Teknik Lingkungan
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Limbah beracun
Limbah beracun merujuk pada segala jenis bahan yang tidak diinginkan dan memiliki potensi untuk menyebabkan bahaya jika terhirup, tertelan, atau terserap melalui kulit. Banyak limbah beracun dihasilkan oleh industri, sementara produk konsumen seperti televisi, komputer, dan telepon juga mengandung bahan kimia beracun yang dapat mencemari udara, tanah, dan air. Pembuangan limbah semacam itu menjadi permasalahan besar dalam kesehatan masyarakat.
Mengklasifikasikan bahan beracun
Bahan beracun seringkali merupakan produk samping dari industri seperti manufaktur, pertanian, konstruksi, otomotif, laboratorium, dan rumah sakit. Bahan-bahan ini dapat mengandung logam berat, radiasi, patogen berbahaya, atau racun lainnya. Seiring dengan revolusi industri, limbah beracun semakin melimpah, menyebabkan permasalahan global yang serius. Pembuangan limbah ini menjadi semakin penting dengan adanya kemajuan teknologi yang mengandung komponen kimia beracun.
Telepon seluler, komputer, televisi, dan panel surya adalah beberapa produk yang mengandung bahan kimia beracun. Limbah-limbah ini jika tidak dibuang dengan benar dapat mencemari udara, tanah, dan air. Sebuah bahan dianggap beracun jika dapat menyebabkan kematian atau bahaya jika terhirup, tertelan, atau terserap melalui kulit.
Limbah beracun bisa mengandung berbagai macam zat berbahaya seperti bahan kimia, logam berat, radiasi, patogen berbahaya, atau racun lainnya. Bahkan, rumah tangga juga bisa menjadi sumber limbah berbahaya melalui barang-barang seperti baterai, peralatan komputer bekas, serta sisa cat atau pestisida.
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) telah mengidentifikasi 11 zat utama yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Di antaranya adalah arsenik, asbes, kadmium, kromium, limbah klinis, sianida, timbal, merkuri, PCB, POPs, serta asam dan basa kuat.Limbah beracun dan berbahaya yang sering diabaikan berasal dari produk rumah tangga seperti aki bekas, pestisida, cat, dan oli mobil. Limbah-limbah ini dapat bersifat reaktif, mudah terbakar, dan korosif.
Di Amerika Serikat, limbah beracun diatur berdasarkan Resource Conservation and Recovery Act (RCRA). Limbah beracun dan berbahaya harus ditangani dengan hati-hati dan dibuang di fasilitas yang ditunjuk, serta seringkali ada hari pengumpulan limbah beracun rumah tangga di banyak kota. Beberapa bahan yang tidak diterima di tempat pembuangan sampah biasa termasuk amunisi, limbah komersial, bahan peledak, jarum suntik, limbah medis, bahan radioaktif, dan detektor asap.
Efek kesehatan
Limbah beracun sering mengandung zat-zat karsinogen, dan paparan terhadap zat-zat tersebut dapat meningkatkan risiko kanker pada individu yang terpapar. Contohnya, kelompok kasus polisitemia vera, sebuah jenis kanker darah langka, ditemukan di sekitar lokasi pembuangan limbah beracun di timur laut Pennsylvania pada tahun 2008.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jurnal Penilaian Risiko Manusia & Ekologis memeriksa kesehatan individu yang tinggal di dekat tempat pembuangan sampah kota. Mereka menemukan bahwa tinggal di dekat tempat pembuangan sampah dapat meningkatkan risiko terkena beberapa jenis kanker. Penelitian ini dilakukan di Massachusetts barat dalam radius 1 mil dari TPA Regional North Hampton.
Zat-zat beracun tersebut bisa terkubur di dalam tanah, di limpasan sungai, di air tanah yang digunakan untuk air minum, atau di air banjir, seperti yang terjadi setelah Badai Katrina. Beberapa zat beracun, seperti merkuri, dapat bertahan lama di lingkungan dan terakumulasi. Merkuri, misalnya, dapat terakumulasi di ekosistem air tawar dan laut dan berakhir di ikan predator, yang kemudian menjadi sumber merkuri dalam makanan manusia.
Di Amerika Serikat, jutaan orang tinggal di dekat lokasi limbah beracun, dan orang kulit hitam Amerika memiliki kemungkinan 75 persen lebih tinggi untuk tinggal di dekat fasilitas penghasil limbah. Orang yang tinggal di dalam atau dekat komunitas dengan Superfund atau situs berbahaya memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental dan fisik sepanjang hidup, termasuk kanker, cacat lahir, dan cacat perkembangan. Banyak orang yang tinggal di dekat situs tersebut membiarkan bahan kimia dan racun masuk ke dalam pasokan air terdekat dan mempengaruhi kualitas udara dan kondisi tanah.Perubahan iklim, seperti hujan badai yang hebat, banjir, dan angin topan, juga dapat mengganggu lokasi pembuangan limbah beracun, memungkinkan senyawa organik yang tidak stabil kembali ke lingkungan.
Negara-negara berpendapatan rendah hingga menengah sering kali memiliki sumber daya yang terbatas dalam menghadapi limbah beracun. Mereka mungkin memiliki peraturan yang tidak memadai, informalitas dalam banyak industri, pengawasan yang buruk, dan pembuangan kontaminan yang tidak tepat. Sebagai contoh, timbal masih digunakan untuk kerajinan keramik, meskipun alternatif yang lebih aman telah tersedia. Timbal yang terlepas dapat masuk ke dalam tanah dan sumber air, menyebabkan dampak kesehatan negatif seperti masalah perilaku pada remaja, penurunan IQ, dan gangguan reproduksi.
Penanganan dan pembuangan
Salah satu tantangan besar yang kita hadapi saat ini adalah bagaimana cara membuang limbah beracun dengan benar. Sebelum adanya undang-undang lingkungan hidup modern, seperti di AS pada tahun 1970-an, orang sering kali membuang limbah langsung ke sungai, laut, atau menguburkannya di tempat pembuangan sampah tanpa kontrol yang jelas. Namun, dengan berlakunya Undang-Undang Air Bersih AS pada tahun 1972 dan Resource Conservation and Recovery Act (RCRA) pada tahun 1976, program nasional dibentuk untuk mengatur penanganan dan pembuangan limbah berbahaya.
Industri pertanian, misalnya, menggunakan lebih dari 800.000 ton pestisida setiap tahunnya, yang mencemari tanah dan air tanah, mengancam persediaan air minum. Limbah beracun dari aktivitas seperti ini bisa mencemari laut melalui limpasan bahan kimia dari air hujan. Selain itu, tumpahan minyak dari kapal besar atau pipa bocor juga dapat mencemari lautan. Bahkan, pembuangan minyak bekas mobil oleh masyarakat sehari-hari ke saluran pembuangan air hujan dapat menyebabkan pencemaran.
Pembuangan limbah berbahaya umumnya dilakukan di tempat pembuangan akhir seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA), penampungan permukaan, atau sumur injeksi. Pembuangan ini diatur oleh peraturan lingkungan, dan biasanya melibatkan proses penyimpanan yang aman untuk mencegah pelepasan zat beracun ke lingkungan. Limbah organik bisa dimusnahkan dengan pembakaran pada suhu tinggi, tetapi limbah yang mengandung logam berat atau bahan radioaktif harus disimpan dengan hati-hati karena tidak bisa dimusnahkan. Ada berbagai metode penyimpanan yang digunakan, seperti penyimpanan dalam wadah tertutup atau di bawah tanah dengan lapisan pelindung seperti tanah liat.
Namun, biaya pengangkutan dan pemrosesan limbah beracun bisa mahal, sehingga ada kemungkinan orang menggunakan cara pembuangan yang tidak benar untuk menghindari biaya tersebut. Akibatnya, tindakan pembuangan yang tidak tepat bisa berujung pada denda atau hukuman penjara. Di masa depan, area yang pernah digunakan sebagai tempat pembuangan limbah beracun bisa direvitalisasi menjadi ruang hijau atau digunakan untuk keperluan komersial atau industri setelah proses pembersihan yang tepat.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Lingkungan
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Pengelolaan sampah
Pengelolaan limbah adalah serangkaian langkah dan tindakan yang diperlukan untuk mengatur limbah dari awal hingga pembuangan akhir. Ini termasuk pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan limbah, serta pemantauan dan pengaturan proses pengelolaan limbah dan semua aturan serta teknologi yang terkait.
Limbah dapat berupa padat, cair, atau gas, dan masing-masing jenisnya memerlukan pendekatan yang berbeda dalam pembuangan dan pengelolaannya. Pengelolaan limbah mencakup semua jenis limbah, dari industri, biologis, rumah tangga, kota, organik, biomedis, hingga radioaktif. Beberapa jenis limbah bahkan dapat membahayakan kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui air, tanah, dan makanan.
Tujuan utama pengelolaan limbah adalah mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Kebanyakan praktik pengelolaan limbah terfokus pada limbah padat perkotaan, yang berasal dari industri, komersial, dan rumah tangga. Namun, praktik pengelolaan limbah tidak konsisten di seluruh negara dan wilayah, dan dapat bervariasi tergantung pada sektor perumahan dan industri.
