Manajemen Risiko
Dipublikasikan oleh Raihan pada 23 Oktober 2025
Konten Resensi Akademik
Penelitian ini digerakkan oleh kebutuhan kritis untuk mengatasi peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam yang mengakibatkan kerugian finansial signifikan, terutama di negara-negara berkembang. Premis sentral tesis ini adalah transisi paradigma dalam Manajemen Risiko Bencana (DRM) dari fokus pada mitigasi risiko bencana (DRR) menjadi penciptaan dan penguatan resiliensi di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Tesis ini berupaya menjawab pertanyaan fundamental dalam manajemen risiko bencana finansial: "siapa yang membayar kerugian?".
Jalur Logis Temuan Penelitian
Tesis ini secara metodis membangun kasus untuk resiliensi finansial melalui tiga fase utama.
Fase I: Instrumen Finansial dan Definisi Resiliensi
Penelitian ini memulai dengan mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan sistem—seperti masyarakat atau infrastruktur—untuk melawan, menyerap, beradaptasi, dan pulih secara efisien dari dampak bencana. Penulis menyoroti bahwa di bawah Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030, resiliensi telah menjadi kata kunci, yang membutuhkan pergeseran dari respons reaktif pasca-bencana menjadi prediksi dan perencanaan proaktif.
Penelusuran dilanjutkan dengan mengkategorikan instrumen keuangan yang tersedia untuk DRM. Instrumen berbasis obligasi diilustrasikan, membedakan antara Obligasi Katastrofi (CAT Bonds)—mekanisme transfer risiko untuk kerugian berfrekuensi rendah/berdampak tinggi—dengan Obligasi Resiliensi (Resilience Bonds). Obligasi Resiliensi diidentifikasi sebagai instrumen yang lebih baru yang memberikan insentif untuk investasi dalam resiliensi fisik (misalnya, tembok penahan banjir) dengan menawarkan "rabat resiliensi" (resilience rebate), yang secara efektif mengubah kerugian yang dihindari menjadi pengembalian investasi. Selain itu, Green Bonds dan Blue Bonds juga disorot sebagai sarana pendanaan untuk inisiatif ramah lingkungan dan laut.
Penulis juga mengeksplorasi dana cadangan (misalnya, Calamity Funds, Reserve Funds, Contingency Funds) dan fasilitas internasional (misalnya, GFDRR, GIIF), yang semuanya berfungsi untuk menyediakan likuiditas segera pasca-bencana, meminimalkan gangguan pada proyek pembangunan jangka panjang.
Fase II: Tinjauan Implementasi Resiliensi Global
Tesis ini menyajikan tinjauan komparatif penerapan ide-ide resiliensi di Asia, Amerika Latin, Eropa, dan Afrika.
Fase III: Fokus pada Turki dan Kuantifikasi Risiko
Tesis ini memindahkan fokus ke konteks Turki, di mana risiko gempa, banjir, dan kebakaran hutan menjadi perhatian utama. Pemerintah Turki—melalui AFAD—telah mengadopsi tujuan untuk menciptakan "masyarakat yang tangguh terhadap bahaya". Pembentukan Turkish Catastrophe Insurance Pool (TCIP) pasca Gempa Marmara 1999 dan penerbitan Cat Bond pertama Turki (Bosphorus 1) merupakan langkah signifikan dalam transfer risiko.
Sorotan Data Kuantitatif Deskriptif:
Penelitian ini menyajikan upaya untuk memodelkan kerugian menggunakan data asuransi Turki antara tahun 2000 dan 2019, dengan variabel penjelas seperti tahun, jumlah gempa bumi, dan premi rata-rata per polis.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Kontribusi tesis ini terhadap bidang manajemen risiko bencana finansial bersifat ganda. Pertama, ia berfungsi sebagai tinjauan literatur yang komprehensif, memetakan secara eksplisit evolusi instrumen pembiayaan dari CAT Bonds reaktif ke Resilience Bonds proaktif. Kedua, dengan mengintegrasikan studi kasus global dengan analisis mendalam mengenai Turki, tesis ini memberikan cetak biru untuk menilai kapasitas resiliensi suatu negara yang rentan terhadap bencana, seperti halnya Turki yang berisiko tinggi gempa bumi. Tesis ini secara implisit menyerukan kepada komunitas DRM untuk bergerak melampaui metrik kerugian murni dan memasukkan variabel resiliensi ke dalam penilaian kelayakan proyek.
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Keterbatasan utama tesis ini terletak pada upaya pemodelan regresi yang tidak berhasil secara statistik. Ketidakmampuan variabel finansial makro (tahun, jumlah gempa, premi rata-rata) untuk memprediksi kerugian rata-rata di Turki menunjukkan bahwa model finansial tradisional mungkin tidak cukup untuk menangkap dinamika kompleks risiko bencana.
Ini menimbulkan pertanyaan terbuka yang penting:
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan
Berikut adalah lima rekomendasi riset yang jelas, berbasis temuan tesis, dan berorientasi pada pengembangan ilmiah di masa depan:
Justifikasi Ilmiah: Kegagalan model regresi dalam tesis ini menunjukkan bahwa kerugian bencana tidak hanya didorong oleh variabel finansial makro. Riset Lanjutan harus berfokus pada pengembangan Indeks Resiliensi Komposit yang mengintegrasikan data sosio-ekonomi (misalnya, tingkat penetrasi asuransi wajib, kesadaran publik akan bahaya ), kelembagaan (misalnya, implementasi Sendai Framework, efisiensi AFAD ), dan kualitatif. Indeks ini kemudian harus digunakan sebagai variabel penjelas untuk memprediksi kerugian di model regresi yang baru.
Justifikasi Ilmiah: Tesis ini memaparkan risiko multi-bahaya Turki (gempa, banjir, kebakaran hutan). Riset Lanjutan harus membandingkan efektivitas Resilience Bonds yang dirancang untuk risiko gempa bumi (berbasis parametrik geofisika) versus risiko kebakaran hutan (berbasis indeks cuaca/klimatologi) dalam menghasilkan resilience rebate. Metode ini harus secara eksplisit memodelkan dua skenario—dengan/tanpa mitigasi—untuk membuktikan nilai tambah finansial dari Resilience Bonds.
