Properti dan Arsitektur
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 13 Maret 2025
Glodok di Jakarta Barat terkenal sebagai kawasan pecinan atau China Town, karena nuansa budaya Tionghoa yang masih sangat kental. Meski sudah banyak gedung tinggi dan mal-mal, bangunan kuno dengan gaya arsitektur Tionghoa klasik masih bisa ditemukan. Salah satunya adalah Gedung Candra Naya yang terletak di antara bangunan apartemen di sekitarnya di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat. Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta, penampakan tersebut memang tak lazim dengan daerah sekitarnya. Gedung Candra Naya dulunya merupakan rumah seorang Mayor Tionghoa di Batavia yakni, Mayor Khouw Kim An. Pria yang lahir pada 5 Juni 1879 di Batavia itu merupakan menantu dari Pendiri Organisasi Tionghoa modern pertama di Hindia Belanda, Tiong Hwa Hwe Kwan.
Khouw diberikan pangkat Mayor oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk mewakili etnis Tionghoa pada Pemerintahan Batavia. Kariernya terbilang cemerlang di Pemerintahan Batavia karena pada tahun 1905 diangkat menjadi Letnan, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor. Setelah tidak ditempati oleh Khouw, bangunan ini sempat tidak terawat dan konon ada rencana bangunan ini mau dihancurkan, lalu dibuatkan ulang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Namun, banyak orang memprotes hal tersebut karena jika dipindahkan ke TMII, maka nilai sejarahnya akan hilang. Gedung Candra Naya ini bukan sekadar kediaman keluarga Khouw, melainkan merekam jejak sejarah Tionghoa di Tanah Air. Bangunan bersejarah ini diperkirakan didirikan tahun 1807 atau pada tahun kelinci oleh Khouw Tian Sek. Saat masa penjajahan Jepang, Candra Naya sempat menjadi kantor pusat perkumpulan orang Tionghoa dengan tujuan sosial, Sin Ming Hui.
Gedung Candra Naya atau Rumah Mayor masih berdiri kokoh di antara apartemen dan pusat perbelanjaan megah di kawasan Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat. Gedung ini sudah berusia ratusan tahun dan dulunya dimiliki seorang pengusaha China sukses, Khouw Kim An yang kemudian diangkat sebagai Mayor oleh pemerintah Hindia Belanda.(KOMPAS.com/SHEILA RESPATI)
Sebagai informasi, organisasi ini melayani dan menyediakan informasi bagi komunitas China yang menderita karena perang. Sin Ming Hui melakukan banyak aktivitas untuk kepentingan sosial seperti klinik kesehatan, klub olahraga, serta mengatur berbagai aktivitas pendidikan maupun klub fotografi mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Sebetulnya, nama awal Candra Naya adalah Sin Ming Hui, namun pada era Presiden ke-2 RI Soeharto, nama berbau Tionghoa harus diganti menjadi nama Indonesia.
Maka dari itu, gedung yang tadinya bernama Sin Ming Hui ini berubah namanya menjadi Candra Naya. Dikutip dari Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Pusat (Sudinpusarjakpus), Candra Naya memiliki ciri khusus dari arsitektur Cina dengan ruangan luas, dimana interior dari bangunan dihiasi dengan ornamen-ornamen yang sangat detail. Sementara itu atap atasnya memiliki mahkota ‘Tou-Kung’ yang juga dihiasi lengkap dengan ornamen.
Pada tahun 1946, gedung ini digunakan untuk beberapa kegiatan seperti klinik cikal bakal Rumah Sakit (RS) Sumber Waras. Hingga thun 1970-an, Candra Naya pernah menjadi tempat pesta pernikahan kalangan borjuis. Saat ini, Candra Naya termasuk dalam komplek superblok milik PT Modernland Realty Tbk, Green Central City. Namun, Candra Naya berada di bawah supervisi Disbud DKI Jakarta dan menjadi salah satu obyek cagar budaya di ibu kota. Gedung ini juga sempat menjadi lokasi kuliah mahasiswa Universitas Tarumanagara (Untar) dan tempat penyelenggaraan pertandingan bulu tangkis internasional pertama di Indonesia yakni, Indonesia Open.
Kehilangan Roh Asli
Menurut Arsitek dan Pemerhati Pelestarian Arsitektur dan Kota di Jakarta Aditya W Fitrianto, Candra Naya yang berdiri di tengah bangunan megah kini dianggap telah kehilangan roh aslinya. "Hanya seonggok bangunan tua sudah kehilangan fungsi penting layaknya pada masa lalu," ujar Aditya kepada Kompas.com, Kamis (3/2/2022).
