Pertanian

Labu Kuning (Cucurbita moschata): Primadona Labu yang Tahan Panas dan Hama

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 13 Maret 2025


Labu kuning atau Cucurbita moschata, spesies yang berasal dari Amerika Tengah atau Amerika Selatan bagian utara, termasuk varietas yang umumnya dikenal sebagai labu atau labu musim dingin. Dibandingkan dengan varietas C. maxima dan C. pepo, varietas C. moschata umumnya menunjukkan toleransi yang lebih baik terhadap iklim panas dan lembab serta menunjukkan ketahanan yang baik terhadap penyakit dan hama, terutama hama labu. Campuran pai labu yang tersedia secara komersial sering kali dibuat dari varietas C. moschata.

Spesies asli dari genus labu tersebar luas di seluruh Amerika sebelum campur tangan manusia. Meskipun diklasifikasikan dalam satu genus, C. moschata dapat melakukan hibridisasi dengan spesies lain, menunjukkan diversifikasi spesies Cucurbita yang relatif baru dibandingkan dengan genera terkait seperti Cucumis dan Citrullus. Semua spesies labu berasal dari Belahan Bumi Barat, dengan C. moschata merupakan tanaman merambat yang berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Varietas seperti labu blackberry, labu crookneck musim dingin, labu pai Jepang, dan labu keju besar adalah perwakilan dari C. moschata. Bersama C. pepo, labu ini diyakini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Kedua spesies ini, mirip dengan jagung dan kacang-kacangan, memiliki arti penting sebagai tanaman pangan bagi masyarakat adat di wilayah tersebut, dengan bunga, biji matang, dan daging buah yang dikonsumsi di beberapa daerah.

Sebelum penjajahan Eropa, C. moschata dan C. pepo dibudidayakan secara luas di seluruh Amerika Utara oleh suku-suku asli Amerika. Tidak seperti kacang-kacangan, yang menyebar ke Amerika Selatan dari wilayah yang sama, labu tidak mencapai Amerika Selatan dan tetap dibudidayakan terutama oleh penduduk asli di seluruh wilayah yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat. Banyak suku, terutama di wilayah Barat, terus membudidayakan berbagai varietas labu dan labu yang tahan banting yang tidak umum ditemukan di pasar komersial.

Varietas Labu Kuning

Kultivar labu termasuk:

  • Al Hachi - Labu musim dingin yang biasa dikeringkan dan digunakan di Kashmir.
  • Aehobak - Labu musim panas, juga disebut sebagai zucchini Korea.
  • Brazilian crookneck, Abóbora de pescoço atau Abóbora seca - Varietas besar berleher melengkung dengan daging berwarna oranye tua dan kulit berwarna hijau tua dengan sorotan oranye terang, lazim di Brasil.
  • Butternut squash - Varietas labu musim dingin yang populer di sebagian besar Amerika Utara.
  • Calabaza - Labu musim dingin yang banyak ditanam di Karibia, Amerika tropis, dan Filipina.
  • Labu Dickinson - Dimanfaatkan oleh Libby's untuk labu kalengannya, yang ditanam dari jenis Dickinson.
  • Giromon - Kultivar besar berwarna hijau yang ditanam terutama di Karibia dan digunakan untuk membuat "soupe giromon" tradisional di Haiti.
  • Golden Cushaw - Bentuknya mirip tetapi merupakan spesies yang berbeda dari jenis "cushaw" Cucurbita argyrosperma yang umum.
  • Loche - Sebuah jenis labu yang berasal dari Peru.
  • Liscia - Varietas awal musim yang matang setelah 115 hingga 130 hari.
  • Labu keju Long Island - Menyerupai bentuk, warna, dan tekstur keju.
  • Musquée de Provence, Moscata di Provenza, atau Fairytale pumpkin - Hibrida besar dari Prancis dengan daging buah berwarna oranye tua yang manis dan harum, sering dijual per irisan karena ukurannya.
  • Labu panjang Naples atau Courge pleine de Naples - Labu besar dan memanjang dengan kulit hijau tua dan umbi kecil di ujungnya, rata-rata 10 hingga 25 kg, ditemukan di Prancis dan Italia.
  • Labu São Paulo atau Abóbora paulista - Varietas berbentuk butternut dengan garis-garis putih dan hijau yang berbeda di sepanjang batangnya.
  • Labu Seminole - Varietas pusaka yang awalnya dibudidayakan oleh suku Seminole di Florida saat ini.
  • Tromboncino - Labu musim panas, juga dikenal sebagai "Zucchetta".

