Rantai Pasok Resilien dan Adaptif

Ketahanan Rantai Pasok dan Indikator Kinerja Utama: Tinjauan Sistematis

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025


Pendahuluan
Makalah "Supply Chain Resilience and Key Performance Indicators: A Systematic Literature Review" oleh Alexandre Augusto Karl, Julio Micheluzzi, Luciana Rosa Leite, dan Carla Roberta Pereira (2018) mengeksplorasi bagaimana indikator kinerja utama (KPI) non-keuangan mendukung penguatan ketahanan rantai pasok (Supply Chain Resilience/SCRes). Studi ini menyoroti peran elemen-elemen seperti keamanan, manajemen risiko, kolaborasi, dan fleksibilitas dalam merespons gangguan rantai pasok.

Penelitian ini didorong oleh data FEMA (2016), yang mencatat bahwa 40% perusahaan bangkrut setelah gangguan signifikan dalam rantai pasok. Dengan menggunakan metodologi Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini menganalisis 57 artikel akademik dari tahun 2000 hingga 2017. Fokusnya adalah KPI non-keuangan karena dianggap sebagai indikator awal yang mendukung kinerja finansial jangka panjang.

Metodologi
Studi ini menggunakan SLR yang ketat dengan pendekatan lima langkah untuk memilih literatur yang relevan. Hasil akhirnya mencakup 57 artikel peer-reviewed yang dievaluasi menggunakan analisis konten untuk mengidentifikasi hubungan antara KPI dan elemen-elemen SCRes.

Tujuan Utama Penelitian:

  1. Mengidentifikasi KPI yang relevan dalam konteks rantai pasok.
  2. Menganalisis elemen-elemen pendukung ketahanan rantai pasok.
  3. Mengeksplorasi hubungan antara KPI non-keuangan dan SCRes sebelum, selama, dan setelah gangguan.

Temuan Utama

  1. KPI Non-Keuangan untuk Ketahanan Rantai Pasok
    KPI yang paling relevan meliputi:
    • Order dan Delivery Lead Time: Menentukan responsivitas rantai pasok.
    • On-Time Delivery: Mengukur ketepatan waktu pengiriman untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.
    • Supplier Delivery Efficiency: Mengamati reliabilitas pemasok.
    • Stock Level: Memastikan persediaan cukup untuk mengatasi gangguan mendadak.
    • Customer Satisfaction: Memantau kepuasan pelanggan sebagai hasil dari pengelolaan KPI lainnya.
  2. Elemen Ketahanan dalam Fase Gangguan
    Elemen-elemen seperti keamanan, manajemen risiko, kolaborasi, fleksibilitas, dan visibilitas menjadi kunci untuk memitigasi dampak gangguan. Contoh: Keamanan siber dan fisik digunakan untuk melindungi rantai pasok dari ancaman eksternal.
  3. Kolaborasi dan Informasi
    • Kolaborasi antar mitra rantai pasok menghasilkan pengurangan risiko hingga 30% melalui perencanaan bersama.
    • Informasi berbagi real-time membantu mempercepat respons terhadap gangguan.

Studi Kasus dan Data Pendukung

  1. Industri Otomotif
    • Perusahaan yang memantau delivery lead time mencatat peningkatan efisiensi hingga 15% selama gangguan rantai pasok.
  2. Sektor Manufaktur
    • Penerapan KPI seperti supplier delivery efficiency mengurangi penolakan pemasok hingga 10%, meningkatkan reliabilitas rantai pasok.
  3. Perdagangan Global
    • Pemantauan stock level membantu perusahaan menahan dampak gangguan hingga 50% lebih lama dibandingkan perusahaan tanpa strategi serupa.

Rekomendasi Strategis

  1. Penerapan Sistem Manajemen Risiko
    • Identifikasi dan mitigasi risiko melalui pemantauan KPI seperti stock level dan supplier delivery efficiency.
  2. Investasi dalam Teknologi Informasi
    • Gunakan teknologi seperti IoT dan AI untuk meningkatkan visibilitas rantai pasok dan responsivitas terhadap gangguan.
  3. Kolaborasi Antar Mitra Rantai Pasok
    • Bangun kepercayaan melalui transparansi dan berbagi informasi untuk menciptakan ketahanan bersama.
  4. Peningkatan Pelatihan dan Edukasi
    • Fokus pada pengembangan manajemen pengetahuan untuk mempersiapkan karyawan menghadapi situasi krisis.

Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa KPI non-keuangan memainkan peran kunci dalam membangun ketahanan rantai pasok. Dengan fokus pada pemantauan elemen-elemen kritis seperti lead time, efisiensi pemasok, dan kepuasan pelanggan, organisasi dapat mengurangi risiko dan meningkatkan adaptabilitas terhadap gangguan. Temuan ini relevan bagi pengambil keputusan yang ingin mengoptimalkan efisiensi rantai pasok tanpa mengorbankan ketahanan jangka panjang.

Sumber Artikel:
Karl, A. A., Micheluzzi, J., Leite, L. R., & Pereira, C. R. (2018). Supply Chain Resilience and Key Performance Indicators: A Systematic Literature Review. Production, vol. 28.