Justifikasi Ilmiah: Meskipun ada kewajiban hukum untuk asuransi gempa (TCIP), tingkat kepemilikan tetap menjadi tantangan, dan kurangnya kesadaran disebut sebagai penghalang utama. Riset Lanjutan harus menggunakan metode kualitatif (misalnya, wawancara mendalam dengan pemilik rumah dan pembuat kebijakan) untuk mengidentifikasi hambatan perilaku dan institusional yang mencegah penetrasi asuransi risiko bencana di Turki. Hal ini akan menjelaskan mengapa dukungan pemerintah pasca-bencana—terlepas dari asuransi—menghambat insentif mitigasi.
Justifikasi Ilmiah: Tesis ini menyoroti keberhasilan model risk pooling di Karibia (CCRIF) dan Afrika (ARC), yang mengurangi biaya risiko melalui diversifikasi geografis. Riset Lanjutan harus menilai kelayakan pembentukan Risk Pooling regional di wilayah di mana Turki berada (misalnya, Mediterania Timur atau Asia Tengah—menggunakan negara-negara OECD/non-OECD yang disebutkan dalam tesis seperti Bulgaria, Lebanon, Yordania, dan Iran). Studi ini harus memproyeksikan potensi pengurangan premi dan peningkatan kapasitas resiliensi finansial melalui kerangka diversifikasi risiko.
Justifikasi Ilmiah: Tesis ini menggarisbawahi tantangan ekonomi Turki (inflasi, devaluasi Lira, volatilitas) yang dapat membatasi investasi resiliensi. Riset Lanjutan harus menguji hipotesis bahwa fluktuasi mata uang dan suku bunga memiliki korelasi negatif yang kuat dengan pendanaan proyek resiliensi publik-swasta. Metode yang disarankan adalah studi kasus komparatif historis (misalnya, Turki vs. negara OECD lain selama periode tekanan ekonomi) untuk mengidentifikasi mekanisme pembiayaan resiliensi yang tahan terhadap guncangan ekonomi domestik.
Potensi Jangka Panjang
Temuan saat ini menunjukkan bahwa resiliensi finansial tidak dapat dicapai hanya dengan instrumen pasar tradisional; melainkan membutuhkan pergeseran paradigma institusional dan perilaku. Jangka panjangnya, penelitian ini meletakkan dasar untuk menciptakan kerangka kerja penilaian resiliensi nasional yang dapat dioperasikan secara kuantitatif, yang pada akhirnya dapat mendorong investasi sektor swasta. Dengan memvalidasi model yang akurat, institusi global seperti World Bank dan EBRD dapat mendanai proyek resiliensi dengan lebih efisien, karena risiko yang ditanggung menjadi lebih terukur dan potensi pengembalian dari "kerugian yang dihindari" menjadi lebih jelas. Pada akhirnya, ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan memastikan bahwa pembangunan infrastruktur di kawasan rawan bahaya bersifat berkelanjutan dan inklusif.
Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi AFAD, TCIP, World Bank (melalui GFDRR), dan MDB regional lainnya untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil.
Komunikasi Krisis
Dipublikasikan oleh Raihan pada 23 Oktober 2025
Resensi Mendalam: Membangun Ketahanan Sistemik dalam Menghadapi Kerentanan Banjir di Perkotaan
Penelitian kasus berjudul "Community Resilience to Address Urban Vulnerabilities: A Case Study of Flood-prone Communities" oleh Cayamanda & Lopez (2022) mengeksplorasi isu kritis mengenai kerentanan perkotaan terhadap bencana alam, khususnya banjir, dan peran penting yang dimainkan oleh ketahanan komunitas. Melalui studi kualitatif terhadap banjir bandang Matina 2011 di Davao City, Filipina, paper ini secara cermat menguji bagaimana komunikasi risiko dan modal sosial memengaruhi respons komunitas, kelompok, dan institusi terhadap bahaya banjir.
Davao City, yang teridentifikasi sebagai wilayah rawan banjir meskipun berada di zona yang relatif bebas topan, menyediakan konteks empiris yang kaya. Fokusnya adalah pada tiga barangay yang sangat padat penduduk dan memiliki banyak institusi/bisnis—Matina Crossing, Matina Pangi, dan Matina Aplaya—yang secara kolektif menyumbang 61,57% dari total keluarga yang terkena dampak banjir bandang 2011. Dengan menggunakan metode kualitatif yang melibatkan analisis dokumen, wawancara informan kunci, dan diskusi kelompok terfokus, serta didukung oleh Model Crunch dari Wisner et al. (2004) , penelitian ini berhasil mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kerentanan dan dinamika sosial dalam respons bencana.
Alur Logis Temuan Penelitian
Penelitian ini memetakan perjalanan logis dari kerentanan struktural menuju respons pasca-bencana. Tahap pra-bencana menunjukkan bahwa wilayah studi adalah zona perkotaan padat yang terletak di area risiko banjir (Zona Mitigasi Banjir), di mana dua sungai utama, Sungai Pangi dan Sungai Davao, melintasi daerah yang padat penduduk. Bencana itu sendiri—banjir bandang Juni 2011 yang dipicu oleh Inter-tropical Convergence Zone (ITCZ) dan hujan lebat selama tiga jam di daerah hulu—menghasilkan banjir yang merusak, menelan total 29 korban jiwa (mayoritas perempuan dan anak-anak).
Fase pasca-bencana mengungkapkan kontradiksi utama:
Temuan ini menunjukkan hubungan kuat antara modal sosial dan respons cepat — menyoroti potensi kuat untuk objek penelitian baru dalam mengkuantifikasi dimensi relasional dan struktural (seperti yang diusulkan oleh Nahapiet dan Ghoshal) dari modal sosial pasca-bencana. Namun, interaksi antara koordinasi antar-lembaga dan protokol komunikasi yang tidak memadai menunjukkan bahwa modal sosial saja tidak cukup untuk mengurangi korban jiwa, terutama di antara kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Paper ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur tentang manajemen bencana perkotaan, khususnya di negara-negara berkembang, dengan melakukan dua hal:
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Keterbatasan utama penelitian ini adalah sifatnya sebagai studi kasus kualitatif. Meskipun kaya akan deskripsi dan dinamika sosial, temuan ini mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke semua konteks perkotaan yang rentan banjir.
