Kebijakan Infrastruktur Air
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Juni 2025
Sistem Air Perkotaan Cerdas: Tantangan dan Solusi dari Perspektif Sosial-Teknis
Urbanisasi, perubahan iklim, dan infrastruktur tua mendorong kebutuhan mendesak akan sistem air perkotaan yang lebih cerdas. Namun, adopsi teknologi digital seperti sensor, transfer data real-time, dan kontrol otomatis tidak cukup untuk menjadikan sistem air benar-benar ‘smart’. Studi doktoral Liliane Manny dari ETH Zurich (2022) menegaskan bahwa pengembangan sistem air cerdas harus dilihat dari perspektif sosial-teknis — yaitu integrasi antara inovasi teknologi dan adaptasi sosial.
Konteks: Mengapa Sistem Air Perlu Menjadi Cerdas?
Dalam sistem air konvensional, limpasan air hujan ekstrem menyebabkan combined sewer overflow (CSO), mencemari sungai dan danau. Dengan teknologi pemantauan real-time, sistem bisa mengatur aliran secara dinamis untuk mengurangi polusi, menghindari investasi besar, dan menggunakan infrastruktur eksisting secara optimal.
Namun faktanya, jumlah sistem air cerdas di dunia masih minim. Hambatannya bukan hanya teknologi, tetapi rendahnya kapasitas organisasi, fragmentasi kelembagaan, dan akses data yang tidak merata.
Studi Kasus: Tantangan Sistem Air Cerdas di Swiss
Penelitian ini berfokus pada tiga studi kasus di Swiss, mengevaluasi dinamika sosial-teknis yang menghambat kemajuan sistem air cerdas. Data dikumpulkan dari:
Temuan Utama:
Kerangka Analisis: Socio-Technical Network (STN)
Untuk memahami tantangan ini, Manny mengembangkan kerangka STN (jaringan sosial-teknis). Pendekatan ini memetakan:
Analisis STN menghasilkan:
Model Statistik: Exponential Random Graph Models (ERGMs)
Untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat, Manny menggunakan ERGMs, model statistik yang mengukur:
Hasilnya, relasi antar manusia sangat dipengaruhi oleh struktur teknis di baliknya — aktor yang terhubung ke elemen infrastruktur yang sama lebih cenderung saling bertukar informasi. Sebaliknya, akses data yang timpang menurunkan kolaborasi antar aktor kunci.
Hambatan Sosial-Teknis yang Teridentifikasi
Rekomendasi Strategis
Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, berikut saran dari studi ini:
1. Tingkatkan Akses dan Transparansi Data
Semua aktor pengelola harus punya akses seragam terhadap data real-time, termasuk hasil pemantauan CSO, debit aliran, dan kapasitas penyimpanan.
2. Perkuat Kerangka Regulasi
Buat aturan wajib untuk:
3. Dorong Interkomunalitas
Inter-municipal cooperation (IMC) harus diformalisasi, misalnya melalui asosiasi air limbah regional. Ini memperkuat efisiensi dan sinergi antar pemangku kepentingan.
4. Bangun Budaya Digital di Institusi
Luncurkan program pelatihan digitalisasi untuk operator dan otoritas lokal. Kurikulum mencakup:
5. Penerapan STN Sebagai Alat Diagnostik
Gunakan metode STN untuk mengevaluasi:
Nilai Tambah: Relevansi Global dan Sektoral
Meski studi ini berbasis di Swiss, tantangan dan solusi yang diangkat bersifat universal. Negara berkembang maupun maju menghadapi hambatan yang sama:
Studi ini juga bisa diterapkan di sektor lain seperti:
Kesimpulan
Sistem air perkotaan cerdas bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal manusia dan lembaga. Tanpa keterbukaan data, regulasi yang jelas, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan, teknologi secanggih apa pun tidak akan membawa dampak sistemik.
Studi ini memberikan landasan teoritis dan metodologis kuat untuk menavigasi transformasi infrastruktur dari pendekatan sosial-teknis. Solusinya bukan pada ‘lebih banyak sensor’, melainkan lebih banyak kerja sama dan reformasi institusi.
Sumber : Manny, L. A. D. (2022). Socio-technical challenges towards smart urban water systems (Doctoral dissertation, ETH Zurich, No. 28708).