 

Selengkapnya
Ketahanan Rantai Pasok dan Indikator Kinerja Utama: Tinjauan Sistematis

Perindustrian

IKM Alas Kaki Membuka Pasar Ekspor dengan Meningkatnya Daya Saing Global

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 13 Maret 2025


Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) produsen alas kaki agar bisa meningkatkan daya saingnya. Apalagi, sebagai negara pusat produksi alas kaki terbesar ke-4 dunia, Indonesia memiliki potensi menjadi produsen sepatu lokal yang kompetitif di kancah global, dengan kualitas yang setara dengan merek-merek ternama dunia.

Adapun dua merek sepatu lokal yang terbukti mampu merambah ke pasar global, di antaranya Sagara Boots dan Pijakbumi. Keduanya merupakan mitra Badan Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Sidoarjo, unit pelaksana teknis di bawah binaan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin.

“BPIPI menggandeng Sagara Boots dan Pijakbumi masuk ke dalam ekosistem pelaku industri alas kaki nasional lantaran berhasil menjadi contoh pelaku IKM alas kaki yang berkualitas. Kisah sukses kedua IKM ini diharapkan mampu membangkitkan semangat IKM lainnya untuk lebih lihai membaca peluang di pasar dalam dan luar negeri,” kata Direktur Jenderal IKMAKemenperin, Reni Yanita di Jakarta, Kamis (30/12).

Saat bertemu dengan para pendiri Sagara Boots dan Pijakbumi, Reni mengapresiasi prestasi Sagara Boots dan Pijakbumi yang telah mampu mematahkan stigma negatif produksi sepatu negara berkembang berkualitas buruk, dengan material jelek, dan desain yang kuno. “Sagara Boots bahkan telah tembus menjadi sepatu boots kulit tier satu, yang setara dengan sepatu asal Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Sedangkan, produk Pijakbumi telah diekspor ke 20 negara di dunia,” ungkapnya.

Menurut Reni, kedua IKM alas kaki tersebuttelah membuktikan bahwa brand sepatu lokal semakin inovatif, dengan desain yang mengikuti selera pasar terkini serta tetap memerhatikan produksi ramah lingkungan dan berkesinambungan.Bahkan, mereka mampu melayani permintaan secara custom atau sesuai selera konsumen. “Dengan kualitas yang terbaik, kami optimistis brand lokal bisa lebih keren dan punya nilai jual tinggi dibanding brand luar yang ada di retail besar,” tuturnya.

Hingga kuartal III tahun 2021, total nilai ekspor alas kaki (kulit dan non-kulit) Indonesia mencapai USD4,3 miliar. Sementara itu, total PDB industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencapai Rp20 triliun atau tumbuh 7% (y-o-y) sampai pada kuartal III-2021.

Pendiri sekaligus pemilik Sagara Boots, Bagus Satrio mengungkapkan, semakin banyak media asing yang mengekspos kemampuan industri sepatu Indonesia dalam menghasilkan boots yang berkualitas, yang bisa bersaing denganproduk kelas dunia. Oleh karenanya, produk sepatu lokal bisa dikenal masayarakat dunia.  

“Kami tidak sembarangan memilih bahan baku, harus menggunakan bahan kulit yang terbaik. Selain itu, dengan kualitas kulit dan sol terbaik, sehingga harga boots kami bahkan lebih mahal dari produk Amerika. Kami menjual dengan harga sekitar Rp6 juta,” sebut Bagus.

Sagara Boots bisa menerima pesanan secara custom, dan seluruh produksi sepatunya dilakukan secara manual dengan tangan. Tim Sagara pun menerapkan sistem waiting list sampai empat bulan lantaran tenaga kerja yang terbatas dan pesanan yang semakin membludak. “Dalam sebulan kami hanya bisa menghasilkan 40-60 pasang sepatu. Di luar negeri, Sagara Boots diminati karena handmade, custom, dan kualitas kulitnya tinggi,” imbuhnya.

Sedangkan Pijakbumi merupakan brand sepatu asal Bandung yang berciri khas eco friendly dengan bahan dari kulit natural dan ekstrak tumbuhan, salah satunya adalah dari serbuk kayu. Pijakbumi didirikan oleh Rowland Asfales dengan konsep orisinalitas desain, kearifan lokal, dan bahan material ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon. Dengan memadu padankan bahan baku pilihan, Pijakbumi mampu menghasilkan produk sepatu berkualitas.

Dalam produksi dan pemasaran, seringkali Sagara Boots maupun Pijakbumi terkendala oleh akses bahan baku impor dan modal untuk ekspor. Selain itu, Pijakbumi juga sedang berupaya mengkalkulasi bahan eco friendly sebagai bahan utama sepatunya, agar bisnisnya lebih berkelanjutan.

“Kami berharap ada cara untuk mengkalkulasi penggunaan bahan ramah lingkungan untuk perusahaan inovatif, dan bisa mendapatkan pengurangan pajak terkait pengolahan industri yang berkomitmen mengurangi emisi karbon,” kata Rowland.

Platform digital IFN

Dirjen IKMA menegaskan, melalui BPIPI, pihaknya berkomitmen untuk terus membantu para pelaku IKM alas kaki untuk mencari solusi dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kemudahan akses ke pasar ekspor.