Beberapa pertanyaan terbuka yang muncul meliputi:
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan (dengan Justifikasi Ilmiah)
Resensi ini merekomendasikan lima jalur riset lanjutan, yang ditujukan untuk komunitas akademik, peneliti, dan penerima hibah, untuk memperluas kontribusi paper ini ke tingkat sistemik dan terukur.
Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi Lembaga Pemerintah Daerah (LGU) di Davao City, Universitas di Mindanao (seperti UP Mindanao), dan organisasi Non-Pemerintah (NGO) lokal/internasional untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil di lapangan.
Sesuai dengan rekomendasi paper untuk kerja sama lintas batas dan inter-pemerintahan, kolaborasi penelitian ini akan memperkuat sinergi antara ilmu sosial, ilmu lingkungan, dan perencanaan kota untuk menciptakan model ketahanan yang benar-benar holistik.
Perencanaan Kota
Dipublikasikan oleh Raihan pada 23 Oktober 2025
Menyusun Arah Riset ke Depan: Evaluasi Dampak Historis Urbanisasi pada Risiko Banjir di Istanbul dengan Kerangka HVE
Pengantar dan Jalur Logis Penemuan
Percepatan urbanisasi secara global telah mengubah siklus air perkotaan, yang secara fundamental memperburuk frekuensi dan intensitas banjir. Fenomena ini, yang ditandai dengan peningkatan permukaan kedap air, memicu peningkatan volume dan kecepatan limpasan permukaan, serta memperpendek waktu lag hidrograf sungai. Di tengah tren peningkatan insiden banjir secara global, termasuk di Turki , distrik Esenyurt, Istanbul, muncul sebagai studi kasus penting. Sebagai distrik terpadat di Turki, Esenyurt mengalami pertumbuhan populasi yang cepat dan pembangunan yang intensif, terutama di sekitar Sungai Haramidere. Kawasan ini, yang telah bertransformasi dari desa pertanian pada tahun 1970 menjadi kawasan industri dan residensial padat saat ini, menghadapi risiko banjir yang mematikan, yang berpuncak pada bencana tahun 2022 yang menimbulkan korban jiwa.
Penelitian ini secara historis mengevaluasi risiko banjir yang didorong oleh urbanisasi, memfokuskan analisis pada kerangka Hazard, Vulnerability, dan Exposure (HVE). Dalam konteks perkotaan yang dinamis, kerangka HVE, khususnya komponen Exposure (Paparan), menjadi krusial karena menilai individu dan properti di area risiko, yang sangat dipengaruhi oleh tren tata guna lahan.
Jalur logis penemuan dimulai dengan penggunaan teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing/RS) dan Sistem Informasi Geografis (GIS). Untuk melacak perubahan historis bangunan dalam periode 2014–2022, data satelit Landsat-8 digunakan, yang dianalisis menggunakan indeks seperti NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), NDBI (Normalized Difference Built-up Index), dan BU (Built-up). Indeks ini memungkinkan penentuan waktu pembangunan bangunan secara retrospektif, yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan fungsinya (residensi, komersial, industri).
Tahap selanjutnya adalah analisis risiko. Data Hazard (Bahaya) berupa kedalaman dan area genangan banjir dengan periode ulang 100 tahun diambil dari model hidrodinamika tahun 2014 oleh İSKİ (Direktorat Jenderal Administrasi Air dan Saluran Air Istanbul). Dengan mengasumsikan area dan kedalaman genangan ini konstan, perubahan risiko banjir dihitung berdasarkan pertumbuhan Exposure (Paparan), yaitu bangunan baru yang masuk ke zona bahaya sepanjang periode 2014 hingga 2022.
Perhitungan risiko banjir total didasarkan pada dua komponen: Kerusakan Ekonomi dan Populasi Terdampak. Kerusakan Ekonomi ditentukan dari luas lantai bangunan, biaya unit konstruksi (difikskan pada nilai 2022 untuk menghindari inflasi), dan fungsi kedalaman-kerusakan JRC Eropa. Sementara itu, risiko Populasi Terdampak dihitung berdasarkan jumlah bangunan, jumlah lantai, dan ukuran rumah tangga (3,43 orang per rumah tangga), dengan asumsi semua orang di area genangan akan terdampak.
Dari alur metodologis ini, temuan kuantitatif yang mengkhawatirkan muncul, menunjukkan keterkaitan yang kuat antara urbanisasi yang tidak terencana dengan peningkatan risiko bencana.
Sorotan Data Kuantitatif dan Implikasi Jangka Panjang
Analisis terhadap 1.051 poligon bangunan yang berada di dalam zona genangan banjir pada tahun 2022 menunjukkan tren ekspansi perkotaan yang signifikan. Secara keseluruhan, jumlah total bangunan di area genangan meningkat sebesar 13.9% antara tahun 2014 dan 2022 (dari 922 menjadi 1.051 bangunan). Temuan yang lebih deskriptif menunjukkan pertumbuhan bangunan industri mencatat peningkatan tertinggi yaitu 32.2% , sementara bangunan residensial meningkat sebesar 12.9%. Lonjakan pembangunan ini, yang terlihat jelas pada tahun-tahun 2016, 2017, dan 2021, secara langsung berkorelasi dengan ekspansi paparan terhadap bahaya banjir.
Dampak dari pertumbuhan Exposure ini terhadap risiko total adalah penemuan kunci dari studi ini:
Temuan kuantitatif ini secara tegas menyimpulkan bahwa urbanisasi cepat dan terpusat di kawasan aliran sungai merupakan katalis utama peningkatan risiko. Keterhubungan antara temuan saat ini dan potensi jangka panjang terletak pada gagasan bahwa tanpa strategi perencanaan kota yang efektif, kerugian ekonomi dan sosial akan terus meningkat secara eksponensial. Mengingat biaya unit bangunan yang tinggi, khususnya pada konstruksi vertikal terbaru di Esenyurt, risiko ini bukan hanya masalah frekuensi banjir, tetapi juga masalah nilai aset yang berisiko.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Kontribusi utama studi ini terhadap bidang mitigasi risiko bencana perkotaan dan perencanaan wilayah sangat unik karena pendekatannya yang berbasis data dan historis. Studi ini secara eksplisit mengkombinasikan teknologi Penginderaan Jauh (RS) dan Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan kerangka konseptual Hazard, Vulnerability, Exposure (HVE) untuk melakukan analisis risiko banjir yang berpusat pada bangunan (building-based).
