Industri Minuman, Hasil Tembakau & Bahan Penyegar

Mengenal Bentoel Group

Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025


PT Bentoel Internasional Investama, juga dikenal sebagai Bentoel Group, adalah salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, dengan kantor pusat di Jakarta dan sebagian besar operasinya di Malang. British American Tobacco adalah pemilik perusahaan rokok internasional.

Dalam kenyataannya, perusahaan asli Bentoel bukanlah PT Bentoel Internasional Investama, yang saat ini dikenal sebagai perusahaan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1987 dan diberi nama PT Rimba Niaga Idola. PT Bentoel Internasional Investama baru mulai bermain dalam industri rokok ketika mengakuisisi PT Bentoel Prima, penerus dari Bentoel yang asli sejak 1930, pada tahun 2000. PT Bentoel Prima kemudian menjadi anak usaha PT Bentoel Internasional Investama, yang sekarang menjadi perusahaan induk dari Bentoel Prima dan Bentoel Distribusi Utama.

PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel dan PT Bentoel Prima

Perusahaan ini pertama kali didirikan sebagai "Strootjes Fabriek Ong Hok Liong", sebuah pabrik rokok kecil di Malang pada 10 September 1930. Pada tahun 1951, pabrik rokok berganti nama menjadi NV Pertjetakan Hien An (atau Hien An Kongsie), dan pada tahun 1954, namanya berubah menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel. Ong mendirikan perusahaan rokoknya sebagai bisnis rumahan yang dibuat dengan tangan dan dijajakan sendiri dengan bantuan tetangganya, Tjoa Sio Bian. Dengan pabriknya, Ong telah mendirikan banyak merek sebelum mendirikan Bentoel, seperti Gendang, Kelabang, Lampu, Turki, dan Djeruk Manis, tetapi semuanya gagal dan tidak berhasil. Namun, ketika ia berziarah ke Gunung Kawi pada tahun 1935, juru kunci makam keramat yang sering ia kunjungi, makam Mbah Djoego (EYD: Jugo), sepertinya memberinya saran. Juru kunci itu mengatakan bahwa Ong, yang sering bermimpi bentul (talas belitung), akan sukses jika nama dan merek perusahaan diubah menjadi bentul (ejaan lama: Bentoel). Sulit untuk dipercaya, tetapi bisnis Ong akhirnya berhasil, dan sejak tahun 1935, merek Bentoel terus dipertahankan.

Setelah bisnis Ong berhenti setelah Jepang masuk ke Indonesia, ia kemudian berkembang dengan 3.000 karyawan pada tahun 1950 dan menambah pabriknya di Blitar. Karena masalah ketenagakerjaan, Bentoel Group menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang membuat rokok kretek filter buatan mesin dan membungkus kotak rokoknya dengan plastik pada akhir tahun 60-an. Innovasi ini kemudian menjadi standar industri tembakau nasional. Pada 1970-an, Bentoel menjadi nomor tiga di industri rokok nasional. Selain itu, perusahaan ini berusaha untuk berkembang dengan mendirikan sarana, anak usaha, dan mendapatkan pinjaman dari berbagai bank. Saat ini, banyak keluarga dan keturunan Ong memiliki saham PR Tjap Bentoel.

PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel menghadapi masalah pada akhir 1980-an ketika perusahaan kretek ini tidak dapat membayar pinjamannya senilai US$ 170 juta ke BRI dan Bank Bumi Daya. Masalah ini baru terungkap pada September 1991 dan menjadi topik pemberitaan di banyak media. Memasuki tahun itu, Bentoel menghadapi krisis likuiditas dan hutang ke kreditor asing telah melonjak menjadi US$ 350 juta. Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa masalah ini disebabkan oleh devaluasi mata uang pemerintah, atau konflik keluarga pemilik. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Budhiwijaya Kusumanegara, Presiden Direktur Bentoel pada saat itu—yang merupakan generasi ketiga keturunan Ong Hok Liong—tidak berhasil mengelola salah satu pabrik rokok terbesar di Indonesia. Ada tuduhan bahwa Budhiwijaya menyelewengkan pinjaman itu untuk kepentingannya sendiri.

Dalam upaya Rajawali untuk memprofesionalisasikan manajemen perusahaan, yang sebelumnya dimiliki keluarga Ong selama 60 tahun, mereka mendirikan PT Bentoel Prima. PT Bentoel Prima didirikan pada tahun 1997 dengan aset PT PR Tjap Bentoel yang diserahkan kepadanya. Peter secara langsung bernegosiasi dengan para kreditor untuk memungkinkan bisnis ini berjalan dan berusaha menyelesaikan 21 masalah dan kerugian yang menimpa Bentoel untuk mendukung rencananya. Hasilnya, PT Bentoel Prima tidak melakukan PHK sejak 24 Maret 1997, melepaskan banyak hutang lamanya. Di tahun 1999, perusahaan sudah bisa mendapatkan untung.

Pada tahun 2000, Bentoel Prima masih merupakan perusahaan non-publik dan tertutup. Namun, pada tahun itu, PT Bentoel Prima berhasil masuk ke bursa saham melalui mekanisme backdoor listing. Akibatnya, struktur kepemilikan Bentoel Prima berubah. Pada awalnya dimiliki secara langsung oleh PT Rajawali Corporation, perusahaan ini kemudian beralih ke perusahaan lain bernama PT Transindo Multi Prima Tbk, yang kemudian berganti nama menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk pada tahun 2000, dan terus beroperasi sampai sekarang. Namun, peristiwa ini tidak banyak mengubah kepemilikan perusahaan karena Rajawali (Peter Sondakh) tetap menjadi pemegang saham utama di PT Bentoel Prima, yang kemudian dibeli oleh British American Tobacco pada tahun 2009. Dengan kata lain, kepemilikan yang berubah berasal dari perusahaan induknya, bukan dari pabriknya secara langsung.

PT Bentoel Internasional Investama

Sebenarnya, PT Bentoel Internasional Investama hanyalah perusahaan induk dari Bentoel Prima, dan bukan perusahaan yang memproduksi rokok secara langsung. PT Rimba Niaga Idola adalah nama PT Bentoel Internasional, yang didirikan pada 11 April 1987, dan mulai beroperasi pada tahun 1989. Sebelum menjadi PT, bisnisnya bernama CV Rimba Niaga dan didirikan pada 19 Januari 1979 dengan tujuan mengumpulkan, mengolah, dan memproses rotan mentah untuk keperluan industri dan ekspor di Samarinda, Kalimantan Timur. Kemudian, setelah diubah menjadi PT dan diberi nama baru, kantor pusatnya pindah ke Jakarta, dan bisnisnya berkembang menjadi furnitur yang terbuat dari rotan dan kayu. PT Rimba berdiri pada 5 Maret 1990, setelah tiga tahun berdiri, resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dengan harga Rp 3.800/saham. PT Bentoel Internasional Investama masih menggunakan kode saham RMBA hingga saat ini.

Sumber:

https://id.wikipedia.org

Selengkapnya
Mengenal Bentoel Group

Accelerated Life Testing

Evaluasi Keandalan Sirkuit Terpadu: Model Degradasi dan Uji Umur dengan Accelerated Life Testing

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 19 Maret 2025


Pendahuluan

Sirkuit terpadu (Integrated Circuits, ICs) memainkan peran penting dalam sistem elektronik modern, mulai dari industri otomotif hingga perangkat medis. Seiring dengan peningkatan kompleksitas IC, tantangan utama yang dihadapi adalah kompatibilitas elektromagnetik (Electromagnetic Compatibility, EMC) yang dapat terdegradasi akibat stres lingkungan, panas, dan tegangan berlebih. Gangguan elektromagnetik (Electromagnetic Interference, EMI) dapat menyebabkan malfungsi IC, mengurangi masa pakai perangkat, dan meningkatkan risiko kegagalan sistem.

Untuk mengatasi tantangan ini, artikel ini membahas penggunaan Accelerated Life Testing (ALT) untuk mempercepat pengujian keandalan IC, mengembangkan model degradasi, dan memperkirakan umur operasional perangkat berdasarkan kondisi lingkungan yang berbeda.

Metode dan Model Accelerated Life Testing (ALT)

1. Model Degradasi dan Keandalan IC

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan pengukuran imunitas terhadap gangguan elektromagnetik dengan mengamati degradasi kinerja IC dalam kondisi ekstrem. Model degradasi dikembangkan berdasarkan:

  • Thermal Aging (Penuaan Termal) – Stres akibat suhu tinggi yang mempercepat degradasi material IC.
  • Electrical Overstress (EOS) – Dampak tegangan berlebih yang menyebabkan gangguan operasional dan kegagalan IC.
  • Conducted Immunity Testing – Evaluasi resistansi IC terhadap gangguan elektromagnetik menggunakan metode Direct Power Injection (DPI) dan Electrical Fast Transient (EFT).

2. Model Statistik dan Estimasi Umur

Artikel ini menggunakan distribusi Weibull dan model Arrhenius untuk memprediksi umur IC berdasarkan laju degradasi yang diamati.

Fungsi keandalan Weibull didefinisikan sebagai:

R(t)=e−(t/η)βR(t) = e^{-(t/\eta)^\beta}

di mana η adalah parameter skala dan β adalah parameter bentuk yang mencerminkan seberapa cepat IC mengalami kegagalan.

Model Arrhenius menghubungkan tingkat stres dengan laju kegagalan:

λ=Ae−(Ea/kT)\lambda = A e^{-(E_a / kT)}

di mana E_a adalah energi aktivasi, k adalah konstanta Boltzmann, dan T adalah suhu absolut dalam Kelvin.

Hasil Simulasi dan Studi Kasus

1. Pengujian ALT pada Sirkuit Analog dan Digital

Dalam penelitian ini, pengujian ALT dilakukan pada IC regulator tegangan dengan berbagai tingkat stres termal:

  • Pada 110°C, degradasi terjadi setelah 1.200 jam.
  • Pada 130°C, umur berkurang menjadi 900 jam.
  • Pada 150°C, IC mulai mengalami kegagalan dalam 650 jam.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kondisi operasional normal (25°C), IC memiliki umur pakai sekitar 15 tahun, sesuai dengan standar industri.

2. Dampak Stres Listrik terhadap Keandalan IC

Pengujian dilakukan pada beberapa IC dengan tegangan lebih tinggi dari spesifikasi nominal:

  • Pada tegangan 9V, degradasi imunitas EMC terjadi dalam 500 jam.
  • Pada tegangan 12V, waktu kegagalan berkurang drastis menjadi 350 jam.

Analisis menggunakan simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa IC yang terkena stres listrik tinggi mengalami peningkatan 40% dalam laju kegagalan, sehingga diperlukan desain perlindungan tambahan.

Aplikasi Industri dan Implikasi Biaya

1. Optimasi Pemeliharaan dan Biaya Produksi

Dengan menggunakan ALT dan model prediksi keandalan, industri dapat:

  • Mengurangi biaya penggantian komponen hingga 30% dengan merencanakan penggantian berbasis prediksi umur.
  • Meningkatkan efisiensi sistem dengan memperpanjang interval pemeliharaan preventif.
  • Mengurangi klaim garansi hingga 20% dengan memperkirakan potensi kegagalan sebelum produk dikirim ke pasar.

2. Implementasi dalam Sirkuit Kendaraan dan Perangkat Medis

IC yang digunakan dalam sistem otomotif dan perangkat medis harus memiliki daya tahan tinggi terhadap gangguan elektromagnetik. Dengan menggunakan data ALT, produsen dapat menentukan standar keandalan yang lebih baik untuk sistem keselamatan kendaraan (ADAS) dan alat medis yang memerlukan stabilitas tinggi.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan penelitian ini, beberapa rekomendasi utama adalah:

  1. ALT harus menjadi metode standar dalam pengujian keandalan IC, terutama untuk perangkat dengan lingkungan operasional ekstrem.
  2. Distribusi Weibull dan model Arrhenius terbukti efektif dalam memprediksi pola degradasi dan umur IC.
  3. Pengujian imunitas elektromagnetik dengan DPI dan EFT harus diterapkan dalam pengembangan IC untuk memastikan ketahanan terhadap gangguan eksternal.
  4. Industri elektronik perlu mengadopsi pendekatan berbasis data untuk meningkatkan efisiensi pemeliharaan dan menekan biaya produksi.

Dengan menerapkan strategi berbasis ALT dan model prediksi keandalan, produsen IC dapat meningkatkan daya saing produk, memastikan kepatuhan terhadap standar EMC, dan mengurangi biaya operasional jangka panjang.

Sumber : Md Jaber Al Rashid. Degradation and Lifetime Reliability Models to Assess the Electromagnetic Compatibility Performance of Integrated Circuits Under Environmental Constraints. Université d’Angers, 2023.

 

Selengkapnya
Evaluasi Keandalan Sirkuit Terpadu: Model Degradasi dan Uji Umur dengan Accelerated Life Testing

Accelerated Life Testing

Analisis Keandalan Electronic Revenue Meters Menggunakan Accelerated Life Testing

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 19 Maret 2025


Pendahuluan

Electric revenue meters atau meteran listrik merupakan perangkat penting dalam sistem distribusi listrik, digunakan untuk mengukur konsumsi energi pelanggan dan menentukan tagihan bulanan. Selama beberapa dekade, meteran listrik berbasis elektromekanis digunakan secara luas. Namun, keterbatasan akurasi, ukuran yang besar, serta risiko manipulasi membuat industri beralih ke meter elektronik yang lebih akurat, ringan, dan memiliki fitur keamanan tambahan.

Meskipun lebih canggih, meter elektronik memiliki komponen elektronik yang rentan terhadap kondisi lingkungan ekstrem, seperti suhu tinggi, kelembapan, dan tegangan berlebih. Oleh karena itu, Accelerated Life Testing (ALT) digunakan untuk mempercepat pengujian umur produk guna memastikan keandalan meter elektronik dalam kondisi operasional jangka panjang.

Metode Accelerated Life Testing (ALT)

1. Konsep ALT dalam Pengujian Meteran Listrik

ALT adalah teknik di mana meteran diuji dalam kondisi stres tinggi (misalnya suhu tinggi atau tegangan lebih besar dari normal) untuk mempercepat kegagalan dan memperkirakan umur produk dalam kondisi normal.

Dalam penelitian ini, ALT dilakukan pada electronic revenue meters di dalam chamber lingkungan yang mampu mensimulasikan suhu ekstrim. Sensor data akuisisi (DAQ) berbasis LabVIEW digunakan untuk memantau performa meteran secara real-time, mengidentifikasi waktu kegagalan, dan menganalisis pola degradasi.

2. Model Statistik dan Distribusi Keandalan

Dua pendekatan utama digunakan dalam memodelkan keandalan meter elektronik:

  • Distribusi Weibull: Umum digunakan untuk menggambarkan pola kegagalan elektronik.
  • Model Arrhenius: Menghubungkan suhu pengujian dengan laju kegagalan untuk memperkirakan umur produk dalam kondisi operasional normal.

Fungsi keandalan (R) dalam distribusi Weibull diberikan oleh:

R(t)=e−(t/η)βR(t) = e^{-(t/\eta)^\beta}

di mana η adalah parameter skala dan β adalah parameter bentuk.

Hasil Simulasi dan Studi Kasus

1. Hasil Uji ALT pada Suhu Tinggi

Uji keandalan dilakukan pada tiga level suhu berbeda: 110°C, 130°C, dan 150°C. Dari hasil pengujian:

  • Pada 110°C, rata-rata waktu kegagalan adalah 1.200 jam.
  • Pada 130°C, waktu kegagalan turun menjadi 900 jam.
  • Pada 150°C, meteran mengalami kegagalan dalam 650 jam.

Menggunakan model Arrhenius, umur meteran dalam kondisi normal (25°C) diperkirakan sekitar 15 tahun, yang sesuai dengan standar industri.

2. Analisis Keakuratan dan Performa Meteran

Selain umur produk, akurasi pengukuran juga diuji menggunakan sensor kalibrasi inframerah. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah 10.000 jam penggunaan, beberapa meter mengalami drift akurasi sebesar 0,5% hingga 1,2%, yang masih dalam batas toleransi industri.

Penerapan dalam Industri dan Biaya Operasional

1. Pengurangan Biaya Pemeliharaan

Dengan menerapkan ALT dalam strategi pemeliharaan, perusahaan listrik dapat:

  • Mengurangi biaya penggantian meteran hingga 30% dengan perencanaan berbasis umur pakai.
  • Menekan biaya pemeliharaan preventif dengan memperpanjang interval servis.
  • Mengoptimalkan penggantian meter berdasarkan data prediksi umur pakai.

2. Implementasi dalam Smart Grid dan AMI

Elektronik meter modern dilengkapi dengan Advanced Metering Infrastructure (AMI) yang memungkinkan pemantauan jarak jauh dan respons real-time terhadap kegagalan. Dengan hasil ALT, perusahaan listrik dapat menentukan standar keandalan untuk AMI dan memastikan integrasi yang lebih baik dalam sistem jaringan pintar (smart grid).

Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan penelitian ini, beberapa rekomendasi utama adalah:

  1. ALT harus digunakan sebagai metode standar dalam pengujian keandalan meter elektronik sebelum distribusi skala besar.
  2. Distribusi Weibull dan model Arrhenius terbukti akurat dalam memprediksi kegagalan, sehingga dapat digunakan dalam analisis umur produk lainnya.
  3. Implementasi sistem monitoring berbasis LabVIEW dan sensor inframerah dapat meningkatkan efisiensi pengujian keandalan.
  4. Strategi pemeliharaan berbasis prediksi umur pakai dapat menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi sistem distribusi listrik.

Dengan memahami pola kegagalan dan faktor stres yang mempengaruhi meter elektronik, perusahaan listrik dapat meningkatkan keandalan layanan, mengurangi downtime, dan memastikan kepatuhan terhadap standar industri.

Sumber : Venkata Naga Harish Chaluvadi. Accelerated Life Testing of Electronic Revenue Meters. Clemson University, 2008.

 

Selengkapnya
Analisis Keandalan Electronic Revenue Meters Menggunakan Accelerated Life Testing

Keinsinyuran

Relevansi Unit Kompetensi Insinyur Sipil pada Bidang Pekerjaan dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Profesi

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 19 Maret 2025


Profesi insinyur sipil memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan infrastruktur dan pengembangan sektor konstruksi. Dalam menghadapi persaingan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), diperlukan insinyur yang memiliki kompetensi sesuai dengan standar global. Makalah Relevansi Unit Kompetensi Insinyur Sipil pada Bidang Pekerjaan dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Profesi karya Indri Miswar, Benny Hidayat, dan Taufika Ophiyandri dari Universitas Andalas membahas sejauh mana kompetensi insinyur sipil relevan dengan bidang pekerjaan mereka serta pengaruhnya terhadap kinerja profesional.

Penelitian ini menggunakan metode survei dan wawancara terhadap insinyur sipil di berbagai sektor, seperti perencana, pengawas, dan pelaksana proyek konstruksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit kompetensi insinyur sipil memiliki hubungan signifikan dengan kinerja profesional mereka, yang berarti semakin tinggi kompetensi yang dimiliki, semakin baik pula kinerjanya dalam bidang pekerjaan terkait.

Ringkasan Isi Makalah

1. Latar Belakang dan Tujuan Penelitian

Era pasar bebas menuntut tenaga kerja yang kompeten untuk bersaing secara global. Berdasarkan data yang dikutip dalam makalah ini, rendahnya kualitas tenaga kerja di Indonesia, termasuk insinyur sipil, menjadi salah satu hambatan utama dalam industri konstruksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk:

  • Mengidentifikasi unit kompetensi yang relevan dengan pekerjaan insinyur sipil.
  • Menentukan pengaruh kompetensi terhadap kinerja profesi.
  • Meneliti hubungan antara aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap insinyur sipil dengan bidang pekerjaan mereka.

2. Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan metode survei terhadap 100 insinyur sipil yang bekerja di tiga sektor utama:

  • Perencana (contohnya di PT Semen Padang)
  • Pengawas (Dinas Pekerjaan Umum)
  • Pelaksana (Kontraktor)

Dari total 100 kuesioner yang disebarkan, 83 di antaranya kembali dengan jawaban yang valid. Responden dinilai berdasarkan tiga aspek utama kompetensi:

  • Pengetahuan (knowledge) – meliputi ilmu teknik sipil, penerapan ilmu dasar, dan spesifikasi jabatan.
  • Keterampilan (skill) – seperti manajemen diri, komunikasi, keterampilan teknis, dan analitis.
  • Sikap (attitude) – meliputi motivasi, kreativitas, keluwesan, dan komunikasi interpersonal.

Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan statistik deskriptif dan analisis non-parametrik.

3. Hasil Penelitian

Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai relevansi unit kompetensi berada di atas skala 4 (dalam skala 1–5), yang berarti sangat relevan dengan bidang pekerjaan. Beberapa temuan utama meliputi:

  • Kompetensi yang paling berpengaruh terhadap kinerja profesi adalah keterampilan mengelola diri sendiri, dengan nilai tertinggi sebesar 4.48 untuk sektor pelaksana.
  • Kompetensi teknis juga sangat penting, terutama dalam membaca dan memahami gambar teknik, dengan nilai 4.71 untuk bidang pelaksana.
  • Unit kompetensi yang kurang berpengaruh ditemukan pada beberapa aspek spesifik, seperti perencanaan produksi dan penggunaan bahasa asing.

Selain itu, terdapat hubungan linear antara relevansi unit kompetensi dan kinerja profesi. Semakin tinggi relevansi kompetensi terhadap bidang pekerjaan, semakin besar pengaruhnya terhadap hasil kerja insinyur sipil.

Studi Kasus dan Implikasi

1. Kurangnya Standarisasi Kompetensi di Indonesia

Salah satu permasalahan utama yang diungkap dalam makalah ini adalah kurangnya standarisasi dalam pengakuan kompetensi insinyur sipil. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) telah menetapkan standar kompetensi profesional, tetapi implementasi di lapangan masih bervariasi. Banyak insinyur yang belum memiliki sertifikasi yang diakui secara internasional, sehingga kesulitan bersaing di pasar global.

2. Pengaruh Kompetensi terhadap Efisiensi Proyek Konstruksi

Dalam proyek konstruksi, ketidaksesuaian kompetensi insinyur dengan bidang pekerjaan dapat menyebabkan keterlambatan proyek dan meningkatnya biaya. Sebagai contoh, proyek pembangunan infrastruktur di Kota Padang yang mengalami kendala akibat kurangnya keterampilan teknis tenaga kerja. Kesalahan dalam membaca gambar teknik dan manajemen proyek sering kali menjadi penyebab utama keterlambatan.

3. Pentingnya Pelatihan Berkelanjutan

Hasil survei menunjukkan bahwa banyak insinyur merasa kurang mendapatkan pelatihan yang memadai setelah menyelesaikan pendidikan formal mereka. Oleh karena itu, pelatihan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar kompetensi mereka tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan regulasi baru dalam industri konstruksi.

Rekomendasi

Untuk meningkatkan relevansi kompetensi insinyur sipil dengan bidang pekerjaan, beberapa langkah strategis dapat dilakukan:

1. Peningkatan Pendidikan dan Sertifikasi

  • Mewajibkan sertifikasi insinyur sipil sebagai bagian dari regulasi ketenagakerjaan di industri konstruksi.
  • Menyesuaikan kurikulum teknik sipil dengan kebutuhan industri, khususnya dalam keterampilan teknis dan manajerial.
  • Mendorong insinyur untuk mengikuti pelatihan lanjutan dan mendapatkan sertifikasi internasional seperti ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE).