“Untuk memecahkan masalah-masalah terkait ekspor produk alas kaku ini, kami akan memfasilitasi mereka untuk bisa mengakses fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan akses pembiayaan untuk ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI),” ujar Reni. Sementara itu, terkait kalkulasi penggunaan bahan material ramah lingkungan, Ditjen IKMA mempertemukan IKM alas kaki dengan Pusat Industri Hijau Kemenperin.

Lebih lanjut, guna mendukung para pelaku bisnis persepatuan untuk tumbuh bersama, BPIPI membuat sebuah platform digital bernama Indonesia Footwear Network (IFN) yang bisa diakses melalui lamanhttps://ifn.bpipi.id/.IFN ini bertujuan sebagai solusi atas perubahan tatanan industri alas kaki nasional sejak pandemi Covid-19.

“Di platform ini, beragam pelaku dan komunitas industri alas kaki nasional dapat berkolaborasi sebagai mitra bisnis untuk melakukan sharing value,” ujarnya. Reni menambahkan, melalui IFN, BPIPI akan dapat memberikan informasi yang relevan bagi pasar domestik dan global terkait potensi industri alas kaki Indonesia dari sektor hulu hingga hilir.

Kepala BPIPI Edi Suhendra menyampaikan, sebagai fasilitator industri alas kaki nasional, BPIPI memiliki peran untuk menguatkan kembali beragam komunitas industri alas kaki di Indonesia. Dengan demikian, IFN akan didorong untuk melengkapi dan mengumpulkan informasi industri yang selama ini ada di masing-masing komunitas. BPIPI juga terus mendorong program kemitraan di industri alas kaki agar ekosistem industri khususnya IKM alas kaki mampu lebih mandiri, menghasilkan kualitas produk lebih baik dan potensi go global.

“Sebagai salah satu manufaktur alas kaki terbesar global, Indonesia perlu mengambil inisiatif untuk mengintegrasikan informasi dari produsen, supplier, sumber material, merek lokal, dan organisasi yang bergerak di sektor industri alas kaki,” papar Edi. Oleh sebab itu, IFN yang digawangi BPIPI ini hadir sebagai penyedia informasi yang relevan bagi pasar potensial industri alas kaki dari hulu ke hilir, baik domestik dan global.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Sumber: kemenperin.go.id

Selengkapnya
IKM Alas Kaki Membuka Pasar Ekspor dengan Meningkatnya Daya Saing Global

Farmasi

Apa itu Farmasi?

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 13 Maret 2025


Farmasi adalah ilmu dan praktik menemukan, memproduksi, menyiapkan, meracik, meracik, mengkaji, dan memantau obat-obatan, yang bertujuan untuk memastikan penggunaan obat-obatan yang aman, efektif, dan terjangkau. Ilmu ini merupakan ilmu yang beragam karena menghubungkan ilmu kesehatan dengan ilmu farmasi dan ilmu pengetahuan alam. Praktik profesional menjadi lebih berorientasi klinis karena sebagian besar obat sekarang diproduksi oleh industri farmasi. Berdasarkan pengaturannya, praktik farmasi diklasifikasikan sebagai farmasi komunitas atau institusi. Memberikan perawatan pasien langsung di komunitas apotek institusional dianggap sebagai farmasi klinis

Ruang lingkup praktik farmasi mencakup peran yang lebih tradisional seperti peracikan dan pemberian obat. Hal ini juga mencakup layanan yang lebih modern yang berkaitan dengan perawatan kesehatan termasuk layanan klinis, meninjau obat untuk keamanan dan kemanjuran, dan memberikan informasi obat dengan konseling pasien. Oleh karena itu, apoteker adalah ahli dalam terapi obat dan merupakan tenaga kesehatan utama yang mengoptimalkan penggunaan obat untuk kepentingan pasien.

Tempat di mana farmasi (dalam arti pertama) dipraktikkan disebut apotek (istilah ini lebih umum di Amerika Serikat) atau apoteker (yang lebih umum di Britania Raya, meskipunapotek juga digunakan). Di Amerika Serikat dan Kanada, toko obat biasanya menjual obat-obatan, serta barang-barang lainnya seperti kembang gula, kosmetik, peralatan kantor, mainan, produk perawatan rambut, dan majalah, dan terkadang makanan dan bahan makanan.

Dalam penyelidikannya terhadap bahan-bahan herbal dan kimiawi, pekerjaan apoteker dapat dianggap sebagai pendahulu ilmu kimia dan farmakologi modern, sebelum perumusan metode ilmiah.

The Green Pharmacy Cross

Disiplin ilmu

Bidang farmasi secara umum dapat dibagi menjadi berbagai disiplin ilmu:

  • Farmasetika dan Farmasetika Komputasi
  • Farmakokinetik dan Farmakodinamik
  • Kimia Medis inal dan Farmakognosi
  • Farmakologi
  • Praktik Farmasi
  • Farmakoinformatika
  • Farmakogenomik

Batasan antara disiplin ilmu ini dan dengan ilmu lain, seperti biokimia, tidak selalu jelas. Seringkali, tim kolaboratif dari berbagai disiplin ilmu (apoteker dan ilmuwan lain) bekerja sama untuk memperkenalkan terapi dan metode baru untuk perawatan pasien. Namun, farmasi bukanlah ilmu dasar atau ilmu biomedis dalam bentuknya yang khas. Kimia obat juga merupakan cabang kimia sintetis yang berbeda yang menggabungkan farmakologi, kimia organik, dan biologi kimia.

