Teknologi Informasi

Navigasi Intelijen Bisnis: Membedah Arsitektur Data dalam Strategi Persaingan Modern

Dipublikasikan oleh Hansel pada 05 Januari 2026


Dalam lanskap ekonomi digital yang kian dinamis, data telah bertransformasi dari sekadar residu administratif menjadi aset strategis yang menentukan hidup mati sebuah organisasi. Kecepatan perusahaan dalam mengolah tumpukan data mentah menjadi pengetahuan yang dapat dieksekusi adalah kunci utama untuk memenangkan kompetisi di pasar2. Fenomena ini membawa kita pada disiplin Business Intelligence (BI), sebuah kategori aplikasi dan teknologi yang dirancang untuk mengumpulkan, menganalisis, serta menyediakan akses data guna membantu entitas bisnis mengambil keputusan yang jauh lebih berkualitas.

 

Dina Fitriana, seorang pakar teknik industri dengan rekam jejak akademis yang mendalam, menekankan bahwa di era Big Data saat ini, tantangan terbesar bukanlah ketiadaan informasi, melainkan bagaimana menyaring "emas" dari kebisingan data yang meluap. Perusahaan besar sering kali terjebak dalam silo-silo departemen, di mana data operasi, pemasaran, dan pengadaan tersebar tanpa sinkronisasi. Tanpa adanya integrasi, pimpinan perusahaan layaknya seorang nakhoda yang mencoba mengarahkan kapal besar di tengah kabut tanpa bantuan radar.

 

Filosofi Data Warehouse: Lebih dari Sekadar Gudang Informasi

Inti dari orkestrasi intelijen bisnis terletak pada pembangunan Data Warehouse. Berbeda dengan basis data transaksional biasa, Data Warehouse berfungsi sebagai titik tunggal masuknya data yang telah terkonsolidasi. W.H. Inmon mendefinisikan infrastruktur ini bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan basis data yang memiliki empat karakteristik fundamental:

  • Subject-Oriented: Data disusun berdasarkan area subjek utama, seperti nasabah dalam industri perbankan, bukan berdasarkan fungsi aplikasi.

  • Integrated: Menggabungkan berbagai sumber data yang mungkin memiliki format atau teknologi berbeda ke dalam satu standar yang konsisten.

  • Non-Volatile: Data yang masuk ke dalam gudang ini adalah data final yang tidak lagi mengalami perubahan fluktuatif, sehingga memberikan kepastian historis.

  • Time-Variant: Memiliki dimensi waktu yang memungkinkan organisasi melakukan analisis tren jangka panjang, dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun.

Implementasi nyata dari orientasi subjek ini dapat kita lihat pada industri perbankan. Semua data nasabah, termasuk riwayat kredit, dilaporkan ke Bank Indonesia. Jika seorang nasabah memiliki catatan kredit macet di satu bank, data tersebut akan terekam secara terintegrasi dalam sistem sentral, sehingga bank lain dapat mengambil keputusan yang akurat untuk menolak atau menerima permohonan pinjaman baru.

 

Dapur Pengolahan: Keajaiban Proses ETL

Transformasi data mentah menjadi informasi yang bermakna terjadi di sebuah "dapur" teknis yang dikenal sebagai proses ETL (Extract, Transform, Load). Proses ini sangat melelahkan dan memakan porsi waktu terbesar dalam siklus hidup pengembangan intelijen bisnis.

  • Extract: Tahap awal di mana data ditarik dari berbagai sumber yang heterogen, mulai dari SQL, Oracle, Excel, hingga dokumen teks.

  • Transform: Tahap paling krusial yang memakan sekitar 60% waktu proses. Di sini, data dibersihkan dari pencilan atau outlier. Jika rata-rata tinggi badan dalam sebuah kelompok adalah 165 cm namun ditemukan satu data sebesar 2 meter, maka data tersebut harus disaring agar tidak merusak akurasi model analitis.

  • Load: Data yang sudah matang dan bersih kemudian dimuat ke dalam target akhir, baik berupa Data Warehouse secara keseluruhan maupun Data Mart yang lebih spesifik.

Data Mart sendiri merupakan bagian dari gudang data yang difokuskan pada unit bisnis tertentu, seperti departemen pemasaran atau operasi. Hal ini mempermudah pengguna untuk memahami data dalam ruang lingkup yang lebih kecil dan relevan dengan tanggung jawab mereka.

 

Analisis Multidimensi: OLTP vs OLAP

Untuk memahami dinamika bisnis, organisasi harus mampu memisahkan aktivitas operasional dengan aktivitas analitis. Di sinilah kita membedakan antara Online Transaction Processing (OLTP) dan Online Analytical Processing (OLAP)2626.

  • OLTP: Berfokus pada jalannya fundamental bisnis sehari-hari, seperti pencatatan transaksi penjualan secara cepat dan berulang.

  • OLAP: Dirancang untuk perencanaan, pemecahan masalah, dan dukungan keputusan melalui pandangan multidimensi.

Aplikasi OLAP memungkinkan data dilihat dari perspektif Cube atau kubus. Sebuah kubus data memungkinkan seorang manajer melihat performa penjualan dari tiga sisi sekaligus: waktu (kapan transaksi terjadi), produk (apa yang paling laku), dan wilayah (di mana pasar terkuat). Dengan visualisasi ini, keputusan tidak lagi diambil berdasarkan insting semata, melainkan berdasarkan fakta-fakta yang saling berkorelasi.

 

Implementasi Sektoral: Dari Pabrik Roti Hingga Kebijakan Publik

Kecanggihan intelijen bisnis tidak hanya milik raksasa teknologi, tetapi juga telah merambah sektor industri menengah di Indonesia. Dalam studi kasus pada industri roti, penggunaan Data Mining dan teknik clustering memungkinkan pengelola untuk mengidentifikasi produk yang paling diminati dan wilayah distribusi yang paling efisien. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan mengelompokkan data sisa roti dan pola pemasaran, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerugian secara signifikan.

Di sektor kebijakan publik, intelijen bisnis memainkan peran vital dalam manajemen krisis. Selama masa pandemi COVID-19, pemerintah menggunakan analisis data tren untuk menentukan kebijakan penguncian wilayah atau lockdown. Begitu data menunjukkan tren kenaikan kasus yang tajam, keputusan strategis diambil untuk membatasi mobilitas, dan sebaliknya, pelonggaran dilakukan ketika data menunjukkan kurva yang mulai landai.

