Pendidikan Dasar

Mengangkat Budaya Lokal dalam Pembelajaran: Inovasi Handout Berbasis Budaya Banten untuk Siswa SD

Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 20 Mei 2025


Pendahuluan

Dalam era globalisasi, pendidikan tidak hanya dituntut untuk berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan identitas budaya. Artikel ini membahas pengembangan handout sebagai media pembelajaran alternatif yang memuat unsur-unsur budaya Banten. Penelitian ini menanggapi minimnya bahan ajar yang mengangkat kearifan lokal sebagai bagian integral dari pembelajaran, khususnya pada jenjang sekolah dasar.

Bahan ajar konvensional kerap mengabaikan potensi budaya lokal sebagai sumber belajar yang kontekstual dan relevan. Oleh karena itu, artikel ini sangat penting sebagai referensi untuk inovasi pendidikan berbasis budaya, sekaligus menjadi bentuk pelestarian nilai-nilai lokal yang berdaya edukatif.

Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah:

  1. Mengembangkan bahan ajar handout berbasis budaya lokal Banten untuk siswa kelas IV SD.

  2. Mengukur kelayakan dan efektivitas dari handout yang dikembangkan melalui validasi para ahli dan uji coba terbatas.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan mengadopsi model pengembangan dari Borg and Gall. Model ini melibatkan 10 langkah pengembangan, namun dalam praktiknya hanya menggunakan hingga tahap ke-6, yakni:

  • (1) Potensi dan masalah,

  • (2) Pengumpulan informasi,

  • (3) Desain produk,

  • (4) Validasi desain,

  • (5) Revisi desain,

  • (6) Uji coba produk.

Subjek uji coba adalah siswa kelas IV SD Negeri di wilayah Pandeglang, Banten, dengan validasi oleh dua ahli: ahli materi dan ahli media.

Hasil Penelitian dan Temuan Kunci

1. Validasi Ahli Materi dan Media

Handout dinilai sangat layak digunakan dalam proses pembelajaran:

  • Validasi ahli materi memperoleh skor 88% (kategori sangat layak),

  • Validasi ahli media memperoleh skor 85% (kategori sangat layak).

Kriteria penilaian mencakup kesesuaian materi, kebahasaan, tampilan, dan keterpaduan antara konten budaya dengan kompetensi dasar.

2. Uji Coba Terbatas

  • Uji coba dilakukan pada 20 siswa kelas IV SD Negeri di Pandeglang.

  • Hasil uji coba menunjukkan bahwa handout mampu meningkatkan antusiasme siswa dalam pembelajaran serta memberikan pemahaman lebih konkret karena menggunakan contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka.

Analisis dan Nilai Tambah

Relevansi Kontekstual

Mengangkat budaya Banten dalam bahan ajar tidak hanya menjadi sarana pembelajaran yang menarik, tetapi juga menjawab tantangan kontekstualisasi kurikulum. Siswa lebih mudah memahami materi ketika dikaitkan dengan realitas sehari-hari mereka. Hal ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran tematik integratif di Kurikulum 2013.

Nilai Edukasi Budaya

Sebagai contoh, materi tentang kehidupan masyarakat Baduy, seni Rampak Bedug, dan makanan khas Banten menjadi pintu masuk untuk membangun sikap cinta tanah air, toleransi, dan keberagaman.

Efektivitas Media Cetak Handout

Meskipun tren digitalisasi bahan ajar meningkat, handout tetap menjadi media yang efektif, terutama di daerah dengan keterbatasan akses internet. Dengan desain visual menarik dan bahasa yang sederhana, handout ini berfungsi sebagai alat bantu belajar mandiri maupun saat pembelajaran tatap muka.

Perbandingan dengan Penelitian Lain

Jika dibandingkan dengan penelitian serupa yang mengembangkan bahan ajar berbasis budaya lokal—seperti handout berbasis budaya Betawi (Saraswati, 2019) atau modul tematik berbasis budaya Bali (Sujana, 2020)—penelitian ini menawarkan pendekatan khas Banten yang belum banyak dijadikan sumber pembelajaran di tingkat dasar.

Selain itu, keunggulan penelitian ini terletak pada validasi empiris yang sistematis serta kesesuaian materi dengan kebutuhan siswa di lapangan.

Implikasi dan Dampak Praktis

  1. Untuk Guru SD
    Penelitian ini bisa menjadi inspirasi untuk menyusun bahan ajar sendiri dengan memanfaatkan kekayaan budaya lokal sebagai sumber belajar kontekstual.

  2. Untuk Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan
    Sebaiknya ada kebijakan yang mendorong sekolah mengembangkan kurikulum muatan lokal berbasis potensi budaya masing-masing wilayah.

  3. Untuk Peneliti Selanjutnya
    Penelitian ini bisa diperluas dengan menjangkau bahan ajar digital, atau pengembangan e-handout berbasis multimedia agar bisa menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21.