Farmakologi terkadang dianggap sebagai disiplin ilmu farmasi keempat. Meskipun farmakologi sangat penting dalam studi farmasi, farmakologi tidak spesifik untuk farmasi. Kedua disiplin ilmu tersebut berbeda. Mereka yang ingin mempraktikkan farmasi (berorientasi pada pasien) dan farmakologi (ilmu biomedis yang membutuhkan metode ilmiah) menerima pelatihan dan gelar terpisah yang unik untuk kedua disiplin ilmu tersebut.

Farmakoinformatika dianggap sebagai disiplin ilmu baru lainnya, untuk penemuan dan pengembangan obat secara sistematis dengan efisiensi dan keamanan. Farmakogenomik adalah studi tentang varian terkait genetik yang memengaruhi respons klinis pasien, alergi, dan metabolisme obat.

Profesional
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setidaknya ada 2,6 juta apoteker dan tenaga farmasi lainnya di seluruh dunia. 

Pharmacists
Apoteker adalah tenaga kesehatan profesional dengan pendidikan dan pelatihan khusus yang melakukan berbagai peran untuk memastikan hasil kesehatan yang optimal bagi pasien mereka melalui penggunaan obat-obatan yang berkualitas. Apoteker juga dapat menjadi pemilik usaha kecil, yang memiliki apotek tempat mereka berpraktik. Karena apoteker mengetahui cara kerja obat tertentu, dan metabolisme serta efek fisiologisnya pada tubuh manusia dengan sangat rinci, mereka memainkan peran penting dalam optimalisasi perawatan obat untuk individu.

Apoteker diwakili secara internasional oleh Federasi Farmasi Internasional (FIP), sebuah LSM yang terkait dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Mereka diwakili di tingkat nasional oleh organisasi profesi seperti Royal Pharmaceutical Society di Inggris, Pharmaceutical Society of Australia (PSA), Asosiasi Apoteker Kanada (CPhA), Asosiasi Apoteker India (IPA), Asosiasi Apoteker Pakistan (PPA), Asosiasi Apoteker Amerika (APhA), dan Malaysian Pharmaceutical Society (MPS).

Dalam beberapa kasus, badan perwakilan juga merupakan badan pendaftaran, yang bertanggung jawab atas regulasi dan etika profesi.

Di Amerika Serikat, spesialisasi dalam praktik farmasi yang diakui oleh Dewan Spesialisasi Farmasi meliputi: kardiovaskular, penyakit menular, onkologi, farmakoterapi, nuklir, nutrisi, dan psikiatri.[5] Komisi Sertifikasi Farmasi Geriatri memberikan sertifikasi kepada apoteker dalam praktik farmasi geriatri. American Board of Applied Toxicology mensertifikasi apoteker dan profesional medis lainnya dalam bidang toksikologi terapan.

Staf pendukung farmasi

Teknisi farmasi

Teknisi farmasi mendukung pekerjaan apoteker dan profesional kesehatan lainnya dengan melakukan berbagai fungsi yang berhubungan dengan farmasi, termasuk memberikan obat resep dan peralatan medis lainnya kepada pasien dan menginstruksikan penggunaannya. Mereka juga dapat melakukan tugas administratif dalam praktik kefarmasian, seperti meninjau permintaan resep dengan kantor medis dan perusahaan asuransi untuk memastikan obat yang tepat disediakan dan pembayaran diterima.

Undang-undang mewajibkan pengawasan kegiatan teknisi farmasi tertentu oleh seorang apoteker. Mayoritas teknisi farmasi bekerja di apotek komunitas. Di apotek rumah sakit, teknisi farmasi dapat dikelola oleh teknisi farmasi senior lainnya. Di Inggris, peran PhT di apotek rumah sakit telah berkembang dan tanggung jawab telah diserahkan kepada mereka untuk mengelola departemen farmasi dan area khusus dalam praktik farmasi yang memungkinkan apoteker memiliki waktu untuk mengkhususkan diri dalam bidang keahlian mereka sebagai konsultan pengobatan yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja dengan pasien dan penelitian. Teknisi farmasi terdaftar di General Pharmaceutical Council (GPhC). GPhC adalah regulator apoteker, teknisi farmasi, dan tempat farmasi.

Di Amerika Serikat, teknisi farmasi menjalankan tugasnya di bawah pengawasan apoteker. Meskipun mereka dapat melakukan, di bawah pengawasan, sebagian besar tugas pengeluaran, peracikan, dan tugas-tugas lainnya, mereka umumnya tidak diizinkan untuk melakukan peran konseling kepada pasien tentang penggunaan obat yang tepat. Beberapa negara bagian memiliki rasio apoteker dan teknisi farmasi yang diamanatkan secara hukum.

Asisten dispensing
Asisten dispensing biasanya disebut sebagai "dispenser" dan di apotek komunitas melakukan sebagian besar tugas yang sama dengan teknisi apotek. Mereka bekerja di bawah pengawasan apoteker dan terlibat dalam menyiapkan (mengeluarkan dan memberi label) obat-obatan untuk diberikan kepada pasien.

