Safety

Process Safety Management (PSM): Pendekatan Terintegrasi untuk Mencegah Kecelakaan Industri Berskala Besar

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 05 Januari 2026


Pendahuluan

Kecelakaan industri berskala besar merupakan peristiwa yang jarang terjadi, namun ketika terjadi dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Kebakaran, ledakan, serta pelepasan bahan kimia beracun tidak hanya membahayakan pekerja di dalam pabrik, tetapi juga masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Berbagai kasus internasional seperti Bhopal di India, Deepwater Horizon, serta kecelakaan industri petrokimia di berbagai negara menunjukkan bahwa penyebab utama insiden tersebut bukan hanya kesalahan individu, melainkan kegagalan sistem pengelolaan keselamatan proses.

Dari sinilah berkembang konsep Process Safety Management (PSM) sebagai pendekatan terstruktur untuk mengendalikan risiko proses industri berbahaya.

Perbedaan Keselamatan Personal dan Keselamatan Proses

Keselamatan personal berfokus pada perlindungan individu dari cedera fisik, seperti terjatuh, tertimpa benda, tersetrum, atau terjepit mesin. Pendekatan ini umumnya mengandalkan prosedur kerja aman, pelatihan pekerja, serta penggunaan alat pelindung diri.

Sebaliknya, keselamatan proses berkaitan dengan pengendalian bahaya yang berasal dari sistem produksi itu sendiri. Bahaya ini mencakup tekanan tinggi, suhu ekstrem, reaksi kimia berbahaya, bahan mudah terbakar, serta zat beracun. Ketika sistem gagal, dampaknya dapat mencederai banyak orang sekaligus dan merusak lingkungan secara luas.

Process Safety Management dirancang khusus untuk menangani bahaya proses, bukan sekadar perilaku pekerja.

Latar Belakang Pengembangan Process Safety Management

Konsep PSM berkembang setelah berbagai kecelakaan industri besar pada abad ke-20. Salah satu tragedi paling terkenal adalah kebocoran gas beracun di Bhopal, India, yang menewaskan ribuan orang dan mencemari lingkungan secara permanen.

Kecelakaan tersebut membuktikan bahwa keberadaan peralatan saja tidak cukup. Banyak sistem pengaman gagal berfungsi karena tidak dirawat, tidak diaudit, atau tidak dipahami oleh operator. Akibatnya, industri mulai menyadari perlunya pendekatan yang lebih menyeluruh dan terintegrasi.

Process Safety Management kemudian dikembangkan sebagai sistem yang menggabungkan aspek teknik, operasional, manajerial, dan budaya keselamatan.

Definisi Process Safety Management

Process Safety Management adalah sistem manajemen terstruktur yang bertujuan untuk mengidentifikasi, memahami, dan mengendalikan bahaya yang terkait dengan proses industri berisiko tinggi.

PSM tidak berdiri sebagai satu prosedur tunggal, melainkan sebagai kerangka kerja menyeluruh yang mencakup desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, hingga pengelolaan perubahan dan keadaan darurat.

Tujuan utama PSM adalah mencegah pelepasan energi atau bahan berbahaya yang tidak terkendali.

Industri yang Membutuhkan PSM

PSM sangat penting diterapkan pada industri yang menggunakan atau menghasilkan bahan berbahaya. Industri tersebut antara lain industri petrokimia, kilang minyak, pembangkit listrik, industri pupuk, industri gas, industri kimia, serta fasilitas penyimpanan bahan berbahaya.

Namun demikian, prinsip PSM juga relevan untuk industri skala menengah dan kecil apabila terdapat potensi kebakaran, ledakan, atau pelepasan zat beracun.

Konsep Bahaya dan Risiko dalam Proses Industri

Bahaya proses dapat berasal dari berbagai sumber, seperti tekanan berlebih, suhu tinggi, reaksi kimia tidak terkendali, kegagalan material, korosi, serta kesalahan desain atau instalasi.

Risiko muncul ketika bahaya tersebut tidak dikendalikan dengan baik. Banyak insiden besar bermula dari kebocoran kecil yang diabaikan, hingga akhirnya berkembang menjadi kecelakaan besar karena tidak ada sistem yang mampu menghentikan eskalasi.

