Pembangunan & Infrastruktur
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 17 November 2025
Latar Belakang Teoretis
Penelitian ini berakar pada sebuah pertanyaan krusial: bagaimana pelestarian warisan budaya dapat diintegrasikan dengan agenda pembangunan "kota cerdas" yang serba cepat? Latar belakang masalah yang diangkat adalah bahwa kota Surat, yang secara historis dikenal dengan industri tekstil dan berlian, berupaya membangun kembali identitasnya sebagai "kota bersejarah" melalui restorasi Surat Castle—proyek restorasi warisan pertama dalam skala ini di kota tersebut.
Kerangka teoretis yang diusung oleh studi SAAR ini adalah konsep "Smart Heritage." Alih-alih hanya melestarikan bangunan secara statis, pendekatan ini bertujuan untuk "meningkatkan interaksi dan pengalaman wisatawan" dengan menggunakan teknologi modern seperti VR, AR, AV, aplikasi seluler, dan pemindaian 3D , mengambil inspirasi dari proyek sukses seperti "Digital Hampi". Dengan biaya Rs 55,49 crore, proyek restorasi kastil ini—yang awalnya dimulai oleh Surat Municipal Corporation (SMC) dan kemudian dimasukkan ke dalam SCM—bertujuan untuk mencapai target SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan).
Metodologi dan Kebaruan
Sebagai sebuah tinjauan kritis, studi yang dilakukan oleh para peneliti dari CEPT University ini mengadopsi metodologi studi kasus kualitatif dengan "pendekatan bottom-up." Prosesnya dibagi menjadi lima fase: perumusan penelitian, studi literatur, studi primer di lokasi, analisis data, dan kesimpulan.
Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara pemangku kepentingan (termasuk SSCDL, SMC, dan Kurator) serta survei dampak ekonomi terhadap para pemilik bisnis lokal di sekitar lokasi. Proyek restorasi itu sendiri (yang ditinjau oleh studi ini) menggunakan "gaya restorasi terbuka" (open restoration style) yang inovatif, yang secara sengaja mengekspos berbagai lapisan sejarah konstruksi dari era Tughlaq, Sultanat Gujarat, Mughal, hingga Inggris, untuk "komunikasi yang lebih baik" kepada pengunjung.
Temuan Utama dengan Kontekstualisasi
Analisis dampak proyek oleh tim SAAR—yang mencakup domain nilai tambah, fisik, ekonomi, sosio-kultural, dan pariwisata—menghasilkan temuan yang beragam :
Nilai Tambah dan Keuangan: Ditemukan bahwa kedua entitas saling diuntungkan. Proyek ini memberikan nilai tambah bagi Smart City Mission (sebagai proyek warisan perintis), sementara SCM memberikan "aliran dana yang lancar melalui SSCDL" (Badan Pelaksana/SPV) untuk memastikan kelancaran proyek.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata: Rencana penggunaan adaptif kastil ini sangat ambisius, mencakup 35 galeri tematik, British tea-room, galeri seni, dan ruang konferensi. Fitur smart heritage yang direncanakan—termasuk tur audio berbasis aplikasi seluler, peta interaktif berbasis VR, dan pertunjukan cahaya & suara—diharapkan dapat menarik wisatawan nasional dan internasional, yang pada gilirannya akan meningkatkan ekonomi lokal (restoran, hotel, transportasi).
Persepsi Pemangku Kepentingan: Survei terhadap bisnis lokal menunjukkan optimisme bahwa pariwisata akan meningkat, namun mengeluhkan bahwa proyek tersebut "belum cukup diiklankan." Penilaian KPI di area sekitar menunjukkan bahwa "reputasi kota" serta "keselamatan dan keamanan" adalah indikator yang paling terkena dampak positif.
Keterbatasan dan Refleksi Kritis
Studi SAAR ini mengidentifikasi dua keterbatasan utama. Pertama, keterbatasan metodologis dari tinjauan ini: pada saat penelitian, kastil "saat ini tidak operasional." Akibatnya, dampak aktual terhadap pengguna dan wisatawan "tidak dapat diukur," dan dampak langsungnya masih "sangat sedikit."
Kedua, dan yang paling kritis, adalah tantangan keberlanjutan dari proyek itu sendiri. Laporan ini menyatakan bahwa proyek tersebut menghadapi "tantangan serius" terkait "keberlanjutan diri" (self-sustainability). Dengan ditutupnya SSCDL pada tahun 2023, proyek ini mencari sumber pendanaan lain, terutama karena "rasio biaya-terhadap-pendapatan yang diprediksi tidak sesuai." Selain itu, tinjauan ini menyoroti satu dampak sosio-kultural negatif yang signifikan: proyek ini berdampak langsung pada "kawasan kumuh yang berdampingan, yang diusulkan untuk direlokasi," sebuah tindakan yang diakui akan "memutuskan tatanan sosial dan ekonomi para penghuni kawasan kumuh."