Bahkan dalam tren media sosial, BI dapat digunakan untuk mendeteksi topik hangat atau trending topic. Sebagai contoh, dalam perhelatan sirkuit Mandalika, sistem dapat menangkap dengan cepat bahwa pembicaraan mengenai "pawang hujan" menjadi tren yang mendominasi percakapan publik. Kemampuan menangkap sentimen publik ini adalah aset berharga bagi organisasi untuk menyesuaikan strategi komunikasi mereka secara real-time.

 

Strategi Organisasi: Membangun Kapasitas Internal vs Eksternal

Penerapan intelijen bisnis menuntut pimpinan perusahaan untuk mengambil keputusan strategis terkait model pengembangannya.

  • Outsource: Membeli solusi jadi dari pihak ketiga untuk mempercepat implementasi. Namun, model ini sering kali membuat organisasi sangat bergantung pada vendor luar dan mungkin kurang fleksibel terhadap budaya organisasi yang unik.

  • In-house: Mengembangkan sistem di dalam organisasi menggunakan sumber daya internal. Meski membutuhkan investasi waktu dan pelatihan yang besar, model ini menjamin bahwa sistem yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan spesifik perusahaan dan menjadi aset intelektual jangka panjang.

Apapun pilihannya, keberhasilan BI sangat bergantung pada antarmuka visual yang digunakan oleh para eksekutif, yang dikenal sebagai Dashboard. Dasbor ini layaknya panel kontrol mobil yang menampilkan indikator kinerja utama (KPI) melalui grafik-grafik intuitif seperti Pareto Chart. Dengan prinsip 80/20, manajer dapat melihat bahwa 80% masalah sering kali berasal dari 20% penyebab utama, sehingga mereka dapat memprioritaskan penyelesaian masalah yang paling berdampak.

Sebagai penutup, intelijen bisnis bukan sekadar tren teknologi, melainkan kompas strategis dalam persaingan usaha yang kian keras. Data yang terkumpul dari seluruh departemen, jika diolah dengan arsitektur Data Warehouse yang tepat dan dianalisis melalui proses ETL yang disiplin, akan memberikan kejernihan bagi pemimpin perusahaan untuk melangkah ke depan dengan penuh keyakinan.

Selengkapnya
Navigasi Intelijen Bisnis: Membedah Arsitektur Data dalam Strategi Persaingan Modern

Teknologi Informasi

Teknologi Informasi dan Industri 4.0 sebagai Fasilitator Internasionalisasi dan Kinerja Bisnis

Dipublikasikan oleh Hansel pada 30 Oktober 2025


Pendahuluan: Pertemuan Teknologi dan Globalisasi

Di era globalisasi, perusahaan dihadapkan pada tekanan kompetitif yang semakin intens. Perubahan cepat dalam teknologi digital, integrasi ekonomi global, serta tuntutan konsumen membuat perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan strategi lokal. Paper ini menyoroti sebuah pertanyaan penting: apakah penggunaan Teknologi Informasi (TI) dan adopsi teknologi Industri 4.0 benar-benar berpengaruh terhadap internasionalisasi serta kinerja bisnis?

Pertanyaan tersebut relevan karena banyak perusahaan, khususnya di negara berkembang, menghadapi dilema: apakah investasi dalam TI dan teknologi baru benar-benar menghasilkan nilai lebih, atau sekadar mengikuti tren? Dengan mengambil 168 perusahaan di Bogotá, Kolombia sebagai sampel, penulis mencoba memberikan jawaban empiris sekaligus menyusun kerangka konseptual mengenai peran teknologi dalam strategi global.

 

Kerangka Teoretis: Teknologi Sebagai Enabler

Teknologi Informasi dalam Perspektif Strategi

Dalam literatur manajemen, TI sudah lama dipandang sebagai infrastruktur strategis. Paper ini menekankan bahwa TI berperan melampaui fungsi administratif. Ia memungkinkan:

  • Integrasi proses bisnis lintas unit organisasi.
  • Akses informasi global yang mempercepat pengambilan keputusan.
  • Pengurangan biaya transaksi dalam aktivitas lintas batas.

Secara konseptual, penulis menghubungkan peran TI dengan teori resource-based view (RBV). Menurut pandangan ini, keunggulan kompetitif lahir dari sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan sulit digantikan. TI, bila diimplementasikan dengan baik, memenuhi kriteria tersebut.

Industri 4.0 sebagai Paradigma Baru

Sementara TI dipandang sebagai fondasi, Industri 4.0 dianggap sebagai lompatan paradigma. Teknologi seperti Internet of Things (IoT), big data, cloud computing, dan kecerdasan buatan bukan hanya meningkatkan efisiensi, tetapi menciptakan model bisnis baru.

Paper ini memosisikan Industri 4.0 sebagai transisi dari otomatisasi (era TI tradisional) menuju otonomi. Mesin tidak hanya menjalankan instruksi manusia, tetapi juga mampu menganalisis data, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.

Internasionalisasi sebagai Strategi Pertumbuhan

Internasionalisasi dalam penelitian ini tidak hanya diartikan sebagai ekspor, melainkan strategi menyeluruh untuk memasuki pasar global. Hambatan klasik berupa liability of foreignness—seperti keterbatasan informasi, jarak budaya, dan tingginya biaya koordinasi—dapat dikurangi melalui pemanfaatan TI.

 

Hasil dan Temuan Empiris

Perbedaan Penggunaan TI antara Perusahaan Lokal dan Internasional

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang berorientasi internasional memiliki tingkat penggunaan TI lebih tinggi (rata-rata 3,91) dibanding perusahaan lokal (3,36).

Refleksi: Angka ini menegaskan bahwa TI bukan sekadar “pelengkap” melainkan prasyarat untuk bersaing di pasar global. Tanpa infrastruktur TI yang kuat, perusahaan cenderung hanya mampu bermain di pasar lokal.

TI dan Internasionalisasi

Analisis regresi mengungkap bahwa penggunaan TI mampu menjelaskan 9,6% variabilitas dalam internasionalisasi perusahaan dengan signifikansi tinggi (p = 0,008).

