Keselamatan Kerja
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 19 Maret 2025
Keselamatan kerja merupakan salah satu isu penting dalam dunia ketenagakerjaan, terutama di industri yang memiliki risiko tinggi seperti telekomunikasi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chandrakantan Subramaniam, Faridahwati Mohd. Shamsudin, dan Ahmad Said Ibrahim Alshuaibi menginvestigasi persepsi karyawan terhadap keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap aturan keselamatan di sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Malaysia. Dengan menggunakan metode Partial Least Square – Structural Equation Modeling (PLS-SEM), penelitian ini mengungkap faktor-faktor yang paling berpengaruh dalam kepatuhan terhadap keselamatan kerja.
Penelitian ini melibatkan 135 karyawan teknis di perusahaan telekomunikasi Malaysia yang bekerja dalam lingkungan berisiko tinggi. Survei dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai persepsi keselamatan kerja dan bagaimana persepsi ini berkontribusi terhadap kepatuhan terhadap aturan keselamatan. Model yang digunakan terdiri dari lima aspek utama persepsi karyawan:
Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik keselamatan oleh manajemen merupakan prediktor paling signifikan dalam mempengaruhi kepatuhan karyawan terhadap aturan keselamatan.
1. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kepatuhan Keselamatan
Dari lima aspek yang dianalisis, tiga faktor utama yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan terhadap keselamatan kerja adalah praktik keselamatan manajemen, keselamatan rekan kerja, dan keselamatan dalam pekerjaan. Praktik keselamatan manajemen memiliki pengaruh paling besar terhadap kepatuhan karyawan, disusul oleh peran rekan kerja dalam membangun budaya keselamatan. Persepsi karyawan terhadap keselamatan dalam pekerjaan mereka juga turut memengaruhi kepatuhan terhadap aturan keselamatan.
Sebaliknya, dua faktor lainnya, yaitu keselamatan supervisor dan kepuasan terhadap program keselamatan, tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap kepatuhan karyawan.
2. Statistik Kecelakaan Kerja di Industri Telekomunikasi Malaysia
Data dari Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Malaysia (DOSH) menunjukkan tren kecelakaan kerja yang meningkat dalam sektor transportasi, penyimpanan, dan telekomunikasi. Pada tahun 2007, terdapat beberapa kasus kecelakaan yang dilaporkan, dengan angka cedera ringan dan kematian yang relatif rendah. Namun, pada tahun 2014, jumlah kecelakaan meningkat secara signifikan, menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kebijakan keselamatan di tempat kerja.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa rekomendasi untuk meningkatkan keselamatan kerja di industri telekomunikasi:
Kesimpulan
Penelitian ini mengungkap bahwa praktik keselamatan oleh manajemen adalah faktor paling signifikan dalam meningkatkan kepatuhan karyawan terhadap keselamatan kerja. Selain itu, budaya keselamatan yang kuat di antara rekan kerja juga memainkan peran penting. Sebagai rekomendasi, manajemen harus lebih aktif dalam mendukung dan mengawasi kebijakan keselamatan serta meningkatkan pelatihan keselamatan yang lebih relevan dengan risiko di tempat kerja.
Sumber Asli
Subramaniam, C., Shamsudin, F. M., & Alshuaibi, A. S. I. Investigating Employee Perceptions of Workplace Safety and Safety Compliance Using PLS-SEM among Technical Employees in Malaysia. Journal of Applied Structural Equation Modeling, 1(1), 44-61, June 2017.
Keinsinyuran
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 19 Maret 2025
Insinyur mesin memainkan peran penting dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam inovasi teknologi yang mendukung keberlanjutan lingkungan dan efisiensi energi. Makalah The Role of Mechanical Engineers in Achieving Sustainable Development Goals, yang diterbitkan dalam Procedia Manufacturing oleh Imhade P. Okokpujie, Ojo Sunday Isaac Fayomi, dan Sunday Olayinka Oyedepo, membahas bagaimana insinyur mesin dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan melalui penelitian, desain, dan penerapan teknologi ramah lingkungan.
Makalah ini mengidentifikasi tantangan utama dalam industri teknik mesin dan mengusulkan solusi berbasis penelitian terapan guna mempercepat penerapan teknologi yang lebih hijau. Para penulis menekankan perlunya transisi dari riset dasar ke riset terapan guna meningkatkan efektivitas akademisi dan industri dalam menyelesaikan tantangan lingkungan global.
