Industri Kontruksi

Machinblock Tetrix: Terobosan Blok Interlocking Tanpa Semen untuk Solusi Konstruksi Hemat & Tangguh

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025


Krisis Perumahan dan Inovasi Material Bangunan

Nigeria, seperti banyak negara berkembang lainnya, menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan kebutuhan perumahan rakyat. Biaya material bangunan yang tinggi, waktu konstruksi yang lama, serta kurangnya tenaga kerja terampil memperparah backlog perumahan yang kini menyentuh lebih dari 17 juta unit. Dalam konteks ini, Machinblock Tetrix hadir sebagai solusi inovatif: sistem blok bangunan tanpa semen yang bisa disusun seperti Lego, cepat dipasang, kuat, dan hemat biaya.

Apa Itu Machinblock Tetrix?

Machinblock Tetrix adalah sistem interlocking hollow block (IHB) yang dipasang tanpa mortar. Teknologi ini menggunakan mekanisme tongue-and-groove yang memungkinkan setiap blok saling terkunci secara presisi tanpa perekat tambahan. Sistem ini berasal dari Republik Dominika dan memiliki dua tipe blok utama: tipe A dan tipe B, masing-masing tersedia dalam tinggi 100 mm dan 200 mm. Selain itu, disediakan blok sambungan seperti Connect A-A dan Connect B-B untuk membentuk dinding yang kokoh.

Konstruksi dinding dilakukan dengan cara dry stacking blok cukup ditumpuk mengikuti pola sambungan yang telah dirancang secara geometris. Tidak ada campuran semen yang dibutuhkan kecuali di fondasi awal. Hal ini memungkinkan proses pembangunan yang lebih cepat dan bersih.

Fokus Penelitian: Uji Simulasi dan Eksperimen

Penelitian oleh Babasola Osundina menggunakan pendekatan kombinasi antara uji laboratorium dan simulasi digital menggunakan perangkat lunak Ansys versi 17.0. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana kekuatan tekan, kekuatan tarik, serta stabilitas sambungan dari blok Machinblock Tetrix.

Blok diuji berdasarkan:

  • Kuat tekan pada usia 7 dan 28 hari,
  • Kuat tarik belah untuk menilai ketahanan terhadap gaya lateral,
  • Simulasi deformasi dan geseran pada titik sambungan menggunakan finite element analysis (FEA).

Hasil Menakjubkan dari Uji Teknis

Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua jenis blok Machinblock Tetrix memiliki kekuatan tekan yang melebihi standar internasional (ASTM dan NIS) yang disyaratkan sebesar 3,45 N/mm². Misalnya, pada usia 28 hari, blok tipe A setinggi 200 mm memiliki kekuatan tekan hingga 6,22 N/mm², sedangkan blok tipe B setinggi 200 mm mencapai 5,43 N/mm². Hasil ini sangat signifikan, terutama karena blok ini tidak memerlukan mortar dan tetap mempertahankan kekuatan struktural yang tinggi.

Simulasi menggunakan Ansys juga memberikan hasil yang konsisten, dengan nilai kekuatan tekan sangat dekat dengan uji eksperimen. Deformasi total maksimum yang tercatat dari simulasi hanya 0,12 mm, dan sliding antar sambungan juga sangat kecil, menunjukkan bahwa sistem sambungan antarblok sangat stabil.

Untuk uji kuat tarik, hasil eksperimen bahkan menunjukkan performa lebih tinggi dibandingkan dengan hasil simulasi. Pada usia 28 hari, kuat tarik rata-rata mencapai 0,36 N/mm², sedangkan hasil simulasi berada di kisaran 0,13 hingga 0,30 N/mm². Ini menandakan bahwa sistem sambungan fisik Machinblock sangat efektif dalam menahan gaya tarik.

Keunggulan Machinblock Dibandingkan Sistem Konvensional

Beberapa keunggulan utama dari Machinblock Tetrix yang ditemukan dalam studi ini adalah:

  1. Efisiensi Biaya dan Waktu
    Karena tidak memerlukan mortar, biaya pembelian semen dan pasir bisa ditekan drastis. Pekerjaan penyusunan blok juga lebih cepat karena tidak membutuhkan curing mortar antar lapisan.
  2. Pemasangan Cepat dan Mudah
    Blok dirancang untuk saling mengunci secara otomatis. Ini memudahkan pekerja, bahkan yang belum terlatih sekalipun, untuk melakukan pemasangan dengan cepat dan presisi.
  3. Ramah Lingkungan
    Minimnya kebutuhan semen dan air berarti emisi karbon yang lebih rendah, menjadikan Machinblock sebagai solusi konstruksi berkelanjutan.
  4. Presisi dan Konsistensi
    Sistem sambungan tongue-and-groove menjamin kesesuaian antarblok sehingga dinding lebih lurus dan rapi tanpa perlu banyak penyesuaian manual.

Studi Kasus: Simulasi Dinding Realistis

Dalam studi ini, dilakukan juga simulasi pada sebuah dinding yang dirakit dari kombinasi blok-blok Machinblock Tetrix. Dinding setinggi 400 mm menunjukkan kekuatan tekan melebihi 10 N/mm² dan deformasi sangat kecil. Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini layak digunakan tidak hanya untuk bangunan non-struktural, tapi juga struktur ringan seperti rumah satu lantai, sekolah darurat, atau bangunan modular.

Perbandingan dengan Teknologi Sejenis

Teknologi interlocking block bukan hal baru. Sistem seperti Hydraform, Thai Brick, dan Mecano Block telah digunakan di berbagai negara. Namun, Machinblock Tetrix memiliki keunikan karena:

  • Tidak memerlukan mesin berat untuk cetakan,
  • Dapat dibuat menggunakan bahan lokal seperti pasir dan semen biasa,
  • Memiliki toleransi geometri yang tinggi untuk presisi maksimal,
  • Tidak memerlukan penguatan tambahan untuk sambungan.

Berbeda dengan Hydraform yang berat dan mahal, atau sistem Thailand yang mengandalkan grouting untuk stabilitas, Machinblock hanya perlu penyesuaian desain dan sambungan antarblok untuk menghasilkan struktur yang stabil.

