Riset dan Inovasi

Penjelasan Mengenai Pengumpulan Data Dalam Penelitian

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 11 Februari 2025


Data merupakan elemen penting dalam dunia penelitian. Secara sederhana, data adalah segala informasi yang terdiri dari fakta, angka, tulisan, grafik, tabel, atau lambang lainnya yang digunakan sebagai bahan keterangan. Ini menjadi bahan dasar untuk menghasilkan informasi yang relevan dan berguna. Bagi seorang peneliti, mendapatkan data yang akurat dan relevan sangatlah vital dalam mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Pengumpulan data adalah proses mencari dan menghimpun informasi dari lapangan yang kemudian akan digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan. Penting bagi peneliti untuk memastikan bahwa pengumpulan data dilakukan dengan validitas yang tinggi dan melibatkan individu atau tim yang berkualitas dalam mengumpulkan informasi yang diperlukan.

Dalam proses pengumpulan data, dibutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketekunan. Seorang peneliti harus bersedia untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mewawancarai berbagai pihak, atau mengisi kuesioner. Ketekunan dan ketabahan menjadi kunci, karena proses ini bisa memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Mental yang kuat juga diperlukan, karena tanpa itu, risiko untuk menyerah di tengah jalan sangatlah besar.

Secara umum, data dapat dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merujuk pada informasi yang diperoleh langsung dari lapangan, sedangkan data sekunder adalah informasi yang diperoleh secara tidak langsung, misalnya dari literatur atau basis data yang sudah ada.

Pemahaman yang baik tentang data dan proses pengumpulannya menjadi landasan penting bagi keberhasilan sebuah penelitian. Dengan memastikan bahwa data yang digunakan valid dan relevan, diharapkan hasil penelitian yang dihasilkan akan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan masalah di berbagai bidang.

Memahami Pembagian dan Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian dapat dibagi berdasarkan dua kriteria utama, yaitu berdasarkan sumber dan sifatnya. Pertama, berdasarkan sumber, data dapat dikelompokkan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer adalah informasi yang diperoleh secara langsung oleh peneliti atau individu yang terlibat dalam penelitian. Sedangkan data sekunder merujuk pada informasi yang sudah ada sebelumnya dan diperoleh dari sumber-sumber seperti perpustakaan atau dokumen penelitian sebelumnya.

Kemudian, berdasarkan sifatnya, data dapat dibagi menjadi data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah informasi yang tidak diekspresikan dalam bentuk bilangan, melainkan dalam bentuk pernyataan verbal, simbol, atau gambar. Sementara itu, data kuantitatif adalah informasi yang diekspresikan dalam bentuk bilangan atau dapat diangka-angka.

Terdapat beberapa teknik pengumpulan data yang umum digunakan dalam penelitian, di antaranya adalah:

  1. Observasi: Melibatkan pengamatan langsung terhadap objek tertentu dengan tujuan untuk mengumpulkan data dan informasi terkait.
  2. Penelusuran Data Online: Metode penelusuran data yang dilakukan secara daring untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber online.
  3. Pengamatan Partisipatif: Melibatkan peneliti dalam kegiatan sehari-hari subjek penelitian atau sumber data untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.

Tentu saja, masih ada banyak teknik pengumpulan data lainnya di luar yang disebutkan di atas, namun teknik-teknik tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam pengumpulan data penelitian. Dengan pemahaman yang baik tentang pembagian data dan teknik pengumpulannya, diharapkan peneliti dapat menghasilkan data yang akurat dan relevan untuk mendukung keberhasilan penelitian yang dilakukan.
 

Sumber: id.wikipedia.org

Selengkapnya
Penjelasan Mengenai Pengumpulan Data Dalam Penelitian

Riset dan Inovasi

Mengungkap Rahasia di Balik Sumber Sekunder: Kunci Menuju Penelitian yang Kaya Informasi

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 11 Februari 2025


Data sekunder merujuk pada informasi yang dikumpulkan oleh pihak lain selain peneliti utama. Sumber umum data sekunder dalam ilmu sosial meliputi hasil sensus, data pemerintah, catatan organisasi, dan data yang awalnya dikumpulkan untuk tujuan penelitian lainnya. Menggunakan data sekunder dalam analisis dapat menghemat waktu yang biasanya dibutuhkan untuk pengumpulan data. Terutama dalam kasus data kuantitatif, penggunaan data sekunder dapat memberikan akses ke basis data yang lebih besar dan berkualitas lebih tinggi yang mungkin tidak dapat dikumpulkan oleh peneliti secara individu.