Secara spesifik, studi ini memberikan:
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Meskipun kontribusi metodologisnya kuat, studi ini memiliki beberapa keterbatasan yang harus diakui sebagai dasar untuk riset ke depan:
Berdasarkan keterbatasan ini, muncul pertanyaan terbuka mendasar:
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan
Untuk komunitas akademik, peneliti, dan penerima hibah riset, studi ini menetapkan lima arah riset ke depan yang krusial untuk mencapai ketahanan kota berkelanjutan:
1. Integrasi Data Perubahan Iklim ke dalam Model HVE Dinamis
2. Pemodelan Hidrodinamika dengan Variabel Lahan Basah dan LULC Terperinci
3. Analisis Sensitivitas Kedalaman-Kerusakan Berbasis Sektor Lokal
4. Pemantauan Keputusan Perencanaan Kota dengan RS Tepat Waktu dan Resolusi Tinggi
5. Model Risiko Populasi Berbasis Waktu dan Kepadatan Vertikal
Penelitian ini telah menyajikan bukti kuat bahwa laju urbanisasi yang pesat di Esenyurt, Istanbul, telah secara nyata dan terukur meningkatkan risiko banjir melalui peningkatan Paparan (Exposure). Konektivitas antara temuan saat ini (peningkatan risiko 13,6%) dengan potensi jangka panjang adalah jelas: mengabaikan perencanaan kota yang sensitif terhadap hidrologi akan terus meningkatkan kerusakan ekonomi yang terukur dalam jutaan lira dan mengancam nyawa ribuan penduduk.
Untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil ini dalam skala yang lebih luas, penelitian lebih lanjut harus melibatkan kolaborasi multisektoral. Penelitian ini harus melibatkan institusi İSKİ (Direktorat Jenderal Administrasi Air dan Saluran Air Istanbul) untuk data hidrodinamika yang diperbarui, İBB (Kota Metropolitan Istanbul) untuk integrasi kebijakan perencanaan kota, dan AFAD (Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat) untuk validasi data kerugian ekonomi, guna memastikan keberlanjutan dan validitas hasil di masa depan.
Studi Bencana
Dipublikasikan oleh Raihan pada 23 Oktober 2025
Resensi Riset: Memajukan Arah Studi Nexus Demografi-Bencana
Pendahuluan: Sebuah Pergeseran Paradigma dalam Studi Bencana
Volume yang disunting oleh Dávid Karácsonyi, Andrew Taylor, dan Deanne Bird, “The Demography of Disasters: Impacts for Population and Place,” menandai tonggak penting dalam upaya memformalkan dan memperluas bidang penelitian yang sedang berkembang, yaitu nexus demografi-bencana. Karya ini menargetkan komunitas akademik, peneliti, dan lembaga pemberi hibah untuk bergerak melampaui pemahaman tradisional bencana sebagai "guncangan" eksternal atau "peristiwa non-rutin" yang semata-mata tidak dapat diprediksi. Inti dari volume ini adalah argumen bahwa bencana sangat tertanam dalam struktur masyarakat (social embeddedness), di mana profil demografi populasi pra-bencana adalah penentu utama kerentanan dan besarnya dampak yang terjadi.
Buku ini secara logis menyusun perjalanan temuan dengan memaparkan kerangka kerja konseptual yang luas. Bencana, dalam pandangan ini, memiliki kapasitas untuk mengubah profil populasi secara mendasar pada tingkat lokal dan regional. Perubahan ini bukan hanya tentang jumlah kematian atau cedera segera, tetapi juga mencakup konsekuensi yang lebih kompleks dan berjangka panjang seperti migrasi keluar, relokasi permanen, dan perubahan perilaku demografi—yang semuanya dapat berfungsi sebagai umpan balik yang tak terduga, mengubah ekonomi dan struktur sosial jauh ke masa depan.
Jalur logis penelitian ini kemudian diuraikan melalui pemeriksaan multidisiplin yang terperinci. Volume ini menyoroti tujuh pendekatan utama dalam memahami interkoneksi ini: dampak bencana pada populasi, pengukuran kerentanan, perpindahan massal (mass displacement), pendekatan spasial/regional, perubahan iklim, urbanisasi, dan pendekatan terapan. Secara kolektif, bab-bab dalam buku ini memperkuat tesis bahwa bencana seringkali mempercepat tren demografi yang sudah ada sebelumnya, seperti migrasi dari pedesaan ke perkotaan atau penurunan populasi, daripada menciptakan struktur demografi yang sama sekali baru di tingkat lokal. Oleh karena itu, penelitian lanjutan harus melibatkan pemeriksaan mendalam terhadap demografi pra-bencana untuk membedakan antara tren struktural dan dampak yang disebabkan oleh bencana itu sendiri.
Sorotan Temuan Kuantitatif Deskriptif
Meskipun karya ini bersifat kompilasi dari berbagai studi kasus dan ulasan konseptual, penekanan pada demografi kerentanan dan perpindahan massal secara konsisten memvalidasi tesis sentralnya. Analisis yang dikumpulkan dari studi kasus jangka panjang mengenai perubahan populasi dan migrasi pasca-bencana menunjukkan bahwa temuan ini menunjukkan hubungan kuat antara komposisi demografi yang rentan (terutama kelompok lansia dan minoritas) dan tingkat morbiditas/mortalitas pasca-bencana yang tidak proporsional — menunjukkan potensi kuat untuk mengembangkan objek penelitian baru dalam pemodelan risiko bencana berbasis populasi. Selain itu, perbandingan antara lokasi bencana (seperti kasus Morwell, New Orleans, dan Christchurch) mengungkapkan bahwa respons migrasi dan perubahan populasi regional sangat bergantung pada pre-eksistensi struktur ekonomi (misalnya, kota industri tunggal) dan kondisi sosial.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Kontribusi utama dari volume riset ini terhadap studi bencana dan demografi adalah tiga kali lipat. Pertama, ia secara definitif memposisikan nexus demografi-bencana sebagai bidang ilmiah yang berbeda, bukan hanya sebagai cabang dari ilmu sosial yang lebih luas. Langkah ini sangat penting untuk menarik sumber pendanaan dan membangun komunitas akademik yang kohesif.
