pemurnian air konvensional adalah penambahan bahan kimia untuk membantu menghilangkan partikel yang tersuspensi dalam air, baik yang bersifat anorganik seperti tanah liat dan lanau, maupun organik seperti alga, bakteri, virus, protozoa, dan bahan organik alami. Partikel ini berkontribusi pada kekeruhan dan warna air.
Koagulan anorganik seperti aluminium sulfat atau garam besi (III) seperti besi (III) klorida ditambahkan untuk menyebabkan interaksi kimia dan fisik pada partikel. Dalam hitungan detik, muatan negatif pada partikel dinetralkan oleh koagulan anorganik, sementara endapan logam hidroksida dari ion besi dan aluminium mulai terbentuk. Endapan ini bergabung menjadi partikel yang lebih besar melalui proses alami seperti gerak Brown dan flokulasi. Flok tersebut menyerap dan menjerat partikel dalam suspensi, memfasilitasi penghilangan partikel melalui proses sedimentasi dan filtrasi selanjutnya.
Pembentukan aluminium hidroksida biasanya terjadi dalam kisaran pH antara 5,5 hingga sekitar 7,7, sementara besi (III) hidroksida dapat terbentuk pada kisaran pH yang lebih luas, termasuk tingkat pH yang lebih rendah daripada yang efektif untuk tawas, yaitu antara 5,0 hingga 8,5.
Proses koagulasi dan flokulasi seringkali terjadi setelah penambahan koagulan garam logam anorganik diikuti oleh flokulasi yang melibatkan perangkat pencampur lembut. Polimer organik, seperti PolyDADMAC, digunakan sebagai bahan pembantu koagulasi atau pengganti koagulan garam logam anorganik. Ketika polimer organik ditambahkan ke dalam air yang mengandung partikulat, senyawa dengan berat molekul tinggi ini teradsorpsi ke permukaan partikel dan membantu membentuk flok dengan menghubungkan antarpartikel.
Pengendapan
Air yang mengalir keluar dari cekungan flokulasi masuk ke dalam cekungan sedimentasi, juga dikenal sebagai clarifier atau sedimentasi. Tangki ini memiliki kecepatan air yang rendah, memungkinkan flok untuk mengendap di dasar. Idealnya, cekungan sedimentasi ditempatkan dekat dengan cekungan flokulasi untuk mencegah pengendapan atau pecahnya flok selama transit antara kedua proses tersebut. Bentuk cekungan sedimentasi dapat beragam, baik persegi panjang dengan aliran dari ujung ke ujung, maupun melingkar dengan aliran dari pusat ke arah luar. Aliran keluar dari bak sedimentasi biasanya terjadi di atas bendungan untuk memastikan hanya lapisan atas air yang keluar, yang terjauh dari lumpur.
Allen Hazen pada tahun 1904 menunjukkan bahwa efisiensi proses sedimentasi bergantung pada kecepatan pengendapan partikel, aliran melalui tangki, dan luas permukaan tangki. Tangki sedimentasi biasanya dirancang dengan laju luapan berkisar antara 0,5 hingga 1,0 galon per menit per kaki persegi (atau 1250 hingga 2500 liter per meter persegi per jam). Meskipun efisiensi tidak tergantung pada waktu penahanan atau kedalaman, kedalaman cekungan harus mencukupi agar arus air tidak mengganggu lumpur dan mendorong interaksi partikel yang mengendap. Waktu penahanan sedimentasi berkisar antara 1,5 hingga 4 jam dengan kedalaman cekungan 10 hingga 15 kaki.
Clarifier Lamella, yang terdiri dari pelat atau tabung datar miring, dapat ditambahkan ke bak sedimentasi tradisional untuk meningkatkan kinerja penghilangan partikel dengan memperluas luas permukaan. Clarifier Lamella memungkinkan pengurangan luas permukaan tanah yang ditempati oleh cekungan sedimentasi, yang dapat mengurangi ukuran instalasi secara keseluruhan.
Selama partikel mengendap, lapisan lumpur terbentuk di dasar bak sedimentasi dan perlu dibuang dan diolah. Volume lumpur yang dihasilkan biasanya mencapai 3 hingga 5 persen dari total volume air yang diolah. Proses pengolahan dan pembuangan lumpur dapat memiliki dampak signifikan pada biaya operasional instalasi pengolahan air. Bak sedimentasi dapat dilengkapi dengan alat pembersih mekanis atau dibersihkan secara manual secara berkala.
Salah satu subkategori sedimentasi adalah klarifikasi selimut flok, di mana partikel terperangkap dalam lapisan flok tersuspensi saat air didorong ke atas. Meskipun menempati tapak yang lebih kecil, efisiensi penghilangan partikel dapat bervariasi tergantung pada kualitas air influen dan laju aliran.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Mesin
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Abbas bin Firnas
Abu al-Qasim Abbas ibn Firnas ibn Wirdas al-Takurini (Arab: أبو القاسم عباس بن فرناس بن ورداس التاكرني; sekitar tahun 809/810 – 887 M), yang juga dikenal sebagai Abbas ibn Firnas (Arab: عباس ابن فرناس), merupakan seorang polymath dari Andalusia: seorang penemu, astronom, dokter, ahli kimia, insinyur, musisi Andalusia, dan penyair berbahasa Arab. Ia terkenal karena eksperimennya dalam penerbangan tanpa mesin.
Ibnu Firnas memberikan berbagai sumbangan penting di bidang astronomi dan teknik. Dia membangun sebuah alat yang menggambarkan gerakan planet dan bintang di langit. Selain itu, Ibnu Firnas menemukan teknik pembuatan kaca transparan dan menciptakan lensa pembesar untuk membaca, yang lebih dikenal dengan sebutan batu baca.
Asal
Abbas ibn Firnas lahir di Ronda, di provinsi Takurunna, dan kemudian menetap di Córdoba. Nenek moyangnya ikut serta dalam penaklukan Muslim di Spanyol. Nama lengkapnya adalah "Abu al-Qasim Abbas ibn Firnas ibn Wirdas al-Takurini", namun ia lebih dikenal sebagai Abbas ibn Firnas. Informasi biografi tentangnya terbatas. Meskipun sebagian besar sumber menggambarkannya sebagai mawlā (klien) Umayyah yang berasal dari suku Berber, ada beberapa sumber yang menggambarkannya sebagai orang Arab.
Bekerja
Abbas Ibn Firnas mengembangkan teknik pembuatan kaca transparan, menemukan berbagai jenis planisfer kaca, menciptakan lensa korektif yang lebih dikenal sebagai "batu baca", merancang alat untuk mensimulasikan gerakan planet dan bintang, serta mengembangkan proses pemotongan batu kristal yang memungkinkan Al-Andalus untuk menghentikan ekspor kuarsa ke Mesir untuk diproses. Selain itu, ia memperkenalkan peralatan astronomi yang disebut Sindhind ke Al-Andalus, yang kemudian memiliki pengaruh penting terhadap astronomi di Eropa. Abbas Ibn Firnas juga terkenal karena merancang alat waktu seperti al-Maqata, jam air, dan prototipe metronom.
Penerbangan
Sekitar tujuh abad setelah wafatnya Firnas, sejarawan Aljazair Ahmad al-Maqqari (w. 1632) menggambarkan eksperimen-eksperimen unik yang dilakukan olehnya, termasuk upaya untuk terbang. Firnas melapisi tubuhnya dengan bulu, menempelkan sepasang sayap, dan dengan penuh semangat, meluncurkan dirinya ke udara. Menurut kesaksian beberapa penulis yang dapat dipercaya yang menyaksikan peristiwa itu, Firnas terbang sejauh yang cukup signifikan, mirip dengan burung, namun saat mendarat, punggungnya terluka parah karena tidak menyadari perlunya ekor untuk mendarat dengan aman.
Al-Maqqari diyakini telah menggabungkan banyak sumber sejarah yang sekarang tidak lagi ada dalam karyanya, tetapi dalam kasus Firnas, dia tidak memberikan rujukan untuk detail-detail tentang penerbangan yang terkenal ini. Meskipun demikian, dia menyebutkan sebuah ayat dalam puisi Arab abad kesembilan yang diduga berkaitan dengan Firnas. Puisi itu, yang ditulis oleh Mu'min ibn Said, seorang penyair istana Córdoba di bawah Muhammad I, amir Imarah Córdoba, menggambarkan Firnas terbang lebih cepat daripada burung phoenix ketika dia membungkus tubuhnya dengan bulu burung nasar. Tidak ada sumber lain yang masih ada yang merujuk pada peristiwa tersebut.
Ada spekulasi bahwa upaya Firnas dalam penerbangan mungkin telah mempengaruhi upaya Eilmer dari Malmesbury di Inggris antara tahun 1000 dan 1010, meskipun tidak ada bukti yang mendukung hipotesis ini.
Armen Firman
Armen Firman merupakan nama Latin yang diasosiasikan dengan Abbas Ibn Firnas.
Menurut beberapa sumber sekunder, sekitar dua puluh tahun sebelum Ibnu Firnas melakukan percobaan terbangnya, dia mungkin menjadi saksi atas tindakan Armen Firman. Firman dilaporkan mengenakan jubah longgar yang diikat dengan penyangga kayu, lalu melompat dari sebuah menara di Córdoba, dengan niat menggunakan jubah tersebut sebagai sayap untuk terbang atau meluncur. Meskipun upaya pelarian tersebut tidak berhasil, jubah yang dipakainya cukup memperlambat jatuhnya sehingga ia hanya mengalami luka ringan.
Namun, tidak ada referensi lain tentang Armen Firman dalam sumber sekunder, yang semuanya lebih fokus pada eksperimen penerbangan yang dilakukan oleh Ibnu Firnas. Armen Firman tidak disebutkan dalam catatan al-Maqqari.
Karena kisah ini hanya terdokumentasi dalam satu sumber utama, yaitu al-Maqqari, dan karena lompatan yang dilakukan oleh Firman dianggap sebagai sumber inspirasi bagi Ibnu Firnas, ketiadaan penyebutan Firman dalam catatan al-Maqqari mungkin menunjukkan adanya kesalahan interpretasi, di mana lompatan Firman kemudian disalahartikan sebagai upaya penerbangan Ibnu Firnas dalam tulisan-tulisan sekunder.
Warisan
Pada tahun 1973, sebuah patung yang menggambarkan Ibnu Firnas, karya dari pematung Badri al-Samarrai, dipasang di Bandara Internasional Bagdad di Irak. Kemudian, pada tahun 1976, Persatuan Astronomi Internasional (IAU) menyetujui untuk menamai sebuah kawah di bulan dengan namanya, yaitu Ibnu Firnas. Di Córdoba, Spanyol, pada tahun 2011, salah satu jembatan yang melintasi sungai Guadalquivir diberi nama "Jembatan Abbas Ibn Firnás". Selain itu, sebuah maskapai penerbangan Inggris yang memiliki satu pesawat dinamai sesuai dengan namanya, yaitu Firnas Airways.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Mesin
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Teknik dirgantara
Teknik dirgantara adalah bidang teknik utama yang berkaitan dengan pengembangan pesawat terbang dan pesawat ruang angkasa. Ia memiliki dua cabang utama dan saling tumpang tindih: teknik penerbangan dan teknik astronotika . Rekayasa avionik serupa, tetapi berhubungan dengan sisi elektronik dari teknik dirgantara.
"Teknik penerbangan" adalah istilah asli untuk bidang ini. Seiring dengan kemajuan teknologi penerbangan yang mencakup kendaraan yang beroperasi di luar angkasa , istilah yang lebih luas " rekayasa dirgantara " mulai digunakan. Teknik dirgantara, khususnya cabang astronotika, sering kali dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai "ilmu roket".
Ikhtisar
Kendaraan penerbangan dihadapkan pada kondisi yang menuntut seperti yang disebabkan oleh perubahan tekanan atmosfer dan suhu , dengan beban struktural yang diterapkan pada komponen kendaraan. Akibatnya, mereka biasanya merupakan produk dari berbagai disiplin ilmu teknologi dan teknik termasuk aerodinamika , propulsi udara , avionik , ilmu material , analisis struktural, dan manufaktur . Interaksi antara teknologi ini dikenal sebagai teknik dirgantara. Karena kompleksitas dan banyaknya disiplin ilmu yang terlibat, teknik dirgantara dilaksanakan oleh tim insinyur, yang masing-masing memiliki bidang keahlian khusus.
Sejarah
Asal usul teknik dirgantara dapat ditelusuri kembali ke para pionir penerbangan sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, meskipun karya Sir George Cayley berasal dari dekade terakhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19. Salah satu orang paling penting dalam sejarah aeronautika dan pelopor dalam teknik penerbangan, Cayley dianggap sebagai orang pertama yang memisahkan gaya angkat dan tarik , yang memengaruhi kendaraan penerbangan di atmosfer.
Pengetahuan awal teknik penerbangan sebagian besar bersifat empiris, dengan beberapa konsep dan keterampilan yang diimpor dari cabang teknik lain. Beberapa elemen kunci, seperti dinamika fluida , dipahami oleh para ilmuwan abad ke-18.
Pada bulan Desember 1903, Wright Bersaudara melakukan penerbangan pertama yang berkelanjutan dan terkendali dari pesawat bertenaga yang lebih berat dari udara, yang berlangsung selama 12 detik. Tahun 1910-an menyaksikan perkembangan teknik penerbangan melalui desain pesawat militer Perang Dunia I.
Antara Perang Dunia I dan II, lompatan besar terjadi di bidang ini, yang dipercepat dengan munculnya penerbangan sipil arus utama. Pesawat terkenal pada era ini termasuk Curtiss JN 4 , Farman F.60 Goliath , dan Fokker Trimotor . Pesawat militer terkenal pada periode ini termasuk Mitsubishi A6M Zero , Supermarine Spitfire dan Messerschmitt Bf 109 masing-masing dari Jepang, Inggris, dan Jerman. Perkembangan signifikan dalam teknik kedirgantaraan datang dengan operasional pertama pesawat bertenaga mesin Jet , Messerschmitt Me 262 yang mulai beroperasi pada tahun 1944 menjelang akhir Perang Dunia Kedua.
Definisi pertama dari teknik dirgantara muncul pada bulan Februari 1958, dengan mempertimbangkan atmosfer bumi dan luar angkasa sebagai satu kesatuan, sehingga mencakup pesawat terbang ( aero ) dan pesawat ruang angkasa ( luar angkasa ) di bawah istilah baru yang diciptakan dirgantara.
Menanggapi peluncuran satelit pertama Uni Soviet, Sputnik , ke luar angkasa pada tanggal 4 Oktober 1957, para insinyur dirgantara AS meluncurkan satelit Amerika pertama pada tanggal 31 Januari 1958. Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional didirikan pada tahun 1958 sebagai tanggapan terhadap Cuaca Dingin. Perang . Pada tahun 1969, Apollo 11 , misi luar angkasa manusia pertama ke bulan berlangsung. Di dalamnya terlihat tiga astronot memasuki orbit mengelilingi Bulan, dengan dua astronot, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin , mengunjungi permukaan bulan. Astronot ketiga, Michael Collins , tetap berada di orbit untuk bertemu dengan Armstrong dan Aldrin setelah kunjungan mereka.
Inovasi penting terjadi pada tanggal 30 Januari 1970, ketika Boeing 747 melakukan penerbangan komersial pertamanya dari New York ke London. Pesawat ini mencetak sejarah dan dikenal dengan nama "Jumbo Jet" atau "Whale" karena kemampuannya menampung hingga 480 penumpang.
