Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025
Bahan bakar hayati (biofuel) merujuk pada segala jenis bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan organik, baik berupa padatan, cairan, atau gas. Produksi bahan bakar hayati dapat dilakukan secara langsung dari tanaman atau tidak langsung melalui limbah dari berbagai sektor seperti industri, komersial, domestik, atau pertanian. Terdapat tiga metode utama dalam pembuatan bahan bakar hayati: pembakaran limbah organik kering (seperti sampah rumah tangga, limbah industri, dan pertanian), fermentasi limbah basah (seperti kotoran hewan) tanpa oksigen untuk menghasilkan biogas, atau fermentasi tanaman seperti tebu atau jagung untuk menghasilkan alkohol dan ester. Selain itu, kayu dari tanaman yang cepat tumbuh juga dapat dijadikan sumber energi untuk produksi bahan bakar.
Proses fermentasi menghasilkan dua jenis bahan bakar hayati utama, yaitu alkohol dan ester. Meskipun secara teori dapat menggantikan bahan bakar fosil, dalam prakteknya seringkali bahan bakar hayati dicampur dengan bahan bakar fosil karena memerlukan penyesuaian besar pada mesin. Uni Eropa, misalnya, merencanakan penambahan 5,75 persen etanol dari berbagai sumber pada bahan bakar fosil pada tahun 2010, meningkat menjadi 20 persen pada 2020. Di Brasil, sekitar seperempat bahan bakar transportasi pada tahun 2002 berasal dari bioetanol.
Keberlanjutan bahan bakar hayati terletak pada kemampuannya untuk memproduksi energi tanpa meningkatkan kadar karbon di atmosfer. Tanaman yang digunakan untuk bahan bakar hayati membantu mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer, berbeda dengan bahan bakar fosil yang mengembalikan karbon yang telah disimpan selama jutaan tahun ke udara. Oleh karena itu, bahan bakar hayati lebih bersifat karbon netral dan memiliki dampak yang lebih rendah terhadap gas rumah kaca.
Penggunaan bahan bakar hayati juga dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, meningkatkan keamanan energi, dan memberikan opsi yang lebih berkelanjutan untuk masa depan. Dua pendekatan umum dalam produksi bahan bakar hayati melibatkan tanaman yang mengandung gula atau pati untuk menghasilkan etil alkohol melalui fermentasi, serta tanaman dengan tingkat minyak tinggi seperti kelapa sawit, kedelai, alga, atau jatropha yang dapat diubah menjadi bahan bakar langsung atau diproses menjadi biodiesel.
Dengan demikian, bahan bakar hayati merupakan sumber energi yang berasal dari bahan-bahan organik, baik dalam bentuk padatan, cairan, atau gas. Proses produksinya melibatkan tiga metode utama, yaitu pembakaran limbah organik kering, fermentasi limbah basah, dan penggunaan kayu dari tanaman cepat tumbuh. Meskipun dapat menjadi alternatif untuk bahan bakar fosil, penggunaan bahan bakar hayati sering melibatkan campuran dengan bahan bakar fosil karena memerlukan penyesuaian mesin yang signifikan.
Keberlanjutan bahan bakar hayati terletak pada kemampuannya menghasilkan energi tanpa meningkatkan kadar karbon di atmosfer, dengan tanaman yang digunakan membantu mengurangi emisi karbon dioksida. Selain itu, penggunaan bahan bakar hayati dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, meningkatkan keamanan energi, dan memberikan opsi yang lebih berkelanjutan untuk masa depan. Dua pendekatan utama dalam produksi bahan bakar hayati melibatkan tanaman dengan kandungan gula atau pati untuk menghasilkan etil alkohol melalui fermentasi, serta tanaman dengan tingkat minyak tinggi seperti kelapa sawit, kedelai, alga, atau jatropha yang dapat diubah menjadi bahan bakar langsung atau biodiesel setelah proses kimia.
Bahan bakar hayati generasi 2
Para pendukung bahan bakar hayati mengatakan mereka telah menemukan cara yang lebih baik untuk meningkatkan dukungan politik dan industri untuk penerapan bahan bakar hayati generasi kedua dari berbagai tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia dan hewan, termasuk bahan bakar hayati berselulosa. Proses ini dapat menggunakan berbagai tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia dan hewan.
Sebagian besar bahan bakar hayati generasi kedua sedang dikembangkan. Ini termasuk diesel kayu, alkohol campuran, Fischer-Tropsch diesel, biohidrogen diesel, biometanol, DMF, dan Bio-DME. Produksi etanol berselulosa menggunakan berbagai tanaman dan produk buangan yang tidak dapat dimakan oleh manusia dan hewan, serta tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia. Produksi etanol dari selulosa adalah masalah teknis yang sulit diatasi. Hewan pemamah biak, seperti sapi, memakan rumput, lalu menggunakan enzim yang lambat untuk menguraikannya menjadi glukosa, atau gula. Untuk melakukan hal yang sama dengan etanol berselulosa, atau cellulosic ethanol, di labolatorium, berbagai prosedur percobaan sedang dikembangkan. Dengan demikian, gula yang dihasilkan dapat difermentasi untuk menjadi bahan bakar etanol. Para ilmuwan juga sedang bereksperimen dengan berbagai organisme yang dihasilkan dari rekayasa genetik penyatuan kembali DNA, yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan potensi bahan bakar hayati seperti penggunaan tepung rumput gajah (Panicum virgatum).
Sumber:
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025
Pemerintah berkomitmen untuk memenuhi komitmen net zero emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Oleh karena itu, pemerintah tengah membuat peta jalan (roadmap) untuk mengatasi berbagai masalah dan ancaman perubahan iklim di masa depan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyatakan pada diskusi Road to COP26: Tekad Generasi Muda Indonesia Mencegah Perubahan Iklim & Mendukung Energi Bersih di Jakarta, Kamis (7/10), bahwa transformasi menuju net zero emission menjadi komitmen bersama kita paling lambat 2060.
Pemerintah tengah mengadopsi lima prinsip utama untuk mencapai target emisi nol: pengurangan bahan bakar fosil; peningkatan penggunaan energi baru terbarukan (EBT); penggunaan listrik di sektor transportasi; peningkatan penggunaan listrik di rumah tangga dan bisnis; dan penggunaan Carbon Capture and Storage (CCS).
Arifin menjelaskan, "Kami telah menyiapkan peta jalan transisi menuju energi netral mulai tahun 2021 hingga 2060 dengan beberapa startegi kunci."
Arifin juga menjelaskan langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk mencapai target emisi nol. Di tahun 2021, pemerintah akan mengeluarkan Peraturan Presiden yang mengatur EBT dan pensiun tembaga. Dia menjelaskan bahwa selain PLTU yang sudah berkontrak dan sedang dalam proses konstruksi, tidak ada tambahan PLTU baru lainnya.
Di tahun 2022, Undang-Undang EBT akan berlaku, dan 2 juta rumah tangga akan memiliki kompor listrik setiap tahunnya. Di tahun 2024, jaringan listrik pintar (juga dikenal sebagai smart grid) dan meteran pintar akan dibangun, dan di tahun 2025, bauran EBT akan mencapai 23%, dengan PLTS yang paling dominan.
Di tahun 2030, jaringan gas akan mencapai 10 juta rumah tangga, 2 juta kendaraan listrik (mobil) dan 13 juta motor, 300 ribu penyaluran BBG, pemanfaatan Dymethil Ether dengan penggunaan listrik sebesar 1.548 kilowatt jam per orang, dan pemerintah akan memberhentikan impor LPG dan 42% EBT pada tahun 2027.
Semua PLTU tahap pertama subkritis akan berhenti beroperasi pada tahun 2031. Di tahun 2035, interkoneksi antar pulau akan dimulai untuk COD, dengan konsumsi listrik sebesar 2.085 kilowatt-jam per kapita dan bauran EBT mencapai 57%, terutama dari PLTU, hidro, dan panas bumi.
Di tahun 2040, bauran EBT akan mencapai 71%, PLT diesel tidak lagi digunakan, lampu LED akan mencapai 70%, dan konsumsi listrik akan mencapai 2.847 kWh/kapita.
Pemerintah berencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama dalam lima tahun setelah COD dimulai. “Kami juga mempertimbangkan penggunaan energi nuklir yang direncanakan dimulai tahun 2045 dengan kapasitas 35 GW sampai dengan 2060,” kata Arifin.
