Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025
Mengapa Evaluasi Keamanan Terowongan Utilitas Harus Sepanjang Siklus Hidup?
Dengan percepatan urbanisasi di Tiongkok, terowongan utilitas kota menjadi solusi penting untuk menata jaringan kabel dan pipa secara terintegrasi di bawah tanah. Namun, struktur kompleks ini memiliki potensi risiko tinggi dari tahap perencanaan hingga operasional. Maka, diperlukan metode evaluasi keamanan yang menyeluruh sepanjang seluruh siklus hidup proyek—mulai dari perencanaan, desain, konstruksi, hingga operasional dan pemeliharaan.
Penelitian oleh Sun et al. (2022) menjawab kebutuhan ini dengan membangun model evaluasi keamanan berdasarkan grey clustering dan metode bobot entropi, yang kemudian diuji pada proyek nyata di Zhengzhou, Tiongkok.
Pendekatan: Menggabungkan Teori Siklus Hidup dan Analisis Grey Clustering
Penelitian ini berangkat dari teori whole life cycle yang membagi proyek menjadi empat tahap:
Untuk menilai risiko di setiap tahap, peneliti menetapkan 26 indikator evaluasi keamanan dan menghitung bobot pentingnya masing-masing menggunakan metode entropi, yang mempertimbangkan variasi data secara objektif. Kemudian, penilaian akhir dilakukan menggunakan grey clustering, metode yang cocok untuk data kecil dan tidak pasti.
Studi Kasus: Proyek Terowongan Utilitas Kota di Zhengzhou
Penelitian ini mengkaji proyek terowongan utilitas bawah tanah yang terdiri dari dua kompartemen:
Proyek ini selesai dibangun pada Agustus 2018. Lima pakar konstruksi diminta menilai tingkat keamanan 26 indikator dalam proyek ini berdasarkan skala 0–100.
Hasil: Konstruksi Menjadi Tahap Paling Kritis
Bobot indikator berdasarkan metode entropi menunjukkan bahwa fase konstruksi memiliki kontribusi risiko tertinggi (30%), disusul oleh fase operasi dan pemeliharaan (25%), desain (23%), dan terakhir perencanaan (20%).
Indikator dengan bobot tertinggi:
Kesimpulan awal: proyek ini tergolong "relatif aman", namun tetap ada ruang peningkatan khususnya pada:
Keunggulan Metode Grey Clustering dalam Evaluasi Infrastruktur
Grey clustering unggul dalam:
Fungsi whitening segitiga pusat digunakan untuk menghindari inkonsistensi penilaian, sehingga hasilnya lebih stabil.
Rekomendasi Praktis Berdasarkan Temuan
Nilai Tambah untuk Dunia Nyata
Dalam konteks pengembangan kota pintar, sistem seperti ini bisa menjadi dasar pengambilan keputusan dalam manajemen infrastruktur bawah tanah. Hal ini penting bagi pemangku kebijakan, kontraktor, serta operator infrastruktur untuk menilai keamanan secara objektif, bahkan tanpa data besar atau sistem evaluasi mahal.
Kritik dan Keterbatasan
Penelitian ini hanya mengandalkan lima pakar dan satu proyek sebagai studi kasus, yang membatasi generalisasi hasil. Peneliti merekomendasikan agar model ini diuji pada berbagai lokasi dan melibatkan lebih banyak responden serta pendekatan komparatif dengan metode lain seperti fuzzy AHP atau surrogate models.
Kesimpulan: Evaluasi Keamanan Terowongan yang Menyeluruh & Praktis
Studi ini menunjukkan bahwa pendekatan kombinasi siklus hidup + grey clustering + bobot entropi dapat:
Untuk masa depan pembangunan terowongan utilitas di wilayah urban padat seperti Asia Tenggara dan Timur Tengah, model ini layak dijadikan rujukan awal dalam sistem perencanaan dan pengelolaan infrastruktur bawah tanah.