Kritik dan Saran

Satu hal yang menjadi catatan adalah cakupan penggunaannya masih terbatas di satu sekolah dan pada satu kelas saja. Ke depan, penelitian ini perlu diperluas dengan jangkauan lebih luas dan uji efektivitas dalam jangka waktu panjang. Selain itu, integrasi budaya lokal sebaiknya juga dikembangkan dalam bentuk interaktif seperti video, kuis digital, atau permainan edukatif berbasis budaya.

Kesimpulan

Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa pengembangan handout berbasis budaya Banten untuk siswa SD adalah strategi yang tidak hanya inovatif tetapi juga efektif dalam memperkuat pembelajaran yang bermakna. Dengan nilai kelayakan tinggi dari ahli materi dan media serta tanggapan positif dari siswa, handout ini layak dikembangkan lebih luas.

Pendekatan ini menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat menjadi alat pelestarian budaya sekaligus sarana membentuk karakter generasi muda yang mencintai kearifan lokal. Di tengah derasnya arus globalisasi, inisiatif seperti ini patut diapresiasi dan direplikasi.

Sumber

Penelitian ini dapat diakses di jurnal Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Vol. 10 No. 1, November 2021 melalui tautan: http://dx.doi.org/10.33578/jpfkip.v10i1.8039.

Selengkapnya
Mengangkat Budaya Lokal dalam Pembelajaran: Inovasi Handout Berbasis Budaya Banten untuk Siswa SD

Pencemaran Air

Antara Potensi Sejarah, Krisis Lingkungan, dan Tantangan Regulasi Pengelolaan

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 20 Mei 2025


Air dan Kota: Ketika Sungai Deli Menjadi Sumber Krisis

Sungai Deli pernah menjadi denyut nadi perekonomian Kesultanan Deli. Namun kini, sungai itu berubah menjadi tempat pembuangan limbah domestik dan industri. Artikel ilmiah karya Nobrya Husni (2017) berjudul “Analisis Permasalahan Pengelolaan Sungai Deli” membuka tabir kompleksitas pengelolaan sungai urban yang terjebak dalam stagnasi regulasi dan lemahnya kesadaran ekologis.

Masalah Utama: Dua Akar Krisis Sungai Deli

1. Tidak Ada Model Pengelolaan Sungai

Sungai Deli tak memiliki kerangka atau rencana induk pengelolaan. Aktivitas manusia—dari permukiman hingga industri—dibiarkan berkembang di sempadan sungai tanpa kontrol jelas. RTRW Kota Medan sebenarnya telah menetapkan batas 50 meter dari badan sungai sebagai zona lindung. Namun dalam praktiknya, batas ini dilanggar secara masif.

2. Tidak Ada Peraturan Daerah (Perda)

Ketiadaan regulasi formal di tingkat daerah membuat Sungai Deli bukan hanya tidak terlindungi, tetapi juga tidak dianggap sebagai aset strategis. Padahal nilai historis dan potensi ekonomi (misalnya pariwisata sungai) sangat besar jika dikelola dengan benar.

Potret Kerusakan: Data Pencemaran yang Mengkhawatirkan

  • DO (Oksigen Terlarut): 0,90–1,90 mg/l → sangat rendah, memperburuk kehidupan akuatik.
  • BOD: 8,99–22,50 mg/l → pencemaran organik berat.
  • Pb (Timbal): 0,407 mg/l → melebihi baku mutu.
  • Patogen: Ditemukan 9 jenis bakteri berbahaya termasuk E. coli dan Vibrio fluvialis.
  • Sumber pencemar utama: limbah domestik rumah tangga (misalnya di Kelurahan Hamdan), industri, pelabuhan, dan permukiman liar.

Bandingkan dengan Dunia: Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Thailand (U-Tapao River)

Penggunaan lahan dan kualitas air sangat berkorelasi. Semakin luas pertanian dan permukiman, semakin tinggi beban pencemar. Solusi: integrasi perencanaan tata guna lahan dan pengelolaan DAS.

Malaysia (Sungai Pelus)

Pemantauan indeks kualitas air (WQI) dilakukan rutin setiap musim. WQI musim kemarau: 71,73 (baik), musim hujan: 59,90 (tercemar). Rekomendasi: pengawasan berkelanjutan dan pembatasan deforestasi.

Eropa (WFD)

Water Framework Directive (WFD) menyatukan pendekatan ekologis, sosial, dan ekonomi. Fokusnya: pemulihan biaya, keterlibatan stakeholder, dan perlindungan menyeluruh dari hulu ke hilir.

Usulan Strategis: Adaptasi Model WFD dan SA

Nobrya mengusulkan model pengelolaan Sungai Deli dengan adaptasi dari:

  • WFD (Eropa) → pendekatan berbasis DAS, indikator ekologis, peran ekonomi.
  • SA (Sustainability Appraisal) dari Inggris → model evaluasi keberlanjutan berbasis skenario dan partisipatif.

Kriteria Keberlanjutan:

  • Kesehatan & kesejahteraan
  • Kualitas lingkungan & keanekaragaman hayati
  • Penggunaan lahan efisien & risiko banjir
  • Transportasi & energi
  • Nilai historis & warisan budaya

Model terpadu ini dirancang dari identifikasi kriteria, pemetaan partisipatif, integrasi model sub-DAS, hingga elisitasi pengetahuan lokal.

