Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah

Peneliti Menguji Pengaruh Pencemaran Minyak terhadap Pola Runtuh Tanah Gipsum pada Fondasi Bangunan

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 23 April 2025


Tanah gipsum yang meliputi sekitar 30% wilayah Irak dikenal rentan amblas saat basah. Ketika terkena air, gipsum larut dan meninggalkan pori besar, menyebabkan fondasi bangunan tidak stabil. Penelitian oleh Jawad dan Jahanger (2024) mencoba memahami pengaruh kontaminasi minyak—khususnya kerosin—terhadap pola runtuh dan deformasi tanah gipsum. Studi ini memadukan pendekatan eksperimental dan simulasi numerik untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap interaksi tanah-fondasi dalam kondisi kontaminasi minyak.

Latar Belakang: Mengapa Tanah Gipsum Perlu Diteliti?

  • Sifat collapsible: Tanah gipsum keras saat kering, tapi sangat lemah bila jenuh air.
  • Ancaman infrastruktur: Dapat menyebabkan keruntuhan mendadak bangunan, bendungan, dan jalan.
  • Kurangnya data deformasi mikroskopik: Sebagian besar studi sebelumnya hanya fokus pada persentase ambles, bukan pola deformasi aktual.

Metodologi: Dua Pendekatan, Satu Tujuan

1. Eksperimen Laboratorium

  • Menggunakan gipsum berpasir dari Fallujah, Irak, dengan kadar gipsum 25%.
  • Menguji berbagai kondisi:
    • Kering
    • Jenuh air
    • Terkontaminasi kerosin 3%, 6%, 9%
  • Teknik: Uji geser langsung dan Particle Image Velocimetry (PIV)

2. Simulasi Plaxis 3D

  • Model elemen hingga menggunakan Mohr-Coulomb.
  • Memperkirakan gaya geser, perpindahan vertikal, dan deformasi tanah.

Temuan Utama: Apa yang Terjadi Saat Kerosin Dicampur ke Tanah?

⚙️ Karakteristik Tanah

  • Kepadatan kering maksimum: 1.69 g/cm³
  • Sudut geser dalam kondisi kering: 35,7°
  • Koefisien kolaps alami (Cp): 5,217% (tergolong high collapsibility)

Hasil Pengujian: Studi Kasus dan Angka Nyata

Hasil pengujian uji geser langsung menunjukkan pengaruh kadar kerosin terhadap sifat mekanik tanah. Pada kadar kerosin 0% (alami), sudut geser (ϕ) tercatat sebesar 32° dengan kohesi (c) 27 kPa. Ketika kadar kerosin meningkat menjadi 3%, sudut geser meningkat menjadi 35,04° sementara kohesi menurun menjadi 18,24 kPa. Pada kadar 6%, sudut geser sedikit menurun menjadi 34° dengan kohesi yang juga berkurang menjadi 22,87 kPa. Namun, pada kadar kerosin 9%, sudut geser kembali meningkat menjadi 36,13°, tetapi kohesi mengalami penurunan signifikan hingga 7,76 kPa. Analisis ini menunjukkan bahwa penambahan kerosin dapat meningkatkan sudut geser tanah, namun pada saat yang sama, kerosin juga menyebabkan penurunan kohesi akibat pelumasan antar partikel, yang dapat mempengaruhi stabilitas tanah dalam aplikasi geoteknik.

2. Pengaruh Kerosin terhadap Potensi Kolaps (Cp)

  • Tanpa kerosin: 5,217% (kategori tinggi)
  • 3% kerosin: 2,84%
  • 6% kerosin: 2,01%
  • 9% kerosin: 0,95% (kategori tidak bisa runtuh)

Kesimpulan: 9% kerosin sangat efektif mereduksi potensi runtuh.

Hasil Visualisasi Deformasi dengan PIV

Pola Pergerakan Tanah

  • Tanah alami menunjukkan punching shear failure.
  • Tanah terkontaminasi 3% kerosin menunjukkan general shear failure:
    • Zona aktif (1)
    • Zona transisi radial (2)
    • Zona pasif Rankine (3)

Kecepatan dan Arah Pergerakan

  • Peta vektor kecepatan memperlihatkan arah simetris ke bawah dan samping.
  • Pada 3% kerosin, pergerakan menjadi lebih stabil dan terbatas.

Simulasi Plaxis 3D: Validasi Hasil PIV

Simulasi Plaxis 3D dapat digunakan untuk memvalidasi hasil PIV dengan mempertimbangkan kondisi tanah yang berbeda. Perbandingan antara S/B Lab dan S/B Plaxis penting untuk memahami perbedaan hasil analisis dan memastikan akurasi model dalam menggambarkan perilaku tanah di lapangan. 

Hasil simulasi menunjukkan bahwa untuk kondisi tanah kering, rasio S/B Lab sebesar 3,56 berbanding 2,49 pada S/B Plaxis, sedangkan untuk kondisi jenuh, rasio S/B Lab 40,24 berbanding 38,41 pada S/B Plaxis. Perbedaan ini menunjukkan bahwa meskipun ada variasi antara hasil laboratorium dan simulasi, hasil simulasi Plaxis 3D mendekati hasil eksperimen yang diperoleh, yang mendukung validitas model yang digunakan. Dengan demikian, simulasi ini memberikan keyakinan bahwa model dapat diandalkan untuk analisis lebih lanjut dalam proyek geoteknik.

Distribusi Regangan dan Perpindahan

  • Strain horizontal (du/dx) dan vertikal (dv/dy) terdeteksi tinggi di tanah jenuh alami.
  • Setelah pencampuran kerosin 3%:
    • Terjadi pengurangan strain secara signifikan.
    • Membentuk zona geser yang lebih sempit.
    • Menahan laju deformasi bawah beban 200 kPa.

📈 Displacement Vector Maps menunjukkan zona deformasi makin dalam namun terkontrol saat kerosin ditambahkan.

Kritik dan Catatan Tambahan

  • PIV tidak bisa diterapkan optimal untuk tanah dengan 6% kerosin karena viskositas tinggi dan saturasi lambat.
  • Oleh karena itu, Plaxis 3D digunakan sebagai alternatif untuk kasus ini.

Implikasi Praktis bagi Dunia Teknik Sipil

  • Kerosin bisa digunakan sebagai aditif stabilisasi tanah di daerah rawan runtuh.
  • Penerapan dapat dikembangkan pada:
    • Proyek jalan di atas tanah gipsum
    • Fondasi bangunan ringan hingga menengah
    • Perkuatan tanah untuk jembatan dan saluran air

💡 Catatan Lingkungan: Kerosin bukan solusi ramah lingkungan jangka panjang. Perlu riset lanjutan untuk alternatif yang lebih hijau.

Kesimpulan

Penelitian ini mengintegrasikan dua pendekatan—eksperimen visual PIV dan simulasi numerik Plaxis 3D—untuk menganalisis interaksi fondasi-strip pada tanah gipsum dalam berbagai kondisi. Tambahan kerosin hingga 9% terbukti efektif mengurangi potensi runtuh dari kategori tinggi menjadi tidak runtuh. Visualisasi deformasi dengan PIV memberikan wawasan berharga terhadap mekanisme kegagalan tanah, sementara simulasi Plaxis memberikan validasi numerik yang andal.

Sumber :Jawad, H. M., & Jahanger, Z. K. (2024). The Effect of Oil Contaminated on Collapse Pattern in Gypseous Soil Using Particle Image Velocimetry and Simulation. Civil Engineering Journal, 10(7), 2325–2343.

Selengkapnya
Peneliti Menguji Pengaruh Pencemaran Minyak terhadap Pola Runtuh Tanah Gipsum pada Fondasi Bangunan

Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah

Insinyur Mengevaluasi Teknik Perbaikan Tanah untuk Meningkatkan Keberlanjutan Fondasi Bangunan

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 23 April 2025


Fondasi adalah penopang utama struktur bangunan. Namun, kondisi tanah sering kali menjadi tantangan besar. Ketika tanah tidak cukup kuat untuk mendukung fondasi dangkal, biaya bisa melonjak akibat kebutuhan fondasi dalam. Oleh karena itu, perbaikan atau penguatan tanah menjadi pilihan menarik yang dapat mengurangi biaya dan meningkatkan keberlanjutan konstruksi.

Artikel ini mengulas studi oleh Antonio J. Sánchez-Garrido dan koleganya, yang membandingkan lima alternatif desain fondasi rumah tinggal satu lantai, termasuk teknik perbaikan tanah yang berbeda, menggunakan pendekatan multi-criteria decision-making (MCDM) berbasis indikator ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Lima Alternatif Desain Fondasi

Penelitian ini menggunakan kasus rumah tinggal di Jaén, Spanyol. Tanahnya memiliki kapasitas dukung rendah dan kandungan sulfat tinggi yang agresif terhadap beton. Kelima alternatif fondasi yang dianalisis adalah:

  1. REF (Referensi) – Fondasi dalam dengan bor beton (tanpa intervensi perbaikan tanah).
  2. B + C – Pengurugan dan pemadatan kembali tanah sedalam 1,5 meter.
  3. S-CC – Kolom tanah-semen.
  4. RIM – Inklusi kaku dari mikrotiang.
  5. CNJ – Konsolidasi dengan penambatan balok pracetak.

Setiap solusi dievaluasi dari sudut pandang siklus hidup penuh (cradle-to-grave), dengan masa pakai 50 tahun.

Indikator Keberlanjutan yang Digunakan

Tiga dimensi utama keberlanjutan diukur menggunakan 37 indikator:

  • Ekonomi: biaya konstruksi, pengelolaan limbah, biaya pemeliharaan 10 tahun.
  • Lingkungan: dampak terhadap kesehatan manusia, ekosistem, dan ketersediaan sumber daya.
  • Sosial: keselamatan pengguna, kenyamanan pengguna, kesehatan dan keselamatan pekerja, serta penciptaan lapangan kerja lokal.

Studi Kasus: Perbandingan Dampak Ekonomi

Temuan Penting:

  • RIM dan S-CC adalah opsi paling mahal, melebihi biaya REF sebesar +11,2% dan +6,3%.
  • CNJ dan B + C justru mengurangi biaya siklus hidup hingga −15,7% dan −11,3% dibandingkan REF. 

Kesimpulan Ekonomi: CNJ (nailing of precast joists) adalah pilihan paling ekonomis dan efisien untuk proyek ini.

Studi Kasus: Dampak Lingkungan

Hasil Evaluasi:

  • RIM mencetak dampak lingkungan tertinggi, terutama dari sisi penggunaan material dan konsumsi bahan bakar:
    • 10,35 ton beton
    • 2,55 ton baja
    • 3600 liter air
    • 1193 liter diesel
  • CNJ mencetak dampak paling rendah:
    • 10,58 m³ beton
    • 552 liter diesel
    • Tidak ada penggunaan air

📊 Hasil:
REF memiliki dampak lingkungan yang relatif rendah, tetapi hanya CNJ yang secara signifikan mengurangi dampak di semua kategori. Kesimpulan Lingkungan: CNJ unggul jauh dibandingkan semua alternatif.

Studi Kasus: Dampak Sosial

Aspek sosial menilai keselamatan pekerja, kenyamanan pengguna, serta kontribusi terhadap komunitas lokal.

Temuan Sosial Utama:

  • B + C unggul dalam keselamatan kerja karena peralatan standar dan tingkat kebisingan rendah.
  • CNJ menempati posisi kedua karena waktu konstruksi singkat dan metode kerja bersih.
  • REF, S-CC, dan RIM menghadapi penalti karena mesin bor/injeksi yang bising dan mengganggu.

🔎 Indeks Sosial Tertinggi:

  1. B + C (skor: 0.62)
  2. CNJ (skor: 0.59)
  3. S-CC
  4. RIM
  5. REF (skor: 0.43)

Kesimpulan Sosial: B + C paling unggul dari sisi sosial, dengan CNJ sebagai runner-up.

Analisis dan Interpretasi

Penelitian ini menonjol karena menerapkan pendekatan holistik dan kuantitatif terhadap pemilihan teknik perbaikan tanah. Penggunaan 37 indikator dalam 3 dimensi keberlanjutan memberikan gambaran menyeluruh atas performa tiap alternatif. Studi Ini Menunjukkan:

  • Optimalisasi fondasi tidak selalu berarti penggunaan teknologi paling mahal.
  • Kombinasi sederhana seperti B + C atau metode inovatif seperti CNJ justru memberikan performa ekonomi dan lingkungan yang sangat baik.

📌 Kritik:
Studi tidak mempertimbangkan potensi daur ulang tanah galian (misalnya pada B + C), yang bisa meningkatkan performa lingkungan lebih lanjut.

Implikasi Industri dan Rekomendasi Praktis

🔧 Untuk proyek rumah tinggal di tanah dengan daya dukung rendah dan kadar sulfat tinggi:

  • Hindari solusi fondasi dalam mahal jika memungkinkan.
  • Evaluasi opsi perbaikan tanah seperti CNJ dan B + C sebagai prioritas awal.
  • Pertimbangkan efisiensi energi dan waktu konstruksi untuk meminimalisasi dampak sosial-lingkungan.

🧠 Prinsip Kunci: Teknik perbaikan tanah bukan hanya solusi teknis, tapi juga alat strategis untuk pembangunan berkelanjutan.

Kesimpulan

Penelitian ini menawarkan kerangka evaluasi kuat berbasis MCDM (ELECTRE IS, TOPSIS, COPRAS) yang dapat direplikasi pada proyek lain. Pemilihan metode perbaikan tanah bukan hanya soal kekuatan teknik, tetapi juga soal:

  • Biaya jangka panjang
  • Dampak lingkungan
  • Kesejahteraan pekerja dan pengguna

Dari kelima opsi, konsolidasi dengan penambatan balok pracetak (CNJ) menempati posisi tertinggi secara keseluruhan. Metode ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dicapai dengan pendekatan inovatif yang tetap ekonomis dan ramah lingkungan.

Sumber : Sánchez-Garrido, A.J., Navarro, I.J., & Yepes, V. (2022). Evaluating the Sustainability of Soil Improvement Techniques in Foundation Substructures. Journal of Cleaner Production, 351, 131463.

Selengkapnya
Insinyur Mengevaluasi Teknik Perbaikan Tanah untuk Meningkatkan Keberlanjutan Fondasi Bangunan

Industri Kontruksi

Menggabungkan Lean Construction dan Kecerdasan Buatan: Revolusi Manajemen Proyek Konstruksi

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 23 April 2025


Dunia konstruksi sedang mengalami revolusi digital yang luar biasa. Di satu sisi, pendekatan Lean Construction (LC) menekankan penghapusan pemborosan dan peningkatan nilai. Di sisi lain, Artificial Intelligence (AI), terutama Machine Learning (ML), menjanjikan prediksi yang akurat, efisiensi otomatisasi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Artikel tinjauan sistematik dari Velezmoro-Abanto dan koleganya ini menjadi titik temu penting antara keduanya—mengungkap bagaimana integrasi LC dan AI mengubah wajah manajemen proyek konstruksi (PM).

Dengan menggunakan pendekatan PRISMA, penulis berhasil menyaring 63 artikel kunci dari 43.654 publikasi global untuk mengidentifikasi tren, alat, manfaat, dan tantangan integrasi ini.

Peta Literatur Global: Di Mana Penelitian Ini Berkembang?

Studi ini mencatat bahwa publikasi terkait LC dan AI meningkat signifikan sejak 2018, dengan puncaknya pada tahun 2022. Secara geografis, Tiongkok dan Inggris memimpin dengan masing-masing 12 dan 10 publikasi, diikuti oleh India dan Spanyol (masing-masing 4). Ini menunjukkan bahwa adopsi AI dalam konstruksi bukan hanya tren Barat, tapi juga telah menyebar luas ke Asia dan Amerika Selatan.

Scopus menjadi basis data paling dominan (63% dari total artikel), menegaskan kualitas akademik dari sumber-sumber yang dikaji.

Apa Saja Alat Lean yang Paling Populer?

Dari 24 strategi dan alat LC yang diidentifikasi, beberapa yang paling sering digunakan dalam manajemen proyek konstruksi adalah:

  • Last Planner System (LPS)
    Digunakan dalam 13 artikel, menjadi alat lean paling dominan.
  • Building Information Modeling (BIM)
    Muncul dalam 25 artikel. BIM tidak hanya sebagai model visual, tapi juga integrator informasi proyek secara real-time.
  • Just-In-Time (JIT) dan Visual Management (VM)
    Masing-masing disebut dalam lima artikel, menunjukkan popularitasnya dalam meningkatkan efisiensi lapangan.

Selain itu, alat seperti 5S, Value Stream Mapping (VSM), dan Takt Time mulai banyak digunakan dalam proyek berskala menengah.

Bagaimana AI Masuk ke Dunia Konstruksi?

AI, khususnya ML, membawa kemampuan luar biasa dalam mengolah data besar, memprediksi keterlambatan, meminimalkan risiko, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya. Berikut adalah beberapa teknik AI yang paling banyak digunakan dalam artikel yang ditinjau:

  • Artificial Neural Networks (ANN)
    Teknik ML paling populer, mampu mengenali pola dan memprediksi produktivitas proyek.
  • Convolutional Neural Networks (CNN) dan Recurrent Neural Networks (RNN)
    Digunakan dalam pengolahan visual (misalnya CCTV proyek) dan analisis waktu-berjalan.
  • Support Vector Machine (SVM) dan Random Forest (RF)
    Banyak digunakan untuk prediksi biaya, penjadwalan, dan deteksi risiko.
  • Natural Language Processing (NLP)
    Menjadi semakin relevan dalam membaca dokumen teknis dan kontrak otomatis.

AI tidak hanya digunakan untuk prediksi teknis, tetapi juga dalam peningkatan komunikasi antartim, pelatihan, dan pengawasan keamanan kerja secara real-time.

Studi Kritis: Apa Manfaat Kombinasi LC dan AI?

Para penulis mengelompokkan manfaat utama kombinasi LC dan AI ke dalam empat kategori besar:

1. Efisiensi Operasional

  • Pengurangan pemborosan material dan waktu idle.
  • Otomatisasi proses repetitive dan administratif.
  • Optimasi alokasi tenaga kerja dan sumber daya.

2. Kualitas dan Keselamatan

  • Monitoring lapangan secara real-time.
  • Deteksi dini potensi kecelakaan.
  • Laporan proyek otomatis dan akurat.

3. Optimasi Jadwal dan Anggaran

  • Estimasi waktu dan biaya berbasis data historis.
  • Penjadwalan dinamis berdasarkan simulasi ML.
  • Peningkatan profitabilitas melalui alokasi sumber daya optimal.

4. Manajemen Risiko

  • Prediksi kegagalan material atau sistem.
  • Deteksi potensi delay lebih awal.
  • Dukungan keputusan berbasis data probabilistik.

Studi menemukan bahwa integrasi ini tidak hanya meningkatkan performa proyek, tapi juga membentuk sistem manajemen yang lebih tangkas dan prediktif.

Apa Saja Tantangan Implementasinya?

Namun, seperti teknologi baru lainnya, integrasi LC dan AI bukan tanpa tantangan. Beberapa hambatan utama yang diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi:

  • Kualitas Data
    Data proyek yang buruk atau tidak konsisten mengurangi efektivitas model ML.
  • Resistensi Organisasi
    Banyak manajer proyek masih belum percaya dengan keputusan berbasis AI.
  • Kurangnya Tenaga Ahli
    Kombinasi antara pengetahuan konstruksi dan kemampuan teknis AI masih langka.
  • Keterbatasan Infrastruktur Digital
    Terutama pada proyek skala kecil-menengah atau di negara berkembang.
  • Masih Sedikit Studi Kasus Nyata
    Mayoritas studi masih berbentuk simulasi atau proof-of-concept.

Rekomendasi: Apa Langkah Selanjutnya?

Penulis menyarankan lima arah strategis untuk mengakselerasi implementasi integrasi LC dan AI:

  1. Pilot Project Berskala Nyata
    Lakukan uji coba di proyek konstruksi riil untuk validasi.
  2. Pengembangan Platform Hybrid
    Ciptakan tools yang menyatukan dashboard LC dan algoritma ML dalam satu sistem.
  3. Pendidikan dan Pelatihan Terpadu
    Kolaborasi antara universitas dan industri untuk menciptakan talenta lintas bidang.
  4. Standardisasi dan Sertifikasi
    Dibutuhkan standar nasional dan internasional untuk adopsi AI dalam proyek konstruksi.
  5. Cost-Benefit Analysis Rinci
    Proyek perlu menyusun model bisnis berbasis ROI dari integrasi ini.

Opini Kritis: Antara Janji dan Realisasi

Artikel ini menyajikan tinjauan yang sangat luas dan mendalam tentang lanskap integrasi LC dan AI dalam manajemen proyek konstruksi. Namun, masih ada ruang untuk eksplorasi lebih lanjut—terutama dalam pengujian solusi di proyek nyata dan pengembangan platform praktis berbasis data terbuka.

Sebagai contoh, meskipun ANN disebut-sebut sebagai algoritma paling populer, efektivitasnya bisa sangat bergantung pada jenis proyek, skala, dan ketersediaan data berkualitas. Oleh karena itu, penting untuk menghindari pendekatan “one-size-fits-all” dalam memilih teknik AI.

Penutup: Masa Depan Konstruksi Ada di Persimpangan Lean dan AI

Integrasi antara Lean Construction dan Artificial Intelligence bukan sekadar kombinasi dua buzzword. Ini adalah transformasi sistemik menuju cara kerja yang lebih cerdas, efisien, dan kolaboratif. Seiring perkembangan teknologi dan kesiapan industri, kombinasi ini bisa menjadi fondasi dari industri konstruksi 5.0—di mana efisiensi operasional, keberlanjutan, dan prediktabilitas proyek menjadi standar baru.

Bagi pemangku kepentingan di industri konstruksi—mulai dari pengembang, konsultan, hingga akademisi—saatnya tidak hanya memahami teori ini, tetapi juga berinvestasi dalam implementasi nyatanya.

Sumber asli:

Velezmoro-Abanto, L., Cuba-Lagos, R., Taico-Valverde, B., Iparraguirre-Villanueva, O., & Cabanillas-Carbonell, M. (2024). Lean Construction Strategies Supported by Artificial Intelligence Techniques for Construction Project Management—A Review. International Journal of Online and Biomedical Engineering (iJOE), 20(3), 99–114.

 

Selengkapnya
Menggabungkan Lean Construction dan Kecerdasan Buatan: Revolusi Manajemen Proyek Konstruksi

Building Information Modeling

BIM di Indonesia: Jalan Terjal Menuju Transformasi Digital Konstruksi

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 23 April 2025


Building Information Modeling (BIM) semakin diakui sebagai game-changer dalam industri konstruksi global. Teknologi ini tidak hanya menyediakan model 3D yang informatif, tapi juga mengintegrasikan berbagai fase proyek, dari perencanaan hingga operasi dan pemeliharaan. BIM menjanjikan efisiensi biaya, pengurangan pekerjaan ulang, dan peningkatan kolaborasi antarpihak.

Namun, di Indonesia, meski implementasi BIM mulai digalakkan—termasuk pada proyek strategis nasional seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN)—nyatanya proses adopsinya masih jauh dari ideal. Penelitian oleh Latupeirissa dkk. mengupas secara mendalam tantangan-tantangan nyata yang dihadapi dalam mengimplementasikan BIM pada proyek konstruksi nasional.

Studi Kasus Nasional: Apa Kata Praktisi Proyek?

Penelitian ini melibatkan 45 responden dari beragam latar belakang—pemilik proyek, konsultan, kontraktor swasta dan BUMN—dengan pengalaman kerja dominan di atas lima tahun. Mereka tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan telah terlibat dalam proyek konstruksi yang mencoba menerapkan BIM, meskipun belum semua berhasil sepenuhnya.

Melalui pendekatan survei kuantitatif dan analisis korelasi linear, penelitian ini mengidentifikasi tujuh tantangan utama yang menjadi penghambat implementasi BIM secara efektif.

Tujuh Tantangan Besar Implementasi BIM di Indonesia

  1. Kesiapan Teknis BIM
    • Tantangan ini dianggap sangat penting oleh 88,89% responden.
    • BIM menuntut perangkat keras canggih, koneksi internet stabil, dan perangkat lunak berlisensi mahal. Banyak perusahaan, terutama skala menengah dan kecil, belum siap secara infrastruktur.
    • Hasil analisis menunjukkan korelasi kuat antara kesiapan teknis dan keberhasilan implementasi BIM, dengan nilai r = 0,8140.
  2. Perubahan Paradigma Organisasi
    • Sebanyak 91,11% responden mengakui adanya resistensi budaya organisasi terhadap sistem kolaboratif seperti BIM.
    • Banyak manajer proyek masih nyaman dengan metode tradisional dan tidak mendorong timnya untuk berubah.
    • Korelasi antara faktor ini dan adopsi BIM terbilang signifikan (r = 0,5260).
  3. Kesadaran Lingkungan Kerja terhadap BIM
    • Meski lebih dari 93% responden menyatakan sadar akan pentingnya BIM, banyak tim proyek belum mengintegrasikan pengetahuan ini ke dalam rutinitas kerja.
    • BIM sering kali dianggap sebagai tanggung jawab tim desain saja, padahal seharusnya menyentuh semua pihak.
    • Nilai korelasi yang diperoleh r = 0,4730, menunjukkan hubungan moderat namun penting.
  4. Kepatuhan Terhadap Regulasi Terkait BIM
    • Sebanyak 95,56% responden menyoroti kurangnya pemahaman dan penegakan aturan pemerintah terkait standar BIM.
    • Pemerintah sebenarnya sudah mendorong penggunaan BIM pada gedung negara berukuran >2.000 m², namun pelaksanaannya belum merata.
    • Korelasi r = 0,5190 mencerminkan bahwa regulasi yang belum jelas adalah penghambat yang nyata.
  5. Kompetensi dan Keterampilan SDM
    • 95,56% menyatakan bahwa kurangnya pelatihan dan pembinaan teknis adalah hambatan besar.
    • Banyak tenaga kerja konstruksi belum terpapar teknologi digital modern, apalagi BIM yang kompleks.
    • Nilai korelasi r = 0,7420 menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas SDM akan sangat menentukan keberhasilan BIM.
  6. Kepemimpinan yang Konsisten dan Efektif
    • 97,78% responden menyadari pentingnya pemimpin proyek yang mendukung dan konsisten dalam mendorong transformasi digital.
    • Sayangnya, banyak pimpinan proyek masih bertindak otoriter dan tidak membuka ruang kolaborasi.
    • Nilai korelasi yang tinggi (r = 0,8550) menegaskan pentingnya kepemimpinan dalam ekosistem BIM.
  7. Kematangan Penggunaan BIM
    • Seluruh responden (100%) sepakat bahwa belum ada standardisasi atau indikator yang jelas untuk mengukur seberapa “matang” penggunaan BIM dalam proyek mereka.
    • BIM sering kali digunakan hanya untuk visualisasi 3D awal, bukan sebagai alat manajemen proyek komprehensif.
    • Nilai korelasi r = 0,7630 mengindikasikan bahwa semakin matang penggunaan BIM, semakin besar peluang keberhasilan proyek secara menyeluruh.

Studi Kualitatif Tambahan: BIM dalam Proyek-Proyek Nasional

Penelitian ini menyoroti implementasi BIM pada beberapa proyek pemerintah yang patut dicermati:

  • Renovasi Stadion GBK dan Manahan Solo BIM digunakan untuk mengoordinasikan desain struktural dan MEP (mekanikal, elektrikal, plumbing), serta simulasi waktu pelaksanaan.
  • Pembangunan Pasar Atas Bukittinggi dan Arena PON Papua Digunakan untuk clash detection dan optimasi pemanfaatan material bangunan.
  • Proyek IKN Kementerian PUPR menggandeng vendor BIM dari Singapura untuk memastikan pembangunan kota baru berjalan sesuai masterplan digital.

Namun sayangnya, keberhasilan proyek-proyek ini tidak sepenuhnya merefleksikan kondisi nasional. Implementasi BIM di sektor swasta dan proyek kecil-menengah masih jauh tertinggal, terutama karena hambatan budaya, biaya, dan SDM.

Rekomendasi Strategis untuk Mendorong Implementasi BIM

Dari hasil analisis dan wawancara, beberapa langkah strategis dapat disimpulkan:

  1. Pengembangan Standar Nasional
    • Pemerintah perlu mempercepat penyusunan SNI atau regulasi resmi terkait BIM yang berlaku nasional.
    • Sertifikasi kompetensi dan akreditasi vendor BIM perlu diatur secara ketat.
  2. Kampanye Kesadaran dan Pelatihan
    • Sosialisasi manfaat BIM melalui seminar, workshop, dan pelatihan bersertifikat.
    • Libatkan universitas dan politeknik untuk memasukkan BIM dalam kurikulum teknik sipil dan arsitektur.
  3. Subsidi atau Insentif Teknologi
    • Pemerintah bisa memberikan potongan pajak atau subsidi software BIM untuk kontraktor lokal.
    • Kemitraan dengan penyedia teknologi juga perlu didorong untuk skema sewa atau cloud-based software yang lebih murah.
  4. Penguatan Kepemimpinan Proyek
    • Latih project manager untuk memiliki mindset digital leadership.
    • Tinjau ulang struktur organisasi agar lebih horizontal dan kolaboratif.

Penutup: BIM Bukan Lagi Pilihan, Tapi Keniscayaan

Transformasi digital dalam industri konstruksi bukan sekadar tren global, tetapi kebutuhan yang mendesak. Indonesia punya potensi besar memanfaatkan BIM, namun jalan menuju ke sana masih penuh tantangan.

Penelitian ini menyajikan gambaran komprehensif dan realistis tentang kondisi implementasi BIM di Indonesia. Jika ketujuh tantangan utama yang diidentifikasi dapat diatasi secara bertahap dan terstruktur, bukan tidak mungkin BIM akan menjadi standar baru dalam setiap proyek konstruksi nasional.

Dan lebih dari itu, Indonesia bisa tampil sebagai pelopor transformasi digital di sektor konstruksi kawasan Asia Tenggara.

Sumber asli:

Latupeirissa, J. E., Arrang, H., & Wong, I. L. K. (2024). Challenges of Implementing Building Information Modeling in Indonesia Construction Projects. Engineering and Technology Journal, Volume 9, Issue 04, April 2024, pp. 3863–3871.

Selengkapnya
BIM di Indonesia: Jalan Terjal Menuju Transformasi Digital Konstruksi

Teknik Industri

Teknik Sistem dan Teknik Industri

Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 22 April 2025


Rekayasa Sistem (SE) tumpang tindih dengan banyak bidang, seperti Teknik Industri (IE), Manajemen Rekayasa, Riset Operasi, Manajemen Proyek, dan Rekayasa Desain. Faktanya, badan pengetahuan utama Teknik Industri, yang disebut Industrial and Systems Engineering Body of Knowledge (ISEBoK) (IISE 2021), menyertakan kata “sistem” dalam judulnya dan menyertakan bagian tentang desain dan rekayasa sistem, yang merujuk pada SEBoK. Artikel ini menjelaskan persamaan dan perbedaan antara SE dan IE berdasarkan standar, buku pedoman, dan badan pengetahuan masing-masing. Berdasarkan penilaian ini, artikel ini menjelaskan peran potensial yang dilakukan oleh insinyur sistem dan insinyur industri selama siklus hidup sistem.

Pendahuluan

Ketika insinyur sistem dan insinyur industri berada dalam organisasi yang sama, mereka memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda. Meskipun jabatan pekerjaan berbeda-beda di setiap organisasi, banyak organisasi yang memiliki individu yang melakukan aktivitas SE dan IE. Artikel ini mencoba untuk membantu insinyur sistem dan insinyur industri untuk lebih memahami perspektif yang berbeda dari bidang tersebut dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan pelanggan mereka. Artikel ini membandingkan penggunaan standar internasional dan isi dari badan pengetahuan untuk SE dan IE.

Rekayasa sistem

International Council on Systems Engineering (INCOSE) adalah “organisasi keanggotaan nirlaba yang didirikan untuk mengembangkan dan menyebarluaskan prinsip-prinsip dan praktik-praktik interdisipliner yang memungkinkan terwujudnya sistem yang sukses.” INCOSE mendefinisikan rekayasa sistem sebagai

pendekatan transdisipliner dan integratif untuk memungkinkan realisasi, penggunaan, dan penghentian sistem rekayasa yang berhasil, dengan menggunakan prinsip dan konsep sistem, serta metode ilmiah, teknologi, dan manajemen. (INCOSE 2021)

Di sini, istilah “rekayasa” dan “rekayasa” digunakan dalam arti yang paling luas: “tindakan bekerja dengan penuh seni untuk menghasilkan sesuatu.” “Sistem rekayasa” dapat terdiri dari salah satu atau semua orang, produk, layanan, informasi, proses, dan elemen alam.

INCOSE menyelaraskan Buku Panduan SE-nya dengan ISO/IEC/IEEE 15288, Proses Siklus Hidup Sistem, yang berfokus pada proses. SEBoK Bagian 3 Rekayasa dan Manajemen Sistem, yang membahas proses teknis dan manajemen SE utama, juga diatur di sekitar area proses 15288. Dalam pandangan ini, SE berorientasi pada proses. Setiap edisi Buku Panduan SE selaras dengan edisi ISO/IEC/IEEE 15288. Gambar 1 menunjukkan proses 15288 dan bagaimana proses tersebut selaras dengan area topik SE Handbook dan SEBoK. Kemudian dalam artikel ini, topik dan area pengetahuan SEBoK ini dibandingkan dengan area pengetahuan IE. Area pengetahuan pada Gambar 1 selaras dengan siklus hidup sistem jika dimulai dari bagian atas kolom pertama dan dilintasi ke bawah, dilanjutkan di bagian bawah kolom kedua dan dilintasi ke atas, dan kemudian dilanjutkan di bagian bawah kolom ketiga dan dilintasi ke atas.

Sumber: sebokwiki.org Gambar 1. Topik Teknis Area Pengetahuan SEBoK yang Dipetakan ke Proses Teknis ISO/IEC/IEEE 15288. (SEBoK 2022)

Teknik industri

Institute of Industrial and Systems Engineers (IISE) menyatakan bahwa mereka adalah “satu-satunya masyarakat profesional internasional, nirlaba, yang didedikasikan untuk memajukan keunggulan teknis dan manajerial para insinyur industri.” (IISE 2021). IISE dimulai pada tahun 1948 sebagai Institut Insinyur Industri Amerika. Pada tahun 1981, organisasi ini berganti nama menjadi Institute of Industrial Engineers untuk mencerminkan keanggotaan internasionalnya yang terus berkembang. Pada tahun 2016, para anggota memilih untuk mengubah nama menjadi Institute of Industrial and Systems Engineers. Penambahan ini mencerminkan suara dari para anggotanya dan selaras dengan “perubahan ruang lingkup profesi yang, dengan tetap mempertahankan basis industrinya, telah melihat lebih banyak insinyur industri dan sistem yang bekerja dengan sistem terintegrasi berskala besar di berbagai sektor”.

Pada pergantian abad ini, teknik industri tercermin dengan baik dalam dua publikasi terkemuka: Buku Pegangan Teknik Industri (Salvendy 2001) dan edisi kelima Buku Pegangan Teknik Industri Maynard (Zandin 2001). Salvendy (2001) menyatakan bahwa insinyur industri dilatih untuk merancang dan menganalisis komponen-komponen yang menyusun sistem manusia-mesin. Mereka menyatukan elemen-elemen individual yang dirancang melalui disiplin ilmu teknik lainnya dan mensinergikan subsistem-subsistem ini secara tepat bersama dengan komponen-komponen manusia untuk sebuah sistem manusia-mesin yang terintegrasi secara menyeluruh. Insinyur industri berfokus pada peningkatan sistem apa pun yang sedang dirancang atau dievaluasi. Mereka membuat tugas manusia menjadi lebih produktif dan efisien dengan mengoptimalkan aliran, menghilangkan gerakan yang tidak perlu, memanfaatkan bahan alternatif untuk meningkatkan manufaktur, meningkatkan aliran produk melalui proses, dan mengoptimalkan konfigurasi ruang kerja. Pada dasarnya, insinyur industri bertugas untuk mengurangi biaya dan meningkatkan profitabilitas dengan memastikan penggunaan sumber daya manusia, material, fisik, dan/atau keuangan secara efisien.

Pandangan IE telah berkembang selama dua dekade terakhir. IISE mengembangkan IISE Body of Knowledge pada tahun 2021 (IISE 2021). Edisi keenam dari Buku Pegangan Teknik Industri Maynard (Zandin 2022) diharapkan akan diterbitkan pada tahun 2022. IISEBoK memiliki 14 bidang pengetahuan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. 13 area pengetahuan pertama mengidentifikasi pengetahuan Teknik Industri. Bidang keempat belas adalah Desain dan Rekayasa Sistem, yang mengacu pada SEBoK. IISEBoK memberikan penjelasan singkat tentang setiap area pengetahuan, garis besar topik area pengetahuan, dan daftar referensi. IISEBoK tidak menggunakan standar sebagai dasarnya. Faktanya, Standard Practice for Systems Safety (MIL-STD-0-882D) adalah satu-satunya standar yang dikutip di bagian referensi. IISE saat ini tidak memiliki buku panduan yang dikembangkan oleh atau untuk Institut, meskipun Zandin (2022) diharapkan dapat menyelaraskan dengan IISEBoK.

Sumber: sebokwiki.org Gambar 2. Area Pengetahuan Rekayasa Industri dan Sistem (IISE 2022, Digunakan dengan Izin) [1]

14 area topik yang termasuk dalam IISEBoK dapat dikaitkan dengan banyak standar internasional meskipun IISEBoK tidak menggunakan standar sebagai fondasinya atau memberikan referensi ke standar di sebagian besar area topiknya.

Perbandingan diagram venn

Bagian ini membandingkan kedua badan pengetahuan tersebut. Gambar 3 adalah Diagram Venn yang mengidentifikasi area pengetahuan yang biasanya dilakukan oleh insinyur sistem, yang biasanya dilakukan oleh insinyur industri, dan yang digunakan oleh kedua disiplin ilmu.

Sumber: sebokwiki.org Gambar 3. Diagram Venn (SEBoK Original

Terdapat 11 area pengetahuan utama SE, 7 area pengetahuan utama IE, dan 12 area pengetahuan yang tumpang tindih. Tabel 1 memberikan beberapa contoh ilustrasi tentang perbedaan fokus SE dan IE dalam area pengetahuan yang tumpang tindih.

Sumber: sebokwiki.org

Peran dalam Siklus Hidup Sistem

Insinyur sistem dan insinyur industri memainkan peran penting dalam siklus hidup sistem. Gambar 4 memodifikasi format dari Buede dan Miller (2016). Gambar tersebut menunjukkan tahapan siklus hidup sistem dan, berdasarkan analisis pada bagian sebelumnya, mengidentifikasi dan merangkum peran utama insinyur sistem, insinyur industri, dan insinyur desain.  Beberapa proses telah digabungkan untuk menyederhanakan gambar.

Sumber: sebokwiki.org

Disadur dari: sebokwiki.org

Selengkapnya
Teknik Sistem dan Teknik Industri

Teknik Industri

Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (HIRA)

Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 22 April 2025


Apa itu HIRA?

Studi identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRA) menawarkan pendekatan sistematis untuk menilai bahaya dan risiko terkait. HIRA Safety membantu menentukan tujuan dari bahaya yang teridentifikasi dan memberikan teknik untuk mengelola risiko.

Apa yang dimaksud dengan risiko HIRA?

Ini adalah proses komprehensif penilaian bahaya, pemeriksaan risiko, dan estimasi risiko. HIRA digunakan untuk mengidentifikasi potensi bahaya dalam suatu proses atau sistem yang dapat menyebabkan kecelakaan besar, cedera, atau kerusakan lingkungan.

Setelah bahaya diidentifikasi, tim HIRA akan menilai tingkat keparahan dan kemungkinan bahaya tersebut.

Tingkat keparahan suatu bahaya adalah ukuran dari konsekuensi potensial dari bahaya, seperti jumlah orang yang dapat terluka atau intensitas kerusakan yang dapat ditimbulkan. Kemungkinan bahaya adalah ukuran seberapa besar kemungkinan bahaya tersebut terjadi.

Tim HIRA mengembangkan rekomendasi untuk menghilangkan risiko. Hal ini dapat mencakup:

  1. Menghilangkan bahaya sama sekali,
  2. Mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya, atau
  3. Mengurangi tingkat keparahan konsekuensi dari bahaya.

Risiko HIRA dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, seperti:

  1. Risiko proses: Ini adalah risiko yang terkait dengan proses itu sendiri, seperti risiko kebakaran atau ledakan.
  2. Risiko peralatan: Ini adalah risiko yang terkait dengan peralatan yang digunakan dalam proses, seperti risiko kegagalan peralatan.
  3. Risiko faktor manusia: Ini adalah risiko yang terkait dengan kesalahan manusia, seperti risiko pekerja melakukan kesalahan.

Mengapa HIRA penting?

Dengan mengidentifikasi dan menilai risiko, HIRA dapat membantu mengurangi kemungkinan dan tingkat keparahan Kecelakaan, Cedera, dan Kerusakan Lingkungan yang besar. Ini membantu kita:

  1. Untuk menentukan semua faktor yang mungkin dapat membahayakan pekerja.
  2. Untuk menentukan probabilitas insiden dan menganalisis tingkat keparahannya
  3. Mengidentifikasi perlindungan dan kontrol yang ada.
  4. Menilai risiko Keselamatan dan memastikan bahwa risiko tersebut masih dalam batas yang dapat diterima.
  5. Saran untuk mengatasi kemungkinan bahaya

HIRA dan HAZOP

HIRA dan HAZOP adalah teknik identifikasi bahaya yang digunakan dalam keselamatan Proses.

HIRA (Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko) adalah metode terstruktur untuk mendeteksi dan mengevaluasi bahaya dalam fasilitas/sistem proses. HIRA mendeteksi potensi risiko yang dapat menyebabkan kecelakaan, cedera, atau kerusakan lingkungan. HIRA merupakan teknik sederhana dan mudah yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahaya dalam berbagai operasi.

HAZOP (Hazard and Operational Study) adalah pendekatan yang lebih luas dan ketat untuk identifikasi dan penilaian bahaya. Tim HAZOP menggunakan seperangkat pedoman untuk mendeteksi potensi penyimpangan dari desain atau operasi yang direncanakan. Tim ini kemudian menganalisis tingkat keparahan dan kemungkinan setiap penyimpangan dan menyarankan solusi mitigasi. HAZOP merupakan prosedur yang lebih rumit dan memakan waktu dibandingkan HIRA, namun juga lebih menyeluruh dan efektif.

Data studi HIRA dan HAZOP dapat digunakan untuk membuat rencana manajemen risiko yang komprehensif. Rencana manajemen risiko harus mengidentifikasi Bahaya, menganalisis risiko, dan membuat rekomendasi mitigasi.

Organisasi dapat meningkatkan keamanan fasilitas proses mereka dan mengurangi risiko kecelakaan besar, cedera, dan kerusakan lingkungan dengan menggabungkan HIRA dengan HAZOP.

Ada berapa jenis HIRA?

Berikut ini adalah jenis-jenis penilaian risiko, Ada tiga jenis penilaian risiko yaitu Penilaian Risiko Dasar, Penilaian Risiko Berbasis Masalah, dan Penilaian Risiko Berkelanjutan.

Penilaian risiko dasar (baseline risk assessments):

Penilaian risiko baseline dilakukan untuk mengidentifikasi risiko yang terjadi pada saat pertama kali, Berdasarkan output dari penilaian risiko Baseline, aspek atau masalah yang pasti akan ditekankan. Penilaian risiko Baseline harus ditinjau pada intermisi yang direncanakan untuk memulihkan profil baseline sehingga dapat mengurangi risiko Keselamatan HIRA dalam suatu organisasi.

Penilaian risiko berbasis masalah:

Penilaian risiko berbasis masalah akan dilakukan karena aspek atau masalah yang ditekankan, terjadinya proses baru, pemasangan mesin baru, atau penilaian Bahaya yang sedang berlangsung dalam suatu organisasi.

Penilaian risiko berkelanjutan:

Penilaian risiko berkelanjutan merupakan bagian dari semua inspeksi dan observasi yang dilakukan secara rutin.

Apa saja 3 fase HIRA?

Fase 1: identifikasi bahaya

Pada fase ini, semua insiden yang mungkin terjadi ditentukan dan dikatalogkan. Kunjungan lapangan dan studi tentang semua prosedur yang terkait dengan Operasi dan dokumen Input seperti Gambar dan Proses digunakan dalam identifikasi Bahaya.

Fase 2: penilaian risiko HIRA

Masukan yang dibutuhkan

HIRA sangat bergantung pada ketersediaan dan keakuratan data input, Ketika dilengkapi dengan data Input yang lengkap, keyakinan yang lebih tinggi pada validitas dan ketahanan hasil akan diperoleh. Contoh pengumpulan data akan dikhususkan untuk operasi, desain bangunan, tingkat hunian personel/penduduk.

Metodologi penilaian risiko

Metodologi penilaian Risiko HIRA memberikan penilaian kuantitatif terhadap potensi risiko

Sumber: ifluids.com

Penilaian Risiko HIRA digunakan untuk manajemen risiko dan peningkatan keselamatan di beberapa industri. Metode ini memberikan penilaian kuantitatif terhadap potensi risiko yang diketahui dan memberikan dasar untuk mengevaluasi keselamatan proses dengan mengacu pada kriteria penerimaan risiko yang direncanakan.

Metode studi ini merupakan kombinasi dari identifikasi, analisis dan brain storming berdasarkan bahaya yang diidentifikasi yang dibagi menjadi empat bagian utama yang berisi beberapa kategori. Kategori yang berlaku secara umum adalah;

  1. Bagian 1 Bahaya Eksternal dan Lingkungan;
  2. Bagian 2 Bahaya Fasilitas;
  3. Bagian 3 Bahaya Kesehatan dan
  4. Bagian 4 Menilai Risiko terhadap:
  • Manusia
  • Aset / Produksi
  • Lingkungan

Tahap 3: penghapusan risiko

Bahaya yang telah diketahui akan didaftar dan diperiksa dalam matriks risiko untuk memahami pentingnya risiko, kontrol/tindakan pengamanan akan dijelaskan berdasarkan peringkat risiko dan akhirnya rekomendasi akan diberikan untuk mencegah/menghilangkan potensi bahaya. Matriks risiko yang digunakan untuk studi ini diberikan di bawah ini

Sumber: ifluids.com

Apa saja 5 tahap penilaian risiko utama?

  • Menentukan ruang lingkup penilaian risiko.
  • Menentukan sumber daya yang dibutuhkan.
  • Menentukan jenis tindakan analisis risiko.
  • Menentukan pemangku kepentingan yang terlibat.
  • Menentukan peraturan atau standar yang sesuai yang berlaku sesuai kebijakan Organisasi

Disadur dari: ifluids.co

Selengkapnya
Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (HIRA)
« First Previous page 590 of 1.396 Next Last »