Badan Usaha Milik Negara
Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 21 Februari 2025
PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero)/PT PII berpartisipasi dalam Roundtable Discussion dengan tema “Breaking barriers - Scaling the sustainable finance agenda in Asia-Pacific” yang diselenggarakan oleh The Assets pada tanggal 5 Mei 2023 di Incheon, Korea Selatan. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pertemuan tahunan ke-56 bank pembangunan Asia (ADB) yang diselenggarakan pada tanggal 2-5 Mei 2023 di kota yang sama.
Dalam kesempatan ini, Direktur Utama PT PII, M. Wahid Sutopo menjadi salah satu panelis bersama dengan Suzanne Gabour - Direktur Jenderal Departemen Operasi Sektor Swasta ADB, Kavita Sinha - Direktur Fasilitas Sektor Swasta Green Climate Fund, Jeffrey Lee - Vice Presiden Sustainable Finance Regional Manajer APAC Moody's Investors Service, Rajeev Kannan - Managing Executive Officer & Co-Head SMBC Asia Pasifik dan Jason Brett Pellmar - Regional Head Of Infrastructure, Asia Selatan, Internasional Finance Corporation.
Kegiatan Assets Roundtable Discussion dengan tema “Mendobrak hambatan - menerapkan agenda keuangan - berkelanjutan di Asia Pasifik” ini menjadi wadah diskusi mengenai perekonomian di Asia-Pasifik yang dalam 3 tahun terakhir ini merasakan dampak terberat dari kondisi darurat kesehatan global pasca pandemi Covid-19 dan tengah bangkit dengan melakukan kerja sama yang efektif antara pemerintah dan swasta untuk merancang pemulihan ekonomi guna mengembalikan predikat kawasan ini sebagai kawasan dengan pertumbuhan pembangunan tercepat di dunia.
Direktur Utama PT PII, M. Wahid Sutopo mengatakan sesuai mandatnya sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan Republik Indonesia, PT PII terus berkomitmen untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, khususnya dalam rangka pemerataan pembangunan infrastruktur di Indonesia yang saat ini masih menjadi tantangan, seiring dengan pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19.
Salah satu cara untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan mendukung pembiayaan inovatif tidak hanya untuk proyek-proyek infrastruktur besar namun juga untuk proyek-proyek daerah berskala kecil di tingkat kabupaten, yang telah direalisasikan di Kabupaten Madiun dengan proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Alat Penerangan Jalan (APJ). Proyek skala kecil APJ ini merupakan bentuk komitmen PT PII dalam mendukung keuangan berkelanjutan, di mana proyek ini memenuhi aspek ESG dengan energi hijau yang diusungnya.
“Dengan adanya kisah sukses ini, PT PII mengajak pemerintah kota dan kabupaten lainnya untuk dapat turut serta melaksanakan pembangunan proyek-proyek kecil lainnya dengan skema KPBU. Kami terus berupaya untuk membantu pemerintah daerah, pihak swasta, investor/lender dan pemangku kepentingan terkait dalam peningkatan kapasitas hingga pendekatan dari sisi regulasi untuk terus melaksanakan KPBU skala kecil.” Kata Sutopo.
Selain itu, Sutopo juga menyampaikan bahwa potensi dan peluang kerjasama dari pembiayaan hijau di Indonesia sangat besar, sehingga PT PII berkomitmen untuk terus meningkatkan pemahaman melalui berbagai program peningkatan kapasitas untuk menarik minat calon investor untuk berinvestasi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
“Dalam rangka mendukung pembiayaan berkelanjutan, PT PII selalu memastikan bahwa setiap proyek yang akan didukung dapat memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan, dimana kami memiliki indikator-indikator dari sisi lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) yang perlu dipenuhi oleh suatu proyek untuk membantu menjamin hal tersebut. “Dengan memperhatikan pemenuhan kriteria ESG sejak awal, diharapkan hal ini akan menarik lebih banyak investor dan mempermudah serta mempermurah dalam memperoleh pembiayaan,” tambahnya.
Selain mengikuti agenda diskusi, dalam rangkaian pertemuan tahunan ke-56 bank dunia, Direktur Utama PT PII juga melakukan beberapa pertemuan dengan para pemangku kepentingan, salah satunya dengan ADB Indonesia, di mana ADB telah berperan aktif dalam mendukung pembiayaan di berbagai proyek infrastruktur, untuk mendiskusikan berbagai potensi ke depan, khususnya untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur yang sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.
Disadur dari: ptpii.co.id
Badan Usaha Milik Negara
Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 21 Februari 2025
Pernyataan iklim investasi
Laporan iklim investasi departemen luar negeri AS memberikan informasi mengenai iklim bisnis di lebih dari 170 negara dan disiapkan oleh para pejabat ekonomi yang ditempatkan di kedutaan dan pos di seluruh dunia. Mereka menganalisis berbagai negara yang merupakan atau dapat menjadi pasar bagi bisnis AS.
Topik-topik yang dibahas meliputi Keterbukaan terhadap Investasi, Sistem Hukum dan Regulasi, Penyelesaian Sengketa, Hak Kekayaan Intelektual, Transparansi, Persyaratan Kinerja, Badan Usaha Milik Negara, Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab, dan Korupsi.
Pernyataan-pernyataan ini menyoroti hambatan-hambatan yang masih ada terhadap investasi AS. Mengatasi hambatan-hambatan ini akan memperluas investasi berkualitas tinggi yang dipimpin oleh sektor swasta di bidang infrastruktur, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan memfasilitasi lingkungan bisnis yang sehat untuk ekonomi digital.