Analisis data sekunder juga dianggap sangat penting dalam memahami perubahan sosial dan ekonomi, karena seringkali sulit untuk melakukan survei baru yang dapat mencakup perubahan historis dengan tepat. Meskipun demikian, dalam riset pemasaran, data sekunder mungkin kurang berguna karena bisa saja sudah tidak relevan atau tidak akurat. Dalam rangka mengoptimalkan penggunaan data, peneliti harus mempertimbangkan keunggulan dan keterbatasan dari sumber data sekunder yang mereka gunakan.

Klasifikasi sumber

Klasifikasi sumber-sumber melibatkan pengkategorian sumber-sumber tersebut sebagai sumber primer atau sekunder berdasarkan sifat simbolisnya, yang mengacu pada benda-benda yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan informasi. Sumber-sumber simbolis biasanya mencakup dokumen tertulis seperti surat, catatan, laporan, dan seni grafis, tetapi tidak termasuk benda-benda non-komunikatif seperti pecahan tembikar atau sisa-sisa makanan.

Membedakan antara sumber primer dan sekunder bersifat subjektif dan bergantung pada konteksnya, sehingga sulit untuk membuat definisi yang tepat. Beberapa sumber dapat diklasifikasikan sebagai sumber primer atau sekunder, tergantung pada situasinya. Misalnya, sebuah teks sejarah yang membahas dokumen-dokumen lama untuk menarik kesimpulan baru dapat dianggap sebagai sumber primer untuk kesimpulan baru, namun tetap menjadi sumber sekunder untuk dokumen lama. Demikian pula, sebuah obituari atau survei artikel jurnal dapat berperan sebagai sumber primer dan sekunder.

Klasifikasi suatu sumber sebagai sumber primer atau sekunder dapat berubah dari waktu ke waktu, yang mencerminkan pergeseran pengetahuan dalam bidang studi. Sebagai contoh, sebuah dokumen yang merujuk pada isi surat yang hilang dapat dianggap sebagai sumber primer sampai surat tersebut ditemukan, dan setelah itu dokumen tersebut menjadi sumber sekunder.

Upaya untuk memodelkan komunikasi ilmiah dan keilmuan bergantung pada konsep-konsep seperti sumber primer dan sekunder. Model penyebaran informasi UNISIST, yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, memberikan kerangka kerja untuk memahami konsep-konsep ini dalam sistem sosial yang lebih besar dari pertukaran pengetahuan.

Dalam beberapa bahasa seperti bahasa Jerman, ada perbedaan antara Sekundärliteratur (literatur sekunder) untuk sumber sekunder dan Sekundärquelle (sumber sekunder) untuk historiografi. Sekundärquelle dapat merujuk pada Primärquelle (sumber primer) yang hilang, seperti notulen yang sudah tidak ada lagi, sehingga sumber primernya tidak dapat diakses oleh para peneliti.

Memahami Klasifikasi Sumber di Berbagai Bidang

Perbedaan antara sumber primer dan sekunder memainkan peran penting dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari sains dan kedokteran hingga humaniora dan sejarah. Mari selidiki bagaimana sistem klasifikasi ini beroperasi di berbagai bidang studi.

Sains, Teknologi, dan Kedokteran:
Dalam konteks ilmiah, sumber sekunder sering disebut sebagai "literatur sekunder" dan dapat berupa artikel review atau meta-analisis. Sumber primer, sebaliknya, adalah makalah penelitian asli yang ditulis oleh ilmuwan yang melakukan penelitian. Materi utama ini mencakup bagian seperti Tujuan, Metode, Hasil, dan Kesimpulan dalam makalah penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah. Namun, sumber sekunder juga dapat mencakup ringkasan literatur yang ada, deskripsi penyakit atau pengobatan di buku referensi, atau survei pekerjaan sebelumnya di lapangan.

