Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Paper ini, yang ditulis oleh Maryam Lotfi, ManMohan Sodhi, dan Canan Kocabasoglu-Hillmer, membahas bagaimana usaha untuk mencapai resiliensi dapat selaras atau bertentangan dengan praktik lean dan agile dalam rantai pasok. Studi ini penting karena perusahaan sering menghadapi dilema antara efisiensi, fleksibilitas, dan ketahanan.
Definisi dan Kerangka Konseptual
Paper ini mengidentifikasi tiga elemen utama dalam manajemen rantai pasok:
Penelitian ini menyoroti potensi konflik antara lean dan resilience, di mana strategi lean yang terlalu ekstrem dapat membuat rantai pasok lebih rentan terhadap guncangan eksternal.
Studi Kasus: Dampak Gangguan Global terhadap Rantai Pasok
Paper ini menyoroti beberapa contoh gangguan yang menunjukkan pentingnya keseimbangan antara lean, agile, dan resilience:
Studi ini menemukan bahwa kombinasi lean, agile, dan resilience dapat menciptakan rantai pasok yang lebih seimbang dan tangguh.
Strategi Meningkatkan Integrasi Lean, Agile, dan Resilience
1. Menghindari Lean yang Berlebihan
2. Mengadopsi Agility untuk Fleksibilitas
3. Membangun Resilience untuk Stabilitas Jangka Panjang
Metrik Keberhasilan Integrasi Lean, Agile, dan Resilience
Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama dalam mengukur efektivitas strategi rantai pasok:
Kritik dan Evaluasi
Meskipun paper ini memberikan wawasan mendalam, terdapat beberapa aspek yang dapat diperbaiki:
Kesimpulan
Paper ini menegaskan bahwa usaha untuk mencapai resiliensi harus selaras dengan strategi lean dan agile agar tidak menciptakan ketidakseimbangan dalam rantai pasok. Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat mengurangi risiko gangguan, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempertahankan daya saing di pasar global.
Sumber Artikel:
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Paper ini, yang ditulis oleh Ramadas Thekkoote, membahas bagaimana agility (kelincahan), digitalization (digitalisasi), dan localization (lokalisasi) berkontribusi terhadap resiliensi rantai pasok. Studi ini menyoroti bahwa pandemi COVID-19 memperlihatkan kelemahan rantai pasok global dan menekankan pentingnya strategi adaptasi yang lebih tangguh.
Definisi dan Kerangka Konseptual
Paper ini mengidentifikasi tiga faktor utama yang mempengaruhi resiliensi rantai pasok:
Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menganalisis hubungan antara faktor-faktor tersebut dalam meningkatkan resiliensi rantai pasok.
Studi Kasus: Dampak Gangguan Global terhadap Rantai Pasok
Paper ini menyoroti beberapa contoh gangguan yang menguji ketahanan rantai pasok:
Perusahaan yang mengadopsi strategi agility, digitalization, dan localization mampu mengurangi dampak gangguan dan mempercepat pemulihan.
Strategi Meningkatkan Agility, Digitalization, dan Localization dalam SCM
1. Agility untuk Respons Cepat
2. Digitalization untuk Efisiensi dan Transparansi
3. Localization untuk Mengurangi Ketergantungan Global
Metrik Keberhasilan Integrasi Agility, Digitalization, dan Localization
Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama dalam mengukur efektivitas strategi rantai pasok:
Kritik dan Evaluasi
Walaupun penelitian ini memberikan wawasan yang kaya, terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki:
Kesimpulan
Paper ini menegaskan bahwa strategi agility, digitalization, dan localization berperan penting dalam meningkatkan resiliensi rantai pasok. Dengan menerapkan pendekatan ini, perusahaan dapat mengurangi risiko gangguan, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempertahankan daya saing di pasar global.
Sumber Artikel: Thekkoote, R. (2022). Agility, Digitalization, and Localization: A Framework for Supply Chain Resilience. KTU.
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Paper ini, yang ditulis oleh Christoph Alexander Pickert, membahas bagaimana kapabilitas dan strategi rantai pasok memengaruhi agility (kelincahan) dan robustness (ketahanan struktural) dalam menghadapi gangguan. Penelitian ini menyoroti bahwa banyak rantai pasok saat ini terlalu efisien sehingga rentan terhadap guncangan eksternal.
Definisi dan Kerangka Konseptual
Paper ini mengidentifikasi dua dimensi utama dari resiliensi rantai pasok:
Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menganalisis dampak kapabilitas tertentu terhadap kedua dimensi ini.
Studi Kasus: Dampak Gangguan Global terhadap Rantai Pasok
Paper ini menyoroti beberapa contoh gangguan yang menguji ketahanan rantai pasok:
Perusahaan yang memiliki kapabilitas rantai pasok yang kuat mampu mengurangi dampak gangguan dan mempercepat pemulihan.