Ringkasan eksekutif
Populasi Indonesia yang mencapai 276 juta jiwa, perekonomian senilai USD 1 triliun, pertumbuhan kelas menengah, sumber daya alam yang melimpah, dan ekonomi yang stabil merupakan daya tarik tersendiri bagi para investor AS; namun demikian, berinvestasi di Indonesia masih menjadi tantangan tersendiri, menurut para pelaku bisnis. Presiden Joko (atau “Presiden Jokowi”) Widodo, yang kini berada di masa jabatan lima tahun keduanya, telah memprioritaskan pemulihan pandemi, investasi infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia.
Upaya reformasi besar-besaran yang dilakukan pemerintah - Omnibus Law Cipta Kerja (Omnibus Law) tahun 2020 - telah disahkan pada bulan Maret 2023. Ketika diimplementasikan sepenuhnya, Omnibus Law disebut-sebut akan meningkatkan daya saing dengan menurunkan pajak perusahaan, mereformasi undang-undang ketenagakerjaan, dan mengurangi hambatan birokrasi dan peraturan. Amerika Serikat tidak memiliki perjanjian investasi bilateral (BIT) dengan Indonesia.
Pada Februari 2021, Indonesia mengganti Daftar Negatif Investasi (DNI) tahun 2016, yang meliberalisasi hampir semua sektor untuk investasi asing, kecuali tujuh sektor “strategis” yang dicadangkan untuk pengawasan pemerintah pusat. Pada tahun 2021, pemerintah membentuk Sistem Online Single Submission (OSS) berbasis risiko untuk merampingkan proses perizinan usaha dan perizinan impor. Indonesia membentuk sovereign wealth fund (Otoritas Investasi Indonesia, yaitu INA) pada tahun 2021 yang bertujuan untuk menarik investasi asing untuk proyek-proyek infrastruktur pemerintah di berbagai sektor seperti transportasi, minyak dan gas, kesehatan, pariwisata, dan teknologi digital, dengan keterkaitan yang erat dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Investor asing menemukan bahwa peraturan yang membatasi, ketidakpastian hukum dan peraturan, nasionalisme ekonomi, proteksionisme perdagangan, dan kepentingan pribadi memperumit iklim investasi. Perusahaan-perusahaan asing diharapkan untuk bermitra dengan perusahaan-perusahaan Indonesia dan memproduksi atau membeli barang dan jasa secara lokal. Serikat-serikat buruh telah memprotes kebijakan-kebijakan ketenagakerjaan baru di bawah Omnibus Law yang mereka anggap telah melemahkan hak-hak buruh. Serikat-serikat buruh melaporkan bahwa pembatasan-pembatasan yang diberlakukan terhadap wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebabkan penurunan yang signifikan dalam investigasi dan penuntutan sebagai pengganti pendidikan dan pencegahan. Para investor menyebut korupsi sebagai hambatan untuk mengejar peluang di Indonesia.
Beberapa investor AS menggambarkan iklim investasi yang jauh lebih baik selama dekade terakhir, namun menunjukkan bahwa, hambatan-hambatan lain masih ada, termasuk inefisiensi birokrasi, penundaan pembebasan lahan dan proses tender untuk proyek-proyek infrastruktur, lemahnya penegakan kontrak, dan penundaan dalam menerima pengembalian dana untuk kelebihan pembayaran pajak perusahaan. Para investor khawatir bahwa peraturan-peraturan baru terkadang tidak tepat dan kurang melibatkan konsultasi dengan para pemangku kepentingan. Perusahaan-perusahaan melaporkan bahwa sektor energi dan pertambangan masih menghadapi hambatan investasi, dan semua sektor tidak memiliki perlindungan dan penegakan Hak Kekayaan Intelektual yang memadai, serta masih adanya pembatasan arus data lintas batas.
Meskipun demikian, Indonesia terus menarik investasi asing yang signifikan dan kamar dagang asing melaporkan pandangan optimis tentang perluasan ekonomi. Singapura, Amerika Serikat, Jepang, Belanda, dan Tiongkok (RRT, Hongkong) merupakan beberapa negara yang menjadi sumber investasi asing terbesar pada tahun 2022. Konsumsi swasta mendorong perekonomian Indonesia yang merupakan yang terbesar di ASEAN, menjadikannya tujuan yang menjanjikan bagi berbagai perusahaan, mulai dari produk konsumen dan layanan keuangan hingga perusahaan rintisan digital dan e-commerce.
Indonesia memiliki rencana ambisius untuk memperluas akses ke energi terbarukan, membangun industri hilir pertambangan dan mineral (berfokus pada kendaraan listrik dan komponen terkait), meningkatkan produksi pertanian, dan meningkatkan infrastruktur, termasuk membangun jalan raya, pelabuhan, rel kereta api, dan bandara, serta jaringan telekomunikasi dan broadband. Indonesia terus menarik minat perusahaan-perusahaan teknologi digital Amerika, perusahaan rintisan teknologi keuangan, waralaba, produsen layanan kesehatan, dan produsen produk konsumen.
Pemerintah Indonesia menerapkan pajak dan peraturan harga baru selama beberapa tahun terakhir untuk mengurangi emisi karbon dan mengelola emisi dari sektor hutan dan penggunaan lahan. Pada tahun 2022, Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (JETP) Indonesia berjanji untuk mendukung transisi sektor energi yang ambisius dan adil di Indonesia, sesuai dengan target pemanasan global internasional.