Ilmu Perpustakaan dan Informasi:
Sumber sekunder dalam bidang ini adalah sumber yang merangkum atau memberikan komentar terhadap sumber primer dalam konteks tertentu. Mereka berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atau interpretasi informasi atau ide yang diteliti.

Matematika:
Dalam matematika, sumber sekunder sangat penting untuk membuat ide-ide matematika yang kompleks dan bukti-bukti dari sumber primer lebih mudah diakses oleh masyarakat. Sumber tersier juga dapat digunakan untuk memenuhi peran pengantar.

Humaniora dan Sejarah:
Dalam sejarah dan humaniora, sumber sekunder biasanya berupa buku atau jurnal ilmiah yang ditulis oleh penerjemah atau cendekiawan di kemudian hari. Sumber-sumber ini menawarkan perspektif mengenai peristiwa atau gagasan sejarah dari sudut pandang selanjutnya. Sejarawan sangat bergantung pada sumber-sumber primer, seperti dokumen arsip, untuk penulisan ilmiah asli, dan membacanya bersamaan dengan interpretasi sekunder.

Hukum:
Dalam bidang hukum, klasifikasi sumber sangatlah penting karena persuasif suatu sumber sering kali bergantung pada sejarahnya. Sumber primer meliputi kasus, undang-undang, konstitusi, dan teks hukum otoritatif lainnya, sedangkan sumber sekunder berupa buku, artikel, dan ensiklopedia. Penulis hukum umumnya lebih suka mengutip sumber primer karena memiliki nilai otoritatif dan preseden.

Sejarah keluarga:
Dalam penelitian sejarah keluarga, sumber sekunder diartikan sebagai catatan atau pernyataan yang dibuat oleh orang yang bukan saksi mata atau seseorang yang tidak mempunyai hubungan dekat dengan peristiwa atau keadaan. Hal ini mencakup kisah-kisah yang ditulis lama setelah peristiwa tersebut terjadi, di mana kesalahan ingatan menjadi faktor yang signifikan.

Otobiografi:
Otobiografi dapat berfungsi sebagai sumber sekunder dalam sejarah atau humaniora bila digunakan untuk memberikan informasi tentang topik selain kehidupan subjek. Misalnya, catatan peristiwa sejarah yang ditulis bertahun-tahun kemudian mungkin mencerminkan persepsi yang ada dibandingkan opini masa kini.

Kesimpulannya, klasifikasi sumber ke dalam kategori primer dan sekunder berbeda-beda antar disiplin ilmu, namun memiliki tujuan yang sama untuk memastikan keakuratan, keandalan, dan kontekstualitas dalam penelitian dan interpretasi ilmiah.
 

Disadur dari: en.wikipedia.org

Selengkapnya
Mengungkap Rahasia di Balik Sumber Sekunder: Kunci Menuju Penelitian yang Kaya Informasi

Riset dan Inovasi

Mengungkap Misteri Dasar Mekanika Kuantum untuk Teknologi Informasi Masa Depan

Dipublikasikan oleh Admin pada 23 November 2022


BANDUNG, itb.ac.id — Kalau ada yang berpikir bahwa seseorang bisa bicara tentang mekanika kuantum tanpa merasa dibuat pusing olehnya, maka dia mungkin tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Setidaknya kalimat inilah yang pernah diucapkan oleh Bohr, ilmuwan yang juga menjadi salah satu pionir konsep mekanika kuantum itu sendiri.

Mencoba memberikan pengetahuan kepada semua kalangan tentang mekanika kuantum beserta pemanfaatannya, LPPM ITB mengadakan Workshop Series berjudul “Quantum Mistery & Quantum Technology” pada Jumat (4/11/2022). Pemateri dalam acara tersebut adalah Agung Budiyono Ph.D., yang merupakan dosen peneliti di Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi ITB.