Lapisan Pengamanan dalam Process Safety

Salah satu konsep utama dalam PSM adalah layer of protection atau pengamanan berlapis. Artinya, keselamatan tidak bergantung pada satu alat atau satu prosedur saja.

Pengamanan dapat berupa desain teknik yang aman, sistem kontrol otomatis, alarm, katup pengaman, prosedur operasi, pelatihan operator, hingga sistem tanggap darurat. Jika satu lapisan gagal, lapisan lain diharapkan masih dapat mencegah kecelakaan.

Konsep ini sering digambarkan melalui Swiss Cheese Model, di mana kecelakaan terjadi ketika semua lapisan pengaman gagal secara bersamaan.

Peran Desain dan Engineering dalam PSM

Keselamatan proses harus dimulai sejak tahap desain. Peralatan harus dirancang sesuai standar, material harus tepat, dan sistem pengaman harus terintegrasi sejak awal.

Kesalahan desain, penggunaan material berkualitas rendah, atau penghematan biaya yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kegagalan proses di masa depan.

Peran Operasi dan Pemeliharaan

Peralatan yang dirancang dengan baik tetap dapat gagal jika tidak dioperasikan dan dirawat dengan benar. Oleh karena itu, PSM menekankan pentingnya prosedur operasi standar, inspeksi berkala, kalibrasi alat, serta pemeliharaan yang konsisten.

Banyak kecelakaan terjadi karena peralatan pengaman tidak berfungsi akibat kurangnya perawatan atau penggunaan komponen tidak standar.

Kompetensi dan Pelatihan Pekerja

Operator dan teknisi memegang peran penting dalam keselamatan proses. Mereka harus memahami proses yang dijalankan, bahaya yang mungkin muncul, serta tindakan yang harus dilakukan dalam kondisi abnormal dan darurat.

Pelatihan yang memadai merupakan bagian integral dari PSM, bukan sekadar formalitas.

Manajemen Perubahan dalam Process Safety

Setiap perubahan dalam proses, baik perubahan bahan baku, peralatan, prosedur, maupun organisasi, harus dianalisis risikonya terlebih dahulu. Banyak kecelakaan besar terjadi setelah perubahan kecil yang tidak dikaji secara sistematis.

Manajemen perubahan bertujuan memastikan bahwa setiap modifikasi tidak menimbulkan bahaya baru.

Tanggap Darurat dan Investigasi Insiden

PSM juga mencakup kesiapan menghadapi kondisi darurat. Ketika insiden terjadi, respon yang cepat dan tepat dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Selain itu, setiap insiden harus diinvestigasi untuk menemukan akar penyebabnya, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali.

Peran Manajemen Puncak dalam PSM

Keberhasilan PSM sangat bergantung pada komitmen manajemen puncak. Tanpa dukungan kebijakan, sumber daya, dan budaya keselamatan dari pimpinan, sistem PSM tidak akan berjalan efektif.

Keselamatan proses bukan sekadar tanggung jawab teknisi, melainkan tanggung jawab seluruh organisasi.

Kesimpulan

Process Safety Management merupakan pendekatan komprehensif untuk mengendalikan risiko industri berbahaya. Dengan mengintegrasikan desain yang aman, operasi yang disiplin, pemeliharaan yang baik, serta budaya keselamatan yang kuat, risiko kecelakaan besar dapat diminimalkan.

PSM bukan hanya alat pencegahan kecelakaan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk keberlanjutan industri, perlindungan lingkungan, dan keselamatan masyarakat.

Sumber dan Referensi Pendukung

Process Safety Management Guidelines – CCPS
OSHA Process Safety Management Standard
IEC dan ISO terkait keselamatan proses
Studi Kasus Bhopal, Deepwater Horizon, dan industri petrokimia global

Selengkapnya
Process Safety Management (PSM):  Pendekatan Terintegrasi untuk Mencegah Kecelakaan Industri Berskala Besar

Safety

Keterkaitan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Pembangunan Berkelanjutan

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025


Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta pembangunan berkelanjutan adalah dua konsep yang semakin mendapat perhatian dalam dunia industri modern. Paper berjudul “The Relationship between Occupational Safety, Health, and Environment, and Sustainable Development: A Review and Critique” oleh Zohreh Molamohamadi dan Napsiah Ismail membahas bagaimana kedua konsep ini saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan bersama, yaitu kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan.