Kedua, buku ini mendorong pergeseran ontologis dalam studi bencana. Dengan menekankan bahwa bencana berakar pada ketidaksetaraan sosial, politik, dan ekonomi (social vulnerability school) , para peneliti diarahkan untuk fokus pada demografi sebagai akar penyebab bencana—misalnya, bagaimana komposisi umur, jenis kelamin, dan etnis populasi di zona bahaya secara intrinsik meningkatkan risiko.
Ketiga, volume ini menyediakan kerangka kerja klasifikasi yang komprehensif melalui tujuh pendekatan interdisipliner, yang meluas dari dampak kesehatan dan pemindahan paksa hingga masalah yang lebih kontemporer seperti migrasi akibat perubahan iklim dan kerentanan perkotaan. Kerangka ini berfungsi sebagai peta jalan untuk penelitian di masa depan, membantu peneliti untuk mengatasi kompleksitas multidimensi dari bencana modern.
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Meskipun kontribusinya besar, para editor dan penulis mengidentifikasi beberapa keterbatasan kritis dan pertanyaan terbuka yang memerlukan perhatian mendesak dari komunitas peneliti.
Keterbatasan utama adalah kurangnya data yang memadai, spasial, dan tepat waktu untuk melakukan analisis demografi bencana secara rinci. Hal ini menghambat penggunaan teknik demografi terapan untuk estimasi populasi pasca-bencana dan pemodelan kerentanan yang akurat. Keterbatasan data ini menyebabkan pemahaman yang kurang tentang skala sosial isu-isu bencana—bagaimana kelompok yang berbeda (seperti wanita, masyarakat adat, atau kelompok rentan) mengalami dan menanggapi bencana dalam jangka waktu yang lebih lama.
Pertanyaan-pertanyaan terbuka yang paling menantang meliputi:
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan (dengan Justifikasi Ilmiah)
Berikut adalah lima rekomendasi riset berkelanjutan, disajikan secara eksplisit untuk komunitas akademik dan lembaga pemberi hibah, yang secara langsung didasarkan pada celah temuan dan pertanyaan terbuka dalam volume ini.
1. Pengembangan Pemodelan Dinamika Populasi Spasial-Temporal Jangka Panjang
2. Analisis Gender dan Inklusivitas dalam Perencanaan Tata Ruang Perkotaan
3. Mengukur Koefisien Kerentanan Struktural di Megacity Pesisir Global
4. Isolasi Efek Percepatan Bencana dari Tren Demografi Jangka Panjang
5. Pemanfaatan Big Data untuk Demografi Terapan dalam Respons Bencana
Kesimpulan dan Kolaborasi
Nexus demografi-bencana adalah bidang yang matang untuk investasi riset transformatif. Temuan saat ini, yang menggarisbawahi peran penting komposisi populasi pra-bencana dalam menentukan kerentanan, secara langsung membuka jalan bagi perencanaan jangka panjang yang lebih terinformasi dan adaptif. Mengintegrasikan demografi dengan studi bencana memungkinkan kita untuk bergerak dari manajemen krisis pasif ke mitigasi risiko proaktif yang tertanam dalam realitas spasial dan sosial. Dengan memahami bahwa bencana dapat mempercepat perubahan demografi yang tidak dapat dihindari, kita dapat merencanakan kota dan wilayah yang menyusut dan beradaptasi alih-alih hanya berfokus pada pertumbuhan.
Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi yang memiliki spesialisasi komplementer, seperti Geographical Institute (CSFK) di Budapest, Northern Institute di Charles Darwin University, dan University of Iceland, untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil, sekaligus memperluas kolaborasi ke lembaga-lembaga yang fokus pada data spasial besar dan perencanaan kebijakan urban di wilayah berisiko tinggi.
Perencanaan Kota
Dipublikasikan oleh Raihan pada 23 Oktober 2025
Analisis kerentanan banjir di Pontianak, sebuah kota yang terbelah sungai di ekuator, menunjukkan tantangan finansial yang signifikan. Kerugian tahunan akibat banjir diproyeksikan melonjak dari US$30 juta pada tahun 2015 menjadi US$83,6 juta pada tahun 2055. Menghadapi proyeksi ini, penelitian oleh Gultom et al. (2022) melakukan analisis spasial kuantitatif untuk memetakan dan membandingkan kerentanan banjir kota antara kondisi tahun 2020 dan proyeksi tahun 2050.
Studi ini membangun model kerentanan yang didasarkan pada dua variabel utama: Efisiensi Rute Evakuasi dan Kapasitas Penampungan (Shelter).
Untuk mengukur Efisiensi Rute Evakuasi, penelitian ini menggunakan metode Space Syntax. Metodologi ini menganalisis jaringan kota secara topologis untuk menghasilkan nilai "Integrasi Rata-rata" (AI). Secara sederhana, nilai AI yang tinggi menunjukkan bahwa segmen jalan mudah diakses dari semua bagian lain kota, menjadikannya rute evakuasi yang efisien.
Untuk mengukur Kapasitas Penampungan, penelitian ini menggunakan formula "Capacity Rate" (CR), yang membandingkan total area shelter yang tersedia (SA) dengan jumlah korban banjir yang diproyeksikan (FV). Jumlah korban (FV) dihitung berdasarkan data kepadatan penduduk (PD) dan area cakupan banjir (FC). Standar area 3m² per orang digunakan untuk menentukan kapasitas maksimum shelter. Sebuah distrik dianggap "memadai" jika CR-nya 100% atau lebih, yang berarti dapat menampung semua korban yang diproyeksikan.
Hasil dari kedua pengukuran ini (AI dan CR) diplot ke dalam diagram kuadran untuk mengklasifikasikan kerentanan setiap distrik:
Kuadran 1 (Kerentanan Rendah): AI tinggi, CR memadai.
Kuadran 2 (Kerentanan Sedang): AI rendah, CR memadai.
Kuadran 3 (Kerentanan Tinggi): AI rendah, CR tidak memadai.
Kuadran 4 (Kerentanan Sedang): AI tinggi, CR tidak memadai.
Pada tahun 2020, data menunjukkan median AI kota adalah 0.57. Dua distrik, Pontianak Utara (AI 0.42) dan Pontianak Barat (AI 0.55), berada di bawah median, menunjukkan efisiensi rute evakuasi yang rendah. Secara kapasitas, hanya Pontianak Pusat (CR 322%) dan Pontianak Tenggara (CR 3147%) yang terbukti memadai. Empat distrik lainnya tidak memadai, dengan Pontianak Utara (25%) dan Pontianak Selatan (42%) menunjukkan defisit terbesar. Kombinasi ini menempatkan Pontianak Utara dan Pontianak Barat di Kuadran 3 (Kerentanan Tinggi) pada tahun 2020.
Perbandingan dengan proyeksi 2050 menjadi inti dari temuan penelitian ini. Skenario 2050 memasukkan dua perubahan besar: rencana implementasi jalan lingkar baru dan peningkatan kepadatan penduduk.
Temuan di 2050 menunjukkan dinamika yang kompleks. Pertama, implementasi jalan lingkar terbukti berhasil meningkatkan konektivitas. Efek paling dramatis terlihat di Pontianak Barat, di mana AI melonjak dari 0.55 (Rendah) menjadi 0.65 (Tinggi). Peningkatan efisiensi rute ini berhasil memindahkan Pontianak Barat dari Kuadran 3 (Kerentanan Tinggi) ke Kuadran 4 (Kerentanan Sedang).
Namun, keberhasilan infrastruktur ini dibayangi oleh risiko kedua: penurunan kapasitas shelter akibat pertumbuhan penduduk. Meskipun jumlah shelter diasumsikan tetap, CR menurun di semua distrik. Penurunan paling tajam terjadi di Pontianak Timur (dari 73% ke 32%) dan Pontianak Utara (dari 25% ke 11%). Bahkan distrik yang "aman" seperti Pontianak Pusat mengalami penurunan CR dari 322% menjadi 260%.
Secara keseluruhan, paper ini menyimpulkan bahwa Kota Pontianak akan menjadi lebih tangguh (resilient) terhadap banjir di masa depan, terutama karena peningkatan signifikan dalam efisiensi rute evakuasi yang disediakan oleh jalan lingkar. Namun, penelitian ini secara tegas mengidentifikasi penurunan drastis capacity rate sebagai risiko serius yang harus segera ditangani.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Penelitian Gultom et al. (2022) memberikan beberapa kontribusi penting bagi komunitas perencana kota dan manajemen bencana:
1. Model Kerentanan Dua Variabel: Mengembangkan dan menerapkan kerangka kerja kuantitatif yang jelas (AI + CR) untuk menilai kerentanan, beralih dari penilaian kualitatif umum ke metrik yang dapat ditindaklanjuti.
2. Aplikasi Space Syntax untuk Bencana: Secara spesifik menerapkan Space Syntax, yang sering digunakan untuk analisis ekonomi atau lalu lintas, sebagai alat untuk mengukur efektivitas evakuasi bencana di kota sungai yang kompleks.
3. Analisis Dampak Infrastruktur Proyektif: Memberikan studi kasus langka yang tidak hanya memetakan risiko saat ini (2020), tetapi juga memodelkan dampak kuantitatif dari rencana infrastruktur masa depan (jalan lingkar 2050) terhadap resiliensi kota.
4. Alat Bantu Kebijakan Berbasis Data: Menghasilkan peta kerentanan berbasis kuadran (Gbr. 8) yang secara visual membedakan distrik berisiko tinggi (Q3) versus distrik yang hanya kekurangan shelter (Q4) atau hanya kekurangan akses (Q2), memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih terfokus.
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Meskipun kokoh secara metodologis, penelitian ini juga secara jujur menyoroti keterbatasan yang membuka jalan bagi riset di masa depan:
Keterbatasan Kualitas Rute (AI): Metrik AI murni bersifat topologis (jumlah belokan dan koneksi). Paper ini menemukan bahwa desain jalan lingkar yang direncanakan di beberapa distrik (seperti Barat, Pusat, dan Selatan) terlalu berliku dan memiliki banyak belokan, yang membuatnya kurang efektif dalam analisis Space Syntax dibandingkan dengan desain yang lurus (seperti di Utara). Pertanyaan Terbuka: Bagaimana merancang infrastruktur evakuasi yang optimal secara sintaksis (lurus, sedikit belokan) dalam konteks tata ruang kota yang sudah padat?
Keterbatasan Blokade Banjir (AI vs. Hazard): Temuan krusial adalah bahwa Space Syntax mengukur efisiensi dalam kondisi normal. Penelitian ini menemukan bahwa banyak rute dengan AI tinggi (dianggap efisien) di Pontianak Timur, Selatan, dan Pusat, justru berada di area yang berpotensi tergenang banjir (lihat Gbr. 3). Ini berarti rute "terbaik" mungkin tidak dapat diakses saat dibutuhkan. Pertanyaan Terbuka: Bagaimana kita dapat mengembangkan model efisiensi rute yang mengintegrasikan konektivitas topologis (AI) dengan data hazard (blokade banjir) secara dinamis?
Keterbatasan Lokasi Shelter (CR): Metrik CR mengukur total area shelter yang tersedia, bukan aksesibilitas atau keamanannya. Paper ini menemukan masalah signifikan di mana banyak area shelter potensial (terutama di Pontianak Utara dan Barat) justru terletak di dalam zona potensi banjir. Pertanyaan Terbuka: Di mana lokasi optimal untuk membangun shelter baru agar (a) aman dari genangan dan (b) terhubung secara efisien ke rute evakuasi AI tinggi yang juga aman?
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan (dengan justifikasi ilmiah)
Berdasarkan temuan kuantitatif dan keterbatasan yang teridentifikasi, kami merekomendasikan lima jalur penelitian lanjutan yang spesifik untuk memperdalam pemahaman dan solusi manajemen risiko banjir:
1. Pengembangan Model Hibrid: "AI Evakuasi Realistis" (AI + Hazard Overlay)
Justifikasi: Penelitian ini menunjukkan konflik antara rute berefisiensi AI tinggi dan lokasinya yang rawan banjir. Hubungan antara efisiensi rute dan ketersediaannya saat bencana masih belum teruji.