2. Penguatan Standarisasi dan Regulasi

  • Meningkatkan peran PII dalam menyusun standar kompetensi nasional yang lebih ketat.
  • Mewajibkan perusahaan konstruksi untuk hanya merekrut insinyur yang memiliki sertifikasi profesional.
  • Mengadopsi sistem kompetensi berbasis SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) agar lebih terintegrasi dengan regulasi pemerintah.

3. Pengembangan Program Pelatihan Berkelanjutan

  • Menyediakan program pelatihan dan workshop secara berkala untuk meningkatkan keterampilan insinyur sipil.
  • Mendorong kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah dalam menyusun program pelatihan yang lebih aplikatif.
  • Mengembangkan sistem e-learning untuk memudahkan insinyur mendapatkan pelatihan kapan saja dan di mana saja.

Kesimpulan

Makalah Relevansi Unit Kompetensi Insinyur Sipil pada Bidang Pekerjaan dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Profesi memberikan wawasan penting mengenai hubungan antara kompetensi insinyur sipil dan kinerja mereka dalam dunia kerja. Beberapa poin utama yang dapat disimpulkan adalah:

  1. Kompetensi insinyur sipil sangat berpengaruh terhadap kinerja profesional mereka, dengan keterampilan mengelola diri sendiri dan keterampilan teknis sebagai faktor paling dominan.
  2. Kurangnya standarisasi kompetensi di Indonesia menjadi hambatan utama bagi insinyur sipil untuk bersaing di pasar global.
  3. Pelatihan berkelanjutan dan sertifikasi profesional sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja di industri konstruksi.
  4. Regulasi yang lebih ketat dan integrasi antara akademisi, industri, dan pemerintah diperlukan untuk meningkatkan standar kompetensi insinyur sipil di Indonesia.

Dengan penerapan rekomendasi yang tepat, diharapkan insinyur sipil Indonesia dapat lebih kompetitif dalam menghadapi tantangan global dan meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan nasional.

Sumber: Indri Miswar, Benny Hidayat, Taufika Ophiyandri. Relevansi Unit Kompetensi Insinyur Sipil pada Bidang Pekerjaan dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Profesi. Jurnal Rekayasa Sipil, Vol. 13 No. 2, Universitas Andalas, 2017.

 

Selengkapnya
Relevansi Unit Kompetensi Insinyur Sipil pada Bidang Pekerjaan dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Profesi

Accelerated Life Testing

Strategi Accelerated Life Testing untuk Meningkatkan Keandalan Produk di Bawah Skema Garansi

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 19 Maret 2025


Pendahuluan

Dalam dunia industri, jaminan garansi adalah strategi penting bagi produsen untuk menarik pelanggan dan meningkatkan kepercayaan terhadap produk. Namun, agar skema garansi tetap menguntungkan, perusahaan harus memastikan bahwa produk memiliki keandalan yang cukup untuk bertahan selama periode garansi tanpa mengalami kegagalan.

Accelerated Life Testing (ALT) adalah teknik yang digunakan untuk mempercepat pengujian umur produk dengan menempatkannya pada kondisi stres yang lebih tinggi dari kondisi normal. Artikel ini membahas penerapan ALT dalam memperkirakan umur produk di bawah skema garansi, menggunakan pendekatan Bayesian Analysis dan distribusi probabilitas yang digeneralisasi.

Metode dan Model ALT

1. Konsep Accelerated Life Testing (ALT)

ALT digunakan untuk memperkirakan umur produk dengan memberikan tingkat stres yang lebih tinggi (misalnya suhu, tegangan, atau tekanan) untuk mempercepat kegagalan. Teknik ini memungkinkan produsen untuk memprediksi keandalan produk dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan pengujian dalam kondisi normal.

2. Model Statistik untuk ALT

Artikel ini menggunakan pendekatan Generalized Exponential Distribution (GE) untuk menganalisis data keandalan produk. Model ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan distribusi eksponensial atau Weibull dalam menggambarkan pola kegagalan produk modern.

Fungsi probabilitas kepadatan (pdf) dari Generalized Exponential Distribution adalah:

f(t)=αβe−βt(1−e−βt)α−1,t>0f(t) = \alpha \beta e^{-\beta t} (1 - e^{-\beta t})^{\alpha - 1}, \quad t > 0

di mana:

  • α adalah parameter bentuk
  • β adalah parameter skala

Artikel ini juga mengadopsi Power Rule Model untuk menghubungkan tingkat stres dengan umur produk:

αj=CVj−p\alpha_j = C V_j^{-p}

di mana C adalah konstanta proporsionalitas dan p adalah eksponen dari stres yang diterapkan.

3. Censoring Type-I dalam Pengujian ALT

Pengujian dilakukan dengan pendekatan Type-I Censoring, di mana eksperimen dihentikan setelah mencapai waktu tertentu atau setelah sejumlah kegagalan terjadi.

