Pertanian
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 13 Maret 2025
Labu kuning atau Cucurbita moschata, spesies yang berasal dari Amerika Tengah atau Amerika Selatan bagian utara, termasuk varietas yang umumnya dikenal sebagai labu atau labu musim dingin. Dibandingkan dengan varietas C. maxima dan C. pepo, varietas C. moschata umumnya menunjukkan toleransi yang lebih baik terhadap iklim panas dan lembab serta menunjukkan ketahanan yang baik terhadap penyakit dan hama, terutama hama labu. Campuran pai labu yang tersedia secara komersial sering kali dibuat dari varietas C. moschata.
Spesies asli dari genus labu tersebar luas di seluruh Amerika sebelum campur tangan manusia. Meskipun diklasifikasikan dalam satu genus, C. moschata dapat melakukan hibridisasi dengan spesies lain, menunjukkan diversifikasi spesies Cucurbita yang relatif baru dibandingkan dengan genera terkait seperti Cucumis dan Citrullus. Semua spesies labu berasal dari Belahan Bumi Barat, dengan C. moschata merupakan tanaman merambat yang berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Varietas seperti labu blackberry, labu crookneck musim dingin, labu pai Jepang, dan labu keju besar adalah perwakilan dari C. moschata. Bersama C. pepo, labu ini diyakini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Kedua spesies ini, mirip dengan jagung dan kacang-kacangan, memiliki arti penting sebagai tanaman pangan bagi masyarakat adat di wilayah tersebut, dengan bunga, biji matang, dan daging buah yang dikonsumsi di beberapa daerah.
Sebelum penjajahan Eropa, C. moschata dan C. pepo dibudidayakan secara luas di seluruh Amerika Utara oleh suku-suku asli Amerika. Tidak seperti kacang-kacangan, yang menyebar ke Amerika Selatan dari wilayah yang sama, labu tidak mencapai Amerika Selatan dan tetap dibudidayakan terutama oleh penduduk asli di seluruh wilayah yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat. Banyak suku, terutama di wilayah Barat, terus membudidayakan berbagai varietas labu dan labu yang tahan banting yang tidak umum ditemukan di pasar komersial.
Varietas Labu Kuning
Kultivar labu termasuk:
Contoh Gambar Labu Kuning
Disadur dari: en.wikipedia.org
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025
Manajemen keselamatan dalam industri berisiko tinggi sering kali mengandalkan Safety Management System (SMS) sebagai landasan utama dalam mengurangi insiden dan meningkatkan keselamatan operasional. Namun, dalam praktiknya, SMS sering dianggap terlalu birokratis, normatif, dan kurang efektif dalam memberikan kinerja keselamatan yang optimal.
Konsep Safety Fractal dan Evolusi SMS
1. Kritik terhadap Implementasi SMS
2. Dari Manajemen Reaktif ke Pendekatan Resilien
Tingkat Efektivitas SMS dalam Industri Berisiko Tinggi
Implementasi Safety Fractal dalam Manajemen Keselamatan
1. Integrasi Sistem Manajemen Keselamatan dengan Proses Operasional
2. Pendekatan Hierarkis dalam Manajemen Keselamatan
3. Manajemen Risiko yang Lebih Dinamis
Tantangan dalam Implementasi Extended Safety Fractal
Rekomendasi untuk Meningkatkan Keselamatan dengan Safety Fractal
Kesimpulan
Konsep Extended Safety Fractal menawarkan pendekatan baru dalam manajemen keselamatan yang lebih adaptif, prediktif, dan terintegrasi dengan operasi organisasi. Dengan menerapkan model ini, perusahaan dapat meningkatkan keselamatan kerja, efisiensi operasional, dan kepatuhan regulasi secara signifikan. Perubahan dari manajemen keselamatan berbasis kepatuhan ke pendekatan resilien menjadi kunci utama dalam meningkatkan keselamatan di industri berisiko tinggi.
Sumber: Accou, B., & Reniers, G. (2020). ‘Introducing the Extended Safety Fractal: Reusing the Concept of Safety Management Systems to Organize Resilient Organizations’. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(5478), 1-19.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025
Dalam era digital dan Industri 4.0, teknologi memainkan peran penting dalam berbagai sektor industri, termasuk dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Studi yang dilakukan oleh Emily J. Haas dan Emanuele Cauda (2022) membahas bagaimana Health and Safety Management Systems (HSMS) dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesejahteraan pekerja selama proses integrasi teknologi, terutama dengan penggunaan Direct Reading and Sensor Technologies (DRST). Artikel ini menyoroti tantangan utama dalam penerapan teknologi K3, termasuk kurangnya kepercayaan pekerja terhadap teknologi, kesulitan dalam penggunaannya, serta kurangnya panduan dan dukungan dari organisasi. Dengan menggunakan pendekatan HSMS, perusahaan dapat mengatasi hambatan ini dan meningkatkan penerimaan teknologi di lingkungan kerja.
Tantangan dalam Integrasi Teknologi Keselamatan
1. Kurangnya Kepercayaan terhadap Teknologi
2. Kesulitan dalam Penggunaan DRST
3. Kurangnya Dukungan dan Panduan Regulasi
Implementasi HSMS untuk Mendukung Integrasi Teknologi
1. Komitmen Manajemen dalam Keselamatan dan Kesejahteraan Pekerja
2. Keterlibatan Pekerja dalam Pengambilan Keputusan
3. Penggunaan HSMS sebagai Kerangka Kerja untuk Integrasi Teknologi
Dalam penelitian ini, 88 profesional K3 yang berasal dari berbagai industri, termasuk pertambangan dan manufaktur, memberikan wawasan tentang tantangan dan manfaat penerapan DRST.
Rekomendasi untuk Meningkatkan Penerapan Teknologi K3
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi teknologi dalam sistem keselamatan kerja dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja jika dikelola dengan baik melalui HSMS. Dengan pendekatan yang tepat, organisasi dapat meningkatkan kepercayaan pekerja terhadap teknologi, memastikan penggunaan yang efektif, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif.
Sumber: Haas, E. J., & Cauda, E. (2022). ‘Using Core Elements of Health and Safety Management Systems to Support Worker Well-Being during Technology Integration’. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(13849), 1-17.
Pertanian
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 13 Maret 2025
Dalam pertanian, budi daya merupakan kegiatan terencana pemeliharaan sumber daya hayati yang dilakukan pada suatu areal lahan untuk diambil manfaat/hasil panennya. Kegiatan budi daya dapat dianggap sebagai inti dari usaha tani. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi daya adalah "usaha yg bermanfaat dan memberi hasil".
Usaha budi daya tanaman mengandalkan penggunaan tanah atau media lainnya di suatu lahan untuk membesarkan tanaman dan lalu memanen bagiannya yang bernilai ekonomi. Bagian ini dapat berupa biji, buah/bulir, daun, bunga, batang, tunas, serta semua bagian lain yang bernilai ekonomi. Kegiatan budi daya tanaman yang dilakukan dengan media tanah dikenal pula sebagai bercocok tanam (bahasa Belanda: akkerbouw). Termasuk dalam "tanaman" di sini adalah gulma laut serta sejumlah fungi penghasil jamur pangan.
Budi daya hewan (husbandry) melibatkan usaha pembesaran bakalan (hewan muda) atau bibit/benih (termasuk benur dan nener pada budi daya perikanan) pada suatu lahan tertentu selama beberapa waktu untuk kemudian dijual, disembelih untuk dimanfaatkan daging serta bagian tubuh lainnya, diambil telurnya, atau diperah susunya (pada peternakan susu). Proses pengolahan produk budi daya ini biasanya bukan bagian dari budi daya sendiri tetapi masih dianggap sebagai mata rantai usaha tani ternak itu. Budi daya hewan dikategorikan ke dalam peternakan dan budi daya perikanan.
Budi daya hewan menurut Peraturan presiden Republik Indonesia No 48 ahun 2013 Tentang Budi Daya Hewan Peliharaan adalah "usaha yang dilakukan di suatu tempat tertentu pada suatu kawasan budi daya secara berkesinambungan untuk hewan peliharaan dan produk hewan".
Pembudidayaan ikan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan adalah "kegiatan untuk memelihara, membesarkan, dan/atau membiakkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/ atau mengawetkannya."
Ada pula hewan yang melakukan budi daya, yaitu beberapa jenis semut dan rayap. Rayap dan semut memelihara beberapa jenis fungi sebagai bahan pakan bagi larvanya. Semut juga diketahui "menernakkan" kutu daun (aphid) untuk mengambil cairan yang dikeluarkan kutu yang dipeliharanya.
Sumber: id.wikipedia.org
Keselamatan Kebakaran
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025
Keselamatan kebakaran merupakan aspek krusial dalam operasional perusahaan, terutama bagi industri yang melibatkan ritel, perawatan, dan distribusi seperti yang dibahas dalam studi Assessing and Developing Fire Safety at Company X oleh Roosa Hellgrén. Paper ini mengevaluasi kesiapsiagaan kebakaran di Perusahaan X, mengidentifikasi kelemahan dalam latihan kebakaran dan pelatihan karyawan, serta memberikan rekomendasi perbaikan.
Tujuan utama penelitian ini adalah meninjau sistem keselamatan kebakaran di lokasi perusahaan, mengidentifikasi celah dalam kesiapsiagaan darurat, serta memberikan solusi yang dapat meningkatkan respons terhadap keadaan darurat kebakaran. Dengan pendekatan metodologis berupa wawancara, tinjauan dokumen, dan inspeksi langsung (safety walk), studi ini memberikan wawasan praktis mengenai kondisi aktual di tempat kerja.
Tantangan dalam Keselamatan Kebakaran
Metodologi yang Digunakan
Hasil dan Temuan Studi
2. Hasil Tinjauan Dokumen
3. Hasil Inspeksi Langsung (Safety Walk)
Strategi Perbaikan Keselamatan Kebakaran
Paper Assessing and Developing Fire Safety at Company X memberikan wawasan mendalam mengenai tantangan dan solusi dalam meningkatkan keselamatan kebakaran di lingkungan kerja. Meskipun Perusahaan X telah memiliki sistem darurat yang cukup baik, terdapat beberapa aspek yang masih memerlukan perbaikan, khususnya dalam latihan kebakaran, pelatihan karyawan, dan pemeliharaan peralatan keselamatan. Dengan menerapkan rekomendasi yang diberikan dalam penelitian ini, Perusahaan X dapat meningkatkan kesiapsiagaannya dalam menghadapi kebakaran, meminimalisir risiko, serta melindungi karyawan dan aset perusahaan secara lebih efektif.
Sumber Artikel
Hellgrén, R. (2024). Assessing and Developing Fire Safety at Company X. Laurea University of Applied Sciences.
Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 13 Maret 2025
Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menjadi masalah global yang menyebabkan dampak signifikan bagi individu, organisasi, dan masyarakat. Studi oleh Päivi Hämäläinen (2010) mengembangkan model untuk memperkirakan jumlah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja secara global, serta dampaknya terhadap berbagai sektor industri. Penelitian ini menyoroti bagaimana pencatatan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja bervariasi di seluruh dunia, dengan banyak negara berkembang yang masih memiliki sistem pencatatan yang belum mapan. Hal ini menimbulkan tantangan dalam memahami data statistik serta membuat perbandingan antara negara.
Temuan Utama dan Studi Kasus
1. Estimasi Jumlah Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja
2. Kategori Penyakit Akibat Kerja
3. Dampak Globalisasi terhadap Keselamatan Kerja
Tantangan dalam Pengelolaan Keselamatan Kerja
Rekomendasi untuk Meningkatkan Keselamatan Kerja Global
Kesimpulan
Studi ini menegaskan bahwa kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tantangan global yang memerlukan pendekatan sistematis dalam pencatatan, pencegahan, dan regulasi. Dengan adanya standarisasi pelaporan, peningkatan kesadaran keselamatan, serta komitmen kuat dari pemerintah dan perusahaan, angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat ditekan secara signifikan.
Sumber: Hämäläinen, P. (2010). ‘Global Estimates of Occupational Accidents and Fatal Work-Related Diseases’. Tampere University of Technology, Publication 917.