Aditya menuturkan, Candra Naya sebagai salah satu bangunan cagar budaya seharusnya dilestarikan dengan menghadirkan kembali nilai dan menjadikannya sebuah living heritage bagi ruang kota sekitarnya. Hal ini dikarenakan bangunan tersebut terlihat menjadi tidak penting atau signifikan lagi bagi wajah kota.
Bagian samping Candra Naya yang difingsikan sebagai restoran.(Kompas.com/Silvita Agmasari)
Karena, letaknya terlihat di belakang dan kurang mendapatkan penanganan restorasi yang baik. Dalam hal pelestarian Candra Naya, hal ini sempat menjadi polemik karena ada penambahan bangunan baru atau hotel di sisi depan yang terlihat menutupinya. Dengan begitu, fenomena tersebut dianggap kurang memberikan nilai respect (penghormatan) terhadap bangunan cagar budaya. "Selain penambahan sky building di atas bangunan sayap Candra Naya, ini terlihat ‘memperkosa’ bangunan cagar budaya," lanjut Aditya. Sebab, bisa ditemukan adanya kolom penyangga yang tumbuh di bangunan Candra Naya yang terlihat kurang mendapatkan sensitive restoration (pemulihan sensitif) dalam proses pengembangannya.
Bagaimana Pelestarian Candra Naya?
Aditya melanjutkan, Candra Naya sebagai salah satu bangunan cagar budaya tentu mendapatkan perhatian dalam proses pelestarian baik perlindungan, pengembangan, maupun pemanfaatannya. Asal tahu saja, Candra Naya telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Gubernur (Kepgub) DKI Jakarta Nomor 475/1993 tanggal 29 Maret 1993 tentang Penetapan-penetapan Bangunan Bersejarah sebagai Benda Cagar Budaya.
Pada SK Gubernur tersebut, Candra Naya termasuk dalam daftar bangunan cagar budaya di wilayah DKI Jakarta, Kotamadya Jakarta Barat dengan nomor urut 30. Aditya berpendapat, pemanfaatan fungsi baru adaptive reuse memang sudah biasa dan bukan hal baru dalam proses pelestarian bangunan cagar budaya.
Sebuah taman air menambah kesejukan suasana di dalam gedung Candra Naya atau Rumah Mayor yang terletak di kawasan Gajah Mada, Jakarta Barat. Gedung ini sudah berusia ratusan tahun dan dulunya dimiliki seorang pengusaha China sukses, Khouw Kim An yang kemudian diangkat sebagai Mayor oleh pemerintah Hindia Belanda.(KOMPAS.com/SHEILA RESPATI)
"Tapi, perlu diperhatikan adalah proses pelestarian (Candra Naya) harus terarah dan hati-hati," terang Aditya. Pengembangan dengan menambah bangunan baru pun juga sudah biasa dilakukan dalam pelestarian. Hanya, perencanaanya perlu memperhatikan beberapa hal prinsipal seperti minimum intervention, reverse able atau careful repair, dan sensitive restoration.
Oleh karenanya, bangunan yang sudah ditetapkan cagar budaya yang dilindungi masih boleh dikembangkan dengan bijak, tidak mengubah secara prinsip aslinya. Ini dikecualikan apabila diperuntukkan bagi kepentingan kenyamanan serta kebutuhan dan keselamatan gedung masa kini. "Dan pemanfaatan atau adaptive reuse boleh dilakukan selama fungsi awal memang sudah tidak ada lagi," pungkas dia.
Sumber: www.kompas.com
Properti dan Arsitektur
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 13 Maret 2025
Pemerintah tengah merehabilitasi Benteng Pendem di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Rehabilitasi Benteng Pendem dilakukan demi menjaga kelestarian bangunan cagar budaya yang dibangun tahun 1840-an sekaligus meningkatkan potensi pariwisata di Kabupaten Ngawi. Dalam tinjauannya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menginstruksikan agar rehabilitasi Benteng Pendem tersebut dilakukan secara hati-hati. "Rehabilitasi ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut atas instruksi Presiden Joko Widodo saat beliau mengunjungi Benteng Pendem pada tanggal 1 Februari 2019 silam," kata Basuki dalam keterangannya, Jumat (17/12/2021).