Perkembangan signifikan lainnya dalam bidang teknik kedirgantaraan terjadi pada tahun 1976, dengan pengembangan pesawat supersonik penumpang pertama , Concorde . Pengembangan pesawat ini disepakati oleh Perancis dan Inggris pada tanggal 29 November 1962.
Pada tanggal 21 Desember 1988, pesawat kargo Antonov An-225 Mriya memulai penerbangan pertamanya. Pesawat ini memegang rekor sebagai pesawat terberat di dunia, kargo yang diangkut melalui udara terberat, dan kargo yang diangkut melalui udara terpanjang, dan memiliki lebar sayap terluas dari semua pesawat yang beroperasi.
Pada tanggal 25 Oktober 2007, Airbus A380 melakukan penerbangan komersial perdananya dari Singapura ke Sydney, Australia. Pesawat ini merupakan pesawat penumpang pertama yang mengungguli Boeing 747 dalam hal kapasitas penumpang, dengan jumlah maksimum 853. Meskipun pengembangan pesawat ini dimulai pada tahun 1988 sebagai pesaing 747, A380 melakukan uji terbang pertamanya pada bulan April 2005.
Elemen
Beberapa unsur teknik dirgantara adalah:
Dasar dari sebagian besar elemen ini terletak pada teori fisika , seperti dinamika fluida untuk aerodinamika atau persamaan gerak untuk dinamika penerbangan . Ada juga komponen empiris yang besar . Secara historis, komponen empiris ini berasal dari pengujian model skala dan prototipe, baik di terowongan angin atau di atmosfer bebas. Baru-baru ini, kemajuan dalam komputasi telah memungkinkan penggunaan dinamika fluida komputasi untuk mensimulasikan perilaku fluida, mengurangi waktu dan biaya yang dihabiskan untuk pengujian terowongan angin. Mereka yang mempelajari hidrodinamika atau hidroakustik sering kali memperoleh gelar di bidang teknik dirgantara.
Selain itu, teknik dirgantara membahas integrasi semua komponen yang membentuk kendaraan dirgantara (subsistem termasuk tenaga, bantalan dirgantara , komunikasi, kontrol termal , sistem pendukung kehidupan , dll.) dan siklus hidupnya (desain, suhu, tekanan, radiasi , kecepatan , seumur hidup ).
Disadur dari: en.wikipedia.org
Perindustrian
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 10 Februari 2025
Society 5.0, juga dikenal sebagai Super Smart Society, adalah sebuah konsep untuk masyarakat masa depan yang diciptakan melalui revolusi industri baru, yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang pada tahun 2016. Rencana ini mengusulkan untuk mengintegrasikan berbagai teknologi, seperti kecerdasan buatan, secara lebih efektif ke dalam masyarakat.
Rencana ini muncul sebagai wujud nyata dan adopsi dari Revolusi Industri Keempat dan pertama kali diperkenalkan oleh Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi dari Kantor Kabinet pemerintah Jepang. Peresmian Society 5.0 dilakukan dalam kerangka Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5, yang dipresentasikan oleh mendiang Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada tahun 2019. Pendekatan ini membayangkan masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyelaraskan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian tantangan sosial. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keseimbangan ini dapat dicapai dengan mengintegrasikan dunia maya dan ruang fisik.
Tujuan
Masyarakat 5.0, sebagaimana digariskan oleh pemerintah Jepang, bertujuan untuk mengintegrasikan ruang digital dan ruang fisik untuk mengatasi berbagai tantangan masyarakat. Strategi ini mengupayakan pertumbuhan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial secara simultan dengan menyediakan barang dan jasa yang disesuaikan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, melampaui batas geografis, demografis, dan bahasa. Strategi ini mendorong pergeseran ke arah masyarakat yang berpusat pada manusia, padat pengetahuan, dan berbasis data. Berbeda dengan Industrie 4.0 Jerman, yang berfokus pada integrasi TI industri, Society 5.0 memperluas penerapan TI untuk meningkatkan ruang hidup dan kebiasaan masyarakat.
