Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Maret 2025
Humas BRIN. Diskusi Smart Farming for Sustainable Growth di Jakarta Convention Center pada Kamis (16/11) menyoroti peranan esensial standarisasi dan inovasi dalam memperkuat dasar pertanian yang berkelanjutan dengan meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor tersebut. Pertanian yang berkelanjutan memerlukan keseimbangan yang baik antara standar yang ketat dan terus berkembangnya inovasi teknologi, seperti yang diungkapkan oleh Evan Buwana, Analis Standardisasi dari Badan Standardisasi Nasional.
Menurut Evan, hubungan antara standarisasi dan teknologi sangatlah erat. Dengan menerapkan standar yang sesuai, dapat meningkatkan daya saing dan kinerja sektor pertanian. Standardisasi dalam sektor pertanian memiliki peran penting dalam menjaga kualitas. Daryono Restu Wahono, Peneliti Utama dari Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar di Badan Riset dan Inovasi Nasional, menjelaskan bahwa produktivitas kelapa sawit di seluruh dunia saat ini masih di bawah standar nasional Indonesia dan memiliki potensi maksimum yang belum tercapai. Implementasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam produksi benih unggul kelapa sawit berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Di sisi lain, Purwadi Kasino Putro, Direktur PT. Teknologi Sirkular Biru, mengungkapkan inovasi baterai sebagai alternatif penyimpanan energi yang dapat menggantikan minyak dalam alat pertanian. Baterai tersebut dapat didaur ulang sehingga mendukung pertanian berkelanjutan. Adopsi teknologi dalam pertanian harus sejalan dengan regulasi, namun tetap mendukung petani dalam memperoleh teknologi terbaru untuk meningkatkan ketahanan pangan. Pertanian berkelanjutan membutuhkan keseimbangan yang baik antara standar ketat dan inovasi teknologi.
Yovita Sutanto dari Bayer Crop Science menyatakan bahwa modifikasi genom merupakan salah satu tren terbaru dalam pengembangan tanaman yang lebih baik melalui penyuntingan genom yang presisi. Dengan standar yang jelas dan teknologi inovatif, pertanian dapat menjadi lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan, memastikan ketersediaan pangan bagi populasi yang terus bertambah sambil memperhatikan kelestarian lingkungan.
Sumber: www.brin.go.id
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Maret 2025
Humas BRIN. Melalui Pusat Penelitian Teknologi Manufaktur Industri Proses (PRTIPM) dan Research Organization for Energy Manufacturing (OREM), tengah mengembangkan solar ramah lingkungan dari minyak nabati non-edible melalui proses dekarboksilasi hidrotermal. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar fosil serta mengurangi emisi gas rumah kaca.
Energi terbarukan merupakan solusi untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan lingkungan dengan mengurangi ketergantungan pada energi bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil menghasilkan emisi karbon dioksida yang besar, yang menjadi penyebab utama pemanasan global.
Studi yang dilakukan oleh PRTIPM merupakan respons terhadap Perjanjian Paris yang ditandatangani oleh Indonesia. Perjanjian tersebut bertujuan untuk memerangi perubahan iklim, di mana Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi sebesar 29% pada tahun 2030, dengan sebagian besar upaya berasal dari inisiatif internal dan dukungan kolaboratif.
Dalam webinar Transisi Energi Berkelanjutan pada tanggal 17 November, fokus dibahas tentang peningkatan akses terhadap energi ramah lingkungan. Meskipun produksi green diesel telah dikomersialkan, namun biaya produksi yang masih tinggi menjadi tantangan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan hidrogen eksternal dalam proses produksi untuk menghilangkan komponen oksigen dari asam lemak dan minyak.
Sebagai solusi, kelompok penelitian ini mengembangkan teknologi inovatif untuk menghasilkan solar ramah lingkungan dari minyak nabati yang tidak dapat dimakan melalui proses dekarboksilasi hidrotermal, dengan tujuan menurunkan biaya produksi dan membuatnya lebih terjangkau. Green solar adalah bahan bakar solar yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses kimia. Keunggulan green diesel meliputi ramah lingkungan, bebas emisi gas rumah kaca, dan lebih ekonomis.
Penelitian ini akan dilakukan setiap tahun selama tiga tahun. Hingga tahun 2023, 90% dari kegiatan tersebut telah terlaksana. Hasil penelitian akan didokumentasikan dalam bentuk paten dan jurnal internasional. Kedepannya, penelitian ini akan diperluas untuk mendapatkan katalis yang lebih efektif dan ekonomis serta kondisi proses yang optimal, sehingga dapat digunakan dan dikembangkan dalam skala industri. Harapannya, kegiatan ini dapat dikembangkan ke tahap komersial dan teknologi katalis serta prosesnya dapat dipatenkan dan dilisensikan.