Ringkasan Isi Makalah
1. Latar Belakang dan Tantangan dalam Teknik Mesin
Para penulis menjelaskan bahwa insinyur mesin berperan dalam menciptakan teknologi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Beberapa tantangan utama yang dihadapi dalam bidang ini meliputi:
Solusi yang diusulkan dalam makalah ini mencakup peningkatan metode riset di universitas, investasi dalam desain produk yang lebih berkelanjutan, serta penerapan teknologi manufaktur ramah lingkungan.
2. Peran Insinyur Mesin dalam Keberlanjutan
Insinyur mesin memiliki kontribusi besar dalam mencapai SDGs, terutama dalam:
Sebagai contoh, makalah ini menyoroti bahwa pengembangan material tahan lama dan teknik produksi berbasis daur ulang dapat mengurangi limbah hingga 30% di sektor manufaktur.
3. Studi Kasus: Implementasi Teknologi Hijau
Penelitian ini menyajikan studi kasus di industri manufaktur yang telah menerapkan prinsip keberlanjutan:
Analisis dan Implikasi
1. Keunggulan Pendekatan yang Dikembangkan
Makalah ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis keberlanjutan dalam teknik mesin dapat memberikan berbagai manfaat, antara lain:
2. Tantangan dalam Implementasi
Meskipun memiliki banyak keunggulan, penerapan konsep ini masih menghadapi beberapa hambatan:
Rekomendasi untuk Pengembangan Lebih Lanjut
Agar konsep keberlanjutan dalam teknik mesin dapat diterapkan lebih luas, beberapa rekomendasi yang diusulkan adalah:
1. Reformasi Kurikulum Teknik Mesin
2. Peningkatan Penelitian dan Inovasi
3. Regulasi dan Kebijakan Pemerintah
Kesimpulan
Makalah ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana insinyur mesin dapat berkontribusi terhadap pencapaian SDGs melalui inovasi teknologi yang lebih berkelanjutan. Beberapa kesimpulan utama dari makalah ini adalah:
Dengan menerapkan rekomendasi yang diusulkan, insinyur mesin dapat berkontribusi lebih besar dalam menciptakan teknologi yang ramah lingkungan serta memastikan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Sumber: Okokpujie, I. P., Fayomi, O. S. I., & Oyedepo, S. O. The Role of Mechanical Engineers in Achieving Sustainable Development Goals. Procedia Manufacturing, 2019.
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025
Energi angin merupakan cara mengumpulkan daya dari hembusan angin. Pada tahun 2005, kapasitas generator tenaga angin mencapai 58.982 MW, menyumbang kurang dari 1% dari total konsumsi listrik global. Walaupun masih dianggap sebagai pemain minor dalam sumber daya energi di banyak negara, produksi tenaga angin telah meningkat lebih dari empat kali lipat antara tahun 1999 dan 2005.
Sebagian besar tenaga angin modern dihasilkan dalam bentuk listrik dengan mengubah gerakan putaran pisau turbin menjadi arus listrik melalui penggunaan generator listrik. Dalam kincir angin tradisional, energi angin dimanfaatkan untuk memutar peralatan mekanik guna melakukan pekerjaan fisik, seperti menggiling gandum atau memompa air.
Tenaga angin digunakan secara luas dalam ladang angin berskala besar untuk memproduksi listrik secara nasional, dan juga dalam turbin individu kecil untuk menyediakan listrik di lokasi terpencil. Keunggulan tenaga angin adalah ketersediaannya yang melimpah, terbatas, tersebar luas, ramah lingkungan, dan berkontribusi dalam mengurangi efek rumah kaca.
Saat ini, terdapat ribuan turbin angin yang beroperasi, dengan total kapasitas mencapai 58.982 MW, dimana 69% berlokasi di Eropa pada tahun 2005. Ini merupakan alternatif yang sedang berkembang pesat dalam produksi listrik, memberikan kontribusi yang signifikan terutama bagi stasiun tenaga berskala besar dengan kebutuhan listrik yang besar. Kapasitas produksi listrik dari tenaga angin meningkat empat kali lipat antara tahun 1999 dan 2005. Lebih dari 90% instalasi tenaga angin berada di Amerika Serikat dan Eropa. Menurut Asosiasi Tenaga Angin Dunia pada tahun 2010, diharapkan terdapat 120.000 MW kapasitas tenaga angin yang terpasang di seluruh dunia.