Meskipun penting untuk membangun kota yang berkelanjutan dan layak huni, pengelolaan limbah masih menjadi tantangan besar bagi banyak negara dan kota berkembang. Upaya efektif dalam pengelolaan limbah membutuhkan investasi finansial yang signifikan, dengan biaya yang dapat mencapai 20% hingga 50% dari anggaran kota. Menciptakan sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi, berkelanjutan, dan didukung oleh masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi tantangan ini.
Selain itu, praktik pengelolaan limbah juga mencakup pendekatan berbasis ekonomi sirkular, pengembangan fasilitas pembuangan limbah yang efektif, kontrol ekspor dan impor, serta desain produk yang berkelanjutan dan optimal.
Penting untuk diingat bahwa pengelolaan limbah yang efektif tidak hanya mencakup pembuangan akhir, tetapi juga melibatkan praktik-praktik seperti menolak, mengurangi, menggunakan kembali, memperbaiki, menetapkan ulang, mendaur ulang, dan memulihkan limbah. Melalui langkah-langkah ini, kita dapat mengurangi dampak buruk limbah terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, serta membangun masyarakat yang lebih berkelanjutan secara keseluruhan.
Prinsip pengelolaan sampah
Hirarki sampah adalah konsep yang mencakup "3R": Reduce (Mengurangi), Reuse (Menggunakan kembali), dan Recycle (Mendaur ulang), yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah berdasarkan prioritas dalam upaya meminimalkan limbah. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan manfaat praktis dari produk dan menghasilkan jumlah limbah akhir yang minimal. Hirarki ini direpresentasikan sebagai piramida, dengan langkah-langkah pencegahan sampah menjadi yang paling diutamakan. Kemudian, langkah-langkah alternatif termasuk menggunakan kembali produk, mendaur ulang, dan pengomposan. Pilihan terakhir adalah pemulihan material dan limbah menjadi energi, diikuti oleh pembuangan di tempat pembuangan sampah atau melalui pembakaran tanpa pemulihan energi.
Siklus hidup suatu produk dimulai dari desain, melalui manufaktur, distribusi, penggunaan primer, dan kemudian melalui tahapan hierarki sampah, yaitu pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang. Setiap tahap dalam siklus hidup produk memberikan kesempatan untuk intervensi kebijakan guna meminimalkan limbah yang dihasilkan.
Efisiensi sumber daya adalah konsep yang mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi global tidak dapat berlanjut dengan pola produksi dan konsumsi saat ini. Efisiensi sumber daya bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan dari produksi dan konsumsi barang-barang, mulai dari ekstraksi bahan mentah hingga penggunaan dan pembuangan akhir.
Prinsip pencemar membayar menetapkan bahwa pihak yang menyebabkan pencemaran harus bertanggung jawab atas dampak negatifnya terhadap lingkungan. Dalam konteks pengelolaan limbah, ini sering kali berarti bahwa pihak yang menghasilkan limbah harus membayar untuk pembuangan material yang tidak dapat didaur ulang dengan benar.
Sejarah
Selama sebagian besar sejarah manusia, jumlah limbah yang dihasilkan tidak begitu signifikan karena tingkat kepadatan penduduk yang rendah dan pola eksploitasi sumber daya alam yang berbeda. Di masa pra-modern, limbah umumnya berupa abu dan limbah organik yang bisa terurai sendiri, dan seringkali dilepaskan kembali ke dalam tanah secara lokal dengan dampak lingkungan yang minimal. Barang-barang seperti perkakas dari kayu atau logam biasanya digunakan kembali atau diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, ada beberapa peradaban yang lebih boros dalam menghasilkan limbah daripada yang lain. Sebagai contoh, suku Maya di Amerika Tengah memiliki ritual bulanan di mana mereka membakar sampah di tempat pembuangan sampah besar.
Pada era modern, dengan dimulainya industrialisasi dan pertumbuhan kota yang pesat di Inggris, penumpukan sampah di kota-kota menyebabkan penurunan drastis dalam sanitasi dan kualitas kehidupan perkotaan. Jalanan dipenuhi kotoran karena kurangnya regulasi pembuangan sampah. Seruan untuk pembentukan otoritas kota dengan tanggung jawab pembuangan limbah telah muncul sejak tahun 1751, tetapi undang-undang pertama mengenai masalah ini baru muncul pada pertengahan abad ke-19, dipicu oleh wabah kolera yang semakin parah.
Laporan tentang Kondisi Sanitasi Penduduk yang Bekerja oleh Edwin Chadwick pada tahun 1842 sangat berpengaruh dalam memastikan pengesahan undang-undang pertama yang bertujuan untuk membersihkan dan membuang limbah. Ini memicu proses pembentukan regulasi pengelolaan limbah di London dan membuka jalan bagi pemikiran baru tentang pentingnya fasilitas pembuangan dan pengelolaan limbah yang memadai untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
Peningkatan tajam jumlah limbah yang harus dibuang memicu pembangunan pabrik insinerasi pertama, atau yang kemudian dikenal sebagai "penghancur". Pada tahun 1874, insinerator pertama dibangun di Nottingham, tetapi mendapat tentangan karena banyaknya abu yang dihasilkan dan tersebar ke daerah sekitarnya. Sistem pembuangan limbah kota serupa mulai muncul di kota-kota besar di Eropa dan Amerika Utara pada pergantian abad ke-20.
Pengelolaan limbah modern juga melibatkan perkembangan teknologi truk pengangkut sampah. Pada awalnya, truk-truk ini ditarik oleh kuda dan berbadan terbuka. Namun, pada awal abad ke-20, mereka menjadi truk bermotor, dan truk pertama dengan badan tertutup yang menghilangkan bau dengan mekanisme pembuangan tertutup diperkenalkan pada tahun 1920-an di Inggris. Truk-truk ini dilengkapi dengan mekanisme hopper yang memungkinkan pengangkutan sampah dengan lebih efisien.
Penanganan dan pengangkutan sampah
Metode pengumpulan sampah beragam di seluruh dunia, tergantung pada negara dan wilayahnya. Layanan pengumpulan sampah rumah tangga sering disediakan oleh pemerintah daerah atau perusahaan swasta untuk industri dan komersial. Di beberapa daerah, terutama di negara-negara berkembang, belum ada sistem pengumpulan sampah formal.
Pengumpulan di tepi jalan adalah metode yang umum digunakan di banyak negara maju, di mana sampah dikumpulkan secara berkala menggunakan truk khusus. Pada daerah pedesaan, sampah mungkin harus dibawa ke tempat pembuangan sampah terlebih dahulu sebelum diangkut ke fasilitas pembuangan. Di beberapa tempat, pengumpulan vakum digunakan, di mana sampah diangkut melalui tabung bor kecil.
Ada juga sistem di mana sampah yang tidak dipilah dikumpulkan di tepi jalan atau dari tempat pembuangan sampah, lalu dipilah menjadi sampah yang dapat didaur ulang dan yang tidak. Sistem seperti ini mampu menyelamatkan limbah yang dapat didaur ulang dan mengubah sisanya menjadi bio-gas dan pengkondisi tanah. Contohnya adalah di San Francisco, di mana warga diwajibkan untuk memilah sampah mereka menjadi bahan daur ulang, bahan kompos, dan yang akan dibuang ke tempat pembuangan. Sistem pembayaran berdasarkan volume sampah yang dibuang memberikan insentif finansial untuk memisahkan barang daur ulang dan kompos dari sampah lainnya.
Pemilahan sampah menjadi bagian penting dalam pengelolaan limbah. Ini melibatkan pemisahan sampah basah dan kering, dengan tujuan mendaur ulang sampah kering dan memanfaatkan sampah basah sebagai kompos. Pemilahan sampah membantu mengurangi jumlah sampah yang ditimbun, sehingga menurunkan polusi udara dan air. Penting juga untuk mempraktikkan pengelolaan dan pemilahan sampah sebagai sebuah komunitas, dengan kesadaran dan kemudahan bagi masyarakat untuk memilah sampah dengan benar.
Bahaya Pengelolaan Sampah
Ada beberapa bahaya yang terkait dengan pengelolaan sampah, baik bagi lingkungan sekitar tempat pembuangan maupun bagi pekerja yang terlibat dalam proses pengelolaan limbah. Paparan limbah dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti asma dan tuberkulosis. Risiko ini terutama tinggi bagi individu yang tinggal di daerah kurang berkembang atau berpenghasilan rendah, di mana mereka lebih rentan terhadap dampak limbah, terutama limbah kimia.
Bahaya pembakaran sampah merupakan risiko besar, terutama di negara-negara yang memiliki sedikit ruang untuk tempat pembuangan sampah. Banyak komunitas, termasuk di negara maju, sering kali memilih membakar sampah karena merupakan opsi yang mudah dan tersedia. Namun, pembakaran sampah dapat mengakibatkan pelepasan bahan berbahaya dan gas CO2 ke atmosfer, yang merupakan ancaman serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Penting untuk mematuhi pedoman pengelolaan limbah yang berbeda untuk meminimalkan risiko kesehatan dan lingkungan yang terkait dengan berbagai jenis limbah. Dengan memperhatikan bahaya ini, langkah-langkah dapat diambil untuk mengurangi dampak negatif dari pengelolaan sampah.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Lingkungan
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Pengolahan air limbah
Pengolahan air limbah adalah suatu proses yang menghilangkan dan mengurangi kontaminan dari air limbah sehingga dapat dikembalikan ke siklus air atau digunakan kembali untuk berbagai tujuan (reklamasi air). Proses ini terjadi di instalasi pengolahan air limbah yang sesuai dengan jenis air limbah yang diolah. Untuk air limbah domestik, proses pengolahan dilakukan di instalasi pengolahan limbah yang juga dikenal sebagai pengolahan limbah kota. Sedangkan untuk air limbah industri, pengolahan dilakukan di instalasi pengolahan air limbah industri atau di instalasi pengolahan limbah setelah beberapa tahapan awal pengolahan.
Proses pengolahan air limbah meliputi berbagai tahapan seperti pemisahan fasa (seperti sedimentasi), proses biologis, proses kimia (seperti oksidasi), atau pemolesan. Produk sampingan utama dari pengolahan air limbah adalah lumpur, yang biasanya juga diolah di instalasi pengolahan air limbah. Selain itu, biogas juga dapat dihasilkan sebagai produk sampingan jika proses pengolahan anaerobik digunakan. Air limbah yang telah diolah dapat digunakan kembali sebagai air reklamasi.
Tujuan utama dari pengolahan air limbah adalah agar air limbah yang telah diolah dapat dibuang atau digunakan kembali dengan aman. Bangladesh telah meresmikan pabrik pengolahan limbah tunggal terbesar di Asia Selatan, yang berlokasi di kawasan kota Khilgaon. Pabrik ini memiliki kapasitas untuk mengolah lima juta limbah per hari, dan merupakan langkah penting dalam mengatasi tantangan pengelolaan air limbah di negara tersebut.Perlu dicatat bahwa istilah "pengolahan air limbah" sering digunakan secara luas untuk mengacu pada "pengolahan limbah" secara umum.
Jenis instalasi pengolahan
Ada beragam jenis instalasi pengolahan air limbah yang dibedakan berdasarkan jenis air limbah yang akan diolah. Proses pengolahan air limbah bervariasi tergantung pada jenis dan tingkat kontaminasinya. Tahapan pengolahan mencakup proses fisik, kimia, dan biologi. Beberapa jenis instalasi pengolahan air limbah meliputi pabrik pengolahan limbah, instalasi pengolahan air limbah industri, instalasi pengolahan air limbah pertanian, dan instalasi pengolahan lindi. Setiap jenis instalasi memiliki peran penting dalam menjaga kualitas air dan lingkungan yang sehat.
Instalasi pengolahan limbah
Pengolahan air limbah, juga dikenal sebagai pengolahan air limbah domestik atau pengolahan air limbah kota, merupakan suatu proses yang bertujuan untuk menghilangkan kontaminan dari limbah agar limbah tersebut aman untuk dibuang ke lingkungan sekitar atau untuk digunakan kembali. Limbah yang diolah dapat berasal dari rumah tangga, bisnis, dan mungkin juga air limbah industri yang telah diolah sebelumnya. Ada berbagai proses pengolahan limbah yang dapat dipilih, mulai dari sistem terdesentralisasi hingga sistem terpusat yang melibatkan jaringan pipa dan stasiun pompa.
Proses pengolahan limbah sering melibatkan dua tahap utama, yaitu pengolahan primer dan sekunder, dengan kemungkinan adanya tahap pengolahan tersier. Pengolahan sekunder biasanya melibatkan proses biologis aerobik atau anaerobik untuk mengurangi bahan organik dalam limbah. Ada juga langkah pengolahan kuartal yang dapat ditambahkan untuk menghilangkan polutan mikroorganik, seperti obat-obatan.
Terdapat berbagai teknologi pengolahan limbah yang telah dikembangkan, sebagian besar menggunakan proses biologis. Ketika memilih teknologi yang sesuai, insinyur desain dan pengambil keputusan perlu mempertimbangkan kriteria teknis dan ekonomi, seperti kualitas limbah yang diinginkan, perkiraan biaya konstruksi dan pengoperasian, ketersediaan lahan, kebutuhan energi, dan aspek keberlanjutan.
Di berbagai negara di dunia, tingkat pengolahan limbah sangat tidak setara. Negara-negara berpendapatan tinggi cenderung memiliki tingkat pengolahan limbah yang lebih tinggi daripada negara-negara berkembang. Meskipun diperkirakan bahwa sekitar 52% limbah diolah secara global, negara-negara berkembang hanya mengolah sekitar 4,2% limbah mereka. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam akses dan kemampuan untuk melakukan pengolahan limbah di seluruh dunia.
Instalasi pengolahan air limbah industri
Pengolahan air limbah industri adalah proses yang digunakan untuk mengolah air limbah yang dihasilkan oleh industri sebagai produk sampingan yang tidak diinginkan. Setelah melalui proses pengolahan, air limbah industri yang telah diolah dapat digunakan kembali atau dibuang ke sistem saluran pembuangan sanitasi atau ke air permukaan di lingkungan.
Fasilitas industri seperti kilang minyak bumi, pabrik kimia, dan petrokimia umumnya memiliki fasilitas khusus untuk mengolah air limbah mereka. Hal ini dilakukan agar konsentrasi polutan dalam air limbah yang diolah memenuhi peraturan mengenai pembuangan air limbah ke saluran pembuangan atau ke lingkungan alam seperti sungai, danau, atau lautan. Proses pengolahan air limbah industri sangat penting bagi industri yang menghasilkan air limbah dengan konsentrasi bahan organik tinggi, polutan beracun, atau nutrisi seperti amonia.
Beberapa industri memasang sistem pra-pengolahan untuk menghilangkan beberapa polutan sebelum air limbahnya diolah lebih lanjut. Selain itu, tren terkini dalam industri adalah meminimalkan produksi air limbah atau mendaur ulang air limbah yang telah diolah dalam proses produksi. Beberapa industri telah berhasil mendesain ulang proses manufaktur mereka untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan polutan dalam air limbah mereka.
Berbagai industri menghasilkan air limbah, termasuk manufaktur baterai, kimia, pembangkit listrik, makanan, besi dan baja, pengerjaan logam, pertambangan, industri nuklir, ekstraksi minyak dan gas, penyulingan minyak bumi dan petrokimia, farmasi, pulp dan kertas, peleburan, tekstil, serta industri pengolahan dan pengawetan kayu. Proses pengolahan air limbah industri meliputi pengolahan air garam, penghilangan padatan, penghilangan minyak dan lemak, penghilangan bahan organik yang dapat terbiodegradasi, penghilangan bahan organik lainnya, penghilangan asam dan basa, serta penghilangan bahan beracun.
Instalasi pengolahan air limbah pertanian
Pengolahan air limbah pertanian adalah upaya pengelolaan dalam pertanian yang bertujuan untuk mengendalikan polusi dari operasi hewan yang dikurung dan dari limpasan permukaan yang mungkin terkontaminasi oleh bahan kimia dalam pupuk, pestisida, bubur hewan, sisa tanaman, atau air irigasi. Hal ini diperlukan untuk memastikan operasi hewan terbatas yang berkelanjutan seperti produksi susu dan telur tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.
Proses pengolahan air limbah pertanian dapat dilakukan di pabrik dengan menggunakan unit pengolahan mekanis yang mirip dengan yang digunakan untuk pengolahan air limbah industri. Namun, jika lahan tersedia, penggunaan kolam, kolam pengendapan, dan laguna fakultatif mungkin lebih ekonomis untuk kondisi penggunaan musiman seperti siklus pembiakan atau panen.
Bubur hewan biasanya diolah dengan cara dikurung di laguna anaerobik sebelum dibuang dengan cara disemprotkan atau diteteskan ke padang rumput. Lahan basah buatan juga kadang-kadang digunakan untuk membantu dalam pengolahan kotoran hewan.
Sumber polusi non-titik termasuk limpasan sedimen, limpasan unsur hara, dan pestisida. Sementara itu, sumber pencemaran utama meliputi kotoran hewan, cairan silase, limbah tempat pemerahan susu (peternakan sapi perah), limbah pemotongan hewan, air cucian sayuran, dan air kebakaran. Banyak peternakan juga menghasilkan polusi non-titik dari limpasan permukaan yang tidak terkontrol melalui instalasi pengolahan.
Proses unit
Proses unit dalam pengolahan air limbah melibatkan berbagai langkah, termasuk proses fisik dan biologis. Salah satu langkah awal dalam pengolahan air limbah adalah pemisahan padatan dari cairan, yang sering dilakukan melalui proses sedimentasi. Dalam proses ini, bahan terlarut secara bertahap diubah menjadi flok biologis atau biofilm, yang kemudian diendapkan atau dipisahkan untuk meningkatkan kemurnian aliran limbah.
Pemisahan fase merupakan langkah penting lainnya, yang melibatkan memindahkan pengotor ke fasa non-air seperti minyak dan gemuk. Padatan yang dihasilkan sering kali memerlukan pengeringan lumpur di instalasi pengolahan air limbah, dan pilihan pembuangan padatan kering bervariasi tergantung pada jenis dan konsentrasi kotoran yang dihilangkan dari air limbah.
Sedimentasi adalah proses utama dalam pengolahan limbah di mana padatan seperti batu, pasir, dan debu dapat dihilangkan dari air limbah secara gravitasi. Padatan yang lebih berat dari air akan mengendap di dasar tangki pengendapan primer, sementara padatan yang lebih ringan akan diangkat ke tahap pengolahan berikutnya. Proses sedimentasi ini juga umum digunakan dalam pengolahan berbagai jenis air limbah lainnya.