Implikasi Ilmiah di Masa Depan
Secara praktis, keberhasilan proyek ini telah "memulai dialog" di dalam pemerintahan kota, mendorong SMC untuk "mempertimbangkan pengembangan warisan sebagai alat pembangunan yang penting" untuk situs-situs lain di kota. Namun, studi ini secara implisit menyerukan perlunya penelitian evaluasi pasca-hunian (post-occupancy evaluation) yang komprehensif setelah kastil dibuka sepenuhnya untuk umum, guna mengukur dampak aktualnya dan memvalidasi apakah model "Smart Heritage" ini benar-benar dapat berkelanjutan secara finansial dan adil secara sosial.
Sumber
Studi Kasus C1: Restoration of Surat Castle: Critical Review of an Indian Smart City Project. (2023). Dalam SAAR: Smart cities and Academia towards Action and Research (Part C: Urban Infrastructure) (hlm. 2-10). National Institute of Urban Affairs (NIUA).
Infrastruktur & Pembangunan Wilayah
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 17 November 2025
Latar Belakang Teoretis
Penelitian ini berakar pada sebuah masalah fundamental dalam pembangunan perkotaan: akses yang terbatas terhadap layanan esensial di kawasan kumuh—terutama air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak—secara langsung melanggengkan siklus kemiskinan dan memperburuk kesenjangan sosial. Latar belakang masalah yang diangkat adalah bahwa meskipun banyak intervensi dilakukan, sering kali terdapat kegagalan dalam implementasi karena kurangnya model kebijakan yang komprehensif, khususnya yang berkaitan dengan tata letak bangunan (building layout).
Kerangka teoretis studi ini memposisikan kebijakan yang terstruktur sebagai aspek penting untuk mencapai pembangunan perkotaan yang berkelanjutan di area-area rentan ini. Hipotesis yang mendasari karya ini adalah bahwa intervensi yang berhasil tidak dapat bersifat parsial, melainkan harus merupakan hasil dari interaksi kompleks antara kebijakan pemerintah, partisipasi komunitas, dan dukungan ekonomi. Dengan demikian, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menutup kesenjangan pengetahuan dengan "menciptakan model kebijakan untuk penataan bangunan di kawasan kumuh yang dapat mengarahkan pembentukan permukiman berkelanjutan."
Metodologi dan Kebaruan
Penelitian ini mengadopsi metodologi kuantitatif yang canggih, dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM). Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk tidak hanya mengukur hubungan antar variabel, tetapi juga untuk menguji dan menginterpretasikan dampak dari serangkaian kebijakan penataan bangunan terhadap tujuan akhir, yaitu "pembangunan permukiman berkelanjutan."
Proses metodologisnya melibatkan pengujian hipotesis mengenai hubungan antara berbagai variabel. Berdasarkan temuan yang disajikan, variabel-variabel ini mencakup "kebijakan pemerintah," "keterlibatan komunitas," dan "pemangku kepentingan non-pemerintah".
Kebaruan dari karya ini terletak pada penggunaan SEM untuk secara statistik memvalidasi sebuah model kebijakan holistik untuk pembangunan kawasan kumuh. Alih-alih hanya mengidentifikasi masalah secara kualitatif, penelitian ini memberikan bukti kuantitatif mengenai faktor-faktor mana yang memiliki dampak statistik paling signifikan.
Temuan Utama dengan Kontekstualisasi
Analisis data menggunakan SEM menghasilkan serangkaian temuan yang jelas mengenai faktor-faktor penentu keberhasilan pembangunan permukiman berkelanjutan.
Peran Kritis Kebijakan Pemerintah: Temuan utama dari analisis SEM adalah adanya "korelasi yang penting dan menguntungkan antara kebijakan pemerintah dan keterlibatan komunitas." Studi ini menyimpulkan bahwa kebijakan pemerintah yang progresif dan inklusif memainkan peran krusial dalam mengarahkan pembangunan permukiman berkelanjutan, terutama dalam mendukung peningkatan akses ke infrastruktur dan layanan dasar.
Fokus pada Layanan Dasar dan Ekonomi: Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang paling berpengaruh. Ditemukan bahwa peningkatan akses ke layanan dasar—secara eksplisit disebut sebagai "air bersih, sanitasi"—merupakan faktor kunci yang mempengaruhi pembangunan permukiman berkelanjutan. Selain itu, dalam konteks lingkungan, kebijakan pemberdayaan ekonomi terbukti vital. Dukungan terhadap bisnis lokal dapat "menciptakan lapangan kerja lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mengurangi tingkat kemiskinan."
Temuan Mengejutkan tentang Pemangku Kepentingan Non-Pemerintah: Salah satu "temuan menarik" dari analisis SEM adalah yang berkaitan dengan pemangku kepentingan non-pemerintah (seperti LSM). Meskipun diakui berkontribusi signifikan pada proyek pembangunan secara umum, investigasi ini "tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki dampak besar pada pembangunan struktur yang berkelanjutan dan ramah lingkungan" di kawasan kumuh.
Secara kontekstual, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa meskipun partisipasi komunitas dan dukungan LSM penting, intervensi yang paling berdampak dan berkelanjutan adalah intervensi yang dipimpin oleh kebijakan pemerintah yang kuat dan berfokus pada infrastruktur dasar (air/sanitasi) serta pemberdayaan ekonomi.
Keterbatasan dan Refleksi Kritis
Meskipun kuat secara statistik, keterbatasan dari studi berbasis SEM adalah bahwa ia menunjukkan korelasi, bukan kausalitas absolut. Selain itu, temuan yang mengejutkan mengenai rendahnya dampak pemangku kepentingan non-pemerintah terhadap "struktur berkelanjutan" mungkin bersifat spesifik konteks dan memerlukan penelitian kualitatif lebih lanjut untuk memahami mengapa dampak tersebut tidak terdeteksi secara signifikan dalam model.
Implikasi Ilmiah di Masa Depan
Secara praktis, implikasi dari penelitian ini sangat jelas. Ia memberikan cetak biru berbasis bukti bagi para pembuat kebijakan: untuk berhasil, program perbaikan kawasan kumuh harus merupakan paket terintegrasi yang dipimpin oleh pemerintah yang secara simultan menggabungkan (1) keterliba_tan komunitas yang proaktif, (2) investasi infrastruktur keras pada layanan dasar, dan (3) kebijakan pemberdayaan ekonomi.
Untuk penelitian di masa depan, temuan mengenai pemangku kepentingan non-pemerintah membuka jalan untuk investigasi yang sangat dibutuhkan. Penelitian selanjutnya harus mengeksplorasi mengapa kontribusi mereka mungkin tidak secara efektif diterjemahkan ke dalam hasil fisik yang ramah lingkungan, dan bagaimana sinergi antara pemerintah dan aktor non-pemerintah dapat ditingkatkan.
Sumber
Sastrodiningrat, M. R., Bisri, M., dkk. (2024). Rural management and agricultural development: Rural communities and aid. Transactions of the Chinese Society of Agricultural Machinery, 55(4).
Perumahan dan Permukiman
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 16 November 2025
Latar Belakang Teoretis
Penelitian ini berakar pada sebuah pertanyaan fundamental bagi para pembuat kebijakan dan praktisi pembangunan: Apa dampak terukur dari perbaikan perumahan di permukiman informal terhadap pembangunan manusia secara luas? Secara tradisional, dampak dari perumahan yang layak—seperti kepemilikan yang aman (security of tenure), akses ke layanan dasar, dan material yang memadai—sering kali bersifat kualitatif atau sulit diukur dalam skala makro.
Kerangka teoretis laporan ini secara inovatif menghubungkan elemen-elemen perumahan layak secara langsung dengan tiga dimensi inti dari Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index - HDI):
(1) Pendapatan (diukur dengan GNI per kapita), (2) Kesehatan (diukur dengan harapan hidup), dan (3) Pendidikan (diukur dengan tahun harapan sekolah). Hipotesis yang mendasari studi ini adalah bahwa perbaikan perumahan yang komprehensif bukan hanya intervensi sosial, tetapi juga investasi ekonomi yang dapat menghasilkan keuntungan signifikan dan terukur pada indikator-indikator HDI nasional.
Metodologi dan Kebaruan
Untuk menguji hipotesis ini, penelitian ini mengadopsi metodologi pemodelan statistik kuantitatif yang canggih, yang dibangun di atas tinjauan literatur ekstensif terhadap lebih dari 130 penelitian. Proses metodologisnya melibatkan beberapa langkah kunci:
Analisis Skenario: Tiga skenario dampak dirancang: Hati-hati (Cautious), Moderat, dan Optimis. Skenario "Optimis", misalnya, mengasumsikan bahwa perbaikan perumahan multi-sektoral dapat menghasilkan kenaikan pendapatan sebesar 10% bagi penghuni permukiman informal.
Pembuatan Tipologi: Alih-alih menganalisis setiap negara secara individual, laporan ini membangun sebuah tipologi (bukan taksonomi) yang mengelompokkan negara ke dalam empat tipe teoretis berdasarkan tingkat HDI dan persentase penghuni kawasan kumuh (misalnya, Tipe 1: HDI Tinggi/Kumuh Rendah; Tipe 3: HDI Sedang/Kumuh Tinggi).
Pemodelan Statistik: Model ini kemudian menghitung potensi perubahan pada setiap komponen HDI (GNI, harapan hidup, tahun sekolah) untuk setiap tipe negara di bawah setiap skenario.