Tantangan dan Keterbatasan

Meski menjanjikan, Machinblock Tetrix memiliki beberapa keterbatasan:

  • Desain bangunan harus disesuaikan dengan dimensi blok agar tidak perlu memotong blok (yang bisa merusak sambungan interlocking),
  • Masih perlu diuji pada skala struktur bangunan penuh untuk validasi lebih lanjut,
  • Belum diintegrasikan dengan teknologi BIM atau digitalisasi konstruksi lainnya.

Rekomendasi dan Masa Depan Machinblock

Penelitian ini merekomendasikan penggunaan Machinblock Tetrix secara luas dalam proyek perumahan massal di Nigeria dan negara-negara berkembang lainnya. Beberapa langkah lanjutan yang direkomendasikan antara lain:

  • Integrasi dengan desain modular arsitektur,
  • Simulasi perilaku blok pada bangunan bertingkat rendah,
  • Uji lapangan terhadap cuaca ekstrem dan pembebanan lateral.

Dengan kemudahan produksi, pemasangan cepat, dan performa struktural yang menjanjikan, Machinblock Tetrix dapat menjadi tulang punggung revolusi industri bangunan hemat biaya dan ramah lingkungan di abad 21.

Kesimpulan

Machinblock Tetrix bukan hanya inovasi material, tetapi juga solusi sosial dan ekonomi. Ia menawarkan efisiensi, kekuatan, dan kesederhanaan dalam satu sistem konstruksi yang dapat diandalkan. Melalui kombinasi uji fisik dan simulasi digital, artikel ini menunjukkan bahwa teknologi ini layak untuk diterapkan secara luas dalam menjawab tantangan besar penyediaan perumahan yang terjangkau, cepat, dan berkualitas di masa depan.

Sumber Artikel Asli:

Osundina, B. (2021). Investigation on Mortarless Dry-Stack Interlocking Hollow Block Using Finite Element Modelling; Case Study of Machinblock Tetrix. Department of Civil Engineering, University of Ibadan.

 

Selengkapnya
Machinblock Tetrix: Terobosan Blok Interlocking Tanpa Semen untuk Solusi Konstruksi Hemat & Tangguh

Building Information Modeling

Meneropong Masa Depan Konstruksi Digital: Implementasi BIM untuk Estimasi Biaya & Penjadwalan Proyek

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025


Era Digital dalam Konstruksi: Mengapa BIM Jadi Kebutuhan Bukan Pilihan?

Industri konstruksi mengalami revolusi besar dengan hadirnya teknologi digital. Salah satu inovasi paling signifikan adalah Building Information Modeling (BIM), sebuah pendekatan yang telah mengubah cara arsitek, insinyur, dan kontraktor bekerja. BIM bukan sekadar software 3D, tapi sebuah metodologi terpadu yang menyatukan desain, dokumentasi, estimasi biaya, dan penjadwalan dalam satu platform berbasis data. Artikel ini mengupas bagaimana BIM, khususnya dengan Autodesk Revit, digunakan untuk menyusun estimasi biaya dan jadwal konstruksi secara otomatis, lengkap dengan studi kasus proyek hunian bertingkat.

Apa Itu Building Information Modeling (BIM)?

BIM adalah pendekatan digital untuk mengelola informasi dan data proyek konstruksi selama seluruh siklus hidup bangunan—dari desain hingga pemeliharaan. Tidak seperti CAD tradisional yang hanya menggambar dalam 2D, BIM membangun representasi virtual 3D dari struktur lengkap dengan data terkait setiap komponen.

Menurut Bhuskade, BIM melibatkan interaksi antara kebijakan, proses, dan teknologi untuk menghasilkan sebuah model yang memungkinkan semua pemangku kepentingan berkolaborasi secara real-time. Artinya, perubahan pada satu bagian model akan secara otomatis memperbarui bagian terkait lainnya, sehingga seluruh dokumentasi proyek tetap konsisten dan sinkron.

Studi Kasus: Proyek Hunian Bertingkat di India

Deskripsi Bangunan

Studi kasus dalam artikel ini menganalisis sebuah bangunan hunian dengan struktur rangka beton. Bangunan ini memiliki beberapa lantai: parkir bawah tanah, lantai dasar, lantai satu, lantai atap (terrace), serta ruangan tangga (stair cap level). BIM digunakan untuk menyusun model 3D proyek ini dari awal, lalu secara otomatis menghasilkan:

  • Gambar 2D dari berbagai sudut,
  • Volume material seperti fondasi, balok, kolom, lantai, dan dinding,
  • Jadwal pekerjaan (scheduling) berbasis 4D (waktu).

Proyek ini menunjukkan bagaimana Revit menghasilkan visualisasi bangunan dari depan, belakang, samping, serta potongan tangga dan rencana denah lantai secara otomatis—tanpa menggambar ulang secara manual seperti di AutoCAD.

Manfaat Nyata BIM dalam Estimasi & Penjadwalan

1. Estimasi Volume Material yang Akurat

Dengan hanya membangun model 3D sekali, pengguna dapat langsung memperoleh volume material. Misalnya:

  • Volume total fondasi yang dihitung mencapai lebih dari 21 meter kubik,
  • Volume kolom beton sebesar 16,86 meter kubik dari 17 titik kolom,
  • Volume balok dari berbagai jenis lebih dari 35 meter kubik,
  • Luas lantai total mencapai 303 meter persegi dengan volume beton sekitar 34 meter kubik.

Semua data ini diperoleh secara otomatis dari model, tanpa kalkulasi manual yang rawan kesalahan.

2. Penjadwalan 4D Otomatis

BIM memungkinkan integrasi antara elemen bangunan dengan waktu konstruksi (4D scheduling). Ini berarti, setiap elemen bangunan dapat ditautkan dengan waktu pelaksanaannya, sehingga kontraktor bisa menyimulasikan jadwal kerja harian dan memvisualisasikan kemajuan konstruksi secara progresif.

Mengapa Revit Jadi Pilihan?

Autodesk Revit menjadi sorotan utama dalam artikel ini karena kemampuannya menyederhanakan proses desain dan dokumentasi. Revit mengandalkan sistem parametric modeling yang memastikan perubahan pada satu elemen akan otomatis memengaruhi elemen terkait lainnya. Misalnya, ketika sebuah dinding digeser, maka lantai, atap, dan dimensi juga ikut menyesuaikan.