Artikel ini berfokus pada hubungan antara kebijakan K3 dan strategi pembangunan berkelanjutan, serta bagaimana pendekatan integratif dapat meningkatkan efisiensi bisnis sekaligus menjaga kesejahteraan pekerja dan lingkungan.

Penelitian ini mengkaji definisi dan konsep K3 serta pembangunan berkelanjutan dari berbagai sumber literatur. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana kedua kebijakan ini dapat saling melengkapi untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Beberapa poin utama yang dikaji dalam penelitian ini meliputi:

  • Definisi K3 dan pembangunan berkelanjutan berdasarkan standar internasional.
  • Faktor-faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan implementasi K3 dalam konteks pembangunan berkelanjutan.
  • Studi kasus tentang perusahaan yang telah berhasil mengintegrasikan K3 dalam kebijakan keberlanjutan mereka.

Beberapa temuan penting dalam penelitian ini meliputi:

  1. Dampak K3 terhadap Produktivitas
    • Perusahaan yang menerapkan kebijakan K3 dengan baik mengalami peningkatan produktivitas hingga 15%.
    • Tingkat kecelakaan kerja yang lebih rendah berkontribusi pada efisiensi operasional yang lebih baik.
  2. Hubungan antara Pembangunan Berkelanjutan dan K3
    • Sebanyak 78% studi menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi strategi keberlanjutan memiliki tingkat kepatuhan K3 yang lebih tinggi.
    • Perusahaan yang mengurangi limbah dan polusi di tempat kerja juga mengalami peningkatan kesejahteraan pekerja.
  3. Faktor Lingkungan dan Sosial
    • Lingkungan kerja yang lebih sehat berdampak positif pada kesejahteraan mental dan fisik pekerja.
    • Program keberlanjutan yang melibatkan pekerja dalam pengambilan keputusan meningkatkan keterlibatan mereka hingga 30%.

Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa implikasi penting bagi dunia industri:

  1. Pentingnya Integrasi K3 dalam Kebijakan Keberlanjutan
    • Perusahaan harus melihat K3 sebagai bagian integral dari strategi keberlanjutan mereka.
    • Kebijakan lingkungan yang baik dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja serta dampak negatif terhadap kesehatan pekerja.
  2. Peran Manajemen dalam Mendorong Kesadaran K3
    • Kepemimpinan yang proaktif dalam menerapkan kebijakan K3 dapat meningkatkan kepatuhan karyawan.
    • Manajemen perlu menyediakan pelatihan berkelanjutan agar pekerja lebih sadar akan risiko dan tindakan pencegahan.
  3. Dampak Ekonomi dari K3 yang Efektif
    • Investasi dalam keselamatan kerja dapat mengurangi biaya kompensasi kecelakaan dan meningkatkan kepuasan kerja.
    • Perusahaan yang memiliki kebijakan K3 yang baik cenderung memiliki citra yang lebih positif di mata investor dan konsumen.

Keselamatan dan kesehatan kerja tidak dapat dipisahkan dari strategi pembangunan berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan kedua konsep ini, perusahaan dapat mencapai keuntungan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang lebih besar.

Untuk penelitian selanjutnya, disarankan eksplorasi lebih lanjut mengenai peran teknologi dalam meningkatkan implementasi K3 dalam strategi keberlanjutan.

Sumber Artikel:
Molamohamadi, Z. & Ismail, N. (2014). The Relationship between Occupational Safety, Health, and Environment, and Sustainable Development: A Review and Critique. International Journal of Innovation, Management and Technology, 5(3).