Mekanika kuantum adalah cabang ilmu fisika yang bisa memprediksi dengan sangat akurat fenomena yang melibatkan benda-benda berukuran sangat kecil, misalnya perilaku atom dan unsur pembentuknya. Kecenderungan perilaku benda-benda sangat kecil ini seringkali sulit dicerna oleh logika manusia dan kontradiktif dengan prinsip yang sudah ada. Maka dari itu kemudian mekanika kuantum disebut ilmu yang penuh misteri dan ketidakpastian.

Keanehan prinsip mekanika kuantum yang pertama adalah superposisi. Superposisi diartikan sebagai suatu keadaan saat sebuah benda dapat berada pada dua posisi dalam waktu bersamaan. Percobaan menggunakan elektron yang melewati dua celah untuk sampai pada suatu titik menunjukkan hasil bahwa elektron memiliki perilaku seperti gelombang yang akan saling mengintervensi satu sama lain lewat kedua celah sehingga saling menihilkan. Namun ketika dilakukan pengamatan gerakan elektron secara langsung, setiap elektron hanya bisa lewat satu celah dalam satu waktu seperti halnya partikel biasa. Dua sifat mendasar itu disebut dualitas gelombang partikel yang menjadi aturan dasar dalam mekanika kuantum.

Agung menjelaskan, “Konsep ini membantu melahirkan bidang baru komputasi kuantum seperti Algoritma Shor yang berbasis faktorisasi prima. Sulitnya faktorisasi bilangan adalah dasar dari keamanan kriptografi yang banyak dipakai pada komunikasi elektronik sekarang,” ujarnya.

Prinsip mekanika kuantum yang lain adalah terkait pengukuran. Hasil eksperimen pada arah rotasi elektron menunjukkan bahwa pengukuran yang dilakukan sebenarnya mampu mengganggu atau mengubah kondisi objek yang diukur. Kondisi terganggunya objek akibat proses pengukuran menginspirasi ilmuwan untuk membuat kriptografi kuantum atau pembagian kunci kuantum.

Upaya pemahaman mekanika kuantum telah melahirkan berbagai konsep fundamental yang berbeda antara satu dengan yang lain. Lebih lanjut, proses ini membantu terciptanya teknologi kuantum yang berdasarkan pada prinsip-prinsip misterius mekanika kuantum seperti halnya superposisi dan pengukuran. Teknologi kuantum yang telah ada maupun yang akan dikembangkan mencakup komputasi, kriptografi dan komunikasi kuantum, sensor kuantum, dan lain-lain.

“Teknologi kuantum ini lahir dari mengubah misteri kuantum yang sulit dipahami menjadi skema teknologi yang jauh lebih aman, jauh lebih cepat, lebih efisien dari teknologi yang ada sekarang, serta diharapkan meluncurkan revolusi teknologi informasi di masa depan.”

Sumber: itb.ac,id
 

Selengkapnya
Mengungkap Misteri Dasar Mekanika Kuantum untuk Teknologi Informasi Masa Depan

Riset dan Inovasi

PPM SITH ITB Lakukan Pendampingan Pengolahan Talas Pratama

Dipublikasikan oleh Admin pada 23 November 2022


BANDUNG, itb.ac.id—Bagi masyarakat Indonesia, beras memiliki peranan yang tinggi sebagai makanan pokok. Akibatnya, komoditas tersebut turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian nasional sehingga dibutuhkan adanya upaya diversifikasi pangan.

Salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan adalah talas (Colocasia esculenta (L) Schott). Tanaman palawija ini memiliki nilai gizi dan nutrisi yang lengkap apabila dibandingkan dengan jenis umbi lainnya.

Selama ini, talas telah banyak dibudidayakan di wilayah Papua dan Jawa sebagai sumber makanan dan bahan baku industri. Masyarakat Desa Tanjunghurip, Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat menjadikan talas sebagai komoditas pertanian hortikultura unggulan mereka. Talas yang ditanam di sana disebut talas pratama, diambil dari singkatan nama tiga peneliti LIPI yang mengembangkannya, yaitu Made Sri Prana, Tatang Kuswara, dan Maria Imelda.

Talas pratama merupakan hasil persilangan antara talas semir asal Sumedang dengan talas sutra asal Thailand. Umbi tersebut memiliki dua varietas, yakni Sumedang Simpati 1 (SS 1) dan Sumedang Simpati 2 (SS 2), yang telah terdaftar sebagai varietas lokal di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Berdasarkan cirinya, kedua varietas talas pratama memiliki keunikan masing-masing. Talas SS 1 memiliki pohon yang berwarna kekuningan dengan umbi yang putih mulus dan lonjong, serta jumlah anakan yang banyak. Sementara itu, talas SS 2 berwarna hijau dan saat membesar, batangnya menjadi keunguan. Umbinya berwarna putih dengan serat ungu dan jumlah anakannya lebih sedikit daripada varietas SS 1.

Sayang, banyaknya keunggulan yang dimiliki talas pratama belum dibarengi dengan pemanfaatannya secara optimal. Berdasarkan hasil survei di lapangan, umbi tersebut hanya dijual secara utuh dan dikonsumsi dengan cara direbus. Padahal, ada metode-metode lain yang dapat diterapkan untuk mengolah dan meningkatkan nilai ekonomi talas pratama. Selain itu, sebagai produk pertanian, umur simpan talas juga sangat pendek apabila tidak diberikan perlakuan yang sesuai.

Program Pengabdian Masyarakat (PPM) yang dilaksanakan oleh SITH ITB bertujuan membantu petani Desa Tanjunghurip untuk mengembangkan rantai pasok dan produk turunan talas pratama. Kegiatan ini dilaksanakan pada 5-6 Agustus 2022 bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang di Gedung Serbaguna Kecamatan Ganeas.

Masyarakat setempat diajak untuk mengikuti praktik olahan produk talas dan Focus Group Discussion (FGD) dengan kelompok tani Tanjunghurip serta pihak desa. Mereka didampingi untuk mencoba membuat tepung talas, susu talas, stik talas, dan keripik kaca talas.

Tepung memiliki kadar air yang rendah sehingga mampu membuat bahan pangan menjadi lebih tahan lama. Menurut Ir. Agustania, MP., dosen SITH ITB yang turut bergabung dalam tim PPM, tepung talas mempunyai kapasitas absorpsi air dan lemak yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengental sup atau beberapa produk olahan lainnya. “Tepung itu juga dapat mempertahankan rasa, memperbaiki palatabilitas, serta memperpanjang umur simpan produk olahan daging dan kue,” lanjutnya.

Produk turunan lain yang dapat dibuat dari talas ialah susu. Susu talas kaya akan protein nabati, karbohidrat, lemak, kalsium, fosfor, vitamin C, dan vitamin A. Karbohidrat di dalamnya memiliki manfaat utama yang tidak dapat digantikan oleh zat lain, yaitu sebagai bahan dasar penghasil energi utama bagi tubuh. Ditambah lagi, karbohidrat dapat menyeimbangkan asam dan basa dalam tubuh, meregenerasi jaringan yang rusak, serta mengatur metabolisme.

*Infografis fakta tentang Talas Pratama. Ilustrasi diolah oleh tim litbang Media Indonesia.

Stik talas dibuat dari talas yang dipotong memanjang, berwarna kuning, dan sekilas mirip dengan jajanan kentang goreng. Makanan ini memiliki rasa yang gurih dan teksturnya renyah. Tujuan utama pembuatan talas menjadi stik ialah memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengoptimalisasi pemanfaatan hasil panen. Harapannya, peluang-peluang kerja baru akan tercipta untuk menambah pendapatan masyarakat dan desa.

Terakhir, keripik kaca talas merupakan sejenis makanan ringan yang menyehatkan. Selain itu, keripik tersebut memiliki umur simpan yang cukup lama, bahkan hingga berbulan-bulan, sehingga mempunyai nilai ekonomi yang bagus. Masyarakat juga menggemari jenis snack ini sehingga prospek pengembangan keripik kaca talas sangat menjanjikan.

*Produk turunan dari Talas Pratama berupa stik dan susu. (Foto dok Tim PPH SITH ITB)

Selain melakukan program pendampingan pembuatan produk dari talas, tim PPM SITH ITB juga memberikan pelatihan desain pembuatan kemasan dan branding. Mereka juga berencana membantu pemasaran produk-produk tersebut secara daring dan luring oleh petani dan pelaku usaha Desa Tanjunghurip melalui sosialisasi digital marketing.

Sumber: itb.ac.id

Selengkapnya
PPM SITH ITB Lakukan Pendampingan Pengolahan Talas Pratama

Riset dan Inovasi

Songsong Revolusi Kuantum Indonesia dan Dunia, BRIN Fasilitasi Pusat Kolaborasi Riset Kuantum 2.0 dan High Performance Computer (HPC)

Dipublikasikan oleh Admin pada 23 November 2022


Cibinong-Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah membangun High Performance Computer (HPC) untuk mendukung seluruh kegiatan riset. Namun sifatnya generik karena kemampuan periset yang bisa memanfaatkan HPC pada saat ini belum banyak. Untuk itu BRIN membuka secara umum, dan sampai sekarang sudah banyak pihak yang memanfaatkan HPC untuk riset seperti life science, farmasi, drug coverage, bioinformatika genomik, bidang material atau bidang AI dan machine learning.

Hal tersebut dikemukakan Kepala Pusat Riset Komputasi Rifki Sadikin, saat membuka paparannya berjudul “Introduction to Quantum Cryptography” dalam “Seminar Perkembangan Riset dan Forum Diskusi Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Teknologi Kuantum 2.0” bertajuk "Menyongsong Revolusi Kuantum di Indonesia dan Dunia", secara luring di Gedung Teratai Kawasan Sains Terpadu (KST) Soekarno, Cibinong, pada Jum’at (18/11)

Rifki mengatakan, BRIN ingin menyediakan infra struktur untuk komputasi yang berskala ekstrim. Rencana ke depan BRIN akan membangun HPC dengan node yang lebih banyak. Pada bulan ini sudah ada penambahan 50 node dan sistem storage yang dapat menampung 6 Peta Byte.

“Selain sebagai repositori data yang terkait sekuensing genomik, HPC BRIN yang kita desain terdiri dari storage, dan kluster untuk komputasi yang ditujukan untuk tujuan umum termasuk keperluan model dan simulasi pada tataran kuantum. Untuk lebih lengkapnya silakan cek di situs www.hcp.brin.go.id,” ujar Rifki.

Dirinya menambahkan, siapapun yang ingin menggunakan HPC dapat mengajukannya melalui www.elsa.brin.go.id.  Karena HPC BRIN merupakan salah satu infra struktur yang sifatnya terbuka.

“Saat ini HPC BRIN menyediakan untuk komputasi untuk tujuan riset saja dan tidak untuk produksi. Jika ada yang tertarik menggunakannya untuk produksi harus melalui sistem sewa atau kerjasama. Sedangkan untuk riset sampai saat ini masih gratis dengan janji output riset. Untuk lebih jelas dan lengkap informasi mengenai HPC bisa dibuka di  youtube BRIN https://www.youtube.com/watch?v=prlQqkvvVYs&ab_channel=BRINIndonesia,” ungkap Rifki.

Teknologi Kuantum 2.0

Menurut Rifki, kriptografi paska kuantum adalah pengembangan sistem kriptografi yang mampu mencegah serangan yang diluncurkan oleh penyerang yang memiliki akses ke komputer kuantum.  Dalam dekade kedepan diperkirakan sistem komputasi berbasis kuantum yang terbangun belum bisa mengkompromikan  RSA 2048 atau sistem  kunci publik berbasis logaritma diskrit menurut kajian US National Academy of Sciences Report: Quantum Computing Progress and Prospect (2019). Namun jika teknologi kuantum menemukan momen terobosan seperti penemuan transistor untuk komputer klasik, maka sebagaian besar protokol kriptografi publik yang dipakai sekarang menjadi berstatus “tidak aman”. Oleh karena itu, perlu bagi kita semua mempersiapkan strategi dan standar kriptografi paska kuantum untuk meminimalkan kemungkinan potensi bencana keamanan dan privasi.

“Jika kita  menggunakan internet maka harus dianggap internet sebagai  jalur publik  yang rawan. Protokol kriptografi yang digunakan pada komputer klasik saat ini berasumsi attacker tidak mempunyai akses ke komputer. Pada 1995 oleh Shor membuat algoritme dengan asumsi attacker memiliki akses ke komputer kuantum dan dibuktikan bahwa problem faktorisasi atau diskrit logaritma yang menjadi basis skema kriptografi kunci publik saat ini bisa menyelesaikan dengan cepat,” jelas Rifki.

Jadi kalau kita menggunakan komputer kuantum, algoritma Shor hanya memerlukan waktu beberapa jam untuk menemukan faktorisasi ini. Artinya bisa membongkar keamanan pada kriptografi public key dan pada akhirnya keamanan data runtuh.

“Algoritma ini membuktikan komputer kuantum membawa ancaman serius jika sudah terwujud terhadap infra struktur keamanan data yang ada sekarang. Oleh karena itu kita tentu saja harus mempersiapkan standar. Misalnya nanti 20-30 tahun lagi ternyata komputer kuantum adalah hal yang umum maka kita harus membuat standar baru terkait dengan kriptografi yang dipakai pada keamanan jaringan. Itulah alasannya mengapa ada kriptografi paska kuantum,” ungkap Rifki.

Apa yang unik dari komputer kuantum? Komputer kuantum informasi disimpan pada qubit yang mematuhi mekanika kuantum yang salah satunya adalah superposisi kuantum.  Superposisi kuantum secara singkat adalah benda kuantum berada pada beberapa keadaan secara bersamaan selama belum dilakukan pengukuran. Sehingga dalam komputer kuantum dalam perhitungannya  seakan-akan secara intristik dilakukan secara paralel dan berbeda dengan komputer klasik setiap bit hanya bisa menyimpan salah satu nilai.

“Beberapa basis yang digunakan oleh kriptografi paska kuantum yaitu Code-based encryption and signatures, Hash-based signatures, Isogeny-based encryption, Lattice-based encryption and signatures, dan Multivariate-quadratic encryption and signatures. Problem-problem matematika tersebut jika digunakan secara benar akan memberikan keamanan terhadap attacker yang memiliki akses ke komputer kuantum” bebernya.

“Problem pada lattice yang biasa menjadi basis skema kriptografi paska kuantum membangun. Lattice pada dasarnya adalah kumpulan titik-titik yang dibentuk oleh vektor. Protokol kriptografi untuk paska kuantum terdiri dari dua skema yaitu Attacker dan Parties. Protokol pada skema terdiri dari inisialisasi, pembangkitan kunci dan transmisi data dan dengan asumsi active attacker,” kata Rifki mengakhiri.

Sementara itu, Khoirul Anwar selaku Direktur The University Center of Excellence for Advanced Intelligent Communications (AICOMS) dari Universitas Telkom, Bandung memaparkan materi berjudul “Artificial Intelligence for Channel Coding: From Classic to Quantum”.

Menurutnya teori informasi kuantum dan koreksi kesalahan adalah dua subjek penting yang mendukung komputasi dan komunikasi kuantum. Mekanika kuantum dibutuhkan sebagai konsep dasar. Dikatakan Khoirul, masalah tertentu sulit untuk mesin Turing, tetapi mudah untuk mesin Quantum. Google mengklaim pada tahun 2019 bahwa mesin Quantum Sycamore melakukan tugas dalam 200 detik yang akan memakan waktu 10.000 tahun untuk dilakukan oleh superkomputer.

“Sampai saat ini kita telah mempelajari 3 tantangan besar yaitu tren telekomunikasi, transformasi digital dan pengkodean koreksi kesalahan di masa depan. Kode koreksi kesalahan kuantum memiliki beberapa jenis pengkodean yaitu stabilizers dan logical operators, dan jumlah qubit harus minimum. Sedangkan untuk quantum machine learning yang paling utama adalah VQC,” ungkap Khairul.

