Farmasi

Langkah Menuju Kemandirian: Industri Farmasi Indonesia Berkomitmen Gunakan Bahan Baku Lokal

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 12 Maret 2025


Kementerian Keuangan, Perindustrian, dan Energi mengumumkan industri farmasi dalam negeri siap menggunakan bahan baku farmasi (BBO) yang diproduksi lima perusahaan dalam negeri, termasuk Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP). “Industri manufaktur farmasi siap menggunakan BBO in-house berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain stabilitas BBO, keakuratan persyaratan BBO, konsistensi BBO, evaluasi, lead time dan harga yang kompetitif”. Muhammad Khayam, Direktur Jenderal Departemen Industri Kimia, Material dan Tekstil (IKFT), menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya di Jakarta, Minggu (12/12).

Khayam melaporkan bahwa KFSP mampu memproduksi 11 molekul BBO komersial, antara lain Clopidogrel, Simvastatin, Atorvastatin, Rosuvastatin, Entecavir, Lamivudine, Zidovudine, Efavirenz, Tenofovir, Remdesivir, dan Povidone Iodine. Saat ini, 11 BBO lainnya sedang disempurnakan, termasuk candesartan, valsartan, amlodipine, glimepiride, bisoprolol, RIFampin, paracetamol, pantoprazole, risperidone, meloxicam, dan telmisartan. Saat ini industri BBO lainnya adalah PT Ferron Par Pharmaceutical yang memproduksi BBO Omeprazole Injection, PT Riasima Abadi Farma yang memproduksi BBO Paracetamol, PT Kalbio Global Medika, dan PT Daewoong Infion yang memproduksi BBO Erythropoietin. Banyak industri yang sudah memulai pengujian BBO oleh KFSP sehingga dapat mengubah sumber BBO dari impor ke lokal.

Tindakan lain yang akan dilakukan antara lain menetapkan prioritas pengembangan dan mendukung implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 bagi industri farmasi, menetapkan insentif yang lebih baik untuk mendorong investasi di sektor farmasi, dan membangun fasilitas baru manufaktur farmasi Indonesia. (OMAI) .) pengembangan, dll. Barang Milik Industri Kimia (BBKK) Kementerian Perindustrian. Selain itu, kami menata lokasi industri untuk sektor industri farmasi untuk mendukung terciptanya ekosistem yang lebih baik.

Selanjutnya, Peraturan Menteri Perdagangan, Perindustrian dan Energi No. 16 Tahun 2020 tentang Aturan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) Obat. Dengan diberlakukannya undang-undang ini, statistik TKDN obat tidak lagi menggunakan metode berbasis harga, melainkan menggunakan metode berbasis proses. Penghitungan nilai TKDN obat olahan dilakukan dengan pembobotan 50% untuk kandungan bahan baku bahan aktif farmasi (API), 30% untuk proses penelitian dan pengembangan, dan 15% untuk proses produksi. persen dan nilai defaultnya adalah 5 persen.

"Langkah ini tidak hanya mendorong pengembangan industri BBO, tetapi juga membantu meningkatkan penelitian dan pengembangan obat-obatan baru dan mempercepat program pengurangan impor untuk mendukung kesehatan obat"; kemudian berhenti.

Sumber: news.republika.co.id

Selengkapnya
Langkah Menuju Kemandirian: Industri Farmasi Indonesia Berkomitmen Gunakan Bahan Baku Lokal

Farmasi

Dampak Tingginya Impor Bahan Baku Terhadap Kesehatan Industri Farmasi

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 12 Maret 2025


Direktur Utama PT Biofarma (Persero) Honesti Basyir mengatakan industri farmasi dalam negeri kurang baik, terutama dari segi penyakit. Hal ini tidak lepas dari besarnya impor bahan baku medis hingga 90%.
“Di masa pandemi, tentu semua negara punya produk yang sama. Ya, negara yang punya teknologi untuk memproduksi bahan baku, akan punya barang untuk negaranya,” kata e Honesti pekan lalu. Ia mengatakan, Indonesia harus banyak belajar mengenai kemandirian kesehatan nasional. Honesti yakin masih banyak ruang untuk perbaikan di sektor kesehatan Indonesia.

"Di masa pandemi ini kita merasakan betapa terisolasinya kita di bidang kesehatan. Banyak permasalahan yang harus diselesaikan. Pelayanan kesehatan tidak hanya terkait dengan kesehatan, tetapi dengan perekonomian, dengan masyarakat dan dengan kehidupan," Honesti dikatakan. Anda dapat mengendalikan COVID-19. Dia mengatakan epidemi ini memotivasi dirinya untuk bekerja keras mempercepat kemandirian kesehatan.
“Baru setahun yang lalu pembatasan ini dilakukan, dan kemudian epidemi pecah. Selain reformasi, kita juga berada di garda depan dalam pengendalian epidemi,” ujarnya.

Honesti Pharmaceutical Holding mengumumkan mulai membuat portofolio dengan membagi fokus masing-masing BUMN: Biopharma fokus pada produksi vaksin dan antisera, India Pharma fokus pada produksi alat kesehatan dan herbal, Kimia Pharma fokus pada bahan kimia dan jasa farmasi. mulai memproduksi obat untuk pengobatan COVID-19. Honesti mengatakan perusahaan obat tersebut berupaya mendukung kemandirian kesehatan nasional.
“Kemandirian pelayanan kesehatan harus kita ciptakan agar tidak terus bergantung pada bahan baku impor. Lanjut Honesti.
Honesti menghargai upaya mewujudkan kemandirian negara dapat dicapai melalui kerjasama berbagai pihak. kelompok,". Perusahaan pemerintah dan swasta, hingga 200 perusahaan farmasi di Indonesia, berdasarkan impor bahan baku farmasi dari 90% menjadi 70% pada tahun 2024, kata Honesti.

Honesti tidak bisa melepaskan tingginya impor bahan baku medis dengan mentalitas lebih murah mendatangkan investasi sendiri. Mahalnya biaya produksi obat memang bisa ditekan jika kita menggandeng industri kimia dasar di sektor hulu.
“Kami berharap dapat memberikan dukungan agar bahan kimia dasar dapat digunakan untuk memproduksi bahan baku obat-obatan,” ujarnya.

Sumber: www.republika.co.id

Selengkapnya
Dampak Tingginya Impor Bahan Baku Terhadap Kesehatan Industri Farmasi

Farmasi

Proyeksi Stabil Pertumbuhan Industri Farmasi Global

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 12 Maret 2025


Moody's, lembaga pemeringkat kredit multinasional, memperkirakan industri farmasi global akan terus tumbuh meskipun wabah COVID-19 telah melanda banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Menurut Moody's, pertumbuhan EBITDA industri farmasi akan meningkat sebesar 2 hingga 4 persen selama 12 hingga 18 bulan ke depan, naik sedikit dari perkiraan sebelumnya sebesar 1 hingga 3 persen.

Meskipun durasi dan tingkat keparahan epidemi masih sulit diprediksi, penggunaan intervensi medis terus meningkat. Selain itu, meskipun banyak perusahaan mengembangkan berbagai produk yang dapat menyembuhkan atau mencegah penyebaran virus corona, situasi keuangan mereka masih belum menentu karena banyak faktor terkait, termasuk tingkat harga, persaingan, dan durasi epidemi.

Terkait industri farmasi dalam negeri, Mantan Anggota Komite ke-9 DPR RI Sri Wulan meminta industri farmasi dalam negeri tetap menggunakan bahan baku lokal. “Kita kaya akan bahan mentah, tapi kita tidak memanfaatkannya dengan baik karena kita mengimpor hampir 95% bahan mentah kita. “Kandungan lokal hanya menyumbang 4-5%,” ujarnya. kata Sri Wulan.
Menurut Sri Wulan, menjadi tantangan bagi industri farmasi Indonesia untuk memproduksi obat dari sumber daya lokal. Untuk itu diharapkan kebijakan pemerintah dapat mengatasi kendala tersebut.

Pulau Madura, dekat Kota Surabaya dan terkenal dengan produksi garamnya, dijadikan contoh, namun permasalahannya adalah kurangnya akses terhadap teknologi yang dapat membuat garam Madura memenuhi standar medis. Bahan baku .
Ia mengatakan pemerintah dapat meningkatkan peluang penelitian untuk memanfaatkan berbagai obat-obatan dalam negeri dengan tepat.

Saat ini Kementerian Perdagangan, Perindustrian, dan Energi sedang melakukan penelitian obat dan kosmetika berbasis sumber daya alam lokal untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku Balai Besar Pengemasan Kimia (BBKK) Jakarta. Direktur Institut Ekonomi dan Perdagangan Industri Korea mengatakan, "Kami akan melakukan ini dengan membangun struktur pengembangan obat tanaman yang sesuai dengan standar CPOTB menggunakan komputer sederhana dan teknologi 4.0 sebagai model industri obat alami." (BPPI) Doddy Rahadi, Kementerian Perindustrian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja industri kimia, farmasi, dan oriental pada triwulan I tahun 2020 mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik yaitu sebesar 5,59%. “Namun, kami terus bekerja keras untuk mengurangi impor dari sektor farmasi,” kata Doddy.

Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Farmasi dan Kesehatan Indonesia, departemen dan instansi terkait harus bersinergi untuk mengembangkan industri farmasi yang mandiri dan berdaya saing.

Sumber: ekonomi.republika.co.id

Selengkapnya
Proyeksi Stabil Pertumbuhan Industri Farmasi Global

Keselamatan Kebakaran

Studi Kasus Keselamatan Kebakaran di Industri

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan kebakaran di industri merupakan aspek kritis yang harus diperhatikan untuk melindungi pekerja, aset, dan operasi bisnis. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan menganalisis berbagai metode keselamatan kebakaran yang diterapkan di industri. Beberapa aspek utama yang dikaji meliputi:

  • Identifikasi penyebab kebakaran industri
  • Evaluasi sistem proteksi kebakaran
  • Implementasi teknologi modern seperti IoT dan Machine Learning
  • Strategi manajemen risiko dan prosedur tanggap darurat

Berdasarkan analisis data, penyebab utama kebakaran industri meliputi:

  1. Debu yang mudah terbakar – sering diabaikan, tetapi menjadi penyebab kebakaran besar di industri makanan, farmasi, dan logam.
  2. Pekerjaan panas (hot work) – aktivitas seperti pengelasan dan pemotongan logam dapat memicu percikan api yang menyebabkan kebakaran.
  3. Cairan dan gas yang mudah terbakar – sering ditemukan di industri kimia dan perminyakan.
  4. Kabel listrik yang tidak memenuhi standar – korsleting listrik merupakan penyebab umum kebakaran industri.
  5. Kerusakan mesin dan peralatan – gesekan antar komponen mesin dapat menghasilkan panas yang memicu kebakaran jika tidak dipelihara dengan baik.

Paper ini meninjau berbagai sistem proteksi kebakaran yang digunakan di industri, termasuk:

  • Detektor kebakaran berbasis IoT yang memungkinkan respons lebih cepat terhadap insiden kebakaran.
  • Sistem pemadam api otomatis seperti sprinkler dan fire suppression systems.
  • Sistem alarm kebakaran yang terintegrasi untuk peringatan dini.
  • Pelatihan keselamatan kebakaran bagi pekerja untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat.

Paper ini mengusulkan penerapan teknologi terbaru dalam keselamatan kebakaran, termasuk:

  • IoT-enabled fire detectors – memungkinkan deteksi dini kebakaran melalui sensor yang terhubung dengan jaringan internet.
  • Sistem notifikasi massa – mempercepat komunikasi darurat untuk evakuasi lebih efisien.
  • Machine learning dalam analisis risiko kebakaran – membantu mengidentifikasi pola yang meningkatkan potensi kebakaran di industri.

Paper ini menyajikan data kecelakaan kebakaran di India antara tahun 2014–2017:

  • 4222 insiden akibat mesin
  • 1363 kecelakaan umum
  • 882 kebakaran akibat petasan
  • 741 kebakaran di industri
  • 6300 total korban jiwa akibat kebakaran

Dari data ini, terlihat bahwa kebakaran industri masih menjadi tantangan besar dan memerlukan pendekatan lebih ketat dalam penerapan sistem keselamatan kebakaran.

Kesimpulan

  1. Keselamatan kebakaran harus menjadi prioritas utama dalam industri untuk melindungi pekerja dan aset.
  2. Penyebab utama kebakaran industri termasuk debu yang mudah terbakar, pekerjaan panas, dan korsleting listrik.
  3. Implementasi teknologi seperti IoT dan Machine Learning dapat meningkatkan efektivitas pencegahan kebakaran.
  4. Data kecelakaan menunjukkan bahwa masih ada banyak kelemahan dalam sistem proteksi kebakaran industri yang perlu diperbaiki.

Saran

  1. Industri harus meningkatkan sistem pemantauan kebakaran berbasis IoT untuk deteksi dini yang lebih akurat.
  2. Pelatihan keselamatan kebakaran harus dilakukan secara berkala agar pekerja lebih siap menghadapi situasi darurat.
  3. Inspeksi dan perawatan sistem proteksi kebakaran harus lebih ketat untuk mencegah kerusakan yang dapat menyebabkan kebakaran.
  4. Perusahaan harus mengadopsi teknologi prediktif untuk menganalisis pola risiko kebakaran dan mengambil tindakan pencegahan lebih awal.

Sumber Artikel

G. Nani Babu, P. Devi Supriya, P. Victor Spenner. A Case Study on Fire and Safety in Industries. IJIRSET, Vol. 13, Issue 5, May 2024.

 

Selengkapnya
Studi Kasus Keselamatan Kebakaran di Industri

Keselamatan Kebakaran

Efektivitas Program Edukasi Keselamatan Kebakaran Berbasis Sekolah

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan kebakaran merupakan bagian integral dari mitigasi risiko bencana, terutama bagi anak-anak yang sering kali kurang memiliki pemahaman yang memadai mengenai bahaya api. Penelitian ini menggunakan metode rapid evidence assessment, yaitu teknik analisis literatur yang mengumpulkan dan menganalisis berbagai penelitian ilmiah yang relevan dengan topik edukasi keselamatan kebakaran untuk anak-anak. Dari 90 sumber yang diidentifikasi, sebanyak 51 studi memenuhi kriteria inklusi, yang mencakup:

  • Studi akademik atau industri yang dipublikasikan antara 2000 dan 2020.
  • Berbahasa Inggris.
  • Menilai program keselamatan kebakaran bagi anak-anak usia 0–17 tahun.
  • Merupakan strategi pencegahan primer.

Hasil penelitian ini mengungkapkan 25 praktik berbasis bukti yang dikategorikan dalam tujuh tema utama: teori perubahan, target, pendekatan, konten, sumber daya, implementasi, dan evaluasi. Program keselamatan kebakaran berbasis sekolah umumnya didasarkan pada asumsi bahwa anak-anak memiliki kapasitas terbatas dalam memahami risiko kebakaran dan bereaksi secara rasional dalam keadaan darurat. Oleh karena itu, pendidikan keselamatan kebakaran bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak akan bahaya api dan mendorong mereka mengambil tindakan yang benar saat menghadapi situasi kebakaran.

Studi menunjukkan bahwa pendekatan yang paling efektif adalah menyesuaikan materi edukasi dengan tahap perkembangan anak. Misalnya:

  • Anak-anak usia prasekolah lebih mudah memahami pelajaran berbasis visual dan permainan interaktif.
  • Anak-anak usia sekolah dasar lebih efektif belajar melalui demonstrasi langsung dan simulasi.
  • Remaja dapat menerima pendekatan berbasis teori dan pemecahan masalah.

Pendekatan yang Efektif dalam Program Keselamatan Kebakaran

  • Terintegrasi dalam kurikulum sekolah, sehingga dapat diselaraskan dengan mata pelajaran lain.
  • Melibatkan tenaga pendidik dan petugas pemadam kebakaran, di mana guru memberikan materi dasar, sedangkan petugas pemadam kebakaran memperkuat pembelajaran melalui simulasi.
  • Berbasis Child-Centered Disaster Risk Reduction (CCDRR), yang menempatkan anak sebagai agen perubahan dalam keselamatan kebakaran di rumah dan komunitasnya.

Materi keselamatan kebakaran yang berfokus pada perubahan perilaku lebih efektif dibandingkan pendekatan berbasis teori semata. Beberapa strategi yang digunakan meliputi:

  • Mengajarkan tindakan darurat, seperti "Stop, Drop, Cover, and Roll" jika pakaian terbakar.
  • Latihan evakuasi yang dilakukan secara berulang untuk membentuk kebiasaan.
  • Perencanaan rute evakuasi di rumah dan sekolah guna memastikan respons cepat saat kebakaran terjadi.

Efektivitas edukasi keselamatan kebakaran dapat ditingkatkan dengan penggunaan alat bantu yang lebih nyata, seperti:

  • Simulasi rumah asap untuk melatih anak-anak menghadapi kondisi kebakaran yang sebenarnya.
  • Digital resources, seperti aplikasi berbasis VR (Virtual Reality) untuk melatih anak dalam pengambilan keputusan darurat.
  • Kampanye berbasis media sosial guna meningkatkan jangkauan edukasi ke keluarga dan komunitas.

Program keselamatan kebakaran yang berhasil harus menjadi bagian dari kegiatan rutin di sekolah dan tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali dalam setahun.

  • Latihan kebakaran harus dilakukan secara berkala dengan peningkatan tingkat kesulitan setiap sesi.
  • Kolaborasi antara sekolah dan layanan pemadam kebakaran harus diperkuat untuk memastikan implementasi yang berkesinambungan.

Paper ini menekankan pentingnya pengukuran dampak program edukasi keselamatan kebakaran. Beberapa metode evaluasi yang direkomendasikan meliputi:

  • Pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan anak-anak sebelum dan sesudah mengikuti program.
  • Simulasi kebakaran dengan skenario nyata guna menilai apakah anak-anak benar-benar menerapkan keterampilan yang telah diajarkan.
  • Survei kepada orang tua untuk mengetahui apakah anak-anak mentransfer pengetahuan mereka ke lingkungan rumah.

Beberapa negara telah menerapkan pendekatan berbasis bukti dalam edukasi keselamatan kebakaran:

  • Australia: Program Fire Ed yang diterapkan di sekolah dasar menunjukkan bahwa 80% anak-anak mampu mengingat prosedur evakuasi dengan benar setelah mengikuti program ini.
  • Amerika Serikat: Studi oleh NFPA (National Fire Protection Association) menemukan bahwa anak-anak yang mengikuti program keselamatan kebakaran memiliki kemungkinan 35% lebih tinggi untuk bertindak dengan benar dalam situasi kebakaran dibandingkan yang tidak mengikuti pelatihan.
  • Jepang: Melalui metode pelatihan simulasi rumah asap, 90% peserta mampu mengikuti rute evakuasi dengan benar dan tanpa kepanikan.

Kesimpulan

  1. Program edukasi keselamatan kebakaran berbasis sekolah merupakan strategi pencegahan paling efektif dalam mengurangi risiko kebakaran bagi anak-anak.
  2. Tidak ada standar global yang diterapkan secara universal, sehingga perlu dikembangkan framework berbasis bukti untuk mengoptimalkan efektivitas program.
  3. Penggunaan teknologi digital dan simulasi nyata dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap bahaya kebakaran dan respons yang tepat.
  4. Evaluasi program sangat penting untuk memastikan efektivitas jangka panjang dalam mengubah perilaku anak-anak terhadap keselamatan kebakaran.

Saran

  1. Integrasi lebih luas dalam kurikulum pendidikan nasional, sehingga setiap sekolah memiliki program keselamatan kebakaran yang konsisten.
  2. Peningkatan keterlibatan orang tua dalam edukasi kebakaran, misalnya dengan menyediakan modul pembelajaran di rumah.
  3. Pemanfaatan teknologi berbasis AR dan VR untuk meningkatkan pengalaman belajar anak-anak secara lebih interaktif.
  4. Penguatan regulasi yang mewajibkan latihan kebakaran berkala di sekolah guna membentuk kebiasaan yang lebih kuat dalam menghadapi kebakaran.

Sumber Artikel

Kamarah Pooley, Sonia Nunez, Mark Whybro. Evidence-based Practices of Effective Fire Safety Education Programming for Children. Australian Journal of Emergency Management, Vol. 36, No. 2, April 2021.

Selengkapnya
Efektivitas Program Edukasi Keselamatan Kebakaran Berbasis Sekolah

Keselamatan Kerja

Implementasi Sistem Tanggap Darurat berdasarkan NFPA 1600 di PT. LG Electronics Indonesia

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 11 Maret 2025


Keselamatan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana merupakan aspek yang sangat penting dalam operasional perusahaan. Banyak perusahaan mengalami kesulitan untuk kembali beroperasi setelah mengalami gangguan akibat bencana, sebagaimana hasil penelitian University of Minnesota yang menunjukkan bahwa 90% perusahaan tidak dapat bangkit setelah 10 hari mengalami kegagalan sistem kritis. Paper ini meneliti implementasi sistem tanggap darurat di PT. LG Electronics Indonesia berdasarkan standar National Fire Protection Association (NFPA) 1600, yang merupakan standar internasional untuk keberlanjutan bisnis, kesiapsiagaan darurat, dan manajemen krisis.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan triangulasi data, yang mencakup:

  • Wawancara terstruktur dengan tiga responden dari PT. LG Electronics Indonesia.
  • Studi dokumentasi dari dokumen perusahaan terkait sistem tanggap darurat.
  • Analisis kesesuaian sistem tanggap darurat dengan 194 elemen indikator NFPA 1600.

Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih responden utama, yang terdiri dari General Manager, Koordinator Tim Tanggap Darurat, dan Ahli K3 perusahaan. Dari 194 elemen indikator NFPA 1600, hasil penelitian menunjukkan bahwa:

  • 160 elemen (82,5%) sudah sesuai dengan standar.
  • 34 elemen (17,5%) masih belum sesuai, baik sebagian maupun keseluruhan.

Beberapa aspek yang sudah sesuai meliputi manajemen program, perencanaan, pelatihan, serta pengujian sistem tanggap darurat. Namun, masih ada kekurangan dalam perencanaan pemulihan pasca-bencana (recovery) dan kelengkapan fasilitas darurat. Penelitian mengungkapkan bahwa PT. LG Electronics Indonesia memiliki area berisiko tinggi, seperti:

  • Penyimpanan R600 dan LPG, yang rentan terhadap ledakan.
  • Gudang penyimpanan alkohol dan bahan kimia, yang mudah terbakar.
  • Area produksi dengan material ABS, yang telah menyebabkan beberapa kebakaran kecil akibat kesalahan teknis.

Sepanjang tahun 2019, terjadi beberapa kebakaran kecil di area produksi vacuum forming, dengan total kerugian sebesar Rp131.964.000. Kebakaran ini berhasil dipadamkan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), tetapi menunjukkan perlunya peningkatan dalam pengelolaan risiko kebakaran. Perusahaan telah membentuk tim tanggap darurat, dengan prosedur evakuasi yang jelas. Namun, ada beberapa kelemahan yang ditemukan:

  • Tidak adanya pusat operasi darurat (Emergency Operations Center).
  • Kurangnya perencanaan pemulihan bisnis setelah bencana.
  • Ketiadaan prosedur khusus untuk pekerja penyandang disabilitas dalam keadaan darurat.
  • Belum adanya sistem komunikasi darurat berbasis teknologi seperti IoT untuk deteksi dini kebakaran.

Sebagai perbandingan, penerapan sistem tanggap darurat di Jepang setelah gempa dan tsunami 2011 menunjukkan bahwa perusahaan dengan sistem tanggap darurat yang matang dapat pulih lebih cepat. Penelitian oleh Nanto (2011) menunjukkan bahwa industri manufaktur Jepang mengalami kerugian hingga $309 miliar, tetapi perusahaan yang memiliki perencanaan pemulihan yang baik mampu melanjutkan produksi lebih cepat dibandingkan yang tidak memiliki sistem pemulihan.

Kesimpulan

  1. Implementasi sistem tanggap darurat di PT. LG Electronics Indonesia sudah baik (82,5% sesuai NFPA 1600), tetapi masih ada beberapa kelemahan yang harus diperbaiki.
  2. Beberapa area berisiko tinggi belum sepenuhnya mendapat perlindungan maksimal, terutama dalam hal penyimpanan bahan kimia dan LPG.
  3. Kurangnya perencanaan pemulihan bisnis pasca-bencana (recovery) menjadi tantangan besar dalam meningkatkan ketahanan perusahaan terhadap bencana.

Saran

  1. Mendirikan Pusat Operasi Darurat (Emergency Operations Center) untuk meningkatkan koordinasi dalam situasi darurat.
  2. Menyusun rencana pemulihan bisnis (Business Continuity Plan) agar perusahaan dapat kembali beroperasi lebih cepat setelah bencana.
  3. Menggunakan teknologi berbasis IoT untuk deteksi dini kebakaran, seperti sensor asap otomatis yang terhubung dengan sistem pemadam.
  4. Menyesuaikan prosedur evakuasi bagi penyandang disabilitas, dengan jalur evakuasi yang ramah difabel.

Sumber Artikel

Fairuz Nabila Asfarisya, Herry Koesyanto. Implementasi Sistem Tanggap Darurat berdasarkan National Fire Protection Association (NFPA) 1600 di PT. LG Electronics Indonesia. Indonesian Journal of Public Health and Nutrition, Vol. 1, No. 2, 2021, 223-233.

Selengkapnya
Implementasi Sistem Tanggap Darurat berdasarkan NFPA 1600 di PT. LG Electronics Indonesia
« First Previous page 92 of 865 Next Last »