Revit juga menyediakan fitur family editor, di mana komponen bangunan dapat disesuaikan dengan spesifikasi lokal. Dengan dukungan “bi-directional associativity”, dokumentasi proyek tetap terkoordinasi tanpa harus dicek ulang satu per satu seperti dalam CAD.

Perbandingan dengan Metode Konvensional

Dalam metode konvensional berbasis AutoCAD:

  • Proses desain dimulai dari gambar 2D,
  • Tidak ada koneksi langsung antara gambar dengan estimasi biaya atau waktu,
  • Perubahan desain harus diperbarui secara manual di semua gambar turunan.

Sebaliknya, dalam BIM menggunakan Revit:

  • Proses dimulai dari model 3D,
  • Gambar 2D, estimasi biaya, dan jadwal otomatis tersinkronisasi,
  • Kesalahan koordinasi hampir tidak terjadi karena semua data berasal dari satu sumber model.

Insight dari Literatur Lain

Penulis juga membandingkan hasil studinya dengan sejumlah penelitian sebelumnya, seperti:

  • Jia Qi dkk. yang mengembangkan BIM untuk meningkatkan keselamatan kerja dengan pendekatan Prevention Through Design (PTD),
  • Brittany K. Giel yang menyoroti Return on Investment (ROI) dari BIM, menunjukkan bahwa meski biaya awal tinggi, BIM mengurangi Request for Information (RFI) dan Change Orders,
  • Nawari O. Nawari yang menyatakan bahwa BIM sangat efektif dalam proyek konstruksi off-site karena efisiensi dan koordinasinya.

Kesimpulannya, semua penelitian tersebut memperkuat bahwa BIM bukan sekadar alat bantu visual, tetapi sistem manajemen informasi konstruksi yang komprehensif.

Kritik Konstruktif terhadap Studi

Walaupun artikel ini menunjukkan manfaat besar BIM dalam desain dan estimasi, ada beberapa hal yang bisa dikembangkan lebih jauh:

  1. Belum ada integrasi dengan analisis struktural atau MEP (Mechanical, Electrical, Plumbing) secara detail,
  2. Tidak membahas aspek legal atau standar interoperabilitas antar software,
  3. Fokus masih pada satu proyek kecil, belum ada generalisasi pada proyek besar atau multinasional.

Meski begitu, artikel ini cukup kuat dalam menggambarkan potensi BIM secara praktis.

Relevansi dengan Tren Industri

Di era digitalisasi konstruksi, BIM sudah menjadi standar di banyak negara maju. Negara seperti Singapura dan Inggris bahkan mewajibkan BIM dalam proyek infrastruktur pemerintah. Di Indonesia, adopsi BIM terus meningkat seiring proyek-proyek besar seperti Ibu Kota Negara (IKN) baru yang menggunakan pendekatan digital untuk koordinasi desain lintas disiplin.

Bagi perusahaan konstruksi yang belum mengadopsi BIM, artikel ini bisa menjadi pemicu untuk bertransformasi secara digital. Karena, tanpa BIM, proses perencanaan dan pelaksanaan akan terus tertinggal dari sisi efisiensi, akurasi, dan koordinasi.

Kesimpulan: BIM Adalah Masa Depan Konstruksi yang Tak Terelakkan

Artikel ini berhasil menggambarkan bahwa Building Information Modeling bukan sekadar teknologi baru, tetapi fondasi baru dalam cara kita merencanakan, mendesain, dan membangun. Dengan kemampuan menyatukan estimasi biaya, penjadwalan proyek, hingga koordinasi desain dalam satu sistem, BIM akan terus menjadi andalan dalam proyek konstruksi modern.

Implementasi BIM melalui Autodesk Revit menunjukkan efisiensi tinggi, minim kesalahan dokumentasi, dan otomatisasi total. Manfaat ini akan terasa semakin besar pada proyek berskala besar, multinasional, atau proyek pemerintah dengan banyak pemangku kepentingan.

Sumber Artikel Asli:

Bhuskade, S. (2015). Building Information Modeling (BIM). International Research Journal of Engineering and Technology (IRJET), Vol. 2, No. 2.

 

Selengkapnya
Meneropong Masa Depan Konstruksi Digital: Implementasi BIM untuk Estimasi Biaya & Penjadwalan Proyek

Industri Kontruksi

Transformasi Digital Konstruksi: Posisi Indonesia dalam Penerapan IoT Global

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025


Mengapa IoT Penting untuk Masa Depan Konstruksi?

Revolusi industri 4.0 menuntut setiap sektor untuk beradaptasi secara digital, termasuk industri konstruksi yang selama ini dikenal sebagai salah satu sektor paling lambat dalam mengadopsi teknologi. Internet of Things (IoT) konsep di mana perangkat fisik terhubung dan berkomunikasi melalui internet tanpa campur tangan manusia secara langsung menjadi tulang punggung dari transformasi digital ini. Artikel karya Wimala dan Imanuela mencoba menjawab pertanyaan penting: “Sejauh mana penerapan IoT di industri konstruksi, khususnya di Indonesia?”

Tujuan dan Metodologi Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan dan kesenjangan penerapan IoT dalam industri konstruksi antara Indonesia dan beberapa negara maju lainnya. Dengan menggunakan metode bibliometrik dan perangkat lunak Publish or Perish 7, penulis menganalisis 46 karya ilmiah dari tahun 2010 hingga 2021 yang berkaitan dengan IoT di industri konstruksi. Lima ranah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah:

  1. Construction Safety,
  2. Machine Control,
  3. Site Monitoring,
  4. Fleet Management,
  5. Project Management.

Negara-negara yang dianalisis mencakup Cina, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Amerika Serikat, dan Inggris, sementara Indonesia dijadikan studi banding sebagai negara berkembang dengan adopsi teknologi yang relatif baru.

Hasil Penelitian: Di Mana Posisi Indonesia?

Fakta Penting:

  • China mendominasi dengan 19 publikasi, mewakili 41% dari total karya ilmiah yang dikaji. Fokus utama mereka adalah construction safety.
  • Indonesia baru mulai menerapkan IoT di sektor konstruksi sekitar tahun 2018 terpaut 16 tahun dibanding Jepang yang sudah memulainya sejak 2002.
  • Rata-rata h-index penulis di Indonesia dalam topik ini hanya 5, jauh dibandingkan penulis luar negeri dengan rata-rata 139.
  • Investasi R&D Indonesia hanya 0,1% dari PDB, sangat tertinggal dibanding Korea (4,81%), Jepang (3,56%), atau China (2,2%).