Asisten tenaga kesehatan/asisten konter obat
Di Inggris, kelompok staf ini dapat menjual obat-obatan tertentu (termasuk obat-obatan khusus apotek dan obat-obatan yang masuk dalam daftar penjualan umum) tanpa resep. Mereka tidak dapat menyiapkan obat-obatan yang hanya diresepkan untuk diberikan kepada pasien.

Persyaratan pendidikan

Ada beberapa persyaratan sekolah yang berbeda sesuai dengan yurisdiksi nasional di mana siswa bermaksud untuk berlatih.

Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, apoteker umum akan mendapatkan gelar Doktor Farmasi (Pharm.D.). Pharm.D. dapat diselesaikan dalam waktu minimal enam tahun, yang mencakup dua tahun kelas pra-farmasi, dan empat tahun studi profesional. Setelah lulus dari sekolah farmasi, sangat disarankan agar siswa melanjutkan untuk menyelesaikan residensi satu atau dua tahun, yang memberikan pengalaman berharga bagi siswa sebelum keluar secara mandiri untuk menjadi apoteker umum atau khusus.

Kurikulum yang ditetapkan untuk gelar Pharm.D. terdiri dari setidaknya 208 jam kredit. Dari 208 jam kredit, 68 jam kredit merupakan jam kredit yang ditransfer, dan 140 jam kredit sisanya diselesaikan di sekolah profesional. Ada serangkaian tes standar yang harus dilalui oleh siswa selama proses sekolah farmasi. Tes standar untuk masuk ke sekolah farmasi di Amerika Serikat disebut Tes Penerimaan Perguruan Tinggi Farmasi (PCAT). Pada tahun ketiga siswa di sekolah farmasi, siswa harus lulus Penilaian Hasil Kurikulum Farmasi (PCOA). Setelah gelar Pharm.D. diperoleh setelah tahun keempat sekolah profesional, siswa kemudian memenuhi syarat untuk mengikuti Ujian Lisensi Apoteker Amerika Utara (NAPLEX) dan Ujian Yurisprudensi Farmasi Multistate (MPJE) untuk bekerja sebagai apoteker profesional.

Disadur dari: en.wikipedia.org

Selengkapnya
Apa itu Farmasi?

Farmasi

Apa itu Farmakoterapi?

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 13 Maret 2025


Farmakoterapi, juga dikenal sebagai terapi farmakologis atau terapi obat, didefinisikan sebagai perawatan medis yang menggunakan satu atau lebih obat farmasi untuk memperbaiki gejala yang sedang berlangsung (pereda gejala), mengobati kondisi yang mendasari, atau bertindak sebagai pencegahan penyakit lain(profilaksis).

Hal ini dapat dibedakan dari terapi dengan menggunakan pembedahan (terapi bedah), radiasi(terapi radiasi), gerakan(terapi fisik), atau mode lainnya. Di kalangan dokter, terkadang istilah terapi medis merujuk secara khusus pada farmakoterapi yang bertentangan dengan terapi bedah atau terapi lainnya; misalnya, dalam onkologi, onkologi medis dibedakan dari onkologi bedah.
Terapi farmakologis saat ini telah berevolusi dari sejarah panjang penggunaan obat, dan telah berubah paling cepat dalam abad terakhir karena kemajuan dalam penemuan obat. Terapi ini diberikan dan disesuaikan oleh tenaga kesehatan profesional sesuai dengan pedoman berbasis bukti dan kondisi kesehatan pasien. Obat yang dipersonalisasi juga memainkan peran penting dalam terapi farmakologis. Pengobatan yang dipersonalisasi, atau pengobatan presisi, mempertimbangkan variasi genetik pasien, fungsi hati, fungsi ginjal, dan sebagainya, untuk memberikan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Dalam terapi farmakologis, apoteker juga akan mempertimbangkan kepatuhan pengobatan. Kepatuhan pengobatan, atau kepatuhan pengobatan, didefinisikan sebagai sejauh mana pasien mengikuti terapi yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan profesional.

Sejarah

Dari senyawa alami hingga obat-obatan farmasi
Penggunaan bahan obat dapat ditelusuri kembali ke tahun 4000 SM di peradaban Sumer. Penyembuh pada saat itu (disebut apoteker), misalnya, memahami penggunaan opium untuk menghilangkan rasa sakit. Sejarah pengobatan alami juga dapat ditemukan di budaya lain, termasuk pengobatan tradisional Tiongkok di Tiongkok dan pengobatan Ayurveda di India, yang masih digunakan sampai sekarang. Dioscorides, seorang ahli bedah Yunani abad ke-1, mendeskripsikan lebih dari enam ratus hewan, tanaman, dan turunannya dalam botani medisnya, yang tetap menjadi farmakope yang paling berpengaruh selama empat belas ratus tahun. Selain zat-zat yang berasal dari organisme hidup, logam-logam, termasuk tembaga, merkuri, dan antimon, juga digunakan sebagai terapi medis, dan konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit pada masa akhir Renaisans. Pada tahun 1657, tartar emetic, yang merupakan senyawa antimon, dikreditkan dengan menyembuhkan Louis XIV dari demam tifoid. Obat ini juga diberikan secara intravena untuk pengobatan schistosomiasis pada abad ke-20. Namun, karena kekhawatiran akan keracunan antimon akut dan kronis, peran tartar emetic sebagai agen antischistosomal secara bertahap digantikan setelah munculnya praziquantel.