Sumber Artikel : Shaonan Sun, Congyu Xu, Ailing Wang, Yixin Yang, Mengqi Su. (2022). Safety evaluation of urban underground utility tunnel with the grey clustering method based on the whole life cycle theory. Journal of Asian Architecture and Building Engineering, 21(6), 2532–2544.
Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025
Pendahuluan: Kenapa Perlu Mengukur Risiko Kegagalan Terowongan?
Dalam dunia konstruksi bawah tanah modern, terowongan menjadi salah satu struktur yang paling kompleks dan berisiko tinggi. Paper berjudul Revised Comparison of Tunnel Collapse Frequencies and Tunnel Failure Probabilities karya Spyridis dan Proske (2021) membedah kesenjangan antara perhitungan probabilitas kegagalan terowongan dan data runtuh sebenarnya yang telah diamati secara global.
Fokus utamanya adalah membandingkan nilai probabilitas kegagalan yang dihitung secara teoritis dengan frekuensi keruntuhan nyata. Hasilnya cukup mengejutkan—perhitungan teoritis cenderung berlebihan (konservatif), namun tetap tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Realita di Lapangan: Runtuhnya Terowongan Lebih Sering Terjadi Saat Konstruksi
Dari 321 kasus runtuh yang dikaji, 92% terjadi saat masa konstruksi—naik dari 80% dalam studi sebelumnya. Artinya, meskipun kita sering mendengar keruntuhan saat operasi, faktanya sebagian besar terjadi ketika terowongan masih dibangun. Hanya sekitar 8% dari total keruntuhan terjadi saat terowongan sudah beroperasi.
Jumlah Terowongan Dunia dan Perkembangannya
Pertumbuhan ini juga didorong oleh proyek infrastruktur besar seperti Belt and Road Initiative dan pengembangan sistem metro di kota besar Asia.
Penyebab Dominan Runtuhnya Terowongan
Penelitian mengungkap bahwa faktor penyebab utama keruntuhan adalah kegagalan saat penggalian atau pendukung awal, bukan bencana alam seperti gempa atau banjir.
Beberapa penyebab lainnya termasuk:
Meskipun kebakaran menjadi sorotan besar di beberapa dekade terakhir, insiden ini hanya menyumbang sebagian kecil dari total runtuh.
Studi Kasus: Ledakan Statistik di Tahun 2000-an
Puncak runtuhnya terowongan tercatat terjadi antara 1994–2003 dengan insiden besar seperti:
Sebagai respons, pada tahun 2003 diterbitkan Joint Code of Practice for Risk Management of Tunnel Works oleh British Tunneling Society, yang menjadi standar internasional untuk mitigasi risiko.
Gap Besar antara Probabilitas yang Dihitung dan Fakta Lapangan
Penelitian ini membandingkan 31 perhitungan probabilitas kegagalan dengan frekuensi runtuh sebenarnya. Hasilnya:
Artinya, perhitungan cenderung terlalu konservatif. Tapi sekaligus menunjukkan bahwa banyak perhitungan belum mampu menangkap faktor risiko dunia nyata secara akurat.
Tingkat Kegagalan Berdasarkan Jenis Terowongan (Data 1999–2004):
Nilai ini setara dengan kemungkinan runtuh sekitar 1 kali setiap 77–111 tahun per km, tergantung jenisnya. Namun kembali lagi, nilai ini hanya batas bawah karena tidak semua kasus dilaporkan ke publik.
Masalah Validitas dan Underreporting
Banyak runtuhnya terowongan tidak dilaporkan oleh kontraktor maupun pemilik proyek. Di samping itu, tidak ada standar internasional dalam pelaporan jenis kerusakan, sehingga perbandingan menjadi sulit.
Selain itu, perhitungan teoritis dari berbagai literatur juga bervariasi hingga enam urutan magnitudo, menunjukkan bahwa metode dan asumsi input sangat mempengaruhi hasil.