Selanjutnya, pada tahun 2050, bauran EBT diproyeksikan mencapau 87%, didorong oleh PLTS dan Hydro, dan didukung oleh penggunaan kendaraan listrik, kompor listrik 52 juta rumah tangga, penyaluran jaringan gas sebanyak 23 juta sambungan rumah tangga, dan konsumsi listrik 4.299 kilowatt jam per kapita. (NO)
Sumber:
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025
Indonesia, yang terletak di antara dua jalur pegunungan muda, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania, dikenal sebagai negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia. Tidak hanya itu, Indonesia juga menjadi rumah bagi beberapa gunung berapi tertinggi di dunia. Berdasarkan data dari Global Volcanism Program, Smithsonian Institution, National Museum of Natural History, berikut adalah lima gunung api tertinggi di dunia yang terdapat di negara ini.
DI urutan terakhir, Coropuna adalah gunung berapi aktif yang terletak di pegunungan Andes di Peru, merupakan kompleks yang meliputi area seluas 240 kilometer persegi. Puncak tertingginya mencapai ketinggian 6.377 meter di atas permukaan laut, menjadikannya gunung tertinggi ketiga di Peru. Gunung ini dianggap suci oleh suku Inca, dan lapisan esnya yang tebal menjadi yang terluas di zona tropis Bumi.
Keempat, Nevado Incahuasi adalah gunung vulkanik di Andes, Amerika Selatan, terletak di perbatasan Argentina dan Chili. Dengan ketinggian puncak 6.638 meter di atas permukaan laut, gunung ini membentuk kaldera selebar 3,5 kilometer dan dua stratovolcano. Aliran lava basalt-andesit yang dihasilkan mencakup area seluas 10 kilometer persegi.
Di urutan ketiga, Gunung Tipas yang terletak di kompleks pegunungan besar di Andes, Argentina, memiliki tinggi sekitar 6.658 meter di atas permukaan laut. Kompleks ini melibatkan stratovolcanoes, kubah lava, dan aliran lava. Pada tahun 2013, ditemukan danau kawah dengan bau belerang, menunjukkan aktivitas seismik.
Llullaillaco, stratovolcano yang adad di perbatasan Argentina dan Chili, terletak di Puna de Atacama. Dengan ketinggian 6.739 meter, gunung ini merupakan salah satu puncak vulkanik tertinggi di Gurun Atacama, salah satu tempat terkering di dunia. Gunung ini jatuh di nominasi kedua sebagai gunung tertinggi.
Terakhir, Gunung api tertinggi di dunia jatuh kepada Nevado Ojos del Salado yang terletak di Pegunungan Andes di perbatasan Argentina-Chili. Dengan ketinggian mencapai 6.879 meter, gunung ini memiliki iklim kering dengan salju umumnya hanya terdapat di puncaknya selama musim dingin. Meski kondisinya kering, terdapat danau kawah di ketinggian 6.390 meter, menjadikannya danau tertinggi di dunia. Nama "Ojos del Salado" berasal dari "mata garam" dalam bahasa Spanyol, merujuk pada deposit garam yang muncul di antara gletser-gletsernya.
Dengan kekayaan gunung berapi yang tersebar di seluruh negeri, Indonesia bukan hanya destinasi indah bagi para pecinta alam, tetapi juga rumah bagi beberapa gunung berapi tertinggi di dunia. Dari Gunung Coropuna yang disucikan oleh suku Inca di Peru, hingga Gunung Nevado Ojos del Salado yang mencapai ketinggian tertinggi di Pegunungan Andes di perbatasan Argentina-Chili, keberagaman gunung api ini mencerminkan pesona geografis Indonesia yang unik.
Sumber:
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025
Sebuah penemuan menarik mengenai bekas gunung api purba baru-baru ini dilaporkan oleh tim geologi yang dikoordinasi oleh Georesearch Plosodoyong Field Camp. Situs Watu Gendong, yang terletak di Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, DI Yogyakarta, menjadi lokasi penemuan ini. Diperkirakan, situs ini muncul sekitar 35 juta tahun yang lalu, menjadikannya sebagai jejak bersejarah yang mencengangkan.
Koordinator Georesearch Plosodoyong Field Camp, Priharjo Sanyoto, menjelaskan bahwa situs Watu Gendong tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga telah menjadi bagian dari cerita turun temurun masyarakat setempat. Menurut kepercayaan lokal, Watu Gendong berasal dari gunung api yang "digendong," dan dari sinilah nama Watu Gendong diambil.
Priharjo Sanyoto menambahkan bahwa penelitian ilmiah ini melibatkan sejumlah peneliti dari berbagai lokasi, termasuk Sragen, Jawa Tengah, hingga Aceh. "Penelitian ini telah dimulai sejak tahun 2016, meskipun sempat mengalami henti sementara dan kini dilanjutkan," ujar Priharjo ketika dihubungi wartawan pada Kamis (13/1/2022).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap jejak-jejak gunung api purba, mengingat bahwa situs Watu Gendong ini merupakan peninggalan dari aliran piroklastik. Piroklastik sendiri merujuk pada material klastik yang terbentuk dari fragmen batuan yang dihasilkan oleh erupsi gunung api yang bersifat eksplosif. Fragmen batuan tersebut, yang dikenal sebagai piroklast, menyusun batuan piroklastik yang menjadi salah satu jenis endapan vulkaniklastik.
Penemuan ini tidak hanya memberikan wawasan lebih dalam tentang sejarah geologi daerah tersebut, tetapi juga membuka potensi penelitian lebih lanjut mengenai peristiwa erupsi gunung api purba di Indonesia. Dengan penelitian ini, kita dapat lebih memahami dinamika alam yang membentuk lanskap yang kita kenal saat ini.
Sumber:
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 25 Februari 2025
Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Zulkifli Zaini mengatakan pada November hingga Januari tahun depan cuaca ekstrem menjadi tantangan besar bagi pasokan batu bara. Sehingga menurut Zulkifli pasokannya perlu dijaga atau mitigasi.
"Kami juga masih memperhatikan ramalan cuaca. Kami mendapatkan informasi bahwa di November Desember sampai Januari tahun depan cuaca akan ekstrem. Kami perlu melakukan beberapa langkah mitigasi," ujar Zulkifli di Komisi VII DPR RI, Senin (15/11).
Zulkifli menjelaskan salah satunya saat ini PLN sedang memperhatikan rantai pasok persoalan batu bara ini. Kata dia, di beberapa PLTU akan diadakan penambahan fasilitas untuk keperluan loading dan unloading batu bara.
"Kami juga memperhatikan dan menyempurnakan rantai pasok. Fasilitas PLTU kami bisa menerima loading unloading dari batubara itu dengan baik. Disamping dengan transportasi dari batubaranya juga. Dalam hal ini perusahaan pelayarannya," tambah Zulkifli.
Selain itu, kedepan kata dia untuk memitigasi pasokan batu bara, pihaknya akan memilih kontrak jangka panjang dibandingkan jangka pendek. Ia juga mengatakan akan mengurangi porsi kontrak dengan trader.
"Kedepan kami akan mengutamakan kontrak jangka panjang dibandingkan kontrak jangka pendek. Kami juga akan berkontrak dengan perusahaan yang punya izin yang terkait dengan penambangan batubara bukan ke trader," ujar Zulkifli.
"PLN siapkan langkah mitigasi cuaca ekstrem untuk jaga pasokan batu bara, dengan fokus pada kontrak jangka panjang dan penyempurnaan fasilitas PLTU. Simak cara PLN atasi tantangan pasokan energi 2023."
Sumber Artikel: republika.co.id
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 25 Februari 2025
Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-26 atau COP26 yang dihelat di Glasgow, Skotlandia, berakhir pada Sabtu (13/11). Untuk pertama kalinya, konferensi tersebut membidik bahan bakar fosil sebagai pemicu utama pemanasan global.
Hampir 200 negara menerima kesepakatan kompromi COP26 yang bertujuan membatasi pemanasan global tak melampaui 1,5 derajat celcius di atas tingkat pra-industri. Para ilmuwan telah memperingatkan, saat suhu bumi melebihi titik itu, akan ada dampak iklim yang tak terkendali dan tak dapat diubah.
Kesepakatan COP26 secara efektif mengakui bahwa komitmen negara-negara untuk mengurangi emisi karbon belum memadai. Mereka, terutama negara penghasil karbon terbesar, diminta menetapkan target yang lebih ketat tahun depan.
Pembicaraan juga menghasilkan terobosan dalam menyelesaikan aturan untuk mencakup pasar yang dipimpin pemerintah guna penyeimbangan karbon. Perusahaan dan negara dengan tutupan hutan luas telah mendorong sebuah kesepakatan, dengan harapan turut melegitimasi pasar global voluntary offset yang tumbuh cepat.
Kesepakatan itu memungkinkan negara-negara memenuhi sebagian target iklim mereka dengan membeli offset credits yang mewakili pengurangan emisi oleh negara lain. Hal itu berpotensi membuka aliran dana triliunan dolar AS yang dapat dimanfaatkan untuk melindungi hutan, memperluas energi terbarukan, dan proyek-proyek lain guna memerangi perubahan iklim.
Berakhirnya Era Batu Bara
Dalam COP26, muncul klausul yang menyerukan "penghapusan" pembangkit listrik tenaga batu bara. Namun drama muncul di menit-menit akhir. India, didukung Cina dan negara-negara berkembang lainnya yang bergantung pada batu bara, menolak klausul tersebut.
Setelah utusan China, India, Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa melakukan pertemuan, redaksional klausul itu diganti "menghentikan secara bertahap" penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara.
Menteri Lingkungan Hidup India Bhupender Yadav mengatakan, revisi itu mencerminkan "keadaan nasional" negara-negara berkembang. "Kami menjadi suara negara-negara berkembang," ujarnya.
Dia mengisyaratkan adanya diskriminasi dalam klausul yang "bisu" terhadap minyak dan gas alam. "Kami melakukan upaya kami untuk membuat konsensus yang masuk akal bagi negara-negara berkembang dan masuk akal untuk keadaan iklim," ujar Yadav mengacu pada fakta bahwa negara-negara kaya, secara historis, telah memproduksi bagian terbesar dari gas rumah kaca.
Perubahan redaksional dalam klausul itu menuai kekecewaan dari banyak negara, termasuk negara-negara kaya di Eropa. "Saya minta maaf atas cara proses ini berlangsung. Saya sangat menyesal," kata Presiden COP26 Inggris, Alok Sharma, merespons kemarahan berbagai negara atas perubahan di menit-menit akhir.
Utusan Meksiko, Camila Isabel Zepeda Lizama, mengatakan, dia yakin banyak negara yang telah dikesampingkan dalam pertemuan utusan Cina, AS, India, dan Uni Eropa. Menurutnya, proses itu tak transparan dan tak inklusif.
"Kami semua memiliki kekhawatiran yang tersisa, tapi diberi tahu bahwa kami tidak dapat membuka kembali teks itu, sementara yang lain masih dapat meminta untuk mengencerkan janji mereka," ujar Lizama.
Kendati menyesalkan, Lizama mengatakan negaranya akan membiarkan teks yang direvisi perihal pembangkit listrik tenaga batu bara tetap berlaku. Menteri Lingkungan Swiss Simonetta Sommaruga mengatakan, perubahan klausul akan mempersulit pembatasan pemanasan hingga 1,5 derajat celcius.
Utusan iklim AS, John Kerry, mengatakan, pemerintah-pemerintah tidak punya pilihan selain menerima perubahan redaksional dalam klausul terkait pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebelumnya ditolak India. Namun Kerry meyakinkan bahwa kesepakatan itu adalah kabar baik bagi dunia.
"Kita sebenarnya lebih dekat daripada sebelumnya untuk menghindari kekacauan iklim dan mengamankan udara bersih, air yang lebih aman, dan planet yang lebih sehat," ujar Kerry.
Ilmuwan iklim Australia, Bill Hare, mengkritik langkah yang diambil India untuk mengubah klausul "penghapusan" pembangkit listrik tenaga batu bara. "Perubahan oleh India di menit-menit akhir untuk mengurangi dan bukan menghapus (penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara) sangat mengejutkan," ucapnya.
Menurut dia, India telah lama menjadi penghambat aksi iklim. "Tapi saya belum pernah melihatnya dilakukan secara terbuka," kata Hare.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Greenpeace Jennifer Morgan mengatakan, perubahan redaksional dalam klausul tidak dapat mengubah sinyal yang keluar dari COP26. "Bahwa era batu bara telah berakhir. Jika Anda seorang eksekutif perusahaan batu bara, COP ini melihat hasil yang buruk," ujarnya.
Sumber Artikel: republika.co.id