Interpretasi konseptual: meskipun angkanya terlihat kecil, hal ini penting karena internasionalisasi adalah fenomena multifaktor. TI di sini berfungsi sebagai jembatan untuk mengurangi hambatan jarak dan informasi. Tanpa TI, strategi global akan sangat terbatas.

TI dan Kinerja Bisnis

Hubungan TI dengan kinerja terbukti lebih kuat:

  • Korelasi positif r = 0,422 (p = 0,000).
  • Kontribusi regresi: 25,6% variabilitas kinerja dijelaskan oleh penggunaan TI.

Refleksi teoretis: angka seperempat ini menegaskan bahwa TI memiliki peran strategis dalam meningkatkan kinerja, baik melalui efisiensi operasional, pengurangan biaya, maupun peningkatan layanan pelanggan. Namun, fakta bahwa 74,4% kinerja dijelaskan oleh faktor lain juga menjadi pengingat bahwa TI hanyalah satu dari sekian banyak faktor.

Adopsi Teknologi Industri 4.0

Menariknya, tingkat adopsi teknologi Industri 4.0 masih rendah:

  • Rata-rata keseluruhan hanya 1,90 dari skala 5.
  • Cloud computing menjadi teknologi dengan adopsi tertinggi (3,1).
  • Robot otonom (1,25) dan 3D printing (1,33) menjadi yang terendah.

Refleksi: rendahnya adopsi menunjukkan bahwa banyak perusahaan di negara berkembang masih berada pada tahap awal transformasi digital.

Industri 4.0 dan Kinerja Bisnis

Meskipun tingkat adopsinya rendah, dampak Industri 4.0 terhadap kinerja justru lebih kuat:

  • Korelasi positif r = 0,500 (p = 0,000).
  • Kontribusi regresi: 30,2% variabilitas kinerja dijelaskan oleh teknologi Industri 4.0.

Refleksi konseptual: hasil ini menunjukkan potensi performance leap. Artinya, meskipun sedikit perusahaan yang berinvestasi di teknologi ini, mereka yang melakukannya cenderung mengalami peningkatan kinerja yang signifikan.

 

Kritik Metodologis

  1. Keterbatasan Geografis
    Penelitian hanya dilakukan di Bogotá, Kolombia. Hal ini membatasi generalisasi, karena infrastruktur digital, budaya, dan regulasi berbeda di tiap negara.
  2. Pengukuran Subjektif
    Tingkat penggunaan teknologi diukur dengan skala Likert (1–5). Ini rawan bias persepsi karena hanya berdasarkan penilaian responden, bukan data objektif seperti nominal investasi atau intensitas penggunaan teknologi.
  3. Korelasi vs Kausalitas
    Penelitian menunjukkan adanya korelasi, tetapi tidak membuktikan kausalitas. Bisa jadi perusahaan yang lebih sukseslah yang lebih mampu berinvestasi dalam teknologi, bukan sebaliknya.
  4. Kurangnya Dimensi Organisasional
    Penulis fokus pada hubungan teknologi dengan kinerja, tetapi tidak menggali bagaimana budaya organisasi, kepemimpinan, atau strategi inovasi berinteraksi dengan teknologi.

 

Refleksi Konseptual Mendalam

TI sebagai Infrastruktur Globalisasi

Data empiris menunjukkan TI lebih berperan dalam internasionalisasi daripada Industri 4.0. Refleksi ini masuk akal: TI menyediakan bahasa komunikasi global melalui e-mail, platform digital, ERP, hingga e-commerce. Tanpa TI, perusahaan akan sulit membangun jaringan internasional.

Industri 4.0 sebagai Mesin Inovasi

Industri 4.0, meski adopsinya rendah, memiliki pengaruh lebih besar terhadap kinerja. Hal ini menegaskan bahwa Industri 4.0 bukan sekadar perpanjangan TI, melainkan paradigma baru yang mampu menghasilkan inovasi produk, layanan, dan model bisnis.

Data sebagai Faktor Produksi Baru

Baik TI maupun Industri 4.0 berpusat pada data. Jika revolusi industri sebelumnya digerakkan oleh energi, maka revolusi keempat ini digerakkan oleh data. Dalam kerangka ekonomi, data kini berperan sebagai faktor produksi baru yang setara dengan modal dan tenaga kerja.

Mesin sebagai Aktor Otonom

Industri 4.0 memperkenalkan ide bahwa mesin bukan sekadar alat, tetapi aktor organisasi dengan kapasitas otonom. Konsep ini menantang teori organisasi tradisional yang selalu menempatkan manusia sebagai pusat pengambilan keputusan.

 

Implikasi Ilmiah

  1. Kontribusi pada Teori Internasionalisasi
    Penelitian ini menunjukkan bahwa TI berperan sebagai enabler untuk menembus pasar global. Hal ini memperkaya teori internasionalisasi yang sebelumnya lebih menekankan faktor modal dan strategi pemasaran.
  2. Kontribusi pada Teori Resource-Based View
    TI dan Industri 4.0 terbukti memberikan nilai strategis yang berkontribusi langsung pada kinerja bisnis, sehingga dapat dipandang sebagai sumber daya yang bernilai dalam kerangka RBV.
  3. Paradigma Baru dalam Organisasi
    Temuan tentang pengaruh Industri 4.0 membuka jalan bagi teori baru tentang organisasi di mana mesin dan algoritma diperlakukan sebagai bagian integral dari ekosistem pengambilan keputusan.

 

Kesimpulan: Potensi dan Tantangan

Paper ini berhasil menunjukkan bahwa:

  • TI mendorong internasionalisasi dengan kontribusi 9,6%.
  • TI meningkatkan kinerja bisnis dengan kontribusi 25,6%.
  • Industri 4.0 berkontribusi lebih besar (30,2%) terhadap kinerja meskipun tingkat adopsinya masih rendah.

Secara konseptual, penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa TI dan Industri 4.0 adalah instrumen strategis dalam era globalisasi. Namun, keterbatasan metodologi dan konteks geografis membuat hasilnya perlu diuji ulang di sektor dan negara lain.

Refleksi akhir: kontribusi utama paper ini adalah memperlihatkan transformasi teknologi dari sekadar alat operasional menjadi sumber daya strategis yang membentuk arah internasionalisasi dan kinerja organisasi. Secara ilmiah, penelitian ini membuka ruang bagi teori baru tentang peran data, teknologi otonom, dan ekosistem digital dalam membentuk daya saing global di abad ke-21.