Selain menggunakan produk alami, manusia juga belajar meracik obat sendiri. Teks farmasi pertama ditemukan pada tablet tanah liat dari bangsa Mesopotamia, yang hidup sekitar tahun 2100 SM. Kemudian pada abad ke-2 Masehi, peracikan obat secara resmi diperkenalkan oleh Galen sebagai "proses pencampuran dua atau lebih obat untuk memenuhi kebutuhan individu seorang pasien." Pada awalnya, peracikan obat hanya dilakukan oleh apoteker perorangan, tetapi pada periode pasca-Perang Dunia II, produsen farmasi melonjak dalam jumlah dan mengambil alih peran pembuatan obat. Sementara itu, terjadi peningkatan yang nyata dalam penelitian farmasi, yang mengarah pada semakin banyaknya obat baru. Sebagian besar tonggak penemuan obat dibuat dalam seratus tahun terakhir, mulai dari antibiotik hingga biologis, yang berkontribusi pada dasar terapi farmakologis saat ini.

Penemuan obat

Sebagian besar obat ditemukan dengan cara empiris, termasuk observasi, kecelakaan, dan coba-coba. Salah satu contoh yang terkenal adalah penemuan penisilin, antibiotik pertama  di dunia. Zat ini ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 setelah kombinasi kejadian tak terduga terjadi di laboratoriumnya selama liburan musim panas. JamurPenicillium pada  cawan petri diyakini mengeluarkan zat (kemudian diberi nama "penisilin") yang menghambat pertumbuhan bakteri. Perusahaan-perusahaan farmasi besar kemudian mulai mendirikan departemen mikrobiologi mereka dan mencari antibiotik baru. Program skrining untuk senyawa antimikroba juga mengarah pada penemuan obat dengan sifat farmakologis lainnya, seperti imunosupresan seperti Cyclosporin A.

Penemuan penisilin adalah penemuan yang kebetulan (yaitu kebetulan). Pendekatan lain yang lebih maju untuk penemuan obat adalah desain obat yang rasional. Metode ini didukung oleh pemahaman tentang target biologis obat, termasuk enzim, reseptor, dan protein lainnya. Pada akhir abad ke-19, Paul Ehrlich mengamati afinitas selektif zat warna untuk jaringan yang berbeda dan mengusulkan keberadaan kemoreseptor dalam tubuh kita. Reseptor diyakini sebagai tempat pengikatan spesifik untuk obat. Pengenalan obat-reseptor digambarkan sebagai interaksi kunci-dan-kunci oleh Emil Fischer pada awal tahun 1890-an. Kemudian ditemukan bahwa reseptor dapat distimulasi atau dihambat oleh agen kemoterapi untuk mencapai respons fisiologis yang diinginkan. Setelah ligan yang berinteraksi dengan makromolekul target diidentifikasi, kandidat obat dapat dirancang dan dioptimalkan berdasarkan hubungan struktur-aktivitas. Saat ini, kecerdasan buatan digunakan dalam desain obat untuk memprediksi interaksi obat-protein, aktivitas obat, konfigurasi 3D protein, dll.

Pengobatan berbasis bukti
Pengobatan berbasis bukti didefinisikan sebagai penggunaan bukti ilmiah terbaik saat ini yang tersedia untuk memberikan pengobatan terbaik dan mengambil keputusan terbaik secara efektif dan efisien. Pedoman klinis dikembangkan berdasarkan bukti ilmiah; sebagai contoh, pedoman ACC/AHA (untuk penyakit kardiovaskular), pedoman GOLD (untuk penyakit paru obstruktif kronik), pedoman GINA (untuk asma), dan lain-lain. Pedoman ini mengkonversi dan mengklasifikasikan bukti menggunakan metode sistematis, yang bertujuan untuk memberikan perawatan yang berkualitas. Pedoman ini tidak dapat menggantikan penilaian klinis, karena pedoman ini tidak dapat memenuhi semua kondisi. Profesional kesehatan dapat menggunakan pedoman klinis sebagai referensi atau bukti untuk mendukung penilaian klinis mereka saat meresepkan terapi kepada pasien.

Contoh: Pedoman Klinis untuk mengendalikan tekanan darah (hipertensi)
Jika ada seorang pasien pria Asia yang berusia 40 tahun dan baru-baru ini didiagnosis menderita tekanan darah tinggi (dengan tekanan darah 140/90) dan tanpa penyakit kronis lainnya(komorbiditas), seperti diabetes tipe-2, asam urat, hiperplasia prostat jinak, dll. Perkiraan risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun adalah 15%.

Menurut pedoman Hipertensi NICE 2019, tenaga kesehatan profesional dapat mempertimbangkan untuk memulai terapi anti-hipertensi setelah berdiskusi dengan pasien.Terapi lini pertama akan berupa Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEi ) atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB ) (jika pasien tidak dapat mentoleransi ACEi). [Jika tekanan darah pasien tidak terkontrol dengan baik, tenaga kesehatan profesional dapat mempertimbangkan untuk menambahkan penghambat saluran kalsium (calcium channel blocker/CCB) atau diuretik seperti tiazid pada terapi sebelumnya, yaitu ACEi atau ARB dengan CCB atau diuretik seperti tiazid.

Obat yang dipersonalisasi

Setiap pasien memiliki kondisi tubuh masing-masing, misalnya, fungsi ginjal, fungsi hati, variasi genetik, riwayat kesehatan, dll. Ini semua adalah faktor-faktor yang harus dipertimbangkan oleh para profesional kesehatan sebelum memberikan terapi farmakologis apa pun. Yang paling penting, kemajuan teknologi di bidang genetika memandu kita untuk memiliki lebih banyak wawasan tentang hubungan antara kesehatan dan gen. Dalam terapi farmakologis, dua bidang studi berkembang: farmakogenetik dan farmakogenomik. Usia akan memengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat, dan karenanya kemanjuran terapi. Pengaruh usia menyebabkan penurunan fungsi organ, seperti fungsi hati dan fungsi ginjal. Farmakokinetik adalah studi tentang efek obat terhadap penyerapan, distribusi, metabolisme, dan eliminasi. Farmakodinamik adalah studi tentang efek obat pada tubuh kita dan mekanismenya.

Farmakogenetik dan farmakogenomik
Farmakogenetika didefinisikan sebagai studi tentang gen yang diwariskan yang menyebabkan metabolisme obat yang berbeda satu sama lain, seperti laju metabolisme dan metabolit. Farmakogenomik didefinisikan sebagai studi yang mengaitkan respons obat dengan gen seseorang. Kedua istilah tersebut memiliki sifat yang serupa, sehingga digunakan secara bergantian.
Beberapa alel dapat berkontribusi bersama terhadap perubahan respons terhadap obat dengan mengekspresikan bentuk enzim yang berbeda yang merespons secara berbeda dari yang normal. Bentuk enzim yang berbeda(fenotipe) termasuk pemetabolisme ultra-cepat, pemetabolisme moderat, aktivitas tanpa enzim, dll. Variasi genetik juga dapat digunakan untuk mencocokkan reaksi obat tertentu yang merugikan untuk mencegah pasien menderita hasil yang tidak menguntungkan. Susunan genetik dapat mempengaruhi farmakokinetik.

Contoh: Terapi Azathioprine
Azatioprin adalah imunomodulator untuk penyakit radang usus, misalnya. Metabolitnya bergantung pada dua enzim yang berbeda(TPMT dan NUDT15) untuk menghilangkan efeknya pada tubuh kita selama metabolisme. Jika pasien memiliki fenotipe enzim yang memetabolisme dengan buruk, yaitu metabolizer yang buruk, lebih banyak metabolit toksik yang terakumulasi dalam tubuh. Dengan demikian, pasien memiliki risiko yang lebih besar terhadap efek samping yang terkait. Efek samping tersebut menyebabkan penyesuaian dosis atau peralihan ke obat lain.

Contoh: Terapi Omalizumab
Omalizumab adalah antibodi monoklonal yang dimanusiakan untuk pengobatan berbagai penyakit alergi, termasuk asma, urtikaria, dan rinitis alergi. Antibodi ini menargetkan imunoglobulin E (IgE) dalam tubuh manusia, yang memainkan peran penting dalam reaksi alergi. Kemanjuran omalizumab dapat bervariasi di antara pasien. Untuk mengidentifikasi responden terhadap omalizumab, tingkat beberapa biomarker dapat diukur, termasuk eosinofil serum, fraksional oksida nitrat yang dihembuskan, dan IgE serum. Sebagai contoh, pasien dengan jumlah eosinofil awal yang lebih tinggi cenderung merespons lebih baik terhadap terapi omalizumab.

Disadur dari: en.wikipedia.org

Selengkapnya
Apa itu Farmakoterapi?

Farmasi

Apa itu Pharmaceutics?

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 13 Maret 2025


Farmasi adalah bidang kedokteran yang berkaitan dengan new chemical entity (NCE) dan obat yang sudah ada menjadi obat untuk penggunaan yang aman dan efektif oleh pasien. Apotek membantu menghubungkan formulasi obat dengan pengiriman dan pemrosesan obat di dalam tubuh. Farmasi berkaitan dengan pembuatan bahan obat murni dalam berbagai bentuk sediaan.

New chemical entity (NCE), menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, adalah obat molekul kimia baru, kecil, yang sedang menjalani uji klinis atau telah menerima persetujuan pertama (bukan penggunaan baru) dari FDA dalam aplikasi lain yang diajukan berdasarkan bagian 505 (b) dari Undang-Undang Makanan, Obat-obatan, dan Kosmetik Federal.

Entitas molekuler baru(NME) adalah istilah yang lebih luas yang mencakup NCE atau NBE (Entitas Biologi Baru).

