Sumber Daya Air
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 10 Juni 2025
Urgensi Teknologi Cerdas dalam Pemantauan Kualitas Air Sungai
Kualitas air sungai di Indonesia semakin menjadi perhatian utama di era modern, seiring meningkatnya aktivitas industri, pertanian, dan domestik yang menghasilkan limbah dan polutan. Sungai, yang selama ini menjadi sumber air minum, irigasi, hingga budidaya ikan, kini menghadapi ancaman pencemaran serius. Menyikapi tantangan ini, integrasi teknologi cerdas seperti Internet of Things (IoT) dan algoritma fuzzy logic menjadi solusi mutakhir untuk pemantauan dan klasifikasi kondisi air secara real-time dan otomatis. Paper “Sistem Pemantauan dan Klasifikasi Kondisi Pencemaran Air Sungai dengan Metode Fuzzy Logic” karya Khalid Waleed A.S., Dr. Purba Daru Kusuma, dan Casi Setiamingsih (Universitas Telkom) menghadirkan inovasi penting yang layak dikaji lebih dalam15.
Permasalahan Klasik dan Solusi Modern
Krisis Kualitas Air Sungai
Indonesia, sebagai negara berkembang, menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan limbah cair. Banyak limbah industri, pertanian, dan domestik masih dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan memadai, menyebabkan penurunan kualitas air yang drastis. Akibatnya, air sungai tidak lagi layak dikonsumsi atau dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.
Peran Teknologi dalam Pengawasan Lingkungan
Perkembangan teknologi, khususnya IoT dan sistem cerdas berbasis fuzzy logic, memungkinkan pemantauan kualitas air sungai secara otomatis, cepat, dan efisien. Sistem ini dapat mengolah data fisik dan kimia air (seperti pH, suhu, dan kekeruhan) menjadi informasi status pencemaran yang mudah dipahami masyarakat dan pengambil kebijakan15.
Fuzzy Logic dan IoT dalam Pemantauan Air
Meniru Cara Berpikir Manusia
Fuzzy logic adalah cabang kecerdasan buatan yang meniru cara manusia mengambil keputusan berdasarkan data yang tidak pasti atau ambigu. Dalam konteks pemantauan air, fuzzy logic mampu mengklasifikasikan kondisi pencemaran (rendah, sedang, tinggi) berdasarkan input sensor secara fleksibel, tidak kaku seperti logika biner12.
Konektivitas Real-Time
IoT memungkinkan perangkat sensor terhubung ke internet, mengirimkan data secara real-time ke server atau cloud. Teknologi Low-Power Wide-Area Network (LPWAN) seperti LoRa digunakan untuk transmisi data jarak jauh dengan konsumsi daya rendah, sangat cocok untuk aplikasi lingkungan yang membutuhkan pemantauan berkelanjutan15.
Implementasi Sistem Fuzzy Logic untuk Pemantauan Sungai
Desain Sistem
Penelitian ini merancang sistem pemantauan dan klasifikasi pencemaran air sungai dengan komponen utama:
Data dari sensor dikumpulkan oleh mikrokontroler, dikirim via LoRa ke server, lalu diproses dengan algoritma fuzzy logic untuk menentukan tingkat pencemaran. Hasil akhirnya dapat diakses publik melalui website.
Tahapan Proses Fuzzy Logic
Angka-Angka dan Hasil Pengujian Sistem
Parameter Sensor dan Batasan
Hasil Implementasi
Nilai Tambah, Kelebihan, dan Tantangan
Kelebihan Sistem
Tantangan dan Kritik
Perbandingan dengan Penelitian dan Aplikasi Lain
Penelitian serupa di Citarum menggunakan sensor pH, turbidity, dan TDS yang diintegrasikan dengan LoRa dan fuzzy algorithm, menunjukkan akurasi sensor pH hingga 99,39% dan suhu 98,69%. Data dikirim ke cloud dan divisualisasikan di aplikasi smartphone, memperluas akses masyarakat terhadap informasi kualitas air4. Di luar negeri, fuzzy logic juga digunakan untuk membangun Water Quality Index (WQI) yang mempertimbangkan ketidakpastian parameter air, memberikan penilaian yang lebih adaptif terhadap variasi lingkungan dan perubahan iklim23.
Relevansi dengan Tren Industri dan Masa Depan Pemantauan Air
Digitalisasi dan Smart Environment
Integrasi IoT dan kecerdasan buatan dalam pemantauan lingkungan adalah tren global yang tak terelakkan. Sistem otomatis seperti yang diusulkan dalam paper ini memungkinkan pengawasan lingkungan yang lebih efisien, responsif, dan berkelanjutan. Industri pengelolaan air, perusahaan air minum, hingga pemerintah daerah dapat memanfaatkan sistem ini untuk meningkatkan kualitas layanan dan mitigasi risiko pencemaran.
Kontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs)
Sistem ini mendukung target SDG 6 (Clean Water and Sanitation) dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dengan memastikan akses terhadap air bersih dan lingkungan yang sehat melalui pemantauan berbasis data.
Potensi Pengembangan
Inovasi Penting untuk Sungai yang Lebih Bersih
Paper ini membuktikan bahwa sistem pemantauan dan klasifikasi pencemaran air sungai berbasis fuzzy logic dan IoT adalah solusi inovatif, relevan, dan aplikatif untuk tantangan lingkungan masa kini. Dengan keunggulan otomatisasi, fleksibilitas, dan konektivitas, sistem ini dapat menjadi andalan dalam menjaga kualitas air sungai di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Namun, pengembangan lebih lanjut diperlukan untuk memperluas cakupan parameter, meningkatkan integrasi data, dan memastikan sistem benar-benar berdampak pada kebijakan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Sumber Asli Artikel
Khalid Waleed A. S., Dr. Purba Daru Kusuma, Casi Setiamingsih. 2019. Sistem Pemantauan dan Klasifikasi Kondisi Pencemaran Air Sungai dengan Metode Fuzzy Logic. e-Proceeding of Engineering, Vol.6, No.1, April 2019, 1604–1610. ISSN: 2355-9365.
Sumber Daya Air
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 10 Juni 2025
Danau Tahai, yang terletak di Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, adalah salah satu danau gambut yang menyimpan kekayaan hayati sekaligus menjadi pusat aktivitas masyarakat sekitar. Selain sebagai sumber mata pencaharian nelayan, danau ini juga menjadi destinasi wisata dan tempat berbagai aktivitas domestik warga. Namun, aktivitas manusia yang intensif berpotensi mengubah kualitas air dan berdampak pada keanekaragaman ikan yang hidup di dalamnya. Studi yang dilakukan oleh Yuni Pahrela, Rosana Elvince, dan Kembarawati (2022) mengupas tuntas hubungan antara kualitas air dan keanekaragaman ikan di Danau Tahai, memberikan gambaran penting bagi upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya perairan tropis14.
Keseimbangan ekosistem perairan sangat dipengaruhi oleh kualitas air, baik dari aspek fisika maupun kimia. Perubahan kualitas air, baik akibat faktor alami maupun aktivitas manusia, dapat memicu perubahan pada komunitas ikan dan ekosistem danau secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk:
Penelitian ini menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem air tawar akibat urbanisasi, pertanian, dan perubahan iklim, yang juga menjadi isu global dalam pengelolaan sumber daya perairan14.
Metodologi: Studi Kasus di Dua Stasiun Pengamatan
Lokasi dan Waktu
Penelitian dilakukan di Danau Tahai selama Juli-Agustus 2022, dengan dua stasiun pengamatan utama:
Parameter yang Diukur
Peneliti mengukur parameter kualitas air berikut:
Indeks keanekaragaman ikan dihitung menggunakan Shannon-Wiener Index, dengan kriteria:
Analisis hubungan antara kualitas air dan keanekaragaman ikan dilakukan dengan korelasi dan regresi linier14.
Hasil Penelitian: Angka, Fakta, dan Analisis
Keanekaragaman Ikan: Gambaran Spesies dan Populasi
Total ditemukan 111 ekor ikan, terdiri dari 12 jenis yang termasuk dalam 9 famili. Jenis-jenis ikan yang ditemukan antara lain:
Distribusi ikan:
Stasiun II memiliki keanekaragaman lebih tinggi, diduga karena lokasinya yang lebih jauh dari aktivitas manusia dan lebih banyak alat tangkap yang dioperasikan14.
Indeks Keanekaragaman Ikan
Nilai rendah di Stasiun I diduga akibat tekanan aktivitas manusia yang menurunkan jumlah dan variasi spesies ikan. Sementara di Stasiun II, keanekaragaman lebih tinggi karena habitat lebih alami dan tekanan manusia lebih kecil14.
Kualitas Air: Parameter Fisika dan Kimia
Suhu:
Kecerahan:
Kedalaman:
TSS:
pH:
DO (Oksigen Terlarut):
Fosfat:
Nitrat:
Analisis Hubungan Kualitas Air dan Keanekaragaman Ikan
Parameter Fisika
Parameter Kimia
Diskusi: Implikasi, Kritik, dan Hubungan dengan Tren Global
Implikasi untuk Pengelolaan Danau
Kritik dan Saran
Perbandingan dengan Studi Lain
Penelitian serupa di Danau Lau Kawar menunjukkan bahwa kualitas air, suhu, dan struktur habitat sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman ikan. Namun, Danau Lau Kawar memiliki indeks keanekaragaman yang lebih tinggi, menandakan ekosistem yang lebih stabil dan minim tekanan antropogenik3. Hal ini menegaskan bahwa aktivitas manusia adalah salah satu faktor utama penurunan keanekaragaman ikan di perairan tropis.
Relevansi dengan Isu Global dan Industri Perikanan
Hasil penelitian ini sangat relevan dengan tren global pengelolaan perikanan berkelanjutan dan konservasi ekosistem air tawar. Banyak danau tropis di dunia menghadapi tantangan serupa: tekanan aktivitas manusia, penurunan kualitas air, dan berkurangnya keanekaragaman hayati. Upaya rehabilitasi dan pengelolaan berbasis ekosistem menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan memastikan keseimbangan lingkungan.
Pentingnya Menjaga Kualitas Air untuk Keanekaragaman Ikan
Penelitian di Danau Tahai membuktikan bahwa kualitas air—baik dari aspek fisika maupun kimia—berhubungan erat dan positif dengan keanekaragaman ikan. Parameter-parameter seperti suhu, kecerahan, kedalaman, TSS, pH, DO, fosfat, dan nitrat semuanya berperan dalam menentukan jumlah dan variasi spesies ikan yang dapat bertahan hidup di danau. Stasiun yang lebih jauh dari aktivitas manusia memiliki keanekaragaman lebih tinggi, menegaskan perlunya pengelolaan aktivitas domestik dan wisata di sekitar danau.
Rekomendasi utama:
Sumber Asli Artikel
Yuni Pahrela, Rosana Elvince, Kembarawati. 2022. Hubungan Antara Kualitas Air dengan Keanekaragaman Ikan di Danau Tahai, Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya. Journal of Tropical Fisheries, 17(2): 86-96. ISSN: 1907-736X.
Sumber Daya Air
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 20 Mei 2025
Pendahuluan: Kebutuhan Kompetensi Tenaga Konstruksi dalam Era Digital
Dalam era transformasi digital yang semakin pesat, tuntutan terhadap tenaga kerja konstruksi untuk memiliki kompetensi teknis yang lebih tinggi menjadi tidak terelakkan. Khususnya bagi lulusan atau mahasiswa Teknik Sipil, kemampuan menguasai perangkat lunak simulasi teknik seperti HEC-RAS (Hydrologic Engineering Center's River Analysis System) menjadi nilai tambah yang strategis. Artikel ilmiah ini, yang merupakan hasil pengabdian masyarakat oleh Firman Ardiansyah Ekoanindiyo dan tim dari Universitas Stikubank, berfokus pada pelatihan penggunaan HEC-RAS untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja konstruksi di bidang sumber daya air.
Apa Itu HEC-RAS dan Mengapa Penting?
HEC-RAS merupakan perangkat lunak yang dirancang oleh Hydrologic Engineering Center di bawah US Army Corps of Engineers. Versi 5.0.3 yang digunakan dalam pelatihan ini mampu melakukan:
Simulasi aliran permanen dan tidak permanen (steady & unsteady flow)
Analisis angkutan sedimen
Penilaian kualitas air
Perhitungan desain hidraulik
Fitur-fitur ini menjadikan HEC-RAS sebagai alat penting dalam perencanaan dan evaluasi bangunan air seperti bendung, jembatan, dan saluran irigasi. Kompetensi dalam menggunakan perangkat ini tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja tenaga ahli, tetapi juga memperkuat daya saing mereka di pasar konstruksi nasional maupun internasional.
Studi Kasus: Pelatihan Bersama ATAKSI dan Universitas Stikubank
Pelatihan diselenggarakan atas kerja sama antara Universitas Stikubank dan Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKSI) Provinsi Jawa Tengah, dengan peserta dari kalangan mahasiswa Teknik Sipil dan anggota ATAKSI. Materi pelatihan mencakup:
Pengenalan HEC-RAS: Teori dasar aliran sungai dan karakteristik morfologi.
Input Data:
Cross section sungai
Nilai Manning
Debit banjir (peak/routing)
Boundary condition hilir
Pemodelan Geometri Sungai: Input data panjang lintang, struktur hidraulik, dan karakteristik dasar sungai.
Simulasi Aliran: Baik steady maupun unsteady.
Evaluasi & Diskusi: Tanya jawab dan pengamatan langsung.
Temuan dan Dampak Langsung
Antusiasme Peserta
Tingkat kehadiran 100% menunjukkan bahwa pelatihan ini sangat diminati.
Peserta aktif dalam sesi diskusi, menunjukkan bahwa metode ceramah, demonstrasi, dan praktikum yang digunakan efektif.
Peningkatan Kompetensi
Peserta mampu menjalankan simulasi sungai sederhana secara mandiri.
Meningkatnya pemahaman konsep aliran, erosi (gerusan), dan perencanaan bangunan air.
Dampak pada Industri
Pelatihan semacam ini menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik di lapangan.
Meningkatkan kesiapan kerja lulusan Teknik Sipil.
Kritik dan Rekomendasi
Kritik
Pelatihan hanya berlangsung satu hari; waktu ini kurang optimal untuk pemahaman mendalam.
Fokus pelatihan masih terbatas pada pengenalan, belum mencakup studi kasus nyata atau integrasi dengan data GIS.
Rekomendasi
Menyediakan modul pelatihan lanjutan khusus untuk analisis banjir dan desain struktur sungai.
Mengintegrasikan pelatihan ini dalam kurikulum Teknik Sipil secara reguler.
Mengembangkan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk studi kasus berbasis sungai lokal.
Komparasi dengan Penelitian Sebelumnya
Studi oleh Kodri et al. (2018) menunjukkan bahwa pelatihan dan sertifikasi memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Hal ini selaras dengan hasil dari pengabdian ini. Studi lain oleh Shalahuddin et al. (2021) dalam konteks pendidikan teknik juga membuktikan bahwa simulasi mampu meningkatkan capaian pembelajaran hingga 87% kategori memuaskan.
Kesimpulan: Kompetensi Adalah Investasi
Peningkatan kualitas tenaga kerja konstruksi tidak dapat dicapai hanya melalui pengalaman kerja. Dibutuhkan pelatihan berkelanjutan dan adaptasi terhadap teknologi terbaru. Pelatihan HEC-RAS yang dilakukan oleh Universitas Stikubank adalah contoh nyata bagaimana sinergi antara dunia pendidikan dan asosiasi profesi mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan peningkatan kompetensi tenaga kerja, khususnya dalam bidang sumber daya air.
Dengan semakin kompleksnya tantangan infrastruktur dan perubahan iklim, tenaga ahli yang mampu memanfaatkan simulasi teknis akan menjadi garda depan dalam perencanaan proyek konstruksi yang berkelanjutan dan efisien.
Sumber Jurnal:
Firman Ardiansyah Ekoanindiyo, Antoni Yohanes, Endro Prihastono, Enty Nur Hayati. (2021). Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja Konstruksi pada Bidang Sumber Daya Air. Jurnal Pengabdian pada Masyarakat (PENAMAS), Vol. 5, No. 2, Hal. 80-86.
DOI: https://doi.org/10.31294/penamas.v5i2.8700
Sumber Daya Air
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 19 Februari 2025
Deforestasi atau penggundulan hutan adalah kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan nonhutan, seperti pertanian dan perkebunan, peternakan, atau permukiman. Di antara 15–18 juta hektare hutan, tanah seluas Bangladesh, dimusnah setiap tahun. Rata-rata 2.400 pokok ditebang setiap menit.

Deforestasi di Gran Caku, Paraguay
Istilah deforestasi sering disalahartikan untuk menggambarkan kegiatan penebangan yang semua pohonnya di suatu daerah ditebang habis. Namun, di daerah beriklim sedang yang cukup lengas, penebangan semua pohon—sesuai dengan langkah-langkah pelaksanaan kehutanan yang berkelanjutan—tepatnya disebut sebagai 'panen permudaan'. Di daerah tersebut, permudaan alami oleh tegakan hutan biasanya tidak akan terjadi tanpa gangguan, baik secara alami maupun akibat manusia. Selain itu, akibat dari panen permudaan sering kali mirip dengan gangguan alami, termasuk hilangnya keanekaragaman hayati setelah perusakan hutan hujan yang terjadi secara alami.
Deforestasi dapat terjadi karena pelbagai alasan: pohon atau arang yang diperoleh dari hutan dapat digunakan atau dijual untuk bahan bakar atau sebagai kayu saja, sedangkan lahannya dapat dialihgunakan sebagai padang rumput untuk ternak, perkebunan untuk barang dagangan, atau untuk permukiman. Penebangan pohon tanpa penghutanan kembali (reforestasi) yang cukup dapat merusak lingkungan tinggal (habitat), hilangnya keanekaragaman hayati, dan kegersangan. Penebangan juga berdampak buruk terhadap penyitaan hayati (biosekuestrasi) karbon dioksida dari udara. Daerah-daerah yang telah ditebang habis biasanya mengalami pengikisan tanah yang parah dan sering menjadi gurun.
Pengabaian atau ketidaktahuan nilai hakiki atau intrinsik, kurangnya nilai yang terwariskan, kelengahan dalam pengelolaan hutan, dan hukum lingkungan yang kurang memadai merupakan beberapa alasan yang memungkinkan terjadinya deforestasi secara besar-besaran. Banyak negara di dunia mengalami deforestasi terus-menerus, baik secara alami maupun akibat manusia. Deforestasi dapat menyebabkan kepunahan, perubahan iklim, penggurunan, dan ketersingkiran penduduk semula. Perubahan tersebut juga pernah terjadi pada masa lalu dan dapat dibuktikan melalui penelitian rekaman fosil. Akan tetapi, angka deforestasi bersih sudah tidak lagi meningkat di antara negara-negara dengan PDB per kapita yang sedikitnya AS$4.600.
Penyebab

Deforestasi setiap tahun.

Perubahan luasnya kawasan hutan setiap tahun
Banyak deforestasi pada masa kini terjadi karena penyelewengan kuasa pemerintahan di kalangan lembaga pemerintah, ketidakadilan dalam pembagian kekayaan dan kekuasaan,pertumbuhan penduduk dan ledakan penduduk, maupun urbanisasi. Globalisasi sering kali dipandang sebagai akar penyebab lain yang mengakibatkan deforestasi,meskipun ada pula dampak baik dari globalisasi (datangnya tenaga kerja, modal, barang dagangan dan gagasan baru) yang telah menggalakkan pemulihan hutan setempat.
Pada tahun 2000, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menemukan bahwa "peran dinamika penduduk dalam keadaan setempat dapat berubah-ubah dari sangat berpengaruh hingga tidak berpengaruh sama sekali," dan deforestasi dapat terjadi karena "tekanan penduduk dan kemandekan keadaan ekonomi, masyarakat maupun teknologi."
Terjadinya kemerosotan ekosistem hutan juga dapat berakar dari dorongan-dorongan ekonomi yang menonjolkan keuntungan pengalihgunaan hutan dibandingkan pelestarian hutan.Banyak kegunaan hutan yang penting yang tidak memiliki pasar sehingga tidak ada nilai ekonomi yang bermanfaat bagi para pemilik hutan atau masyarakat yang bergantung pada hutan untuk kesejahteraan mereka. Dari sudut pandang negara berkembang, hilangnya manfaat hutan (sebagai penyerap karbon atau cagar keanekaragaman hayati), ketika sebagian besar sisa pohonnya dikirim ke negara-negara maju, merupakan hal yang tidak adil karena tidak ada imbalan yang cukup untuk jasa tersebut. Negara-negara berkembang merasa beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, telah mendapatkan banyak manfaat dengan menebang hutannya sendiri berabad-abad yang lalu, dan dinilai tidak pantas apabila negara-negara maju tidak membiarkan negara-negara berkembang memiliki kesempatan yang sama: bahwa negara miskin tidak harus menanggung biaya pelestarian karena negara kayalah yang telah menciptakan masalahnya.
Para pakar tidak sepakat bahwa pembalakan besar-besaran bagi perdagangan memainkan peran penting bagi deforestasi global.Beberapa pakar berpendapat bahwa orang miskin lebih cenderung menebangi hutan karena mereka tidak punya jalan keluar yang lain. Ada juga yang berpendapat bahwa masyarakat miskin tidak mampu membayar bahan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk menebang hutan. Hasil dari salah satu pengkajian deforestasi menyatakan bahwa hanya 8% penebangan hutan beriklim panas terjadi karena peningkatan jumlah penduduk oleh angka kesuburan yang tinggi.
Sumber Artikel: id.wikipedia.org
Sumber Daya Air
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 19 Februari 2025
Reboisasi (bahasa Inggris: reforestation) adalah penanaman kembali hutan yang telah ditebang (tandus, gundul) supaya tidak terjadi bahaya dari letusan gunung berapi. Reboisasi berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dengan menyerap polusi dan debu dari udara, membangun kembali habitat dan ekosistem alam, mencegah pemanasan global dengan menangkap karbon dioksida dari udara, serta dimanfaatkan hasilnya (terutama kayu). Salah contoh upaya reboisasi yang menarik adalah prakarsa pemerintah Kabupaten Garut yang dimulai pada tahun 2009: meminta setiap pengantin baru untuk menanam 10 pohon dan 50 pohon bagi pasangan yang bercerai.
Sumber Artikel: id.wikipedia.org
Sumber Daya Air
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 19 Februari 2025
Terowongan adalah sebuah tembusan di bawah permukaan tanah atau gunung. Terowongan umumnya tertutup di seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya yang terbuka pada lingkungan luar. Beberapa ahli teknik sipil mendefinisikan terowongan sebagai sebuah tembusan di bawah permukaan yang memiliki panjang minimal 150 meter, dan yang lebih pendek dari itu lebih pantas disebut underpass.
Terowongan biasanya digunakan untuk lalu lintas kendaraan (umumnya mobil atau kereta api) maupun para pejalan kaki atau pengendara sepeda. Selain itu, ada pula terowongan yang berfungsi mengalirkan air untuk mengurangi banjir atau untuk dikonsumsi, terowongan untuk saluran pembuangan, pembangkit listrik, dan terowongan yang menyalurkan kabel telekomunikasi. Ada juga terowongan yang berfungsi sebagai jalan bagi hewan, umumnya diperuntukkan bagi hewan langka yang habitatnya dilintasi jalan raya. Beberapa terowongan rahasia juga telah dibuat sebagai metode bagi jalan masuk ke atau keluar dari suatu tempat yang aman atau berbahaya, seperti terowongan di Jalur Gaza, dan Terowongan Cu Chi di Vietnam yang dibangun dan dipergunakan ketika perang Vietnam.
Di Inggris, terowongan bawah tanah untuk pejalan kaki atau transportasi umumnya disebut subway. Istilah ini digunakan pada masa lalu, dan saat ini lebih populer disebut Underground Rapid Transit System.
Konstruksi
Terowongan dibuat melalui berbagai jenis dan lapisan tanah dan bebatuan sehingga metode konstruksi tergantung dari keadaan tanah.
Metode
Potong-tutup
Ini adalah metode yang paling sederhana untuk terowongan dangkal di mana area di atas lokasi yang akan dijadikan terowongan harus digali dan terowongan dibangun dengan atap di atasnya. Setelah itu, area ditutup kembali agar terlihat seperti sebelum digali.
Konstruksi umumnya bertingkat dua, yang memungkinkan adanya pengelolaan secara ekonomi dan keamanan seperti loket tiket, stasiun, akses penumpang dan jalan keluar darurat, ventilasi, saluran asap, ruang staf, dan ruang perlengkapan.
Mesin bor
Mesin bor memungkinkan terowongan dibangun tanpa harus menggali area di atas lokasi yang akan di jadikan terowongan. Mesin bor melubangi tanah sepanjang lokasi terowongan. Mesin bor bisa dioperasikan secara otomatis selama proses konstruksi terowongan, dan dapat menembus hampir seluruh jenis bebatuan. Mesin bor yang pertama kali digunakan adalah mesin yang digunakan untuk membangun Terowongan rel Fréjus antara Prancis dan Italia melalui Pegunungan Alpen tahun 1845.
Galeri

Sebuah bekas terowongan kereta api di Belgia
yang kini digunakan untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda.

Jenis bangunan bentangan air: 1. Jembatan suspensi,
2. Jembatan Archimedes, 3. Tabung terbenam (Immersed tube), 4: Terowongan bawah air

Bagian dari Terowongan Drogden

Bagian segmen dari jenis terowongan immersed tube,
siap untuk diapungkan dan ditenggelamkan ditempatnya.

Jembatan Oresund , kombinasi jembatan dan terowongan kereta api rel kembar dan jalan raya kembar
yang melintasi Selat Øresund. Jembatan ini menghubungkan Swedia dan Denmark.

Terowongan kereta api di Lembah Anai, sekitar tahun 1880.
Sumber Artikel: id.wikipedia.org