 

Sumber Artikel:

http://dx.doi.org/10.15446/ing.investig.v40n3.81696

Selengkapnya
Teknologi Informasi dan Industri 4.0 sebagai Fasilitator Internasionalisasi dan Kinerja Bisnis

Teknologi Informasi

Mengintegrasikan Quality by Design (QbD) dalam Formulasi Topikal Tretinoin: Refleksi Inovatif terhadap Pengembangan Farmasi Modern

Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 02 Agustus 2025


Pendahuluan: Saat Desain Menentukan Kualitas

Di era farmasi berbasis presisi, pendekatan Quality by Design (QbD) telah berkembang menjadi tulang punggung pengembangan produk obat yang berorientasi mutu. Studi karya Emanuele Tomba mengangkat bagaimana QbD dapat diimplementasikan dalam merancang sediaan hidrogel topikal tretinoin, dengan mengedepankan kualitas, kestabilan, dan efektivitas sebagai hasil desain sistematis, bukan hanya uji akhir.

Tretinoin, turunan vitamin A yang banyak digunakan dalam terapi jerawat dan penuaan kulit, dikenal memiliki stabilitas rendah terhadap cahaya dan oksidasi. Oleh karena itu, pendekatan QbD dalam mengembangkan bentuk sediaan hidrogel bukan hanya relevan, tetapi krusial.

Kerangka Teori: QbD sebagai Prinsip Ilmiah dan Strategi Desain

QTPP, CQA, CPP, CMA: Pilar Fondasional

Penulis menyusun pendekatan pengembangan hidrogel tretinoin berbasis empat komponen utama QbD:

  • Quality Target Product Profile (QTPP): Deskripsi ideal produk, termasuk aplikasi topikal, stabilitas kimia, dan tolerabilitas kulit.

  • Critical Quality Attributes (CQAs): Parameter yang mencakup kekentalan, ukuran partikel (jika relevan), stabilitas tretinoin, pH, serta profil pelepasan obat.

  • Critical Material Attributes (CMAs): Termasuk jenis dan konsentrasi polimer pembentuk gel (karbomer), surfaktan, pengawet, dan antioksidan.

  • Critical Process Parameters (CPPs): Meliputi suhu pencampuran, kecepatan agitasi, dan urutan penambahan bahan.

Pendekatan ini memastikan bahwa kualitas tidak dihasilkan melalui kontrol produk akhir semata, melainkan melalui pemahaman ilmiah terhadap seluruh siklus formulasi.

Desain Formulasi: Sintesis Ilmu Kimia dan Strategi Terapeutik

Mengapa Hidrogel?

Hidrogel dipilih karena menawarkan:

  • Sensasi non-lengket dan mudah diratakan pada kulit.

  • Permeabilitas dan hidrasi kulit yang baik untuk penetrasi tretinoin.

  • Kemampuan membawa bahan aktif dalam lingkungan semi-akuatik, yang dapat mendukung stabilitas kimia.

Pemilihan Polimer dan Eksipien

Penulis mengevaluasi berbagai jenis karbomer (termasuk Carbopol 934 dan 980) sebagai agen pengental. Pemilihan ini mempertimbangkan:

  • Stabilitas tretinoin dalam pH rendah-menengah.

  • Interaksi antara karbomer dengan tretinoin dan bahan tambahan.

  • Kekentalan akhir dan kemudahan aplikasi.

Penambahan Antioksidan dan Pengawet

  • Butylated hydroxytoluene (BHT) dan EDTA digunakan sebagai antioksidan untuk menghambat degradasi tretinoin akibat oksidasi.

  • Parabens digunakan sebagai pengawet dengan tujuan mempertahankan kualitas mikrobiologis, mengingat hidrogel bersifat semi-akuatik.

Strategi Eksperimental: Optimalisasi Melalui DoE

Desain Eksperimen sebagai Jantung QbD

Untuk mengidentifikasi kombinasi ideal bahan, penulis menggunakan Design of Experiment (DoE), terutama pendekatan faktorial dan response surface methodology (RSM). Parameter utama yang dimanipulasi meliputi:

  • Konsentrasi karbomer

  • Jenis antioksidan

  • pH akhir sistem

  • Konsentrasi tretinoin

Hasil dan Refleksi Teoretis

Beberapa temuan utama:

  • pH optimal berkisar antara 4.0–5.5 — cukup rendah untuk menjaga stabilitas tretinoin tetapi cukup tinggi agar karbomer tetap aktif dan dapat membentuk gel.

  • Konsentrasi tretinoin optimal di bawah 0.05% menunjukkan bahwa peningkatan dosis tidak secara proporsional meningkatkan efektivitas topikal, melainkan meningkatkan risiko iritasi kulit.

  • BHT + EDTA sebagai kombinasi antioksidan menunjukkan perlindungan oksidatif paling kuat selama penyimpanan 3 bulan.

Interpretasi ini mendemonstrasikan pemahaman menyeluruh penulis terhadap dinamika kimia-fisika sediaan topikal serta respons biologis kulit.

Pengujian Produk dan Analisis Kritis

Studi Stabilitas

Produk diuji dalam kondisi:

  • Suhu 25 °C dan 40 °C, disertai pencahayaan (untuk simulasi kondisi penyimpanan dan penggunaan).

  • Hasil menunjukkan penurunan kadar tretinoin lebih lambat pada sistem dengan antioksidan ganda, dengan degradasi <10% selama 3 bulan.

Uji Organoleptik dan Fisikokimia

  • Viskositas tetap stabil dengan nilai ideal untuk penggunaan dermal.

  • pH bertahan di kisaran 4.5–5.2, tanpa fluktuasi drastis.

  • Aspek sensorial (tekstur, warna, bau) juga dijaga konsisten.

Profil Pelepasan Obat

Dengan menggunakan uji difusi membran sintetis, hidrogel menunjukkan profil pelepasan yang stabil dan terkendali dalam 8 jam. Ini menunjukkan sistem mampu mengantarkan tretinoin secara kontinyu ke permukaan kulit.

Refleksi terhadap Narasi dan Logika Penulis

Kekuatan Argumentasi

  • Keterkaitan teori dan praktik sangat kuat — setiap keputusan desain didukung dengan data eksperimental.

  • Logika konseptual berjalan linear, dari QTPP → CQA → DoE → hasil.

  • Dokumentasi risiko dan kontrol melalui diagram fishbone dan matriks risiko menambah kekokohan pendekatan QbD.

Kritik Metodologis

  • Uji kompatibilitas bahan aktif dan eksipien secara termal atau spektroskopi tidak dijelaskan mendalam. Ini bisa menguatkan justifikasi stabilitas.

  • Skala eksperimental terbatas pada laboratorium — belum ada validasi produksi skala pilot/GMP.

  • Tidak ada uji eks vivo atau in vivo, yang padahal krusial untuk validasi biofarmasetika sediaan topikal.

Signifikansi Angka dan Makna Teoretis

pH 4.5–5.2: Keseimbangan Kimia-Biologis

Stabilitas tretinoin sangat sensitif terhadap pH. Terlalu rendah mengurangi efektivitas topikal, terlalu tinggi mempercepat degradasi. Penulis menemukan bahwa pH sekitar 4.5–5.2 mampu menjaga integritas tretinoin sambil tetap berada dalam rentang toleransi kulit.

Degradasi <10% dalam 3 Bulan: Penanda Stabilitas Nyata

Dalam konteks sediaan tretinoin, degradasi di bawah 10% selama penyimpanan adalah indikator stabilitas formulasi yang layak. Ini menunjukkan bahwa sistem antioksidan bekerja efektif, bahkan tanpa kontrol suhu ekstrem.

Pelepasan Stabil hingga 8 Jam: Menjamin Efikasi Klinis

Studi in vitro menunjukkan bahwa hidrogel dapat melepaskan tretinoin secara perlahan dan konsisten, yang mendukung terapi dengan paparan minimal namun hasil maksimal.

Implikasi Ilmiah dan Masa Depan Formulasi Tretinoin

Formulasi ini membuka jalan untuk:

  • Produk tretinoin dengan profil stabilitas yang lebih baik, mengurangi pembatasan penyimpanan.

  • Pengembangan formulasi topikal lain berbasis QbD, seperti asam azelat, adapalen, atau niacinamide.

  • Integrasi QbD dalam proses akademik dan industri, mempercepat transisi dari laboratorium ke regulasi.

Dengan membuktikan bahwa QbD dapat diterapkan bahkan dalam skala laboratorium, studi ini mendorong pendekatan desain berbasis ilmu sebagai norma baru, bukan pengecualian.

Kesimpulan: Kualitas Tidak Lagi Dipertaruhkan, Tapi Dirancang

Melalui penerapan menyeluruh prinsip QbD, Emanuele Tomba berhasil merancang formulasi hidrogel tretinoin yang stabil, fungsional, dan sesuai dengan kebutuhan terapeutik serta industri. Kekuatan studi ini terletak pada integrasi antara teori farmasi, teknik formulasi, dan evaluasi risiko. Ia membuktikan bahwa kualitas tidak harus diuji di akhir, tapi harus dibangun sejak awal. Ini adalah paradigma baru dalam pengembangan obat topikal — di mana ilmu, desain, dan hasil klinis berjalan seiring.

Selengkapnya
Mengintegrasikan Quality by Design (QbD) dalam Formulasi Topikal Tretinoin: Refleksi Inovatif terhadap Pengembangan Farmasi Modern

Teknologi Informasi

Optimalisasi Las GMAW Berbasis Desain Taguchi: Perspektif Konseptual terhadap Kendali Proses dan Mutu Sambungan

Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 02 Agustus 2025


Pendahuluan: Las GMAW sebagai Ruang Inovasi Kendali Proses

Gas Metal Arc Welding (GMAW) merupakan salah satu metode pengelasan yang paling banyak digunakan dalam industri manufaktur modern karena keefisienan dan fleksibilitasnya. Namun, performa sambungan las tetap sangat bergantung pada kendali terhadap parameter proses. Dalam paper ini, penulis mengeksplorasi pengaruh parameter las seperti arus, tegangan, dan kecepatan kawat terhadap karakteristik sambungan, menggunakan pendekatan statistik yang sistematis: metodologi desain Taguchi.

Melalui pengujian dan analisis statistik, studi ini bertujuan memformulasikan pengaturan optimal parameter agar diperoleh hasil las dengan kekuatan maksimum. Pendekatan ini tidak hanya bersifat eksperimental, tetapi juga konseptual karena menyelaraskan prinsip kendali mutu dengan efisiensi proses.

Kerangka Teori: Metodologi Taguchi dan Kendali Variasi Proses

Metodologi Taguchi Design of Experiment (DoE) adalah pendekatan statistik yang dirancang untuk meminimalkan variasi proses dan mengoptimalkan performa dengan jumlah eksperimen minimal. Prinsip dasarnya:

  • Orthogonal Arrays (OA): Rancangan eksperimen yang seimbang untuk menguji kombinasi variabel.

  • Signal-to-Noise Ratio (S/N): Ukuran kestabilan proses terhadap gangguan.

  • Faktor dan Level: Penentuan variabel proses dan nilai-nilai yang diuji.

Penulis menerapkan OA L9 (3³), artinya tiga parameter diuji pada tiga level, menghasilkan sembilan kombinasi eksperimen.

Desain Eksperimen dan Parameter Uji

Parameter Proses yang Dipilih

  1. Arus Pengelasan (Welding Current): Level – 80 A, 100 A, 120 A

  2. Tegangan (Voltage): Level – 18 V, 20 V, 22 V

  3. Kecepatan Kawat (Wire Feed Rate): Level – 80 mm/min, 100 mm/min, 120 mm/min

📌 Refleksi teoritis: Pemilihan parameter ini merepresentasikan variabel kontrol utama dalam sistem GMAW dan berkorelasi langsung terhadap kualitas struktur sambungan.

Hasil Eksperimen dan Sorotan Angka

Kekuatan Tarik Maksimum (Ultimate Tensile Strength / UTS)

Dari sembilan eksperimen, kekuatan tarik maksimum bervariasi antara 405 MPa hingga 487 MPa.

🔍 Refleksi: Variasi ini menunjukkan sejauh mana parameter memengaruhi integritas mekanik sambungan. Kombinasi optimal menghasilkan peningkatan hingga 20% dibanding kondisi sub-optimal.