Deskripsi

Farmasi adalah bidang kedokteran yang berkaitan dengan new chemical entity (NCE) dan obat yang sudah ada menjadi obat untuk penggunaan yang aman dan efektif oleh pasien. Disebut juga ilmu desain sintetik. Ada banyak bahan kimia dan obat-obatan, tetapi memerlukan metode khusus untuk membantu koin obat di tempat kerja. Apotek membantu menghubungkan formulasi obat dengan pengiriman dan pemrosesan obat di dalam tubuh.

Gugus aktif adalah molekul atau ion, tidak termasuk bagian yang ditambahkan dari molekul yang menyebabkan obat menjadi ester, garam (termasuk garam dengan hidrogen atau ikatan koordinasi), atau turunan non-kovalen lainnya (seperti kompleks, kelat, atau klat) dari molekul, yang bertanggung jawab atas tindakan fisiologis atau farmakologis dari zat obat.

NCE adalah molekul yang dikembangkan oleh perusahaan inovator pada tahap awal penemuan obat, yang setelah menjalani uji klinis dapat diterjemahkan menjadi obat yang dapat menjadi pengobatan untuk beberapa penyakit. Sintesis NCE adalah langkah pertama dalam proses pengembangan obat. Setelah sintesis NCE selesai, perusahaan memiliki dua opsi di hadapan mereka. Mereka dapat melakukan uji klinis sendiri atau melisensikan NCE ke perusahaan lain. Pada opsi terakhir, perusahaan dapat menghindari proses uji klinis yang mahal dan panjang, karena perusahaan pemegang lisensi akan melakukan uji klinis lebih lanjut dan kemudian meluncurkan obat tersebut. Perusahaan yang mengadopsi model bisnis ini akan dapat menghasilkan margin yang tinggi karena mereka mendapatkan pembayaran satu kali yang besar untuk NCE serta menandatangani perjanjian bagi hasil dengan perusahaan pemegang lisensi.

Di bawah Undang-Undang Amandemen Administrasi Makanan dan Obat-obatan tahun 2007, semua entitas kimia baru harus terlebih dahulu ditinjau oleh komite penasihat sebelum FDA dapat menyetujui produk ini.

Divisi

Divisi Farmasi Meliputi:

  • Penyiapan Farmasi

  • Pembuatan Farmasi

  • Penyiapan Farmasi

  • Teknologi Farmasi

  • Farmasi Farmasi 

Sejarah

Bahan obat murni berupa kristal putih atau serbuk amorf. Sebelum kedokteran menjadi ilmu pengetahuan, apoteker mengeluarkan obat-obatan seperti ini. Kebanyakan obat diberikan sebagai bagian dari bentuk sediaannya saat ini. Efektivitas klinis obat bergantung pada cara pemberiannya kepada pasien.

Pendidikan

Farmasi merupakan spesialisasi dalam bidang kedokteran. Lulusan Farmasi-D umumnya dapat melanjutkan studi di bidang ini untuk mendapatkan gelar sarjana.

Disadur dari: en.wikipedia.org

 

Selengkapnya
Apa itu Pharmaceutics?

Farmasi

Mengenal Tentang Ilmu Farmasi

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 13 Maret 2025


Farmasetika adalah disiplin ilmu farmasi yang berhubungan dengan proses mengubah New Chemical Entity (NCE) atau obat lama menjadi obat yang dapat digunakan secara aman dan efektif oleh pasien. Farmasetika membantu menghubungkan formulasi obat dengan pengiriman dan disposisi dalam tubuh.Farmasetika berhubungan dengan formulasi bahan obat murni ke dalam bentuk sediaan.

Deskripsi
Farmasetika adalah disiplin ilmu farmasi yang berhubungan dengan proses mengubah New Chemical Entity (NCE) atau obat lama menjadi obat yang dapat digunakan secara aman dan efektif oleh pasien. Ini juga disebut ilmu desain bentuk sediaan. Ada banyak bahan kimia yang memiliki sifat farmakologis, tetapi membutuhkan tindakan khusus untuk membantu mereka mencapai jumlah yang relevan secara terapeutik di tempat kerjanya. Farmasetika membantu menghubungkan formulasi obat dengan pengiriman dan disposisi dalam tubuh.

Cabang-cabang
Cabang-cabang farmasi meliputi:

  • Formulasi farmasi
  • Manufaktur farmasi
  • Farmasi pengeluaran
  • Teknologi farmasi
  • Farmasi fisik
  • Yurisprudensi farmasi

Sejarah
Farmasetika berhubungan dengan formulasi bahan obat murni ke dalam bentuk sediaan. Zat obat murni biasanya berupa bubuk kristal atau amorf berwarna putih. Sebelum munculnya kedokteran sebagai ilmu pengetahuan, adalah hal yang umum bagi apoteker untuk memberikan obat apa adanya. Sebagian besar obat saat ini diberikan sebagai bagian dari bentuk sediaan. Kinerja klinis obat tergantung pada bentuk penyajiannya kepada pasien.

Pendidikan
Farmasetika adalah spesialisasi di bidang farmasi. Biasanya, lulusan Pharm-D dapat memilih untuk melanjutkan studi di bidang ini menuju gelar PhD.

Disadur dari: en.wikipedia.org

Selengkapnya
Mengenal Tentang Ilmu Farmasi
« First Previous page 82 of 865 Next Last »