Beberapa negara seperti Jerman, Spanyol, Amerika Serikat, India, dan Denmark telah melakukan investasi terbesar dalam produksi listrik tenaga angin. Denmark terkenal dengan komitmen mereka sejak 1970-an untuk menghasilkan setengah dari total energi negara dengan menggunakan tenaga angin. Denmark mencapai lebih dari 20% dari total produksi listriknya melalui turbin angin, menjadikannya negara dengan persentase terbesar dan peringkat kelima di dunia. Denmark dan Jerman juga merupakan eksportir terbesar turbin angin.
Meskipun penggunaan tenaga angin hanya menyumbang 1% dari total produksi listrik dunia pada tahun 2005, Jerman memimpin sebagai produsen terbesar dengan 32% kapasitas dunia pada saat itu. Target Jerman pada tahun 2010 adalah bahwa 12,5% kebutuhan listriknya akan dipenuhi oleh sumber energi terbarukan. Jerman memiliki 16.000 turbin angin, sebagian besar terletak di wilayah utara negara tersebut, termasuk tiga turbin terbesar di dunia, yang dibuat oleh perusahaan Enercon (4,5 MW), Multibrid (5 MW), dan Repower (5 MW). Provinsi Schleswig-Holstein di Jerman menghasilkan 25% listriknya dari turbin angin.
Saat ini, London Array adalah ladang angin lepas pantai terbesar di dunia dengan kapasitas mencapai 1000 MW, diresmikan oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron pada 4 Juli 2013.
Disadur dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_angin
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025
Bahan bakar hayati (biofuel) merujuk pada segala jenis bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan organik, baik berupa padatan, cairan, atau gas. Produksi bahan bakar hayati dapat dilakukan secara langsung dari tanaman atau tidak langsung melalui limbah dari berbagai sektor seperti industri, komersial, domestik, atau pertanian. Terdapat tiga metode utama dalam pembuatan bahan bakar hayati: pembakaran limbah organik kering (seperti sampah rumah tangga, limbah industri, dan pertanian), fermentasi limbah basah (seperti kotoran hewan) tanpa oksigen untuk menghasilkan biogas, atau fermentasi tanaman seperti tebu atau jagung untuk menghasilkan alkohol dan ester. Selain itu, kayu dari tanaman yang cepat tumbuh juga dapat dijadikan sumber energi untuk produksi bahan bakar.
Proses fermentasi menghasilkan dua jenis bahan bakar hayati utama, yaitu alkohol dan ester. Meskipun secara teori dapat menggantikan bahan bakar fosil, dalam prakteknya seringkali bahan bakar hayati dicampur dengan bahan bakar fosil karena memerlukan penyesuaian besar pada mesin. Uni Eropa, misalnya, merencanakan penambahan 5,75 persen etanol dari berbagai sumber pada bahan bakar fosil pada tahun 2010, meningkat menjadi 20 persen pada 2020. Di Brasil, sekitar seperempat bahan bakar transportasi pada tahun 2002 berasal dari bioetanol.
Keberlanjutan bahan bakar hayati terletak pada kemampuannya untuk memproduksi energi tanpa meningkatkan kadar karbon di atmosfer. Tanaman yang digunakan untuk bahan bakar hayati membantu mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer, berbeda dengan bahan bakar fosil yang mengembalikan karbon yang telah disimpan selama jutaan tahun ke udara. Oleh karena itu, bahan bakar hayati lebih bersifat karbon netral dan memiliki dampak yang lebih rendah terhadap gas rumah kaca.
Penggunaan bahan bakar hayati juga dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, meningkatkan keamanan energi, dan memberikan opsi yang lebih berkelanjutan untuk masa depan. Dua pendekatan umum dalam produksi bahan bakar hayati melibatkan tanaman yang mengandung gula atau pati untuk menghasilkan etil alkohol melalui fermentasi, serta tanaman dengan tingkat minyak tinggi seperti kelapa sawit, kedelai, alga, atau jatropha yang dapat diubah menjadi bahan bakar langsung atau diproses menjadi biodiesel.
Dengan demikian, bahan bakar hayati merupakan sumber energi yang berasal dari bahan-bahan organik, baik dalam bentuk padatan, cairan, atau gas. Proses produksinya melibatkan tiga metode utama, yaitu pembakaran limbah organik kering, fermentasi limbah basah, dan penggunaan kayu dari tanaman cepat tumbuh. Meskipun dapat menjadi alternatif untuk bahan bakar fosil, penggunaan bahan bakar hayati sering melibatkan campuran dengan bahan bakar fosil karena memerlukan penyesuaian mesin yang signifikan.
Keberlanjutan bahan bakar hayati terletak pada kemampuannya menghasilkan energi tanpa meningkatkan kadar karbon di atmosfer, dengan tanaman yang digunakan membantu mengurangi emisi karbon dioksida. Selain itu, penggunaan bahan bakar hayati dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, meningkatkan keamanan energi, dan memberikan opsi yang lebih berkelanjutan untuk masa depan. Dua pendekatan utama dalam produksi bahan bakar hayati melibatkan tanaman dengan kandungan gula atau pati untuk menghasilkan etil alkohol melalui fermentasi, serta tanaman dengan tingkat minyak tinggi seperti kelapa sawit, kedelai, alga, atau jatropha yang dapat diubah menjadi bahan bakar langsung atau biodiesel setelah proses kimia.
Bahan bakar hayati generasi 2
Para pendukung bahan bakar hayati mengatakan mereka telah menemukan cara yang lebih baik untuk meningkatkan dukungan politik dan industri untuk penerapan bahan bakar hayati generasi kedua dari berbagai tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia dan hewan, termasuk bahan bakar hayati berselulosa. Proses ini dapat menggunakan berbagai tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia dan hewan.
Sebagian besar bahan bakar hayati generasi kedua sedang dikembangkan. Ini termasuk diesel kayu, alkohol campuran, Fischer-Tropsch diesel, biohidrogen diesel, biometanol, DMF, dan Bio-DME. Produksi etanol berselulosa menggunakan berbagai tanaman dan produk buangan yang tidak dapat dimakan oleh manusia dan hewan, serta tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia. Produksi etanol dari selulosa adalah masalah teknis yang sulit diatasi. Hewan pemamah biak, seperti sapi, memakan rumput, lalu menggunakan enzim yang lambat untuk menguraikannya menjadi glukosa, atau gula. Untuk melakukan hal yang sama dengan etanol berselulosa, atau cellulosic ethanol, di labolatorium, berbagai prosedur percobaan sedang dikembangkan. Dengan demikian, gula yang dihasilkan dapat difermentasi untuk menjadi bahan bakar etanol. Para ilmuwan juga sedang bereksperimen dengan berbagai organisme yang dihasilkan dari rekayasa genetik penyatuan kembali DNA, yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan potensi bahan bakar hayati seperti penggunaan tepung rumput gajah (Panicum virgatum).
Sumber:
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025
Pemerintah berkomitmen untuk memenuhi komitmen net zero emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Oleh karena itu, pemerintah tengah membuat peta jalan (roadmap) untuk mengatasi berbagai masalah dan ancaman perubahan iklim di masa depan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyatakan pada diskusi Road to COP26: Tekad Generasi Muda Indonesia Mencegah Perubahan Iklim & Mendukung Energi Bersih di Jakarta, Kamis (7/10), bahwa transformasi menuju net zero emission menjadi komitmen bersama kita paling lambat 2060.
Pemerintah tengah mengadopsi lima prinsip utama untuk mencapai target emisi nol: pengurangan bahan bakar fosil; peningkatan penggunaan energi baru terbarukan (EBT); penggunaan listrik di sektor transportasi; peningkatan penggunaan listrik di rumah tangga dan bisnis; dan penggunaan Carbon Capture and Storage (CCS).
Arifin menjelaskan, "Kami telah menyiapkan peta jalan transisi menuju energi netral mulai tahun 2021 hingga 2060 dengan beberapa startegi kunci."
Arifin juga menjelaskan langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk mencapai target emisi nol. Di tahun 2021, pemerintah akan mengeluarkan Peraturan Presiden yang mengatur EBT dan pensiun tembaga. Dia menjelaskan bahwa selain PLTU yang sudah berkontrak dan sedang dalam proses konstruksi, tidak ada tambahan PLTU baru lainnya.
Di tahun 2022, Undang-Undang EBT akan berlaku, dan 2 juta rumah tangga akan memiliki kompor listrik setiap tahunnya. Di tahun 2024, jaringan listrik pintar (juga dikenal sebagai smart grid) dan meteran pintar akan dibangun, dan di tahun 2025, bauran EBT akan mencapai 23%, dengan PLTS yang paling dominan.
Di tahun 2030, jaringan gas akan mencapai 10 juta rumah tangga, 2 juta kendaraan listrik (mobil) dan 13 juta motor, 300 ribu penyaluran BBG, pemanfaatan Dymethil Ether dengan penggunaan listrik sebesar 1.548 kilowatt jam per orang, dan pemerintah akan memberhentikan impor LPG dan 42% EBT pada tahun 2027.