Lima Ranah IoT di Konstruksi: Siapa Unggul di Mana?

1. Construction Safety (Keselamatan Kerja)

China unggul dalam penerapan early warning system berbasis sensor untuk mendeteksi potensi bahaya seperti radiasi, getaran, dan listrik. Sistem ini memiliki tingkat keberhasilan deteksi hingga 98% dalam 7 hari pertama dan 92% dalam 60 hari. Inisiatif besar pemerintah seperti Construction Information Management Service Sharing (CIMSS) juga mendukung digitalisasi data proyek, mengurangi penggunaan kertas hingga 40% dan mempercepat pengiriman dokumen proyek sebesar 7,3%.

2. Fleet Management

Inggris menjadi pionir dengan memanfaatkan IoT untuk mengatur pengiriman material secara presisi menggunakan sensor dan sistem pembayaran otomatis. Efeknya bukan hanya meningkatkan efisiensi logistik, tetapi juga memangkas kebutuhan tenaga kerja di lapangan, yang berpotensi menghemat dana hingga 14,6 triliun USD secara global.

3. Site Monitoring

Malaysia masih menggunakan sistem manual berbasis kertas, namun tengah bertransisi ke sistem digital. Pemerintahnya telah mengeluarkan National IoT Roadmap 2015 untuk mempercepat adopsi teknologi monitoring proyek berbasis sensor dan augmented reality.

4. Project Management

Amerika Serikat, sebagai negara asal banyak inovasi digital, menerapkan BIM (Building Information Modeling) yang terintegrasi dengan IoT. Sejak 2010, beberapa negara bagian mewajibkan penggunaan BIM untuk proyek pemerintah. IoT diintegrasikan untuk pengambilan keputusan real-time, pelacakan aset, dan manajemen biaya proyek secara otomatis.

5. Machine Control

Korea Selatan menjadi pionir dalam otomatisasi mesin konstruksi. Sejak tahun 2014, mereka menghadapi krisis kekurangan tenaga kerja konstruksi, sehingga pada 2020, pemerintah mengucurkan dana sebesar $173 juta untuk mewujudkan Smart Construction 2025. Targetnya, pada 2030 seluruh proses konstruksi akan sepenuhnya otomatis, termasuk penggunaan IoT untuk maintenance mesin secara real-time.

Bagaimana dengan Indonesia?

Baru sejak 2018 IoT mulai masuk ke sektor konstruksi Indonesia, bersamaan dengan maraknya penggunaan perangkat wearable seperti smartwatch. Hingga kini, kontribusi terbesar justru datang dari perusahaan BUMN PT Waskita Karya, yang mengembangkan teknologi HoloLens—kacamata realitas campuran yang terhubung dengan model BIM untuk komunikasi proyek digital.

Dari sisi kebijakan, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah merilis Peraturan Menteri No. 1 Tahun 2019 mengenai izin penggunaan frekuensi untuk perangkat IoT. Namun, belum ada peta jalan (roadmap) nasional yang secara khusus menargetkan IoT di sektor konstruksi.

Kesenjangan Kunci: Apa yang Membuat Indonesia Tertinggal?

Faktor-faktor yang dikaji dalam artikel ini meliputi:

  • Rendahnya Investasi R&D: Hanya 0,28% dari PDB nasional yang dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan.
  • Tidak adanya Roadmap khusus konstruksi IoT, seperti “Smart Construction 2025” di Korea atau “Construction 2025” di Inggris.
  • Kurangnya sinergi antara industri dan lembaga riset, terlihat dari jumlah publikasi ilmiah yang masih sangat rendah.
  • Keterbatasan SDM dan teknologi pendukung, termasuk pemahaman atas platform BIM, sensor digital, dan teknologi wearable.

Potensi Pasar dan Arah Masa Depan

Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) menyebut bahwa pada 2022, nilai pasar IoT di Indonesia bisa mencapai Rp350 triliun, dengan 400 juta sensor aktif. Ini mencerminkan peluang besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh sektor konstruksi. Dengan pasar sebesar itu, sektor konstruksi bisa menjadi pemicu revolusi digital berikutnya jika adopsi teknologi dilakukan secara terencana dan masif.

Kritik dan Saran Pengembangan

Artikel ini sangat informatif dalam membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara maju lainnya. Namun, ada beberapa hal yang dapat dikembangkan ke depan:

  • Tambahan data primer: Artikel ini sepenuhnya berbasis kajian literatur; ke depan sebaiknya dilengkapi dengan data lapangan dari proyek konstruksi aktual di Indonesia.
  • Analisis risiko dan kendala implementasi: Belum dibahas secara mendalam potensi hambatan seperti keamanan siber, interoperabilitas platform, atau tantangan biaya awal.
  • Studi kasus spesifik di Indonesia: Hanya Waskita Karya yang disebut; akan lebih kuat jika ada lebih banyak contoh aktual dari perusahaan swasta atau proyek pemerintah.

Kesimpulan: Indonesia Perlu Langkah Konkret untuk Kejar Ketertinggalan

Secara umum, penelitian ini memberikan gambaran menyeluruh tentang kemajuan implementasi IoT di sektor konstruksi global dan posisi Indonesia yang masih jauh tertinggal. Meski demikian, peluang untuk mengejar ketertinggalan sangat terbuka, mengingat pertumbuhan pesat pasar IoT domestik dan kebutuhan mendesak akan efisiensi di sektor konstruksi.

Indonesia butuh:

  • Investasi R&D yang signifikan,
  • Kebijakan nasional spesifik tentang IoT di konstruksi,
  • Kolaborasi antara industri dan universitas,
  • Digitalisasi proyek-proyek pemerintah sebagai pemicu.

Dengan langkah-langkah itu, IoT tidak hanya menjadi tren teknologi, tetapi pondasi bagi era baru konstruksi yang lebih efisien, aman, dan transparan di tanah air.

Sumber Artikel Asli:

Wimala, M., & Imanuela, K. (2022). Perkembangan Internet of Things di Industri Konstruksi. Journal of Sustainable Construction, Vol. 1 No. 2, Maret 2022, 43–51. Universitas Katolik Parahyangan.

