Rantai Pasok Resilien dan Adaptif

Menyeimbangkan Lean, Agile, dan Resilience dalam Rantai Pasok untuk Ketahanan

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025


Pendahuluan

Paper ini, yang ditulis oleh Maryam Lotfi, ManMohan Sodhi, dan Canan Kocabasoglu-Hillmer, membahas bagaimana usaha untuk mencapai resiliensi dapat selaras atau bertentangan dengan praktik lean dan agile dalam rantai pasok. Studi ini penting karena perusahaan sering menghadapi dilema antara efisiensi, fleksibilitas, dan ketahanan.

Definisi dan Kerangka Konseptual

Paper ini mengidentifikasi tiga elemen utama dalam manajemen rantai pasok:

  • Leanness (Keringkasan) – Fokus pada efisiensi dan pengurangan pemborosan.
  • Agility (Kelincahan) – Kemampuan merespons cepat terhadap perubahan pasar.
  • Resilience (Ketahanan) – Kapasitas untuk bertahan dan pulih dari gangguan besar.

Penelitian ini menyoroti potensi konflik antara lean dan resilience, di mana strategi lean yang terlalu ekstrem dapat membuat rantai pasok lebih rentan terhadap guncangan eksternal.

Studi Kasus: Dampak Gangguan Global terhadap Rantai Pasok

Paper ini menyoroti beberapa contoh gangguan yang menunjukkan pentingnya keseimbangan antara lean, agile, dan resilience:

  • Pandemi COVID-19 – Mengungkap kelemahan rantai pasok yang terlalu lean, menyebabkan keterlambatan pasokan hingga 252% di beberapa sektor.
  • Gempa Jepang 2011 – Menghentikan produksi Toyota global hingga 30%, menunjukkan risiko dari rantai pasok yang terlalu ramping.
  • Krisis Keuangan 2008 – Menyebabkan penurunan produksi industri sebesar 42,3% di sektor transportasi dan 40,3% di manufaktur logam dasar.

Studi ini menemukan bahwa kombinasi lean, agile, dan resilience dapat menciptakan rantai pasok yang lebih seimbang dan tangguh.

Strategi Meningkatkan Integrasi Lean, Agile, dan Resilience

1. Menghindari Lean yang Berlebihan

  • Menjaga buffer stock minimal untuk menghadapi lonjakan permintaan mendadak.
  • Memperkuat hubungan dengan pemasok alternatif guna mengurangi risiko keterlambatan pasokan.

2. Mengadopsi Agility untuk Fleksibilitas

  • Peningkatan sistem digitalisasi untuk mempercepat pengambilan keputusan berbasis data real-time.
  • Diversifikasi jaringan pemasok untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber.

3. Membangun Resilience untuk Stabilitas Jangka Panjang

  • Investasi dalam teknologi pemantauan risiko untuk mengidentifikasi potensi gangguan lebih awal.
  • Strategi dual sourcing guna memastikan ketersediaan bahan baku dari berbagai lokasi.

Metrik Keberhasilan Integrasi Lean, Agile, dan Resilience

Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama dalam mengukur efektivitas strategi rantai pasok:

  • Inventory Turnover – Efisiensi dalam pengelolaan persediaan.
  • Lead Time Variability – Konsistensi waktu pengiriman dan produksi.
  • Supplier Reliability Index – Keandalan pemasok dalam memenuhi permintaan.
  • Business Continuity Readiness – Kesiapan perusahaan dalam menghadapi gangguan besar.

Kritik dan Evaluasi

Meskipun paper ini memberikan wawasan mendalam, terdapat beberapa aspek yang dapat diperbaiki:

  • Kurangnya studi empiris berbasis data kuantitatif – Sebagian besar temuan berasal dari tinjauan literatur.
  • Minimnya eksplorasi teknologi AI dan blockchain – Teknologi ini dapat meningkatkan ketahanan rantai pasok secara signifikan.
  • Fokus utama pada sektor manufaktur – Studi lebih lanjut diperlukan untuk sektor lain seperti e-commerce dan jasa.