Contoh Gambar Labu Kuning

  • Aehobak or "Korean zucchini"
    Aehobak atau "zucchini Korea"

  • Brazilian crook neck or Abóbora de pescoço
    Leher penjahat Brasil atau Abóbora de pescoço

  • Butternut squash
    Labu mentega

  • Calabaza
    Calabaza

  • Trombetta
    Trombetta

  • Giromon
    Giromon

  • Long Island cheese pumpkin
    Labu keju Long Island

  • Musquée de Provence (young)
    Musquée de Provence (young)

  • Musquée de Provence (mature)
    Musquée de Provence (mature)

  • Naples long squash
    Naples long squash

  • Tromboncino
    Tromboncino


Disadur dari: en.wikipedia.org

Selengkapnya
Labu Kuning (Cucurbita moschata): Primadona Labu yang Tahan Panas dan Hama

Keselamatan Kerja

Revitalisasi Safety Management System dengan Pendekatan Safety Fractal

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025


Manajemen keselamatan dalam industri berisiko tinggi sering kali mengandalkan Safety Management System (SMS) sebagai landasan utama dalam mengurangi insiden dan meningkatkan keselamatan operasional. Namun, dalam praktiknya, SMS sering dianggap terlalu birokratis, normatif, dan kurang efektif dalam memberikan kinerja keselamatan yang optimal. 

Konsep Safety Fractal dan Evolusi SMS

1. Kritik terhadap Implementasi SMS

  • SMS sering kali terlalu berfokus pada kepatuhan regulasi daripada peningkatan nyata dalam keselamatan.
  • Banyak perusahaan mengalami kesenjangan antara kebijakan keselamatan dan praktik operasional di lapangan.
  • Beberapa badan regulasi bahkan tidak dapat menilai efektivitas SMS dalam organisasi yang diaudit.

2. Dari Manajemen Reaktif ke Pendekatan Resilien

  • SMS tradisional cenderung bekerja dalam pendekatan reaktif, yang hanya bertindak setelah insiden terjadi.
  • Safety Fractal menawarkan sistem yang lebih dinamis dan fleksibel, memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi dan merespons risiko sebelum terjadi insiden.
  • Model ini mengintegrasikan prinsip Plan-Do-Check-Act (PDCA) dengan pemantauan yang lebih adaptif terhadap variabilitas operasional.

Tingkat Efektivitas SMS dalam Industri Berisiko Tinggi

  • Implementasi Safety Fractal dalam beberapa perusahaan menunjukkan peningkatan kepatuhan regulasi hingga 90%.
  • Penggunaan model prediktif berbasis data dalam SMS mampu menurunkan tingkat kecelakaan kerja sebesar 40% dalam lima tahun.
  • Organisasi yang menerapkan metode resilien mengalami peningkatan efisiensi operasional hingga 30% dibandingkan perusahaan dengan SMS konvensional.

Implementasi Safety Fractal dalam Manajemen Keselamatan

1. Integrasi Sistem Manajemen Keselamatan dengan Proses Operasional

  • Menghubungkan kebijakan keselamatan dengan aktivitas operasional harian.
  • Memastikan bahwa elemen-elemen manajemen risiko dan audit keselamatan terintegrasi dengan sistem produksi.

2. Pendekatan Hierarkis dalam Manajemen Keselamatan

  • Model Safety Fractal menerapkan siklus pengelolaan keselamatan di setiap level organisasi.
  • Menggunakan umpan balik berbasis data untuk mendeteksi potensi kegagalan lebih dini.

3. Manajemen Risiko yang Lebih Dinamis

  • Menyesuaikan prosedur keselamatan dengan lingkungan kerja yang terus berubah.
  • Menggunakan analisis big data dan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi tren risiko yang tidak terdeteksi oleh metode konvensional.

Tantangan dalam Implementasi Extended Safety Fractal

  1. Kurangnya Pemahaman tentang Resilience dalam Keselamatan Kerja
    • Banyak organisasi masih berfokus pada kepatuhan regulasi, bukan peningkatan keselamatan secara proaktif.
  2. Hambatan Teknologi dan Infrastruktur
    • Penerapan AI dan big data dalam keselamatan kerja memerlukan investasi besar.
  3. Resistensi terhadap Perubahan
    • Banyak pekerja dan manajer merasa nyaman dengan proses keselamatan tradisional, sehingga sulit untuk mengadopsi sistem baru.

Rekomendasi untuk Meningkatkan Keselamatan dengan Safety Fractal

  1. Mengembangkan Kebijakan Keselamatan yang Lebih Adaptif
    • Mengintegrasikan prinsip resilien dalam standar keselamatan nasional dan internasional.
  2. Penerapan Teknologi Prediktif dalam Keselamatan
    • Menggunakan AI dan machine learning untuk mengidentifikasi potensi kecelakaan lebih awal.
  3. Meningkatkan Pelatihan dan Kesadaran Keselamatan
    • Menyediakan program edukasi berbasis data bagi pekerja dan manajer.
  4. Meningkatkan Keterlibatan Manajemen dalam Keselamatan
    • Pemimpin organisasi harus lebih aktif dalam penerapan budaya keselamatan yang berorientasi pada daya tahan.

Kesimpulan

Konsep Extended Safety Fractal menawarkan pendekatan baru dalam manajemen keselamatan yang lebih adaptif, prediktif, dan terintegrasi dengan operasi organisasi. Dengan menerapkan model ini, perusahaan dapat meningkatkan keselamatan kerja, efisiensi operasional, dan kepatuhan regulasi secara signifikan. Perubahan dari manajemen keselamatan berbasis kepatuhan ke pendekatan resilien menjadi kunci utama dalam meningkatkan keselamatan di industri berisiko tinggi.

Sumber: Accou, B., & Reniers, G. (2020). ‘Introducing the Extended Safety Fractal: Reusing the Concept of Safety Management Systems to Organize Resilient Organizations’. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(5478), 1-19.

Selengkapnya
Revitalisasi Safety Management System dengan Pendekatan Safety Fractal

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Peran Health and Safety Management Systems dalam Mendukung Kesejahteraan Pekerja saat Integrasi Teknologi

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025


Dalam era digital dan Industri 4.0, teknologi memainkan peran penting dalam berbagai sektor industri, termasuk dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Studi yang dilakukan oleh Emily J. Haas dan Emanuele Cauda (2022) membahas bagaimana Health and Safety Management Systems (HSMS) dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesejahteraan pekerja selama proses integrasi teknologi, terutama dengan penggunaan Direct Reading and Sensor Technologies (DRST). Artikel ini menyoroti tantangan utama dalam penerapan teknologi K3, termasuk kurangnya kepercayaan pekerja terhadap teknologi, kesulitan dalam penggunaannya, serta kurangnya panduan dan dukungan dari organisasi. Dengan menggunakan pendekatan HSMS, perusahaan dapat mengatasi hambatan ini dan meningkatkan penerimaan teknologi di lingkungan kerja.

Tantangan dalam Integrasi Teknologi Keselamatan

1. Kurangnya Kepercayaan terhadap Teknologi

  • 58% pekerja meragukan validitas dan keandalan data yang dihasilkan oleh DRST.
  • Banyak pekerja menganggap teknologi ini digunakan untuk memantau kinerja mereka secara tidak langsung, bukan untuk keselamatan.
  • Hanya 33% perusahaan yang mengkhawatirkan masalah validitas data, menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara pekerja dan manajemen.

2. Kesulitan dalam Penggunaan DRST

  • 30,7% pekerja menganggap DRST sulit digunakan, terutama dalam memahami data dan menanggapi peringatan dari sensor.
  • Organisasi menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan teknologi ini dengan sistem K3 yang sudah ada.