Sumber: www.brin.go.id
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Maret 2025
Humas BRIN. Industri perkebunan kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah. Saat ini banyak tanaman sawit milik petani yang umurnya lebih dari 25 tahun, artinya produktivitas tanaman akan turun karena umur tanaman tersebut sudah diatas umur produktivitas maksimal rata-rata kelapa sawit dan saatnya untuk dilakukan peremajaan melalui replanting. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Tengah menggalakkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Program ini merupakan salah satu program Strategis Nasional sebagai upaya Pemerintah dalam meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan kelapa sawit nasional. Pemerintah menargetkan peremajaan (replanting) kebun sawit milik petani seluas 540.000 hektar hingga tahun 2024. Tak terkecuali Kab. Kobar juga menerima alokasi anggaran untuk kegiatan replanting dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Dampak proses peremajaan sendiri tidak bisa langsung dirasakan, mengingat tanaman sawit mulai berproduksi aktif sekitar umur 4-5 tahun. Untuk itu diperlukan pertumbuhan sumber-sumber ekonomi baru. Kepala Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PR SPBPDH) BRIN, Nugroho Adi Sasongko menyebut bahwa BRIN saat initTengah melakukan penelitian terkait ekonomi sirkular sebagai alternatif waktu tunggu masa peremajaan sawit. “Riset ini terkait optimalisasi pemanfaatan area replanting sawit untuk pengembangan jagung dan ternak unggas guna mewujudkan ekonomi sirkular masyarakat di Kab. Kobar,” ujar Nugroho saat membuka kegiatan sosialisasi pemaparan hasil riset tersebut pada Minggu, (26/11). Menurut Nugroho, kegiatan ekonomi sirkular adalah kegiatan ekonomi yang berwawasan lingkungan, yaitu melalui pengembangan industri hijau. Model yang digunakan adalah dengan berupaya memperpanjang siklus hidup dari suatu produk, bahan baku, dan sumber daya yang ada agar dapat dipakai selama mungkin. Implementasi ekonomi sirkular di lapangan adalah pengurangan timbunan limbah dan polusi, ungkapnya.
Kegiatan penelitian yang dilaksanakan terkait dengan kegiatan pertanian terpadu (integrated farming) yang berorientasi lingkungan. Saat ini permasalahan lingkungan menjadi isu yang strategis tak terkecuali pada sektor pertanian. Karena lingkungan merupakan suatu ekosistem yang memang harus dijaga kelestasiannya. Selain itu perubahan iklim global juga selalu menjadi isu sentral di bidang pertanian. “Menyikapi dinamika tersebut konsep pertanian berkelanjutan dipandang sebagai solusi dan salah satu contohnya adalah kegiatan integrated farming yang sedang kami lakukan di Kab. Kobar ini dengan memunculkan kegiatan ekonomi sirkular pedesaan,” pungkas Nugroho.
Dalam kesempatan yang sama, periset PR SPBPDH, Ermin Widjaja menyampaikan, bahwa riset ini baru berjalan satu tahun, tapi idealnya untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, setidaknya riset berjalan selama dua tahun, namun demikian hasil sementara yang diperoleh sudah dapat memberikan gambaran prospek dari kegiatan tersebut. Tersedianya lahan sela sangat luas di area replanting bisa dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas lain baik berupa tanaman pangan maupun tanaman hortikultura selagi tanaman sawit belum berbuah (umur 3-4 tahun). Sehingga dapat memunculkan kegiatan ekonomi baru selama tanaman sawit belum menghasilkan. “Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan rintisan kegiatan ekonomi sirkular kelompok tani sawit peserta PSR yang mampu meningkatkan pendapatan lebih dari 50%. Di sini kami tidak sendiri, tetapi berkolaborasi dengan pusat riset lainnya di BRIN, yaitu Pusat Riset Veteriner, Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Pusat Riset Tanaman Pangan, dan Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan,” papar Ermin.
Ermin lalu melanjutkan bahwa dampak ekonomi sirkular ini kemudian diukur melalui riset yang telah berjalan satu tahun. Namun, Ia menyebut bahwa idealnya untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, setidaknya riset berjalan selama dua tahun. “Namun demikian hasil sementara yang diperoleh sudah dapat memberikan gambaran prospek dari kegiatan ekonomi sirkular tersebut. Tersedianya lahan sela sangat luas di area replanting bisa dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas lain baik berupa tanaman pangan maupun tanaman hortikultura selagi tanaman sawit belum berbuah (umur 3-4 tahun). Sehingga dapat memunculkan kegiatan ekonomi baru selama tanaman sawit belum menghasilkan,” lanjut Ermin.