Kebaruan dari karya ini terletak pada upayanya untuk mengkuantifikasi dampak pembangunan secara holistik. Alih-alih hanya mengisolasi satu variabel (misalnya, dampak kesehatan dari air bersih), model ini mencoba menangkap efek gabungan dari perbaikan perumahan yang komprehensif terhadap metrik pembangunan nasional yang paling diakui secara global, yaitu HDI.
Temuan Utama dengan Kontekstualisasi
Analisis pemodelan menghasilkan serangkaian temuan kuantitatif yang kuat yang menyoroti potensi transformatif dari investasi perumahan.
Dampak Signifikan pada Peringkat HDI: Temuan utama menunjukkan bahwa intervensi perumahan dapat secara signifikan mengubah skor dan peringkat HDI suatu negara. Dalam skenario "Optimis", negara-negara Tipe 1 (HDI Tinggi) dapat mengalami kenaikan HDI sebesar 2,9% (dari 0,798 menjadi 0,822), yang berpotensi memindahkan mereka dari kategori "Tinggi" ke "Sangat Tinggi". Ini secara efektif berarti negara-negara tersebut dapat "melompat" dalam peringkat HDI global.
Dampak Terukur pada Pendidikan: Model ini memberikan angka nyata pada hasil sosial. Ditemukan bahwa akses ke perumahan yang layak dapat mencegah lebih dari 20-25 juta anak dan remaja putus sekolah (terutama di negara-negara Tipe 3 dan 4, di mana populasi permukiman informal terbesar).
Dampak pada Kesehatan dan Pendapatan: Di luar pendidikan, model ini menghitung dampak langsung pada harapan hidup dan GNI per kapita. Skenario "Optimis" menunjukkan potensi peningkatan harapan hidup dan variasi persentase yang signifikan dalam GNI, yang secara kolektif berkontribusi pada peningkatan skor HDI secara keseluruhan.
Secara kontekstual, temuan-temuan ini memberikan "bukti" empiris bahwa perumahan yang layak di permukiman informal adalah fondasi untuk pembangunan manusia, yang berdampak langsung pada modal manusia (kesehatan, pendidikan) dan kemakmuran ekonomi (pendapatan).
Keterbatasan dan Refleksi Kritis
Penulis secara transparan mengakui keterbatasan utama dari penelitian ini, yaitu kesenjangan data yang signifikan (existing data gaps). Kesenjangan ini merupakan "kendala metodologis penting" yang membatasi ketepatan model. Secara khusus, data UN-HABITAT untuk sebagian besar negara berpenghasilan tinggi tidak tersedia, yang mengharuskan pengecualian negara-negara berpenghasilan tinggi dari analisis.
Selain itu, penting untuk diingat bahwa model ini didasarkan pada tipologi (konstruk teoretis berdasarkan rata-rata tertimbang), bukan taksonomi (klasifikasi empiris yang kaku), sehingga Tipe 1-4 adalah representasi teoretis, bukan pengelompokan definitif negara.
Implikasi Ilmiah di Masa Depan
Secara praktis, laporan ini adalah alat advokasi yang kuat. Ia dirancang untuk mendukung kampanye "Home Equals" dengan menyediakan data kuantitatif bagi para pembuat kebijakan untuk membenarkan investasi besar dalam perbaikan permukiman informal, tidak hanya atas dasar moral tetapi juga atas dasar ekonomi dan pembangunan. Laporan ini menyerukan intervensi yang komprehensif dan partisipatif sebagai strategi pembangunan yang paling efektif.
Untuk penelitian di masa depan, karya ini menyoroti kebutuhan mendesak akan pengumpulan data global yang lebih baik mengenai permukiman informal untuk menutup kesenjangan yang ada dan meningkatkan akurasi model-model prediktif di masa depan.
Sumber
Habitat for Humanity & IIED. (2023). Improving housing in informal settlements: Assessing the impacts in human development.
Ekonomi Pariwisata
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 16 November 2025
Latar Belakang Teoretis
Penelitian ini berakar pada sebuah pergeseran konseptual dalam studi pariwisata yang bisa dibilang menjadi peluang usaha yang unik. Di era postmodern, terjadi pergeseran dari pariwisata tradisional yang berfokus pada warisan budaya atau kenikmatan hedonistik, menuju pencarian pengalaman yang lebih mendalam, termasuk "belajar tentang budaya lokal dan pengalaman kehidupan sehari-hari" di lokasi-lokasi yang tidak konvensional. Fenomena "wisata kawasan kumuh"—yang bukan merupakan fenomena baru dan telah ada sejak 1884 —masuk ke dalam kategori ini.