Analisis Rasio Sinyal terhadap Noise (S/N Ratio)

S/N Ratio diinterpretasikan berdasarkan prinsip "lebih besar lebih baik" (higher-the-better). Nilai S/N tertinggi dicapai saat:

  • Arus = 100 A

  • Tegangan = 20 V

  • Kecepatan kawat = 100 mm/min

📌 Makna teoritis: Ini menunjukkan bahwa bukan level maksimum, melainkan kombinasi parameter menengah justru menghasilkan performa terbaik — mendukung prinsip kendali variasi proses ala Taguchi.

Pengaruh Faktor Individu (Main Effects Plot)

Analisis menunjukkan:

  • Arus pengelasan berpengaruh paling signifikan terhadap UTS

  • Tegangan dan kecepatan kawat memiliki kontribusi sedang dan rendah secara berturut-turut

🔍 Interpretasi: Ini menandakan bahwa energi input utama (arus) memainkan peran krusial dalam membentuk zona fusi dan mikrostruktur hasil pengelasan.

Narasi Argumentatif: Rancangan Statistik sebagai Jalan Efisiensi Proses

Penulis menyusun argumen bahwa pendekatan tradisional dalam pengelasan seringkali mengandalkan pengalaman dan trial-error. Di sinilah desain Taguchi menjadi solusinya — memungkinkan eksplorasi sistematis terhadap banyak kombinasi dengan eksperimen minimal.

Narasi yang dibangun menunjukkan bahwa metodologi statistik bukan sekadar alat bantu teknis, melainkan strategi desain proses itu sendiri. Dengan desain orthogonal dan analisis rasio sinyal terhadap noise, penulis mengarahkan pembaca pada paradigma bahwa kualitas sambungan bukan hanya hasil akhir, tapi juga cerminan pengendalian proses yang dirancang secara presisi.

Kontribusi Ilmiah Artikel

  • Menyediakan pendekatan kuantitatif dalam optimasi pengelasan GMAW

  • Menggunakan desain eksperimen Taguchi yang efisien

  • Menyediakan peta pengaruh parameter proses terhadap performa mekanik

  • Menunjukkan hubungan antara konfigurasi parameter dan variabilitas kualitas

  • Mengilustrasikan bagaimana kombinasi parameter menengah bisa lebih optimal dari level ekstrim

Daftar Poin: Parameter Optimum dan Efeknya

Kombinasi Parameter Optimum:

  • Arus = 100 A

  • Tegangan = 20 V

  • Wire Feed = 100 mm/min

Efek yang Dihasilkan:

  • UTS Maksimum: ~487 MPa

  • S/N Ratio: Tertinggi dari seluruh eksperimen

  • Stabilitas: Terbukti dari variansi antar ulangan yang rendah

Kritik terhadap Pendekatan Penulis

Kekuatan:

  • Pemanfaatan metode Taguchi secara tepat dan proporsional

  • Penjelasan sistematis tiap langkah eksperimen

  • Penyajian data numerik yang ringkas dan mudah dipahami

Kelemahan:

  1. Tidak dibahas aspek mikrostruktur atau metalurgi hasil pengelasan.

  2. Tidak ada validasi eksperimen lanjutan di luar 9 kombinasi awal.

  3. Tidak dibahas biaya atau efisiensi energi dari konfigurasi optimal.

📌 Saran: Penelitian lanjutan bisa mengeksplorasi hubungan antara parameter optimum dan karakteristik mikrostruktur, serta menilai keberlanjutan proses dari sisi konsumsi energi.

Refleksi Teoritis: Signifikansi Studi dalam Konteks Industri

Studi ini menegaskan bahwa optimasi proses industri bisa dilakukan dengan cara yang ekonomis dan ilmiah sekaligus. Dengan sembilan eksperimen saja, penulis mampu:

  • Memetakan sensitivitas parameter

  • Menemukan kombinasi optimum

  • Mengurangi ketidakpastian dalam produksi

🔍 Makna strategis: Di dunia industri, waktu dan sumber daya sangat terbatas. Desain Taguchi menjadi solusi optimal untuk pengambilan keputusan berbasis data dalam proses-proses kompleks seperti pengelasan.

Implikasi Ilmiah dan Praktis

Penelitian ini memberikan kontribusi pada dua bidang utama:

1. Ilmiah:

  • Memperluas aplikasi desain Taguchi dalam proses manufaktur logam

  • Menyediakan referensi kuat untuk korelasi antara variabel proses dan performa mekanik

2. Industri:

  • Membantu insinyur menetapkan standar pengelasan berbasis data

  • Mengurangi kegagalan sambungan akibat trial-error

  • Menyediakan dasar untuk otomatisasi dan digitalisasi kontrol proses

Kesimpulan: Las yang Kuat Dimulai dari Desain yang Cermat

Paper ini menunjukkan bahwa penguatan kualitas sambungan tidak harus menunggu hasil akhir, tetapi bisa dibangun sejak proses dirancang. Dengan menggunakan desain Taguchi, penulis berhasil:

  • Menetapkan konfigurasi parameter optimal

  • Mengungkap faktor dominan dalam mutu sambungan

  • Menyediakan model pendekatan efisien bagi proses manufaktur lain

Lebih dari sekadar eksperimen laboratorium, studi ini mencerminkan evolusi cara berpikir dalam kendali mutu industri — dari empiris ke sistematis, dari spekulatif ke prediktif.

Selengkapnya
Optimalisasi Las GMAW Berbasis Desain Taguchi: Perspektif Konseptual terhadap Kendali Proses dan Mutu Sambungan

Teknologi Informasi

Mengurai Hambatan Penerapan Teknologi Informasi di Industri Konstruksi: Studi Kasus Perusahaan di Nevada

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 30 April 2025


Pendahuluan: Ketika Inovasi Tertahan oleh Realita Industri

Di era digital, adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) seharusnya menjadi hal yang niscaya di berbagai sektor, termasuk konstruksi. Namun, realitanya, sektor ini justru menjadi salah satu yang paling lambat dalam menerima inovasi. Penelitian yang dilakukan oleh Thejasvi Andipakula di sebuah perusahaan konstruksi di Nevada, AS, mengupas tuntas apa saja penghambat utama adopsi ICT dan bagaimana strategi mengatasinya.

 

Latar Belakang Penelitian: Manfaat ICT vs Realita Lapangan

ICT dalam industri konstruksi mampu meningkatkan efisiensi biaya, mempercepat proses pembangunan, dan memperkuat koordinasi antar pemangku kepentingan. Namun, proses implementasinya tidak sesederhana itu. Beragam studi telah mencatat adanya tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran, budaya organisasi yang konvensional, hingga resistensi individu terhadap teknologi.

Studi ini memfokuskan pada:

  • Alat ICT yang umum digunakan

  • Hambatan utama dalam adopsi ICT

  • Strategi yang digunakan perusahaan untuk mengatasinya
     

 

Metodologi: Studi Kasus dan Pendekatan Kualitatif

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus. Data dikumpulkan melalui 9 wawancara mendalam dengan karyawan dari tiga divisi (perumahan, komersial, industri) dan dianalisis menggunakan pendekatan tematik melalui perangkat lunak NVivo.

Model Innovation Diffusion Theory (Rogers, 1983) digunakan untuk mengkategorikan sikap individu terhadap adopsi teknologi (innovator, early adopter, late majority, dll.).

 

Hasil dan Temuan Utama: Penerimaan Tinggi, Implementasi Tertahan

1. Karyawan sadar pentingnya ICT, namun belum semua siap menggunakannya secara aktif.

Contoh: Seorang manajer proyek menyatakan “Saya tahu BIM sangat membantu, tapi saya belum punya waktu cukup untuk mempelajarinya.”

2. Hambatan utama adopsi ICT dikategorikan menjadi tiga level:

A. Organisasi

  • Kurangnya waktu untuk pelatihan

  • Ketidakcocokan antara proses bisnis lama dan teknologi baru

  • Rendahnya dukungan kebijakan jangka panjang
     

B. Individu

  • Minimnya keahlian komputer dasar

  • Ketidaknyamanan menghadapi teknologi baru

  • Waktu kerja yang padat membuat belajar ICT terasa “tidak realistis”
     

C. Kelompok

  • Jarak geografis antartim menyulitkan proses learning by observation

  • Minimnya diskusi antar anggota tim seputar teknologi
     

3. Faktor Finansial ternyata bukan hambatan utama

 

Menariknya, perusahaan studi kasus memiliki dana cukup dan bahkan dukungan dari top manajemen. Namun, kendala muncul di level implementasi dan budaya kerja.

 

Strategi Mengatasi Hambatan: Belajar dari Lapangan

1. Pelatihan Terstruktur

Perusahaan menyediakan pelatihan in-house rutin. Namun pelatihan teknis saja tidak cukup—harus dikaitkan langsung dengan tugas harian.

2. Pemberdayaan “Champion” Teknologi

Seorang anggota tim dijadikan pionir yang menjadi jembatan antara teknologi dan pengguna awam.

3. Budaya Observasional

Tim didorong untuk saling memperlihatkan manfaat ICT dalam pekerjaan mereka—strategi ini terbukti efektif pada karyawan yang enggan belajar formal.

4. Dukungan Manajemen

Pimpinan proyek mendorong penggunaan ICT meskipun produktivitas sempat menurun di awal. Ini menunjukkan adanya toleransi adaptasi sebagai bagian dari transisi.

 

Analisis dan Perbandingan

Dibandingkan Studi Serupa

Penelitian ini selaras dengan temuan Peansupap & Walker (2005) bahwa faktor manusia dan budaya organisasi lebih dominan menghambat ICT daripada teknologi itu sendiri. Studi juga menegaskan temuan Wong & Lam (2010) bahwa resistensi kultural adalah batu sandungan utama.

Kelebihan Penelitian

  • Menggunakan pendekatan tematik dan teori adopsi inovasi Rogers

  • Data primer dari wawancara nyata

  • Fokus pada persepsi dan pengalaman nyata karyawan
     

Kritik

  • Hanya menggunakan satu perusahaan sebagai sampel

  • Tidak membandingkan efektivitas ICT secara kuantitatif

  • Belum menyentuh isu keberlanjutan atau pengaruh eksternal seperti kebijakan pemerintah
     

 

Implikasi Praktis

Untuk Perusahaan Konstruksi:

  • Jangan hanya beli software—bangun budaya dan pelatihan internal

  • Evaluasi kesiapan organisasi, bukan sekadar kesiapan teknologi

  • Identifikasi siapa champion teknologi Anda di setiap proyek
     

Untuk Dunia Pendidikan:

  • Perlu integrasi kurikulum ICT dalam pendidikan teknik sipil dan manajemen konstruksi
     

Untuk Regulator:

  • Perlunya standardisasi digital readiness bagi perusahaan konstruksi
     

 

Kesimpulan

Studi ini membuktikan bahwa adopsi ICT dalam konstruksi bukan soal teknologi, tapi soal manusia, budaya, dan waktu. Bahkan ketika dana dan teknologi tersedia, tantangan sejati ada pada resistensi budaya, kurangnya waktu belajar, serta miskomunikasi antar tim. Untuk mengatasi hal ini, pendekatan multidimensi yang mencakup pelatihan, champion teknologi, dukungan manajerial, dan pembelajaran antar rekan kerja menjadi solusi yang paling efektif.

 

Sumber Artikel

Andipakula, T. (2017). A Case Study of Barriers Inhibiting the Growth of Information and Communication Technology (ICT) in a Construction Firm. Colorado State University.
Tersedia di: https://mountainscholar.org/handle/10217/185805

Selengkapnya
Mengurai Hambatan Penerapan Teknologi Informasi di Industri Konstruksi: Studi Kasus Perusahaan di Nevada

Teknologi Informasi

Teknologi: Apa yang dimaksud Sampling (pemrosesan sinyal)

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 29 April 2025


Dalam pemrosesan sinyal, pengambilan sampel adalah reduksi sinyal waktu kontinu menjadi sinyal waktu diskrit. Contoh umum adalah mengubah gelombang suara menjadi rangkaian "sampel". Sampel adalah nilai suatu sinyal dalam waktu dan/atau ruang; definisi ini berbeda dari penggunaan istilah dalam statistik untuk merujuk pada sekumpulan nilai tersebut. [A] Sampler adalah subsistem atau fungsi yang mengekstraksi sampel dari sinyal kontinu. Sampler ideal teoritis menghasilkan sampel yang sesuai dengan nilai sesaat dari sinyal kontinu pada titik yang diinginkan. Sinyal asli dapat direkonstruksi dari rangkaian sampel hingga batas Nyquist dengan melewatkan urutan sampel melalui filter rekonstruksi.