Rehabilitasi Benteng Pendem di Ngawi Jawa Timur (Kementerian PUPR)
Menurut Basuki, pada saat kunjungan tersebut, Presiden melihat banyak bagian bangunan yang mengalami degradasi, padahal kawasan tersebut merupakan salah satu obyek pariwisata yang cukup banyak dikunjungi masyarakat. "Karena kawasan Benteng Pendem ini merupakan cagar budaya, penataannya harus dilakukan secara hati-hati agar nilai kulturalnya tetap terjaga," ujarnya. Basuki juga meminta agar dilakukan penghijauan di kawasan Benteng Pendem agar tidak terlihat gersang. Saluran airnya juga perlu diperbaiki tanpa dilakukan perkerasan struktur. Pekerjaan rehabilitasi Benteng Pendem yang berlokasi di Jalan Untung Surapati Kabupaten Ngawi sudah dimulai dilaksanakan sejak Desember 2020.
Rehabilitasi Benteng Pendem di Ngawi Jawa Timur (Kementerian PUPR)
Benteng Pendem berada pada kawasan seluas 42.181 meter persegi dengan luas kawasan inti sebesar 7.500 meter persegi. Pekerjaan rehabilitasi dilakukan bersama dengan PT Nindya Karya (Persero) dan PT Virama Karya dengan alokasi biaya Rp 113,76 miliar. Pelaksanaan rehabilitasi ditargetkan untuk selesai pada Januari 2023 dan progres yang sudah terlaksana sampai saat ini sebesar 70 persen.
Rehabilitasi Benteng Pendem di Ngawi Jawa Timur (Kementerian PUPR)
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti mengatakan terdapat 13 bangunan yang akan direstorasi di antaranya yaitu bangunan barak tentara, mess perwira, dapur umum, kediaman dan kantor jenderal, bastion, dan gerbang. "Kemudian dilakukan juga penataan lainnya seperti membangun jalan, drainase, pedestrian, dan lansekap," kata Diana. Konsep arsitektur mengadopsi adaptive reuse concept yaitu mengembalikan fungsi bangunan cagar budaya dengan sebagian fungsi baru, seminimal mungkin mengubah bentuk bangunan lama serta menjaga nilai kultural.
Rehabilitasi Benteng Pendem di Ngawi Jawa Timur (Kementerian PUPR)
Prinsip revitalisasi bangunan cagar budaya adalah adanya perubahan bagian "dalam" dengan tetap mempertahankan bagian "luar". Konsep bangunan lama tetap kita pertahankan, tetapi kita beri penguatan struktur dengan menggunakan konstruksi baja di beberapa bangunan. "Pohon beringin dan pohon waru laut yang akarnya sudah melekat ke dalam struktur dinding juga tetap dipertahankan dengan sedikit penataan," jelas Diana.
Sumber: www.kompas.com
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Dalam dunia bisnis dan industri yang semakin kompleks, manajemen rantai pasok (SCM) yang mengadopsi prinsip Lean, Agile, Resilient, dan Green (LARG) menjadi sangat penting. Paper ini membahas bagaimana penerapan keempat prinsip tersebut dalam bidang teknik, bisnis, dan manajemen dapat meningkatkan daya saing serta keberlanjutan operasional perusahaan. Studi ini dilakukan melalui tinjauan sistematis terhadap 32 publikasi yang membahas penerapan LARG dalam berbagai industri.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan PRISMA untuk mengumpulkan data dari database Scopus dan Google Scholar dengan kriteria tertentu, seperti rentang waktu 2000-2023, artikel yang ditulis dalam bahasa Inggris, serta fokus pada industri teknik, bisnis, dan manajemen. Dari 65 artikel yang ditemukan, setelah melalui berbagai tahap seleksi, tersisa 32 artikel yang dianalisis secara mendalam.
Temuan Utama
Kesimpulan dan Rekomendasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa LARG merupakan konsep yang masih berkembang tetapi memiliki potensi besar dalam meningkatkan daya saing rantai pasok di berbagai industri. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan model kuantitatif yang lebih presisi dalam mengukur dampak implementasi setiap prinsip LARG. Selain itu, kolaborasi antara akademisi dan praktisi bisnis diperlukan untuk mengatasi tantangan yang ada.
Sumber Artikel: Khanzadi, F., Radfar, R., & Pilevari, N. (2024). A review of lean, agile, resilient, and green (LARG) supply chain management in engineering, business and management areas. Decision Science Letters, 13, 287–306.
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Dalam dunia bisnis dan industri yang semakin kompleks, manajemen rantai pasok (SCM) yang mengadopsi prinsip Lean, Agile, Resilient, dan Green (LARG) menjadi sangat penting. Paper ini membahas bagaimana penerapan keempat prinsip tersebut dalam bidang teknik, bisnis, dan manajemen dapat meningkatkan daya saing serta keberlanjutan operasional perusahaan. Studi ini dilakukan melalui tinjauan sistematis terhadap 32 publikasi yang membahas penerapan LARG dalam berbagai industri.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan PRISMA untuk mengumpulkan data dari database Scopus dan Google Scholar dengan kriteria tertentu, seperti rentang waktu 2000-2023, artikel yang ditulis dalam bahasa Inggris, serta fokus pada industri teknik, bisnis, dan manajemen. Dari 65 artikel yang ditemukan, setelah melalui berbagai tahap seleksi, tersisa 32 artikel yang dianalisis secara mendalam.