Strategi Meningkatkan Agility dan Robustness dalam SCM
1. Kapabilitas Teknologi dan Informasi
2. Strategi Manajemen Risiko
3. Rekayasa Ulang Rantai Pasok
Metrik Keberhasilan Integrasi Agility dan Robustness
Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama dalam mengukur efektivitas strategi rantai pasok:
Kritik dan Evaluasi
Walaupun penelitian ini memberikan wawasan yang kaya, terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki:
Kesimpulan
Paper ini menegaskan bahwa strategi dan kapabilitas rantai pasok yang tepat dapat meningkatkan agility dan robustness, sehingga memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi lebih cepat dan bertahan dalam kondisi penuh ketidakpastian. Dengan mengintegrasikan teknologi, manajemen risiko, dan rekayasa ulang rantai pasok, bisnis dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, dan mempertahankan daya saing.
Sumber Artikel: Pickert, C. A. (2014). Supply Chain Resilience – Influence of Supply Chain Capabilities and Strategies on Agility and Robustness. Sirindhorn International Institute of Technology, Thammasat University.
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Paper ini, yang ditulis oleh Cenk Tufan, Şemsettin Çiğdem, Yunus Kılıç, dan Gökçen Sayar, membahas peran agility (kelincahan) dan resilience (ketahanan) dalam rantai pasok serta dampaknya terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur. Dengan meningkatnya ketidakpastian global, perusahaan perlu mengoptimalkan manajemen rantai pasok untuk mempertahankan daya saing mereka.
Definisi dan Kerangka Konseptual
Paper ini mengidentifikasi tiga elemen utama dalam hubungan antara manajemen rantai pasok (SCM) dan kinerja keuangan (FP):
Penelitian ini menyoroti bagaimana kombinasi antara agility dan resilience dapat meningkatkan daya tahan perusahaan terhadap risiko eksternal.
Studi Kasus: Dampak Gangguan Global pada Kinerja Keuangan
Paper ini membahas berbagai contoh gangguan rantai pasok dan dampaknya:
Dengan menerapkan strategi SCM yang agile dan resilient, perusahaan dapat meminimalkan dampak gangguan dan meningkatkan stabilitas keuangan.
Strategi Meningkatkan Agility dan Resilience dalam SCM
1. Strategi Agility untuk Respons Pasar
2. Strategi Resilience untuk Ketahanan Operasional
3. Optimalisasi Manajemen Risiko
Metrik Keberhasilan Integrasi Agility dan Resilience
Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama untuk menilai efektivitas strategi SCM:
Kritik dan Evaluasi
Meskipun paper ini memberikan wawasan mendalam, ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki:
Kesimpulan
Paper ini menegaskan bahwa integrasi agility dan resilience dalam rantai pasok dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dengan menerapkan strategi yang tepat, bisnis dapat mengurangi dampak gangguan, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempertahankan daya saing di pasar global.
Sumber Artikel: Tufan, C., Çiğdem, Ş., Kılıç, Y., & Sayar, G. (2024). Agility and Resilience in Supply Chains: Investigating Their Roles in Enhancing Financial Performance. Sustainability, 16, 7842.
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025
Pendahuluan
Paper ini, yang ditulis oleh Mahak Sharma, Rose Antony, dan Konstantinos Tsagarakis, membahas faktor-faktor yang mendukung rantai pasok makanan segar yang hijau (green), tangguh (resilient), lincah (agile), dan berkelanjutan (sustainable) (GRAS). Studi ini meneliti bagaimana interaksi antara faktor-faktor ini dapat menciptakan rantai pasok makanan segar (FFSC) yang lebih kuat dan berkelanjutan di India.
Definisi dan Kerangka Konseptual
Paper ini menguraikan empat pilar utama dalam rantai pasok makanan segar:
Keempat elemen ini harus saling terintegrasi untuk menciptakan rantai pasok yang kompetitif dan berdaya tahan.
Studi Kasus: Tantangan dan Dampak Gangguan pada FFSC
Paper ini menganalisis dampak gangguan besar pada rantai pasok makanan segar di India:
Dengan mengadopsi strategi GRAS, perusahaan dapat mengurangi risiko dan meningkatkan efisiensi operasional.
Strategi Implementasi GRAS dalam Rantai Pasok Makanan Segar
1. Strategi Green untuk Efisiensi Lingkungan
2. Strategi Resilient untuk Daya Tahan Rantai Pasok
3. Strategi Agile untuk Respons Pasar
4. Strategi Sustainable untuk Keberlanjutan Jangka Panjang
Metrik Keberhasilan Integrasi GRAS
Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama untuk menilai efektivitas strategi GRAS:
Kritik dan Evaluasi
Meskipun paper ini memberikan wawasan yang mendalam, ada beberapa aspek yang dapat ditingkatkan:
Kesimpulan
Paper ini menegaskan bahwa integrasi strategi Green, Resilient, Agile, dan Sustainable (GRAS) sangat penting dalam rantai pasok makanan segar. Dengan menerapkan strategi yang tepat, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi dampak lingkungan, dan memperkuat ketahanan rantai pasok.
Sumber Artikel: Sharma, M., Antony, R., & Tsagarakis, K. (2023). Green, Resilient, Agile, and Sustainable Fresh Food Supply Chain Enablers: Evidence from India. Annals of Operations Research.