Solusi dan Rekomendasi Konkret

  • Perda Sungai Deli harus dirancang dan disahkan, dengan mengadopsi pendekatan multidimensi dan keberlanjutan.
  • Model pengelolaan terpadu DAS Deli harus disusun dan dijalankan lintas sektor.
  • Evaluasi tahunan atas kualitas sungai dan dampak kegiatan ekonomi perlu dilakukan, seperti model Sungai Pelus.
  • Pariwisata berbasis sungai harus dijadikan insentif ekonomi bagi pelestarian.

Opini Penulis: Dari Sungai Mati ke Sungai Berarti

Artikel ini membongkar fakta bahwa kerusakan sungai bukan semata akibat alam, tetapi kebijakan yang tumpul dan kesadaran yang rendah. Nobrya dengan lugas menunjukkan bahwa Medan punya peluang mengubah wajah Sungai Deli—dari sungai mati menjadi sungai berarti. Tapi untuk itu, harus ada keberanian politik dan strategi kolaboratif nyata.

Sumber:
Husni, N. (2017). Analisis Permasalahan Pengelolaan Sungai Deli di Kota Medan Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Inovasi, 14(1), 77–82.

Selengkapnya
Antara Potensi Sejarah, Krisis Lingkungan, dan Tantangan Regulasi Pengelolaan

Simulasi

Pendekatan Simulasi Monte Carlo Tiga-Loop untuk Pemodelan Fisika Multi-State dalam Asesmen Reliabilitas Sistem

Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 20 Mei 2025


Kenapa Model Keandalan Konvensional Tidak Lagi Cukup?

Dalam dunia teknik sistem modern—khususnya dalam konteks fasilitas kritis seperti pembangkit listrik tenaga nuklir—reliabilitas sistem menjadi faktor penentu keselamatan operasional. Namun, pendekatan konvensional seperti Markov Chain Model (MCM) yang hanya menggunakan dua status (berfungsi atau gagal) mulai dianggap terlalu menyederhanakan realitas. Sistem sebenarnya mengalami degradasi bertahap, dipengaruhi oleh berbagai faktor fisik dan lingkungan yang kompleks.

Menjawab kebutuhan ini, makalah karya Wang et al. (2017) mengusulkan kerangka inovatif: Three-loop Monte Carlo Simulation dalam Multi-State Physics Modeling (MSPM). Ini bukan hanya pengembangan teknis, tetapi pendekatan transformatif yang memungkinkan model reliabilitas menyatu dengan pengetahuan fisik dan variasi lingkungan nyata.

Apa Itu Multi-State Physics Modeling?

Bukan Sekadar Model, Tapi Cermin Dinamika Fisik

MSPM adalah pendekatan semi-Markov yang memodelkan degradasi komponen dalam beberapa level keadaan—dari sehat, rusak sebagian, hingga benar-benar gagal. Perbedaan utama dengan model biner adalah kemampuannya menangkap dinamika bertahap dari degradasi, serta mempertimbangkan pengaruh parameter fisik seperti usia, suhu, dan kondisi lingkungan.

Makalah ini mengembangkan pendekatan tersebut dengan menyematkan Three-Loop Monte Carlo (MC) Simulation—sebuah metode komputasional untuk menangani ketidakpastian dalam model dengan mengulang simulasi berdasarkan distribusi probabilistik dari input fisik.

Studi Kasus: Sistem Proteksi Reaktor (RPS) di PLTN

Struktur RPS

RPS adalah komponen vital dalam sistem keselamatan reaktor. Ia bertugas memicu shutdown darurat jika sensor mendeteksi anomali, seperti suhu berlebih. Sistem ini terdiri dari:

  • Sensor RTD (Resistance Temperature Detectors)
  • Bistable Processor Logic (BPL)
  • Local Coincidence Logic (LCL)
  • Reactor Trip Breaker (RTB)

Paper ini memodelkan RPS sebagai sistem modular dengan hubungan serial-paralel dan identifikasi komponen krusial melalui analisis sensitivitas.

Langkah Inovatif: Integrasi Fisika, Statistik, dan Simulasi

1. Identifikasi Komponen Kritis

Melalui analisis sensitivitas berbasis jarak Hellinger dan divergence Kullback-Leibler, BPL muncul sebagai modul paling berpengaruh terhadap unreliabilitas sistem, dan RTD sebagai komponen kunci dalam BPL. Ini penting untuk memprioritaskan komponen mana yang memerlukan model degradasi fisik (MSPM), bukan hanya model dua-status (MCM) biasa.

2. Model Degradasi RTD

RTD tidak hanya gagal secara acak, tetapi mengalami drift—yakni penurunan performa perlahan karena waktu dan kondisi seperti celah udara (air gap) antara sensor dan thermowell. Berdasarkan data eksperimen, waktu respon RTD meningkat dari rata-rata 2.1 detik menjadi lebih dari 10 detik setelah 6 tahun, tergantung faktor usia dan kontaminasi.