Invasi Rusia ke Ukraina telah menyebabkan gangguan pasokan, termasuk kenaikan harga energi dan pangan global. Indonesia terkena dampaknya melalui kenaikan harga barang-barang yang diperdagangkan. Pemerintah Indonesia menaikkan harga bahan bakar bersubsidi pada bulan September 2022, yang menyebabkan kenaikan harga transportasi dan makanan serta memicu lonjakan tingkat inflasi menjadi 5,95 persen pada bulan September.
Menanggapi hal tersebut, Bank Indonesia (BI) meningkatkan suku bunga kebijakan mereka menjadi 5,75 persen untuk menahan ekspektasi inflasi. BI meyakini bahwa tingkat suku bunga 5,75 persen cukup untuk memastikan inflasi inti tetap berada dalam kisaran 2-4 persen pada paruh pertama tahun 2023, dan inflasi indeks harga konsumen (IHK) kembali ke koridor target 2-4 persen pada paruh kedua tahun 2023.
Disadur dari: trade.gov
Ekonomi dan Bisnis
Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 21 Februari 2025
Bank-bank sentral di seluruh dunia diperkirakan akan terus menghadapi trade-off yang sulit di tahun 2024 karena mereka berusaha untuk mengelola inflasi, menghidupkan kembali pertumbuhan, dan memastikan stabilitas keuangan. Ketidakpastian kebijakan membayangi karena dampak penuh dari pengetatan moneter belum terwujud. Bank-bank sentral di negara-negara berkembang menghadapi tantangan tambahan berupa meningkatnya tekanan neraca pembayaran dan risiko keberlanjutan utang, sehingga mereka perlu menggunakan berbagai alat - termasuk manajemen aliran modal, kebijakan makroprudensial, dan manajemen nilai tukar - untuk meminimalkan dampak pengetatan moneter yang merugikan. Negara-negara berkembang juga perlu memperkuat kapasitas teknis dan institusional mereka, dengan fokus pada pengumpulan data ekonomi dan keuangan yang tepat waktu dan kemampuan pengawasan yang lebih kuat. Indikator peringatan dini dan model risiko negara dapat membantu otoritas moneter mengenali risiko dan kerentanan domestik dan eksternal.
Meskipun semakin banyak bank sentral yang diperkirakan akan beralih ke pelonggaran moneter untuk mendukung permintaan agregat pada tahun 2024, dampaknya akan, sampai batas tertentu, bergantung pada tindakan yang diambil oleh Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa. Bank-bank sentral harus memperkuat kerja sama atau koordinasi kebijakan moneter internasional dan lebih meningkatkan komunikasi untuk membatasi efek limpahan lintas batas yang negatif. Ruang fiskal menyusut di tengah suku bunga yang lebih tinggi dan likuiditas yang lebih ketat Kenaikan suku bunga yang tajam sejak kuartal pertama tahun 2022 dan kondisi likuiditas yang lebih ketat telah berdampak buruk pada keseimbangan fiskal, memperbaharui kekhawatiran tentang defisit fiskal dan keberlanjutan utang.
Bagi banyak negara berkembang, kurangnya ruang fiskal membatasi kapasitas untuk berinvestasi dalam pembangunan berkelanjutan dan merespons guncangan baru. Pada tahun 2022, lebih dari 50 negara berkembang membelanjakan lebih dari 10 persen dari total pendapatan pemerintah untuk pembayaran bunga, dan 25 negara membelanjakan lebih dari 20 persen.
Prospek pertumbuhan jangka menengah yang lemah, bersama dengan kebutuhan untuk meningkatkan investasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, akan memberikan tekanan lebih lanjut pada anggaran pemerintah dan memperburuk kerentanan fiskal. Di negara-negara berkembang dengan posisi fiskal yang tidak terlalu rentan, Pemerintah perlu menghindari kebijakan konsolidasi fiskal yang merugikan diri sendiri. Banyak dari negara-negara ini perlu meningkatkan pendapatan fiskal untuk memperluas ruang fiskal mereka.
Peningkatan penggunaan teknologi digital dapat membantu negara-negara berkembang mengurangi penghindaran dan penggelapan pajak. Dalam jangka menengah, pemerintah perlu meningkatkan pendapatan melalui pajak pendapatan, kekayaan, dan pajak lingkungan yang lebih progresif. Banyak negara juga harus meningkatkan efisiensi pengeluaran fiskal dan efektivitas subsidi serta program perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran. Negara-negara berpenghasilan rendah dan negara berpenghasilan menengah dengan situasi fiskal yang rentan akan membutuhkan keringanan dan restrukturisasi utang untuk menghindari krisis utang yang menghancurkan dan siklus berlarut-larut dari investasi yang lemah, pertumbuhan yang lambat, dan beban pembayaran utang yang tinggi.
Kebijakan industri digunakan untuk pembangunan berkelanjutan
Kebijakan industri, yang semakin dipandang penting untuk mendorong perubahan struktural dan mendukung transisi hijau, sedang dihidupkan kembali dan diubah. Pergeseran ini bertujuan untuk memperbaiki kegagalan pasar dan menyelaraskan inovasi dengan tujuan pembangunan yang lebih luas.
Kebijakan inovasi juga berubah, dengan pendekatan yang lebih ambisius, sistemik, dan strategis. Pandemi COVID-19 dan ketegangan geopolitik telah menggarisbawahi pentingnya ketahanan domestik, sehingga mendorong negara-negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Uni Eropa untuk berinvestasi besar-besaran di sektor teknologi tinggi dan energi ramah lingkungan. Namun, sebagian besar negara berkembang masih kesulitan untuk mendanai kebijakan industri dan inovasi karena kurangnya ruang fiskal dan kesulitan struktural. Kesenjangan teknologi yang semakin besar dapat semakin menghambat kemampuan negara-negara berkembang untuk memperkuat kapasitas produktif mereka dan bergerak lebih dekat untuk mewujudkan SDG.
Multilateralisme sangat penting untuk kemajuan menuju SDGs
Pada titik tengah implementasi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, dunia masih rentan terhadap guncangan yang mengganggu, termasuk krisis iklim yang berkembang dengan cepat dan konflik yang meningkat. Urgensi dan keharusan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan menggarisbawahi bahwa kerja sama global yang kuat diperlukan sekarang lebih dari sebelumnya. Di bidang makroekonomi, prioritas penting bagi komunitas internasional termasuk menghidupkan kembali sistem perdagangan multilateral; mereformasi pembiayaan pembangunan dan arsitektur keuangan global serta mengatasi tantangan keberlanjutan utang negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah; dan secara besar-besaran meningkatkan pembiayaan iklim.
Perlambatan yang berkepanjangan dalam perdagangan global - yang sebagian mencerminkan meningkatnya skeptisisme tentang manfaat globalisasi - menunjukkan perlunya reformasi sistem perdagangan multilateral. Mempertahankan sistem perdagangan yang berbasis aturan, inklusif, dan transparan sangat penting untuk meningkatkan perdagangan global dan mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk transisi energi. Reformasi yang mendesak diperlukan untuk memastikan bahwa Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dapat menyelesaikan ketidaksepakatan di antara negara-negara anggota, mempercepat kemajuan dalam perjanjian perdagangan global, dan mengatasi tantangan-tantangan baru, termasuk meningkatnya penggunaan pembatasan perdagangan.
Kemajuan global dalam pembiayaan pembangunan berkelanjutan masih lambat dan terpecah-pecah. Dengan banyaknya negara berkembang yang mengalami kesulitan utang, kerja sama dan dukungan internasional yang mendesak dan lebih efektif diperlukan untuk merestrukturisasi utang dan mengatasi tantangan pembiayaan kembali. Global Sovereign Debt Roundtable, yang didirikan pada Februari 2023, bertujuan untuk memfasilitasi kolaborasi antara para pemangku kepentingan dan memungkinkan koordinasi, berbagi informasi, dan transparansi. Berbagai upaya sedang dilakukan untuk memperbaiki klausul kontrak guna mencegah dan menyelesaikan masalah dan krisis utang secara lebih efektif. Terdapat kebutuhan akan inisiatif multilateral yang lebih kuat dan efektif yang memberikan kejelasan mengenai langkah-langkah dan jadwal proses, penyediaan penangguhan utang selama negosiasi, dan cara-cara yang lebih baik untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip “kesetaraan perlakuan” di antara berbagai kreditur.
Meningkatkan pendanaan iklim sangat penting untuk memerangi krisis iklim. Menurut perkiraan terbaru, investasi sebesar $150 triliun akan dibutuhkan pada tahun 2050 untuk teknologi dan infrastruktur transisi energi, dengan $5,3 triliun dibutuhkan setiap tahunnya untuk mentransformasi sektor energi global saja. Namun, pendanaan iklim masih jauh di bawah tingkat yang dibutuhkan untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri, seperti yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris pada tahun 2015. Operasionalisasi yang efektif dari Dana Kerugian dan Kerusakan
Yang secara resmi diadopsi pada Konferensi Para Pihak ke dua puluh delapan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP28), dan peningkatan komitmen pendanaan yang dibuat sehubungan dengan Dana ini akan sangat penting untuk membantu negara-negara yang rentan dalam mengatasi dampak bencana iklim. Mengurangi subsidi bahan bakar fosil, memperkuat peran bank pembangunan multilateral dalam pendanaan iklim, dan mendorong transfer teknologi ke negara-negara berkembang sangat penting untuk memperkuat aksi iklim di seluruh dunia.
Laporan Bulanan Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia merupakan bagian dari kegiatan pemantauan dan analisis dari Global Economic Monitoring Branch (GEMB) di Divisi Analisis dan Kebijakan Ekonomi (EAPD) UN DESA. Edisi kali ini, yang didasarkan pada laporan Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia 2024 yang diluncurkan pada tanggal 4 Januari, disiapkan oleh Ingo Pitterle di bawah pengawasan Hamid Rashid (Ketua, GEMB) dan bimbingan umum dari Shantanu Mukherjee (Direktur, EAPD).
Disadur dari: un.org
Pertanian
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 21 Februari 2025
Upaya peningkatan produktivitas dan mutu produk peternakan dilandasi oleh bebera hal. Diantaranya perubahan iklim global, penurunan lahan pertanian/peternakan, dan tuntutan gaya hidup akan konsumsi produk peternakan berkualitas. Serta jumlah penduduk yang meningkat tiap tahun, secara otomatis akan menaikkan permintaan pangan produk peternakan. Seperti daging ayam, daging sapi, susu, dan telur.