Kesimpulan

Paper ini menegaskan bahwa usaha untuk mencapai resiliensi harus selaras dengan strategi lean dan agile agar tidak menciptakan ketidakseimbangan dalam rantai pasok. Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat mengurangi risiko gangguan, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempertahankan daya saing di pasar global.

Sumber Artikel:

  • Lotfi, M., Sodhi, M., & Kocabasoglu-Hillmer, C. (2024). How Efforts to Achieve Resiliency Fit with Lean and Agile Practices. Cass Business School, London.

 

Selengkapnya
Menyeimbangkan Lean, Agile, dan Resilience dalam Rantai Pasok untuk Ketahanan

Rantai Pasok Resilien dan Adaptif

Meningkatkan Resiliensi Rantai Pasok Melalui Agility, Digitalization, dan Localization

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025


Pendahuluan

Paper ini, yang ditulis oleh Ramadas Thekkoote, membahas bagaimana agility (kelincahan), digitalization (digitalisasi), dan localization (lokalisasi) berkontribusi terhadap resiliensi rantai pasok. Studi ini menyoroti bahwa pandemi COVID-19 memperlihatkan kelemahan rantai pasok global dan menekankan pentingnya strategi adaptasi yang lebih tangguh.

Definisi dan Kerangka Konseptual

Paper ini mengidentifikasi tiga faktor utama yang mempengaruhi resiliensi rantai pasok:

  • Agility (Kelincahan) – Kemampuan rantai pasok untuk beradaptasi cepat terhadap perubahan pasar.
  • Digitalization (Digitalisasi) – Penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi rantai pasok.
  • Localization (Lokalisasi) – Mengurangi ketergantungan pada pemasok global dengan memperkuat ekosistem rantai pasok lokal.

Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menganalisis hubungan antara faktor-faktor tersebut dalam meningkatkan resiliensi rantai pasok.

Studi Kasus: Dampak Gangguan Global terhadap Rantai Pasok

Paper ini menyoroti beberapa contoh gangguan yang menguji ketahanan rantai pasok:

  • Pandemi COVID-19 – Mengganggu rantai pasok global, menyebabkan keterlambatan produksi dan peningkatan biaya logistik hingga 252%.
  • Krisis Keuangan 2008 – Mengakibatkan penurunan produksi industri sebesar 42,3% di sektor transportasi dan 40,3% di manufaktur logam dasar.
  • Gangguan Pasokan China-Korea – Hyundai terpaksa menghentikan produksi akibat kesulitan memperoleh suku cadang dari pemasok di Tiongkok.

Perusahaan yang mengadopsi strategi agility, digitalization, dan localization mampu mengurangi dampak gangguan dan mempercepat pemulihan.

Strategi Meningkatkan Agility, Digitalization, dan Localization dalam SCM

1. Agility untuk Respons Cepat

  • Penerapan sistem prediksi permintaan berbasis AI untuk mengoptimalkan perencanaan produksi.
  • Kemitraan strategis dengan pemasok lokal untuk mempercepat respons terhadap perubahan pasar.

2. Digitalization untuk Efisiensi dan Transparansi

  • Implementasi teknologi blockchain untuk meningkatkan transparansi dan ketertelusuran produk.
  • Penggunaan Internet of Things (IoT) guna memantau kondisi logistik secara real-time.

3. Localization untuk Mengurangi Ketergantungan Global

  • Relokasi fasilitas produksi lebih dekat ke pasar utama untuk meningkatkan kecepatan distribusi.
  • Optimalisasi penggunaan sumber daya lokal guna mengurangi ketergantungan pada pemasok asing.

Metrik Keberhasilan Integrasi Agility, Digitalization, dan Localization

Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama dalam mengukur efektivitas strategi rantai pasok:

  • Inventory Turnover – Efisiensi dalam pengelolaan persediaan.
  • Lead Time Variability – Konsistensi waktu pengiriman dan produksi.
  • Supplier Reliability Index – Keandalan pemasok dalam memenuhi permintaan.
  • Digital Integration Score – Tingkat adopsi teknologi digital dalam rantai pasok.

Kritik dan Evaluasi

Walaupun penelitian ini memberikan wawasan yang kaya, terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki:

  • Minimnya studi kasus kuantitatif – Sebagian besar temuan didasarkan pada konsep teoretis.
  • Kurangnya eksplorasi teknologi AI dalam mitigasi risiko – AI dapat memainkan peran lebih besar dalam meningkatkan prediksi dan pengelolaan risiko rantai pasok.
  • Fokus terbatas pada sektor manufaktur – Studi lebih lanjut diperlukan untuk sektor jasa dan e-commerce.

Kesimpulan

Paper ini menegaskan bahwa strategi agility, digitalization, dan localization berperan penting dalam meningkatkan resiliensi rantai pasok. Dengan menerapkan pendekatan ini, perusahaan dapat mengurangi risiko gangguan, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempertahankan daya saing di pasar global.

Sumber Artikel: Thekkoote, R. (2022). Agility, Digitalization, and Localization: A Framework for Supply Chain Resilience. KTU.

 

Selengkapnya
Meningkatkan Resiliensi Rantai Pasok Melalui Agility, Digitalization, dan Localization

Rantai Pasok Resilien dan Adaptif

Meningkatkan Agility dan Robustness Rantai Pasok Melalui Kapabilitas dan Strategi yang Tepat

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025


Pendahuluan

Paper ini, yang ditulis oleh Christoph Alexander Pickert, membahas bagaimana kapabilitas dan strategi rantai pasok memengaruhi agility (kelincahan) dan robustness (ketahanan struktural) dalam menghadapi gangguan. Penelitian ini menyoroti bahwa banyak rantai pasok saat ini terlalu efisien sehingga rentan terhadap guncangan eksternal.

Definisi dan Kerangka Konseptual

Paper ini mengidentifikasi dua dimensi utama dari resiliensi rantai pasok:

  • Agility (Kelincahan) – Kemampuan untuk merespons perubahan pasar dengan cepat dan fleksibel.
  • Robustness (Ketahanan Struktural) – Kemampuan untuk tetap stabil dalam menghadapi gangguan besar.

Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menganalisis dampak kapabilitas tertentu terhadap kedua dimensi ini.

Studi Kasus: Dampak Gangguan Global terhadap Rantai Pasok

Paper ini menyoroti beberapa contoh gangguan yang menguji ketahanan rantai pasok:

  • Gempa Jepang 2011 – Menghentikan produksi Toyota global hingga 30%, membutuhkan 6 bulan untuk pulih sepenuhnya.
  • Krisis Keuangan 2008 – Menyebabkan penurunan produksi industri sebesar 42,3% di sektor transportasi dan 40,3% di manufaktur logam dasar.
  • Pandemi COVID-19 – Meningkatkan biaya logistik hingga 252% dan menyebabkan kekurangan bahan baku di berbagai industri.

Perusahaan yang memiliki kapabilitas rantai pasok yang kuat mampu mengurangi dampak gangguan dan mempercepat pemulihan.

Strategi Meningkatkan Agility dan Robustness dalam SCM

1. Kapabilitas Teknologi dan Informasi

  • Implementasi sistem ERP dan IoT untuk meningkatkan visibilitas rantai pasok.
  • Prediksi berbasis AI guna mengidentifikasi risiko sebelum terjadi gangguan.

2. Strategi Manajemen Risiko

  • Diversifikasi pemasok untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber.
  • Buffer stock strategis sebagai cadangan menghadapi ketidakpastian pasar.

3. Rekayasa Ulang Rantai Pasok

  • Fasilitas produksi fleksibel untuk memungkinkan perpindahan produksi cepat saat terjadi gangguan.
  • Kolaborasi strategis dengan pemasok guna meningkatkan keandalan pasokan.

Metrik Keberhasilan Integrasi Agility dan Robustness

Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama dalam mengukur efektivitas strategi rantai pasok:

  • Inventory Turnover – Efisiensi dalam mengelola persediaan.
  • Lead Time Variability – Konsistensi waktu pengiriman dan produksi.
  • Supplier Reliability Index – Keandalan pemasok dalam memenuhi permintaan.

Kritik dan Evaluasi

Walaupun penelitian ini memberikan wawasan yang kaya, terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki:

  • Kurangnya studi kasus industri spesifik – Studi ini menggunakan data perusahaan Thailand tanpa perbandingan dengan negara lain.
  • Minimnya eksplorasi peran blockchain – Teknologi ini dapat meningkatkan transparansi rantai pasok.
  • Fokus hanya pada sektor manufaktur – Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk sektor lain seperti layanan dan e-commerce.

Kesimpulan

Paper ini menegaskan bahwa strategi dan kapabilitas rantai pasok yang tepat dapat meningkatkan agility dan robustness, sehingga memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi lebih cepat dan bertahan dalam kondisi penuh ketidakpastian. Dengan mengintegrasikan teknologi, manajemen risiko, dan rekayasa ulang rantai pasok, bisnis dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, dan mempertahankan daya saing.

Sumber Artikel: Pickert, C. A. (2014). Supply Chain Resilience – Influence of Supply Chain Capabilities and Strategies on Agility and Robustness. Sirindhorn International Institute of Technology, Thammasat University.

 

Selengkapnya
Meningkatkan Agility dan Robustness Rantai Pasok Melalui Kapabilitas dan Strategi yang Tepat

Rantai Pasok Resilien dan Adaptif

Peran Agility dan Resilience dalam Meningkatkan Kinerja Keuangan Rantai Pasok Manufaktur

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025


Pendahuluan

Paper ini, yang ditulis oleh Cenk Tufan, Şemsettin Çiğdem, Yunus Kılıç, dan Gökçen Sayar, membahas peran agility (kelincahan) dan resilience (ketahanan) dalam rantai pasok serta dampaknya terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur. Dengan meningkatnya ketidakpastian global, perusahaan perlu mengoptimalkan manajemen rantai pasok untuk mempertahankan daya saing mereka.

Definisi dan Kerangka Konseptual

Paper ini mengidentifikasi tiga elemen utama dalam hubungan antara manajemen rantai pasok (SCM) dan kinerja keuangan (FP):

  • Agility (Kelincahan) – Kemampuan rantai pasok untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar.
  • Resilience (Ketahanan) – Kemampuan untuk pulih dari gangguan besar dan menjaga stabilitas operasional.
  • Supply Chain Management (SCM) – Praktik strategis dalam mengelola aliran sumber daya untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas.

Penelitian ini menyoroti bagaimana kombinasi antara agility dan resilience dapat meningkatkan daya tahan perusahaan terhadap risiko eksternal.

Studi Kasus: Dampak Gangguan Global pada Kinerja Keuangan

Paper ini membahas berbagai contoh gangguan rantai pasok dan dampaknya:

  • Tsunami Thailand 2010 – Menghancurkan dua fasilitas manufaktur Seagate dan menyebabkan penurunan produksi hard disk global sebesar 29%.
  • Perang Dagang AS-Tiongkok 2018 – Meningkatkan ketidakpastian pasokan, mendorong perusahaan mencari pemasok alternatif.
  • Pandemi COVID-19 – Menyebabkan lonjakan biaya logistik hingga 252% dan gangguan distribusi global.

Dengan menerapkan strategi SCM yang agile dan resilient, perusahaan dapat meminimalkan dampak gangguan dan meningkatkan stabilitas keuangan.

Strategi Meningkatkan Agility dan Resilience dalam SCM

1. Strategi Agility untuk Respons Pasar

  • Peningkatan visibilitas rantai pasok menggunakan teknologi digital dan AI.
  • Diversifikasi pemasok untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu sumber.

2. Strategi Resilience untuk Ketahanan Operasional

  • Buffer stock strategis guna mengantisipasi fluktuasi permintaan.
  • Automasi dan analitik prediktif untuk mengidentifikasi potensi gangguan lebih awal.

3. Optimalisasi Manajemen Risiko

  • Model SCM berbasis AI untuk prediksi dan mitigasi risiko secara proaktif.
  • Penguatan hubungan dengan pemasok utama untuk meningkatkan stabilitas pasokan.

Metrik Keberhasilan Integrasi Agility dan Resilience

Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama untuk menilai efektivitas strategi SCM:

  • Inventory Turnover – Efisiensi dalam mengelola stok barang.
  • Lead Time Variability – Konsistensi dalam waktu pengiriman dan produksi.
  • Financial Growth Rate – Pertumbuhan keuangan akibat implementasi SCM yang efektif.

Kritik dan Evaluasi

Meskipun paper ini memberikan wawasan mendalam, ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki:

  • Kurangnya studi kuantitatif jangka panjang – Analisis berbasis data historis dapat memperkuat temuan penelitian.
  • Fokus terbatas pada sektor manufaktur – Studi lebih lanjut diperlukan untuk sektor jasa dan e-commerce.
  • Minimnya eksplorasi teknologi blockchain – Teknologi ini berpotensi meningkatkan transparansi dan efisiensi rantai pasok.

Kesimpulan

Paper ini menegaskan bahwa integrasi agility dan resilience dalam rantai pasok dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dengan menerapkan strategi yang tepat, bisnis dapat mengurangi dampak gangguan, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempertahankan daya saing di pasar global.

Sumber Artikel: Tufan, C., Çiğdem, Ş., Kılıç, Y., & Sayar, G. (2024). Agility and Resilience in Supply Chains: Investigating Their Roles in Enhancing Financial Performance. Sustainability, 16, 7842.

 

Selengkapnya
Peran Agility dan Resilience dalam Meningkatkan Kinerja Keuangan Rantai Pasok Manufaktur

Rantai Pasok Resilien dan Adaptif

Membangun Rantai Pasok Makanan Segar yang Hijau, Tangguh, Lincah, dan Berkelanjutan di India

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025


Pendahuluan

Paper ini, yang ditulis oleh Mahak Sharma, Rose Antony, dan Konstantinos Tsagarakis, membahas faktor-faktor yang mendukung rantai pasok makanan segar yang hijau (green), tangguh (resilient), lincah (agile), dan berkelanjutan (sustainable) (GRAS). Studi ini meneliti bagaimana interaksi antara faktor-faktor ini dapat menciptakan rantai pasok makanan segar (FFSC) yang lebih kuat dan berkelanjutan di India.

Definisi dan Kerangka Konseptual

Paper ini menguraikan empat pilar utama dalam rantai pasok makanan segar:

  • Green (Hijau) – Mengurangi dampak lingkungan melalui praktik ramah lingkungan.
  • Resilient (Tangguh) – Meningkatkan daya tahan rantai pasok terhadap gangguan.
  • Agile (Lincah) – Memungkinkan respons cepat terhadap perubahan pasar.
  • Sustainable (Berkelanjutan) – Mengoptimalkan sumber daya untuk keberlanjutan jangka panjang.

Keempat elemen ini harus saling terintegrasi untuk menciptakan rantai pasok yang kompetitif dan berdaya tahan.

Studi Kasus: Tantangan dan Dampak Gangguan pada FFSC

Paper ini menganalisis dampak gangguan besar pada rantai pasok makanan segar di India:

  • Pandemi COVID-19 – Gangguan rantai pasok menyebabkan peningkatan biaya logistik hingga 252%.
  • Perubahan Iklim – Cuaca ekstrem mengurangi hasil pertanian hingga 30% di beberapa wilayah.
  • Krisis Keuangan Global – Fluktuasi harga bahan baku menurunkan margin keuntungan petani dan distributor.

Dengan mengadopsi strategi GRAS, perusahaan dapat mengurangi risiko dan meningkatkan efisiensi operasional.

Strategi Implementasi GRAS dalam Rantai Pasok Makanan Segar

1. Strategi Green untuk Efisiensi Lingkungan

  • Penggunaan kemasan ramah lingkungan untuk mengurangi limbah plastik.
  • Optimalisasi transportasi untuk menekan emisi karbon.

2. Strategi Resilient untuk Daya Tahan Rantai Pasok

  • Diversifikasi pemasok guna mengurangi ketergantungan pada satu sumber.
  • Penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan transparansi rantai pasok.

3. Strategi Agile untuk Respons Pasar

  • Pemanfaatan data real-time untuk menyesuaikan pasokan dengan permintaan.
  • Automasi gudang untuk mempercepat distribusi produk segar.

4. Strategi Sustainable untuk Keberlanjutan Jangka Panjang

  • Pelatihan petani dalam teknik pertanian berkelanjutan.
  • Kemitraan dengan organisasi lingkungan untuk meningkatkan tanggung jawab sosial perusahaan.

Metrik Keberhasilan Integrasi GRAS

Paper ini mengidentifikasi beberapa KPI utama untuk menilai efektivitas strategi GRAS:

  • Food Waste Reduction Rate – Persentase pengurangan limbah makanan dalam rantai pasok.
  • Carbon Footprint Reduction – Pengurangan emisi karbon dari operasional rantai pasok.
  • Supply Chain Agility Index – Kecepatan rantai pasok dalam merespons perubahan permintaan.
  • Supplier Reliability Index – Keandalan pemasok dalam memenuhi permintaan secara konsisten.

Kritik dan Evaluasi

Meskipun paper ini memberikan wawasan yang mendalam, ada beberapa aspek yang dapat ditingkatkan:

  • Minimnya studi kuantitatif – Sebagian besar data berasal dari wawancara, bukan model kuantitatif.
  • Fokus terbatas pada India – Perlu studi komparatif dengan negara lain untuk validasi lebih luas.
  • Kurangnya eksplorasi teknologi blockchain – Teknologi ini dapat meningkatkan transparansi rantai pasok.

Kesimpulan

Paper ini menegaskan bahwa integrasi strategi Green, Resilient, Agile, dan Sustainable (GRAS) sangat penting dalam rantai pasok makanan segar. Dengan menerapkan strategi yang tepat, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi dampak lingkungan, dan memperkuat ketahanan rantai pasok.

Sumber Artikel: Sharma, M., Antony, R., & Tsagarakis, K. (2023). Green, Resilient, Agile, and Sustainable Fresh Food Supply Chain Enablers: Evidence from India. Annals of Operations Research.

 

Selengkapnya
Membangun Rantai Pasok Makanan Segar yang Hijau, Tangguh, Lincah, dan Berkelanjutan di India

Rantai Pasok Resilien dan Adaptif

Meningkatkan Resiliensi Rantai Pasok dan Kinerja Operasional UKM di Nairobi

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 13 Maret 2025


Pendahuluan

Paper ini, yang ditulis oleh Martin Muthuri Gitonga dari University of Nairobi, membahas hubungan antara resiliensi rantai pasok dan kinerja operasional pada usaha kecil dan menengah (UKM) manufaktur di Nairobi. Studi ini menyoroti strategi yang diterapkan UKM dalam menghadapi gangguan serta dampaknya terhadap efisiensi operasional.

Definisi dan Kerangka Konseptual

Paper ini mengidentifikasi empat strategi utama dalam meningkatkan resiliensi rantai pasok:

  • Strategi Mitigasi Risiko – Identifikasi risiko dan pengelolaan rantai pasok yang lebih tangguh.
  • Rekayasa Ulang Rantai Pasok – Adaptasi struktur rantai pasok untuk meningkatkan efisiensi.
  • Strategi Lean dan Agile – Reduksi pemborosan dan peningkatan fleksibilitas.
  • Kolaborasi Strategis – Kerja sama dengan pemasok dan mitra bisnis untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok.

Studi Kasus: Gangguan Global dan Dampaknya pada UKM Nairobi

Paper ini menyoroti beberapa gangguan besar yang memengaruhi UKM manufaktur di Nairobi:

  • Pandemi COVID-19 – Mengakibatkan peningkatan biaya logistik hingga 252% dan keterlambatan rantai pasok.
  • Krisis Keuangan 2008 – Penurunan produksi industri 42,3% di sektor transportasi dan 40,3% di industri manufaktur.
  • Ketidakstabilan Politik di Kenya – Menyebabkan fluktuasi harga bahan baku dan ketidakpastian regulasi.

Dengan mengadopsi strategi resiliensi rantai pasok, UKM mampu bertahan dan tetap kompetitif dalam kondisi penuh ketidakpastian.

Strategi Meningkatkan Resiliensi Rantai Pasok

1. Strategi Mitigasi Risiko

  • Penerapan kontrak kinerja untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.
  • Pembuatan risk register guna mengidentifikasi dan mengelola risiko lebih efektif.

2. Rekayasa Ulang Rantai Pasok

  • Outsourcing ke penyedia spesialis untuk menurunkan biaya operasional.
  • Diversifikasi pemasok guna mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan.

3. Strategi Lean dan Agile

  • Optimalisasi kapasitas kendaraan distribusi untuk meningkatkan efisiensi biaya logistik.
  • Pembatasan produk yang tidak menguntungkan untuk menghindari kerugian finansial.

4. Kolaborasi Strategis

  • Komunikasi terbuka dengan pemasok untuk mempercepat respons terhadap perubahan pasar.
  • Kemitraan dengan kompetitor dalam pengelolaan suplai dan harga produk.

Metrik Keberhasilan Strategi Resiliensi

Paper ini menggunakan beberapa KPI utama untuk mengukur efektivitas strategi resiliensi rantai pasok:

  • Inventory Turnover – Seberapa cepat stok diperbarui dalam rantai pasok.
  • Lead Time Variability – Konsistensi waktu pengiriman dan produksi.
  • Customer Satisfaction Index – Tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan rantai pasok.
  • Operational Cost Reduction – Efisiensi biaya operasional setelah penerapan strategi resiliensi.

Kritik dan Evaluasi

Meskipun paper ini memberikan wawasan yang komprehensif, ada beberapa aspek yang dapat diperbaiki:

  • Kurangnya data dari sektor non-manufaktur – Studi ini hanya fokus pada UKM manufaktur.
  • Minimnya eksplorasi teknologi digital – AI dan blockchain dapat berperan lebih besar dalam meningkatkan resiliensi rantai pasok.
  • Studi terbatas pada satu wilayah – Perlu ada perbandingan dengan daerah lain untuk validitas lebih luas.

Kesimpulan

Paper ini menegaskan bahwa strategi resiliensi rantai pasok berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kinerja operasional UKM. Dengan mengadopsi strategi mitigasi risiko, rekayasa ulang rantai pasok, lean-agile, dan kolaborasi strategis, UKM dapat mengurangi risiko, meningkatkan efisiensi, dan mempertahankan daya saing dalam lingkungan bisnis yang dinamis.

Sumber Artikel: Gitonga, M. M. (2021). Supply Chain Resilience and Operational Performance of Manufacturing SMEs in Nairobi County. University of Nairobi.

 

Selengkapnya
Meningkatkan Resiliensi Rantai Pasok dan Kinerja Operasional UKM di Nairobi
« First Previous page 79 of 865 Next Last »