Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek krusial dalam manajemen perusahaan modern. Paper berjudul “Boards of Directors’ Influences on Occupational Health and Safety: A Scoping Review of Evidence and Best Practices” oleh David Ebbevi, Ulrica Von Thiele Schwarz, Henna Hasson, Carl Johan Sundberg, dan Mandus Frykman mengulas bagaimana peran dewan direksi mempengaruhi implementasi dan efektivitas K3 di perusahaan. Artikel ini menyoroti kesenjangan penelitian terkait keterlibatan dewan direksi dalam strategi dan kebijakan K3 serta dampaknya terhadap kesejahteraan karyawan.
Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis (scoping review) yang menggunakan sumber dari berbagai database akademik seperti PubMed, EMBASE, Web of Science, dan lain-lain. Dari 49 studi yang disaring, mayoritas berisi data empiris (57%), sementara sisanya bersifat normatif atau teoretis.
Beberapa poin penting yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain:
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor utama yang mempengaruhi efektivitas peran dewan direksi dalam K3:
Hasil penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi industri dalam meningkatkan efektivitas kebijakan K3, antara lain:
Penelitian ini menyoroti pentingnya peran dewan direksi dalam memastikan keberhasilan implementasi K3 di perusahaan. Dengan strategi yang lebih proaktif, peningkatan kompetensi, serta sistem pelaporan yang lebih baik, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif.
Untuk penelitian selanjutnya, direkomendasikan eksplorasi lebih lanjut mengenai efektivitas berbagai model kepemimpinan dewan direksi dalam implementasi K3 serta bagaimana kebijakan yang berbasis bukti dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Sumber Artikel:
Ebbevi, D., Von Thiele Schwarz, U., Hasson, H., Sundberg, C. J., & Frykman, M. (2021). Boards of Directors’ Influences on Occupational Health and Safety: A Scoping Review of Evidence and Best Practices. International Journal of Workplace Health Management, 14(1), 64-86.
Safety
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025
Keselamatan industri merupakan salah satu aspek yang sangat krusial dalam dunia kerja. Dalam paper berjudul “A Factorial Analysis of Industrial Safety” oleh Cordelia Ochuole Omoyi dan Samuel Ayodeji Omotehinse, dibahas bagaimana berbagai faktor berkontribusi terhadap keselamatan kerja di sektor industri. Paper ini menggunakan metode statistik seperti Principal Component Analysis (PCA) dan Kendall’s Coefficient of Concordance (KCC) untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mempengaruhi keselamatan kerja.
Untuk memahami variabel yang berkontribusi terhadap kecelakaan industri dan mengklasifikasikannya berdasarkan standar Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan (Health, Safety, and Environment - HSE). Metode penelitian yang digunakan meliputi:
Studi ini dilakukan dengan melibatkan 13 panel ahli yang diminta untuk memberi peringkat pada 32 variabel bahaya industri berdasarkan skala Likert 5 poin. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak StatistiXL untuk menentukan faktor dominan yang berpengaruh terhadap keselamatan industri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada lima faktor utama yang mempengaruhi keselamatan kerja:
Hasil dari metode KCC menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan oleh panel ahli memiliki indeks kesepakatan tinggi (W = 0,958), yang berarti terdapat konsistensi tinggi dalam penilaian faktor risiko keselamatan kerja.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keselamatan industri bukan hanya bergantung pada aturan formal, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya kerja dan persepsi keselamatan pekerja. Beberapa implikasi dari temuan ini adalah:
Keselamatan kerja dapat dikategorikan dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik. Hasil penelitian menyoroti lima faktor utama yang mempengaruhi keselamatan kerja di industri dan bagaimana manajemen yang tepat dapat membantu mengurangi insiden kecelakaan.
Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar metode serupa diterapkan pada berbagai sektor industri lainnya guna memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai faktor-faktor keselamatan kerja.
Sumber Artikel:
Omoyi, C.O. & Omotehinse, S.A. (2022). A Factorial Analysis of Industrial Safety. International Journal of Engineering and Innovative Research, 4(1), 33-43.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor kunci dalam operasional institusi, terutama dalam administrasi provinsi khusus yang bertanggung jawab atas layanan publik. Paper berjudul “Root Cause Model Proposal for Human-Related Risks in Occupational Health and Safety Practices of Special Provincial Administrations” oleh Mustafa Erdem dan Alpaslan H. Kuzucuoğlu mengkaji faktor-faktor penyebab risiko berbasis manusia dalam praktik K3 di administrasi provinsi khusus di Turki.
Artikel ini menyoroti bagaimana faktor manusia berkontribusi terhadap kecelakaan kerja dan mengusulkan model akar penyebab untuk mengurangi insiden terkait K3. Studi ini berfokus pada peran pelatihan, kesadaran keselamatan, serta kepatuhan terhadap peraturan dalam meningkatkan kondisi kerja.
Penelitian ini dilakukan pada 372 pekerja dari total populasi 11.463 karyawan yang bekerja di administrasi provinsi khusus di Turki. Data dikumpulkan melalui survei dan dianalisis menggunakan SPSS 22.00 dengan metode uji t independen dan uji varians satu arah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor utama penyebab kecelakaan kerja meliputi:
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa 29% responden pernah mengalami kecelakaan kerja, sementara 39,2% mengalami kejadian nyaris celaka. Selain itu, data menunjukkan:
Penelitian ini menekankan bahwa sebagian besar kecelakaan kerja dapat dicegah dengan meningkatkan kesadaran keselamatan dan memperbaiki sistem manajemen risiko.
Hasil studi ini memiliki beberapa implikasi penting:
Wawasan mendalam mengenai faktor-faktor manusia dalam risiko K3 dan bagaimana model akar penyebab dapat membantu mengurangi insiden di lingkungan kerja administrasi provinsi khusus. Penerapan strategi seperti pelatihan berbasis teknologi dan peningkatan kesadaran keselamatan dapat memberikan dampak positif dalam jangka panjang.
Untuk penelitian selanjutnya, disarankan eksplorasi lebih lanjut mengenai efektivitas penerapan teknologi digital dalam meningkatkan kepatuhan pekerja dan menekan risiko kecelakaan kerja.
Sumber Artikel:
Erdem, M. & Kuzucuoğlu, A. H. (2023). Root Cause Model Proposal for Human-Related Risks in Occupational Health and Safety Practices of Special Provincial Administrations. Tr. J. Nature Sci., 12(4), 93-106.
Manajemen Risiko
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan tantangan utama bagi perusahaan, terutama dalam manajemen risiko pekerjaan. Paper berjudul “Occupational Risk Management in OHS Based on Risk Assessment and Control” oleh Aleksandra Kuzior dan Grzegorz Kopij membahas pentingnya penilaian risiko yang akurat untuk mengurangi kecelakaan kerja dan meningkatkan produktivitas.
Dalam dunia industri yang terus berkembang, penerapan sistem K3 yang efektif dapat berdampak signifikan terhadap kesejahteraan pekerja dan profitabilitas perusahaan. Paper ini menyoroti bagaimana banyak perusahaan masih mengabaikan hubungan antara penilaian risiko yang buruk dengan meningkatnya absensi pekerja dan biaya kecelakaan kerja.
Metode yang digunakan dalam mengelola risiko kerja melalui pendekatan yang sistematis. Tiga aspek utama yang dibahas dalam penelitian ini meliputi:
Paper ini menyoroti bahwa perusahaan yang menerapkan penilaian risiko yang sistematis dapat mengurangi tingkat kecelakaan kerja, menurunkan biaya kompensasi tenaga kerja, serta meningkatkan efisiensi produksi secara keseluruhan.
Beberapa temuan penting dalam penelitian ini meliputi:
Pendekatan proaktif dalam manajemen risiko K3 dapat memberikan manfaat besar bagi perusahaan, antara lain:
Pentingnya integrasi sistem manajemen risiko dalam operasi perusahaan untuk mengurangi kecelakaan kerja dan meningkatkan efisiensi. Dengan menerapkan strategi pengendalian risiko yang tepat, perusahaan dapat mengurangi biaya, meningkatkan keselamatan, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif.
Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar dilakukan analisis lebih lanjut mengenai efektivitas teknologi digital dalam mempermudah manajemen risiko dan meningkatkan kepatuhan pekerja terhadap standar K3.
Sumber Artikel:
Kuzior, A. & Kopij, G. (2024). Occupational Risk Management in OHS Based on Risk Assessment and Control. System Safety: Human - Technical Facility - Environment, 6(1).
Industri Furnitur
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 15 Mei 2025
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek krusial dalam dunia industri, termasuk industri furnitur yang melibatkan berbagai risiko kecelakaan kerja. Paper "The Effect of Occupational Safety and Health on Employee Productivity in Furniture Industry" oleh Niki Etruly dan Roikhanatun Nafi'ah mengkaji pengaruh K3 terhadap produktivitas karyawan. Penelitian ini menarik karena menyoroti faktor yang paling memengaruhi produktivitas karyawan dan memberikan wawasan mengenai efektivitas kebijakan K3 dalam industri manufaktur.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas karyawan di industri furnitur. Studi ini dilakukan dengan metode survei terhadap 50 karyawan dengan menggunakan skala Likert untuk mengukur variabel K3 dan produktivitas kerja. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan software SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel keselamatan kerja tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas, sementara variabel kesehatan kerja memiliki dampak yang signifikan. Secara simultan, kedua variabel ini memiliki hubungan dengan produktivitas karyawan, meskipun pengaruh kesehatan kerja lebih dominan.
Penelitian ini memberikan sejumlah data penting yang menunjukkan hubungan antara K3 dan produktivitas:
Data ini menunjukkan bahwa meskipun keselamatan kerja penting, faktor kesehatan kerja lebih berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas karyawan di industri furnitur.
Analisis dan Implikasi dalam Industri
Hasil penelitian ini menantang asumsi umum bahwa keselamatan kerja secara langsung meningkatkan produktivitas. Dalam industri furnitur, risiko kecelakaan berasal dari penggunaan alat berat, material berbahaya, dan kondisi lingkungan kerja yang tidak selalu kondusif. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa memastikan kondisi kesehatan karyawan, seperti penyediaan fasilitas medis dan lingkungan kerja yang nyaman, lebih berdampak pada produktivitas daripada hanya fokus pada aspek keselamatan.
Hal ini memiliki beberapa implikasi penting bagi manajemen industri:
Dalam era industri 4.0 dan meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan pekerja, hasil penelitian ini sangat relevan. Banyak perusahaan mulai mengadopsi pendekatan holistik dalam manajemen sumber daya manusia, yang tidak hanya menekankan keselamatan tetapi juga kesejahteraan fisik dan mental pekerja.
Beberapa tren terkait yang dapat dikaitkan dengan penelitian ini adalah:
Kesimpulan dan Rekomendasi
Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana kesehatan kerja lebih berdampak pada produktivitas dibandingkan keselamatan kerja dalam industri furnitur. Temuan ini menyoroti pentingnya investasi dalam fasilitas kesehatan dan lingkungan kerja yang lebih baik guna meningkatkan kinerja karyawan.
Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengeksplorasi variabel lain seperti kepemimpinan, budaya perusahaan, dan insentif karyawan guna mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas.
Sumber Artikel: Etruly, N., & Nafi’ah, R. (2023). The effect of occupational safety and health on employee productivity in furniture industry. Management and Business Review, 7(2), 184-193.
Arsitektur & Desain Tradisional
Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 15 Mei 2025
Pendahuluan
Kampung Kauman di Yogyakarta dikenal bukan hanya sebagai pusat pergerakan Islam, tetapi juga sebagai kawasan hunian yang merepresentasikan identitas arsitektur tradisional urban Jawa dengan nuansa religius. Rumah-rumah di kampung ini menyimpan narasi sejarah, keagamaan, dan budaya yang terwujud dalam bentuk ruang, tata letak, dan orientasi bangunan.
Dalam paper ini, I Gede Wira Dharma menyajikan studi mendalam mengenai bagaimana karakteristik ruang pada rumah tinggal di Kauman tidak hanya dibentuk oleh kebutuhan fungsional, namun juga nilai-nilai keislaman, adat Jawa, dan interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan arsitektural dan sosiokultural, yang memperkaya wacana tentang pelestarian kawasan historis urban.
Metode dan Pendekatan
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan studi kasus terhadap beberapa rumah tinggal yang masih mempertahankan struktur tradisional di Kauman. Data dikumpulkan lewat observasi langsung, wawancara dengan penghuni rumah, serta dokumentasi visual dan denah rumah. Penekanan diberikan pada:
Tata ruang rumah dan orientasi bangunan.
Hubungan antar ruang (privat, semi privat, dan publik).
Makna simbolik dari penempatan ruang dan elemen arsitektural.
Dampak nilai-nilai Islam terhadap pengorganisasian ruang.
Metode ini sangat relevan karena rumah tradisional bukan sekadar entitas fisik, melainkan juga manifestasi nilai dan ideologi yang hidup dalam keseharian penghuninya.
Temuan Kunci
1. Pola Tata Ruang Tradisional Jawa-Islami
Rumah di Kauman secara umum mengadopsi pola rumah Jawa dengan penyesuaian nilai-nilai Islam. Pembagian ruang terdiri dari:
Pendopo (ruang publik/tamu),
Pringgitan (ruang transisi atau seremonial),
Dalem (ruang keluarga atau privat),
Gandok (ruang tambahan untuk anggota keluarga),
serta Senthong (ruang tidur dan penyimpanan benda-benda sakral).
Namun, dalam konteks Kauman, orientasi rumah banyak menghadap ke arah barat sebagai bentuk penghormatan terhadap arah kiblat, berbeda dengan rumah Jawa pada umumnya yang mengikuti arah mata angin secara ketat.
2. Fungsi Ganda: Religius dan Sosial
Ruang tidak hanya digunakan untuk kegiatan domestik, tetapi juga mengakomodasi pengajian, tadarus, hingga diskusi keagamaan, mencerminkan fungsi sosial dan religius dari ruang. Ini menandakan bahwa rumah adalah bagian dari jaringan sosial dan ideologis masyarakat Kauman, bukan sekadar tempat tinggal.
Contoh konkrit: banyak rumah yang memiliki ruang semi-terbuka untuk menerima tamu laki-laki, sementara ruang perempuan berada di area yang lebih privat. Ini adalah bentuk penerapan nilai segregasi gender dalam arsitektur domestik Islam.
3. Transisi Ruang: Publik ke Privat
Transisi ruang dalam rumah Kauman sangat jelas dan bertingkat. Pendopo sebagai area terbuka untuk umum, sementara ruang dalam lebih bersifat eksklusif. Hal ini menunjukkan adanya hierarki ruang yang menghormati privasi dan etika bertamu. Dalam wawancara, penghuni menyebutkan bahwa ruang depan adalah ‘panggung’ sosial yang mencerminkan citra keluarga.
Analisis Tambahan
Konservasi vs. Modernisasi
Salah satu tantangan yang diangkat oleh penulis, meski secara implisit, adalah tekanan modernisasi yang membuat banyak rumah kehilangan elemen tradisionalnya. Banyak rumah telah mengalami renovasi dengan material modern seperti keramik atau atap genteng pabrikan, yang mengubah estetika dan karakter asli rumah.
Namun, studi ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai dasar—seperti orientasi kiblat, pembagian ruang gender, dan penghormatan terhadap tamu—tetap bertahan meski wujud fisiknya berubah. Hal ini menjadi titik penting dalam wacana konservasi: bahwa pelestarian nilai bisa lebih penting daripada pelestarian bentuk.
Contoh Perbandingan
Menarik jika dibandingkan dengan rumah adat lain seperti Rumah Betawi, yang memiliki teras depan sebagai ruang sosial. Dalam Kauman, fungsi serupa diambil oleh pendopo, namun dengan struktur sosial dan tata nilai yang berbeda. Di Betawi, keterbukaan adalah simbol keramahan, sementara di Kauman, keterbukaan tetap dibatasi oleh norma keislaman.
Implikasi Praktis dan Rekomendasi
1. Perencanaan Kawasan Berbasis Nilai Budaya
Hasil studi ini penting bagi perencana kota dan arsitek dalam menata kawasan historis urban seperti Kauman. Desain yang tidak memahami nilai lokal bisa menimbulkan alienasi dan merusak kohesi sosial. Dengan mempertimbangkan karakteristik ruang tradisional, kita bisa merancang kawasan hunian yang lebih inklusif dan bermakna.
2. Edukasi Masyarakat dan Pemerintah
Penting adanya sosialisasi tentang nilai arsitektur lokal kepada masyarakat dan pemangku kebijakan. Pelestarian tidak harus menolak modernitas, tetapi perlu proses mediasi dan kompromi. Misalnya, penggunaan material baru bisa diimbangi dengan tetap mempertahankan pola ruang dan nilai-nilai dasar.
Kritik dan Nilai Tambah
Meski penelitian ini sangat kaya dalam konteks spasial dan nilai budaya, akan lebih lengkap jika:
Disertakan peta persebaran rumah yang diteliti untuk memahami skala ruang dan pola permukiman secara menyeluruh.
Analisis lebih lanjut mengenai perubahan fungsi ruang dalam konteks ekonomi, misalnya rumah yang kini dijadikan homestay atau tempat usaha.
Adanya perbandingan dengan kampung urban religius lain seperti Kauman di Solo atau kampung pesantren di Jawa Timur.
Kesimpulan
Penelitian ini mengajarkan bahwa rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga cerminan nilai, kepercayaan, dan sejarah. Di Kampung Kauman, struktur rumah tidak dibentuk oleh arsitek profesional, melainkan oleh pengalaman kolektif, adat, dan ajaran agama yang berurat dalam kehidupan masyarakatnya.
Studi ini sangat relevan dalam konteks arsitektur kontemporer yang seringkali mengabaikan akar budaya dan lokalitas. Di tengah arus globalisasi, rumah-rumah Kauman mengingatkan kita bahwa arsitektur harus berpijak pada manusia, bukan sekadar bentuk.
Sumber
Wira Dharma, I Gede. (2015). Studi Karakteristik Ruang pada Bangunan Rumah Tinggal di Kampung Kauman Yogyakarta. Jurnal Arsitektur NALARs Vol. 14 No. 2. Universitas Diponegoro