Model MSPM menangkap transisi degradasi ini dengan dua status: sehat dan drift. Fungsi transisi ditentukan oleh waktu respons 𝜏(t, δ), yang dihitung dari permukaan interpolasi berdasarkan data eksperimen.

3. Tiga Lapisan Simulasi Monte Carlo

Kerangka MC yang diusulkan melibatkan:

  • Loop 1: Sampling parameter fisik (misalnya waktu respons RTD).
  • Loop 2: Sampling distribusi kegagalan komponen biner lainnya (BPL, LCL, RTB).
  • Loop 3: Integrasi keduanya untuk menghitung unreliabilitas sistem dengan menyertakan ketidakpastian pada semua tingkat.

Hasil Utama dan Interpretasi

Akurasi Model MSPM vs MCM

Dengan misi waktu 6 tahun, hasil dari simulasi menunjukkan bahwa MSPM memberikan confidence interval (CI) yang lebih sempit daripada MCM, menandakan estimasi lebih akurat dan tidak terlalu konservatif.

Contoh:

  • Pada t = 1 tahun, unreliabilitas dari MCM cenderung melebihkan nilai kegagalan.
  • Distribusi probabilitas dari MSPM lebih terkonsentrasi di sekitar nilai tengah, memberikan kepercayaan lebih tinggi pada hasilnya.

Ukuran Komparatif: ζ_t dan ζ_P

  • ζ_t mengukur lebar interval keandalan relatif terhadap nilai rata-rata unreliabilitas.
  • ζ_P mengukur ketepatan prediksi waktu kegagalan.

Dalam kedua metrik tersebut, MSPM mengungguli MCM secara konsisten, khususnya untuk prediksi dalam rentang usia awal (0–2 tahun), di mana variasi data sensor masih tinggi.

Kritik & Opini Tambahan

Kekuatan Penelitian Ini:

  • Realistis dan berbasis data eksperimen. Penulis menggunakan data RTD dari eksperimen aktual, bukan sekadar asumsi.
  • Terintegrasi dengan komputasi. Penggunaan Python/Matlab untuk simulasi menjadikan pendekatan ini siap digunakan dalam lingkungan industri nyata.
  • Membuka arah baru untuk pendekatan reliability yang lebih kaya secara informasi.

Keterbatasan:

  • Ketergantungan pada kualitas data fisik. Bila data eksperimen tidak tersedia atau tidak akurat, kualitas model MSPM bisa menurun drastis.
  • Tingkat komputasi tinggi. Tiga lapisan simulasi MC memerlukan sumber daya komputasi yang besar, meskipun masih bisa diatasi dengan cloud computing atau GPU parallelism.

Relevansi terhadap Tren Industri

Industri Nuklir

Dengan pergeseran global menuju energi nuklir baru generasi IV, pendekatan semacam ini penting untuk menilai risiko dengan presisi tinggi, terutama karena banyaknya perangkat digital baru dalam kontrol reaktor.

Smart Manufacturing

Konsep MSPM sangat cocok untuk Predictive Maintenance di pabrik-pabrik modern berbasis IIoT (Industrial Internet of Things). Sensor yang mengalami degradasi bisa dimodelkan dengan pendekatan ini, misalnya pada sistem pendingin turbin atau pengukuran tekanan boiler.

Kesimpulan: Pilar Baru untuk Evaluasi Keandalan Sistem Kompleks

Pendekatan yang ditawarkan oleh Wang et al. bukan hanya menambal kekurangan model dua-status yang terlalu sederhana. Ia membawa paradigma baru—bahwa keandalan sistem harus diperlakukan sebagai masalah fisis, bukan hanya probabilistik. Dengan menggabungkan wawasan fisika degradasi, ketidakpastian parameter, dan simulasi statistik tingkat lanjut, makalah ini membuktikan bahwa akurasi dan kredibilitas prediksi keandalan bisa meningkat signifikan.

Metodologi seperti ini akan menjadi tulang punggung analisis sistem di masa depan, terutama pada sistem kritis di sektor energi, transportasi, dan industri cerdas.

Sumber

Wang, W., Di Maio, F., & Zio, E. (2017). Three-loop Monte Carlo simulation approach to Multi-State Physics Modeling for system reliability assessment. Reliability Engineering & System Safety, 167, 276–289.
DOI: 10.1016/j.ress.2017.06.003

Selengkapnya
Pendekatan Simulasi Monte Carlo Tiga-Loop untuk Pemodelan Fisika Multi-State dalam Asesmen Reliabilitas Sistem

Sumber Daya Air

Pelatihan HEC-RAS Tingkatkan Kompetensi Tenaga Konstruksi di Bidang Sumber Daya Air

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 20 Mei 2025


Pendahuluan: Kebutuhan Kompetensi Tenaga Konstruksi dalam Era Digital

Dalam era transformasi digital yang semakin pesat, tuntutan terhadap tenaga kerja konstruksi untuk memiliki kompetensi teknis yang lebih tinggi menjadi tidak terelakkan. Khususnya bagi lulusan atau mahasiswa Teknik Sipil, kemampuan menguasai perangkat lunak simulasi teknik seperti HEC-RAS (Hydrologic Engineering Center's River Analysis System) menjadi nilai tambah yang strategis. Artikel ilmiah ini, yang merupakan hasil pengabdian masyarakat oleh Firman Ardiansyah Ekoanindiyo dan tim dari Universitas Stikubank, berfokus pada pelatihan penggunaan HEC-RAS untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja konstruksi di bidang sumber daya air.

Apa Itu HEC-RAS dan Mengapa Penting?

HEC-RAS merupakan perangkat lunak yang dirancang oleh Hydrologic Engineering Center di bawah US Army Corps of Engineers. Versi 5.0.3 yang digunakan dalam pelatihan ini mampu melakukan:

  • Simulasi aliran permanen dan tidak permanen (steady & unsteady flow)

  • Analisis angkutan sedimen

  • Penilaian kualitas air

  • Perhitungan desain hidraulik

Fitur-fitur ini menjadikan HEC-RAS sebagai alat penting dalam perencanaan dan evaluasi bangunan air seperti bendung, jembatan, dan saluran irigasi. Kompetensi dalam menggunakan perangkat ini tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja tenaga ahli, tetapi juga memperkuat daya saing mereka di pasar konstruksi nasional maupun internasional.

Studi Kasus: Pelatihan Bersama ATAKSI dan Universitas Stikubank

Pelatihan diselenggarakan atas kerja sama antara Universitas Stikubank dan Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKSI) Provinsi Jawa Tengah, dengan peserta dari kalangan mahasiswa Teknik Sipil dan anggota ATAKSI. Materi pelatihan mencakup:

  1. Pengenalan HEC-RAS: Teori dasar aliran sungai dan karakteristik morfologi.

  2. Input Data:

    • Cross section sungai

    • Nilai Manning

    • Debit banjir (peak/routing)

    • Boundary condition hilir

  3. Pemodelan Geometri Sungai: Input data panjang lintang, struktur hidraulik, dan karakteristik dasar sungai.

  4. Simulasi Aliran: Baik steady maupun unsteady.

  5. Evaluasi & Diskusi: Tanya jawab dan pengamatan langsung.

Temuan dan Dampak Langsung

Antusiasme Peserta

  • Tingkat kehadiran 100% menunjukkan bahwa pelatihan ini sangat diminati.

  • Peserta aktif dalam sesi diskusi, menunjukkan bahwa metode ceramah, demonstrasi, dan praktikum yang digunakan efektif.

Peningkatan Kompetensi

  • Peserta mampu menjalankan simulasi sungai sederhana secara mandiri.

  • Meningkatnya pemahaman konsep aliran, erosi (gerusan), dan perencanaan bangunan air.

Dampak pada Industri

  • Pelatihan semacam ini menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik di lapangan.

  • Meningkatkan kesiapan kerja lulusan Teknik Sipil.

Kritik dan Rekomendasi

Kritik

  • Pelatihan hanya berlangsung satu hari; waktu ini kurang optimal untuk pemahaman mendalam.

  • Fokus pelatihan masih terbatas pada pengenalan, belum mencakup studi kasus nyata atau integrasi dengan data GIS.

Rekomendasi

  • Menyediakan modul pelatihan lanjutan khusus untuk analisis banjir dan desain struktur sungai.

  • Mengintegrasikan pelatihan ini dalam kurikulum Teknik Sipil secara reguler.

  • Mengembangkan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk studi kasus berbasis sungai lokal.

Komparasi dengan Penelitian Sebelumnya

Studi oleh Kodri et al. (2018) menunjukkan bahwa pelatihan dan sertifikasi memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Hal ini selaras dengan hasil dari pengabdian ini. Studi lain oleh Shalahuddin et al. (2021) dalam konteks pendidikan teknik juga membuktikan bahwa simulasi mampu meningkatkan capaian pembelajaran hingga 87% kategori memuaskan.

Kesimpulan: Kompetensi Adalah Investasi

Peningkatan kualitas tenaga kerja konstruksi tidak dapat dicapai hanya melalui pengalaman kerja. Dibutuhkan pelatihan berkelanjutan dan adaptasi terhadap teknologi terbaru. Pelatihan HEC-RAS yang dilakukan oleh Universitas Stikubank adalah contoh nyata bagaimana sinergi antara dunia pendidikan dan asosiasi profesi mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan peningkatan kompetensi tenaga kerja, khususnya dalam bidang sumber daya air.

Dengan semakin kompleksnya tantangan infrastruktur dan perubahan iklim, tenaga ahli yang mampu memanfaatkan simulasi teknis akan menjadi garda depan dalam perencanaan proyek konstruksi yang berkelanjutan dan efisien.

Sumber Jurnal:
Firman Ardiansyah Ekoanindiyo, Antoni Yohanes, Endro Prihastono, Enty Nur Hayati. (2021). Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja Konstruksi pada Bidang Sumber Daya Air. Jurnal Pengabdian pada Masyarakat (PENAMAS), Vol. 5, No. 2, Hal. 80-86.
DOI: https://doi.org/10.31294/penamas.v5i2.8700

Selengkapnya
Pelatihan HEC-RAS Tingkatkan Kompetensi Tenaga Konstruksi di Bidang Sumber Daya Air

Manajemen Air

Belajar dari Burkina Faso: Implementasi IWRM dan Tantangan Lokal yang Tak Terhindarkan

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 20 Mei 2025


Pendahuluan: Krisis Air dan Urgensi Reformasi

Burkina Faso, negara di Afrika Barat yang tergolong semi-kering, telah lama menghadapi tantangan kelangkaan air. Meskipun curah hujan tahunannya setara dengan Prancis, masalah terletak pada manajemen sumber daya yang tidak optimal. Kajian mendalam oleh Ebba Holmström (2019) dari Uppsala University menyajikan studi kasus di dua Komite Lokal Air (CLE) di bawah Agence de l’Eau du Nakanbé, menganalisis penerapan Integrated Water Resources Management (IWRM) atau dalam konteks lokal disebut GIRE.

Apa Itu IWRM dan Mengapa Penting?

IWRM adalah pendekatan holistik untuk mengelola air secara lintas sektor dan partisipatif. Sejak Konferensi Dublin 1992, IWRM menjadi solusi global untuk menyatukan kebijakan, lingkungan, dan partisipasi masyarakat dalam satu kerangka kerja. Burkina Faso menjadi pionir di Afrika Barat dalam mengadopsi prinsip ini. Namun, seperti yang dijelaskan Holmström, tantangan utamanya adalah apakah model global ini cocok untuk konteks lokal?

Pertanyaan Kunci Penelitian

  1. Bagaimana konteks lokal diperhitungkan dalam implementasi top-down IWRM di Burkina Faso?
  2. Apa peran lembaga formal dan informal dalam keberhasilan (atau kegagalan) CLE?

Metodologi: Pendekatan Etnografis dan Komparatif

Holmström melakukan penelitian lapangan selama 10 minggu pada tahun 2019, dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif. Fokusnya pada dua CLE: Nilima dan Murundu. Keduanya berada di wilayah yang sama namun berbeda secara ukuran geografis dan dinamika sosial-politik.

Temuan Kunci: Antara Ambisi Global dan Realitas Lokal

1. Waktu Pendanaan Tidak Sinkron dengan Musim Tanam

Contoh nyata konflik sistem global dan lokal adalah soal pendanaan. Dana dari donor internasional seperti Sida dan Danida seringkali terlambat, misalnya cair pada Agustus, padahal aktivitas konservasi seperti "traitement des ravines" (penanganan erosi) idealnya dilakukan di musim kering (Januari–April). Ini adalah contoh klasik dari pendekatan "square pegs in round holes" (Andrews, 2013).

2. Hierarki Budaya Vs Prinsip Subsidiaritas

Meskipun IWRM menekankan prinsip subsidiaritas—pengambilan keputusan di tingkat paling bawah—hierarki budaya Mossi menghambat partisipasi setara. Para anggota CLE enggan mengambil inisiatif tanpa restu atasan. Ini menunjukkan bahwa pendekatan institusional global tidak selaras dengan norma sosial lokal.

3. Lembaga Informal Menyelamatkan Situasi

Dalam beberapa kasus, informalitas justru menjadi penyelamat. Ketika pendanaan formal gagal, Water Agency menyelamatkan CLE Murundu melalui sumber dana alternatif. Menurut Helmke & Levitsky (2004), ini adalah contoh institusi informal substitutif yang bekerja saat institusi formal melemah.

4. Politik Lokal Berpengaruh Besar

CLE Nilima sempat tidak aktif pasca kudeta dan reformasi politik tahun 2014–2016. Kepemimpinan lokal yang merangkap jabatan di pemerintahan memperlambat kerja CLE. Sementara CLE Murundu dipimpin petani lokal yang lebih fokus pada isu air.

Kritik terhadap Pendekatan Donor dan Reformasi Institusional

Studi ini juga mengkritik logika one-size-fits-all dari lembaga donor. Holmström mengutip William Easterly dan Lavagnon Ika yang menyatakan bahwa blueprint development sering gagal karena tidak memperhitungkan realitas lapangan. GIRE dipandang terlalu teknokratik, dan kurang fleksibel terhadap adat lokal serta dinamika politik desa.

Dimensi Sosial dan Budaya: Dua Sistem Hukum yang Paralel

Burkina Faso memiliki sistem hukum ganda: modern (warisan kolonial Prancis) dan tradisional (adat kepala suku). CLE sering kali berada di tengah tarik-menarik ini. Misalnya, kepala suku tetap dihormati meski tidak diakui secara formal dalam struktur CLE, yang menyebabkan tumpang tindih kewenangan dan ambiguitas.