Latar belakang masalah yang diangkat adalah bahwa meskipun pariwisata kawasan kumuh menawarkan potensi ekonomi, hal ini juga menghadirkan paradoks etika yang signifikan, terutama dalam konteks di mana kebutuhan dasar (seperti yang digariskan dalam piramida Maslow) bagi banyak penghuni kawasan kumuh tidak terpenuhi. Namun, penelitian ini berhipotesis bahwa "strategi stimulasi perkotaan memiliki dimensi positif dalam mengaktifkan pariwisata di area-area tersebut" dan dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan. Secara khusus dalam konteks Irak, studi ini mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan yang krusial: kesadaran akan konsep pariwisata kawasan kumuh di kalangan masyarakat "tidak tinggi."
Metodologi dan Kebaruan
Untuk menguji hipotesisnya dan mengukur tingkat kesadaran, penelitian ini mengadopsi metodologi survei kuantitatif. Pendekatan ini melibatkan pengumpulan data demografis dan persepsi dari komunitas lokal di Irak. Kuesioner dirancang untuk mengukur berbagai variabel, termasuk:
Pandangan umum komunitas terhadap kawasan kumuh dan pengembangannya (misalnya, "Saya merasa sulit menerimanya").
Preferensi aktivitas yang mungkin dilakukan responden saat mengunjungi kawasan kumuh.
Persepsi mengenai langkah-langkah yang harus diambil untuk mengembangkan pariwisata di area tersebut.
Identifikasi tantangan utama yang dihadapi pariwisata kawasan kumuh di Irak.
Kebaruan dari karya ini terletak pada aplikasinya yang spesifik. Sementara sebagian besar literatur tentang wisata kemiskinan berfokus pada lokus yang sudah mapan (seperti township di Afrika Selatan atau favela di Brazil), studi ini mengalihkan lensa ke Irak—sebuah konteks yang secara signifikan kurang terwakili dalam diskursus ini. Studi ini memberikan data empiris awal yang berharga mengenai persepsi lokal di wilayah tersebut.
Temuan Utama dengan Kontekstualisasi
Analisis data survei menghasilkan serangkaian temuan yang melukiskan gambaran yang kompleks mengenai potensi wisata kawasan kumuh di Irak.
Kesadaran Rendah, Namun Persepsi Penting: Temuan utama mengonfirmasi hipotesis awal: "kesadaran akan pariwisata kawasan kumuh di Irak tidak tinggi," dengan "persentase besar anggota komunitas tidak terbiasa dengan konsep tersebut." Namun, secara paradoksal, penelitian ini juga menemukan bahwa "terdapat persentase besar dari komunitas lokal yang percaya pada pentingnya" (mengembangkan) kawasan tersebut.
Identifikasi Tantangan: Tantangan utama yang menghambat pengembangan wisata kawasan kumuh di Irak, menurut 11,3% partisipan, adalah "kurangnya (sistem) yang terintegrasi." Hal ini menunjukkan bahwa upaya-upaya yang bersifat sporadis atau tidak terkoordinasi dipandang sebagai penghalang signifikan.
Preferensi Aktivitas: Studi ini berhasil mengidentifikasi preferensi spesifik di antara responden. Ditemukan bahwa 23,3% partisipan tertarik untuk mempraktikkan aktivitas tertentu saat berkunjung, yang sejalan dengan motivasi teoretis pariwisata ini, seperti "menemukan pengalaman baru, menjelajahi tempat yang tidak dikenal," dan "pemahaman budaya."
Peluang Postmodern: Secara konseptual, penelitian ini menegaskan bahwa pergeseran di era postmodern dari pariwisata warisan budaya tradisional merupakan sebuah peluang. Dengan "mengganti ide warisan budaya," destinasi baru yang tidak konvensional seperti kawasan kumuh dapat dieksplorasi, membuka jalan bagi model pembangunan alternatif.
Keterbatasan dan Refleksi Kritis
Meskipun menyajikan data yang penting, keterbatasan utama dari studi ini adalah fokusnya pada persepsi dan preferensi. Studi ini mengukur apa yang diyakini atau diinginkan oleh komunitas, tetapi tidak dapat mengukur dampak ekonomi atau sosial yang aktual dari implementasi pariwisata semacam itu.
Secara kritis, studi ini menyoroti ketegangan etis dari "wisata kemiskinan" dengan merujuk pada piramida Maslow. Kegagalan untuk memenuhi kebutuhan dasar para penghuni sambil secara bersamaan "menjual" pengalaman kemiskinan mereka tetap menjadi inti permasalahan yang harus ditangani oleh setiap strategi pembangunan di masa depan.
Implikasi Ilmiah di Masa Depan
Secara praktis, implikasi dari penelitian ini sangat jelas dan dapat ditindaklanjuti. Temuan ini berfungsi sebagai dasar untuk rekomendasi kebijakan yang konkret. Rekomendasi utama yang disarankan oleh penelitian ini adalah "Mengembangkan infrastruktur, meningkatkan akses ke kawasan kumuh, menghubungkan mereka dengan atraksi wisata di kota, dan mengintegrasikan mereka ke dalam tatanan perkotaan."