Rintisan kegiatan ekonomi sirkular yang juga dijadikan sebagai percontohan dilakukan dengan melibatkan 20 anggota kelompok tani yang berada di Kab. Kobar. “Kegiatan yang dilakukan meliputi budidaya jagung di area replanting sawit berumur 1 tahun seluas 20 ha. Lalu juga ada pembuatan pupuk organik yang diperkaya dengan mikroba, dengan bahan dasar limbah pabrik kelapa sawit seperti abu boiler, solid sawit, serat perasan buah/fiber, kotoran ayam dan decomposer. Selain itu ada budidaya ayam petelur sebanyak 1000 ekor dengan menggunakan campuran pakan lokal untuk menekan harga pakan pabrik yang mahal,” ungkap Ermin
Ermin menyebut bahwa dari kegiatan tersebut memberikan sumber penghasilan baru untuk petani sawit yang terintegrasi dengan usaha lainnya, sehingga menghasilkan ekonomi sirkular yang menambah pendapatan petani, dengan sumber pendapatan berupa produksi jagung, produksi telur dan produksi pupuk organik yang memiliki pangsa pasar bagus. Kegiatan ini dapat dilakukan pada masyarakat sawit yang sudah berkelompok dan tergabung pada kelembagaan yang memiliki modal seperti KUD. Hal ini dikarenakan modal yang diperlukan cukup besar untuk kegiatan replanting yang terintegrasi dengan komoditas jagung dan ternak unggas secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga memerlukan dukungan dari pemerintah.
Ermin berharap, kegiatan ini bisa menjadi model dan bisa direplikasi lokasi lain yang memiliki potensi yang serupa dan komoditasnya (tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan lain-lain) disesuaikan dengan peluang kegiatan bisnis di lokasi tersebut. Mengingat hasil kegiatan pertanian terpadu yaitu produksi tanaman sela jagung, produksi pupuk organik dan produksi telur dari budidaya ayam petelur dengan pakan introduksi dapat meningkatkan pendapatan lebih dari 100%. “Untuk mengetahui keberlanjutan kegiatan integrasi ini secara terukur dilakukan analisis dengan menggunakan metode Multidimension Scale (MDS) dengan hasil indek keberlanjutannya masuk dalam kategori baik (good sustainability). Analisis dampak lingkungannya dilakukan dengan Life Cycle Assessment (LCA) dan emisi gas rumah kaca sedang dalam pelaksanaan,” terang Ermin. Dengan demikian, kegiatan pertanian yang berkelenjutan dengan kegiatan ekonomi sirkular yang menjadi tujuannya bisa menjadi penggerak ekonomi wilayah dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, pungkasnya.
Sumber: www.brin.go.id
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 28 Februari 2025
Indonesia bertekad mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 sebagai bagian dari upaya global menghadapi pemanasan global. Untuk itu, kerjasama lintas negara, termasuk antara lembaga riset di Indonesia dan Korea, menjadi sangat penting. Dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara, Indonesia dan Korea telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dalam Global Korea Forum (GKF) di Seoul pada tanggal 22 November. Fokus kerjasama ini adalah penelitian bersama dalam bidang Ekonomi Sirkular di sektor Energi dan Manufaktur.
Kerjasama ini diprakarsai oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Korea Institute of Industrial Technology (KIET), dan Cheil Jedang Korea. Ketiga lembaga ini akan bekerja sama dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi ekonomi sirkular. Presiden Korea Institute for Industrial Economics and Trade (KIET), Ju Hyeon, menekankan pentingnya kerjasama ini dalam konteks kemitraan internasional, khususnya dalam hal ekonomi sirkular, terutama dalam bidang Polimer Biodegradable.
Ju Hyeon menyoroti pencapaian signifikan yang telah dicapai melalui kerjasama erat antara Indonesia dan Korea, dengan perdagangan bilateral yang mencapai rekor tertinggi tahun lalu. Ia menegaskan peran penting ekonomi sirkular dalam mencapai netralitas karbon sebagai respons terhadap pemanasan global. Haznan Abimanyu, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, menekankan urgensi kolaborasi dalam mengatasi tantangan global. Ia menyatakan optimisme terhadap komitmen ketiga organisasi terkemuka ini untuk bekerja bersama demi kebaikan yang lebih besar, terutama dalam menangani isu energi, manufaktur, dan keberlanjutan.
Haznan menyoroti pentingnya MOU sebagai tanda komitmen untuk bertindak, bukan hanya sebagai dokumen formal belaka. Ia menekankan pentingnya semangat kemitraan, dialog terbuka, dan tanggung jawab bersama untuk mencapai terobosan dalam membangun masa depan ekonomi sirkular. Kerjasama dengan sektor swasta, Cheil Jedang Korea, juga diapresiasi karena kontribusinya dalam pengembangan Polimer Biodegradable, yang merupakan salah satu aspek kunci dalam mewujudkan ekonomi sirkular. Diharapkan kerjasama ini akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan di kedua negara.