3. Kurangnya Dukungan dan Panduan Regulasi

  • Banyak perusahaan tidak memiliki pedoman yang jelas mengenai penggunaan DRST.
  • Ketiadaan standar global dalam penerapan DRST menyulitkan perusahaan dalam memastikan kepatuhan regulasi.

Implementasi HSMS untuk Mendukung Integrasi Teknologi

1. Komitmen Manajemen dalam Keselamatan dan Kesejahteraan Pekerja

  • Manajemen harus secara aktif mendukung penerapan teknologi dengan komunikasi yang transparan dan pelatihan yang memadai.
  • Memberikan umpan balik secara berkala kepada pekerja terkait manfaat teknologi dalam meningkatkan keselamatan kerja.

2. Keterlibatan Pekerja dalam Pengambilan Keputusan

  • Memastikan pekerja terlibat dalam proses pemilihan, penerapan, dan evaluasi teknologi DRST.
  • Memberikan sesi edukasi mengenai cara kerja teknologi dan manfaatnya bagi keselamatan mereka.

3. Penggunaan HSMS sebagai Kerangka Kerja untuk Integrasi Teknologi

  • Memanfaatkan prinsip Plan-Do-Check-Act (PDCA) untuk memastikan bahwa teknologi yang diterapkan efektif dan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
  • Mengembangkan protokol standar untuk memandu penggunaan DRST dalam berbagai skenario operasional.

Dalam penelitian ini, 88 profesional K3 yang berasal dari berbagai industri, termasuk pertambangan dan manufaktur, memberikan wawasan tentang tantangan dan manfaat penerapan DRST.

  • 70% pekerja di industri pertambangan mengalami peningkatan kepercayaan terhadap DRST setelah mendapatkan pelatihan dan keterlibatan dalam proses implementasi.
  • Penerapan HSMS dalam organisasi pertambangan berhasil meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi keselamatan hingga 90%.

Rekomendasi untuk Meningkatkan Penerapan Teknologi K3

  1. Meningkatkan Transparansi dan Komunikasi
    • Menjelaskan tujuan penerapan DRST secara terbuka kepada pekerja.
    • Menyediakan akses bagi pekerja untuk melihat dan memahami data yang dikumpulkan oleh teknologi ini.
  2. Menyediakan Pelatihan Berkelanjutan
    • Mengadakan sesi pelatihan reguler tentang cara penggunaan teknologi.
    • Meningkatkan pemahaman pekerja terhadap standar keselamatan berbasis teknologi.
  3. Memanfaatkan HSMS untuk Mengelola Risiko Teknologi
    • Mengadopsi pendekatan berbasis analisis risiko untuk mengidentifikasi potensi dampak negatif teknologi terhadap pekerja.
    • Mengintegrasikan teknologi secara bertahap dengan evaluasi berkala.

Kesimpulan

Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi teknologi dalam sistem keselamatan kerja dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja jika dikelola dengan baik melalui HSMS. Dengan pendekatan yang tepat, organisasi dapat meningkatkan kepercayaan pekerja terhadap teknologi, memastikan penggunaan yang efektif, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif.

Sumber: Haas, E. J., & Cauda, E. (2022). ‘Using Core Elements of Health and Safety Management Systems to Support Worker Well-Being during Technology Integration’. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(13849), 1-17.

Selengkapnya
Peran Health and Safety Management Systems dalam Mendukung Kesejahteraan Pekerja saat Integrasi Teknologi

Pertanian

Menjelaskan Praktek Budidaya Pertanian

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 13 Maret 2025


Dalam pertanian, budi daya merupakan kegiatan terencana pemeliharaan sumber daya hayati yang dilakukan pada suatu areal lahan untuk diambil manfaat/hasil panennya. Kegiatan budi daya dapat dianggap sebagai inti dari usaha tani. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi daya adalah "usaha yg bermanfaat dan memberi hasil".

Usaha budi daya tanaman mengandalkan penggunaan tanah atau media lainnya di suatu lahan untuk membesarkan tanaman dan lalu memanen bagiannya yang bernilai ekonomi. Bagian ini dapat berupa biji, buah/bulir, daun, bunga, batang, tunas, serta semua bagian lain yang bernilai ekonomi. Kegiatan budi daya tanaman yang dilakukan dengan media tanah dikenal pula sebagai bercocok tanam (bahasa Belanda: akkerbouw). Termasuk dalam "tanaman" di sini adalah gulma laut serta sejumlah fungi penghasil jamur pangan.

Budi daya hewan (husbandry) melibatkan usaha pembesaran bakalan (hewan muda) atau bibit/benih (termasuk benur dan nener pada budi daya perikanan) pada suatu lahan tertentu selama beberapa waktu untuk kemudian dijual, disembelih untuk dimanfaatkan daging serta bagian tubuh lainnya, diambil telurnya, atau diperah susunya (pada peternakan susu). Proses pengolahan produk budi daya ini biasanya bukan bagian dari budi daya sendiri tetapi masih dianggap sebagai mata rantai usaha tani ternak itu. Budi daya hewan dikategorikan ke dalam peternakan dan budi daya perikanan.

Budi daya hewan menurut Peraturan presiden Republik Indonesia No 48 ahun 2013 Tentang Budi Daya Hewan Peliharaan adalah "usaha yang dilakukan di suatu tempat tertentu pada suatu kawasan budi daya secara berkesinambungan untuk hewan peliharaan dan produk hewan".

Pembudidayaan ikan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan adalah "kegiatan untuk memelihara, membesarkan, dan/atau membiakkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/ atau mengawetkannya."

Ada pula hewan yang melakukan budi daya, yaitu beberapa jenis semut dan rayap. Rayap dan semut memelihara beberapa jenis fungi sebagai bahan pakan bagi larvanya. Semut juga diketahui "menernakkan" kutu daun (aphid) untuk mengambil cairan yang dikeluarkan kutu yang dipeliharanya.


Sumber: id.wikipedia.org 

Selengkapnya
Menjelaskan Praktek Budidaya Pertanian

Keselamatan Kebakaran

Evaluasi dan Pengembangan Keselamatan Kebakaran di Perusahaan X

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025


Keselamatan kebakaran merupakan aspek krusial dalam operasional perusahaan, terutama bagi industri yang melibatkan ritel, perawatan, dan distribusi seperti yang dibahas dalam studi Assessing and Developing Fire Safety at Company X oleh Roosa Hellgrén. Paper ini mengevaluasi kesiapsiagaan kebakaran di Perusahaan X, mengidentifikasi kelemahan dalam latihan kebakaran dan pelatihan karyawan, serta memberikan rekomendasi perbaikan.

Tujuan utama penelitian ini adalah meninjau sistem keselamatan kebakaran di lokasi perusahaan, mengidentifikasi celah dalam kesiapsiagaan darurat, serta memberikan solusi yang dapat meningkatkan respons terhadap keadaan darurat kebakaran. Dengan pendekatan metodologis berupa wawancara, tinjauan dokumen, dan inspeksi langsung (safety walk), studi ini memberikan wawasan praktis mengenai kondisi aktual di tempat kerja.

Tantangan dalam Keselamatan Kebakaran

  1. Ketidakefektifan Latihan Kebakaran
  2. Kurangnya Pelatihan Keselamatan bagi Karyawan
  3. Hambatan dalam Evakuasi
  4. Kurangnya Pemeliharaan Peralatan Keselamatan
  5. Minimnya Kesadaran akan Risiko Kebakaran pada Kendaraan Listrik

Metodologi yang Digunakan

  1. Wawancara.
  2. Tinjauan Dokumen.
  3. Inspeksi Langsung (Safety Walk).

Hasil dan Temuan Studi

  • Karyawan A (Sekretaris/Resepsionis)
    • Menyatakan bahwa ia merasa yakin akan tindakan yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran.
    • Mengetahui lokasi titik kumpul tetapi kurang mampu menjelaskan jalur evakuasi dengan jelas.
    • Mengamati bahwa pada latihan kebakaran terakhir, beberapa pelanggan tidak diarahkan keluar dengan benar.
  • Karyawan B (Mekanik di Bengkel Perawatan)
    • Mengingat adanya dua hingga tiga latihan kebakaran selama masa kerja.
    • Mengatakan bahwa alarm kebakaran masih terdengar meskipun menggunakan pelindung telinga.
    • Mengaku memperlakukan kendaraan listrik dengan lebih hati-hati karena risiko kebakaran yang lebih tinggi.

2. Hasil Tinjauan Dokumen

  • Rencana darurat perusahaan sudah cukup memadai, tetapi perlu diperbarui dengan informasi lebih detail tentang tanggung jawab individu dalam situasi darurat.
  • Manual operasional memiliki instruksi yang terlalu umum tanpa ada pembagian tanggung jawab yang jelas.
  • Frekuensi latihan kebakaran tidak tercatat dengan baik, sehingga sulit untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan.

3. Hasil Inspeksi Langsung (Safety Walk)

  • Kondisi positif: Inspeksi alat pemadam kebakaran cukup baik.
  • Kelemahan yang ditemukan:
    • Salah satu tanda keluar darurat tidak menyala.
    • Peta jalur evakuasi tidak mencantumkan semua pintu keluar.
    • Area parkir sering kali menghalangi akses kendaraan pemadam kebakaran.

Strategi Perbaikan Keselamatan Kebakaran

  1. Peningkatan Latihan Kebakaran
    • Menjadwalkan latihan kebakaran minimal setahun sekali dan mendokumentasikan hasilnya.
    • Menggunakan skenario realistis agar latihan lebih efektif.
  2. Pelatihan Karyawan yang Lebih Intensif
    • Setiap karyawan harus menjalani pelatihan rutin tentang lokasi alat pemadam dan jalur evakuasi.
    • Pelatihan khusus untuk menangani kebakaran yang berasal dari kendaraan listrik.
  3. Perbaikan Infrastruktur Keselamatan
    • Memastikan tanda keluar darurat berfungsi dengan baik dan terlihat jelas.
    • Menyediakan jalur evakuasi yang tidak terhalang dan memperbarui peta evakuasi di seluruh area kerja.
  4. Peningkatan Pemeliharaan dan Inspeksi
    • Mengatur inspeksi berkala terhadap alat pemadam kebakaran dan sistem pemadam otomatis.
    • Menugaskan personel khusus untuk mengecek pemeliharaan rutin peralatan keselamatan.
  5. Implementasi Protokol Khusus untuk Kendaraan Listrik
    • Menyediakan prosedur khusus dalam menangani kebakaran kendaraan listrik.
    • Melatih karyawan tentang bahaya baterai lithium-ion dan langkah mitigasi jika terjadi kebakaran.

Paper Assessing and Developing Fire Safety at Company X memberikan wawasan mendalam mengenai tantangan dan solusi dalam meningkatkan keselamatan kebakaran di lingkungan kerja. Meskipun Perusahaan X telah memiliki sistem darurat yang cukup baik, terdapat beberapa aspek yang masih memerlukan perbaikan, khususnya dalam latihan kebakaran, pelatihan karyawan, dan pemeliharaan peralatan keselamatan. Dengan menerapkan rekomendasi yang diberikan dalam penelitian ini, Perusahaan X dapat meningkatkan kesiapsiagaannya dalam menghadapi kebakaran, meminimalisir risiko, serta melindungi karyawan dan aset perusahaan secara lebih efektif.

Sumber Artikel

Hellgrén, R. (2024). Assessing and Developing Fire Safety at Company X. Laurea University of Applied Sciences.

Selengkapnya
Evaluasi dan Pengembangan Keselamatan Kebakaran di Perusahaan X

Keselamatan Kerja

Estimasi Global Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja: Implikasi bagi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025


Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menjadi masalah global yang menyebabkan dampak signifikan bagi individu, organisasi, dan masyarakat. Studi oleh Päivi Hämäläinen (2010) mengembangkan model untuk memperkirakan jumlah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja secara global, serta dampaknya terhadap berbagai sektor industri. Penelitian ini menyoroti bagaimana pencatatan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja bervariasi di seluruh dunia, dengan banyak negara berkembang yang masih memiliki sistem pencatatan yang belum mapan. Hal ini menimbulkan tantangan dalam memahami data statistik serta membuat perbandingan antara negara.

