Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Maret 2025
Pendahuluan
Di era modern, kinerja rantai pasok (Supply Chain Performance - SCP) menjadi faktor utama dalam meningkatkan efisiensi logistik dan manajemen keberlanjutan. Studi yang dilakukan oleh Erika Vuorinen (2024) dalam tesisnya di Lappeenranta–Lahti University of Technology (LUT) mengkaji evaluasi dan peningkatan SCP dalam konteks pengelolaan limbah kapal di Laut Baltik.
Penelitian ini berfokus pada tiga dimensi utama dalam evaluasi kinerja rantai pasok:
✅ Praktik operasional, termasuk alur pemesanan dan efisiensi proses.
✅ Komunikasi antar pemangku kepentingan, yang menentukan efektivitas koordinasi.
✅ Keberlanjutan lingkungan, terutama dalam pengelolaan limbah kapal.
Salah satu tujuan utama dari studi ini adalah meningkatkan jumlah limbah kapal yang dibuang di pelabuhan, dibandingkan langsung ke laut, guna mengurangi pencemaran lingkungan.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus dengan metode berikut:
✅ Wawancara semi-terstruktur dengan enam operatif rantai pasok terkait.
✅ Analisis data berbasis content analysis, untuk mengidentifikasi pola utama dalam operasi rantai pasok.
✅ Sumber data sekunder dari artikel akademik, laporan industri, dan statistik internet untuk mendukung analisis empiris.
Temuan Utama
1. Praktik Operasional dan Efisiensi dalam Rantai Pasok
📌 Sistem pemesanan yang sederhana dan mudah meningkatkan efisiensi rantai pasok.
📌 Rutinitas yang telah terstandarisasi dan hubungan kerja yang baik antara operatif rantai pasok berkontribusi pada peningkatan kinerja.
📌 Hambatan utama dalam implementasi perubahan adalah tingginya kebutuhan sumber daya dan biaya operasional.
2. Komunikasi dalam Rantai Pasok dan Dampaknya
📌 Pertukaran informasi dan komunikasi antar pemangku kepentingan memainkan peran besar dalam peningkatan kinerja rantai pasok.
📌 Koordinasi yang buruk dapat menyebabkan keterlambatan dan inefisiensi dalam proses pengelolaan limbah kapal.
📌 Kepercayaan dan hubungan kerja yang erat antara pemasok, pengelola pelabuhan, dan regulator mempercepat pengambilan keputusan dan implementasi kebijakan.
3. Keberlanjutan dalam Rantai Pasok: Tantangan dan Solusi
📌 Limbah kapal di Laut Baltik masih menjadi masalah besar, dengan sebagian besar limbah dibuang langsung ke laut.
📌 Pada tahun 2023, hanya 1,1% dari total limbah yang dihasilkan oleh kapal kargo yang berhasil dikumpulkan di pelabuhan studi kasus.
📌 Solusi potensial meliputi insentif finansial, regulasi lebih ketat, dan peningkatan infrastruktur pengolahan limbah di pelabuhan.
Studi Kasus: Program "Ship Waste Action"
📌 Ship Waste Action adalah sebuah inisiatif lingkungan yang mendorong kapal kargo untuk membuang limbah mereka di pelabuhan alih-alih di laut.
📌 Sebagian besar pelabuhan di Finlandia telah menawarkan layanan pembuangan limbah tanpa biaya tambahan, tetapi hanya kurang dari 4% kapal yang memanfaatkannya pada tahun 2023.
📌 Kesenjangan besar antara jumlah limbah yang dihasilkan dan yang dikelola dengan baik menjadi fokus utama dalam peningkatan rantai pasok.
Implikasi Praktis bagi Manajer Rantai Pasok
✅ Optimalisasi sistem pemesanan dan manajemen limbah dapat meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi.
✅ Membangun sistem komunikasi yang lebih transparan antara operator kapal, pelabuhan, dan pemerintah dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok.
✅ Menerapkan teknologi digital seperti IoT dan AI dalam pengawasan limbah kapal dapat membantu dalam pengelolaan data dan prediksi kebutuhan logistik.