Temuan Utama
Kesimpulan dan Rekomendasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa LARG merupakan konsep yang masih berkembang tetapi memiliki potensi besar dalam meningkatkan daya saing rantai pasok di berbagai industri. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan model kuantitatif yang lebih presisi dalam mengukur dampak implementasi setiap prinsip LARG. Selain itu, kolaborasi antara akademisi dan praktisi bisnis diperlukan untuk mengatasi tantangan yang ada.
Sumber Artikel: Khanzadi, F., Radfar, R., & Pilevari, N. (2024). A review of lean, agile, resilient, and green (LARG) supply chain management in engineering, business and management areas. Decision Science Letters, 13, 287–306.
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Paper ini, yang ditulis oleh Abdullah Mohammed Alharbi, membahas dampak dari supply chain leanness (efisiensi), agility (kelincahan), dan resilience (ketahanan) terhadap kinerja ritel makanan di Arab Saudi. Studi ini mengkaji bagaimana ketiga elemen ini dapat diintegrasikan untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor ritel makanan.
Kerangka Konseptual dan Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan teori kapabilitas dinamis untuk mengembangkan model konseptual. Studi dilakukan melalui metode campuran (mixed-methods):
Studi Kasus: Tantangan Rantai Pasok di Sektor Ritel Makanan
Penelitian ini menunjukkan bahwa agility dan resilience berperan penting dalam menjaga stabilitas rantai pasok di tengah krisis.
Strategi Meningkatkan Efisiensi, Kelincahan, dan Ketahanan Rantai Pasok
1. Lean Supply Chain untuk Efisiensi
2. Agile Supply Chain untuk Respons Cepat
3. Resilient Supply Chain untuk Ketahanan Jangka Panjang
Temuan Utama dan Implikasi bagi Manajemen Rantai Pasok
Kritik dan Evaluasi
Beberapa keterbatasan dari penelitian ini:
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa kombinasi lean, agility, dan resilience sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor ritel makanan. Dengan menerapkan strategi yang tepat, perusahaan dapat mengurangi risiko, meningkatkan efisiensi operasional, dan memastikan stabilitas rantai pasok dalam jangka panjang.
Sumber Artikel:
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Paper ini, yang ditulis oleh Saleh Fahed Alkhatib dan Rahma Asem Momani, membahas hubungan antara resiliensi rantai pasok (SCR) dan kinerja operasional, dengan fokus pada peran teknologi digital dalam sektor manufaktur di Yordania. Studi ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana agility (kelincahan), flexibility (fleksibilitas), dan collaboration (kolaborasi) dalam rantai pasok memengaruhi kinerja operasional, serta bagaimana teknologi digital memperkuat hubungan tersebut.
Definisi dan Kerangka Konseptual
Paper ini mengidentifikasi tiga dimensi utama dari resiliensi rantai pasok:
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dan menganalisis 372 kuesioner dari 71 perusahaan manufaktur di Yordania.
Studi Kasus: Gangguan Global dan Dampaknya pada Rantai Pasok
Paper ini menyoroti dampak beberapa gangguan besar terhadap rantai pasok manufaktur:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa SCR berkontribusi positif terhadap kinerja operasional, dan penggunaan teknologi digital semakin memperkuat hubungan ini.
Strategi Meningkatkan Resiliensi Rantai Pasok dengan Teknologi Digital
1. Supply Chain Agility (SCA) untuk Respons Cepat
2. Supply Chain Flexibility (SCF) untuk Adaptasi Cepat
3. Supply Chain Collaboration (SCC) untuk Efisiensi yang Lebih Baik
Metrik Keberhasilan Integrasi Teknologi Digital dalam SCR
Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama dalam menilai efektivitas strategi rantai pasok:
Kritik dan Evaluasi
Meskipun penelitian ini memberikan wawasan berharga, ada beberapa aspek yang bisa diperbaiki:
Kesimpulan
Paper ini menegaskan bahwa resiliensi rantai pasok memiliki dampak signifikan terhadap kinerja operasional, dan teknologi digital memainkan peran penting dalam memperkuat hubungan ini. Dengan mengadopsi strategi yang berbasis digital, perusahaan manufaktur di Yordania dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, dan mempercepat pemulihan dari gangguan.
Sumber Artikel: