Manajemen Sumber Daya Manusia dan Organisasi

Pelatihan dan Pengembangan untuk Karyawan

Dipublikasikan oleh Anisa pada 13 Maret 2025


Pelatihan dan pengembangan melibatkan upaya meningkatkan efektivitas organisasi serta kemampuan individu dan tim di dalamnya. Pelatihan dapat dianggap berkaitan dengan perubahan langsung dalam efektivitas organisasi melalui instruksi terstruktur, sementara pengembangan berkaitan dengan kemajuan tujuan jangka panjang organisasi dan karyawan. Meskipun secara teknis pelatihan dan pengembangan memiliki definisi yang berbeda, namun keduanya sering digunakan secara bersamaan. Dalam dua dekade terakhir, pelatihan dan pengembangan semakin erat terkait dengan manajemen sumber daya manusia, manajemen bakat, pengembangan sumber daya manusia, desain instruksional, faktor manusia, dan manajemen pengetahuan. Pelatihan dan pengembangan mencakup tiga kegiatan utama: pelatihan, pendidikan, dan pengembangan.

Para "pemangku kepentingan" dalam pelatihan dan pengembangan dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelas. Para sponsor dari pelatihan dan pengembangan adalah manajer senior. Para klien dari pelatihan dan pengembangan adalah perencana bisnis. Manajer lini bertanggung jawab atas pembimbingan, sumber daya, dan kinerja. Peserta adalah mereka yang benar-benar menjalani proses tersebut. Fasilitator adalah staf manajemen sumber daya manusia. Dan penyedia adalah para ahli di bidangnya masing-masing. Setiap kelompok ini memiliki agenda dan motivasi sendiri, yang terkadang bisa bertentangan dengan agenda dan motivasi kelompok lain.

Terutama dalam dua dekade terakhir, pendekatan pelatihan telah lebih berfokus pada peserta, memberi mereka fleksibilitas dan peluang belajar aktif yang lebih besar. Contoh teknik pembelajaran aktif termasuk pembelajaran eksploratif/discovery, pelatihan manajemen kesalahan, eksplorasi terpandu, dan pelatihan penguasaan. Proyek-proyek khas dalam bidang ini melibatkan pengembangan eksekutif dan pengawasan/ manajemen, orientasi karyawan baru, pelatihan keterampilan profesional, pelatihan teknis/pekerjaan, pelatihan layanan pelanggan, pelatihan penjualan dan pemasaran, serta pelatihan kesehatan dan keselamatan. Pelatihan sangat penting, terutama dalam organisasi berkeandalan tinggi yang mengandalkan standar keamanan tinggi untuk mencegah kerusakan yang merugikan pada karyawan, peralatan, atau lingkungan (misalnya, pembangkit listrik tenaga nuklir, ruang operasi).

Penting untuk dicatat bahwa setiap karyawan memerlukan tingkat dan jenis pengembangan yang berbeda agar dapat memenuhi peran pekerjaan mereka dalam organisasi. Semua karyawan memerlukan pelatihan dan pengembangan jenis tertentu secara berkelanjutan untuk menjaga kinerja yang efektif, beradaptasi dengan cara-cara kerja baru, dan tetap termotivasi serta berkomitmen. Pendekatan desain sistem instruksional (sering disebut sebagai model ADDIE) sangat baik untuk merancang program pembelajaran yang efektif dan digunakan dalam desain instruksional. Desain instruksional adalah proses merancang, mengembangkan, dan memberikan konten pembelajaran. Ada 5 fase dalam model ADDIE: Penilaian kebutuhan, desain program, pengembangan program, penyampaian pelatihan atau implementasi, dan evaluasi pelatihan.

Proses pelatihan dan pengembangan melibatkan beberapa tahap kunci. Pertama, terdapat tahap Analisis yang mencakup identifikasi masalah, analisis kebutuhan pelatihan, menentukan audiens target, mengidentifikasi kebutuhan pemangku kepentingan, dan menentukan sumber daya yang diperlukan. Selanjutnya, tahap Desain melibatkan merancang garis besar serta pemetaan intervensi atau pelaksanaan pembelajaran, sambil memetakan metode evaluasi. Pada tahap Pengembangan, fokusnya adalah menentukan metode pengiriman, memproduksi produk pembelajaran sesuai dengan desain, menentukan strategi, media, dan metode pembelajaran, serta mengevaluasi kualitas produk pembelajaran. Setelah itu, tahap Implementasi melibatkan partisipasi dalam program sampingan, penyampaian pelatihan, partisipasi pembelajaran, pelaksanaan rencana komunikasi, evaluasi bisnis, dan pelaksanaan evaluasi formal. Terakhir, tahap Evaluasi, yang merupakan bagian integral dari setiap langkah, mencakup evaluasi formal, evaluasi pembelajaran berkelanjutan, evaluasi bisnis, dan identifikasi titik potensial perbaikan.

Banyak metode pelatihan yang berbeda ada saat ini, termasuk metode on dan off-the-job. Metode pelatihan on-the-job terjadi di dalam organisasi di mana karyawan belajar dengan bekerja bersama rekan kerja dengan cara seperti pelatihan, mentorship, magang, praktek kerja, teknik instruksi pekerjaan (JIT), atau dengan menjadi murid. Sebagai kontrast, metode pelatihan off-the-job terjadi di luar organisasi di mana karyawan menghadiri hal-hal seperti kuliah, seminar, dan konferensi atau mereka berpartisipasi dalam latihan simulasi seperti studi kasus dan peran-peran bermain. Ini juga bisa mencakup kegiatan pelatihan vestibule, sensitivitas, atau transaksional. Metode pelatihan lainnya termasuk pelatihan magang, program kerja sama, dan program magang

Selama bertahun-tahun, pelatihan dan pengembangan sangat penting bagi perluasan organisasi karena memberikan keuntungan termasuk peningkatan produksi, peningkatan kemampuan, peningkatan kerja tim, dan penurunan kecelakaan. Namun jika hal ini tidak disesuaikan secara strategis dengan tujuan yang jelas, maka hal ini bisa menjadi bumerang. evaluasi persyaratan sangat penting untuk menentukan persyaratan, pendekatan, dan kemanjuran pelatihan, khususnya untuk pelatihan skala besar. Evaluasi ini mengidentifikasi masalah kinerja, penyesuaian teknologi, kesenjangan keterampilan pada individu dan organisasi, dan tuntutan pertumbuhan karir. Hanya ada sedikit penelitian mengenai dampaknya terhadap organisasi ketika mengevaluasi kemanjuran pelatihan; sebagian besar penelitian berkonsentrasi pada kinerja tim atau individu.

Disadur dari:

https://en.wikipedia.org

Selengkapnya
Pelatihan dan Pengembangan untuk Karyawan

Geodesi dan Geomatika

Sejarah Munculnya Geologi Bidang Pelapisan

Dipublikasikan oleh Anisa pada 13 Maret 2025


Stratigrafi adalah bidang ilmu geologi yang mempelajari tentang lapisan (strata) dan pelapisan (stratifikasi) batuan. Ini terutama digunakan untuk mempelajari batuan berlapis dan sedimen vulkanik. Bidang stratigrafi terdiri dari tiga subbidang yang berbeda: kronostratigrafi (stratigrafi berdasarkan umur), biostratigrafi (stratigrafi biologis), dan litostratigrafi (stratigrafi litologi).

Sejaranya, pendeta Katolik Nicholas Steno menetapkan landasan teori stratigrafi ketika ia memperkenalkan hukum superposisi, prinsip horizontalitas asli, dan prinsip kontinuitas lateral dalam karyanya tahun 1669 tentang fosilisasi sisa-sisa organik dalam lapisan sedimen. Penerapan stratigrafi praktis skala besar yang pertama dilakukan oleh William Smith pada tahun 1790-an dan awal abad ke-19. Dikenal sebagai "Bapak Geologi Inggris", Smith menyadari pentingnya strata atau lapisan batuan dan pentingnya penanda fosil untuk mengkorelasikan strata; dia menciptakan peta geologi pertama Inggris. Penerapan stratigrafi berpengaruh lainnya pada awal abad ke-19 dilakukan oleh Georges Cuvier dan Alexandre Brongniart, yang mempelajari geologi wilayah sekitar Paris.

Variasi satuan batuan disebabkan oleh perbedaan fisik jenis batuan (litologi). Variasi ini dapat terjadi secara vertikal sebagai lapisan (bedding) atau secara lateral. Variasi ini mencerminkan perubahan lingkungan pengendapan (perubahan fasies). Variasi ini menghasilkan stratigrafi litologi atau litostratigrafi batuan yang berbeda untuk satuan batuan. Salah satu konsep penting dalam stratigrafi adalah pemahaman tentang bagaimana hubungan geometris tertentu antara lapisan batuan muncul dan bagaimana hubungan geometris tersebut berdampak pada lingkungan pengendapan aslinya. Konsep dasar dalam stratigrafi, hukum superposisi, menyatakan bahwa pada barisan stratigrafi yang tidak terdeformasi, strata tertua terletak di dasar barisan.

Kemostratigrafi mempelajari perubahan proporsi relatif elemen jejak dan isotop di dalam dan di antara unit litologi. Rasio isotop karbon dan oksigen bervariasi seiring waktu, dan peneliti dapat menggunakannya untuk memetakan perubahan halus yang terjadi di lingkungan paleo. Hal ini mengarah pada bidang khusus stratigrafi isotop.

Biostratigrafi

Stratigrafi paleontologi, sering dikenal sebagai biostratigrafi, didasarkan pada bukti fosil yang ditemukan pada strata batuan. Dapat dikorelasikan dalam waktu mengacu pada strata dari wilayah yang terpisah jauh dan memiliki fosil fauna dan vegetasi yang sama. Teori suksesi fauna William Smith, yang mendahului dan merupakan salah satu argumen pertama dan paling persuasif yang mendukung evolusi biologis, menjadi landasan bagi stratigrafi biologis. Hal ini memberikan bukti kuat mengenai kemunculan (spesiasi) dan kematian spesies. Abad ke-19 menyaksikan perkembangan skala waktu geologi, yang didukung oleh data suksesi fauna dan stratigrafi biologis. Hingga munculnya penanggalan radiometrik, yang didasarkan pada kerangka waktu absolut dan memunculkan kronostratigrafi, garis waktu ini tetap bersifat relatif.

Kurva Vail, yang menggunakan kesimpulan yang diambil dari pola stratigrafi global untuk mencoba menetapkan kurva historis permukaan laut global, merupakan salah satu kemajuan yang signifikan. Menggambarkan jenis dan luas batuan reservoir, segel, dan perangkap yang mengandung hidrokarbon dalam geologi perminyakan adalah penerapan stratigrafi lainnya yang sering dilakukan.

Kronostratigrafi

Cabang stratigrafi yang dikenal sebagai kronostratigrafi memberikan usia absolut pada lapisan batuan dan bukan usia relatif. Cabang ini berfokus pada perolehan data geokronologis unit batuan secara langsung dan tidak langsung untuk merekonstruksi rangkaian peristiwa terkait waktu yang memunculkan penciptaan batuan. Tujuan akhir dari kronostratigrafi adalah untuk menetapkan tanggal pada setiap urutan pengendapan batuan dalam suatu wilayah geologi, kemudian untuk setiap wilayah secara keseluruhan, dan pada akhirnya untuk memberikan catatan geologi bumi secara keseluruhan.

Jeda stratigrafi adalah lapisan kosong atau hilang dalam catatan geologi suatu daerah. Hal ini mungkin disebabkan oleh terhentinya proses sedimentasi. Alternatifnya, celah tersebut dapat disebut sebagai kekosongan stratigrafi jika erosi telah menghilangkannya. Karena pernyataan itu ditunda untuk sementara waktu, maka disebut hiatus. Kesenjangan fisik mungkin terjadi pada era rawan erosi dan fase non-deposisi. Kesalahan geologi mungkin menjadi alasan munculnya jeda.

Metode kronostratigrafi yang disebut magnetostratigrafi digunakan untuk menentukan umur urutan gunung berapi dan sedimen. Sampel yang berorientasi dikumpulkan dengan prosedur pada interval yang telah ditentukan di suatu wilayah. Magnetisme remanen detrital (DRM), atau polaritas medan magnet bumi pada saat suatu lapisan diendapkan, diukur untuk setiap sampel. Hal ini dapat terjadi pada batuan sedimen karena mineral magnet berbutir sangat halus (<17 μm) bertindak sebagai kompas kecil, menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi saat mineral tersebut tenggelam ke dalam kolom air. Orientasi itu dipertahankan setelah penguburan. Saat lava mengkristal, mineral magnetis yang terbentuk dalam lelehan tersebut sejajar dengan medan magnet di sekitarnya dan mengendap di tempatnya. Fenomena ini terlihat pada batuan vulkanik.

Litologi terbaik untuk sampel inti paleomagnetik berorientasi adalah batulempung, batulanau, dan batupasir berbutir sangat halus karena butiran magnetik pada material ini lebih halus dan cenderung sejajar dengan medan sekitar selama pengendapan. Strata tersebut akan mempertahankan polaritas regulernya jika medan magnet kuno diorientasikan seperti medan arus, yang terletak di sekitar Kutub Magnet Utara. Lapisan tersebut akan menunjukkan polaritas terbalik jika data menunjukkan bahwa Kutub Magnetik Utara dekat dengan Kutub Rotasi Selatan.

DRM ditunjukkan dengan mengurangkan magnetisasi remanen alami (NRM) dari hasil sampel individual. Data tersebut dianalisis secara statistik dan digunakan untuk membuat kolom magnetostratigrafi lokal yang dapat direferensikan silang dengan Skala Waktu Polaritas Magnetik Global.

Metode ini digunakan untuk menentukan penanggalan rangkaian yang sering kali tidak memiliki persilangan batuan beku atau fosil. Karena sampelnya kontinu, metode ini juga merupakan metode yang sangat efektif untuk memperkirakan laju akumulasi sedimen.

Disadur dari:

https://en.wikipedia.org

Selengkapnya
Sejarah Munculnya Geologi Bidang Pelapisan

Industri Kontruksi

Analisis Profesionalisme pada Proyek Konstruksi Restoran X di Bali

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025


Dalam industri konstruksi, profesionalisme adalah faktor kunci yang menentukan keberhasilan sebuah proyek. Paper berjudul “Analisis Profesionalisme pada Proyek Konstruksi Restoran X di Bali” membahas bagaimana kurangnya perencanaan, kontrak kerja yang tidak jelas, serta pengawasan yang lemah menyebabkan proyek ini mengalami keterlambatan yang signifikan. Dengan menyoroti berbagai masalah serta solusi yang dapat diterapkan, studi ini memberikan wawasan mendalam tentang tantangan yang dihadapi dalam proyek konstruksi di Indonesia.

Proyek pembangunan Restoran X di Bali dimulai pada Maret 2019, namun hingga saat ini masih belum selesai karena berbagai faktor. Berikut adalah beberapa permasalahan utama yang ditemukan:

Kurangnya Perencanaan dan Perubahan Desain Berulang. Perubahan desain terjadi secara terus-menerus sehingga menghambat kelancaran proyek. Gambar kerja dan spesifikasi tidak disiapkan dengan matang sebelum pelaksanaan. Kontraktor pelaksana sering mengalami kesulitan karena harus menunggu gambar kerja terbaru. Ketiadaan Kontrak Kerja yang Jelas. Pemilik proyek tidak membuat kontrak kerja tertulis dengan kontraktor pelaksana. Sistem kerja berdasarkan kepercayaan menyebabkan kurangnya tanggung jawab yang jelas. Kontraktor pelaksana sering mengajukan biaya tambahan tanpa mekanisme verifikasi yang jelas. Manajemen Proyek yang Kurang Efektif. Pemilik proyek sering berkomunikasi langsung dengan kontraktor tanpa melibatkan konsultan pengawas. Tidak ada koordinasi yang baik antara tim proyek, sehingga sering terjadi miskomunikasi. Kontraktor lebih berfokus pada pencairan dana dibandingkan menyelesaikan pekerjaan sesuai standar. Kualitas Pekerjaan yang Buruk. Pekerjaan struktur baja yang tidak sesuai standar menyebabkan keterlambatan dan pembengkakan biaya. Pengecatan dan pemasangan railing tangga dilakukan tanpa prosedur yang benar, sehingga mengalami kerusakan dini. Kebocoran pada bangunan akibat pemasangan kusen yang tidak sesuai spesifikasi. Dampak Finansial dan Hukum. Proyek mengalami kerugian besar karena kontraktor menerima pembayaran sebelum pekerjaan selesai. Tidak adanya dokumen kontrak yang mengikat membuat pemilik proyek kesulitan menuntut pertanggungjawaban kontraktor.

Kurangnya Profesionalisme dalam Proyek Konstruksi

Paper ini menyoroti bagaimana kurangnya profesionalisme dalam manajemen proyek berkontribusi terhadap keterlambatan dan kualitas pekerjaan yang buruk. Beberapa indikator utama kurangnya profesionalisme adalah:

  • Kurangnya keahlian manajemen proyek: Tidak adanya perencanaan matang dan SOP yang jelas.
  • Komunikasi yang tidak efektif: Keputusan sering dibuat tanpa konsultasi dengan semua pihak yang terlibat.
  • Pelanggaran standar konstruksi: Kontraktor menggunakan bahan berkualitas rendah tanpa mengikuti spesifikasi teknis.

Dalam beberapa studi lain mengenai proyek konstruksi, faktor utama yang menentukan keberhasilan proyek adalah perencanaan yang komprehensif, manajemen risiko yang baik, serta pengawasan ketat. Studi ini menunjukkan bahwa kegagalan dalam aspek-aspek tersebut berdampak buruk terhadap kelangsungan proyek.

Untuk meningkatkan profesionalisme dalam proyek konstruksi, beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan adalah:

1. Perencanaan yang Lebih Matang

  • Melakukan analisis proyek secara menyeluruh sebelum pelaksanaan.
  • Menyusun gambar kerja yang lengkap dan jelas untuk menghindari perubahan desain yang berulang.
  • Menggunakan software manajemen proyek untuk membantu koordinasi tim.

2. Penerapan Kontrak Kerja yang Ketat

  • Kontrak kerja tertulis harus mencakup lingkup pekerjaan, spesifikasi teknis, jadwal, serta sanksi jika kontraktor gagal memenuhi target.
  • Mekanisme pembayaran berbasis progres pekerjaan agar kontraktor tidak menerima dana sebelum pekerjaan diselesaikan.

3. Pengawasan yang Lebih Ketat

  • Menggunakan SOP yang jelas untuk memastikan bahwa semua pekerjaan dilakukan sesuai standar.
  • Melibatkan konsultan pengawas yang berpengalaman dalam seluruh tahapan proyek.
  • Melakukan audit berkala terhadap pekerjaan di lapangan untuk menghindari kecurangan.

4. Peningkatan Kualitas dan Profesionalisme Kontraktor

  • Seleksi kontraktor harus didasarkan pada rekam jejak profesionalisme dan kompetensi teknisnya.
  • Memberikan pelatihan dan sertifikasi bagi kontraktor dan pekerja proyek agar memenuhi standar industri.

5. Peningkatan Transparansi dan Komunikasi

  • Mengadakan rapat koordinasi secara rutin antara pemilik proyek, kontraktor, dan pengawas untuk memastikan semua pihak memahami perkembangan proyek.
  • Menggunakan platform digital untuk pelaporan kemajuan proyek agar lebih transparan dan terdokumentasi dengan baik.

Paper ini memberikan gambaran jelas mengenai dampak dari kurangnya profesionalisme dalam proyek konstruksi. Studi kasus Restoran X di Bali menunjukkan bagaimana ketidakteraturan dalam perencanaan, pengawasan, dan eksekusi proyek dapat menyebabkan keterlambatan signifikan dan peningkatan biaya. Dengan menerapkan perencanaan yang lebih matang, kontrak kerja yang jelas, serta pengawasan ketat, proyek-proyek konstruksi di masa depan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Sumber Artikel:
Hudaya, R.G.; Setiadji, J.S.; Lesmana, A.L. “Analisis Profesionalisme pada Proyek Konstruksi Restoran X di Bali”. Jurnal Dimensi Insinyur Profesional, Vol. 2, No. 2, September 2024.

 

Selengkapnya
Analisis Profesionalisme pada Proyek Konstruksi Restoran X di Bali

Konflik Pekerjaan

Tantangan Work-Family Conflict bagi Insinyur Perempuan di Yaman

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025


Work-Family Conflict (WFC) adalah fenomena yang banyak dialami pekerja di seluruh dunia, terutama perempuan di bidang teknik. Paper "Perceptions of Work–Family–Engineering Relationships Among Employed Female Engineers in Yemen: A Survey Study" mengeksplorasi bagaimana budaya konservatif Yaman memengaruhi keseimbangan kerja dan keluarga bagi perempuan insinyur. Studi ini berfokus pada tekanan sosial, ekonomi, dan budaya yang membentuk dinamika pekerjaan dan kehidupan keluarga mereka.

Faktor Penyebab WFC dalam Masyarakat Konservatif

  • Pernikahan dan konsekuensinya menyumbang 26% alasan utama perempuan meninggalkan pekerjaan.
  • Tanggung jawab keluarga mencapai 21%.
  • Tekanan sosial secara kumulatif mencapai 50% penyebab utama konflik kerja-keluarga.

Dampak Pernikahan terhadap Karier dan Pendidikan

  • Perempuan yang menikah sebelum atau selama kuliah memiliki nilai akademik 4,93% lebih rendah dibandingkan yang tidak menikah.
  • Semua insinyur perempuan yang bekerja di sektor industri dan konstruksi berstatus lajang, sedangkan yang menikah memilih meninggalkan pekerjaan.
  • 52% perempuan insinyur yang bekerja masih lajang, sedangkan 48% sudah menikah.
  • 68% lulusan perempuan insinyur dalam dekade terakhir di negara bagian Taiz mendapatkan pekerjaan tetap atau sementara, tetapi sebagian besar bekerja di sektor pendidikan dengan status kontrak sementara.

Kesenjangan Gaji dan Peluang Karier

  • Rata-rata gaji perempuan insinyur adalah USD 145,73 per bulan, sedangkan laki-laki mencapai USD 557.
  • 21% laki-laki insinyur menghasilkan lebih dari USD 1000 per bulan, tetapi tidak ada perempuan dalam kategori ini.
  • Hanya 3,5% perempuan insinyur yang berpenghasilan lebih dari USD 500 per bulan, dibandingkan dengan 31,6% laki-laki.
  • Ini berarti laki-laki insinyur di Yaman berpenghasilan 3,822 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Perspektif Suami terhadap Karier Istri

Dari survei terhadap 20 suami perempuan insinyur, ditemukan beberapa kecenderungan:

  • Dukungan untuk istri mencari pekerjaan di bidang teknik: 4,13 (skala 1-5).
  • Penolakan terhadap pekerjaan dengan shift malam dan perjalanan dinas: 1,30.
  • Dukungan terhadap pekerjaan tetap full-time: 2,83.
  • Pandangan bahwa perempuan sebaiknya tinggal di rumah dan tidak bekerja: 3,11.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun suami mendukung istri mereka dalam mencari pekerjaan, banyak yang menolak pekerjaan dengan jam kerja panjang atau mobilitas tinggi.

Dampak Budaya Konservatif terhadap Perempuan Insinyur

Studi ini menunjukkan bahwa peran gender di Yaman masih sangat membatasi perempuan dalam dunia kerja, terutama di sektor teknik yang didominasi laki-laki. Meski ada dukungan terhadap pendidikan perempuan, budaya patriarki tetap menjadi penghalang utama dalam mempertahankan pekerjaan setelah menikah.

Kesempatan Karier yang Tidak Setara

Dengan adanya kesenjangan gaji yang cukup besar, perempuan insinyur cenderung memilih pekerjaan di sektor pendidikan atau administrasi daripada sektor industri. Ini mencerminkan hambatan struktural yang membatasi akses perempuan ke karier teknik yang lebih kompetitif.

Solusi yang Ditawarkan

Paper ini mengusulkan beberapa rekomendasi untuk mengatasi WFC bagi perempuan insinyur di Yaman:

  • Kebijakan fleksibilitas kerja, seperti jam kerja fleksibel, kerja jarak jauh, dan pelacakan tugas secara online.
  • Meningkatkan kesadaran sosial, terutama di kalangan suami dan keluarga, untuk lebih mendukung perempuan bekerja.
  • Kebijakan insentif finansial bagi perempuan insinyur untuk mengurangi kesenjangan gaji.
  • Peningkatan perlindungan hukum, termasuk penghapusan diskriminasi dalam rekrutmen dan promosi kerja.

Secara global, isu work-family balance juga menjadi perdebatan di banyak negara. Beberapa negara telah mengadopsi kebijakan ramah keluarga seperti cuti melahirkan yang lebih panjang, subsidi pengasuhan anak, dan fleksibilitas jam kerja. Studi ini memberikan wawasan bahwa tantangan serupa juga dihadapi perempuan di negara-negara berkembang, terutama di masyarakat konservatif.

Paper ini memberikan kontribusi penting dalam memahami tantangan perempuan insinyur di Yaman. Dengan data empiris yang kuat, penelitian ini memperlihatkan bagaimana faktor budaya, sosial, dan ekonomi saling berinteraksi dalam menciptakan tantangan bagi perempuan yang ingin berkarier di bidang teknik. Rekomendasi yang diberikan dapat menjadi dasar bagi kebijakan yang lebih inklusif untuk mendukung kesetaraan gender di dunia kerja.

Sumber Artikel:
Ghaleb, A.M.; Abdulkhaliq, L.; Al-nour, H.A.; Amrani, M.A.; Hebah, H.A.; Mejjaouli, S. "Perceptions of Work–Family–Engineering Relationships Among Employed Female Engineers in Yemen: A Survey Study." Societies 2025, 15, 13.

 

Selengkapnya
Tantangan Work-Family Conflict bagi Insinyur Perempuan di Yaman

Properti dan Arsitektur

Empat Karya Arsitektur Kontemporer Berbahan Kayu, Berkontribusi Rendah terhadap Emisi Gas Rumah Kaca

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 13 Maret 2025


Pengajar Arsitektur Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta James Erich Dominggus Rilatupa mengulas karakter kayu dalam memengaruhi suatu bangunan. Hal tersebut tercantum dalam tulisannya yang berjudul ‘Ekspresi Bahan Bangunan Kayu Pada Karya Arsitektur’ pada September 2021. James mengatakan, material kayu merupakan salah satu solusi untuk memenuhi struktur berkelanjutan pada arsitektur modern dan arsitektur digital. Karena kayu dapat menawarkan emisi gas rumah kaca (CO2) yang lebih rendah, polusi udara dan air juga lebih sedikit. Kemudian volume limbah padat juga lebih rendah dan penggunaan sumber daya ekologis yang lebih sedikit daripada material bangunan lainnya.

Peningkatan proporsi kayu dalam konstruksi dapat memfasilitasi pengurangan dalam penggunaan material konstruksi lainnya, seperti beton, baja dan batu bata. Material konstruksi ini tidak berasal dari bahan baku terbarukan, membutuhkan banyak energi untuk produksinya dan memerlukan emisi CO2 yang lebih tinggi. Sementara, material kayu yang telah direkayasa menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Berarti potensi untuk membangun gedung pencakar langit ramah lingkungan sekarang menjadi hal nyata yang dapat digunakan para arsitek. Kayu yang dilapis silang (CLT), yang dibuat dengan merekatkan tiga, lima atau tujuh bagian kayu pada sudut yang tepat, kuat dan dapat digunakan untuk membuat struktur masif.

Saat ini sudah banyak arsitektur modern yang menggunakan material kayu sebagai bagian bahan bangunannya. Umumnya bangunan-bangunan post-modern telah banyak menggunakan kayu rekayasa sebagai material bangunannya, meskipun demikian masih ada juga yang menggunakan kayu solid. Penggunaan kayu rekayasa lebih menguntungkan, karena dapat dibentuk sesuai dengan keinginan arsitek atau pemilik bangunan. Hal ini disebabkan kayu rekayasa memiliki desain, kekuatan struktural, sifat maupun bentuk sesuai dengan kebutuhan atau keinginan dari pengguna kayu olahan tersebut. Berikut ini beberapa bangunan dengan gaya arsitektur post-modern yang menggunakan kayu sebagai material bangunannya.

Microlibrary Warak KayuMicrolibrary Warak Kayu(Dok. SHAU)

1. Microlibrary Warak Kayu di Semarang

Microlibrary Warak Kayu memiliki luas 90 meter persegi dengan tinggi 6,65 meter. Menggabungkan desain rumah panggung tradisional Indonesia yang terbuka dengan sistem konstruksi fasad dari Jerman. Yaitu Zollinger Bauweise yang dikembangkan pada tahun 1920 an. Teknik ini mengatur alur ventilasi udara, pencahayaan dan multifungsi suatu ruangan. Sebuah perpustakaan kecil di Semarang mencuri perhatian dunia.

Microlibrary Warak Kayu, yang terletak di samping Taman Kasmaran, tidak jauh dari Kampung Pelangi, menjadi salah satu finalis 'Architizer A+ Awards' untuk arsitektur perpustakaan terbaik di dunia. SHAU (Suryawinata Haizelman Architecture Urbanism) Indonesia merancang arsitektur bangunan. Kemudian, PT Kayu Lapis Indonesia memasok kayu-kau prefabrikasi hasil olahan kayu limbah pabrik yang sudah tidak terpakai.

Sementara pemerintah daerah Semarang menyediakan lahan dan ijin pembangunan, dan sebuah perusahaan swasta menanggung biaya pembangunannya. Ada pula Harvey Center, sebuah kelompok derma yang mengelola perpustakaan ini agar dapat dipergunakan warga tanpa biaya sama sekali.

Gedung Mjøstårnet di NorwegiaGedung Mjøstårnet di Norwegia(Ricardo Foto/Archdaily)

2. Mjøstårnet di Norwegia

Mjøstårnet dinobatkan sebagai 'Bangunan Kayu Tertinggi Dunia' oleh Council of Tall Building and Urban Habitat (CTBUH) pada September 2018. Sekaligus sebagai bangunan tertinggi ketiga di Norwegia. Struktur kayu yang dirancang oleh Voll Arkitekter ini merupakan bangunan mixed-use yang akan difungsikan sebagai hunian, perkantoran, dan hotel itu dibangun dengan 18 lantai atau setinggi 85,4 meter di Brumunddal, Norwegia.

Gedung ini terletak tepat di daerah Norwegia yang dikenal dengan industri kehutanan dan pengolahan kayu, atau hanya beberapa meter dari Mjøsa, danau terbesar di negara itu. Menurut CTBUH, gedung ini memenuhi beberapa syarat bangunan kayu, yakni elemen struktur vertikal atau lateral harus dibangun dari kayu.

Meski berbahan dasar kayu, struktur bangunan kayu menurut CTBUH juga masih memperbolehkan penggunaan sistem lantai papan beton, atau lempengan beton di atas balok kayu. Karena elemen beton tidak bertindak sebagai struktur utama. Moelven Limitre, insinyur struktur proyek ini menggunakan berbagai olahan kayu seperti glulam, balok dan diagonal, poros lift CLT, tangga, dan pelat lantai. Bahan ini dipilih sebagai bahan struktural karena kemajuan inovasi dalam dunia konstruksi. Selain itu, kayu dipilih karena merupakan satu-satunya bahan bangunan yang benar-benar terbarukan di dunia, yang dapat menyerap karbon sepanjang siklus hidupnya.

Banyak arsitek kini berlomba-lomba untuk membangun gedung berbahan dasar kayu dibanding dengan baja dan besi. Selain karena strukturnya yang ringan, kayu juga mampu menyerap emisi karbonBanyak arsitek kini berlomba-lomba untuk membangun gedung berbahan dasar kayu dibanding dengan baja dan besi. Selain karena strukturnya yang ringan, kayu juga mampu menyerap emisi karbon(Steven Errico)

3. Brock Commons Tallwood House

University of British Columbia, salah satu universitas yang ada di Kanada, memiliki komitmen kuat untuk integrasi pengajaran dan penelitian yang keberlanjutan tentang bangunan kayu. Pada Mei 2017, University of British Columbia menyelesaikan bangunan perumahan kayu tinggi pertama. Bangunan tersebut memiliki tinggi 53 meter yang terdiri dari 18 lantai dan diberi nama Brock Commons Tallwood House yang berada di Vancouver (University of British Columbia, 2018).

Bangunan yang dapat menampung 404 mahasiswa ini, terdiri dari 101 unit kamar. Setiap unit kamarnya dapat mempunyai empat tempat tidur. Pada bangunan tersebut tersedia ruang belajar dan sosial, serta ruang kegiatan mahasiswa di lantai paling atas. Dengan desain dan tim konstruksi yang bekerja secara bersamaan sejak awal, proses ini disederhanakan dengan pengujian menyeluruh mengenai koneksi kayu ke kayu sebelum konstruksi di lokasi.

Dengan demikian tim dapat melakukan pengujian mengenai stabilitas struktural, tetapi juga membantu menyempurnakan ketepatan waktu dari proyek tersebut. Struktur bangunan merupakan hibrida kayu secara massal. Pondasi, lantai dasar, pelat lantai dua, dan teras tangga atau elevator terbuat dari beton.

Dinding bangunan terbuat dari kayu glulam (GLT atau Glued Laminated Timber), sedangkan bagan lantainya terbuat dari panel kayu lapis yang dilapisi secara menyilang (CLT atau Cross Laminated Timber). Sementara penutup bangunan terdiri dari bahan bangunan prefabrikasi, yaitu panel rangka baja dengan lapisan kayu laminasi.

4. Forte Living di Australia

Forte Living merupakan bangunan pertama dan tertinggi yang terbuat dari kayu di Australia. Struktur baja dan semen yang biasanya digunakan dalam bangunan gedung diganti dengan material CLT (Cross Laminated Timber). Forte Livung dirancang dan dibangun oleh Pengembang Lendlease, dan proses pembangunannya selesai dalam jangka waktu 11 bulan. Gedung ini diklaim mampu mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) hingga 1.400 ton.

Forte Living adalah bangunan apartemen 10 lantai yang terbuat dari kayu laminasi silang (CLT). Tinggi gedung ini adalah 32,2 meter dan merupakan gedung apartemen kayu modern di Australia yang dibuat dari CLT. Bangunan ini terdiri dari 759 panel CLT dari pohon cemara Eropa (Picea abies), dengan berat total 485 ton. Potongan-potongan panel untuk gedung ini dibuat seperti perabot flat pack, termasuk 5.500 sudut siku dari bahan logam dan 34.550 sekrup yang diperlukan untuk memasang panel-panel kayu tersebut. Lantai dasar Forte dan lantai pertama dibangun dari beton geopolimer.

Hal ini dilakukan untuk menjauhkan kayu dari tanah. Begitu beton telah dipasang, panel CLT diangkut dari tempat penyimpanannya dan ditempatkan ke posisi yang telah ditentukan. Panel-panel CLT tersebut kemudian dihubungkan bersama dengan sekrup dan logam yang berbentuk sudut. Panel pertama yang didirikan adalah yang membentuk tangga dan mengangkat core, yang berdiri secara vertikal. Setelah core berada di tempat, panel ditempatkan pada sisi core untuk membentuk dinding internal dan eksternal.

Lebar panel CLT adalah tinggi dari setiap lantai gedung Forte Living. Panel kemudian diletakkan di atas dinding untuk membentuk lantai. Proses itu diulang sampai ketinggian gedung tersebut tercapai. Atapnya dibangun dengan metode yang sama dengan setiap lantai.

Selain bangunan-bangunan yang telah disebutkan, masih banyak bangunan-bangunan kayu lainnya yang telah terbangun maupun yang akan dibangun. Contoh bangunan yang telah terbangun adalah Superior Dome di Michigan, Tamedia Office Building di Zurich, Community Church of Knarvik di Norway (Skandinavia), Murray Grove di London, dan sebagainya. Sementara itu bangunan-bangunan kayu yang sedang dan akan dibangun antara lain, 5 King Street di Brisbane, Dalstone Lane di London, proyek W350 di Tokyo, Kampus NTU di Singapura, dan sebagainya.
 

Sumber: www.kompas.com 

Selengkapnya
Empat Karya Arsitektur Kontemporer Berbahan Kayu, Berkontribusi Rendah terhadap Emisi Gas Rumah Kaca

Properti dan Arsitektur

Signifikansi Material Konstruksi dalam Zaman Arsitektur Digital

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 13 Maret 2025


Desain arsitektur berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih. Penggunaan perangkat lunak komputer menjadi sangat penting dalam menjalankan proses desain konstruksi. Bentuk-bentuk yang semakin dinamis, akibat pengolahan digital, harus diimbangi dengan teknologi material bangunan yang sesuai dengan kebutuhan desain modern.

Ketua Program Penelitian Arsitektur Unika Soegijapranata Semarang, LMF Purwanto, menegaskan bahwa peran material bangunan di era digital sangat penting untuk mendukung keberlanjutan karya arsitektur di Indonesia. Sementara itu, Presiden IAI Jawa Tengah, Sugiarto, mendorong arsitek untuk memanfaatkan teknologi digital dalam memahami dan memanfaatkan material konstruksi dalam desain arsitektur modern.

Christina Eviutami Mediatica, dosen dan peneliti arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya, sebagai narasumber pertama dalam workshop tersebut, menyoroti pentingnya peran material konstruksi dalam penciptaan sebuah karya arsitektur. Ia menjelaskan bahwa material struktur dan penutup bangunan dapat disesuaikan dengan kebutuhan fungsi modern, yang memperkaya kemampuan arsitek untuk berinovasi dalam desain.

Christina menjelaskan bahwa terdapat berbagai klasifikasi bahan konstruksi berdasarkan tujuan penggunaannya, termasuk struktur dan penutup bangunan. Penggunaan material baru dan unik dalam desain arsitektur modern didasarkan pada kepadatan, keseimbangan, dan kinerja struktural yang memadai.

Meskipun menggunakan material yang tidak konvensional, prinsip-prinsip struktural masih harus dipertimbangkan dengan serius untuk memastikan keamanan dan stabilitas bangunan. Sebagai contoh, di Gedung Heydar Aliyev Center di Azerbaijan, prinsip-prinsip struktural yang kompleks digunakan untuk mencapai ruang bebas kolom dengan memadukan berbagai material konstruksi yang unik.

Dalam era arsitektur digital, penggunaan material tidak lagi terbatas oleh batasan konvensional, tetapi prinsip-prinsip struktural yang solid tetap harus diperhatikan. Hal ini mencakup pemilihan dan penggunaan material baru dengan bijak, dengan mempertimbangkan kekuatan struktural dan kebutuhan desain secara menyeluruh.

Perkembangan teknologi sofatware telah memainkan peran penting dalam praktik arsitektur, terutama dalam perancangan desain bangunan. Fenomena ini telah memunculkan istilah baru dalam arsitektur, yaitu arsitektur digital. Namun, dinamika bentuk yang semakin berkembang ini memerlukan teknologi material bangunan yang adaptif guna memenuhi tuntutan desain modern. Masalah ini diperdebatkan dalam seminar virtual berjudul "Peran Bahan Bangunan di Era Arsitektur Digital" pada Rabu, 22 September 2021.

Salah satu narasumber, Christina Eviutami Mediatica, seorang dosen dan peneliti arsitektur dari Universitas Kristen Petra Surabaya, mendefinisikan arsitektur digital sebagai penggunaan teknologi dalam desain bangunan dan dalam menangani kinerja bangunan, termasuk dalam aspek termal, pencahayaan, akustik, dan lain-lain. Ia menyoroti bahwa dalam arsitektur digital, penggunaan material non-konvensional menjadi lebih penting, meskipun prinsip-prinsip klasifikasi material konvensional tetap harus dipertimbangkan.

Narasumber kedua, James Erich Dominggus Rilatupa, seorang pengajar arsitektur dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, membahas topik "Ekspresi Bahan Bangunan Kayu Pada Karya Arsitektur". Ia menekankan karakteristik kayu dalam memengaruhi sebuah bangunan, serta pentingnya pemilihan material yang matang untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kenyamanan penghuni. James juga menyoroti stigma negatif terhadap kayu sebagai bahan bangunan yang kuno, namun ia menegaskan bahwa kayu tetap menjadi bahan yang relevan dalam arsitektur modern dengan bantuan teknologi arsitektur digital. James juga membahas perkembangan teknologi pengolahan kayu, yang kini memungkinkan produksi kayu olahan dengan berbagai keunggulan struktural dan desain yang sesuai dengan kebutuhan.

Penekanan pada keberlanjutan dan penggunaan material "hijau" juga diperhatikan, dimana kayu diakui sebagai salah satu bahan bangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan meningkatnya permintaan untuk bangunan yang ramah lingkungan, kayu menjadi solusi yang semakin populer dan dapat memenuhi standar keberlanjutan. Peningkatan penggunaan kayu dalam konstruksi juga dapat mengurangi penggunaan material bangunan lainnya yang kurang ramah lingkungan, seperti beton dan baja. Oleh karena itu, kayu yang direkayasa dengan baik menjadi pilihan yang menarik untuk mendukung arsitektur modern yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.


Sumber: www.kompas.com 

Selengkapnya
Signifikansi Material Konstruksi dalam Zaman Arsitektur Digital
« First Previous page 77 of 865 Next Last »