Kebijakan Infrastruktur Air
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Juni 2025
Reformasi PIR sebagai Kunci Transformasi Sektor Air dan Sanitasi Global
Kebijakan, Institusi, dan Regulasi (PIR) dalam sektor air dan sanitasi (WSS) semakin diakui sebagai faktor kunci dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 6. Meski infrastruktur dan pembiayaan menjadi perhatian utama, tantangan paling krusial justru terletak pada kerangka tata kelola yang efektif. Laporan World Bank 2022 bertajuk Water Supply and Sanitation Policies, Institutions, and Regulation: Adapting to a Changing World merangkum pelajaran penting dari berbagai negara yang telah menerapkan reformasi PIR untuk memperkuat layanan WSS secara sistemik.
Mengapa PIR Begitu Penting?
Krisis air global yang semakin sering, pandemi COVID-19, serta tekanan perubahan iklim telah menguji ketahanan sistem WSS. Banyak kota menghadapi "day zero"—titik kritis ketika pasokan air terganggu total. Dalam konteks ini, PIR menjadi jembatan antara kebijakan ambisius dan realisasi implementasi. Tanpa struktur kebijakan, institusi, dan regulasi yang kuat, intervensi infrastruktur hanya menjadi solusi tambal sulam jangka pendek.
Tiga Pilar PIR dan Ekspansi Kerangka Baru
Laporan ini menegaskan bahwa kebijakan, institusi, dan regulasi hanyalah awal. Untuk menjawab tantangan global, kerangka PIR diperluas menjadi enam komponen:
Dengan pendekatan ini, PIR bukan hanya kerangka teknokratik, tetapi menjadi alat diagnostik yang mampu mengungkap akar permasalahan layanan WSS dan membentuk intervensi berkelanjutan.
Studi Kasus: Reformasi PIR dalam Praktik
Kolombia: 25 Tahun Menuju Regulasi Efektif
Kolombia melalui Komisi Regulasi Air dan Sanitasi (CRA) menunjukkan transformasi bertahap tapi terukur. Selama 25 tahun, mereka melakukan siklus regulasi berkala yang diperbarui secara konsisten untuk menyesuaikan tantangan baru. Pendekatan jangka panjang ini menjadikan CRA sebagai lembaga teladan dalam regulasi sektor air.
Brasil: Kecepatan Sektor Swasta dalam Eksekusi
Di negara bagian Minas Gerais dan Ceará, sektor swasta menyelesaikan 100% kontrak infrastruktur WSS dalam enam tahun, sementara sektor publik hanya menyelesaikan 16% dalam periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa dengan kerangka PIR yang kondusif, sektor swasta mampu menjadi mitra strategis.
India (Chennai): Peran Layanan Informal
Di Chennai, penyedia air informal seperti tanker mafia menjadi bagian integral dari sistem layanan, meski tidak resmi. Survei menunjukkan 80% keluhan konsumen terhadap layanan WSS tidak terselesaikan, mencerminkan rendahnya responsivitas institusi. Ini mengindikasikan bahwa penyedia informal justru menjadi solusi alternatif bagi komunitas yang terpinggirkan.
Tantangan Utama Reformasi PIR
Beberapa hambatan besar yang diidentifikasi:
Solusi Sistemik yang Didorong PIR
World Bank PIR Framework Tool menjadi instrumen utama untuk:
Pendekatan ini telah digunakan di lebih dari 10 negara dan menghasilkan peta jalan reformasi yang kontekstual, progresif, dan inklusif.
Kebutuhan Akan Kepemimpinan Kolaboratif
Laporan ini mendorong model kepemimpinan kolaboratif, bukan hanya mengandalkan satu champion. Reformasi PIR memerlukan:
Dari Kebijakan ke Aksi: Jalan ke Depan
Untuk mengubah reformasi PIR dari narasi menjadi aksi konkret, dibutuhkan:
Studi ini juga mencatat bahwa lebih dari 80% negara melaporkan kekurangan pendanaan untuk mencapai target WASH nasional. Artinya, perlu perubahan paradigma, bukan sekadar injeksi dana.
Kesimpulan
PIR bukanlah solusi tunggal, tetapi fondasi yang tak tergantikan dalam transformasi sektor air dan sanitasi. Reformasi yang terstruktur, berbasis data, dan berorientasi jangka panjang akan memastikan layanan WSS yang inklusif, andal, dan berkelanjutan. Saat dunia menghadapi ketidakpastian iklim dan tantangan kesehatan global, memperkuat kebijakan, institusi, dan regulasi adalah satu-satunya jalan untuk melindungi hak dasar manusia atas air bersih dan sanitasi.
Sumber : World Bank. (2022). Water Supply and Sanitation Policies, Institutions, and Regulation: Adapting to a Changing World. Washington, DC: The World Bank.
Kebijakan Infrastruktur Air
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Juni 2025
Pendahuluan
Dalam upaya pembangunan infrastruktur yang masif, kompensasi lingkungan menjadi instrumen penting untuk mencegah kerusakan permanen terhadap ekosistem. Meskipun Swedia merupakan anggota Uni Eropa dengan komitmen kuat terhadap perlindungan lingkungan, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa praktik kompensasi lingkungan masih belum berkembang dengan baik. Studi dari Persson, Larsson, dan Villarroya (2015) menganalisis bagaimana kebijakan ini diterapkan dalam proyek jalan dan kereta api serta memberikan rekomendasi kebijakan untuk peningkatan efektivitas dan keadilan lingkungan.
Kondisi Kompensasi Lingkungan di Swedia
Temuan Utama:
Kondisi ini menunjukkan minimnya penerapan prinsip “no net loss” yang dianjurkan oleh Uni Eropa.
Metode Studi: Inventarisasi Nasional dan Studi Kasus
Ini adalah inventarisasi nasional pertama di Swedia terkait penerapan kompensasi lingkungan infrastruktur:
Kedua kasus menggambarkan masalah koordinasi antar proyek dan birokrasi berlebihan, meskipun menunjukkan hasil akhir yang menjanjikan berkat keahlian pihak terlibat.
Masalah dalam Implementasi
Kurangnya Koordinasi & Transparansi
Hal ini menyulitkan pihak luar, seperti auditor atau masyarakat sipil, untuk menilai akuntabilitas dan efektivitas kompensasi yang dilakukan.
Studi Kasus dan Angka Penting
Analisis Kritis dan Perbandingan Global
Jika dibandingkan, Spanyol menerapkan kompensasi pada 40% proyek infrastruktur, sedangkan Swedia jauh di bawah itu. Amerika Serikat dan Jerman sudah lebih matang dalam regulasi dan implementasi, termasuk penggunaan skema habitat banking dan insentif ekonomi untuk mendorong kompensasi sukarela.
Swedia justru masih terpaku pada perlindungan habitat formal dan gagal melindungi aspek sosial seperti:
Rekomendasi Kebijakan dan Perubahan yang Diperlukan
1. Perluasan Makna “Lingkungan”
Harus mencakup aspek sosial, budaya, kesehatan, dan ekonomi, bukan hanya habitat formal.
2. Tingkatkan Rasio Kompensasi
Kompensasi 1:1 tidak mencerminkan realitas ekologis yang kompleks. Disarankan rasio >1:1 untuk mengantisipasi:
3. Perencanaan Lanskap Skala Besar
Alih-alih per proyek, pendekatan regional memungkinkan:
4. Kompensasi Sukarela Harus Didukung Insentif
5. Panduan Teknis Harus Diperbarui
Nilai Tambah Artikel Ini
Studi ini tidak hanya mengungkap kekurangan kebijakan, tapi juga menawarkan kerangka reformasi berbasis data nyata dan praktik internasional. Dalam konteks pembelajaran publik dan platform edukasi, artikel ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana hukum lingkungan, etika publik, dan kebijakan tata ruang saling berkaitan erat.
Kesimpulan
Artikel ini secara tajam menunjukkan bahwa kebijakan kompensasi lingkungan di Swedia masih bersifat simbolik, tidak sistemik. Tanpa reformasi menyeluruh, pembangunan infrastruktur justru menjadi sumber degradasi ekologis baru.
Oleh karena itu, transformasi kebijakan harus dilakukan dengan:
Reformasi ini akan menentukan apakah Swedia mampu mempertahankan statusnya sebagai pelopor keberlanjutan, atau tertinggal di tengah krisis lingkungan global.
Sumber: Persson, J., Larsson, A., & Villarroya, A. (2015). Compensation in Swedish infrastructure projects and suggestions on policy improvements. Nature Conservation, 11, 113–127.
Kebijakan Infrastruktur Air
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Juni 2025
Pendahuluan
Pengelolaan infrastruktur air menjadi tantangan berat di banyak kota berkembang. Kota Tshwane, Afrika Selatan, menjadi studi kasus penting bagaimana tantangan politik, teknis, dan sosial dapat menghambat pembangunan infrastruktur air yang efisien dan berkelanjutan. Berdasarkan temuan dalam dokumen akademik ini, kegagalan sistematis dalam perencanaan, pengelolaan proyek, dan korupsi telah menyebabkan krisis air yang parah di kota tersebut.
1. Konteks Global dan Lokal Infrastruktur Air
Secara global, infrastruktur air menghadapi tekanan besar akibat urbanisasi cepat, perubahan iklim, dan pertumbuhan penduduk. Di Afrika Selatan, masalah ini diperparah oleh tantangan sistemik seperti:
Di Tshwane, perencanaan infrastruktur air mengikuti horizon 45–50 tahun, dengan tujuan memenuhi kebutuhan masa kini dan masa depan. Namun realisasinya sering jauh dari target.
2. Tantangan Infrastruktur Air di Kota Tshwane
Studi dalam dokumen ini mengungkap berbagai tantangan utama yang terjadi selama dan setelah pembangunan infrastruktur air, yang kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berdasarkan data warga, manajer proyek, hingga kontraktor:
a. Selama Instalasi Infrastruktur
b. Setelah Instalasi Infrastruktur
Framework tantangan ini dibagi berdasarkan penyebab seperti:
3. Studi Kasus dan Angka Penting
Studi dari Mokgobu (2017) dan Chauke (2017) pada CoT mengungkapkan:
4. Peran Teknologi Antariksa dan Solusi Digital
Inovasi menjadi peluang strategis. Teknologi penginderaan jauh (satellite EO) dan sistem informasi geografis (GIS) digunakan untuk:
Namun penerapan masih bersifat parsial. Kurangnya tenaga terampil dan investasi dalam pelatihan menjadi penghambat utama.
5. Strategi Manajemen dan Rekomendasi
Dokumen ini menyusun berbagai solusi dari hasil wawancara mendalam dan diskusi kelompok:
a. Penguatan Kelembagaan
b. Investasi pada SDM dan Teknologi
c. Pelibatan Masyarakat
6. Kaitan dengan Tren Global
Kondisi Tshwane tidak unik. Banyak kota di negara berkembang menghadapi dilema serupa:
Namun Tshwane menunjukkan bagaimana krisis bisa menjadi peluang reformasi, bila dikelola dengan inovatif dan akuntabel.
Penutup
Pengelolaan infrastruktur air di Tshwane mencerminkan pentingnya manajemen lintas sektoral, investasi jangka panjang, dan pendekatan berbasis data. Tanpa transformasi, kota seperti Tshwane akan terus menghadapi ancaman kekurangan air, konflik sosial, dan kegagalan layanan dasar.
Sebagai pembelajaran bagi platform pembelajaran, sektor pemerintahan, maupun LSM di bidang infrastruktur, studi ini menekankan pentingnya:
Sumber
Mokgobu, M.L. (2022). Challenges of Water Infrastructure Installation and Management in the City of Tshwane Metropolitan Municipality. North-West University.
Kebijakan Infrastruktur Air
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Juni 2025
Industri air global sedang mengalami transformasi digital yang signifikan, didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya, dan memastikan keberlanjutan. Buku A Strategic Digital Transformation for the Water Industry yang diterbitkan oleh International Water Association (IWA) menyoroti peran kunci teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), digital twins, dan ketahanan dinamis dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, urbanisasi, dan penuaan infrastruktur. Artikel ini akan membahas temuan utama dari buku tersebut, termasuk studi kasus, angkaangka relevan, serta implikasi bagi masa depan industri air.
1. Kecerdasan Buatan (AI) dalam Industri Air
AI telah menjadi tulang punggung transformasi digital di industri air, membantu utilitas mengoptimalkan operasi, memprediksi kegagalan aset, dan meningkatkan layanan pelanggan. Beberapa contoh penerapannya meliputi:
Deteksi Kebocoran Pipa: Sistem berbasis AI seperti Event Detection System (EDS) di Inggris mampu memproses data dari 7.000 sensor setiap 15 menit, mengurangi kebocoran air hingga 30% dan meningkatkan respons terhadap kegagalan infrastruktur (Romano et al., 2014).