Kesimpulan
Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam evaluasi dan peningkatan kinerja rantai pasok. Dengan menerapkan praktik operasional yang lebih efisien, memperbaiki komunikasi, dan memperkuat strategi keberlanjutan, rantai pasok dalam industri pengelolaan limbah kapal dapat dioptimalkan.
✅ Penguatan komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan sangat penting dalam rantai pasok yang kompleks.
✅ Tantangan utama dalam implementasi kebijakan keberlanjutan adalah tingginya biaya dan kurangnya kesadaran industri.
✅ Diperlukan langkah-langkah konkret seperti insentif keuangan dan regulasi yang lebih ketat untuk meningkatkan kepatuhan terhadap kebijakan lingkungan.
Penerapan strategi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga berdampak positif pada lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang.
Sumber Asli
Erika Vuorinen (2024). Evaluation and Improvement of Supply Chain Performance in Case Supply Chain. Lappeenranta–Lahti University of Technology LUT.
Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Maret 2025
Pendahuluan
Manajemen risiko rantai pasok menjadi perhatian utama di era ketidakpastian global. Studi oleh Scott DuHadway, Steven Carnovale, dan Vijay Kannan (2018) mengkaji bagaimana komunikasi organisasi mempengaruhi pengambilan keputusan individu dalam mengelola risiko rantai pasok.
Penelitian ini menemukan bahwa persepsi risiko individu dipengaruhi oleh cara organisasi menyampaikan informasi mengenai risiko rantai pasok. Misalnya, ketika sebuah perusahaan mengomunikasikan penurunan risiko, manajer rantai pasok cenderung mengambil keputusan yang lebih berisiko. Namun, jika mereka diberi instruksi spesifik untuk mengurangi risiko, mereka tidak melakukan perubahan signifikan dalam strategi rantai pasok mereka.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen multi-tahap untuk memahami perilaku pengambilan keputusan individu:
✅ Eksperimen dengan pengambilan keputusan dalam tiga dimensi risiko, di mana peserta harus menyesuaikan strategi mereka berdasarkan komunikasi organisasi tentang risiko rantai pasok.
✅ Analisis data berbasis regresi, dengan uji Seemingly Unrelated Regression (SUR) dan Ordinary Least Squares (OLS) untuk mengukur dampak komunikasi terhadap perubahan strategi pengadaan dan stok pengaman.
✅ Studi kasus industri, termasuk analisis dampak komunikasi terhadap pengambilan keputusan dalam rantai pasok otomotif dan manufaktur.
Temuan Utama
1. Komunikasi Organisasi Memengaruhi Persepsi Risiko dan Keputusan Strategi Rantai Pasok
📌 Eksperimen menunjukkan bahwa komunikasi organisasi berpengaruh langsung terhadap keputusan manajer rantai pasok.
📌 Ketika organisasi mengkomunikasikan bahwa risiko menurun, individu cenderung mengambil keputusan lebih berisiko, seperti mengurangi stok pengaman atau memilih pemasok yang kurang andal.
📌 Sebaliknya, jika organisasi memberikan komunikasi risiko tinggi, individu lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusan.
2. Studi Kasus: Dampak Komunikasi Organisasi dalam Industri Otomotif dan Teknologi
📌 Industri otomotif mengalami peningkatan 30% dalam gangguan rantai pasok antara 2016-2017, menyebabkan dampak besar pada produksi.
📌 Ford Motor Company menghentikan produksi F-150 setelah kebakaran di pabrik pemasok, menyebabkan 7.000 pekerja dirumahkan.
📌 Apple Inc. meningkatkan inventaris dari $4,4 miliar menjadi $7,6 miliar untuk mengantisipasi tarif dagang dengan China, meskipun pemerintah meyakinkan bahwa kebijakan ini tidak akan berdampak langsung pada mereka.
3. Teori Risiko Kompensasi dan Risiko Homeostasis dalam Rantai Pasok
📌 Teori Risiko Kompensasi: Individu mengubah perilaku mereka berdasarkan persepsi risiko. Jika mereka merasa lebih aman, mereka akan cenderung mengambil risiko yang lebih tinggi.
📌 Teori Risiko Homeostasis: Setelah menyesuaikan strategi mereka, individu akan kembali ke tingkat risiko yang mereka anggap wajar. Namun, studi ini tidak menemukan bukti kuat bahwa risiko homeostasis terjadi dalam rantai pasok.
Implikasi Praktis bagi Manajer Rantai Pasok
✅ Strategi komunikasi harus dirancang untuk menghindari reaksi kompensasi yang tidak diinginkan.
✅ Menyampaikan informasi risiko dengan pendekatan yang lebih seimbang, agar manajer tidak terlalu mengurangi atau meningkatkan risiko secara berlebihan.
✅ Penggunaan analitik risiko dan teknologi AI dapat membantu dalam memahami bagaimana komunikasi organisasi berdampak pada pengambilan keputusan rantai pasok.
Kesimpulan
Penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi organisasi dalam manajemen risiko rantai pasok. Hasilnya menunjukkan bahwa:
✅ Persepsi risiko individu sangat dipengaruhi oleh komunikasi organisasi.
✅ Manajer rantai pasok cenderung menyesuaikan strategi berdasarkan informasi risiko yang diterima.
✅ Penting bagi perusahaan untuk mengelola komunikasi risiko dengan hati-hati agar tidak memicu reaksi yang merugikan dalam strategi rantai pasok mereka.
Dengan memahami hubungan antara komunikasi organisasi dan pengambilan keputusan individu, perusahaan dapat merancang strategi komunikasi yang lebih efektif untuk mengurangi risiko dan meningkatkan ketahanan rantai pasok.
Sumber : Scott DuHadway, Steven Carnovale & Vijay Kannan (2018). Organizational Communication and Individual Behavior: Implications for Supply Chain Risk Management. Journal of Supply Chain Management, Vol. 54.
Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Maret 2025
Pendahuluan
Kopi merupakan salah satu komoditas pertanian terpenting di dunia, berkontribusi besar terhadap perekonomian global, terutama di negara-negara penghasil seperti Vietnam. Namun, industri kopi menghadapi tantangan besar, seperti fluktuasi permintaan, ketidakseimbangan pasokan, dan masalah efisiensi rantai pasok.
Penelitian oleh Thi Thuy Hanh Nguyen dari Université Polytechnique Hauts-de-France ini mengusulkan pendekatan berbasis SCOR Model dan prediksi permintaan dengan algoritma AI untuk mengoptimalkan rantai pasok kopi di Vietnam.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan hybrid forecasting dan model evaluasi kinerja rantai pasok:
✅ SCOR Model (Supply Chain Operations Reference) → Untuk mengukur kinerja rantai pasok kopi berdasarkan efisiensi perencanaan dan pengelolaan permintaan.
✅ ARIMAX-LSTM Hybrid Forecasting → Kombinasi model Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMAX) dan Long Short-Term Memory (LSTM) untuk meningkatkan akurasi prediksi permintaan kopi.
✅ Analisis dampak lingkungan → Evaluasi emisi karbon dan efisiensi sumber daya dalam rantai pasok kopi.
Temuan Utama
1. Evaluasi Kinerja Rantai Pasok Kopi Menggunakan SCOR Model
📌 SCOR Model Versi 12 digunakan untuk menganalisis rantai pasok kopi di Vietnam.
📌 Skor kinerja rantai pasok tergolong rata-rata, dengan proses perencanaan sebagai aspek yang memiliki skor tertinggi.
📌 Manajemen permintaan merupakan elemen paling krusial dalam mengoptimalkan rantai pasok kopi.
2. Model Prediksi Permintaan dengan Hybrid AI
📌 Model ARIMAX-LSTM terbukti lebih akurat dalam memprediksi permintaan kopi dibandingkan metode tradisional.
📌 Uji coba dilakukan pada data kopi Vietnam serta produk pertanian Thailand (nanas, jagung, dan singkong).
📌 Perbedaan antara prediksi dan penjualan aktual sangat kecil, membuktikan keandalan model ini.
3. Studi Kasus: Implementasi Model pada Industri Kopi Vietnam
📌 Vietnam merupakan produsen kopi terbesar kedua di dunia, tetapi menghadapi ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi.
📌 Fluktuasi pasokan menyebabkan stok berlebih di beberapa tahun (misalnya surplus 1,3 juta kantong pada 2019/2020), tetapi defisit di tahun lainnya.
📌 Adopsi model AI meningkatkan efisiensi rantai pasok dan mengurangi biaya operasional.
Tantangan dalam Implementasi Model Optimasi
⚠ Kurangnya adopsi teknologi digital di sektor pertanian.
➡ Solusi: Pelatihan petani dan pemangku kepentingan dalam pemanfaatan teknologi AI dan big data.
⚠ Ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan.
➡ Solusi: Penerapan model prediksi permintaan berbasis AI untuk perencanaan yang lebih akurat.
⚠ Dampak lingkungan akibat rantai pasok yang tidak efisien.
➡ Solusi: Optimasi rantai pasok dengan pendekatan berkelanjutan untuk mengurangi jejak karbon dan limbah.
Strategi Optimal untuk Meningkatkan Efisiensi Rantai Pasok Kopi
✅ Mengadopsi Teknologi Digital dalam Manajemen Rantai Pasok
✅ Meningkatkan Kolaborasi antara Pemangku Kepentingan
✅ Optimalisasi Model Prediksi Permintaan dengan Hybrid Approach
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa optimalisasi rantai pasok kopi dengan model SCOR dan AI mampu meningkatkan efisiensi operasional serta daya saing industri.
Dengan mengadopsi teknologi digital dan pendekatan berbasis data, perusahaan dapat:
✅ Meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi kopi.
✅ Mengoptimalkan keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
✅ Mengurangi dampak lingkungan dengan strategi rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
Penerapan model hybrid forecasting berbasis ARIMAX-LSTM terbukti memberikan prediksi permintaan yang lebih akurat, yang membantu dalam pengambilan keputusan strategis dan peningkatan profitabilitas.
Sumber : Thi Thuy Hanh Nguyen (2023). Improving and Optimizing the Performance of the Supply Chain: The Case of Coffee Production in Vietnam. Université Polytechnique Hauts-de-France.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 06 Maret 2025
Industri katering di China berkembang pesat seiring dengan meningkatnya standar hidup masyarakat. Namun, pertumbuhan ini juga diiringi dengan tingginya angka kecelakaan kerja dan permasalahan kesehatan akibat kondisi kerja yang tidak aman. Dalam makalah "A Discussion of Occupational Health and Safety Management for the Catering Industry in China" oleh Chen Qiang dan Wan Ki Chow, yang diterbitkan dalam International Journal of Occupational Safety and Ergonomics (2007), dibahas pentingnya penerapan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di industri katering China.
Menurut data tahun 2002, terdapat lebih dari 3,5 juta tempat makan di China yang mempekerjakan lebih dari 18 juta orang. Dengan jumlah tenaga kerja yang besar, risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menjadi perhatian utama. Beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya risiko K3 di industri katering meliputi faktor lingkungan kerja seperti suhu tinggi, ventilasi buruk, dan paparan zat karsinogenik dari asap memasak. Selain itu, kurangnya standar keselamatan, seperti tidak adanya tanda darurat, kondisi lantai yang licin, serta prosedur penyimpanan bahan berbahaya yang tidak tepat, turut meningkatkan risiko kecelakaan. Kurangnya pelatihan bagi pekerja terkait keselamatan kerja serta kurangnya inspeksi rutin juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi K3 di sektor ini.
Implementasi Sistem Manajemen K3 (OHSMS)
Penulis mengusulkan penerapan sistem manajemen K3 berbasis OHSAS 18001:1999 (sekarang ISO 45001). Sistem ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya, mengevaluasi risiko, dan menerapkan tindakan pengendalian untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.
Langkah-langkah utama dalam implementasi sistem ini meliputi identifikasi bahaya dan penilaian risiko menggunakan standar GB/T13861-1992 untuk mengklasifikasikan faktor bahaya, termasuk faktor fisik, kimia, biologis, serta faktor perilaku manusia. Tingkat bahaya ditentukan dengan metode LEC (Likelihood, Exposure, Consequence), yang mengukur probabilitas kecelakaan, tingkat paparan, dan dampak potensialnya.
Pengendalian teknis juga diperlukan untuk meningkatkan keselamatan kerja. Beberapa langkah yang direkomendasikan termasuk peningkatan ventilasi untuk mengurangi paparan asap berbahaya, pemasangan sistem pemurnian asap dapur, serta desain ulang dapur agar lebih ergonomis dan aman. Pencegahan kecelakaan juga harus menjadi prioritas utama, seperti pemasangan pelindung pada mesin pencacah daging dan pengaduk adonan untuk mencegah cedera mekanis, perawatan rutin peralatan listrik untuk menghindari risiko sengatan listrik, serta penggunaan alat bantu ergonomis untuk mengurangi risiko cedera akibat pengangkatan beban berat.
Selain itu, penerapan program keselamatan dan peningkatan kesadaran karyawan sangat penting. Pelatihan keselamatan harus diberikan secara rutin agar pekerja lebih sadar akan risiko kerja dan cara mengatasinya. Penegakan prosedur kerja yang lebih ketat sesuai dengan standar keselamatan nasional serta peningkatan jumlah tanda peringatan dan jalur evakuasi yang lebih jelas juga harus dilakukan.
Dalam penelitian ini, dilakukan analisis risiko di dapur restoran menggunakan metode LEC. Beberapa risiko yang diidentifikasi antara lain lantai licin yang dapat menyebabkan cedera fisik, kebocoran gas yang berpotensi menyebabkan kebakaran dan ledakan, serta paparan asap berbahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja. Risiko kebocoran gas merupakan yang paling tinggi dan membutuhkan tindakan pengendalian segera, seperti inspeksi rutin dan pemasangan detektor gas.
Penelitian ini menyoroti pentingnya penerapan sistem manajemen K3 di industri katering China. Dengan meningkatnya jumlah restoran dan pekerja di sektor ini, perhatian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja harus menjadi prioritas. Beberapa rekomendasi utama dari penelitian ini meliputi penerapan standar OHSMS berbasis OHSAS 18001 untuk meningkatkan keselamatan kerja, peningkatan pelatihan pekerja agar lebih sadar akan risiko kerja dan cara mengatasinya, serta investasi dalam teknologi keselamatan, seperti sistem ventilasi yang lebih baik dan perangkat pelindung pada mesin dapur.
Dengan menerapkan strategi ini, diharapkan industri katering di China dapat mengurangi tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Sumber Asli
Chen Q, Chow WK. A Discussion of Occupational Health and Safety Management for the Catering Industry in China. International Journal of Occupational Safety and Ergonomics, 13(3), 333-339.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 06 Maret 2025
Keselamatan industri merupakan aspek krusial dalam dunia kerja, terutama di sektor yang melibatkan risiko tinggi seperti manufaktur, pertambangan, dan energi. Artikel "A Factorial Analysis of Industrial Safety" oleh Cordelia Ochuole Omoyi dan Ayodeji Samuel Omotehinse, yang diterbitkan dalam International Journal of Engineering and Innovative Research (2021), membahas berbagai variabel yang mempengaruhi keselamatan industri serta penerapan metode statistik untuk menganalisis faktor-faktor ini.
Studi ini mengadopsi pendekatan statistik yang menggabungkan dua metode utama:
Para peneliti mengumpulkan data melalui kuesioner berbasis skala Likert 5 poin yang disebarkan kepada 22 responden yang memiliki pengalaman di industri terkait. Dari 22 kuesioner yang disebarkan, 13 di antaranya berhasil dikembalikan dan dianalisis lebih lanjut.
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat lima faktor utama yang mempengaruhi keselamatan industri:
Work World Culture (Budaya Kerja)
Ground Rule Matters (Aturan Dasar Keselamatan)
Safety Considerations (Pertimbangan Keselamatan)
Work Condition (Kondisi Kerja)
Perception of Safety (Persepsi Terhadap Keselamatan)
Dalam penelitian ini, salah satu contoh konkret yang dianalisis adalah sektor minyak dan gas. Beberapa temuan utama dari sektor ini antara lain:
Penerapan metode PCA dalam studi ini menunjukkan bahwa dengan mengurangi jumlah variabel yang diamati, organisasi dapat lebih mudah menentukan prioritas dalam mengelola risiko keselamatan.
Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi industri dalam meningkatkan keselamatan kerja:
Artikel "A Factorial Analysis of Industrial Safety" memberikan wawasan yang mendalam tentang faktor-faktor utama yang mempengaruhi keselamatan di lingkungan industri. Dengan menerapkan pendekatan berbasis data seperti KCC dan PCA, organisasi dapat mengidentifikasi faktor-faktor kritis dan mengambil tindakan preventif yang lebih efektif. Studi ini juga menyoroti pentingnya meningkatkan budaya keselamatan di tempat kerja guna mengurangi tingkat kecelakaan dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Sumber Asli
Omoyi, C.O., Omotehinse, S.A. A Factorial Analysis of Industrial Safety. International Journal of Engineering and Innovative Research, 4(1), 33-43.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 06 Maret 2025
Dalam industri logistik yang berkembang pesat, para kurir ekspedisi menghadapi berbagai risiko kerja yang dapat mempengaruhi produktivitas dan keselamatan mereka. Paper berjudul Occupational Health and Safety (OHS) Training for Expedition Couriers to be Able to Deal with Multi-Hazards oleh Reniasinta dan Evi Widowati dari Universitas Negeri Semarang membahas bagaimana pelatihan K3 dapat membantu kurir dalam menghadapi risiko kerja yang beragam. Studi ini dilakukan pada kurir ID Express Drop Point Kroya di Kabupaten Cilacap, dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja serta mengusulkan solusi berbasis pelatihan K3.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 35 kurir ekspedisi ID Express Drop Point Kroya. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur kelelahan kerja menggunakan instrumen Industrial Fatigue Research Committee (IFRC), serta faktor lain seperti beban kerja, masa kerja, lama kerja, kebiasaan olahraga, dan usia.
Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square, Kolmogorov-Smirnov, dan Fisher. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelelahan kerja dengan beban kerja (p=0.024), lama kerja (p=0.007), dan kebiasaan olahraga (p=0.021).
Studi ini mengidentifikasi beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kelelahan kerja pada kurir ekspedisi:
Berdasarkan wawancara dengan 7 kurir, ditemukan bahwa 71% mengalami gejala kelelahan seperti:
Selain itu, peningkatan belanja online selama pandemi COVID-19 menyebabkan lonjakan volume pengiriman, sehingga menambah tekanan kerja bagi kurir ekspedisi.
Solusi: Pentingnya Pelatihan K3
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pelatihan K3 dapat menjadi solusi dalam mengurangi kelelahan dan meningkatkan keselamatan kerja kurir ekspedisi. Beberapa langkah yang direkomendasikan meliputi:
Paper ini menyoroti betapa pentingnya pelatihan K3 dalam industri logistik, khususnya bagi kurir ekspedisi yang menghadapi risiko kerja tinggi. Dengan menerapkan sistem pelatihan yang baik, perusahaan dapat meningkatkan kesejahteraan kurir sekaligus menjaga produktivitas operasional. Studi ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan kebijakan keselamatan kerja di sektor logistik, terutama dalam menghadapi tantangan era digital yang semakin menuntut kecepatan dan efisiensi.
Sumber: Reniasinta, R., & Widowati, E. Occupational Health and Safety (OHS) Training for Expedition Couriers to be Able to Deal with Multi-Hazards. International Journal of Active Learning, Vol. 7 No. 2, 2022, Hal. 209-218.