Kantor Kabinet Pemerintah Jepang mendeskripsikan Society 5.0 sebagai sebuah inisiatif yang bertujuan untuk memastikan keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan kesehatan bagi semua individu, memfasilitasi pengajaran gaya hidup yang diinginkan. Inisiatif ini mengatasi stagnasi yang ada dengan mempromosikan masyarakat yang merangkul kemajuan teknologi dan perubahan sosial. Society 5.0 mengutamakan rasa saling menghormati antar generasi dan mendukung kemampuan setiap individu untuk menjalani kehidupan yang aktif dan memuaskan.
Sejarah
Istilah Society 5.0 berasal dari niat untuk menciptakan masyarakat baru kelima dengan memanfaatkan transformasi digital sebaik-baiknya, setelah melalui beberapa masyarakat seperti masyarakat berburu (Society 1.0), masyarakat agraris (Society 2.0), masyarakat industri (Society 3.0), dan masyarakat informasi (Society 4.0).
Masyarakat 1.0 (Masyarakat pemburu)
Masyarakat pemburu-pengumpul adalah konsep antropologi yang mencirikan cara hidup masyarakat yang bergantung pada perburuan dan pengumpulan hewan dan tumbuhan liar untuk bertahan hidup. Dipercaya bahwa semua masyarakat manusia mengikuti gaya hidup pemburu-pengumpul hingga munculnya pertanian selama era/periode Neolitikum.
Masyarakat 2.0 (Masyarakat Agraris)
Masyarakat agraris adalah struktur masyarakat yang ekonominya bergantung pada pertanian. Asal-usul masyarakat agraris dikaitkan dengan Revolusi Neolitikum, juga dikenal sebagai Revolusi Pertanian Pertama, yang terjadi pada zaman Neolitikum atau Zaman Batu. Masyarakat ini telah bertahan di berbagai belahan dunia selama ribuan tahun sejak saat itu, hingga hari ini, menjadikannya bentuk organisasi sosial dan ekonomi yang paling umum sepanjang sejarah kerja organisasi manusia di zaman pra-industri.
Masyarakat 3.0 (Masyarakat Industri)
Masyarakat industri adalah masyarakat yang telah membuat kemajuan signifikan dalam industrialisasi, dan juga disebut sebagai masyarakat industri. Dalam banyak kasus, masyarakat industri mengikuti tahap sebelumnya yang dicirikan oleh masyarakat pertanian, termasuk memanfaatkan sepenuhnya teknologi di berbagai bidang untuk masyarakat yang berpusat pada manusia
Masyarakat 4.0 (Masyarakat informasi)
Masyarakat informasi adalah masyarakat di mana kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan, pembuatan, penyebaran, dan penggabungan informasi menjadi sangat penting. Katalisator utama di balik fenomena ini adalah teknologi informasi dan komunikasi, yang telah menyebabkan perkembangan pesat mesin otomatis dan robot untuk revolusi industri dan informasi.
Aplikasi teknologi
Laporan Institut Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Industri Maju Jepang mencantumkan enam topik berikut sebagai teknologi dasar untuk mewujudkan Masyarakat 5.0:
Teknologi perangkat keras AI dan sistem aplikasi AI.
Teknologi keamanan yang dikembangkan sendiri untuk aplikasi AI.
Teknologi jaringan yang sangat efisien bersama dengan perangkat input dan output informasi yang canggih.
Teknologi sistem manufaktur generasi berikutnya yang dirancang untuk memfasilitasi kustomisasi massal.
Teknologi pengukuran baru yang disesuaikan untuk proses manufaktur digital.
