Industri Kimia Hulu
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 06 Maret 2025
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia perlu mengembalikan peran industri sebagai fondasi ekonomi nasional dengan lebih memperhatikan struktur industri yang berbasis di hulu. Salah satunya adalah industri petrokimia berbasis metanol, sebagai pemasok bahan baku untuk berbagai sektor industri lainnya. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian Johnny Darmawan mengatakan, pengembangan industri kimia berbasis methanol sudah sangat mendesak.
"Pengembangan industri metanol sangat penting untuk mendukung kemandirian industri, mendukung daya saing industri nasional serta menopang pembangunan industri berkelanjutan dan yang utama memangkas defisit neraca perdagangan yang terjadi lantaran ketergantungan tinggi pada impor," kata Johnny dalam keterangannya, Rabu (23/9/2020). Ia berpandangan, investasi di sektor petrokimia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir masih tergolong minim. Kondisi ini berdampak pada ketergantungan impor yang tinggi karena minimnya suplai bahan baku industri hulu petrokimia.
"Kapasitas produksi dalam negeri untuk bahan baku petrokimia baru mencapai 2,45 juta ton. Sementara itu, kebutuhan dalam negeri mencapai 5,6 juta ton per tahun. Dengan kata lain, produksi dalam negeri baru memenuhi 47 persen kebutuhan domestik. Sisanya, yaitu sebesar 53 persen harus dipenuhi melalui impor,” terangnya.
Menurut Johnny, kebutuhan akan metanol semakin meningkat, namun Indonesia baru memiliki satu produsen yang kapasitas produksinya 660.000 ton per tahun. Alhasil, ketergantungan impor methanol tergolong tinggi. "Nilai impor metanol mencapai 12 miliar dollar AS atau setara Rp 174 triliun per tahun. Pasalnya, metanol merupakan senyawa intermediate yang menjadi bahan baku berbagai industri, antara lain industri asam asetat, formaldehid, Methyl Tertier Buthyl Eter (MTBE), polyvinyl, polyester, rubber, resin sintetis, farmasi, Dimethyl Ether (DME), dan lain sebagainya," jelas dia.
Alasan lain yang mendasari strategisnya pengembangan industri metanol adalah karena beberapa produk turunannya, seperti biodiesel dan dimetil eter (DME) merupakan bahan bakar alternatif. Dengan demikian, impor minyak yang selama ini membebani neraca dagang RI bisa dikurangi melalui pengembangan industri metanol.
"Lebih lagi, industri metanol akan mendukung program pemerintah, yakni pengalihan dari bahan bakar berbasis BBM ke biodiesel," ucap Johnny. Adapun PT Chandra Asri Petrochemical Tbk mulai mengoperasikan kedua unit pabrik MTBE dan B1 pertama di Indonesia. Ini sekaligus mendukung target pemerintah Indonesia untuk menyubstitusi impor melalui program
Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang diusung oleh Kementerian Perindustrian. Konstruksi kedua pabrik berhasil diselesaikan sesuai jadwal walaupun di tengah masa pandemi. Presiden Direktur Chandra Asri Erwin Ciputra mengatakan, prioritas utama perseroan adalah mendukung pemerintah dan industri dalam negeri dalam mengurangi ketergantungan impor.
Dengan beroperasinya pabrik baru ini, perseroan berharap tujuan pemerintah mengurangi impor sampai 35 persen pada 2022 dapat tercapai. Konstruksi pabrik MTBE dan B1 milik Chandra Asri ini dilakukan oleh Toyo Engineering Corporation dan PT Inti Karya Persada Tehnik sejak 2018. Erwin menambahkan kedua pabrik ini juga merupakan pabrik pertama di Indonesia yang menggunakan Lummus Technology, salah satu teknologi processing pabrik petrokimia paling mutakhir di dunia. Adapun, pabrik MTBE (Methyl Tert-butyl Ether) berkapasitas 128 KTA untuk memasok kebutuhan octane booster dalam negeri yang sampai saat ini masih diimpor, sedangkan pabrik B1 (Butene 1) berkapasitas 43 KTA akan diserap untuk kebutuhan operasional pabrik Chandra Asri sebesar 33 KTA, dengan sisanya ditargetkan untuk pasar domestik.
Sumber: money.kompas.com
Industri Kimia Hulu
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 06 Maret 2025
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kebutuhan garam pada tahun 2021 mencapai lebih dari 4,6 juta ton. Dari jumlah tersebut, 84 persen di antaranya merupakan kebutuhan dari industri manufaktur. Sektor industri dengan kebutuhan garam antara lain Khlor dan Alkali, yang menghasilkan produk-produk petrokimia, pulp, dan juga kertas.
Ia menyebutkan, kebutuhan bahan baku garam industri untuk sektor ini mencapai 2,4 juta ton per tahun. Angka kebutuhan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi industri tentu terus meningkat seiring dengan adanya pertumbuhan industri pengguna garam sebesar 5-7 persen per tahun.
"Sebagai contoh, saat ini telah direncanakan pembangunan industri soda ash yang digunakan di industri kaca, deterjen dan tekstil. Kebutuhan soda ash dalam negeri selama ini seratus persen masih impor. Bahan baku untuk memproduksi soda ash tersebut adalah garam industri, di mana produksi satu juta ton soda ash membutuhkan bahan baku garam industri dengan jumlah yang sama," katanya dalam sambutan webinar virtual, Jumat (24/9/2021).
Untuk menjamin ketersediaan bahan baku garam bagi industri dalam negeri, di tahun 2021 telah disepakati alokasi impor komoditas pergaraman industri sebesar 3,07 juta ton. Ia juga menyebutkan, terdapat 4 industri yang boleh mengimpor garam antara lain industri khlor alkali, aneka pangan, farmasi dan kosmetik, serta pengeboran minyak.
"Sektor industri lain di luar yang disebutkan tadi diminta untuk menggunakan bahan baku garam hasil produksi dalam negeri. Impor komoditas pergaraman industri tersebut masih harus dilakukan karena beberapa faktor yang masih belum dapat dipenuhi oleh garam produksi lokal," ujarnya. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jumlah produksi garam lokal tahun 2020 baru mencapai 1,3 juta ton dengan beberapa variasi kualitas. Dengan demikian, masih terdapat kesenjangan yang cukup besar dari kebutuhan garam nasional yang sudah mencapai 4,6 juta ton.
"Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah kualitas, dimana beberapa sektor industri, seperti khlor alkali, farmasi dan kosmetik, pengeboran minyak, serta aneka pangan membutuhkan garam sebagai bahan baku dengan spesfikasi yang cukup tinggi. Baik dari sisi kandungan NaCl maupun cemaran-cemaran logam yang cukup rendah. Jaminan pasokan menjadi faktor ketiga, karena industri berproduksi sepanjang tahun sehingga kontinuitas pasokan bahan baku sangat diperlukan," jelasnya.
Berdasarkan data, nilai impor garam sebagai bahan baku dan bahan penolong industri di tahun 2020 kurang lebih sebesar 97 juta dollar AS. Sementara nilai ekspor di tahun yang sama dari industri pengguna garam impor tersebut seperti industri kimia, famasi, makanan dan minuman serta industri pulp dan kertas mencapai 47,9 miliar dollar AS. "Hal ini menunjukkan betapa krusialnya peran bahan baku garam sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dalam menunjang kinerja industri dalam negeri yang juga memberikan kontribusi dalam peningkatan devisa negara," ucapnya.
Sumber: money.kompas.com
Industri Kimia Hulu
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 06 Maret 2025
Liputan6.com, Jakarta PT Pupuk Indonesia (Persero) siap mengembangkan industri pupuk ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan salah satu agenda prioritas G20 yaitu transisi energi untuk mengurangi emisi karbon atau dekarbonisasi.
Direktur Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman mengatakan bahwa perusahaan telah membuat roadmap atau peta jalan pengembangan kawasan industri ramah lingkungan yang mendukung dekarbonisasi.
"Pupuk Indonesia mendukung pengurangan emisi karbon dalam rangka menciptakan industri yang lebih sustainable atau berkelanjutan dan ramah lingkungan," demikian ucap Bakir.
Adapun peta jalan dekarbonisasi Pupuk Indonesia, dikatakan Bakir bahwa dibagi ke dalam beberapa tahap yaitu fase awal atau jangka pendek adalah peningkatan efisiensi pabrik sehingga menjadi lebih hemat energi dan ramah lingkungan.
Untuk jangka menengah, dikatakan Bakir bawa Pupuk Indonesia menargetkan melakukan utilisasi CO2 sebagai bahan baku produk, yaitu dengan membangun Pabrik Soda Ash di Petrokimia Gresik dan Pupuk Kaltim.
Untuk tahap berikutnya, Bakir menjelaskan bahwa Pupuk Indonesia Grup akan memulai pengembangan blue ammonia dengan menggunakan teknologi Carbon Capture Storage (CCS), yaitu menangkap dan menginjeksikan Kembali CO2 untuk dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai energi bersih.
Sementara jangka panjang, dijelaskan Bakir, Pupuk Indonesia akan memproduksi Green Ammonia yang berasal dari sumber energi terbarukan (EBT), seperti pembangkit tenaga air, solar cell, angin, dan geothermal.
Kerja Sama dengan PLN dan Pertamina
Untuk mewujudkan hal ini, Pupuk Indonesia menjalin kerjasama dengan PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) tentang pengembangan industri ramah lingkungan.
Ketiga perusahaan pelat merah ini menandatangani MoU MoU tentang Green Industry Cluster yang disaksikan langsung oleh Wakil Menteri BUMN I, Pahala Mansury.
Bakir mengatakan bahwa upaya kerjasama yang dilakukan Pupuk Indonesia bersama PLN dan Pertamina ini merupakan langkah yang tepat menuju industri pupuk yang akan memproduksi green ammonia yang ramah lingkungan.
Sementara itu, Wamen BUMN I Pahala Mansury berharap kerjasama yang dilakukan Pupuk Indonesia, PLN, dan Pertamina dapat direalisasikan dengan baik.
"Ini semua saya harapkan betul-betul bisa kita fokuskan, outcome-nya atau ujung-ujungnya bagaimana kita bisa mengembangkan kawasan industri yang betul-betul bisa memanfaatkan energi hijau di kawasan-kawasan tersebut," kata Pahala.
Dalam MoU tentang Green Industry Cluster, ketiga perusahaan BUMN ini akan memanfaatkan dan mendorong penggunaan EBT pada kawasan industri eksisting, dalam hal ini di beberapa kawasan industri anak usaha Pupuk Indonesia yaitu PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (PSP), PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC), PT Petrokimia Gresik (PKG), dan Pupuk Kalimantan Timur (PKT).
Kerja sama ketiga BUMN ini akan dibagi menjadi tiga tahap. Sebagai tahap awal, beberapa kawasan industri pupuk didorong untuk memanfaatkan listrik yg bersumber dari energi baru dan terbarukan. Untuk selanjutnya ketiga BUMN ini akan terlibat aktif dalam pengembangan green hidrogen dan green amonia, mulai dari pilot plant hingga pendirian pabrik tersebut.
Sumber: www.liputan6.com
Industri Kimia Hulu
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 06 Maret 2025
Jakarta, Beritasatu.com – Industri kimia, termasuk di dalamnya industri metanol, merupakan salah satu sektor prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, sehingga Kemenperin secara serius terus berupaya memperkokoh struktur industri ini.
"Industri metanol menempati posisi penting di industri hilir karena merupakan bahan baku/bahan penolong pada industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood dan industri lainnya," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Agus mengatakan itu saat penandatanganan "Perjanjian Kerja Sama Pembuatan Feasibility Study Proyek Coal to Methanol antara PT Powerindo Cipta Energi dan Tiongkok National Chemical Engineering Corporation" di Jakarta, Senin (18/10/2021).
Ia mengatakan, metanol juga digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan biodiesel. Selain itu, metanol bisa diolah lebih lanjut menjadi DME yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Dengan berkembangnya industri hilir pengguna metanol, kata dia, nilai substitusi impor dari metanol akan semakin besar. Sebagai contoh, pada industri resin sintetik yang merupakan bahan baku/bahan penolong pada industri seperti cat, tekstil, adhesive, maupun thinner.
Sebagian kebutuhan resin sintetik di dalam negeri diperoleh dari impor. Impor resin sintetik pada tahun 2020 mencapai 700.000 ton dengan nilai sebesar US$ 1,5 miliar.
Kemudian, pemerintah juga tengah mendorong substitusi penggunaan bahan bakar LPG dengan DME, mengingat produksi LPG setiap tahun semakin menurun.
Lebih dari 75% kebutuhan LPG dalam negeri dipenuhi dari impor dengan nilai mencapai US$ 2,5 miliar di tahun 2020. "Dengan gambaran tersebut, keberadaan proyek gasifikasi batubara setidaknya memberikan potensi subtitusi impor minimum sekitar Rp 40 triliun per tahun," papar Menperin.
Selain itu, kata Agus, dirinya melakukan kunjungan kerja ke Jepang Maret 2021 lalu dan bertemu dengan Menteri Industri Jepang, disampaikan bahwa negara tersebut akan melakukan investasi di industri metanol dalam skala besar demi mengejar target carbon neutrality. "Ini menunjukkan industri metanol sangat prospektif dalam pengembangan pasar, baik pasar domestik maupun ekspor," ujarnya.
Agus mengatakan, keberadaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mendukung kemudahan berusaha dan meningkatkan kelayakan investasi di sektor pertambangan dan hilirisasi batubara.
"Dengan regulasi ini, proyek gasifikasi batubara dapat memanfaatkan insentif berupa pengurangan tarif royalti batubara hingga 0%, skema harga batubara khusus untuk gasifikasi batubara di mulut tambang, dan pemberian jangka waktu khusus izin usaha pertambangan (IUP) untuk kegiatan gasifikasi batubara yang terintegrasi," papar Menperin.
Ia mengatakan, pemerintah juga terus berupaya menciptakan iklim usaha industri yang baik, menguntungkan, dan berkesinambungan melalui berbagai kebijakan sehingga investasi dapat terus bertumbuh dan meningkatkan kekuatan ekonomi.
"Kemenperin akan senantiasa mendampingi pelaksanaan proyek ini dan membantu mengatasi permasalahan teknis yang muncul," ujarnya.
Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam menyampaikan, metanol yang dihasilkan dari proyek ini diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri yang selama ini diperoleh dari impor.
"Saat ini Indonesia hanya memiliki satu produsen metanol dengan kapasitas sebesar 660.000 ton/tahun, sementara impor produk metanol setiap tahunnya menunjukkan peningkatan akibat dari pertumbuhan industri pengguna metanol dan untuk mendukung program biofuel," ujar Khayam.
Selain di lokasi tersebut, pemerintah juga mendorong realisasi proyek-proyek gasifikasi batubara yang sedang berlangsung, yaitu pabrik coal to chemical di Tanjung Enim dan Kutai Timur.
Proyek coal to methanol juga didukung oleh ketersediaan sumber daya batubara yang melimpah. Cadangan batubara nasional mencapai 38,84 miliar ton dan dapat bertahan hingga 2091 dengan laju produksi tahunan sebesar 600 juta ton.
Sumber: www.beritasatu.com
Industri Kimia Hulu
Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 17 Februari 2025
Industri kimia terdiri dari perusahaan dan organisasi lain yang mengembangkan dan memproduksi bahan kimia industri, khusus, dan bahan kimia lainnya. Industri ini merupakan pusat ekonomi dunia modern, yang mengubah bahan mentah(minyak, gas alam, udara, air, logam, dan mineral) menjadi bahan kimia komoditas untuk produk industri dan konsumen. Industri ini mencakup industri petrokimia seperti polimer untuk plastik dan serat sintetis; bahan kimia anorganik seperti asam dan basa; bahan kimia pertanian seperti pupuk, pestisida, dan herbisida; serta kategori lain seperti gas industri, bahan kimia khusus, dan obat-obatan.
Berbagai profesional terlibat dalam industri kimia termasuk insinyur kimia, ahli kimia, dan teknisi laboratorium.
Sejarah
Meskipun bahan kimia telah dibuat dan digunakan sepanjang sejarah, kelahiran industri kimia berat (produksi bahan kimia dalam jumlah besar untuk berbagai kegunaan) bertepatan dengan dimulainya Revolusi Industri.
Revolusi Industri
Salah satu bahan kimia pertama yang diproduksi dalam jumlah besar melalui proses industri adalah asam sulfat. Pada tahun 1736, apoteker Joshua Ward mengembangkan proses untuk produksinya yang melibatkan pemanasan sulfur dengan sendawa, yang memungkinkan sulfur teroksidasi dan bercampur dengan air. Ini adalah produksi praktis pertama asam sulfat dalam skala besar. John Roebuck dan Samuel Garbett adalah orang pertama yang mendirikan pabrik berskala besar di Prestonpans, Skotlandia, pada tahun 1749, yang menggunakan ruang kondensasi timbal untuk pembuatan asam sulfat.
Pada awal abad ke-18, kain diputihkan dengan cara mengoleskannya dengan air seni basi atau susu asam dan mengeksposnya pada sinar matahari untuk jangka waktu yang lama, yang menyebabkan kemacetan parah dalam produksi. Asam sulfat mulai digunakan sebagai bahan yang lebih efisien dan juga kapur pada pertengahan abad ini, tetapi penemuan bubuk pemutih oleh Charles Tennant-lah yang mendorong terciptanya perusahaan industri kimia pertama yang besar. Bubuknya dibuat dengan mereaksikan klorin dengan kapur mati kering dan terbukti menjadi produk yang murah dan sukses. Dia membuka St Rollox Chemical Works, di utara Glasgow, dan produksinya meningkat dari hanya 52 ton pada tahun 1799 menjadi hampir 10.000 ton hanya dalam waktu lima tahun.
Soda ash telah digunakan sejak zaman kuno dalam produksi kaca, tekstil, sabun, dan kertas, dan sumber kalium secara tradisional adalah abu kayu di Eropa Barat. Pada abad ke-18, sumber ini menjadi tidak ekonomis karena penggundulan hutan, dan Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis menawarkan hadiah sebesar 2400 livre untuk metode yang dapat menghasilkan alkali dari garam laut(natrium klorida). Proses Leblanc dipatenkan pada tahun 1791 oleh Nicolas Leblanc yang kemudian membangun pabrik Leblanc di Saint-Denis. Dia tidak mendapatkan hadiah uang karena Revolusi Prancis
Di Inggris, proses Leblanc menjadi populer. William Losh membangun pabrik soda pertama di Inggris di pabrik Losh, Wilson dan Bell di Sungai Tyne pada tahun 1816, tetapi tetap dalam skala kecil karena tarif yang tinggi untuk produksi garam hingga tahun 1824. Ketika tarif ini dicabut, industri soda Inggris dapat berkembang pesat. Pabrik kimia milik James Muspratt di Liverpool dan kompleks milik Charles Tennant di dekat Glasgow menjadi pusat produksi bahan kimia terbesar di dunia. Pada tahun 1870-an, produksi soda Inggris mencapai 200.000 ton per tahun, melebihi produksi semua negara lain di dunia.
Pabrik-pabrik besar ini mulai memproduksi bahan kimia yang lebih beragam seiring dengan berkembangnya Revolusi Industri. Awalnya, sejumlah besar limbah alkali dibuang ke lingkungan dari produksi soda, sehingga memicu salah satu undang-undang lingkungan pertama yang disahkan pada tahun 1863. Undang-undang ini mengatur pemeriksaan ketat terhadap pabrik-pabrik dan menjatuhkan denda besar bagi mereka yang melebihi batas polusi. Metode-metode dirancang untuk membuat produk sampingan yang berguna dari alkali.
Proses Solvay dikembangkan oleh ahli kimia industri Belgia, Ernest Solvay, pada tahun 1861. Pada tahun 1864, Solvay dan saudaranya Alfred membangun sebuah pabrik di Charleroi, Belgia. Pada tahun 1874, mereka memperluas pabrik yang lebih besar di Nancy, Perancis. Proses baru ini terbukti lebih ekonomis dan lebih sedikit polusi daripada metode Leblanc, dan penggunaannya menyebar. Pada tahun yang sama, Ludwig Mond mengunjungi Solvay untuk mendapatkan hak untuk menggunakan prosesnya, dan dia dan John Brunner membentuk Brunner, Mond & Co, dan membangun pabrik Solvay di Winnington, Inggris. Mond berperan penting dalam membuat proses Solvay sukses secara komersial. Dia melakukan beberapa penyempurnaan antara tahun 1873 dan 1880 yang menghilangkan produk sampingan yang dapat menghambat produksi natrium karbonat dalam proses tersebut.
Pembuatan produk kimia dari bahan bakar fosil dimulai dalam skala besar pada awal abad ke-19. Residu tar batubara dan cairan amoniak dari pembuatan gas batubara untuk penerangan gas mulai diproses pada tahun 1822 di Bonnington Chemical Works di Edinburgh untuk membuat nafta, minyak pitch (kemudian disebut creosote), pitch, jelaga(karbon hitam), dan sal amoniak(amonium klorida). Pupuk amonium sulfat, aspal jalan, minyak kokas, dan kokas kemudian ditambahkan ke dalam lini produk.
Produk
Polimer dan plastik, khususnya polietilen, polipropilen, polivinil klorida, polietilen tereftalat, polistiren dan polikarbonat, sebagian besar merupakan produk industri kimia. Bahan kimia yang dihasilkan digunakan dalam berbagai produk di industri rumah tangga, pertanian, manufaktur, dan jasa.
Penjualan bahan kimia dapat dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain bahan kimia dasar (35-37% penjualan), ilmiah (30%), bahan kimia khusus (20-25%) dan barang rumah tangga (10%).
Kimia dasar
Pabrik propilena PP3 di pengilangan minyak Slovnaft di Bratislava, Slowakia
Kimia dasar adalah sebuah kategori kimia yang di dalamnya termasuk polimer, petrokimia dan turunannya, bahan kimia anorganik, dan pupuk.
Sub-kategori terbesar kimia dasar adalah plastik dan serat, yang produk-produknya antara lain:
Pabrik kimia dan produknya yang menggunakan bahan baku LPG, gas alam dan minyak mentah. Beberapa produknya antara lain etilen, propilena, benzena, toluena, xilena, metanol, monomer vinil klorida, stirena, butadiena, dan etilen oksida. Produk yang dihasilkan sering digunakan untuk memproduksi polimer lain.
Produk turunan lainnya antara lain karet sintetis, surfaktan, pewarna, pigmen, terpentin, karet, karbon hitam, bahan peledak dan produk karet lainnya.
Bahan kimia anorganik menghasilkan produk termasuk garam, klorin, soda abu, natrium karbonat, asam (misalnya asam nitrat, asam fosfat, asam sulfat), titanium dioksida, dan hidrogen peroksida.
Produk dalam kategori pupuk meliputi fosfat, amonium dan kalium.
Ilmu sains
Ilmu sains mencakup berbagai macam produk kimia dan biologi, obat-obatan, farmasi, produk kesehatan hewan, vitamin dan pestisida. Meski jumlahnya sangat sedikit, namun harganya sangat tinggi. Hasil-hasil ilmiah ini dihasilkan dengan standar tertinggi dan di bawah pengawasan pemerintah. Pestisida yang termasuk dalam kategori ini antara lain herbisida, insektisida, dan herbisida.
Produk rumah tangga
Kategori dalam produk rumah tangga di antaranya sabun, deterjen, dan kosmetik.
Konsumen seringkali tidak bersentuhan dengan bahan kimia dasar, namun mereka menemukan polimer dan bahan kimia khusus lainnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti plastik, produk pembersih, perhiasan, cat dan pelapis, elektronik, mobil, dan bahan lainnya. Bahan kimia khusus ini dijual oleh perusahaan kimia kepada produsen produk jadi, yang produknya sebagian besar berupa pestisida, polimer, elektronik, surfaktan, bahan kimia konstruksi, deterjen industri, wewangian, pelapis, bahan tambahan makanan, kertas kimia, dan minyak. produk Kertas perekat, perekat, kosmetik, pengolahan air, pemolesan dan bahan kimia tekstil. Produk-produk ini tidak dijual langsung ke konsumen.
Perusahaan
Insinyur prises mendesain, membuat konstruksi dan menjalankan pabrik
Beberapa perusahaan kimia terbesar dunia antara lain BASF, Bayer, Ferro, Solvay, Braskem, Celanese/Ticona, Arkema, Degussa, Dow, DuPont, Eastman Chemical Company, ExxonMobil, Givaudan, INEOS, LG Chem, LyondellBasell, Mitsubishi, Monsanto, PPG Industries, SABIC, LANXESS, Shell, dan Wanhua beserta ribuan industri kecil lainnya.
Teknologi
Berikut ini adalah diagram sebuah generator turbin. Insinyur bekerja untuk memproduksi sebuah proses berkelanjutan untuk penggunaan di dalam industri kimia. Mereka tahu bagaimana mendesain sebuah proses dimana sistem dapat bertahan atau bermanipulasi pada seseatu yang mengganggu proses seperti panas, friksi, tekanan, emisi, atau kontaminan asing
Dari penglihatan insinyur kimia, industri kimia menggunakan proses kimia seperti reaksi kimia dan metode pengilangan untuk memproduksi material dalam bentuk padat, cair, maupun gas. Kebanyakan produknya digunakan untuk memproduksi barang lainnya dan hanya sedikit saja yang langsung digunakan pada konsumen. Pelarut, pestisida, natrium karbonat, dan semen merupakan beberapa produk kimia yang langsung dipakai konsumen.
Industri kimia juga memproduksi bahan kimia industri organik dan anorganik, produk keramik, petrokimia, agrokimia, polimer, karet, oleokimia (minyak, lemak, wax), peledak, dan aroma buatan. Beberapa produknya ditampilkan pada tabel berikut.
Proses-proses kimia seperti reaksi kimia digunakan pada pabrik kimia untuk membentuk senyawa baru dengan berbagai macam tipe tangki reaktor. Di banyak kasus reaksinya dilakukan pada peralatan khusus anti-karat pada suhu dan tekanan tertentu dengan bantuan katalis. Produk reaksi ini dipisahkan dengan berbagai teknik di antaranya distilasi seperti distilasi fraksional, pengendapan, kristalisasi, adsorpsi, filtrasi, sublimasi, dan pengeringan.
Proses dan produk umumnya diuji selama dan setelah proses dengan menggunakan instrumen atau alat tertentu untuk memastikan operasi berjalan aman dan produk yang dibutuhkan sesuai dengan spesifikasi tertentu. Produk ini dikirimkan dengan banyak cara, termasuk jalur pipa, mobil tanki, silinder, botol, drum, kotak, dsb. Sebuah perusahaan kimia umumnya mempunyai laboratorium penelitian dan pengembangan untuk menguji dan mengembangkan proses serta produk mereka.
Ilmu pengetahuan hayati
Ilmu kehidupan (sekitar 30% dari hasil dolar bisnis kimia) mencakup zat kimia dan biologi yang berbeda, obat-obatan, diagnostik, produk kesehatan hewan, vitamin, dan pestisida. Meskipun volumenya jauh lebih kecil daripada sektor kimia lainnya, produk mereka cenderung memiliki harga yang tinggi - lebih dari sepuluh dolar per pon - tingkat pertumbuhan 1,5 hingga 6 kali lipat PDB, serta pengeluaran penelitian dan pengembangan sebesar 15 hingga 25% dari penjualan. Produk ilmu hayati biasanya diproduksi dengan spesifikasi tinggi dan diawasi secara ketat oleh lembaga pemerintah seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pestisida, juga disebut "bahan kimia perlindungan tanaman", adalah sekitar 10% dari kategori ini dan mencakup herbisida, insektisida, dan fungisida.
Bahan kimia khusus
Bahan kimia khusus adalah kategori bahan kimia yang bernilai relatif tinggi dan berkembang pesat dengan pasar produk akhir yang beragam. Tingkat pertumbuhan yang umum adalah satu hingga tiga kali PDB dengan harga lebih dari satu dolar per pon. Mereka umumnya dicirikan oleh aspek inovatif mereka. Produk dijual berdasarkan kemampuannya, bukan berdasarkan bahan kimia yang dikandungnya. Produknya meliputi bahan kimia elektronik, gas industri, perekat dan sealant serta pelapis, bahan kimia pembersih industri dan institusi, dan katalis. Pada tahun 2012, tidak termasuk bahan kimia, pasar bahan kimia khusus global senilai $ 546 miliar terdiri dari 33% Cat, Pelapis dan Perawatan Permukaan, 27% Polimer Lanjutan, 14%
Perekat dan Sealant, 13% aditif, dan 13% pigmen dan tinta.
Bahan kimia khusus dijual sebagai bahan kimia efek atau kinerja. Kadang-kadang mereka adalah campuran formulasi, tidak seperti "bahankimia halus," yang hampir selalu merupakan produk molekul tunggal.
Produk konsumen
Produk konsumen meliputi penjualan produk langsung bahan kimia seperti sabun, deterjen, dan kosmetik. Tingkat pertumbuhan umumnya adalah 0,8 hingga 1,0 kali PDB.
Konsumen jarang bersentuhan dengan bahan kimia dasar. Polimer dan bahan kimia khusus adalah bahan yang mereka temui di mana-mana setiap hari. Contohnya adalah plastik, bahan pembersih, kosmetik, cat & pelapis, elektronik, mobil, dan bahan yang digunakan dalam konstruksi rumah. Produk khusus ini dipasarkan oleh perusahaan kimia ke industri manufaktur hilir sebagai pestisida, polimer khusus, bahan kimia elektronik, surfaktan, bahan kimia konstruksi, Pembersih Industri, perasa dan wewangian, pelapis khusus, tinta cetak, polimer yang larut dalam air, bahan tambahan makanan, bahan kimia kertas, bahan kimia ladang minyak, perekat plastik, perekat dan sealant, bahan kimia kosmetik, bahan kimia pengelolaan air, katalis, dan bahan kimia tekstil. Perusahaan kimia jarang memasok produk-produk ini secara langsung ke konsumen.
Setiap tahun American Chemistry Council membuat tabulasi volume produksi 100 bahan kimia teratas di Amerika Serikat. Pada tahun 2000, volume produksi agregat dari 100 bahan kimia teratas mencapai 502 juta ton, naik dari 397 juta ton pada tahun 1990. Bahan kimia anorganik cenderung memiliki volume terbesar tetapi jauh lebih kecil dalam pendapatan dolar karena harganya yang rendah. 11 dari 100 bahan kimia teratas pada tahun 2000 adalah asam sulfat (44 juta ton), nitrogen (34), etilena (28), oksigen (27), kapur (22), amonia (17), propilena (16), polietilena (15), klorin (13), asam fosfat (13), dan ammonium fosfat (12).
Disadur dari: en.wikipedia.org
Industri Kimia Hulu
Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani pada 24 April 2024
Apa itu teknik kimia?
Teknik kimia melibatkan perancangan proses industri yang inovatif untuk mengubah bahan mentah menjadi produk yang berguna sehari-hari dengan cara yang aman, ramah lingkungan dan hemat biaya.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip matematika, fisika, kimia dan biologi, teknik kimia memungkinkan kita untuk mengubah kondisi biokimia dan fisik, misalnya, minyak untuk memproduksi bensin, plastik dan serat sintetis. Dengan demikian, keahlian mereka membuat para insinyur kimia sangat mudah dipekerjakan di hampir semua sektor yang bisa dibayangkan, termasuk:
Seiring dengan terus berkembangnya bidang teknik kimia, berbagai upaya diarahkan untuk menciptakan dan mengembangkan teknik baru untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, yang pada akhirnya mencapai titik nol dan memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.
Apa yang dilakukan oleh seorang insinyur kimia?
Sektor yang berbeda akan membekali para insinyur kimia dengan keterampilan unik untuk tugas-tugas tertentu. Dalam industri air, Anda akan mengembangkan cara untuk mendekontaminasi air dan air limbah sambil mengelola dan mengoperasikan pabrik pengolahan dan jaringan distribusi. Pemrosesan makanan akan membutuhkan aplikasi perpindahan panas, mekanika fluida serta mikrobiologi untuk memproduksi makanan yang aman untuk dikonsumsi.
Meskipun demikian, tugas utama insinyur kimia sebagian besar sama dan dapat mencakup:
Selain itu, Anda mungkin ingin menjadi insinyur kimia jenis tertentu. Rekayasa proses adalah salah satu jalur karier yang diambil banyak orang setelah lulus. Ini melibatkan penerapan prinsip-prinsip teknik kimia untuk mengoptimalkan desain, operasi dan kontrol proses kimia.
Dalam industri energi, misalnya, Anda akan merancang, mengadakan atau mengoperasikan infrastruktur energi. Anda dapat berkonsultasi dengan berbagai perusahaan untuk memasok produk energi mereka dan memprediksi kebutuhan di masa depan. Yang lainnya dapat memilih teknik biokimia, yang menerjemahkan terobosan ilmiah baru ke dalam cara-cara yang hemat biaya dan ramah lingkungan untuk menciptakan produk mulai dari obat-obatan baru hingga energi terbarukan.
Insinyur biokimia menangani banyak tantangan global seperti pengembangan vaksin flu, terapi sel punca untuk memulihkan penglihatan dan bahan bakar nabati berbasis ganggang untuk menyediakan sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Apa pun bidang Anda, Anda akan selalu menjadi bagian dari tim multidisiplin yang terdiri dari insinyur mesin, listrik, dan berbagai jenis insinyur lainnya yang bekerja untuk mencapai tujuan yang sama. Pengetahuan tentang manajemen proyek dan prinsip-prinsip ekonomi sering kali menempatkan insinyur kimia dalam peran manajerial dan kepemimpinan; sering kali mereka juga bekerja di sektor keuangan.
Apa saja keterampilan yang dibutuhkan?
Pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep dalam matematika, fisika dan kimia, dan bagaimana konsep-konsep tersebut dapat diterapkan pada masalah-masalah dunia nyata adalah yang terpenting. Insinyur kimia berada di garis depan inovasi, terus-menerus menghadapi tantangan baru dan unik; ini membutuhkan keterampilan pemecahan masalah, analitis, dan desain yang sangat baik.
Keterampilan yang dapat ditransfer seperti manajemen proyek, kesadaran komersial, kepemimpinan dan keterampilan komunikasi akan memainkan peran penting setelah Anda mulai mengambil tugas berskala lebih besar dan berurusan dengan klien untuk layanan Anda. Anda mungkin akan bekerja di lingkungan yang berbahaya, seperti laboratorium dengan bahan kimia berbahaya atau pabrik produksi, yang akan membutuhkan perhatian yang sangat besar terhadap detail.
Sering kali Anda akan berada di bawah tekanan untuk mencapai tenggat waktu tertentu, tetapi Anda harus tetap fokus dan bekerja dengan baik di bawah tekanan. Terakhir, Anda akan bekerja dengan sejumlah paket perangkat lunak dan teknologi canggih, jadi Anda harus memiliki keterampilan TI yang baik.
Disadur dari: www.newscientist.com