Semua PLTU tahap pertama subkritis akan berhenti beroperasi pada tahun 2031. Di tahun 2035, interkoneksi antar pulau akan dimulai untuk COD, dengan konsumsi listrik sebesar 2.085 kilowatt-jam per kapita dan bauran EBT mencapai 57%, terutama dari PLTU, hidro, dan panas bumi.
Di tahun 2040, bauran EBT akan mencapai 71%, PLT diesel tidak lagi digunakan, lampu LED akan mencapai 70%, dan konsumsi listrik akan mencapai 2.847 kWh/kapita.
Pemerintah berencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama dalam lima tahun setelah COD dimulai. “Kami juga mempertimbangkan penggunaan energi nuklir yang direncanakan dimulai tahun 2045 dengan kapasitas 35 GW sampai dengan 2060,” kata Arifin.
Selanjutnya, pada tahun 2050, bauran EBT diproyeksikan mencapau 87%, didorong oleh PLTS dan Hydro, dan didukung oleh penggunaan kendaraan listrik, kompor listrik 52 juta rumah tangga, penyaluran jaringan gas sebanyak 23 juta sambungan rumah tangga, dan konsumsi listrik 4.299 kilowatt jam per kapita. (NO)
Sumber:
Energi dan Sumber Daya Mineral
Dipublikasikan oleh Anisa pada 19 Maret 2025
Indonesia, yang terletak di antara dua jalur pegunungan muda, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania, dikenal sebagai negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia. Tidak hanya itu, Indonesia juga menjadi rumah bagi beberapa gunung berapi tertinggi di dunia. Berdasarkan data dari Global Volcanism Program, Smithsonian Institution, National Museum of Natural History, berikut adalah lima gunung api tertinggi di dunia yang terdapat di negara ini.
DI urutan terakhir, Coropuna adalah gunung berapi aktif yang terletak di pegunungan Andes di Peru, merupakan kompleks yang meliputi area seluas 240 kilometer persegi. Puncak tertingginya mencapai ketinggian 6.377 meter di atas permukaan laut, menjadikannya gunung tertinggi ketiga di Peru. Gunung ini dianggap suci oleh suku Inca, dan lapisan esnya yang tebal menjadi yang terluas di zona tropis Bumi.
Keempat, Nevado Incahuasi adalah gunung vulkanik di Andes, Amerika Selatan, terletak di perbatasan Argentina dan Chili. Dengan ketinggian puncak 6.638 meter di atas permukaan laut, gunung ini membentuk kaldera selebar 3,5 kilometer dan dua stratovolcano. Aliran lava basalt-andesit yang dihasilkan mencakup area seluas 10 kilometer persegi.
Di urutan ketiga, Gunung Tipas yang terletak di kompleks pegunungan besar di Andes, Argentina, memiliki tinggi sekitar 6.658 meter di atas permukaan laut. Kompleks ini melibatkan stratovolcanoes, kubah lava, dan aliran lava. Pada tahun 2013, ditemukan danau kawah dengan bau belerang, menunjukkan aktivitas seismik.
Llullaillaco, stratovolcano yang adad di perbatasan Argentina dan Chili, terletak di Puna de Atacama. Dengan ketinggian 6.739 meter, gunung ini merupakan salah satu puncak vulkanik tertinggi di Gurun Atacama, salah satu tempat terkering di dunia. Gunung ini jatuh di nominasi kedua sebagai gunung tertinggi.
Terakhir, Gunung api tertinggi di dunia jatuh kepada Nevado Ojos del Salado yang terletak di Pegunungan Andes di perbatasan Argentina-Chili. Dengan ketinggian mencapai 6.879 meter, gunung ini memiliki iklim kering dengan salju umumnya hanya terdapat di puncaknya selama musim dingin. Meski kondisinya kering, terdapat danau kawah di ketinggian 6.390 meter, menjadikannya danau tertinggi di dunia. Nama "Ojos del Salado" berasal dari "mata garam" dalam bahasa Spanyol, merujuk pada deposit garam yang muncul di antara gletser-gletsernya.
Dengan kekayaan gunung berapi yang tersebar di seluruh negeri, Indonesia bukan hanya destinasi indah bagi para pecinta alam, tetapi juga rumah bagi beberapa gunung berapi tertinggi di dunia. Dari Gunung Coropuna yang disucikan oleh suku Inca di Peru, hingga Gunung Nevado Ojos del Salado yang mencapai ketinggian tertinggi di Pegunungan Andes di perbatasan Argentina-Chili, keberagaman gunung api ini mencerminkan pesona geografis Indonesia yang unik.
Sumber: