Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 23 April 2025
Tanah gipsum yang meliputi sekitar 30% wilayah Irak dikenal rentan amblas saat basah. Ketika terkena air, gipsum larut dan meninggalkan pori besar, menyebabkan fondasi bangunan tidak stabil. Penelitian oleh Jawad dan Jahanger (2024) mencoba memahami pengaruh kontaminasi minyak—khususnya kerosin—terhadap pola runtuh dan deformasi tanah gipsum. Studi ini memadukan pendekatan eksperimental dan simulasi numerik untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap interaksi tanah-fondasi dalam kondisi kontaminasi minyak.
Latar Belakang: Mengapa Tanah Gipsum Perlu Diteliti?
Metodologi: Dua Pendekatan, Satu Tujuan
1. Eksperimen Laboratorium
2. Simulasi Plaxis 3D
Temuan Utama: Apa yang Terjadi Saat Kerosin Dicampur ke Tanah?
⚙️ Karakteristik Tanah
Hasil Pengujian: Studi Kasus dan Angka Nyata
Hasil pengujian uji geser langsung menunjukkan pengaruh kadar kerosin terhadap sifat mekanik tanah. Pada kadar kerosin 0% (alami), sudut geser (ϕ) tercatat sebesar 32° dengan kohesi (c) 27 kPa. Ketika kadar kerosin meningkat menjadi 3%, sudut geser meningkat menjadi 35,04° sementara kohesi menurun menjadi 18,24 kPa. Pada kadar 6%, sudut geser sedikit menurun menjadi 34° dengan kohesi yang juga berkurang menjadi 22,87 kPa. Namun, pada kadar kerosin 9%, sudut geser kembali meningkat menjadi 36,13°, tetapi kohesi mengalami penurunan signifikan hingga 7,76 kPa. Analisis ini menunjukkan bahwa penambahan kerosin dapat meningkatkan sudut geser tanah, namun pada saat yang sama, kerosin juga menyebabkan penurunan kohesi akibat pelumasan antar partikel, yang dapat mempengaruhi stabilitas tanah dalam aplikasi geoteknik.
2. Pengaruh Kerosin terhadap Potensi Kolaps (Cp)
Kesimpulan: 9% kerosin sangat efektif mereduksi potensi runtuh.
Hasil Visualisasi Deformasi dengan PIV
Pola Pergerakan Tanah
Kecepatan dan Arah Pergerakan
Simulasi Plaxis 3D: Validasi Hasil PIV
Simulasi Plaxis 3D dapat digunakan untuk memvalidasi hasil PIV dengan mempertimbangkan kondisi tanah yang berbeda. Perbandingan antara S/B Lab dan S/B Plaxis penting untuk memahami perbedaan hasil analisis dan memastikan akurasi model dalam menggambarkan perilaku tanah di lapangan.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa untuk kondisi tanah kering, rasio S/B Lab sebesar 3,56 berbanding 2,49 pada S/B Plaxis, sedangkan untuk kondisi jenuh, rasio S/B Lab 40,24 berbanding 38,41 pada S/B Plaxis. Perbedaan ini menunjukkan bahwa meskipun ada variasi antara hasil laboratorium dan simulasi, hasil simulasi Plaxis 3D mendekati hasil eksperimen yang diperoleh, yang mendukung validitas model yang digunakan. Dengan demikian, simulasi ini memberikan keyakinan bahwa model dapat diandalkan untuk analisis lebih lanjut dalam proyek geoteknik.
Distribusi Regangan dan Perpindahan
📈 Displacement Vector Maps menunjukkan zona deformasi makin dalam namun terkontrol saat kerosin ditambahkan.
Kritik dan Catatan Tambahan
Implikasi Praktis bagi Dunia Teknik Sipil
💡 Catatan Lingkungan: Kerosin bukan solusi ramah lingkungan jangka panjang. Perlu riset lanjutan untuk alternatif yang lebih hijau.
Kesimpulan
Penelitian ini mengintegrasikan dua pendekatan—eksperimen visual PIV dan simulasi numerik Plaxis 3D—untuk menganalisis interaksi fondasi-strip pada tanah gipsum dalam berbagai kondisi. Tambahan kerosin hingga 9% terbukti efektif mengurangi potensi runtuh dari kategori tinggi menjadi tidak runtuh. Visualisasi deformasi dengan PIV memberikan wawasan berharga terhadap mekanisme kegagalan tanah, sementara simulasi Plaxis memberikan validasi numerik yang andal.
Sumber :Jawad, H. M., & Jahanger, Z. K. (2024). The Effect of Oil Contaminated on Collapse Pattern in Gypseous Soil Using Particle Image Velocimetry and Simulation. Civil Engineering Journal, 10(7), 2325–2343.
Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 23 April 2025
Fondasi adalah penopang utama struktur bangunan. Namun, kondisi tanah sering kali menjadi tantangan besar. Ketika tanah tidak cukup kuat untuk mendukung fondasi dangkal, biaya bisa melonjak akibat kebutuhan fondasi dalam. Oleh karena itu, perbaikan atau penguatan tanah menjadi pilihan menarik yang dapat mengurangi biaya dan meningkatkan keberlanjutan konstruksi.
Artikel ini mengulas studi oleh Antonio J. Sánchez-Garrido dan koleganya, yang membandingkan lima alternatif desain fondasi rumah tinggal satu lantai, termasuk teknik perbaikan tanah yang berbeda, menggunakan pendekatan multi-criteria decision-making (MCDM) berbasis indikator ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Lima Alternatif Desain Fondasi
Penelitian ini menggunakan kasus rumah tinggal di Jaén, Spanyol. Tanahnya memiliki kapasitas dukung rendah dan kandungan sulfat tinggi yang agresif terhadap beton. Kelima alternatif fondasi yang dianalisis adalah:
Setiap solusi dievaluasi dari sudut pandang siklus hidup penuh (cradle-to-grave), dengan masa pakai 50 tahun.
Indikator Keberlanjutan yang Digunakan
Tiga dimensi utama keberlanjutan diukur menggunakan 37 indikator:
Studi Kasus: Perbandingan Dampak Ekonomi
Temuan Penting:
Kesimpulan Ekonomi: CNJ (nailing of precast joists) adalah pilihan paling ekonomis dan efisien untuk proyek ini.
Studi Kasus: Dampak Lingkungan
Hasil Evaluasi:
📊 Hasil:
REF memiliki dampak lingkungan yang relatif rendah, tetapi hanya CNJ yang secara signifikan mengurangi dampak di semua kategori. Kesimpulan Lingkungan: CNJ unggul jauh dibandingkan semua alternatif.
Studi Kasus: Dampak Sosial
Aspek sosial menilai keselamatan pekerja, kenyamanan pengguna, serta kontribusi terhadap komunitas lokal.
Temuan Sosial Utama:
🔎 Indeks Sosial Tertinggi:
Kesimpulan Sosial: B + C paling unggul dari sisi sosial, dengan CNJ sebagai runner-up.
Analisis dan Interpretasi
Penelitian ini menonjol karena menerapkan pendekatan holistik dan kuantitatif terhadap pemilihan teknik perbaikan tanah. Penggunaan 37 indikator dalam 3 dimensi keberlanjutan memberikan gambaran menyeluruh atas performa tiap alternatif. Studi Ini Menunjukkan:
📌 Kritik:
Studi tidak mempertimbangkan potensi daur ulang tanah galian (misalnya pada B + C), yang bisa meningkatkan performa lingkungan lebih lanjut.
Implikasi Industri dan Rekomendasi Praktis
🔧 Untuk proyek rumah tinggal di tanah dengan daya dukung rendah dan kadar sulfat tinggi:
🧠 Prinsip Kunci: Teknik perbaikan tanah bukan hanya solusi teknis, tapi juga alat strategis untuk pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulan
Penelitian ini menawarkan kerangka evaluasi kuat berbasis MCDM (ELECTRE IS, TOPSIS, COPRAS) yang dapat direplikasi pada proyek lain. Pemilihan metode perbaikan tanah bukan hanya soal kekuatan teknik, tetapi juga soal:
Dari kelima opsi, konsolidasi dengan penambatan balok pracetak (CNJ) menempati posisi tertinggi secara keseluruhan. Metode ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dicapai dengan pendekatan inovatif yang tetap ekonomis dan ramah lingkungan.
Sumber : Sánchez-Garrido, A.J., Navarro, I.J., & Yepes, V. (2022). Evaluating the Sustainability of Soil Improvement Techniques in Foundation Substructures. Journal of Cleaner Production, 351, 131463.
Industri Kontruksi
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 23 April 2025
Dunia konstruksi sedang mengalami revolusi digital yang luar biasa. Di satu sisi, pendekatan Lean Construction (LC) menekankan penghapusan pemborosan dan peningkatan nilai. Di sisi lain, Artificial Intelligence (AI), terutama Machine Learning (ML), menjanjikan prediksi yang akurat, efisiensi otomatisasi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Artikel tinjauan sistematik dari Velezmoro-Abanto dan koleganya ini menjadi titik temu penting antara keduanya—mengungkap bagaimana integrasi LC dan AI mengubah wajah manajemen proyek konstruksi (PM).
Dengan menggunakan pendekatan PRISMA, penulis berhasil menyaring 63 artikel kunci dari 43.654 publikasi global untuk mengidentifikasi tren, alat, manfaat, dan tantangan integrasi ini.
Peta Literatur Global: Di Mana Penelitian Ini Berkembang?
Studi ini mencatat bahwa publikasi terkait LC dan AI meningkat signifikan sejak 2018, dengan puncaknya pada tahun 2022. Secara geografis, Tiongkok dan Inggris memimpin dengan masing-masing 12 dan 10 publikasi, diikuti oleh India dan Spanyol (masing-masing 4). Ini menunjukkan bahwa adopsi AI dalam konstruksi bukan hanya tren Barat, tapi juga telah menyebar luas ke Asia dan Amerika Selatan.
Scopus menjadi basis data paling dominan (63% dari total artikel), menegaskan kualitas akademik dari sumber-sumber yang dikaji.
Apa Saja Alat Lean yang Paling Populer?
Dari 24 strategi dan alat LC yang diidentifikasi, beberapa yang paling sering digunakan dalam manajemen proyek konstruksi adalah:
Selain itu, alat seperti 5S, Value Stream Mapping (VSM), dan Takt Time mulai banyak digunakan dalam proyek berskala menengah.
Bagaimana AI Masuk ke Dunia Konstruksi?
AI, khususnya ML, membawa kemampuan luar biasa dalam mengolah data besar, memprediksi keterlambatan, meminimalkan risiko, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya. Berikut adalah beberapa teknik AI yang paling banyak digunakan dalam artikel yang ditinjau:
AI tidak hanya digunakan untuk prediksi teknis, tetapi juga dalam peningkatan komunikasi antartim, pelatihan, dan pengawasan keamanan kerja secara real-time.
Studi Kritis: Apa Manfaat Kombinasi LC dan AI?
Para penulis mengelompokkan manfaat utama kombinasi LC dan AI ke dalam empat kategori besar:
1. Efisiensi Operasional
2. Kualitas dan Keselamatan
3. Optimasi Jadwal dan Anggaran
4. Manajemen Risiko
Studi menemukan bahwa integrasi ini tidak hanya meningkatkan performa proyek, tapi juga membentuk sistem manajemen yang lebih tangkas dan prediktif.
Apa Saja Tantangan Implementasinya?
Namun, seperti teknologi baru lainnya, integrasi LC dan AI bukan tanpa tantangan. Beberapa hambatan utama yang diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi:
Rekomendasi: Apa Langkah Selanjutnya?
Penulis menyarankan lima arah strategis untuk mengakselerasi implementasi integrasi LC dan AI:
Opini Kritis: Antara Janji dan Realisasi
Artikel ini menyajikan tinjauan yang sangat luas dan mendalam tentang lanskap integrasi LC dan AI dalam manajemen proyek konstruksi. Namun, masih ada ruang untuk eksplorasi lebih lanjut—terutama dalam pengujian solusi di proyek nyata dan pengembangan platform praktis berbasis data terbuka.
Sebagai contoh, meskipun ANN disebut-sebut sebagai algoritma paling populer, efektivitasnya bisa sangat bergantung pada jenis proyek, skala, dan ketersediaan data berkualitas. Oleh karena itu, penting untuk menghindari pendekatan “one-size-fits-all” dalam memilih teknik AI.
Penutup: Masa Depan Konstruksi Ada di Persimpangan Lean dan AI
Integrasi antara Lean Construction dan Artificial Intelligence bukan sekadar kombinasi dua buzzword. Ini adalah transformasi sistemik menuju cara kerja yang lebih cerdas, efisien, dan kolaboratif. Seiring perkembangan teknologi dan kesiapan industri, kombinasi ini bisa menjadi fondasi dari industri konstruksi 5.0—di mana efisiensi operasional, keberlanjutan, dan prediktabilitas proyek menjadi standar baru.
Bagi pemangku kepentingan di industri konstruksi—mulai dari pengembang, konsultan, hingga akademisi—saatnya tidak hanya memahami teori ini, tetapi juga berinvestasi dalam implementasi nyatanya.
Sumber asli:
Velezmoro-Abanto, L., Cuba-Lagos, R., Taico-Valverde, B., Iparraguirre-Villanueva, O., & Cabanillas-Carbonell, M. (2024). Lean Construction Strategies Supported by Artificial Intelligence Techniques for Construction Project Management—A Review. International Journal of Online and Biomedical Engineering (iJOE), 20(3), 99–114.
Building Information Modeling
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 23 April 2025
Building Information Modeling (BIM) semakin diakui sebagai game-changer dalam industri konstruksi global. Teknologi ini tidak hanya menyediakan model 3D yang informatif, tapi juga mengintegrasikan berbagai fase proyek, dari perencanaan hingga operasi dan pemeliharaan. BIM menjanjikan efisiensi biaya, pengurangan pekerjaan ulang, dan peningkatan kolaborasi antarpihak.
Namun, di Indonesia, meski implementasi BIM mulai digalakkan—termasuk pada proyek strategis nasional seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN)—nyatanya proses adopsinya masih jauh dari ideal. Penelitian oleh Latupeirissa dkk. mengupas secara mendalam tantangan-tantangan nyata yang dihadapi dalam mengimplementasikan BIM pada proyek konstruksi nasional.
Studi Kasus Nasional: Apa Kata Praktisi Proyek?
Penelitian ini melibatkan 45 responden dari beragam latar belakang—pemilik proyek, konsultan, kontraktor swasta dan BUMN—dengan pengalaman kerja dominan di atas lima tahun. Mereka tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan telah terlibat dalam proyek konstruksi yang mencoba menerapkan BIM, meskipun belum semua berhasil sepenuhnya.
Melalui pendekatan survei kuantitatif dan analisis korelasi linear, penelitian ini mengidentifikasi tujuh tantangan utama yang menjadi penghambat implementasi BIM secara efektif.
Tujuh Tantangan Besar Implementasi BIM di Indonesia
Studi Kualitatif Tambahan: BIM dalam Proyek-Proyek Nasional
Penelitian ini menyoroti implementasi BIM pada beberapa proyek pemerintah yang patut dicermati:
Namun sayangnya, keberhasilan proyek-proyek ini tidak sepenuhnya merefleksikan kondisi nasional. Implementasi BIM di sektor swasta dan proyek kecil-menengah masih jauh tertinggal, terutama karena hambatan budaya, biaya, dan SDM.
Rekomendasi Strategis untuk Mendorong Implementasi BIM
Dari hasil analisis dan wawancara, beberapa langkah strategis dapat disimpulkan:
Penutup: BIM Bukan Lagi Pilihan, Tapi Keniscayaan
Transformasi digital dalam industri konstruksi bukan sekadar tren global, tetapi kebutuhan yang mendesak. Indonesia punya potensi besar memanfaatkan BIM, namun jalan menuju ke sana masih penuh tantangan.
Penelitian ini menyajikan gambaran komprehensif dan realistis tentang kondisi implementasi BIM di Indonesia. Jika ketujuh tantangan utama yang diidentifikasi dapat diatasi secara bertahap dan terstruktur, bukan tidak mungkin BIM akan menjadi standar baru dalam setiap proyek konstruksi nasional.
Dan lebih dari itu, Indonesia bisa tampil sebagai pelopor transformasi digital di sektor konstruksi kawasan Asia Tenggara.
Sumber asli:
Latupeirissa, J. E., Arrang, H., & Wong, I. L. K. (2024). Challenges of Implementing Building Information Modeling in Indonesia Construction Projects. Engineering and Technology Journal, Volume 9, Issue 04, April 2024, pp. 3863–3871.
Teknik Industri
Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 22 April 2025
Rekayasa Sistem (SE) tumpang tindih dengan banyak bidang, seperti Teknik Industri (IE), Manajemen Rekayasa, Riset Operasi, Manajemen Proyek, dan Rekayasa Desain. Faktanya, badan pengetahuan utama Teknik Industri, yang disebut Industrial and Systems Engineering Body of Knowledge (ISEBoK) (IISE 2021), menyertakan kata “sistem” dalam judulnya dan menyertakan bagian tentang desain dan rekayasa sistem, yang merujuk pada SEBoK. Artikel ini menjelaskan persamaan dan perbedaan antara SE dan IE berdasarkan standar, buku pedoman, dan badan pengetahuan masing-masing. Berdasarkan penilaian ini, artikel ini menjelaskan peran potensial yang dilakukan oleh insinyur sistem dan insinyur industri selama siklus hidup sistem.
Pendahuluan
Ketika insinyur sistem dan insinyur industri berada dalam organisasi yang sama, mereka memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda. Meskipun jabatan pekerjaan berbeda-beda di setiap organisasi, banyak organisasi yang memiliki individu yang melakukan aktivitas SE dan IE. Artikel ini mencoba untuk membantu insinyur sistem dan insinyur industri untuk lebih memahami perspektif yang berbeda dari bidang tersebut dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan pelanggan mereka. Artikel ini membandingkan penggunaan standar internasional dan isi dari badan pengetahuan untuk SE dan IE.
Rekayasa sistem
International Council on Systems Engineering (INCOSE) adalah “organisasi keanggotaan nirlaba yang didirikan untuk mengembangkan dan menyebarluaskan prinsip-prinsip dan praktik-praktik interdisipliner yang memungkinkan terwujudnya sistem yang sukses.” INCOSE mendefinisikan rekayasa sistem sebagai
pendekatan transdisipliner dan integratif untuk memungkinkan realisasi, penggunaan, dan penghentian sistem rekayasa yang berhasil, dengan menggunakan prinsip dan konsep sistem, serta metode ilmiah, teknologi, dan manajemen. (INCOSE 2021)
Di sini, istilah “rekayasa” dan “rekayasa” digunakan dalam arti yang paling luas: “tindakan bekerja dengan penuh seni untuk menghasilkan sesuatu.” “Sistem rekayasa” dapat terdiri dari salah satu atau semua orang, produk, layanan, informasi, proses, dan elemen alam.
INCOSE menyelaraskan Buku Panduan SE-nya dengan ISO/IEC/IEEE 15288, Proses Siklus Hidup Sistem, yang berfokus pada proses. SEBoK Bagian 3 Rekayasa dan Manajemen Sistem, yang membahas proses teknis dan manajemen SE utama, juga diatur di sekitar area proses 15288. Dalam pandangan ini, SE berorientasi pada proses. Setiap edisi Buku Panduan SE selaras dengan edisi ISO/IEC/IEEE 15288. Gambar 1 menunjukkan proses 15288 dan bagaimana proses tersebut selaras dengan area topik SE Handbook dan SEBoK. Kemudian dalam artikel ini, topik dan area pengetahuan SEBoK ini dibandingkan dengan area pengetahuan IE. Area pengetahuan pada Gambar 1 selaras dengan siklus hidup sistem jika dimulai dari bagian atas kolom pertama dan dilintasi ke bawah, dilanjutkan di bagian bawah kolom kedua dan dilintasi ke atas, dan kemudian dilanjutkan di bagian bawah kolom ketiga dan dilintasi ke atas.
![]()
Sumber: sebokwiki.org Gambar 1. Topik Teknis Area Pengetahuan SEBoK yang Dipetakan ke Proses Teknis ISO/IEC/IEEE 15288. (SEBoK 2022)
Teknik industri
Institute of Industrial and Systems Engineers (IISE) menyatakan bahwa mereka adalah “satu-satunya masyarakat profesional internasional, nirlaba, yang didedikasikan untuk memajukan keunggulan teknis dan manajerial para insinyur industri.” (IISE 2021). IISE dimulai pada tahun 1948 sebagai Institut Insinyur Industri Amerika. Pada tahun 1981, organisasi ini berganti nama menjadi Institute of Industrial Engineers untuk mencerminkan keanggotaan internasionalnya yang terus berkembang. Pada tahun 2016, para anggota memilih untuk mengubah nama menjadi Institute of Industrial and Systems Engineers. Penambahan ini mencerminkan suara dari para anggotanya dan selaras dengan “perubahan ruang lingkup profesi yang, dengan tetap mempertahankan basis industrinya, telah melihat lebih banyak insinyur industri dan sistem yang bekerja dengan sistem terintegrasi berskala besar di berbagai sektor”.
Pada pergantian abad ini, teknik industri tercermin dengan baik dalam dua publikasi terkemuka: Buku Pegangan Teknik Industri (Salvendy 2001) dan edisi kelima Buku Pegangan Teknik Industri Maynard (Zandin 2001). Salvendy (2001) menyatakan bahwa insinyur industri dilatih untuk merancang dan menganalisis komponen-komponen yang menyusun sistem manusia-mesin. Mereka menyatukan elemen-elemen individual yang dirancang melalui disiplin ilmu teknik lainnya dan mensinergikan subsistem-subsistem ini secara tepat bersama dengan komponen-komponen manusia untuk sebuah sistem manusia-mesin yang terintegrasi secara menyeluruh. Insinyur industri berfokus pada peningkatan sistem apa pun yang sedang dirancang atau dievaluasi. Mereka membuat tugas manusia menjadi lebih produktif dan efisien dengan mengoptimalkan aliran, menghilangkan gerakan yang tidak perlu, memanfaatkan bahan alternatif untuk meningkatkan manufaktur, meningkatkan aliran produk melalui proses, dan mengoptimalkan konfigurasi ruang kerja. Pada dasarnya, insinyur industri bertugas untuk mengurangi biaya dan meningkatkan profitabilitas dengan memastikan penggunaan sumber daya manusia, material, fisik, dan/atau keuangan secara efisien.
Pandangan IE telah berkembang selama dua dekade terakhir. IISE mengembangkan IISE Body of Knowledge pada tahun 2021 (IISE 2021). Edisi keenam dari Buku Pegangan Teknik Industri Maynard (Zandin 2022) diharapkan akan diterbitkan pada tahun 2022. IISEBoK memiliki 14 bidang pengetahuan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. 13 area pengetahuan pertama mengidentifikasi pengetahuan Teknik Industri. Bidang keempat belas adalah Desain dan Rekayasa Sistem, yang mengacu pada SEBoK. IISEBoK memberikan penjelasan singkat tentang setiap area pengetahuan, garis besar topik area pengetahuan, dan daftar referensi. IISEBoK tidak menggunakan standar sebagai dasarnya. Faktanya, Standard Practice for Systems Safety (MIL-STD-0-882D) adalah satu-satunya standar yang dikutip di bagian referensi. IISE saat ini tidak memiliki buku panduan yang dikembangkan oleh atau untuk Institut, meskipun Zandin (2022) diharapkan dapat menyelaraskan dengan IISEBoK.
![]()
Sumber: sebokwiki.org Gambar 2. Area Pengetahuan Rekayasa Industri dan Sistem (IISE 2022, Digunakan dengan Izin) [1]
14 area topik yang termasuk dalam IISEBoK dapat dikaitkan dengan banyak standar internasional meskipun IISEBoK tidak menggunakan standar sebagai fondasinya atau memberikan referensi ke standar di sebagian besar area topiknya.
Perbandingan diagram venn
Bagian ini membandingkan kedua badan pengetahuan tersebut. Gambar 3 adalah Diagram Venn yang mengidentifikasi area pengetahuan yang biasanya dilakukan oleh insinyur sistem, yang biasanya dilakukan oleh insinyur industri, dan yang digunakan oleh kedua disiplin ilmu.
![]()
Sumber: sebokwiki.org Gambar 3. Diagram Venn (SEBoK Original
Terdapat 11 area pengetahuan utama SE, 7 area pengetahuan utama IE, dan 12 area pengetahuan yang tumpang tindih. Tabel 1 memberikan beberapa contoh ilustrasi tentang perbedaan fokus SE dan IE dalam area pengetahuan yang tumpang tindih.





Sumber: sebokwiki.org
Peran dalam Siklus Hidup Sistem
Insinyur sistem dan insinyur industri memainkan peran penting dalam siklus hidup sistem. Gambar 4 memodifikasi format dari Buede dan Miller (2016). Gambar tersebut menunjukkan tahapan siklus hidup sistem dan, berdasarkan analisis pada bagian sebelumnya, mengidentifikasi dan merangkum peran utama insinyur sistem, insinyur industri, dan insinyur desain. Beberapa proses telah digabungkan untuk menyederhanakan gambar.
![]()
Sumber: sebokwiki.org
Disadur dari: sebokwiki.org
Teknik Industri
Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 22 April 2025
Apa itu HIRA?
Studi identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRA) menawarkan pendekatan sistematis untuk menilai bahaya dan risiko terkait. HIRA Safety membantu menentukan tujuan dari bahaya yang teridentifikasi dan memberikan teknik untuk mengelola risiko.
Apa yang dimaksud dengan risiko HIRA?
Ini adalah proses komprehensif penilaian bahaya, pemeriksaan risiko, dan estimasi risiko. HIRA digunakan untuk mengidentifikasi potensi bahaya dalam suatu proses atau sistem yang dapat menyebabkan kecelakaan besar, cedera, atau kerusakan lingkungan.
Setelah bahaya diidentifikasi, tim HIRA akan menilai tingkat keparahan dan kemungkinan bahaya tersebut.
Tingkat keparahan suatu bahaya adalah ukuran dari konsekuensi potensial dari bahaya, seperti jumlah orang yang dapat terluka atau intensitas kerusakan yang dapat ditimbulkan. Kemungkinan bahaya adalah ukuran seberapa besar kemungkinan bahaya tersebut terjadi.
Tim HIRA mengembangkan rekomendasi untuk menghilangkan risiko. Hal ini dapat mencakup:
Risiko HIRA dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, seperti:
Mengapa HIRA penting?
Dengan mengidentifikasi dan menilai risiko, HIRA dapat membantu mengurangi kemungkinan dan tingkat keparahan Kecelakaan, Cedera, dan Kerusakan Lingkungan yang besar. Ini membantu kita:
HIRA dan HAZOP
HIRA dan HAZOP adalah teknik identifikasi bahaya yang digunakan dalam keselamatan Proses.
HIRA (Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko) adalah metode terstruktur untuk mendeteksi dan mengevaluasi bahaya dalam fasilitas/sistem proses. HIRA mendeteksi potensi risiko yang dapat menyebabkan kecelakaan, cedera, atau kerusakan lingkungan. HIRA merupakan teknik sederhana dan mudah yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahaya dalam berbagai operasi.
HAZOP (Hazard and Operational Study) adalah pendekatan yang lebih luas dan ketat untuk identifikasi dan penilaian bahaya. Tim HAZOP menggunakan seperangkat pedoman untuk mendeteksi potensi penyimpangan dari desain atau operasi yang direncanakan. Tim ini kemudian menganalisis tingkat keparahan dan kemungkinan setiap penyimpangan dan menyarankan solusi mitigasi. HAZOP merupakan prosedur yang lebih rumit dan memakan waktu dibandingkan HIRA, namun juga lebih menyeluruh dan efektif.
Data studi HIRA dan HAZOP dapat digunakan untuk membuat rencana manajemen risiko yang komprehensif. Rencana manajemen risiko harus mengidentifikasi Bahaya, menganalisis risiko, dan membuat rekomendasi mitigasi.
Organisasi dapat meningkatkan keamanan fasilitas proses mereka dan mengurangi risiko kecelakaan besar, cedera, dan kerusakan lingkungan dengan menggabungkan HIRA dengan HAZOP.
Ada berapa jenis HIRA?
Berikut ini adalah jenis-jenis penilaian risiko, Ada tiga jenis penilaian risiko yaitu Penilaian Risiko Dasar, Penilaian Risiko Berbasis Masalah, dan Penilaian Risiko Berkelanjutan.
Penilaian risiko dasar (baseline risk assessments):
Penilaian risiko baseline dilakukan untuk mengidentifikasi risiko yang terjadi pada saat pertama kali, Berdasarkan output dari penilaian risiko Baseline, aspek atau masalah yang pasti akan ditekankan. Penilaian risiko Baseline harus ditinjau pada intermisi yang direncanakan untuk memulihkan profil baseline sehingga dapat mengurangi risiko Keselamatan HIRA dalam suatu organisasi.
Penilaian risiko berbasis masalah:
Penilaian risiko berbasis masalah akan dilakukan karena aspek atau masalah yang ditekankan, terjadinya proses baru, pemasangan mesin baru, atau penilaian Bahaya yang sedang berlangsung dalam suatu organisasi.
Penilaian risiko berkelanjutan:
Penilaian risiko berkelanjutan merupakan bagian dari semua inspeksi dan observasi yang dilakukan secara rutin.
Apa saja 3 fase HIRA?
Fase 1: identifikasi bahaya
Pada fase ini, semua insiden yang mungkin terjadi ditentukan dan dikatalogkan. Kunjungan lapangan dan studi tentang semua prosedur yang terkait dengan Operasi dan dokumen Input seperti Gambar dan Proses digunakan dalam identifikasi Bahaya.
Fase 2: penilaian risiko HIRA
Masukan yang dibutuhkan
HIRA sangat bergantung pada ketersediaan dan keakuratan data input, Ketika dilengkapi dengan data Input yang lengkap, keyakinan yang lebih tinggi pada validitas dan ketahanan hasil akan diperoleh. Contoh pengumpulan data akan dikhususkan untuk operasi, desain bangunan, tingkat hunian personel/penduduk.
Metodologi penilaian risiko

Sumber: ifluids.com
Penilaian Risiko HIRA digunakan untuk manajemen risiko dan peningkatan keselamatan di beberapa industri. Metode ini memberikan penilaian kuantitatif terhadap potensi risiko yang diketahui dan memberikan dasar untuk mengevaluasi keselamatan proses dengan mengacu pada kriteria penerimaan risiko yang direncanakan.
Metode studi ini merupakan kombinasi dari identifikasi, analisis dan brain storming berdasarkan bahaya yang diidentifikasi yang dibagi menjadi empat bagian utama yang berisi beberapa kategori. Kategori yang berlaku secara umum adalah;
Tahap 3: penghapusan risiko
Bahaya yang telah diketahui akan didaftar dan diperiksa dalam matriks risiko untuk memahami pentingnya risiko, kontrol/tindakan pengamanan akan dijelaskan berdasarkan peringkat risiko dan akhirnya rekomendasi akan diberikan untuk mencegah/menghilangkan potensi bahaya. Matriks risiko yang digunakan untuk studi ini diberikan di bawah ini




Sumber: ifluids.com
Apa saja 5 tahap penilaian risiko utama?
Disadur dari: ifluids.co