Dalam cekungan pengendapan yang tenang, padatan yang lebih berat akan mengendap di dasar, sementara minyak yang mengambang akan dihilangkan secara bersamaan menggunakan skimmer, seperti sisa sabun atau benda padat lainnya. Beberapa wadah, seperti pemisah minyak-air API, dirancang khusus untuk memisahkan cairan non-polar.
Proses biologis dan kimia
Oksidasi
Oksidasi adalah proses yang mengurangi kebutuhan oksigen biokimia dalam air limbah, serta dapat mengurangi toksisitas beberapa kontaminan. Pengolahan sekunder melibatkan transformasi senyawa organik menjadi karbon dioksida, air, dan biosolid melalui reaksi oksidasi dan reduksi. Oksidasi kimia juga sering digunakan untuk tujuan desinfeksi.
Oksidasi Biokimia (Perlakuan Sekunder)
Pengolahan sekunder, yang sering kali merupakan bagian dari pengolahan air limbah biologis, bertujuan untuk menghilangkan bahan organik yang dapat terbiodegradasi dari limbah atau air limbah sejenis. Proses ini bertujuan mencapai tingkat kualitas limbah tertentu di instalasi pengolahan limbah, sehingga dapat dibuang atau digunakan kembali dengan aman. Proses biologis dalam pengolahan sekunder dilakukan oleh mikroorganisme dalam kondisi aerobik atau anaerobik, tergantung pada teknologi pengolahannya. Bakteri dan protozoa mengonsumsi kontaminan organik larut yang dapat terbiodegradasi sambil bereproduksi, membentuk sel-sel padatan biologis. Pengolahan sekunder diterapkan secara luas dalam pengolahan limbah, termasuk dalam konteks air limbah pertanian dan industri.
Oksidasi Kimia
Proses oksidasi tingkat lanjut digunakan untuk menghilangkan beberapa polutan organik yang persisten dan konsentrasi yang tersisa setelah oksidasi biokimia. Disinfeksi dengan oksidasi kimia dilakukan dengan menambahkan radikal hidroksil seperti ozon, klorin, atau hipoklorit ke dalam air limbah, yang kemudian memecah senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti air, karbon dioksida, dan garam.
Perawatan Anaerobik
Proses pengolahan air limbah anaerobik, seperti UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket) dan EGSB (Expanded Granular Sludge Bed), juga umum diterapkan dalam pengolahan air limbah industri dan lumpur biologis. Metode ini mengandalkan proses biologis tanpa kehadiran oksigen untuk menguraikan bahan organik dalam air limbah.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Lingkungan
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Pencemaran air
Pencemaran air, yang terjadi ketika badan air seperti danau, sungai, atau laut terkontaminasi oleh bahan-bahan yang merugikan, seringkali disebabkan oleh aktivitas manusia. Pencemaran ini biasanya disebabkan oleh pembuangan limbah, kegiatan industri, pertanian, dan air hujan yang merembes ke dalam sistem perairan. Dampaknya bisa sangat merugikan, termasuk kerusakan ekosistem perairan dan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air yang tercemar. Selain itu, polusi air juga mengurangi kemampuan ekosistem dalam menyediakan layanan vital seperti air minum.
Ada dua jenis sumber pencemaran air: sumber titik dan sumber non-titik. Sumber titik, seperti saluran pembuangan limbah atau tumpahan minyak, memiliki satu sumber yang jelas. Sementara itu, sumber non-titik, seperti limpasan pertanian, lebih tersebar. Polusi air dapat berasal dari berbagai zat beracun seperti logam, plastik, pestisida, atau limbah industri, serta kondisi stres seperti perubahan pH, hipoksia, atau masuknya organisme patogen.
Untuk mengendalikan pencemaran air, diperlukan infrastruktur yang memadai, rencana pengelolaan yang efektif, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Solusi teknologi seperti peningkatan sanitasi, pengolahan limbah, pengolahan air limbah industri, atau pengendalian limpasan perkotaan dapat membantu mengurangi dampak pencemaran air dan menjaga kualitas air yang lebih baik.
Definisi
Pencemaran air secara praktis dapat dijelaskan sebagai penambahan zat atau bentuk energi ke dalam badan air yang mengubah sifatnya sehingga tidak dapat lagi digunakan dengan tepat. Hal ini sering disebabkan oleh kontaminan yang berasal dari aktivitas manusia, membuat air tidak layak untuk keperluan seperti konsumsi atau dukungan bagi kehidupan biotik, seperti ikan. Dengan kata lain, air dianggap tercemar ketika terdapat zat-zat yang merugikan bagi kualitasnya, mengurangi kemampuan air tersebut untuk mendukung kehidupan atau digunakan oleh manusia untuk keperluan tertentu.
Kontaminan
Kontaminan yang berasal dari limbah
Beberapa senyawa dapat masuk ke dalam tubuh air melalui limbah yang belum diolah atau yang sudah diolah sebelumnya. Ini mencakup senyawa kimia yang dapat ditemukan dalam produk kebersihan pribadi dan kosmetik. Selain itu, produk sampingan dari proses disinfeksi kimia pada air minum juga dapat berperan, meskipun bahan kimia tersebut cenderung menguap dan jarang ditemukan di lingkungan air. Hormon dari peternakan dan sisa-sisa dari metode kontrasepsi hormonal manusia, bersama dengan bahan sintetis seperti ftalat yang meniru cara kerja hormon, juga dapat mencemari air. Ancaman potensialnya tidak hanya bagi makhluk hidup di alam, tetapi juga bagi manusia jika air tersebut digunakan untuk kebutuhan seperti air minum. Insektisida dan herbisida, yang sering kali berasal dari aliran air yang berasal dari pertanian, juga merupakan pencemar yang umum di badan air. Jika pencemaran air berasal dari limbah kota, unsur utamanya meliputi padatan yang terlarut, bahan organik yang dapat terurai, unsur hara, dan organisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit.
Patogen
Kelompok utama organisme patogen yang ditemukan dalam air meliputi bakteri, virus, protozoa, dan cacing. Dalam praktiknya, karena deteksi langsung organisme patogen dalam sampel air sulit dan mahal, digunakanlah organisme indikator untuk menyelidiki kemungkinan pencemaran patogen. Organisme indikator ini, yang umumnya berasal dari feses, mencakup total coliform (TC), fecal coliform (FC), atau coliform termotoleran, serta bakteri E. coli.
Organisme patogen dapat menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air, baik pada manusia maupun hewan. Beberapa mikroorganisme yang sering ditemukan dalam perairan yang terkontaminasi dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan manusia antara lain Burkholderia pseudomallei, Cryptosporidium parvum, Giardia lamblia, Salmonella, norovirus, dan jenis virus lainnya, serta cacing parasit seperti Schistosoma.
Sumber tinggi patogen dalam badan air bisa berasal dari berbagai faktor, termasuk kotoran manusia akibat praktek buang air besar sembarangan, limbah domestik, blackwater, atau kotoran ternak yang mencemari sumber air. Penyebab lainnya bisa terkait dengan kekurangan sanitasi, kurangnya fungsi sistem sanitasi seperti tangki septik atau jamban, pengolahan limbah yang tidak memadai, limpahan saluran pembuangan sanitasi, serta luapan saluran pembuangan gabungan (CSO) saat hujan deras, dan praktek pertanian intensif yang tidak terkelola dengan baik.
Senyawa organik
Zat organik yang memasuki badan air sering kali berbahaya. Ini termasuk hidrokarbon dari minyak bumi seperti bensin, solar, dan pelumas mesin, serta sisa-sisa pembakaran bahan bakar yang bisa berasal dari tumpahan minyak atau air hujan. Senyawa organik yang mudah menguap, seperti pelarut industri yang tidak disimpan dengan benar, juga menjadi masalah. Contohnya adalah organoklorida seperti PCB dan trikloretilen, yang merupakan pelarut yang umum digunakan. Ada juga zat per- dan polifluoroalkil (PFAS) yang merupakan polutan organik yang persisten dan dapat memberikan dampak yang berkelanjutan pada lingkungan air.
Kontaminan anorganik
Pencemar air anorganik termasuk berbagai zat, seperti amonia dari limbah pengolahan makanan dan logam berat yang berasal dari kendaraan bermotor, yang bisa masuk ke dalam air melalui limpasan air hujan perkotaan atau melalui drainase asam tambang. Selain itu, terdapat juga pencemar seperti nitrat dan fosfat yang berasal dari limbah industri dan pertanian, yang dapat menyebabkan polusi nutrisi di air. Lumpur atau sedimen yang terbawa dalam aliran air dari lokasi konstruksi, pembuangan limbah, penebangan, atau praktik tebang dan bakar juga bisa menjadi pencemar. Garam juga merupakan salah satu pencemar, dengan proses salinisasi air tawar yang dapat mencemari ekosistem air tawar. Salinisasi ini sering disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti penggunaan garam jalan untuk menghilangkan es di jalan, yang dikenal sebagai salinisasi sekunder.
Polutan farmasi
Dampak lingkungan dari obat-obatan dan produk perawatan pribadi (PPCP) telah menjadi fokus penelitian sejak tahun 1990-an. PPCP mencakup beragam zat yang digunakan oleh individu untuk kesehatan pribadi, kecantikan, serta oleh industri agrobisnis untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan ternak. Setiap tahun, lebih dari dua puluh juta ton PPCP diproduksi secara global. Uni Eropa bahkan telah mengklasifikasikan residu farmasi sebagai "zat prioritas" yang berpotensi mencemari air dan tanah.
PPCP telah terdeteksi di perairan di seluruh dunia, menimbulkan kekhawatiran akan risiko toksisitas, persistensi, dan bioakumulasi. Meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut, data saat ini menunjukkan bahwa produk perawatan pribadi berdampak negatif pada lingkungan dan berbagai spesies, termasuk terumbu karang dan ikan. PPCP juga mencakup polutan farmasi persisten lingkungan (EPPP) dan merupakan salah satu jenis polutan organik persisten. Mereka tidak terurai oleh instalasi pengolahan limbah konvensional dan memerlukan proses pengolahan yang lebih lanjut.
Studi terbaru pada tahun 2022 mengenai pencemaran farmasi di sungai-sungai di seluruh dunia menemukan bahwa ini merupakan ancaman serius bagi kesehatan lingkungan dan manusia di lebih dari seperempat lokasi yang diteliti. Penelitian ini melibatkan 1.052 lokasi sampel di 258 sungai di 104 negara, yang mencakup populasi sekitar 470 juta orang. Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah dengan infrastruktur air limbah dan pengelolaan limbah yang buruk, terutama di negara-negara berpendapatan rendah hingga menengah, cenderung menjadi yang paling terkontaminasi. Polutan farmasi yang paling sering terdeteksi dan terkonsentrasi meliputi berbagai obat farmasi dan metabolitnya, seperti antidepresan, antibiotik, dan pil kontrasepsi, serta metabolisme obat-obatan terlarang seperti metamfetamin dan ekstasi.
Limbah padat dan plastik
Limbah padat bisa mencemari badan air melalui berbagai jalur, termasuk limbah yang tidak diolah, luapan saluran selokan, air hujan yang mengalir dari permukaan perkotaan, pembuangan sampah sembarangan oleh manusia, serta angin yang membawa limbah padat dari tempat pembuangan sampah. Akibatnya, selain polusi makroskopis yang terlihat jelas, juga terjadi pencemaran mikroplastik yang seringkali tidak terlihat secara langsung. Istilah seperti sampah laut dan polusi plastik laut sering digunakan untuk merujuk pada kondisi pencemaran lautan.
Mikroplastik memiliki ketahanan yang tinggi dalam lingkungan, terutama di ekosistem perairan dan laut, sehingga menyebabkan pencemaran air. Sekitar 35% dari seluruh mikroplastik di laut berasal dari tekstil atau pakaian, terutama karena erosi yang terjadi pada pakaian berbahan poliester, akrilik, atau nilon, terutama selama proses pencucian.
Air hujan, limbah yang tidak diolah, dan angin merupakan jalur utama di mana mikroplastik berpindah dari darat ke laut. Bahan seperti kain sintetis, ban bekas, dan debu kota merupakan sumber utama mikroplastik. Ketiga sumber ini, secara kolektif, berkontribusi lebih dari 80% terhadap kontaminasi mikroplastik.
Jenis pencemaran air permukaan
Pencemaran air permukaan merujuk pada pencemaran sungai, danau, dan laut, yang sering kali dipengaruhi oleh limbah manusia dari berbagai sumber, termasuk limbah industri, pertanian, dan pemukiman, serta partikel dan organisme invasif. Salah satu aspek dari pencemaran air permukaan adalah pencemaran laut, yang berdampak pada ekosistem laut. Polusi nutrisi adalah jenis pencemaran yang diakibatkan oleh masukan nutrisi yang berlebihan ke dalam badan air, seperti nitrogen dan fosfor, yang sering kali mengakibatkan eutrofikasi air permukaan. Kurangnya sanitasi yang dikelola dengan baik merupakan salah satu penyebab utama pencemaran air, yang terjadi misalnya melalui praktik buang air besar sembarangan saat banjir atau hujan, yang mengakibatkan kotoran manusia mencemari air permukaan.
Pencemaran laut terjadi ketika bahan-bahan kimia atau limbah manusia, seperti limbah industri, pertanian, dan pemukiman, masuk ke laut dan menyebabkan dampak negatif pada lingkungan dan organisme hidup di sana. Mayoritas limbah ini berasal dari aktivitas di daratan, seperti pembuangan limbah dan sungai, tetapi transportasi laut juga berkontribusi signifikan. Pencemaran ini bisa berupa berbagai zat kimia dan sampah yang berasal dari daratan dan dibawa oleh air atau angin ke laut. Polusi ini merusak lingkungan, kesehatan organisme hidup, dan ekonomi global. Sumber-sumber polusi non-titik, seperti limpasan pertanian dan debu yang tertiup angin, juga berperan dalam memperburuk kondisi laut.
Polusi nutrisi adalah bentuk pencemaran air yang disebabkan oleh masukan unsur hara yang berlebihan, seperti nitrogen dan fosfor, yang sering kali menyebabkan eutrofikasi air permukaan, pertumbuhan alga berlebihan, dan gangguan lingkungan lainnya. Polusi termal, yang disebabkan oleh peningkatan suhu air akibat pengaruh manusia, juga dapat berdampak negatif pada ekosistem air. Ini dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen di air, perubahan dalam komposisi rantai makanan, serta masuknya spesies ikan baru yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Organisme invasif perairan juga dapat menjadi penyebab pencemaran biologis yang merugikan bagi lingkungan air.
Pencemaran air tanah
Pencemaran air tanah, yang juga dikenal sebagai kontaminasi air tanah, terjadi ketika zat pencemar masuk ke dalam tanah dan akhirnya mencemari air tanah. Pencemaran semacam ini dapat disebabkan oleh tindakan manusia, seperti pembuangan limbah, lindi TPA, dan limbah dari instalasi pengolahan air limbah, serta bocornya saluran pembuangan atau stasiun pengisian bahan bakar. Selain itu, penggunaan pupuk yang berlebihan di bidang pertanian juga dapat menyebabkan pencemaran air tanah. Kontaminasi air tanah juga bisa terjadi secara alami karena adanya kontaminan alami seperti arsenik atau fluorida. Penggunaan air tanah yang tercemar membawa risiko kesehatan masyarakat karena bisa menyebabkan keracunan atau penyebaran penyakit.
Pencemaran air tanah merupakan ancaman serius bagi kesejahteraan manusia dan ekosistem di banyak wilayah di dunia. Sebagian besar populasi dunia bergantung pada air tanah sebagai sumber air minum, namun, pengisian ulang yang tidak terkendali dapat membawa kontaminan ke dalam akuifer karbonat dan mengancam kemurnian air. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan air tanah sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Dampak
Pencemaran air merupakan masalah global yang serius karena dapat menyebabkan kerusakan pada seluruh ekosistem perairan, baik itu perairan tawar, pesisir, maupun laut. Kontaminan yang menjadi penyebab pencemaran air meliputi berbagai jenis bahan kimia, patogen, dan perubahan fisik seperti peningkatan suhu. Meskipun beberapa bahan kimia mungkin terbentuk secara alami, seperti kalsium, natrium, dan besi, konsentrasi yang tinggi dari zat-zat tersebut dapat berdampak negatif pada flora dan fauna perairan. Beberapa zat bahkan dapat mengurangi kadar oksigen di dalam air, baik berasal dari bahan alami seperti tumbuhan maupun bahan kimia buatan manusia. Selain itu, keberadaan kontaminan alami dan antropogenik juga dapat menyebabkan kekeruhan air, yang dapat menghalangi cahaya dan mengganggu pertumbuhan tanaman air serta mengganggu pernafasan bagi beberapa spesies ikan.
Pencemaran air juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, dengan penyebaran penyakit pencernaan dan infeksi parasit yang sering kali terjadi akibat air yang terkontaminasi. Paparan terus-menerus terhadap polutan melalui air juga meningkatkan risiko terkena kanker dan berbagai penyakit lainnya.
Selain itu, pencemaran nitrogen dapat menyebabkan eutrofikasi, terutama di danau, yang merupakan peningkatan konsentrasi nutrisi dalam ekosistem perairan. Hal ini dapat mengakibatkan pertumbuhan mikroorganisme yang berlebihan, seperti alga dan bakteri, yang pada akhirnya menghabiskan oksigen dalam air dan menyebabkan berkurangnya kualitas air serta bahaya bagi populasi ikan dan hewan lainnya. Eutrofikasi yang disebabkan oleh polusi manusia merupakan proses yang cepat dan dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang parah.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Lingkungan
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Pemurnian air
Pemurnian air adalah proses penting untuk menghilangkan bahan kimia yang tidak diinginkan, kontaminan biologis, padatan tersuspensi, dan gas dari air. Tujuannya adalah agar air menjadi layak untuk digunakan dalam berbagai keperluan, terutama sebagai air minum untuk manusia. Namun, pemurnian air juga diperlukan untuk aplikasi medis, farmakologi, kimia, dan industri. Proses pemurnian air telah berkembang seiring waktu, melibatkan metode fisik seperti filtrasi, sedimentasi, dan distilasi, serta metode biologis seperti filter pasir lambat atau karbon aktif biologis. Proses kimia seperti flokulasi dan klorinasi juga digunakan, begitu pula dengan penggunaan radiasi elektromagnetik seperti sinar ultraviolet.
Pemurnian air bertujuan untuk mengurangi konsentrasi materi partikulat dan kontaminan lainnya seperti parasit, bakteri, alga, virus, dan jamur, serta mengurangi konsentrasi materi terlarut dan partikulat lainnya. Standar kualitas air minum biasanya ditetapkan oleh pemerintah atau standar internasional, yang mencakup konsentrasi kontaminan minimum dan maksimum sesuai dengan penggunaan air tersebut.
Namun, hanya dengan inspeksi visual saja tidak cukup untuk menentukan kualitas air. Proses sederhana seperti merebus atau menggunakan filter karbon aktif di rumah tangga mungkin tidak cukup untuk menghilangkan semua kontaminan yang mungkin ada dalam air dari sumber yang tidak diketahui. Oleh karena itu, analisis kimia dan mikrobiologi, meskipun mahal, adalah satu-satunya cara untuk memastikan kualitas air dan memutuskan metode pemurnian yang tepat.
Sumber Air
Dalam proses pemurnian air, ada berbagai sumber air yang perlu dipertimbangkan, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda. Pertama, air tanah yang berasal dari dalam bumi seringkali memiliki kualitas bakteriologis yang tinggi, namun dapat kaya akan padatan terlarut seperti karbonat dan sulfat kalsium dan magnesium. Meskipun sering tidak memerlukan banyak pengolahan, penyesuaian tertentu mungkin diperlukan tergantung pada kandungan mineral yang spesifik. Sumber air lainnya adalah danau dan waduk di dataran tinggi, yang biasanya memiliki tingkat bakteri dan patogen yang rendah, meskipun beberapa bakteri, protozoa, atau alga mungkin hadir.
Penyesuaian pH kadang-kadang diperlukan terutama di daerah dengan vegetasi tertentu. Di sisi lain, air permukaan di daerah dataran rendah seperti sungai, kanal, dan waduk cenderung lebih terkontaminasi dengan bakteri, alga, padatan tersuspensi, dan unsur terlarut lainnya. Ada juga teknologi pembangkitan air atmosferik yang mengekstraksi air dari udara, memberikan sumber air minum berkualitas tinggi dengan mendinginkan udara dan mengembunkan uap air. Metode lain seperti pemanenan air hujan atau pengumpulan kabut cocok untuk daerah-daerah dengan musim kemarau panjang atau daerah yang sering dilanda kabut meskipun curah hujannya rendah. Terakhir, proses desalinasi air laut menggunakan distilasi atau reverse osmosis untuk mengubah air laut menjadi air tawar yang layak konsumsi. Penting untuk memilih sumber air yang tepat dan proses pemurnian yang sesuai untuk memastikan kualitas air yang aman dan sehat untuk digunakan dalam berbagai aplikasi.
Perlakuan
Sasaran
Tujuan dari proses pengolahan air adalah untuk menghilangkan berbagai unsur yang tidak diinginkan dalam air, sehingga menjadikannya aman untuk diminum atau digunakan dalam berbagai aplikasi industri atau medis. Ada berbagai teknik yang tersedia untuk menghilangkan kontaminan seperti padatan halus, mikroorganisme, bahan anorganik dan organik terlarut, serta polutan farmasi yang mungkin persisten di lingkungan sekitar. Pemilihan metode pengolahan air bergantung pada kualitas air mentah yang akan diolah, biaya proses pengolahan, dan standar kualitas yang diharapkan dari air hasil olahan.
Proses-proses umum yang sering digunakan dalam pabrik pemurnian air mencakup penyaringan, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Penyaringan digunakan untuk menghilangkan partikel-partikel kasar dari air, sedangkan koagulasi dan flokulasi membantu menggumpalkan partikel-partikel halus agar lebih mudah diendapkan. Setelah itu, air diamkan dalam tangki sedimentasi di mana partikel-partikel yang telah mengendap akan dipisahkan dari air. Langkah terakhir adalah filtrasi, di mana air melewati lapisan filter tambahan untuk menghilangkan partikel-partikel kecil yang tersisa. Meskipun beberapa proses mungkin tidak selalu diterapkan tergantung pada skala pabrik dan kualitas air mentah yang digunakan, langkah-langkah tersebut secara umum membentuk inti dari proses pemurnian air yang efektif.
Perawatan awal
Perawatan awal air sebelum proses pemurnian meliputi beberapa langkah penting:
Pemompaan dan Penahanan: Air biasanya dipompa dari sumbernya atau dialirkan ke pipa atau tangki penampung. Infrastruktur fisik harus dirancang dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi yang tidak disengaja.
Penyaringan: Langkah pertama dalam pemurnian air permukaan adalah menghilangkan kotoran besar seperti batang, daun, sampah, dan partikel besar lainnya yang dapat mengganggu proses pemurnian berikutnya. Meskipun sebagian besar air tanah dalam tidak memerlukan penyaringan tambahan.
Penyimpanan: Air dari sungai dapat disimpan di waduk tepi sungai untuk jangka waktu tertentu agar pemurnian biologis alami dapat terjadi. Waduk penyimpanan juga berfungsi sebagai penyangga terhadap kekeringan jangka pendek atau pencemaran sementara di sungai sumber.
Pra-klorinasi: Beberapa pabrik menggunakan pra-klorinasi, yaitu pemberian klorin pada air masuk untuk mengurangi pertumbuhan organisme pengotor di pipa dan tangki. Namun, penggunaan klorin dapat memiliki dampak negatif terhadap kualitas air dan praktik ini telah dikurangi seiring berjalannya waktu.
Penyesuaian pH
Air murni memiliki pH mendekati 7, menunjukkan sifat netralnya, sedangkan air laut cenderung memiliki pH yang sedikit basa, berkisar antara 7,5 hingga 8,4. pH air tawar bervariasi tergantung pada karakteristik geologi cekungan drainase atau akuifer, serta pengaruh kontaminan seperti hujan asam. Untuk mengatasi air yang bersifat asam (pH di bawah 7), berbagai bahan seperti kapur, soda abu, atau natrium hidroksida dapat ditambahkan selama proses pemurnian untuk menaikkan pH. Penambahan kapur meningkatkan kesadahan air dengan meningkatkan konsentrasi ion kalsium. Pada air sangat asam, penggunaan degasifier dengan aliran paksa dapat efektif untuk meningkatkan pH dengan menghilangkan karbon dioksida terlarut dari air.
Menjadikan air bersifat basa membantu dalam proses koagulasi dan flokulasi, serta membantu mengurangi risiko larutnya timbal dari pipa timbal atau solder timbal pada pipa. Keberadaan alkalinitas yang cukup juga dapat mengurangi sifat korosif air terhadap pipa besi. Di sisi lain, dalam beberapa situasi, seperti untuk menurunkan pH, asam seperti asam karbonat, asam klorida, atau asam sulfat dapat ditambahkan ke dalam air yang bersifat basa. Namun, air yang bersifat alkali (pH di atas 7,0) tidak menjamin bahwa logam seperti timbal atau tembaga tidak akan larut ke dalam air. Kemampuan air untuk mengendapkan kalsium karbonat, yang melindungi permukaan logam dan mengurangi kemungkinan terlarutnya logam beracun, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pH, mineral, suhu, alkalinitas, dan konsentrasi kalsium.
Koagulasi dan Flokulasi
Salah satu langkah awal dalam proses pemurnian air konvensional adalah penambahan bahan kimia untuk membantu menghilangkan partikel yang tersuspensi dalam air, baik yang bersifat anorganik seperti tanah liat dan lanau, maupun organik seperti alga, bakteri, virus, protozoa, dan bahan organik alami. Partikel ini berkontribusi pada kekeruhan dan warna air.
Koagulan anorganik seperti aluminium sulfat atau garam besi (III) seperti besi (III) klorida ditambahkan untuk menyebabkan interaksi kimia dan fisik pada partikel. Dalam hitungan detik, muatan negatif pada partikel dinetralkan oleh koagulan anorganik, sementara endapan logam hidroksida dari ion besi dan aluminium mulai terbentuk. Endapan ini bergabung menjadi partikel yang lebih besar melalui proses alami seperti gerak Brown dan flokulasi. Flok tersebut menyerap dan menjerat partikel dalam suspensi, memfasilitasi penghilangan partikel melalui proses sedimentasi dan filtrasi selanjutnya.
Pembentukan aluminium hidroksida biasanya terjadi dalam kisaran pH antara 5,5 hingga sekitar 7,7, sementara besi (III) hidroksida dapat terbentuk pada kisaran pH yang lebih luas, termasuk tingkat pH yang lebih rendah daripada yang efektif untuk tawas, yaitu antara 5,0 hingga 8,5.
Proses koagulasi dan flokulasi seringkali terjadi setelah penambahan koagulan garam logam anorganik diikuti oleh flokulasi yang melibatkan perangkat pencampur lembut. Polimer organik, seperti PolyDADMAC, digunakan sebagai bahan pembantu koagulasi atau pengganti koagulan garam logam anorganik. Ketika polimer organik ditambahkan ke dalam air yang mengandung partikulat, senyawa dengan berat molekul tinggi ini teradsorpsi ke permukaan partikel dan membantu membentuk flok dengan menghubungkan antarpartikel.
Pengendapan
Air yang mengalir keluar dari cekungan flokulasi masuk ke dalam cekungan sedimentasi, juga dikenal sebagai clarifier atau sedimentasi. Tangki ini memiliki kecepatan air yang rendah, memungkinkan flok untuk mengendap di dasar. Idealnya, cekungan sedimentasi ditempatkan dekat dengan cekungan flokulasi untuk mencegah pengendapan atau pecahnya flok selama transit antara kedua proses tersebut. Bentuk cekungan sedimentasi dapat beragam, baik persegi panjang dengan aliran dari ujung ke ujung, maupun melingkar dengan aliran dari pusat ke arah luar. Aliran keluar dari bak sedimentasi biasanya terjadi di atas bendungan untuk memastikan hanya lapisan atas air yang keluar, yang terjauh dari lumpur.
Allen Hazen pada tahun 1904 menunjukkan bahwa efisiensi proses sedimentasi bergantung pada kecepatan pengendapan partikel, aliran melalui tangki, dan luas permukaan tangki. Tangki sedimentasi biasanya dirancang dengan laju luapan berkisar antara 0,5 hingga 1,0 galon per menit per kaki persegi (atau 1250 hingga 2500 liter per meter persegi per jam). Meskipun efisiensi tidak tergantung pada waktu penahanan atau kedalaman, kedalaman cekungan harus mencukupi agar arus air tidak mengganggu lumpur dan mendorong interaksi partikel yang mengendap. Waktu penahanan sedimentasi berkisar antara 1,5 hingga 4 jam dengan kedalaman cekungan 10 hingga 15 kaki.
Clarifier Lamella, yang terdiri dari pelat atau tabung datar miring, dapat ditambahkan ke bak sedimentasi tradisional untuk meningkatkan kinerja penghilangan partikel dengan memperluas luas permukaan. Clarifier Lamella memungkinkan pengurangan luas permukaan tanah yang ditempati oleh cekungan sedimentasi, yang dapat mengurangi ukuran instalasi secara keseluruhan.
Selama partikel mengendap, lapisan lumpur terbentuk di dasar bak sedimentasi dan perlu dibuang dan diolah. Volume lumpur yang dihasilkan biasanya mencapai 3 hingga 5 persen dari total volume air yang diolah. Proses pengolahan dan pembuangan lumpur dapat memiliki dampak signifikan pada biaya operasional instalasi pengolahan air. Bak sedimentasi dapat dilengkapi dengan alat pembersih mekanis atau dibersihkan secara manual secara berkala.
Salah satu subkategori sedimentasi adalah klarifikasi selimut flok, di mana partikel terperangkap dalam lapisan flok tersuspensi saat air didorong ke atas. Meskipun menempati tapak yang lebih kecil, efisiensi penghilangan partikel dapat bervariasi tergantung pada kualitas air influen dan laju aliran.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Lingkungan
Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025
Greenhouse Gas Emissions
Greenhouse Gas Emissions (GRK) dari kegiatan manusia memperburuk efek rumah kaca, yang merupakan penyebab utama perubahan iklim. Karbon dioksida (CO2), terutama dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam, merupakan penyumbang terbesar perubahan iklim. Tiongkok adalah produsen emisi terbesar di dunia, diikuti oleh Amerika Serikat yang memiliki emisi per kapita yang lebih tinggi. Perusahaan besar di industri minyak dan gas menjadi kontributor utama emisi global. Sejak zaman pra-industri, emisi karbon dioksida di atmosfer telah meningkat sekitar 50%, dengan peningkatan yang konsisten di antara semua gas rumah kaca. Emisi rata-rata pada tahun 2010-an mencapai 56 miliar ton per tahun, meningkat dari dekade sebelumnya. Total emisi kumulatif dari tahun 1870 hingga 2017 mencakup 425±20 GtC (1558 GtCO2) dari bahan bakar fosil dan industri, serta 180±60 GtC (660 GtCO2) dari perubahan penggunaan lahan, seperti deforestasi.
Karbon dioksida (CO2) merupakan gas rumah kaca utama yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, menyumbang lebih dari separuh efek pemanasan global. Emisi metana (CH4) juga memiliki dampak yang signifikan, terutama dalam jangka pendek. Nitrous oksida (N2O) dan gas terfluorinasi (F-gas) memiliki peran yang lebih kecil dalam perubahan iklim.
Pembangkit listrik, panas, dan transportasi menjadi penyumbang terbesar emisi, dengan energi secara keseluruhan bertanggung jawab atas sekitar 73% emisi. Deforestasi dan perubahan penggunaan lahan lainnya juga melepaskan karbon dioksida dan metana. Pertanian menjadi sumber utama emisi metana, diikuti oleh pelepasan gas dan emisi sisa dari industri bahan bakar fosil. Emisi dari sektor pertanian terutama berasal dari peternakan, sementara penggunaan pupuk di tanah pertanian juga menyumbang emisi nitrous oksida. Sumber emisi dari gas berfluorinasi, seperti zat pendingin, juga signifikan dalam total emisi manusia.
Tingkat emisi CO2 setara saat ini rata-rata 6,6 ton per orang per tahun, melebihi target perkiraan yang diperlukan untuk mematuhi Perjanjian Paris tahun 2030 sebesar 1,5 °C di atas tingkat pra-industri. Emisi per kapita tahunan di negara-negara industri biasanya sepuluh kali lipat lebih tinggi dari rata-rata di negara-negara berkembang.
Jejak karbon, atau jejak gas rumah kaca, digunakan sebagai indikator untuk membandingkan jumlah emisi gas rumah kaca sepanjang siklus hidup dari produksi barang atau jasa hingga konsumsi akhirnya. Penghitungan karbon adalah kerangka metode untuk mengukur dan melacak berapa banyak gas rumah kaca yang dikeluarkan oleh suatu organisasi.
Relevansi dengan efek rumah kaca dan pemanasan global
Efek rumah kaca terjadi ketika gas-gas rumah kaca di atmosfer suatu planet bertindak seperti selimut, menahan sebagian panas yang dipancarkan oleh permukaan planet tersebut. Hal ini mengakibatkan peningkatan suhu permukaan planet. Di Bumi, misalnya, Matahari mengirimkan radiasi gelombang pendek (sinarmatahari) ke permukaan, yang menembus atmosfer dan memanaskan permukaan bumi. Sebagai respons, bumi memancarkan radiasi gelombang panjang (panas) kembali ke atmosfer. Sebagian besar dari panas ini diserap oleh gas-gas rumah kaca, yang kemudian memancarkan kembali sebagian ke atmosfer dan sebagian ke permukaan bumi. Penyerapan dan pantulan panas ini mengurangi laju pendinginan bumi, sehingga meningkatkan suhu rata-rata permukaannya.
Tanpa efek rumah kaca, suhu permukaan rata-rata bumi diperkirakan akan sekitar -18 °C (-0,4 °F). Namun, karena adanya efek rumah kaca, suhu rata-rata global pada abad ke-20 meningkat menjadi sekitar 14 °C (57 °F), atau lebih baru, sekitar 15 °C (59 °F). Selain gas-gas rumah kaca yang terdapat secara alami, aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, telah meningkatkan jumlah karbon dioksida dan metana di atmosfer. Sebagai akibatnya, telah terjadi pemanasan global sekitar 1,2 °C (2,2 °F) sejak Revolusi Industri, dengan suhu permukaan rata-rata global meningkat dengan kecepatan sekitar 0,18 °C (0,32 °F) per dekade sejak tahun 1981.
Ikhtisar sumber utama
Gas rumah kaca yang relevan
Sumber utama gas rumah kaca yang berasal dari aktivitas manusia adalah karbon dioksida (CO2), dinitrogen oksida (N2O), dan metana (CH4), serta tiga kelompok gas terfluorinasi yaitu sulfur heksafluorida (SF6), hidrofluorokarbon (HFC), dan perfluorokarbon (PFC). Meskipun uap air merupakan gas rumah kaca yang paling dominan, emisi uap air yang berasal dari aktivitas manusia tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap pemanasan global.
Meskipun CFC (chlorofluorocarbon) juga merupakan gas rumah kaca, regulasi terhadapnya diatur oleh Protokol Montreal yang lebih terfokus pada kontribusinya terhadap penipisan lapisan ozon, bukan terhadap pemanasan global. Penipisan ozon memiliki peran yang berbeda dengan pemanasan rumah kaca, meskipun keduanya terkadang menjadi bahan perbincangan yang tercampur dalam media. Pada tahun 2016, perwakilan dari lebih dari 170 negara yang berkumpul dalam pertemuan puncak Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa mencapai kesepakatan yang mengikat secara hukum untuk secara bertahap menghapuskan hidrofluorokarbon (HFC) dalam Amandemen Kigali pada Protokol Montreal. Penggunaan CFC-12 telah dihentikan kecuali untuk beberapa penggunaan yang dianggap penting karena sifatnya yang merusak ozon. Proses penghapusan secara bertahap senyawa HCFC yang kurang aktif diharapkan akan selesai pada tahun 2030.
Aktivitas manusia
Mulai sekitar tahun 1750, aktivitas industri yang menggunakan bahan bakar fosil telah secara signifikan meningkatkan konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya. Peningkatan emisi ini terjadi terutama sejak sekitar tahun 1950, sejalan dengan pertumbuhan populasi global dan aktivitas ekonomi yang meningkat setelah Perang Dunia II. Pada tahun 2021, konsentrasi karbon dioksida di atmosfer hampir 50% lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pra-industri.
Sumber utama gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, yang juga dikenal sebagai sumber karbon, mencakup beberapa faktor. Pertama, pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas, yang diperkirakan menghasilkan sekitar 37,4 miliar ton CO2eq pada tahun 2023. Pembangkit listrik tenaga batu bara merupakan sumber tunggal terbesar, menyumbang sekitar 20% dari gas rumah kaca pada tahun 2021. Selain itu, perubahan penggunaan lahan, terutama deforestasi di daerah tropis, juga berkontribusi sekitar seperempat dari total emisi gas rumah kaca antropogenik.
Faktor lainnya termasuk fermentasi enterik ternak dan pengelolaan kotoran ternak, pertanian padi, penggunaan lahan dan perubahan lahan basah, dan emisi dari tempat pembuangan sampah tertutup yang menyebabkan konsentrasi metana di atmosfer meningkat. Penggunaan klorofluorokarbon (CFC) dalam sistem pendingin dan dalam proses pemadaman kebakaran juga memberikan kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Selain itu, tanah pertanian menghasilkan dinitrogen oksida (N2O) sebagian karena penggunaan pupuk.
Pertanian menjadi sumber terbesar emisi metana antropogenik, diikuti oleh pelepasan gas dan emisi sisa dari industri bahan bakar fosil. Dalam sektor pertanian, peternakan menyumbang sebagian besar emisi metana, dengan sapi sebagai spesies hewan yang bertanggung jawab atas sekitar 65% emisi sektor peternakan.
Emisi menurut jenis gas rumah kaca
Karbon dioksida (CO2) adalah gas rumah kaca yang paling dominan dihasilkan oleh berbagai aktivitas manusia. Selain CO2, emisi metana (CH4) memiliki dampak jangka pendek yang hampir sama dalam mengontribusikan terhadap efek rumah kaca. Nitrous oksida (N2O) dan gas terfluorinasi (F-gas) juga memainkan peran, meskipun lebih kecil dibandingkan dengan CO2 dan CH4.
Emisi gas rumah kaca diukur dalam setara CO2 yang ditentukan oleh potensi pemanasan global (GWP), yang bergantung pada masa hidup gas tersebut di atmosfer. Polutan iklim berumur pendek (SLCPs), seperti metana, hidrofluorokarbon (HFC), ozon troposferik, dan karbon hitam, bertahan di atmosfer dalam rentang waktu yang berbeda-beda, mulai dari beberapa hari hingga 15 tahun. Sementara itu, karbon dioksida dapat bertahan di atmosfer selama ribuan tahun. Mengurangi emisi SLCP dapat mengurangi laju pemanasan global hingga hampir setengahnya dan mengurangi perkiraan pemanasan Arktik sebesar dua pertiga.
Pada tahun 2019, emisi gas rumah kaca diperkirakan mencapai 57,4 gigaton CO2 setara, dengan emisi CO2 saja mencapai 42,5 gigaton termasuk perubahan penggunaan lahan (LUC).
Meskipun langkah-langkah mitigasi untuk dekarbonisasi sangat penting dalam jangka panjang, seringkali langkah-langkah ini dapat menghasilkan pemanasan jangka pendek yang lemah karena sumber emisi karbon juga seringkali menyebabkan polusi udara. Oleh karena itu, menggabungkan langkah-langkah yang menargetkan karbon dioksida dengan langkah-langkah yang menargetkan polutan non-CO2—polutan iklim berumur pendek—sangatlah penting untuk mencapai tujuan iklim.
Emisi menurut sektor
Emisi gas rumah kaca global berasal dari berbagai sektor perekonomian, mencerminkan keragaman kontribusi berbagai jenis kegiatan ekonomi terhadap perubahan iklim. Pemahaman ini membantu dalam mengidentifikasi perubahan yang diperlukan untuk memitigasi dampak perubahan iklim.
Emisi gas rumah kaca dapat dibedakan menjadi dua kategori utama: emisi yang berasal dari pembakaran bahan bakar untuk menghasilkan energi, dan emisi yang dihasilkan oleh proses lainnya. Sekitar dua pertiga dari total emisi gas rumah kaca berasal dari pembakaran bahan bakar.
Energi bisa diproduksi dan dikonsumsi di tempat yang berbeda. Jadi, emisi yang berasal dari produksi energi bisa dikategorikan berdasarkan lokasi emisinya atau tempat di mana energi yang dihasilkan dikonsumsi. Jika emisi dihubungkan dengan titik produksi, maka sekitar 25% emisi global berasal dari pembangkit listrik. Namun, jika emisi tersebut dihubungkan dengan konsumen akhir, maka 24% dari total emisi berasal dari sektor manufaktur dan konstruksi, 17% dari sektor transportasi, 11% dari rumah tangga, dan 7% dari sektor komersial. Sekitar 4% dari emisi berasal dari energi yang digunakan oleh industri energi dan bahan bakar itu sendiri.Sekitar sepertiga sisanya berasal dari proses selain produksi energi. Sebanyak 12% dari total emisi berasal dari sektor pertanian, 7% dari perubahan penggunaan lahan dan kehutanan, 6% dari proses industri, dan 3% dari limbah.
Pertanian, kehutanan dan penggunaan lahan
Pertanian
Sektor pertanian memiliki kontribusi yang signifikan terhadap emisi gas rumah kaca secara global, menyumbang antara 13% hingga 21% dari total emisi. Pertanian berperan dalam perubahan iklim melalui emisi gas rumah kaca langsung dan konversi lahan non-pertanian menjadi lahan pertanian. Emisi dinitrogen oksida dan metana menyumbang lebih dari setengah dari total emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian, dengan peternakan menjadi sumber utama emisi.
Sistem pangan pertanian bertanggung jawab atas sebagian besar emisi gas rumah kaca. Pertanian tidak hanya menjadi pengguna lahan dan konsumen bahan bakar fosil yang signifikan, tetapi juga berkontribusi langsung melalui praktik seperti produksi padi dan peternakan. Tiga penyebab utama peningkatan gas rumah kaca dalam 250 tahun terakhir adalah bahan bakar fosil, penggunaan lahan, dan pertanian.
Sistem pencernaan hewan ternak, terutama sapi ruminansia yang dipelihara untuk daging sapi dan susu, memiliki emisi gas rumah kaca yang tinggi. Sementara hewan monogastrik seperti babi dan unggas memiliki emisi yang lebih rendah. Strategi untuk mengurangi dampaknya dan meningkatkan produksi emisi gas rumah kaca, yang dikenal sebagai pertanian cerdas iklim, mencakup peningkatan efisiensi peternakan, manajemen dan teknologi; pengelolaan pupuk kandang yang lebih efektif; pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil; variasi dalam makanan dan minuman hewan; dan pengurangan produksi dan konsumsi produk hewani.Berbagai kebijakan juga dapat diimplementasikan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Perubahan penggunaan lahan
Perubahan penggunaan lahan, seperti deforestasi untuk keperluan pertanian, memiliki dampak signifikan terhadap konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dengan mengubah aliran karbon keluar dari atmosfer dan menjadi penyerap karbon. Penghitungan perubahan penggunaan lahan bertujuan untuk mengukur emisi "bersih", yaitu emisi dari semua sumber dikurangi penghilangan emisi dari atmosfer melalui penyerap karbon.
Namun, terdapat ketidakpastian besar dalam pengukuran emisi karbon bersih, dan kontroversi muncul dalam alokasi penyerapan karbon antar wilayah dan dari waktu ke waktu. Misalnya, fokus pada perubahan penyerapan karbon yang lebih baru mungkin akan menguntungkan wilayah yang telah mengalami deforestasi sebelumnya, seperti Eropa.
Sebagai contoh, pada tahun 1997, kebakaran gambut di Indonesia yang disebabkan oleh manusia diperkirakan telah menyebabkan 13% hingga 40% dari rata-rata emisi karbon global tahunan yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa alamiah atau manusia yang terkait dengan perubahan penggunaan lahan dapat memiliki dampak besar terhadap emisi gas rumah kaca secara global.
Proyeksi emisi di masa depan
"Laporan Kesenjangan Emisi" tahunan oleh UNEP pada tahun 2022 menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca harus dikurangi hampir separuhnya untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C. Untuk mencapai hal ini, emisi global harus dikurangi sebesar 45% dibandingkan dengan proyeksi emisi berdasarkan kebijakan yang saat ini berlaku hanya dalam waktu delapan tahun, dan emisi tersebut harus terus menurun dengan cepat setelah tahun 2030. Laporan tersebut menekankan perlunya fokus pada transformasi ekonomi yang luas daripada perubahan bertahap.
Pada tahun 2022, IPCC juga menerbitkan Laporan Penilaian Keenam mengenai perubahan iklim, yang menegaskan bahwa emisi gas rumah kaca harus mencapai puncaknya paling lambat sebelum tahun 2025 dan menurun sebesar 43% pada tahun 2030 untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, juga menekankan bahwa penghasil emisi utama harus mengurangi emisi secara drastis mulai tahun itu.
Pada bulan Oktober 2023, Badan Informasi Energi AS (EIA) merilis serangkaian proyeksi hingga tahun 2050 berdasarkan intervensi kebijakan yang dapat dipastikan saat ini. Hasil model ini menunjukkan bahwa emisi karbon terkait energi tidak pernah turun di bawah tingkat tahun 2022, menyarankan bahwa diperlukan tindakan yang lebih kuat untuk mengatasi perubahan iklim.
Disadur dari: en.wikipedia.org