Metode: Penelitian selanjutnya harus mengembangkan model hibrid. Gunakan Space Syntax (AI) sebagai baseline konektivitas, lalu terapkan overlay GIS dari peta hazard (seperti Gbr. 3) untuk secara dinamis 'menonaktifkan' atau memberi penalti pada segmen jalan yang tergenang.
Signifikansi: Ini akan menghasilkan metrik baru—"AI Evakuasi Realistis"—yang mengukur konektivitas rute yang benar-benar dapat diakses saat banjir. Temuan ini akan menunjukkan apakah distrik dengan AI tinggi seperti Pontianak Selatan (AI 0.67) benar-benar se-resilien yang terlihat.
2. Analisis Sensitivitas Desain Jalan Lingkar
Justifikasi: Studi ini menemukan bahwa tidak semua desain jalan lingkar memberikan dampak AI yang sama; desain yang lurus di Pontianak Utara lebih efektif secara sintaksis daripada desain yang berliku di distrik lain.
Metode: Melakukan analisis sensitivitas ex-ante. Daripada hanya menguji satu master plan, riset selanjutnya harus memodelkan 3-5 skenario desain jalan lingkar alternatif (misalnya, rute yang lebih lurus, penambahan jembatan konektor baru, atau grade-separated interchange) dan membandingkan dampaknya terhadap AI di distrik-distrik yang paling tertinggal.
Signifikansi: Memberikan data kuantitatif kepada perencana kota tentang desain infrastruktur mana yang memberikan peningkatan resiliensi (AI) tertinggi per investasi, memastikan rencana masa depan lebih efektif.
3. Model Optimasi Lokasi Shelter (Shelter Siting)
Justifikasi: Dua masalah shelter utama teridentifikasi: (1) Banyak shelter eksisting berada di zona banjir (misal di Pontianak Utara dan Barat), dan (2) CR menurun drastis di semua distrik pada 2050 (misal, Pontianak Timur turun dari 73% ke 32%).
Metode: Menggunakan multi-criteria decision analysis (MCDA) atau model location-allocation untuk mengidentifikasi lokasi shelter baru yang optimal. Variabel input krusial harus mencakup: (1) Berada di luar "Flood potential area", (2) Konektivitas tinggi ke jaringan "AI Evakuasi Realistis" (dari Rekomendasi 1), dan (3) Kedekatan dengan area berkepadatan korban banjir (FV) tertinggi.
Signifikansi: Beralih dari sekadar menghitung defisit kapasitas menjadi memberikan solusi penempatan yang strategis, memastikan shelter baru aman, dapat diakses, dan melayani populasi yang paling rentan.
4. Analisis Dampak Mitigasi Non-Struktural terhadap Defisit CR
Justifikasi: Penelitian ini berfokus pada solusi struktural (jalan dan bangunan). Namun, penurunan CR terbesar didorong oleh faktor sosial (peningkatan kepadatan penduduk).
Metode: Riset mixed-methods yang menguji efektivitas intervensi non-struktural untuk mengimbangi defisit CR. Variabel baru untuk diuji dapat mencakup: (1) Efektivitas sistem peringatan dini dalam mendorong evakuasi mandiri, (2) Kelayakan evakuasi vertikal (menggunakan bangunan publik tinggi yang ada sebagai shelter sementara), atau (3) Skema asuransi bencana untuk mengurangi kebutuhan akan shelter publik.
Signifikansi: Menjawab pertanyaan apakah mitigasi non-infrastruktur dapat mengkompensasi defisit kapasitas shelter yang masif (seperti di Pontianak Utara, CR hanya 11% pada 2050) ketika pembangunan shelter baru secara fisik atau finansial tidak memungkinkan.
5. Validasi Model (AI + CR) di Tipologi Kota Sungai Lainnya
Justifikasi: Paper ini secara eksplisit menyarankan penelitian lebih lanjut di lokasi lain di Kalimantan ("Pulau Seribu Sungai"). Model ini sangat dipengaruhi oleh topologi unik Pontianak yang terbelah sungai besar dan bergantung pada jembatan serta feri.
Metode: Replikasi metodologi (AI + CR) di kota-kota sungai lain dengan tantangan serupa (misalnya, Banjarmasin, Samarinda, Palembang) yang juga memiliki jaringan kanal historis dan ketergantungan pada infrastruktur penghubung.
Signifikansi: Menguji validitas eksternal dan generalisasi model Gultom et al. Ini akan menentukan apakah temuan bahwa "jalan lingkar meningkatkan resiliensi" adalah prinsip universal untuk kota sungai, atau hanya berlaku untuk konfigurasi spesifik Pontianak.
Penelitian Gultom et al. telah meletakkan dasar yang kuat dengan mengidentifikasi dinamika ganda antara peningkatan konektivitas infrastruktur dan penyusutan kapasitas sosial. Namun, temuan ini baru permulaan.
Untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil, penelitian lebih lanjut harus melibatkan kolaborasi erat antara institusi akademik seperti Universitas Tanjungpura, badan perencanaan kota (BAPPEDA), dan badan penanggulangan bencana nasional (BNPB) serta dinas pekerjaan umum. Mengintegrasikan pemodelan akademis dengan kebutuhan praktis para pembuat kebijakan adalah langkah penting berikutnya untuk mewujudkan Pontianak yang benar-benar tangguh di masa depan.
Baca paper aslinya di sini: https://doi.org/10.14246/irspsd.10.3_170
Konstruksi & Infrastruktur
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Oktober 2025
Latar Belakang Teoretis
Penelitian ini berakar pada peran fundamental terminal bus sebagai fasilitas umum yang kompleks, di mana tingginya aktivitas menuntut jaminan keamanan dan kenyamanan bagi para pengguna. Latar belakang masalah yang diangkat secara spesifik adalah kondisi Terminal Pinang Ranti di Jakarta Timur. Meskipun telah melalui proses revitalisasi yang panjang, terminal ini masih menghadapi tantangan dalam hal pemeliharaan dan perawatan fasilitasnya, yang berpotensi mengurangi kualitas pelayanan publik.