Pemantauan Kualitas Air: AI digunakan untuk menganalisis data sensor secara realtime, memprediksi perubahan kualitas air, dan mengoptimalkan proses pengolahan. Misalnya, Aquasuite® di Singapura mengurangi konsumsi energi aerasi hingga 15% melalui kontrol prediktif (IWA, 2022).
Inspeksi Aset Otomatis: Teknologi computer vision memungkinkan analisis CCTV saluran pembuangan secara otomatis, mengidentifikasi kerusakan dengan akurasi tinggi dan mengurangi ketergantungan pada inspeksi manual (Myrans et al., 2018).
2. Digital Twins: Replika Digital untuk Optimasi Operasional
Digital twins adalah model virtual yang mereplikasi aset fisik seperti instalasi pengolahan air atau jaringan distribusi. Mereka memanfaatkan data realtime untuk simulasi dan prediksi, memberikan manfaat seperti:
Manajemen Banjir: Di Gothenburg, Swedia, digital twins digunakan untuk memprediksi aliran air limbah selama hujan lebat, mengurangi limpasan combined sewer overflow (CSO) hingga 50% (Pedersen et al., 2021).
Optimasi Pengolahan Air Limbah: Changi Water Reclamation Plant di Singapura menggunakan digital twins untuk memprediksi kinerja pabrik 5 hari ke depan, meningkatkan stabilitas operasi dan mengurangi konsumsi kimia (IWA, 2022).
3. Ketahanan Dinamis: Menghadapi Perubahan Iklim dan Tekanan Sosial
Ketahanan dinamis (dynamic resilience) adalah pendekatan baru yang memanfaatkan data historis untuk memahami bagaimana sistem air merespons stresor seperti perubahan iklim atau pandemi. Contoh penerapannya:
Respons terhadap COVID19: Data dari Thames Water menunjukkan bahwa lockdown mengubah pola aliran air limbah, memengaruhi kinerja instalasi pengolahan. Pemantauan berbasis data membantu utilitas beradaptasi dengan perubahan ini (Holloway et al., 2021).
Adaptasi Perubahan Iklim: Peningkatan intensitas hujan sebesar 12–24% (Fischer et al., 2014) memaksa utilitas untuk mengembangkan sistem prediksi yang lebih akurat guna menghindari banjir dan polusi.
4. Tantangan dan Masa Depan Transformasi Digital
Meskipun potensinya besar, transformasi digital di industri air menghadapi beberapa tantangan:
Namun, dengan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi, transformasi digital dapat mempercepat pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 6: air bersih dan sanitasi untuk semua.
Kesimpulan
Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi industri air. AI, digital twins, dan ketahanan dinamis telah membuktikan manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan memastikan keberlanjutan. Dengan mengatasi tantangan integrasi data dan keamanan siber, industri air dapat membangun sistem yang lebih tangguh di masa depan.
Sumber : A Strategic Digital Transformation for the Water Industry, International Water Association (IWA), 2022.
K3 Konstruksi
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Juni 2025
Pendahuluan: Relevansi SMK3 dalam Industri Konstruksi
Industri konstruksi adalah sektor berisiko tinggi, sehingga penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) menjadi sangat krusial. Artikel karya I Komang Alit Astrawan Putra dan I Gusti Bagus Angga Surya Dharma yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Kurva Teknik Vol. 12 No. 1 (2023) ini membahas secara komprehensif bagaimana implementasi SMK3 dilakukan dalam proyek pembangunan jalan strategis di Bali yang menghubungkan Kota Singaraja dan Kabupaten Badung.
Artikel ini mengkaji implementasi SMK3 berdasarkan ISO 45001:2018, PP No. 50 Tahun 2012, dan Permen PUPR No. 10 Tahun 2021, memberikan data kuantitatif serta studi kasus yang memperlihatkan efektivitas penerapannya dalam lingkungan kerja konstruksi nyata.
Penerapan SMK3 dan Relevansi Regulasi
SMK3 dalam proyek ini diimplementasikan melalui pendekatan SMKK (Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi) yang merujuk pada Permen PUPR No. 10 Tahun 2021. Tujuan utamanya adalah menekan angka kecelakaan kerja, meningkatkan efektivitas kerja, dan memastikan proyek berjalan sesuai standar keselamatan internasional dan nasional.
SMK3 yang diterapkan mengacu pada lima elemen utama:
Model manajemen ini mengikuti siklus Plan-Do-Check-Action (PDCA) dan selaras dengan prinsip tanggung jawab korporat.
Studi Kasus: Proyek Jalan Singaraja – Mengwitani
Ruang Lingkup Proyek
Proyek ini membentang di wilayah Bali Utara menuju selatan, mencakup beberapa titik strategis:
Destinasi wisata di sekitar proyek seperti Danau Beratan, Air Terjun Gitgit, dan Kebun Raya Eka Karya menjadi faktor yang menambah urgensi peningkatan keselamatan kerja karena tingginya mobilitas di kawasan tersebut.
Evaluasi Kinerja SMK3: Angka dan Analisis
1. Kinerja Keseluruhan Implementasi SMK3
Penilaian terhadap 17 parameter utama yang diambil dari ISO 45001 dan PP No. 50 Tahun 2012 menunjukkan nilai 74,8%, yang dikategorikan baik. Beberapa elemen penting dalam penilaian ini adalah:
Namun, aspek seperti pengendalian rekaman informasi dan tinjauan manajemen hanya mencetak skor 79, menunjukkan ruang untuk perbaikan.
2. Kelengkapan Fasilitas K3
Tingkat kelengkapan fasilitas K3 di lapangan dinilai sebesar 71%, yang juga dikategorikan baik. Beberapa fasilitas utama yang tersedia dan dinilai antara lain:
3. Total Penilaian Kombinasi
Dengan menggabungkan kedua aspek tersebut menggunakan rumus persentase total, diperoleh nilai gabungan sebesar 72,9% (dibulatkan menjadi 73%) yang menempatkan proyek ini dalam kategori “cukup baik”. Nilai ini menunjukkan bahwa implementasi SMK3 masih membutuhkan peningkatan, khususnya pada dokumentasi dan penyediaan fasilitas pendukung yang lebih lengkap.
Kritik dan Analisis Tambahan
Meskipun proyek telah mencatat skor yang cukup baik, sejumlah evaluasi mendalam masih diperlukan, khususnya pada aspek berikut:
Aspek paling krusial dalam keberhasilan SMK3 adalah keterlibatan aktif manajemen proyek dan penanaman budaya sadar risiko kepada seluruh pekerja. Dengan pendekatan berbasis risk-based thinking, perusahaan tidak hanya memenuhi kewajiban hukum, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Perbandingan dengan Studi Lain
Dibandingkan studi dari Ibrahim (2020) pada proyek Gedung DPRD Sleman, yang hanya mencetak skor kinerja SMK3 sebesar 65%, proyek ini tergolong lebih maju. Namun, jika dibandingkan dengan proyek konstruksi berskala besar di Jakarta yang dilaporkan oleh Fatimah et al. (2021) dengan skor 85%, pelaksanaan di Bali ini masih bisa ditingkatkan lagi.
Hal ini membuka ruang untuk benchmarking, di mana pengelola proyek dapat belajar dari proyek lain dalam penerapan teknologi K3 terkini atau sistem monitoring berbasis digital.
Rekomendasi Strategis
Untuk meningkatkan efektivitas SMK3 dalam proyek-proyek serupa ke depan, berikut beberapa rekomendasi:
Kesimpulan: Investasi dalam Keselamatan Adalah Investasi dalam Keberhasilan
Penerapan SMK3 pada proyek pembangunan infrastruktur Singaraja – Mengwitani menunjukkan bahwa keselamatan kerja bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga strategi peningkatan efisiensi dan mutu proyek. Skor 73% secara keseluruhan mencerminkan komitmen yang kuat dari perusahaan, meskipun masih terdapat ruang evaluasi signifikan terutama dalam aspek penyediaan fasilitas dan dokumentasi.
Dengan meningkatkan elemen-elemen yang masih lemah dan mengadopsi inovasi terbaru dalam manajemen keselamatan kerja, proyek-proyek konstruksi di Indonesia dapat menjadi lebih aman, efisien, dan berdaya saing global.
Sumber : Putra, I. K. A. A., & Dharma, I. G. B. A. S. (2023). Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) pada Pekerjaan Proyek Pembangunan Infrastruktur. Jurnal Ilmiah Kurva Teknik, 12(1), 103–111.