Pentingnya Klasifikasi dan Desain Spesifik Terowongan
Tidak seperti jembatan atau bendungan, terowongan memiliki variasi besar dalam bentuk, metode konstruksi, dan kondisi geologi. Hal ini membuat estimasi kegagalan jadi lebih sulit.
Faktor-faktor pembeda utama:
Dengan demikian, standar keamanan dan estimasi risiko harus disesuaikan berdasarkan jenis dan lokasi proyek.
Kritik Terhadap Praktik Perhitungan Konvensional
Para penulis berargumen bahwa perlu ada pembaruan sistem target probabilitas kegagalan, terutama untuk masa konstruksi yang lebih berisiko.
Penyesuaian nilai target diperlukan agar desain lebih efisien tanpa mengorbankan keselamatan, khususnya di negara berkembang yang mengandalkan standar dari negara maju tanpa menyesuaikan kondisi lokal.
Kesimpulan dan Rekomendasi Praktis
Sumber Artikel : Spyridis, P., & Proske, D. (2021). Revised Comparison of Tunnel Collapse Frequencies and Tunnel Failure Probabilities. ASCE-ASME Journal of Risk and Uncertainty in Engineering Systems, Part A: Civil Engineering, 7(2), 04021004.
Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025
Pendahuluan: Tantangan Konstruksi Terowongan di Tanah Lemah dan Basah
Dalam proyek pembangunan infrastruktur berskala besar seperti rel kereta api atau jalan bawah tanah, tantangan geoteknik menjadi isu utama, terutama ketika konstruksi harus dilakukan pada lapisan tanah pasir yang lemah dan kaya air. Kondisi geologi seperti ini menyebabkan kestabilan batuan sekeliling menjadi sangat rendah, sehingga menimbulkan risiko deformasi besar, keruntuhan tanah, dan aliran air berlebih yang sulit dikendalikan. Paper ilmiah berjudul Study of the Stability of Tunnel Construction Based on Double-Heading Advance Construction Method oleh Song et al. (2020) membahas pendekatan inovatif untuk mengatasi tantangan tersebut dengan mengusulkan metode konstruksi baru yang disebut double-heading advance construction method.
Latar Belakang dan Studi Kasus: Terowongan Taoshuping
Sebagai konteks rekayasa, penelitian ini mengambil proyek Terowongan Taoshuping di Tiongkok, yang memiliki panjang 3220 meter dengan luas penampang hingga 180 m²—salah satu terowongan dengan penampang besar yang menembus lapisan pasir berair dengan semen lemah. Proyek ini mengalami kendala seperti air tanah melimpah (hingga 1000 m³ per hari), kestabilan batuan rendah (kelas VI), dan deformasi signifikan setelah penggalian.
Masalah Umum pada Konstruksi Terowongan di Tanah Lemah
Solusi: Metode Double-Heading Advance
Metode ini mengombinasikan kelebihan dari CRD (Cross Diaphragm), double-side drift, dan metode tujuh-langkah tiga-bench, namun mengatasi kelemahan dari tiap metode tradisional.
Langkah-langkah utama:
Temuan Utama: Simulasi Numerik dan Monitoring Lapangan
Dengan bantuan software MIDAS GTS NX dan data monitoring di lapangan, tim peneliti menemukan bahwa:
Optimasi Desain Konstruksi
Validasi Lapangan: Konsistensi Tren dengan Simulasi
Meskipun nilai absolut berbeda (misalnya: simulasi menunjukkan penurunan 37 mm, sementara monitoring menunjukkan 53 mm), tren keduanya konsisten. Ini menandakan bahwa pendekatan simulatif efektif dalam memprediksi perilaku geoteknik nyata.
Studi Monitoring di Lapangan
Keunggulan Strategis Metode Double-Heading
Kritik dan Pertimbangan Ekonomis
Meski metode ini lebih mahal dan lambat, ia menghindari biaya tak terduga akibat rework, keterlambatan proyek, atau kecelakaan kerja. Dalam konteks proyek bernilai miliaran rupiah atau USD, stabilitas dan keamanan menjadi prioritas utama dibanding efisiensi waktu.