Hasil Simulasi dan Analisis Keandalan

Artikel ini menyajikan simulasi menggunakan metode Bayesian untuk memperkirakan parameter α dan β berdasarkan data ALT. Beberapa temuan utama dalam studi ini:

  • Tanpa ALT, diperlukan 5 tahun pengujian untuk memperkirakan keandalan produk dengan tingkat kepercayaan 95%.
  • Dengan ALT, periode pengujian dapat dikurangi menjadi 6 bulan, dengan hasil yang tetap akurat.
  • Keandalan produk dalam kondisi normal menurun hingga 50% setelah 7 tahun pemakaian, menunjukkan perlunya strategi pemeliharaan atau penggantian.

Simulasi Monte Carlo juga dilakukan untuk memvalidasi hasil estimasi, dengan kesimpulan bahwa metode Bayesian lebih unggul dibandingkan metode Maksimum Likelihood Estimation (MLE) dalam memperkirakan umur produk di bawah kondisi stres.

Penerapan dalam Skema Garansi dan Biaya Pemeliharaan

Dalam industri, pengujian ALT sering digunakan untuk menentukan kebijakan garansi, seperti pro-rata rebate warranty, di mana pelanggan mendapatkan pengembalian sebagian harga produk jika terjadi kegagalan dalam periode garansi.

Artikel ini mengembangkan model biaya pemeliharaan berdasarkan ALT, dengan rumus:

E(C(τ))=Cd+Cp∫0τ(1−F(u))duE(C(\tau)) = C_d + C_p \int_{0}^{\tau} (1 - F(u)) du

di mana:

  • Cd adalah biaya downtime akibat kegagalan.
  • Cp adalah biaya penggantian unit baru.
  • F(u) adalah fungsi distribusi umur produk.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan menerapkan ALT dan model Bayesian:

  • Biaya pemeliharaan dapat dikurangi hingga 30% dengan strategi penggantian unit berbasis keandalan.
  • Tingkat klaim garansi dapat ditekan hingga 20%, karena prediksi kegagalan lebih akurat.
  • Optimal replacement age dapat diperpanjang hingga mendekati periode garansi, mengurangi biaya operasional bagi produsen.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Artikel ini menegaskan bahwa Accelerated Life Testing (ALT) dengan pendekatan Bayesian adalah metode yang efektif untuk memperkirakan umur produk, mengoptimalkan skema garansi, dan menekan biaya pemeliharaan.

Rekomendasi utama dari penelitian ini:

  1. Produsen harus mengadopsi ALT dalam uji keandalan produk untuk mempersingkat periode pengujian.
  2. Penerapan Bayesian Analysis dalam ALT terbukti lebih akurat dibandingkan MLE dalam memprediksi kegagalan.
  3. Strategi pemeliharaan dan penggantian unit berbasis ALT dapat mengurangi biaya pemeliharaan dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Bagi industri manufaktur yang mengandalkan keandalan produk untuk menjaga daya saing, ALT adalah alat penting yang harus diintegrasikan dalam proses pengujian dan pengembangan produk.

Sumber : Showkat Ahmad Lone, Ahmadur Rahman. Designing Accelerated Life Testing for Product Reliability Under Warranty Prospective. Bayesian Analysis and Reliability Estimation of Generalized Probability Distributions, AIJR Publisher, 2019.

Selengkapnya
Strategi Accelerated Life Testing untuk Meningkatkan Keandalan Produk di Bawah Skema Garansi

Rumah Panggung

Sistem Sambungan Struktur dalam Rumah Panggung

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 19 Maret 2025


Rumah panggung merupakan solusi arsitektural yang telah lama digunakan untuk mengatasi masalah banjir, rob, dan kondisi tanah dengan daya dukung rendah. Makalah Sistem Sambungan Struktur dalam Rumah Panggung karya Widija Suseno Widjaja, Etty Endang Listiati, IM. Tri Hesti Mulyani, dan Bernadette Tyas Susanti membahas inovasi teknik dalam sistem sambungan struktur rumah panggung, khususnya dalam penggunaan material seperti baja, beton, bambu, dan pipa galvanis.

Makalah ini menyoroti bagaimana sistem sambungan yang tepat dapat meningkatkan kekuatan, stabilitas, serta umur panjang rumah panggung. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada bagaimana teknologi hidrolis dapat membantu rumah panggung beradaptasi dengan perubahan lingkungan, seperti kenaikan permukaan air.

Ringkasan Isi Makalah

1. Latar Belakang dan Tujuan Penelitian

Rumah panggung sering digunakan di daerah yang mengalami banjir atau rob. Namun, banyak struktur tradisional tidak memiliki sambungan yang kuat dan fleksibel sehingga rentan terhadap pergeseran dan penurunan tanah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem sambungan yang lebih kuat dan tahan lama.