Signal sampling representation. The continuous signal S(t) is represented with a green colored line while the discrete samples are indicated by the blue vertical lines.

Teori

Laju sampel atau laju sampel fs adalah jumlah rata-rata sampel yang diterima per detik, yaitu fs = 1/T, satuan sampel per detik, kadang disebut hertz, mis. 48kHz adalah 48.000 sampel per detik.

Rekonstruksi fungsi kontinu dari sampel dilakukan dengan menggunakan algoritma interpolasi. Rumus interpolasi Whittaker – Shannon secara matematis setara dengan filter low-pass ideal yang masukannya berupa rangkaian fungsi delta Dirac yang dimodulasi (dikalikan) dengan nilai sampel. Jika selang waktu antara sampel yang berdekatan adalah konstan (T), rangkaian fungsi delta disebut sisir Dirac. Secara matematis, sisir Dirac yang termodulasi sesuai dengan produk fungsi sisir dengan s(t). Abstraksi matematis ini kadang-kadang disebut pengambilan sampel impuls.

Kebanyakan sinyal sampel tidak direkam atau direkonstruksi. Akurasi rekonstruksi teoretis adalah ukuran umum efisiensi pengambilan sampel. Akurasi ini berkurang jika s(t) berisi komponen frekuensi dengan panjang siklus (periode) lebih kecil dari 2 interval pengambilan sampel (lihat Alias). Batas frekuensi ekuivalen dalam siklus per detik (hertz) adalah 0,5 siklus per sampel × fs sampel/detik = fs/2, yang dikenal sebagai laju pengambilan sampel Nyquist. Oleh karena itu, s(t) biasanya merupakan keluaran dari filter low-pass yang dikenal sebagai filter anti-aliasing. Tanpa filter antialiasing, frekuensi di atas frekuensi Nyquist mempengaruhi sampel dengan cara yang disalahartikan oleh proses interpolasi.

Pertimbangan praktis

Dalam praktiknya, sinyal kontinu diambil sampelnya menggunakan konverter analog-ke-digital (ADC), yang memiliki berbagai keterbatasan fisik. Hal ini menyebabkan penyimpangan dari rekonstruksi yang secara teoritis sempurna, yang secara kolektif dikenal sebagai distorsi.

Berbagai jenis distorsi dapat terjadi, termasuk:

  • Aliasing. Sejumlah aliasing tidak dapat dihindari karena hanya fungsi teoretis yang panjangnya tak terhingga yang tidak dapat memiliki konten frekuensi di atas frekuensi Nyquist. Aliasing dapat dibuat sekecil apa pun dengan menggunakan filter anti-aliasing dalam jumlah yang cukup besar.
  • Aperture dihasilkan dari fakta bahwa sampel diperoleh sebagai rata-rata waktu dalam wilayah pengambilan sampel, dan bukan hanya sama dengan nilai sinyal pada saat pengambilan sampel. Dalam rangkaian sampel dan penahan berbasis kapasitor, kesalahan bukaan disebabkan oleh berbagai mekanisme. Misalnya, kapasitor tidak dapat langsung melacak sinyal masukan dan kapasitor tidak dapat langsung diisolasi dari sinyal masukan.
  • Jitter atau penyimpangan dari interval waktu sampel yang tepat.
  • Noise, termasuk kebisingan sensor termal, kebisingan sirkuit analog, dll.
  • Kesalahan batas laju perubahan tegangan, disebabkan oleh ketidakmampuan nilai masukan ADC berubah cukup cepat.
  • Kuantisasi sebagai konsekuensi dari ketepatan terbatas kata-kata yang mewakili nilai yang dikonversi.
  • Kesalahan karena efek non-linier lainnya dari pemetaan tegangan masukan ke nilai keluaran yang dikonversi (selain efek kuantisasi).

Meskipun penggunaan oversampling dapat sepenuhnya menghilangkan kesalahan apertur dan aliasing dengan memindahkannya keluar dari bandwidth, teknik ini tidak dapat digunakan dalam praktiknya di atas beberapa GHz dan bisa sangat mahal pada frekuensi yang jauh lebih rendah. Selain itu, meskipun pengambilan sampel berlebihan dapat mengurangi kesalahan kuantisasi dan nonlinier, hal ini tidak dapat sepenuhnya menghilangkannya. Oleh karena itu, ADC praktis pada frekuensi audio biasanya tidak menunjukkan aliasing, kesalahan aperture, dan tidak dibatasi oleh kesalahan kuantisasi. Sebaliknya, noise analog mendominasi. Pada frekuensi RF dan gelombang mikro, ketika oversampling tidak praktis dan filter mahal, kesalahan aperture, kesalahan kuantisasi, dan anti-aliasing dapat menjadi batasan yang signifikan.

Aplikasi

Audio digital menggunakan modulasi kode pulsa (PCM) dan sinyal digital untuk mereproduksi suara. Ini termasuk konversi analog-ke-digital (ADC), konversi digital-ke-analog (DAC), penyimpanan dan transmisi. Faktanya, sistem yang sering disebut sebagai digital sebenarnya adalah analog tingkat diskrit dan waktu diskrit dari analog listrik sebelumnya. Meskipun sistem modern bisa sangat rumit dalam metodenya, keuntungan utama sistem digital adalah kemampuannya untuk menyimpan, memperoleh, dan mengirimkan sinyal tanpa kehilangan kualitas.

Jika diperlukan untuk menangkap suara yang mencakup seluruh rentang pendengaran manusia 20-20.000 Hz, seperti saat merekam musik atau berbagai peristiwa akustik, bentuk gelombang audio biasanya ditangkap pada 44,1 kHz (CD), 48 kHz. , 88,2 kHz atau 96 kHz. Persyaratan kecepatan kira-kira dua kali lipat adalah konsekuensi dari teorema Nyquist. Kecepatan pengambilan sampel di atas 50kHz hingga 60kHz tidak dapat memberikan informasi yang lebih berguna bagi pendengar manusia. Produsen audio profesional awal memilih laju pengambilan sampel antara 40 dan 50 kHz karena alasan ini.

Disadur dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Sampling_(signal_processing)

Selengkapnya
Teknologi: Apa yang dimaksud Sampling (pemrosesan sinyal)
page 1 of 2 Next Last »