Kesimpulan dan Implikasi Industri
Metode double-heading advance memberikan solusi inovatif dan terbukti efektif untuk pembangunan terowongan di medan sulit. Dalam proyek seperti MRT bawah tanah, rel antarkota, atau proyek trans-nasional seperti Belt and Road Initiative, pendekatan ini menawarkan kestabilan jangka panjang dan pengurangan risiko geoteknik yang signifikan.
Rekomendasi praktis:
Sumber Artikel: Song, Z., Shi, G., Zhao, B., Zhao, K., & Wang, J. (2020). Study of the stability of tunnel construction based on double-heading advance construction method. Advances in Mechanical Engineering, 12(1), 1–17. DOI: 10.1177/1687814019896964.
Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025
Mengapa Akurasi Data Terowongan 3D Itu Penting?
Dalam dunia infrastruktur bawah tanah, khususnya terowongan kereta dan metro, presisi dalam pengukuran struktur menjadi krusial untuk pemeliharaan dan keselamatan operasional. Namun, banyak lokasi seperti subway atau terowongan pegunungan tidak memiliki sinyal GPS, membuat pengukuran 3D jadi menantang.
Untuk menjawab tantangan ini, Han, Sun, dan Zhong (2021) memperkenalkan metode baru dalam artikel ilmiahnya: pemulihan linier tiga dimensi berdasarkan garis tengah rel dan pemindaian laser mobile tanpa kendali GPS.
Permasalahan: Akurasi Tinggi dalam Ruang Terbatas
Tiga tantangan besar dalam pengukuran terowongan saat ini adalah:
Solusi: Metode Restorasi Linier 3D Tanpa Navigasi Terintegrasi
Peneliti mengembangkan metode berbasis:
Kelebihan utama metode ini adalah menghindari kebutuhan akan sistem navigasi terintegrasi mahal seperti GPS-IMU, menjadikannya cocok untuk proyek urban berbiaya menengah.
Studi Kasus: Terowongan Metro Shenzhen
Metode diuji menggunakan:
Pengukuran dilakukan pada beberapa target referensi yang telah diukur ulang menggunakan total station untuk memvalidasi hasil point cloud.
Hasil Akurasi: Deformasi dan Deviasi Terkontrol
Hasil verifikasi menunjukkan bahwa:
Keunggulan Dibanding Metode Sebelumnya
Metode lama bergantung pada:
Sebaliknya, metode baru ini:
Mekanisme Perhitungan yang Diterapkan
1. Translasi:
Menggunakan interpolasi spline dari titik tengah jalur yang diukur, kemudian dibandingkan dengan pusat relatif scanner untuk menghitung pergeseran X, Y, dan Z.
2. Rotasi:
Dihitung berdasarkan:
Setelah parameter translasi dan rotasi dihitung, data point cloud pada sistem lokal dapat dipetakan ke sistem koordinat absolut.
Penerapan dan Implikasi Nyata
Di proyek kereta berat di Tiongkok, metode ini digunakan untuk modeling digital sebagai bagian dari manajemen terowongan berbasis BIM dan GIS.
Metode ini juga diuji terhadap data airborne radar dan navigasi terintegrasi. Hasilnya setara, meskipun biaya dan prosesnya jauh lebih efisien.
Kelebihan Tambahan untuk Digitalisasi Infrastruktur
Metode ini sangat berguna dalam:
Kritik dan Arah Penelitian Lanjutan
Meskipun hasilnya menjanjikan, akurasi metode ini masih pada tingkat sentimeter. Untuk aplikasi seperti pengawasan deformasi mikro atau stabilitas lintasan dalam jangka panjang, dibutuhkan integrasi metode ini dengan sensor tambahan atau algoritma SLAM yang diperbarui.
Penelitian lanjutan akan fokus pada:
Kesimpulan
Metode pemulihan linier 3D berbasis data pengukuran jalur dan pemindaian laser ini:
Sumber : Han, Yulong; Sun, Haili; Zhong, Ruofei. (2021). Three-Dimensional Linear Restoration of a Tunnel Based on Measured Track and Uncontrolled Mobile Laser Scanning. Sensors, 21(11), 3815.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Mei 2025
Pengantar: Mengapa K3 Masih Menjadi Isu Serius?
Di Indonesia, sektor konstruksi menempati peringkat tinggi dalam hal risiko kecelakaan kerja. Data BPJS Ketenagakerjaan (2020) mencatat lebih dari 155.000 kasus kecelakaan kerja, dan proyek konstruksi menjadi salah satu penyumbang terbesar. Laporan ini menggarisbawahi pentingnya manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), khususnya di daerah berkembang seperti Kota Kendari.
Penelitian yang dilakukan oleh Harlan, Hajia, dan Alimuddin menjadi sangat relevan karena menyoroti tingkat penerapan K3 di lapangan secara sistematis dan terukur. Studi ini tidak hanya memberikan gambaran praktis tentang kondisi di lapangan, tetapi juga menawarkan data konkret yang bisa menjadi landasan pengambilan keputusan.
Tujuan dan Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas penerapan K3 dalam proyek-proyek pembangunan gedung di Kota Kendari. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif-deskriptif dengan teknik survei kepada pelaku proyek (pengawas lapangan dan pelaksana lapangan) serta menggunakan skala Likert untuk menilai tingkat penerapan berbagai indikator K3.
Terdapat lima aspek utama yang diteliti:
Kebijakan dan prosedur K3
Sosialisasi dan pelatihan K3
Penggunaan alat pelindung diri (APD)
Tindakan pencegahan kecelakaan kerja
Peran pengawasan dalam penerapan K3
Temuan Utama: Angka-angka yang Bicara
1. Rata-rata Tingkat Penerapan K3: 78,84% (Kategori Baik)
Angka ini menunjukkan bahwa secara umum, penerapan K3 pada proyek-proyek yang diteliti sudah tergolong baik. Namun, jika dibandingkan dengan standar ideal dalam Permenaker No. 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen K3, skor ini belum sepenuhnya optimal.
2. Penggunaan APD Mencapai 86,86%
Ini menjadi indikator tertinggi dari lima aspek yang dinilai. Temuan ini memperlihatkan bahwa kesadaran pekerja dalam menggunakan APD seperti helm, sepatu boot, dan rompi cukup tinggi. Namun, efektivitas penggunaan belum tentu menjamin perlindungan maksimal jika tidak dibarengi dengan pengawasan dan pelatihan.
3. Pengawasan K3 Masih Lemah: Skor Terendah 70,36%
Kelemahan ini menjadi titik krusial. Tanpa pengawasan yang konsisten dan kompeten, penerapan K3 cenderung bersifat formalitas. Hal ini sejalan dengan studi sebelumnya oleh Ismail et al. (2017), yang menemukan bahwa absennya pengawas K3 bersertifikasi seringkali menjadi penyebab utama kecelakaan di proyek skala kecil dan menengah.
Analisis Mendalam: Apa Arti di Balik Angka?
Meski nilai keseluruhan "baik", kita perlu melihat lebih dalam bahwa angka bukan segalanya. Evaluasi K3 tidak cukup hanya mengandalkan checklist atau dokumentasi. Kultur keselamatan yang tertanam di setiap level organisasi jauh lebih menentukan.
Kenyataannya, skor 70% dalam aspek pengawasan mencerminkan adanya celah struktural. Banyak proyek di daerah seperti Kendari belum memiliki Safety Officer tetap atau pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kerja. Kecelakaan ringan hingga fatal bisa terjadi karena kelalaian kecil, seperti kabel listrik terbuka atau pekerja tidak mengikat sabuk pengaman saat bekerja di ketinggian.
Studi Kasus Nyata: Pelajaran dari Proyek Gedung Pemerintah di Sultra
Pada proyek pembangunan Gedung Dinas di Sulawesi Tenggara tahun 2019, tercatat dua kecelakaan kerja ringan karena kelalaian pemakaian APD dan perancah tidak terikat kuat. Dari investigasi internal, diketahui bahwa tidak ada inspeksi rutin selama dua minggu sebelum kejadian.
Ini menjadi contoh konkret bahwa meski APD tersedia dan prosedur ada, tanpa pelaksanaan disiplin dan inspeksi yang berkelanjutan, risiko tetap tinggi. Temuan ini memperkuat urgensi aspek keempat dan kelima dalam penelitian: tindakan pencegahan dan pengawasan.
Komparasi dengan Penelitian Lain: Seberapa Serius Kita Menerapkan K3?
Jika dibandingkan dengan studi serupa di kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, tingkat penerapan K3 di Kendari masih tertinggal. Misalnya, penelitian oleh Anas et al. (2021) menunjukkan skor penerapan K3 di proyek apartemen Jakarta mencapai 88% dengan pengawasan aktif 24/7 oleh tim HSE.
Namun demikian, pencapaian 78,84% di Kendari tetap patut diapresiasi, mengingat keterbatasan sumber daya, kurangnya tenaga ahli K3, dan budaya kerja yang belum sepenuhnya safety-oriented. Ini menunjukkan bahwa ada kemajuan signifikan, walaupun belum merata.
Rekomendasi Praktis: Langkah Nyata untuk Perbaikan
Berikut beberapa rekomendasi berdasarkan analisis penulis terhadap artikel ini:
Wajibkan Pelatihan Berkala
Setiap proyek konstruksi perlu mewajibkan pelatihan K3 minimal sekali dalam sebulan bagi seluruh pekerja.
Digitalisasi Laporan K3
Pemanfaatan aplikasi inspeksi K3 harian dapat membantu dalam pemantauan real-time dan meminimalkan human error.
Integrasi K3 dalam SOP Proyek
Prosedur K3 harus dijadikan bagian dari standar operasi, bukan dokumen pelengkap.
Penerapan Sistem Reward & Punishment
Pekerja yang patuh diberi insentif, sementara pelanggaran K3 harus mendapat teguran tegas hingga pemberhentian.
Kolaborasi dengan BPJS & Disnaker
Penguatan kerja sama dengan lembaga formal penting untuk audit eksternal dan peningkatan kualitas SDM.
Implikasi Industri: Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Investasi
Dalam konteks industri konstruksi nasional, K3 seharusnya tidak dipandang sebagai beban administratif. Justru, ini adalah investasi jangka panjang yang berdampak langsung pada produktivitas dan reputasi perusahaan.
Perusahaan-perusahaan global seperti Samsung C&T dan Hyundai E&C bahkan menjadikan K3 sebagai tolok ukur utama dalam pemilihan subkontraktor. Artinya, kepatuhan terhadap standar keselamatan bukan lagi sekadar norma, tetapi kebutuhan pasar.
Penutup: Membangun Budaya Selamat
Penelitian ini memberikan gambaran objektif tentang bagaimana penerapan K3 di Kota Kendari masih perlu ditingkatkan, terutama dalam aspek pengawasan dan tindakan preventif. Kunci utama bukan hanya tersedianya perangkat dan regulasi, tetapi bagaimana seluruh pemangku kepentingan—dari manajemen hingga tukang bangunan—menjadikan keselamatan sebagai budaya kerja.
Keselamatan kerja bukan pilihan, tetapi kewajiban moral dan profesional.