Sumber: www.brin.go.id
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 28 Februari 2025
Direktur Jenderal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Toli Handko, menekankan pentingnya pembuatan peta jalan untuk pengembangan antariksa Indonesia hingga tahun 2045. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan yang memandatkan hal tersebut. Menurut Handko, BRIN memiliki tanggung jawab utama dalam melaksanakan berbagai kewajiban yang tercantum dalam undang-undang tersebut, sehingga diperlukan percepatan dalam pengembangan kebijakan antariksa menuju tahun 2045.
Dalam acara konferensi pembuatan peta jalan luar angkasa di Indonesia yang diselenggarakan di Kantor Kawasan Sains BRIN Sarwono Prawirohardjo, Jakarta pada Kamis, 7 Maret, Handko juga menyampaikan bahwa kegiatan keantariksaan mendukung berbagai sektor di Indonesia seperti pertanian, kelautan, perikanan, pengawasan darat, dan kebencanaan. Namun, arah kebijakan saat ini masih melihat ruang angkasa hanya sebagai sistem pendukung dan bukan sebagai bidang tersendiri, sehingga diperlukan upaya untuk memfasilitasi pembuatan peta jalan antariksa yang relevan.
Deputi Pembangunan BRIN, Mego Pinandito, menambahkan bahwa dalam konferensi tersebut dibahas beberapa topik seperti program penginderaan jauh, satelit, penerbangan, komersialisasi ruang angkasa, roket dan peluncuran, ilmu antariksa, dan isu-isu strategis lainnya. Melalui acara ini, diharapkan dapat terhimpun pandangan dan kebutuhan dari berbagai sektor untuk merancang peta jalan antariksa hingga tahun 2045 yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Erna Sri Adinsi, Direktur Utama INASA, juga menyampaikan beberapa poin penting terkait pemetaan kebutuhan program antariksa, penanggulangan lingkungan ruang strategis, dan rekomendasi lainnya. Salah satu tindak lanjut yang direkomendasikan adalah perlunya mempercepat pembuatan peta jalan antariksa, pencapaian tujuan penginderaan jauh dalam lima tahun, akses terhadap ruang angkasa sebagai tujuan jangka panjang, serta partisipasi swasta/industri dalam kegiatan keantariksaan.
Diharapkan bahwa dengan adanya acara ini, dapat terus terjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun Roadmap Antariksa 2045 yang memenuhi kebutuhan dan mendukung perkembangan antariksa Indonesia ke depannya.
Sumber: www.brin.go.id
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 28 Februari 2025
Sebuah tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta University of Brighton UK telah merilis hasil studi pendahuluan mengenai kualitas air laut di beberapa lokasi yang terkena dampak limbah buangan. Hasil studi tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Marine Pollution Bulletin dengan judul "Konsentrasi Tinggi Parasetamol di Perairan Terdominasi Limbah Teluk Jakarta, Indonesia". Studi ini, yang dilakukan oleh Dr. Wulan Koagouw (BRIN, UoB), Prof. Zainal Arifin (BRIN), Dr. George Olivier (UoB), dan Dr. Corina Ciocan (UoB), menginvestigasi kontaminan air di empat lokasi di Teluk Jakarta: Angke, Ancol, Tanjung Priok, dan Cilincing, serta satu lokasi di Pantai Eretan, Jawa Tengah.
Temuan studi menunjukkan bahwa beberapa parameter nutrisi seperti Amonia, Nitrat, dan total Fosfat telah melampaui standar kualitas air laut Indonesia. Selain itu, Parasetamol terdeteksi di dua lokasi, yaitu muara sungai Angke (610 ng/L) dan muara sungai Ciliwung Ancol (420 ng/L), keduanya di Teluk Jakarta. Temuan ini meningkatkan kekhawatiran akan risiko lingkungan yang terkait dengan paparan jangka panjang terhadap organisme laut di Teluk Jakarta.
Parasetamol merupakan salah satu zat yang berasal dari produk farmasi yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia tanpa resep dokter. Menurut Zainal Arifin, anggota tim peneliti dari BRIN, sumber Parasetamol di perairan Teluk Jakarta dapat berasal dari tiga sumber utama: konsumsi berlebihan oleh masyarakat, limbah rumah sakit, dan industri farmasi. Namun, dampak Parasetamol terhadap lingkungan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Parasetamol di Teluk Jakarta relatif tinggi dibandingkan dengan pantai-pantai di negara lain, seperti Brazil dan Portugal. Meskipun demikian, perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami dampaknya terhadap biota laut. Zainal menekankan perlunya tindakan untuk mengurangi limbah obat-obatan atau farmasi yang masuk ke dalam air sungai dan laut. Dia mengatakan bahwa penguatan regulasi tatakelola pengelolaan air limbah dan tanggung jawab publik dalam pembuangan sisa obat-obatan sangatlah penting untuk menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.
Sumber: www.brin.go.id