 

Selengkapnya
Keterkaitan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Pembangunan Berkelanjutan

Safety

Analisis Faktor Keselamatan Industri dengan Pendekatan Statistik

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025


Keselamatan industri merupakan salah satu aspek yang sangat krusial dalam dunia kerja. Dalam paper berjudul “A Factorial Analysis of Industrial Safety” oleh Cordelia Ochuole Omoyi dan Samuel Ayodeji Omotehinse, dibahas bagaimana berbagai faktor berkontribusi terhadap keselamatan kerja di sektor industri. Paper ini menggunakan metode statistik seperti Principal Component Analysis (PCA) dan Kendall’s Coefficient of Concordance (KCC) untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mempengaruhi keselamatan kerja.

Untuk memahami variabel yang berkontribusi terhadap kecelakaan industri dan mengklasifikasikannya berdasarkan standar Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan (Health, Safety, and Environment - HSE). Metode penelitian yang digunakan meliputi:

  • Kendall’s Coefficient of Concordance (KCC): Digunakan untuk mengukur tingkat kesepakatan antara para penilai terhadap faktor risiko industri.
  • Principal Component Analysis (PCA): Membantu mereduksi 32 variabel faktor risiko menjadi 5 faktor utama yang berkontribusi terhadap keselamatan industri.

Studi ini dilakukan dengan melibatkan 13 panel ahli yang diminta untuk memberi peringkat pada 32 variabel bahaya industri berdasarkan skala Likert 5 poin. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak StatistiXL untuk menentukan faktor dominan yang berpengaruh terhadap keselamatan industri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada lima faktor utama yang mempengaruhi keselamatan kerja:

  1. Work World Culture (Budaya Kerja Global)
    • Faktor ini mencakup lingkungan kerja, desain ruang kerja, dan tingkat kesadaran pekerja terhadap keselamatan.
    • Variabel utama: kegagalan subsistem (sub-system failure), lingkungan kerja yang buruk, dan kurangnya organisasi personal.
    • Faktor ini memiliki pengaruh signifikan dengan nilai korelasi di atas 0,8 dalam analisis PCA.
  2. Ground Rule Matters (Aturan Dasar Keselamatan)
    • Faktor ini meliputi kesalahan manusia (human error), gangguan konsentrasi, dan kegagalan sistem.
    • Faktor ini memiliki nilai korelasi sebesar 0,74 berdasarkan hasil PCA, yang menunjukkan kontribusi besar terhadap kecelakaan kerja.
  3. Safety Considerations (Pertimbangan Keselamatan)
    • Faktor ini melibatkan penggunaan bahan berbahaya, kegagalan kompleks, dan kesalahan pengemudi.
    • Memiliki pengaruh moderat terhadap keselamatan kerja dengan nilai korelasi sekitar 0,56.
  4. Work Conditions (Kondisi Kerja)
    • Faktor ini terkait dengan lingkungan kerja secara keseluruhan, termasuk desain tata letak tempat kerja dan kondisi operasional.
    • Faktor ini memiliki pengaruh kuat dengan nilai korelasi 0,69 dalam PCA.
  5. Perception of Safety (Persepsi terhadap Keselamatan)
    • Faktor ini mencakup persepsi pekerja terhadap kompleksitas zona kerja dan kesadaran keselamatan.
    • Memiliki pengaruh yang lebih rendah dibandingkan faktor lain, tetapi tetap berkontribusi terhadap keselamatan kerja dengan nilai korelasi sekitar 0,42.

Hasil dari metode KCC menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan oleh panel ahli memiliki indeks kesepakatan tinggi (W = 0,958), yang berarti terdapat konsistensi tinggi dalam penilaian faktor risiko keselamatan kerja.

Penelitian ini menunjukkan bahwa keselamatan industri bukan hanya bergantung pada aturan formal, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya kerja dan persepsi keselamatan pekerja. Beberapa implikasi dari temuan ini adalah:

  1. Pentingnya Budaya Keselamatan
    • Perusahaan harus membangun budaya keselamatan yang kuat melalui pelatihan dan peningkatan kesadaran pekerja.
  2. Pelatihan dan Evaluasi Rutin
    • Kesalahan manusia dan gangguan konsentrasi dapat dikurangi dengan pelatihan keselamatan yang berkelanjutan.
  3. Penerapan Teknologi dalam Keselamatan Kerja
    • Penggunaan teknologi seperti sensor keamanan dan sistem pemantauan otomatis dapat membantu mendeteksi potensi bahaya sebelum terjadi kecelakaan.
  4. Manajemen Risiko yang Lebih Efektif
    • Menggunakan metode analisis statistik seperti PCA dan KCC dapat membantu dalam mengidentifikasi faktor utama yang berkontribusi terhadap kecelakaan kerja.