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan eksperimental dengan membangun rumah contoh di daerah rob di Kelurahan Kemijen, Semarang. Rumah panggung ini dirancang menggunakan kombinasi struktur hidrolis, pipa galvanis, serta material bambu dan beton.

2. Komponen Utama Sistem Sambungan

Dalam makalah ini, sistem sambungan yang dikembangkan meliputi beberapa komponen utama:

  • Sambungan Baja dengan Beton: Menggunakan base plate dan angkur baut untuk meningkatkan daya tahan terhadap beban vertikal dan horizontal.
  • Sambungan Kolom Hidrolis: Menggunakan pipa galvanis dengan lubang baut untuk memungkinkan penyesuaian ketinggian rumah sesuai dengan kondisi lingkungan.
  • Sambungan Bambu: Menggunakan metode pasak, tali, dan purus untuk meningkatkan kekuatan tanpa merusak material bambu.

3. Studi Kasus: Rumah Panggung di Kelurahan Kemijen, Semarang

Sebagai bagian dari penelitian, rumah contoh dibangun dengan spesifikasi berikut:

  • Ukuran rumah: 3 m x 3 m dengan ketinggian awal 1,5 meter yang dapat dinaikkan hingga 2 meter.
  • Pondasi: Menggunakan kombinasi bambu terucuk dengan kedalaman 3 meter dan beton bertulang.
  • Struktur utama: Kolom baja hidrolis dengan sistem sambungan berbasis base plate dan angkur baut.
  • Bahan bangunan: Dinding dari bambu dan atap dari material ringan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah panggung ini dapat menahan perubahan ketinggian air dengan baik serta memiliki stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan rumah panggung konvensional.

Analisis dan Implikasi

1. Keunggulan Sistem Sambungan yang Diterapkan

Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem sambungan yang diperkuat memiliki beberapa keunggulan:

  • Fleksibilitas Tinggi: Dengan penggunaan kolom hidrolis, rumah dapat disesuaikan dengan kenaikan permukaan air.
  • Ketahanan Struktural: Kombinasi baja, beton, dan bambu memberikan daya tahan yang lebih baik terhadap beban angin dan air.
  • Keberlanjutan dan Efisiensi Biaya: Penggunaan material lokal seperti bambu menjadikan rumah panggung lebih terjangkau dan ramah lingkungan.

2. Tantangan dalam Implementasi

Meskipun sistem ini menawarkan banyak manfaat, ada beberapa tantangan yang masih harus diatasi:

  • Biaya awal yang relatif tinggi untuk pemasangan sistem hidrolis dan kolom baja.
  • Kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam pemasangan sambungan hidrolis dan baja dengan beton.
  • Regulasi dan standarisasi yang belum sepenuhnya mendukung penerapan teknologi ini dalam skala luas.

Rekomendasi dan Masa Depan Rumah Panggung

Untuk meningkatkan efektivitas sistem sambungan ini dalam skala yang lebih luas, diperlukan beberapa langkah strategis:

  • Pelatihan tenaga kerja agar mampu memahami dan menerapkan teknologi sambungan hidrolis dengan benar.
  • Pengembangan standar nasional untuk sistem sambungan rumah panggung guna memastikan kualitas dan daya tahan struktur.
  • Peningkatan investasi pemerintah dan swasta dalam pengembangan perumahan adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Kesimpulan

Makalah Sistem Sambungan Struktur dalam Rumah Panggung memberikan wawasan penting mengenai inovasi dalam desain rumah panggung untuk meningkatkan daya tahan terhadap kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Beberapa poin utama yang dapat disimpulkan adalah:

  1. Sistem sambungan berbasis baja, beton, dan bambu terbukti meningkatkan stabilitas dan daya tahan rumah panggung.
  2. Penerapan teknologi hidrolis memungkinkan rumah untuk beradaptasi dengan kenaikan permukaan air, menjadikannya lebih fleksibel dibandingkan struktur konvensional.
  3. Tantangan utama dalam implementasi sistem ini adalah biaya awal yang tinggi dan kurangnya tenaga kerja terampil.
  4. Diperlukan kebijakan dan standarisasi yang lebih kuat untuk mendorong penerapan teknologi ini dalam skala luas.

Dengan penerapan yang lebih luas dan dukungan regulasi yang memadai, rumah panggung dengan sistem sambungan inovatif ini dapat menjadi solusi yang efektif dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana banjir di berbagai daerah.

Sumber: Widija Suseno Widjaja, Etty Endang Listiati, IM. Tri Hesti Mulyani, Bernadette Tyas Susanti. Sistem Sambungan Struktur dalam Rumah Panggung. Buletin Profesi Insinyur, Vol. 2 No. 3, 2019.

 

Selengkapnya
Sistem Sambungan Struktur dalam Rumah Panggung
« First Previous page 28 of 865 Next Last »