Untuk penelitian di masa depan, karya ini membuka jalan bagi studi intervensi. Setelah mengidentifikasi persepsi positif (meskipun kesadaran rendah) dan tantangan (kurangnya sistem terintegrasi), langkah logis berikutnya adalah merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi proyek percontohan (pilot project) wisata kawasan kumuh berskala kecil di Irak. Studi semacam itu akan sangat penting untuk mengukur dampak empiris aktual—baik positif maupun negatif—terhadap pendapatan, pemberdayaan, dan kualitas hidup penghuni kawasan kumuh.
Sumber
AL-TAEE, O., & JALEEL, A. (2024). THE ROLE OF SLUM TOURISM IN SUSTAINABLE URBAN DEVELOPMENT OF SLUM AREAS IN IRAQ. Civil and Environmental Engineering, 20(2), 933-947.
Perguruan Tinggi
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 16 November 2025
Latar Belakang Teoretis
Penelitian ini berakar pada sebuah masalah fundamental: tanpa pelembagaan (institutionalization), pedagogi Service-Learning (SL) tidak dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Ketika SL tetap bersifat marjinal dan para pendukungnya terus "berjuang untuk bertahan hidup," sulit untuk mengembangkan atau mempertahankan kursus berkualitas tinggi. Lebih lanjut, dari perspektif komunitas, adalah "tidak bertanggung jawab" bagi sebuah institusi untuk mendorong kemitraan komunitas tanpa menciptakan infrastruktur yang diperlukan untuk menopang kemitraan tersebut dari waktu ke waktu.
Kerangka teoretis yang diusung oleh buku ini adalah bahwa pelembagaan adalah sebuah proses perpindahan SL "dari pinggiran ke arus utama," menjadikannya bagian dari struktur akademik yang sah. Buku ini secara eksplisit mengadopsi metafora "polihedron" (bidang banyak) dari Paus Fransiskus, yang menyiratkan bahwa tujuannya bukanlah untuk menyajikan satu model yang sukses, melainkan untuk mempromosikan dialog dan membangun rasa kebersamaan dengan menyajikan berbagai sisi dan pengalaman dari institusi yang berbeda. Dengan demikian, tujuan utama dari kompilasi ini adalah untuk menyajikan beragam perspektif dan studi kasus dari lebih dari empat belas universitas di berbagai benua mengenai bagaimana mereka menavigasi proses pelembagaan SL.
Metodologi dan Kebaruan
Sebagai sebuah volume kolektif, metodologi utama yang digunakan adalah studi multi-kasus komparatif dan analisis teoretis. Buku ini mengumpulkan dan menyajikan pengalaman mendalam dari berbagai Institusi Pendidikan Tinggi (IPT), terutama Institusi Pendidikan Tinggi Katolik (IPTK), dari berbagai konteks budaya dan struktural, termasuk studi kasus dari Chili , Belgia , Spanyol , Jerman , Kenya , Filipina , Argentina , Meksiko , Afrika Selatan , dan Hong Kong.
Sebuah komponen metodologis utama yang dibahas dan digunakan di seluruh volume adalah Rubrik Penilaian Mandiri untuk Pelembagaan Service-Learning (Self-Assessment Rubric for the Institutionalization of Service-Learning), yang dikembangkan oleh Andrew Furco. Rubrik ini berfungsi sebagai alat diagnostik utama, yang mengukur kemajuan institusi melalui tiga tahap (Membangun Massa Kritis, Membangun Kualitas, Pelembagaan Berkelanjutan) di lima dimensi utama: (1) Filosofi dan Misi, (2) Keterlibatan dan Dukungan Fakultas, (3) Keterlibatan dan Dukungan Mahasiswa, (4) Partisipasi Komunitas, dan (5) Dukungan Institusional.
Kebaruan dari karya ini terletak pada cakupan globalnya yang luas dan presentasi beragam "wajah" dari proses pelembagaan, yang secara kolektif didukung oleh kerangka kerja penilaian yang konkret.
Temuan Utama dengan Kontekstualisasi
Analisis terhadap berbagai kerangka kerja teoretis dan studi kasus di dalam volume ini menghasilkan serangkaian temuan kunci mengenai proses pelembagaan SL.
Sinergi "Top-Down" dan "Bottom-Up": Temuan yang paling konsisten di berbagai studi kasus adalah bahwa proses pelembagaan yang paling sukses dan langgeng terjadi ketika ada sinergi antara inisiatif "bottom-up" (energi dan komitmen dari fakultas dan mahasiswa yang terlibat) dengan "top-down" (dukungan, kebijakan, dan sumber daya dari otoritas universitas). Dukungan dari pimpinan puncak, seperti Rektor, terbukti krusial dalam memberikan keberlanjutan, visibilitas , dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan.