Federasi Bisnis Jepang (Keidanren) memprakarsai "Masyarakat 5.0 untuk SDGs" sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena kompatibilitas antara Masyarakat 5.0 dan SDGs.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Akuntansi
Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 10 Februari 2025
Liabilitas (dalam bahasa Inggris disebut: liability) merupakan utang yang harus dilunasi berupa uang atau pelayanan yang harus dibayarkan pada pihak lain diwaktu yang datang. Liabilitas disebut juga sebagai kebalikan dari aset. Contoh liabilitas seperti pinjaman uang yang diberikan oleh pihak lain dan juga termasuk pajak.
Pada dasarnya, liabilitas diartikan sebagai kewajiban. Berdasarkan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 1, penyajian laporan keuangan, istilah kewajiban diganti dengan liabilitas. Liabilitas dapat berupa kewajiban hukum maupun kewajiban konstruktif.
Dalam pencatatan akuntansi, pengertian liabilitas sendiri bermakna cukup luas, tak hanya soal utang atau pinjaman. Namun juga bisa berasal dari transaksi, peristiwa bisnis, pertukaran aset, atau apa pun bentuknya yang bisa memberikan manfaat ekonomi di kemudian hari. Contohnya, dalam dunia perbankan. Akan tetapai, liabilitas tetap menjurus ke kewajiban.
Definisi
Istilah liabilitas diambil dari bahasa Inggris, yaitu liability. Istilah liability disebut di dalam PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) sebagai kewajiban. Liabilitas adalah kewajiban yang dimiliki seseorang atau perusahaan dibayarkan berdasarkan periode tertentu. Biasanya didasarkan atas nilai uang atau yang lazimnya disebut dengan utang.
Menurut kerangka dasar pengukuran dan pengungkapan laporan keuangan (KDP2LK), liabilitas adalah utang entitas masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi.
Irham Fahmi memberikan defenisi bahwa utang adalah kewajiban. Artinya liabilitas adalah kewajiban yang dimiliki perusahaan yang bersumber dari dana eksternal baik yang berasal dari sumber pinjaman perbankan, leasing, penjualan obligasi dan sejenisnya.
Karakteristik
Dalam dunia akuntansi, liabilitas memiliki beberapa karakteristik:
Klasifikasi
Liabilitas dimasukkan dalam neraca dengan saldo normal kredit. Biasanya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu liabilitas jangga pendek (Current Liabilities) atau kewajiban lancar dan liabilitas jangka panjang (Long Term Liabilities) atau kewajiban tidak lancar: Namun dalam laporan keuangan terdapat liabilitas yang dijadikan sebagai lampiran yaitu, liabilitas kontinjensi (Contingent Liabilities).
Liabilitas jangka pendek
Merupakan liabilitas yang dapat diharapkan untuk dilunasi dalam jangka pendek (satu tahun atau kurang). Biasanya terdiri dari pembayaran ( dagang, gaji, pajak, dan sebagainya), pendapatan ditangguhkan, bagian dari jangka panjang yang jatuh tempo dalam tahun berjalan, obligasi jangka pendek (misalnya dari pembelian peralatan), dan lain-lain. Liabilitas jangka pendek harus dibayarkan kurang dari satu tahun.
Kriteria liabilitas jangka pendek sebagai berikut:
Jenis-jenis liabilitas jangka pendek sebagai berikut:
Liabilitas jangka panjang
Merupakan liabilitas yang penyelesaiannya melebihi satu periode akuntansi atau lebih dari satu tahun. Liabilitas ini pada dasarnya dikenakan bukan dan pambayarannya dapat dicicil. Namun, liabilitas jangka panjang ini juga bisa menjadi liabilitas jangka pendek jika jatuh temponya dalam satu tahun.
Kriteria liabilitas jangka panjang sebagai berikut:
Jenis-jenis liabilitas jangka panjang sebagai berikut:
Liabilitas kontijensi
Liabilitas kontijensi adalah liabilitas yang harus dibayar sebagai akibat pada periode peristiwa masa lalu. Kriteria liabilitas kontijensi sebagai berikut: Jenis-jenis liabilitas kontijensi, yaitu :
Sumber artikel : Wikipedia