Keselamatan kerja dapat dikategorikan dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik. Hasil penelitian menyoroti lima faktor utama yang mempengaruhi keselamatan kerja di industri dan bagaimana manajemen yang tepat dapat membantu mengurangi insiden kecelakaan.

Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar metode serupa diterapkan pada berbagai sektor industri lainnya guna memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai faktor-faktor keselamatan kerja.

Sumber Artikel:
Omoyi, C.O. & Omotehinse, S.A. (2022). A Factorial Analysis of Industrial Safety. International Journal of Engineering and Innovative Research, 4(1), 33-43.

 

Selengkapnya
Analisis Faktor Keselamatan Industri dengan Pendekatan Statistik

Safety

Analisis Kesenjangan dalam Implementasi Safety Management System di Bandara: Studi Kasus Bandara Adisumarmo

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 10 Mei 2025


Industri penerbangan Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dengan peningkatan jumlah penumpang dan armada pesawat secara signifikan. Namun, pertumbuhan ini juga diiringi dengan meningkatnya risiko kecelakaan dan insiden serius. Berdasarkan data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), 67,12% dari 82 kecelakaan penerbangan dan 130 insiden serius antara 2010-2016 disebabkan oleh kesalahan manusia. Untuk mengurangi risiko ini, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menetapkan Safety Management System (SMS) sebagai standar wajib bagi industri penerbangan.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi SMS di Bandara Adisumarmo, dengan menggunakan metode analisis kesenjangan (gap analysis), fault tree analysis (FTA), dan barrier analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa kesenjangan dalam implementasi standar SMS di bandara tersebut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional dengan metode:

  • Analisis Kesenjangan (Gap Analysis): Perbandingan antara standar SMS (Doc 9859) dengan kondisi aktual di Bandara Adisumarmo.
  • Fault Tree Analysis (FTA): Identifikasi penyebab utama kegagalan dalam implementasi SMS.
  • Barrier Analysis: Mengidentifikasi hambatan dalam pelaksanaan SMS dan memberikan rekomendasi perbaikan.

Empat komponen utama SMS yang dianalisis adalah:

  1. Kebijakan dan Tujuan Keselamatan
  2. Manajemen Risiko Keselamatan
  3. Jaminan Keselamatan
  4. Promosi Keselamatan

Hasil analisis kesenjangan menunjukkan bahwa dari 71 pertanyaan dalam checklist SMS, 92,68% standar telah dipenuhi. Namun, beberapa elemen masih memiliki kekurangan, yaitu:

  • Kebijakan dan Tujuan Keselamatan: Tidak semua kebijakan keselamatan dikomunikasikan dengan baik.
  • Manajemen Risiko Keselamatan: Format pelaporan bahaya hanya mencakup aspek keselamatan udara, sementara pelaporan keselamatan darat belum diterapkan sepenuhnya.
  • Jaminan Keselamatan: Evaluasi SMS belum dilakukan secara internal, melainkan hanya oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
  • Promosi Keselamatan: Sosialisasi informasi keselamatan belum menjangkau seluruh pihak terkait.

FTA digunakan untuk memahami bagaimana kegagalan dalam implementasi SMS dapat terjadi. Beberapa penyebab utama yang diidentifikasi antara lain:

  • Kurangnya komunikasi kebijakan keselamatan di seluruh lini organisasi.
  • Prosedur evaluasi keselamatan yang memakan waktu lama sehingga menghambat perbaikan cepat.
  • Kekurangan personel yang memiliki keahlian dalam keselamatan penerbangan.
  • Tidak adanya insentif bagi pelaporan bahaya yang menyebabkan rendahnya partisipasi dalam pelaporan insiden.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, dilakukan barrier analysis guna mengidentifikasi solusi yang dapat diterapkan. Beberapa rekomendasi perbaikan adalah:

  • Meningkatkan pelatihan dan sosialisasi kebijakan keselamatan kepada seluruh pegawai, termasuk staf administrasi dan operasional.
  • Menetapkan prosedur review kebijakan keselamatan yang lebih cepat dengan melibatkan pakar eksternal.
  • Menambah personel dengan keahlian keselamatan penerbangan untuk mempercepat implementasi SMS.
  • Menyediakan insentif bagi pelaporan insiden untuk meningkatkan partisipasi dalam pelaporan bahaya.

Meskipun implementasi SMS di Bandara Adisumarmo telah memenuhi sebagian besar standar ICAO, masih terdapat beberapa kesenjangan yang perlu diperbaiki. Dengan menerapkan rekomendasi yang diberikan, diharapkan keselamatan penerbangan dapat lebih terjamin dan risiko kecelakaan dapat diminimalkan.

Sumber: Pramono, S. N. W., Ulkhaq, M. M., Ardi, F., & Raharjo, R. (2018). ‘A Gap Analysis on Implementation of Safety Management System in Airport: A Case Study’. 4th International Conference on Science and Technology (ICST), Yogyakarta, Indonesia.

Selengkapnya
Analisis Kesenjangan dalam Implementasi Safety Management System di Bandara: Studi Kasus Bandara Adisumarmo

Safety

Keselamatan: Pengertian, Jenis, Risiko dan Pengukuran

Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 26 Februari 2025


Keselamatan

Keamanan adalah keadaan aman dimana seseorang merasa aman, secara sosial, psikologis, finansial, politik, emosional, fisik, psikologis atau intelektual, dan terlindungi dari ancaman. Untuk mencapai hal ini, langkah-langkah perlindungan dapat diterapkan jika terjadi krisis ekonomi atau kesehatan.

Jenis Keselamatan

Penting untuk memahami perbedaan antara produk yang memenuhi standar, produk yang aman, dan produk yang dianggap aman. Dalam konteks ini, muncul tiga jenis situasi: Pertama, "keselamatan konvensional" mengacu pada produk atau desain yang memenuhi standar desain yang ditetapkan. Kedua, “keselamatan kerja” mengacu pada pentingnya keselamatan bahkan ketika standar yang ditentukan tidak dipenuhi. Terakhir, kata “keamanan” digunakan untuk menggambarkan rasa aman yang muncul dari masyarakat. Misalnya, keberadaan lampu lalu lintas yang dianggap sebagai tanda keselamatan, namun terkadang menimbulkan kecemasan dan berkontribusi terhadap kecelakaan. Memahami perbedaan dan dinamika ketiga konsep ini penting untuk meningkatkan kesadaran keselamatan produk.

Risiko dan Respon

Metode keselamatan terdiri dari penilaian risiko kematian, cedera atau kerusakan pada orang atau harta benda. Risiko ini dapat timbul dari situasi berbahaya atau aktivitas berbahaya. Contoh kondisi tidak aman adalah lingkungan kerja yang bising, lingkungan kerja dengan kondisi ekstrim (suhu yang sangat tinggi atau rendah, tekanan tinggi) atau bahan kimia berbahaya. Menanggapi risiko-risiko ini, berbagai jenis pencegahan telah dilakukan. Respon yang diambil berupa respon teknis dan publikasi regulasi. Sebagai tindakan pencegahan terakhir, kami memiliki asuransi yang memberikan santunan atau santunan jika terjadi kecelakaan atau kerusakan.

Sistem Keselamatan

Sistem keamanan adalah salah satu cabang teknologi. Sistem keselamatan berkembang seiring dengan perubahan teknologi, peraturan lingkungan, dan masalah keselamatan publik. Keamanan sering dianggap sebagai kombinasi dari beberapa aspek seperti kualitas, keandalan, ketersediaan, stabilitas dan keamanan. Pabrik memiliki departemen Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan (SHE) untuk merancang dan mengelola sistem keselamatan pabrik.

Pengukuran Keselamatan

Tindakan keselamatan adalah tindakan yang diambil untuk meningkatkan keselamatan dan mengurangi risiko kecelakaan. Beberapa fitur keselamatan mencakup inspeksi visual terhadap situasi berbahaya, seperti menemukan lokasi pintu keluar darurat yang diblokir. Inspeksi visual untuk mengetahui adanya cacat seperti retakan atau sambungan yang kendor merupakan langkah penting. Metode analisis seperti analisis kimia, sinar-X, dan sampel uji mematikan digunakan untuk memastikan integritas suatu barang atau produk. Pengujian tekanan untuk menentukan "titik henti" adalah bagian dari prosedur keselamatan.

Menerapkan protokol dan prosedur standar akan membantu mengontrol proses kerja dan melindungi karyawan, pemasok, dan pengguna produk. kegiatan Panduan instruksi dan video disediakan untuk memandu penggunaan produk yang benar dan penyelesaian tugas. Minimalkan kecelakaan dan tingkatkan produktivitas dengan ulasan dari para ahli lapangan. Standar minimum ditetapkan oleh peraturan pemerintah dan kode etik internal industri, dan pernyataan etika organisasi membantu memperjelas harapan karyawan. Selain itu, kami memastikan keselamatan umum dengan melakukan pemeriksaan fisik, penilaian berkala, dan studi lingkungan untuk manajer dan karyawan. Kombinasi dari langkah-langkah ini memungkinkan langkah-langkah keselamatan untuk mengurangi risiko dan menciptakan lingkungan kerja yang aman..

Organisasi Standardisasi

Saat ini sudah banyak organisasi yang mengatur standar keamanan perusahaan. Organisasi ini merupakan badan publik atau lembaga pemerintah:

  • American National Standards Institute
    • Salah satu organisasi standar Amerika yang paling banyak digunakan di seluruh dunia adalah American National Standards Institute (ANSI). Biasanya, beberapa anggota industri membentuk komite untuk mempelajari masalah keselamatan dan menetapkan standar. Standar ini dikirim ke ANSI, yang meninjaunya dan akhirnya mengadopsi standar tertulis. Undang-undang federal tertentu mengharuskan produk yang dijual memenuhi standar ANSI tertentu.
  • Lembaga Pemerintah
    • Beberapa lembaga pemerintah akan menerapkan aturan tersebut untuk meningkatkan keamanan. Contoh lembaga tersebut adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sumber: id.wikipedia.org

Selengkapnya
Keselamatan: Pengertian, Jenis, Risiko dan Pengukuran

Safety

Mengenal Apa Itu Bencana

Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 18 Februari 2025


Bencana

Bencana adalah masalah serius yang terjadi dalam jangka waktu lama dan menyebabkan kerugian besar pada manusia, harta benda, ekonomi atau lingkungan yang melebihi kemampuan masyarakat yang terkena dampak dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri. Kecelakaan yang disebut “bencana alam” terjadi. Untuk "bencana akibat ulah manusia", baik alam maupun ulah manusia. Namun, saat ini sulit membedakan antara bencana alam, bencana akibat ulah manusia, dan bencana akibat ulah manusia.

Contoh bencana alam adalah: tanah longsor, banjir, gelombang panas dan dingin, kekeringan, gempa bumi, angin topan, tanah longsor, petir, tsunami, aktivitas gunung berapi, kebakaran hutan, hujan musim dingin dan banyak lagi. Contoh bencana akibat ulah manusia adalah kejahatan, kerusuhan sipil, terorisme, perang, kecelakaan industri, teknik, dan lain-lain. Kecelakaan, pemadaman listrik, kebakaran, kecelakaan lalu lintas, bahaya lingkungan.

Ketika bencana terjadi, negara-negara berkembang menderita. Lebih dari 95% kematian akibat bencana terjadi di negara-negara berkembang, dan 20% kematian disebabkan oleh bencana alam. “Produk domestik bruto (PDB) negara-negara berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju.

Etimologi

Kata bencana berasal dari bahasa Prancis Kuno désastre dan awalan peyoratif Yunani Kuno δυσ-(dus-) "buruk" dan bencana Italia Kuno, dari ἀστήρ(aster), "bintang". Etimologi dari kata buruk adalah (The "Estrela mala (Yunani untuk bintang buruk) berasal dari teori astrologi tentang kecelakaan yang terjadi di alam semesta.".

Klasifikasi

“Bencana seringkali dibedakan menjadi bencana alam dan bencana akibat ulah manusia. Namun, saat ini sangat sulit membedakan mana bencana alam, bencana akibat ulah manusia, dan bencana akibat ulah manusia. .Bencana yang kompleks tidak mempunyai penyebab tunggal, banyak yang sering terjadi di negara-negara berkembang. Bencana individual menyebabkan bencana susulan dengan dampak yang lebih besar. Contoh umum adalah gempa bumi yang menyebabkan tsunami, banjir pesisir, dan kerusakan pada pembangkit listrik tenaga nuklir (seperti bencana nuklir Fukushima), seperti kabut asap dan hujan asam.Beberapa peneliti membagi antara peristiwa yang bersifat permanen, seperti banjir musiman, dan peristiwa yang dianggap tidak dapat diprediksi."

Terkait dengan Bahaya Alam

Bencana yang berkaitan dengan bencana alam disebut bencana alam, suatu istilah yang sudah lama dianggap sebagai masalah. Banyak bencana alam yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat. Misalnya, tanah longsor dapat terjadi secara tiba-tiba dan cepat di bawah tebing, baik secara alami, seperti salju segar atau hujan, atau karena ulah manusia, seperti penggunaan bahan peledak, atau ski lintas alam. . Badai disertai angin kencang dan suhu yang sangat rendah dapat menimbulkan ancaman serius. Gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas gunung berapi bawah tanah yang mengguncang kerak bumi menyebabkan kerusakan struktural yang signifikan. Kebakaran hutan yang dimulai di wilayah yang tidak berpenghuni dapat menyebar ke wilayah berpenduduk dan menyebabkan kerusakan serius. Banjir di sungai-sungai kecil, kali kecil, lembah-lembah kering dan daerah-daerah kecil dapat terjadi dengan cepat dan menyebabkan kerusakan yang signifikan. Fenomena lain seperti hujan beku, gelombang panas, tanah longsor, petir, letusan metamorf, badai tropis, tsunami, dan letusan gunung berapi menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan kesadaran dan perencanaan yang tepat, tindakan pencegahan dan mitigasi dapat mengurangi dampak negatif dari bencana jenis ini.

Bencana alam menyebabkan kerusakan pada satu atau lebih komunitas setelah suatu peristiwa. Contoh bencana alam adalah banjir, kekeringan, gempa bumi, angin topan, petir, tsunami, gunung berapi, dan kebakaran hutan. Bencana alam dapat menyebabkan kematian, kerusakan harta benda, dan kerugian ekonomi, dan tingkat keparahan kerusakan bergantung pada ketahanan masyarakat yang terkena dampak dan ketersediaan infrastruktur.

Beberapa ahli mengatakan istilah “bencana alam” tidak tepat dan harus dihilangkan. Secara umum, lebih baik menggunakan istilah bencana yang lebih sederhana dan menunjukkan kategori atau jenis bahaya. Bencana diartikan sebagai akibat dari bencana alam atau aktivitas manusia yang berdampak pada masyarakat rentan. Saat ini, semakin sulit membedakan antara bencana alam dan bencana akibat ulah manusia.

Aktivitas manusia seperti konstruksi, kebakaran, pengelolaan sumber daya, dan perubahan iklim membuat bencana menjadi lebih berbahaya. Faktanya, kata “bencana alam” telah digunakan sejak tahun 1976. Faktor-faktor seperti standar bangunan yang tidak memadai, pengucilan sosial, kesenjangan, eksploitasi sumber daya yang berlebihan, perluasan kota dan perubahan iklim membuat bencana menjadi lebih buruk. Seiring dengan pertumbuhan populasi dunia yang pesat dan semakin sensitifnya masyarakat terhadap lingkungan berbahaya, frekuensi dan tingkat keparahan bencana pun semakin meningkat. Di negara-negara berkembang dimana bencana alam sering terjadi, sistem informasi yang tidak efektif dan tidak didukung secara memadai dapat menghambat upaya pencegahan dan pengendalian.

Disadur dari :https://en.wikipedia.org/wiki/Disaster

Selengkapnya
Mengenal Apa Itu Bencana
page 1 of 7 Next Last »