Risiko dan Hambatan Pelembagaan: Proses ini tidak bersifat linier dan menghadapi risiko yang signifikan. Hambatan yang paling umum adalah resistensi dari fakultas atau administrator yang menganut paradigma "menara gading," yang khawatir bahwa keterlibatan komunitas akan "menurunkan tingkat akademik." Tantangan lainnya adalah apa yang disebut "imunitas terhadap perubahan" (immunity to change), yaitu dinamika institusional mendarah daging yang lebih fokus pada "persaingan antar individu... daripada... kapasitas untuk bekerja sama."
Beragam Jalur, Tujuan yang Sama: Studi kasus menunjukkan tidak ada satu cara yang benar untuk melembagakan SL. Pontifical Catholic University of Chile, misalnya, menunjukkan proses konsolidasi selama 15 tahun yang didasarkan pada model yang sangat sistematis dan pengembangan panduan internal. Sebaliknya, De La Salle University di Filipina menggambarkan "Pendekatan Bibingka" yang sangat kontekstual , dan University of Deusto di Spanyol mengintegrasikannya dengan tradisi Ignatian mereka.
Pentingnya Penilaian Mandiri: Penggunaan Rubrik Penilaian Mandiri (seperti yang dijelaskan oleh Furco) terbukti penting bukan hanya untuk mendapatkan "skor," tetapi untuk memfasilitasi perencanaan strategis dan "langkah-langkah tindakan strategis" guna memajukan SL lebih lanjut.
Keterbatasan dan Refleksi Kritis
Volume ini, melalui bab oleh Furco, secara transparan mengakui keterbatasan dari alat penilaian utamanya. Rubrik Penilaian Mandiri awalnya dikembangkan di Amerika Serikat dan secara alami "bergantung pada perspektif Utara dan Barat." Tantangan signifikan muncul dalam penerjemahan—tidak hanya bahasa (misalnya, "faculty" vs "facultad") tetapi juga konsep—ke dalam konteks budaya dan sistem pendidikan tinggi yang berbeda di seluruh dunia.
Selain itu, rubrik ini sebagian besar berfokus pada faktor internal institusi dan tidak sepenuhnya memperhitungkan kekuatan eksternal (seperti kebijakan pemerintah atau pengaturan budaya) yang juga mempengaruhi pelembagaan SL.
Implikasi Ilmiah di Masa Depan
Secara praktis, buku ini berfungsi sebagai sumber daya yang komprehensif, menawarkan cetak biru, studi kasus, dan alat diagnostik (termasuk berbagai rubrik di Apendiks ) bagi institusi pendidikan tinggi mana pun yang ingin memulai atau memperkuat perjalanan pelembagaan SL mereka.
Untuk penelitian di masa depan, karya ini menyerukan perlunya investigasi lebih lanjut mengenai aspek-aspek pelembagaan SL yang unik dalam konteks spesifik, seperti di dalam Institusi Pendidikan Tinggi Katolik dan di luar konteks Barat. Tujuannya adalah untuk terus mengadaptasi dan menyempurnakan alat diagnostik agar lebih relevan secara kontekstual di seluruh dunia.
Sumber
Jouannet, C., Arocha, L., Tapia, M. N., Peregalli, A., Furco, A., dkk. (2023). Institutionalization of Service-Learning in Higher Education. (Uniservitate Collection, 4). CLAYSS.
Infrastruktur dan Lingkungan
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 16 November 2025
Latar Belakang Teoretis
Penelitian ini berakar pada sebuah realitas yang tak terbantahkan: kota-kota di negara berkembang sering kali kewalahan (overpopulated) dan tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk menampung gelombang migrasi massal dari perdesaan ke perkotaan yang didorong oleh pencarian kerja. Latar belakang masalah yang diangkat adalah bahwa kemunculan kawasan kumuh merupakan akibat langsung dari kegagalan perencanaan kota (failed city planning) dan ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan fasilitas perumahan yang terjangkau.
Kerangka teoretis yang diusung oleh penulis secara tegas menghubungkan fenomena kawasan kumuh dengan agenda pembangunan global, yaitu Sustainable Development Goals (SDGs). Penulis berargumen bahwa SDGs, dengan sifatnya yang inklusif dan terintegrasi, merupakan kerangka kerja yang tepat karena mengakui bahwa isu-isu di kawasan kumuh (kemiskinan, kesehatan, pendidikan, lingkungan) "saling terkait" (interconnected) dan tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Dengan demikian, tujuan dari tinjauan ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana pendekatan pembangunan berkelanjutan dapat diimplementasikan untuk perbaikan kawasan kumuh, dengan belajar dari pengalaman di tingkat kota, nasional, dan internasional.
Metodologi dan Kebaruan
Studi ini mengadopsi metode tinjauan literatur konseptual dan historis. Pendekatan ini tidak menyajikan data empiris baru, melainkan mensintesis berbagai perspektif—mulai dari pemikiran modern era Victoria tentang kawasan kumuh hingga teori-teori perbaikan permukiman pasca-2000—untuk membangun sebuah argumen yang koheren.
Proses metodologisnya melibatkan penelusuran evolusi kebijakan kawasan kumuh. Secara khusus, studi ini menyoroti karya John F. C. Turner sebagai titik awal pergeseran paradigma dalam kebijakan perbaikan kawasan kumuh di negara-negara berkembang. Kebaruan dari karya ini terletak pada sintesisnya yang kuat antara diskursus kawasan kumuh dengan kerangka kerja SDGs. Alih-alih hanya berfokus pada kemiskinan atau perumahan, studi ini secara holistik mengintegrasikan dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi, serta secara kritis mengidentifikasi hambatan finansial yang sistemik.
Temuan Utama dengan Kontekstualisasi
Sebagai sebuah tinjauan konseptual, temuan utama dari penelitian ini adalah identifikasi dari dinamika, kontribusi, dan hambatan utama dalam pembangunan kawasan kumuh.
Pergeseran Paradigma Kebijakan: Penelitian ini mencatat adanya transformasi historis yang penting dalam kebijakan perkotaan. Pendekatan awal yang bersifat destruktif—seperti "pembersihan total dan deportasi" (complete clearance and deportation)—telah bergeser menuju pendekatan yang "lebih lunak" dan lebih berkelanjutan, yang mempertimbangkan aspek ekonomi, budaya, sosial, dan lingkungan.
Kontribusi Ekonomi Kawasan Kumuh: Tinjauan ini secara tegas menantang narasi bahwa kawasan kumuh hanya menjadi beban. Ditemukan bahwa penghuni kawasan kumuh memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi perkotaan , baik sebagai "bagian besar dari angkatan kerja formal" maupun sebagai penyedia jasa perkotaan yang esensial, seperti pengumpulan sampah.
Hambatan Finansial Sistemik: Salah satu temuan paling kritis adalah identifikasi kegagalan dalam sistem keuangan formal. Bank-bank terbukti "memberikan jumlah pinjaman yang sangat sedikit" (very meager amount of loans) kepada penghuni kawasan kumuh. Lebih lanjut, sistem penjaminan seperti Fogarim (yang dirancang untuk membantu) justru memberikan "manfaat yang rendah bagi para pekerja berpenghira tidak tetap" (low benefit to nonregular-income earners), yang pada akhirnya mengecualikan mereka yang paling membutuhkan dari akses ke sumber daya keuangan.
Kawasan Kumuh sebagai Target Intervensi SDGs: Karena konsentrasi kemiskinan yang tinggi, kawasan kumuh menjadi "target sempurna untuk intervensi" yang bertujuan untuk pengurangan kemiskinan, pengurangan angka kematian anak, dan penanganan HIV/AIDS.
Keterbatasan dan Refleksi Kritis
Keterbatasan utama dari penelitian ini adalah sifatnya sebagai tinjauan literatur. Studi ini tidak menyajikan studi kasus empiris baru atau data kuantitatif primer. Akibatnya, ia berhasil dalam memetakan lanskap konseptual dan hambatan yang diketahui, namun tidak dapat memberikan evaluasi mendalam tentang keberhasilan atau kegagalan program spesifik di lapangan.
Secara kritis, meskipun studi ini menyoroti pentingnya SDGs, ia tidak mengeksplorasi potensi konflik antar-tujuan SDGs dalam konteks kawasan kumuh (misalnya, antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan).
Implikasi Ilmiah di Masa Depan
Secara praktis, implikasi dari penelitian ini sangat jelas. Ia memberikan argumen kuat bagi para pembuat kebijakan untuk meninggalkan pendekatan sektoral yang terfragmentasi. Kegagalan sistem keuangan formal dalam menjangkau pekerja informal menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan inovasi dalam produk keuangan mikro (micro-finance) dan skema penjaminan yang dirancang khusus untuk realitas ekonomi penghuni kawasan kumuh.
Untuk penelitian di masa depan, karya ini menyerukan perlunya evaluasi yang lebih sistematis terhadap implementasi program perbaikan kawasan kumuh. Studi selanjutnya harus berfokus pada pengembangan dan pengujian "tindakan yang inklusif dan terintegrasi" (inclusive, integrated actions) yang secara simultan mengatasi dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan, sebagaimana diamanatkan oleh kerangka kerja SDGs.
Sumber
Sustainable Development of Slum Living. (2021). Chapter.