Sebagai informasi kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Teknologi Kuantum 2.0  berlangsung selama dua hari, Kamis-Jum’at 17 – 18 November 2022 secara hybrid di Puspiptek Serpong dan KST Soekarno, Cibinong. PKR Teknologi Kuantum 2.0 merupakan kolaborasi para periset yang berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Telkom University (Tel-U), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Seminar ini menghadirkan beberapa pembicara dari ITB, Tel-U, dan BRIN. Adapun kegiatan hari kedua selain menghadirkan narasumber Rifki Sadikin dari BRIN dan Khoirul Anwar (Tel-U), hadir pula M. Imansyah Basudewa masih dari Tel-U dengan materi Simple Qudit Quantum Communications based on Orbital Angular Momentum. (ew/ ed.sl)

Sumber: brin.go.id

Selengkapnya
Songsong Revolusi Kuantum Indonesia dan Dunia, BRIN Fasilitasi Pusat Kolaborasi Riset Kuantum 2.0 dan High Performance Computer (HPC)

Riset dan Inovasi

Kesiapan BRIN dalam Platform Global Pengurangan Risiko Bencana

Dipublikasikan oleh Admin pada 24 April 2022


Nusa Dua – Humas BRIN. BRIN melaporkan kemajuan kesiapan partisipasi di forum Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) yang dilaksanakan di Nusa Dua Convention Center Bali (21/4). Pertemuan ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy. Selain melaporkan kemajuan dan kesiapan, BRIN juga mengonfirmasikan terkait kerja sama dengan beberapa Kementrian/Lembaga lainnya.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati  menyampaikan tugas BMKG bersama BNPB adalah untuk menyiapkan substansi pada GPDRR. Substansi yang telah disiapkan terkait Thematic Session adalah Early Warning – Early Action (EW-EA). BMKG ditunjuk sebagai koordinator materi dan bekerja sama dengan BNPB, Badan Geologi ESDM, PUPR, dan BRIN.

Pada kesempatan tersebut, Perekayasa Utama BRIN Andi Eka Sakya mangatakan kesiapan BRIN mendukung dan berpartisipasi dalam GPDRR. Andi mengatakan, posisi BRIN merupakan bagian dari Tim Subtansi dan juga berkoordinasi dengan Bappenas. “Dalam kertas posisi, beberapa aktivitas yang sudah dilakukan oleh BRIN adalah Official Statement dan Opening Statement,” ungkapnya.

Kemudian, Andi menyebutkan bahwa BRIN sudah menyelesaikan pengajuan proposal terkait innovation platform. Ada tiga innovation platform yang telah yang telah disetujui. Inovasi pertama adalah Indonesia Paviliun: Indonesia’s Research and Innovation Landscape on Disaster Risk and Resilience, yang dalam kesempatan ini BRIN bekerja sama dengan Bappenas dan BNPB.

Selanjutnya, Inovasi kedua mengenai Innovation Platform on Recognizing Tsunami Ready: A New Meaning to Community Awareness and Preparedness, dimana BRIN bekerja sama dengan BMKG, IOTIC/UNESCO, dan U-INSPIRE Indonesia.

Andi mengatakan, Innovation platform on Youth and Young professionals in Science Engineering Technology, Innovation and Art in DRR and Resilience bekerja sama dengan UNICEF, UNESCO dan U-INSPIRE. Masing-masing innovation platform ditampilkan dalam Exhibition.

Selain itu, Andi menambahkan Periset BRIN pada thematic session akan diminta statemennya mengenai Cooperation Across Borders for Strengthened Capacity and Actions. Pada bagian Exhibition, BRIN membantu dalam Hybrid Exhibition Indonesia’s International Disaster Expo & Conference (IIDEC) yang bekerja sama dengan Kementrian Industri dan Kementrian Koperasi dan UKM dalam konteks melanjutkan gagasan mengenai Hybrid Exhibition karena belum bisa dilakukan secara luring. (igp/yul/gws)

Sumber: brin.go.id

Selengkapnya
Kesiapan BRIN dalam Platform Global Pengurangan Risiko Bencana
« First Previous page 13 of 14 Next Last »