Temuan Utama dan Studi Kasus

1. Estimasi Jumlah Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja

  • Setiap tahun, sekitar 2,3 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
  • Terdapat 330 juta kecelakaan kerja non-fatal yang menyebabkan ketidakhadiran kerja selama empat hari atau lebih.
  • Tingkat kecelakaan non-fatal meningkat sebesar 20% dalam lima tahun, meskipun tingkat fatalitas mengalami penurunan.

2. Kategori Penyakit Akibat Kerja

  • Penyakit kardiovaskular dan kanker akibat kerja menyumbang jumlah kematian tertinggi di negara maju.
  • Penyakit menular akibat kerja lebih umum terjadi di negara berkembang.
  • Proses industrialisasi di negara berkembang diperkirakan akan meningkatkan jumlah kasus kanker akibat kerja dan penyakit kardiovaskular.

3. Dampak Globalisasi terhadap Keselamatan Kerja

  • Perpindahan produksi ke negara berkembang meningkatkan jumlah kecelakaan kerja akibat standar keselamatan yang lebih rendah.
  • Di negara maju, persaingan ekonomi mendorong peningkatan keselamatan kerja sebagai faktor daya saing.

Tantangan dalam Pengelolaan Keselamatan Kerja

  1. Variasi Standar dan Definisi Keselamatan
    • Setiap negara memiliki metode pencatatan yang berbeda, sehingga menyulitkan perbandingan statistik.
    • Banyak penyakit akibat kerja yang tidak dikategorikan sebagai penyakit akibat kerja secara resmi.
  2. Kurangnya Kesadaran dan Penegakan Regulasi
    • Banyak pekerja di negara berkembang tidak memiliki akses terhadap informasi keselamatan kerja.
    • Penegakan regulasi yang lemah menyebabkan perusahaan mengabaikan standar keselamatan.
  3. Tantangan dalam Estimasi Data
    • Beberapa negara tidak memiliki data tenaga kerja yang lengkap, sehingga estimasi jumlah kecelakaan dan fatalitas sering kali kurang akurat.
    • Perhitungan tingkat fatalitas di beberapa negara dihitung berdasarkan jumlah pekerja aktif, bukan jumlah total tenaga kerja, yang dapat menurunkan estimasi angka kecelakaan.

Rekomendasi untuk Meningkatkan Keselamatan Kerja Global

  1. Meningkatkan Standarisasi Pelaporan
    • Mengembangkan sistem pencatatan kecelakaan kerja yang seragam secara global.
    • Mengintegrasikan data kecelakaan kerja dengan sistem jaminan sosial untuk meningkatkan akurasi pencatatan.
  2. Meningkatkan Kesadaran dan Pelatihan Keselamatan Kerja
    • Program edukasi dan pelatihan keselamatan harus ditingkatkan, terutama di sektor berisiko tinggi.
    • Memanfaatkan teknologi digital untuk kampanye keselamatan kerja secara luas.
  3. Meningkatkan Komitmen Pemerintah dan Perusahaan
    • Pemerintah harus memastikan regulasi keselamatan kerja diterapkan secara ketat.
    • Perusahaan harus menginvestasikan lebih banyak sumber daya dalam sistem keselamatan dan kesehatan kerja.

Kesimpulan

Studi ini menegaskan bahwa kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tantangan global yang memerlukan pendekatan sistematis dalam pencatatan, pencegahan, dan regulasi. Dengan adanya standarisasi pelaporan, peningkatan kesadaran keselamatan, serta komitmen kuat dari pemerintah dan perusahaan, angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat ditekan secara signifikan.

Sumber: Hämäläinen, P. (2010). ‘Global Estimates of Occupational Accidents and Fatal Work-Related Diseases’. Tampere University of Technology, Publication 917.

Selengkapnya
Estimasi Global Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja: Implikasi bagi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
« First Previous page 72 of 865 Next Last »