Selengkapnya
Transformasi Digital Konstruksi: Posisi Indonesia dalam Penerapan IoT Global

Building Information Modeling

Masa Depan Konstruksi Indonesia: Membedah Tantangan dan Peluang Implementasi BIM

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025


BIM: Bukan Sekadar Teknologi, tapi Paradigma Baru Konstruksi

Industri konstruksi adalah sektor yang terkenal kompleks, penuh koordinasi, dan rawan konflik. Salah satu biangnya adalah sistem kerja yang masih mengandalkan dokumentasi manual dan komunikasi berbasis kertas. Akibatnya, keterlambatan, pembengkakan biaya, dan konflik antarpihak menjadi masalah berulang. Inilah latar belakang mengapa Building Information Modeling (BIM) menjadi sangat penting: BIM bukan sekadar alat visualisasi 3D, tetapi sistem integrasi digital yang menghubungkan seluruh proses konstruksi dari desain hingga manajemen fasilitas.

Sekilas tentang Penelitian

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana perkembangan adopsi BIM di Indonesia, mengidentifikasi hambatan utama dalam penerapannya, serta menyusun daftar manfaat potensial yang sudah terbukti di lapangan. Penelitian dilakukan melalui kajian literatur dari 11 publikasi nasional dan internasional antara tahun 2015 hingga 2019, termasuk jurnal ilmiah, prosiding konferensi, dan laporan studi kasus.

Dimensi BIM: Lebih dari Sekadar 3D

BIM tidak hanya sekadar model tiga dimensi. Dalam perkembangannya, BIM dibagi ke dalam dimensi sebagai berikut:

  • 3D: Visualisasi bentuk bangunan,
  • 4D: Penjadwalan waktu,
  • 5D: Estimasi biaya,
  • 6D: Analisis energi dan keberlanjutan,
  • 7D: Manajemen fasilitas dan operasional gedung.

Semakin tinggi dimensi yang digunakan, semakin kompleks dan kaya data model BIM yang diterapkan.

Studi Kasus: Tren Adopsi BIM di Indonesia

1. Awal Mula Adopsi

Implementasi BIM pertama kali terdokumentasi di Indonesia sekitar tahun 2012. Bandingkan dengan negara-negara maju yang telah menggunakan BIM sejak awal 2000-an, jelas terlihat adanya keterlambatan adopsi secara nasional.

2. Profil Pengguna Awal

BIM di Indonesia pada awalnya hanya digunakan oleh perusahaan besar pada proyek-proyek bertingkat tinggi dan infrastruktur besar, khususnya dalam fase desain dan teknik. Beberapa software yang umum digunakan termasuk Revit dan ArchiCAD, namun banyak pelaku industri masih terbiasa memakai AutoCAD dan Excel.

3. Level Kemampuan BIM (BIM Maturity Level)

Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih berada di level 1 BIM: penggunaan model 3D untuk desain, tetapi belum terintegrasi lintas disiplin atau memiliki standar pertukaran data yang konsisten.

Tantangan Utama Implementasi BIM di Indonesia

Artikel ini mengelompokkan tantangan BIM ke dalam tiga domain utama: teknologi, proses, dan protokol. Dari seluruh kajian yang dilakukan, tantangan terbanyak muncul dari aspek proses.

Tantangan dalam Domain Teknologi:

  • Tingginya biaya lisensi dan aplikasi BIM,
  • Kebutuhan perangkat keras (hardware) berspesifikasi tinggi.

Tantangan dalam Domain Proses:

  • Kurangnya tenaga ahli BIM di lapangan,
  • Perubahan budaya kerja yang membutuhkan adaptasi,
  • Kompleksitas prosedur operasional,
  • Ketidakcocokan software dalam sistem proyek yang sudah berjalan,
  • Minimnya pelatihan dan motivasi dari manajemen,
  • Target penggunaan BIM yang belum jelas.

Tantangan dalam Domain Protokol:

  • Belum adanya standar nasional tentang penggunaan BIM (baik hukum, standar teknis, atau regulasi pemerintah),
  • Rendahnya permintaan pasar terhadap model kerja berbasis BIM,
  • Belum terintegrasinya BIM dalam sistem manajemen proyek oleh mayoritas kontraktor dan konsultan.

Manfaat Nyata Implementasi BIM

Meskipun adopsi BIM di Indonesia masih terbatas, sejumlah manfaat nyata telah tercatat dalam proyek-proyek yang menggunakannya:

3D – Pemodelan Kolaboratif

  • Mempermudah koordinasi lintas tim,
  • Meningkatkan visualisasi perencanaan,
  • Meminimalisasi revisi dan konflik desain (clash detection),
  • Mempercepat dokumentasi teknis dan gambar kerja.

4D – Penjadwalan

  • Meningkatkan efisiensi waktu pelaksanaan proyek,
  • Mempermudah pemantauan progres konstruksi secara real-time.

5D – Estimasi Biaya

  • Membantu prediksi biaya sejak awal proyek,
  • Mengurangi risiko pembengkakan anggaran,
  • Menekan potensi terjadinya pekerjaan ulang (rework),
  • Mengoptimalkan alokasi sumber daya manusia (SDM).

6D dan 7D – Energi dan Manajemen Fasilitas

  • Memungkinkan simulasi efisiensi energi,
  • Meningkatkan kesadaran terhadap desain ramah lingkungan,
  • Membantu operasional dan pemeliharaan bangunan pasca-konstruksi.

Analisis dan Perbandingan dengan Negara Maju

Berbeda dengan Inggris dan Singapura yang telah mewajibkan BIM untuk proyek pemerintah, Indonesia belum memiliki regulasi resmi. Ini membuat adopsi BIM sangat tergantung pada inisiatif perusahaan individu. Negara maju juga lebih maju dalam penggunaan BIM dimensi tinggi (6D dan 7D), sementara Indonesia masih berkutat pada 3D dan 4D.

Studi di Palembang misalnya, menemukan bahwa kontraktor lokal memahami manfaat BIM, tetapi terhambat oleh kurangnya pengetahuan teknis dan beban biaya investasi awal. Beberapa perusahaan di Surabaya dan Jakarta sudah mengadopsi BIM, namun hanya sebatas tim desain, belum ke pelaksanaan dan operasional.

Rekomendasi Penguatan Implementasi BIM di Indonesia

Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis merekomendasikan beberapa langkah strategis:

  1. Penyusunan Regulasi Nasional
    Pemerintah perlu merumuskan standar BIM untuk konstruksi nasional agar seluruh stakeholder memiliki panduan yang sama.
  2. Pengembangan SDM dan Pelatihan Spesialis BIM
    Universitas teknik, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), dan perusahaan kontraktor perlu menyelenggarakan pelatihan intensif.
  3. Insentif untuk Perusahaan Adopter Awal
    Misalnya, potongan pajak atau akses khusus tender bagi perusahaan yang sudah menerapkan BIM.
  4. Integrasi BIM dalam Proyek Pemerintah
    Pemerintah pusat dan daerah dapat menjadikan proyek-proyek infrastruktur sebagai medan uji BIM untuk menunjukkan efektivitasnya kepada pasar.

Penutup: BIM sebagai Investasi Masa Depan

Artikel ini secara tegas menunjukkan bahwa walau adopsi BIM di Indonesia masih berada di tahap awal, tren menuju digitalisasi tidak bisa dibendung. Implementasi BIM bukan lagi pertanyaan “apakah perlu?”, tapi “kapan dan bagaimana?”. Dengan adopsi yang tepat dan sistematis, BIM bisa menjadi katalisator utama dalam menciptakan industri konstruksi Indonesia yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan.

Sumber Artikel Asli:

Pantiga, J., & Soekiman, A. (2021). Kajian Implementasi Building Information Modeling (BIM) di Dunia Konstruksi Indonesia. Jurnal Rekayasa Sipil, Vol. 15, No. 2, Universitas Katolik Parahyangan.

Selengkapnya
Masa Depan Konstruksi Indonesia: Membedah Tantangan dan Peluang Implementasi BIM

Building Information Modeling

Membedah Strategi Integrasi BIM dalam Proyek Teknik Sipil: Tantangan, Solusi, dan Implikasi Praktis

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 07 Mei 2025


Digitalisasi Infrastruktur: Mengapa BIM Kini Menjadi Standar Global?

Perubahan besar sedang terjadi di dunia teknik sipil. Di tengah tuntutan efisiensi proyek, penekanan anggaran, dan kebutuhan bangunan berkelanjutan, teknologi Building Information Modelling (BIM) hadir sebagai solusi yang tidak hanya digital, tetapi juga strategis. BIM memungkinkan pengelolaan seluruh data proyek secara terpusat: mulai dari desain 3D, spesifikasi material, hingga jadwal dan estimasi biaya. Dengan integrasi yang solid ini, BIM tak lagi sekadar teknologi, melainkan sistem kerja baru dalam konstruksi modern.

Tujuan dan Metode Kajian: Menyusun Peta Jalan Integrasi BIM

Artikel ini merupakan tinjauan pustaka yang bertujuan:

  • Mengidentifikasi manfaat BIM dalam proyek teknik sipil,
  • Menggambarkan tantangan penerapan yang dihadapi industri,
  • Merumuskan strategi implementasi yang efektif berdasarkan literatur.

Metodologi penelitian bersifat kualitatif dengan analisis naratif atas puluhan studi dari jurnal internasional. Fokus utamanya adalah bagaimana BIM berperan dalam meningkatkan efisiensi, kolaborasi, keberlanjutan, serta mengurangi konflik dalam proyek teknik sipil.

Manfaat Strategis BIM dalam Teknik Sipil

Penulis merinci empat dampak utama dari integrasi BIM dalam proyek teknik sipil:

1. Deteksi Dini Kesalahan Desain

Salah satu kekuatan BIM adalah kemampuannya dalam mendeteksi benturan atau konflik desain pada tahap awal. Ini mengurangi potensi pekerjaan ulang dan kesalahan yang bisa memicu keterlambatan proyek serta pembengkakan biaya.

2. Kolaborasi Tim yang Lebih Baik

Dengan model digital terintegrasi, semua pihak—arsitek, insinyur, kontraktor, hingga pemilik proyek—bekerja di platform yang sama. Perubahan satu komponen langsung tersinkronisasi, mencegah miskomunikasi.

3. Peningkatan Efisiensi Data

BIM menyediakan repositori informasi terpusat yang memungkinkan pembaruan dan pelacakan data secara real-time. Efeknya: proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan berbasis data.

4. Keberlanjutan Lingkungan

Melalui simulasi energi dan dampak lingkungan, BIM membantu tim proyek mengevaluasi penggunaan material, konsumsi energi, dan emisi karbon. Ini mendukung terciptanya bangunan yang lebih ramah lingkungan.

Studi Kasus dan Bukti Angka: Dampak Implementasi BIM

Walau bukan studi lapangan, artikel ini memuat ringkasan hasil dari berbagai penelitian empiris yang telah dilakukan:

  • Penggunaan BIM dapat menghemat hingga 20% waktu pelaksanaan proyek, seperti yang tercatat pada studi oleh Wang & Chen (2023).
  • BIM terbukti menurunkan biaya proyek antara 10–15%, terutama dalam hal estimasi material dan pengurangan pekerjaan ulang.
  • Pada proyek-proyek skala besar di Tiongkok, integrasi BIM dengan Internet of Things (IoT) memungkinkan pemantauan progres secara real-time dengan akurasi hingga 95% (Hashim Mohammed et al., 2022).
  • Dalam studi Minari Junior dkk. (2024), BIM berhasil diintegrasikan dengan sistem budgeting dan perencanaan yang menghasilkan efisiensi waktu perencanaan sebesar 30% dibanding metode konvensional.

Tantangan Besar dalam Implementasi BIM

Meski menawarkan banyak manfaat, adopsi BIM masih menghadapi rintangan besar:

1. Ketidakseragaman Perangkat Lunak

Perbedaan format dan sistem antara software seperti Revit, ArchiCAD, dan Tekla menyebabkan masalah interoperabilitas dan potensi kehilangan data saat pertukaran informasi.

2. Kebutuhan Perubahan Budaya Organisasi

BIM mendorong pendekatan kolaboratif dan data-driven, yang sulit diterapkan di organisasi konstruksi tradisional yang bersifat silo dan hierarkis.

3. Keterbatasan Infrastruktur TI

Implementasi BIM membutuhkan server penyimpanan besar, bandwidth tinggi, dan keamanan data. Banyak perusahaan kecil tidak memiliki sumber daya ini.

4. Kurangnya Tenaga Ahli

Sebagian besar tenaga kerja konstruksi belum familiar dengan prinsip kerja BIM. Program pelatihan masih minim dan sering tidak spesifik terhadap kebutuhan peran masing-masing pengguna.

5. Tidak Adanya Regulasi Nasional

Tanpa standar dan panduan resmi dari pemerintah, penerapan BIM sering kali tidak konsisten antarproyek.

Strategi Implementasi Efektif Menurut Studi

Penelitian ini menawarkan langkah-langkah strategis untuk mengadopsi BIM secara sukses:

1. Penetapan Tujuan Organisasi yang Jelas

Sebelum implementasi, perusahaan perlu merumuskan manfaat spesifik yang ingin dicapai dari BIM, seperti efisiensi biaya, perencanaan energi, atau deteksi konflik desain.

2. Pembentukan Tim Proyek Khusus BIM

Tim harus mencakup manajer proyek, ahli teknik, arsitek, serta tenaga TI. Peran masing-masing harus didefinisikan sejak awal.

3. Rencana Pelatihan Bertahap

Pelatihan bukan hanya untuk memahami software, tetapi juga alur kerja dan budaya kolaboratif. Model pelatihan hands-on dinilai lebih efektif dibanding teori.

4. Rencana Manajemen Data

Harus ada protokol untuk penyimpanan, backup, keamanan, serta pertukaran data. Ini mencegah hilangnya informasi penting dan menjamin integritas model BIM.

5. Rencana Manajemen Perubahan

Perusahaan harus siap mengelola resistensi internal terhadap perubahan. Program komunikasi, pelatihan, dan pemantauan transisi akan membantu menekan gangguan.

Masa Depan BIM: Menuju Integrasi Teknologi Cerdas

Penelitian juga menyoroti bahwa BIM bukanlah sistem tertutup. Teknologi ini akan semakin efektif jika diintegrasikan dengan:

  • Internet of Things (IoT): Sensor di lapangan dapat terhubung dengan model BIM untuk memberi update real-time.
  • Artificial Intelligence (AI): Membantu dalam optimasi desain dan analisis risiko.
  • Big Data: Memungkinkan analisis tren konstruksi berdasarkan ribuan data proyek.

Dengan perkembangan ini, BIM akan menjadi pusat dari ekosistem konstruksi digital berbasis data.

Kritik & Saran

Artikel ini sangat komprehensif dalam menjabarkan tantangan dan manfaat BIM. Namun ada beberapa catatan penting:

  • Tidak mencantumkan studi kasus dari Indonesia, padahal konteks lokal akan sangat memperkaya isi artikel.
  • Data kuantitatif yang disajikan masih berasal dari negara maju, belum mencerminkan kondisi negara berkembang secara spesifik.
  • Belum membahas potensi integrasi BIM dalam proyek-proyek hijau atau pembangunan infrastruktur pemerintah secara terperinci.

Meski demikian, artikel ini sangat layak dijadikan referensi akademik maupun praktis bagi profesional konstruksi.

Kesimpulan: BIM Adalah Jembatan Menuju Konstruksi Berkelanjutan

Integration of Building Information Modelling (BIM) in Civil Engineering Project: A Literature Review menegaskan bahwa BIM adalah kunci untuk mentransformasi proyek teknik sipil menjadi lebih efisien, kolaboratif, dan ramah lingkungan. Dengan strategi implementasi yang tepat, pelatihan yang berkelanjutan, serta dukungan regulasi dan teknologi, BIM dapat menjawab tantangan utama industri konstruksi saat ini.

Bukan lagi tren masa depan, BIM adalah kebutuhan sekarang. Perusahaan yang cepat mengadopsi BIM akan lebih siap menghadapi dinamika pasar konstruksi digital yang semakin kompleks.

Sumber Artikel Asli:

Purwanto, S., Nugraha, A. R., Harahap, M. A. K., & Putri, I. I. (2024). Integration of Building Information Modelling (BIM) in Civil Engineering Project: A Literature Review. Indonesia Journal of Engineering and Education Technology (IJEET), Vol. 2, No. 2, April 2024, hlm. 319–326.

Selengkapnya
Membedah Strategi Integrasi BIM dalam Proyek Teknik Sipil: Tantangan, Solusi, dan Implikasi Praktis

Building Information Modeling

BIM dan Efisiensi Proyek: Studi Kasus Proyek Workshop Kapal Sekupang yang Bebas Keterlambatan

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 07 Mei 2025


Digitalisasi Proyek: Saatnya Industri Konstruksi Bertransformasi

Dalam era industri konstruksi yang kian kompetitif, efisiensi waktu dan biaya menjadi prioritas utama. Permasalahan klasik seperti keterlambatan pengerjaan, kesalahan desain, hingga pembengkakan anggaran masih sering terjadi, bahkan di proyek-proyek besar sekalipun. Salah satu solusi inovatif yang makin populer adalah penerapan Building Information Modelling (BIM), yang memungkinkan visualisasi digital dan simulasi proyek secara menyeluruh sebelum konstruksi dimulai. Studi yang dilakukan Ferry dan Indrastuti membuktikan keunggulan BIM secara nyata dalam proyek pembangunan workshop kapal di Sekupang, Batam.

Apa Itu BIM dan Mengapa Penting?

Building Information Modelling (BIM) bukan sekadar alat desain, melainkan pendekatan terpadu dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian proyek konstruksi. Melalui pemodelan digital 3D, BIM mengintegrasikan elemen struktural dan non-struktural dalam satu sistem berbasis data. Lebih jauh lagi, BIM dapat dikembangkan ke model 4D (penjadwalan), 5D (biaya), hingga 7D (pemeliharaan fasilitas).

Dalam studi ini, peneliti mengaplikasikan BIM 3D untuk memodelkan struktur bangunan dan menggabungkannya dengan jadwal kerja untuk menciptakan simulasi 4D. Tools yang digunakan adalah Autodesk Revit Structure 2019 dan Autodesk Navisworks, dua perangkat lunak unggulan di industri konstruksi global.

Studi Kasus: Proyek Workshop Kapal di Sekupang

Latar Belakang Proyek

Proyek ini adalah pembangunan workshop kapal yang menjadi fasilitas penting di kawasan industri Sekupang, Batam. Karena bersifat teknis dan berdampak langsung pada kegiatan industri perkapalan, proyek ini dituntut untuk selesai tepat waktu dan tanpa kesalahan desain.

Tujuan Penelitian

  1. Menggunakan BIM untuk pemodelan 3D dan integrasi 4D,
  2. Mengukur performa waktu pelaksanaan proyek menggunakan kurva S,
  3. Menganalisis biaya pembangunan berdasarkan keluaran Revit Structure,
  4. Menguji potensi konflik desain menggunakan fitur clash detection pada Navisworks.

Langkah-Langkah Pemodelan BIM

Pemodelan proyek dilakukan secara bertahap:

  1. Pembuatan Grid Koordinat – Acuan dasar untuk peletakan komponen struktur.
  2. Pemodelan Kolom dan Balok – Diletakkan sesuai gambar kerja proyek menggunakan sistem parameteris.
  3. Pemodelan Pondasi Tiang Pancang – Disimulasikan sebagai komponen isolasi beton.
  4. Pemodelan Pelat dan Atap – Dibuat dengan menghubungkan titik-titik geometri bangunan.

Setelah 3D selesai, jadwal kerja proyek yang disusun di Microsoft Project diimpor ke Navisworks untuk menghasilkan model 4D berbasis Gantt Chart dan Project Visualization.

Hasil Utama: Proyek Bebas Keterlambatan & Simulasi yang Akurat

1. Efisiensi Waktu Pelaksanaan

Dari analisis kurva S, ditemukan bahwa kurva realisasi selalu berada di atas kurva rencana. Ini berarti pekerjaan di lapangan justru lebih cepat dari target. Beberapa data penting:

  • Proyek dimulai pada November 2018,
  • Pada Desember 2018, pekerjaan fondasi sudah rampung,
  • Struktur baja selesai Februari 2019,
  • Seluruh pekerjaan struktural selesai April 2019.

Deviansi positif terhadap rencana menunjukkan proyek bebas keterlambatan, dengan nilai tertinggi mencapai +19,15% dan terendah +7,33%.

2. Estimasi Anggaran Lebih Akurat

Perhitungan biaya berdasarkan keluaran Revit menunjukkan total anggaran proyek sebesar Rp 5.813.838.429. Nilai ini mencakup semua pekerjaan struktural dari pondasi hingga atap. Output ini menghilangkan estimasi manual yang rentan kesalahan karena seluruh volume material dihitung langsung dari model digital.

3. Deteksi Benturan Desain (Clash Detection)

Menggunakan fitur Navisworks, peneliti menemukan adanya benturan antara elemen dinding cladding dan elemen struktur CNP. Hal ini diidentifikasi dan diperbaiki sebelum konstruksi fisik dilakukan, sehingga mencegah rework yang berpotensi menyebabkan pemborosan waktu dan biaya.

Keunggulan Implementasi BIM dalam Proyek Ini

A. Visualisasi Real-Time

Simulasi 4D memberikan gambaran nyata progres pembangunan dari waktu ke waktu. Warna hijau menandakan pekerjaan sedang berlangsung, sementara hasil akhir muncul sesuai urutan kerja.

B. Koordinasi Lebih Baik

Semua pihak—dari perencana hingga pengawas lapangan—dapat mengakses model yang sama. Ini meminimalkan miskomunikasi dan mempercepat pengambilan keputusan.

C. Penghematan Waktu dan Biaya

Penggunaan BIM memungkinkan perencanaan yang lebih presisi, sehingga proyek diselesaikan lebih cepat dan dengan anggaran yang terukur.

Perbandingan dengan Penelitian Lain

Hasil studi ini sejalan dengan temuan Ramadiaprani (2012) dan Azhar et al. (2012), yang menyebut bahwa BIM dapat memotong waktu proyek hingga 20% dan mengurangi konflik desain hingga 90%. Berbeda dengan studi lainnya yang hanya fokus pada tahap desain, penelitian ini membuktikan efektivitas BIM dalam keseluruhan siklus proyek: desain, estimasi, jadwal, dan pelaporan kemajuan.

Keterbatasan dan Saran untuk Pengembangan Selanjutnya

Keterbatasan:

  • Hanya menggunakan dimensi BIM 3D dan 4D, belum melibatkan 5D (biaya real-time) atau 6D (keberlanjutan).
  • Tidak mencakup pemodelan struktural kompleks menggunakan perangkat seperti SAP2000 atau ETABS.
  • Harga satuan masih bersifat umum, belum disesuaikan dengan standar lokal Kota Batam.

Saran:

  • Perlu pengembangan ke BIM 5D, 6D, dan 7D untuk integrasi manajemen biaya, energi, dan aset jangka panjang,
  • Menggabungkan BIM dengan Internet of Things (IoT) untuk pemantauan lapangan berbasis sensor,
  • Menggunakan model BIM sebagai dokumen legal formal untuk kontrak proyek.

Penutup: BIM Bukan Lagi Opsi, Tapi Kebutuhan

Penelitian Ferry dan Indrastuti memberikan gambaran nyata bagaimana BIM bisa mengubah proyek konstruksi dari sistem manual yang penuh risiko menjadi sistem digital yang presisi, efisien, dan dapat diaudit. Proyek pembangunan workshop kapal di Sekupang berhasil diselesaikan lebih cepat dari jadwal, bebas konflik desain, dan dengan estimasi anggaran yang akurat.

Bagi perusahaan konstruksi di Indonesia, studi ini menjadi bukti kuat bahwa investasi pada BIM bukan sekadar mengikuti tren, melainkan strategi nyata untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas proyek di era digital.

Sumber Artikel Asli:

Ferry & Indrastuti. (2020). Penerapan Building Information Modelling (BIM) pada Proyek Pembangunan Workshop (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Workshop Kapal di Sekupang). Journal of Civil Engineering and Planning, Vol. 1 No. 1.

Selengkapnya
BIM dan Efisiensi Proyek: Studi Kasus Proyek Workshop Kapal Sekupang yang Bebas Keterlambatan
« First Previous page 540 of 1.408 Next Last »