Dampak Perubahan Iklim dan Peran Adaptasi

Burkina Faso menghadapi tantangan besar dari perubahan iklim. Penurunan curah hujan dan peningkatan suhu membuat pengelolaan air menjadi sangat krusial. Dalam konteks ini, Holmström mengutip Cecilia Tortajada (2016), yang menekankan bahwa infrastruktur saja tidak cukup—diperlukan tata kelola adaptif dan responsif terhadap realitas lokal.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Studi ini memberi pelajaran penting:

  • Desain reformasi harus mempertimbangkan budaya dan struktur sosial lokal.
  • Lembaga informal perlu diakui secara strategis.
  • Pendekatan donor harus lebih fleksibel dan tidak terlalu normatif.
  • Keterlibatan komunitas sejati hanya mungkin jika mereka memiliki ownership, bukan sekadar menjadi pelaksana.

Opini Penulis:

Holmström berhasil menunjukkan pentingnya pendekatan bottom-up dalam tata kelola air. Penelitiannya menjadi contoh konkret betapa pentingnya kesesuaian antara desain global dan konteks lokal.

Sumber:
Holmström, E. (2019). The Implementation of Integrated Water Resources Management on a Local Level in Burkina Faso. Uppsala University.

Selengkapnya
Belajar dari Burkina Faso: Implementasi IWRM dan Tantangan Lokal yang Tak Terhindarkan

Proyek Kontruksi

Mengupas Dampak Design–Build terhadap Keberhasilan Proyek Infrastruktur: Efisiensi, Risiko, dan Realita Lapangan

Dipublikasikan oleh Anisa pada 20 Mei 2025


Pendahuluan: Design–Build sebagai Paradigma Baru dalam Infrastruktur

Dalam lanskap konstruksi modern yang semakin kompleks dan menuntut efisiensi tinggi, metode pengadaan Design–Build (DB) muncul sebagai alternatif menarik dibanding pendekatan tradisional. DB menggabungkan fungsi perancangan dan pelaksanaan konstruksi dalam satu kontrak, yang diharapkan bisa menyederhanakan koordinasi dan mempercepat waktu penyelesaian. Namun, apakah benar DB membawa keberhasilan proyek infrastruktur secara menyeluruh?

Paper berjudul “The Impacts of Design–Build Procurement on Infrastructure Project Success” yang diterbitkan oleh Journal of Engineering, Project, and Production Management (Vol. 14, No. 3, 2024) menyajikan kajian komprehensif tentang bagaimana sistem DB mempengaruhi kinerja proyek, berdasarkan persepsi para profesional industri. Artikel ini tidak hanya menyajikan data empirik, tetapi juga membuka ruang refleksi atas praktik DB di dunia nyata.

Metodologi Penelitian: Survei pada Praktisi Proyek Infrastruktur

Penelitian ini berbasis survei kuantitatif yang disebarkan kepada para pelaku proyek infrastruktur di sektor publik dan swasta. Sebanyak 67 responden memberikan pandangan mereka terkait tujuh dimensi keberhasilan proyek, yaitu:

  1. Kinerja Biaya

  2. Kinerja Waktu

  3. Kualitas

  4. Kepuasan Pemilik

  5. Kepuasan Kontraktor

  6. Hubungan Tim

  7. Kinerja Keseluruhan Proyek

Teknik analisis yang digunakan adalah Exploratory Factor Analysis (EFA) dan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), yang memungkinkan identifikasi pengaruh laten dan hubungan antar variabel.

Temuan Utama: DB Meningkatkan Kolaborasi dan Kepuasan Tim

Peningkatan Kolaborasi & Hubungan Tim

Salah satu kontribusi terbesar metode DB adalah peningkatan kualitas hubungan antar pihak dalam proyek. Karena perancang dan pelaksana tergabung dalam satu kontrak, koordinasi menjadi lebih cair dan minim konflik. Hal ini mendukung terciptanya budaya kerja yang lebih kooperatif dan solutif, terutama dalam mengatasi perubahan desain selama pelaksanaan.

Contoh nyata dapat dilihat pada proyek infrastruktur besar seperti North Tarrant Express di Texas, AS, di mana sistem DB digunakan untuk mempercepat pembangunan jalan tol sepanjang 13 mil. Proyek ini berhasil diselesaikan lebih cepat dari jadwal dan berada dalam batas anggaran berkat sinergi erat antar tim desain dan konstruksi.

Efisiensi Waktu dan Biaya

Penelitian ini menemukan bahwa metode DB memiliki korelasi kuat dengan peningkatan efisiensi waktu dan kinerja biaya. Hal ini didukung oleh hasil PLS-SEM yang menunjukkan pengaruh positif signifikan dari DB terhadap kedua aspek tersebut.

Sebagai perbandingan, proyek tradisional dengan sistem Design–Bid–Build (DBB) seringkali mengalami keterlambatan akibat ketidaksesuaian antara desain dan pelaksanaan. Dalam sistem DB, potensi konflik tersebut dapat diminimalisir sejak awal karena integrasi fungsi desain dan konstruksi.