Disisi lain kondisi tersebut menjadi tantangan yang melahirkan permasalahan dan kendala bagi para peternak dan industri peternakan. Yakni ketidakmampuan mencapai keseimbangan pembiayaan antara biaya input, biaya operasional produksi, dan rendahnya harga jual produk. Persaingan begitu kuat antar peternak mandiri dan perusahaan peternakan untuk mempertahankan usaha dengan meningkatkan efisiensi. Sedangkan yang tidak mampu maka akan merugi dan bangkrut.
Oleh karenanya diperlukan penerapan IoT (Internet of Thing) dengan memanfaatkan sistem internet dan perangkat lain dalam manajemen usaha peternakan. Agar dapat meningkatkan efisiensi usaha, menghindari terjadinya defisit anggaran/ pembiayaan, dan mampu mempertahankan usaha yang dikelola.
Model ini terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras terdiri dari sensor untuk koleksi data di lapangan atau menggunakan kamera, perangkat input data, pengirim data ke pusat data, pusat data dan pemroses data, output data yang bisa diakses di PC, laptop atau di hand phone (HP) (Gambar 1).

Gambar 1. Sistem IoT dalam peternakan sapi potong
Sumber: BNAMERICAS, (2016)
Gambar diatas mengilustrasikan sistem kerja IoT dalam Smart Beef cattle management. Pada ternak sapi dilengkapi dengan dua macam perangkat yaitu sensor yang mencatat kondisi sapi dan perangkat untuk identitas sapi (misalnya chip untuk nomor sapi). Pada sensor dilengkapi pengirim pesan data dan indentiitas sapi, yang dapat diterima oleh GPRS, diteruskan ke sistem internet (cloud) yang kemudian bisa diterima oleh laptop atau HP (misalnya sistem Android) melalui online.
Sedangkan perangkat lunak (software) dipergunakan untuk menangkap dan mengolah data denga output sesuai dengan kebutuhan, misalnya jumlah, rata-rata, rangking, rentang waktu, dsb sehingga keputusan bisa diambil secara cepat dan akurat.
Data yang diinputkan ke sistem sesuai kebutuhan dan tujuan manajemen peternakan. Misalnya, untuk sistem manajemen peternakan secara lengkap perlu melibatkan data dasar: bangsa tenak, jenis kelamin, umur, pakan dan manajemen pakan. Sedangkan data yang akan dianalisis bisa meliputi status nutrisi ternak, body condition score (BCS), status reproduksi, keberhasilan perkawinan, bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan, konformasi tubuh, warna tubuh, dan status kesehatan.

Gambar 2. Ilustrasi pemantauan kondisi ternak domba yang digembalakan di padang rumput
Sumber: (James, 2020)
Selanjutnya pada gambar 2 merupakan contoh ilustrasi peternakan domba yang dilepas di pandang gembalaan (pasture) dikontrol keberadaannya, kondisinya, dan kesehatannya menggunakan sensor gerah, interaksi, dan aktivitasnya. Hasil pembacaan sensor aktivitas yang dilengkapi dengan perangkap penyimpan sementara dan pengirim (transmitter) dikirimkan ke penerima atau receiver untuk diteruskan ke server untuk disimpan atau dibaca langsung oleh perangkat komputer atau laptop atau HP. Maka di perangkat pembaca inilah kita melakukan analisis dan pemantauan terhadap ternak, sehingga kita bisa menentukan langkah-langkah strategis terhadap perlakuan apa yang harus diberikan kepada individu ternak.
“Many of the challenges to the welfare of animal in the world – including a lack of supervision, provision of feed, risk of predation, and long-distance transport to slaughter – arise from the constraints imposed by the harsh climatic and geographic conditions in which they are often reared,” (James, 2020)
Ruang lingkup penggunaan IoT dalam smart farming
Smat farming bidang peternakan ialah penerapan semua teknologi atau kreasi untuk meningkatkan efisiensi dan efekstivitas usaha, sehingga diperoleh pendapatan dan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa penerapan teknologi atau kreasi baru.
IoT merupkan teknologi pendukung utama dalam penerapan smart farming bidang peternakan yang sangat membantu dalam pemantauan, dokumentasi dan analisis data. Maka keputusan dan tindakan dapat segera diambil tanpa harus menunggu pengumpulan data oleh petugas, kemudian tabulasi dan analisis data yang memakan waktu sangat panjang dan memerlukan tenaga ekstra yang cukup melelahkan.
Kemudahan yang didapat setelah menerapkan IoT pada peternakan sapi perah menurut Phil Dawsey,( 2017) dari Perusahaan Precision Ag Biotech UB antara lain :

Gambar 3. Penerapan IoT untuk mengontrol produksi susu pada sapi perah
Sumber: Libelium, (2019)
Penggunaan IoT dalam praktek smart dairy farming memberikan layanan pengumpulan informasi yang akurasinya mencapai 92 – 97 % mengenai kondisi lingkungan seperti suhu lingkungan, kelembangan, tekanan udara, kondisi sapi dan beberapa parameter lain ternya mampu meningkatkan produksi susu sampai 18 persen. Ini merupakan lonjakan efisiensi usaha yang sangat bermakna sehingga dapat mendukung optimalisasi dan keberlanjutan usaha Libelium, (2019).
Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) merupakan salah satu lembaga yang pertama dalam menerapkan teknologi IoT dalam Smart Poultry Farming sistem kandang tertutup (closed house) untuk ayam petelur. Yangmana merupakan kerjasama hibah dari PT. Charoen Pokphan Indonesia.
IoT ini diterapkan untuk mengontrol suhu dan klimat mikro kandang, mengontrol produksi telur, data telur, tingkah laku konsumsi pakan, keadaan pakan yang tersedia, ayam sakit, ayam kanibal, kondisi ayam dalam kandang secara keseluruhan, rekording, dokumentasi dan analisis data secara waktu nyata atau real time, yang semuanya dapat dipantau menggunakan HP operator.
Dengan penerapan teknologi IoT dalam manajemen peternakan, maka berbagai keuntungan bisa diperoleh seperti meringankan beban kerja, mempecepat pemantauan, pengambilan keputusan serta sistem data, dimana sistem data ini umumnya merupakan masalah sangat besar untuk budaya peternakan di Indonesia. Berbagai efisiensi diperoleh dengan smart farming peternakan ini, sehingga diaharapkan akan mampu meningkatkan efisiensi usaha dan keuntungan yang diperoleh peternak.
Sumber: https://fapet.ub.ac.id/
Ekonomi dan Bisnis
Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 21 Februari 2025
Pertemuan tahunan forum ekonomi dunia
Asia diperkirakan akan tetap menjadi motor penggerak ekonomi global tahun ini, terlepas dari perkiraan suramnya pertumbuhan ekonomi yang lambat di seluruh dunia sepanjang tahun 2024. Ketahanan kawasan ini merupakan hasil dari pertumbuhan yang stabil dan transformasi perdagangan dan investasi intraregional dan memimpin dunia dalam hal e-commerce. Dengan jaringan perdagangan intraregional yang terus berkembang, kelas menengah yang sedang berkembang, dan investasi di bidang teknologi, 'Abad Asia' tampaknya akan kembali bangkit. Kebangkitan Tiongkok, India, dan Asia di awal tahun 2000-an memicu imajinasi tentang “Abad Asia”, sebuah era yang makmur di mana dunia akan berpusat pada kekuatan-kekuatan ekonomi baru di kawasan ini.
Dua dekade kemudian, gagasan ini tampaknya telah kehilangan daya tariknya. Memburuknya lingkungan makroekonomi global telah membayangi ekonomi Asia yang berorientasi ekspor. Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) telah memproyeksikan pertumbuhan PDB rata-rata global turun dari 2,9% pada tahun 2023 menjadi 2,7% pada tahun 2024, sementara negara-negara OECD diperkirakan akan mencapai tingkat pertumbuhan 1,4% pada tahun 2024 dan 1,8% pada tahun 2025.
Davos 2024: siapa yang datang dan apa yang diharapkan
Meskipun perdagangan, perjalanan, dan konsumsi telah pulih kembali dari pandemi COVID-19, prospek ekonomi global condong ke sisi negatifnya di tengah kondisi keuangan yang tegang, pengetatan peraturan, ketegangan geopolitik, dan konflik internasional. Di Asia, perlambatan ekonomi Tiongkok, “pemisahan diri” dari Barat yang dipimpin oleh AS, dan risiko perang atas Taiwan dan Laut Cina Selatan semakin mengurangi prospek kawasan ini.
Asia masih menjadi pendorong utama ekonomi global
Terlepas dari semua tantangan ini, Asia akan tetap menjadi motor penggerak ekonomi global dalam waktu dekat. Di tengah berbagai masalah domestik, India dan RRT masih diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 6% dan 5%. Indonesia, negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, diperkirakan akan mencapai pertumbuhan sebesar 5,2%. Di Timur Tengah, Arab Saudi diprediksi akan tumbuh sebesar 4,7% pada tahun 2025.
Proyeksi pertumbuhan PDB untuk tahun 2024 dan 2025

Bangkit dari masa pingsannya selama beberapa dekade, Jepang mengalami pertumbuhan harga tercepat dalam lebih dari 30 tahun terakhir. Memang, terlepas dari beberapa masalah demografis yang melekat seperti populasi yang menyusut, Morgan Stanley dan investor lain seperti Warren Buffet optimis terhadap Jepang dan percaya bahwa negara ini telah “secara meyakinkan bangkit dari stagnasi ekonomi selama tiga dekade”. Menurut Economist Intelligence Unit, Asia secara keseluruhan akan menyumbang 60% pertumbuhan PDB riil global di tahun mendatang.
E-commerce berkembang pesat seiring dengan pertumbuhan kelas konsumen
Ketahanan Asia adalah hasil dari pertumbuhan yang stabil dan transformasi perdagangan dan investasi intraregional. Sebagai contoh, kawasan ini memimpin dunia dalam hal e-commerce, seperti yang dimanifestasikan dalam kemunculan platform digital baru termasuk Temu, Lazada, Shopee, dan Tokopedia. Ledakan sektor ini bertepatan dengan pertumbuhan kelas konsumen Asia. Pada tahun 2024, lebih dari 50% masyarakat Asia akan menjadi kelas menengah ke atas. Meskipun sebagian besar dari mereka akan tetap menjadi kelas menengah ke bawah, aspirasi konsumsi mereka, bersama dengan preferensi konsumen terhadap barang-barang murah di saat ekonomi melemah, menjelaskan kesuksesan platform-platform e-commerce ini.
Bagaimana Forum Ekonomi Dunia mendorong ekonomi digital yang berkelanjutan dan inklusif?
Selain itu, munculnya platform digital baru di Asia Tenggara akan melipatgandakan dan mendiversifikasi jaringan rantai pasokan regional. Kebangkitan e-commerce juga berkontribusi dalam memperdalam konektivitas keuangan digital di Asia. Penggunaan lintas batas platform pembayaran mobile termasuk WeChat, Alipay, Kakao Pay dan Grab Pay, serta pengenalan mata uang digital seperti e-Renminbi dan e-Rupee, akan semakin memudahkan perjalanan lintas batas, perdagangan intraregional, dan integrasi regional.
Investasi besar dalam industri teknologi tinggi
Meskipun produk primer dan teknologi rendah masih merupakan bagian besar dari rantai nilai regional di Asia, negara-negara ekonomi terkemuka di kawasan ini secara aktif berinvestasi dalam pengembangan industri teknologi tinggi di Asia Tenggara. Dalam menghadapi pembatasan ekspor Amerika Serikat, Cina telah beralih ke Singapura sebagai sumber untuk impor peralatan pembuatan chip. Sementara itu, TSMC Taiwan dan Hana Micron Korea Selatan, juga berusaha untuk memperluas operasi produksi mereka ke Asia Tenggara dengan membangun pabrik chip di Singapura dan Vietnam.
Setelah menarik investasi dari BYD, Honda, Toyota, Hyundai, dan perusahaan lainnya, Thailand dan Indonesia muncul sebagai pusat regional untuk pembuatan kendaraan listrik. Pemisahan Tiongkok-Barat dan diversifikasi produksi, secara kebetulan, telah berkontribusi pada peningkatan industri regional dengan mendorong pertumbuhan jaringan produksi yang lebih tersebar namun lebih padat. Hal ini, pada gilirannya, akan mengkonsolidasikan posisi Asia sebagai tempat yang menarik bagi investasi asing langsung (FDI). Menurut Laporan Investasi Dunia 2023 dari United Nations Conference on Trade and Development, FDI di Asia pada tahun 2022 menyumbang sekitar setengah dari arus masuk global, yaitu sekitar $662 miliar.
Manfaat perjanjian perdagangan bebas Asia, RCEP
Implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) akan semakin memudahkan pergerakan modal, teknologi, barang dan jasa di Asia. Mencakup sepertiga populasi dunia dan akses pasar yang lebih luas ke 15 negara atau lebih selama dua dekade ke depan, RCEP mengatasi “efek mangkuk mie” Asia Timur dengan mengkonsolidasikan perjanjian perdagangan dan investasi yang sudah ada ke dalam kerangka kerja yang terpadu dan komprehensif. Menyuntikkan dorongan baru ke dalam kerja sama trilateral Cina-Jepang-Korea, kesepakatan perdagangan besar ini menyatukan ketiga pemain penting ini sejak Cina bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada akhir tahun 2001.
Seorang pakar menjelaskan: apa itu RCEP, kesepakatan perdagangan terbesar di dunia?
Ada harapan besar bahwa hubungan diplomatik dan ekonomi lebih lanjut dapat dihasilkan, mengingat pertemuan menteri luar negeri trilateral terbaru diadakan untuk pertama kalinya sejak pandemi pada bulan November tahun ini. Yang paling penting, RCEP - dan sampai batas tertentu proyek-proyek regional lainnya seperti Inisiatif Sabuk dan Jalan dan Komunitas ASEAN - berfungsi untuk menjembatani kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang di Asia.
Dengan pengaturan masuk dan partisipasi yang fleksibel, RCEP memungkinkan negara-negara berkembang untuk mendapatkan keuntungan dari liberalisasi perdagangan dan investasi multilateral. Diplomasi dan fleksibilitas adalah kunci untuk pertumbuhan di masa depan seiring dengan transisi dunia dari unipolaritas ke multipolaritas, Asia menyaksikan munculnya tatanan politik dan sistem produksi, perdagangan, dan keuangan yang dipimpin oleh Barat dan non-Barat.
Karena nilai, norma, dan aturan dari sistem-sistem ini tidak selalu cocok, maka ambiguitas dan fleksibilitas strategis menjadi suatu keharusan. Hidup berdampingan di masa depan akan menuntut para aktor regional untuk mempraktikkan ambiguitas strategis dan fleksibilitas untuk bermanuver di berbagai tatanan dan sistem yang berbeda. Untungnya, praktik ambiguitas dan fleksibilitas strategis sudah sangat dikenal oleh negara-negara di Asia, seperti yang diwujudkan oleh “cara ASEAN” yang ditandai dengan penghormatan terhadap sistem nilai yang berbeda, diplomasi informal, dan pengambilan keputusan berdasarkan konsensus.
Di masa depan, aktor mana pun yang mempertahankan tingkat fleksibilitas dan keterbukaan tertinggi akan memimpin fase berikutnya dari regionalisme Asia - fase yang beragam namun inklusif, informal namun bertahan lama. Negara-negara yang tetap terhubung dengan berbagai tatanan yang saling bersaing akan memainkan peran yang lebih menonjol dalam menjaga stabilitas internasional, menjaga ancaman nasionalisme, persaingan geopolitik, dan pertentangan ideologi. Kota-kota global seperti Hong Kong, Seoul, Mumbai, dan negara kota Singapura tidak hanya akan tetap menjadi pusat regional dengan layanan bernilai tambah tinggi; mereka juga akan berfungsi sebagai “adaptor multi-plug/perjalanan” yang dapat menjembatani sistem yang berbeda sambil meredakan ketegangan di antara mereka.
Apa yang dilakukan Forum Ekonomi Dunia dalam hal fasilitasi perdagangan?
Di dunia di mana hegemoni yang aman yang pernah mendefinisikan abad-abad sebelumnya sekarang tidak ada, kita menyaksikan - meminjam kata-kata intelektual Italia Antonio Gramsci - banyak “gejala yang tidak wajar” selama “masa peralihan” di mana “tatanan (lama) sekarat, tatanan baru tidak dapat dilahirkan”. Namun demikian, kelas menengah Asia yang besar dan terus bertambah, tenaga kerja muda dan dinamis, serta investasi yang terus berlanjut di bidang inovasi dan teknologi akan semakin meningkatkan ketahanan dan potensi ekonomi jangka panjang di kawasan ini. Hal ini menjanjikan untuk mengantarkan dunia yang lebih multilateral, kompleks dan rumit, yang diatur oleh keseimbangan hubungan kekuasaan yang rumit.
Disadur dari: weforum.org
Ekonomi dan Bisnis
Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 21 Februari 2025
Perekonomian Asia tidak berjalan sebaik yang seharusnya dan pertumbuhan di kawasan ini diperkirakan melambat menjadi 4,5% tahun ini dari 5,1% di tahun 2023, Bank Dunia mengatakan dalam sebuah laporan yang dirilis hari Senin. Hutang, hambatan perdagangan, dan ketidakpastian kebijakan menumpulkan dinamisme ekonomi di kawasan ini dan pemerintah perlu melakukan lebih banyak hal untuk mengatasi masalah-masalah jangka panjang seperti jaring pengaman sosial yang lemah dan kurangnya investasi di bidang pendidikan, kata laporan tersebut.
Ekonomi Asia tumbuh lebih lambat daripada sebelum pandemi, tetapi lebih cepat daripada bagian dunia lainnya. Dan rebound dalam perdagangan global - perdagangan barang dan jasa tumbuh hanya 0,2 persen pada 2023 tetapi diproyeksikan tumbuh 2,3 persen tahun ini - dan pelonggaran kondisi keuangan karena bank sentral memangkas suku bunga akan membantu mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah di China.
“Laporan ini menunjukkan bahwa kawasan ini mengungguli sebagian besar kawasan lain di dunia, tetapi masih belum mencapai potensinya,” ujar Aaditya Mattoo, kepala ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, dalam sebuah pengarahan daring. “Perusahaan-perusahaan terkemuka di kawasan ini tidak memainkan peran yang seharusnya,” tambahnya.
Risiko utama adalah bahwa Federal Reserve AS dan bank-bank sentral utama lainnya mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi daripada sebelum pandemi. Risiko lainnya berasal dari hampir 3.000 kebijakan yang mendistorsi perdagangan, seperti tarif atau subsidi yang lebih tinggi, yang diberlakukan pada tahun 2023, kata laporan itu.
Sebagian besar kebijakan tersebut ditetapkan oleh negara-negara industri besar seperti AS, China, dan India. Partai Komunis yang berkuasa di Tiongkok telah menetapkan target resmi untuk pertumbuhan sekitar 5% tahun ini, sedikit di bawah laju tahunan 5,2% tahun lalu. Bank Dunia memperkirakan bahwa pertumbuhan akan melambat menjadi 4,5%.
“RRT bertujuan untuk bertransisi ke jalur pertumbuhan yang lebih seimbang, namun upaya untuk menyalakan pendorong-pendorong permintaan alternatif terbukti sulit,” kata laporan tersebut. Mattoo mengatakan bahwa Beijing masih memiliki jalan untuk mengalihkan perekonomiannya dari ketergantungan pada konstruksi real estat untuk mendorong aktivitas bisnis, dan hanya dengan membelanjakan lebih banyak uang tidak akan menyelesaikan masalah.
“Tantangan bagi RRT adalah memilih kebijakan-kebijakan yang efisien,” katanya. “Stimulus fiskal tidak akan memperbaiki ketidakseimbangan struktural,” katanya. Yang dibutuhkan adalah kesejahteraan sosial yang lebih kuat dan program-program lain yang akan memungkinkan rumah tangga untuk membelanjakan lebih banyak uang, meningkatkan permintaan yang kemudian akan mendorong bisnis untuk berinvestasi.
Kawasan ini dapat menjadi jauh lebih baik dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi yang lebih besar, kata Mattoo. Vietnam, misalnya, menarik investasi asing dalam jumlah besar sebagai tujuan favorit bagi para produsen asing, tetapi tingkat pertumbuhannya sekitar 5% masih di bawah potensinya. “Senang karena Vietnam tumbuh sebesar 5% mencerminkan jenis pencapaian yang kurang,” kata Mattoo dalam sebuah pengarahan online.
Salah satu masalah utama yang disoroti dalam laporan ini adalah peningkatan produktivitas yang lamban, kata laporan tersebut. Perusahaan-perusahaan terkemuka di Asia jauh tertinggal dari perusahaan-perusahaan terkemuka di negara-negara yang lebih kaya, terutama di bidang-bidang yang berhubungan dengan teknologi.
Laporan ini menyalahkan pemerintah yang memberlakukan pembatasan investasi yang mencegah perusahaan-perusahaan asing memasuki bagian-bagian penting dari ekonomi regional, kebutuhan untuk membangun keterampilan dan manajemen yang lemah. Membuka diri terhadap lebih banyak kompetisi dan berinvestasi lebih banyak di bidang pendidikan akan membantu, kata laporan itu.
Disadur dari: thediplomat.com