Kerangka teoretis yang diusung oleh studi ini adalah evaluasi berbasis standar. Penulis memposisikan peraturan pemerintah sebagai tolok ukur ideal (das Sollen) untuk menilai kondisi aktual (das Sein) di lapangan. Secara spesifik, penelitian ini merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No. PM 15 Tahun 2019 yang mendefinisikan fungsi utama terminal, dan Permenhub No. 132 Tahun 2015 yang secara rinci mengklasifikasikan fasilitas menjadi fasilitas utama dan penunjang serta menguraikan lingkup kegiatan pemeliharaan yang wajib dilakukan. Dengan demikian, hipotesis implisit yang mendasari karya ini adalah bahwa terdapat kesenjangan antara praktik manajemen pemeliharaan yang ada di Terminal Pinang Ranti dengan standar yang diamanatkan oleh regulasi nasional. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi konseptual terhadap sistem pemeliharaan dan perawatan fasilitas di terminal tersebut.
Metodologi dan Kebaruan
Penelitian ini mengadopsi metode studi literatur atau tinjauan konseptual. Pendekatan ini tidak melibatkan pengumpulan data empiris baru melalui survei atau eksperimen, melainkan berfokus pada sintesis informasi dari sumber-sumber yang telah ada. Proses metodologisnya mencakup penelaahan terhadap dokumen-dokumen internal (seperti data pemeliharaan fasilitas terminal), peraturan perundang-undangan yang relevan, serta literatur akademis mengenai manajemen pemeliharaan fasilitas.
Analisis yang dilakukan bersifat deskriptif-kualitatif, di mana informasi yang terkumpul diorganisir untuk memetakan sistem yang ada dan mengidentifikasi area-area potensial untuk perbaikan berdasarkan praktik terbaik yang disarankan oleh para ahli. Kebaruan dari karya ini tidak terletak pada pengembangan teori baru, melainkan pada aplikasinya yang pragmatis. Dengan secara sistematis membingkai masalah pemeliharaan sebuah fasilitas publik yang spesifik dalam kerangka regulasi dan tinjauan akademis, penelitian ini memberikan sebuah diagnosis awal yang terstruktur dan berbasis pengetahuan.
Temuan Utama dengan Kontekstualisasi
Sebagai sebuah studi literatur, temuan utama dari penelitian ini adalah pemetaan sistem pemeliharaan yang ada dan sintesis rekomendasi dari para ahli.
Struktur Manajemen Pemeliharaan: Ditemukan bahwa pelaksanaan pemeliharaan di Terminal Pinang Ranti dilakukan secara swakelola (Swakelola) oleh Satuan Sarana dan Prasarana Unit Pengelola Terminal Angkutan Jalan, yang diawasi langsung oleh Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta. Struktur tim teknisnya terbagi secara spesifik, dengan dua orang teknisi untuk Air (IPAL) dan Pemadam Kebakaran, dua orang untuk Kelistrikan, dan dua orang untuk pemeliharaan eskalator.
Rekomendasi dari Literatur: Temuan yang paling signifikan adalah adopsi saran-saran dari studi-studi sebelumnya sebagai masukan konkret bagi pengelola Terminal Pinang Ranti.
Mengutip Labombang (2008), penelitian ini menekankan bahwa penanganan fasilitas menuntut adanya sistem kerja yang sistematis dan profesional yang didasarkan pada pemahaman yang benar mengenai Manajemen Pemeliharaan Fasilitas.
Mengutip Sushernawan (2014), disarankan untuk menambah jumlah personil yang bertugas mengawasi kebersihan, keamanan, dan kondisi fasilitas di dalam terminal. Secara spesifik, direkomendasikan untuk merekrut lulusan dari Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) untuk mengisi peran ini.
Secara kontekstual, temuan-temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun telah ada struktur organisasi untuk pemeliharaan, praktik di lapangan kemungkinan besar masih dapat ditingkatkan dengan mengadopsi pendekatan manajemen yang lebih profesional dan dengan memperkuat kapasitas sumber daya manusia, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Keterbatasan dan Refleksi Kritis
Keterbatasan utama dari penelitian ini adalah sifatnya yang sepenuhnya merupakan tinjauan literatur. Studi ini secara efektif mengidentifikasi standar yang relevan dan menyajikan rekomendasi dari para ahli, namun tidak menyajikan data empiris primer dari Terminal Pinang Ranti itu sendiri. Akibatnya, "evaluasi" yang dilakukan tetap berada pada level konseptual, tanpa adanya pengukuran kuantitatif atau kualitatif yang mendalam mengenai tingkat kesenjangan antara kondisi fasilitas aktual dengan standar yang ada.
Secara kritis, paper ini berhasil dalam merumuskan masalah dan mengidentifikasi kerangka kerja untuk solusinya. Namun, tanpa data lapangan—seperti hasil audit fisik fasilitas, survei kepuasan pengguna, atau wawancara dengan staf pemeliharaan—kesimpulan mengenai tingkat urgensi atau area prioritas untuk perbaikan masih bersifat dugaan.
Implikasi Ilmiah di Masa Depan
Secara praktis, implikasi dari penelitian ini sangat jelas. Ia memberikan serangkaian rekomendasi awal yang dapat ditindaklanjuti oleh manajemen Terminal Pinang Ranti untuk mulai memikirkan perbaikan sistem pemeliharaan mereka, khususnya dalam hal profesionalisme manajemen dan kecukupan personil.
Untuk penelitian di masa depan, karya ini secara efektif berfungsi sebagai studi pendahuluan yang meletakkan dasar untuk investigasi empiris yang lebih rigor. Langkah berikutnya yang paling logis adalah melaksanakan evaluasi lapangan yang sesungguhnya. Ini akan melibatkan pengembangan instrumen audit berdasarkan Permenhub No. 132 Tahun 2015, melakukan inspeksi fisik yang sistematis, serta mengumpulkan data primer dari para pemangku kepentingan (pengguna dan staf) untuk memvalidasi secara empiris kebutuhan akan intervensi yang telah diidentifikasi dalam tinjauan literatur ini.
Sumber
Evaluasi Pemeliharaan dan Perawatan Fasilitas Terminal Bus Pinang Ranti Jakarta Timur. (2020). Prosiding Seminar Pendidikan Kejuruan dan Teknik Sipil (SPKTS) 2020, 430-437.