Kepuasan Pemilik dan Kontraktor

DB juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kepuasan pemilik dan kontraktor. Pemilik proyek merasa lebih puas karena proyek selesai lebih cepat dan sesuai ekspektasi biaya, sementara kontraktor mendapat fleksibilitas lebih dalam merancang solusi yang ekonomis dan mudah dieksekusi.

Dimensi Lain: Tantangan Tersembunyi dalam Sistem DB

Meskipun banyak keuntungan, metode DB bukan tanpa kelemahan. Penelitian ini juga mengungkap beberapa tantangan yang masih membayangi penerapannya.

Potensi Penurunan Kualitas

Salah satu kekhawatiran terbesar dalam sistem DB adalah potensi kompromi terhadap kualitas. Karena tanggung jawab desain dan konstruksi berada di tangan satu entitas, ada risiko bahwa pelaksana memilih solusi desain yang lebih ekonomis namun kurang optimal secara teknis.

Dalam studi ini, dimensi quality performance memang mendapatkan skor positif, namun tidak sekuat dimensi waktu dan biaya. Artinya, meskipun tidak ditemukan penurunan signifikan, kekhawatiran akan kompromi kualitas tetap perlu diperhatikan, khususnya dalam proyek-proyek berisiko tinggi seperti jembatan, bendungan, atau fasilitas publik vital.

Ketergantungan pada Kompetensi Kontraktor

Sistem DB sangat mengandalkan kemampuan dan integritas kontraktor. Jika kontraktor tidak memiliki kapasitas desain yang mumpuni, maka hasil akhir proyek dapat terancam. Hal ini menjadi perhatian khusus dalam pasar negara berkembang, di mana sumber daya manusia dan lembaga desain-kontraktor yang terintegrasi masih terbatas.

Implikasi Praktis: Apakah DB Cocok untuk Semua Proyek?

Cocok untuk Proyek Cepat dan Kompleks

DB sangat cocok diterapkan pada proyek yang menuntut kecepatan, fleksibilitas desain, dan integrasi sistem tinggi. Misalnya:

  • Proyek transportasi massal (kereta cepat, MRT)

  • Fasilitas militer atau kesehatan darurat

  • Pembangunan kawasan industri atau infrastruktur pelabuhan

Kurang Ideal untuk Proyek Berbasis Regulasi Ketat

Namun, DB kurang sesuai untuk proyek dengan batasan regulasi ketat atau proses desain yang sangat spesifik dan harus melalui persetujuan publik. Misalnya proyek konservasi, bangunan cagar budaya, atau proyek pemerintah dengan tender terbuka yang menuntut transparansi tinggi dalam pemisahan peran desain dan konstruksi.

Perbandingan dengan Studi Sebelumnya

Penelitian ini sejalan dengan temuan dari Chan et al. (2010) yang menunjukkan bahwa DB meningkatkan waktu penyelesaian proyek sebesar rata-rata 15% dibanding DBB. Namun, studi ini lebih maju karena menambahkan dimensi hubungan tim dan kepuasan sebagai indikator keberhasilan yang jarang dikaji sebelumnya.

Selain itu, pendekatan menggunakan PLS-SEM memberikan keunggulan dalam mengidentifikasi hubungan kausal secara statistik, sesuatu yang tidak banyak dilakukan dalam studi DB lainnya.

Kritik & Rekomendasi

Kritik:

  • Sampel terbatas: Survei hanya melibatkan 67 responden, yang mungkin belum cukup merepresentasikan populasi profesional konstruksi global.

  • Dominasi persepsi subjektif: Penelitian bergantung pada persepsi individu, bukan data performa aktual dari proyek.

Rekomendasi:

  • Studi lanjutan sebaiknya menggunakan data proyek nyata (misal laporan keuangan, waktu penyelesaian, dan hasil audit).

  • Perlu dibangun sistem pengukuran kualitas desain yang lebih objektif untuk mengevaluasi apakah DB benar-benar menjaga standar teknis yang diharapkan.

Penutup: DB adalah Masa Depan, Tapi Butuh Kehati-hatian

Sistem Design–Build jelas memberikan keuntungan nyata dalam hal efisiensi dan hubungan kerja, serta berkontribusi terhadap keberhasilan proyek infrastruktur. Namun, penerapan sistem ini tetap harus mempertimbangkan konteks proyek, kesiapan sumber daya, dan risiko kualitas.

Integrasi tidak boleh menjadi alasan pengabaian mutu. Keberhasilan sejati metode DB terletak pada bagaimana aktor-aktor proyek mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi dan akuntabilitas teknis.

Sumber

Paper asli dapat diakses melalui jurnal resmi:
The Impacts of Design–Build Procurement on Infrastructure Project Success
Journal of Engineering, Project, and Production Management, Vol. 14, No. 3, 2024, pp. 160–173.
https://doi.org/10.32738/JEPPM.20240806.0003

Selengkapnya
Mengupas Dampak Design–Build terhadap Keberhasilan Proyek Infrastruktur: Efisiensi, Risiko, dan Realita Lapangan
« First Previous page 453 of 1.408 Next Last »