Sumber
Harlan, Muh. Chaiddir Hajia, & Alimuddin. (2021). Evaluasi Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Proyek Pembangunan Gedung di Kota Kendari. Jurnal Ilmiah Media Engineering, 7(2), 142-149. DOI: https://doi.org/10.33772/jime.v7i2.1585
Pembuatan Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 06 Mei 2025
Pendahuluan: Pentingnya Analisis Pembukaan Cross-Passage pada Terowongan TBM
Dalam konstruksi terowongan menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM), pembukaan cross-passage-jalur penghubung antara terowongan utama-merupakan tahap kritis yang menuntut perhatian khusus pada stabilitas struktur. Saat segmen precast lining dibuka untuk membuat cross-passage, terjadi redistribusi tegangan yang dapat mengancam integritas terowongan jika tidak ditangani dengan benar. Studi ini mengkaji dua metode analisis yang banyak digunakan untuk mengevaluasi beban dan tegangan pada lining terowongan: 3D Finite Difference Method (FDM) dan 3D Shell-Spring Model (SSM).
Latar Belakang dan Tujuan Penelitian
Pembukaan cross-passage menyebabkan gangguan pada kontinuitas cincin segmen lining, sehingga gaya-gaya dalam struktur berubah dan perlu dianalisis secara akurat untuk memastikan keamanan. Metode FDM dan SSM memiliki pendekatan berbeda:
Penelitian bertujuan membandingkan efektivitas kedua metode ini dalam memprediksi gaya-gaya pada lining saat pembukaan cross-passage, serta menguji desain sistem penyangga sementara yang diperlukan.
Metodologi: Pendekatan Model dan Studi Kasus
Penulis menggunakan perangkat lunak FLAC3D untuk simulasi FDM dan SAP2000 untuk model SSM. Studi kasus yang dianalisis adalah pembukaan cross-passage antara dua terowongan bored tunnel dengan lining segmen precast.
Temuan Utama dan Analisis Data
Keselarasan Hasil Sebelum Pembukaan Cross-Passage
Perbedaan Setelah Pembukaan Cross-Passage
Pengaruh Sambungan Antar Segmen dan Cincin
Efektivitas Sistem Penyangga Baja Sementara
Studi Kasus: Data Kuantitatif Penting
Opini dan Perbandingan dengan Penelitian Lain
Penelitian ini menegaskan bahwa model shell-spring yang lebih sederhana dapat digunakan untuk analisis awal dan desain sistem penyangga, terutama untuk mempercepat proses desain tanpa mengorbankan akurasi signifikan. Namun, untuk analisis mendalam dan validasi akhir, terutama pada area kritis seperti pembukaan cross-passage, metode finite difference 3D tetap lebih unggul karena mampu menangkap distribusi tegangan yang kompleks dan efek interaksi tanah-struktur lebih detail.
Dibandingkan dengan studi lain yang menggunakan metode elemen hingga penuh, pendekatan ini menawarkan keseimbangan antara akurasi dan efisiensi komputasi. Hal ini sangat relevan dalam proyek besar yang membutuhkan simulasi cepat namun tetap akurat.
Relevansi dengan Tren Industri dan Pembelajaran
Dalam industri konstruksi terowongan modern, penggunaan metode numerik yang efisien dan akurat sangat penting untuk mengurangi risiko kegagalan struktur dan meningkatkan keselamatan. Studi ini memberikan wawasan praktis bagi insinyur dan mahasiswa teknik sipil mengenai:
Kesimpulan
Penelitian ini membuktikan bahwa 3D shell-spring model adalah alat yang efisien dan cukup akurat untuk analisis struktur lining terowongan tanpa pembukaan, serta untuk desain penyangga sementara. Namun, untuk kondisi setelah pembukaan cross-passage yang menimbulkan redistribusi tegangan kompleks, 3D finite difference method memberikan hasil yang lebih akurat dan detail. Kombinasi kedua metode ini dapat digunakan secara strategis untuk optimasi desain dan pelaksanaan konstruksi terowongan TBM dengan cross-passage.
Sumber : Hosameldin Khogali Suliman Hag Hamid (2023), Design and analysis of tunnel cross-passage opening: 3D finite difference analysis vs 3D shell-spring approach, Master of Science Thesis, Politecnico di Milano.